May 28, 2008

Sosok: Bidan Yulianti, untuk Manusia dan Lingkungan

-- Helena F Nababan

BIDAN Yulianti menjadikan rumahnya sekaligus menjadi tempat periksa pasien di Desa Pulau Puhawang, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Kondisi kesehatan warga di desa yang terletak di sebuah pulau di Teluk Lampung itu kini berbeda dibandingkan dengan 10 tahun lalu.

Yulianti (Kompas/Helena F Nababan)

Yulianti tiba di Pulau Puhawang pada Oktober 1998 selulus dari sekolah kebidanan di Metro, Lampung. Ia datang ke pulau yang tercatat sebagai daerah terisolasi itu sebagai bidan desa dengan status pegawai tidak tetap dari Dinas Kesehatan Lampung.

Hal pertama yang ditemuinya adalah menghadapi warga desa yang tak peduli terhadap masalah kesehatan. Pulau itu kotor karena warga seenaknya buang hajat. Yulianti mengakui, pada masa awal ia sempat merasa tak betah dengan kondisi desa yang jauh berbeda dengan kemapanan yang dirasakannya selama tinggal di Bandar Lampung.

Namun, hanya dialah satu-satunya tenaga kesehatan yang melayani warga di empat dusun di pulau itu. ”Di awal bertugas, sudah tidak betah, saya juga harus bekerja sendirian. Saya sering menangis waktu itu,” ujarnya.

Namun, keluarganya yang tinggal di Telukbetung, Bandar Lampung, justru mendukung tugasnya di daerah tersebut. Lama-lama Yulianti bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat di pulau yang sebenarnya berpantai indah itu.

Bertekad meningkatkan kondisi kesehatan dan pengetahuan warga tentang kesehatan, yang pertama dia lakukan adalah menemui Kepala Desa Pulau Puhawang saat itu, M Syahril Karim, untuk mendapat informasi mengenai kebiasaan warga setempat.

Warga umumnya memilih buang hajat di pantai dan tak satu pun yang punya jamban keluarga. Kebiasaan buruk itu terjadi karena rendahnya tingkat pendapatan keluarga yang hanya Rp 15.000-Rp 20.000 per hari. Mereka tak mampu membuat jamban keluarga. Akibat kebiasaan itu, banyak warga yang terserang penyakit lingkungan, seperti diare, penyakit kulit, dan flu.

Warga Desa Pulau Puhawang juga rentan malaria. ”Bisa dikatakan desa pulau ini endemik malaria sampai sekarang,” katanya.

Menyebarnya penyakit malaria dipengaruhi oleh buruknya kondisi lingkungan. Warga membuang limbah rumah tangga ke laut karena tak punya sistem pengelolaan dan pembuangan limbah yang benar. Sementara hutan bakau yang mengelilingi pulau telah habis ditebang.

Hutan bakau di pulau itu luasnya 141 hektar. Namun, penebangan liar dan pembukaan hutan bakau untuk tambak pada 1975-1996 mengakibatkan 60 persen hutan bakau rusak. Akibat lanjutnya, nyamuk pembawa virus malaria bersarang, bertelur, dan beranak pinak.

Setiap bulan Yulianti menangani sekitar 15 pasien malaria. ”Waktu itu saya cukup membuktikan secara klinis, tidak dengan laboratorium,” katanya.

Tanam bakau

Ia juga mendata jumlah jiwa, kondisi kesehatan, melakukan evaluasi atas tingkat kesehatan warga, dan memberikan pengobatan langsung sambil mengampanyekan hidup sehat. Bersama aktivis LSM Mitra Bentala Lampung, ia mengajak masyarakat menanami kembali hutan bakau yang rusak.

Hasilnya, dari tes terhadap 225 warga Desa Pulau Puhawang, ada 17 orang yang positif menderita malaria. ”Itu sudah jauh berkurang dibandingkan dengan saat saya datang.”

Lewat posyandu, pengajian, dan kegiatan PKK, Yulianti berusaha mengubah kebiasaan jorok warga. Penyadaran melalui ibu-ibu lebih efektif karena dari mereka pengetahuan itu tersebar kepada anak dan suami.

Tahun 2000 dia juga menjalankan arisan jamban keluarga. Setiap peserta arisan menyetor Rp 2.000. Namun, arisan yang diikuti para ibu di desa pulau itu hanya berjalan tiga bulan akibat rendahnya pendapatan keluarga.

Gagal dengan arisan jamban keluarga, Yulianti lalu mengajari para ibu membuat makanan ringan, seperti keripik pisang dan ikan asin. Sayang, hasil industri rumahan itu tak laku dijual lantaran tak ada pasar yang siap menampung hasil produksi. Warga pun tetap membuang hajat di pantai, kebun, atau hutan bakau.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Kesehatan Lampung Selatan sempat membantu delapan WC umum pada 2000. Setiap dusun mendapat bantuan dua WC umum, tetapi itu pun tak berfungsi.

Berbeda dengan jamban, kampanye hidup sehat yang dilakukan Yulianti membuahkan hasil. Para ibu mau datang ke posyandu, mengimunisasi bayi, dan memeriksakan kehamilan.

Bersepeda

Bagi Yulianti, perjalanan masih panjang. Dia masih harus berusaha keras mengubah kebiasaan warga yang umumnya nelayan itu agar tak membuang hajat sembarangan. Dia berharap tingkat pendidikan yang lebih baik akan mengubah kebiasaan buruk tersebut. ”Waktu saya datang ke pulau ini, hanya ada SD negeri,” katanya. April 2008, SMP terbuka di Pulau Puhawang mulai dioperasikan.

Sejak datang ke Pulau Puhawang, Oktober 1998, sampai sekarang, kendala yang tak terpecahkan adalah terbatasnya akses transportasi. Padahal, Desa Pulau Puhawang yang dulu terdiri atas empat dusun itu kini sudah dimekarkan menjadi lima dusun. Empat dusun itu terpencar di pulau seluas 1.020 hektar dengan penduduk 1.646 jiwa. Satu dusun terletak di pulau kecil bernama Kalangan.

”Waktu itu kendaraan roda dua sangat jarang di pulau ini. Saya membawa sepeda dari Tanjungkarang. Ke mana-mana saya bersepeda,” kata Yulianti yang biasa pergi dari rumah pukul 07.00 dan pulang selepas magrib.

Sepuluh tahun kemudian, ketika sepeda motor sudah merambah desa, kondisi tak banyak berubah. Jalan desa yang masih berupa jalan tanah setapak itu tetap dilewatinya dengan sepeda. Sebab, tarif ojek pun mahal.

Yulianti harus merogoh kocek Rp 25.000 untuk sekali mengunjungi satu dusun dengan naik ojek. Sebagai bidan desa, ia hanya berpenghasilan Rp 590.000 plus tunjangan daerah terpencil Rp 200.000 per bulan. Padahal, setiap bulan dia harus melakukan penyuluhan ke dusun-dusun.

Pada awal bertugas, dia hanya dibekali obat-obatan dan peralatan medis, tanpa sarana transportasi dari Dinas Kesehatan Lampung. Dia juga tidak mendapat fasilitas rumah atau ruang pengobatan.

”Waktu itu yang ada rumah periksa berukuran 2 x 3 meter, tetapi kondisinya tidak layak,” katanya. Untuk tempat tinggal, Yulianti menumpang di rumah warga. Ia merasa beruntung ketika pengurus desa dan warga bergotong royong membangunkan rumah yang kemudian dijadikan klinik sekaligus rumah tinggal baginya.

Baru pada 2007 Dinas Kesehatan Lampung melalui Puskesmas Punduh Pidada membangun pusat kesehatan desa sebagai puskesmas pembantu. Tahun 2008 pusat kesehatan desa yang lebih layak bisa dioperasikan.

Bila kesehatan masyarakat membaik, Yulianti berharap produktivitas mereka akan meningkat pula. Ini pada saatnya akan menaikkan pendapatan warga. Perjuangannya masih jauh, tetapi dia yakin suatu saat nanti upayanya membuat masyarakat sadar pentingnya kesehatan diri dan lingkungan bakal terwujud.

”Waktu mengambil undian penempatan usai lulus (sekolah kebidanan), saya menyadari inilah garis tangan saya. Saya harus mengabdi dan berbuat sebaik-baiknya buat warga Pulau Puhawang,” katanya.

BIODATA

Nama: Yulianti

Lahir: Tanjungkarang, 16 Juni 1979

Pendidikan: Sekolah kebidanan di Metro, Lampung, lulus 1998

Suami: Zaenuddin (29)

Anak: Figo Bimantara (5)

Sumber: Kompas, Rabu, 28 Mei 2008

Opini: Rencana Strategis Visit Lampung 2009

-- Nanang Sumarlin*

SESUAI program pengembangan pariwisata Indonesia, pemerintah pada 2008 berkeinginan jumlah kunjungan wisatawan ke seluruh daerah tujuan wisata (DTW) Nusantara meningkat. Maka, pemerintah mencanangkan Visit Indonesia Year (VIY) 2008. Sebuah program untuk mendorong peningkatan kinerja industri pariwisata di Indonesia.

Target pemerintah adalah kunjungan tujuh juta wisatawan. Program serupa pernah diluncurkan pemerintah pada tahun 1991 sebagai pendukung program Visit ASEAN Year.

Sejalan dengan program itu, Lampung mencanangkan Lampung atau Visit Lampung 2009 (VL 2009). Bagaimana Lampung (provinsi maupun kabupaten/kota) mempersiapkan diri?

Perkembangan industri pariwisata di Bumi Ruwa Jurai ini tampaknya belum menggembirakan atau belum maju signifikan. Sebut contoh misalnya ketika dalam suatu acara diskusi tentang perkembangan industri pariwisata di Lampung, seorang general manager (GM) sebuah hotel berbintang di Lampung mengatakan klasifikasi tamu yang menginap di hotelnya, lebih banyak dominasi tamu atau pelanggan korporat, yaitu yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang berbisnis di Lampung dibanding dengan tamu hotel yang benar-benar wisatawan yang sedang melakukan perjalanan wisata ke Lampung.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Pengalaman di lapangan menunjukkan wisatawan (bukan untuk urusan bisnis) yang telah/pernah datang ke Lampung, tidak ada keinginan untuk melakukan kunjungan wisata untuk yang kedua kalinya, hal ini disebabkan tidak adanya kesan yang mendalam yang didapat wisatawan selama berkunjung ke Bumi Saburai ini.

Ilustrasi di atas adalah salah satu gambaran nyata keadaan industri pariwisata di Lampung, sebelumnya ada baiknya kita memahami apa yang disampaikan John. M. Bryson, pakar dari Pusat Penelitian Manajemen Strategi dari Minessota University, Amerika Serikat:

Strategic planning is a disciplined effort to produce fundamental decisions and actions that shape and guide what an organization (or other entity) is, what it does, and why it does it. (John. M. Bryson, 1996)

Selain itu pengelolaan sumber daya dalam usaha atau produk pariwisata antara lain harus dimulai dengan adanya suatu kerangka yang mengintegrasikan pengelolaan sumber daya dan komitmen manajemen dalam kebijakan usaha pariwisata (Middleton & Hawkins, 1998; Delpech & Marsongko, 1998).

Untuk menyambut Visit Lampung 2009, sudah tentu banyak hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang sudah terlihat di depan mata. Contohnya waktu yang bersamaan dengan agenda politik nasional, yaitu pemilu legislatif dan presiden, belum adanya ikon pariwisata Lampung, kebijakan pemerintah daerah yang tidak menyelesaikan masalah pada industri pariwisata secara menyeluruh, banyaknya infrastruktur yang rusak dan kurang terpelihara, sosialisasi yang kurang, gangguan keamanan, belum lagi ditambah kordinasi antarpemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang belum "satu frekuensi", dalam mewujudkan program peningkatan kunjungan wisatawan di bumi Lampung ini.

Oleh sebab itu, dalam menyambut tahun kunjungan ke Lampung, diperlukan rencana strategis, yang fokus, terencana dengan baik dan berorientasi pada pasar industri pariwisata. Dengan kata lain kita harus mempersiapkan sebuah masterplan besar yang bertajuk Rencana Strategis Visit Lampung 2009. Pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata harus berkolaborasi serta bekerja sama, dalam menyusun dan mewujudkan rencana strategis ini.

Adanya rencana strategis dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan akurat yang berisi petunjuk tentang tujuan, kebijakan, aksi dan sumber daya untuk menuju sukses Program Visit Lampung 2009.

Rencana Strategis Visit Lampung 2009 setidaknya sudah mengatur berbagai kebijakan yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang yang sudah diuraikan di atas. Rencana strategis yang dibuat harus memiliki konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan dari segi lingkungan, sosial budaya, ekonomi, pendidikan serta melibatkan masyarakat lokal (Mowfort & Munt, 1998).

Salah satu contoh masalah adalah tentang ikon pariwisata di Lampung. Selama ini kita mengenal sekolah pendidikan gajah Way Kambas, Festival Krakatau, Menara Siger, Kalianda Resort, Begawi Bandar Lampung, dan sebagainya. Pertanyaannya adalah yang manakah ikon pariwisata Lampung? Salah satu dari festival tersebut atau ada yang lain yang tidak kalah menarik atau kombinasi dari yang disebutkan di atas.

Ikon pariwisata Lampung tentu harus sesuatu yang spesial dan khas dari tanah Lampung. Sesuatu yang harus dijadikan benchmark penyelenggaraan pariwisata lokal dan merupakan menu utama yang akan dijual kepada wisatawan.

Selain itu, perbaikan dan peningkatan infrastruktur penduduk pelaksanaan industri pariwisata, jalan-jalan yang menuju objek wisata, beserta sarana penduduknya, penerangan jalan, dan pusat informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW), di seluruh Provinsi Lampung yang masih sangat minim, harus diperbaiki lagi.

Masalah lain adalah keadaan Bandara Radin Inten II. Kita harus merealisasikan kenaikan "kelas" bandara kita. Misalnya dengan memperpanjang dan memperlebar landasan sehingga pesawat dengan badan lebih lebar dapat mendarat dan menjadi pintu gerbang wisatawan.

Penyakit lama yang selalu muncul adalah kordinasi antarpemerintah daerah. Hal ini sangat penting karena Visit Lampung 2009 adalah milik masyarakat Lampung, bukan hanya milik milik Pemerintah Provinsi Lampung atau Pemerintah Kota Bnadar Lampung. Dengan demikian, di tingkat operasional, seluruh pemerintah daerah se-Provinsi Lampumg mempunyai visi dan pandangan yang sama terhadap program ini dengan tujuan akhir adalah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke seluruh wilayah Provinsi Lampung.

Kesungguhan akan bekerja keras demi bangkitnya industri pariwisata lokal, melalui momentum visit Lampung 2009 sangat dinantikan karena secara geografis provinsi yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera ini, sangat berpeluang menjadikan potensi pariwisata daerah menjadi andalan sumber pendapatan asli daerah (PAD), mulai pemandangan yang sangat indah, pantai yang berpasir putih, pulau-pulau yang eksotis, pegunungan, sampai dengan suhu dan iklim yang relatif bersahabat, merupakan berkah yang sangat besar untuk dikelola demi peningkatan kemakmuran rakyat.

Kini, Provinsi Lampung sangat membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki visi trentang pembangunan industri pariwisata karena sudah jelas bahwa apabila pertumbuhan industri pariwisata meningkat pandapatan asli daerah (PAD) dapat dipastikan meningkat pula, belum lagi adanya multiplier effect akibat berkembangnya industri pariwisata yang dapat mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat objek wisata.

Dengan kata lain dibutuhkan pemimpin yang dapat menyinergikan antara sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), potensi pariwisata, peran masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Lampung melalui pembangunan pariwisata.

Semoga dengan adanya rencana strategis dalam menyambut Visit Lampung 2009, kita dapat menyusun strategi yang jitu dan menjadikan Visit Lampung 2009 sebagai titik awal kebangkitan industri pariwisata di Lampung. Let's go to Lampung.

* Nanang Sumarlin, Direktur Eksekutif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Lampung

Sumber: Lampung Post, Rabu, 28 Mei 2008

May 24, 2008

Way Lalaan Ikon Pariwisata Tanggamus

KOTAAGUNG (Lampost): Untuk menyukseskan Visit Indonesia Year, Dinas Pariwisata Kabupaten Tanggamus menjadikan lokasi wisata Way Lalaan sebagai ikon pariwisata di daerah ini.

Plt. Kadis Pariwisata Tanggamus Bahagia Saputra membenarkan kemarin. Selain akan dikembangkan konsep wisata terpadu yang akan menjual seluruh daerah dan potensi wisata yang ada di Tanggamus, air terjun Way Lalaan akan dijadikan merek dagang yang bukan hanya untuk Provinsi Lampung, melainkan juga untuk tingkat regional dan nasional.

Karena keunggulan yang dimiliki kabupaten Tanggamus di bidang pariwisata menurutnya sangat menjanjikan. Tanggamus merupakan daerah wisata dengan konsep alam (bukan buatan manusia, red) sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Ini jika dikaitkan dengan tren yang berkembang kembali ke alam menjadi pilihan wisatawan terutama dari mancanegara.

Di Kabupaten Tanggamus, potensi wisata yang dimiliki dan sangat menjanjikan untuk dikemas dalam suatu paket wisata. Di antaranya wisata pegunungan, wisata bahari, dan wisata alam.

Tak heran karena Tanggamus memiliki gunung, lembah dan laut serta lokasi wisata air terjun, air panas, dan pantai yang indah.

Ia tidak menyangkal jika dikatakan potensi wisata di Tanggamus dibiarkan tertidur. Beberapa kendalanya karena kurangnya anggaran untuk mengelola kawasan wisata dimaksud, selain memang tidak pernah disentuh tangan-tangan terampil di bidang kepariwisataan.

Untuk itu, selain akan dikembangkan dengan konsep terpadu juga akan dicarikan investor untuk pengembangannya, dan pengelolaannya akan dilakukan secara profesional.

Bahagia menambahkan dalam waktu singkat pihaknya akan melakukan pembenahan lokasi wisata sambil melakukan ekspose dan promosi berkesinambungan terutama kepada biro-biro perjalanan wisata. n */D-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Mei 2008

Pasar Wisata: Kepentingan Pedagang Harus Diakomodasi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pembangunan Pasar Wisata Bambu Kuning Square (BKS) disetujui banyak pedagang kaki lima (PKL). Asalkan Asosiasi pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dan Himpunan Pedagang Kaki Lima Bambu Kuning (HPKL-BK) yang akan membangun BKS mengakomodasi semua kepentingan pedagang.

Ketua Perhimpunan Pedagang Kaki Lima Bandar Lampung (PPKL-BL) Agus Pranata Siregar mengatakan rencana pembangunan Pasar Wisata BKS di lahan PT KA--depan Stasiun KA Tanjungkarang--rencananya akan dibangun kios, mal, dan kafe.

Atas rencana itu, PPKL-BL, lanjut Agus, pihaknya meminta seluruh lantai dua dari BKS diserahkan kepada Pemkot Bandar Lampung.

Tujuannya, untuk memberikan kesempatan kepada PKL yang tidak mampu menebus kios agar tetap mendapatkan lapak dan mendapat subsidi menebus lapak dari Pemkot Bandar Lampung. Hal itu sesuai janji Pemkot yang akan memberikan subsidi kepada PKL untuk menebus lapak dari dana APBD 2008 sebesar Rp1,8 miliar.

"Jika Pemkot tidak mendengar tuntutan kami, kami siap akan menggelar unjuk rasa menolak pembangunan Pasar Wisata BKS. Jika permintaan kami ditanggapi oleh Pemkot, kami juga ingin tahu subsidi yang diberikan apakah tidak membatasi ruang lingkup PKL di luar Bambu Kuning," kata Agus, saat dihubungi, Jumat (23-5).

Terlebih, lanjut Agus, sudah dipastikan PKL yang sudah tergusur, akan sulit menebus harga kios yang nilainya cukup tinggi. "Artinya, APPSI dan HPKL-BK juga harus mampu mengakomodasi kepentingan kami yang berada di luar Bambu Kuning. Sebab, kalau lapak yang diberikan kepada kami khusus untuk lantai III dan lantai IV, tentu akan membuat kami tambah sengsara," kata dia.

Sebelumnya, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan pihaknya memberikan rekomendasi pembangunan BKS kepada APSSI dan HPKL-BK karena ada kesepakatan akan mengakomodir semua kepentingan. Artinya, pembangunan BKS jangan sampai menimbulkan masalah baru.

"Atas dasar itu, kami memberikan rekomendasi pembangunannya dan tidak akan mempersulit proses perizinannya," kata Eddy.

Terlebih, lanjut Eddy, pembangunan BKS akan membantu penataan PKL, hingga persoalan PKL di Tanjungkarang sekitar 75 persen dapat teratasi. Sisanya, penataan PKL sudah dilakukan di Plaza Bambu Kuning lantai II dan rencana Pemkot menata PKL di lantai dasar Ramayana, serta penataan yang sedang berjalan di Terminal Pasar Bawah.

"Jika memang ada PKL yang tidak mampu menebus lapak atau kios, secara teknis akan kami pikirkan," kata dia.

Sebelumnya, Ketua HPKL-BK Zulkarnain mengatakan dengan adanya izin dan rekomendasi dari Wali Kota tersebut, pihaknya memperkirakan pembangunan BKS akan dilaksanakan awal Juli 2008. "Artinya, peletakan batu pertama akan kami laksanakan awal bulan Juli. Dan, awal tahun depan, Bambu Kuning Square sudah berdiri dan dapat menampung PKL yang ada," kata dia.

Zulkarnain mengatakan BKS akan dibangun pada lahan seluas kurang lebih 6.000 meter persegi dengan dana diperkirakan sebesar Rp21,7 miliar. Dana tersebut, selain dari APPSI juga akan didanai dari HPKL-BK sebesar 25 persen dari total anggaran Rp21,7 miliar.

Ditanya, apakah dengan pembangunan BKS akan mengakomodasi semua kepentingan PKL yang ada di lingkungan Pasar Kambu Kuning, Zulkarnain menjelaskan jumlah anggota HPKL-BK sebanyak 634 orang. Sementara itu, BKS untuk tahap awal pembangunannya hanya mampu menampung sekitar 30 orang. "Tapi, yang 30 orang pedagang itu akan kita akomodasi dalam pembangunan tahap kedua. Jadi, semuanya tidak ada masalah," kata dia. n KIM/K-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Mei 2008

May 23, 2008

Pariwisata: Kawasan Siger akan Dikembangkan

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Ketua Umum Pengelola dan Pengembangan Kawasan Wisata Menara Siger (PPKWMS) Erwin Nizar, mengatakan pihaknya akan mengembangkan kawasan tersebut untuk kegiatan daerah, nasional, dan internasional.

"Kita telah memiliki ikon daerah. Dengan dibentuknya pengelola dan pengembangan kawasan tersebut, akan lebih efektif untuk melakukan kegiatan dan menjalankan program," kata dia di Bandar Lampung, Kamis (22-5).

Usai pelantikan organisasi yang membawahi Sekprov Lampung, mantan Bupati Lampung Barat itu mengatakan Provinsi Lampung memiliki potensi wisata cukup banyak, tapi belum dioptimalkan.

Guna menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri, salah satunya bisa dimulai dari Menara Siger, yang terletak di titik kilometer nol selatan Pulau Sumatera.

"Nanti akan terpikirkan oleh anggota pengelola, apa yang bisa digulirkan untuk menjadi tempat kegiatan bertaraf internasional," kata dia.

Ketua Harian PPKWMS, Anshori Djausal, mengatakan momen yang bisa dijual dari kawasan tersebut adalah saat pagi menunggu matahari terbit.

"Kami akan upayakan setiap kendaraan yang tiba di Pelabuhan Bakauheni pagi hari, bisa singgah ke lokasi itu. Selain untuk salat subuh juga bisa sarapan pagi dengan makanan murah dan sehat," kata dia.

Objek yang akan ditawarkan, lanjutnya, yakni menyongsong matahari terbit dari Menara Siger. Sebab, kalau siang hari suhu udara termasuk panas di sana.

Menurut Anshori yang juga arsitek Menara Siger tersebut, bangunan ikon Lampung itu akan menjadi titik awal pembangunan di daerah tersebut.

"Setelah itu akan ada pemancangan Jembatan Selat Sunda yang merupakan pembangunan jembatan terpanjang abad ini," kata dia.

Dari proses pemancangan tiangnya saja, sudah bisa menarik minat orang untuk melihatnya dan ini sebagai objek wisata.

Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. pada peresmian Menara Siger akhir April lalu, mengatakan akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15 persen.

"Kalau setiap tahun ada 15 juta orang dan 3.500 unit kendaraan melintas di Bakauheni dan 15 persennya saja singgah, maka akan ada perputaran uang yang diperkirakan mencapai Rp12,5 miliar," kata dia. n K-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 23 Mei 2008

May 22, 2008

Seni Rupa: Perupa Lampung Ikuti Pameran Nasional

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bertepatan dengan momen satu abad Kebangkitan Nasional, dua perupa Lampung, Pulung Swandaru dan Subardjo, terpilih menjadi peserta pameran nasional di Galeri Nasional Indonesia. Pameran bertema Manifesto Pameran Seni Rupa 2008 itu digelar mulai hari ini (21-5) hingga 14 Juni mendatang.

Pameran tersebut diikuti 60 pelukis yang dipilih panitia. Lukisan Pulung Swandaru yang terpilih ke tingkat nasional berjudul Merahnya Merah Putih. Lukisan itu menggambarkan zamrud yang dililit selendang merah dengan latar belakang gua penuh stalaktit.

Menurut Pulung, selendang merah menggambarkan semangat kebangkitan dan zamrud adalah simbol bangsa Indonesia yang terkenal dengan julukan zamrud khatulistiwa. "Indonesia memiliki banyak potensi, tetapi belum diolah secara maksimal."

Untuk itu, bangsa Indonesia harus bangkit menghadapi tantangan zaman. "Cahaya di ujung gua menyimbolkan keberhasilan. Sedangkan kegelapan di bawah gua menggambarkan kesuraman atau kegagalan," ujar Pulung.

Sedangkan lukisan Subardjo berjudul Potret. Di sisi sebelah kiri terlihat foto anak berpakaian sekolah lengkap dengan topinya. Bingkai foto hitam-putih itu digerogoti dua ekor bekicot. Sedangkan di sisi kanan terdapat 10 layar monitor yng menampilkan bagian-bagian tubuh perempuan berpenampilan seksi. "Lukisan ini menggambarkan ketimpangan antara kemajuan teknologi dan dunia pendidikan," ujar Subardjo.

Menurut dia, dalam satu abad Kebangkitan Nasional ini, Indonesia cukup maju di bidang teknologi, tetapi dunia pendidikannya makin hancur. "Bekicot itu kalau memakan sesuatu pasti sampai habis, itulah potret pendidikan kita yang semakin lama kualitas pendidikan makin terkikis," kata Subardjo.

Sementara itu, Sapto Wibowo mewakili Dewan Kesenian Lampung (DKL) mengatakan terpilihnya perupa Lampung ke pameran tingkat nasional adalah sebuah kebanggaan bagi Lampung. "Kebangkitan perupa Lampung ini dimulai pada 1999, setiap tahun selalu ada perupa kita yang maju ke tingkat nasional."

Pada 2006, dua perupa Lampung (Subardjo dan Ari Susiwa) terpilih sebagai peserta pameran di China. "Pelukis Lampung sudah setara dengan pelukis di daerah lain. Tidak perlu minder dengan Yogyakarta atau Bandung, yang selama ini dijadikan parameter perupa," ujarnya. n RIN/S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 22 Mei 2008

May 21, 2008

Bahasa Daerah: Sembilan Bahasa Punah, 65 Bahasa Terancam

Bandar Lampung, Kompas - Pusat Bahasa mencatat sembilan bahasa daerah di Indonesia sudah punah dan 65 bahasa daerah lainnya terancam punah. Hal itu terjadi sebagai dampak berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah serta pengaruh bahasa-bahasa utama dalam kehidupan modern.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Bahasa Nasional Dendy Sugono, akhir pekan lalu, saat kunjungan kerja ke Lampung.

Jumlah bahasa daerah di seluruh Indonesia mencapai 746 bahasa daerah.

Menurut Dendy, sebagai sarana pengungkap ataupun sarana komunikasi, bahasa daerah bertahan apabila digunakan oleh masyarakat pendukungnya. Bahasa daerah juga bertahan karena sempat diturunkan dari satu generasi ke generasi penutur berikutnya serta memiliki peran strategis bagi masyarakat pendukungnya.

Dalam perkembangannya, kata Dendy, bahasa daerah menjadi tergusur ketika harus berhadapan dengan bahasa-bahasa utama yang dipakai dalam kehidupan modern. Bahasa utama itu di dalamnya termasuk penggunaan bahasa Indonesia.

Data Pusat Bahasa menunjukkan, di Papua terdapat sembilan bahasa daerah yang sudah punah.

Bahasa daerah yang punah itu adalah bahasa Bapu, Darbe, dan Wares yang pernah berkembang di Kabupaten Sarmi. Dari Jayapura dua bahasa sudah punah, yaitu Taworta dan Waritai. Dari Jayawijaya ada dua bahasa yang punah, yaitu Murkim dan Walak. Di Manokwari, bahasa daerah Meoswar sudah punah dan dari Rajaampat bahasa daerah Loegenyem sudah punah.

Untuk bahasa-bahasa daerah yang masih bertahan, Pusat Bahasa tengah mencari strategi guna mempertahankan bahasa-bahasa daerah tersebut. (HLN)

Sumber: Kompas, Rabu, 21 Mei 2008

Kerajinan Khas: Cantumkan Label 'Lampung-Indonesia'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Karya perajin Lampung dinilai sangat indah dan membanggakan, apalagi jika dijadikan cendera mata bagi tamu yang berkunjung ke Lampung. Untuk itu, perajin diminta memberikan label "Lampung-Indonesia" pada setiap produk yang dihasilkan.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung Ny. Truly Sjachroedin pada Pameran dan Lomba Seni Kerajinan Lampung di Gedung PKK Enggal, Senin (19-5).

"Seperti yang sering saya sampaikan, saya selaku pribadi maupun sebagai ketua Dekranasda Provinsi Lampung, selalu bangga menggunakan hasil karya perajin Lampung. Bahkan, dalam memberikan cendera mata kepada tamu-tamu yang berkunjung ke Lampung. Untuk itu, saya menganjurkan perajin memberikan label Lampung-Indonesia pada setiap produk yang dihasilkan," kata Truly.

Menurut Truly, pada setiap momentum yang ada, dapatlah dimanfaatkan memperkenalkan atau mempromosikan sekaligus memasarkan kerajinan Lampung. "Saya berharap Dekranasda dapat menangkap peluang dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dalam memperkenalkan kerajinan Lampung," kata dia.

Ketua Dekranasda Kota Bandar Lampung Hj. Nurpuri Eddy Sutrisno mengatakan salah satu upaya dalam meningkatkan sektor pariwisata adalah mengembangkan sektor kriya yang merupakan salah satu sektor wisata. Sebab, hingga kini, kriya khas Lampung masih dipandang belum ekonomis karena harganya yang sangat mahal.

Nurpuri mencontohkan karya andalan Lampung masih terpaku pada kain tapis dan sulaman usus. Begitu juga patung gajah ukiran ataupun dari bahan fiber, ternyata masih dijual dengan harga yang relatif mahal. Di bagian lain, perkembangan dunia fashion yang berkembang dengan pesat telah menuntut pengerajin busana khas Lampung mengembangkan karya rancangan sesuai dengan tuntutan zaman.

"Meskipun demikian, karya tersebut tidak boleh menghilangkan unsur kedaerahan yang menjadi ciri khas melekat atas kriya Lampung. Bila semua dikembangkan, otomatis sektor perekonomian masyarakat dapat ditingkatkan," kata Nurpuri.

Berdasar pada pemikiran itu, Dekranasda Kota Bandar Lampung menggelar berbagai lomba yang melibatkan para pelajar dan masyarakat umum. Tujuannya, agar seni budaya yang ada di Lampung dapat tersosialisasi dengan baik di masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan dua hari (18--20-5), kata Nurpuri, dilaksanakan bertepatan dengan seabad Hari Kebangkitan Nasional. "Kegiatan ini diharapkan menjadi titik pemicu pengembangan sektor pariwisata, terutama berkaitan dengan seni kerajinan yang ada di Kota Bandar Lampung khususnya dan Provinsi Lampung pada umumnya," kata dia. n KIM/*/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 21 Mei 2008

Pariwisata: Yawisal Bentuk Desa Wisata

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Yayasan Wisata Alam (Yawisal) Lampung menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Manajemen Desa/Kampung Wisata.

Ketua Dewan Pembina Yawisal Lampung Ahmad Sibli Rais mengatakan salah satu sektor unggulan yang bisa mendongkrak sumber pendapatan devisa negara yang sangat tinggi adalah pariwisata. Salah satu terobosan membuat desa wisata sebagai basis pengelolaan pariwisata daerah.

Menurut Sibli, desa atau kampung wisata menjadi salah satu konsentrasi utama bagi daerah maupun negara manapun yang sangat diminati. Apalagi, kini ikon back to village sudah menjadi paradigma baru pengelolaan pariwisata.

"Desa wisata akan dapat menjadi garda terdepan untuk mendongkrak PAD," kata Sibli, pada pembukaan Diklat Manajemen Desa/Kampung Wisata di Pusdiklat Yawisal, Kelurahan Kedaung, Kemiling, Selasa (20-5).

Dalam kegiatan yang dihadiri Asisten II Pemkot Bandar Lampung Prayitno, Sibli menjelaskan diklat diikuti 100 peserta dari perwakilan kelurahan, utusan akademi pariwisata, mahasiswa pencinta alam, dan warga di daerah dekat kawasan wisata.

Asisten II Prayitno mengatakan Bandar Lampung memiliki potensi budaya dan pariwisata yang tidak kalah dari daerah lainnya di Indonesia. Hanya, potensi yang ada belum dikembangkan secara maksimal.

Kini Pemkot Bandar Lampung bersama Pemprov Lampung tengah giat-giatnya menggali potensi wisata yang ada di Kota Tapis Berseri. Apalagi dalam rangka menyambut Tahun Kunjungan Wisata Lampung 2009 (Visit Lampung Years 2009).

"Sebagai tuan rumah, kita menginginkan masyarakat tidak menjadi penonton di rumahnya sendiri. Dalam event Visit Lampung Years 2009, masyarakat Bandar Lampung diharapkan dapat terlibat aktif di dalamnya," kata Prayitno.

Oleh karena itu, lanjut Prayitno, atas nama Pemkot Bandar Lampung, mengucapkan banyak terima kasih kepada Yawisal yang telah peduli membangun pariwisata kota, termasuk mengadakan Diklat Manajemen Desa/Kampung Wisata ini. Menurut dia, Bandar Lampung memiliki cukup banyak wilayah yang berpotensi untuk dijadikan desa/kampung wisata.

Di antaranya, Pulau Pasaran di Telukbetung Barat, kawasan Batuputu di Telukbetung Utara, kawasan Sukadanaham di Tanjungkarang Barat, serta Desa Kedaung dan Sumber Agung di Kemiling. n KIM/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 21 Mei 2008

May 19, 2008

Seni: SMAN 11 Juara Pertama Musikalisasi Puisi se-Sumatera

BANDAR LAMPUNG(Lampost): Tim SMAN 11 Bandar Lampung berhasil membawa kemenangan bagi Provinsi Lampung pada festival musikalisasi puisi tingkat SMA se-Sumatera 2008.

Tim itu terdiri atas Linda Lestari, Septi Rahayu, Retno Kusuma P., Rizki Kurniaawan, Rizki Ramadhan, dan Edi Suhaidi. Tim membawakan puisi Ia akan Mengecupmu karya Isbedy Stiawan Z.S. Enam siswa SMAN 11 tersebut berhasil memukau juri dan penonton festival yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Sabtu (17-5).

Sedangkan juara II jatuh kepada Provinsi Jambi, dan juara III diraih Sumatera Barat. Juara harapan I diraih Sumatera Selatan, dan harapan II diraih Nangroe Aceh Darusalam.

Pendamping SMAN 11 Bandar Lampung, Ahmad Jusmar, mengatakan anak didiknya memang menampilkan performa terbaik. Walaupun pada penilaian, juri memberikan kritikan kecil, tim tersebut berhasil membawa kemenangan bagi Lampung.

Ahmad menjelaskan terdapat lima kriteria penilaian pada festival dengan tim juri yang terdiri dari Fredie Arsi (pengasuh Teater Matahari Jakarta), Ari Pahala Hutabarat (penyair Lampung), dan Rusly Sukur (penggiat seni Taman Saburai Bandar Lampung) itu.

Kelima kriteria itu ialah penafsiran puisi, komposisi musikal, harmonisasi atau keselarasan, vokal, dan penampilan.

Puisi yang dibawakan Linda Lestari dengan iringan musik yang didominasi alat tradisional Lampung itu mampu memukau ketiga juri. Menurut Ahmad, selain rebana, mereka juga memasukkan unsur musik Melayu pada pembukaan.

"Anak-anak (tim SMAN 11, red) menemukan sendiri bunyi alat tradisional itu, lalu muncullah harmoni yang dapat dipadukan dengan alat musik modern seperti gitar sehingga timbul perpaduan yang sangat unik pada musik pengiring puisi itu," kata dia.

Menurut Ahmad, adanya harmonisasi musik dan puisi itu menjadi penilaian khusus juri bagi anak didiknya. Selain itu, interpretasi teks puisi yang dapat disampaikan dengan lugas juga menambah poin lebih bagi tim dengan kostum hitam putih itu.

"Walaupun juri mengatakan mereka masih belum rileks, kemenangan dapat kami raih," kata guru Seni Budaya di SMAN 11 Bandar Lampung. n */K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 19 Mei 2008

May 17, 2008

Kangen Band Luncurkan Lagu Terbaru SBY

Jakarta, Kompas - Kelompok musik pop manis asal Lampung, Kangen Band, meluncurkan lagu baru, yang syairnya dibuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Hotel Mulia, Jakarta, Jumat (16/5). Lagu baru berjudul ”Lorong Berujung” yang dibuat Presiden untuk menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Lagu ”Lorong Berujung” dinyanyikan Kangen Band dalam ulang tahun kesembilan Rakyat Merdeka. Lagu ini merupakan lagu baru kedua yang diluncurkan ke masyarakat setelah satu album karya SBY berjudul Rinduku Padamu diluncurkan, November 2007, yang melibatkan beberapa artis, seperti kelompok musik Kerispatih.

Lagu karya SBY terakhir yang diluncurkan berjudul ”Save Our Planet” untuk menyambut KTT Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007. Menurut produser album Rinduku Padamu, Dharma Oeratmangun, Presiden sudah siap meluncurkan album kedua dengan beberapa lagu baru. Video klip beberapa lagu di album pertama juga telah disiapkan, tinggal menunggu masa tayangnya.

Lagu ”Lorong Berujung” yang dinyanyikan dengan tempo lambat dan sendu itu bertutur tentang ajakan bersatu dalam kondisi apa pun. Di tengah masa transisi yang panjang saat ini, ada harapan dan ada cahaya di ujung lorong. Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono yang mengenakan batik berwarna biru menikmati lagu karyanya dinyanyikan.

Dihibur Tukul

Dalam acara ulang tahun kesembilan harian Rakyat Merdeka itu, tampil juga pelawak Tukul Arwana yang terkenal dengan acara bincang-bincang Empat Mata di televisi. Tukul tampil lepas dan menghibur saat mewawancarai Ketua KPK Antasari Azhar. Presiden dan Ny Ani sempat tertawa terpingkal-pingkal beberapa kali saat Tukul bertanya dan berdialog dengan Antasari.

Tukul, misalnya, bertanya kenapa KPK memeriksa kado pernikahan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Apakah KPK sudah berubah menjadi Komisi Pemeriksa Kado? (INU)

Sumber: Kompas, Sabtu, 17 Mei 2008

May 16, 2008

Kriminalitas di Lampung: Berawal karena Kolonisasi

PEMBERITAAN mengenai tindak kejahatan dengan pelaku kejahatan asal Lampung di luar Lampung ataupun di wilayah Lampung sangat marak akhir-akhir ini. Sebagai provinsi termiskin kedua di Sumatera, ternyata dorongan memenuhi kebutuhan ekonomi bukan satu-satunya alasan pelaku kejahatan asal Lampung melakukan kejahatan di Lampung dan di luar Lampung.

Truk dan kendaraan melintas pelan di jalan lintas timur (jalintim) ruas Pidada, Bandar Lampung, pertengahan Februari 2008. Di ruas jalan nasional itu kerusakan berupa lubang lebar dan dalam terjadi secara terpisah-pisah namun merata sepanjang 500 meter. (KOMPAS/HELENA F NABABAN)

Timbulnya kriminalitas atau angka kejahatan di Lampung berhubungan erat dengan masa awal pembukaan dan pengembangan Lampung. Apalagi, di masa selanjutnya, pengembangan Lampung yang tidak disertai dengan distribusi pembangunan yang merata di semua wilayah.

Saksi sejarah kolonisasi Lampung, Raja Bastari Wijaya Sinungan (73), dalam sebuah wawancara awal Mei lalu, kepada Kompas menjelaskan, berbicara mengenai tindak kriminalitas di Lampung harus dirunut ke belakang saat Pemerintah Belanda mulai membuka Lampung.

”Tindak kriminalitas tidak semata-mata terjadi karena dorongan memenuhi kebutuhan ekonomi. Ada faktor pendorong lain yang secara signifikan membedakan penyebab kriminalitas yang dilakukan penduduk Lampung bersuku Jawa dan bersuku Lampung asli,” ujar Sinungan.

Sinungan menuturkan, bagi penduduk Lampung bersuku Jawa—masyarakat Lampung asli menyebut mereka Lampung baru—tindak kejahatan tidak dimulai saat penduduk Lampung baru datang ke Lampung, melainkan sesudah mereka datang dan menetap cukup lama di Lampung.

Tahun 1900-an dikenal sebagai era Pemerintah Belanda giat membangun dan mengembangkan perkebunan di wilayah Sumatera. Pemerintah Belanda menilai wilayah Lampung dengan kondisi tanah yang subur sangat tepat dikembangkan menjadi perkebunan karet.

Rencananya, perkebunan karet itu hendak dikembangkan di wilayah Rotterdam, wilayah itu sekarang menjadi wilayah Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, dan di Bergen yang sekarang dikenal sebagai Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Wilayah calon perkebunan itu terletak di sepanjang Sungai Way Sekampung yang mengalir dari wilayah barat ke timur Lampung.

Perkebunan

Belanda mendatangkan banyak masyarakat Jawa ke Lampung tahun 1905 sebagai buruh perkebunan karet dan langsung menempatkan mereka di Kolonisasi Gedong Tataan atau kolonisasi pertama. Mereka merupakan penduduk yang dikategorikan Belanda sebagai aktivis pergerakan politik waktu itu, yaitu Jong Java, dan membahayakan pemerintahan sehingga perlu disingkirkan. Mulai tahun 1905, era kolonisasi di Lampung pun mulailah.

Sebagai calon buruh perkebunan, Pemerintah Belanda tidak melengkapi penduduk Jawa yang dipindah ke Lampung dengan peralatan atau perbekalan layaknya transmigran pada era Orde Baru. Penduduk Jawa yang dipindah ke Lampung harus bisa mempertahankan hidup dengan bekal yang dibawa dari Jawa. Di Lampung mereka membuka lahan dan membangun rumah dan pertanian sendiri.

Penduduk Jawa yang dipindah ke Lampung akhirnya mampu membangun perkebunan dengan kondisi permukiman yang utuh. Pada perkembangannya, mereka minta kepada Pemerintah Belanda untuk tidak menjadikan mereka sebagai buruh perkebunan. Melihat sumber air yang melimpah, mereka minta izin kepada Pemerintah Belanda untuk membangun irigasi dan membangun sawah.

Situasi mantap itu mendorong Pemerintah Belanda mengembangkan wilayah perkebunan Bergen tahun 1928. Pemerintah Belanda kembali mengumpulkan masyarakat Jawa untuk didatangkan ke Lampung sebagai buruh perkebunan.

Kali ini bukan masyarakat yang aktif di pergerakan politik, melainkan masyarakat yang memiliki latar belakang meresahkan masyarakat yang dikumpulkan. Di Jawa mereka terbiasa melakukan judi, minum minuman keras, mencuri, ataupun tindakan-tindakan yang meresahkan. ”Namun, saat itu masyarakat asli Lampung tidak diberi tahu mengenai jati diri asli penduduk Jawa yang didatangkan pada kolonisasi kedua itu,” ujar Sinungan.

Dengan alasan mendatangkan mereka sebagai buruh perkebunan, kepala-kepala marga di Lampung mengizinkan penduduk Jawa gelombang kedua untuk menempati tanah-tanah adat milik masyarakat asli Lampung yang diminta Belanda. Mereka ditempatkan di lokasi kolonisasi yang dikenal sebagai Kolonisasi Sukadana atau yang sekarang disebut sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Timur dan diatur oleh seorang mantri kolonisasi.

Kedatangan penduduk Jawa itu membuat penduduk asli Lampung minggir ke arah sungai. Dalam kelompok-kelompok marga, masyarakat asli Lampung bermukim di sepanjang sungai yang melintas di wilayah Lampung di antaranya di Jabung dan Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

Sistem hidup dengan cara berkelompok juga dilakukan penduduk Lampung baru. Mereka tinggal berkelompok di lokasi Kolonisasi Sukadana. Hanya saja, saking luasnya lokasi tersebut, kelompok-kelompok itu tersebar dan tidak memunculkan sikap gotong royong.

Transfer penduduk Jawa ke Lampung terus terjadi dari 1928 hingga 1930. Di Kolonisasi Sukadana ada satu kelompok yang dianggap gagal, yaitu kelompok yang tinggal di wilayah yang disebut Gedung Wani atau yang sekarang terletak di wilayah Way Jepara, Lampung Timur. Lokasi tersebut menghubungkan Jabung dengan Sukadana.

Kolonisasi baru

Lokasi kolonisasi yang baru itu terletak di Lampung Tengah sekarang, yaitu mulai dari Bumi Jawa mengarah ke barat hingga di Tegineneng. Lokasi itu diapit dua sungai besar, Way Rahman dan Way Sekampung. ”Dari sini berubahlah nama Kolonisasi Sukadana menjadi Kolonisasi Gedung Dalam,” ujar Sinungan.

Kolonisasi Gedung Dalam cukup luas dan mencakup 70 kelompok. Ke-70 kelompok tersebut merupakan percampuran penduduk Jawa yang didatangkan hingga 1937 serta penduduk yang sudah datang pada Kolonisasi Sukadana. Ke-70 kelompok itu akhirnya berkembang menjadi desa dan berkembang lagi menjadi kecamatan.

Mulai dari Kolonisasi Gedung Dalam tersebut, lanjut Sinungan, terutama ketika penduduk dari Pulau Jawa sudah mapan, segala bentuk kejahatan yang dilakukan Lampung baru marak. ”Kalau Kolonisasi Sukadana boleh saya katakan cukup bersih dari kejahatan. Namun untuk Kolonisasi Gedung Dalam, inilah era munculnya bentuk-bentuk kejahatan itu,” kata Sinungan.

Apabila dirunut, penduduk dari Pulau Jawa yang didatangkan pada dua kolonisasi terakhir sejatinya sudah memiliki bibit 5M atau singkatan dari bahasa Jawa minum, main, madat, madon, dan maling. Itu adalah istilah dalam masyarakat Jawa untuk menyebut perilaku tidak benar seperti suka minum minuman keras, suka berjudi, suka mengisap candu, suka bermain perempuan, dan mencuri. Sejak itu, segala bentuk kejahatan mulai terjadi.

Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh masyarakat Metro yang sangat memahami seluk-beluk aksi kejahatan dan pelaku di wilayah Metro dan Lampung Timur namun tidak bersedia disebut namanya. Ia mengatakan, sebelum kedatangan penduduk dari Pulau Jawa, bisa dikatakan Lampung merupakan tempat yang paling aman.

Selain tanah sangat subur, penduduk juga hanya sedikit. Penduduk yang sangat sedikit itu tinggal dalam kelompok marga dengan keadatan dan keislaman yang kuat. Kehidupan masyarakat Lampung betul-betul enak. Mereka tidak perlu bersusah payah bekerja. Untuk hidup, mereka tinggal memetik kopi atau lada yang ditanam nenek moyang. Hidup mereka sangat nyaman sehingga mereka tidak mungkin berbuat jahat.

”Bisa dikatakan, Lampung sebelum kolonisasi sangat aman dan kaya. Namun akhirnya kekayaan alam itulah yang nantinya jadi bumerang,” kata tokoh masyarakat yang juga turunan kedua kolonisasi 1928 tersebut.

Hal yang memungkinkan terjadi perubahan sikap hidup masyarakat Lampung adalah pergeseran tata nilai. Pergeseran tata nilai itu terjadi begitu saja, tepatnya setelah kolonisasi mantap pada tahun 1930-1940.

Pada tahun-tahun itulah penduduk asli Lampung baru mengenal kejahatan. Sikap jahat itu mereka pelajari dari pendatang dari Pulau Jawa.

Selama kolonisasi, penduduk dari Pulau Jawa datang tanpa modal. Mirip seperti seleksi alam, penduduk yang ulet akan berhasil, yang tidak ulet akan gagal.

Dari komunitas yang bercampur tadi, di antaranya termasuk kelompok masyarakat Jawa yang memiliki bibit sikap jahat dan lantas mendirikan sindikat-sindikat. Sindikat itu bisa terdiri atas kelompok asal Pulau Jawa atau campuran Jawa-Lampung dan mereka berbuat jahat untuk mempertahankan hidup.

Kemunculan sindikat-sindikat itu dibarengi dengan perubahan tata nilai pada masyarakat Lampung yang sangat signifikan.

Masyarakat Lampung dianugerahi kehidupan yang enak dan cenderung menjadikan mereka hidup dalam kehidupan adat berbiaya tinggi. Sementara masyarakat Jawa tergolong ke dalam masyarakat yang harus bekerja keras. (hln/wad)

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Mei 2008

Kriminalitas di Lampung: Kejahatan Berawal dari Kemiskinan

-- Wisnu Aji Dewabrata dan Helena F Nababan

NAMA Kecamatan Jabung sudah pasti tidak setenar Taman Nasional Way Kambas, meskipun keduanya terletak di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sayangnya, jika Way Kambas terkenal akan gajahnya, Jabung belakangan terkenal karena hal-hal yang negatif terkait dengan tindakan kriminalitas warganya.

Kondisi permukiman warga yang sangat sederhana di Desa Jabung, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, Minggu (4/5). Kemiskinan di daerah tersebut menyebabkan sebagian warga merantau ke Jawa dan ada yang menjadi pelaku kriminalitas. (KOMPAS/WISNU AJI DEWABRATA)

Belakangan, banyak penjahat yang tertangkap di Jawa atau daerah lain di Sumatera mengaku dari Lampung Timur atau Jabung. Akibatnya, Jabung dicap sebagai daerah ”hitam” yang menghasilkan pelaku kriminalitas.

Bahkan, saat Kompas merencanakan perjalanan jurnalistik untuk melihat langsung kondisi daerah Jabung, banyak yang berpesan agar berhati-hati. Pasalnya, untuk pergi ke Jabung disarankan jangan naik sepeda motor, apalagi pada malam hari. Sepeda motor merupakan sasaran empuk para begal. Selain itu, jangan keluyuran di Jabung sendirian, carilah teman yang juga warga Jabung asli.

Ketika sampai di Jabung, ternyata kondisi di daerah tersebut tidak seseram yang diceritakan orang. Jalan menuju Jabung lumayan mulus meskipun sempit dan minim penerangan. Suasana di Jabung tak berbeda dengan suasana pedesaan umumnya, yaitu deretan rumah panggung gaya Lampung di pinggir jalan utama yang diselingi kebun lada, jagung, durian, dan lain-lain.

Tujuan pertama adalah rumah salah satu tokoh masyarakat sekaligus tokoh adat Jabung bernama Ismail Umar yang bergelar Pangeran Is. Lewat seorang penghubung, Pangeran Is sudah mengetahui maksud kedatangan Kompas.

Setelah beramah-tamah dan beberapa kali mengembuskan asap rokok, Pangeran Is mengakui wilayah Jabung sejak lama dikenal rawan kriminalitas dan sejumlah warganya menjadi pelaku kriminalitas.

”Semua itu karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap Jabung. Jabung jarang disentuh pembangunan. Padahal untuk mengurangi kriminalitas, cukup dengan membuka lapangan pekerjaan di Jabung,” kata Pangeran Is.

Menurut Pangeran Is, di sekitar Jabung terdapat dua perusahaan yang cukup besar, tetapi keduanya hanya membuka sedikit kesempatan kerja bagi pemuda Jabung. Karena menganggur dan salah bergaul, akhirnya pemuda-pemuda Jabung terlibat kriminalitas.

”Kriminalitas merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah dan terdesak kebutuhan ekonomi. Di sini sarana kesehatan minim, dokter hanya dua jam di puskesmas. Membuat KTP saja perlu waktu enam bulan,” kata Mustofa, pemuka adat di Jabung.

Mustofa mengungkapkan, potensi kriminalitas bisa meningkat karena luas lahan pertanian dan perkebunan di Jabung yang berstatus tanah ulayat makin sempit. Ini disebabkan adat istiadat Lampung, yaitu membeli gelar adat, yang membutuhkan banyak uang. Warga terpaksa merelakan tanah demi membiayai upacara adat.

Cap sebagai daerah penghasil pelaku kriminalitas ternyata membuat warga Jabung gerah. Kata Mustofa, para pelaku kriminalitas yang tertangkap boleh saja mengaku dari Jabung, tetapi mereka belum tentu warga Jabung asli. Menurut Mustofa, karena cap Jabung yang buruk, setiap penjahat asal Lampung pasti disebut dari Jabung.

Disebut ”pemain”

Faktor terdesak kebutuhan ekonomi yang membuat warga Lampung Timur menjadi pelaku kriminalitas dibenarkan oleh salah satu pelaku kriminalitas antarnegara yang ditemui Kompas di Sukadana, ibu kota Kabupaten Lampung Timur.

Pria tersebut bernama Wawan (bukan nama sebenarnya), umurnya sekitar 35 tahun, berbadan tegap, dan tinggi sekitar 170 sentimeter. Melalui seorang penghubung, Kompas dapat melakukan wawancara dengan Wawan di rumahnya.

Wawan mengungkapkan, para pelaku kriminalitas dari Lampung Timur, yang sering disebut ”pemain”, tidak hanya beraksi di Indonesia, tetapi sampai ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kolombia, bahkan Rusia.

Wawan kembali menegaskan pernyataan Pangeran Is dan Mustofa bahwa kemiskinan merupakan biang keladi munculnya pelaku kriminalitas dari Lampung Timur. Wawan mengatakan, pemerintah harus menyadari penyebab munculnya pelaku kriminalitas dari Lampung Timur.

Menurut Wawan, para pemain yang beraksi di luar negeri sebenarnya merupakan aset Lampung Timur. Mereka adalah orang yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi memanfaatkan kelebihannya untuk kejahatan karena tidak ada lapangan pekerjaan.

”Para pemain dari Lampung Timur yang pergi ke luar negeri biasanya terlibat perampokan, pencurian, atau menjadi pembunuh bayaran. Hasil kejahatan di luar negeri dibawa pulang untuk mendirikan usaha,” kata Wawan.

Kehebatan para pemain dari Lampung Timur di luar negeri sudah teruji, bahkan mirip mafia karena terorganisasi. Kata Wawan, para pemain antarnegara dari Lampung Timur sangat pandai menghilangkan jejak. Para pemain menganggap jadi buronan polisi sebagai kegagalan. Mereka yang dikejar polisi biasanya tidak akan pulang ke kampung atau memilih bunuh diri karena aib.

”Para pemain antarnegara terdiri dari ’tukang gambar’ dan eksekutor. Tukang gambar bertugas memetakan sasaran dan lokasi selama dua tahun, setelah itu tugas eksekutor yang akan beroperasi selama lima tahun,” kata Wawan.

Untuk menghindari pelacakan polisi, para pemain tidak langsung menuju negara sasaran, tetapi berpindah dari satu negara ke negara lain. Ada pula yang berkedok sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

Keinginan melepaskan diri dari kemiskinan, kata Wawan, menyebabkan orang-orang di Lampung Timur memilih risiko terberat, yaitu kematian. Sanak saudara tidak menyesali anggota keluarga yang mati sebagai pemain. Menurut Wawan, selama tahun 2002 ada 70-an peti mati dari Jawa dikirim ke berbagai daerah di Lampung. Isinya jenazah para pemain yang ditembus peluru aparat.

Kepala Polres Lampung Timur Ajun Komisaris Besar Dedi Jumadi membenarkan bahwa wilayahnya memiliki stereotip sebagai kawasan menakutkan. Budaya masyarakat yang saling melindungi ikut mendukung suburnya kriminalitas.

”Susah mendapat informasi tentang pelaku kriminalitas di Lampung Timur karena mereka dilindungi tetangganya. Jangan menangkap tersangka di desanya, tangkap di luar desanya. Informasi keberadaan tersangka harus jelas,” kata Dedi, yang pernah mengerahkan 200 polisi hanya untuk merazia minuman keras di sebuah desa di Lampung Timur.

Menurut Dedi, ada dua macam pelaku kejahatan dari Lampung Timur. Pertama, pelaku kejahatan lokal yang melakukan kejahatan hanya untuk foya-foya sesaat. Biasanya pelaku adalah remaja belasan tahun. Kedua, pelaku kejahatan di luar Lampung Timur yang melakukan kejahatan sebagai profesi.

Fenomena kejahatan dikatakan Dedi sebagai fenomena gunung es yang terapung di air. Jika bagian puncak dikikis, bagian bawah yang lebih besar justru akan muncul ke permukaan.

”Untuk menangani kriminalitas tidak bisa hanya dengan menyikat habis pelakunya. Faktor lain yang mendorong orang berbuat kriminal harus diperhatikan,” ujarnya.

Kemiskinan dan kriminalitas saling terkait seperti lingkaran setan. Kriminalitas bukan sebab, tetapi akibat dari kemiskinan. Kriminalitas terbukti bisa menjadi budaya yang dianggap lumrah oleh masyarakat.

Warga di Jabung ataupun di Sukadana sudah menjerit bahwa kemiskinan menyebabkan banyak generasi muda mereka menjadi pelaku kriminalitas. Bahkan pelaku kriminalitas pun mengakui bahwa kemiskinan adalah biang keladi.

Pemerintah harus menyadari bahwa kemiskinan menjadi pendorong yang luar biasa terhadap meningkatnya kriminalitas. Pemerintah harus bertindak nyata mengatasi kemiskinan, jangan sampai penduduk miskin di negeri ini memperoleh pembenaran untuk menjadi ”pemain”.

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Mei 2008

May 15, 2008

Lingkungan: Kerusakan Hutan Bakau Sulit Ditekan

Bandar Lampung, Kompas - Tingkat kerusakan hutan bakau di pesisir timur Lampung sulit ditekan. Rehabilitasi hutan bakau sulit dilakukan karena kesadaran masyarakat untuk menanami hutan bakau yang gundul dan memelihara kawasan rehabilitasi sangat rendah. Selain itu, dipengaruhi faktor alam.

Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Lampung, dari rehabilitasi 5.000 batang bakau di lahan seluas 5 hektar di Desa Sri Minosari, Labuhan Maringgai, Lampung Timur, pada tahun 2007, hanya 5 persen yang bertahan dan berkembang. ”Warga seolah tidak mau peduli terhadap bibit- bibit yang ditanam di kawasan bakau yang rusak,” ujar Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Lampung (Unila) KES Manik, Rabu (14/5).

Wilayah hutan bakau di pantai timur Lampung terbentang dari Way Mesuji di Kabupaten Tulang Bawang hingga wilayah antara Kuala Penet dengan Bakauheni di Lampung Selatan sepanjang 270 kilometer. Pada data dari Dinas Kehutanan Lampung disebutkan, seluas 7.000 hektar dari 18.000 hektar hutan bakau di pesisir timur Lampung rusak berat.

Bisnis udang

Kerusakan hutan bakau di pesisir timur Lampung sudah berlangsung sejak 1980. Saat itu, penduduk menebang bakau untuk dijadikan arang. ”Dengan kegiatan itu, kerusakan hutan bakau masih terkendali karena penduduk melakukan tebang pilih. Kerusakan itu mulai parah sejak 1985, tepatnya sejak bisnis udang mulai bangkit,” kata Manik.

Kepunahan hutan bakau semakin cepat karena bukan hanya penduduk lokal yang mengusahakan tambak, melainkan juga pemodal dari luar Lampung. Dengan demikian, kondisi kerusakan dan penyebab kerusakan hutan bakau di pantai timur Lampung itu dapat dikelompokkan berdasarkan wilayah geografis.

Di wilayah antara Way Mesuji (perbatasan dengan Sumatera Selatan) dan Way Tulang Bawang, hutan bakau di sekitar usaha pertambakan PT Dipasena Citra Darmaja atau sekarang bernama PT Aruna Wijaya Sakti rusak berat. Kerusakan tersebut terjadi sebagai dampak dari penjarahan lahan oleh masyarakat pada tahun 1998, dan dijadikan tambak udang.

Wilayah kedua, hutan bakau di pesisir timur Lampung terbentang antara Way Tulang Bawang dan Way Seputih di Kabupaten Tulang Bawang. Sekitar 85 persen hutan bakau sudah rusak karena digarap penduduk menjadi tambak-tambak udang tradisional. Sejak era reformasi, kerusakan makin parah seiring upaya penduduk menggarap kawasan hutan menjadi tambak udang sehingga fungsi hutan bakau menghilang.

Wilayah hutan ketiga terbentang antara Way Seputih dan Kuala Penet, Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Sama seperti di dua wilayah lainnya, wilayah hutan bakau di kawasan itu juga digarap penduduk menjadi tambak udang. Adapun di wilayah keempat, di antara Kuala Penet dan Bakauheni Lampung Selatan, sekitar 90 persen hutan bakau sudah hilang karena dijadikan tambak udang tradisional dan semi-intensif.

Di seluruh kawasan tersebut, lanjut Manik, hutan bakau sulit direhabilitasi karena masyarakat tidak peduli. Masyarakat masih sulit diajak bekerja sama merehabilitasi hutan bakau. (hln)

Sumber: Kompas, Kamis, 15 Mei 2008

Pariwisata: Kaya Potensi akan Percuma Jika Tidak Menjual

KALIANDA (Lampost): Meskipun Provinsi Lampung memiliki potensi pariwisata yang luar biasa untuk menarik wisatawan, akan percuma jika tidak bisa menjual potensi itu kepada pengunjung.

Karena itu, dibutuhkan kekuatan untuk membangun kemajuan potensi pariwisata di Sang Bumi Ruwai Jurai ini.

"Kekuatan itu adalah planning, infrastruktur, SDM (sumber daya manusia) , leadership, dan promosi. Tanpa lima poin itu, pariwisata tidak akan maju," ujar Muhajir Utomo, ketua Majelis Pengurus Daerah (MPD) Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Provinsi Lampung.

Ia mengatakan itu pada pada Seminar Pendidikan dan Pariwisata Lampung Selatan menyongsong Visit Lampung 2009 di Aula Bappeda Pemkab Lamsel, Rabu (15-5).

Muhajir menjelaskan program yang tidak dipikirkan dengan matang hanya akan menghamburkan uang negara. Misalnya, Festival Krakatau (FK). "Berapa biaya yang dikeluarkan untuk sebuah FK tersebut, jika tidak sesuai income (pendapatan). Untuk itu, ke depan perlu dikaji untuk bagaiamana dengan planning, infrastruktur, SDM, dan leadership yang memadai," ujar cagub independen tersebut.

Menurut mantan Rektor Unila itu, lima poin yang merupakan kekuatan untuk membangun pariwisata di Lampung itu tidak akan berhasil jika eksekutif, legislatif, dan elemen masyarakat tidak mampu menarik pihak swasta (investor).

Lampung memiliki nilai jual yang tinggi seperti Bali di bidang pariwisata. Tapi kenapa objek wisata yang ada di Lampung tidak menimbulkan gairah bagi para wisatawan.

"Itu karena kita tidak mampu mengelola aset alam dan budaya," kata dia.

Seminar yang dihadiri Wakil Bupati Lamsel Wendy Melfa, Ketua MPC ADI Lamsel Abdul Khabir, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Lamsel Erlan Murdiyantono, Sitorus mewakili Kadis Pendidikan Provinsi Lampung, dan sejumlah mahasiswa dari Kalianda menjadi menarik ketika dibuka sesi tanya jawab.

Rp20 Miliar

Sementara itu, Zainal Arifin Tiang Negara, salah seorang anggota DPRD Lamsel, sangat mendukung pertumbuhan sektor pariwisata di Lamsel.

Namun, legislatif tidak setuju jika anggaran untuk sektor pariwisata tersebut tidak jelas. "Sudah Rp20 miliaran kami anggarkan untuk kemajuan pariwisata Way Belerang di Sukamandi, Kalianda. Tapi apa, dari dulu hingga sekarang kontribusinya hanya Rp50 juta setiap bulan," ujar dia.

Menyinggung masalah investor untuk membangun potensi pariwisata di Lamsel, menurut Zainal, tergantung Pemkab.

Sementara, Wendy Melfa mengajak seluruh masyarakat untuk membangun budaya lokal guna mencapai target Visit Lampung 2009. "Tugas pemerintah adalah melengkapi. Dan yang utama dalah bagaimana kita bisa ramah dan menjaga kebersihan di masing maisng tempat wisata, mengingat Lamsel memiliki 44 objek wisata dan 9 objek wisata alam," kata dia. n AL/D-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 15 Mei 2008

May 13, 2008

Dina Oktaviani: The lost biography of a young poet

-- Daniel Rose*

City lights picked me up/and we tried to forget all the things/that had shredded the solitude back in that room//we may never understand/why old calendars/could change history/as easily and quickly as a highway rush


Dina Oktaviani (JP/JB. Djwan)

HOW do you feel after reading the lines above? How would you feel if you were told that the verse, an excerpt from a poem titled Silent Calendars, was written by a 15 year old? Dina Oktaviani composed it in February 2001. She had never before submitted her work to a national publication, but a year after Silent Calendars was written, Media Indonesia decided to print it in its Sunday edition, along with her other poems.

And how did she feel about it? "I was happy about the pay," she said, laughing. "But seriously, back then, I had to pay my own school fees, and I enjoyed spending money. My parents were proud too. They said they didn't want me to be an artist, but they bragged about my printed poems to the neighbors anyway."

Born in Tanjungkarang, Bandar Lampung, on Oct. 11, 1985, Dina used to dream about being a spy. Today, the mother of a 3-year-old boy has written poems and short stories for various publications, and published two books, Como Un Sue*o (anthology of short stories, Orakel, 2005), and Biografi Kehilangan (A Biography of Losses, anthology of poems, Insist Press, 2006). Her piece of poetry Hantu-hantu Tanjungkarang (The Ghosts of Tanjungkarang) was recently included in 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 (100 Best Indonesian Poems 2008, Gramedia Pustaka Utama).

In regard to Dina's poems, acclaimed poet Sapardi Djoko Damono commented on the back cover of Biografi Kehilangan: "She entices us to experience the secrets of life in unique ways, ways that have never been captured by other poets. Her experiences are arranged in sharp metaphors and imageries, a characteristic of modern poetry."

Sitting in a quiet cafe in Yogyakarta, smoking clove cigarettes and occasionally taking a sip of her iced lemon tea, Dina recalled falling in love with literature, particularly poetry. It all started in junior high school.

(JP/JB. Djwan)

"In third grade, I watched a play that made me want to continue my studies at a school that had a theater group. One day, the play's director came to my school and staged a production, and I found out that Teater Satu, his theater group, had just formed a theater forum for senior high students. I often came to the forum, and I guess Iswadi Pratama, the director, observed my passion for theater and asked me to join the group. A few weeks later, he came to me and whispered in my ear: 'Would you like to learn about poetry?'" Dina embraced the opportunity, despite all the rules her mentor had laid out for her.

"I wasn't allowed to read teen magazines or comics. I couldn't watch sinetrons or band gigs. Oh, I wasn't allowed to have a boyfriend either. Falling in love was OK, but not boyfriends. After my poems were published in Media Indonesia and Republika, he then said I could break all of those rules, that I was free to do all the things that had been out of my reach in the last nine months. But I was no longer able to enjoy the things that I had deprived myself of," she said with a weak smile.

It was a coincidence that her mentor was also an editor with the Lampung Post. "Sometimes he asked me to edit the work of his reporters. And then he suggested that my friends from the theater forum and I work on a supplementary page for teenagers. My friends got bored, so I did the whole thing myself."

However, she sometimes misused the column for her own satisfaction and benefits. "I would make up questions and answers for the discussion section, though I was supposed to get the answers from real people. I was so selfish, I wanted people to read nobody else's opinions but mine. I also wrote poems under my friends' younger brothers' or sisters' names. When it was time for payment, I borrowed their IDs and told the treasurer's desk that those kids had asked me to get the money for them. I was such a criminal."

Dina took out a laptop from her bag. "Hey, you have a laptop too, don't you? This place has got a wireless connection. Let's chat via Yahoo Messenger," she said in a playful tone, adding, "just for the hell of it."

Time for the next question, through the internet, just for the hell of it: Why Yogyakarta?

(JP/JB. Djwan)

After graduating from her senior high school in Lampung, Dina went to Jakarta to study French at the Jakarta State University. Realizing she could learn much more from books than from her French classes, she decided that Yogyakarta was the right place for her. "I had imagined Yogya to be a quiet place, and it turned out to be true. Here I also found BlockNot Poetry, which offered more than I had expected." Blocknot was a journal that published short stories and poems. At the end of 2003, Dina became one of its editors.

Since writing is her passion, does Dina call herself a writer, someone who turns writing into a primary source of income? "I do other sorts of jobs. Translating pays quite well, and I also take short-term projects like joining a creative team for events, etcetera. But I had 'writer' typed in the occupation column of my ID card. It wasn't easy. I had a quarrel with the village official. He insisted that 'writer' wasn't an occupation, so I told him: Women get to have 'housewife' written on their ID card. Is that an occupation? Do women get paid for being a wife and a mother? I do have other jobs, but unless you are ready to have me here every month to get my occupation column changed, just put 'writer' there. It's my permanent job."

Dina admitted to being more of a poet than a writer. Imagine the argument she would have to come up with for putting "poet" in the occupation column.

* Daniel Rose, Contributor, Yogyakarta

Source: The Jakarta Post | Sunday, 05/11/2008

May 12, 2008

Kuliner: Iwapi Terbitkan Buku Makanan Tradisional Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Untuk melestarikan dan menginformasikan seni masak-memasak (kuliner) di Lampung, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Provinsi Lampung akan menerbitkan buku seni tata boga dan makanan tradisional di Sang Bumi Ruwa Jurai.

Ketua DPD Iwapi Lampung Hj. Karlina Kirom menjelaskan buku ini akan menyajikan berbagai menu masakan, kue-kue tradisional Lampung, hingga cara membuat dan penyajiannya secara lengkap dan menarik.

"Dengan buku ini, masyarakat akan memiliki referensi tentang berbagai menu masakan dan kue-kue tradisional khas daerah," kata dia, Sabtu (11-5) usai mengikuti Festival Kuliner dan Pameran Dagang 2008 yang digelar DPP Iwapi di Kantor Deperindag Jakarta pada 6--9 Mei lalu.

Pada event dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tersebut Provinsi Lampung meraih juara III makanan khas Indonesia dan juara III jajanan pasar tradisional, serta meraih predikat sebagai stan terlaris pada kegiatan tersebut.

Selanjutnya ia menjelaskan banyak makanan khas dan kue tradisional di Lampung yang harus dilestarikan. Seperti kue legit, skubal, bebai maring (kue injak-injak), dodol ager, ketan lapis, engka, dan sebagainya. Juga masakan seruit, pindang baung, pepes tempoyak, sambel kemang, sayur letak ketuk, sambel terasi, dan sebagainya.

Untuk menyajikan makanan tersebut perlu keahlian dan keterampilan khusus. Seperti kue legit, agar terlihat lebih menarik dan tampil memikat, perlu dimodifikasi baik bentuk dan penampilannya.

"Untuk membuat karya yang bagus dan indah, kita perlu seni dan kreativitas tinggi. Karena itulah, dalam buku tersebut selain menyuguhkan menu-menu juga dilengkapi cara-cara membuat dan penyajiannya," ujar Karlina Kirom yang juga ketua Bidang Kemitraan DPP Iwapi tersebut.

Ia mengungkapkan buku ini nantinya dikumpulkan bersama seluruh makanan dan masakan tradisional dari 33 provinsi di Indonesia serta akan diterbitkan DPP Iwapi.

Ia juga mengaku bersyukur dengan diraihnya dua juara III dalam event tersebut. Tim yang dimotorinya dan beranggotakan Ny. Imram Maruf, Hernawati Mawardi, Dr. Melva Diana, Ning Sukoco meraih juara III Makanan Khas Indonesia dengan menyajikan menu pindang baung, sayur letak-latuk, pepes tempoyak, dan sambel kemang.

Kemudian untuk jajanan pasar menyajikan skubal, bebai maring, dodol ager, dan dodol sirkaya. Dengan meraihnya prestasi tersebut ini menunjukkan masakan dan makanan tradisional Lampung tidak kalah enak dan menarik dibanding dengan provinsi lain.

Tidak hanya itu, untuk meningkatkan kualitas anggota Iwapi pihaknya akan menjalin kerja sama dengan Private Enterprise Participation (PEP) Kanada untuk mengadakan berbagai pelatihan seperri pendidikan komputer dan internet. Di era global, anggota Iwapi dituntut mampu mengakses informasi-informasi baru baik perkembangan usaha maupun jenis-jenis produk yang dibutuhkan konsumen.

"Bila mereka dapat mengoperasikan internet dengan baik, transaksi dengan buyers (pembeli) bisa lebih efektif dan efisien." n AST/S-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Mei 2008

May 11, 2008

Bingkai: Festival Radin Jambat, Festival Seni Budaya?

-- Endri Y.*

ENTITAS, etnisitas, dan berbagai identitas menjadi penyedap keragaman kita sebagai daerah multikultural. Format identitas suku (ethnic identity), identitas daerah (regional identity) dan identitas agama (religious identity) di Lampung sangat mudah menguat.

Apalagi jika dipicu dengan variabel politis, bagian integral dari konsekuensi logis dilaksanakannya bebagai festival ke-Lampung-an.

Proses pencarian tentang apa sebenarnya identitas Lampung memaksa saya hadir dalam berbagai kegiatan, bermula dari Ngumbai Lawok di Krui, Festival Jukung, lalu yang masih baru kemarin, festival Radin Jambat di Way Kanan, ditambah sehari setelahnya, ada pemancangan identitas Lampung yang lain, yaitu peresmian Menara Siger di Bakauheni.

Jika sejarah Tugu Siger dapat diketahui pada rangkaian sambutan, beda dengan festival Radin Jambat, yang hanya bisa diketahui melalui studi referensi/kepustakaan.

***

Radin Jambat adalah putra mahkota yang berasal dari Kerajaan Punigaran, dengan rajanya, Kiyai Sang Ratu Jambi. Kemudian, dalam perantauan, mengembara mencari jodoh, Radin Jambat ditemani dua punakawan yang sakti mandraguna, lalu berhasil menikahi Putri Ratu Rebut Agung. Putri cantik yang menjadi pujaan banyak lelaki.

Demikian kisah Radin Jambat yang berhasil membunuh 40 tunangan Sang Putri Ratu Rebut Agung, tentu saja dibumbui dengan kesaktian mistis, cerita tentang dewa-dewa, kekuatan supranatural, dan muaranya adalah kecantikan Sang Putri yang berhasil dinikahi.

Begitulah, sejarah Radin Jambat yang terlacak dalam buku Radin Jambat; Cerita Rakyat Daerah Lampung yang dihimpun Ali Imron dan Iskandar Syah, terbitan Gunung Pesagi, 1995.

Festival Radin Jambat sudah diselenggarakan yang ketiga kali oleh Pemkab Way Kanan dengan rangkaian acara berbagai lomba seni budaya. Karena sudah ketiga kali, dipastikan acara ini terus digelar setiap tahun. Senada dengan itu, konteks penarikan wisatawan (Visit Lampung 2009) Lampung Timur dengan Festival Way Kambas, Provinsi Lampung dengan Festival Krakatau, dan sebagainya membuat sejarah dan akar kearifan lokal yang dijadikan ikon untuk mendasari kegiatan seni budaya benar-benar autentik.

Tulisan di bawah ini hanyalah refleksi kritis penulis sebagai pencinta seni budaya Lampung agar setiap kegiatan yang bercorak dan dikhususkan sebagai usaha pelestarian tidak ambigu, ahistoris, sekadar politis. Dan apalagi jika sekedar dipaksakan keberadaannya.

Menariknya, jika unsur seni budaya yang dimaksudkan sebagai landasan filosofis diadakannya acara itu tidak menyentuh substansi emosional lokal masyarakat, yang ada hanya perayaan seremoni tanpa ruh seni budaya itu sendiri.

Misalnya, di Lampung Selatan, yang bangga dengan kepahlawanan Radin Inten II, tidak mungkin menyentuh emosional masyarakat Kalianda jika yang digelar adalah festival Pangeran Diponegoro.

Pertanyaannya, apa kaitan sejarah Radin Jambat dengan Way Kanan, Way Kambas dengan Lampung Timur, Krakatau dengan Provinsi Lampung?

Sebelum sampai pada interpretasi, setidaknya dalam ilmu kebudayaan di Indonesia ada dua cara untuk kontemplasi. Pertama, dengan teori dalam sistematisasi rasional dan filsafat seni budaya. Kedua, bergumul dengan seni budaya sebagai keseharian yang diberi makna secara sederhana dan efektif agar eksistensi estetis berlangsung terus- menerus atau dengan kata lain, seni budaya dibahasakan dengan komunikasi intuitif penghayatan, pembaruan, dan perayaan.

Arah Berkebudayaan

Dari kedua pencerdasan itu, penghayatan, pembaruan, dan perayaan adalah domain tata cara kebanyakan kita menginterpretasi seni budaya. Dengan demikian, kesan artifisial, sekadar seremoni, membaca berkacamata kepentingan pragmatis, hingga perspektif politis seolah kewajaran. Padahal logika seni budaya, masuk unsur pelestarian dan inventarisasi sangat beda konteks dengan politik kebijakan.

Hal ini yang menjadikan penulis berkeyakinan, festival semacam Radin Jambat jika tidak masif dan tumbuh dari masyarakat, sangat sulit dipertahankan.

Pengertian kebudayaan dalam paradigma struktural fungsional, menurut Emile Durkheim, yaitu pertama, melihat kebudayaan sebagai kesadaran kolektif yang berada di luar individu, dan mengontrol perilaku individu dalam mewujudkan tindakan. Kedua, mekanisme kontrol dalam perilaku individu dan akibat normatif bagi pelaku yang menyimpang dari aturan-aturan dalam mekanisme tersebut.

Ketiga, sifat statis sebagai akibat dari orientasi sistemik karena ketergantungan unsur-unsur dalam membangun harmoni. Dan keempat, transmisi kebudayaan dari generasi ke generasi sehingga dapat melestaikan kebudayaan tersebut.

Dari sini, terbentang peta sebagai rute perjalanan kebudayaan kita, seperti festival semacam Radin Jambat, Way Kambas, Krakatau, Perahu Jukung, dan semacamnya dapatkah dipertahankan eksistensinya? Apakah ada langkah masif yang mengikuti, semisal masyarakat mampu berhibur dan atau tidak terhibur jika tidak ada festival itu?

Identitas Kolektif

Persoalan identitas, menjadi pertanyaan dasar, spesifik untuk identitas kolektif(nya) orang Lampung. Untuk menguji dan memetakan pertanyaan ini, ada teori Arjun Appadurai dalam buku Modernity at Large. Cultural Dimensions of Globalization (1996). Antropolog asal India itu (seperti dapat dilihat dari judul bukunya) bukan hanya tertarik fenomena nasionalisme, melainkan mencoba mengerti apa yang dewasa ini disebut dengan globalisasi budaya, yaitu fenomena kebudayaan yang tidak terikat kepada negara-bangsa lagi.

Arjun Appadurai melihat dewasa ini dunia media dan teknologi informasi sangat bervariasi dan kebanyakan dari media atau teknologi yang baru tidak lagi ditujukan kepada pasar domestik, melainkan mengalir kepada konsumen/penggunanya yang secara geografis dan atau politis hidup berjauhan.

Appadurai bertanya, kalau dahulu media cetak mendukung identitas nasional, identitas-identitas apa yang didukung media yang berperan global dewasa ini? Bahkan, pertanyaan ini dapat dipertajam, identitas apa yang disuarakan media lokal untuk mempertegas komitmen berkebudayaan Lampung?

Selain menganalisis identitas kolektif, Arjun Appadurai juga menganalisis identitas perorangan, ternyata yang disimpulkan adalah identitas ada karena didukung media global, misalnya teknologi informasi. Juga agama sebagai identitas kolektif, yang sebenarnya sudah lama ada, belakangan ini mengalami sesuatu yang transnasional oleh lebih banyak pemeluknya, hingga budaya lokal (dimana pertanyaan "Apa identitas kita sebagai masyarakat Lampung?" menjadi sangat aktual) berhadapan dengan lalu lintas global yang terus-menerus menawarkan petikan-petikan identitas dari bermacam-macam warna dunia.

Tanpa memperhatikan peran media global serta teknologi informasi, identitas kebanyakan orang dewasa ini tidak dapat dimengerti, itulah tesis Appadurai. Artinya, tanpa peran publikasi dan informasi yang dimotori media, Lampung sama sekali tidak beridentitas. Dus sebaliknya, logika apa yang dipakai sehingga muncul festival ini itu sebagai identitas seni budaya kita.

Orang Lampung dalam kaitan identitas kolektif makin berada di simpang jalan kritikal dan krusial. Dalam ikatan agama, misalnya, mampukah mendasari terbentuknya "manusia kolektif". Hingga dalam tahapan tertentu kelompok manusia kolektif ini menjadi "umat".

Hanya memang, ada sumbatan inkoherensi atas fenomena tentang misalnya, mulai ada cultural discontinuity atau keterputusan budaya-budaya tradisional.

Adanya manusia kolektif, menurut Prof. Marcel A. Boisard, minimal terikat tiga aspek pokok. Pertama, mengikuti aturan wahyu Tuhan yang menuntun manusia untuk totalitas mengabdi pada aturan Tuhan, terkait hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan makhluk. Kedua, praktek ibadat yang harus dilaksanakan sebagai pengejawantahan manusia yang beriman, berkelompok, dan terorganisir. Dan ketiga, konstruksi kelompok masyarakat yang sesuai dengan konsepsi aturan (hukum).

Untuk Lampung, persatuan adat, kekerabatan, kerajaan, (ke)marga(an), dan semacamnya memang lebih kental dalam bentukan identitas kolektif. Aspek agama Islam, ternyata memberikan warna dan pencitraan tersendiri dalam kaidah kelembagaan maupun kebudayaan.

Faktor alamiah, yang membuat identifikasi awal tentang misalnya pranata sosial masyarakat dengan mentalitas Islam, religiositas tradisi, kebajikan-kebajikan sosial, kecenderungan untuk hidup bersama, kehalusan budi, dan conformism merupakan ciri-ciri peradaban Islam yang melekat dalam adat Lampung. Aplikasi nilai-nilai agama juga ternyata berpengaruh menimbulkan transformasi manusia dan kebudayaan di Lampung.

Intisari persoalannya adalah sejauh ini kurang terdokumentasi dan terpublikasi dengan rapi, tidak sistematis dan atau sulit diakses masyarakat luas.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mampukah berbagai festival seni budaya itu menjadi pusat informasi atau justru menjadi arena berhibur an sich tanpa substansi sejarah filosofis yang akhirnya, sudahlah masyarakat tidak tehibur, seni budayanya tidak terpopulerkan pula.

* Endri Y., Pencinta Seni Budaya Lampung, tinggal di Kalianda

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Mei 2008

Apresiasi: 'Pang Lipandang' dalam Gesekan Taman Suropati Chamber

IRAMA gesekan biola membius pengunjung gedung Wisata Makanan, JaCC, Tanah Abang, Jakarta, Sabtu, (2-5) pukul 19.00. Lagu daerah Lampung, Pang Lipandang, menjadi salah satu nomor spesial karena dikemas apik dalam simponi gesek yang amat lembut.

'Pang li pandang, pak lipang dang kik lidang, pang li pandang di pandang kaya nian....'

Bukan saja gesekan biolanya yang terdengar apik dan menghanyutkan, tetapi juga secara khusus lagu Lampung itu dimainkan oleh Ages Dwi Harso, pimpinan Komunitas Musik Taman Suropati Chamber. "Ini persembahan khusus untuk Lampung," kata Ages yang malam itu mengenakan pakaian daerah. Malam itu Lampung memang tersanjung.

Pergelaran yang melibatkan 50-an peserta musik gesek itu diberi tajuk Konser Musik Lagu Daerah, Persembahan untuk Ibu Pertiwi. Dan, inilah konser pertama Komunitas Suropati dengan mengambil momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Hampir seluruh lagu daerah yang merupakan kekayaan seni Tanah Air, yang mulai dilupakan pemiliknya sendiri, diperdengarkan dalam konser malam itu. Karenanya konser malam itu menjadi amat menyentuh, seperti menghadirkan kembali miliknya sendiri yang telah lama hilang.

Surapati Chamber lalu secara ganti-berganti mengalunkan lagu Sirih Kuning, disambung Bungong Jeumpa, Varia Jawa, Bolelebo, Burung Kaka Tua, Anak Kambing Saya, dan Manuk Dadali yang dimainkan amat kompak dan dengan spirit kebhinekaan yang kental. Lagi-lagi, decak kagum pengunjung dan riuh tepuk tangan menyambutnya.

Ratusan pengunjung pun--meskipun mereka penduduk Jakarta, mereka berasal dari berbagai daerah--seperti bernostalgia kembali mendengarkan lagu-lagu yang hampir dilupakan itu. Mereka terhanyut dan secara spontan ikut menyanyikan lagu-lagu itu. Bahkan, jika ada irama yang dinamis, pengunjung pun ikut menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu.

Dengan diselingi happening art oleh seorang penari dengan iringan gesekan maut biola seorang violis, konser kemudian menuntaskan sejumlah lagu: Selayang Pandang, Timpak Timpung, dan Hella Rotane. Menjelang lagu pamungkas, Sing Sing So dari Tanah Batak dinyanyikan secara khusus oleh Prof Payaman J Simanjuntak, anggota komunitas itu. Secara spontan para orangtua yang mengenakan ulos pun mengiringinya dengan gerak manortor.

Akhirnya, konser semakin berenergi ketika hadir bintang tamu, Nugie, yang dengan atraktif menyanyikan (sambil menari) lagu Papua, Yamko Rambe Yamko. Iringan musik gesek yang ditimpa perkusi pun menjadikan harmoni bunyi yang kian rancak.

"Bangsa yang besar, bangsa yang menghargai kekayaan budaya, kepada anak-anakku tercinta, yang sudah menjaga budaya bangsa Indonesia," kata Setiawan Djodi ketika jeda. Ia memberikan apresiasi tinggi pada pementasan Komunitas Musik Taman Suropati Chamber itu.

Cucu tokoh pergerakan Dr. Wahidin Sudiro Husodo itu, kemudian mengemukakan keprihatinannya terhadap ketidakpedulian kita terhadap seni tradisi yang dibiarkan punah. Sebab, katanya, bangsa mana pun, tak akan bisa besar tanpa menghargai miliknya sendiri. Ia menyebut Jepang dan China yang kini menjadi contoh bangsa yang menghargai kultur bangsanya sendiri.

"Selain dapat menumbuh-kembangkan apresiasi terhadap seni musik dan budaya bangsa, Komunitas Suripati juga sekaligus menumbuhkan bakat-bakat pemain musik remaja muda yang andal dan mencintai hasil karya budaya bangsa Indonesia," timpal Direktur Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kementrian Negara Perencanaan dPembangunan Nasional, Dadang Rizki.

Persembahan malam itu selain didukung oleh Lampung Post, Metro TV, dan Media Indonesia, juga oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Keterlibatan pers menjadi amat penting karena lagu-lagu daerah kerap dipandang sebelah mata oleh publiknya sendiri.

Karena itu, kepedulian Komunitas Musik Gesek Taman Suropati, mestinya harus mendapat apresiasi. Yang menjadi menarik, inilah komunitas musik pertama, khsusnya di Jakarta, yang memilih taman sebagai tempat bermain. Menurut Ages, kini sudah ada permintaan untuk membuat komunitas serupa di beberapa taman. Bulan Juni nanti komunitasnya juga diminta main di istana presiden.

Komunitas Suropati yang berdiri tahun lalu itu setiap minggu (pukul 11.00--15.00) bermain di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka bermain di alam terbuka. Sifat keterbukaannya itulah yang menjadi ciri khas, termasuk dalam hal menerima anggota.

Anggota Komunitas Suropati bisa datang dari mana saja dan dari berbagai kelompok usia. Karena itu anggota komunitas amat beragam: murid SD, SMP, SMA, mahasiswa, pengamen, dan mereka yang sudah bekerja. "Syaratnya sederhana, punya alat musik gesek dan punya spirit kebangsaan," kata Ages yang telah beberapa kali diundang ke luar negeri karena aktivitasnya bermusik.

Dengan main di alam terbuka, Komunitas Taman Suropati mempunyai spontanitas yang tinggi. "Misalnya ketika jenazah mantan Presiden Soeharto melintas, mereka spontan membawakan lagu Gugur Bunga," tutur Ny Rita Zahara, salah satu orang tua yang anaknya ikut dalam komunitas itu.

Dalam komunitas itu peran orangtua sangat menentukan. Sebab, para orangtualah umumnya yang meyakinkan kepada anak-anaknya tentang betapa pentingnya musik daerah. "Tanpa kepedulian dan pengorbanan yang tinggi, kami tak bisa jalan. Karena, kami kan harus meninggalkan waktu untuk keluarga setiap hari Minggu. Pengorbanan ini kalau tidak ada pemahaman keluarga akan sulit," kata Ny Rita lagi.

Justru karena melibatkan para orangtua, suasana Komunitas Suropati menjadi penuh kekeluargaan. "Prinsipnya masing-masing dari kami bisa menyumbangkan apa yang kami miliki. Tidak harus materi," kata Bambang, anggota komunitas yang telah berusia, tetapi punya spirit yang menggelora.

Contoh yang paling kongkret ketika latihan menjelang konser. Para orangtua berbagai tugas untuk konsumsi 50-an anggota. "Setiap latihan kami berbagi tugas membawa konsumsi. Ini supaya menghemat, tidak beli di luar," kata orangtua lain, Ny Indah. Ia mengungkapkan, anaknya yang baru kelas IV SD merasa amat happy di Komunitas Suropati karena atmosfer kekeluargaannya yang kental.

Bahkan, Konser Musik Lagu Daerah Persembahan untuk Ibu Pertiwi malam itu, sesungguhnya tak akan bisa berjalan tanpa para orangtua. Mereka benar-benar "jungkir balik": mengurus izin konser, gedung, menghubungi para undangan, mencari sponsor, memasang spanduk, dan tetek bengek lainnya. Para orangtua amatiran itu ternyata juga mampu bekerja maksimal dan profesional. Dan, konser malam itu, benar-benar kian menggelorakan anggota komunitas untuk terus menyanyikan lagu-lagu daerah. Justru karena industri musik hanya peduli pada lagu-lagu masa kini yang amat komersial.

"Sebuah konser yang mengharukan, karena ternyata itu perjuangan para orangtua yang tak kenal lelah," kata Ny To Sei, seorang pengunjung yang malam itu merasa amat bahagia menikmati lagu-lagu daerah. JUNIARDI/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Mei 2008

May 8, 2008

Seni: Baru 30% Guru Sastra Mampu Membuat Puisi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Baru sekitar 30 persen guru Sastra dan Bahasa Indonesia di Provinsi Lampung yang memiliki keahlian dalam ilmu terapan pembacaan dan pembuatan puisi terutama berkaitan dengan dunia sastra.

Penyair Lampung Edy Samudra Kertagama, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di Sekretariat Dewan Kesenian Lampung (DKL), baru-baru ini. Dia mengatakan angka tersebut diperoleh setelah dilakukan pengkajian kepada guru-guru sastra dan bahasa se-Provinsi Lampung. "Selain itu, saat ini wadah pengembangan sastra di sekolah masih sangat kurang. Wadah yang ada selama ini yang kerap digunakan siswa hanyalah majalah dinding," kata Edy.

Padahal nantinya guru sastra yang ada di sekolah bisa membuat semacam satu buletin sastra untuk pelajar ataupun guru yang terbit setiap pekan atau bulan. "Kemudian kegiatan tersebut ditambahkan dengan pembedahan karya sastra yang ada dengan mengundang para penyair ke sekolah-sekolah," tambah dia.

Edy menjelaskan kegiatan tersebut sudah diterapkan di Provinsi Riau. "Ini saya dapatkan setelah menghadiri Temu Sastrawan Sumatera yang digelar di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada tanggal 1--7 April lalu. Bahkan untuk lanjutan akan dilaksanakan Pesta Penyair Nusantara 2008 Sempena The 2nd International Poetry Gathering di Kediri, Jawa Timur, pada 26 Juni--2 Juli mendatang," ujarnya.

Dia mengemukakan dengan dibukanya ruang tersebut, akan terbuka masyarakat luas baik itu guru, pelajar, dan lainnya untuk bisa menjadi penyair. "Paling tidak mereka akan menyukai dunia sastra. Sehingga dunia sastra akan semakin berkembang di Provinsi Lampung dengan lahirnya penyair-penyair muda dan baru," kata dia.

Meskipun, kata Edy, untuk di Lampung sudah ada satu wadah seperti Himpunan Penulis dan Pembaca Sastra untuk masyarakat umum bernama Rumah Pena. "Namun untuk di sekolah-sekolah perlu ditumbuhkembangkan lagi. Sehingga selain muridnya yang akan memiliki ruang apresiasi sastra, para guru juga akan selalu berkembang keilmuannya," tambah dia lagi.

Saat ini Edy sedang mempersiapkan 100 puisi pilihan karyanya yang dibuat dalam kurun 1979--2008 dalam bentuk satu buku yang segera diterbitkannya. n */S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 8 Mei 2008

May 3, 2008

Kesusastraan: Puisi Indonesia Masih Butuh Pengayakan

Bandar Lampung, Kompas - Selama 10 tahun terakhir, puisi Indonesia belum banyak berkembang. Puisi-puisi produk Indonesia terkini baru sebatas karya dengan tema yang jalan di tempat dan belum mampu mengomunikasikan kegelisahan masyarakat secara apik, jernih, dan gamblang.

Penyair Joko Pinurbo (tengah) didampingi Binhad Nurrohmat (kiri) dan Iswadi Pratama (kanan) menjawab pertanyaan peserta diskusi puisi yang menyertai peluncuran buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008, Rabu (30/4), di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. (KOMPAS/HELENA F NABABAN)

Demikian kesimpulan pada acara diskusi tentang puisi Indonesia yang menyertai peluncuran buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung, Rabu (30/4)

Penyair asal Lampung yang kini bermukim di Jakarta, Binhad Nurrohmat, dalam diskusi tersebut mengatakan, kemandekan atau stagnasi itu muncul lantaran banyak penyair Indonesia saat ini yang terlalu sibuk dengan estetika bunyi dalam puisi. Para penyair terlalu sibuk dan asyik mencari kata-kata indah untuk dipakai dalam puisi mereka.

”Hasilnya luar biasa,” kata Binhad. Dari pengamatan terhadap puluhan surat kabar di Indonesia, setiap tahun setidaknya bisa dihasilkan 1.000-an karya puisi. Dari sisi produktivitas, jumlah tersebut sangat luar biasa. Hanya, puisi-puisi itu tidak menunjukkan kemajuan tema.

Menurut Binhad, ketika satu penyair berkarya dengan tema tertentu, seperti tema erotisme, dan menarik perhatian publik, penyair lain akan mencoba membuat puisi yang sama. Jadi, bisa ditebak, penyair akan berputar-putar di seputar tema yang dianggap menarik itu.

Hal lainnya, ujar Binhad, ketika tema tidak berkembang, puisi-puisi Indonesia masa kini tidak memunculkan diksi atau kata baru. Padahal, bahasa bisa berkembang melalui karya sastra dari genre puisi itu sendiri.

Joko Pinurbo, salah satu penyair lain yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, mengatakan, kemandekan dalam hal diksi yang dimaksud Binhad seharusnya bisa diatasi apabila para penyair mau mengeksplorasi tema dari bidang lain.

Misalnya, sebelum berkarya seorang penyair membaca atau mengumpulkan pengetahuan dari bidang lain. Jadi, pengayakan kata atau diksi untuk mengungkapkan ekspresi bisa dilakukan. ”Sayangnya, harus kita akui penyair Indonesia cukup malas untuk menggali pengetahuan atau mengayak kata-kata dari bidang lain,” tuturnya.

Ari Pahala Hutabarat, penyair asal Lampung, mengatakan, hal yang paling memungkinkan terjadinya kemandekan tema puisi adalah ketidakmampuan para penyair mengomunikasikan berbagai realitas sosial. (HLN)

Sumber: Kompas, Sabtu, 3 Mei 2008

May 2, 2008

Ikon Lampung: Menara Siger Dorong Kemajuan

BAKAUHENI (Lampost): Setelah menyelesaikan pembangunan Menara Siger, Pemprov Lampung mencanangkan Januari mendatang dimulai pemancangan pipa gelegar jembatan Selat Sunda (JSS). Gubernur Sjachroedin Z.P. optimistis Menara Siger dan JSS akan mendorong kemajuan bagi Lampung.

RESMIKAN MENARA SIGER. Gubernur Lampung Sjachroedin ZP (memegang mikrofon) dan sejumlah duta besar negara sahabat, melepas merpati pada peresmian Menara Siger di Bakauheni Lampung Selatan, Rabu (30/4). Menara Siger yang diresmikan sebagai ikon Provinsi Lampung tersebut dibangun di atas bukit di Bakauheni, Lampung Selatan diharapkan dapat menarik wisatawan berkunjung ke sana. (ANTARA/Triono Subagyo)

Kemarin (1-5), Gubernur Sjachroedin meresmikan Menara Siger ditandai penekanan sirine dan penandatanganan prasasti. Kemudian diikuti penglepasan merpati oleh 10 duta besar berserta istri serta penerbangan helikopter rakitan mahasiswa Universitas Lampung.

Ny. Truly Sjachroedin menggunting rangkaian melati di pintu masuk bangunan menara sebagai tanda dibukanya bangunan bagi masyarakat. Semua prosesi itu diiringi lagu Mars Lampung oleh Korps Musik (Korsik) Pemprov Lampung.

Pada peresmian itu, Gubernur mengundang 32 dubes, di antaranya dubes Kroatia, Sri Lanka, Jepang, Palestina, Afghanistan, Singapura, dan Filipina. Peresmian yang diwarnai pembukaan stan dari seluruh kabupaten/kota itu juga dihadiri keluarga Sultan Banten dan Sultan Kanoman Cirebon.

Dalam sambutannya, Gubernur yakin Menara Siger akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15%. Angka itu diperoleh dari perkiraan jumlah kendaraan setiap hari 3.500 unit dan 15 juta orang/tahun yang melintasi Pelabuhan Bakauheni. "Kita ambil 15 persen saja yang singgah ke Menara Siger, maka setiap tahun kita akan menghasilkan pendapatan Rp12,5 miliar," ujarnya.

Berdirinya Menara Siger, ujar Gubernur, mengawali pembangunan jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Bakauheni--Merak, Banten. JSS akan membuat pintu gerbang Sumatera makin dikenal dunia, khususnya Indonesia.

Pembangunan JSS juga jadi prasarana perhubungan yang akan mengatasi kemacetan di Bakau--Merak. Dalam perkiraan Gubernur, lintasan Bakau--Merak lima tahun ke depan akan jadi biang kemacetan.

"Kalau kapal tidak beroperasi karena gangguan cuaca tentu kemacetan tidak bisa dihindari. Untuk itu, saya bersama seluruh gubernur di Sumatera dan Gubernur Banten mendesak pemerintah. Alhamdulillah, ini dapat restu Presiden," kata Gubernur.

Menara Siger yang megah berada di atas bukit sebelah barat Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut dilengkapi dengan sarana informasi mengenai peta wisata yang berada di seluruh kabupaten/kota se-Lampung.

"Menara Siger bukan monumen masa lalu. Ini bangunan masa depan yang akan jadi fenomena bagi masyarakat Lampung jika dipadu dengan JSS," kata Gubernur. AAN/AL/U-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 2 Mei 2008

May 1, 2008

Ikon Lampung: Istigasah Warnai Rangkaian Peresmian Menara Siger

BANDAR LAMPUNG--Hari ini (30-4), Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. akan meresmikan Menara Siger di Bakauheni, Lampung Selatan. Peresmian menara yang jadi ikon daerah ini dihadiri 12 duta besar (dubes) negara sahabat.

Prosesi peresmian menara yang menjadi titik nol Pulau Sumatera itu dimulai kemarin dengan istigasah kubra yang melibatkan masyarakat Lampung Selatan. Istigasah juga diikuti keluarga Keraton Cirebon dan warga Kampung Cikoneng, Banten.

Kemarin malam, acara dilanjutkan hiburan rakyat menampilkan film layar tancap dan pergelaran wayang kulit oleh dalang kondang Ki Mantep Sudarsono dari Jawa Tengah.

Menara Siger dibangun di tanah milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Bakauheni. Menara sepanjang 50 meter itu berada di atas bukit di sisi barat pelabuhan.

Menara yang dibangun di perbukitan dengan ketinggian 300 meter itu menelan dana ratusan miliar rupiah. "Menara ini menjadi land mark Provinsi Lampung. Pembangunannya untuk masa depan, belonging to the future," kata Gubernur Sjachroedin, kemarin.

Dia menyadari selama ini Lampung belum memiliki ikon, tidak seperti Padang yang dikenal dengan Jam Gadang, Palembang dengan Jembatan Ampera, dan Jakarta dengan Monas. "Lampung ya Menara Siger," kata dia.

Gubernur berharap menara yang sempat ditolak anggota DPRD tersebut dapat menjadi daya tarik investasi. Jika kini investasi yang masuk Rp12 miliar, Menara Siger itu diharapkan dapat menyerap Rp200-an miliar pada masa mendatang.

Daya tarik Menara Siger makin kuat jika dikaitkan dengan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Sumatera--Jawa, "Menara itu bisa juga menjadi tempat belajar anak-anak. Sebab, dari sana dapat terlihat aktivitas pelabuhan termasuk keluar-masuk kapal dan lainnya," kata Gubernur.

Desainer konstruksi Menara Siger, Anshori Djausal, mengatakan menara tersebut dibangun sepanjang 50 meter dengan ketinggian 30 meter di puncak jurai siger terbesar. Desain sempat berubah tujuh kali untuk mengakomodasi pemikiran Gubernur.

Awalnya, kata Anshori, gagasan membuat Menara Siger datang dari Sjachroedin sekitar tahun 1995. Sjachroedin yang saat itu masih aktif di kepolisian mempunyai pemikiran untuk membuat land mark atau penanda telah berada di Lampung. "Seperti di Sabang yang ada Tugu Nol Kilometer Indonesia atau Pontianak yang memiliki Tugu Khatulistiwa."

Saat itu, Anshori juga mengajukan desain kepada gubernur dengan biaya sekitar Rp40 miliar. Usulan itu tidak bisa dilaksanakan. "Baru terlaksana pada masa Pak Sjachroedin," kata dosen Fakultas Teknik Unila itu.

Anshori menggunakan model siger bukan sebagai lambang adat, melainkan sebagai emblem warga Lampung secara keseluruhan. n AAN/U-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 April 2008