September 27, 2009

[Buku] Dari Paris dengan Cinta

Judul Buku : Paris Lumiere de l'Amour, Catatan Cinta dari Negeri Eiffel
Pengarang : Rosita Sihombing
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativita, Jakarta
Cetakan : Mei 2009
Tebal : xii + 174 hlm.

SUKSES merilis novel Luka di Champs Elysees, Rosita Sihombing, novelis kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 24 Januari 1974, meluncurkan buku Paris Lumiere de l'Amour, Catatan Cinta dari Negeri Eiffel (PLdA).

Dalam buku PLdA ini, Rosita menulis kisah keseharian yang dialaminya. Dengan pengalaman jurnalistiknya, Rosita mengisahkan kehidupan pribadinya sebagai ibu dalam mengarungi biduk rumah tangganya bersama suaminya, pria asal Prancis, Patrick Mon Luis.

PLdA merupakan kumpulan curahan hati (curhat) Rosita. Lewat buku ini Rosita ingin berbagi pengalaman dan informasi tentang seluk-beluk kehidupan di Negeri Napoleon ini. Kisah-kisah yang ditulisnya memang sangat sederhana, bahkan mungkin terlihat remeh-temeh. Namun justru itu menjadi menarik. Rosita dengan gamblang memaparkan pengalamannya dari berbagai macam aspek, seperti; ekonomi, budaya, politik, agama, dan kehidupan sosial megapolitan Paris hingga resep masakan.

Buku ini terbagi dalam lima bab. Pada Bab I, bertajuk Voila Paris, Ini Paris, mengisahkan seluk-beluk Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Rosita menulis betapa pentingnya peran KBRI. Bukan hanya persoalan birokrasi, melainkan juga persoalan sosial, makanan hingga rasa nasionalisme. Bukti kongkretnya, Rosita meskipun sudah tinggal sejak tahun 2003 di Paris tetap keukeh mempertahankan kewarganegaraan RI-nya.

Dalam bab ini juga disoal suka-duka menggunakan transportasi umum, persalinan, tunawisma, persaingan dalam menyewa apartemen, mencari sekolah taman kanak-kanak hingga ruwetnya mengurus paspor WNI untuk anak semata wayang-nya Ilhan Barru Yusuf Pierson Monluis.

Bab II, Bon Appetit! Selamat Makan mengisahkan pengalamannya tentang dunia kuliner. Rosita membuka bab ini dengan menyodorkan resep gado-gado, ini mungkin persoalan remeh temeh. Tetapi bayangkan kalau kita berada jauh dari Indonesia bisa menikmati sajian makanan kesukaan kita. Hal yang remeh temeh bisa jadi sesuatu yang spesial bukan?

Lain ladang lain belalang, begitu bunyi ujaran. Lain negara beda cara menyantap kejunya. Selain gado-gado, Rosita juga menyodorkan resep pisang keju. Sebagai penggila durian, Rosita tak lupa menulis kisahnya berburu durian bersama suaminya di Paris.

Termasuk ngerumpi tentang durian bersama teman-temannya di-blog. Dalam buku ini Rosita juga mencatat pengalamannya setelah lima tahun hidup di Prancis dan merekomendasikan sekitar lima restoran China yang menyajikan masakan halal di China Town.

Pada Bab III, Rosita mencatat peristiwa-peristiwa tak terlupakan yang dialami Rosita dan keluarganya, antara lain menyaksikan peringatan hari Kemerdekaan Prancis yang meriah dan tertib. Menonton opera di Gedung Opera Garnier pas hari ulang tahun pernikahan. Menanti musim salju, sebuah peristiwa kecil ketika Rosita mengenalkan anaknya Ilhan tentang musim. Kemudian peristiwa merayakan momen pergantian tahun di menara Eiffel dan Champs Elysees.

Rosita juga mengisahkan berbagai pengalamannya bersama keluarga ketika mudik ke Indonesia. Ini menjadi menarik, karena ada perbedaan budaya. Kemudian kisah demam Piala Dunia di Paris juga jadi menambah kisah dalam bukunya. Dan yang juga tak terlepas dari amatannya adalah turis-turis yang mengalir membanjiri kota yang punya ikon menara Eiffel ini.

Pada Bab IV, Rosita merekam peristiwa keseharaian dari persoalan mahalnya harga kunci, pipa air yang bocor hingga proses lahirnya novel pertamanya Luka di Champs Elysees. Menulis sebuah novel memang tidak terpikir oleh Rosita.

Keinginannya untuk menulis novel tiba-tiba muncul begitu saja. Apalagi setelah melihat bloger lainnya, yang tadinya tidak menulis apa-apa, kini sudah menghasilkan banyak buku. Maka tumbuh kecemburuan Ita. Rasa cemburu itulah yang melecut semangat Ita untuk menulis novel.

Lewat novelnya Rosita melakukan gugatan akan peran perempuan. Lewat novelnya Luka di Champs Elysees, yang dirilis musim gugur 2008, Rosita menunjukkan perjuangan kaum feminis.

Bab terakhir, Saat Muslim Bukan Mayoritas, berisi kisah-kisah perjalanan religiositas Rosita dan keluarganya. Bagaimana sebagai keluarga muslim untuk tetap hidup di belantara budaya dan berdampingan dengan kepercayaan lain. Perjuangannya menyemangati suaminya untuk tetap salat, beribdah puasa, merayakan Iduladha, menghindari alkohol, dan makanan yang tidak halal, belajar mengaji.

Bagaimana Rosita sebagai ibu rumah tangga tetap menuntun keluarganya untuk hidup dalam akidah Islam yang dianutnya. Dalam bab terakhir ini Rosita banyak memberi teladan. Rosita menunjukkan prinsipnya, hidup penaka ikan meski hidup di lautan tetapi tidak ikut asin. Kisah-kisah dalam buku Catatan Cinta dari Negeri Eiffel ini, setidaknya mengajari kita untuk berbagi dan hidup berdampingan dalam dunia yang mengglobal dan multikultur ini. Bertahan untuk hidup di mana pun, bermodalkan cinta. Dari Paris dengan Cinta, Rosita ingin berbagi pengalaman dengan pembaca.

Christian Heru Cahyo Saputro, Inisiator Rumah Pengetahuan dan Taman Bacaan Ganesha, Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 27 September 2009

Demokratisasi Masyarakat Adat Sungkai

Oleh Syafarudin*

DEMOKRASI liberal yang menekankan kebebasan individu, pengakuan hak sipil, dan kesetaraan kini menjadi alternatif menggiurkan bagi masyarakat yang sudah bosan dengan praktek pemerintahan aristokrasi.

Dalam pandangan liberal, "demos" dan "kratos" mesti benar-benar menjadi pemerintahan rakyat, bukan lagi menjadi pemerintahan yang dimonopoli sejumlah elite yang memperoleh kekuasaan tanpa berkeringat karena hanya faktor keturunan semata.

Demokrasi dalam pandangan liberal diasumsikan sebagai tata nilai atau aturan yang disepakati bersama antarindividu. Meski demokrasi memberi ruang kepada negara atau kelompok, tetaplah mengutamakan pengakuan hak-hak sipil, mengakui pluralitas, melindungi semua dan menghindari diskriminasi.

Oleh sebab itu, demokrasi harus dapat membagi peran dan fungsi setara kepada tiap individu dan institusi perwakilan. Demokrasi harus dapat mendistribusikan kekuasaan secara adil dan merata. Kekuasaan yang dilaksanakan oleh cabang atau unit pemerintahan harus dapat dibatasi dan dikontrol.

Bahkan demokrasi harus pula mampu menjamin masyarakat untuk memperoleh berbagai kebebasan, seperti menyatakan pendapat, berkelompok, berpartisipasi, kesetaraan gender, rasa saling percaya, dan kerja sama. Demokrasi menekankan adanya equality.

Terlepas dari kelemahannya dalam praktek, tapi sihir kesempurnaan demokrasi deliberatif ini secara normatif, sejauh yang saya amati bukan saja menjadi bahan tuntutan masyarakat di level negara, daerah, parpol, asosiasi, dan kelompok kepentingan. Namun juga kini melanda kelompok masyarakat adat yang masih mewarisi pola pemerintahan aristokrasi yang sudah berlangsung lama sejak zaman kerajaaan nusantara atau sebelum negara lahir.

Proses demokratisasi itu saya amati di Lampung sedang berlangsung cepat pada masyarakat adat Lampung Sungkai pascaberakhirnya rezim Orde Baru. Pemangku adat dan kalangan reformis adat dari strata rendah melakukan kesepakatan baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, yakni membagi kembali peran, fungsi, kewenangan, dan kekuasaan.

Ada yang tetap menjadi konvensi, tapi ada juga yang dituangkan tertulis, bak kontrak sosial, dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga mereka. Kekuasaan trias politika tidak lagi berpusat di pemangku adat, tidak menyebar ke kalangan reformis adat yang memiliki strata adat rendah tapi memiliki kompetensi. Interaksi eksternal masyarakat adat di bidang ekonomi, pemerintahan, pembangunan, dan hukum, misalnya, kini diwakili oleh kalangan profesional. Seperti melakukan kontrak proyek pembangunan dengan pihak lain. Misalnya masyarakat adat Lampung Sungkai membuat MoU dengan Pemda Lampung Utara, BUMN Gula/PTPN VII Unit Usaha Bunga Mayang. Atau ketika masyarakat adat Lampung Sungkai mengusulkan untuk membentuk kabupaten Sungkai Bunga Mayang dan memisahkan diri dari kabupaten induk Lampung Utara.

Apa yang diutarakan Robert A. Dahl dan Schumpeter mengenai polyarchy dan demokrasi prosedural secara perlahan mereka akomodasi dan praktekkan. Mereka mencoba meniupkan kesetaraan, kebebasan, hak individu, perwakilan, partisipasi, dan kontestasi. Ada mekanisme kontrol dari anggota masyarakat adat melalui jenjang rapat atau musyawarah. Pemilihan pemimpin dan pengurus lembaga musyawarah masyarakat adat dapat juga dilakukan melalui voting jika gagal bermusyawarah. Saluran informasi terbuka dan tidak dimonopoli pemimpin atau buwai tertentu. Mereka juga menjamin hak politik warga untuk bergabung ke parpol atau kelompok kepentingan. Hingga sekarang mereka sangat dinamis berdemokrasi, memperbaharui dan meninggalkan bentuk-bentuk aristokrasi yang menghambat kemajuan.

Alasan mereka berdemokrasi liberal, tampaknya dipengaruhi kondisi eksternal dan internal. Kondisi eksternal di antaranya (a) terbukanya sistem politik nasional pascatumbangnya rezim Orba, (b) masyarakat adat yang sudah termarjinalisasi dan terkikis eksistensi mereka karena politik penyeragaman UU 5/1979, mereka kemudian melihat peluang partisipasi politik pada UU 22/1999 dan 32/2004, dan (c) interaksi politik dengan aktor negara dan pasar menuntut mereka terlembaga secara modern.

Kondisi internal di antaranya (a) makin banyaknya sumber daya manusia mereka yang berkualitas baik dari sisi pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, profesi, dan pengalaman, (b) gelombang regenerasi dan upaya generasi muda mewujudkan modernisasi, persamaan, dan keadilan politik, dan (c) muncul keinginan kolektif untuk lebih memperjelas eksistensi dan peran ekonomi dan politik di antara masyarakat adat Lampung yang lain yang lebih dulu eksis. Seperti Abung Siwo Migo yang kadang diidentikan dengan "penguasa sah" secara historis wilayah Kabupaten Lampung Utara. Atau Migo Pak Tulangbawang yang identik dengan "penguasa sah" secara historis wilayah Kabupaten Tulangbawang.

Konsolidasi demokrasi mereka yang masih baru, tapi kental dengan nuansa kompetisi dan partisipasi yang cukup tinggi, agaknya memang memiliki korelasi dengan pembentukan polyarchy ala Robert A. Dahl. Mereka berupaya menggeser pola-pola aristokrasi atau demokrasi hegemoni tertutup yang sebelumnya ditandai dengan kompetisi dan partisipasi yang rendah di kalangan elite dan anggota biasa masyarakat adat. Proses membentuk polyarchy atau bahasa elite mereka (Anshori Djausal) menyebutnya dengan istilah membentuk "masyarakat madani", tidaklah bisa dilakukan secara instan tapi memerlukan waktu yang cukup panjang.

Yang menarik diperhatikan, kelebihan mempraktekan demokrasi liberal ini adalah bentuknya yang tertulis dan terukur. Mengakomodasi kontestasi dan partisipasi. Berupaya lebih menghargai kebebasan dan persamaan. Namun ada juga kelemahannya, yakni kurang memperhitungkan dimensi-dimensi non-elektoral seperti historis dan budaya politik Lampung yang umumnya masih melekat kuat. Apalagi masyarakat adat Lampung menjunjung tinggi salah satu prinsip hidup juluk-adek yakni pemberian panggilan berdasarkan nasab keluarga dan silsilah keturunan.

Kontestasi dan partisipasi yang dipertunjukan bisa saja tetap semu karena di bawah bayang-bayang tekanan historis-struktural yang bersifat geneologis-parokial. Namun demikian, eksperimentasi perkawinan aristokrasi, demokrasi modern, dan kekuatan kapital yang tergolong dinamis ini tetap saja diharapkan banyak pihak mampu melahirkan demokrasi komunitarian substantif di ranah Lampung. Tabik pun..

* Syafarudin, Staf Pengajar FISIP Unversitas Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 26 September 2009

September 26, 2009

Liburan Lebaran: Kawasan Wisata Lumbok Ranau Dipadati Pengunjung

LIWA (Lampost): Objek wisata pantai Pesisir Krui dan sekitarnya sejak Kamis (24-9) dipadati pengunjung. Warga yang berdatangan tidak saja berasal dari daerah setempat, tetapi juga warga pemudik menyempatkan diri menikmati indahnya pantai tempat itu.

Kepadatan pengunjung lebih terlihat di Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Lombok. Lokasi ini merupakan daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi, baik wisata lokal hingga mancanegara.

Pada Lebaran saat ini, pengunjung KWT Lombok didominasi wisatawan lokal untuk menghabiskan libur Lebaran. Hendri, salah satu warga pasar Krui Pesisir Tengah, mengatakan peningkatan jumlah pengunjung di tempat wisata sepanjang pantai Krui mulai terlihat semenjak H+2 hingga Kamis (24-9).

Jumlah pengunjung terlihat meningkat terutama di Labuhan Jukung. Karena padatnya pengunjung, untuk bisa memasuki lokasi wisata berlaku antrean.

Sebagaimana dimaklumi, Lampung Barat selama ini dikenal dengan objek wisatanya yang lengkap. "Segalanya ada di sini," ujar Hendri.

Selain pantai dan panoramanya indah, banyaknya turis menjadikan daya tarik pantai Krui untuk dijadikan pilihan tujuan wisata dalam menghabiskan musim liburan tahun ini.

"Ternyata turis dari mancanegara juga merupakan objek pemicu masyarakat untuk memilih pantai Krui sebagai tujuan wisata. Tidak sedikit masyrakat yang datang ke Krui karena ingin melihat para turis melakukan selancar," kata Hendri.

Hal sama dikatakan Tambat, warga Lombok, Kecamatan Sukau. Menurut dia, pengunjung yang mendatangi KWT Lombok meningkat drastis. Peningkatan jumlah pengunjung terjadi hampir setiap tahun, terutama pada Idulfitri.

Dia memperkirakan hingga H+6 KWT masih tetap ramai. Apalagi, pemandangan Gunung Seminung yang sejuk serta Danau Ranau yang terlihat indah membuat banyak pengunjung merasa betah dan akan kembali untuk datang ke KWT Lombok.

Hal itu sering diungkapkan oleh pengujung saat datang ke KWT Lombok. "Itu sebabnya setiap tahunnya jumlah pengujung yang datang ke KWT Lombok meningkat," ujarnya. n */D-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 26 September 2009

September 24, 2009

Pengunjung Karang Ngimbur Lampung Barat Membludak

Liwa, Lampung Barat, 24/9 (ANTARA) - Pengunjung objek wisata pantai Karang Ngimbur membeludak, terlihat dari penuhnya puluhan losmen di dekat pantai tersebut.

"Pengunjung di pantai ini sangat ramai, bahkan saya cukup kewalahan untuk memenuhi permintaan akan losmen yang menjadi penginapan," kata pemilik losmen di Kecamatan Pesisir Selatan, Randiansyah, di Biha, Kamis.

Dia mengatakan, sejak dua pekan lalu pengunjung sudah memesan losmen, dan tak kurang dari 40 orang lebih yang menunggu untuk dicarikan losmen dekat pantai ini.

"40 orang lebih menunggu untuk dicarikan tempat menginap, sedang saat ini puluhan losmen di daerah pesisir apalagi di pantai ini sudah penuh, dan untuk mencukupi permintaan itu, saya harus mencari penginapan lain," kata Randi.

Pantai Karang Ngimbur, mempunyai julukan sebagai kampung wisatawan, yang datang dari berbagai negara. Memiliki jarak tempuh 30 km lebih dari Kota Liwa, dan memakan waktu 3 jam untuk menuju pantai tersebut. Pantai ini mempunyai bentang pantai 200 m dan berada di Kecamatan Pesisir Selatan, Lampung Barat.

Tidak hanya disuguhkan keindahan pantai saja, pengunjung bisa melihat matahari terbenam yang begitu indah. Di pantai ini dibangun losmen mulai dari yang sederhana hingga yang mewah.

"Kondisi ini akan berlangsung sampai akhir bulan, karena tercatat sampai awal bulan nanti pengunjung masih terus berdatangan, selain pengunjung dari luar, pengunjung lokal juga memadati tempat ini, dan ini menjadi salah satu keberkahan bagi pengusaha di sini," katanya.

Sementara tarif yang di pasang untuk losmen mengalami peningkatan. Untuk tipe A tarifnya Rp200-250 ribu per malam, dan tipe B Rp90-120 ribu per malam. Harga tersebut belum termasuk makan.

Setiap harinya pengunjung lokal yang datang di tempat ini mencapai 300 orang lebih. Untuk parkir kendaraan, bahkan ditempatkan di luar area wisata karena di dalam sudah penuh.

Sementara itu pengunjung yang berada di pantai itu, Jailani (29), mengatakan, pantai ini sangat indah, rindang dan bersih, sehingga sangat nyaman berada di tempat ini.

"Tempat ini sangat nyaman, udara yang sejuk, juga pantai yang bersih, apalagi saat sore nanti pengunjung bisa melihat sunset," kata dia.

Jailani menambahkan, tempat ini akan semakin menarik bila ditambahkan fasilitas permainan dan lahan bermain anak, sehingga setiap harinya ramai.

Sumber: Antara, 24 September 2009

Pantai Tanjung Setia Lambar Dipadati Pengunjung

Liwa, Lampung Barat, 24/9 (ANTARA) - Pantai Tanjung Setia dipadati pengunjung baik lokal maupun luar daerah, yang setiap harinya berjumlah tidak kurang 200 orang.

"Sejak kemarin pantai ini dipadati pengunjung baik dari dalam dan luar daerah, tak kurang dari 200 orang dan puluhan kendaraan yang memadati pantai ini," kata penjaga pantai Tanjung Setia, di Kecamatan Pesisir Tengah, Lampung Barat, Provingsi Lampung, Sahtar M, di Krui, Kamis.

Dia mengatakan, sejak Rabu (23/9) pantai dipadati pengunjung. Padatnya pengunjung itu dimanfaatkan pedagang yang memperoleh keuntungan karena dalam sehari dagangan mereka ludes terjual.

"Ada sekitar 23 pedagang yang di sini, rata-rata mereka menjual makanan dan juga oleh-oleh, diantaranya ikan asap, dodol, juga bakso ikan khas pesisir," kata Sahtar.

Sahtar menjelaskan, sayangnya pantai ini tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, sehingga pengunjung pun agak kecewa.

"Seandainya pantai ini terdapat fasilitas yang lengkap saya yakin akan banyak lagi pengunjung yang datang, dan ini seharusnya menjadi perhatian pemkab, agar pantai ini dapat dikelola denganserius sehingga dapat mendatangkan pendapatan bagi Lampung Barat, di sektor pariwisata," katanya.

Sementara itu, pedagang yang berada di pantai tersebut, Mursanah (44), mengatakan, ada keberkahan di hari libur Lebaran dengan berjualan di pantai ini, karena dalam sehari dia mampu mendapatkan keuntungan mencapai Rp130.000.

"Dagangan setiap hari habis terjual dan saya pun mendapatkan keuntungan yang berlipat," kata Mursanah.

Dia menjelaskan, dagangan yang dijajakan yakni oleh-oleh khas pesisir, yakni ikan asap, bakso ikan juga dodol, juga beberapa anyaman hasil kreasi masyarakat.

"Makanan ini yang menjadi makanan favorif pengunjung, selain awet makanan ini mampu bertahan satu minggu lebih dan bakso ikan yang dibuat instan dan pembuatannya secara alami tidak ada tambahan bahan pengawet," katanya.

Sumber: Antara, 24 September 2009

September 23, 2009

Objek Wisata Menara Siger Dipadati Pengunjung

Bakauheni, 23/9 (ANTARA)- Objek wisata Menara Siger di kawasan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan, ramai dikunjungi warga setempat dan para pemudik yang ingin menikmati keindahan panorama Selat Sunda.

Koordinator keamanan Menara Siger, Tahyuddin, mengatakan di Bakauheni, Rabu, objek wisata itu ramai pengunjung setelah Idul Fitri hari kedua hingga sekarang.

"Pengunjung hari ini masih ramai, namun lebih ramai kemarin," kata dia.

Dia mengatakan sebagian besar pengunjung terdiri dari penduduk sekitar dan para pemudik.

Seorang pengunjung dari Kecamatan Ketapang Lamsel, Sartika, mengatakan pesona pemandangan di objek wisata Menara Siger lebih indah dari pada yang objek wisata lain di Lampung, karena dapat melihat permukaan laut di perairan Selat Sunda.

"Saya dua hari ini pergi ke sini, karena tempatnya paling indah dari wisata lainnya yang memiliki panorama keindahan laut," katanya.

Hal senada juga dikatakan seorang pemudik yang hendak kembali ke Provinsi Jawa Barat, Sukarna.

Ia mengatakan, sebelum kembali ke Jawa bersama istri dan anaknya, mereka menyempatkan diri untuk mampir sejenak sambil beristrirahat di Menara Siger.

"Saya mengendarai sepeda motor, jadi tidak kerepotan untuk berhenti sejenak, karena penasaran selama ini hanya melihat dari kejauhan ketika di atas kapal," kata dia.

Dia mengatakan Menara Siger mempunyai kelebihan tersendiri karena berada di puncak tertinggi perbukitan di ujung Pulau Sumatera.

Selain itu dia mengatakan dari lokasi Menara Siger melihat seluruh aktivitas pelabuhan dan kapal penumpang serta nelayan yang sedang berlayar dengan jelas, ditambah lagi dengan pulau-pulau kecil di Selat Sunda.

Berdasarkan keterangan dari petugas setempat, pengunjung Menara Siger ditarik biaya masuk sebesar Rp3.000 permotor dan Rp 5.000 sampai 10.000/mobil.

Berdasarkan pemantauan di lokasi wisata tersebut, sarana dan prasarana di tempat wisata itu masih kurang terpelihara, serta tidak petugas kebersihan yang secara rutin membersihkan menara tersebut.

Objek wisata itu masih dipenuhi sampah yang berserakan.

Sumber: Antara, 23 September 2009

September 19, 2009

Budaya Lebaran: 3 Kecamatan Gelar Pesta 'Sekura'

LIWA (Lampost): Menyambut Idulfitri 1430 Hijriah, beberapa Kecamatan di Lampung Barat akan menggelar pesta budaya sekura. Sejumlah kecamatan yang dipastikan ikut dalam pesta rakyat tersebut adalah Kecamatan Balik Bukit, Batubrak, dan Belalau.

Tari Sekura (LAMPUNG POST/M. REZA)

Menurut pemantauan Lampung Post, ketiga kecamatan tersebut tidak pernah absen dalam setiap kali digelarnya event tahunan itu. Apalagi pesta budaya sekura adalah sebagai perwujudan pembersihan pekon.

Hingga kemarin, warga pekon di tiga kecamatan tersebut tengah mempersiapkan diri untuk berlomba dalam pergelaran budaya sekura tersebut.

Di Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan, Balik Bukitmisalnya, sejumlah pemuda terlihat antusias dalam mempersiapkan diri untuk bisa tampil prima di lomba sekura.

Beberapa remaja mengajak remaja lainnya untuk ikut mengadu kebolehan dalam acara panjat pinang sekura yang akan dilaksanakan panitia Lebaran ini. Ajakan itu juga kerap ditemukan di stiker yang dipasang di lokasi-lokasi strategis.

Hal sama juga ditemukan di Pekon Kegeringan, Kecamatan Batubrak. Di sini sejumlah warga tampak sedang mempersiapkan batang pinang yang akan dipakai pada acara pesta tersebut.

Zubaidi, salah satu tokoh seni budaya Sanggar Way Timpon, kemarin (18-9), mengatakan pesta sekura merupakan tradisi budaya masyarakat Lampung Barat sejak dahulu.

Ia mengatakan sekura bisa disebut topeng. Dalam topeng ada dua wajah: pertama, sekura kecah, yaitu sekura berwajah bersih. Dalam lomba biasanya sekura kecah dipakai oleh kaum muda.

Sedangkan untuk kaum tua biasanya mengenakan sekura kamak (kotor). Para orang tua umumnya memakai topeng yang terlihat seram serta menakutkan. "Mereka pula nantinya yang akan memanjat pohon pinang yang telah dipersiapkan itu," kata Zubaidi. n */D-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 19 September 2009

September 16, 2009

[Liburan Lebaran] Pengantar: Asyiknya Piknik di Lampung

LIBURAN saat Lebaran pasti menyenangkan. Tentu saja bukan hanya bagi mereka yang merayakan Idulfitri. Sebab, hari libur pada Lebaran kali ini cukup panjang. Apalagi ada libur serentak alias cuti bersama.

Bagi kaum muslim, ada ritual mudik pada setiap libur Lebaran. Mudik sambil berlibur ke kampung halaman; ada yang mudik ke Jawa, Sumatera, dan daerah-daerah lainnya di Tanah Air.

Lain halnya mereka yang tidak merayakan Lebaran. Bagi yang berkantong tebal, biasanya memilih liburan ke berbagai kota tujuan wisata di Indonesia maupun mancanegara. Maka, tak heran jika paket-paket liburan sejak jauh hari sudah ditawarkan biro-biro perjalanan.

Bagaimana dengan Lampung? Ya, provinsi di ujung selatan Sumatera ini belakangan menjadi salah satu daerah tujuan liburan yang menarik bagi pelancong, termasuk para "pemudik" Lebaran. Betapa tidak, hampir separo dari angkatan kerja muda Lampung yang bekerja di Pulau Jawa--umumnya di Jakarta dan sekitarnya--akan menikmati silaturahmi dengan sanak saudara plus liburan di Bumi Ruwa Jurai.

Adalah salah kaprah jika ada persepsi selama ini bahwa liburan di Lampung "tak ada apa-apanya". Persepsi demikian tidaklah benar. Sebab, sejatinya Lampung sangat patut menjadi daerah tujuan piknik, selain Bali, Bandung, dan Yogya. Saat ini, ada beragam potensi wisata tersedia di Lampung, mulai dari wisata alam, wisata pantai, maupun wisata air modern. Lokasi-lokasi itu dilengkapi dengan fasilitas liburan seperti penginapan dan hotel, rumah makan dan restoran (wisata kuliner), pusat perbelanjaan, hingga pusat oleh-oleh khas Lampung. Kalau meminjam istilah Cici Tegal, wisata di Lampung "pokoke komplit."

Wisata pantainya boleh diadu dengan pantai-pantai di Bali, bahkan lebih elok dan banyak pilihan.

Bagi yang doyan berselancar, Tanjung Setia (Lampung Barat) amat cocok untuk menguji adrenalin. Apalagi kalau piknik ke pulau-pulau yang ada di perairan Lampung dan melakukan diving atau snorkling, hmmm...tak kalah dengan Bunaken (Manado). Hal ini tentu bukan sekadar promosi, atau isapan jempol, melainkan terlontar dari para pelancong yang sudah pernah merasakannya.

Wisata kuliner juga terus berbenah. Bagi yang gemar makan, kudapan khas Lampung bakal sulit terlupakan. Mulai dari menu modern yang melayani 24 jam, cemilan khas, sampai makanan klasik yang mencubit lidah.

Akomodasi pun lengkap, dari hotel berbintang, hotel melati, cottage, resort, sampai rumah penginapan, tersedia dengan tarif terjangkau. Kita tinggal sesuaikan dengan isi kocek.

Liburan ke Lampung akan terasa hambar tanpa buah tangan. Aneka makanan khas, mulai dari keripik pisang aneka rasa, kopi, sambal Lampung, keripik kentang udang, kemplang, dan pempek adalah oleh-oleh khas daerah ini. Handycraft seperti tapis, sulam usus, dan suvenir lainnya juga siap dijinjing pelancong saat kembali ke daeranya. So, liburan di Lampung memang asyik. SRI AGUSTINA/E-

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Dekat di Mata, Dekat di Hati

EKSOTISME objek wisata saja tidak cukup. Perlu ada sentuhan dan fasilitas pendukung agar objek wisata menarik minat wisatawan. Paduan kedua hal itu kini mulai dipahami pengelola objek-objek wisata di Lampung. Tak heran jika saat liburan tiba, orang mulai rajin "bertandang" ke lokasi-lokasi wisata itu.

Kawasan wisata pantai, misalnya. Selama puluhan tahun orang-orang hanya mengenal Pasir Putih. Tapi, kini lokasi wisata serupa berlomba menyajikan eksotisme wisata di sekitar pasir dan laut.

Godaan lain yang menggiurkan juga datang dari objek wisata alam dan wisata petualangan. Jika kita selama ini hanya mengenal Taman Nasional Way Kambas, belakangan ada surfing, diving, tracking, arung jeram, dan lain-lain.

Di pusat kota dan kawasan permukiman elite pun ada tawaran wisata kontemporer yang selama ini hanya ada di kota-kota besar. Wisata alam misalnya dikemas dengan berbagai permainan sehingga baik untuk tempat rekreasi bagi keluarga.

Semua lokasi wisata itu tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika dan kebutuhan warga Lampung. Liburan pun tidak perlu lagi jauh-jauh ke tempat lain. Sebab, di Lampung ada banyak lokasi wisata yang lebih dekat di mata dan dekat di hati. n SAG/X-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Coba Wisata Kuliner Biar 'Kagak Nyesel'

BELUM afdal rasanya berlebaran di Lampung kalau belum menikmati wisata kulinernya. "Suseh neranginnye, mending coba aje ndiri. Ntar baru ceritain gimane rasanye. Kagak nyesel, dah gitu aje," kata Nora, warga Jakarta, kepada temannya yang hendak liburan Lebaran di Bandar Lampung.

Ada benarnya yang dikatakan Nora. Berbagai jenis makanan khas Lampung selama ini sudah menjadi pembicaraan di Ibu Kota. Biasanya makanan itu dibawa sebagai oleh-oleh atau buah tangan. Karena itu, banyak orang penasaran mencoba oleh-oleh khas Lampung di tempat aslinya.

Salah satu tempat makan yang ramai dikunjungi masyarakat adalah kawasan Jalan Salim Batubara, Telukbetung. Inilah pusat penjualan pempek di Bandar Lampung. Tak kalah dengan daerah asalnya, pempek Jalan Salim Batubara menyediakan aneka makanan khas Palembang.

Di tempat ini terdapat puluhan tempat makan pempek atau makanan khas Palembang lainnya yang bisa menjadi alternatif makanan, ketika masyarakat mulai bosan dengan menu-menu Lebaran. Misalnya Pempek Selamat, Pempek Pak Raden, Pempek 88, dan lainnya.

Di sini, masyarakat bisa memilih berbagai macam jenis pempek mulai dari pempek lenjer, pempek isi, pempek panggang atau pempek adaan. Adapula tekwan, model, celimpungan, dan laksan.

Biasanya, selain menyediakan makanan khas Palembang berupa pempek, di tempat ini pengelola juga menyediakan aneka makanan kering dalam kemasan, seperti kerupuk, lempok durian, dodol, keripik pisang, keripik nangka, sambal udang, dan lainnya.

Bagi yang gemar makan juga tersedia makanan khas Lampung dengan seruitnya yang bisa menggoyang lidah, apalagi dicocol sambal terasi dan durian. Makanan ini dapat dijumpai di restoran yang menyediakan pindang baung, pindang patin, dan pindang meranjat.

Selain membeli untuk langsung di makan di tempat, sejumlah masyarakat juga membeli makanan tersebut sebagai oleh-oleh, ketika kembali ke daerahnya. Sebagai buah tangan, tersedia aneka makanan khas Lampung, mulai dari keripik pisang, kopi, sambal Lampung, keripik kentang udang, kemplang, dan pempek. Sedangkan untuk hasil kerajinan seperti tapis serta sulam usus, juga siap dijinjing pelancong saat kembali ke daerahnya.

Selain itu, restoran yang juga ramai dikunjungi adalah restoran siap saji. Biasanya restoran ini buka hingga 24 jam untuk melayani konsumen. Restoran siap saji ini biasanya ramai dikunjungi keluarga yang ingin makan, sekaligus bermain di area restoran.

Restoran siap saji yang ada di Bandar Lampung, antara lain Mc Donald, Texas Chicken, New York Chicken, Pizza Hut, KFC, dan lainnya. Tak ketinggalan juga ada Restoran Begadang. Setelah tutup selama Ramadan, restoran yang menyediakan masakan Padang ini kembali melayani masyarakat Lampung. n CR-1/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Mudah Dijangkau, Harga Terjangkau

LIBURAN ke Lampung bisa ditempuh lewat darat, laut, dan udara. Jika melalui udara, dari Bandara Soekarno-Hatta pelancong langsung ke Bandara Radin Inten II, Branti, dengan lama penerbangan tak lebih dari 45 menit. Kini, arus penerbangan Jakarta-Lampung nyaris tanpa jeda.

Anda bisa memakai maskapai Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, atau Batavia Air. Garuda Indonesia melayani dua kali penerbangan Jakarta--Lampung setiap hari, sedangkan Sriwijaya Air mencapai empat kali.

Menurut General Manager Garuda Lampung Indrayadi, jika permintaan pada liburan Lebaran terus meningkat, akan ada penambahan satu flight pada penerbangan Lampung--Jakarta.

"Selama ini kami melayani dua flight per hari. Bisa saja ada penambahan bila kondisinya ramai," kata dia.

Transportasi udara memang semakin banyak dipilih masyarakat. Selain lebih cepat dan layanannya kian membaik, harga tiket juga terjangkau. "Dengan tiket seharga Rp391.500, Anda sampai ke Jakarta dengan cepat dan nyaman," ujar Indrayadi.

Bosan naik pesawat atau kepengin menikmati perjalanan laut, tak salah jika mencoba sensasi kapal cepat dari Merak ke Bakauheni. Namun, kapal cepat hanya beroperasi siang hari dan saat ombak sedang "ramah". Kendati begitu, ada kapal feri yang siap membawa ribuan orang setiap saat menyeberang ke Bakauheni.

Tiba di Bakauheni, tinggal melanjutkan perjalanan dengan bus atau mobil travel ke tempat tujuan. Bagi yang membawa mobil pribadi, dari Bakauheni bisa langsung ke Bandar Lampung, atau singgah dulu di lokasi wisata Tugu Siger yang berada di sisi kanan perbukitan.

Mudahnya transportasi ke Bandar Lampung membuat daerah ini menjadi tujuan wisata baru, khususnya warga Ibu Kota dan sekitarnya. Apalagi tahun-tahun ini banyak hotel dan penginapan baru yang menyenangkan. Ada hotel yang menawarkan panorama laut karena lokasinya di tepi pantai, ada juga yang menyuguhkan pemandangan Kota Bandar Lampung dari puncak bukit. Tak sedikit pula yang menawarkan keunggulan fasilitas hotel seperti fitness, massage, spa, biliar, kolam renang, restoran, fasilitas karaoke, dan fasilitas lainnya.

Di Lampung, hotel-hotel yang bisa menjadi pilihan tempat berlibur antara lain Hotel Sheraton, Hotel Sahid Bandar Lampung, Indra Puri, Hotel Bukit Randu, Grand Anugerah, Arnes, Kurnia Grup, dan lainnya.

Demi kepuasan pelanggan, sejumlah hotel menawarkan antarjemput tamu ke tempat-tempat wisata atau ke pusat-pusat perbelanjaan.

Salah satu hotel yang menawarkan paket liburan adalah Hotel Bukit Randu. Hotel yang terletak di atas bukit ini, sangat cocok bagi tamu-tamu yang ingin melihat pemandangan Kota Bandar Lampung dari atas bukit.

Selama libur Lebaran, Hotel Bukit Randu menyediakan akomodasi dengan tarif kamar mulai Rp525 ribu hingga Rp1,9 juta. Paket Lebaran Hotel yang menyediakan fasilitas berupa fitnes, sepeda gunung, massage, spa, karoke, restoran, hingga kolam renang ini memberikan gratis fitnes, sepeda gunung, dan kolam renang. Promosi ini berlaku mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. "Pada saat Lebaran, kami menyediakan menu ketupat Lebaran secara lengkap," kata Marketing Manager Bukit Randu, Raban, Sabtu (12-9).

Selain itu, khusus bagi tamu-tamu yang ingin berkeliling Kota Bandar Lampung atau sekadar berbelanja di mal dan tidak memiliki kendaraan, hotel yang menawarkan sensasi pemandangan Kota Bandar Lampung pagi dan senja hari ini memberikan fasilitas free mengantar tamu. Fasilitas ini berlaku mulai pukul 07.00 hingga 09.00. Hotel Bukit Randu juga menyediakan fasilitas antar-jemput tamu ke dan dari bandara.

Sedangkan Hotel Sahid yang terletak di tepi pantai ini mengenakan tarif mudik Lebaran Rp375 ribu/malam atau Rp700 ribu/dua malam. Fasilitas yang diperoleh tamu melalui paket ini, antara lain akomodasi, minuman selamat datang, cookies, free biliar, kolam renang, dan karaoke. Termasuk pula diskon 20% untuk laundry dan free hotspot.

Demikian pula Hotel Indra Puri menyiapkan paket Idulfitri Leasure Rate.

Paket yang berlangsung mulai 20 hingga 26 September 2009 ini dikenakan tarif mulai Rp325 ribu untuk kamar deluxe single bed. Melalui paket ini, hotel yang menawarkan pemandangan Teluk Lampung ini selain memberikan fasilitas akomodasi, juga memberikan free kolam renang, balenso pub, potongan harga 10% untuk beverage di balenso pub, dan pemakaian lapangan tenis selama satu jam, termasuk cofee in room dan welcome drink.

Sedangkan Hotel Grand Anugerah saat Lebaran ini menyiapkan spesial promosi rate untuk menginap. Hotel yang terletak di tengah Kota Bandar Lampung ini, menawarkan harga mulai Rp300 ribu hingga Rp900 ribu/kamar/malam. "Selama Lebaran restoran kami tetap menyajikan menu-menu andalan dan buka 24 jam," kata Marketing Manager Hotel Grand Anugerah, Resti.

Sementara itu, bagi yang tidak memiliki kendaraan, jangan berkecil hati. Berbagai rental mobil siap mengantar Anda dengan paket yang ditawarkan. Ketua Asosiasi Rental Mobil Lampung (ARML), Azwarudin, mengatakan tarif sewa mobil plus supir pada hari biasa hanya Rp200 ribu--Rp300 ribu/hari tergantung jenis mobil yang diinginkan konsumen. Sedangkan pada arus mudik dan liburan lebaran nanti tarifnya naik menjadi Rp450 ribu/hari.

"Tarif ini berlaku untuk semua tujuan di luar bensin. Kalau bensin sepenuhnya ditanggung konsumen," ujar pemilik Oonk Rent Car ini. Sementara bagi yang tidak ingin disertai supir, harga yang ditawarkan mulai Rp300ribu--Rp350 ribu/hari.

Selain tarif per hari, para pengusaha sewa mobil ini juga biasanya menawarkan paket sewa 10 hari kepada konsumen dengan tarif Rp3 juta--Rp3,5 juta. Selamat berwisata ya. n CR-1/MG3/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Indahnya Dunia Anak di 'Water Park'

LOKASI wisata air yang satu ini sangat layak dikunjungi. Terutama bagi anak-anak yang sedang girang-girangnya berkecipak dengan air. Inilah water park (taman bermain air), sebuah sajian wisata kontemporer yang relatif baru di Bandar Lampung.

Seperti namanya, water park memang menyuguhkan kenikmatan bermain di dalam air. Taman ini berada berada di lingkungan perumahan elite, Citra Garden.

Lokasi wisata besutan Ciputra Group yang ikut menata keindahan Bandar Lampung ini berada di sekitar areal perumahan Jalan Dr. Setia Budi, Telukbetung Barat. Aneka permainan air tematik bisa dinikmati di sini, seperti slide tube (meluncur dengan ban), tower bridge (jembatan gantung), pirate's ship (kapal bajak laut), dan geiser (semburan air). Selain itu terdapat kolam seluncuran (plung pool), water cannon (meriam air), tilting bucket (ember tumpah), and next come, bungee trampoline, dan feature menarik lainnya.

Setiap empat menit air yang ditampung dari ketinggian 10 meter akan tumpah mengguyur pengunjung yang ada di bawahnya. Di kapal bajak laut, anak-anak dapat bermain air sambil masuk sejumlah lorong yang terdapat di bawahnya. Kemudian bermain water cannon.

Semuanya ini selain sebagai fasilitas bagi penghuni perumahan khususnya, juga dapat dinikmati masyarakat Lampung umumnya.

Water park juga menyewakan tempat untuk segala macam kegiatan, misalnya seperti ulang tahun, pesta perpisahan, arisan, prom night, dan lainnya. Untuk pemesanan dan info lainnya dapat segera menghubungi pengelola water park di 0721--474255/481399. Sedangkan saat lebaran fasilitas ini dapat dinikmati dengan harga tiket Rp30 ribu/orang mulai pukul 08.00--18.00. Sedangkan hari Rabu--Jumat dibuka 14.00--18.00 dengan harga tiket Rp20 ribu.

Khusus perumahan Citra Garden dikembangkan di atas lahan seluas 57 hektare dengan konsep first class living, yakni perumahan yang modern dan lengkap. Konsep ini merupakan yang pertama di Lampung. Perumahan ini diluncurkan pada Februari 2005. n CR-1/E- selancar dunia. Inilah ombak terbaik ketiga dunia yang memuat penggila surfing semakin getol menaklukkannya. Bagi para peselancar, belum afdal rasanya jika belum mencoba gulungan ombak di pantai lepas yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia itu. Tak salah jika Lampung disebut-sebut surganya wisata pantai. n MG3/SAG/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Surganya Wisata Pantai di Lampung

PANTAI adalah pesona Lampung. Pantai menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan lokal, turis dari daerah lain, maupun wisatawan asing. Tak terkecuali pada saat Lebaran ini.

Ada beberapa kabupaten yang memiliki pantai yang indah. Di Lampung Selatan, hampir semua wilayah pesisirnya layak dikunjungi. Sebut saja Kalianda Resort (kini namanya Travellers Krakatoa Nirwana Resort), Merak Belantung, atau Pantai Wartawan. Di Tarahan ada Tanjung Selaki, Pasir Putih, dan Pulau Pasir; di Padang Cermin ada Pantai Mutun. Di Tanggamus dan Lampung Barat juga tersebar pantai yang masih alami dan sangat memikat.

Bicara wisata pantai di Lampung, sulit melupakan pesona pantai Pasir Putih. Setiap Lebaran, pantai yang berada di Desa Tarahan, Lampung Selatan, ini selalu menjadi lokasi pilihan berlibur bagi warga Lampung dan luar Lampung. Di beberapa sudut pantai, pengunjung akan disapa oleh patung badut dan putri duyung. Hamparan pasir putih yang lembut menyapu kaki di sepanjang pantai. Jika air surut, garis pantai menjorok hingga seratusan meter ke tengah laut. Saat-saat seperti itu selalu menggoda kita untuk berjalan menyusuri pantai hingga jauh ke arah laut. Anak-anak bermain bola, mencari karang, membuat istana pasir, berlarian, atau sekadar tidur atau bergulingan di atas pasir.

Luasnya bentangan pantai yang bebas dari karang membuat orang tua tidak perlu waswas melepas anak-anaknya bermain di pantai ini. Tidak ada ombak yang menggulung maupun jebakan palung. Kendati air pasang, anak-anak tetap bebas berenang dengan ban atau berkecipak air laut karena kedalamannya tak membahayakan. Nyamannya pantai ini juga memancing masyarakat membawa bermacam-macam makanan untuk dinikmati di bawah pepohonan di bibir pantai.

Belum lagi biaya masuk yang sangat terjangkau, sebab area pantai ini memang dibiarkan alami tanpa banyak suntikan investasi sana-sini.

Tak kalah menarik, Travellers Krakatoa Nirwana Resort sejak 1996 sudah menyedot perhatian wisatawan. Luasa kawasan pantai yang terletak di Desa Merak Belatung itu mencapai 350 hektare, meski baru 20 hektare yang dikelola untuk resort dan hotel. Belasan cottage berpencar di beberapa lokasi.

Ada juga fasilitas outbound mini yang secara tentatif dipasang di area yang dikelilingi "hutan" kelapa ini. Ada lapangan voli pantai, futsal pasir, basket gravel, menjelajahi hutan bakau, dan lain sebagainya.

Tawaran menarik lain dari eks Kalianda Resort ini adalah bertualang ke Gunung Anak Krakatau. Dengan biaya Rp3,5 juta (lima orang dalam satu speed boat), kita diajak menapakkan kaki hingga second hill Krakatau.

Lain lagi Pantai Mutun di Desa Padang Cermin, Pesawaran. Pantai itu kini menjadi daerah wisata favorit. Pasir putih yang menghampar sepanjang satu kilomater rupanya menggoda masyarakat untuk menghabiskan waktu liburnya di sana.

Pantai ini berjarak sekitar 25 km arah barat daya dari kota Bandar Lampung. Dari Telukbetung, hanya butuh sekitar 30--45 menit untuk sampai di lokasi itu.

Pengelola Pantai Mutun, Hadi, mengatakan untuk menarik minat wisatawan saat Lebaran nanti pihaknya akan mendatangkan tim kuda lumping kontemporer langsung dari Madura. Menurut Hadi, untuk masuk ke lokasi pantai, pengunjung cukup mengeluarkan kocek Rp5.000/orang atau Rp10 ribu untuk sepeda motor dan mobil.

Sedangkan fasilitas di Pantai Mutun antara lain banana boat, kano, permainan air soft gun, dan lainnya. "Banana boat dapat dinikmati konsumen dengan cukup membayar Rp25 ribu/orang. Sementara kano dapat disewa Rp15 ribu--Rp20 ribu/orang," kata dia.

Untuk memberdayakan masyarakat sekitar pantai, pengelola juga membiarkan warga di sana untuk menyewakan rumah mereka sebagai pondokan atau tempat peristirahatan para wisatawan. Dengan uang Rp400 ribu, pengunjung dapat beristirahat di tempat ini.

Dari pantai ini, biasanya pengunjung meneruskan jelajah pantai mereka ke Pulau Tangkil yang terletak di seberang pantai. Perahu-perahu kecil milik rakyat dapat dijadikan sarana penyeberangan ke Pulau Tangkil dengan cukup membayar Rp5.000/orang. Namun, pengunjung jangan sampai lupa menentukan waktu penjemputan karena pemilik perahu akan menjemput sesuai dengan waktu yang disepakati.

Bagi yang ingin menikmati keindahan bawah laut, pengunjung bisa berlayar ke pula Tegal, Pulau Legundi dan Siuncal, Puhawang, Mahitam, dan Tanjung Putus yang menyimpan pesona laut tak kalah dengan di Bunaken.

Terumbu karang yang baru bertumbuh, serta aneka ikan hias, bisa terlihat jelas di jernihnya air laut ini. Jadi persiapkan saja peralatan menyelam maupun snorkling, pengunjung bisa menyewa perahu nelayan dengan tarif negosiasi berkisar mulau Rp150 ribu/hari.

Dan bagi yang ingin melihat kawanan lumba-lumba menari di laut terbuka, silakan menjelejahi Kiluan di Teluk Kiluan (perbatasan Teluk Semaka dan Teluk Lampung). Di laut bebas, kita bisa menyaksikan atraksi lumba-lumba dari jarak dekat pada sore hari. Jika Anda berniat kesana, sebaiknya jangan lupa membawa kamera untuk membidik momen langka itu.

Bagi penyuka wisata air tapi ogah air asin, Danau Ranau patut jadi pilihan. Pesona alam Danau Ranau yang terdapat sumber air panas pada bagian tengahnya, menjadi alternatif wisata air. Lokasinya memang cukup jauh di Lampung Barat (sekitar 7--8 jam dari Bandar Lampung), tapi di kawasan wisata terpadu itu ada Lumbok Resort. Lokasinya berada di kaki Gunung Seminung sehingga bisa memandang ke danau dengan leluasa.

Masih di Lampung Barat, Tanjung Setia kini menjadi lokasi pilihan para selancar dunia. Inilah ombak terbaik ketiga dunia yang memuat penggila surfing semakin getol menaklukkannya. Bagi para peselancar, belum afdal rasanya jika belum mencoba gulungan ombak di pantai lepas yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia itu. Tak salah jika Lampung disebut-sebut surganya wisata pantai. n MG3/SAG/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Bersafari Sambil Rekreasi

MENIKMATI pesona alam sambil mendapat pengetahuan soal konservasi satwa dari sang pakar sangatlah menyenangkan. Tubuh dan pikiran bisa relaksasi dan menyatu dengan alam, di sisi lain kita beroleh tambahan ilmu. Dua-duanya bisa didapat di Taman Safari Indonesia (TSI) yang berolaksi di Cisarua, Bogor, TSI 2 Prigen, Jawa Timur, dan TSI 3 Bali.

Ya, Taman Safari Indonesia adalah tujuan wisata ketika musim liburan tiba, baik bagi wisatawan domestik mapun asing. Turis-turis asing mulai berdatangan untuk melihak spektakulernya aneka ragam satwa di TSI. Taman ini merupakan pusat reservasi hewan liar yang dipadukan dengan wisata.

Seperti lazimnya Taman Safari, pengunjung memasuki wilayah reservasi dengan mengendarai mobil pribadi ataupun sarana bus yang disediakan. Dari atas kendaraan itulah kita menikmati perilaku satwa liar yang bebas berkeliaran di alam terbuka.

Sambil menghirup sejuknya udara perbukitan Cisarua yang bersebelahan dengan Gunung Gede Pangrango, pengunjung bisa menyatu dengan alam. Bisa tidur di tenda-tenda di areal Rumah Dua, sehingga boleh bercengkerama dengan satwa--tentu saja didampingi petugas TSI.

Anda juga bisa menikmati permainan outbound yang ada di Rumah Dua. Atau, mencoba tracking sepanjang tujuh kilometer dengan menuruni lembah, mendaki bukit, melintasi sungai, sambil mendengar celoteh burung dan teriakan siamang.

Ke TSI tidak mesti membawa kendaraan pribadi. Sebab, pengelola kawasan wisata itu menyediakan bus yang membawa Anda mengunjungi "rumah-rumah" satwa yang hidup di sana. Ada reptil, harimau, singa, beruang, kijang, zebra, kera dan monyet, unggas, kuda nil, dan satwa liar lainnya.

Selain bus, boleh juga mencoba mobil bak terbuka. Kendaraan ini lebih disenangi karena pengunjung bisa lebih dekat berinteraksi dengan satwa.

Tapi, memakai mobil bak terbuka perlu nyali tinggi karena sewaktu-waktu Anda bisa disambangi satwa buas. Di TSI juga ada hewan berperilaku unik, Lama namanya. Onta kecil ini sangat menyenangkan, walau kadang membuat jengkel karena tabiatnya yang suka meludah.

Ke TSI cuma melihat satwa? Tentu saja tidak, di TSI Bogor banyak juga arena permainan yang ditawarkan pada pelancong. Saking banyaknya, seharian barangkali tidak cukup untuk mencoba semua jenis permainan.

Sebut saja kereta luncur yang melintasi aliran air, kereta gantung, jungkat-jungkit, roller coaster yang menegangkan, komidi putar, kereta wisata, kolam luncur, dan masih banyak lagi.

Berkunjung ke TSI rasanya belum cukup waktu sehari untuk menjelajahi areal yang sangat luas ini. Tapi, tak perlu khawatir jika kemalaman atau kepengin melanjutkan petualangan esok hari. Anda bisa menginap di cottage-cottage di kawasan TSI. Ada berupa rumah, karavan, atau kereta mobil. Namun, jika berniat liburan di TSI, sebaiknya Anda membawa jaket atau sweater. Udaranya yang sejuk pada siang hari akan semakin dingin bila malam tiba. n SAG/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Anda Suka Ekowisata? Jelajahi Hutan Lampung

INGIN menikmati semerbak hutan hujan tropis? Datang ke Lampung, ada banyak kawasan hutan yang layak untuk lokasi rekreasi atau sekadar menghilangkan penat dari rutinitas sehari-hari di perkotaan.

Bagi penyuka ekowisata, menjelajah hutan memberi kepuasan tiada tara. Selain meneduhkan mata dengan melihat hijaunya pepohonan, kita bisa menikmati semerbak aroma kembang liar. Nyanyian burung dan suara satwa di alam tropis Lampung bagai musik orkestra yang amat jenaka.

Lampung memang memiliki kawasan hutan yang unik. Di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, kita bisa menikmati hutan hujan tropis kering. Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di bagian barat Pulau Sumatera dari Lampung hingga ke Bengkulu, merupakan hutan hujan tropis basah dengan karakteristik pepohonan dan satwa yang agak berbeda dengan TNWK. Namun, kedua lokasi itu memiliki kekhasan sendiri.

Apa saja yang bisa dilihat di TNWK? Di sini ada pusat pelatihan gajah (PLG), yakni sekolah bagi gajah liar yang kerap keluar masuk hutan dan perbatasan rumah penduduk. Hewan berbelalai panjang yang telah "sekolah" mampu membantu pagawai TNWK saat patroli dan menghalau gajah liar yang merusak, serta memberikan hiburan kepada pengunjung.

Selain pandai bermain bola, kawanan gajah di PLG ini mampu bermain sirkus hingga berjoget mengikuti irama musik. Semua atraksi tersebut bisa dilihat pengunjung sesuai jadwal tayang yang umumnya akhir pekan atau pada musim liburan tiba.

Pengunjung juga boleh menunggang gajah keliling areal PLG dengan tarif yang tak menyekik kantong, mulai dari Rp20 ribu per kepala. Asyik kan menunggang hewan bertelinga lebar yang dijadikan nama penganan ini (kue kuping gajah, red). Boleh jadi ini menjadi pengalaman seru dan tak terlupakan dalam sejarah hidup.

Tak cuma itu, pengujung bisa mengamati hewan langka, badak sumatera, yang tengah diteliti di Pusat Penangkaran Badak Sumatera (Suaka Rhino Sumatra--SRS) di kawasan Way Kanan, TNWK.

Di sini ada sejumlah badak yang ditangkarkan untuk penelitian tentang kehidupan satwa langka tersebut. Namun, pengunjung dilarang terlalu jauh mendekat di kawasan tersebut karena dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan badak si pemalu ini.

Untuk berwisata di sini, Anda bisa bermalam di penginapan yang ada di sekitar pintu masuk TNWK, Plang Ijo, di Kecamatan Jepara, Lampung Timur. Atau jika ingin menikmati senasi alam yang menyatu, bisa bermalam di resort Way Kanan, tak jauh dari Sungai Way Kanan. Sayangnya, kondisinya jauh dari yang diharapkan karena kurang terawat. Untuk ini, pengunjung harus reservasi terlebih dahulu kepada petugas setempat.

Di sini Anda bisa melihat satwa liar seperti babai hutan, bebek liar, dan aneka burung langka yang tak terlalu terusik lagi dengan kehadiran manusia.

Nah, di TNBBS, susana hutannya lebih greng lagi. Kawasan hutan ini lebih rimbun dan lebih sejuk. Kawanan gajah liar kerap terlihat mengikuti alur litasannya. Pun si raja hutan masih sering terlihat di sana. Menegangkan tapi asyik bukan?

Anda bisa bermalam di shelter-shelter yang tersedia di sini, dan tentu saja atas izin dari petugas kehutanan setempat.

Buat yang suka melihat banteng liar di daerah pantai, pelancong bisa mengunjungi Taman Belimbing di daerah paling ujung bagian barat dan selatan Lampung. Lokasi ini dikelola PT Sak Nusantara, dan buat yang jago berburu, bisa mengadu kemampuannya. Karena di daerah ini menyediakan areal berburu. Eit... bukan asal berburu lo, tapi yang boleh diburu hanya babi hutan saja.

Dan buat penyuka arung jeram, wilayah Lampung Barat merupakan surganya. Objek pariwisata arung jeram Way Besai yang berkelok di rute Pekon Fajar Bulan--Pekon Sukananti sejauh 6 kilometer layak dicoba bagi petualang sejati.

Tak perlu repot membawa peralatan karena Dinas Pariwisata Kebudayaan Promosi dan Investasi Lampung Barat telah menyediakan fasilitas rafting (arum jeram) seperti perahu karet, pelampung, dayung, helm dan lainnya. Dinas menyewakan fasilitas rafting lengkap tersebut mulai dari Rp30 ribu/jam. Cukup murah bukan? SAG/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Kiat Agar Liburan Lebih Menyenangkan

YANG namanya liburan pastilah agar segar dan menyenangkan. Namun, stres selama berlibur sering kali terjadi. Agar tidak bete, maka berlibur juga perlu persiapan.

1. Persiapkan segala sesuatu selama liburan. Tentukan dulu hendak liburan di daerah mana, apakah ke hutan, ke gunung, ke pantai, atau lainnya. Sebab, hal ini terkait dengan perlengkapan yang akan dibawa.

2. Perlu bertukar informasi dengan kerabat tentang lokasi wisata yang akan dikunjungi, termasuk lokasi mana saja yang tidak bisa dilewatkan. Lebih baik kunjungilah biro perjalanan agar kita mendapat informasi, sekaligus mengurus segala akomodasi mulai dari visa tiket pesawat penginapan dan sebagainya.

Jika memilih jadi backpackers, biasanya goggling atau membeli buku tentang kota/daerah yang dikunjungi. Tiket dan penginapan di tempat tujuan bisa dipesan atau reservasi terlebih dahulu.

3. Cobalah tulis semua jadwal liburan Anda dalam sebuah agenda. Pastikan Anda merancang dengan efisien tanpa ada yang terlewat. Jangan lupa mencatat keamanan dan cuaca daerah yang akan Anda kunjungi.

4. Jaga kebugaran tubuh selama liburan dengan mengonsumsi makanan sehat di pagi hari. Konsumsi juga multivitamin.

5. Kurangi minum alkohol agar tubuh tetap bugar.

6. Jangan lupa membawa handycam dan kamera buat mengabadikan gambar maupun kegiatan selama liburan.

7. Bawa kompas, untuk penunjuk arah, senter, dan pematik.

8. Bawa perlengkapan pribadi seperti topi untuk melindungi terik matahari dan sun glasses untuk melindungi mata dari sinar ultraviolet.

9. Jangan lupa membawa obat pribadi dan krem sun block. Perlu juga membawa cadangan makanan seperti biskuit dan air mineral.

10. Jika membawa kendaraan pribadi, cek kesiapan dan kelengkapan kendaraan sebelum pergi berlibur.

Dengan persiapan yang baik, liburan Anda pasti lebih menyenangkan. L-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Berbagai Permainan Tersedia di Tabek

SELAIN wisata pantai, alternatif liburan Lebaran yang kini juga menjadi incaran adalah wisata yang tidak hanya menyiapkan tempat berkumpul bersama keluarga, tetapi juga menyiapkan permainan yang memacu adrenalin dan butuh keberanian tinggi.

Tempat wisata itu antara lain Taman Wisata Tabek Indah yang terletak di Desa Serbajadi, Pemanggilan, Natar. Hanya sekitar lima kilometer dari Bandara Radin Inten II, dan sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Bandar Lampung, kita tidak sulit menjangkau Tabek Indah. Meski dekat jalan raya utama Natar, yang menjadi jalur perlintasan pemudik, lokasi wisata di alam terbuka dengan konsep one stop service ini jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kendaraan.

Taman wisata yang luasnya mencapai 9 ha itu mampu menampung ratusan pelancong. Aneka permainan yang tersedia membuat anak-anak betah berlama-lama di kawasan wisata alam terbuka ini. Tak heran jika, sejak dibuka beberapa tahun silam, Tabek Indah menjadi salah satu pilihan di Lampung untuk tempat liburan keluarga.

Senior Sales dan Marketing Supervisor Tabek Indah, Herlina Rosida, mengatakan ada lebih dari 10 jenis permainan dan sarana kegiatan yang mengasyikkan tersedia di lokasi wisata itu. Mulai dari yang ringan seperti pemancingan dan play garden, sampai yang memicu keberanian seperti flying fox, outbound, paint ball, arena meluncur di kolam renang, dan lainnya.

Khusus Lebaran kali ini, manajemen Tabek Indah menyiapkan paket-paket spesial yang dapat dipilih keluarga besar dalam bersilaturahmi dengan keluarga lainnya. Ada paket takbir eksekutif yang dikenai tarif Rp60 ribu/orang, paket beduk Rp50 ribu/orang, atau paket ketupat bertarif Rp40 ribu/orang.

"Itu sudah termasuk tiket masuk, saung, apetizer dan desert. Yang membedakan hanya pilihan lauknya," kata Herlina.

Untuk jenis permainan, Herlina menawarkan pilihan paling tepat pada liburan Lebaran nanti adalah paint ball. Permainan yang sedang digandrungi ini merupakan simulasi tempur senjata short gun dengan peluru cat. Permainan "perang-perangan" ini bisa dimainkan minimal oleh sepuluh orang.

Tarif permainan ini relatif terjangkau, per orang Rp120 ribu untuk satu jam. "Paint ball sangat seru dan cocok bagi keluarga yang sedang berkumpul saat liburan Lebaran nanti," ujar Herlina.

Jika sudah kelelahan bermain, Tabek menyiapkan cottage yang nyaman dan berkelas dengan tarif Rp400 ribu/malam. Cottage yang berada di kelilingi pepohonan ini dibuat dengan bahan baku geribik. Didesain senyaman mungkin dengan nuansa perdesaan yang asri dan sejuk.

Bagi mereka yang hobi olahraga, sebelum memulai aktivitas, juga dimanjakan dengan fasilitas jogging track. Menikmati udara sejuk bersama keluarga, sembari berlari-lari kecil di bawah rindangnya pepohonan atau menapaki jalanan berbukit, suasana liburan kali ini terasa lebih mewah dan mengesankan. n MG3/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Ada Bonbin Mini di Bumi Kedaton

INGIN melihat aneka satwa, singgah saja ke Taman Wisata Bumi Kedaton (TWBK). Di bonbin (kebon binatang) mini itu kita bisa bercanda dengan aneka satwa di alam terbukan. Lokasi bonbin ini masih di kawasan Batu Putu, Bandar Lampung.

Akses transportasi ke TWBK sangat mudah. Jaraknya relatif dekat dari pusat kota, hanya sekitar 30 menit berkendara. Selama perjalanan menuju objek wisata itu mata kita disuguhi panorama alam pegunungan dan lembah yang hijau. Udaranya masih sejuk mengingat kawasan ini terletak di ketinggian 700--900 meter dari permukaan laut.

Menuju TWBK kita dipandu oleh banyak papan penunjuk arah di pinggir jalan. Mulai dari Jalan Pangeran Emir M. Noor, tidak jauh dari kantor PDAM Way Rilau, papan informasi sudah terpampang di tepi jalan.

Sejak memasuki wilayah Sukarame II, Telukbetung Barat, suasana hutan sudah terasa dan menghiasi kiri-kanan jalan. Lokasi bonbin berada di lembah, tapi kita mesti melalui jalanan menanjak. Dari beberapa sudut jalan mendaki dan berkelok-kelok, kita bisa menikmati sebagian wajah Kota Bandar Lampung. Keindahannya akan lebih eksotis pada malam hari.

Di jalan-jalan menuju TWBK juga kita banyak menjumpai pedagang buah, khususnya durian dan pepaya. Jika sedang musim durian, warga menikmati nikmatnya durian segar yang baru jatuh dari pohon.

TWBK kini menjadi salah satu lokasi wisata alternatif di Bandar Lampung. Memasuki pintu gerbang, kita cukup membayar tiket Rp8.000 per orang. Nah, di areal itu, selain menikmati koleksi satwa hidup, pengunjung juga menyaksikan atraksi gajah, tracking menunggang gajah, atau melihat atraksi manusia pemakan. Tentu saja ada biaya tambahan untuk setiap pertunjukan atau atraksi.

Ada sejumlah hewan di taman ini, sehingga TWBK mirip bonbin mini. TWBK antara lain mengoleksi harimau sumatera, gajah sumatera, buaya, siamang, beruk, kera ekor panjang, kijang, ayam hutan, elang, biawak dan berbagai jenis ayam dari China, Arab, dan Australia yang menjadi penghuni tetap.

Dimulai dari kandang unggas, ada deretan kandang berisi aneka unggas. Yang menarik adalah ayam jambul. Bentuknya lucu dan unik. Turun sedikit ke bawah kita disambut kandang harimau yang lucu-lucu galak. Lebih ke bawah lagi ada kandang buaya. Di situ kita bisa melihat delapan buaya bertubuh jumbo sedang berjemur dengan mulut menganga.

Bumi Kedaton juga dilengkapi lahan perkemahan. Letaknya di sebelah utara pada sisi sungai yang mengalir dari lereng Gunung Betung. Tersedia fasilitas rekreasi keluarga, rumah khas Lampung bertiang, bungalo dengan panorama lembah dan perbukitan yang cocok untuk rileks, outbound, trek joging, dan wisata kano di sungai berair jernih dan bersih. Tempat ini sangat cocok untuk wisata keluarga. n SAG/L-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] One Stop Recreation' 'Gak' Terasa Seharian

WISATA Lembah Hijau ini diciptakan dengan desain one stop recreation. Aneka wahana ditawarkan di lokasi seluas 15 ha ini. Dari yang bersifat outdoor activity, Lembah Hijau menawarkan flying fox, elvis work, burma bridge, wahana war game, airsoft gun, paint ball, climbing wall, dan camping ground.

Di kawasan wisata daerah perbukitan ini juga tersedia outbound kids area, ditambah play ground anak untuk keterampilan aktivitas, dan petualangan bermain anak. Dengan asyiknya aneka permainan itu, gak terasa waktu kita seharian berada di sini.

Lembah Hijau terletak di ujung Jalan Raden Imba Kesumaratu, daerah perbukitan di Kelurahan Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Jika dari arah utara, wisatawan dapat mengakses dari Terminal Kemiling, lalu mengambil rute ke arah Perumnas Kemiling.

Dari arah timur, bisa diakses lewat Jalan Agus Salim (sekitar Pasar Induk Bandar Lampung/Tamin ke arah barat). Sedangkan dari arah selatan, jalan perbukitan yang indah dari kawasan Batuputu berada segaris dengan objek wisata ini. "Saat liburan Lebaran nanti masyarakat dengan berbagai hobi bisa datang ke sini. Yang suka berenang bisa menikmati waterboom, yang suka tantangan ada flying fox dan permainan di ketinggian, atau bagi yang suka berkendaraan ada juga sepeda motor roda empat (ATV--auto terrrain vehicle) untuk menjajal kemampuan berkendaraan off road sesungguhnya," kata Manajer Lembah Hijau D.A. Rinni.

Apalagi, kata dia, pada H+2 hingga H+7 Lebaran nanti pengunjung Lembah Hijau akan dihibur oleh artis dangdut, musik country, pop, dan band.

Rini menjelaskan sarana yang kini paling diminati pengunjung adalah waterboom dan ATV. Waterboom terletak di bagian kanan setelah pintu masuk. Hingga kini, waterboom Lembah Hijau masih yang terbesar karena memiliki lima kolam dengan tiga kolam yang memiliki sarana luncuran, torpedo slide, spiral slide, serta water splash pada kolam anak. Pada lingkaran kolam-kolam ini terdapat juga kolam arus. Pengunjung sepertinya akan betah berlama-lama di sini sambil menunggu gelas tumpah, yakni air jatuh yang tumpah dari ember raksasa yang terisi penuh.

Untuk menikmati wahana ini, pengunjung cukup merogoh kocek Rp20 ribu ditambah tiket masuk pada pintu utama Lembah Hijau yakni Rp8.000/orang. Sedangkan untuk menjajal track off road, pengunjung harus mengeluarkan kocek sebesar Rp30 ribu/15 menit.

Lembah Hijau juga melengkapi dirinya dengan mini zoo yang memiliki aneka satwa seperti onta, aneka rusa (totol, timor, dan sambar), aneka burung, aneka ikan, aneka ternak, hingga kuda yang dapat ditunggangi.

Seperti tempat liburan lainnya, lokasi yang diresmikan tahun 2007 ini juga memiliki kafe di setiap zona yang menyediakan aneka makanan dan minuman siap saji.

Di lokasi sejuk ini juga tersedia tempat peristirahatan berupa cottage, mulai dari yang berdesain klasik tradisional dengan bilik bambu sampai modern dengan harga terjangkau. Cottage ini dapat ditempati pengunjung dengan harga mulai Rp300 ribuan.

Selain itu, ada restoran yang menyediakan menu-menu pilihan, plus melayani event-event party seperti ulang tahun, reuni, meeting, dan lain-lain. Sedangkan untuk kapasitas yang menuntut jumlah orang banyak dapat disajikan buffet di gedung anggrek, gedung serbaguna yang bisa dipakai meeting atau seminar juga gala dinner berkapasitas 250 orang.

Tak jauh dari wisata Lembah Hijau, ada Tugu Durian. Sebuah monumen berbentuk buah durian di persimpangan jalan di lokasi Batu Putu, Telukbetung. Tugu tersebut memang sengaja dibangun oleh Pemda Bandar Lampung karena lokasi sepanjang Batu Putu merupakan markasnya durian. Jika sedang banjir durian, hampir di setiap jengkal wilayah tersebut dipenuhi menjual durian. Pun saat langka, ada saja penjual durian yang ditemukan.

Kalau Anda ingin menikmati buah durian yang tak mengecewakan, sebaiknya makan di tempat. Karena penjual akan memilihkan buah yang bagus dan manis. Perjanjiannya, jika buah kurang sedap setelah dicicipi dengan colekan tangan, maka pembeli bisa menolak buah tersebut dan meminta buah lainnya. Jadi, makan buah durian di tempat pun tak seperti membeli kucing di dalam karung. n SAG/MG3/E-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

[Liburan Lebaran] Wisata di Lampung Bikin Liburan Lebih Berasa

ALLAHU Akbar... Allahu Akbar... Walillahhilham.... Demikian kalimat takbir bergema saat menyambut hari Lebaran 1430 Hijriah. Tak pelak seluruh umat muslim merayakan kemenangan setelah berhasil mengalahkan hawa nafsu selama Ramadan. Sanak famili pun berkumpul untuk merayakan.

Kebahagiaan menyambut Lebaran tentu dimanfaatkan selain bersilaturahmi dan bermaaf-maafan, juga berekreasi di sejumlah tempat yang menawarkan berbagai paket wisata. Ada wisata air, kebun binatang, permainan (outbound), maupun keindahan alam lainnya. Ada juga yang lebih suka bergembira-ria di mal atau pusat hiburan.

Rekreasi pantai masih memiliki daya tarik yang kuat pada Lebaran ini. Wisata pantai alternatif antara lain Kalianda Resort, Merak Belantung, di Lampung Selatan; Taman Hiburan Rakyat Pasir Putih di Tarahan; atau Pantai Mutun dan sejumlah pantai lain di Padang Cermin. Tersaji pula permainan yang memacu adrenalin dan butuh keberanian tinggi seperti outbound. Untuk yang itu ada di Tabek Indah dan Lembah Hijau.

Semua lokasi-lokasi wisata itu mudah dijangkau. Bagi pelancong luar Lampung, setelah pesawat tiba di Bandara Raden Intan, Anda dapat menyewa taksi ke Bandar Lampung. Dari pusat kota, semua lokasi wisata terjangkau dalam waktu singkat. Umumnya hotel menyediakan brosur wisata.

Lebih asyik lagi jika membawa kendaraan pribadi. Setelah check in di hotel, atau jika menginap di rumah keluarga, kita tinggal minta petunjuk. Dijamin pelancong tidak nyasar selama di Lampung.

Berbagai hotel selain menawarkan keindahan view pegunungan dan laut, juga berbagai fasilitas seperti fitness, massage, spa, biliar, kolam renang, restoran, karaoke, live music atau bar, maupun tempat kongko bersama keluarga atau rekan.

Bosan dengan menu makanan hotel, tak ada salahnya berwisata kuliner. Salah satu tempat makan paling ramai dikunjungi adalah pusat kuliner di daerah Kupang, Telukbetung, Bandar Lampung. Di kawasan ini berjejer puluhan tempat makan pempek, atau makanan khas lain berbahan baku ikan. Tempat ini selalu diserbu warga jika sudah mulai bosan dengan menu-menu Lebaran.

Pada malam hari, bolehlah mencoba sajian masakan seafood di kawasan Telukbetung Selatan. Aneka makanan laut yang serbasegar tersedia di sana. Dengan mengunjungi tempat-tempat itu membuat suasana liburan akan lebih berasa. n UMB/M-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 September 2009

September 13, 2009

[Harmoni] Keluarga Ivan Sumantri Bonang: Mengembalikan Dongeng ke Rumah-Rumah

IIN Muthmainnah tidak sanggup lagi menahan katupan kelopak matanya. Seakan tidak peduli dengan rasa penasaran empat bocah cilik yang tiduran di dekatnya, dengkur Iin menjadi penutup dongeng yang belum usai.

"Uhhh, Bunda gimana sih, ceritanya kan belum selesai, kok udah tidur," kata Nada Khalisha Syifa Fadhilla (10) dengan merengut. Disusul, komentar serupa dari adik-adiknya, Luthfiyya Dyah Rhainaratri (8), Aryo Immaduddin Dzaky Bonang (5), dan Ken Jisnu Pranaja Prabaswara (3).

"Iya lo, Bunda, gimana nasib tuan putrinya ya. Huuh, Bunda udah tidur sih," timpal Luthfiyya. Akhirnya, empat kakak beradik itu sepakat bermain sendiri-sendiri menjelang mata ikut terlelap menyusul dengkuran sang bunda.

Peristiwa ini kerap sekali terjadi. Di tengah rasa letih bekerja seharian, Iin selalu menyempatkan diri mendongeng untuk anak-anaknya. Tidak hanya menjelang tidur, hampir setiap saat, empat bocah kecilnya merengek minta didongengkan.

"Karena saking sudah terbiasanya didongengkan, kadang-kadang anak-anak memaksa ayah-bundanya mendongeng. Entah ayah-bundanya lagi capek, mereka tidak mau tahu, pokoknya dongeng. Eeh, bukannya yang didongengkan tidur, malah pendongengnya yang ketiduran," kata Iin sambil tertawa.

Menurut Iin, kebiasaannya mendongeng kepada anak-anak berdampak positif bagi perkembangan anaknya. Melalui dongeng, Iin menyampaikan ilmu dan nilai-nilai dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Makanya tidak heran, dua anaknya, Nada dan Luthfiyya yang saat ini sekolah di SD Sekolah Alam Lampung memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Selain kemampuan berkomunikasi dan keberanian mengemukakan pendapat, Nada malah mewarisi ilmu mendongeng dari sang Ibu. Bahkan, beberapa kali Nada tampil sebagai pendongeng cilik di televisi lokal.

"Dongeng bisa menerapi kemampuan anak. Ada 12 kecerdasan anak yang bisa ditingkatkan melalui dongeng, kecerdasan bahasa, verbal, linguistik (bahasa), konseptual, motorik dan lainnya," kata pendiri Komunitas Dakocan wilayah Lampung ini, Rabu (9-9), di rumahnya Jalan Teuku Cik Ditiro, Perumahan Ragom Gawi III, Blok D3 Nomor 1, Kemiling, Bandar Lampung.


Suasana sore itu sangat ramai. Selain Iin dan suami, Ivan Sumantri Bonang, ikut nimbrung empat anaknya berbincang dengan tim redaksi Lampung Post.

Menurut Irvan, sebagian masyarakat, terutama orang tua, sudah mulai melupakan kebiasaan mendongeng kepada anak-anak mereka. Kesibukan bekerja dijadikan alasan untuk tidak melakukan terapi yang mudah dan murah ini. Dalam ilmu psikologi, bercerita atau mendongeng termasuk salah satu metode hipnoterapi untuk menerapi kemampuan anak agar berkembang secara optimal.

"Sebenarnya anak-anak hanya butuh 10--15 menit yang memukau untuk mendengarkan cerita atau dongeng dari orang tuanya. Informasi yang mereka dapatkan selama 15 menit itulah yang akan mengendap dan menjadi memori jangka panjang yang suatu saat akan di-review kembali oleh anak di masa depannya," kata Irvan.

Untuk menciptakan 15 menit yang memukau itu, orang tua tidak harus pintar bercerita. Sejatinya, setiap harinya, orang tua cukup meluangkan waktu 15 menit untuk memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuh hati kepada anaknya. Saat di mana orang tua tidak memikirkan yang lain kecuali bagaimana anak tertarik dengan cerita yang disampaikan. Membangun kedekatan emosional dengan anak.

Untuk mengembalikan kebiasaan mendongeng ke rumah-rumah. Irvan dan Iin mendirikan Komunitas Dakocan pada 28 November 2002. Komunitas ini memulainya dengan mendongeng ke lembaga pendidikan prasekolah. Bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandar Lampung, Komunitas Dakocan mendongeng ke 22 TK dan PAUD di Bandar Lampung.

Saat itulah Ivan menyadari, ternyata tidak hanya orang tua yang telah melupakan pentingnya mendongeng, para guru pun sangat jarang menerapkan metode dongeng untuk menyampaikan nilai dan pengetahuan kepada anak. Metode pengajaran yang diterapkan di sekolah masih searah dan menoton.

Anak-anak tidak diberi kekebasan untuk memilih dan menjadi diri sendiri. Sehingga, anak-anak belajar dalam keterpaksaan. Hal ini cenderung menghambat dan membunuh potensi unik yang ada dalam diri anak didik. Sejatinya, setiap anak harusnya belajar dengan rasa gembira. Tanpa tekanan dan paksaan dari lingkungannya. Banyak metode yang bisa diterapkan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, salah satunya adalah dengan mendongeng.

Kondisi ini semakin menggugah pasangan yang sudah menikah selama 11 tahun ini untuk melatih kemampuan mendongeng bagi para guru. Tahun ini, Komunitas Dakocan menargetkan 1.300 guru TK/PAUD se-Lampung mengikuti pelatihan mendongeng dan bercerita. Juga diadakan lomba bercerita bagi para guru, dan pementasan drama Ali Baba bekerja sama dengan TK Al-Azhar.

Selain melatih para guru, Komunias Dakocan juga melatih para orang tua agar bisa mendongeng dan bercerita. Dengan satu harapan, dongengan itu bisa kembali ke rumah-rumah. Tempat di mana anak mendapatkan perhatian utuh dari kedua orang tua mereka. n RINDA MULYANI/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 September 2009

[Perjalanan] 'Ngabuburit' di Pelabuhan Srengsem

TAK ada sunset hanya ada siluet. Tak ada permainan, hanya ada rasa dan suasana laut. Tetapi, Pelabuhan Srengsem, Bandar Lampung, tetap dihadiri warga. Sekadar melewatkan sore atau merasakan hawa laut.

Rabu (9-9), menjelang magrib, cuaca Kota Bandar Lampung cukup cerah. Tetapi musim angin laut yang sedang melanda membuat air di laut Teluk Lampung cukup menggejolak. Empasan ombak kepada setiap benda yang berada di tepi laut demikian keras. Sehingga, suara riak airnya menjadi orkestra warga tepi pantai sore itu.

Hari itu, Ramadan hari ke 19 tahun 1430 Hijriah. Lapar dan dahaga yang memuncak dirasa harus ada pengalihan perhatian. Maka, berbondong-bondong ratusan warga, dengan sepeda motor dan pejalan kaki, membawa alat pancing atau sekadar lenggang, memasuki pintu gerbang pelabuhan tua itu. Ya, pelabuhan kapal feri yang memasuki masa kedaluwarsanya pada 1981, saat Pelabuhan Bakauheni di ujung Lampung Selatan mulai dioperasikan.

Pelabuhan itu memang sudah menjadi monumen. Sejak ditinggalkan kapal-kapal feri yang sebelumnya rutin menyandari untuk menyeberangkan penumpang ke Merak (Banten), pindah ke Pelabuhan Bakauheni pada 1981, dermaga itu kesepian. Dinginnya udara laut dan debur ombak mengikis kerinduan dermaga kepada kapal-kapal itu makin jauh. Kini, fasilitas-fasilitas yang ada di tempat sandar kapal seluas dua hektare itu mulai luruh.
Di ujung dermaga, kapal beton bekas tanker tetes tebu milik PT GMP yang rebah dalam sandaran. Kini, kapal terbuat dari semen itu tinggal puing dan menjadi prasasti. Juga tiang-tiang besi tempat bertautnya tali-tali kapal yang termakan timbrah.

Namun, tanggul dengan lebar empat meter sepanjang sekitar 100 meter menjorok ke laut itu masih utuh. Dengan konstruksi fondasi beton di samping, jalan aspal di atas, dan trotoar semen yang di bawahnya terpendam saluran air, dermaga itu nyaman untuk menyambangi laut.
Merasakan belaian angin laut sejauh 100 meter ke tengah memang tidak bisa dilakukan jika tidak naik perahu. Namun, dengan menyusuri ujung dermaga itu, kita sudah dapat merasakan desah laut yang sesungguhnya.

Sore itu, langit di atas dermaga tidaklah cerah sehingga matahari yang akan tenggelam di ufuk barat terhalang awan. Sinar lembayung jingga yang biasanya membentuk siluet di langit dari latar belakang gunung-gunung di wilayah Pesawaran, hari itu tidak ada. Sinar jingga di kala sore itu, biasanya membiaskan warna di air laut yang mengombak menggoyang perahu-perahu nelayan.

Meski tak ada sinar, nelayan masih tampak beraktivitas di Teluk Lampung. Entah apa kegiatan mereka, apakah memancing ikan, menjala, atau berdagang berbagai kebutuhan kepada awak-awak kapal besar yang menunggu jadwal sandar untuk membongkar atau memuat barang di Pelabuhan Panjang.

Sementara itu, lampu kapal-kapal besar itu mulai mengerlip menjelang magrib. Itu terlihat ketika darat mulai temaram.

Pemandangan di sisi Utara Pelabuhan Srengsem, adalah rumah-rumah nelayan dengan model bangunan panggung berada di atas air laut. Di saksikan dari ujung dermaga, rumah-rumah itu menunjukkan komunitas khas warga yang dengan profesi yang berhubungan dengan laut. Sebab, sesungguhnya hunian seperti itu amat rawan jika gelombang besar menerpa.

Di belakangnya lagi, Pelabuhan Panjang bertahta. Ada kapal-kapal barang dan peti kemas yang berlabuh dengan irama yang terasa amat lamban. Di latarnya lagi, terlebih jika malam menjelang, wajah Kota Bandar Lampung di sisi selatan, yakni Telukbetung dan sekitarnya seperti kelimun kunang-kunang. Sinar lampu-lampunya berpendar dengan latar belakang gelap kelam.

Di sini selatan memang agak kurang menyenangkan pemandangan. Meski ada jeda pantai yang bisa dipakai berenang dan main pasir, 200 meter berikutnya adalah bangunan galangan kapal yang angkuh. Bangunan itu menjorok ke laut dengan menghilangkan pasir pantai menjadi pagar tembok perusahaan.

Di lokasi itu, terlihat derek-derek crane dengan tali-temalinya menjulang bagai menara seluler. Jumlahnya cukup banyak. Di ujung lokasi itu, ada pos pengamanan yang posisinya ditinggikan seperti menara pandang pemantau penjara.

Di lokasi bekas dermaga itu, fasilitas-fasilitas yang semula sebagai ruang tunggu dan kantor itu masih ada. Fasilitas-fasilitas ini sempat dipakai Dinas Perhubungan untuk berkantor. Namun, dalam 10 tahun terakhir, fasilitas itu tidak dimanfaatkan.

Namun, lokasi itu juga cukup memberi rasa aman kepada pengunjung yang membawa kendaraan roda empat. Di pelataran yang cukup luas, ada beberapa unit gedung yang ditinggali. Juga beberapa warung yang melayani pendatang dengan aneka penganan dan kebutuhan lainnya.

Pendatang lokasi "wisata" yang oleh penjaga pintu dikutip Rp2.000 per orang secara amatiran itu memang didominasi remaja. Namun, ada juga keluarga kecil dengan satu atau dua anak.
Mereka memang tidak tamasya (leisure) seperti umumnya nyantai ke pantai. Mereka hanya singgah menikmati udara laut yang semilir melebihi semburan kipas angin, juga bau laut yang menumbuhkan suasana kebebasan.

Hampir tidak ada yang terlalu lama bertahan dalam belaian angin laut itu. Sebab, memang tidak memungkinkan menggelar tikar, lesehan makan bersama, atau merebahkan diri di selasar sambil bergitar.

Dermaga yang kini dimiliki oleh PT Kereta Api (PT KA) ini memang bukan tempat yang nyaman untuk berwisata. Tetapi, di musim mudik ini, tempat ini sangat cocok bagi rombongan pulang mudik untuk beristirahat sejenak melepas penat. Satu atau dua jam berada di sini, bisa menyegarkan kembali pikiran, mata, dan tenaga. Mampir, Mas! n SUDARMONO

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 September 2009

September 6, 2009

Kangen Band Mematahkan Stereotip

SIAPA bilang grup musik daerah, dengan tampang kampungan, dan karya yang dianggap tidak memenuhi standard kualitas musik, tidak bisa sukses? Stereotip ini telah dipatahkan oleh Kangen Band. Karya dari Andika (vokal), Dodhy (gitar), Tama (gitar), Iim (drum), Bebe (bas) dan Izzy (keyboard) kini sangat diterima masyarakat yang ditunjukkan dengan suksesnya penjualan RBT dari lagu-lagu mereka. Keajaiban ini hanya dapat terjadi di industri kreatif nonfisik tersebut.

Kangen Band (SP/Ignatius Liliek)

Ajaib karena Kangen Band bukan berawal dari grup band serius. Mereka awalnya hanyalah kumpulan anak muda yang sering nongkrong di atas jembatan sungai kecil di Jalan Soetomo Bandar Lampung. Mereka bernyanyi dan bermain dengan alat musik sekadarnya. Mulai dari gitar kopong, keyboard mainan untuk anak kecil dan tempat cat yang dijadikan drum. Mereka pun menirukan gaya para band papan atas seperti Sheila On 7, Dewa 19, atau Samson. Dan, tak ada satu pun yang pernah belajar memainkan musik di sekoah musik. Semua kepandaian memainkan alat musik, dilakukan secara otodidak. Iim, sang drumer bahkan mengaku, memukul drum sesuai perasaan dan jatuhnya beat alat-alat musik lainnya yang dimainkan teman-temannya. Namun, ajaibnya, masing-masing bisa berpadu membentuk musik. Baru pada 4 Juli 2005, keinginan untuk jadi band yang sesungguhnya terbit.

Untuk itu pun tidak mudah. Menurut Dodhy kala itu mereka harus patungan mengumpulkan uang untuk ke studio musik sewaan. Itu pun sering berhutang, padahal harga sewa studio hanya Rp 20.000 per jam. Maklum anak-anak muda itu bukanlah anak orang kaya. Andika sebelum Kangen Band berkibar adalah pedagang es cendol di RS Abdul Muluk di Bandarlampung. Bahkan, pelantun lagu Tentang Aku, Kau dan Dia ini pernah masuk penjara karena kasus narkoba.

"Namanya juga anak muda. Masih senang bikin yang enggak-enggak. Tapi sekarang kan sudah harus berubah. Nggak kayak dulu lagi," ucapnya. Hidup personel lain tidak jauh lebih baik. Dodhy pernah jadi kuli bangunan, Tama pedagang sandal kaki lima di emperan depan sebuah plaza di Bandar Lampung, sedang Bebe membantu orangtuanya yang berjualan nasi uduk. Mungkin yang sedikit beruntung adalah Izzy yang keluarganya mapan sebagai pedagang.

Semangat mereka untuk bisa jadi musisi terkenal yang membuat mereka nekat. Dengan peralatan seadanya mereka ikut berbagai festival musik di Lampung. Mereka juga membuat CD-demo dari lagu ciptaan sendiri. Judul lagu pertama yang berhasil direkam adalah Menanti yang kemudian diubah menjadi Penantian Yang Tertunda. Kemudian lagu Usai Sudah yang diganti menjadi Tentang Aku, Kau dan Dia. Lagu-lagu ini yang kemudian menjadi popular di radio-radio di Lampung dan berakhir di lapak-lapak penjual CD bajakan.

Doddy mengaku, mereka tidak pernah mengirimkan CD demo ke label rekaman karena tidak tahu bagaimana cara mengirimkannya. Membuat CD-CD demo saja mereka sudah bangga. [W-10]

Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 6 September 2009

[Perjalanan] Membelah Teluk Lampung Sambil Memancing

MENYALURKAN hobi itu memang kerap mengenyampingkan sejumlah faktor. Apalagi kalau melaksanakan hobi itu rame-rame dengan teman-teman yang memiliki kegemaran yang sama.

Itulah yang kami lakukan, para penyuka penarik tali senar di laut alias memancing, meluangkan kesempatan itu pekan lalu dengan mancing bersama meski di bulan puasa. Loh, puasa kan bukan berarti kegiatan memancing berhenti?

Memancing kali ini cukup istimewa karena mencoba kapal baru milik Pemda Kabupaten Tanggamus. Selain itu, si pemilik kapal, yakni Bupati Tanggamus Bambang Kurniawan pun turut serta dalam rombongan memancing.

Tidak hanya itu, Bupati Pringsewu Masdulhaq yang bisa disebut maniak mancing juga tak absen. Rupanya, dua pemilik wilayah di dua kabupaten ini punya hobi yang sama: menjelajahi laut sambil memancing.

Kami, sekitar 16 orang, berangkat dari Dermaga Puri Gading, Telukbetung. Kapal motor berawarna putih dan berlogo Kabupaten Tanggamus telah bersandar di sana. Memang kapal ini selalu berlabuh di Purigading. Alasannya, akses menjelajahi perairan Tanggamus dan sekitarnya lebih strategis dari dermaga ini.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami sudah di dermaga. Namun, rombongan Bupati Tanggamus masih di jalan. Bahkan, sempat mencari umpan memancing, cumi.

Pagi itu angin cukup kencang dan gelombang lumayan tinggi. Bahkan, berdasar informasi dari BMKG Lampung, tinggi gelombang di perairan Lampung dan Selat Sunda mencapai di atas dua meter. Tapi, dasar keinginan kuat buat memancing, hampir semua rombongan berkukuh mau jalan terus.

Sambil menunggu rombongan, Jaya, pakar memancing yang juga perancang kapal yang akan kami tunggangi ini, menjelaskan kalau kendaraan laut ini memiliki kecepatan mencapai 27 knot/jam atau lebih cepat dari kapal cepat yang biasa dipakai untuk mengangkut penumpang Bakauheni--Merak. Mesin yang digunakan juga jenis Suzuki 400 PK.

Tak lama, rombongan tiba. Rupanya, Bupati Tanggamus ini sudah siap dengan atribut mancingnya: kaus biru plus celana pendek berwarna biru lebih muda. Kami pun langsung naik ke kapal yang bermuatan belasan orang itu. "Wow! ini sih sudah tergolong kapal pesiar lah," kata saya saat memasuki ruangan ber-AC berukuran sekitar 2 x 4 m yang sejuk tenan. Interiornya ciamik dengan sofa berbentuk L yang empuk plus karpet warna krem senada dengan dinding kapal.

Di buritan kapal tersedia tempat duduk dan boks dari fiber untuk menyimpan hasil tangkapan yang difungsikan juga sebagai tempat duduk. Dan tentu saja berkanopi, sehingga terlindung dari sengatan sinar matahari secara langsung.

Sebetulnya saya ingin di buritan kapal bersama teman-teman lainnya. Namun, beberapa kawan malah meminta saya masuk ke ruangan sejuk saja. "Di dalam saja, lebih enak," kata mereka.

Saya manut saja, sekalian menikmati sofa empuk sambil memandang ke luar dari jendela kapal. Meski juru kemudi kapal sudah ada, Bambang Kurniawan langsung mengambil posisi di belakang kemudi. Punya hobi baru nih, pikir saya.

Ia mengemudikan kapal yang melambat, kemudian langsung tancap gas, wuuush... Kapal membelah Teluk Lampung dengan tenang tapi cepat. Pulau Kubur dilewati, menuju Pulau Tangkil, lalu Pulau Mahitam, Pulau Puhawang, Pulau Lelangga besar, Lelangga kecil, dan Tanjung Putur kami lewati hanya dalam waktu tak kurang dari 30 menit. Kapal terus melaju melawan ombak yang lumayan tinggi, sehingga goyangan kapal mulai terasa.

Tujuan kami memancing di Pulau Siuncal-Legundi. Namun, juru mudi ingin "jalan-jalan" dulu ke Krakatau. "Kita ke Krakatau ya. Kebetulan ada anggota Dewan nih yang ikut dan mau jalan-jalan dulu," ujar Bambang.

Kami oke-ole saja. Tetapi, selepas dari Legundi, ombak tampaknya kurang bersahabat. Meski kecepatan sudah diturunkan, goncangan amat terasa, bahkan cukup dahsyat mengocok perut.

Kecepatan kapal melambat, tetapi hantaman ombak amat menohok sehingga kami, para penumpang, harus berpegangan erat-erat di kapal.

Byurrr... ombak besar melebihi tinggi kapal kami lewati. Beberapa penumpang di buritan kapal masuk ke ruangan sejuk sambil terhuyung-huyung oleh goyangan ombak. "Mau ambil pelampung," ujar mereka sambil tertawa.

"Saya nggak bisa renang, jadi mau pake pelampung," kata salah satu kru.

Langsung disahut oleh Bupati Pringsewu, "Wah, kalau sudah begini sih, nggak ada urusan lagi dengan bisa renang atau tidak," ujar Masdulhaq.

Saya yang lepas pegangan dinding kapal karena melihat peta, sempat terhuyung di atas sofa. "Wow!!!" pekik saya sambil tertawa dan berdoa di dalam hati agar kami terselamatkan dari hantaman ombak besar.

Karena kondisi sudah tak kondusif, Jaya menyarankan lebih baik balik arah ke Legundi--Siuncal saja. "Ombak terlalu besar, kita balik saja," kata Jaya pada Bambang yang langsung disetujui.

Dengan menikung cukup apik, kapal berbalik arah. Kenyamanan langsung terasa. "Kalau sekarang kita didorong ombak, jadi lebih enak," kata juru mudi sambil menaikkan kecepatan kapal.

Tak lama kami melintasi Legundi dan Legundi Tua, lalu merapat di Siuncal, tepatnya di keramba kerapu milik Edo. Kapal langsung merapat dan kami pun turun untuk mengambil posisi mancing masing-masing.

Saya langsung mendekati Bang Irul yang lengkap dengan properti memancingnya. Maklum, saya tidak membawa perlengkapan. Untungnya Bang Irul punya banyak amunisi pancing nih. Umpan cumi dan ikan rucah langsung disiapkan.

Baru beberapa saat, Bupati Pringsewu yang telah menurunkan mata pancing, langsung menarik senar. Weleh, dasar maniak memancing nih. Ia dapat seekor anak simba ukuran 4 ons. "Lumayan, untuk awal tarikan," kata dia.

Tak lama, senar Bang Amrul ikut bergoyang. Ia menarik kerapu ukuran sedang. Bahkan, anggota Dewan Tanggamus, Bang Haj, yang mengaku baru pertama kali memancing pun dapat tarikan, meskipun ukurannya tak besar.

Duh, ke mana nih ikan, kok senarku hanya ditotol-totol saja ya? Hal senasib dialami Bang Irul. "Mantranya sudah luntur nih, Ci," ujar Bang Irul. Saya cuma mesem, menahan galau.

Betapa tidak enaknya jika melihat teman-teman menarik kail, sedang kita cuma memandangnya saja. Fuih...!

Rombongan Bupati Tanggamus memilih memancing di dekat kapal. Sepertinya mereka asyik juga nih, saya lihat dari kejauhan. Sementara itu, Bang Jaya justru dapat cumi-cumi sebesar lengan saya. Lumayan, dua ekor.

Belum rezeki nih, pikir saya. Setelah pindah beberapa kali posisi, akhirnya saya dapat ikan selar ukuran dua jari. "Ha...ha...ha...lumayanlah kalau hitungannya nyawa," ujar Bang Amrul yang kali ini bertangan dingin saat mengomentari hasil tangkapan saya.

Lima kali tarikan lumayanlah.

Dan hari semakin sore. Ada komando untuk siap-siap "cabut". "Bagusnya mancing malam hari nih di sini," teriak Edo. Soalnya, ia menarik simba berbobot di atas satu kilo.

Menjelang pulang, Bang Jaya baru menginformasikan lokasi pancing yang jitu di keramba sebelah. Dan ternyata benar, tuh ikan besar berseliweran di bawah jaring keramba.

Sayangnya, waktu makin mepet, dan kami janji untuk kembali di lain waktu. "Seminggu lagi aja," kata Bang Irul.

Memang, lokasi mancing yang asyik adalah di keramba. Sebab, banyak ikan liar yang mencari sisa hasil makanan kerapu dalam keramba. Hal ini menjadikan ladang buat para pemancing.

Sayangnya, saat ini kondisinya telah berubah. Menurut Bang Jaya, yang juga memiliki keramba di Tanjungputus, kondisi perairan di kawasan Taluk Lampung sudah kurang baik seiring pertumbuhan tambak udang.

"Kualitas air berkurang karena banyak petambak udang yang menggelontorkan limbahnya langsung ke pantai. Ini berimbas pada kualitas air laut untuk budi daya kerapu. Makanya pertumbuhannya agak terhambat dan ikan-ikan liar juga mulai berkurang," kata dia.

"Waduh, jangan sampai tempat memancing kita jadi sepi ikan. Bisa-bisa merana dong kita," ujar saya.

Saat pulang, kami pisah rombongan dengan Bupati Tanggamus. Kami ingin mencoba kapal milik Edo yang katanya jauh lebih cepat dan ringan daripada kapal milik Pemkab Tanggamus. Sayangnya, kapal ini tak beratap. "Ini memang kapal operasional untuk angkut kerapu. Tapi lebih cepat tarikannya," kata Edo.

Dan ternyata benar. Hanya dalam beberapa menit saja, kami sudah tiba di Pulau Tegal untuk melihat keramba, sekaligus lokasi mancing yang baru.

Menjelang berbuka puasa, kami sudah merapat di dermaga Puri Gading, bersama rombongan dari Tanggamus. "Lain waktu kita mancing lagi," ujar Bambang.SRI AGUSTINA/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 September 2009

September 3, 2009

Budaya Lampung: Unila Siap Jembatani Proses Pematenan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lembaga penelitian Universitas Lampung (Unila) siap menjembatani proses pengajuan paten produk budaya Lampung.

"Saat ini Unila telah memiliki Sentra Haki Unila dan pusat studi budaya Lampung. Keduanya di bawah lembaga penelitian Universitas Lampung. Sebagai institusi, kami siap menjembatani proses pematenan produk budaya Lampung," kata Sekretaris Lembaga Penelitian Universitas Lampung, Admi Syarif, di ruang kerjanya, Rabu (2-9).

Ia dimintakan komentarnya terkait masih minimnya produk budaya Lampung, seperti motif kain tapis Lampung, yang telah memiliki hak paten.

"Pusat studi budaya lampung telah lama berdiri di Unila. Salah satu tujuannya sebagai lembaga kajian dan pelestarian budaya Lampung. Beberapa tahun lalu lembaga ini memang belum optimal. Namun, saat ini telah kita berdayakan kembali," kata Admi.

Menurut Admi, pusat studi budaya Lampung melakukan inventarisasi produk budaya Lampung, seperti tapis, kesenian, hingga makanan lokal khas Lampung. Harapannya, setelah proses inventarisasi selesai, Unila akan bekerja sama dengan pemerintah daerah mematenkan produk tersebut.

Kini Unila juga telah menandatangani MoU antara Dirjen Haki di Jakarta dengan lembaga Sentra Haki Unila. Dengan adanya MoU ini, Unila menjadi prioritas dalam pengelolaan paten. "Kerja sama ini terkait dengan pematenan hasil riset dosen Unila. Namun jika diperlukan, dapat juga digunakan untuk mematenkan produk budaya Lampung," kata Admi.

Ia menjelaskan persoalan paten ini seharusnya sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dalam melestarikan dan melindungi budaya lokal. Apalagi, kini sedang menjadi tren mengklaim budaya asli Indonesia oleh Malaysia.

Dalam pembuatan paten, kata Admi, selain persoalan administratif juga membutuhkan biaya. Untuk mematenkan produk hasil riset maupun budaya, membutuhkan dana sekitar Rp6 juta.

"Namun, jumlah tersebut tentunya tidak menjadi soal jika dibandingkan dengan nilai budaya yang akan kita lindungi. Ini kan demi anak cucu kita," kata dia.

Untuk itu, pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi berbagai pihak yang ingin mengajukan paten produk mereka melalui lembaga penelitian Unila.

"Semestinya pihak pemdalah yang berhak mengajukan paten budaya lokal Lampung. Namun jika pada perkembangannya produk budaya tersebut bersumber dari hasil riset maupun kreasi, bisa saja patennya diajukan secara perorangan," kata dia. n MG14/S-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 3 September 2009

Pariwisata: Biro Perjalanan Harus Promosikan Budaya Daerah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Biro perjalanan wisata jangan cuma menjadi agen penjual tiket. Mereka juga harus membantu pemerintah dalam mempromosikan budaya dan pariwisata suatu daerah.

Hal ini disampaikan Direktur Usaha Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) RI, Aris Sitaba, dalam Workshop Penyusunan Travel Pattern di Hotel Sheraton Bandar Lampung, Rabu (2-9).

Menurut Aris, biro perjalanan wisata dapat menjadi ujung tombak promosi wisata suatu daerah karena langsung bersentuhan dengan pengguna jasa. "Jangan hanya berusaha menarik calon wisatawan untuk membeli tiket. Biro perjalanan juga harus mampu memperkenalkan potensi apa yang terdapat di sekitar tempat wisata itu atau budaya unggulan masyarakat sekitarnya," kata Aris.

Namun, Aris mengatakan untuk menjadikan suatu objek pariwisata sebagai daerah tujuan wisata, bukan hanya tugas biro perjalanan saja. Pihak terkait seperti pemerintah setempat atau organisasi perhotelan harus berkoordinasi menyusun suatu program yang menghasilkan paket wisata yang berdaya saing.

Hal inilah yang mendasari Depbudpar RI menggelar workshop mengenai pembuatan pola perjalanan (travel pattern) yang melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, pendukung usaha pariwisata seperti biro perjalanan, hotel dan lainnya.

"Dinas di kabupaten/kota harus mampu menyediakan infrastruktur yang baik, misalnya dengan menjamin jalan di sekitar lokasi pariwisata dalam kondisi baik. Biro perjalanan juga harus mampu menginformasikan kerajinan atau kebudayaan masyarakat sekitar lokasi pariwisata misalnya dengan gambar, leaflet, dan lainnya," ujar Aris.

Adanya pola perjalanan ini, menurut Aris, juga dapat memudahkan dan membantu para pelaku pariwisata dalam menyusun dan menjual paket wisata yang sesuai dengan kebutuhan pasar. MG3/U-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 3 September 2009

September 2, 2009

Pengajaran Bahasa Lampung: Sebagai Bahasa Kedua atau Bahasa Asing

Oleh Imelda

MENGALAMI sendiri sebagai orang Lampung yang baru mendapatkan pelajaran resmi bahasa daerahnya ketika kelas II sekolah menengah pertama (1990--1991), sebelumnya saya menamatkan sekolah dasar di Kota Serang yang sekarang menjadi Provinsi Banten, membuat saya berpikir mengenai apa sebenarnya sasaran pengajaran bahasa Lampung.

Pada masa ujian akhir kelas dua SMP, saya mendapatkan ujian bahasa daerah Lampung. Saya kira akan seperti ujian bahasa daerah Sunda yang ditulis dengan huruf latin, tetapi yang saya temukan adalah tulisan yang seperti huruf Jepang, yang membacanya pun saya tidak mengerti. Belum lagi ada pula soal-soal ujian yang ditulis dengan huruf Lampung kuno yang membuat saya mati kutu.

Menghadapi hal itu saya memutar otak. Kebetulan ada seorang teman yang bersuku Jawa yang duduk di belakang saya. Ia tentu tidak mengerti bahasa Lampung karena bahasa ini jarang terdengar di ruang-ruang publik. Sedangkan saya lahir dan besar di keluarga Lampung. Bagi saya, bahasa ini bukan bahasa yang asing karena orang tua, terutama ibu, adalah seorang Lampung totok, sehingga persentase berbahasanya lebih banyak berbahasa Lampung dibandingkan bahasa Indonesia.

Posisi teman saya sebagai orang Jawa tidak seberuntung saya yang bisa mengerti bahasa Lampung. Namun, teman saya itu memiliki kelebihan sangat pandai membaca huruf-huruf Kaganga. Dengan mengelaborasikan kelebihan kami masing-masing akhirnya kami mampu menyelesaikan soal dengan baik.

Soal-soal tersebut sebenarnya sangat mudah, tetapi menjadi sulit ketika saya harus membacanya dengan tulisan yang baru saya pelajari. Boleh dikatakan bahwa saat itu saya bisa mengatakan itu tulisan Kaganga pun sudah sangat bagus.

Pandainya teman saya yang bersuku Jawa membaca tulisan Kaganga dan bodohnya saya ketika tidak membaca tulisan itu membuat saya berpikir mengenai apa sebenarnya sasaran pengajaran bahasa Lampung yang mungkin sampai kini belum atau mulai disadari.

Melalui teori pengajaran bahasa Inggris yang saya pelajari ketika di Universitas Lampung (Unila) dulu, saya mulai berefleksi bahwa sebenarnya pengajaran bahasa Lampung tersebut sangat rancu. Ini tentu saja berhubungan dengan keinginan pemerintah membentengi bahasa Lampung dari kepunahan yang digembar-gemborkan pada era itu hingga sekarang.

Bahasa Asing atau Bahasa Kedua

Pengajaran yang menempatkan bahasa sebagai bahasa asing diibaratkan seperti orang Indonesia yang sedang belajar bahasa Inggris. Dalam tujuan akhir pengajaran bahasa Inggris tersebut, orang-orang Indonesia dituntut untuk bisa menguasai teks tertulis, sehingga yang ditekankan ialah pengajaran membaca dan menulis.

Di lain pihak, pengajaran yang menempatkan bahasa sebagai bahasa kedua diibaratkan seperti orang Malaysia yang belajar bahasa Inggris. Bagi mereka, tujuan akhir pengajaran bahasanya ialah untuk dapat berkomunikasi secara baik dengan 4 skill, terutama komunikasi oral: berbicara. Hal ini akhirnya membuat pengajaran menekankan pada kemampuan mendengarkan dan berbicara.

Dalam konteks bahasa Lampung yang menghadapi kepunahaan, pengajaran bahasa Lampung masih terdengar ambigu. Di satu sisi ingin membuat bahasa Lampung hidup dalam percakapan sehari-hari. Tetapi di sisi lain, sasaran pengajaran bahasanya masih berorientasi pada teks.

Otonomi Daerah dan Kebijakan Bahasa

Dalam konteks otonomi daerah, kebijakan pelestarian bahasa daerah/Lampung tampaknya mendapatkan perhatian yang cukup besar, mengingat bahasa juga menjadi penanda identitas ke-Lampung-an. Beberapa pertemuan adat atau kongres daerah mencatat bahwa penggalakkan penggunaan bahasa Lampung sangat penting. Bahkan, pemerintah daerah mulai pun mewajibkan berbahasa daerah pada hari tertentu. Entahlah apakah hal ini cukup efektif.

Bagi saya yang pernah mengalami permasalahan dalam pengajaran Bahasa Lampung pada masa lalu, mungkin sampai sekarang, kebijakan-kebijakan tersebut tidak akan berarti apa-apa, karena tujuan pengajarannya pun masih tidak jelas: sebagai bahasa asing atau bahasa kedua? Di satu sisi ingin membuat anak-anak bisa menggunakan bahasa secara aktif (bahasa Lampung sebagai bahasa kedua), tetapi di sisi lain, pengajaran bahasa Lampung yang ada tidak membuat mereka mampu.

Tulisan ini hanya untuk kembali mengingatkan bahwa kebijakan bahasa pada era otonomi daerah ialah menghidupkan kembali bahasa Lampung. Dengan demikian, perlu kiranya pemerintah daerah kembali menyelaraskan pengajaran bahasa daerah ini dengan sasaran akhirnya: bahasa Lampung kembali hidup.

* Imelda, peneliti Etnolinguistik di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI.

Sumber: Lampung Post, Rabu, 2 September 2009