August 31, 2010

Jejak Islam di Lampung (20): Kitab Beraksara Jawi Abad XIV di Masjid Jami' Al Anwar

Pertanyaan yang mengusik sejak awal -- ketika ahli filologi Suryadi menemukan naskah kuno Syair Lampung Karam yang ditulis Mohammad Saleh dari enam negara Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia serta mengumumkan ke publik -- adalah benarkah Mohammad Soleh yang dimaksud adalah Mohammad Soleh yang merintis pembangunan Masjid Jami’ Al Anwar dan pernah menjadi Regent Telukbetung.

Ketika kami menanyakan hal ini kepada Tjek Mat Zen, dia menyatakan belum tahu. Dia kemudian membuka-buka dokumen. Sebuah testemen berbahasa Belanda, berangka bertanggal 24 Agustus 1864, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menyebutkan soal pewarisan harta dari Tomonggong Mohammad Ali, Regent dari Telok Betong. Salah satu ahli waris penerima bernama Mohammad Salah, umur 50 tahun.

Kalau pada 1864 Mohammad Saleh berusia 50 tahun, maka pada 1883 ketika Gunung Krakatau meletus dan Syair Lampung Karam ditulis tiga bulan setelah itu, Mohammad Saleh berusia 69 tahun. Dua tahun kemudian, Mohammad Saleh meninggal. Kalau melihat data ini, mungkin saja Mohammas Saleh ini yang menulis.
Namun, bukankah Mohammad Saleh menjadi pemimpin dan ulama di Telukbetung? Sementara dalam naskah Syair Lampung Karam sebagaimana diungkap Suryadi menyebutkan, Mohammad Saleh memang sedang berada di Lampung saat letusan dahsyat Gunung Krakatau itu terjadi. Dan, dia selamat dan setelah itu dia pergi ke Singapura. “Saya menduga bahwa dia salah seorang pengungsi dari letusan itu dan dia mengatakan bahwa dia menulis itu di kampung Bangkahulu di Singapura. Sekarang menjadi Bengkulen Stree. Itu Singapura lama,” kata Suryadi seperti dikutip dari website Radio Nederland Wereldomroep.

“Ya, bisa jadi,” kata Johan Sapri (54), warga Gunung Kunyit yang mengaku keturunan ketujuh Mohammad Soleh. Dia menjelaskan, salah satu istri Mohammad Ali, saudara Mohammad Saleh, yaitu Intjik Halimah merupakan saudara Tuanku Lingga dari Malaysia.

Kami mencoba menelusuri naskah-naskah kuno yang tersimpan di Masjid Jami’ Al Anwar. Sayang sekali, 400-an kitab yang ditulis dengan aksara Arab Melayu (huruf Jawi) diletakkan di dua lemari di dalam gudang kurang terawat. Kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal, kitab-kitab itu adalah “harta karun” yang tak ternilai harganya.

Berbekal sedikit kemampuan membaca huruf Arab Melayu (huruf Jawi), kami mencoba membaca beberapa kitab. Dari sampel itu, kami menemukan kitab-kitab itu masih bisa dibaca. Walaupun ada yang lepas dari jilidannya, tulisan-tulisannya masih sangat jelas. Beberapa buku yang kami coba lihat berangka tahun 1300-an berisi pengajaran agama, baik yang berbahasa Melayu maupun bahasa Arab.

Mungkinkah ada kitab Syair Lampung Karang? Sayang sekali, kondisi buku yang sudah rapuh dan penataan buku yang tumpang-tindih, membuat kami tidak berani melihat satu per satu kitab-kitab kuno tersebut. Agaknya, perlu waktu untuk meneliti kitab-kitab yang disimpan di perpustakaan (lebih tepatnya gudang) Masjid Jami’ Al Anwar.

Jadi, benarkah Mohammad Saleh, pemimpin dan ulama di Telukbetung yang merintis pendirian Masjid Jami’ Al Anwar ini yang menulis Syair Lampung Karam? Wallahu ‘alam. (ZULKARNAIN ZUBAIRI/IYAR JARKASIH)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 31 Agustus 2010

August 30, 2010

Mencari Jejak Penulis ‘Syair Lampung Karam’*

Oleh Udo Z Karzi dan Iyar Jarkasih

GUNUNG Krakatau (Krakatoa, Carcata), 127 tahun lalu, tepatnya 26, 27, dan 28 Agustus 1883 meletus. Banyak catatan dan karya tulis yang kemudian lahir dari peristiwa yang menewaskan tidak kurang dari 36.000 orang ini. Namun, laporan orang asing tentang letusan Krakatau ini lebih menekankan pada aspek geologisnya.

Buku Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 yang ditulis Suryadi (2008)

Maka, ketika ahli filologi dan dosen/peneliti di Leiden University, Suryadi menemukan satu-satunya sumber pribumi tertulis yang memuat kesaksian mengenai letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 banyak orang yang terkejut.

Naskah ini baru ditemukan 125 tahun setelah Krakatau meletus. Penemuan naskahnya pun terpisah-pisah dalam bentuk naskah kuno yang tersimpan di enam negara, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia.

Suryadi, yang mengungkapkan semua itu setelah melakukan penelitian komprehensif selama lebih kurang dua tahun. Setelah ia alihaksarakan naskah kuno tersebut, ternyata catatan saksi mata dalam bentuk syair itu mengungkapkan banyak hal secara humanis, bagai laporan seorang jurnalis. Penulis laporan itu mengaku bernama Mohammad Saleh:

Hamba mengarang fakir yang hina
Muhammad Saleh nama yang sempurna
Karena hati gundah gulana
Melainkan Allah yang mengetahuinya

Menurut Suryadi, Syair Lampung Karam selesai kira-kira tiga bulan setelah letusan Gunung Krakatau itu. Menariknya, Syair Lampung Karam ditulis dalam aksara Arab Melayu atau huruf Jawi kata orang Malaysia. “Yang menarik bagi saya bahasanya cenderung agak Melayu-Riau. Jadi kemungkinan dia bukan orang Lampung asli. Dan memang pada waktu itu memang seperti digambarkan dalam syair ini, Lampung menjadi pusat bisnis. Banyak orang ke sana,” kata Suryadi.

Siapakah Mohammad Saleh? Masih cukup menarik untuk diteliti untuk mengungkapkannya lebih jauh. Begitu mengetahui keberadaan naskah Syair Lampung Karam, kami berusaha menelusuri. Kami terpaku pada sebuah nama yang cukup terkenal sebagai penyebar syiar Islam di Lampung, yang juga disebut-sebut sebagai salah satu pendiri Masjid Jami’ Al Anwar.

Masjid yang dibilangan Jalan Laksamana Malahayati, Telukbetung, Bandar Lampung ini adalah masjid tertua di Lampung. Berdasarkan Risalah Riwayat Masjid Jami’ Al Anwar, diketahui rintisan masjid ini telah dimulai sejak 1839. Tetapi, pada 1883 masjid Jami’ Al Anwar luluh-lantak terkena letusan Gunung Krakatau.

Membangun Masjid Jami’ Al Anwar

Konon, di Telukbetung sejak 1800-an bermukim satu keluarga pendatang dari Bone keturunan Poeta Djanggoek, yaitu dua bersaudara Mohammad Ali dan Mohammad Saleh. Satu lagi, Ismail, keponakan Poeta Djangguk atau sepupu Mohammad Ali dan Mohammad Soleh.

Menurut Tjek Mat Zen, pengurus Bidang Sosial Masjid Jami’ Al Anwar, Mohammad Ali dikenal memiliki ilmu yang tinggi (sakti). Sedangkan Mohammad Soleh dan Ismail menguasai ilmu agama Islam yang dalam.

Pada waktu itu, keganasan bajak laut membuat perairan Teluk Lampung tidak aman. Pemerintah Kolonial Belanda meminta bantuan Mohammad Ali untuk mengatasi keamanan Teluk Lampung. Setelah Mohammad Ali bisa mengatasi keadaaan, para perompak kemudian dikumpulkan di pinggir Sungai Belahu, yang sekarang dikenal dengan Kampung Bugis (Kecamatan Telukbetung Selatan, Bandar Lampung).

Untuk melakukan pembinaan terhadap bekas bajak laut itu dimintakan Mohammad Saleh yang dianggap mempunyai kapasitas wawasan pengetahuan agama, alim, dan terbukti mampu mendidik dan membina masyarakat di lingkungannya dalam bidang keagamaan. “Mohammad Saleh sudah dikenal masyarakat luas sebagai ulama, pendidik, dan juga pemimpin masyarakat yang disegani dan menjadi panutan pada masa itu,” kata Tjek Mat Zen.

Karena kharisma dan kepandaian Mohammad Saleh di bidang agama dan kemasyarakatan, mesyarakat memberinya gelar penghulu.

Animo masyarakat untuk belajar agama sangat besar, sehingga rumah Mohammad Saleh tidak mampu menampung jumlah murid. Perlu tempat khusus untuk mengajar, salah berjamaah, dan aktivitas keagamaan lainnya.

Mohammad Saleh didukung oleh Mohammad Ali, yang kelak menjadi Regent di Telukbetung, keluarga, dan masyarakat setempat, kemudian memprakarsai pembangunan musala. Tahun 1839, secara bergotong-royong dibangunlah sebuah musala sederhana beratap rumbia, dinding geribik, dan bertiang bambu. Musala inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Jami’ Al Anwar sekarang ini. Dari musala inilah, Muhammad Saleh mengendalikan kegiatan pembinaan dan pendidikan agama.

Atas jasanya mengamankan Teluk Lampung, Belanda mengangkat Muhammad Ali menjadi Regent di Telukbetung (1856). Wilayak kekuasaan Telukbetung meliputi perairan Teluk Lampung ke utara sampai daerah Simpur, Tanjungkarang dan dari pantai Hurun sampai Pantai Srengsem.

Ketika Mohammad Ali meninggal pada 1879, pemerintahan diteruskan Mohammad Saleh. Pada masa kepemimpinan Muhammad Saleh dilakukan penataan perkampungan sesuai dengan nama daerah asalnya dan menentukan area permukimannya, misalnya Kampung Palembang, Kampung Sri Agung, Kampung Sri Indrapura, Kampung Sri Menanti, dan sebagainya.

Mohammad Saleh di samping menjalankan tugasnya sebagai Regent Telukbetung, tetap melakukan dakwah yang kegiatannya berpusat di musala.

Tahun 1885, dua tahun setelah Gunung Krakatau meletus Muhammah Saleh berpulang ke rahmatullah. Dia dimakamkan di kaki Gunung Kunyit (dulu: Gunung Seri), Telukbetung, Bandar Lampung. Makamnya dikenal masyarakat luas dengan sebutan Keramat Datuk Puang.

Upaya yang telah dirintis Muhammad Saleh dilanjutkan para muridnya dengan pusat kegiatan tetap di musala yang dibangun 1839. Letusan Gunung Krakatau pada 26, 27, dan 28 Agustus 1883, membuat musala ini hancur. Upaya membangun kembali masjid Jami’ Al Anwar dilakukan pada 1888.

Penulis ‘Syair Lampung Karam’?

Pertanyaan yang mengusik sejak awal, ketika ahli filologi Suryadi menemukan naskah kuno Syair Lampung Karam yang ditulis Mohammad Saleh dari enam negara Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia serta mengumumkan ke publik adalah benarkah Mohammad Soleh yang dimaksud adalah Mohammad Soleh yang merintis pembangunan Masjid Jami’ Al Anwar dan pernah menjadi Regent Telukbetung.

Ketika kami menanyakan hal ini kepada Tjek Mat Zen, dia menyatakan belum tahu. Dia kemudian membuka-buka dokumen. Sebuah testemen berbahasa Belanda, berangka bertanggal 24 Agustus 1864, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menyebutkan soal pewarisan harta dari Tomonggong Mohammad Ali, Regent dari Telok Betong. Salah satu ahli waris penerima bernama Mohammad Salah, umur 50 tahun.

Kalau pada 1864 Mohammad Saleh berusia 50 tahun, maka pada 1883 ketika Gunung Krakatau meletus dan Syair Lampung Karam ditulis tiga bulan setelah itu, Mohammad Saleh berusia 69 tahun. Dua tahun kemudian, Mohammad Saleh meninggal. Kalau melihat data ini, mungkin saja Mohammas Saleh ini yang menulis.
Namun, bukankah Mohammad Saleh menjadi pemimpin dan ulama di Telukbetung? Sementara dalam naskah Syair Lampung Karam sebagaimana diungkap Suryadi menyebutkan, Mohammad Saleh memang sedang berada di Lampung saat letusan dahsyat Gunung Krakatau itu terjadi. Dan, dia selamat dan setelah itu dia pergi ke Singapura. “Saya menduga bahwa dia salah seorang pengungsi dari letusan itu dan dia mengatakan bahwa dia menulis itu di kampung Bangkahulu di Singapura. Sekarang menjadi Bengkulen Stree. Itu Singapura lama,” kata Suryadi seperti dikutip dari website Radio Nederland Wereldomroep.

“Ya, bisa jadi,” kata Johan Sapri (54), warga Gunung Kunyit yang mengaku keturunan ketujuh Mohammad Soleh. Dia menjelaskan, salah satu istri Mohammad Ali, saudara Mohammad Saleh, yaitu Intjik Halimah merupakan saudara Tuanku Lingga dari Malaysia.

Kami mencoba menelusuri naskah-naskah kuno yang tersimpan di Masjid Jami’ Al Anwar. Sayang sekali, 400-an kitab yang ditulis dengan aksara Arab Melayu (huruf Jawi) diletakkan di dua lemari di dalam gudang kurang terawat. Kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal, kitab-kitab itu adalah “harta karun” yang tak ternilai harganya.

Berbekal sedikit kemampuan membaca huruf Arab Melayu (huruf Jawi), kami mencoba membaca beberapa kitab. Dari sampel itu, kami menemukan kitab-kitab itu masih bisa dibaca. Walaupun ada yang lepas dari jilidannya, tulisan-tulisannya masih sangat jelas. Beberapa buku yang kami coba lihat berangka tahun 1300-an berisi pengajaran agama, baik yang berbahasa Melayu maupun bahasa Arab.

Mungkinkah ada kitab Syair Lampung Karang? Sayang sekali, kondisi buku yang sudah rapuh dan penataan buku yang tumpang-tindih, membuat kami tidak berani melihat satu per satu kitab-kitab kuno tersebut. Agaknya, perlu waktu untuk meneliti kitab-kitab yang disimpan di perpustakaan (lebih tepatnya gudang) Masjid Jami’ Al Anwar.

Jadi, benarkah Mohammad Saleh, pemimpin dan ulama di Telukbetung yang merintis pendirian Masjid Jami’ Al Anwar ini yang menulis Syair Lampung Karam? Wallahu ‘alam.

* Dimuat secara serial dalam rubrik Jejak Islam di Lampung, Lampung Post, 15, 16, 19, 30, dan 31 Agustus 2010.

Jejak Islam di Lampung (19): Letusan Krakatau Lahirkan 'Syair Lampung Karam'

GUNUNG Krakatau (Krakatoa, Carcata), 127 tahun lalu, tepatnya pada 26, 27, dan 28 Agustus 1883 meletus. Banyak catatan dan karya tulis yang kemudian lahir dari peristiwa yang menewaskan tidak kurang dari 36 ribu orang ini. Namun, laporan orang asing tentang letusan Krakatau ini lebih menekankan pada aspek geologisnya.

Maka, ketika ahli filologi dan dosen/peneliti di Leiden University, Suryadi, menemukan satu-satunya sumber pribumi tertulis yang memuat kesaksian mengenai letusan Gunung Krakatau pada 1883, banyak orang yang terkejut.

Naskah ini baru ditemukan 125 tahun setelah Krakatau meletus. Penemuan naskahnya pun terpisah-pisah dalam bentuk naskah kuno yang tersimpan di enam negara, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia.

Suryadi mengungkapkan semua itu setelah melakukan penelitian komprehensif selama lebih kurang dua tahun. Setelah ia alihaksarakan naskah kuno tersebut, ternyata catatan saksi mata dalam bentuk syair itu mengungkapkan banyak hal secara humanis, bagai laporan seorang jurnalis. Penulis laporan itu mengaku bernama Mohammad Saleh:

Hamba mengarang fakir yang hina

Muhammad Saleh nama yang sempurna

Karena hati gundah gulana

Melainkan Allah yang mengetahuinya

Menurut Suryadi, Syair Lampung Karam selesai kira-kira tiga bulan setelah letusan Gunung Krakatau itu. Menariknya, Syair Lampung Karam ditulis dalam aksara Arab Melayu atau huruf Jawi kata orang Malaysia.

"Yang menarik bagi saya, bahasanya cenderung agak Melayu-Riau. Jadi kemungkinan dia bukan orang Lampung asli. Dan memang pada waktu itu, memang seperti digambarkan dalam syair ini, Lampung menjadi pusat bisnis. Banyak orang ke sana," kata Suryadi.

Siapakah Muhammad Saleh? Masih cukup menarik untuk diteliti untuk mengungkapkannya lebih jauh. Begitu mengetahui keberadaan naskah Syair Lampung Karam, kami berusaha menelusuri. Kami terpaku pada sebuah nama yang cukup terkenal sebagai penyebar syiar Islam di Lampung, yang juga disebut-sebut sebagai salah satu pendiri Masjid Jami Al Anwar.

Masjid yang berada di bilangan Jalan Laksamana Malahayati, Telukbetung, Bandar Lampung, ini adalah masjid tertua. Berdasarkan risalah riwayat Masjid Jami Al Anwar, diketahui rintisan masjid ini telah dimulai sejak 1839. Tetapi, pada 1883 masjid itu luluh-lantak terkena letusan Gunung Krakatau. (ZULKARNAIN ZUBAIRI/IYAR JARKASIH/U-3)

Sumber: Lampung Post, Senin 30 Agustus 2010

August 29, 2010

Danau Lampung Barat Kawasan Wisata Bahari

Liwa, Lampung Barat, 29/8 (ANTARA) - Kawasan danau yang berada di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, pantas dijadikan tempat wisata bahari dan wisata kuliner.

"Danau ranau menjadi salah satu objek wisata yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari sekaligus kuliner, karena di daerah ini terdapat potensi alam yang besar, juga keanekaragaman masakan yang mampu mendatangkan wisatawan," kata Kepala Dinas, Pariwisata, Perhubungan, Pemuda, dan Olahraga, Kabupaten Lampung Barat, Sudirman di Liwa, Minggu.

Dia menjelaskan, potensi danau mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat.

"Saat potensi wisata tersebut terkelola maksimal, tentu akan berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat, pasalnya dari potensi yang ada masyarakat akan dilibatkan, sehingga nantinya pendapatan masyarakat akan meningkat, seiring semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan di danau ini," kata dia.

Dikatakanya, danau ranau sebagai potensi wisata berbasis ekonomi kerakyatan.

"Di sepanjang danau terdapat usaha masyarakat berupa Keramba Jaring Apung (KJA), dan Keramba Jaring Tancap (KJT), nantinya dari budidaya ikan masyarakat tersebut akan menjadi bahan mentah dari wisata kuliner, pasalnya dari ikan yang dihasilkan dari danau, diolah menjadi makanan khas daerah ini," kata dia lagi.

Kemudian lanjut dia, optimis bila pengembangan kawasan wisata danau dapat berjalan maksimal, akan dapat memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Danau ranau yang berad di Pekon (Desa) Lumbok, Kecamatan Seminung Lumbok, menyimpan sejuta keindahan danau yang mampu menghipnotis siapa saja yang datang.

Kawasan danau ini, akan menjadi target pemerintah dalam pengembangan wisata bahari dan wisata kuliner akan berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarkat, pasalnya dari objek wisata tersebut masyarakat akan dilibatnya langsung.

Danau yang tergolong alami di dikelilingi pegunungungan, menyimpan potensi perikanan berlimpah, yang mana dari potensi perikanan tersebut,mampu menjadi lahan usaha masyarakat baik menjadi nelayan atau pun peternak ikan.

Kawasan danau juga dikembangkan sebagai kawasan penghasil ikan air tawar, karena di kawasan danau ini dibangun keramba jaring apung dan keramba jaring tancap yang mampu menghasilkan prodsuksi ikan air tawar berlimpah, dan mampu mencukupi kebutuhan kosumsi ikan masyarakat.

Keunikan lain yang disajikan yakni tata cara pemburuan ikan liar di danau yang masih menggunakan peralatan sederhana seperti tombak (Ngekhaas) masih terus dilestarikan masyarakat.

Kawasan danau ranau juga terdapat tempat kuliner yang berada dipinggiran danau atau di tengah danau, dengan aneka olahan ikan air tawar yang dihasilkan dari danau tersebut.

Sementara itu Pemkab Lampung Barat menargekan swasembada ikan pada tahun 2010 dengan pencapaian target ikan 72 Ton lebih pertahun, dan pusat pengembangan ikan air tawar di Lampung Barat terdapat di Danau Ranau, Kecamatan Seminung Lumbok, dan Kecamatan Sumber Jaya.

"Saya berharap kawasan ini dapat segera dijadikan sebagai kawasan wisata bahari maupun kuliner, sehingga kedepan jumlah kunjungan wisata di daerah ini dapat semakin meningkat yang berdampak pula pada peningkatan taraf hidup masyarkat," kata Sudirman lagi.

Sumber: Antara, Minggu, 29 Agustus 2010

Wisata Bahari Pesawaran Potensial Dikembangkan

Pesawaran, Lampung, 29/8 (ANTARA) - Kawasan wisata bahari yang terdapat di Kabupaten Pesawran, Provinsi Lampung, hingga saat ini masih potensial untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten setempat.

"Lebih dari sepuluh wilayah kepulauan di daerah itu potensial untuk dikembangkan dan masih sangat membutuhkan investor yang turut mengembangkannya," ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pesawaran, mahmud Yunus, di Pesawaran, Minggu.

Ia mengatakan, pulau-pulau yang saat ini belum terekspos dengan maksimal tersebut akan terus diupayakan agar pemanfaatannya dapat maksimal serta berwawasan lingkungan.

"Kabupaten Pesawaran, kini tercatat sekitar 37 pulau yang terus di dalam pengawasan, sedangkan pulau yang sudah ada penghuninya juga terus dilakukan pembinaan kepada warganya agar dapat menjaga lingkungan dan kelestariannya," ujar dia.

Dari puluhan pulau tersebut, sambung dia, terdapat gugusan pulau-pulau yang diantaranya Pulau Legundi di mana terdapat Legundi Besar, Kecil, Pulau Siuncal, Umang-umang yang juga merupakan penakaran kera serta Pulau Pahawang dan pulau lainnya yang memiliki keindahan alam yang dapat dijadikan wisata bahari di darah itu.

"Kepulauan tersebut terletak di dua kecamatan yang ada pada Kabupaten Pesawaran yang diantaranya adalah Kecamatan Padangcermin dan Punduhpidada," terang dia.

Daerah tersebut, tambah dia, di samping memiliki perbukitan dan pegunungan juga memiliki pulau-pulau yang berada di sekitar pantainya yang menambah kekayaan alam di daerah tersebut.

Sebagai daerah pesisir di Kabupaten Pesawaran, lanjut dia, wilayah itu mempunyai potensi kepulauan yang masih lestari dan panorama indah yang tidak kalah menariknya dengan wisata bahari di daerah lain.

Untuk itulah, papar dia, pihaknya akan terus melakukan pengembangan di bidang pariwisata dengan memanfaatkan wisata bahari yang ada di daerah setempat.

"Kami juga mengajak para investor untuk dapat berpartisipasi dalam pengembangan sektor pariwisata yang kaya akan potensi alam dan layak untuk dikembangkan," terang dia.

Sedangkan, lanjut dia, pulau-pulau yang dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari antara lain, Pulau Legundi, Pulau Pahawang, Pulau Tegal, Pulau Balak dan Lunik, Tanjung Putus, Siuncal, Umang-umang serta puluhan pulau lainnya.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pesawaran daerah itu memiliki pulau sekitar 50 pulau dari 150 pulau yang ada di Provinsi Lampung.

Sumber: Antara, Minggu, 29 Agustus 2010

Rumah dan Pulang dalam Sajak

Oleh Asarpin

PUISI-PUISI lepas dengan riwayat dan sejarahnya masing-masing, tak mudah disusun menjadi satu "rumah" pemaknaan. Mirip dengan potongan-potongan jigsaw yang mesti saya susun dengan teliti, sejumlah sajak lepas yang bertema rumah dan pulang di bawah ini akan coba saya bangun untuk menemukan pemuasan diri saya pribadi.

Rumah ibarat sepetak nostalgia yang ingin ditengok selalu. Tak puas rasanya kalau tak mengingatnya, jika perlu mendatanginya sekadar untuk melihat, syukur kalau bisa menginap sehari dua hari. Tapi rumah juga bisa membuat orang tak bebas bepergian jauh. Pancangan kenangan selalu akan terngiang, memanggilnya untuk kembali.

Kita tak sepenuhnya bisa menjadi warga dunia, dan mampu menjadikan setiap tempat milik kita karena memori akan selalu mengingat asal kita. Dan kalau sudah punya rumah, panggilan untuk pulang menjadi semacam keniscayaan sejarah, atau tradisi, layaknya mudik setiap Lebaran: ia telah dianggap bagian dari pengalaman wajib untuk memperkaya hidup orang zaman sekarang.

Rumah erat kaitannya dengan lokalitas. Rumah yang apak sekalipun tak akan pernah terkikis dan terbuang dalam ingatan para penyair kita. Sebab, ‘tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah’, kata Joko Pinurbo yang mengaku terus-terang dalam sajak Tiada.

Tapi di situ pula soalnya. Kalau Tuan masih tak takut kehilangan rumah, tidakkah Tuan lihat: begitu banyak orang merindukan rumah yang ditinggalkan, dan berduyun-duyun mudik dengan segala risiko yang mengadang di perjalanan. Di sana mahia menjadi sesuatu yang mustahak. Dan rumah tidak selalu merupakan kehadiran yang mengungkung.

Jalaluddin Rumi punya seuntai kisah tentang seekor burung yang mengalami banyak rintangan saat terbang. Burung itu terperangkap oleh seorang perempuan tua yang kaya raya, dan hampir saja melupakan rumahnya. Tapi perlahan-lahan dia mulai ingat asalnya, dan akhirnya ia mendengar suara beduk yang menyerunya supaya kembali. Sejak itu ia terbang meninggalkan negeri asing.

Mengomentari kisah itu, Rumi berkata: "Mana mungkin burung cantik itu tidak terbang pulang ketika diseru suara beduk dengan kata-kata irji’i (Kembalilah!). Setelah mengalami banyak kesulitan, burung cantik itu setidak-tidaknya menjadi lambang nafs muthma 'innah (jiwa yang damai) yang dipanggil supaya pulang oleh Penciptanya."

Dengan cara yang mengharukan Maulana Rumi mengingatkan makna orang-orang mudik dari kota ke desa agar mendapatkan kembali jiwa yang damai. Itulah mengapa rumah menjadi perlu, karena ia bagian dari degup hidup, menjadi tempat kelahiran kembali, bahkan menjadi remedi bagi mereka yang senantiasa resah dan gelisah.

Pemaknaan rumah semacam itu pula yang banyak kita temukan dalam sajak penyair kita. Iwan Nurdaya Djafar, misalnya, menjadikan tema pulang sebagai judul himpunan sajaknya. Akhirnya aku pun paham, bahwa hidup adalah perjalanan pulang setelah terusir pada masa silam (Pulang). Sementara Isbedy Stiawan harus kembali ke asal sebagai pengobat rindu: kususuri masalalu, di sini matahari telah lesap, hingga sulit nemukan jejakku kembali…daun-daun luruh/menghapus arah, mengatup rumah/bagiku pulang (Kususuri Masalalu).

Iswadi Pratama sama sekali tak ingin jadi pendurhaka dengan melupakan rumah, sampai-sampai aku tak mau kehilangan bau keringatku (Pulang). Sementara Ari Pahala mengajak membangun kembali rumah yang telah runtuh karena ia tempat bagi bakal anak dan istrimu , bahkan tempat bagi nuranimu berlabuh (Membangun Rumah). Dina Oktaviani membayangkan Tanjungkarang ditinggalkan sebagai bangkai yang kadang menjelma hari kemarin, memberi semacam sakit dan ingatan (Bangkai Tanjungkarang). Jimmy Maruli berseru: Pulanglah, atau kau sudah nemu rumah baru yang suwung/seperti tempat tinggal kita dahulu di kampung (Ayat Hikayat).

Mengapa penyair kita begitu cepat memutuskan pulang? Secuil jawaban kita temukan dalam sajak Jimmy: karena kota ini angkuh bagi pendatang, karena kita kadang dibaptis sebagai perantau, diberi indeks-indeks, rumah dengan kamar sempit, dimana kata tak menjamin segalanya rampung.

Kalau sudah begitu, yang jadi soal bukan mengapa pulang, tapi bagaimana rumah dan pulang itu dihadirkan. Sebagian besar penyair kita ternyata takut kehilangan rumah. Hal ini bisa dimaklumi, karena kita semua akan selalu kehilangan rumah.

Di sinilah konflik dan ketegangan itu bermain.

Bagi penyair yang gandrung pada mitologi Yunani, mereka mengambil teladan dari beberapa tokoh. Chairil Anwar berusaha memecahkan ketegangan dengan memutuskan jadi manusia pengembara selamanya bagaikan Ahasveros yang dikutuk Dewi Eros. Karena dia penyair, rumah yang dibayangkan bukan seperti penyair kebanyakan, tapi Rumahku dari unggun-timbun sajak/Di sini aku berbini dan beranak (Rumahku).

Sementara itu, sebagian besar penyair kita mengambil teladan dari sosok Odysseus, sekan-akan itulah dewa yang ideal. Padahal tokoh ini, kata Emmanuel Levinas, masih merindukan pulang, dan akhirnya memang memutuskan pulang. Sitor Situmorang tipikal penyair model ini ketika mengatakan: Rinduku/Pulang dalam Rumah dalam Seni/Angin manis meniup pasir benua Afrika/Di Eropa kutahu masih salju/Sampai ke padang-padang Siberia/Aku harus ke Moskow, tapi/Memenuhi harapan yang kusayang/Untuk kumpul di akhir Ramadhan/Aku pulang malam terbang garuda rindu (sajak Panggilan).

Sementara Toto Sudarto Bachtiar dalam sajak Rumah bilang: Terkadang terasa perlunya ke rumah/Atau terasa perlunya tak pulang rumah. Sutardji Calzoum Bachri: terpaut nyeri dalam guratan kicau Riau parah yang dalam, riwayat lengah tak sampai paham, meski pulang selama pulang, tak hilang kau dari ingatan (Buat Idrus Tintin). Pencarian akan Tuhan juga harus diakhiri dengan bertobat: Ya, Tuhan, jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoar, tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia, kini biarkan aku menenggak marak cahaya-Mu, di ujung sisa usia (Idulfitri).

Begitulah sekelumit kegelisahan para penyair kita dalam menentukan tempatnya berpijak. Persoalan rumah dan pulang akan terus mengikuti ke mana mereka pergi. Dan apa boleh buat, kota memang bukan dunia yang cocok bagi daya khayal kebanyakan penyair kita yang memang berasal dari desa. Mereka tak lagi mempertanyakan apakah sebaiknya penyair memang tak memiliki rumah. Atau karena memang mereka takut kehilangan rumah. Atau saya yang justru takut kehilangan rumah?

Asarpin
, Pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Agustus 2010

[Wawancara] Suryadi: Setelah 125 Tahun Tersembunyi, 'Syair Lampung Karam' Hidup Kembali

DI dunia filologi, Suryadi adalah nama yang tengah bergaung. Ia ramai dibincangkan berkat temuannya tentang naskah klasik karya Muhammad Saleh: Syair Lampung Karam (SLK). Saleh, penulis asal Lampung (?) dan menjadi satu-satunya pribumi yang merekam betapa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 itu. SLK ditulis tiga bulan setelah letusan dahsyat itu.

Temuan Suryadi "menyingkap tabir" SLK selama 125 tahun tersimpan di beberapa negara. Telaah komprehensif ini dibukukan dengan judul Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (cetakan ke-1 Agustus 2009 dan cetakan ke-2 Januari 2010). Buku yang dieditori Yurnaldi ini diterbitkan oleh Komunitas Penggiat Sastra Padang.

Letusan Krakatau menjadi horor amat mengerikan. Ia disebut-sebut sebagai letusan gunung berapi terhebat sepanjang sejarah. Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda itu telah "batuk-batuk" sejak Mei 1883, tapi baru menggelegar pada 26, 27, dan 28 Agustus. Dan, puncak malapetaka dan kengerian itu terjadi pada 27 Agustus 1883. Letusan itu menimbulkan awan panas setinggi 70 km, tsunami disusul gelombang laut setinggi 40 meter, bumi jadi gelap, dan 36 ribu manusia dijemput maut.

Lebih dari seribu tulisan ilmiah tentang letusan Krakatau telah dipublikasikan, tetapi tak satu pun menyentuh SLK karya Muhammad Saleh itu. Selama 125 tahun SLK seperti tersembunyi di tempat-tempat sunyi: selain tersimpan di Indonesia, ia juga bersemayam di beberapa perpustakaan di Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, dan Malaysia. Berkat ketekunan Suryadi, setelah selama dua tahun melakukan "perburuan", SLK kini jadi "hidup" kembali. Suryadi melakukan transliterasi dari huruf Jawi (Arab-Melayu) ke aksara Latin sehingga bisa dinikmati publik.

Filologi (bidang naskah lama) adalah dunia yang "sepi", yang tak mungkin mengantarkan siapa pun menjadi kaya dan terkenal. Tapi, di dalam dunia sepi itu justru membahagiakan pria yang pernah gagal menjadi pengajar tetap di almamaternya: Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Sumatera Barat, juga Universitas Indonesia. Menekuni naskah-naskah lama, bagi Suryadi seperti berenang di laut luas, menyingkap rahasia masa silam yang tak terbayangkan oleh masa kini. Kegagalannya menjadi dosen di dalam negeri-karena tak pernah lulus ketika tes menjadi pegawai negeri, justru mengantarkan nasibnya lebih bersinar di Eropa. Pada 1998 ia diterima sebagai pengajar dan peneliti pada Jurusan Studi Asia Tenggara dan Oseania di Universitas Leiden, Belanda. Telah 12 tahun ia bermukim di Negeri Kincir Angin itu.

Hasil penelitian pria kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 15 Februari 1965, ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional. Selain SLK, Suryadi juga telah mengkaji surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau. Semuanya dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance Project) yang berpusat di Australian National University, Canberra, Australia. Ia juga dipercaya memimpin satu proyek yang dibiayai British Library.

Sebagai "duta naskah-naskah lama" di mancanegara, Suryadi yang tengah menyusun disertasi program Ph.D di tempatnya mengajar, ini kerap diundang menjadi pembicara berbagai seminar pernaskahan di mancanegara. Mengambil momentum 127 tahun Gunung Krakatau meletus, Lampung Post mewawancarai ayah dua orang anak ini, lewat surat elektronik seputar Syair Lampung Karam. Berikut petikannya:

***

Punya arti apa baik secara pribadi maupun akademik penemuan SLK karya Muhammad Saleh bagi Anda?

Secara pribadi, saya merasa puas melihat hasil suntingan dan transliterasi teks SLK yang saya kerjakan ini mendapat apresiasi positif di Indonesia. Buku ini diekspos oleh beberapa media cetak seperti majalah Gatra dan Tempo serta diluncurkan dan dibedah juga di Newseum Cafe, Jakarta, 29 Juli lalu (yang digagas oleh Taufik Rahzen). Mudah-mudahan akan terbit juga resensinya di beberapa media cetak nasional. Saya kira apresiasi yang tinggi ini tak lepas dari momen yang tepat pula: bahwa buku ini terbit ketika negara kita beberapa tahun terakhir ini sering dilanda bencana alam, khususnya gempa bumi yang menimbulkan tsunami dan juga kerusakan hebat di darat seperti yang barusan terjadi di Aceh, Yogyakarta, dan Sumatera Barat.

Secara akademis, saya harap (dengan rendah hati) buku ini akan memberi sumbangan pagi body of knowledge tentang sastra Melayu lama dan juga mengenai sejarah natural disaster di dunia, khususnya di Indonesia. Buku ini berhasil mengungkapkan satu lagi dokumen pribumi mengenai sejarah masa lampau negeri kita. Dokumen seperti ini jelas langka, apalagi menyangkut bencana alam. Kita memang harus mengakui bahwa dulu, bahkan sampai sekarang, bangsa kita lebih menghidupi tradisi lisan. Jadi, dalam soal dokumen-dokumen dan data sejarah, mau tak mau kita tergantung ke sumber-sumber Barat, bangsa yang sudah lama hidup dalam budaya tulis. Tapi, dengan penemuan salinan-salinan teks SLK ini, terbukti bahwa bangsa kita juga pernah mencatat letusan Krakatau 1883 secara tertulis, yang merefleksikan bagaimana perspektif orang pribumi sendiri melihat bencana alam yang dahsyat itu. Saya sangat senang mengetahui bahwa beberapa studi terakhir mengenai sejarah bencana alam di Indonesia memperkaya rujukannya dengan hasil studi saya mengenai SLK ini, misalnya The Dutch Colonial Government and Its Response to the Krakatau Disaster oleh Erlita Tantri (Univ. Leiden, 2009; BA Thesis) dan The Indigenous Perception on Natural Disaster oleh Reza Indria (Univ. Leiden, 2010; MA Thesis).

Khusus untuk Lampung punya makna apa penemuan SLK?

Saya melihat kaitannya dengan judul yang diberikan kepada teks itu: Syair Lampung Karam. Judul itu terus-menerus menjadi semacam peringatan bagi warga Lampung yang sekarang "bertetangga" dengan Anak Krakatau, "keturunan" langsung Gunung Krakatau yang telah berkali-kali meluluhlantakkan kawasan pantai Lampung dan menimbulkan korban yang banyak sekali (konon sudah 11 kali meletus sejak zaman kuno). Kalau syair itu dipopulerkan di Lampung melalui berbagai macam alternatif mediasi dan adaptasi baru, mungkin ia akan berguna bagi masyarakat Lampung, baik dalam arti untuk menambah pengetahuan sejarah tentang negeri mereka, maupun sebagai warning agar warga Lampung khususnya, Indonesia umumnya, terus waspada menghadapi fenomena vulkanis yang memang hebat sekali di Selat Sunda, yang dekat sekali dengan Lampung.

Benarkah dari berbagai pelacakan Anda, SLK satu-satunya karya pribumi yang "merekam" meletusnya Krakatau?

Sampai saat ini saya mendapati memang teks (-teks) inilah satu-satunya sumber pribumi yang merekam letusan Krakatau 1883. Saya belum menemukan indikasi adanya teks lain karangan orang pribumi yang mencatat bencana alam yang dahsyat itu.

Siapa sesungguhnya Muhammad Saleh? Benarkah ia berasal dari Lampung atau dari tempat lain? Masih adakah jejak yang bisa dilacak?

Bisa saja, meskipun sulit. Bayangkan, pada waktu itu yang terjadi adalah sebuah catastrophe. Semua hancur, dan barangkali juga keluarga Muhamad Saleh sendiri. Dia hanya satu "noktah" kecil dari korban bencana besar dan dahsyat itu, yang membuat kehidupan di sana menjadi kacau balau dan dan boleh dibilang nyaris musnah, seperti digambarkan sendiri oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam. Jadi, sulit melacak siapa Muhammad Saleh sebenarnya. Jelas cukup sulit untuk menyusun biografinya yang lebih lengkap. Dari redaksi teks SLK, Muhammad Saleh menggambarkan bahwa dia berada di Lampung ketika bencana itu terjadi. Sangat mungkin dia adalah salah seorang korban letusan Krakatau yang berhasil mengungsi ke Singapura. Saya tak dapat memastikan apakah dia orang Lampung asli. Tapi, yang penting di sini bukan soal dari mana aslinya Muhamad Saleh; yang penting adalah bahwa dia adalah satu-satunya(?) orang pribumi yang telah meninggalkan warisan dokumen tertulis kepada kita tentang bencana alam letusan Krakatau 1883 yang mengerikan itu.

Apa benar SLK satu-satunya karya Saleh? Mungkinkah ada karya lain?

Saya belum menemukan karya (-karya) Muhammad Saleh yang lain. Tapi justru karena itu pula teks SLK ini unik. Maksud saya: karena ini satu-satunya karya Muhammad Saleh yang diketahui, maka kita dapat menduga bahwa dia bukan seorang sastrawan profesional, jika kita meminjam istilah sekarang, yang mungkin menulis fiksi, walau berdasarkan kenyataan sosial, untuk tujuan mencari uang. Saya menduga, Muhammad Saleh hanyalah orang biasa, yang tak berpretensi mengada-ada dalam karangannya yang hanya satu-satunya ini. Ia lebih sebagai seorang "pelapor", seperti layaknya seorang wartawan, ketimbang seorang penulis cerita (sastrawan). Ia mungkin telah bicara apa adanya, berdasarkan pengalaman dan keyakinan agamanya sendiri (Islam). Dalam teks SLK, dengan rendah hati Muhammad Saleh mengatakan ia tidak pandai mengarang syair. Tujuannya menulis syair itu semata-mata hanya untuk berbagi cerita duka warga Lampung yang dilanda musibah hebat itu kepada sesama orang pribumi.

Menurut Anda, dalam menulis Krakatau, penulis Barat lebih menekankan aspek geologis, sedangkan penulis Timur pada aspek kemanusiaan. Apakah ini sejalan dengan apa yang dikatakan Sutan Takdir Alisyahbana bahwa Barat hidup dalam kebudayaan progresif (dipengaruhi ilmu dan teknologi), sementara Timur hidup dalam kebudayaan ekspresif (yang dipengaruhi seni dan agama?

Saya setuju. Memang soal dimensi progresif dan ekspresif itulah yang membedakan secara hakiki antara orang Barat dan orang Timur, sebagaimana terefleksi dalam berbagai aspek kebudayaan masing-masing, termasuk hasil-hasil tulisan. Namun, bukannya tak ada dimensi kemanusiaan dalam laporan-laporan orang Eropa tentang letusan hebat Krakatau 1883. Tetapi, tetap saja ada bedanya dengan cara seorang pribumi seperti Muhammad Saleh memandang tragedi itu. Coba lihat betapa kentalnya dimensi keagamaan dalam "laporan" Muhamad Saleh dalam SLK. Orang pribumi melihat peristiwa itu sebagai cobaan dari Allah terhadap manusia yang mungkin sudah banyak berbuat dosa. Hal ini telah dibahas dengan menarik sekali oleh Reza Indria dalam tesisnya yang sudah saya sebut di atas. Orang Eropa melihatnya berdasarkan logika: ini sebuah gejala alam akibat peristiwa geologis dalam kerak bumi.

Apa benar SLK diabaikan banyak peneliti karena banyak sejarawan kurang memahami aksara Jawi?

Saya duga demikian. Dalam kurikulum sejarah di Indonesia, misalnya, tak ada mata kuliah membaca aksara Jawi. Itu aneh sekali. Jadi, wajar saja kalau banyak sejarawan tak bisa membaca aksara Jawi. Faktor lain: ada anggapan catatan-catatan orang Barat dianggap sebagai data sejarah yang lebih akurat. Tulisan-tulisan orang pribumi dianggap absurd atau mengandung unsur fiksi. Pandangan seperti ini jelas terkait pula dengan sejarah ilmu pengetahuan modern. Ada semacam pandangan Eropa sentris di sana.

Bukankah banyak naskah lama di Nusantara juga ditulis dengan huruf Jawi dan banyak pula yang sudah ditransliterasi?

Ya, ada lebih 18 ribu naskah seperti itu yang berasal dari berbagai tempat di Nusantara yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, belum lagi di tempat lain seperti London, Berlin, Paris, dll. Banyak yang sudah diteliti dan ditransliterasi, tapi lebih banyak lagi yang belum disentuh tangan peneliti.

Dalam buku Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik karangan Liaw Yock Fang, SLK tidak disinggung; apakah ini juga karena Fang tak paham huruf Jawi? Atau karena memang kurang mendapatkan informasi?

Liauw Yock Fang paham sekali huruf Jawi. Ini terbukti dari disertasinya tentang Undang-Undang Malaka. Anda betul, SLK tidak tercatat dalam karya Liauw Yock Fang yang Anda sebutkan di atas, karena saya kira dia tidak berhasil mengidentifikasi keberadaan teks itu beserta salinan-salinannya yang tersimpan di beberapa negara.

Sri Wulan Rudjiati (almarhum) satu-satunya filolog (sebelum Anda) yang meneliti Syair Lampung Karam? Kesimpulan apa yang bisa diambil dari bahasan Sri Wulan tentang Syair Lampung Karam?

Benar. Almarhum Ibu Sri Wulan mentransliterasikan edisi pertama syair itu (edisi 1883—1884), tapi ia tidak membandingkannya dengan edisi-edisi yang lain. Dia tidak tahu di (negara) mana edisi-edisi yang lain itu tersimpan. Hal itu saya jelaskan dalam bagian pengantar buku saya. Pada awal 1990-an, Ian Proudfood dari ANU Australia memberikan catatan bibliografis mengenai salinan-salinan syair ini (lihat Produfoot, 1993).

Dari sekian banyak telaah naskah lama, Syair Lampung Karam paling memuaskan Anda?

O ya, dengan terbitnya buku ini saya merasa puas, karena saya berhasil memberitahukan kepada umum, khususnya kalangan akademisi, mengenai keberadaan teks ini yang selama ini seperti dilupakan begitu saja. Soalnya, Krakatau, akibat letusannya yang mahahebat itu, gunung yang paling menarik banyak ilmuwan (dari berbagai disiplin) di dunia. Tapi mereka seperti "buta" terhadap keberadaan SLK ini.

Dari segi sumber kajian, Indonesia termasuk negeri kaya naskah-naskah lama? Bagaimana minat para filolog terhadap sastra lama kita?

Jelas Indonesia adalah negeri yang kaya dengan naskah-naskah lama. Sekarang masih terus dilakukan berbagai pemotretan naskah-naskah lama yang ada di masyarakat. Lihat misalnya proyek-proyek di Indonesia yang dibiayai oleh The British Library (http://www.bl.uk/about/policies/endangeredarch/asia.html#sea).

Minat peneliti mancanegara (tidak hanya filolog) masih cukup tinggi. Namun, akhir-akhir ini ada semacam pergeseran bahwa minat itu beralih ke negara-negara Asia sendiri.

Anda menggeluti dunia "sepi", obesesi apa yang belum terwujud?

Abila saya memasuki ruang naskah di Perpustakaan Universitas Leiden, dan juga perpustakaan-perpustakaan lain di dunia, saya selalu tertarik untuk membaca naskah-naskah Melayu beraksara Jawi. Saya selalu ingin membacanya dan mengetahui apa isinya. Jadi, kalau bicara obsesi, saya ingin bilang bahwa mudah-mudahan saya diberi Tuhan umur panjang untuk selalu dapat membaca naskah-naskah itu dan menulis karya ilmiah; artikel, buku mengenainya. Suatu obsesi yang pasti dinilai cukup aneh di zaman sekarang ini di mana orang berlomba menjadi politikus dan selebritas. (DJADJAT SUDRADJAT)

Biodata

Nama : Suryadi
Lahir : Nagari Sunur, Pariaman, Sumatra Barat, 15-2-1965.
Istri : Nurlismaniar Mustafa
Anak : 1. Raisa Mahevara Niadilova
2. Farel Darvesh Bramatias Suryadi

Pendidikan :
- SD Negeri 2 Sunur (1977)
- SMP Negeri 3 Pariaman (1981)
- SMA Negeri 2 Pariaman (1985)
- S-1 Fakultas Sastra,Univeritas Andalas (1991)
- S-2 Universiteit Leiden , Belanda (2001)
- Sedang menyusun disertasi Program Ph.D di Universiteit Leiden, Belanda

Pekerjaan : Dosen di Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Universiteit Leiden, Belanda

Penghargaan: Anugerah Tuah Sakato dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (2008)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Agustus 2010

Jejak Islam di Lampung (18): Habib Sayid Lestarikan Makam Leluhur Waliullah

SETELAH pengikutnya bertambah banyak, Habib Sayid Ahmad mengajak penduduk merawat makam yang berada sekitar 200 meter dari telaga. Menurut Maratus Shalihah, janda Habib Sayid Ahmad, itulah tempat peristirahatan terakhir Sayid Maulana Malik Abdullah bin Ali Nurul Alam, leluhur Sunan Gunung Jati.

Makam itu pun terus dibenahi sehingga kini berupa sebuah rumah berukuran 6 x 10 meter. Kuburan itu tertutup kelambu berwarna putih. Di atasnya terdapat beberapa kitab Alquran, Majmu' Syarif, dan Yasin. Pada nisan di dalamnya terdapat tulisan bernama sosok dimaksud dalam aksara Arab.

Selain itu, di sisi kanan makam terdapat meriam terbungkus kain mori, teko, bokor, pecahan keramik, dan beberapa potong batu yang biasanya digunakan untuk mengasah senjata dan menumbuk berbagai ramuan. Benda-benda itu diyakini sebagai peninggalan Sayid Maulana Malik Abdullah yang masuk ke sana lewat laut.

Masih menurut Maratus Shalihah, sosok yang dikenal sebagai waliullah itu dulu juga tinggal di sekitar telaga. Tempat itu dijadikan sebagai sarana mandi dan berwudu. Sementara itu, salatnya di dekat lokasi yang kemudian dijadikan sebagai tempat permakamannya.

"Saya pernah ingin berziarah ke makam para wali di Jawa," ujar dia.

Namun, suaminya melarang karena waliullah yang lebih tua ada di dekatnya. Dia pun diminta untuk ikut merawat dan melestarikan perjuangan Sayid Maulana Malik Abdullah.

Selain itu, Habib Sayid Ahmad bersama penduduk kemudian menyempurnakan tempat salat Sayid Maulana Malik Abdullah menjadi sebuah masjid yang permanen. Tempat ibadah yang berada di sisi timur makam itu juga dijadikan sebagai tempat penyiaran dan pengajaran Islam, seperti yang dilakukan pendahulunya.

Uniknya, waliullah ini punya kebiasaan membuat ribuan batu bata. Hasilnya, meski tidak memiliki kekayaan, tidak pernah dijual. Bahan bangunan itu digunakan untuk membangun kepentingan umum, seperti masjid, madrasah, dan jembatan.

Pemkab Lamteng ikut melestarikan dan mengembangkan makam Sayid Maulana Malik Abdullah maupun telaga tempat lahirnya Raden Fatah sebagai objek wisata andalan. Namun, pelestarian lebih banyak dilakukan santri Habib Sayid Ahmad yang tinggal di sekitar telaga. (M. IKHWANUDDIN/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Agustus 2010

August 28, 2010

[Tanah Air] Hidup Berdampingan dengan Anak Krakatau

-- Wisnu Aji Dewabrata dan Yulvianus Harjono

TITIK hitam di laut yang tampak dari Pelabuhan Canti, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Minggu (25/7), mulai menunjukkan bentuknya. Titik hitam itu adalah Kapal Motor Batanghari, salah satu kapal yang berlayar dari Pulau Sebesi ke Canti. Kapal yang panjangnya sekitar 5 meter itu sarat dengan penumpang dan barang. Barang berukuran besar, seperti sepeda motor, diletakkan di atap kapal. Sementara penumpang duduk lesehan di dalam kapal, di atap, dan di anjungan kapal.

Peserta pawai budaya dalam rangka Festival Krakatau XX di Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (24/7). Festival Krakatau merupakan agenda untuk mempromosikan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sebagai tempat wisata. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

”Kalau mau ke Gunung Anak Krakatau, harus carter kapal. Soalnya tidak ada kapal ke Gunung Anak Krakatau, yang ada cuma ke Pulau Sebesi,” kata Ismail (49), pemilik warung makan di Pelabuhan Canti.

Setiap hari ada dua kali jadwal pelayaran, yaitu pukul 07.30 dari Pulau Sebesi ke Canti dan pukul 13.30 dari Canti ke Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi adalah pulau berpenghuni yang letaknya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Perjalanan naik kapal dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau hanya 1,5 jam (sekitar 36 kilometer). Dari Pulau Sebesi, Gunung Anak Krakatau dapat terlihat samar-samar.

Pulau Sebesi terdiri atas empat dusun yang tergabung dalam satu desa, yaitu Desa Tejung Pulau Sebesi. Desa tersebut masuk Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Menurut Kepala Desa Tejung Pulau Sebesi Syahroni, luas Pulau Sebesi sekitar 2.350 hektar. Jumlah penduduk mencapai 2.727 orang atau sekitar 850 keluarga.

”Setahu saya, Pulau Sebesi sudah dihuni sejak tahun 1950-an. Ayah saya lahir di Pulau Sebesi dan kakek saya dimakamkan di Pulau Sebesi,” kata Syahroni.

Pasrah dan waswas

Pasrah dan waswas, demikian perasaan warga Pulau Sebesi karena rumah mereka begitu dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Apabila Gunung Anak Krakatau meletus, yang pertama kali tersapu adalah Pulau Sebesi.

Perasaan pasrah dan waswas itu mendorong warga Pulau Sebesi untuk selalu melakukan doa bersama di Gunung Anak Krakatau sekali setahun.

Siang itu, Minggu (25/7) pukul 13.30, puluhan warga Pulau Sebesi baru selesai melaksanakan doa bersama di hutan yang berada di kaki Gunung Anak Krakatau.

Doa bersama diawali dengan shalat dzuhur berjamaah, dilanjutkan membaca Surat Yasin dan membaca tahlil yang dipimpin imam masjid Pulau Sebesi.

Menurut Rahman (47), tokoh masyarakat Pulau Sebesi, doa bersama di Gunung Anak Krakatau dulu dilakukan setiap bulan Maulud (bulan ketiga penanggalan Jawa). Sejak ada Festival Krakatau, doa bersama digelar pada saat festival berlangsung.

”Anak Krakatau ini gunung yang berbahaya. Jadi, kami berdoa bersama untuk keselamatan warga Pulau Sebesi,” kata Rahman.

Rahman menceritakan, dulu doa bersama selalu diikuti dengan upacara melarung kepala kerbau ke laut. Namun, sekarang warga tidak lagi melarung kepala kerbau karena pemborosan. Warga merasa cukup melaksanakan doa bersama secara sederhana.

Bekas kedahsyatan letusan Gunung Krakatau tahun 1883 masih dapat ditemui hingga kini. Hayun (38), warga Pulau Sebesi, mengungkapkan, warga sering menemukan perabotan dapur, seperti cobek dan gelas, saat menggali tanah. Perabotan itu dihanyutkan gelombang tsunami dan terkubur dalam tanah.

Hayun mengutarakan, rasa waswas selalu menghantui warga Pulau Sebesi, apalagi ketika Gunung Anak Krakatau mulai batuk-batuk. Terakhir, Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas tahun 2007 dan 2008 yang disertai keluarnya semburan asap, pasir, dan batu pijar.

”Waktu itu warga cemas, Gunung Anak Krakatau yang lagi batuk-batuk menimbulkan gempa kecil di Pulau Sebesi. Warga hanya bisa pasrah kepada Tuhan,” lanjut Hayun.

Untuk mengungsi meninggalkan Pulau Sebesi, kata Hayun, tidak mungkin karena kapal yang tersedia hanya belasan. Selain itu, warga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Pulau Sebesi sehingga enggan meninggalkan Pulau Sebesi.

Pariwisata menggeliat

Selain mengandalkan perkebunan dan perikanan sebagai mata pencarian, warga Pulau Sebesi mulai serius menggeluti bisnis pariwisata. Di Pulau Sebesi ada tiga vila dan 12 rumah penduduk yang dapat disewa untuk homestay. Dalam seminggu ada 20-40 wisatawan datang ke Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi dan sekitarnya memiliki banyak obyek wisata dan letaknya strategis. Pulau Sebesi memiliki daerah perlindungan laut (DPL) yang terumbu karangnya terjaga dan pulau terdekat dengan Gunung Anak Krakatau. Tidak ada hambatan komunikasi menggunakan telepon seluler di Pulau Sebesi, bahkan jaringan internet tanpa kabel pun tersedia.

Terumbu karang di sekitar Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau merupakan surga bawah laut bagi penyelam. Warga Pulau Sebesi sudah bisa menjadi pemandu para penyelam.

Sayangnya, semua potensi itu belum maksimal karena keterbatasan pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Pulau Sebesi. Warga masih mengandalkan genset atau panel surya bantuan pemerintah yang alatnya sudah mulai usang.

Sumber: Kompas, Sabtu, 28 Agustus 2010

[Tanah Air] Krakatau, Gunung Lintas Peradaban...

-- Yulvianus Harjono dan Wisnu Aji Dewabrata

SEPANJANG perjalanan, kapal yang kami tumpangi ke Kepulauan Krakatau terus digoyang gelombang. Namun, dua setengah jam kemudian, memasuki wilayah Kepulauan Krakatau, suasana mendadak hening. Nyaris tidak ada ombak. Sunyi senyap.

Feri membawa wisatawan untuk menikmati panorama Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung, Minggu (25/7). Gunung Anak Krakatau terbentuk pasca-letusan hebat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 dan kini menjadi andalan pariwisata di Lampung. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Tidak tampak lagi kawanan burung camar sedang berebut ikan atau hinggap di styrofoam yang dihanyutkan ombak. Ikan terbang (Parexocoetus brachypterus) yang sebelumnya beberapa kali terlihat di permukaan laut tak muncul lagi.

Di hadapan kami, berjajar gugusan Kepulauan Krakatau yang terdiri dari Pulau Panjang, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Gunung Anak Krakatau.

Dari kejauhan, asap kelabu terus mengepul dari puncak Gunung Anak Krakatau. Di sebelah tenggara, menjulang Pulau Rakata (815 meter) yang berbentuk kerucut terbelah. Dari puncak Pulau Rakata hingga ke dasar berupa tebing yang melengkung, menandakan separuh bagiannya musnah akibat letusan dahsyat.

Pulau Rakata dahulu merupakan bagian dari Gunung Krakatau. Namun, letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 menghilangkan dua pertiga tubuh gunung berapi itu. Sebelum 1883, Gunung Krakatau terdiri dari tiga gunung, yaitu Rakata, Danan (450 meter), dan Perbuatan (120 meter).

Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 melenyapkan Danan dan Perbuatan serta menghilangkan sebagian Pulau Rakata dan menyisakan kaldera berdiamater 7 kilometer.

Menurut catatan Simon Winchester, geolog dari Universitas Oxford, Inggris, letusan itu terdengar dari jarak 4.600 kilometer oleh seperdelapan penduduk bumi. Letusannya setara dengan 200 megaton bom TNT atau 13.000 kali lebih dahsyat daripada bom Hiroshima, Jepang.

Letusan Krakatau dalam waktu 48 jam menghasilkan tujuh tsunami, salah satunya setinggi 40 meter yang menyapu desa-desa di sepanjang Teluk Lampung dan pesisir Banten.

Tercatat 165 desa dan kota hancur, 36.417 warga tewas. Berminggu-minggu abu Krakatau menutupi atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari dan menyebabkan perubahan iklim global.

”Krakatau sangat mengagumkan. Membuat saya, dan kita manusia, sangat kecil berada di hadapannya. Kita yang hidup sekarang sungguh beruntung, tidak mengalami bencana seperti yang ditimbulkannya (Krakatau) dahulu,” ujar Lizzie Pinard (27), turis asal Sheffield, Inggris, seusai berkunjung ke Kepulauan Krakatau.

Gugusan Pulau Sertung, Panjang, dan Rakata dahulu satu kesatuan membentuk Gunung Krakatau purba (proto-Krakatoa). Diameternya 11 kilometer dan tingginya 2.000 meter. Gunung Krakatau Purba meletus ribuan tahun silam. Sebagai perbandingan, Krakatau sebelum meletus tahun 1883 diameternya hanya 7 kilometer dan tingginya 815 meter.

Gunung Anak Krakatau yang berada tidak jauh dari Pulau Rakata adalah gunung berapi baru yang muncul tahun 1927.

Awalnya hanya sebuah gundukan yang menyembul di permukaan laut, tetapi tinggi gunung berapi itu kini 315 meter. Muntahan material dari dapur magma membuat gunung itu bertambah tinggi dengan laju rata-rata 4,5 sentimeter per tahun.

Festival Krakatau, yang pada tahun 2010 sudah diselenggarakan 20 kali, bertujuan memperingati letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Festival yang berlangsung 24-25 Juli itu dilakukan juga untuk menjaring wisatawan datang ke Lampung.

Suksesi alam

Gunung Anak Krakatau menjadi laboratorium alam mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, yang pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna.

Di sini dapat ditemukan tanaman serta organisme perintis. Salah satunya kangkung laut (Ipomoea pes-caprae), keben (Barringtonia sp), dan cemara (Casuarina sp).

”Suksesi alam di Pulau Krakatau menjadi model suksesi alam di hutan hujan tropis terbesar,” ujar Tukirin Partomihardjo, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Adapun fauna yang dapat ditemui di sini di antaranya tikus hutan, kalong, biawak, sanca, dan burung-burung, seperti kacer, merpati, anis, serta cucak hijau. Di Pulau Sertung mudah kita temui penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Penyelam bisa melihat dinding kaldera sedalam 70 meter yang ditumbuhi karang.

”Di dalam laut antara Rakata dan Gunung Anak Krakatau muncul gundukan pasir yang bergelembung. Sepertinya ini bakalan menjadi gunung anak Krakatau lainnya,” ujar Ebeng (26), pemandu penyelam.

Ancaman kerusakan

Karena letaknya di tengah laut dan jauh dari keramaian, Kepulauan Krakatau tidak lepas dari ketamakan manusia.

Praktik penambangan ilegal batu apung dan pasir hitam merupakan ancaman yang nyata bagi Kepulauan Krakatau. Sebuah tongkang yang diduga mengangkut pasir hitam kami lihat akhir Juli lalu di dekat Pulau Panjang dengan muatan penuh pasir hitam. Penambangan pasir hitam di dasar laut dilakukan dengan dalih mitigasi bencana.

Padahal, menurut Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Lampung Supriyanto, aktivitas penambangan bisa memperburuk abrasi.

Saat ini abrasi parah terjadi di Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Perlu upaya serius untuk menjaga kelestarian Kepulauan Krakatau supaya ia tetap ada sebagai legenda yang melintasi peradaban

Sumber: Kompas, Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejak Islam di Lampung (17): Habib Sayid Ahmad Telusuri Jejak Raden Fatah

SEPENINGGAL Dewi Kadamasih dan Raden Fatah, tak banyak penduduk yang mengetahui jika di Surabayailir terdapat tempat bersejarah. Namun, Habib Sayid Ahmad bin Salim al-Muhdlor—ulama asal Wates, Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur, yang senang mengembara—justru penasaran dan mencoba mencari kebenaran kabar itu.

Pada 1967, anak dari Habib Salim bin Ahmad Muhdlor, asal Hadralmaut, Yaman, itu nekat menerobos hutan hingga sampai di telaga angker, tempat Raden Fatah lahir. Dia semakin penasaran karena setiap orang yang menoleh telaga kepalanya tidak bisa ke posisi semula dan setiap penebang pohon akan mati seiring robohnya batang kayu.

Karena itu, dia berhalwat berhari-hari di atas sebatang pohon yang roboh dan menjorok ke telaga. Di atas kayu berdiameter sekitar dua meter itulah, Sang Waliyulllah tinggal; siang berpuasa dan malam bermunajat kepada Allah swt. Berdasarkan catatan Raden Patah Hasyim bin Ahmad, dia ingin mengetahui mengapa Tuhan menakdirkan tempat itu begitu mengerikan.

Hasilnya, dia mendapatkan jawaban bahwa keangkerannya adalah untuk melindungi Dewi Kadamasih dan bayi yang dikandungnya dari kejahatan, terutama kejaran bala tentara Girindawardhana.

Sayid Ahmad pun jadi ingin berlama-lama di lokasi itu. Apalagi, setelah mengetahui sekitar 200 meter ke Samudera Hindia, terdapat makam seorang waliyullah, nenek moyang dari Sunan Gunungjati Cirebon. Dia pun membuat tempat salat di sisi timur makam.

Bahkan, dia ingin penderitaan Dewi Kadamasih juga dirasakan istrinya. Ny. Mar'atus Shalihah dimintanya tinggal di sana tanpa bekal. Untuk berteduh, hanya dibuatkan tebing yang dilubangi sehingga mirip gua.

Beberapa tahun kemudian, sejumlah penduduk mulai mengetahui keberadaan ulama kelahiran 1912 ini. Mereka memberanikan diri mendekat bahkan membuatkan gubuk untuk tempat tinggal. Bahkan, mereka kemudian memberikan tanah seluas delapan kilometer persegi, yang di tengahnya terdapat telaga itu.

Setelah jumlah pengikutnya semakin banyak, Sayid Ahmad mengajak penduduk untuk merawat makam nenek moyang Sunan Gunungjati. Lalu, tempat salatnya di sisi timur makam dijadikan masjid. Dari situlah dia kemudian mensyiarkan dan mengajarkan Islam kepada penduduk.

Uniknya, Waliyullah ini punya kebiasaan membuat ribuan batu bata. Hasilnya, meskipun tidak memiliki kekayaan apa pun, tidak pernah dijual. Bahan bangunan itu diperuntukkan membangun apa saja guna kepentingan umum. Masjid, madrasah, dan jembatan di sekitarnya dibangun dengan hasil karyanya itu. (M. IKHWANUDDIN/R-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 28 Agustus 2010

August 27, 2010

Jejak Islam di Lampung (16): Raden Fatah Lahir di Surabayailir, Lampung Tengah

SAAT keamanan Majapahit begitu mengkhawatirkan akibat serangan balatentara Girindawardhana, Raja Daha, Kediri, Kertabumi, raja terakhir kerajaan Hindu itu, berusaha menyelamatkan putra mahkotanya.

Raja yang bergelar Brawijaya V itu lalu menyuruh sejumlah prajuritnya untuk melarikan dan menyembunyikan Dewi Kadamasih, permaisurinya, yang saat itu sedang hamil tujuh bulan. Mereka menuju Palembang, Sumatera Selatan, dan menyerahkan Sang Putri kepada Arya Damar, adipati setempat.

Meskipun Brawijaya V berhasil dibunuh, hulubalang Girindrawardhana tidak puas. Mereka terus berusaha mencari putra sang permaisuri. Bre Daha khawatir jika bayi yang dilahirkan permaisuri itu kelak akan membalas dendam atas kematian ayahnya.

Sebab itu, Adipati Arya Damar kemudian mencari tempat persembunyian yang benar-benar aman, yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat. Pilihan jatuh pada telaga yang kini oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Surabayailir, Bandarsurabaya, Lampung Tengah, atau lebih dikenal dengan sebutan Spontan II.

Menurut Ny. Mar'atus Shalihah, istri Sayyid Ahmad ibn Salim al-Mudhar, seorang waliyullah yang tinggal di sana, tempat itu dipilih karena terkenal keangkerannya. Siapa pun yang lewat telaga itu dilarang menoleh. Jika dilanggar, kepala tak akan bisa kembai ke posisi semula. Bahkan, yang berani menebang pohon, akan mati bersama tumbangnya batang pohon.

Sehingga, nyaris tak ada orang lain yang berani menjamah tempat itu. Termasuk pasukan Gilindrawardhana. Sebaliknya, Dewi Kadamasih yang tinggal bersama sejumlah pengawal bisa hidup tenang. Bahkan, hingga Sang Putri melahirkan sesosok bayi yang kemudian diberi nama Hasan, kondisinya tak berubah.

Setelah cukup umur, Hasan diboyong ke Palembang. Memasuki usia remaja, dia berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya, bahkan kemudian dinikahkan dengan anak sang wali tadi. Pada 1481, para wali menobatkan dia sebagai raja Demak dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah, yang kemudian lebih dikenal dengan Raden Fatah.

Kepergian Raden Hasan (R. Fatah) ke Jawa menimbulkan kesan mendalam pada penduduk Palembang. Apalagi setelah mengetahui sosok tersebut kemudian menjadi raja Demak. Untuk mengenang itulah mereka menamai tempat masa kanak-kanak raja itu Prabumulih atau raja pulang ke Jawa.

Sementara itu, nama Palembang, berasal dari Pai Lian Bang, menteri dari Raja China yang masuk Islam, yang dibawa Sunan Gunungjati dari Negeri Tirai Bambu itu, kemudian dinobatkan menjadi Adipati, menggantikan Arya Damar yang meninggal.

Telaga itu hingga kini tetap terawat. Orang-orang yang tinggal di sana memagari telaga di bawah tebing, yang kini tinggal berukuran sekitar 3 x 6 meter. Bahkan, penduduk sekitar mendirikan sebuah masjid di sisinya dan menjadikan telaga itu sebagai air untuk berwudu. Pada waktu tertentu, banyak penduduk, bahkan muslim dari Jawa datang ke tempat itu untuk mengharapkan berkah. (IKHWANUDDIN/R-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 27 Agustus 2010

August 26, 2010

Jejak Islam di Lampung (15): K.H. Ali Tasim, Panglima Hizbullah dari Al Yaqin

KEBERADAAN Masjid Al Yaqin sejak 1912 di Tanjungkarang diyakini sebagai cikal bakal pusat kegiatan umat. Bukan hanya dalam syiar agama, melainkan juga menjadi wadah kekuatan dalam menentang Belanda.

Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan syiar dan perjuangan di masjid itu ialah K.H. Ali Tasim. Sebagai salah satu santri K.H. Gholib, Ali Tasim juga menjadi panglima Hizbullah Tanjungkarang pada masa agresi Belanda I 1946.

"Pergerakan Hizbullah yang merupakan perkumpulan penentang penjajahan bernuansa Islam itu, merupakan salah satu kelompok yang paling sering terlibat bentrok dengan penjajah," kata seorang putra K.H. Ali Tasim, Muntaha, didampingi saudara kandungnya, Ni'mah, saat ditemui Lampung Post di kediamannya Jalan Mr. Gele Harun, Rawalaut, Bandar Lampung, Rabu (25-8).

Seiring semakin kuatnya persatuan umat muslim saat itu, kata Muntaha, pada agresi militer Belanda II tahun 1948, pejuang di Masjid Al Yaqin bertahan. Walaupun sempat kocar-kacir akibat serangan Belanda yang menggunakan senjata canggih, ulama bersama umat mampu mempertahankan markasnya.

Di bawah bimbingan K.H. Ali Tasim yang juga sempat menjadi Ketua DPRD Tanjungkarang periode 1956-1960, pergerakan Islam di Bandar Lampung berkembang pesat. K.H. Ali Tasim banyak memberikan pengetahuan keagamaan khususnya tentang ilmu fikih.

Ali Tasim yang menguasai berbagai bahasa itu sempat menjadi Kepala Pengadilan Agama Tanjungkarang sebelum wafat pada 24 Juli 1984. "Bapak adalah sosok ahli ilmu fikih yang terkenal bukan saja di daerah Lampung, tetapi hingga Banten dan Pandeglang," kata Munthaha.

Media yang paling menonjol dari kegiatan umat Islam di Al Yaqin adalah pengajian. Halakah itu menjadi wahana dalam rangka mengumpulkan umat muslim untuk bersatu melawan penjajah. Setelah merdeka, Al Yaqin menjadi pusat syiar Islam. Bahkan, tidak jarang ulama datang dari luar Lampung berceramah di masjid itu yang dulunya dikenal dengan Masjid Enggal Perdana itu. "Ulama dari mana saja, seperti dari Banten, biasanya datang dulu ke Al Yaqin," kata dia. (IYAR JARKASIH/U-3)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 26 Agustus 2010

August 25, 2010

Jejak Islam di Lampung (14): Al Yaqin, Saksi Penyebaran Islam di Tanjungkarang

PENYEBARAN Islam pada awal abad ke-18 juga mulai masuk ke Tanjungkarang. Masjid Jami Al Yaqin menjadi saksi pengembangan ajaran yang dibawa dari Banten itu.

Selain Masjid Jami Al Anwar di Kelurahan Pesawahan, Masjid Jami Al Yaqin menjadi rumah ibadah kedua umat Islam di sekitar Teluk Lampung. Masjid itu kini terletak di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, (depan Kantor BRI Tanjungkarang) bisa dikatakan sebagai salah satu tempat ibadah umat muslim yang berperan dalam kesinambungan ajaran-ajaran Islam di Bandar Lampung.

Masjid yang berdiri sejak 1912 ini merupakan �rumah Allah� terlama yang ada di ibu kota Lampung, setelah Masjid Jami Al Anwar, Telukbetung. Baitullah yang pada awal berdirinya hanya terbuat dari geribik dan papan ini terletak di daerah Pasar Bawah.

Kemudian, pada 1925, masjid ini dipindahkan ke Enggal (lokasi masjid saat ini) dan diberi nama Masjid Enggal Perdana. Pada 1965, atribut masjid ini kembali diubah menjadi Masjid Jami Al Yaqin hingga sekarang.

Menurut sesepuh pengurus masj

id itu H. Abdul Mukti, pemberian Al Yaqin diambil dari nama orang yang mewakafkan tanahnya untuk masjid tersebut, yakni H.M. Yakin yang berasal dari Bengkulu.

"Pemberian nama tersebut juga tidak terlepas dari usul yang dilayangkan Konsulat Jenderal dari Mekah H. Umar Murot," kata Mukti kemarin (24-8).

Berdasar penuturan H. Abdul Mukti, dari awal berdiri Masjid Al Yaqin menjadi sentra kegiatan umat muslim untuk berbagai kegiatan keagamaan. Dua tokoh agama, K.H. Ali Thasim dan K.H. Asturi, menjadi sosok penyiar Islam yang berpusat di masjid itu.

Kedua orang ini berjasa dan memiliki peranan penting atas berdirinya masjid sekaligus memberikan amalan-amalan kepada jemaah. (IYAR JARKASIH/U-3)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 25 Agustus 2010

August 24, 2010

Wisata: Pulau Balak, Tempat Pelarian dari Kepenatan...

MEREKA yang pernah menyaksikan The Beach yang dibintangi aktor Leonardo Dicaprio pasti terkesan dengan keindahan Pulau Phi Phi. Pulau kecil di Thailand ini sangat terkenal dengan keindahan teluk pantai dan bukit-bukit kapurnya.

Pulau Balak di ujung selatan Kabupaten Pesawaran, Lampung, sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Phi Phi. Setidaknya, dalam hal keindahan pasir putih dan laut yang jernih berwarna pirus (hijau kebiru-biruan) dan tempatnya yang sepi.

Seperti di Phi Phi, berada di Pulau Balak seolah pengunjung akan merasakan sensasi berada di pulau pribadi. Sepi, jauh dari ingar-bingar. Tidak ada desing suara motor ataupun jetski yang memecah kesunyian. Yang terdengar sesekali hanya suara speed boat yang melintas mengantar penumpang.

Selebihnya, yang sering terdengar hanyalah deru ombak, desir angin di pohon kelapa atau bakau, dan kicau burung camar atau ocehan elang laut. Pulau Balak seolah menjadi tempat pelarian yang ideal untuk menghilangkan kepenatan.

Di bagian selatan pulau ini terdapat hamparan pasir putih yang bersih. Pantainya landai, jauh membentang hingga hampir ke tengah laut. Ini sangat cocok untuk berenang atau sekadar berendam merasakan jernihnya air laut.

Dari sini bisa menyaksikan bentangan bukit di Punduh Pedada, Pesawaran, yang seolah mengelilingi pulau ini. Di sekitarnya terlihat gugusan pulau kecil lainnya, semacam Pulau Lunik dan Pulau Helau. Jika bosan dengan Pulau Balak, kita bisa singgah ke pulau-pulau kecil ini cukup dengan sampan.

Di bagian utara pulau ini terdapat hamparan pantai berbatu karang. Kerang-kerang berukuran raksasa banyak terlihat di sini. Lokasi ini juga memiliki hamparan terumbu karang yang masih relatif baik, lengkap dengan ikan-ikan karangnya. Cocok untuk menyelam.

”Menyenangkan bisa menyelam di sini. Lautnya tenang dan jernih. Tadi saya melihat ikan nemo (ikan badut) dan ikan berukuran besar lainnya. Bahkan, saya tadi juga berjumpa seekor ubur-ubur raksasa yang lebih besar ukurannya dari kepala Anda!” ungkap Lizzie Pinard (27), ekspatriat asal Inggris, dengan penuh antusias.

Ia kagum dengan keheningan suasana di Pulau Balak dan sekitarnya. Bahkan, tidak seperti di laut pada umumnya, ombak di wilayah ini sangat tenang. Diakui, keindahan ini tidak ditemui di negara lainnya, baik di Kepulauan Karibia maupun Thailand.

Ikan hiu

Namun, di balik ketenangan air laut di sini, sama seperti di Pulau Phi-Phi, di sekitar pulau ini juga kerap dijumpai ikan hiu. Namun, tidak perlu khawatir, hiu-hiu yang hidup sini masih berukuran kecil. Mereka tidak memangsa manusia.

Sebaliknya, masih di bagian pulau ini, hiu-hiu kecil itu dibudidayakan bersama-sama ikan kerapu oleh pemilik pulau ini. Budidaya ikan hiu ini menjadi daya tarik lain dari pulau itu.

Ada beberapa bangunan yang dapat digunakan untuk menginap ataupun berbilas. Saat ini, di bagian barat pulau tengah dibangun sebuah dermaga baru untuk menunjang infrastruktur pariwisata.

Untuk menuju ke pulau ini, pengunjung harus menyewa speed boat Rp 300.000-Rp 400.000 dari Dermaga Ketapang per hari. Satu perahu bisa diisi enam penumpang.

Namun, bagi yang ingin menghilangkan kepenatan serta merasakan sensasi ke pulau ”pribadi”, tentu dana sebesar itu tidak ada bandingannya. (jon)

Sumber: Kompas, Selasa, 24 Agustus 2010

Jejak Islam di Lampung (13): Fatwa 100 Ulama di Pesantren K.H. Gholib

SEPERTI halnya masjid dan pesantren lain di Indonesia yang tidak hanya menjadi pusat ibadah dan pendidikan, tetapi juga menjadi basis pergerakan melawan Belanda, pesantren K.H. Gholib Pringsewu pun tak bisa lepas dari pergerakan seperti ini.

Ketika Belanda kembali punya keinginan menancapkan kukunya di Indonesia (agresi kedua tahun 1949), 100 ulama Lampung saat itu berkumpul di Pesantren Gholib membahas hukum perang melawan Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Keseratus ulama itu, antara lain K.H. Hanafiah dari Sukadana, K.H. Nawawi Umar dari Telukbetung, K.H. Abdul Rozak Rais dari Penengahan, Kedondong, K.H. Umar Murod dari Pagardewa (kini Kabupaten Tulangbawang Barat), K.H. M. Nuh, K.H. Aman dari Tanjungkarang, Kiai M. Yasin dari Tanjungkarang (ketua Masyumi Lampung saat itu), K.H. A. Rauf Ali dari Telukbetung, K.H. A. Razak Arsad dari Lampung Utara.

Hasil musyawarah 100 ulama itu menetapkan hukum perang melawan Belanda mempertahankan kemerdekaan dan ketinggian Islam adalah fardu ain.

Keputusan ini disampaikan ke pemerintah ketika itu dan menjadi dasar umat Islam melawan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Setelah keputusan ini, Hanafiah dan pasukan laskar Hizbulllah dan Sabilillah Pringsewu menuju Baturaja, Sumatera Selatan, untuk membantu Tentara Republik Indonesia (TRI) melawan Belanda, setelah Palembang diduduki.

Lalu atas keputusan pemerintah darurat Lampung dan TRI yang sebelumnya bermusyawarah dengan Gholib dan ketua-ketua partai Islam ketika itu, menetapkan Gholib memimpin TRI dan rakyat Pringsewu (Hizbullah dan Sabililah) menyerang Belanda.

Begitu pentingnya peran Gholib mengusir Belanda, membuatnya dirinya selalu menjadi incaran Belanda untuk ditangkap kemudian dibunuh. Siasat perang diterapkan Gholib adalah perang gerilya di bawah komando TRI Kapten Alamsyah Ratu Prawiranegara (Menteri Agama era Soeharto).

Dalam biografi Gholib yang ditulis salah satu santrinya, H. Akbar Moesa Achmad, tokoh penyebar Islam dan pejuang kemerdekaan ini meninggal dunia pada 6 November 1949 atau 16 Syawal 1368 Hijriah.

Gholib ditembak dari belakang oleh tentara Belanda, setelah 10 meter berjalan menjauhi sebuah gereja di Pringsewu, tempat dirinya ditahan militer Belanda. Gholib jatuh tersungkur dan meninggal dunia ketika itu juga.

Kegemasan Belanda pada Gholib bukan karena ia seorang ulama besar dan memiliki pesantren dengan santri sangat banyak, melainkan andilnya yang sangat penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Pesantren miliknya menjadi basis pertahanan TRI dan Pemerintah Darurat RI di Lampung. (ALHUDA MUHAJIRIN/U-3)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 24 Agustus 2010

August 23, 2010

Belasan Satwa Liar Terbunuh di Jalur Lintas Barat

Liwa, Lampung Barat, 23/8 (ANTARA) - Belasan satwa liar yang berasal dari Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan terbunuh setiap harinya di jalur lintas barat (Jalinbar).

"Dalam sehari saya pasti melihat ada satwa yang terbunuh akibat tertabrak kendaran yang melintas di jalur lintas barat, satwa yang tertabrak itu mayoritas hewan kecil seperi trenggiling, rusa, kucing hutan dan beberapa jenis satwa lain," kata Marsono (42) warga Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, sekitar 360 Km dari Bandarlampung, di Bengkunat Belimbing, Senin.

Dia menjelaskan, satwa liar tersebut terancam kelestariannya.

"Mengingat jalur lintas yang berada di jantung hutan, berpotensi satwa liar tertabrak, biasanya satwa tersebut tertabrak di malam hari," kata dia.

Dikatakanya, kondisi ini tidak ada yang disalahkan.

"Hewan dan manusia sama sekali tidak bersalah, faktor keadaanlah yang memicu semua ini terjadi, bahkan kondisi ini pesimis dapat diatasi pasalnya jalur lintas ini akan ramai di lintasi kendaraan yang datang dari segala penjuru," kata dia lagi.

Kemudian lanjut dia, pihak terkait perlu lakukan sosialisasi.

"Pihak yang memang berkaitan akan masalah ini dapat menggecarkan sosiallisasi ke pengguna jalan, baik lisan maupun tulisan yang berisi ajakan agar pengguna jalan waspada terhadap satwa liar yang melintas, sehingga satwa liar yang tertabrak itu dapat di tekan sekecil mungkin," katanya.

Jalur lintas barat (jalinbar) yang berada tepat di hutan kawasan, menjadi sebuah delima sendiri, pasalnya satwa yang seharusnya hidup tenang di dalam hutan akan dapat terbunuh di jalur lintas yang memang dekat di kawasan hutan.

Akan sangat sulit mencegah satwa itu tertabrak, pasalnya ratusan kendaraan yang melintas setiap harinya, sulit diberikan pemahaman, karena mayoritas penguna jalan itu berasal dari berbagai wilalah di Indonesia.

Kondisi seperti ini, jelas berpotensi terhadap kelestarian satwa liar yang ada, pasalnya belasan satwa pasti mati terbunuh di jalur regara setiap harinya, peranan berbagai pihak diperlukan agar masalah ini dapat teratasi.

Satwa yang kerap tertabrak di antaranya, rusa, kucing hutan, trenggiling, dan beberapa jenis satwa lain, setiap hari masyaarkat sekitar pasti menemukan bangkai satwa tersebut, dengan kondisi yang sudah hancur.

Sementara itu, salah seorang pengendara yang berasal dari Bandarlammpung, Asep Triadi (36) mengatakan, kerap menjumpai satwa liar di jalur lintas barat.

"Setiap malam saat saya melintas di jalur lintas barat, terutama yang berada di hutan kawasan, saya kerap menjumpai satwa liar tersebut, bahkan saya pernah menabrak satwa yang sedang melintas, kejadian tersebut sontak membuat saya kaget dan membuat kendaraan saya berhenti," kata dia.

Dia menjelaskan, satwa liar tersebut meresahkan pengguna jalan.

"Keberadaan satwa liar yang kerap berkeliaran di jalur lintas barat pada malam hari jelas mengangu pengguna jalan, apalagi saat satwa liar tersebut jenis hewan besar, jelas mengancam," kata dia lagi.

Dia menambahkan, berharap petugas kehutanan dapat membangun pos di jalur yang kerap di lintasi satwa, sehingga kemungkinan satwa tersebut tertabrak atau mengancam pengguna jalan dapat di cegah.

Sumber: Antara, Senin, 23 Agustus 2010

Populasi Rusa di Lampung Barat Terancam Punah

Liwa, Lampung Barat, 23/8 (ANTARA) - Pemburuan yang dilakukan masyarakat, mengancam kelestarian populasi rusa, bahkan diprediksi dalam beberapa tahun kedepan populasi rusa akan punah.

"Setiap hari masyarakat pasti berburu rusa dan hewan lain, beberapa tahun belakang, habitat rusa di daerah banyak, tetapi seriring maraknya pemburuan jumlah rusa semakin sedikit," kata masyarakat Kecamatan, Pekon (Desa) Badardalam, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, Edi Susanto (41) sekitar 378 Km dari Bandarlampung, di Bandardalam, Senin.

Dia menjelaskan, berkurangnya populasi rusa picu konflik hewan.

"Masyarakat yang berada di daerah pinggiran hutan jelas menjadi korban akibat ulah pemburu itu, karena beberapa hewan pemangsa kehabisan pasokan makanan, sehingga terjadilah konflik manusia dan hewan, berujung kepanikan masyarakat karena hewan pemangsa tersebut masuk diarea kampung," kata dia.

Dia menjelaskan, keberadaan pemburu pemicu kepunahan satwa.

"Pemburu satwa menjadi aktor utama dalam kepunahan rusa, situasi ini harus mendapat reasi dari dinas terkait, agar memberikan tindakan kepada masyarakat agar tidak memburu rusa lagi, sehingga populasi rusa dapat terjaga," katanya.

Pemburuan marak di beberapa wilayah di Lampung Barat, dan mengamcam kelestarian satwa seperti rusa dan beberapa satwa lain, yang keberadaanya kini semakin sedikit.

Masyarakat yang berada dekat di area hutan, memanfaatkan potensi hutan dengan melakukan pemburuan satwa, yang mana satwa yang diburu tersebut menjadi sumber makan pokok bagi hewan pemangsa lain seperti harimau.

Semakin sedikitnya populasi rusa di Lampung Barat, berpotensi terjadinya konflik hewan dan manusia, beberapa daerah di Lampung Barat menjadi langganan masuknya hewan buas seperti harimau, yang masuk ke perkampungan dan memangsa hewan ternak warga.

Kondisi ini jelas akan menggangu masyarakat dalam beraktifitas karena dicekam ketakutan, dimana sewaktu waktu hewan buas tersebut kembali masuk ke perkampungan dan memangsa apa saja yang di temui termasuk manusia.

Hingga saat ini belum ada data jelas berapa jumlah populasi rusa yang masih bertahan, tetapi melihat dilapangan populasi itu semakin sedikit, dibuktikan dengan semakin jarang rusa menampakan diri baik dipadang rumput atau di pinggiran hutan, kalaupun ada hanya emapat hingga enam ekor saja.

Kondisi ini harus segera mendapat tindakan, jika lamban diprediksi dalam beberapa tahun kedepan populasi rusa akan punah.

Sebelumnya Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan, masyarakat dapat menghentikan aktivitas berburu satwa.

"Sudah cukup masyarkat melakukan perburuan, selain dapat merusak rantai makanan, selain para pemburu itu menjadi dalang bagi kepunahan satwa," kata dia.

Dia menjelaskan, himbauan yang di berikan pada masyarakat sebagai upaya pemkab dalam menjegah perburuan satwa.

"Himbauan lisan juga tulisan terus kami gencarkan, agar peburuan terhadap satwa segera dihentikan, semua yang dilakukan akan sia sia bila masyarakat tidak melaksanakannya," kata dia lagi.

Bupati memaparkan, masyarakat akan mendapat dampak dari perbuatan tersebut.

"Masyarakat yang tidak bersalah tentu akan menjadi korban terhadap aksi pemburu, salah satunya dengan tejadinya konflik hewan dan manusia, semua yang sudah terjadi dan akan terjadi dapat di cermati oleh oknum masyarakat, sehingga kedepan kelestarian satwa serta konflik hewan tidak dapat terjadi didaerah ini," katanya.

Sumber: Antara, Senin, 23 Agustus 2010

Es Kopi Luwak Minuman Khas Lampung Barat

Liwa, Lampung Barat, 23/8 (ANTARA) - Es kopi luwak menjadi minuman khas berbuka puasa di Kabupaten Lampung Barat.

"Es kopi luwak menjadi minuman baru saat berbuka puasa, kopi yang dijadikan minuman es, memiliki rasa yang nikmat, selain itu dapat membantu untuk mengembalikan stamina setelah puasa," kata Siti Mahmuda (34) warga Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat, sekitar 273 kilometer dari Bandarlampung, Senin.

Dia menjelaskan, es kopi luwak memiliki rasa yang khas, karena selama ini disajikan atau disedu dengan air panas, namun sekarang dicampur es yang dihaluskan memiliki kekhasan tersendiri.

Kemudian, lanjut dia, es kopi luwak lebih nikmat dan mungkin berkhasiat bila di tambah madu.

"Saat saya membuat es kopi luwak, saya menambahkan madu sebagai campuran, sehingga rasa es tersebut semakin nikmat sekaligus semakin berkhasiat," kata Siti lagi.

Dia menjelaskan, harga kopi luwak yang mahal membuat minuman tersebut semakin spesial.

Sementara itu, masyarakat setempat meyakini minum es kopi luwak dapat mengembalikan stamina setelah melakukan ibadah puasa, selain itu es kopi luwak akan lebih berkhasiat bila di tambahkan madu, rasa yang dihasilkan pun akan lebih nikmat.

Inovasi aneka sajian yang berbahan dasar kopi luwak, semakin berkembang, selain es kopi luwak masyarakat juga membuat puding kopi luwak, es cream kopi luwak, dan beberapa jenis minuman lain.

Lampung Barat menjadi daerah penghasil kopi luwak bahkan mutunya terbaik di dunia, dengan potensi tersebut, menjadikan kabupaten tersebut sebagai daerah penghasil kopi luwak terbesar nasional.

Harga kopi bubuk luwak mencapai Rp750.000 per kilo, sedangkan harga kopi luwak glondong, atau yang masih berbentuk bulatan mencapai Rp200.000 per kilo.

Selain itu juga tersedia kemasan ekonomis dengan harga terjangkau mencapai Rp30.000 per bungkus.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pasar Kabupaten Lampung Barat, Zukri Amin mengatakan, potensi kopi luwak mampu diciptakan menjadi produk yang berkualitas.

"Kopi luwak yang ada Lampung Barat dapat dijadikan produk kopi yang mampu memberikan peluang bagi masyarakat, baik minuman juga makanan, dan masyarakat dapat mengkreasinya, sehingga komoditas kopi ini dapat bervariasi," katanya.

Dia mengharapkan, masyarakat dapat membaca peluang akan olahan berbahan baku kopi luwak.

Sumber: Antara, Senin, 23 Agustus 2010

Jejak Islam Masuk Lampung (12): Tubagus Yahya, Musafir Penyiar Quran di Kahuripan

PINTU masuk dari jalur selatan diyakini paling berpengaruh terhadap penyebaran Islam di Lampung. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan situs-situs sejarah, seperti makam keramat.

Selain makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, di Kahuripan, Telukbetung Barat, juga terdapat makam Tubagus Yahya. Kedua ulama ini masih memiliki keterkaitan keluarga, yakni berasal dari keturunan Sultan Hasanuddin, Banten.

Sama halnya seperti Tubagus Machdum, makam Tubagus Yahya juga acap dijadikan tujuan peziarah dari berasal warga sekitar maupun luar Lampung, seperti Pulau Jawa, tepatnya dari Serang, Banten. Biasanya peziarah memenuhi lokasi makam saat menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Juru kunci makam Masarim mengatakan Tubagus Yahya merupakan musafir yang datang dari Kenari, Jawa. Ia datang ke Lampung sekitar 1900-an. Saat pertama kali datang, Tubagus Yahya menetap di rumah H. Yusuf.

"Dalam kesehariannya, Tubagus Yahya yang dikenal sebagai musafir ini kerap menyiarkan ajaran-ajaran Islam, terutama tentang pengetahuan dan pandangan terhadap Alquran," kata Masarim, Minggu (22-8).

Menurut Masarim yang juga masih keturunan H. Yusuf, dalam syiarnya, Tubagus Yahya cenderung menggunakan media pengajian dan pondok pesantren.

Saat giat-giatnya menyebarkan Islam sekitar 1930, Tubagus Yahya meninggal dunia karena sakit. Setelah meninggal, Tubagus Yahya dimakamkan di Kahuripan, Telukbetung Barat, dan H. Yusuf kemudian menjadi juru kuncinya.

Kabar meninggalnya Tubagus Yahya, menurut Masarim, terdengar keluarganya di Pulau Jawa. Ahli waris Tubagus Yahya bernama H. Euyem kemudian datang dan melanjutkan syiar Islam orang tuanya.

Namun, pada 1950 H. Euyem kemudian meninggal dan dikebumikan di samping makam Tubagus Yahya.

Salah seorang pengunjung yang juga warga sekitar makam, Siti Khadijah, mengatakan dia rutin mengunjungi makam tersebut saat menjelang Ramadan maupun Idulfitri. Tujuannya, selain mengirimkan doa, juga menghargai dan mengenang jasa Tubagus Yahya yang menyiarkan Islam di Kahuripan, Telukbetung Barat. (IYAR JARKASIH/U-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 Agustus 2010

August 22, 2010

Pesawaran Inventarisasi Sastra Lampung

Pesawaran, Lampung, 22/8 (ANTARA)- Pemerintah Kabupaten Pesawaran akan menginventarisasi sastra dan kebudayaan Lampung yang ada di daerah setempat.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pesawaran, Mahmud Yunus, mengatakan, di Pesawaran, Minggu, inventarisasi itu dimaksudkan untuk melestarikan sasta dan budaya Lampung.

Ia mengatakan saat ini sastra Lampung atau kebudayaan daerah Lampung semakin hari kian menghilang tanpa adanya penerus yang dapat melestarikannya.

"Sastra Lampung adalah sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis," kata dia.

Sastra Lampung, sambung dia, memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantera, pantun, syair, dan cerita rakyat.

Untuk itu, kata dia lagi, kebudayaan yang sangat indah dan dapat dijadikan sarana promosi daerah tersebut kepada dunia luar atau daerah lain.

Menurut dia, pencatatan atau pendataan akan berguna untuk mengembangkan serta melestarikan kebudayaan tersebut agar tidak begitu saja mengalami kepunahan.

"Sastra Lampung yang saat ini hampir punah harus terus dilestarikan dan dikembangkan seperti kesenian warahan atau sastra tutur yang cukup menarik," jelas dia.

Selain itu, lanjut dia, sastra daerah lainnya seperti wawancan juga akan terus kami tingkatkan pengenalannya kepada masyarakat, baik melalui sekolah maupun media.

Sementara itu, salah satu tokoh adat di daerah itu, Haris Fadilah mengatakan, sastra-sastra Lampung akan terus dikembangkan agar dapat tetap eksis dan lestari sehingga generasi muda lebih memahami arti kebudayaan daerah asalnya.

"Semakin sedikitnya generasi muda di Provinsi Lampung yang mengenal budaya daerahnya, sangat mengkhawatirkan," katanya.

Ia mengatakan pelestarian sastra lisan Lampung harus seiring dengan upaya-upaya pengembangan sastra Lampung modern dan kontemporer dengan memperbanyak teks sastra berbahasa Lampung.

Upaya pengembangan sastra Lampung, menurut dia, dapat dimulai dengan penerjemahan karya sastra dari bahasa lain ke bahasa Lampung, selain menciptakan karya sastra asli Lampung.

Sumber: Antara, 22 Agustus 2010

Pantai Tanjungsetia Menjadi Tempat 'Ngabuburit'

Liwa, Lampung Barat, 22/8 (ANTARA)- Pantai Tanjung Setia di Kecamatan Pesisir Lampung Barat menjadi tempat favorit "ngabuburit" bagi warga setempat setiap menjelang berbuka puasa.

"Setiap sore pantai ini selalu ramai dikunjungi masyarakat, mereka selain melakukan ngabuburit, juga memancing di laut," kata Dedi Irawan, salah satu warga Pekon (Desa) Tanjung Setia Kecamatan Pesisir Selatan Kabupaten Lampung Barat, sekitar 345 km sebelah barat Bandarlampung, Minggu.

Dia menjelaskan, sebagian masyarakat yang datang juga berselancar di pantai yang memiliki gelombang tinggi itu.

"Sebagian dari masyarakat yang datang di pantai Tanjung Setia, juga melakukan 'surfing', mereka melakukan kegiatan itu dimulai dari pukul 15.00 WIB hingga mendekati azan magrib. Menurut mereka, berselancar itu sangat menyenangkan," kata dia.

Dia kembali menyebutkan pantai Tanjung Setia selalu dipadati pengunjung setiap sore.

"Tidak hanya penduduk lokal yang menikmati pantai Tanjung Setia, pengendara yang melintas juga ikut andil melihat keindahan pantai di sore hari, sehingga pantai ini ramai kendaran baik roda dua maupun roda empat," kata dia lagi.

Kemudian, lanjut dia, ngabuburit di pantai Tanjung Setia menyenangkan.

"Saat menikmati pantai ini, pengunjung terasa dihipnotis dengan keindahan pantai, sehingga tanpa terasa waktu berbuka tiba. Sebagian besar pengunjung sengaja berbuka di pantai ini, dengan menikmati es kelapa muda yang dijual pedagang yang berada di area pantai," katanya.

Selain melakukan kegiatan ngabuburit, pendatang juga melakukan aktivitas di laut, di antaranya memancing dan berselancar.

Padatnya pengunjung pantai Tanjung Setia dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk menjual makanan berbuka puasa (takjil). Mereka menjual aneka makanan berbuka, mulai dengan kelapa muda, ikan asap, dan beberapa jenis makanan pesisir lainnya.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, berkisar Rp3.000 hingga Rp6.000/ porsi, harga tersebut tergantung dengan jenis makanan yang dibeli.

Sayangnya pantai Tanjung Setia belum dilengkapi fasilitas penunjang, seperti toilet umum dan tempat mandi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lampung Barat, Sudirman, mengatakan aset wisata di Kabupaten Lampung Barat belum sepenuhnya terkelola.

"Potensi pariwisata di daerah ini belum sepenuhnya terkelola dengan baik, semua itu bertahap agar perencanaan di sektor pariwisata dapat tepat sasaran, baik fungsi maupun kebutuhan wisatawan itu sendiri," kata dia.

Dia menjelaskan, sebagian besar objek wisata Lampung Barat digemari turis lokal dan mancanegara.

"Kondisi alam yang masih alami membuat potensi pariwisata menjadi daya tarik bagi daerah ini. Selain itu, dari potensi yang ada, tentunya akan dapat memberi peluang bagi sebagian besar masyarakat untuk berwira usaha," katanya.

Sumber: Antara, 22 Agustus 2010

Kunjungan Wisata Lampung Barat Menurun

Liwa, Lampung Barat, 22/8 (ANTARA) - Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, selama bulan Ramadan menurun.

"Jumlah wisatawan domestik dan asing diprediksi akan menurun hingga 40 persen dan kembali mengalami lonjakan saat mendekati hari raya Idul Fitri 1431 H," kata pengusaha penginapan, di Pantai Karang Nyimbor, Kecamatan Pesisir Selatan, Lampung Barat, Astuti (37), di Karang Nyimbor, Minggu.

Dia menjelaskan, menurunnya jumlah kunjungan wisatawan didaerah yang berjarak 340 KM dari Bandarlampung itu berdampak pada pendapatan pengusaha penginapan.

"Dari segi pendapatan mengalami penurunan, meski tidak terlalu anjlok. Kita memanfaatkan Ramadan untuk membenahi fasilitas penginapan, sehingga saat kunjungan wisata kembali normal maka tamu tersebut akan merasa puas," katanya.

Dia menuturkan, pengusaha penginapan mengikuti himbauan selama bulan Ramadan dengan tidak membuka tempat hiburan dan aktifitas yang tidak dibenarkan.

"Kita juga memberikan pemahaman pada turis asing agar tidak melakukan kegiatan lebih di bulan Ramadan," ujarnya.

Ia berkeyakinan mulai mendekati Idul Fitri dan pasca Ramadan lonjakan wisatawan akan kembali terjadi.

"Seperti tahun sebelumnya setelah bulan Ramadan berlalu, lonjakan wisatawan akan kembali terjadi, terutama wisatawan domestik yang lebih banyak mendominasi, karena mereka ingin menikmati libur lebaran," katanya.

Lampung Barat menjadi daerah tujuan wisata bagi wisatawan asing dan domestik, daerah pesisir menjadi wilayah target wisata, karena didalamnya terdapat potensi laut yang mampu mendatangakan turis asing.

Data menunjukan jumlah kunjungan wisatawan di hari biasa mencapai 340 orang per minggu, dan bulan Ramadan ini penurunan kunjungan wisatawan hingga 40 persen atau 170 orang per minggu.

Upaya target pencapaian jumlah kunjungan wisatawan di Lampung Barat digencarkan oleh Pemkab Lampung Barat, dengan membuat rintisan desa wisata.

"Target desa wisata tersebut akan dapat menjual potensi pariwisata di Lampung Barat, sehingga berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan," tegasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Perhubungan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lampung Barat, Arif Nugroho mengatakan, pariwisata Lampung Barat semakin diminati.

"Promo yang kami lakukan di berbagai media cukup membuahkan hasil, dengan semakin dikenalnya potensi pariwisata daerah di beberapa negara, dan terbukti jumlah kunjungan wisatawan semakin hari kian meningkat," kata dia.

Dia menjelaskan, bulan Ramadan pengusaha pariwisata harus ikuti aturan.

"Seruan bersama di bulan Ramadan dapat diikuti oleh pengelola tempat penginapan, sehingga solidaritas umat beragama dapat terjaga dengan baik," ujarnya.

Selain itu momen bulan Ramadan ini bisa dijadikan pengusaha penginapan berbenah, sehingga di saat lonjakan wisatawan asing terjadi, tamu semakin puas.

Dia menambahkan, berharap pengusaha penginapan dapat meningkatkan fasilitas.

"Kami mengharapkan agar pengusaha penginapan dapat meningkatkan mutu sekaligus pelayanan, sehingga citra pariwisata di Lampung Barat akan semakin baik di mata dunia, yang nantinya akan berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di daerah ini," katanya.

Sumber: Antara, 22 Agustus 2010

Jejak Islam di Lampung (11): Pengaruh Fatahillah hingga Lempasing

AGAMA Islam masuk ke Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama, salah satunya yaitu dari arah selatan atau Banten oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung pada 1525.(Lampung Post, 11 Agustus 2010)

Pintu masuk Islam dari jalur ini diyakini merupakan yang paling berpengaruh. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan situs-situs sejarah seperti makam keramat Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan. Diduga, kedua musafir yang membawa ajaran Islam ke Lampung ini masih keturunan Sultan Hasanudin, Banten.

Keberadaan situs-situs ini tidak jarang dijadikan warga sebagai tempat ziarah, seperti menjelang Ramadan dan Idulfitri. Mereka menilai makam keramat tersebut mempunyai arti tersendiri karena memilki nilai sejarah dalam penyebaran Islam.

Penjaga makam keramat Tubagus Machdum, M. Nadir, mengatakan kuburan yang dijaganya itu sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar Lampung, seperti Pulau Jawa.

Banyaknya peziarah yang datang dari Jawa menguatkan sosok Tubagus Machdum berasal dari tanah Jawa yang menyiarkan Islam di Sai Bumi Ruwa Jurai.

Ulama itu pertama kali menginjakkan kaki di Lampung pada awal 1700. Sebagai seorang perantau, dalam menyiarkan Islam, Tubagus Machdum hidupnya sering berpindah-pindah ke berbagai daerah di Lampung.

Dalam syiar keagamaan yang dibawanya, kata Nadir, Tubagus Machdum menekankan pada Alquran, salah satunya yaitu surat Yasin. Hal tersebut diketahui karena Tubagus Machdum selalu mengamalkan Yasin dalam menyiarkan Islam.

Tubagus Machdum meninggal dunia pada akhir 1700. Menurut Nadir, tokoh Islam itu meninggal karena dibunuh penjahat di bilangan pesisir.

Setelah wafat, jasad Tubagus Machdum dimakamkan tidak jauh dari lokasi saat dia terbunuh, yakni di daerah Kuala, Telukbetung Selatan. Sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari pinggiran laut di bilangan Jalan Yos Sudarso, Panjang.

Makam keramat itu menyerupai rumah yang di dalamnya terdapat tiga kuburan. Menurut Nadir, makam-makam tersebut di antaranya tempat peristirahatan terakhir Tubagus Machdum (diselimuti kelambu), lalu Hasanudin (juru kunci makam Tubagus Machdum), dan satu lainnya konon bukan makam manusia, melainkan kuburan benda-benda peninggalan Tubagus Machdum. (IYAR JARKASIH/U-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Agustus 2010