Showing posts with label arsitektur. Show all posts
Showing posts with label arsitektur. Show all posts

May 18, 2012

Pendirian Patung Tokoh Lampung Kembali Picu Kontroversi

Bandarlampung - Pendirian dan pembuatan patung tokoh di Lampung kembali memicu komentar, kritik dan kontroversi dari berbagai pihak di daerah ini.

Sejumlah warga dari berbagai kalangan di Bandarlampung, Jumat, mengomentari secara kritis pendirian patung Raden Inten II, tokoh pahlawan Lampung, di salah satu bagian kota tepat di Jalan Raden Intan pusat Kota Bandarlampung, serta pendirian patung tokoh Lampung lainnya di daerahnya ini.

Menurut informasi, pembangunan patung itu tidak menggunakan dana pemerintah (APBD), melainkan merupakan sumbangan pengusaha daerah ini yang mencapai sekitar Rp200 juta.

Patung Raden Inten II yang lama, selama ini dikenal dan telah berdiri di kawasan pertigaan Jalan Soekarno-Hatta di Rajabasa, Bandarlampung, dan telah menjadi penanda utama (ikon) ibu kota Provinsi Lampung ini.

Namun komentar kritis dan kontroversi mencuat kembali, menyusul pendirian patung Zainal Abidin Pagaralam, tokoh Lampung yang pernah menjadi Gubernur Lampung di jalan lintas Sumatera Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan dengan dana mencapai miliaran rupiah.

Patung itu kemudian diprotes sekelompok warga dan akhirnya dibakar dan dirobohkan secara paksa, beberapa waktu lalu.

Zainal Abidin Pagaralam adalah orang tua dari Gubernur Lampung saat ini, Sjachroedin ZP, dan kakek dari Bupati Lampung Selatan, Rycko Menoza.

Sejumlah warga Bandarlampung mempertanyakan program pendirian patung di jalan-jalan utama daerahnya, kendati tidak menggunakan dana APBD, umumnya menilai tidak sepantasnya dilakukan oleh pemimpin kota ini yang seharusnya bersikap bijaksana dan peduli dengan permasalahan warganya.

Beberapa tokoh dan sejumlah kalangan mengingatkan, masih banyak program pembangunan yang seharusnya dapat diprioritaskan dan sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat banyak di sini.

Syarif, salah satu warga menyebutkan seharusnya Pemkot Bandarlampung memprioritaskan perbaikan kerusakan jalan utama dan jalan-jalan ke permukiman warga yang semakin parah kondisinya.

Upaya perbaikan yang dilakukan selama ini dinilai belum maksimal dan tidak optimal, karena kerusakan jalan-jalan itu relatif belum tertangani dengan baik.

Sejumlah warga di Sukarame dan Wayhalim, Bandarlampung menyebutkan, kerusakan jalan di perempatan simpang Jalan Urip Sumoharjo dan Jl Endro Suratmin menuju Kampus IAIN Raden Intan, hingga kini belum tertangani dengan baik.

Padahal menurut mereka, di sekitar jalan itu merupakan rumah tinggal beberapa pejabat Pemkot dan pimpinan serta anggota DPRD Bandarlampung.

Begitu pula kerusakan jalan masuk dari kawasan jalan lintas Sumatera di Kalibalok menuju Sukabumi, hingga kini belum diperbaiki dan dikeluhkan pengguna jalan sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan bermotor, serta mengancam keselamatan pengguna kendaraan khususnya sepeda motor dan warga di sekitarnya.

Dikritisi Sastrawan Lampung Berkaitan dengan pendirian patung-patung itu, sastrawan kondang asal Lampung, Isbedy Stiawan ZS juga ikut mengomentari dan mengeritisinya.

"Paus" Sastra Lampung itu malah sampai membuat status berupa "Dialog Patung dan Pak Wali" dalam akun facebook-nya.

Dalam status itu, Isbedy menuliskan: "Bagaimana hidupmu di situ? Semoga kau selalu damai," kata pak wali kota kepada patung yang ditancapkan di tengah jalan.

"Apa yang damai pak wali? Justru saya tercekam. Siang kepanasan malam terasa gigil hingga ke tulang sumsum!" "Lalu?" "Sebaiknya robohkan saya. Adanya saya di sini ribuan rakyatmu menderita miskin. Kenapa tidak uangnya dibagi-bagi ke rakyat!" kata patung itu.

Beberapa warga dari berbagai kalangan di Bandarlampung juga berkomentar terhadap pendirian patung di jalan-jalan Kota Bandarlampung itu.

Warga itu mengingatkan, jangan sampai pendirian patung para tokoh dan pahlawan Lampung itu, justru malah seperti memberikan kesempatan kepada umat penyembah berhala untuk melakukan aktivitasnya.

Handayaningrum, salah satu warga itu, mengomentari bahwa yang mendirikan atau punya ide patung itu berharap bahwa dia nanti di suatu saat juga akan menjadi patung yang ditegakkan di tengah jalan, agar terkenang dan dikenal.

Asaddin, warga Bandarlampung juga berkomentar, "Ya, bagus juga ya, biar jadi 'kota sejuta patung' atau lebih tepatnya "Kota Berhala."

Sumber: Antara, Jumat, 18 Mei 2012

January 29, 2012

[Perjalanan] Budaya Lampung di Sukadana Darat

ORANG menyebut daerah itu sebagai Sukadana Darat. Ia adalah satu dari sedikit kantong budaya Lampung yang masih mempunyai kelengkapan instrumen, termasuk para pelakunya.





1
Suasana Jalan Annur, Sukadana Darat. Satu menara masjid tua dan Rumah Informasi Budaya Lampung (belakang masjid) menjadi penanda kampung ini masih teguh memegang budaya.

2
Seorang pengunjung sedang memperhatikan konstruksi rumah tradisional Sukadana di bagian bawah.

3
Benda-benda kuno yang menjadi koleksi Rumah Tradisional Sukadana tertata rapi di beberapa sudut ruang rumah.

4
Uzunuhir, pemilik rumah ini menunjukkan beberapa barang koleksinya.

Melintas di Sukadana, wilayah Kabupaten Lampung Timur melalui jalur lama, satu kampung etnik mesti dilewati. Lokasinya berada di bagian atas sungai, seolah menanjak bukit.

Lokasi ini lazim disebut sebagai Sukadana Darat. Darat yang menjadi kata ikutan itu hanya sebagai penanda karena posisinya yang lebih tinggi. Kebetulan, di desa etnik inilah para tokoh masyarakat adat Sukadana tinggal. Tak pelak, segala bentuk kebijakan dan pengaruh hadir dari sini. Kantor kepala Desa Sukadana juga ada di sini.

Meskipun ada sebutan darat, tidak ada laut atau sungai di sisi lainnya. Yang ada adalah Sukadana Pasar. Lokasinya dipisahkan sungai dan menjadi pusat perniagaan sejak zaman lama. Sayang, saat ini meskipun pemerintah daerah merehabilitasi lokasi dengan membangun pusat perbelanjaan konsep modern, “pasar” yang sesungguhnya justru mati.

Pembangunan pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Timur yang “menjauh” dari Sukadana Darat membuat “aslinya” Sukadana ini mati suri. Terlebih sejak jalan lintas pantai timur (Jalinpantim) dibuka dan mulus, Sukadana Darat hanya jalur kepepet. Ditambah lagi, reputasi beberapa wilayah Lampung Timur yang rawan kriminalitas pembegalan, jalan yang dulunya adalah urat nadi itu sebisa mungkin dihindari.

Memasuki Jalan Annur, di desa itu, atmosfer suasana memang menjadi berbeda. Citarasa pemandangan kampung etnik masih terasa, meskipun bangunan-bangunan rumah sudah banyak berubah dengan model modern. Ciri yang menguatkan suasana itu adalah kerapatan hunian dan kedekatan dengan jalan raya.

Di bagian tengah, satu masjid dengan menara model besar dan cukup tinggi menandai ketuaan umurnya. Tak tertulis prasasti tahun pembuatan pada menara masjid itu, tetapi menurut Uzunuhir, salah satu pelaku budaya yang saat ini masih eksis, usia masjid itu setara dengan desa itu.

Di samping masjid, di depan kantor desa, satu bangunan berarsitektur Lampung megah berdiri. Rumah kayu panggung bertiang 70 batang kayu dengan cat hitam natural itu menjadi ikon budaya Lampung di Sukadana. Sejak 1986, rumah milik keluarga Ahmad Basyari gelar Suttan Kencana ini ditetapkan sebagai cagar budaya dengan sebutan “Rumah Tradisional Sukadana”.

Bangunan ini memang sudah tidak asli. Namun, sebagaimana silsilah yang tertuang dalam beberapa bahan publikasi, sebelum dipugar dengan konsep aslinya pada 1986, rumah ini dibangun pada 1940 itu oleh keluarga Muhammad Yusuf Paksi Mergo. Sedangkan Paksi Mergo mendapat warisan ini dari M. Nur Bati Kepala Migo yang membangun rumah yang diadaptasi dari rumah Palembang pada 1820. Versi asli rumah ini dibangun pada abad 17 atau tepatnya pada 1650.

Kini, Ahmad Basyari Suttan Kencana telah wafat. Beruntung, Uzunuhir, istrinya, yang berasal dari Padangratu (Lampung Tengah) amat menguasai tatanan dan tatacara adat budaya Lampung. Juga delapan anaknya yang telah mentas konsisten menjaga warisan leluhur tata adat budaya Lampung ini hingga sekarang.

“Rumah ini sudah dicanangkan sebagai cagar budaya oleh menteri pariwisata. Pemerintah juga sudah memugar sehingga sampai sekarang masih bagus begini. Sejak dua tahun lalu, kami juga dapat subsidi biaya perawatan Rp1,65 juta setiap tiga bulan,” kata perempuan energik mantan kepala SD ini.

Selain masih tampak kokoh dari luar, bagian dalam rumah juga menyimpan benda-benda bersejarah. Kebanyakan berupa perangkat upacara adat Lampung peninggalan ratusan tahun lalu. Selain juga peralatan rumah tangga dan peralatan lainnya.

“Ada banyak macamnya. Kebanyakan buatan abad 17. Ada meja marmer, kitab Alquran, pepadun, peti besi, meriam sundut, kendi-kendi, siger, sepatu kayu, sampai lampu minyak,” kata Uzunuhir.

Tata ruang rumah yang posisinya “terlalu” dekat dengan jalan itu memang tidak spesifik. Juga, karena posisi lahan yang lebih rendah dari jalan membuat unsur rumah panggungnya tidak cukup terlihat. Padahal, rumah itu ditopang 70 tiang setinggi 180 sentimeter.

Ada teras, ruang tamu yang memajang sekaligus menyimpan benda-benda tua itu, ruang keluarga, kamar-kamar, dan balkon di lantai atas.

Selain mengelola rumah tua, Uzunuhir juga mendirikan sanggar Kencana Lepus. Rumah ini menjadi markas sanggar sekaligus tempat latihan dan transfer ilmu pengetahuan tentang budaya Lampung kepada generasi muda.

“Ada 50 lebih muli-mekhanai (bujang gadis) warga sini yang jadi anggota aktif. Mereka bisa dan tahu tata adat Lampung. Kami sering diminta menampilkan upacara adat Lampung secara lengkap sampai tingkat nasional. Peralatan kami lengkap dan pelaku budayanya juga masih banyak,” kata pendiri TK dan diniah gratis di Sukadana ini. (M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Januari 2012

February 13, 2011

Apa Kabar Megaproyek JSS?

Oleh Chairullah Gultom

MENGAPA jadwal pemancangan tiang pertama jembatan Selat Sunda (JSS) molor terus tanpa kepastian? Jawabannya sederhana, pemimpin kita kurang memahami bagan alur proses pembangunan, serta gamang dan gagapnya para staf dalam mengemukakan pendapatnya.

Seorang junior kami yang berprofesi sebagai konsultan teknik menanyakan kepada saya: Bang apakah JSS dapat dimulai pembangunannya pada tahun ini? Secara guyon dan sekenanya pertanyaan tersebut kami tanggapi, kenapa hal tersebut ditanyakan kepada Abang, kan sebaiknya ditanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.

Junior kami tersebut menanyakan lagi lagi dengan lebih serius.

Bang, sedikit banyaknya kan Abang pernah menjadi perencana, pelaksana dan pemimpin proyek infra struktur dengan skala besar, serta beberapa kali pula menghadiri pertemuan pembahasan JSS pada saat Prof. Habibie menjadi Menristek/Ketua BPPT sekitar tahun 1997.

Saya jawab lagi, kalau ya, kenapa? Akhirnya junior kami tersebut menyampaikan keluhannya, para pemimpin kita saat ini seperti tidak memahami dengan baik manajemen pembangunan, sehingga masyarakat dijejali dengan informasi yang berubah-ubah berkaitan dengan jadwal pemancangan tiang pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan JSS. Semula pemancangan tiang pertama akan dilaksanakan pada 2010, berubah menjadi tahun 2011, dan mungkin akan berubah lagi.

Sebagai seniornya, saya berkewajban untuk memberikan pencerahan kepada junior kami yang sedang sewot dan mengeluh tersebut, tanpa berniat menggurui dan menyalahkan siapa pun.

Sebelum saya memberikan pencerahan, kami melakukan kesepakatan terlebih dahulu dengan tentang terminologi atau pengertian "pemancangan tiang pertama" dalam pembangunan infrastruktur/konstruksi.

Kami sependapat untuk mengartikannya bahwa pemancangan tiang pertama atau peletakan batu pertama adalah suatu momen yang bersifat seremonialitas sebagai tanda dimulainya kegiatan konstruksi suatu proyek pembangunan; dilaksanakannya acara tersebut setelah seluruh kegiatan pendahuluan dan kegiatan persiapan selesai dilaksanakan, seluruh kegiatan mengikuti bagan alur proses pembangunannya.

Pada kesempatan kami mendapatkan kuliah dari Prof. Hyckling di Institute Hydraulic Engineering (IHE) Delf Belanda dalam mata kuliah Proyek Management sekitar 1985, beliau mengajarkan bahwa manajemen itu adalah ilmu (science), seni (art), dan teknik (technique). Manajemen sebagai ilmu dan seni sudah sering kita mendengarnya, tapi manajemen sebagai suatu teknik merupakan hal yang baru bagi saya pada waktu itu.

Manajemen pembangunan sebagai suatu teknik ternyata adalah suatu metode pengelolaan pola pikir yang dilakukan secara rasional dan utuh dalam suatu alur yang teratur dan terukur, yang dimanifestasikan dalam bentuk bagan alur pembangunan.

Untuk proyek-proyek infrastruktur yang sederhana dapat disusun dalam bentuk barchart yang mengambarkan hubungan kegiatan dan waktu; pada proyek-proyek yang lebih rumit dapat dipergunakan networks planing atau critical part Of method (CPM) atau dalam bentuk lainnya.

Pencerahan yang kami berikan kepada junior kami dalam bentuk bagan alur proses pembangunan sebagai berikut:

Pertama, kegiatan awal yang mendahului pembangunan suatu proyek adalah kegiatan survei (S) dan investigasi (I); hasil dari kedua kegiatan tersebut dikenal secara umum sebagai prafeasibility study dan feasibility study (FS). FS atau studi kelayakan adalah suatu kajian untuk mengetahui suatu proyek layak atau tidak layak untuk dibangun.

Studi kelayakan tersebut haruslah mengambarkan secara lengkap dan komprehensif terhadap hal-hal yang bersifat teknis, ekonomi, hukum, sosial, kewilayahan, lingkungan dan lain-lainnya yang berhubungan.

Semua kita menginginkan pembangunan JSS tersebut sukses adanya dan tidak menginginkan JSS menjadi sebuah proyek yang megamubazir dan gagal teknologi. Seperti kita ketahui bahwa belum pernah di dunia ini dibangun sebuah jembatan sepanjang dan serumit JSS, terletak pada Selat Sunda yang merupakan jalur lalu lintas internasional, daerah patahan/tektonik serta vulkanik yang sangat aktif (GAK).

Studi kelayakan untuk megaproyek sekelas JSS haruslah dilaksanakan oleh para ahli di bidangnya (expert) yang telah memunyai pengalaman yang cukup panjang di bidang pembangunan yang sejenis; para expert tersebut haruslah menjunjung tinggi sikap profesionalisme/tidak ada konflik kepentingan.

Untuk megaproyek seperti JSS yang akan melibatkan investor asing/internasional dalam pendanaan pembangunannya, FS tersebut seharusnya dilakukan oleh suatu konsorsium konsultan internasional yang joint association dengan konsultan dalam negeri dalam rangka transfer ilmu pengetahuan.

Apabila FS tersebut dilaksanakan konsultan dalam negeri saja melalui penunjukan langsung (direct appointment) tanpa ada term of reference (TOR) yang jelas terhadap para expert yang akan direkrut untuk mengerjakan FS tersebut, akan sulit bagi kita meyakinkan calon investor asing untuk memercayai FS tersebut dan tentu akan sulit pula untuk mendapatkan investornya.

Untuk melaksanakan FS tersebut di atas diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima tahun, yang mencakup penyusunan TOR, rekrutmen, dan mobilisasi para expert, pengumpulan data-data awal, pendalaman terhadap data yang ada dan lapangan, analisis setiap kondisi, pradesain konstruksi, analisis ekonomi (benefit cost ratio dan internal rate of return), dan lain-lain.

FS akan mencakupi jembatan dan viaduk JSS, jalan tol, jalan kereta api, dan pengembangan/pembangunan wilayah serta infrastruktur lainnya yang akan mendukung nilai ekonomi pembangunan JSS sebagai suatu kesatuan yang utuh. FS harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi karena kegiatan yang satu dan lainnya akan saling memengaruhi.

Kedua, setelah FS selesai dan bila JSS tersebut dinyatakan layak (feasible), detailled engineering design (DED) dapat dimulai. DED adalah suatu kegiatan perencanaan teknis secara detail terhadap seluruh konstruksi yang akan dibangun, seperti beberapa Jembatan Gantung dan viaduk spanjang 29 km yang menghubungi Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang melalui Pulau Ular—Pulau Sangiang—Pulau Prajurit sampai dengan Ketapang di sekitar Bakauheni dan pembangunan tol antara Anyer/Ciwedan—Cilegon di Jawa, Ketapang, Bandar Lampung dan Metro di Lampung, Jalan Kereta Api Ketapang—Bandar Lampung dan lain-lainnya.

Pengadaan/rekrutmen konsultan perencana untuk DED sekelas JSS biasanya dilaksanakan melalui tender internasional atau international competitive bidding ( ICB ); melihat skop pekerjaannya tender ICB untuk DED memerlukan waktu sekitar dua tahun.

Di samping perencanaan teknis rinci, DED akan mencakupi pula pembuatan spesifikasi teknis, perkiraan biaya konstruksi, sumber material yang akan digunakan, gambar situasi dan luas lahan yang perlu dibebaskan. Pendataan kepemilikan tanah, bangunan dan tanam tumbuh akan dilaksanakan oleh tim yang dibentuk kemudian oleh pemerintah.

Mengingat cakupan DED sedemikian luasnya dan diperlukan tenaga ahli yang cukup banyak dengan multidisiplin ilmu, seluruh DED (termasuk ICB) diperkirakan baru rampung 5—6 tahun.

Ketiga, setelah DED selesai, pembebasan tanah (land acquisition/LA) dapat dimulai. Pembebasan tanah sebaiknya ditangani pemerintah; pada umumnya investor (dalam/luar negeri) keberatan menanamkan modalnya sepanjang pembebasan tanah belum selesai.

Dari pengalaman yang terjadi pada pembangunan proyek infrastruktur skala besar, pembebasan tanah merupakan penghambat terbesar; regulasi tentang pembebasan tanah untuk kepentingan umum dalam bentuk undang undang perlu disegerakan. Seluruh pembebasan tanah (LA) diperkirakan baru dapat diselesaikan dalam 7—8 tahun.

Keempat, setelah DED dan LA selesai dan investor yang mendanai JSS tersebut didapatkan, pelaksanaan konstruksi dapat dimulai. Mengawali pelaksanaan konstruksi biasanya dilaksanakan pemancangan tiang pertama atau peletakan batu pertama.

Pelaksanaan konstruksi terhadap jembatan, jalan tol, jalan kereta api serta pembangunan/pengembangan wilayah dan lain-lainnya dapat dilakukan secara bersamaan (simultaneous program) agar masa pelaksanaannya lebih singkat dan pemanfaatannya dapat lebih cepat.

Kelima, apabila sebagian pelaksanaan konstruksi tersebut selesai dibangun dan telah dapat dimanfaatkan, hasil pelaksanaan konstruksi tersebut dapat mulai dioperasikan (O)/dimanfaatkan. Akibat pengoperasiannya, pekerjaan maintenance (M) mulai dilaksanakan.

Sehubungan dengan pencerahan ringkas kami tersebut di atas terlihat Junior kami manggut-manggut dan secara cerdas merangkum sendiri pencerahan yang kami sampaikan.


1. Berdasarkan bagan alur proses pembangunan tersebut diatas maka bagan alur kegiatan pembangunan secara berurutan menjadi survei, investigasi, desain, pembebasan tanah, konstruksi, operasional, dan perawatan.

2. Berdasarkan jadwal waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap kegiatan dalam bagan alur tersebut, pemancangan tiang pertama sebagai awal dimulainya pelaksanaan konstruksi baru dapat dilakukan sekitar 2026 atau lima belas tahun yang akan datang. Itu pun terjadi sekiranya FS mulai dikerjakan dan hasilnya menyatakan bahwa JSS layak untuk dilaksanakan. Sampai dengan saat ini FS tersebut belum dilaksanakan.

3. Publikasi dan informasi yang disampaikan kepada publik oleh para pemimpin mengenai pemancangan tiang pertama megaproyek JSS sebaiknya dihentikan dan secepatnya mengkaji kembali seluruh kebijakan pemerintah.

4. Kekeliruan dalam memberikan informasi tentang jadwal pembangunan JSS dapat menimbulkan efek negatif terhadap penyusunan dan pelaksanaan program pembangunan jangka menengah dan jangka panjang bidang perhubungan yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa; peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana perhubungan dan unsur pndukungnya dijalur tersebut akan menjadi stagnant, demikian juga dengan pengembangan wilayahnya.

Chairullah Gultom, Mantan Ketua KPU, Kadis PU, Asisten II Pemprov Lampung

Sumber: Lampung Post, Senin, 14 Februari 2011

October 14, 2010

Kearifan Lokal: Rumah Panggung, Pertahanan Adat

MEMASUKI Kota Liwa, Lampung Barat, suasana berbeda langsung terlihat. Di kanan kiri jalan berjajar rumah-rumah panggung Lampung yang disebut nuwou. Rumah adat ini kini tidak mudah ditemui di Bumi Ruwa Jurai Lampung.

Hanya segelintir daerah yang masih memiliki Nuwou di Lampung, antara lain Lampung Barat. Gencarnya transmigrasi dan urbanisasi membuat warga asli Lampung kian terpinggir. Warga Lampung yang tinggal di perkotaan, seperti Bandar Lampung dan Metro, cenderung memilih hidup modern, meninggalkan kebiasaan membuat rumah panggung.

Lampung Barat adalah tanah nenek moyang suku adat Lampung dari marga Saibatin atau pesisir. Mayoritas rumah di wilayah ini masih berupa panggung. Jika pun ada yang bukan, hampir dipastikan itu milik pendatang.

Rumah panggung yang terbuat dari kayu ini mampu bertahan puluhan hingga ratusan tahun. Salah satunya rumah milik Burzan Barnau (45), warga Pekon Lombok, Kecamatan Lombok Seminung. Sejak dibangun tahun 1970, rumah kayu ini masih kokoh berdiri.

Tinggi panggungnya mencapai 1,75 meter dari permukaan tanah. Luasnya menakjubkan, yaitu 300 meter persegi! Untuk membuat rumah panggung seluas ini, dibutuhkan sekitar 50 meter kubik kayu. Awalnya rumah ini sengaja berbentuk panggung untuk mencegah masuknya binatang-binatang buas.

Apalagi, wilayah di sekitar Pekon Lombok berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Di sekitar desa ini tidak jarang masih ditemui gajah, harimau, ataupun celeng yang berkeliaran.

Alasan lain warga membangun rumah panggung adalah bahan bakunya, yaitu kayu, masih mudah ditemui. ”Kayu kan mengambil dari kebun sendiri,” ujar Suhairi (44), warga lainnya. Hingga kini, warga masih kerap menyimpan kayu-kayu stok di bawah rumah panggung mereka.

Rumah-rumah ini tidak berpagar. Meski demikian, diungkapkan Burzan, belum pernah ada kejadian harta benda masyarakat setempat raib diambil pencuri. Masuk akal jika pencuri tidak berani beraksi di rumah-rumah panggung.

Karena terbuat dari kayu, lantai di rumah panggung ini mudah berderit. Jangankan berlari, jika kita berjalan pelan, hampir pasti menimbulkan bunyi derit kayu. Ini menjadi ”sensor” alami bagi pemilik rumah untuk mengetahui pergerakan di rumah mereka.

Sebagian Nuwou balak Lampung masih menyimpan ornamen khas, antara lain ukiran khas Lampung, yaitu tapis. Ornamen ukiran tapis ini umumnya terpajang di rumah-rumah milik penyimbang atau pemuka-pemuda adat.

Melindungi dari bencana

Rumah-rumah adat ini nyatanya tidak hanya menjadi ”benteng” pertahanan adat Lampung yang kini makin tersisih, melainkan juga perlindungan dari bencana. Pada 1994, saat terjadi Gempa Liwa yang menghancurkan ribuan rumah di Lampung Barat dan sekitarnya, rumah panggung justru bertahan.

”Di Pekon (Lombok), setahu saya, hanya ada satu rumah panggung yang roboh. Tetapi itu belum jadi. Rumah kayu ini sangat kokoh,” ujar Rusman Effendi, tokoh warga di Pekon Lombok yang juga anggota DPRD Lampung Barat.

Dengan berbagai keunikan adat dan sejarahnya, rumah panggung di Pekon Lombok lalu ditetapkan sebagai daya tarik pendukung dari Desa Wisata Lombok yang terdapat di pinggir Danau Ranau, Lampung Barat. Sebagian rumah panggung ini oleh pemerintah daerah setempat dijadikan tempat menginap para wisatawan.

Untuk menginap di rumah warga ini, pengunjung membayar Rp 150.000 per orang untuk dua hari. Jumlah itu termasuk biaya makan makanan tradisional setempat sebanyak tiga kali sehari. Pola ini bisa menjadi pilihan mengingat harga menginap di hotel di area ini bisa mencapai Rp 300.000 per hari.

Pemkab Lampung Barat juga telah menetapkan desa-desa lainnya yang memiliki rumah- rumah adat, yaitu rumah Sabukh, sebagai desa wisata. Desa yang dimaksud adalah Desa Hujung. Di sini terdapat sejumlah rumah Sabukh yang usianya mencapai 300 tahun. Inilah keunggulan rumah panggung.

(Yulvianus Harjono)

Sumber: Kompas, Kamis, 14 Oktober 2010

October 10, 2009

Menggagas 'Landmark' Way Kanan

Oleh Febrie Hastiyanto*

KEBERADAAN penanda wilayah (landmark; tetenger (jawa)) bagi suatu kota akan menjadikan kota itu lebih mudah diingat publik. Lebih jauh, landmark menjadi cerminan sekaligus spirit kota yang dapat dibaca dalam retorika kebudayaan (lokal).

Beberapa kota--di Indonesia maupun dunia--secara relatif telah memiliki landmark yang dengan segera mengingatkan publik akan kota tersebut. Seperti Tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta--di samping Tugu Selamat Datang atau Bundaran Hotel Indonesia (HI), Tugu Muda di Semarang, Tugu Pahlawan di Surabaya, Patung Singa lengkap dengan air mancurnya di Orchard Road Singapura, Menara Petronas di Kuala Lumpur, Patung Liberty di Amerika Serikat maupun kubah keong Sydney Opera di Sidney sebagai misal.

Beberapa landmark ini tidak selalu gigantis, seperti Patung Singa di Singapura, Tugu Muda di Semarang, maupun Tugu Pahlawan di Surabaya, bentuknya hanya kecil. Namun, siapa pun sepakat bahwa tanpa landmark yang sudah demikian branded ini, keberadaan Singapura lebih sulit untuk dikenang oleh persepsi publik tanpa mengingat Patung Singa yang kecil saja itu.

Way Kanan sebagai kabupaten yang sedang membangun retorika citra kota perlu berpikir untuk mendesain sebuah landmark sebagai penanda kotanya. Tak hanya Way Kanan, karena provinsi dan kabupaten/kota di Lampung sendiri belum banyak memiliki landmark. Sebelum membangun menara suar berbentuk siger di Bakauheni, Lampung belum memiliki landmark yang representatif. Tugu Gajah di bundaran Kota Bandar Lampung atau Patung Radin Inten II di Rajabasa sebelumnya memang dianggap sebagai landmark, tapi Menara Suar Siger di Bakauhenilah yang mampu merebut image publik sebagai penanda wilayah Lampung.

Masyarakat Way Kanan dapat mengeksplorasi, misalnya motif tenun tapis khas Way Kanan, bentuk rumah adat (nuwo sesat), atau perilaku bertani masyarakat. Namun landmark tidak melulu harus berbentuk klasik. Landmark pun dapat berbentuk kontemporer, dan hendaknya bersifat fungsional.

Landmark tidak harus berujud tugu atau benda-benda yang memang dirancang sebagai penanda semata. Justru landmark yang dipersepsi publik dari bangunan-bangunan yang memang memiliki kegunaan tertentu--semisal teater di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali; gedung perkantoran seperti World Trade Centre (WTC) New York maupun Menara Petronas; gedung instansi pemerintahan sebagaimana White House di Washington D.C., Gedung MPR/DPR maupun Gedung Bundar Kejagung; atau sebagai monumen seperti Monas--akan memiliki manfaat yang langsung dapat dirasakan publik. Dalam konteks Way Kanan, landmark yang hendak dibangun lebih tepat memiliki fungsi sebagai ruang terpuka (open space) berbentuk teater terbuka (open theatre) bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan.

Potensi Way Kanan

Sebuah landmark selain sebagai sebuah kesatuan-bangun juga harus mencerminkan spirit, potensi, atau lokalitas sebuah kota yang hendak diidealkan sebagai keunggulan komparatif sekaligus keunggulan kompetitif. Soal bentuk misalnya, masyarakat Way Kanan perlu berpikir bentuk selain gajah, ikon Lampung yang telah mendunia. Meski berada di wilayah Provinsi Lampung, secara relatif kawanan gajah (liar) tidak banyak membangun ekosistem di wilayah Way Kanan. Dalam catatan yang ada, gajah Lampung banyak hidup di wilayah Lampung Barat, atau Lampung Timur.

Saat ini setidaknya terdapat tiga landmark Way Kanan, yakni patung dan Taman Ryacudu di Blambangan Umpu, tugu berornamen gading di Simpang Empat, serta tugu berbentuk perahu dan taman di Baradatu. Secara relatif, Taman Ryacudu dapat disebut sebagai landmark yang representatif, dilihat dari luasnya, komposisi bentuk, termasuk prasasti yang menjelaskan sosok Ryacudu.

Sedang tugu berbentuk perahu di Baradatu masih perlu diberi beberapa pelengkap karena selain lokasinya yang lebih sempit, juga perlu diberi pengantar (semacam prasasti) sebagaimana Taman Ryacudu. Beberapa hal yang perlu dijelaskan kepada publik, misalnya, jenis perahu tersebut, apakah salah satu jenis perahu tradisional atau perahu estetik saja. Kemudian replika buah (kelapa sawit atau durian?) di dalam perahu, perlu diberi keterangan tambahan, mengapa komoditas itu yang di-display, bukan lada atau kopi.

Selama ini Way Kanan dikenal luas sebagai penghasil komoditas lada dan kopi. Dihitung dari jumlah produksi, komoditas kopi, misalnya, menyumbang 13.355 ton/tahun (waykanan.go.id: 2006), sedang kelapa sawit hanya menyumbang 8.266 ton/tahun. Kemudian patung laki-laki dan perempuan, sebaiknya digambarkan mengenakan pakaian khas Way Kanan, baik itu pakaian adat atau pakaian sehari-hari masyarakat. Bila dilihat sekilas, tokoh perempuan dalam patung seperti mengenakan kebaya, satu jenis tradisi sandang yang dikenal luas berasal dari Jawa. Bila kebaya ini dimaksudkan sebagai manifestasi akulturasi yang memang berlangsung baik di Way Kanan, kiranya penjelasan dari prasasti tugu dapat menjabarkannya.

Memang sebuah landmark bukan infrastuktur fisik yang dampaknya akan terasa langsung oleh rakyat, seperti jalan, fasilitas umum, dan fasilitas sosial. Namun, bila kita hitung dampak-ikutannya (multiflier effect), keberadaan landmark baru terasa kemudian. Di sektor ekonomi, landmark akan menjadi gula-gula ekonomi baru yang mengundang bangkitnya investasi termasuk investasi sektor ekonomi nonformal bila landmark itu sekaligus dijadikan kawasan kunjungan wisatawan.

Secara politik dan kultural, keberadaan landmark akan menyajikan citra (image) kota yang menegaskan keberadaan kota dalam pergaulan antarkota baik di wilayah regional, nasional, maupun global. Sehingga, pembangunan sebuah landmark yang dilakukan secara kritis dan tidak korup tentulah bukan sebuah proyek mercusuar semata.

* Febrie Hastiyanto, Putra Way Kanan, bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Oktober 2009

December 12, 2008

Achmad Zulkifli Warganegara: Spirit (Pejuang) yang Tidak Pernah Padam

BANGUNAN penting di mana pun biasanya sebuah penanda. Sebab itu, dalam ingatan publik, ia sering tidak lepas dari para tokoh yang berada di belakangnya (sebagai pembuat atau penggagas).

Melihat Monumen Nasional, misalnya, kita mengingat nama Bung Karno sebagai sang empunya ide. Menyebut Taman Ismail Marzuki kita ingat mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Dan, ketika masuk ke dalam kemegahan Masjid Istiqlal kita teringat F. Silaban, sang arsiteknya.

Tetapi, Anda penduduk Lampung, tahukah sosok yang membangun Bandar Udara Branti (kini Radin Intan II)? Mungkin hanya sedikit orang yang tahu. Generasi sekarang boleh jadi telah berjarak amat jauh dengan penoreh sejarah itu. Dialah Ir. Achmad Zulkifli Warganegara. Sosok yang menginspirasi kaum terpelajar Lampung menjadi insinyur. Menjadi orang pintar!

Kini pria kelahiran Natar, Lampung Selatan, 14 Juni 1920 ini masih mengingat dengan baik Branti 60-an tahun silam. Ketika itu usianya baru 22 tahun dan baru tamat sekolah menengah teknik zaman Belanda, Koningin Wilhemina School di Batavia, Jakarta. Selain Branti, Zulkifli juga membangun Lapangan Terbang Tulung Branti, Menggala, Lampung Utara (kini Tulangbawang).

Jepang-lah yang memerintahkan Zulkifli membangun kedua bandara itu. "Saya menyanggupi membangun kedua bandara itu, tetapi dengan syarat kami kerjakan malam hari. Sebab, siang hari orang Lampung bekerja di ladang. Setelah selesai, Jepang kaget. Karena tidak pernah melihat kami bekerja (di siang hari), tahu-tahu bandara sudah jadi. Saya memang kerahkan semua orang-orang Lampung. Saya tunjuk ada yang jadi mandor dan ini itu. Mereka semangat sekali," kata dia kepada Lampung Post beberapa hari lalu di rumahnya, Jalan Ahmad Dahlan, Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Hari itu Zulkifli mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan warna dasar krem dan celana panjang warna cokelat. Kepala dengan rambut yang kian menipis tertutup kopiah hitam dan kedua kakinya dibungkus kaus kaki.

Kami berbincang di kamar tidurnya yang jembar. Di usianya yang kian senja, ayah delapan anak ini memang sudah tidak bisa lagi banyak bergerak ke luar rumah. Jadilah kamar tidurnya menjadi ruang "serbaguna". Di atas tempat tidur itulah Zulkifli menghabiskan hari-harinya dengan ditemani sebuah televisi berukuran besar. Dengan benda kotak berlayar kaca itulah penyuka musik ini "menjelajah" dunia.

Ia terus mengikuti seluruh perkembangan dunia, perkembangan negerinya, dan perkembangan tanah kelahirannya, Lampung. Lampung yang menurutnya belum kunjung menjadi daerah yang ia impikan. Yang maju dan masyarakatnya sejahtera. Ia ingin moto hidupnya yang terbukti bisa menyelamatkan keindonesiaan di zamannya, yakni one for all, all for one (satu untuk semua, semua untuk satu), masih punya resonansi di kalangan anak-anak muda. Menurut bahasa Zulkifli, kepahlawanan itu kini adalah bagaimana menciptakan inspirasi untuk terus memberikan yang terbaik bagi bangsanya.

Nada bicara Zulkifli masih lantang meskipun vokalnya kadang tidak terlalu jelas. Sorot mata dan ekspresi wajahnya juga masih penuh vitalitas. Wibawa dan karismanya juga masih terpancar dari sosok sepuh itu

HARI itu, ia ditemani tujuh anak-menantu dari berbagai wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya yang ia undang khusus ke rumahnya ketika Lampung Post berkunjung. "Begitulah Papa. Beliau sosok yang tidak pernah padam," kata Ir. H. Syafril Yordian Warganegara, putra keempat Zulkifli. Ia memang dipercaya sang ayah menjadi "sekretaris" atau "juru bicara" pribadi. Syafril memang beberapa kali menjelaskan lafal ayahnya yang kadang kurang jelas.

Menurut Syafril, gairah dan semangat sang ayahnya menyala kembali ketika Lampung Post mewawancarainya untuk edisi khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan pembuatan buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung, Mei silam. Zulkifli dan sang adik, Dr. Ir. Marjoeni Warganegara, (mantan Direktur Utama PT Krakatau Steel) termasuk tokoh yang dinilai amat layak masuk buku tersebut. "Selama ini sebenarnya saya sudah 'tidur', tetapi tiba-tiba kamu membangunkannya. Terima kasih yang tidak terhingga, saya masih diingat. Saya tidak menyangka ada institusi yang memberi penghargaan kepada saya. Ini benar-benar menjadi inspirasi saya untuk bangun dari tidur," kata dia dengan mata menerawang.

Syafril lalu menambahkan bagaimana ayahnya hampir setiap hari bicara bagaimana ia akan membentuk kelompok penekan (pressure group) untuk membangun daerah secara benar. "Jadi, tidak selalu harus dengan modal besar untuk membangun masyarakat itu," kata Syafril menirukan sang ayah.

Ir. Anshori Djausal, yang terinspirasi Zulkifli untuk kuliah di ITB, juga kagum dengan gagasan-gagasan tokoh kita ini. Ia yang beberapa kali berdiskusi dengan Zulkifli menilai pemikiran-pemikiran tokoh idolanya itu masih tetap aktual. Bagaimana misalnya Zulkifli pernah bicara membuat semacam konsultan pembangunan yang ditawarkan kepada kabupaten/kota dan provinsi. "Dananya tidak harus dari pemerintah, tapi partnership antara pemerintah, swasta, dan masyarakat," kata Anshori.

Layak Diteladani

Masih dalam refleksi Hari Pahlawan bulan ini, jejak dan langkah lulusan Akademi Teknik Nasional, Jakarta (1953) ini masih amat layak diteladani. Zulkifli dipercaya untuk membangun dua bandara di Lampung ketika usianya masih sangat belia.

Berhasil membangun dua bandara, ia pun diangkat menjadi kepala Pekerjaan Umum di Kotabumi, Lampung Utara. Pada 1950, ia ditarik ke Jakarta untuk mendapat tugas baru, yakni membangun Kota Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia sosok yang selalu penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Atas berbagai prestasinya, Departemen Dalam Negeri pun menariknya untuk secara khusus menangani pembangunan kota dan daerah. Ia beberapa kali dikirim ke berbagai negara untuk mengikuti berbagai pendidikan di bidang community planning dan community development, antara lain Kanada, Amerika Serikat, dan Prancis. (Tentang Zulkifli lihat juga 100 Tokoh Terkemuka Lampung (Lampung Post, 2008).

Lagi-lagi, karena dedikasi dan prestasinya, negara terus memberikan tugas pada Zulkifli. Setelah memasuki masa purnabaktinya di Departemen Dalam Negeri, pada 1974 Pertamina menariknya untuk membantu menangani pembangunan proyek Terminal Teluk Semangka. Ini merupakan terminal terbesar khusus untuk menampung kapal tanker yang bertonase di atas 1.000 ton.

Namanya yang mencorong di pusat maupun di tanah kelahirannya, menjadi tangga mudah ketika Pemilihan Gubernur Lampung digelar pada 1964. Zulkifli adalah gubernur Lampung terpilih pertama. Suasana politik yang menghangat waktu itu mampu memaksa Presiden Soekarno batal melantik Zulkifli. Bung Karno akhirnya melantik Kusno Danupoyo yang didukung Partai Komunis Indonesia. Ketika politik berubah, pada pemilihan gubernur berikutnya, Zulkifli juga menjadi calon kuat. Tapi, ia lebih memercayakan kepada sahabatnya, Zainal Abidin Pagar Alam. "Dia (Zainal, red) yang paling pas memimpin Lampung," kata dia.

Imbauan Sang Kakek

Ketika Zulkifli mendapat undangan peluncuran buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung dari Lampung Post, ia mengutus Syafril untuk hadir di Lampung. Sekembali dari Lampung, setelah melihat fisik buku 100 Tokoh, Zulkifli pun meminta Syafril menulis biodata dirinya yang agak lengkap. Juga mengumpulkan beberapa foto dan menyalin tulisan yang ada di buku. Ditambah sebuah sajak yang dibacakan aktor Deddy Mizwar ketika memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional beberapa waktu lalu; dua kalimat bijak Zulkifli, dan fotokopi SK penganugerahan gelar kehormatan sebagai pejuang kemerdekaan bertarikh 1981 kepada Zulkifli, jadilah kompilasi ini buku berjudul Imbauan Sang Kakek. Buku bersampul biru langit itu berisi 44 halaman .

Dalam buku itu dihiasi foto Zulkifli bersama sahabatnya, Zainal Pagar Alam, dengan istri tercinta, Bertha Hernani Idrusi yang berpulang pada 1988. Dua buah patung yang menghiasi rumahnya juga diabadikan dalam Imbauan Sang Kakek. Yang pertama patung ibu menyusui dan yang kedua patung seorang pemburu yang tengah mengejar seekor rusa. Yang pertama diberi judul Selalu Menjaga Kebersamaan dengan Penuh Kasih Sayang dan patung kedua berjudul Jauhi Sifat Memaksakan Kehendak.

Imbauan sang kakek sendiri hanya berisi dua kalimat, intinya dengan berbagai kondisi yang memprihatinkan ini, "Sang Kakek" mengimbau agar pembangunan karakter bangsa segera dimulai kembali. Semboyan one for all, all for one juga harus terus dikumandangkan karena terbukti mampu meneguh dan menegakkan Indonesia di masa lalu.

"Saya ingin secara khusus pula memberikan buku tipis ini kepada Lampung Post. Kumandangkan terus kata-kata yang ada pada patung itu. Dengan selalu menjaga kebersamaan dengan penuh kasih sayang serta tidak memaksakan kehendak, negara dan bangsa ini akan bisa selamat. Jangan pernah menyerah dengan keadaan sesulit apa pun," kata dia berapi-api. Ia memang sosok yang spiritnya tidak pernah padam. n DJADJAT SUDRADJAT/U-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 November 2008

November 8, 2008

Rumah Adat Marga Balak Lampung Tidak Terurus

Bandarlampung, 8/11 (ANTARA)- Rumah adat Lampung "Kebandaran Marga Balak" di Kelurahan Olok Gading, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandarlampung, Provinsi Lampung, dalam kondisi memprihatinkan karena tidak terurus.

Rumah adat Lampung Pesisir yang teletak tidak jauh dari pusat kota Bandarlampung itu, Sabtu, meski berdiri kokoh, namun tidak terurus.

Halaman rumah banyak dipenuhi alang-alang yang cukup tinggi serta plafon yang terbuat dari bahan kayu banyak yang terkelupas.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat di daerah itu, Syamsudin, rumah adat yang dijadikan sebagai aset peninggalan sejarah dan objek wisata oleh pemerintah daerah setempat, sebelumnya digunakan untuk acara-acara adat seperti perkawinan, rapat-rapat adat, latihan kesenian tradisional seperti menari dan pencak silat.

"Rumah adat itu berdiri sekitar tahun 1883 dan difungsikan untuk kegiatan-kegiatan adat," ujarnya pula.

Ia menyebutkan Kepala Adat Kebandaran Marga Balak sekarang dijabat Gusti Pangeran Ratu Marga yang tinggal di Jakarta.

Marga Balak di dalamnya terdiri atas empat penyimbang paksi dan 13 penyambun tiup (pekon) yang meliputi wilayah Tanjungkarang-Simpur, Srengsem (Panjang) dan Lempasing (Telukbetung).

Selain rumah adat Kebandaran Marga Balak, di daerah itu juga terdapat beberapa rumah milik warga berarsitektur seperti rumah adat.

"Ada tiga rumah tradisional khas Lampung di kawasan ini dan semuanya perlu perhatian pemerintah untuk melestarikannya," tambahnya.

Karena itu, ia mengharapkan pemerintah daerah, baik Provinsi Lampung maupun Kota Bandarlampung, untuk dapat memberikan bantuan atau merenovasi peninggalan sejarah Lampung Pesisir itu.

"Sepengetahuan saya, pemerintah menyediakan dana untuk melestarikan peninggalan sejarah seperti rumah adat," jelasnya.

Sumber: Antara, Sabtu, 8 November 2008

April 17, 2008

Opini: Taman Enggal, Taman Kota

-- Jauhari Zailani*

INI malam keempat. Ia bingsal tidak keruan. Jarum jam menunjuk angka dua, tapi mata masih terang, masih nanar. Guling sudah beberapa kali dipeluk dan dibanting. Di tempat tidur salah. Di kursi salah. Ia tidak ingin bed dan kursi menjadi kambing hitam. Sepeda, ia tahu persis ini menyangkut persoalan cinta, boleh jadi menjadi pi'il, harga diri. Jika keliru, ia akan kehilangan gadis idamannya.

Sabar ia menunggu jawaban dari sang buah hati. Tidaklah elok, jika ia menolak pinta Roro Jonggrang, dan ia ingat ketika gadis pujaannya mengajukan syarat: "Kakanda, sebagai gadis sungguh aku tersanjung. Di kawedanaan ini, banyak gadis cantik dan ningrat menanti pinangan Kakanda. Tapi izinkanlah saya gadis yang bodoh ini mengajukan syarat". Tidak sabar menunggu, sang Pangeran menyela. "Jangan ragu Adinda, silakan kemukakan apa syaratnya. Kalau harus menyeberang laut dan melintas gunung, kan suka hati kujalani. Kalau Adinda inginkan gunung atau pulau, pasti kubeli".

Dalam benak sang Pangeran, terpikir. Kian banyak permintaan, sang Putri akan menjeratnya. Tapi, ia ingin memastikan bahwa syarat itu bukan alasan untuk menolaknya. "...tapi, apakah syaratnya itu, Diajeng?"

Setelah menarik napas berkali-kali akhirnya sang Putri berkata "...Kakanda, maafkanlah patik, jika tidak elok pintaku. Kakanda, elok nian jika Lapangan Enggal dapat menjadi taman kota."

Bak disambar guntur di siang bolong, sang Pangeran terdiam mlongo. Pasalnya lapangan itulah yang menjadi modalnya. Jika sukses ruilslag, ia dapat membeli pulau atau pergi ke mana saja, ke mana sang Putri mau. Tapi menolak syarat itu, jelas mustahil. Tapi ingin mengetahui alasannya, "Kenapa taman?"

"Ya Kakanda, lapangan itu menyimpan kenangan bagi komunitas kita. Sejak empat keturunan, Lapangan Enggal menjadi bagian kita. Kita semua tidak bisa dipisahkan dengan lapangan itu. Kakek kita, lahir, tumbuh dan mati di sini. Dan sejak sono-nya memang dirancang sebagai ruang publik. Jika kita mengubah menjadi milik privat, bisnis, saya khawatir para leluhur menyebut kita sebagai pengkhianat. Bukankah kita selalu mengeluhkan macetnya lalu lintas, bukankah mal itu pasar, dan pasar identik dengan kemacetan?"

Sang Pangeran tidak bisa hanya mendengar, "Bukankah zaman telah berubah. Zaman kita dan anak-anak kita, mereka main di mal. Bersama mereka kita dapat main di mal yang akan segera dibangun dengan semua fasilitasnya".

Sang Putri tersenyum sabar mendengar argumen sang Pangeran. Kemudian ia meneruskan, "Iya Kakanda, kita lahir dan besar di kota ini. Sejak tahun delapan puluhan, supermaket muncul yang baru, mematikan yang lama. Supermarket Flora di Radin Intan, ia mati menyusul hadirnya King. Kehadiran Artomoro membunuh King, bahkan Queen. Dan Artomoro mati seiring hadirnya Moka."

Sembari tetap tersenyum, dia melanjutkan, "Kakanda, daya beli kita lemah sekali. Betapa tidak? Kini, kecuali Chandra, semua dimiliki orang Jakarta. Artinya uang kita tersedot ke Jakarta. Lengkap sudah derita rakyat Lampung. Sistem ekonomi kita, uang tersedot ke Jakarta. Orang kaya, pejabat kita kalau belanja ke Jakarta. Orang setengah kaya atau yang sok kaya belanja di supermarket. Linear banget kan, kalau menjamurnya mart itu mematikan pasar tradisional."

Mengubah Enggal menjadi ruang bisnis tidak saja menggerogoti ruang publik, tetapi juga menyakiti perasaan kolektif warga Lampung. GOR Saburai, menjadi tempat alternatif selain mal bagi anak-anak remaja karena di sana menjadi ajang kompetisi olahraga dan pentas seni. Pembangunan tidak berdimensi tunggal, ekonomi saja. Masih ada sisi lain; perspektif lingkungan, humanisme, budaya, sosial, dan memori kolektif orang Lampung. Kecuali kita menuruti nafsu hewani yang yang menggelegak buas pada dada pengusaha dan penguasa kita.

Sang Pangeran kini puyeng, antara cinta dan kekuasaan. Dia sadar sesadar-sadarnya, simbol kekuasaan yang melekat pada dirinya adalah daya tariknya. Sebagai anak demang, ia terlahir gagah nan rupawan. Seluruh fasilitas yang dimiliki eksekutif muda Jakarta ada padanya. Sudah lusinan ia tundukkan dara di kota dan desa hingga mancanegara. Tapi kini ia dibuat tak berkutik oleh gadis Enggal; Roro Jonggrang. Ego telah mendorongnya hingga ke jurang dilema. Dia tidak mungkin surut. Sebagai laki-laki ia pantang kalah. Tapi gimana caranya?

Mulailah ia gunakan otaknya hasil besutan Universitas London dan Melbourne. Mulailah ia menganalisis, tanganya mencatat dan memilah; pertama, bisnis saling memakan, rakyat kecil yang terjepit. Jadi, jika dibuat mal benarkah rakyat diuntungkan? Dua, birokrasi dan politisi lebih melayani kepentingan saudagar sehingga tak memihak rakyat kecil dan rakyat banyak. Jelas, Ki Demang, ayahnya, telah bersekongkol dengan pengusaha. Apa pun dalihnya. Tiga, tidak ada pihak yang dirugikan jika Lapangan Enggal dikembalikan ke pangkuan ibu pertiwi. Kemudian dia teringat, setiap event pameran bunga, selalu rame. Maka, inilah ide yang membuatnya cerah itu; Pameran Bunga.

Pameran Bunga


Setelah panitia dibentuk, iklan dipasang; di koran lokal dan nasional, televisi lokal dan televisi nasional, tidak lupa di internet. Pameran dan bursa bunga terbesar di Lampung. Berlangsung sepanjang 2008. Syarat mengikuti pemeran; harus mengikuti sepanjang tahun, setiap stan membuat taman sebagai pajangan dan contoh kembang yang dijual, setiap stan harus memadukan jenis tanaman keras dan tanaman hias. Ini yang terpenting; setiap stan tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus terintegrasi sedemikian rupa agar pengunjung merasa seperti di taman, bukan di pasar. Usai pameran, pohon dan kembang yang sudah ditanam menjadi milik panitia. Lokasi pameran; Lapangan Enggal, Bandar Lampung, Indonesia.

Pembukaan pameran soal mudah apalagi menjelang pilkada. Pagi itu, tanggal 5 Januari 2008, pameran dibuka ibu demang Lampung. Lapangan Enggal tumpah ruah. Peserta datang dari penjuru negeri. Kembang tidak kepalang elok variasi rupa, jenis, dan harganya. Karena menjelang pikada, pameran adalah ajang kampanye. Psikologi inilah yang dimanfaatkan sang Pangeran.

Pameran dibuka sang Ibunda Nyi Demang. Pas betul karena Ki Demang ingin bertarung dalam pilkada. Dalam sambutanya Nyi Demang menyatakan, "...Pameran ini diadakan anak-anak muda yang peduli dengan keindahan. Ketika mereka menghadap saya, saya sambut dengan sukacita ide yang luar biasa ini. (gayanya kampanye) Karena sesuai dengan program Pak Demang, sebagai pemimpin yang berpihak pada pengusaha kecil, dan peduli pada keindahan kota."

"Melalui pameran ini, kami mendukung ide sang Pangeran, bahwa pameran bunga ini akan berlangsung sepanjang tahun, bahkan saya punya usul, kenapa tidak sepanjang massa? Setelah menggeser kacamatanya yang aduhai, ia menarik napas dan melanjutkan lagi, bahkan saya setuju sekali jika lapangan ini menjadi taman kota."

Maka, gemuruhlah tepuk tangan hadirin, tanpa menyimak apa yang diucapkan Nyi Demang. Pak Demang dan tim suksesnya senyum simpul. Meski mukanya saling pandang penuh tanda tanya.

Peserta dan pengunjung datang dari berbagai negara dan daerah. Pameran berlangsung aman, preman tidak berani bertingkah karena tidak mau berurusan dengan sang Pangeran yang terkenal pemurah dan terlebih lagi sebagai ketua organisasi pemuda. Anggotanya mengamankan stan dengan baju loreng dan aksesorinya, khas paramiliter. Bahkan, aparat keamanan pun dikerahkan.

Hari-hari selanjutnya, sepanjang hari Taman Enggal menjadi tempat pertemuan yang nyaman bagi segala orang dari semua lapisan. Kaya, miskin, tua, muda. Apalagi hari Minggu dan hari libur. Gedung olahraga, di sebelahnya, bukan saja untuk olahraga, melainkan berbagai pertunjukan kesenian berkembang marak dan semarak. Olahraga Lampung pun maju.

Pagi-pagi sekali, pada 21 April 2008, rombongan ibu-ibu berkebaya berkumpul, mereka merayakan Hari Kartini di lapangan eh di Taman Enggal. Setelah kumpul hingga ribuan orang, mereka bergerak menuju gedung PKK ingin menyaksikan perkawinan agung abad XXI, perkawinan Putri Roro Jonggrang dengan Pangeran, Putra Ki Demang. Apa emas kawinnya? Dengan mantap Pangeran menjawab, "Taman Enggal sebagai maharnya."

Sejak itu, Enggal menjadi taman kota. Semua senang, dan bahagia. Selamat menempuh hidup baru.

* Jauhari Zailani, Dosen UBL, Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 April 2008

April 13, 2008

Landmark: Menara Siger Akhir April Diresmikan

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Peresmian Menara Siger di dekat Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, di Provinsi Lampung yang diharapkan menjadi landmark atau ikon daerah Lampung direncanakan pada akhir April 2008 ini.

"Saat ini panitia terus mempersiapkan dapat mengemas acara sebaik mungkin," kata Sekprov Lampung Irham Jafar Lan Putra, di Bandar Lampung, Sabtu (12-4).

Menurut Irham, sebagai ikon Lampung, keberadaan Menara Siger itu diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakat daerahnya secara luas.

Dia menyebutkan Lampung harus memiliki penanda dan ciri khas monumen seperti telah dikenal di daerah lain, di antaranya Palembang di Sumatera Selatan dengan Jembatan Ampera, atau Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.

Pada Menara Siger, lanjut dia, masing-masing kabupaten/kota akan menempatkan informasi tentang daerahnya, seperti objek dan potensi pariwisata, kebudayaan dan potensi investasi lainnya.

Menara Siger dibangun juga dengan menandakan ciri khas Lampung, seperti di sekitar tugu dibangun ruang-ruang yang menampilkan khazanah budaya daerah serta sarana-prasarana pariwisata lainnya.

Tugu Siger berwarna emas itu dibangun di kawasan bukit yang berada di sebelah kiri (timur) pintu masuk Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni yang dilengkapi dengan ruangan, tempat bagi wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni serta keindahan panorama laut dan alam sekitarnya.

Panjang menara tersebut sekitar 50 meter dengan lebar 11 meter, dan tinggi mencapai 30 meter yang tertulis "Anda Berada di Titik Nol Pulau Sumatera".

Pembangunan Menara Siger menggunakan dana sekitar Rp7,3 miliar itu, sempat menjadi polemik dan kontroversi, baik di kalangan masyarakat, politisi dan lainnya.

Namun Gubernur Lampung Sjachroedin ZP terus melaksanakannya, mengingat konsep tersebut tercetus jauh hari sebelum dirinya menjadi kepala daerah.

"Saya menyampaikan gagasan tersebut kepada Pak Anshori Djausal, pengajar di Fakultas Teknik Unila yang juga pemerhati masalah kebudayaan daerah Lampung yang kemudian merancangnya," kata dia, dalam beberapa kesempatan. n K-2

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 April 2008

March 28, 2008

Monumen: Pemkot akan Bangun Tugu Keripik Singkong

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemkot Bandar Lampung akan membangun tugu kawasan sentra keripik singkong di Jalan Pagar Alam. Sebelumnya Pemkot telah membangun dua tugu Pengantin, tugu Siger, dan tugu Durian.

Seperti pembangunan tugu sebelumnya, dana pembangunan tugu kawasan sentra keripik singkung 100 persen berasal dari bantuan pihak ketiga. "Kami sudah melakukan pembuatan desain tugu kawasan sentra keripik singkong tersebut. Dana pembangunannya berasal dari bantuan PTPN VII," kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Bandar Lampung Enny Wahyuni, Kamis (27-3).

Tujuan pembangunan tugu kawasan sentra keripik singkong (TKSKS), lanjut Enny, bertujuan lebih mengenalkan kawasan Gang PU (Jalan Pagar Alam) sebagai kawasan home industry keripik singkong yang kini sudah cukup dikenal.

"Jadi orang luar akan mengenal Bandar Lampung bukan hanya sebagai sentra keripik pisang, melainkan juga sebagai sentra pusat pembuatan keripik singkong yang terkenal kerenyahannya," kata Enny.

Nantinya, kata Enny, TKSKS itu akan dihiasi dengan neon box untuk mempercantik wajah kota terutama menuju kawasan home industry tersebut.

Masyarakat di kawasan itu akan merasa terpacu mengembangkan industri keripik singkong yang memiliki beragam rasa. Mulai rasa keju, rasa manis, dan rasa asin. "Kami akan memikirkan bantuan permodalan bagi usaha industri tersebut," kata mantan Kadis Pertanian dan Peternakan Kota itu.

Pembangunan TKSKS, nantinya juga menjadi kawasan pengembangan wisata seperti tugu Durian. Untuk itu, lanjut Enny, pihaknya juga akan melakukan kerja sama dengan biro perjalanan wisata, hotel, dan Dinas Pariwisata untuk mengajak wisatawan yang datang ke Bandar Lampung agar mau singgah ke kawasan industri singkong tersebut.

"Kita sudah memiliki wisata kuliner, wisata bahari, wisata gunung, dan wisata air terjun. Sekarang, kita akan memiliki juga kawasan wisata industri keripik singkong. Dan, ini akan terus kami kembangkan, terlebih industri keripik singkong yang ada kini, sudah mulai dikenal orang di luar Bandar Lampung," kata dia.

Terkait dengan kawasan wisata kuliner (KWK), Enny mengatakan pihaknya akan mengevaluasi. Jika hasil evaluasi dianggap berhasil dalam pengembangan KWK, dalam waktu dekat ini, pihaknya kembali akan mengajukan penambahan gerobak makanan untuk menambah jumlah pedagang yang ada di KWK.

"Kami juga akan mengajak Bakso Soni untuk ikut berjualan di Katamso KWK sebagai bentuk kepedulian pengembangan wisata kuliner yang ada di Bandar Lampung," ujarnya.

Ke depan, diharapkan ada satu produk makanan yang bisa mengingatkan wisatawan akan Kota Bandar Lampung. Misalnya pempek, orang akan mengenal Kota Palembang atau rendang orang akan mengingat Kota Padang. n KIM/K-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 28 Maret 2008

February 6, 2008

Land Mark: Masyarakat Bangun Tugu Durian

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno meletakkan batu pertama pembangunan Taman Tugu Durian, di Simpang Tiga Jalan Radin Imba Kesuma Ratu--Jalan Agus Salim, Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, sekitar pukul 10.00, Selasa (5-2). Diharapkan, adanya Taman Tugu Durian menjadikan Bandar Lampung kota wisata durian.

Camat Tanjungkarang Barat Nursyamsu Gani mengatakan dibangunnya Taman Tugu Durian di Kelurahan Sukadanaham karena kawasan tersebut merupakan sentra tanaman durian di Bandar Lampung. Pihak kecamatan juga ingin menjadikan tempat ini sebagai kawasan agrowisata durian.

"Pembangunan Taman Tugu Durian merupakan hasil swadaya masyarakat Tanjungkarang Barat, dengan perkiraan biaya pembangunan sebesar Rp90 juta--Rp100 juta. Sudah banyak pengusaha yang akan memberikan bantuan pembangunan Taman Tugu Durian tersebut," kata Nursyamsu Gani.

Bantuan tersebut, berasal dari H. Ridwan Nasution sebesar Rp15 juta. Sedangkan bantuan lain yang sudah menyatakan akan memberikannya dalam waktu dekat, Bupati Lampung Tengah Andi Achmad Syampurnajaya, Thomas Riska, Haryono Utomo, dan Anang Sukiman.

"Sedangkan tanah pembangunannya pemberian Camat Tanjungkarang Barat," kata Nursyamsu, menyebut dirinya sendiri.

Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan jika dilihat dalam gambar tampaknya pembangunan Taman Tugu Durian akan memberikan ciri khas durian asal Kota Tapis Berseri. Namun, dia berharap agar pembangunan Taman Tugu Durian tidak memakan waktu lama.

"Dengan adanya Taman Tugu Durian tersebut, saya berharap akan menumbuhkan minat warga Bandar Lampung untuk terus membudidayakan tanaman tersebut. Dengan demikian, Bandar Lampung benar-benar akan menjadi kawasan agrowisata durian dan menjadi salah satu sentra durian di Lampung," kata Eddy.

Eddy meminta masyarakat Sukadanaham dapat terus mengembangkan budi daya durian dengan citra rasa yang khas. "Saya berharap, contoh buah durian yang diberikan hari ini, benar-benar merupakan durian lokal yang bisa terus dikembangkan," kata dia.

Ketua Pelaksana Pembangunan Taman Tugu Durian yang juga Sekretaris Camat (Sekcam) Tanjungkarang Barat Romas Yadi mengatakan salah satu ciri khas yang akan tampak pada taman ini adalah berdirinya Taman Tugu Durian. Satu bentuk tiruan buah ini akan ditempatkan pada puncak tugu.

"Seperti diketahui, buah durian merupakan potensi unggulan Kelurahan Sukadanaham. Bila sedang musimnya, kebanyakan warga setempat juga beralih profesi sebagai pedagang durian musiman. Mayoritas warganya juga punya kebun durian," kata Romas. n KIM/*/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 6 Februari 2008

February 1, 2008

Pustaka: Mustafa 'Launching' Buku Konstruksi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Praktisi Konstruksi Ir. Mustafa, M.H., I.P.M., akan meluncurkan buku berjudul Menuju visi Indonesia 2030, Konstruksi Lampung Prespective di Auditorium Gedung Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL), Sabtu (2-2).

Acara akan dilanjutkan dengan bedah buku dan diskusi ilmiah mengenai peranan konstruksi dalam pembangunan Lampung ini menampilkan pembicara staf ahli Menristek Prof. Carunia Mulya, Ir. Mustafa, M.H., dan dosen pascasarjana Teknik UBL Lilies Widojoko. Selain kalangan dosen, hadir juga dalam acara tersebut para praktisi konstruksi yang tergabung dalam asosiasi dan birokrat di Lampung.

Menurut Ketua Panitia, Sony Isnaini, kegiatan ini merupakan rangkaian roadshow Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Lampung. Sebelumnya acara diskusi ilmiah digelar di kota Metro dengan tema pendidikan. Kini tema yang diangkat mengenai konstruksi. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi di Tanggamus bertema lingkungan. "Diskusi akan dilanjutkan di sepuluh kabupaten/kota di Lampung," ujarnya didampingi Sekretaris Panitia Ir. Sugirianto, M.M., yang juga ketua ADI Metro, kemarin (31-1).

Para peserta, kata Soni, akan mendapatkan sertifikat yang diharapkan dapat digunakan menambah portofolio bagi sertifikasi guru dan dosen.

Sementara itu, Mustafa mengatakan peluncuran buku ini sekaligus mengingatkan pelaku konstruksi di Lampung dalam setiap pekerjaan berpedoman pada visi Indonesia 2030. "Jangan sampai pembangunan yang dilakukan ini tidak mengarah pada visi Indonesia 2030, termasuk membangun jembatan Selat Sunda," kata dia.

Mustafa juga mengingatkan perlunya koordinasi pembangunan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, khususnya dalam bidang konstruksi. "Dengan perencanaan dan pembahasan semua pihak, praktisi, dosen, dan birokrat, kita tidak akan melihat pembangunan yang bongkar pasang," ujarnya. n UMB/S-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 1 Februari 2008

January 30, 2008

Ikon Kota: Tugu Durian Dibangun di Sukadanaham

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Wajah Bandar Lampung kembali akan dihiasi tugu sebagai bangunan ikon kota. Bangunan itu berupa taman dengan Tugu Durian yang akan ditempatkan di Kelurahan Sukadanaham, tepatnya di perempatan antara Jalan K.H. Agus Salim, Radin Imba Kesuma, dan menuju ke arah PDAM Way Rilau.

Pihak Kecamatan Tanjungkarang Barat mengaku sedang mempersiapkan pembangunan taman dengan dana hasil swadaya warga setempat. Program ini juga menjadi terobosan dalam menyongsong Adipura, selain terus menggalakkan Ayo Bersih-Bersih.

"Kita harapkan partisipasi warga, khususnya Kecamatan Tanjungkarang Barat dan umumnya Kota Bandar Lampung untuk membantu terwujudnya program ini," kata Sekretaris Camat (Sekcam) Romas Yadi, Selasa (29-1) di ruang kerjanya.

Tak hanya warga, ia pun mengimbau bagi para pengusaha agar juga bersedia mendukung pembangunan taman ini. Diperkirakan pembangunan itu akan menelan biaya Rp90 juta.

Salah satu ciri khas yang akan tampak pada taman ini adalah berdirinya Tugu Durian. Dua bentuk tiruan buah ini akan ditempatkan pada puncak tugu. Seperti diketahui, buah durian merupakan potensi unggulan Kelurahan Sukadanaham.

Bila sedang musimnya, kebanyakan warga setempat juga beralih profesi sebagai pedagang durian musiman. "Mayoritas warganya juga punya kebun durian," kata Romas.

Peletakan batu pertama pembangunan taman rencananya akan dilakukan Wali Kota Eddy Sutrisno awal Februari mendatang.

Warga dan tokoh masyarakat setempat diakui Sekcam Romas cukup antusias menyambut program ini, salah satunya adalah Alfian, warga Kelurahan Segalamider.

Beberapa waktu sebelumnya, pihak kecamatan telah menjalankan program pengadaan pot-pot bunga di kantor-kantor kelurahan, termasuk kecamatan.

Beberapa ornamen-ornamen Lampung dipajang di dinding kantor dalam rangka pelestarian budaya. Selain itu, slogan-slogan ajakan dan imbauan juga dipasang di mulut-mulut gang dan tempat yang strategis.

Beberapa di antaranya berbunyi "Jangan Buang Sampah Sembarangan, Sampah Sumber Penyakit, dan Kebersihan Sebagian dari Iman." n */K-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 Januari 2008

December 23, 2007

Khazanah: Menelusuri Arsitektur Rumah Suku Komering

-- Erwan Suryanegara bin H Asnawi*

KOMERING merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung.

Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras.

Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak.

Berdasarkan temuan dan analisa sejarah, Dusun Minanga Tuha, di daerah marga Semendawai Suku I, atau dusun keenam dari Dusun Gunung Jati diperkirakan merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya bagian awal. Sedangkan Palembang diyakini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian tengah, dan Jambi sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian akhir. Kala itu, Minanga Tuha, sebagai kota pelabuhan, atau tempat berlangsungnya aktivitas bongkar dan muat barang serta bersandarnya kapal-kapal Sriwijaya maupun kapal-kapal asing yang memiliki baik hubungan dagang, politik, budaya, maupun religi dengan Sriwijaya.

Sejak abad pertengahan, suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tandipulau, yang menjadi tamu di daerah marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering. Tandipulau berlabuh dan menetap di daerah marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan.

Tandipulau dalam bahasa Komering berarti 'tuan di pulau'. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut.

Rumah tradisi Komering

Salah satu tanda kebudayaan Komering dari masa lalu, yang hingga kini tetap terjaga adalah rumah. Pada masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, memiliki atau mengenal dua jenis rumah tempat tinggal yang bersifat tradisional, yakni rumah ulu dan rumah gudang.

Berdasarkan struktur bangunan, antara rumah ulu dan rumah gudang pada prinsipnya sama, tapi pembangunan rumah gudang umumnya cenderung mengalami beberapa modifikasi, dan tidak patuh lagi seperti rumah-rumah ulu, terutama untuk arah hadap seperti hulu (utara), liba(selatan), darak (barat), dan laok (timur). Perbedaan lainnya, pada rumah gudang, selalu dibuat atau ada ventilasi yang posisinya tepat berada di atas setiap pintu dan jendela, sedangkan pada rumah ulu tidak mengenal ventilasi udara.

Baik rumah gudang maupun rumah ulu merupakan jenis rumah panggung atau rumah yang memiliki tiang penyangga. Bahan utama pembuatan rumah gudang dan ulu adalah kayu atau papan.

Lantaran rumah gudang Komering lebih muda jika dibandingkan dengan rumah ulu, rumah ini sudah mengenal dan menerapkan kombinasi antara bahan kayu dan paku, kaca, cat, porselen atau marmer, genteng, dan semen. Misalnya banyak tangga atau disebut ijan mukak rumah gudang yang terbuat dari semen berlapis keramik, atau daun pintu dan jendelanya sudah dikombinasikan dengan kaca. Bahkan, kecenderungan akhir-akhir ini, rumah gudang sudah menggunakan tiang penyangga teknik cor beton dan atau batu bata, yang sebelumnya dari gelondong. Dan, di antara tiang rumah umumnya sudah pula diberi dinding semi permanen atau permanen, kemudian dijadikan tempat tinggal atau lambahan bah (rumah bawah). Mengingat bahan kayu yang saat ini semakin langka dan mahal, tampaknya masyarakat Komering lebih banyak memilih atau membangun jenis rumah gudang.

Rumah ulu sepenuhnya menggunakan bahan kayu atau papan. Tiang penyangga menggunakan gelondongan, lalu tangga, dinding, pintu, dan jendela menggunakan papan. Atap rumah dibuat dari daun enau dengan teknik rangkai-tumpuk. Tapi mengingat daya tahan dan gampang terbakar, sekarang atap daun enau ini diganti atap genteng.

Sambungan kayu pada rumah ulu tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu atau bambu, termasuk untuk engsel pintu, dan jendelanya juga masih menggunakan teknik engsel pasak. Mengingat bahan kayu yang saat ini mahal dan langka, sejak tiga dasawarsa terakhir, masyarakat Komering mulai jarang membangun rumah ulu.

Berdasarkan struktur bangunannya, rumah ulu terbagi atas tiga bagian, yakni bagian depan (garang), rumah bagian tengah atau utama (ambin, haluan, dan kakudan) serta rumah bagian belakang (pawon). Bagi masyarakat Komering, rumah tengah atau utama bersifat sakral, sedangkan garang atau pawon bersifat profan sehingga pada pintu depan (rawang balak) dari garang ke haluan, dan juga pada pintu belakang (rawang pawon) dari kakudan ke pawon, konstruksi kusen pintunya dibuat tinggi atau ada langkahan (ngalangkah). Rumah tengah atau utama dibagi menjadi tiga ruang, yaitu ambin atau kamar tidur, haluan, dan kakudan.

Berdasarkan struktur lantai pada rumah ulu, dapat diketahui setiapruang memiliki hierarkis yang ditandai peninggian atau merendahkan lantai ruangannya.

Ambin memiliki kedudukan yang tertingggi (dunia atas), selanjutnya haluan dan kakudan (dunia tengah) serta garang dan pawon (dunia bawah). Untuk lantai haluan sama tinggi dengan lantai kakudan , dan di antara keduanya tidak terdapat dinding.

Berdasarkan hierarki rumah ulu, haluan memiliki tingkatan yang sama dengan kakudan, namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Haluan (perempuan) dan kakudan (laki-laki). Sebagai penanda bahwa adanya perbedaan fungsi antara haluan dan kakudanp>, di antara lantai haluan dan kakudan diberi kayu balok panjang yang posisinya melintang, dan di atasnya ada sangai (tiang), sebagai perantara haluan dengan kakudan.

Sedangkan untuk lantai garang dan pawon (dunia bawah) posisinya paling rendah baik dari lantai ambin, haluan, maupun kakudan. Haluan posisinya berada di tengah-tengah rumah ulu, diapit dari arah sebelah laok-darak (barat-timur) dan hulu-liba/hilir (utara-selatan), yakni oleh ambin-kakudan dan garang-pawon.

Ambin (kamar tidur) memiliki kedudukan tertinggi dan suci, sejalan dengan pandangan masyarakat Komering bahwa keluarga harus dijunjung tinggi kesucian dan kehormatannya. Karenanya, dalam struktur rumah ulu, posisi ambin di sebelah laok (barat=arah salat/kiblat).

Haluan adalah perempuan, sedangkan kakudan adalah laki-laki, itulah sebabnya balai pari (lumbung padi = perempuan) posisinya tepat di bawah haluan, dan kandang hewan berada di bawah kakudan (tanduk =laki-laki).

Dalam sebuah acara adat yang disebut Ningkuk, haluan hanya diperuntukkan bagi perempuan dan kakudan tempat laki-laki. Jika ada pemuda yang bertamu ke rumah seorang gadis, si pemuda hanya boleh duduk di kakudan, dan si gadisnya harus berada di haluan. Untuk tamu yang baru dikenal biasanya akan dijamu di garang, sedangkan untuk tamu-tamu yang sudah dikenal baik oleh tuan rumah, biasanya akan dipersilakan masuk dengan melangkah rawang balak (hubungan darah dan mentalitas kelompok atau keluarga).

Dalam upacara adat melamar, ketika pihak keluarga calon besan mempelai laki-laki baru datang, terlebih dahulu mereka akan ditempatkan di garang, setelah menjalani beberapa prosesi, barulah rombongan dapat dipersilakan masuk ke rumah tengah atau utama, dalam hal ini haluan untuk perempuan dan kakudan bagi laki-laki. Demikian pula pada saat akan melangsungkan akad nikah, posisi duduk calon mempelai laki-laki harus di kakudan, sedangkan calon mempelai wanita di haluan. Setelah selesai akad nikah, baru kedua mempelai dipersandingkan di pelaminan yang berada di ruang haluan, posisi atau arah hadap pelaminan tempat kedua mempelai bersanding biasanya ke utara atau hulu.

* Erwan Suryanegara bin H Asnawi, perupa

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 23 Oktober 2007