Showing posts with label polemik. Show all posts
Showing posts with label polemik. Show all posts

January 20, 2014

Huruf R (Ra) dalam Bahasa Lampung

Oleh Novan Saliwa


Novan Saliwa
SANGAT menarik membaca tulisan Diandra Natakembahang berjudul Perdebatan Penggunaan Kh dan Gh dalam Penulisan Kotakata Lampung, yang dimuat Lampung Ekspres Plus, 13 dan 15 Januari 2014 di halaman 1. Terus terang saya yang di Yogyakarta tidak mempunyai akses membaca yang dimuat di Lampung Ekspres Plus. Tapi, syukurlah beliau telah menyebarkan tulisannya itu dalam bentuk catatan Facebook (10/01/2014), sehingga saya bisa membacanya secara utuh, termasuk menyimak komentar-komentar di dinding Facebook Diandra.

Sebelum masuk ke isi tulisan, judul ini saya pinjam dari catatan Facebook Udo Z. Karzi (07/06/2013) berjudul sama. Semoga Udo tidak keberatan. Lalu, saya baca judul tulisan Diandra: Perdebatan Penggunaan Kh dan Gh dalam Penulisan Kosakata Lampung. Kalau melihat judul itu, seolah terjadi "pertengkaran" antara pengguna huruf kh dan pemakai huruf gh. Barulah ketika saya membaca artikelnya, saya mafhum bahwa Diandra justru meributkan penggunaan huruf r (ra) dalam penulisan bahasa Lampung. Dan, yang menjadi sasaran tembak adalah Udo Z. Karzi.

January 15, 2014

Perdebatan Penggunaan Kh dan Gh dalam Penulisan Kosa Kata Lampung

Oleh Diandra Natakembahang


Diandra Natakembahang
PERBALAHAN dalam penggunaan huruf r versus kh dan gh sepertinya masih juga berlangsung, Udo Karzi sebagai salah satu penulis yang kerap mengusung tema ke’Lampung’an masih juga  ngotot mengklaim bahwa penulisan r bagi kosakata Lampung yang berlafal kh atau gh adalah yang sah dan paling benar. Benarkah demikian? Udo menguatkan pembenaran argumennya dengan mengutip pendapat beberapa akademisi seperti Ir Irfan Anshory, Junaiyah H.M, Prof Frederik Holle, Prof Gijsbertus de Casparis hingga H.N. Van Der Tuuk, Udo juga mengutip manuskrip manuskrip Lampung terdahulu sepertimana yang tercantum dalam Les Manuscrifts Lampongs-nya H.N. Van De Tuuk. Padahal sebenarnya sejak era kolonial yang berarti sebelum ejaan EYD digunakan pada medio 1972, justru telah dikenal penggunaan ch sebagai penulisan kosakata yang berlafal kh, sebagaimana di Lampung juga pada era keresidenan telah menggunakan penulisan ch pada teks teks berbahasa Lampung termasuk dokumen dokumen seperti Besluit [Surat Keputusan].


September 25, 2013

[Surat Pembaca] Muhammad Ridho Ficardo Bagian dari Penyimbang Adat Pepadun

MENANGGAPI surat pembaca yang terbit di Lampung Post, Rabu (18-9), dengan judul Mempertanyakan Kepenyimbangan Adat Muhammad Ridho Ficardo. Tokoh Adat Kotabumi Ilir Marga Nunyai, Lampung Utara (Lampura), gelar Nadikiyang Suttan Minak Yang Abung, Akuan Abung, sangat menyayangkan adanya pernyataan yang dibuat Yan Murod, gelar rajo setio buai kunang rio limo, Gedongmeneng, Bandar Lampung.

Di dalamnya menyatakan Ridho Ficardo, gelar suttan rajo adat, tidak pantas sebagai penyimbang Adat Pepadun, bahkan dirinya mempertanyakan kembali pemahaman dan pengetahuan beliau tentang tata titi adat, khusus Lampung Pepadun.


September 19, 2013

Etika Profesi: Organisasi Profesi Harus Jaga Martabat

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Organisasi profesi harus bisa menjaga martabat dan kepercayaan (trust) di tahun politik saat ini.

Godaan politik uang jangan sampai menggerus idealisme profesi, terlebih jika dilakukan hanya demi kepentingan sesaat. "Organisasi profesi yang tidak bisa menjaga trust harus ditata ulang," kata akademisi Universitas Lampung, Sudjarwo, melalui sambungan telepon, Rabu (18-9).


September 18, 2013

[Surat Pembaca] Mempertanyakan Kepenyimbangan Adat Muhammad Ridho Ficardo

PARA penyimbang adat Pepadun mempertanyakan status/setara kedudukan/Hejong Ridho Ficardo sebagai penyimbang adat Pepadun. Hal ini terkuak dalam pertemuan silaturahmi/halalbihalal penyimbang Saibatin masyarakat adat Lampung pada 14 September 2013, di Istana Kuning Kerajaan Skala Brak, di Sukarame, Bandar Lampung, yang diselenggarakan oleh Pangeran Edwarsyah Pernong Sultan Kerajaan Skala Brak ke-23.

Pada acara tersebut protokol mengumumkan kehadiran tamu undangan, antara lain Kapolda Lampung Brigjen Heru Winarko, Ricko Menoza S.Z.P. kapasitas selaku bupati Lampung Selatan, Mukhlis Basri kapasitas selaku bupati Lampung Barat, dan Ridho Ficardo kapasitas selaku Partai Demokrat Lampung. Kemudian, Abdurrachman Sarbini selaku wakil dari Megow Pak Tulangbawang, Wakil Pimpinan Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat, Kol. Czi. Amalsyah Tarmizi, dan tokoh masyarakat beserta para penyimbang marga dan Saibatin marga se-Provinsi Lampung.


September 17, 2013

Tokoh Adat Bantah Dukung Cagub

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perwakilan adat dari Paksi Pak Skala Brak membantah acara halalbihalal dan silaturahmi yang digelar di Lamban Gedung Kuning, Sukarame, Bandar Lampung, Minggu (15-9), mendukung salah satu calon gubernur Lampung.

Panitia acara, Damanhuri Fattah, menegaskan pertemuan tersebut hanya sebatas halalbihalal dan silaturahmi empat paksi, yang meliputi Belunguh, Pernong, Bejalan di Way, dan Nyerupa. Selain itu, hanya ada acara penyerahan lambang kerajaan Skala Brak kepada kepala pemerintahan di Lampung.


September 16, 2013

Saibatin dan Pepadun Harus Bersatu

BANDAR LAMPUNG (Lampost):  Lampung harus bersatu dan menjadi contoh bagi suku lainnya. Tidak ada lagi pengelompokan diri antara Saibatin dan Pepadun.

Demikian dikatakan Raja Kerajaan Sekala Brak Edwardsyah Pernong saat halalbihalal dan silaturahmi para sebatin marga dan para penyeimbang marga dengan Sultan Paksi Pak Kerajaan Skala Brak Lampung, di Sukarame, Sabtu (14-9).


June 24, 2013

Sadar Diri akan (Sejarah) Kelampungan

Oleh Karina Lin


Lampung Post, 29 Mei 2013 lalu memuat opini Mengkaji Lampung secara Komprehensif, ditulis Parjiono. Jujur, tulisan tersebut membuat kening saya berkerut antara tanda bingung dan tidak setuju. Mengapa?

Parjiono dalam awal paragrafnya menulis demikian; membaca opini Andry Saputra (Lampost, 11/5/2013) berjudul Horison Lampung untuk Kaum Muda, sebelumnya opini Darojat Gustian Syafaat (Lampost, 24/4/2013) yang berjudul Menyegarkan (Kembali) Rumusan Kelampungan dan Hardi Hamzah (Lampost, 5/5/2013) berjudul Obsesi Punahnya Lampung?, tampaknya ketiga penulis tersebut belum secara komprehensif mengulas buku Udo Z. Karzi.


June 19, 2013

Sumber Mata Air Kebudayaan Lampung

Oleh Asarpin


MISI kebudayaan yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah daerah dalam beberapa kesempatan dan pertemuan nasional, tidak lain adalah misi kesenian, bahkan lebih sempit lagi misi pertunjukan seremonial. Kebudayaan jelaslah bukan kesenian, bukan pertunjukan, meskipun seni bisa merupakan salah satu aspek kebudayaan.

Di sini saya hendak menekankan sisi yang lain yang belum banyak dieksplorasi. Jika saya mengajak untuk menggali sumber mata air kebudayaan Lampung,  maka tujuan saya adalah: (1) dalam rangka mencari kearifan-kearifan lokal melalui narasi kebudayaan sebagai perspektif alternatif terhadap kemajemukan budaya di Lampung; (2) dalam rangka mencari solusi atas konflik dan kekerasan baik atas nama suku, etnis maupun budaya dan agama; (3) untuk memikirkan secara bersama-sama kompleksitas budaya multikultural di Lampung sehingga dapat menjadi cermin bagi kearifan dan keharmonisan dalam keragaman.


June 16, 2013

Memperhitungkan Pasar Budaya

Oleh Syaiful Irba Tanpaka


Semakin keringnya Negeri Penyair dari kajian budaya mengundang kekangenan para seniman untuk berkenduri menderes tetesan kejernihan khazanah budaya Lampung. Sebulan sekali, mereka berembuk demi bernasnya setiap tapak seni di Lampung.

REMBUK Seniman-pertama-yang diselenggarakan Lampung Post sekitar sebulan lalu terus menumbuhkan "kegalauan" terhadap pengembangan potensi seni budaya Lampung yang sesungguhnya demikian kaya dan beragam. Berbagai pandangan seniman, budayawan, praktisi pers, politisi, mahasiswa, dll. peserta yang hadir waktu itu menunjukkan sikap kepedulian dan tanggung jawab besar sebagai pelaku kebudayaan Lampung. Sasarannya adalah bagaimana kebudayaan Lampung dapat berkembang secara kondusif serta diapresiasi oleh masyarakat luas, baik nasional maupun international.


June 10, 2013

Lampung Pisau Tajam dalam Sarung

Oleh M. Benyamin E. Djauhar


MUTIARA yang tersebar dari rangkaian kata-kata yang berubah menjadi kalimat sedemikian dinamis ketika para pembaca Opini menanggapi buku Udo Z. Karzi berjudul Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (terbitan Indepth Publishing, Mei 2013). Tanggapan-tanggapan tersebut tentu saja menyenangkan kita sebagai masyarakat Lampung. Tanggapan-tanggapan yang ada menunjukkan bahwa betapa respeknya para pembaca terhadap usaha-usaha membangun masyarakat di ujung Pulau Sumatera ini.

Fenomena itu tentu saja menarik. Kehausan terhadap pembangunan Lampung dalam arti yang sebenarnya derapnya semakin kencang, terlebih lagi ekslarasi ini datangnya dari generasi muda. Penulis katakan menarik karena polemik ini hadir di tengah tahun politik, tahun tempat tradisi, kebudayaan, dan masyarakat semata-mata menjadi komoditas politik.


May 29, 2013

Mengkaji Lampung secara Komprehensif

Oleh Parjiono


MEMBACA opini Andry Saputra (Lampost, 11 Mei 2013) berjudul Horison Lampung untuk Kaum Muda, sebelumnya opini Darojat Gustian Syafaat (Lampost, 24 April 2013) yang berjudul Menyegarkan (Kembali) Rumusan Kelampungan, dan tulisan Hardi Hamzah (Lampost, Jumat 5 Mei 2013) berjudul Obsesi Punahnya Lampung?, tampaknya ketiga penulis tersebut belum secara komprehensif mengulas buku Udo Z. Karzi, Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (2013).

Mengapa saya katakan belum komprehensif, karena banyak kajian yang menggigit dalam buku itu secara esensial belum terbahas. Misalnya saja pada halaman 22 dan 23, Udo Z. Karzi menulis dengan subjudul Unila sebagai Pusat Kebudayaan Lampung. Di situ dituturkan Udo tentang kekhawatirannya terhadap kepunahan bahasa Lampung.


May 18, 2013

Merenungkan Keluhuran Adat Lampung

Oleh Novan Saliwa


BAGI seorang pemuda yang ingin belajar banyak tentang makna Lampung dan kelampungan, sangat baik kiranya dapat menjalin komunikasi terhadap sosok Udo Z. Karzi yang telah lebih dahulu berkecimpung di berbagai forum dan analisis tentang Lampung. Dia juga mendokumentasikan segala bentuk persepsi masyarakat mengenai Lampung melalui blog ulunlampung. Bahkan, Udo Zul telah menerbitkan buku tentang kelampungan.

Komunikasi itu mampu membuka cakrawala kita mengenai Lampung dari sudut pandangnya selaku sastrawan, yang juga telah lama hidup berdampingan dengan tradisi Lampung di tanah kelahirannya, Pekon Negarabatin, masuk wilayah adat Marga Liwa. Ini terbukti dengan terbitnya buku Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (diterbitkan Indepth Publishing, April 2013).


May 15, 2013

Advokat Kebudayaan Lampung

Oleh Asarpin


SEORANG advokat kebudayaan umumnya memiliki kecenderungan sebagai seorang pembela gigih nilai-nilai budaya yang diyakninya benar.  Maka tak heran jika di antara mereka ada yang menjadi pemuja kebudayaan lokal, sekaligus menjadi pejuang gigih warisan kebudayaan primordial. Dalam sikap dan tindakannya, para advokat kebudayaan model ini sangat apologetik dan eksklusif. Mereka akan mempertahankan mati-matian apa yang diyakini benar tanpa mau membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan pihak lain.

Seorang advokat memiliki kecenderungan berdebat dan mengkritik. Bagi mereka, perdebatan adalah ajang unjuk kebolehan argumentasi, unjuk keilmiahan teori, dan ajang memojokkan lawan yang dianggap berbeda dan tak sepaham. Sementara kritik bagi mereka menjadi semacam keharusan untuk membangun wacana kritis di bidang kebudayaan.


May 11, 2013

Horison Lampung untuk Kaum Muda

Oleh Andry Saputra

SANGAT menarik membaca tulisan Darojat Gustian Syafaat berjudul Menyegarkan (Kembali) Rumusan Kelampungan (Lampung Post, 24 April 2013) dan tulisan Hardi Hamzah berjudul Obsesi Punahnya Lampung? (Lampung Post, 3 Mei 2013).

Dua tulisan yang membahas buku Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan, karya Udo Z. Karzi (diterbitkan Indepth Publishing, April 2013), membuat saya merenung apakah kita sedang berada di penghujung kekuatan atau kelemahan.


May 5, 2013

Budaya Lampung Versus Budaya Global

Oleh M. Benyamin E. Djauhar


AKULTURASI budaya yang semakin njlimet di indonesia mengingatkan penulis pada Umar Kayam, yang menuturkan bahwa pertumbuhan budaya yang semestinya berstandar pada hakikat kebudayaan dan tradisi rakyat.

Ya, kebudayaan kita njlimet karena berbaur dengan menguatnya kebudayaan massa yang jauh dari prospek pertumbuhan jati diri bangsa. Gencarnya dunia informatika yang telah dijuluki ?tuhan kedua? simultan menggeser nilai-nilai tradisi dan budaya kita yang semakin rapuh. Budi pekerti yang disirnakan oleh proses tonggak reformasi yang mencabik nilai nilai hakiki kita, suka atau tidak suka telah merampas spiritualitas secara universal.


May 3, 2013

Obsesi Punahnya Lampung?

Oleh Hardi Hamzah


KEGELISAHAN Udo Z. Karzi (selanjutnya disebut Udo), memang patut mendapat perhatian kita bersama. Udo terus memetakan Lampung dalam artian yang sebenarnya.

Betapa pun, torehan-torehan yang hadir dari bukunya yang berjudul Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (Indepth Publishing, April 2013) menggugah cakrawala kesadaran kita, di mana, apa, dan  bagaimana mengidentifikasi Lampung secara metodelogis dan terukur dalam dimensi kesejarahan dan keilmuan.


April 28, 2013

[Buku] Pergulatan Udo Z Karzi untuk Kelampungan

Data buku
Feodalisme Modern, Wacana Kritis
tentang Lampung dan Kelampungan
Udo Z Karzi
Indepth Publishing, Bandar Lampung
I, April 2013
xii + 144 halaman
HARUS diakui bahwa pembicaraan tentang Lampung sebagai etnis (ethnic) yang inhern di dalamnya masyarakat (society), bahasa (language), sastra (literature),  kesenian (art),  adat-istiadat (customs) , kebiasaan (habit), dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan (culture) Lampung yang mahakompleks; boleh dikatakan sangat minim. Dalam skala nasional, kebudayaan Lampung boleh dibilang selalu luput dari perhatian.


Pertanyaan yang cukup keras adalah benarkah apa yang disebut dengan kebudayaan Lampung itu ada. Bukankah yang muncul di permukaan selama lebih seremoni-seremoni yang cenderung simbolik dan jauh dari esensi dari keberadaan adat (baca: kebudayaan) Lampung itu sendiri? Yang lebih kelihatan dari  ulun Lampung adalah klaim-klaim pihak-pihak tertentu atau sebaliknya, acap kali ada tendensi untuk meniadakan kebudayaan Lampung. Dan, yang paling sering adalah pemaknaan sporadis dan “menyesatkan” dari adat Lampung itu sendiri.


April 24, 2013

Menyegarkan (Kembali) Rumusan Kelampungan

Oleh Darojat Gustian Syafaat


BUKU Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan yang ditulis Udo Z. Karzi (diterbitkan Indepth Publishing, April 2013) menjadi suatu sumbangan pemikiran yang patut dikaji secara mendalam lagi, terutama oleh masyarakat Lampung sendiri.

Buku ini tampaknya memang interpretasi yang muram tentang Lampung dan kelampungan. Di dalamnya Udo Z. Karzi menggambarkan secara dramatis ulun Lampung yang bersikukuh untuk disebut sebagai “kesatuan (masyarakat) yang sekiranya (akan) sadar-diri mengenai keberasal-usalannya”. Namun, terus menerus mengalami kekisruhan akibat munculnya guncangan-guncangan yang mengakibatkan mandeknya penyegaran pemikiran yang murni  demi kemajuan ulun Lampung itu sendiri.


January 8, 2011

Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung

Oleh Kiky Rizkhi Aprillia


SEBUAH cita-cita besar disuguhkan Iwan Nurdaya-Djafar di halaman ini dalam esai berjudul Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung (Lampung Post, 31 Desember 2010). Secara komprehensif Iwan membedah satu per satu kamus bahasa Lampung yang (pernah) ada.

Saya hanya ingin menyebut ulang dan sedikit menambahkan beberapa kamus Lampung yang sudah terbit. Berdasarkan penelusuran pustaka, kamus bahasa Lampung yang pertama disusun M. Noeh, Haris Fadilah gl P. Balik Jamon. 1979. Kamus Umum Bahasa Lampung-Indonesia. (Bandar Lampung: Universitas Lampung). Lalu berturut-turut