Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

January 5, 2014

Kisah Indonesianis Pembuka Pandora Bahasa Lokal

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro


Semua yang telah dikerjakan untuk bahasa-bahasa Nusantara sama sekali tidak berharga dan tidak akan ada perubahan selama orang tidak mempelajarinya untuk kepentingan-kepentingan bahasa itu sendiri.

Film Risalah Van Der Tuuk yang dibuat berdasar hasil riset sastrawan
Lampung, Arman A.Z. yang sekaligus menjadi produser ini disutradarai
Irwan Wahyudi. Film ini mengisahkan kiprah sosok van der Tuuk
indonesianis yang punya perhatian pada bahasa-bahasa lokal Nusantara,
antara lain bahasa Batak, Lampung, Bali, dan Jawa kuno (Kawi).
KEHADIRAN film Risalah Van Der Tuuk setidaknya menjadi kunci pembuka kotak pandora bahasa-bahasa Nusantara yang selama ini sepi dibincangkan. Konon bahasa-bahasa nusantara yang ada kini sebagian terancam punah karena ditinggalkan penuturnya.


September 4, 2013

Lampung Heritage Putar Film "Risalah Van der Tuuk"

TRIBUNLAMPUNG.co.id-Lampung Heritage akan menggelar pemutaran film dokumenter "Risalah Van der Tuuk", orang Belanda yang kali pertama membuat kamus bahasa Lampung. Sayangnya, manuskrip tersebut tak sempat dicetak.

Teguh Prasetyo dari Lampung Heritage mengatakan pemutaran akan dilakukan di Cafe Dawiels, Minggu (8/9/2013), yang akan datang, mulai pukul 19.00 WIB. Pemutaran ini, bertepatan dengan peringatan Hari Aksara yang jatuh pada tanggal 8 September.


May 16, 2013

Genta Kencana Open Casting Film

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Genta Kencana Entertainment (GKE), sebuah Rumah Produksi (Producion House) hadir menyemarakkan kehidupan dunia perfilman di Lampung. Komitmennya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan karakter bangsa.

Menurut Direktur GKE, Agus Effendi mengatakan, sebagai “gebrakan” tahun ini, GKE membuka kesempatan bagi masyarakat Lampung mengikuti “Open Casting Film” untuk mencari bintang-bintang berbakat sebagai aktor dan aktris. PH-nya telah siap memproduksi beberapa episode FTV dengan judul besar “Kembang Tanah Air”.


April 29, 2012

[Fokus] Hidupkan Tradisi Kompetisi Film!

TRADISI perfilman di Lampung belum kuat dan mengakar. Para movie maker pemula dan senior jarang sekali menggelar diskusi bersama untuk membahas tentang film yang bagus. Kondisi itu diperparah dengan minimnya workshop soal film.

Penikmat film, Juperta Panji Utama, menilai festival film di Lampung sangat jarang. Walaupun ada, periodenya sangat lama, hanya setahun sekali. Padahal bila banyak kompetisi, makin terasah untuk membuat film.

Selain kompetisi yang jarang, kata dia, diskusi soal film pun hampir tidak ada. Walaupun ada, terkadang para movie maker tidak mau ikut dalam diskusi. Padahal diskusi dan sharing sangat penting untuk saling mengkritisi karya yang ada.

Dia mengatakan dalam dunia kreatif tidak ada istilah senior dan junior. Siapa pun yang punya karya yang bagus layak untuk tampil. Jadi, jangan ragu jika memiliki karya untuk dikritik dan diberi masukan.
Juri FFI Darmajaya ini mengatakan perlu dibangun tradisi yang kuat tentang film. Meskipun di Lampung belum memiliki institut seni, sudah ada jurusan komunikasi yang juga berkaitan dengan film.

Ketua Komite Film DKL Dede Safara mengakui bahwa keberadaan institut seni akan membawa pengaruh yang besar dalam perkembangan film. Misalnya seperti di Jakarta dan Yogyakarta yang sudah lama memiliki institut seni. “Pelajar yang berprestasi dalam film tidak perlu ke luar Lampung untuk menimba ilmu,” kata dia.

Panji mengusulkan agar ada pertemuan bulanan yang menjadi ajang untuk para pembuat film menampilkan karyanya. Bila ada panggung untuk menampilkan karya, para sineas pun tidak perlu khawatir untuk terus berkarya karena sudah ada media untuk menampilkan film.

Dede dan Panji pun sepakat jika misalnya bioskop 21 memberi ruang kepada para pembuat film lokal untuk menampilkan karyanya. Hal ini pernah dilakukan beberapa bioskop di daerah Jawa.

Dede mengungkapkan perlu ada pelatihan dan workshop bagi para sineas muda untuk terus mengembangkan potensinya. Misalnya untuk mengasah kemampuan praproduksi film.

Penggiat Komunitas Film Indie Kotabumi, Muslim Wildan, mengatakan sangat jarang sekali ada pelatihan dan workshop tentang film. Terakhir kali dia ikut workshop tahun lalu di IAIN Raden Intan. Dengan biaya sendiri, dia ikut pelatihan tersebut. “Padahal yang yang berminat dalam film sangat banyak, tapi semua kebanyakan belajar sendiri,” kata dia.

Wildan menilai Lampung miskin kompetisi film. Padahal lewat kompetisilah para pembuat film saling unjuk kemampuan. Orang-orang dari daerah pun ingin sekali bisa bersaing dengan movie maker di kota.
Danar Yudhistira dari MP Film dan Ahmad Suhari dari Komunitas Jatisariku berharap Lampung memiliki satu komunitas besar yang menaungi semua pembuat film yang ada di bumi khua jurai. Dalam komunitas inilah kemudian para pembuat film handar berkolaborasi untuk menghasilkan sebuah karya yang bisa mengangkat nama Lampung.

Danar mengatakan beberapa komunitas memiliki kemampuan yang lebih dalam hal pengambilan gambar, editing, naskah, dan sutradara. Orang-orang yang jago dari setiap komunitas ini kemudian menyatukan ide untuk menghasilkan sebuah film yang berkualitas.

Suhardi mengungkapkan komunitas besar yang menyatukan semua pembuat film penting untuk saling melengkapi. Jika semua unsur pembuat film sudah bersatu, mimpi untuk menghasilkan film layar lebar yang menasional bisa terwujud. “Perlu ada orang yang harus menggerakkan komunitas besar tersebut,” kata dia.

Danar mengatakan pembuat film indie di Lampung sudah cukup bagus dan bisa bersaing dengan kota lain. Untuk bisa memenangkan persaingan, maka perlu kerja keras dan ide kreatif supaya film yang dibuat bisa berbicara banyak di kompetisi nasional.

Panji pun sepakat bahwa banyak pembuat film di Lampung yang bagus. Lampung pun sudah bisa menunjukkan kualitasnya di tingkatan nasional. Hal itu dibuktikan dengan juara film di Yogyakarta yang diraih pelajar SMKN 5 Bandar Lampung. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 April 2012

[Fokus] Gelora Film ‘Indie’ Lampung

KREATIVITAS anak-anak muda Lampung untuk menunjukkan aktivitasnya melalui audio visual independen (film indie) tak terbendung. Mereka terus berkarya meski dengan kamera sederhana dan biaya cekak.

Anak-anak muda ini terus berkarya membuat film indie. Dengan biaya sendiri dan peralatan seadanya, mereka mengubah satu ide kreatif menjadi bentuk audio visual yang bisa dinikmati banyak orang. Meskipun merasa kemampuan membuat film masih kurang, gairah untuk menunjukkan bahwa “kami punya karya” menjadi dorongan semangat.

Multimedia Photografy (MF) Film SMAN 7 Bandar Lampung memakai kamera poket untuk membuat film pendek di tahun 2011. Dari kamera sangat sederhana itulah sekumpulan pelajar itu membuat film berjudul Pancasila Biru. Film bertema nasionalisme itu ternyata memenangkan juara pertama dalam Festival Film Indie Darmajaya 2011.

Salah satu penggiat MP Film, Danar Yudhistira, mengaku kesulitan membuat film dengan memakai kamera poket. Aktor pun dituntut untuk lebih aktif bergerak karena keterbatasan kemampuan kamera. Meskipun demikian, proses praproduksi harus matang supaya film yang dibuat bisa lebih bagus.
Diskusi dengan beberapa penggiat film pun dilakukan oleh MP Film untuk memberikan masukan dalam film yang digarap. Kerja keras mereka pun diganjar dengan mendapat penghargaan sebagai film terbaik.

Lain lagi dengan Komunitas Film Indie Kotabumi, Lampung Utara. Komunitas yang diisi oleh berbagai macam profesi ini pun tetap berkarnya dengan alat handycam dan tripot. Sejak dibentuk dua tahun lalu, mereka sudah menghasilkan dua film. Dua film itu diikutkan dalam FFI Darmajaya dan di tahun 2011 masuk nominasi film terbaik.
Komunitas ini tergolong punya fasilitas yang cukup dengan memiliki studio untuk mengedit film.

Namun, saat ingin mengikuti kompetisi film di Jakarta, mereka terkendala dana sehingga tidak jadi berangkat.

Penggiat Komunitas Film Indie Kotabumi, Muslim Wildan, mengaku sudah mengirimkan satu film pada sebuah kompetisi di Jakarta. Namun, saat diminta untuk datang ke Jakarta, komunitas sedang tidak punya uang dan akhirnya batal.

Menurut Wildan, komunitas pun bekerja sama dengan beberapa sekolah dalam membuat film. Misalnya dalam mencari pemeran film yang dipilih dari beberapa pelajar SMA.

Komunitas Jatisariku juga tidak ketinggalan membuat film indie. Komunitas yang berada di daerah Jatisari, Lampung Selatan, ini sudah memproduksi dua film bergenre action comedy dengan judul Jatisari First Blood I dan Jatisari First Blood II. Pembuatan film yang mengambil lokasi di daerah yang sama ini menggunakan kamera pinjaman. Bahkan, kini komunitas sudah menyelesaikan film ketiga Jatisari First Blood Reloaded.

Menurut Ahmad Suhardi, penggiat Komunitas Jatisariku, membuat film pendek dilakukan karena rasa ingin belajar. Beberapa teman memang ada yang jago membuat efek, jago editing, dan memakai kamera. Setelah berkumpul, akhirnya tercetuslah ide membuat
film. “Kami buat film ingin fun aja,” kata dia.

Film Jatisari First Blood I dan II diikutkan dalam FFI Darmajaya. Sedangkan film ketiga akan diikutkan dalam festival film indie di Yogyakarta.
Komunitas yang aktif membuat film ada juga di Pesawaran. Mereka menamakan diri sebagai Komunitas Film Indie Pesawaran. Komunitas yang dibentuk sejak 2008 ini sudah membuat 30 miniseri untuk televisi lokal dan satu film pendek. Namun, film pendek belum diikutkan dalam festival apa pun.

Ketua Komunitas Film Indie Pesawaran, Rizqon Agustia Fahsa, mengaku belum terlalu percaya diri dengan film yang sudah dibuat.
Komunitas ini rutin melakukan diskusi, sharing, dan nonton bareng untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat film. Misalnya, diskusi untuk membuat naskah. Menurut Rizqon, semua anggota komunitas belajar membuat film secara autodidak. “Kami juga download e-book di internet
untuk menambah pengetahuan soal film,” kata dia.

Unit Kegiatan Mahasiswa Darmajaya Computer and Film Club (DCFC) juga bergerak dalam pembuatan film indie. Anggota DCFC Anca mengatakan untuk membuat sebuah film indie, terkadang harus menggunakan uang pribadi. Dana diperlukan untuk membeli kaset dan perlengkapan lain, seperti konsumsi dan uang bensin saat proses pembuatan film.

Selain komunitas, film juga sudah merambah hingga sekolah-sekolah. Misalnya SMAN 1 Bandar Lampung, SMAN 7, SMAN 2, SMAN 9, SMKN 1 Bandar Lampung, SMKN 5. Beberapa sekolah di luar Bandar Lampung pun sudah memiliki ekstrakurikuler film.

Untuk tingkat pelajar, prestasi bidang film ini sangat membanggakan. Film dokumenter buatan pelajar SMKN 5 Bandar Lampung  mendapat juara I dalam Festival Film Fajar Yogyakarta tahun 2011. Pada 2010, SMKN 5 Bandar Lampung juga menyabet juara II untuk festival film yang sama.

Ketua Komite Film DKL Dede Safara mengakui bahwa kualitas film para movie maker sudah lumayan bagus. Namun, ia menyesalkan tidak ada konsistensi dalam berkarya dan regenerasi. Ketika sudah memenangi lomba dan lulus sekolah kemudian menghilang. “Yang sangat disayangkan setelah menghilang tidak melakukan regenerasi sehingga tidak ada penerus yang akan menjadi movie maker selanjutnya,” kata dia.

Dede manambahkan pembuat film di Lampung, untuk pelajar dan komunitas, membuat film hanya sebatas ada festival saja. Jika tidak ada perlombaan, tidak ada film yang dibuat. Dia menyebut fenomena ini sebagai gelembung sabun. Ramai jika ada festival dan kemudian pecah jika acara sudah selesai. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 April 2012

[Fokus] Bebas Berekspresi di Film ‘Indie’

FILM independen (indie) terus menggelora di Lampung. Kebebasan berekspresi membuat jalur “nonprofit” ini lebih kreatif menggarap tema.

BUAT FILM. Sejumlah siswa SMK Samudera, Bandar Lampung, menggarap film indie berjudul The Anyway Gank yang berlokasi syuting di halaman sekolah tersebut, beberapa waktu lalu. (LAMPUNG POST/DOKUMENTASI)

Ratusan pelajar dan penikmat film berkumpul di lantai III Gedung Pascasarjana IBI Darmajaya, Rabu (25-4). Rungan begitu gelap dan hening. Semua mata tertuju ke depan tempat diputarnya beberapa film pendek. Tepuk tangan langsung hadir dan bergemuruh ketika satu per satu film selesai diputar.
Di ruang itu sedang berlangsung screening yang menjadi bagian dari Festival Film Indie (FFI)  Darmajaya 2012. Perhelatan film pendek yang digelar Darmajaya Computer dan Film Club (DCFC) diadakan setiap tahun sejak 2009. Di 2012 ini ada 33 film yang masuk festival.
Teman film yang masuk beragam, ada action comedy, animasi, dan drama.

Dari tahun ke tahun jumlah peserta festival makin banyak. Di tahun sebelumnya, hanya ada 15 film. Bahkan di tahun awal festival, film yang masuk ke panitia tidak sampai sepuluh film. Ketua Pelaksana Festival Risky Rahman Taufik menilai, banyaknya peserta menunjukkan FFI makin dipandang oleh para pembuat film di Lampung. Makin banyaknya film yang masuk membuktikan bahwa para sineas sudah bermunculan dengan berbagai macam ide.

Peserta yang ikut dalam festival  dedominasi oleh pelajar SMA. Sebagian lagi adalah komunitas-komunitas film dan rumah produksi. Pelajar SMA yang mengirim bukan hanya dari Bandar Lampung, ada beberapa yang dari kabupaten seperti Lampung Utara, Tanggamus, Pesawaran, dan Lampung Selatan.

Dari perhalatan film indie lokal ini ternyata sudah banyak movei maker yang muncul di sekolah-sekolah. Dengan peralatan sederhana dan kemampuan terbatas, mereka memberanikan diri membuat film.

Juri FFI Juperta Panji Utama mengatakan munculnya movie maker di kalangan pelajar ini menunjukkan bahwa sudah banyak tunas-tunas yang punya keinginan dan semangat untuk membuat film. “Hal ini perlu dilihat sebagai sebuah potensi agar mereka terus bisa berkarya dan berkembang menjadi pembuat film yang lebih matang,” kata dia.

Panji menilai, film yang masuk dalam FFI sudah cukup baik. Ada beberapa film yang memiliki ide yang kreatif. Namun, perlu ada sentuhan-sentuhan lagi supaya bisa menjadi film yang lebih berkarakter.

Dia mencontohkan sebuah film pelajar SMA yang bercerita tentang dunia pendidikan, seperti ujian nasional. Ide cerita menarik. Pembuat film pun bisa memadukan tokoh menjadi hidup. Sejak awal film dimulai, sudah enak dan menarik. Namun, pada bagian  akhir tidak begitu bagus.
“Artinya sudah ada ide kreatif yang muncul tapi perlu ada sentuhan lain yang ditambahkan supaya film lebih menempel kuat pada penonton,” kata dia.

Danar Yudhistira, yang bergiat di Multiedia Photografy (MP) Film SMAN 7 Bandar Lampung, menilai, tema film dalam FFI tahun 2012 sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Tema tahun ini sudah keluar dari tema mainstream yang ada, seperti percintaan, broken home, dan
narkoba. Bahkan peserta sudah berani mengambil tema soal nasionalisme.

“Tema film indie memang harus berbeda dengan film yang ada. Film indie perlu menyampaikan pesan yang bisa menempel kuat di pikiran penonton,” kata Danar yang pernah memenangi FFI tahun 2011.
Panji mengungkapkan banyaknya pelajar dan komunitas film yang muncul dan terus berkarya harus menjadi pemikiran bersama para pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah dan Dewan Kesenian Lampung (DKL). Potensi pelajar ini perlu terus diasah dan dibimbing untuk meningkatkan kualitas dan bisa berkarya dengan baik.

“Dari merekalah nanti akan muncul para pembuat film yang akan mengharumkan nama Lampung,” kata dia.
Film yang menjadi bagian dari industri kreatif perlu terus dikembangkan di Lampung. Menurutnya, Lampung juga punya potensi untuk mengembangkan kreatif film, bukan hanya usaha kecil menengah (UKM) saja.
Ketua Komite Film DKL Dede Safara Wijaya pun menilai kualitas pembuat film indie yang ada di Lampung saat ini sudah cukup baik. Namun, harus perlu dimatangkan kembali, mulai dari praproduksi hingga setelah produksi. “Saya nilai pelajar dan pembuat film indie masih sangat lemah dalam hal praproduksi,” kata dia.
Dia mencontohkan ada satu film dalam FFI yang cukup bagus di awal. Tapi jelek saat ending. “Kenapa di akhir film malah membuat penonton jadi antiklimaks. Seharusnya ending-nya jauh lebih enak dan membekas di kepala penikmat film. Jadi setelah nonton, langsung ‘dek’ nempel di kepala,” kata dia, saat ditemui usai melihat screening film FFI. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 April 2012

October 9, 2011

[Perjalanan] Mengintip Komunitas Film Lampung di Pahawang

KOMITE Film Dewan Kesenian Lampung (DKL) membuat program Film Masuk Desa di Pulau Pahawang, Punduhpidada, Pesawaran, 2—5 Oktober 2011. Agenda utamanya adalah produksi film dokumenter dan pemutaran film bersama masyarakat.

Rombongan “Film Masuk Desa” memasuki dermaga di Pulau Pahawang. Keindahan dan kelestarian alam pulau ini menjadi daya pikat utama komunitas film DKL untuk berproduksi di sini. (FOTO: DOK DKL)

Memutar tubuh di atas ketinggian bukit di atas Pulau Pahawang sambil melepas pandang di siang hari, seolah berada di dunia lain. Angin yang bertiup sepoi lembut meraba tubuh sehingga pori-pori terisi partikel yang menyegarkan.

Pulau yang berada di Kecamatan Punduhpidada, Kabupaten Pesawaran, ini seperti sepotong surga yang turun ke bumi. Tumbuh-tumbuhan hijau lestasi, air laut membiru bening, dan lekuk-liku bangun pulau yang dibordir pasir putih, seperti gambaran dalam dunia khayal.



FOTO-FOTO: DOKUMEN DKL

Pulau Pahawang memang sudah cukup dikenal sebagai pulau lestari. Bukan hanya alamnya, masyarakatnya juga relatif masih murni dari pengaruh keserakahan duniawi. Tak heran jika banyak komunitas ingin hadir, menikmati, dan mengabadikan setiap detail pulau ini.

Itu juga yang membuat ketertarikan Komite Film Dewan Kesenian Lampung (DKL). Para seniman gambar bergerak ini menfasilitasi beberapa komunita film mengeksplorasi gumuk besar yang amat subur itu, 2—5 Oktober 2011 lalu. Kegiatan ini bertajuk Film masuk desa.

Kegiatannya, antara lain produksi film dokumenter dan pemutaran film bersama masyarakat setempat.

Produksi film dilakukan tiga komunitas film Lampung yang memang sudah memiliki prestasi di tingkat lokal maupun nasional, yaitu SMK Negeri 5 Bandar Lampung, SMK Bhakti Utama, dan Komunitas Escord. Tiga komunitas tersebut hasil dari seleksi yang dilakukan Komite Film Dewan Kesenian Lampung.

“Ini adalah salah satu agenda Komite Film DKL. Tujuannya supaya komunitas film melakukan kreativitasnya dalam berkarya, serta mampu berinteraksi dengan masyarakat setempat dalam melakukan proses hunting lokasi, riset, dan shooting,” kata Dede S. Wijaya, ketua Komite Film DKL.

Meskipun diberi kebebasan berekspresi dan kreativitas, kata Dede, pembuatan film ini juga diberi tema, yakni Mengembangkan potensi lokal melalui media film. Dari tema itu, masing-masing komunitas bisa mengembangkan ide setelah melihat kondisi lapangan.

Komunitas Film SMKN 5 Bandar Lampung mengambil subtema tentang pendidikan dan kesehatan. Komunitas Film Bhakti Utama, yang memang pernah menjuarai Festival Film Dharmajaya 2011, membuat subtema tentang mangrove dan lingkungan hidup. Dan Komunitas Escord subtemanya tentang pariwisata, sosial, dan budaya.

Selama proses produksi berlangsung, para filmmaker berdecak kagum, karena banyak hal yang dapat diangkat secara sinematik. Pertama, keindahan alam di Pahawang, keragaman suku yang ada di pulau tersebut, dan kelestarian mangrove tumbuh secara alamiah dengan berbagai macam jenis.

Film-film dokmenter yang mereka buat diharapkan mampu berbagi informasi tentang potensi, arah pengembangan, dan rencana penataan desa Pulau Pahawang. Film ini juga memberikan gambarkan kodisi existing Desa Pulau Pahawang. “Dengan film yang berkualitas dari segi artistik dan konten, kami bisa ikutkan ke kancah festival film nasional dan internasional, kata Firdaus Rusmil, ketua panitia kegiatan ini.

Selain produksi film, malam harinya seluruh komunitas film berbaur bersama masyarakat setempat dengan memberikan hiburan nonton film bareng. Ini sebagai apresiasi masyarakat dalam membantu terhadap kegiatan komunitas film selama produksi berlangsung. n (REL/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Oktober 2011

December 29, 2010

Film Karya Pelajar Lampung Raih Jawara

BANDAR LAMPUNG—Dunia perfilman di Lampung berkibar. Film dokumenter Pulau Teri Asin karya siswa SMKN 5 Bandar Lampung meraih juara kedua di ajang Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) yang digelar di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, 18—19 Desember lalu.

FFPJ merupakan wadah kreativitas pelajar yang berbasis perfilman.

Selain meraih juara kedua, film yang disutradarai Chrisila Wentiasri itu juga menggondol juara favorit. Dalam kompetisi ini, anggota tim SMKN 5 Bandar Lampung yang berjumlah 8 orang mengirimkan dua film, yakni Pulau Teri Asin dan film fiksi Mukenah Untuk Emak karya Tiara Lismana Dewi. Namun, Mukenah Untuk Emak belum berhasil meraih jawara.

Salah satu anggota tim, Chrisila, mengaku bersyukur meraih prestasi tersebut. "Kami senang sekali dengan keberhasilan film kami yang memperoleh juara di tingkat nasional," kata Chrisila kepada Lampung Post, Selasa (28-12).

Chrisila menambahkan kemenangan yang diraih dalam ajang tersebut merupakan kebanggaan bagi seluruh masyarakat, khususnya pelajar di Lampung. Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan dari berbagai pihak, seperti pihak sekolah, dewan guru, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, serta Dewan Kesenian Lampung (DKL).

"Kemenangan ini tidak terlepas dari dukungan orang-orang yang selalu memberikan motivasi bagi kami," ujarnya.

Sedangkan film fiksi Mukenah Untuk Emak meski belum berkesempatan menjadi juara, paling tidak kualitas produksi film siswa SMKN 5 Bandar Lampung tersebut masuk dalam 15 nominasi dari sekitar ratusan peserta yang mengikuti ajang tersebut. "Meski film yang kami buat belum menjadi juara, tapi kami belajar dan mendapatkan pengalaman untuk bisa berbuat lebih baik lagi," kata Tiara.

Sementara itu, dua perwakilan siswa SMKN 5 Bandar Lampung, yang juga berperan besar dalam meraih prestasi di FFPJ, Rahmawati dan M. Ody Saputra, mengatakan merasa senang dan sangat bersyukur dengan raihan prestasi tersebut. Meski awalnya tidak menyangka bisa menjadi juara, mereka mengaku sangat termotivasi untuk dapat memberikan yang terbaik pada ajang tersebut. "Senang banget, karena kami tidak menyangka sebelumya," kata Ody.

Ody menjelaskan pengetahuan perfilman merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMKN 5 Bandar Lampung. Meski baru mengenal dunia film sejak satu tahun silam, dia mengaku sudah merasa begitu menikmati bidang tersebut. "Saya baru tahu dunia perfilman ini sejak masuk sekolah ini (SMKN 5, red)," ujar siswa kelas II ini.

Sedangkan Rahmawati menuturkan atas prestasi yang diraih tersebut, banyak pihak yang telah memberikan dukungan baik moril dan materil, seperti Pemprov Lampung, DKL, Dinas Pendidikan serta pihak sekolah SMKN 5 Bandar Lampung. "Ya banyak sih dukungannya. Mereka rata-rata memberikan dana pembinaan. Mudah-mudahan kami bisa terus semakin berprestasi," kata Rahmawati. (MG18/L-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 29 Desember 2010

July 19, 2010

MLP Luncurkan Film 'Kembang Ibu'

BANDAR LAMPUNG--Film pendidikan Kembang Ibu produksi sineas lokal Lampung diluncurkan, Jumat (16-7). Film produksi Menara Lampung Production (MLP) yang berdurasi selama dua jam tersebut bercerita tentang perjuangan seorang single parent untuk menyekolahkan anaknya.

Berlatar belakang kehidupan nelayan yang miskin, sang ibu berjuang keras agar anaknya tersebut dapat menempuh pendidikan.

"Film ini mencoba untuk mengajak penonton supaya tidak putus semangat dalam mengejar pendidikan," kata Pimpinan Produksi Entus Alrafi saat peluncuran film tersebut di ruang Abung, Balai Keratun, Bandar Lampung.

Film produksi MLP ketiga setelah Merah Cinta di Malaysia dan Rindu Tak Hilang di Tokyo tersebut dibintangi artis-artis lokal Lampung, seperti Chinta Ayu Ningtias, Agus Dwisunarti, Atu Ayi, Maysari Berty, Fasya Fadillah, dan Rillo Pambudi.

Kembang Ibu dapat diperoleh di MLP dengan membayar sebagai pengganti ongkos produksi sebesar Rp25 ribu.

Menurut sang produser, Syaiful Irba Tanpaka, antusias masyarakat Lampung untuk menjadi bagian dari film tersebut cukup tinggi, tetapi belum memiliki teknik akting yang memadai.

Syaiful mengatakan perkembangan produksi film lokal di Lampung sudah bagus. Hal tersebut, menurut dia, terlihat dengan sudah dilepaskannya tiga film produksi sineas lokal Lampung pada 2010 ini, yakni Kejar Topi Sarjana, Onang, dan Kembang Ibu.

Untuk itu, ia mengharapkan agar pemerintah daerah mendukung dunia perfilman lokal. "Film bisa mengangkat nama daerah. Seperti film-film MLP yang dikenal karena nativismenya, atau sarat unsur kedaerahan, dalam hal ini Lampung," kata Syaiful. (MG13/L-2)

Sumber: Lampung Post, Senin, 19 Juli 2010

April 15, 2010

'Sang Pejuang Topi Sarjana', Oase buta Sineas Lampung

BANDAR LAMPUNG--Rumah Seni Production, sebuah komunitas pecinta film di Lampung, memproduksi film panjang pertama di Lampung bertajuk Sang Pejuang Topi Sarjana.

Kehadiran film garapan sutradara Ulunk M. Rusdi dan diproduseri Dede S. Wijaya ini memberi oase dalam dunia sinematografi Lampung yang sudah lama tak ada gaungnya.

Film apik buah karya putra Sai Bumi Ruwa Jurai ini mengusung cerita tentang perjuangan seorang anak manusia dalam menggapai cita-citanya untuk meraih gelar sarjana. Mengusung pemain Bupati Lampung Selatan Wendy Melfa plus artis lokal Anton Rafemi (mahasiswa STKIP PGRI), Eno Ong, dan Dilla Raya Maesa. Dalam film ini Wendy Melfa berperan sebagai pengusaha sukses dan dermawan.

Diawali adegan seorang pemuda menaiki tangga spiral dengan lunglai. Kedua tangannya menenteng kardus-kardus berukuran sedang. Jaket almamater berwarna biru muda dan terlihat lusuh yang ia kenakan agak basah oleh keringat.

Ia tampak kepayahan. Ditambah, sebuah tas gunung warna kuning yang ia sandang, seolah menambah kesulitannya menapaki anak tangga demi anak tangga tersebut. Sementara itu, beberapa pemuda tampak menahan tawa melihat adegan itu.

Inilah adegan dalam film Sang Pejuang Topi Sarjana yang diputar pertama kali di Gedung Pascasarjana MM Universitas Bandar Lampung (UBL), Rabu (14-5). Peluncurannya dihadiri Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno, Bupati Lampung Selatan Wendy Melfa, Wakil Pemimpin Redaksi Lampung Post Hery Wardoyo, juga para seniman Lampung seperti Isbedy Stiawan dan Syaiful Irba Tanpaka.

Dalam film berdurasi 1 jam 20 menit tersebut, penonton diajak untuk melihat realitas yang masih terjadi di kehidupan nyata. Dikotomi antara si kaya dan si miskin yang akan dengan mudah terlihat dalam kehidupan di kota metropolitan.

Film hasil produksi Rumah Seni Production tersebut berkisah tentang perjuangan pemuda desa (Anwar, dimainkan oleh Anton Rafemy) yang dengan semangat dan tekad yang kuat untuk mempersembahkan gelar kesarjanaan demi cita-citanya, membahagiakan orang tua.

Berbagai rintangan ditemui oleh Anwar bahkan setelah ia akhirnya dapat masuk ke perguruan tinggi. Mulai dari kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan sampai ke permasalahan klise, cinta. Namun, akhirnya Anwar dapat menggapai cita-citanya. Meraih gelar sarjana.

"Film ini ingin memberi motivasi. Bahwa siapa pun, mau bagaimanpun kondisi kita, pasti mampu kalau kita bisa dan bersungguh-sungguh, meski banyak aral dan rintangan yang mengadang," kata sang sutradara, Ulunk M. Rusdi, saat ditemui usai pemutaran perdana film tersebut.

Menurut Ulunk, ide awal film tersebut adalah untuk mengakomodasi keinginan para pembuat film di Lampung untuk membuat sebuah film yang berdurasi panjang. "Ini adalah film profesional. Dalam artian film yang memiliki standar durasi film layar lebar, namun diproduksi dengan semangat indie," kata dia.

Sementara itu, Dede S. Wijaya, produser film tersebut, mengatakan film ini sebagai representasi dari realitas yang terjadi di sekitar kita. "Ini adalah pesan yang ingin disampaikan. Bahwa faktor pendidikan adalah hal yang terpenting untuk dipikirkan," ujar Dede. (TRI PURNA JAYA/L-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 16 April 2010

December 14, 2009

Film 'Topi Sarjana' untuk Tarik Simpati Pengusaha

KALIANDA (Lampost): Topi Sarjana, produksi PT Kencana Film Indonesia (Kenfindo) yang diperankan Bupati Lampung Selatan Wendy Melfa diharapkan mampu menarik simpati para pengusaha untuk peduli dengan pendidikan dan masyarakat kecil.

Produser film PT Kenfindo, Dede Safana, ditemui di sela-sela syuting di rumah dinas Bupati Lamsel, Minggu (13-12), mengatakan ditunjuknya Wendy Melfa sebagai aktor utama pada film Topi Sarjana karena ia merupakan salah satu sosok pemimpin dan pengusaha yang peduli dengan dunia pendidikan. "Dia pantas untuk memerankan film tersebut," kata Dede.

Dalam film tersebut, dikisahkan Anwar Prasemi, mahasiswa pintar dan ingin menjadi sarjana tapi tak punya biaya. Wendy secara diam-diam membiayai yang bersangkutan sampai akhirnya mendapatkan topi sarjana.

Menurut Dede, PT Kenfindo sudah berusaha mencari aktor untuk memerankan film ini, tetapi yang cocok untuk memerankan film ini adalah Wendy Melfa. "Di luar kesibukannya menjadi bupati Lamsel, Wendy Melfa bisa menyempatkan waktu untuk syuting," kata dia.

Film Topi Sarjana berdurasi satu jam ini disutradarai Paksianom dan Nyang Oen, produser Dede Safana, Direktur Cabang Kenfindo dan Executive Produser film Topi Sarjana A. Shavarudin Prass.

Film ini akan ditayangkan di Bioskop 21 Bandar Lampung dan akan ditayangkan melalui VCD dan televisi. Film Topi Sarjana yang menghabiskan dana Rp200 juta diharapkan laku di pasaran.

Wendy ketika diminta komentar berkeinginan sama, yakni akan ada pengusaha lain yang peduli dengan dunia pendidikan.

Sementara itu, Laksono, salah seorang pegiat seniman di Lampung Selatan, menanggapi positif penggarapan film Topi Sarjana. "Saya sudah tidak sabar ingin menyaksikan film itu," ujarnya. n WAN/D-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 15 Desember 2009

December 8, 2009

Film 'Topi Sarjana' Wendy Melfa Jadi Pengusaha

BAKAT seni Wendy Melfa akan teruji di layar lebar. Ya, Bupati Lampung Selatan akan main film karya anak Lampung Topi Sarjana. Dalam film ini, Wendy berperan sebagai seorang pengusaha.

Selain Wendy, sejumlah nama ikut dalam film ini, antara lain Hermansyah G.A. (ketua Parfi Lampung) sebagai Ayah Anwar; Novi Balga sebagai Ibu Anwar; Dilla Raya Maesa sebagai Lesy; dan Don Peci sebagai Pak Margono.

Sedangkan tokoh utama dalam film ini dimainkan Anton Refemy sebagai Anwar dan Retno Tri Handayani sebagai Lena.

Produksi film Topi Sarjana yang menggandeng rumah produksi berlabel nasional, Kenfindo, kini sedang tahap syuting hingga akhir Desember. "Proses produksi hingga kini telah selesai 60 persen," kata Dede Safara, produser film Topi Sarjana, Senin (7-12).

Film yang merupakan garapan sutradara berpengalaman Paksi Anom ini telah melakukan syuting perdana pada Kamis (3-12), mengambil setting di SMU PGRI I Padang Cermin, Pesawaran, dan Minggu (6-12), di Universitas Bandar Lampung (UBL), serta dilanjutkan di Bukit Randu. "Proses syuting kami rencanakan selesai dalam waktu satu minggu dan segera diluncurkan pada akhir Desember," kata Dede, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Sinematografi.

Dalam film yang dibintangi pemain-pemain dari Lampung dan pengambilan setting di Bumi Ruwa Jurai ini, menceritakan tentang peliknya kehidupan seorang pria (Anwar) yang berasal dari keluarga tidak mampu dan hidup bersama ibu serta adiknya yang cacat.

Anwar bisa menjadi sarjana dan berkeja di perusahaan yang bonafit. Juga diceritakan juga kisah romantisme percintaan yang penuh liku antara Anwar dan gadis pujaannya, Lena.

Film yang digarap dengan apik dan menelan biaya sekitar Rp200 juta lebih, merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan potensi seni dan budaya Lampung melalui dunia perfilman.

Dede berharap film ini nantinya dapat menjadi kebanggaan masyarakat Lampung sekaligus membuka ruang bagi kreator film di Bumi Ruwa Jurai untuk terus mengembangkan bakat dan seni kreativitas. */L-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 8 Desember 2009

November 23, 2009

'Topi Sarjana' Siap Gebrak Film Tanah Air

BANDAR LAMPUNG--Satu lagi karya anak muda Lampung siap menggebrak dunia perfilman Tanah Air. Topi Sarjana garapan sutradara Paksi Anom dan diproduseri Dede Safara yang menggandeng rumah produksi berlabel nasional, Kenfindo, ini siap dirilis pada Desember nanti.

Film bertema pendidikan mengusung cerita tentang peliknya kehidupan seorang pria (Anwar) dari keluarga tak mampu yang menjalani hidup dengan ibu dan adiknya yang cacat. Karena semangatnya tinggi dan tak mengenal putus asa, plus prestasi pendidikan yang sangat baik, Anwar dapat menjadi seorang sarjana. Untuk pemain, sutradara berpengalaman yang pernah menggarap Seleb Juga Manusia ini mendapuk pemain dan kru dari Lampung. Lokasi syuting dilakukan di beberapa kabupaten/kota di Sang Bumi Ruwa Jurai.

Menurut produser film Topi Sarjana, Dede Safara, Sabtu (20-11), film ini dibuat dengan dua setting, yakni perkampungan dan perkotaan. Untuk setting di perkampungan, menggambarkan bagaimana tokoh film ini, Anwar yang selalu disudutkan teman-temannya lantaran dari keluarga tak mampu. Tapi karena prestasinya, Anwar mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kota. Sedangkan di perkotaan, menurut Dede, menceritakan bagaimana kehidupan Anwar yang hidup dengan multikonflik. Mulai dari teman satu kamar yang gay, hingga kehidupan percintaannya yang rumit.

Dede yang juga jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jurusan Sinematografi itu berharap Topi Sarjana nantinya bisa menjadi kebanggaan masyarakat Lampung karena memiliki karya daerah yang mampu go national. "Mudah-mudahan film ini juga dapat memotivasi sutradara dan kreator film di Lampung agar makin aktif membuat film," ujar junior sutradara kondang Hanum Bramantyo itu sewaktu di IKJ.

Film yang penggarapannya sangat apik dan menelan biaya lebih dari Rp200 juta itu rencananya didistribusikan secara nasional dan diluncurkan di Lampung. Juga akan dicetak dalam bentuk compact disc (CD) sebanyak 80 ribu kopi. Bahkan CD-nya dijual seharga Rp10 ribu per keping. "Film ini segmennya menengah ke bawah, tapi untuk kualitas dijamin orizinal dan bukan burning," kata Dede. */L-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 November 2009

August 23, 2009

Festival Film Pendek 2009: Mimpi, Perempuan, dan Kue Tart

Oleh Syaiful Irba Tanpaka

MENONTON film buat saya adalah sebuah perjalanan menikmati realitas batin dari para pekerjanya; penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata musik, editor, serta kru lainnya. Bagaimana gagasan-gagasan mereka bersinergi mewujudkan mimpi dari kehidupan yang penuh kontradiksi.

Sebuah mimpi yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan untuk memahami dan memaknai realitas secara jujur dan terbuka. Bahwa hitam adalah hitam sesungguhnya dan bahwa putih adalah putih sesungguhnya, bukan abu-abu. Setelah pengalaman empiris sering memosisikan kebenaran secara kacau, dan melemparnya ke dalam jaring-jaring relativitas. Inilah ziarah batin dengan kenikmatan dan kepuasan yang melimpah ruah.

Bagaimana misalnya takdir mencibir dan mengejek rasa cinta dan kasih sayang orang-orang miskin. Apalah artinya semangat, apalah artinya tekad ketika harus berhadapan dengan nasib yang dingin dan angkuh. Masih adakah obat bagi rasa sakit, kesepian dan kerinduan orang-orang terpinggirkan. Apakah arti pertemuan, perpisahan, persahabatan, idealisme, cinta, dan kehilangan?

Rasa lirih serupa ini ternyata telah menjadi tema yang mengemuka dalam film-film peserta Festival Film Pendek 2009 yang diselenggarakan Komite Film Dewan Kesenian Lampung bekerja sama dengan MM Studio SMKN 5 Bandar Lampung dan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Cabang Lampung yang digelar tanggal 6 Agutus lalu. Festival dengan kategori film fiksi dan film dokumenter ini diikuti 28 peserta, terdiri dari 19 film fiksi dan 9 film dokumenter dengan mayoritas sineas yang masih terbilang remaja.

Menggembirakan! Barangkali ini adalah kata yang tepat sebagai bentuk apresiasi untuk merayakan potensi mereka. Sebab; pertama, mereka mampu menyodorkan keragaman dan kekayaan tema dari ruang-ruang kehidupan yang mungkin luput dari perhatian kita. Hal-hal sederhana yang mengabarkan keperihan hidup masyarakat kecil dari sebuah negara besar yang dipuja sebagai tanah surga. Siapa mau mendengarkan, siapa mau merasakan, dan siapa mau memedulikan di tengah kesibukan sebagian orang-orang yang sibuk merebut pangkat dan jabatan, menimbun kekayaan sebagai harta karun tujuh turunan.

Sudah tentu kita berharap onggokan mimpi ini dapat menjadi kenyataan (the dream come true) dengan adanya kerja sama dan sinergisitas dari semua stakeholder. Para sineas yang visioner dan kompak yang tidak lelah untuk terus meningkatkan kualitas diri, para produser, para sponsor, media penyiaran, pemerintah daerah, dan penonton yang yang memberikan apresiasi. .

Kedua, buat saya ini suatu fenomena yang menarik ketika mencermati bahwa banyak sutradara yang menggarap film dalam festival ini adalah perempuan. Seperti pada kategori film fiksi, tercatat nama-nama: Endras Astuti (Bunda), Melisa (Just Do It, Hanya Mimpi dan Sang Pemimpin), Erliana (Edelweis), Susi Rodiyanti (Kue Tart Tengah Malam), Frecilia (Tara), Rully O.P. (Forbidden of Love dan Di Manakah Engkau Seruit). Di kategori Dokumenter, ada Indah Mayshinta (Mang Rusli), Ika Yulistia (Mbah Rinam), Dwi Ria Nurmalia (Kisah Hidupku), Mery (Merah Gulaku Gula Merah dan Perayaan Odalan).

Para perempuan sutradara yang relatif muda ini ternyata mampu memilih dan menyajikan karya-karya yang penuh muatan sosial. Dari tema problematika kemanusiaan yang berseliweran di sekitar kita sampai dengan norma-norma ideal yang terjadi dalam pertarungan pemikiran. Mereka kaya akan tema dan gagasan.

Penaka idealisme yang digarap Melisa dalam Just Do It. Bagaimana seorang remaja laki-laki menyikapi teman-temannya yang datang dengan segepok uang yang dicurigai olehnya didapat secara haram. Konflik batin terjadi dalam diri remaja laki-laki itu. Melisa tidak memberi keputusan, kecuali membiarkan tokoh remaja laki-laki itu akhirnya mengambil uang bagiannya yang ditinggalkan teman-temannya dan menuju ke arah luar rumah. Kita dipersilakan untuk menginterpretasikan apakah tokoh itu memang menerima bagiannya atau ingin mengembalikan uang itu kepada teman-temannya atau pemiliknya yang entah di mana.

Kue Tart Tengah Malam yang dibesut Susi Rodiyanti merupakan kisah horor romantis dari sebuah persahabatan di kalangan remaja. Film ini menjadi menarik lantaran menyodorkan surprise ending. Ketika tokoh remaja putri yang ulang tahun pada malam itu ditinggal sendiri dan dikerjain teman-temannya yang berdandan serupa hantu. Saat skenario seperti April Mop itu dianggap selesai, mereka merayakan ultah sang remaja putri. Namun ketika acara tiup lilin akan berlangsung, tiba-tiba lampu mati, dan ketika lampu hidup kembali, di antara mereka ada hantu sesungguhnya.

Kemudian apa yang disajikan oleh Rully O.P. dalam Forbidden of Love buat saya merupakan keberanian tersendiri. Betul-betul tampil beda. Mengingatkan saya pada pernyataan dramawan Putu Wijaya bahwa karya seni harus bisa memberikan teror mental. Menggedor batin kita. Dalam versi sastra Budi Darma juga menuliskan bahwa karya yang baik justru mengungkapkan dunia yang seharusnya menurut moral tidak terjadi. Sifat-sifatnya menuntut orang untuk melihat kenyataan, kalau perlu yang tidak sejalan dengan kepentingan moral.

Melalui kemasan cinta segitiga yang unik Forbidden of Love punya daya betot yang lumayan kuat. Tokoh A (putri) menaruh cinta dengan tokoh B (putra) yang berpacaran dengan tokoh C (putri), tapi tokoh A dan C juga menjalin hubungan sebagai lesbi. Cerita ini juga menampilkan dunia tokoh D (lelaki banci) yang kemudian dibunuh oleh ayahnya sendiri saat mereka berkencan. Sang ayah merasa malu ketika mengetahui bahwa teman kencannya adalah anak lelakinya sendiri. Ending yang sama dimunculkan untuk tokoh A yang akhirnya membunuh tokoh C dan tokoh B. Hasrat birahi telah membuat seseorang menjadi buta hati dan pikir. Menjadi alasan yang fakir bagi seseorang melakukan pembunuhan. Tapi begitulah crime of sex menyodorkan kenyataan. Tragis!

Film ini sebetulnya memberikan ruang eksplorasi yang cukup luas jika didukung kemampuan teknis yang piawai. Mulai dari karakteristik tokoh, sudut pengambilan, artistik visual yang memperhitungkan faktor pencahayaan dan setting lokasi hingga proses editing-nya. Forbidden of Love memang masih banyak menghadapi kendala teknis serupa itu. Sehingga yang kita saksikan adalah visualisasi-visualisasi gambar yang verbal dengan adegan-adegan percintaan dan pembunuhan yang sedikit seronok. Ternyata keberanian saja belum cukup. Namun saya menghargai keberanian Rully bereksplorasi.

Dan bila saja para perempuan sutradara ini konsisten berkarya dan mengasah diri, daerah Lampung akan menjadi satu lumbung sineas yang menambah panjang deretan perempuan sutradara di antara nama-nama Mira Lesmana, Nia Dinata, dll.

Kendala teknis tampaknya menjadi persoalan krusial bagi para peserta. Dan ini adalah catatan saya yang ketiga. Jika film dianalogikan sebagai kue tart, proses pemilihan bahan menjadi penting. Sebab di sinilah asal mula kualitas cita rasa ditentukan. Meskipun itu belum cukup, karena cita rasa yang lezat sebaiknya harus juga ditunjang oleh kemasan tampilan yang menarik, dan ini akan menjadi kekuatan kreativitas yang bernilai tinggi.

Mulai dari memilih skenario, berlangsungnya proses produksi hingga pengeditan. Film membutuhkan koki-koki yang memiliki wawasan dan kemampuan teknis yang baik. Penulis skenario, sutradara, kameramen, penata artistik, penata musik, dan editor. Ini merupakan faktor-faktor utama yang menentukan kualitas sebuah film. Bayangkan jika skenarionya terbilang buruk, proses kerja sutradara, kameramen, dll juga menjadi persoalan yang berat.

Dalam Festival Film Pendek kali ini kemampuan teknis para peserta relatif sama. Sama-sama mendekati standar. Namun potensi mereka sungguh bersahaja. Senja Terakhir garapan Budi Stiawan merupakan film yang cukup kuat dari segi cerita, penokohan, dan visual.

Film yang menceritakan cinta kasih seorang anak (remaja putri) kepada ibunya, sehingga rela bekerja sambilan untuk membeli obat bagi ibunya yang sakit. Dengan cerita yang sederhana, Senja Terakhir mampu memberikan sajian yang membetot emosi kita.

Jauh berbeda dengan film-film yang ditaja Hendrik Liu (Kotak sakti, Di Antara Dua Pilihan dan Cape Deh) yang begitu "cerewet" untuk menjelaskan cerita dengan kata-kata. Padahal, bukankah dunia film adalah dunia audiovisual, dunia pandang dengar yang mengandung gagasan-gagasan idiologis dari sineasnya?

Garin Nugroho lewat Bulan Tertusuk Ilalang justru menawarkan konsep inovatif untuk membebaskan film dari keterjajahan sastra (kata-kata). Bagaimana adegan-adegan yang disajikan mampu berbicara dan membetot sukma penontonnya tanpa harus banyak dijelaskan oleh kata-kata.

Pada kategori dokumenter, saya menyayangkan kealpaan (?) Mery yang menggarap dokumentasi Perayaan Odalan tanpa ada penjelasan dari narasumber maupun yang disampaikan lewat narator. Sungguh saya dibuat tidak paham dan merasa kesulitan mengapresiasinya. Kalau ada penjelasan dari narasumber atau narator, tentu saya bisa menikmati setiap prosesi yang berlangsung, namanya apa dan tujuannya apa.

Dengan mempertimbangkan di antara kreteria-kreteria di atas dan dengan perdebatan yang romantis, maka dewan juri Festival Film Pendek 2009 yang terdiri dari Syaiful Irba Tanpaka, Didi Pramudya Mukhtar, dan Budi Meong bersepakat menetapkan para pemenang sebagai berikut: Kategori film fiksi juara I Senja Terakhir sutradara Budi Stiawan; juara II Kue Tart Tengah Malam (Susi Rodiyanti); juara III Sang Pemimpin (Melisa). Kategori film dokumenter juara I Seuntai Harapan Dari Pulau Tabuan (Balya Kretarta), juara II Sang Penambang (Nanang Tarzan), juara III Merah Gulaku Gula Merah (Mery).

Namun, secara keseluruhan selain yang telah dituliskan, film-film para peserta lainnya seperti Hendrik berjudul Sekolah; Dayat, Selamat Jalan yang merupakan sebuah visioklip; Angga Ong, Aden Jangan Marah; Ajat Sudrajat, Angin Dari Barat; Balya Kretarta, Sholeha; Rangga, Halimi; juga cukup menjanjikan sebagai benih-benih yang dapat menyemarakkan dunia perfilman di bumi Lampung bersama para seniornya seperti Dede Safara Wijaya, Ibrahim Wardin, Hermansyah G.A., Irwan Wahyudi, dll. Tabik pun.

* Syaiful Irba Tanpaka, Juri Festival Film Pendek 2009, Sutradara Film Rindu tak Hilang di Tokyo

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Agustus 2009

August 9, 2009

Kompetisi Film Pendek: SMKN 5 Juarai Film Dokumenter dan Fiksi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): SMKN 5 Bandar Lampung meraih juara I kompetisi film pendek yang diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung (DKL).

Pemberian hadiah dilaksanakan di aula sekolah itu, Sabtu (8-8) malam, oleh Ketua Harian DKL Syaiful Irba Tanpaka. Hadir dalam acara itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sejulah guru dari SMU/SMK swasta negeri se-kabupaten/kota Bandar Lampung.

Pemilihan film pendek berpotensi dan berbakat yang merupakan program Dewan Kesenian Lampung itu diselenggarakan di SMK 5, Jalan Pangeran Tirtayasa No. 88, Sukabumi, Bandar Lampung.

Ketua Panitia Penyelenggara dari Dewan Kesenian Lampung, Dede S. Wijaya, mengatakan acara tersebut diikuti 28 peserta, terdiri atas siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pemilihan film terdiri atas dua kategori, yaitu film fiksi dan dokumenter.

Juara I diraih SMKN 5 Bandar Lampung dengan film berjudul Seuntai Harapan dari Pulau Tabuan yang disutradarai Balya Retarta.

Sedangkan juara II diraih Komunitas Film, dengan judul Sang Penambang, disutradarai Nanang Tarzan. Sementara juara III disabet Meri (umum) dari Way Kanan, dengan judul Gula Merah, Gulaku Merah. Sementara juara I film fiksi diraih siswa SMUN 11 Bandar Lampung dengan judul Senja Terakhir di sutradarai Rudi Setia. Juara II diraih siswa SMKN 5 Bandar Lampung berjuduk Wetar Tengah Malam. Film ini disutradarai Susi Rodianti. Sementara juara III berjudul Sang Pemimpin yang disutradarai Melisa, siswi SMKN 5 Bandar Lampung. Menurut ketua panitia, kompetisi itu merupakan kali kedua diselenggarakan DKL. Usai penyerahan trofi, acara dilanjutkan dengan hiburan musik. n MG9/K-4

Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Agustus 2009

March 8, 2009

'Welcome Back', Bioskop Representatif

Oleh Agusta Hidayatullah*

SEPERTI masyarakat Bandar Lampung umumnya, saya termasuk orang yang berbahagia dengan dibukanya kembali bioskop jaringan 21 di Kota Tapis Berseri ini. Cukup banyak alasan yang membuat momen dibukanya kembali bioskop ini sebagai "tertawa bahagia". Salah satu alasan yang masuk akal dan mungkin paling rasional adalah kesempatan menyaksikan film-film terbaru dengan peralatan yang "layak".

Bukan bermaksud mengecilkan arti kehadiran bioskop non-21 di kota tercinta ini. Namun, memang selain 21, tidak cukup tersedia bioskop dengan peralatan pemutar film yang representatif. Kurang layaknya proyektor dan perangkat audio yang dimiliki bioskop non-21 di kota ini otomatis mengganggu "kenikmatan menonton" film yang oleh sutradaranya sudah dibuat maksimal.

Mengenai ketidaknikmatan menonton akibat "infrastruktur" yang tidak memadai ini, saya punya pengalaman tersendiri. Kebetulan, the most waited movie of the year, Laskar Pelangi, diputar di salah satu bioskop di Bandar Lampung. Kebetulan bioskop yang memutar film ini adalah salah satu bioskop tua dan legendaris. Ketidaksabaran yang menggebu-gebu plus kecintaan terhadap novelnya memaksa saya menyaksikan Laskar Pelangi di bioskop tersebut.

Tanpa bermaksud mengecilkan keberadaan bioskop ini, akhirnya saya menganggap memaksakan diri menonton film ini dengan peralatan seadanya adalah sebuah kesalahan. Proyektor yang out of focus, film yang sudah banyak scratch, dan (ini yang betul-betul parah), sound sistem seadanya. Akibatnya jelas, film indah dan banyak mendapat pujian kritikus sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat, berlalu tanpa kesan. Lebih mengecewakan lagi, semuanya disebabkan kendala tehnis "infrastruktur".

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menekankan bahwa fokus tulisan ini sama sekali bukan tentang pengultusan bioskop grup 21. Fokus penulisan adalah tentang pentingnya sebuah infrastruktur bioskop yang baik sebagai sarana pembentukan jiwa dan karakter manusia yang lebih beradab. Penggunaan simbol bioskop grup 21 lebih disebabkan sebagai momentum. Sebab hingga kini, baru inilah bioskop dengan infrastruktur baik yang dimiliki kota ini.

Sejarah Bioskop

Sejarah bioskop berawal pada 13 Februari 1895 di Prancis, saat Lumiere bersaudara mematenkan sebuah alat perekam film yang bernama chronophotographic. Di Indonesia, sejarah perbioskopan hanya terpaut lima tahun saja. Menurut catatan Nano Riantiarno dalam artikelnya berjudul Ada Apa dengan Film Indonesia, bioskop pertama di Batavia memperkenalkan diri pada 5 Desember 1900. Ini 5 tahun lebih awal dari Italia yang baru meresmikan gedung bioskop pertamanya pada 1905.

Era 1970--1991 adalah periode yang disebut Haris Jauhari sebagai "periode teknologi canggih". Pada era-era inilah mulai dikenal berbagai tehnologi dalam "industri gambar-idoep". Mulailah dikenal istilah dolby stereo, suround, untuk teknologi suara atau panavision untuk gambar. Era kapitalis bioskop, dengan aturan ala rimba, yang bermodal kuatlah yang dapat menayangkan gambar dengan teknologi mumpuni, dimulai pada era ini.

Inilah era di mana kita mengenal dua jenis bioskop di Indonesia: kelas atas dan kelas bawah. Bioskop dengan modal kuat, tentunya memiliki kualitas infrastruktur yang baik. Kursi yang nyaman, audio yang canggih, proyektor yang update. Sementara itu, bioskop yang modalnya pas-pasan, hanya mampu menyediakan tempat menonton dengan sarana seadanya, suara sember, gambar buram, dan kursi yang banyak binatang bangsat.

Pada era inilah, lahir sebuah kerajaan bisnis bioskop yang melabeli diri dengan nama grup 21. Berawal dari kejelian bisnis seorang Sudwikatmono dan Grup Subentra miliknya yang mengubah Plaza Teater, sebuah gedung bioskop tua, menjadi cikal bakal industri bioskopnya yang kelak menggurita. Siasat jitu mengopi budaya bioskop Amerika Serikat seperti suasana yang eksotik, ruangan yang indah dan nyaman, keamanan yang terjamin dan kebebasan dalam memilih film yang mereka inginkan, membuat bioskop 21 menjadi trendsetter bagaimana standar sebuah bioskop yang baik. Dengan dukungan modal yang kuat, hak tayang terhadap film impor yang jauh lebih dahulu dibandingkan bioskop non-grup 21. Bioskop 21 menjadi awal dari munculnya isu "monopoli bioskop" yang kemudian baru bisa disanggah pada era pascareformasi.

Persaingan pasar memaksa bioskop-bioskop yang tidak representatif sebagai tempat memutar film berguguran satu demi satu. Perlahan tapi pasti, jumlah bioskop yang tadinya berjumlah 2.600 gedung pada awal tahun 1990-an, menyusut hingga titik nadir. Sejumlah bioskop dengan kelas non-21 perlahan bangkrut. Tidak sedikit yang beralih fungsi menjadi retail minimarket. Pada tahun 2004, jumlah bioskop yang ada di Indonesia tersisa 272 dengan 720 layar.

Bioskop Nyaman dan Representatif

Menurut saya, banyaknya gedung bioskop yang gulung tikar ini bukan hanya semata kesalahan munculnya 21. Pasar memang memiliki caranya sendiri untuk melakukan seleksinya.

Menurut Articlenatch.com, visual elemen bioskop memberikan gambar gerakan universal kekuatan komunikasi. Film telah menjadi atraksi yang populer di seluruh dunia sebagai cermin sebuah budaya dan menggambarkan sebuah budaya. Hal mendasar inilah yang dimiliki oleh 21.

Film sebagai elemen kebutuhan dasar manusia untuk merefleksikan diri memerlukan perlakuan khusus dan istimewa agar pesan dan reflektivitas tadi "sampai". Dibutuhkan sebuah cermin yang bersih, baik, dengan sudut yang pas, agar "aktivitas bercermin" dapat maksimal. Sebagaimana layaknya kaca, film pun membutuhkan sebuah pemutar yang baik agar penyajian, maksud, dan tujuan si pembuat film data terlihat dengan jelas oleh si penonton.

Kasus Laskar Pelangi tadi dapat dijadikan contoh. Mungkin saya tidak seorang diri sebagai orang yang merasakan betapa tidak menyenangkannya suasana menonton film tersebut karena buruknya kualitas infrastruktur.

Menonton film adalah sebuah ritual penting dalam hidup manusia yang selalu mendambakan antara kesehatan badan, kesehatan otak, dan kesehatan jiwa. Beberapa efek pascamenonton film dapat menjadi obat ampuh bagi jiwa yang penat oleh rutinitas hidup. Efek paling rendah dari menonton ini adalah merasa terhibur. Sementara efek paling tinggi, tentu saja, adalah pencerahan.

Itulah sebabnya, sebuah bioskop dengan infrastruktur yang baik menjadi hal mendesak. Untuk kota ini, kebutuhan tersebut (mungkin) baru bisa dipenuhi oleh 21.

Namun menurut saya, bukan hanya nama 21 yang dapat menjadi cetak biru sebuah bioskop berkategori baik, siapa pun yang bergerak di industri bioskop, entah itu biokop tradisional, bioskop digital, atau bahkan bioskop layar tancap sekalipun, memiliki peluang yang sama untuk kategori ini. Dengan menggarisbawahi bahwa budaya menonton film adalah sebuah bentuk pencerdasan alternatif.

* Agusta Hidayatullah, Koresponden okezone.com wilayah Lampung, seorang movie buff

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Maret 2009

November 27, 2008

UBL-Ipec Adakan Pelatihan Penulisan Naskah Film

BANDAR LAMPUNG (Lampost): UBL-Ipec (Internastional Program of English and Comunication), Rabu (26-11), menggelar Star Indie Movie 2008 Chapter 1 tentang pelatihan penulisan naskah film dengan menghadirkan penulis naskah Ada Apa Dengan Cinta, Jujur Prananto.

Jujur dikenal penulis naskah cukup produktif dan sudah menghasilkan berbagai skenario film-film sukses. Selain Ada Apa Dengan Cinta, Jujur juga menulis Petualangan Sherina, Cintapucino, dan Doa yang Mengancam.

Rektor UBL Yusuf Barusman dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini sengaja digelar untuk menilai bakat dan kreativitas para peserta. "Seni dan budaya itu sangat penting, sebab peradaban suatu bangsa bisa dilihat dari karya seni yang ditinggalkan," kata dia.

Oleh karena itu, dia meminta peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan serius sehingga bisa menghasilkan naskah film yang berkualitas. Dunia perfilman di beberapa belahan dunia seperti di Amerika, Eropa, India, dan China sudah menjadi industri dan menghasilkan devisa yang tidak sedikit.

Dalam paparannya, Jujur mengatakan skenario bukanlah hasil akhir dari sebulah film. Sebab, orang akan menilai kualitas sebuah film tidak dengan melihat skenarioanya, tetapi setelah melihat film itu sendiri.

Dia mengatakan skenario dalam film kurang lebih analog dengan blue print dalam arsitektur. "Skenario dibuat semata-mata sebagai sarana pembuatan film atau bagian dari pembuatan film atau bagian dari pembuatan film. Jadi skenario bukan karya akhir, sebab yang akan dinilai adalah filmnya, bukan skenarionya," kata dia.

Tahap pembuatan skenario berawal dari gagasan atau ide. Setelah memperoleh ide, kemudian ide tersebut dikembangkan dengan diskusi. Tahap selanjutnya adalah karakterisasi. Setelah menyusun plot adegan (scene plot).

Menurut Jujur, cara yang paling menyenangkan belajar menulis naskah film adalah menonton film yang secara umum dianggap bagus secara berulang-ulang, sampai kita hafal luar kepala. Setelah itu kemudian ditulis urutan adegan, atau scene plot atau treatment. n UNI/S-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 27 November 2008

November 9, 2008

Hiburan: Perlahan-Lahan, Bioskop di Lampung Bertumbangan

BANDAR LAMPUNG--Masa keemasan bisnis bioskop di Lampung selama dua dekade dari 1980-an hingga akhir 1990-an tinggal kenangan. Setelah Bioskop 21 di eks Artomoro tutup buku, kini yang tersisa bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, dan salah satunya di Plaza Bambu Kuning. Bioskop ini milik almarhum Yanto yang kini dikelola sang istri.

Sepeninggal Bioskop 21, masyarakat Lampung gigit jari jika ada film terbaru. Laskar Pelangi yang juga ditunggu warga Lampung tidak bisa ditonton segera. Terlebih saat film Ketika Cinta Bertasbih nanti diputar, kita pun tidak bisa segera menikmati.

Pencinta film di Lampung baru bisa menikmati film baru tersebut dua bulan setelah pemutaran perdana. Menunggu film dalam bentuk VCD dan DVD orisinal lebih lama lagi, sekitar 3 hingga 6 bulan. Jika ingin cepat, terpaksa berburu VCD atau DVD bajakan. Tentunya dengan kualitas ala kadarnya dan tidak menjamin. Miris kan! Atau para pencinta film terpaksa ke luar kota agar tidak ketinggalan film baru, misal ke Jakarta atau Palembang.

Salah seorang pencinta film, Ulung, menyesalkan tidak bisa menikmati film terbaru di Lampung. "Akhirnya kami kok seperti kuper saja belum menonton film terbaru," ujar Ulung yang juga aktif di komunitas film Escord Community.

Ulung mengaku terpaksa menonton film Laskar Pelangi di Jakarta saat kebetulan ada kegiatan. Di bioskop tersebut, ia berjumpa dengan beberapa warga Lampung. Demikian juga Tyo, karyawan swasta, menonton Laskar Pelangi dan Cinta Lokasi dengan pemeran Tora Sudiro harus bertolak ke Jakarta. Andi, siswa SMAN 10 Bandar Lampung, mengatakan jika telat nonton film terbaru menjadi tidak up to date.

Para pencinta film tersebut mendambakan bisa kembali menikmati film terbaru di bioskop. Tentunya dengan suasana yang nyaman dan kualitas pemutaran film bagus. "Di bioskop penonton tidak hanya ingin mengapresiasikan film, juga mencari hiburan dengan kenyamanan. Itulah yang hilang kini," ujar Dede S. Wijaya, pengamat film Lampung.

Tempo dahulu era 1980 hingga 1990, penonton film di bioskop selalu membeludak. Didukung dengan semangat produksi perfilman di Indonesia setahun bisa ada 100 film. Sebelum dan setelah hadirnya Bioskop 21, Lampung banyak memiliki bioskop, yaitu President yang kini Plaza Lotus. Bioskop Enggal yang kini Rumah Makan Aka di Jalan Raden Intan, Bioskop Raya dan Sederhana yang kini jadi Ramayana. Bioskop King kini Gedung Juang. Selain itu dua bioskop di Way Halim, kini dijadikan tempat usaha Chamart dan Columbia. Dua bioskop di Kemiling, satu di Panjang, satu di Pasar Cimeng telah berganti menjadi Indomart. Jauh sebelum itu, pernah juga berkibar Bioskop Cahaya, Kadora, Rajawali, dan Sinar.

Saat itu, banyak pengusaha bioskop. Di antaranya Yanto, kala itu pemilik Bioskop President yang tak pernah sepi penonton. Dia juga pemilik bioskop di kawasan Way Halim, Panjang, dan Cimeng. Saat ini, masih ada bioskopnya yang dipertahankan. Dan 3 bioskop itulah yang dimiliki Lampung. Sementara pengusaha lain, lebih memilih mengalihfungsikan gedung menjadi ruko atau bisnis retail.

Kolapnya Bisnis Bioskop

Seiring waktu, kondisi itu memang tak bisa dielakkan. Tyo sebagai peminat film memandang bioskop tak marak lagi sejak terjadi kelesuan produksi film Indonesia era 1990-an. Diikuti dengan hadirnya televisi swasta dan film dalam kepingan VCD dan DVD. "Makin ke sini krisis perekonomian melanda Indonesia, yang kemudian membuat orang berpikir untuk nonton di bioskop. Akhirnya, mereka yang tetap haus tontonan cukup puas dengan tayangan televisi atau mencari DVD bajakan," kata Tyo.

Meskipun produksi film kini sudah kembali menggeliat, dipelopori film Ada Apa dengan Cinta, toh tetap saja animo masyarakat nonton di bioskop tak sebesar di era 1980-an. Kenyataannya, banyak bioskop gulung tikar. Tampaknya industri perfilman memang tidak bisa terlepas dari banyak hal, selera dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Usaha bioskop bagai hidup enggan mati tak mau mulai terasa sejak krisis moneter disertai kekisruhan di berbagai tempat pada tahun 1998. "Jam tayang film bioskop ketika itu terpaksa dikurangi. Kami tidak memutar malam hari, karena kawatir dengan situasi keamanan saat itu. Orang pun enggan keluar rumah malam hari," aku Afung, pimpinan Bioskop Kim Jaya, Sabtu (1-11).

Kim Jaya dan bioskop sekelasnya pun tidak berani menetapkan harga karcis mahal. Meskipun BBM dan harga barang lain naik, karcis hanya beranjak Rp500 dari harga sebelumnya Rp7.500. "Sekarang masyarakat tinggal memilih, nonton di Bioskop 21 dengan harga karcis mahal atau di bioskop seperti ini dengan setengah harga," ujar Afung.

Tampaknya itu sudah konsekuensi dari persaingan usaha bioskop. Bioskop 21 berani memasang harga karcis mahal, karena hanya bioskop inilah yang berhak memutar film baru. Film baru yang disukai bisa bertahan 2 hingga 3 bulan di bioskop ini. Setelah itu baru giliran bioskop lainnya.

Sementara biaya operasional bioskop sangat tinggi, terutama untuk kebutuhan solar. "Per hari kami membutuhkan 150 liter untuk menghidupkan diesel dari pukul 13.00--21.00. Sekarang solar sudah Rp5.500. Listrik PLN hanya mampu untuk penerangan. Untuk menjalankan mesin film butuh tambahan dari diesel solar. Belum lagi gaji karyawan," paparnya. Kini pihaknya pun tidak berani lagi menerapkan sistem sewa film kepada pemilik film di Jakarta, tetapi dengan bagi hasil. Sistem sewa sangat mahal, bisa mencapai Rp20 juta untuk satu film baru. "Keuntungan sangat tipis. Kami hanya mencoba bertahan. Kasihan kan karyawan yang lama jika ini ditutup. Jika ditutup dan alih fungsi pun sangat susah. Karena peruntukkannya sudah sebagai bangunan bioskop. Kalau diubah harus pugar habis, sayang," ujarnya.

Bioskop ini memiliki 3 theater dengan 3 kali waktu pemutaran, pukul 13.30, 16.30 dan 17.30. Saat film bagus, penonton 1 theater rata-rata 50 hingga 70 orang. Tetapi, sepeninggal Bioskop 21 bisa mencapai 100 orang. Di Plaza Bambukunning dan Metro, masing-masing memiliki 2 studio dengan 2 kali pemutaran. Kini usaha bioskop menurut, Afung tergantung pada bagus tidaknya film dan jumlah penonton. "Jika semuanya baik, bioskop pun masih tetap ada. Di Lampung masih termasuk bagus, sedangkan di kota lain bioskop sudah banyak yang bangkrut."

Dede S. Wijaya mengatakan bioskop menjadi langka di Lampung akibat dari monopoli Bioskop 21. Film-film terbaru pasti terlebih dulu ditayangkan di Bioskop 21 satu hingga 2 bulan, bahkan lebih. Setelah itu, baru bioskop di luar Bioskop 21 dapat menayangkan.

Akibatnya, jika di suatu wilayah tak ada Bioskop 21, tak dapat menikmati film terbaru. Sedangkan produksi dan distribusi VCD dan DVD untuk film Indonesia terbaru pun harus menunggu lama, sekitar 3--6 bulan. Kondisi demikian mengakibatkan ketergantungan peminat film terhadap Bioskop 21.

Bioskop-bioskop di luar Bioskop 21 akhirnya hanya menayangkan film lawas, ataupun film-film yang tidak ditayangkan Bioskop 21. Penontonnya pun hanya dari orang-orang tertentu saja, yang memang memiliki selera terhadap film yang sedang diputar. Dede mengungkapkan pengalamannya ketika mencoba nonton di sebuah bioskop di Telukbetung. "Selain hanya memutar film lawas, suasana juga kurang nyaman dan banyak pasangan yang memanfaatkan untuk sekadar pacaran," keluhnya.

Bioskop Alternatif

Keinginan dari komunitas film di Lampung, akibat sedikitnya bioskop di Lampung adalah mendirikan bioskop alternatif. Namun, sarana ini akhirnya tidak bisa disebut bioskop. Karena sudah ada kriteria peruntukkan tersendiri yang ditetapkan pemerintah. Akhirnya, home theater menjadi alternatif yang digagas beberapa komunitas.

Saat ini, baru ada satu di Bandar Lampung, yaitu D'Cinemax di Jalan Diponegoro No. 3, Telukbetung Utara. Peminatnya pun cukup banyak, hingga terpaksa antri untuk mendapat tiket seharga Rp75 ribu untuk 6 orang per sekali pemutaran film. Penonton bisa memilih sendiri film yang akan diputar, seolah library-nya film, ujar Dede salah satu pendirinya. Bisa film industri ataupun film produksi komunitas indie dari berbagai daerah. Home Theatre dilengkapi layar berukuran 4 x 6 meter persegi dan menawarkan suasana santai serta fasilitas welcome drink dan snack.

Sementara itu, penggemar film di pelosok daerah yang tak memiliki bioskop, cukup puas dengan kehadiran layar tancap gratisan. Layar tancap ini menghibur kala ada pemilik acara hajatan menanggap mereka. Masyarakat lewat pemilik acara hajatan pun bisa memesan film yang diinginkan. Pengusaha layar tancap Hi. Moh. Amin yang sudah belasan tahun masih berjaya, mengatakan order lebih banyak berasal dari daerah pelosok, sedangkan dari kota sangat jarang.

Layar tancap ini memiliki konsumen tersendiri dengan selera film produksi tahun 1980-an. Seperti film laga Berry Prima, film drama Rhoma Irama ataupun horor dengan bintang Suzanna. "Yang memesan film terbaru seperti Nagabonar 2, Ayat-Ayat Cinta memang ada, tetapi paling satu dua. Yang menonton pun tidak membludak dibanding ketika film lama diputar," ujar pemilik usaha Tito Film, berkantor di Jalan Pramuka Bandar Lampung.

Permintaan layar tancap sangat banyak ketika berbarengan dengan masa panen di daerah. Dalam seminggu bisa hingga 10 kali ditanggap. Namun, kini usaha layar tancap pun banyak yang kembang kempis seperti halnya bioskop. "Ya mungkin karena engga ada lagi yang nanggap. Kedua, sekarang layar tancap pun menggunakan LCD yang harganya mahal. Tidak semua pemilik layar tancap siap mengeluarkan modal banyak, sedangkan yang nanggap sedikit. Dan memang hanya terbatas dari daerah," ujarnya.

Amin mengatakan kelesuan usaha layar tancap dan bioskop mulai terasa di tahun 1990-an. Ketika itu memang film Indonesia sedang terpuruk karena tidak ada produksinya. "Jadi, percuma saja ada layar tancap dan bioskop, tetapi tak ada filmnya," tandasnya. n DWI WAHYU HANDAYANI/U-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 November 2008

November 1, 2008

Apresiasi: 'Laskar Pelangi' dan Kota 'tanpa' Bioskop

Oleh Adi Tirta*

KASIHAN benar warga Kota Bandar Lampung. Saat penonton di kota-kota besar lain sudah pernah menonton film Laskar Pelangi, masyarakat Kota Tapis ini belum kesampaian melihat peran yang menawan dari film besutan Riri Riza dan Mira Lesmana ini.

Meskipun menurut media massa, jumlah penonton film ini sudah mencapai tiga juta orang, tetap saja penduduk Bandar Lampung masih minim yang menontonnya. Kalaupun ada yang sudah menonton, pilihannya ada dua: Kalau tidak menonton di kota lain, Jakarta, misalnya, ya melihat film dari keping cakram padat bajakan.

Kita sebetulnya patut bersedih setelah Artomoro dirobohkan dan akan diganti dengan bangunan lain, penduduk kota ini kehilangan tempat menonton film baru: Bioskop. Memang kota ini masih memiliki bioskop, tapi yang penulis maksudkan di sini fokus pada Bioskop 21 (Twenty One).

Bukan mau membandingkan atau menganggap bioskop lain tidak penting dan menarik. Ini lebih kepada Bioskop 21 lebih cepat memutar film yang sedang in di masyarakat. Lagi pula dari sisi kenyamanan, bioskop berjaringan itu memang yang terdepan. Memang tidak serta-merta tidak ada bioskop kita tidak bisa menonton.

Tapi ya itu tadi, bisanya hanya lewat CD. Dan untuk CD yang orisinal, masih harus bersabar menunggu beberapa bulan. Bukannya begitu diputar di bioskop kemudian sudah ada kepingan filmnya.

Di kota ini sempat ada beberapa bioksop. Misalnya Sederhana dan Raya yang sekarang sudah berubah menjadi Ramayana. Ada pula King yang kini lahannya dipakai Gedung Juang di Jalan Teuku Umar.

Ada pula Bioskop Enggal di depan Apotek Enggal di Jalan Raden Intan. Di kawasan Kemiling juga ada bioskop yang kini setengah bangunannya dipakai Indomaret.

Di kawasan Tanjungagung, juga sempat ada Bioskop Sinar, persis di atas kali yang membelah Jalan Pangeran Antasari.

Kini, jumlah bioskop sedikit. Paling tinggal Odeon di Pasar Bambu Kuning yang masih berdiri. Akan tetapi, mengharapakan film Laskar Pelangi segera diputar di sana sepertinya masih lama banget.

Bioskop buat masyarakat perkotaan seperti halnya Bandar Lampung, menurut penulis, sebuah kebutuhan. Mungkin di daerah lain yang segala akses masih terbatas, bioskop masih tergolong tempat yang belum dibutuhkan. Namun untuk kota sekelas Bandar Lampung, di mana dinamika masyarakatnya begitu dinamis, keberadaan bioskop sudah tentu penting.

Di sinilah interaksi masyarakat dengan kebudayaan, hiburan, dan intelektualitas itu bertemu. Bagi penulis, bioskop bukan sekadar tempat untuk menonton, melainkan juga tempat untuk mengapresiasi setiap bentuk hiburan yang muncul, setiap film yang diketengahkan, dan sebagainya.

Misalnya saja, mungkin kita masih ingat saat kita kecil, setiap sekolah pasti mengadakan kegiatan menonton film di bisokop. Ada film-film perjuangan, ada pula film kolosal, film tentang sejarah, dan film anak-anak yang bagus. Ketika kami masih sekolah dasar, penulis ingat pernah dimobilisasi untuk menonton film-film perjuangan, seperti Janur Kuning, film tentang pemberontakan G-30-S/PKI, dan sebagainya.

Pun demikian halnya ketika SMP, saat film Cintaku di Way Kambas diputar, kami, siswa satu sekolah, juga dimobilisasi untuk menonton.

Keberadaan bioskop pada masa itu demikian urgen. Pendidikan di kelas pun bisa dipindahkan ke ruang sinema layar lebar. Para guru hanya membimbing saja dalam diskusi setelah kami bersama-sama menonton film Cintaku di Way Kambas. Tanpa banyak membuka literatur, kami tahu ada pusat pelatihan gajah di Way Kambas, kehidupan pawang di sana, lokasi pusat pelatihan itu, hingga hal-hal berkenaan biologi dari mamalia berbelalai panjang dengan nama latin Elephas sumatranus itu.

Demikian pula saat film Petualangan Sherina mulai diputar, Bioskop 21 disesaki penonton. Tidak hanya anak-anak, orang tua, dewasa, anak baru gede, semua tumpah ruah. Ini membuktikan tingkat apresiasi masyarakat terhadap film yang berkualitas masih tinggi.

Yang terbaru tentu saja film Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal itu. Hampir setiap hari bioskop dijubeli penonton. Nah, yang unik, kalangan yang bisa dikatakan "tidak terbiasa" dengan bioksop pun, ikut menyaksikan. Perempuan-perempuan berjilbab, aktivis dakwah di kampus dan sekolah, demikian pula ibu-ibu pengajian, bapak bersama istri dan anaknya, beramai-ramai menikmati sajian film besutan Hanung Bramantyo itu. Sebuah bukti bahwa bioksop dan film yang bermutu memang dicari semua orang.

Namun, apa yang kemudian terjadi di dunia perbioskopan di kota ini? Penulis bisa mengatakan kini kita tidak punya lagi bioskop yang layak untuk memutar film-film baru dan berkualitas. Kita kehilangan ruang untuk mengapresiasi sinema yang bagus.

Kita juga kehilangan kebutuhan akan hiburan dan rekreasi. Dengan kata lain, tingkat interpretasi masyarakat kota ini terhadap sebuah karya film semakin dimandulkan.

Yang menyedihkan, kita sampai dengan sekarang tidak bisa menyaksikan film Laskar Pelangi. Film yang menginspirasi. Film yang banyak menuangkan ibrah lewat adu peran semua pemainnya. Dan yang lebih utama, kita kehilangan rasa, apresiasi, daya kritik, dan perasaan terhibur. Sungguh miris merasakan itu padahal kita berada dalam sebuah kota yang makin maju.

Sulit mengarahkan kepada siapa perihal ini dipersalahkan. Ini semata-mata hak dari pengelola dunia hiburan. Mestinya kita bisa berharap bioskop yang masih tersisa, mampu meningkatkan kualitasnya dengan menghadirkan film-film baru, baik Barat maupun nasional. Justru dengan sedikitnya jumlah bioskop merupakan peluang memperbesar pasar.

Namun, penulis melihat hal itu masih jauh panggang daripada api. Maksudnya, sulit berharap pengelola bioskop yang ada sekarang, menghadirkan film-film berkualitas baik, seperti halnya Laskar Pelangi. Kini kita hanya bisa menunggu kapan film-film itu dikemas dalam bentuk CD orisinal. Atau kita hanya bisa berharap, kapan bioskop di kota ini sudi kiranya memutar film-film yang bagus, utamanya tentu saja Laskar Pelangi.

* Adi Tirta, peminat masalah kemasyarakatan di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 November 2008

April 2, 2008

Film Berbahasa Lampung akan Diluncurkan pada Mei

Bandarlampung, 2/4 (ANTARA) - Dewan Kesenian Lampung (DKL) tengah membuat film berdurasi pendek tentang rendahnya minat warga Lampung mempelajari dan menggunakan bahasa daerahnya.

"Film produksi DKL itu berjudul Makkung Sayuk atau Belum Terlambat. Saat ini sedang dalam proses editing, kemungkinan awal Mei sudah bisa kita luncurkan," kata Ketua Harian DKL, Syaiful Irba Tanpaka, di Bandarlampung, Rabu (2/3).

Film berdurasi sekitar tujuh menit itu menceritakan seorang sutan atau petinggi adat di daerah tersebut, ketika pergi ke pasar tidak melihat atau mendengar orang berbicara Bahasa Lampung.

Sehingga, dalam benaknya selalu timbul pertanyaan, mengapa orang di tempat keramaian itu menggunakan bahasa daerah asal mereka masing-masing dan lebih dominan dialek Jakarta menggunakan kata "elu" dan "gue".

Sesampainya di rumah, Sutan tersebut juga mendengar istrinya memanggil anaknya tidak menggunakan Bahasa Lampung, maka dibenaknya muncul bahwa bahasa daerahnya tidak berkembang karena suku aslinya pun enggan menyosialisasikannya.

"Makkung Sayuk", kata dia, serta mengajak seluruh anggota keluarganya untuk membudayakan menggunakan Bahasa Lampung, begitu pula di lingkungan tempat tinggalnya.

Terkait pelestariannya, Syaiful menjelaskan DKL telah dan terus melakukan kerjasama dengan sejumlah pihak terkait persoalan Bahasa Lampung.

"Saya sempat melakukan kegiatan budaya menggunakan Bahasa Lampung yang ada dua asal yang berbeda, namun bisa berkomunikasi," kata dia.

Ia yang bukan asli suku Lampung pun mengakui jika mempelajari bahasa daerah tersebut, pasti dialeknya akan berubah dan bisa muncul dialek baru.

"Namun yang terpenting semua bisa mengerti atau terjadi komunikasi," katanya.

Sumber: Antara, Rabu, 2 April 2008