Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

August 13, 2025

Pembelajaran Sastra Daerah dan Bahasa Daerah di Sekolah Belum Beri Ruang Siswa untuk Ekspresikan Kemampuannya

Penulis: Windy Eka Pramudya
Editor: Kismi Dwi Astuti


Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Herawati menjelaskan tentang fungsi sastra dan bahasa daerah pada seminar. | Windy Eka Pramudya/PR

PIKIRAN RAKYAT - Pembelajaran sastra daerah belum memberikan ruang bagi murid untuk mengekspresikan kemampuan dalam berbagai bentuk.  

Selain itu, alokasi waktu pembelajaran sastra dan bahasa daerah di sekolah tak banyak. Untuk itulah, diperlukan diferensiasi pendekatan dalam pembelajaran sastra daerah. 

Peraih Hadiah Rancage 2025 untuk Sastra Bali sekaligus guru bahasa daerah SMPN 2 Sawan, Buleleng, Bali Komang Sujana menyebutkan, saat di kelas, dia kerap memetakan diferensiasi konten.  

January 1, 2021

Melayu Tua

Oleh Fath Syahbudin

Fath Syahbudin (IST)

 PADA tahun 1960-an orang bertanya, “Bahasa Lampung itu seperti Palembang ya?” Saya jawab.. “Tidak sama sekali.” Lampung bukan bagian dari Melayu. Kami suku ‘Melayu Tua’ (Proto Melayu).

Kalau orang Deli berkata “Kemane pigi”.. orang Minang berkata, “Kama pa i”.. orang Palembang bilang, “Nak kemano”. Anda masih bisa mengerti. Tetapi kalau saya berkata “Haga mit dipa atau agow ado’ keddow?,” maka anda tidak bisa menduga artinya.

Itulah bahasa Lampung, yang tergolong Suku ‘Melayu Tua’. Sepintas tidak mirip dengan Bahasa Melayu. Tetapi kosa kata bahasa Lampung sangat banyak berkontribusi ke Bahasa Indonesia. Sejak masa kanak-kanak saya tertarik memperhatikan bahasa, meyakini kata Melayu Tua adalah sebagai Cikal-bakal Bahasa Melayu.

August 10, 2020

Ajip Rosidi dan Kongres Daerah Nusantara

Oleh Rachmat T Hidayat


KETIKA Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) akan menyelenggarakan Kongres Basa Sunda, 19-22 Januari 1988, di Cipayung, Bogor, Ajip Rosidi, yang ketika itu menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku, Jepang, menyampaikan gagasannya, bahwa selain Kongres Basa Sunda--yang pertama kali diselenggarakan di Bandung, tahun 1924, perlu diselenggarakan pula "Kongres Bahasa-bahasa Daerah" yang diikuti oleh para penutur bahasa daerah seluruh Indonesia. Gagasannya itu kemudian dimuat dalam surat kabar Pikiran Rakyat dengan judul, "Perlu diadakan, Kongres Bahasa-bahasa Daerah (1988). Mengingat pentingnya gagasan tersebut berikut ini dikutipkan in ex-tenso berikut ini.

     

"Di dalam pertemuan-pertemuan khusus bahasa atau sastera daerah tertentu, sering orang merasa heurin ku letah (susah bicara karena takut menimbulkan salah paham) dalam membahas kedudukan bahasa daerahnya, atau kecemasannya melihat masa depan bahasa daerahnya. Dia seakan-akan mengira bahwa nasib demikian itu hanya dialami oleh bahasa daerah atau sastera daerahnya saja, sehingga kalau dia mengemukakan soal itu di forum nasional dia takut akan mengganggu kepentingan nasional. Padahal apa yang dicemaskannya itu juga dirasakan oleh suku bangsa Indonesia lain di daerah lain yang menghadapi persoalan yang sama. Dengan demikian kecemasannya itu sebenarnya bukan saja tidak akan mengganggu kepentingan nasional, melainkan merupakan bagian yang sah dari kepentingan nasional dalam soal bahasa dan kebudayaan.

February 11, 2020

Jalan Terjal Sastra Daerah

Oleh Lugina De


DAFTAR buku-buku sastra daerah yang dianugerahi Hadiah Sastra Rancagé tampaknya bisa dijadikan tolok ukur jejak kesusastraan daerah. Sejauh ini, ada tujuh kategori sastra daerah yang masuk “radar” penilaian Hadiah Sastra Rancagé, yaitu sastra Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, Banjar, dan Madura. Di antara ketujuh sastra daerah tersebut, tercatat sastra Sunda, Jawa, dan Bali-lah yang tidak pernah absen dalam penilaian Hadiah Sastra Rancagé. Sementara penilaian Hadiah Sastra Rancagé untuk sastra Lampung, sejak pertama kali masuk kategori penilaian pada tahun 2008, pernah beberapa kali ditiadakan akibat nihilnya penerbitan buku karya sastra. Hal yang sama juga pernah terjadi untuk kategori sastra Batak pada tahun 2019.

“Jika membandingkan ketujuh sastra daerah tersebut berdasarkan kontinuitas penerbitan buku, bisa dibilang sastra Sunda, Jawa, dan Bali termasuk paling mapan. Namun dalam waktu 30 tahun terakhir, secara kuantitas penerbitan buku sastra Sunda sendiri fluktuatif. Ada banyak faktor yang mempengaruhi,” ungkap pengamat sastra Sunda, Atep Kurnia.

October 2, 2018

Hadiah Sastra Rancage & Upaya Ajip Rosidi Lestarikan Bahasa Daerah

Oleh Irfan Teguh


Tahun ini, Hadiah Sastra Rancage memasuki usia yang ke-29. Para penerima hadiah adalah pengarang yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, dan Banjar.

Penganugerahaan Hadiah Sastra Rancage 2017. FOTO/Pemprov Jabar

tirto.id - Dalam acara peringatan ulang tahun Ajip Rosidi yang ke-50 pada 1988, panitia membagikan buku berjudul Ajip Rosidi Setengah Abad yang berisi kumpulan tulisan para sahabat Ajip. Pada kesempatan tersebut, Ajip juga membagikan buku bertajuk Hurip Waras! yang isinya berupa dua memoar yang ditulis dalam bahasa Sunda. Pertama, tentang perjalanan hidup Ajip memasuki dunia sastra, dan kedua tentang Kongres Pemuda Sunda yang digagas olehnya.

November 13, 2017

Mengulik Kata ‘Tabik Pun’

Oleh Novan Saliwa


Novan Saliwa. DOKPRI
POLA pergaulan masyarakat Lampung sangat mengedepankan etika sopan-santun. Norma yang diatur di dalam adat juga kental dengan ajaran dan nilai-nilai ke-Islaman, menghormati yang lebih tua, dan menggunakan panggilan sebagai bentuk penghormatan. Itu semua terkandung dalam falsafah hidup ulun Lampung piil pesenggiri, nemui nyimah, bejuluk beadok, sakai sambayan dan nengah nyappur.

Demikian juga dalam tata berbahasa memiliki pembeda. Bagaimana berbahasa dengan yang lebih tua, berbahasa di dalam musyawarah adat (himpun/peppung), berbahasa terhadap pemimpin adat atau disebut jugadudungan, dan bagaimana berbicara dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya. Bahasa yang tersusun dan dipakai di dalam acara adat biasanya disebut dengan bahasa perwatin/merwatin. Dan, bahasa yang tertata rapih dan dipakai saat musyawarah dalam adat sai bain disebut tetangguhan atau butetangguh. Di dalamnya setiap kalimat telah tersusun mana yang dahulu mana yang akhir, mana kalimat pokok mana kalimat penghias atau perumpamaan.


February 21, 2016

Les Manuscrits Lampongs

Oleh Arman AZ


BARON Sloet van de Beele menjabat Gubernur Jenderal di Hindia Belanda tahun 1861 sampai 1866. Pada era itu, dia mengoleksi sejumlah naskah beraksara Lampung. Naskah yang ditulis di kulit kayu, kulit hewan, rotan, tanduk, dan kertas itu berasal dari beberapa tempat, seperti Krui dan Menggala. Oleh Baron, sekitar 40 naskah itu diserahkan kepada Van der Tuuk untuk  diteliti dan ditransliterasi ke bahasa Prancis. Hasil telaah Van der Tuuk atas permintaan Baron itu kemudian menjadi manuskrip berjudul Les Manuscrits Lampongs.

Dalam buku Khazanah Naskah, Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia, karya Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman, terbitan YOI-Ecole Francaise d’Extreme-Orient (1999) diterakan bahwa ”Sampai sekarang ini, buku tesebut merupakan sumber utama tentang tulisan Lampung”. Istilah “sumber utama” ini  nampaknya terburu-buru, jika tidak ingin disebut keliru, karena dari penelusuran data, sampai saat ini belum ditemukan hasil kajian atau hasil penelitian mengenai isi Les Manuscrits Lampongs.

November 23, 2015

Membaca Potensi Siswa di Daerah Pebatasan

: Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra SMAN 1 Sukau

Oleh Udo Z Karzi

SEBENARNYA saya sudah kirimkan power point untuk diskusi pada Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra memperingati Bulan Bahasa 2015 di SMAN 1 Sukau, Lampung Barat, Jumat, 13 November lalu. Tapi karena keterbatasan sarana, power point dan sejenisnya tidak bisa dipergunakan di Pekon Pagardewa yang berbatasan dengan Desa Kotabatu di Provinsi Sumatera Selatan ini.

Kepala SMAN 1 Sukau Eva Oktarina (kanan) menyampaikan pendapat dalam Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra di aula SMAN 1 Sukau, Jumat, 13/11/2015. Tampil sebagai nara sumber: penulis Udo Z Karzi dan Yandigsa dengan moderator Ahmadi Putera Syahpalewi. (FOTO: EKA FENDI ASPARA)
"Listrik sering mati di sini," kata Ahmadi Putera Syahpahlewi, seorang guru bahasa Lampung.


November 9, 2015

Keberaksaraan dan Eksistensi Manusia

Oleh Tjahjono Widarmanto

KEBERAKSARAAN sudah lama membedakan diri dengan ketertinggalan melalui tradisi aksara. Kelisanan dianggap sebagai hal yag tidak ideal dan menutup berbagai akses komunikasi dan pengetahuan. Adapun, keberaksaran membukakan peluang tak hanya bagi kata, kalimat atau informasi pengetahuan namun juga menguatkan eksistensi manusia yang membedakannya dengan mahluk lain. Tak bisa terbayangkan bagaimanakah wujud eksistensi manusia tanpa tradisi keberaksaraan.

Sungguh pun demikian bukan berarti kelisanan merupakan kehinaan. Kelisanan dapat menghasilkan karya dan renungan-renungan diluar jangkauan orang melek aksara, misalnya Odyssey. Namun, keberaksaraan membantu mendorong permata-permata kelisanan menjadi lebih dikenal, menjadi lebih luas penyebarannya, menjadi mudah diakses, dan yang lebih penting menjadi lebih terbuka dan memungkinan ditafsir ulang.

November 6, 2015

Unila Siap Buka S1 Bahasa Lampung

BANDARLAMPUNG, FS - Universitas Lampung (Unila) mendesak ketegasan pemprov terkait rekruitemen formasi pegawai berlatar belakang sarjana (S-1) program studi bahasa Lampung. Bila tidak, maka para alumninya bakal menganggur.

Guru Besar Ilmu Pendidikan Bujang Rahman mengatakan ketegasan itu sangat diperlukan dan mendesak, saat ini. ”Bisa tidak pemda itu jangan mengandalkan formasi. Kan ada nomenklaturnya guru tetap non PNS. Kalau guru PNS gaji dari APBN tapi kalau guru tetap dari APBD,” kata dia.

August 28, 2015

Bahasa Lampung Kian Tergerus

BANDARLAMPUNG, FS -- Tidak dapat dihindari saat ini Kota Bandarlampung menuju kota metropolis. Keragaman warga Kota Tapis Berseri semakin memberi warna budaya. Dalam proses itu, budaya asli Lampung sedikit banyak mengalami pergeseran, termasuk pemahaman masyarakat akan bahasa dan aksara Lampung.

Menurut anggota Komisi II DPRD Kota Bandarlampung, Erdiansyah Putra, untuk tetap mempertahankan budaya asli Lampung diperlukan langkah strategis dan upaya yang nyata sebagai bentuk kepedulian agar adat istiadat warisan nenek moyang tetap lestari.

August 10, 2015

Melampungkan Bahasa Lampung

Oleh Erzal Syahreza Aswir


SETIAP daerah memiliki ciri khas tersendiri yang tak bisa disamakan dengan daerah yang lain. Ciri-ciri tersebut pun beraneka ragam mulai dari warna kulit, jenis rambut, pakaian adat, tradisi warisan leluhur, juga bahasa daerah. Ciri yang berbeda menjadikan hal tersebut sebagai sebuah identitas yang patut dijunjung tinggi.

Di bumi Nusantara ini terdapat berbagai macam identitas daerah yang beranekaragam lantaran negeri ini merupakan sebuah kepulauan, dengan tingkat multikulturalitas yang tinggi. Sebuah kekayaan yang patut dijadikan kebanggan setiap putera-puteri bangsa ini, yang juga berpotensi menjadi sumber kekayaan nasional selain sebagai sebuah identitas nasional.

June 25, 2015

FIB dan Bahasa Lampung

Olh Faris Yursanto


TULISAN Eko Sugiarto (Fajar Sumatera, 17 Juni 2015) yang kembali mempertanyakan kemungkinan berdirinya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sejatinya memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan fakultas ini untuk Lampung. Ide ini sebenarnya sudah lama dan mencuat setelah Kedutaan Besar Belanda menyerahkan Kamus Bahasa Lampung karya H.N. Van Der Tuuk.

Pendirian FIB memang mendesak untuk dilakukan jika melihat realita yang ada bahwa budaya Lampung khususnya bahasa terancam hilang. FIB diharapkan nantinya dapat menjadi tempat pusat pembelajaran budaya Lampung.


June 22, 2015

Mak Ganta Kapan Lagi

Oleh Ali Rukman


TULISAN ini tidak bermaksud menggurui dan atau memojok etnis tertentu dengan mengangkat ulun Lampung, tetapi  lebih kepada refleksi atas kejadian dan peristiwa yang telah ramai diperbincangkan banyak orang mengenai Lampung dan orang Lampung dari sudut pandang penulis sebagai pelaku pemberdayaan masyarakat.

Dalam beberapa teori dan ungkapan tentang pembangunan manusia salah satu benang merah yang dapat diambil adalah bagaimana melaksanakan pembangunan dimaksud berangkat dari dalam.   Untuk lebih memberi gambaran akan kondisi membangun SDM dari dalam penulis mengilustrasikan proses tersebut denganmenyimak proses menetasnya telor yang telah di buahi pejantan menjadi anak unggas; dimana proses sepenuhnya terjadi atas prakarsa dan atau nilai-nilai dari dalam sedangkan pihak luar hanya memfasilitasi saja dengan taat azas. Bila tidak, telor tidak akan menetas atau kehidupan yang diharapkan dari telor akan mati.

January 15, 2015

[Nyuara] Bagaimana Cara Menebus Malu?*

Oleh Udo Z. Karzi


BARU saja memberitahukan Majalah Nyuara mempunyai rumah baru di http://www.teraslampung.com/search/label/Nyuara. Belum ada yang mengirimkan karya ke Ruang Berbahasa Lampung ini. Hari ini, Selasa, 13 Januari 2015, saya ditanya.

"Apa kabar, Udo? Ada tidak buku sastra Lampung yang dipilih untuk Hadiah Rancage?" tanya Ahmad Rivai dari Yayasan Kebudayaan Rancage, Bandung.


October 20, 2014

Tesis Berbahasa Lampung?

Oleh Munaris


TABIK pun.

Ingat malam pertama? Bingung. Deg-degan. Nano-nano-lah yang dipikirkan. Ini, itu, bisa jadi inu. Begitulah kalau mau memulai sesuai yang baru. Hal yang dipaparkan pada tulisan ini juga nano-nano karena juga mengenai sesuatu yang baru. Bagaimana tidak, dalam tulisan ini dibahas mengenai tesis (karya ilmiah untuk S-2) yang ditulis dengan bahasa Lampung.

Pernahkah Anda membaca tesis berbahasa Lampung? Jawaban Anda tentu bisa Anda pahami. Sekalipun menugasi Hatim (tokoh utama The Adventure of Hatim), tidak akan menemukan tesis berbahasa Lampung di kolong langit ini. Namun, dua tahun lagi, kalau ada ibu mengidam nimang tesis berbahasa Lampung, kemungkinan bisa tertunaikan.


April 12, 2014

Bukan Sekadar Kamus

Oleh Dyah Merta


SAYA mendengar kabar jika kamus Bahasa Lampung karya H.N. van der Tuuk telah “pulang kampung”. Ini sebuah berita baik. Jika ada warta menggembirakan, semestinya ini dirayakan. Merayakannya tentu tidak dengan jamuan akbar.

Van der Tuuk bekerja menyusun Bahasa Lampung setelah dia pernah tinggal setahun di Lampung. Lahir di Malaka pada 1824 dari darah Belanda-Jerman, Van der Tuuk atau Tuan Dertik mengenyam sebagian besar pendidikannya di Belanda.

Dia bukan penduduk asli Lampung. Keahliannya membuatnya mampu mengorganisasi kerja yang kala itu belum tercetus di pikiran penduduk setempat, yakni menyusun kamus.


March 15, 2014

Memimpikan FIB di PTN Lampung

Oleh Dina Amalia Susamto


TEMPUS mutantur et nos mutamur in illid ialah kata pepatah Latin yang berarti waktu berubah dan kita pun berubah di dalamnya. Kita di sini adalah subjek pencipta kebudayaan sekaligus pengguna kebudayaan. Kita adalah masyarakat yang bergerak seperti apa yang dikatakan ahli-ahli budaya bahwa kebudayaan sebagai hasil budi (akal) dan usaha manusia.

Koentjaraningrat (2009) menjelaskan tentang tujuh unsur-unsur kebudayaan secara universal yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, religi, dan kesenian. Raymond William dalam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (2005) melihat budaya atau culture dengan huruf c sebagai suatu aktivitas keseharian manusia, lebih bersifat demokratis, milik siapa pun, dan tidak ada satu kebudayaan yang lebih adiluhung dari kebudayaan lainnya.


March 6, 2014

Budayawan Lampung Dukung Petisi Berdirinya FIB

Oleh Rudiyansyah

Fakultas itu sudah direncanakan sejak Rektor Margono Slamet. Mungkin karena pergeseran paradigma, akhirnya rencana tersebut dimentahkan.

Juperta Panji Utama
SEMANGAT konkret menyelamatkan budaya lokal benar-benar dilakukan para budayawan Lampung. Sebuah petisi untuk segera didirikan fakultas ilmu budaya (FIB) di Lampung telah diedarkan dan mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.

Juperta Panji Utama, penyair, salah satu motor pengembalian Kamus Bahasa Lampung van der Tuuk mendukung petisi yang beredar melalui jejaring sosial Facebook tersebut.

March 5, 2014

Pentingnya Kajian Naskah Kuno Lampung

Oleh Andriyati Rahayu dan Dina Amalia Susamto

BAGAIMANA sebenarnya Anda mengimajinasikan naskah kuno? Teks dari masa lalu yang mungkin karena Anda tidak mengerti huruf dan bahasanya kemudian menyingkirkannya dan tidak memedulikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Titik Pujiastuti tentang sikap masyarakat Lampung pada aksara dan naskah kuno yang dilakukan pada 1996 menyatakan pada tahun-tahun itu naskah kuno dianggap tidak relevan, sudah tergantikan dengan aksara latin dan tidak penting.