Showing posts with label siswa. Show all posts
Showing posts with label siswa. Show all posts

November 23, 2015

Membaca Potensi Siswa di Daerah Pebatasan

: Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra SMAN 1 Sukau

Oleh Udo Z Karzi

SEBENARNYA saya sudah kirimkan power point untuk diskusi pada Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra memperingati Bulan Bahasa 2015 di SMAN 1 Sukau, Lampung Barat, Jumat, 13 November lalu. Tapi karena keterbatasan sarana, power point dan sejenisnya tidak bisa dipergunakan di Pekon Pagardewa yang berbatasan dengan Desa Kotabatu di Provinsi Sumatera Selatan ini.

Kepala SMAN 1 Sukau Eva Oktarina (kanan) menyampaikan pendapat dalam Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra di aula SMAN 1 Sukau, Jumat, 13/11/2015. Tampil sebagai nara sumber: penulis Udo Z Karzi dan Yandigsa dengan moderator Ahmadi Putera Syahpalewi. (FOTO: EKA FENDI ASPARA)
"Listrik sering mati di sini," kata Ahmadi Putera Syahpahlewi, seorang guru bahasa Lampung.


July 10, 2013

SMAN 1 Sumberjaya Jawara Teater Nasional

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Cupido SMAN 1 Sumberjaya, Lampung Barat (Lambar), meraih tiga penghargaan pada Festival Nasional Teater Remaja yang diselenggarakan Kemendikbud RI di Gedung Sunan Ambu STSI Bandung pada 2—7 Juli lalu.

Dalam ajang Festival Nasional Teater Remaja ini, Teater Cupido, yang mengangkat lakon Aruk karya Iswadi Pratama dengan sutradara Ahmad Jusmar, mendapat perhargaan aktor terbaik, pemeran pembantu wanita terbaik, dan naskah terbaik.


June 14, 2013

Minat Siswa pada Sastra Rendah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sekolah diminta kreatif menyusun bahan ajar dalam bidang bahasa dan sastra untuk mengatasi rendahnya minat siswa pada sastra.

Sastrawan Taufiq Ismail mengatakan kurikulum yang mengajarkan kecintaan membaca buku dan kemampuan menulis telah tertinggal selama 63 tahun. "Sebelumnya, pada zaman penjajahan Belanda, justru pengajaran sastra sangat maju. Wajib satu karya seminggu, 18 karangan dalam 1 semester," ujar dia, saat dihubungi Lampung Post, Rabu (12-6).


May 26, 2013

Siswa dan Guru Antusias Kembangkan Media Sekolah

BANDAR LAMPUNG: Para siswa dan guru di sejumlah SMA dan SMK di Bandarlampung dan Lampung Selatan antusias untuk mengembangkan media di sekolah masing-masing sebagai sarana pengembangan minat, bakat, dan hobi serta kreativitas siswa di sekolah tersebut.

Media sekolah yang dibuat para siswa hasil praktik dalam Pelatihan
Menulis yang digelar LMC bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi
Lampung, 21-24 Mei 2013, aula PKBI Lampung di Bandarlampung.
(Foto: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)
Antusiasme para guru dan belasan siswa itu terungkap dalam Pelatihan Menulis yang digelar Lampung Media Center (LMC) selama beberapa hari, 21-25 Mei 2013, berlangsung secara bergantian di aula Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung di Bandarlampung dan berakhir Sabtu (25/5) petang, dengan instruktur-fasilitator para redaktur dan jurnalis darai beberapa media massa di Lampung dibantu aktivis pegiat pendidikan dan antikorupsi di daerah ini.


November 4, 2011

Bulan Bahasa: Televisi Pengaruhi Bahasa Siswa

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Para siswa saat ini cenderung mengenal dan mempergunakan bahasa gaul dibanding bahasa Indonesia.

“Hal ini akibat pengaruh dari tontonan televisi yang lebih banyak menyajikan tayangan dengan beragam bahasa, terutama bahasa gaul yang justru cenderung kasar,” kata Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung M. Muis di sela-sela lomba puisi se-Lampung yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Kamis (3-11).

Menurut dia, siswa dengan mudahnya meniru kata-kata gaul tersebut, walaupun itu sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan anak.

Ini merupakan tantangan bagi masyarakat, dan bagi para pendidik secara khusus. “Para pendidik bertugas mencerdaskan siswa dan meningkatkan pengetahuan siswa dalam bahasa dan sastra,” kata dia.

Muis pun berharap peran serta dari media untuk mendukung kegiatan peningkatan pengetahuan akan bahasa dan sastra.

Terkait dengan hal itu, sekaligus menyambut Bulan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan program Gemarame (Gemar Membaca Rajin Menulis) untuk siswa SD, SMP, dan SMA se-Lampung.

Kantor Bahasa sebagai UPT Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Lampung melaksanakan kegiatan ini bersama 29 UPT di 29 provinsi lain di Indonesia (ada 30 UPT).

Kegiatan ini meliputi lomba menulis surat untuk Mendikbud bagi siswa SD pada 2 November, lomba membaca puisi bagi siswa SMP (3-11), dan lomba membaca cerpen bagi siswa SMA hari ini (4-11).

Ketua pelaksana lomba membaca puisi, Tri Wahyuni, mengatakan penilaian dewan juri meliputi beberapa hal, yaitu penghayatan, penampilan, intonasi, dan mimik wajah. Ketepatan siswa dalam memilih intonasi suara dan mimik wajah yang sesuai dengan kata-kata puisi tersebut merupakan penilaian penting.

Tiga puisi yang akan dilombakan, yakni Seseorang di Jalan Karya Isbedy Stiawan, Perempuan itu Menggerus Garam karya Goenawan Moehamad, dan Aku karya Chairil Anwar.

Juara I diraih oleh Tutut Indah Parwati dari SMPN 1 Tegineneng, juara II Sri Iyasah dari MTs Nurul Falah Tanggamus, juara III Wike Feby (SMPN 1 Gadingrejo), juara IV Gading Khairunisa (SMPN 16 Bandar Lampung), juara V Zakia Prajani (SMPN 4 Bandar Lampung), dan juara VI Ramadani Firmanda (SMPN 8 Bandar Lampung).

Dalam lomba ini dipilih seorang peserta yang dinobatkan sebagai juara berbakat, yaitu Fitri Nur dari SMP Alkautsar. (MG4/S-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 4 November 2011

June 9, 2011

Lomba Baca Puisi Tingkat SD

BANDAR LAMPUNG—Untuk memeriahkan HUT ke-329 Kota Bandar Lampung tahun 2011 ini, Komite Sastra Dewan Kesenian Bandar Lampung (DKBL) akan menyelenggarakan lomba baca puisi bagi pelajar SD se-Kota Bandar Lampung.

Acara yang rencananya diselenggarakan pada 15 Juni 2011 di Lapangan Parkir Saburai ini menetapkan juara I, II, dan III beserta juara suporter terbanyak.

Adapun hadiahnya berupa piala wali kota, uang pembinaan, sertifikat untuk para guru pembimbing serta cendera mata. Bagi para calon peserta akan dilakukan pertemuan teknis pada 14 Juni 2011 di Gedung PKK (samping lapangan parkir Saburai).

Ketua Pelaksana Kegiatan Ahmad Thohamuddin mengatakan kegiatan ini merupakan inisiatif DKBL untuk mengajak siswa SD agar lebih akrab dengan puisi, khususnya puisi beberapa penyair Lampung. Selain itu, diharapkan pula para guru dan kepala sekolah di SD-SD se-Bandar Lampung dapat memberikan perhatian lebih dalam mendidik anak-anak SD untuk belajar membaca dan menulis puisi. (MG1/K-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 9 Juni 2011

March 31, 2011

Sastra: Siswa Lambar Antusias Ikuti Bedah Novel ‘PPH’

LIWA (Lampost): Siswa setingkat SMA di Lampung Barat, Rabu (30-3), antusias mengikuti bedah novel Perempuan Penunggang Harimau (PPH) yang dibuka Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Ronggur di SMAN 1 Liwa.


BEDAH BUKU. Redaktur Budaya Lampung Post Zulkarnain Zubairi (tengah) menyampaikan apresiasi dalam bedah novel Perempuan Penunggang Harimau di SMAN 1 Liwa, Rabu (30-3). Siswa sngat antusias mengikuti acara yang dihadiri langsung oleh pengarangnya M. Harya Ramdhoni (kiri) dan dimoderatori Duta Suhandari dari Radio Mahameru ini. (LAMPUNG POST/ELIYAH)

Kepala SMAN 1 Liwa yang juga penyelenggara, Bakat Sampurno, berharap melalui bedah buku tersebut siswa asal Lampung Barat dapat menciptakan karya seni, salah satunya seni sastra.

Hal sama dikatakan Ronggur. Bedah novel PPH dapat memacu prestasi siswa, khususnya di bidang seni selain prestasi sains dan olahraga.

Ia mengatakan tahun ini SMAN 1 Liwa berubah status menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Untuk itu, dalam setiap event, SMAN 1 Liwa dapat tampil dengan baik di seluruh bidang termasuk bidang seni.

Sementara itu, pengarang novel PPH, M. Rahya Ramdhoni, mengatakan buku PPH yang dikarangannya dimaksudkan untuk menyelamatkan sejarah masa lalu Lampung, yang konon masyarakat Lampung berasal dari Kerajaan Skala Brak.

Penulisan buku ini, kata dia, juga dilatarbelakangi keinginannya untuk memberikan wawasan dan pemberitahuan tentang sejarah bagi masyarakat bahwa Kerajaan Skala Brak merupakan salah satu kerajaan Islam yang tertua di bumi nusantara ini.

Pembicara lain, Redaktur Budaya Lamppung Post Zulkarnain Zubairi atau yang akrab disapa Udo Zul mengatakan jika hendak ingin menjadi pengarang atau penulis sastra banyak-banyaklah membaca, bergaul, dan menulis.

Dengan banyak-banyak membaca, kita akan mendapat banyak informasi serta memiliki inspirasi untuk membuat satu tulisan. Untuk memperkaya data dalam tulisan, perlu untuk bergaul.

"Mudah-mudahan melalui bedah buku ini sastrawan asal Lampung Barat terus bertambah guna memperkaya dan menambah karya sastra yang sudah ada," kata dia.

Dari sisi pertanggungjawaban akademis -- meski tidak terlalu penting karena karya fiksi -- novel PPH ini, kata dia, sudah tidak diragukan lagi karena pengarangnya adalah kandidat doktor Ilmu Politik dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Pada bagian lain, Udo mengatakan pesan dalam karya sastra cenderung lebih tersirat. Ini disebabkan alur di dalamnya hanya merupakan cerita tentang sesuatu atau peristiwa menurut inspirasi pengarangnya. "Dalam sastra, bukan apa yang disampaikan, melainkan bagaimana menyampaikan." (ELI/D-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Maret 2011

December 19, 2010

Buku: Karya Peserta Kemah Sastra Diterbitkan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Harian umum Lampung Post akan menerbitkan berbagai karya sastra yang ditulis peserta Kemah Bahasa dan Sastra (KBS) pelajar SMA se-Provinsi Lampung.

Dalam evaluasi kegiatan KBS pertama yang juga sekaligus peluncuran laman www.kemahsastra.com yang digelar di Kafe The Coffee, Sabtu (18-12), terungkap banyak peserta yang telah menghasilkan karya sastra. Beberapa karya sastra itu di antaranya cerpen Bakso Ajaib karya Rahmad, pelajar SMA Negeri 1 Gadingrejo, Pringsewu; Jaket Beludru, Aku dan Topi Jerami serta Cerita Seorang Psikopat karya Prisca Charity Worotikan, siswa SMA Xaverius Tanjungkarang. Cerpen Makan Singkong yang ditulis Bincar Rakutta Bangun dari SMA Negeri 9 Bandar Lampung. Kemudian puisi Isi Hati, Cerita Kita, serta Hal Tersulit karya Aizers Shyam dari SMA Negeri 1 Sukadana, Lampung Timur.

Seluruh karya sastra itu akan dikompilasikan menjadi sebuah buku dan akan diterbitkan pada Januari 2011. Beberapa karya peserta itu telah diunggah di laman www.kemahsastra.com serta grup di jejaring sosial Facebook.

Evaluasi sekaligus peluncuran laman dihadiri Pemimpin Redaksi Lampung Post Sabam Sinaga, Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia (UKI) Fajar S. Roekminto, Wakil Kepala SMA Negeri 1 Gadingrejo Handriyo, dan Ketua Panitia Pelaksana KBS I Sumarno. Rencananya KBS kembali digelar pada 2011.

Dalam evaluasi itu, Fajar S. Roekminto mengatakan KBS yang paling utama adalah hasil karya dari peserta. "Tanpa ada hasil karya dari peserta, kegiatan Kemah Bahasa dan Sastra tidak ada artinya," kata Fajar.

Sabam Sinaga mengatakan Lampung Post sebagai koran yang peduli dengan pendidikan siap menerbitkan karya-karya sastra itu. "Kemah Bahasa dan Sastra hanyalah kompor. Hasilnya itulah yang paling utama. Kami siap memublikasikan karya-karya sastra ini," kata Sabam. (KIS/K-2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Desember 2010

November 29, 2010

LAF 2010: 3 Siswa Nurul Falah Juara Lomba Baca Puisi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tiga siswa SMK Nurul Falah, Tanggamus, menjuarai Lomba Baca Puisi Berbahasa Lampung yang dilangsungkan di Taman Budaya Lampung, Sabtu (27-11).

Lomba ini merupakan rangkaian Lampung Art Festival 2010 yang dilangsungkan Dewan Kesenian Lampung (DKL). Siswa Nurul Falah merebut harapan I atas nama Nur Asyifaturohman, juara II (Hayatun Sofia Naini), dan juara I (Mahaladun).

Sementara itu, harapan II direbut Alexander dari SMKN 5 Bandar Lampung, harapan III Fitto Anggoman (SMA 1 Natar), dan juara III Karina Oktavira (SMPN 4 Bandar Lampung).

Lomba puisi diikuti 31 siswa SMP dan SMA dari Bandar Lampung, Lampung Selatan, dan Tanggamus.

Para peserta membacakan puisi berbahasa Lampung karya Udo Z. Karzi yang terhimpun dalam buku antologi puisi berjudul Mak Dawah Mak Dibingi.

Peserta mendapat hadiah uang tunai, sertifikat, dan piala. Juara I mendapat Rp500 ribu, juara II Rp400 ribu, dan juara III Rp200 ribu.

Juri lomba ini adalah penyair Udo Z. Karzi, Ari Pahala Hutabarat, dan Asaroedin Malik Zulqornain.

Zulqornain menilai siswa SMK Nurul Falah memang bagus dalam melafalkan puisi berbahasa lampung. Bahasa Lampung memiliki aksen khas. Bahasa Lampung tidak menyebut "r" tapi "gh". Ada ciri khas yang membedakan bahasa lampung dengan bahasa lain.

"Mereka (Perwakilan SMK Nurul Falah) sudah benar mengucapkan aksen tersebut," kata Zulqornain.

Menurut Zulqornain, pembacaan puisi adalah sebuah pertunjukan sehingga unsur penampilan, seperti pakaian, menjadi penilaian.

Secara keseluruhan, kata dia, semua peserta sudah membacakan puisi dengan bagus dan indah serta sudah berusaha maksimal. Udo mengatakan penampilan siswa SMK Nurul Falah cukup baik. Pelafalan bahasa Lampung sudah benar. "Mungkin karena mereka sudah biasa berbahasa lampung," ujar Udo.

Namun, ada peserta yang masih salah dalam mengucapkan aksen bahasa lampung. Selain menilai aksen, juri juga menilai vokal, ekspresi, dan penghayatan.

Zulqornain juga mengatakan lomba baca puisi bahasa lampung ini merupakan langkah monumental DKL agar bahasa menjadi tuan di negeri sendiri. Ini menjadi salah satu cara memasyarakatkan dan melestarikan bahasa daerah lampung. "Lomba ini bisa menjadi acuan agar kita enggak sungkan jika bertemu, berbicara bahasa Lampung," kata dia. (MG2/K-2)

Sumber: Lampung Post, Senin, 29 November 2010

November 21, 2010

Pelajar Ingin Kemah Sastra Dilanjutkan

GADINGREJO (Lampost): Pelajar tetap menginginkan kegiatan Kemah Bahasa dan Sastra terus dilanjutkan dan dijadikan sebagai kegiatan tahunan. Kemah yang diikuti pelajar tingkat SMA itu dinilai bisa meningkatkan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Hal itu terungkap dari survei terhadap 184 pelajar dan disampaikan dalam pembubaran Panitia Pelaksana Kemah Bahasa dan Sastra di SMA Negeri 1 Gadingrejo, Sabtu (20-11). Ketua Panitia Kemah Bahasa dan Sastra Sumarno, dalam laporannya, mengatakan dari 184 pelajar yang menjadi responden, 99,5% mengharapkan Kemah Bahasa dan Sastra itu terus dilanjutkan dan dijadikan agenda setiap tahunnya.

"Kami menyurvei responden yang semuanya pelajar SMA dan peserta Kemah Bahasa dan Sastra. Dari 184 responden, 100 pelajar menyatakan sangat setuju kegiatan Kemah Bahasa dan Sastra dilanjutkan. Sebanyak 83 orang menyatakan setuju dilanjutkan serta 1 orang menyatakan tidak tahu," kata Sumarno.

Menurut Sumarno, survei itu dilakukan dengan menggunakan jejaring sosial Facebook yang dibuat oleh alumni peserta Kemah Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Gadingrejo, Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan Harian Umum Lampung Post.

Sumarno juga menjelaskan Kemah Bahasa dan Sastra yang digelar selama tiga hari, 28—30 Oktober, itu diikuti 264 pelajar dari 44 sekolah, terdiri atas SMA, SMK, dan madrasah aliah (MA), baik negeri maupun swasta. Peserta dari setiap sekolah juga didampingi satu orang guru.

"Tidak hanya pelajar yang menginginkan Kemah Sastra ini dilanjutkan, guru-guru pendamping juga berharap kegiatan ini rutin digelar setiap tahun," ujar guru bidang studi Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Gadingrejo.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Gadingrejo Hermin Budiarsi mengatakan Kemah Bahasa dan Sastra ini merupakan kegiatan yang pertama kali digelar di Provinsi Lampung. "Kegiatan ini adalah proklamasi atas ajang kreativitas bidang bahasa dan sastra di Provinsi Lampung. Karena itu, sangat baik untuk terus dilanjutkan," kata Hermin.

Pembubaran panitia itu dihadiri perwakilan dari UKI, Dandy Nowea, dan Asisten Redaktur Kristianto. Menurut rencana, setelah pembubaran, akan dilaksanakan evaluasi. (KIS/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 21 November 2010

October 31, 2010

Sebuah Upaya Mendongkrak Literasi Pelajar

Oleh Udo Z. Karzi

(MAHA)SISWA Indonesia adalah generasi yang rabun membaca, pincang menulis! Penyair Taufiq Ismail tentu tidak main-main ketika mengeluarkan pernyataan itu dalam sebuah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia di FMIPA UPI, Bandung, 25 Oktober lalu. Dia telah melakukan kajian dengan membandingkan jumlah buku sastra yang telah dibaca di 13 negara.

Sebanyak 270 siswa antusias mengikuti Kemah Bahasa dan Sastra di SMAN 1 Gadingrejo, Pringsewu, 28-29 Oktober lalu. (LAMPUNG POST/KRISTIANTO)


Masih menurut Taufiq, siswa kita di sekolah tidak satu pun dibekali dengan kewajiban untuk membaca karya sastra. Berbeda dengan siswa di Amerika Serikat yang harus membaca 32 judul karya sastra selama siswa duduk di bangku SMA. "Malaysia dan Brunei saja mewajibkan siswanya membaca 6 karya sastra kepada siswa selama dia duduk di bangku sekolah, sedangkan di Indonesia tidak ada alias 0," kata Taufiq.

Fakta yang diungkapkan Taufiq Ismail ini semakin membenarkan asumsi bahwa selama ini kaum terpelajar negeri ini semakin jauh dari bahasa dan sastranya sendiri, bahasa dan sastra Indonesia—apatah lagi bahasa dan sastra daerah. Jangan heran jika kemampuan menulis siswa payah. Jangankan siswa, gurunya pun bukan kelompok profesi yang bisa menulis. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan mengingat peran sastra dalam kehidupan manusia tidak dapat disepelekan.

Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia (UKI) Fajar S. Roekminto pun sampai kepada kesimpulan, pelajar-pelajar Indonesia, termasuk mahasiswa mengalami "kekeringan" imajinasi, gagasan, dan pemikiran. Masalahnya, (maha)siswa jauh dari dunia sastra, sebuah dunia yang sesungguhnya sangat menarik dan menawarkan keindahan sekaligus menyelami hidup dan kehidupan dalam dituangkan para sastrawan. Sastra juga melatih pembacanya (siswa) berpikir logis dan sistematis, sehingga kemudian memudahkan mereka berperan sebagai pemberi solusi (problem solving).

Kritik terhadap pola pembelajaran di sekolah—utamanya dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia—adalah bagaimana siswa hampir-hampir tidak termotivasi untuk mengenal sastra apalagi menyelaminya. Apalagi sistem pendidikan nasional yang terbaru justru meminggirkan bahasa Indonesia karena "dianggap" tidak mampu menjadi bahasa sains dan berupaya menggantinya dengan bahasa asing (bahasa Inggris) yang "dianggap" lebih mampu menjelaskan sebuah ilmu pengetahuan. Semakin jauhlah siswa dengan bahasa dan sastra Indonesia.

Oleh karena itu, penyelenggaraan Kemah Bahasa dan Sastra Se-Provinsi Lampung di Gadingrejo, Pringsewu, 28-30 Oktober, yang diselenggarakan atas SMAN 1 Gadingrejo, UKI, dan Lampung Post menjadi oasis bagi kehidupan sastra yang selama ini seolah kesepian dan pelajar yang selama ini jauh (dijauhkan) dari sastra. Pembicara-pembicara seperti budayawan Arswendo Atmowiloto, Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat, akademisi Unila Mulyanto Widodo, dan Ali Imron, serta seniman-sastrawan-jurnalis seperti Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat, Hermansyah G.A., Syafril Yamin, dan Udo Z. Karzi bisa menjadi "provokator" untuk menebar bibit-bibit sastra di lahan yang (seharusnya) subur: para siswa.

"Menulis bisa dijadikan sebagai profesi baru tanpa menghalangi cita-cita dan pekerjaan sebelumnya," kata Arswendo. Menurut penulis buku Mengarang Itu Gampang ini, menulis menyenangkan karena segala sesuatu dapat dijadikan sebagai bahan tulisan. Namun, menulis bukan bakat instan yang datang begitu saja. "Menulis merupakan bakat yang diperoleh dengan latihan terus-menerus dan berkelanjutan," kata dia.

Djadjat Sudradjat menegaskan penulis adalah profesi terhormat. Banyak nama besar di Tanah Air karena profesinya sebagai penulis dibandingkan profesi aslinya.

Pada sesi klinik sastra, siswa secara langsung mendiskusikan dan mempraktekkan bagaimana cara menulis puisi, cerpen, sastra lisan Lampung, dan artikel untuk media massa. Sesi ini terasa lebih menyentuh karena siswa bertemu muka dengan seniman, sastrawan, dan wartawan yang paling tidak karena pengalamannya bisa berbagi ilmu tentang kiat menulis. Wawasan internasional peserta kemah ditambah pula dengan kehadiran tujuh wakil kedutaan besar dalam acara ini.

Memang, hasil Kemah Bahasa dan Sastra tidak langsung terlihat dalam sehari dua atau setahun dua. Sebab, kemampuan menulis memang bukan sesuatu dengan instan mudah didapat, melainkan melalui proses berlatih dan belajar terus-menerus. Paling tidak Kemah Bahasa dan Sastra ini mampu memberi motivasi siswa untuk mulai menyukai sastra.

Semoga Kemah Bahasa dan Sastra ini bisa mendorong tingkat literasi di kalangan siswa.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Oktober 2010

Sejenak Keluar dari Formalisme Belajar Sastra

Oleh Tri Purna Jaya

DI salah satu ruang kelas SMA Negeri 1 Gadingrejo, Pringsewu, Jumat (28-10) pagi, duduk bersimpuh di lantai kelas sekelompok anak-anak SMA yang terlihat serius menyimak penjelasan salah seorang seniman Lampung tentang penulisan puisi.

Sastrawan Iswadi Pratama menyampaikan materi penulis cerpen dalam klinik sastra Kemah Bahasa dan Sastra di SMAN 1 Gadingrejo, Pringsewu, Jumat (29/10). (LAMPUNG POST/KRISTIANTO)

Pertanyaan-pertanyaan kemudian mengalir seiring dengan teracungnya tangan. "Kak, bagaimana cara membuat puisi kita menjadi indah?" Sang seniman menjawab, "Bukan 'apa' yang mau disampaikan, melainkan 'bagaimana' cara menyampaikannya," kata seniman yang tidak lain yakni Ari Pahala Hutabarat, penggiat seni sastra dan teater dari Komunitas Teater Berkat Yakin (Kober) Lampung.

Tidak seperti pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pada umumnya, pengetahuan mengenai bahasa dan sastra disampaikan dalam suasana yang santai. Puisi-puisi atau cerpen dibacakan pemateri, kemudian didiskusikan dengan para peserta pelatihan. Lalu pertanyaan-pertanyaan mengalir lagi.

Pagi itu Ari serta beberapa sastrawan, seniman, dan budayawan Lampung lainnya berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka mengenai dunia sastra. Sebutlah sastrawan Iswadi Pratama yang memberikan materi coaching clinic (klinik pelatihan) penulisan cerpen. Lalu ada akademisi Unila Ali Imron yang mentransfer pengetahuannya tentang budaya Lampung.

Selain itu, Hermansyah dan Syafril Yamin (seniman tradisi) berbagi ilmu tentang sastra lisan Lampung. Sementara itu, Zulkarnain Zubairi mencoba memperkenalkan kerja jurnalistik dan melatih peserta menulis artikel di media massa.

Klinik pelatihan sastra tersebut merupakan salah satu acara dalam Kemah Bahasa dan Sastra 2010 yang diadakan di SMA Negeri 1 Gadingrejo, Kamis—Sabtu (28—30 Oktober). Sebuah acara bernuansakan bahasa dan sastra yang dikonsepkan dengan kemah di alam terbuka. Sekitar 270 siswa SMA dari seluruh Lampung mengikuti acara tersebut.

Suka Sastra

Beberapa peserta Kemah Bahasa dan Sastra mengaku sangat antusias dengan acara yang digagas SMA Negeri 1 Gadingrejo, Universitas Kristen Indonesia, dan Lampung Post itu. Nurkholis Saputra, salah seorang peserta dari SMA 1 Cukuhbalak, misalnya, mengaku kemah itu sangat menarik dan banyak pengetahuan tentang dunia sastra yang bisa ia peroleh. "Saya menjadi lebih mengerti," ujarnya.

Nurkholis sangat menyenangi sastra. Meski mengaku masih kesusahan untuk membuat puisi ataupun cerpen, ia selalu berusaha untuk membuat sebuah karya sastra, khususnya puisi. "Idenya susah. Kalau sudah dapat, biasanya mentok pas mau nulisnya biar kelihatan indah," ujarnya.

Kemah Bahasa dan Sastra, kata dia, memberikan nilai positif baginya, khususnya tentang cara penulisan karya sastra. "Para pemateri bilang, tulis saja, jangan mikir-mikir," ujarnya. Menurut dia, itu merupakan saran yang paling bagus karena ia selalu berpikir panjang, apakah puisinya bagus atau tidak. "Kalau sekarang, ya, saya tulis-tulis saja, enggak peduli deh bagus atau tidak. Yang penting nulis, hehe," kata dia.

Adiansa Hidananta dari SMAN 1 Metro juga mengatakan pendapat yang sama. Menurut dia, Kemah Bahasa dan Sastra sangat membantunya dalam memahami sastra dan cara-cara mengarang. Terlebih lagi, kata dia, ia bisa bertukar pikiran dengan para seniman.

Mentah

Sastra barangkali bisa disebut negasi dari formalitas-formalitas. Oleh karena itu, program Kemah Sastra didesain untuk menerabas formalitas dan kekakuan proses ajar.

Yang perlu diterabas pertama-tama yakni "meniadakan" benda pembatas semacam dinding yang melingkupi peserta dalam proses pembelajaran. Tetapi, masih terlihat jarak antara peserta dengan para pemateri, seperti masuk sekolah, membuka buku, dan mencatat apa yang dikatakan oleh pemateri.

Meskipun rata-rata mengaku sangat antusias, terlihat sekali para peserta begitu awam dengan dunia sastra dan bahasa. Dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, baik itu dalam sesi diskusi maupun pelatihan, tampak pengetahuan mereka tentang sastra hanya sekelumit, hanya sebatas apa yang sudah diajarkan melalui buku-buku dan sekolah.

Apriana Fitri, siswi MAN 1 Pringsewu, mengaku sama sekali belum mengetahui sastra. Baginya, sastra merupakan buku cerita atau tulisan-tulisan indah saja. "Yang saya tahu tentang sastra, ya, kalau bukan Marah Roesli, ya Hamka. Karena, itu yang diajarkan di sekolah," ujar dia.

Keterpakuan para peserta dengan hal-hal teoritis seperti yang diajarkan di sekolah terlihat pula dari pelatihan penulisan cerpen. Beberapa peserta mengaku ingin lebih mendalami persoalan teori-teori, seperti struktur atau tema, laiknya pelajaran sekolah.

Padahal, Iswadi Pratama yang mengisi materi penulisan cerpen mengatakan sebaiknya menulis tidak terlalu memperhatikan aturan-aturan yang ada. "Terlalu memikirkan teori malah akan menghambat proses penulisan. Tulis, tulis, dan tulis," kata Iswadi.

Sumpah Pemuda

Terkait dengan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, banyak kalangan menyambut positif kegiatan Kemah Sastra tersebut. Pjs. Bupati Pringsewu Sudarno Eddi mengatakan penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi, terutama di kalangan anak muda, sudah semakin terdistorsi. Menurut dia, Kemah Sastra tersebut menjadi salah satu sarana yang sangat bagus untuk mengajak kembali, khususnya generasi muda, agar kembali menghargai bahasa Indonesia.

Tentang sastra, Kepala SMA Negeri 1 Gadingrejo Hermin Budiarsi mengungkapkan sastra memiliki peran penting untuk membentuk identitas dan karakter.

Pembantu Dekan I FKIP Unila yang menjadi pembicara dalam dialog kebahasaan Mulyanto Widodo menuturkan hal yang pertama kali dirumuskan dalam Sumpah Pemuda 82 tahun silam yaitu bahasa persatuan. "Saat itu Indonesia masih terpecah-pecah, ada Jong Sunda, Jong Ambon, Jong Jawa, dan lain-lain," kata dia.

Bahasa Indonesia (bahasa Melayu kala itu), kata dia, menjadi satu-satunya solusi bentuk komunikasi agar semua pemikiran para pemuda dari seluruh Indonesia bisa saling dimengerti satu sama lain. "Jadi, sudah sewajarnya pemuda yang melestarikan bahasa Indonesia," kata dia.

Kemah Bahasa dan Sastra itu, menurut Mulyanto, merupakan kegiatan yang sangat bagus sebagai sebuah cara menghormati bahasa Indonesia. "Bahasa Indonesia adalah lambang identitas bangsa," ujarnya.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Oktober 2010

Kemah Sastra: Nikmati Sastra dengan Akal Budi dan Perasaan

PRINGSEWU—"Aku haus pendidikan//inginku merengguknya//meminumnya dengan rakus//seperti tidak ada lagi hari esok". Penggalan puisi Haus Pendidikan karya seorang siswa SMA tersebut dibacakan pada pentas seni pada puncak Kemah Bahasa dan Sastra 2010 di SMA Negeri 1 Gadingrejo, Kamis (28-10) hingga Jumat (29-10).

Seolah membuka keran air, puisi-puisi berikutnya mengalir deras dari peserta. Kemah Bahasa dan Sastra 2010 menjadi oasis bagi peserta yang terdiri dari siswa SMA se-Lampung. Minat terhadap acara tersebut terlihat dari keseriusan dan banyaknya pertanyaan tentang dunia sastra dan bahasa kepada pemateri.

Arswendo Atmowiloto, pembicara dalam dialog sastra, mengaku kagum terhadap minat peserta. Menurutnya antusiasme itu perlu dijaga agar tidak hanya berjalan di tempat. "Mereka cukup kritis," ujarnya.

Di sisi lain, Iswadi Pratama dari Teater Satu Lampung, pemateri pelatihan penulisan cerpen, mengatakan peserta mempunyai kecerdasan berbahasa dan memiliki minat bagus terhadap sastra. Menurut Iswadi, Kemah Bahasa dan Sastra perlu rutin diadakan jika pendekatannya sebagai sarana agar generasi muda tertarik dan ingin menulis. "Pendekatan teoretis tidak bisa dilakukan jika ingin mamahami sastra secara murni," kata Iswadi.

Lemahnya minat siswa di bidang bahasa dan sastra, menurut dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Lampung, Nurlaksono Eko Rusminto, karena kekakuan belajar. "Guru memandang kaku penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akibatnya siswa sulit menikmati bahasa dan sastra," kata dia.

Dia menilai terjadi kesalahan paradigma pendidikan sastra. Sastra diperlakukan sebagai pengetahuan, bukan dinikmati dan dipraktekkan. "Pelajaran sastra lebih menitikberatkan pada penghapalan, karya besar, nama pengarang, resume bukunya, kapan diterbitkan, dan hal-hal yang lebih kepada persoalan pengetahuan," kata dia.

Sesungguhnya esensi pendidikan sastra mengajak anak terlibat dan dapat menikmati sastra. Pendidikan sastra adalah pembelajaran akal budi, rasa, perasaan, human interest. Agar anak tak hanya menjadi pribadi yang pintar tapi juga berbudi luhur.

Ketika ditanya apakah sebaiknya pelajaran sastra dipisahkan dari pelajaran Bahasa Indonesia, dia mengatakan ada baiknya seperti itu. Namun, yang terutama bukan pada soal bertambahnya jumlah jam pelajaran sastra, melainkan bagaimana memandang sastra. (MG13/MG14/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Oktober 2010

October 30, 2010

[Kemah Sastra]: Sastra: Latihan Menulis Lebih Baik daripada Bakat

GADINGREJO (Lampost): Untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang bagus tidak bisa dilakukan secara instan dengan hanya mengandalkan bakat. Latihan terus-menerus adalah kunci utama menghasilkan karya sastra yang baik.

Hal tersebut ditekankan oleh para pemateri coaching clinic penulisan karya sastra di Kemah Bahasa dan Sastra 2010. "Tulislah apa pun yang hendak ditulis," kata Iswadi Pratama dari Teater Satu Lampung saat mengisi coaching clinic penulisan cerpen.

Menurut Iswadi, sebaiknya menulis dengan tidak memerhatikan dengan aturan-aturan yang ada. "Terlalu memikirkan teori malah akan menghambat proses penulisan. Tulis, tulis, dan tulis," kata dia.

Iswadi memberikan pedoman tentang cara termudah untuk bisa menghasilkan cerpen, yakni tulislah tentang apa yang paling diketahui dan tulislah seperti bercerita secara verbal. "Apa yang bisa dilihat, didengar, dibayangkan, dapat ditulis menjadi sebauh cerpen," kata dia.

Sementara itu, Ari Pahala Hutabarat, dari Komunitas Teater Berkat Yakin (Kober), mengatakan puisi-puisi modern sekarang ini sudah lebih lunak dan lebih bebas, karena tidak terikat dengan aturan-aturan baku yang ada pada zaman dahulu, seperti rima atau aturan-aturan bait.

Poin selanjutnya dan yang terpenting, kata Ari, adalah cara menyampaikan ide tersebut. "Bukan 'apa' yang mau disampaikan, melainkan 'bagaimana' cara menyampaikannya," kata dia. Hal tersebut mutlak dikuasai jika ingin membuat sebuah puisi yang bagus. Karena, menurut Ari, tema-tema yang selalu dipakai adalah sama dari waktu ke waktu. Tetapi cara penyampaian tema-tema itu, kata dia, selalu berbeda dan pasti berbeda antara penyair yang satu dengan yang lainnya.

"Hal terpenting untuk membuat sebuah karya seni yang indah itu tergantung dari bagaimana cara menyampaikannya," kata Ari.

Selain coaching clinic penulisan puisi dan cerpen, para peserta Kemah Sastra juga menerima coaching clinic Budaya Lampung dengan pemateri Ali Imron (budayawan dan seniman tradisi Lampung), coaching clinic sastra lisan Lampung, serta coaching clinic jurnalistik dan artikel dengan pemateri Zulkarnaen Zubairi (redaktur Opini Lampung Post). (MG13/U-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 30 Oktober 2010

[Kemah Sastra]: Kolaborasi Jawa-Mexicana Dipadu Hanya Dua Jam

GADINGREJO (Lampost): Dua buah komposisi kolaborasi musik yang cukup apik antara musik Mexicana dan Gamelan Jawa membius para penonton di Pentas Seni Kemah Bahasa dan Sastra 2010. Uniknya, kolaborasi tersebut tercipta hanya dua jam sebelum pertunjukan.

Dua buah kompisisi kaloborasi tersebut dimainkan dengan rapi oleh mahasiswa pertukaran pelajar dari Meksiko Daniel�dan guru kesenian SMA Negeri 1 Gadingrejo Sutoto pada malam Pentas Seni Kemah Bahasa dan Sastra 2010, di aula SMA Negeri 1 Gadingrejo, tadi malam (29-10).

Duah buah komposisi tersebut, yakni sebuah lagu Spanyol yang diiringi gamelan Jawa, dan sebuah komposisi untuk mengiri musikalisasi puisi Karya adalah Kita karya Samsul Bahri.

Akor-akor musik bernuansa Spanyol yang bernada minor terdengar menjadi semakin manis dalam iringan gamelan Jawa yang bernuansa magis. Suara gitar dalam nada espanyola mexicana berpadu dinamis dengan pukulan gending dan bonang.

"Agak sulit dicampurnya karena tidak familiar dengan musik Spanyol," kata Sutoto seusai pentas. Menurut Sutoto, salah satu kesulitan tersebut juga disebabkan Daniel lebih paham dengan gamelan Sunda dibandingkan gamelan Jawa. Tetapi karena susunan nada antara gamelan Jawa dengan gamelan Sunda mirip, kata Sutoto, kesulitan kaloborasi itu dapat diminimalisasi.

Daniel mengaku sangat antusias dalam berkaloborasi dengan gamelan Jawa yang baru pertama kalinya ia lakukan tersebut. "Meskipun susah pada awalnya, tetapi saya senang. Musik tradisonal Indonesia memang kaya," kata dia.

Menurut dia, musik tradisional Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibandingkan musik-musik lain. Keunikan tersebut, kata Daniel, susunan nada yang terlihat aneh tapi ternyata begitu indah saat dimainkan.

Daniel menuturkan ketertarikannya terhadap musik tradisional Indonesia berawal dari seorang temannya yang memainkan karawitan Jawa di negara asalnya. "Kawan itu dapat beasiswa untuk sekolah musik di Indonesia," kata dia.

Daniel yang saat ini sedang menempuh pendidikan musik di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung mengatakan seni tradisional lebih dihargai di luar negeri. "Dan Indonesia sangat kaya akan musik jenis ini," kata dia. (MG13/U-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 30 Oktober 2010

[Kemah Sastra]: Generasi Muda Pelestari Bahasa

GADINGREJO (Lampost): Generasi muda mempunyai peran penting dalam melestarikan bahasa Indonesia. Apalagi, bahasa Indonesia mudah tergerus oleh arus perkembangan zaman.

Pakar bahasa Mulyanto Widodo dalam dialog kebahasaan di Kemah Bahasa dan Sastra 2010 di SMA Negeri 1 Gadingrejo, Jumat (29-10), mengatakan peran pelestari itu karena generasi muda berkembang seiring zaman.

Menurut Mulyanto, kecemasan akan makin hilangnya bahasa Indonesia kian terlihat dengan semakin menguatnya anggapan bahwa bahasa asing lebih berprestise. Ia mencontohkan dengan banyaknya penggunaan bahasa asing untuk hal-hal yang bahkan sederhana, seperti papan-papan pengumuman di sekolah. "Bahasa Indonesia itu lambang identitas bangsa," ujarnya.

Mulyanto menyayangkan dengan konsep sekolah berstandar internasional yang sudah salah kaprah dalam pengimplementasiannya. Menurut dia, sekolah berstandar internasional bukan berarti semuanya �serbaasing�. "Standar internasional berarti standar sekolahnya tersebut mengikuti standar kelayakan luar negeri, bukan berarti serbabahasa Inggris," ujarnya.

Hal tersebut, kata dia, bisa menghilangkan identitas sekolah. Bagaimana bisa menjadi identitas, jika bahasa asing yang digunakan. "Bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa itu adalah fungsi pertama dan utama dari bahasa Indonesia itu sendiri," kata Mulyanto.

Padahal, lanjutnya, bahasa Indonesia adalah bahasa yang dinamis, yang selalu bisa mengikuti perkembangan zaman. Namun, kata Mulyanto, orang Indonesia sendiri seperti tidak bisa mengikutinya. "Bahasa Indonesia itu bisa beradaptasi dengan bahasa asing, tetapi jika sudah ada padanannya, hendaknya memakai bahasa Indonesia saja."

Menurut Mulyanto, fungsi bahasa asing sebaiknya digunakan harus sesuai dengan porsinya, tidak kurang dan tidak lebih.

Untuk itu, ujarnya, sebaiknya kita memiliki kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Caranya, kata Mulyanto, yakni ditujukan dengan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar. "Itu adalah fungsi kedua dari bahasa Indonesia, yakni sebagai lambang kebanggaan nasional," kata dia. (MG13/U-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 30 Oktober 2010

[Kemah Sastra]: Peserta Diminta Berkarya

GADINGREJO (Lampost): Seluruh peserta Kemah Bahasa dan Sastra SMA se-Provinsi Lampung diminta untuk berkarya. Kegiatan kemah yang diikuti 270 pelajar dari 45 sekolah tingkat menengah atas yang dimulai Kamis (28-10) berakhir Sabtu (30-10) dini hari.

Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia (UKI) Fajar S. Roekminto dalam sambutan penutupannya mengatakan Kemah Bahasa dan Sastra merupakan awal dari siswa untuk menghasilkan karya-karya sastra. "Setelah mengikuti Kemah Bahasa dan Sastra, saatnya untuk berkarya sesuai talenta masing-masing. Ini adalah angkatan pertama dari Kemah Bahasa dan Sastra," kata Fajar.

Menurut Fajar, kegiatan itu akan dilanjutkan dengan membuat website. "Dengan adanya website, anak-anak bisa saling bertukar hasil karya. Silakan kalian memberikan kritik kepada hasil karya rekan-rekannya," ujarnya.

Dia mengatakan website itu akan dikelola bersama dengan difasilitasi harian umum Lampung Post.

Rencana pembuatan website untuk menindaklanjuti Kemah Bahasa dan Sastra juga disampaikan Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat saat memberikan materi coaching clinic. Dengan website, menurut Djadjat, akan terbentuk jaringan antarpelajar dalam menghasilkan karya sastra.

Sementara saat menyampaikan materi jurnalistik, Djadjat mengatakan seorang jurnalis harus memiliki wawasan dan pengetahuan luas. Sebab, tanpa wawasan dan pengetahuan luas, tulisan yang dibuat menjadi tidak bermakna.

Jurnalis, menurut Djadjat, haruslah seorang yang mau terus belajar dan ingin mengetahui segala sesuatunya. Pernyataan itu disampaikannya setelah menguji coba pengetahuan peserta Kemah Bahasa dan Sastra yang beberapa di antaranya tidak mengetahui lokasi Kota Liwa dan Sukadana.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Gadingrejo Hermin Budiarsi dalam sambutan penutupnya mengatakan terlaksananya penyelenggaraan Kemah Bahasa dan Sastra yang digelar bersama antara SMA Negeri 1 Gadingrejo, UKI Jakarta, dan Lampung Post, tidak terlepas dari peran serta seluruh masyarakat.

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah, TNI Angkatan Laut, serta sponsor yang telah mendukung kegiatan Kemah Bahasa dan Sastra ini. Harapan kami, akan ada sastrawan-sastrawan yang lahir dari kemah ini," kata Hermin.

Dilanjutkan

Sementara itu, guru pendamping dari SMA Negeri 1 Metro Ketut Darma Swarta mengatakan kemah sastra yang menghadirkan pembicara baik dari lokal, nasional, maupun mancanegara itu sangat bermanfaat bagi anak-anak didik. "Pengetahuan anak-anak bertambah. Saya juga yakin, minat untuk menghasilkan karya sastra setelah mengikuti kegiatan ini akan lebih muncul," kata Ketut.

Demikian juga yang disampaikan guru pendamping SMA Negeri 1 Tumijajar, Tulangbawang Barat, Hendra Yugoswara. Menuru Hendra, selain pengetahuan murid bertambah, guru-guru yang mendampingi juga bisa berinteraksi. "Kami saling kenal dan kemudian bertukar informasi. Sebelum acara ini, kami tidak saling tahu," ujar Hendra yang diangkat sebagai �lurah� itu.

Baik Ketut maupun Hendra, serta beberapa guru pendamping lainnya berharap kegiatan kemah sastra bisa digelar rutin setiap tahun. (KIS/U-3)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 30 Oktober 2010

[Kemah Sastra]: Dari 'Tikus', Musikalisasi Puisi, hingga Api Unggun

GADINGREJO -- Kemah Bahasa dan Sastra SMA se-Lampung yang dibuka Kamis (28-10) pagi, resmi ditutup tadi malam. Hari ini seluruh peserta kembali ke daerah masing-masing.

Selama dua hari, sebanyak 270 pelajar dari 45 SMA se-Lampung berkemah di halaman SMAN 1 Gadingrejo, Pringsewu. Mereka tidur di enam tenda besar milik TNI AL. Penutupan hajat pelajar yang digelar SMAN 1 Gadingrejo, Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, dan Lampung Post kemarin menampilkan karya seni dan sastra peserta. Pentas seni diawali penampilan teater tuan rumah yang membawakan lakon Tikus.

Skenario ini mengisahkan para koruptor yang dianalogikan sebagai tikus. Tikus menyajikan lakon bernuansa kritik sosial. Bagaimana efek yang ditimbulkan korupsi dengan menyajikan pandangan realis dan rada nyinyir. Lewat lakon ini, siswa SMAN 1 Gadingrejo berpesan kepada penonton agar berhati-hati dan mewaspadai setiap tindak korupsi.

Lalu, penampilan dua siswa penghuni tenda satu yang membawakan puisi Haus Pendidikan dan Pendidikan dengan Jalan di Lampung Kami. Karya sastra siswa SMAN 1 Kedondong itu menyoroti dunia pendidikan di Lampung yang masih minor di sana-sini.

Tak cuma teater dan baca puisi, peserta juga bebas mengekspresikan kreativitas seni. Ada yang bermusik, drama, atau kolaborasi musik dan puisi. Lagu Pelangi yang diaransemen dengan iringan gamelan pun mampu menandingi grup aslinya, Koes Plus.

Kehadiran anggota DPD asal Lampung, Anang Prihantoro, yang membacakan puisinya berjudul Makna Sebuah Titipan (tentang angan-angan seorang anak desa akan masa depan yang sukses) menambah "bobot" kegiatan itu. "Saya tahu, puisi saya jelek. Saya cuma mau memberi semangat," kata Anang.

Puncak acara, seluruh peserta tadi malam berbaur akrab mengitari api unggun. Dua hari bergumul dengan dunia sastra, diakhiri dengan nyanyian bersama dan lagu-lagu perjuangan.

"Kalau bisa, tahun depan ada lagi," kata Nurkholis Saputra, siswa SMA Cukuhbalak, Tanggamus. Mereka mengaku sangat terkesan dengan kegiatan itu. "Saya mulai paham dunia sastra," kata Nala Rahmawati, siswi SMA Negeri 1 Kedondong. "Adain lagi tahun depan ya?" kata dia. (MG13/U-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 30 Oktober 2010

October 29, 2010

[Kemah Sastra] Orang Asing Hargai Budaya Indonesia

GADINGREJO (Lampost): Bahasa dan sastra yang merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia sangat dihargai orang-orang asing. Sebab itu, sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, sepatutnya bangga dengan bahasa dan kesusastraan di Indonesia.

Setidaknya hal itu terungkap saat dialog kebudayaan antarbangsa dalam Kemah Bahasa dan Sastra SMA se-Provinsi Lampung, Kamis (28-10). Dialog tersebut menghadirkan dua pembicara, yaitu First Secretary Kedutaan Besar (Kedubes) Palestina Taher Hamad, Pelaksana Tugas Kerja Sama Pendidikan Bahasa Kedubes Prancis Magali Defleur, dan Daniel Antonio Milan Cabrera (29) dari Meksiko.

Taher mengaku sangat kagum dengan keanekaragaman adat dan budaya di Indonesia. "Ya secara umum saya sangat terkesan dengan Indonesia yang sangat kaya dengan budaya," kata Taher.

Menurut Taher, banyak warga Palestina yang kini belajar di Indonesia. Bahkan, hasil dari belajar dari Indonesia saat ini banyak yang sudah menjadi doktor, dokter, dan insinyur. Menjadi pembicara pada Kemah Bahasa dan Sastra yang diikuti ratusan pelajar, menurut Taher, sangat membanggakan bagi dirinya.

Sedangkan Magali Defleur mengatakan Kemah Bahasa dan Sastra dengan menghadirkan pembicara asing, dapat membuka wawasan dan menghargai perbedaan. "Kedatangan saya ke sini, bisa saling membuka informasi tentang nilai-nilai budaya di Indonesia," kata Magali. Dia juga mengatakan, kesempatan belajar bagi orang-orang Indonesia di Prancis sangat terbuka.

Daniel Antonio Milan Cabrera yang mewakili Kedubes Meksiko mengatakan baru satu tahun di Indonesia, tapi sudah sangat terkesan dengan budaya Indonesia. Daniel yang kini menempuh studi seni di Bandung, mengaku akan menularkan kebudayaan Indonesia, jika telah pulang ke Meksiko. (WID/U-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 29 Oktober 2010

[Kemah Sastra] Bahasa Bangun Percaya Diri Bangsa

GADINGREJO�Dekan Fakultas Sastra UKI Jakarta Fajar S. Roekminto menjelaskan pengunaan bahasa daerah dan nasional akan membangun percaya bangsa.

Pernyataan itu dikemukakan saat dalam acara kemah sastra dan bahasa di Gadingrejo, Kamis (28-10). Menurut dia, penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia menjadi sangat penting. Terutama dalam kondisi saat ini pengunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda yang sangat memprihatinkan. "Kita sulit berbahasa asing dengan benar sebab kita juga tidak pernah serius dalam menggunakan bahasa Indonesia," kata dia.

Dia menjelaskan bahasa Indonesia kini hanya menjadi mata pelajaran nomor kesekian. Menurut dia, belajar bahasa dan sastra akan bisa mengasah batin. Dengan belajar bahasa asing, kita akan malu jika melakukan penistaan dengan bangsa lain. (WID/U-3)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 29 Oktober 2010