Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

December 3, 2015

Bambu sebagai Ikon Wisata

Oleh Eko Sugiarto


AKHIR Minggu lalu, sebuah festival nasional digelar di Kabupaten Pringsewu. Festival yang digelar untuk mengapresiasi para seniman bambu ini diberi nama Festival Bambu Nusantara (FBN). Festival tahun ini adalah yang kesembilan. Tahun sebelumnya, festival ini juga digelar di Pringsewu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu definisi festival adalah “pesta rakyat”. Merujuk pada pengertian ini, sebuah festival seyogianya adalah sebuah pesta yang digelar oleh dan untuk (dinikmati) rakyat atau orang kebanyakan. Dengan kata lain, jika ada sebuah acara menggunakan kata “festival” tetapi tidak bisa (baca: sulit) diakses oleh orang kebanyakan, kita patut bertanya apakah masih pantas acara tersebut disebut sebagai festival?


November 24, 2015

Black Heritage Tour


Oleh Dyah Merta

HARI itu aku ikut rombongan Black Heritage Tour, semacam napak tilas bekas bangunan-bangunan yang menyimpan sejarah perbudakan di Amsterdam. Berangkat dari titik-temu di Centraal Station, tur bergerak ke arah Dam Square dengan jalan kaki, membelah keramaian dengan suhu 13 derajat dan mengabaikanVenustempel dan Museum Madame Tussauds.

Tur dimulai dari Royal Palace, gedung yang dibangun pada 1648 oleh arsitek Jacob van Campen dan Artus Quellinus. “Pada tahun 1949, Muhammad Hatta melakukan penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di situ,” ujar Wim Manuhutu, sejarawan Maluku yang ikut rombongan. Ratu Belanda Juliana didampingi Perdana Menteri Belanda Willem Drees menandatangani penyerahan kedaulatan (Sovereniteit Overdracht)atas Indonesia kepada Muhamad Hatta, Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat di ruang Burgerzaal. Momen ini menjadi babak pamungkas dari Konferensi Meja Bundar.

November 23, 2015

Menggagas Wadah Promosi Wisata Bersama

Oleh Eko Sugiarto


PEMPROV mengakui wisata di Lampung masih belum banyak dikenal karena sistem promosinya yang masih kurang maksimal. Oleh karena itu, Pemprov Lampung berencana memakai kode respons cepat atau QRC (quick response code).

Hal itulah yang antara lain dilaporkan www.harianfajarsumatera.com usai acara Sosialisasi Pengenalan Sistem QRC kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kota di Kantor Gubernur Lampung, beberapa waktu lalu. Rencana memanfaatkan kode respons cepat untuk bisa terhubung ke situs web (mungkin Dinas Pariwisata Provinsi Lampung) adalah sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Diakui atau tidak, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian maju membuat komunikasi antardaerah bahkan antarnegara menjadi seakan tidak berjarak. Sebagian besar wilayah di dunia seolah sudah terhubung. Hal ini membuat batas-batas wilayah antardaerah bahkan antarnegara menjadi semakin tidak berarti, khususnya dalam hal pertukaran informasi. Dengan kata lain, dalam hal informasi, dunia seakan menjadi tanpa sekat.

November 11, 2015

Wisata Pusaka Industri

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

DI Indonesia wisata pusaka industri memang belum banyak diwacanakan, apalagi digerakkan.  Padahal potensi dan asetnya sangat besar. Apalagi setidaknya banyak industri  strategis milik negara di bawah wewenang kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha milik Daerah (BUMD). Selain itu tentunya juga industri-industri yang juga dipelopori oleh perusahaan swasta dan masyarakat.
Padahal sekaitan dengan tantangan dunia global idustri strategis itu harus mengikuti perkembangan zaman baik karena pertimbangan soal lokasi maupun  fasilitas pendukungnya. Akibatnya aset-aset lamanya  sering tidak dipergunakan lagi, mulai dari area perkebunan,pabrik-pabrik dan perkantoran terkadang dibiarkan mangkrak.

Aset-aset ini tentunya merupakan saksi sejarah dan bisa untuk pembelajaran masyarakat mengenai perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan jika diberdayakan dengan benar dan optimal sebagaimana telah dibuktikan di negara lain. Jika aset-aset ini tidak diberdayakan dan dilestarikan akan mangkrak  pada gilirannya hancur sia-sia. Padahal industri-industri tersebut pernah bisa jadi menjadi ikon dan denyut sebuah kota.

September 21, 2015

Lampung Barat, Kopi, dan Pariwisata

Oleh Eko Sugiarto


FESTIVAL Kopi Liwa atau Liwa Coffee Festival di Kecamatan Air Hitam cukup mengangkat nama Kabupaten Lampung Barat. Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan setempat dalam rangkaian peringatan HUT Ke-24 Kabupaten Lampung Barat ini tercatat di Museum Rekor-Dunia Indonesi (Muri) sebagai rekor ke-7.084 untuk kategori sangrai kopi terbanyak (http://lampost.co).

Berdasarkan catatan MURI (http://www.muri.org), setidaknya ada empat kabupaten yang pernah memegang rekor menyangrai kopi terbanyak. Tahun 2011 rekor ini dipegang Kabupaten Banyuwangi (270 tungku oleh 300 peserta), tahun 2012 dipegang Kabupaten Malang (561 peserta), tahun 2014 dipegang Kabupaten Tabanan (735 peserta), dan tahun 2015 dipegang Kabupaten Lampung Barat (1.049 tungku).


August 28, 2015

Gubernur Gagas Sail Krakatau

BANDARLAMPUNG,FS — Pemerintah Provinsi Lampung meminta pemerintah pusat menyelenggarakan kegiatan bahari internasional di Lampung dengan nama Sail Krakatau.  Kegiatan tersebut akan membantu program kelautan Lampung yang kini menjadi konsen Pemprov Lampung, yaitu Optimalisasi kekayaan Laut yang dimiliki seperti optimalisasi pariwisata kelautan Lampung.

LEPAS KONTINGEN. Gubernur Lampung M Ridho Ficardo melepas kontingan Saka Bahari Pramuka Lampung untuk mengikuti Pelayaran Lingkar Nusantara (Pelantara) dalam rangkaian Sail Teluk Tomini di Sulawesi Tengah di Ruang Abung Balai Keratur Kantor Gubernur Lampung, Kamis (27/8). (GEDE SETIYANA)
"Kalau sekarang kita masih jadi tamu. Ke depan, kita akan jadi tuan rumah. Oleh karena itu buat saka bahari di Lampung untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk penyelenggaran Sail Krakatau ke depan," kata Gubernur Lampung Ridho Ficardo saat melepas kontingen Saka Bahari dari gerakan Pramuka Lampung untuk mengikuti Pelayaran Lingkar Nusantara (Pelantara) 2015 dalam kegiatan bahari tingkat Internasioanl Sail Teluk Tomini di Sulawesi Tengah.


August 27, 2015

Pariwisata, Medsos, Kearifan Lokal, dan PAD

Oleh Eko Sugiarto


TULISAN berjudul Mengembangkan PAD Lampung melalui Pariwisata (Fajar Sumatera,5/8/2015) mendorong saya untuk membuat tulisan ini. Tulisan Saudara Muswir tersebut memang agak sulit saya pahami. Meskipun demikian, ada beberapa catatan kecil atas tulisan tersebut dan perlu saya sampaikan di sini. Tentu sebatas yang bisa saya pahami dari tulisan Saudara Muswir tersebut.

Pertama, di awal tulisan tersebut Saudara Muswir mengemukakan bahwa Provinsi Lampung punya potensi untuk meraup PAD melalui pariwisata, namun banyak destinasi wisata yang cukup sulit dikembangkan. Saya bersepakat bahwa masih banyak destinasi wisata di Lampung yang sulit dikembangkan. Akan tetapi, sulit bukan berarti tidak mungkin, bukan? Saya kira Saudara Muswir juga bersepakat dengan hal ini. Satu hal yang saya khawatirkan dari tulisan Saudara Muswir ini adalah pengembangan destinasi wisata yang semata-mata hanya bertumpu pada aspek ekonomi (dalam hal ini meraup PAD).

August 20, 2015

Duta Wisata Masa Depan

Oleh Eko Sugiarto

KEDUA anak saya begitu antusias ketika saya ajak berkunjung ke sebuah kompleks pemakaman, sekitar dua minggu yang lalu. Kompleks pemakaman yang kami kunjungi adalah Taman Makam Seniman Budayawan Girisapto di Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dr. Liberty Manik. Komponis,” ucap seorang anak saya ketika membaca tulisan di sebuah nisan. Dia juga menanyakan apa itu komponis.

August 10, 2015

Quo Vadis Pariwisata Daerah?

Oleh Eko Sugiarto


TULISAN ini terinspirasi dari keluhan kawan-kawan di bebeberapa daerah, khususnya yang berasal dari luar Pulau Jawa. Dalam beberapa kali perbincangan, muncul beberapa hal terkait dengan pariwisata di daerah mereka. Dua di antaranya adalah masalah kelembagaan dan masalah sumber daya manusia di bidang pariwisata.

Dalam hal kelembagaan, dengan berbagai pertimbangan (antara lain untuk alasan efektivitas), penggabungan beberapa dinas dalam satu lembaga adalah hal yang wajar dilakukan oleh daerah. Misal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan digabung menjadi satu adalah sesuatu yang memang sudah umum dan masuk akal. Namun, ada daerah yang menggabungkan Dinas Pariwisata dengan dinas lain yang terkesan dipaksakan.

August 5, 2015

Mengembangkan PAD Lampung melalui Pariwisata

Oleh Muswir
PROVINSI Lampung, sesungguhnya sangat berpotensi untuk meraup PAD melalui pariwisata. Namun, sayangnya masih banyak destinasi wisata yang cukup sulit dikembangkan.

Oleh karena itulah, kita memerlukan strategi yang interaktif untuk lebih menggiatkan kekuatan dunia wisata, misalnya saja destinasi yang jauh, kita harus memakai strategi diplomasi interaktif, baik melalui promosi, seperti brosur brosur yang mengembangkan wisata secara baik.

July 28, 2015

Menjadi Wisatawan Cerdas

Oleh Eko Sugiarto

MASA libur Lebaran sudah usai. Orang mulai kembali kepada rutinitas semula. Meskipun demikian, pengalaman selama mengisi libur Lebaran masih diperbincangkan di banyak tempat. Salah satu perbincangan yang sempat penulis dengar adalah perbincangan antara dua orang berikut.

Salah seorang bertanya kepada yang lain ke mana saja saat liburan Lebaran yang lalu. Orang yang ditanya menjawab di Yogyakarta saja dan mencari tempat yang tidak begitu ramai antara lain dengan berkunjung ke sebuah candi yang memang belum begitu dikenal bersama keluarga. Lantas si penanya kembali bertanya apakah candi yang dikunjungi bagus? Jawaban orang yang ditanya sangat sederhana, “Sebagus-bagus candi ya cuman batu ditumpuk-tumpuk.”

June 25, 2015

Promosi Wisata Berbasis Komunitas

Oleh Eko Sugiarto


BEBERAPA waktu lalu media ini memuat pernyataan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lampung Budhi Roswati. Inti pernyataan tersebut adalah dalam Festival Krakatau tahun ini panitia tidak akan mengundang duta besar dari negara-negara sahabat.

Duta besar dari negara-negara sahabat tidak diundang, menurut Budhi, karena kehadiran mereka dinilai tidak memberikan efek yang signifikan terkait promosi wisata Lampung. Dalam Festival Krakatau tahun ini panitia justru akan lebih fokus menggandeng berbagai komunitas yang ada di Lampung maupun di luar Lampung yang diharapkan akan lebih efektif untuk mempromosikan wisata Lampung.

June 23, 2015

Badak Andatu, Momentum Lestarikan Habitat

Oleh MD Wicaksono


BULAN ini kita memperingati hari badak. Hari badak sebagai sebuah peringatan keberhasilan kelahiran badak sumatera (Dicerorhinus sumatraensis). Tiga tahun lalu tepatnya tanggal 23 Juni 2012 berhasil lahir badak jantan sumatera di Pusat Konservasi Badak (Suaka Rhino Sumatra/Sumatran Rhino Sanctuary) Taman Nasional Way Kambas Lampung. Badak jantan tersebut diberi nama Andatu oleh Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan RI waktu itu. Nama Andatu merupakan singkatan dan berarti ANugerah DAri TUhan, yang juga merupakan perpaduan nama induknya Andalas dan raTU.

Seorang pengunjung memberikan makanan kepada Andatu, badak yang tepat berusia tiga tahun pada 23 Juni 2015. (FOTO:  WIDODO S RAMONO)
Kelahiran anak badak sumatera jantan saat itu begitu menggemparkan dunia. Hal ini dikarenakan setelah menunggu hampir 124 tahun lamanya, Indonesia berhasil mengembangbiakan badak sumatra yang termasuk satwa hampir punah pada tahun 2012 yang juga merupakan Tahun Badak Internasional. Ahli Badak Indonesia mencatat sejarah mampu mengembangbiakan badak sumatera secara alami di habitatnya.


June 15, 2015

Apa Saja Daya Tarik Wisata Lampung?

Oleh Eko Sugiarto


SEBELUM Anda menjawab apa saja daya tarik wisata Lampung, terlebih dahulu penulis akan menguraikan secara sekilas tentang batasan daya tarik wisata. Batasan ini diharapkan bisa dijadikan sebagai salah satu acuan untuk mengidentifikasi apa saja daya tarik wisata serta potensi daya tarik wisata yang ada di Lampung.

Menurut UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Sementara Warpani dan Warpani dalam buku Pariwisata dalam Tata Ruang Wilayah (Penerbit ITB, 2007) mendefinisikan daya tarik wisata sebagai segala sesuatu yang memicu seseorang dan/atau sekelompok orang mengunjungi suatu tempat karena sesuatu itu memiliki makna tertentu.

April 27, 2014

[Perjalanan] Karang Eksotis Batu Gigi Hiu

Oleh Meza Swastika

Teluk Kiluan seperti tak ada habisnya di eksplorasi keragaman potensinya. Tak hanya sebagai habitat dua spesies lumba-lumba terbesar di dunia, Teluk Kiluan juga menyajikan beragam objek lain. Salah satunya, batu karang gigi hiu.

Batu gigi hiu. (LAMPUNG POST/MEZA SWASTIKA)
DI sisi barat teluk ini terdapat pantai berpasir putih yang menghadap langsung ke arah Samudera Hindia. Di pantai ini, terdapat gugusan karang eksotis yang oleh warga setempat disebut sebagai batu gigi hiu.


April 6, 2014

[Perjalanan] Indahnya Pantai Labuan Jukung Krui

Oleh Tri Sujarwo


Lampung Barat dan Pesisir Barat. Dua kabupaten yang sebelumnya berada dalam satu daerah otonomi itu punya daya pikat pariwisata sama kuat, tetapi beda rasa. Liwa dengan sejuk alamnya. Krui dengan spektakulasi pantainya.

PERJALANAN ke Krui ini merupakan perjalanan pertama saya. Selepas menikmati pesona Kota Liwa, saya langsung beranjak menuju Krui, ibu kota Kabupaten Pesisir Barat.

Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di kota pesisir ini dari Kota Liwa. Replika pohon damar tampak begitu kokoh dengan ikan marlin di atasnya yang seperti hendak terbang. Itulah tugu yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Tugu Marlin. Tugu ini menjadi ikon bagi kabupaten yang baru terbentuk sekitar tiga tahun yang lalu ini.


March 16, 2014

[Perjalanan] Lembah Indah itu, Ulubelu

Oleh Meza Swastika

Dari bukit, di pintu masuk wilayah Ulubelu, memandang lembah sejuk itu seperti lukisan pemandangan. Indah.

HARI masih terang, tetapi hawa sejuk sudah mulai membekap desa-desa di lereng Bukit Rendingan, Ulubelu, Tanggamus. Petani-petani kopi yang pulang dari kebun menggendong ranting-ranting kayu menyeruak dari rerimbunan hutan.


March 9, 2014

[Perjalanan] Desau Napas Hutan Way Kambas

Oleh Rinda Mulyani dan Agus Susanto

Menjaga hutan Way Kambas memang bukan perkara mudah. Namun, apakah paru-paru dunia ini akan kita biarkan sekarat karena ketidakpedulian?

Taman Nasional Way Kambas
SUARA tonggeret mengisi udara hutan seluas 125 ribu hektare itu tanpa jeda. Kicau burung, pekik siamang, dengus babi, teriakan gajah, bahkan seringai macan kadang mengisi senyap. Juga obrolan empat anggota Rhino Protection Unit (RPU) Taman Nasional Way Kambas yang sedang patroli suatu siang.


February 23, 2014

[Perjalanan] Menjemput Api Porprov dari Krakatau

Oleh Juwantoro

Pesona Gunung Anak Krakatau tak terbantahkan. Selain itu, gelegak aktivitas vulkaniknya juga luar biasa. Itu yang melatari pengambilan api Porprov VII Lampung Selatan dari sini.

“HANTU” berupa gundukan tinggi pasir hitam dengan puncak mengepulkan asap putih itu tinggal sejangkauan. Puluhan orang terus memacu deras langkahnya untuk meraihnya, Kamis (19/2).

Mereka adalah rombongan Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza yang didampingi Sekkab Sutono, Ketua KONI, dan jajaran panitia Porprov VII 2014. Mereka sedang berjuang mendapatkan api Gunung Anak Krakatau yang akan “membakar” semangat 5.000-an atlet dan ofisial yang berlaga pada event olahraga tingkat provinsi di Kalianda.

February 9, 2014

[Perjalanan] Mengudara di Teluk Lampung

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Menikmati pemandangan Teluk Lampung dari udara adalah spektakulasi luar biasa. Salah satu caranya adalah terbang dengan paramotor.

FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NS

“Ready to landing,” kata Waras Budi.

“Okay, landing area clear,” jawaban instruktur di bawah menjawab.