Oleh
Jauhari Zailani
 |
Jauhari Zaelani (ilustrasi nefosnews.com) |
KETIKA remaja, saya tinggal di Yogya. Sebagai anak muda ada dua pekerjaan yang saya kagumi yaitu sastrawan dan wartawan. Banyak teman yang mentertawakan, karena aneh. Teman sebaya amat kagum dan ingin menjadi dokter, insinyur, tentara atau pilot. Untuk apa menjadi wartawan? Jadi tentara, gagah. Jadi insinyur, kaya. Menjadi dokter, kaya dan bersih. Menjadi pilot, bisa melihat dunia dari langit, seperti Gatotkaca.
Tidak. Wartawan juga keren. Ada yang tetap konsisten menjadi wartawan saja hingga mati. Tetapi ada yang menambah profesi lain, misalnya menjadi pedagang. Setelah menjadi wartawan, banyak yang berhasil mendirikan usaha yang berhubungan dengan bisnis Pers. Bahkan banyak pula yang berubah menjadi pedagang saja, atau menjadi politisi kemudian menjadi pejabat. Meski banyak juga yang memanfaatkan kewartawanannya, menjadi penjahat. Memeras pejabat yang jirih, memalak pengusaha yang berkutat rezeki di birokrasi. Bahkan, menjadi wartawan bisa menjadi alat baru “ngemis” kesana-kemari.