Showing posts with label pers. Show all posts
Showing posts with label pers. Show all posts

June 8, 2021

Jejak Udo Z Karzi di Dunia Jurnalistik hingga Dikenal sebagai Sastrawan

Oleh Resky Mertarega Saputri


Udo Z Karzi (Tribunlampung.co.id/Reskymerta)

HAMPIR sepanjang usianya Zulkarnain Zubairi yang dikenal dengan nama Udo Z Karzi hidup dari menulis. Dia juga sempat terjun ke dunia njurnalis.

Ia sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi SMA Negeri dan MAN di Liwa.

Udo Z Karzi pernah terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan lepas Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung pada tahun 1995-1996.

January 24, 2019

Kumpulan Orang-Orang ”Gila”

Oleh Hapris Jawodo


BAGI saya, penggalan kehidupan di Teknokra Unila selama empat tahun (1986-1990) merupakan catatan yang membekas sangat dalam. Selama di sini, semua pengalaman sebagai seorang mahasiswa rasanya sangat lengkap. Pun bergudang-gudang bekal ilmu, wawasan, dan pengalaman, yang kemudian menjadi modal penting pasca lulus kuliah.

Kehidupan di kampus ibarat di surga. Di sini, saya punya kawan yang seperti saudara. Di sini saya punya dosen-dosen yang bersikap seperti sahabat. Di sini saya kenal banyak mahasiswa, dosen, bahkan karyawan dan Satpam Unila, di mana mereka juga memberi akses yang sangat luas—yang orang lain belum tentu mendapatkannya.

Teknokra: Cinta, Benci dan Damai

Oleh Ferry Faturokhman



SAYA tak pernah bisa melupakan saat-saat awal mengenal Teknokra di akhir Agustus 1999. Saat itu saya bersama lima ribuan mahasiswa baru lainnya berada di GSG Unila (Gedung Serba Guna Universitas Lampung) mengikuti kegiatan propti (program pengenalan perguruan tinggi). Jadwal hari itu adalah pengenalan UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ada di Unila. Ada Pramuka, Filateli, Menwa, Silat dan lain lain.

Setiap UKM mengenalkan diri dengan kekhasannya masing-masing. Mapala mengenalkan diri dengan meluncur membawa bendera Mapala dari ketinggian 20 meter langit-langit GSG. Saya menyukai panjat tebing dan naik gunung sejak SMA (Sekolah Menengah Atas). Di SMA 1 Serang, saya sempat tercatat sebagai anggota Wapala (Siswa Pecinta Alam). Beberapa gunung seperti Ciremai, Gede, Pangrango dan dua gunung di Banten pernah saya naiki. Tapi saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Lalu ada sebuah UKM, mengenalkan diri dengan cara unik membagikan koran seperti layaknya tukang koran pada mahasiswa baru. Saya mengambil satu, karena tak semuanya kebagian. Koran itu ternyata Tabloid Teknokra. Tampilannya profesional, seperti tabloid pada umumnya. Saya sempat membatin ”apa iya ini dibuat mahasiswa, rapih sekali.”

Teknokra, Sebuah Wadah Investasi Ilmu dan Masa Depan

Oleh Moh. Ridwan


SEORANG mahasiswa baru Universitas Lampung bertanya tentang aktivitas kampus yang kemungkinan akan digelutinya di luar bangku kuliah. Visinya bagus, dia ingin menjadi ‘mahasiwa plus’ yang kelak siap menghadapi dunia nyata selepas wisuda.

Dalam pikirannya, dunia sesungguhnya adalah dunia di luar bangku kuliah, yakni dunia kerja. Sementara kampus hanya untuk bekal  menyongsong masa depan yang ‘mungkin’ tidak pasti seiring ketatnya persaingan di dunia kerja. Dan, itu dikuatkan dengan masukan-masukan orang-orang dekatnya untuk berbuat lebih di kampus, bukan sekedar menjadi mahasiswa yang datang ke kampus, belajar, dan pulang ke rumah atau tempat kost.  

December 22, 2018

Atje Padmawiganda, “Medan Ra’jat”, dan Sejarah Pers di Lampung

Oleh Arman AZ


BEBERAPA tahun lalu, dalam buku lama terbitan Dinas P & K Provinsi  Lampung tahun 80-an, saya memergoki nama Atje Padmawiganda (selain Kamaroeddin dan Mas Arga, nama yang lebih dulu familiar dalam sejarah pers di Lampung) dan perannya dalam penerbitan koran di Lampung. Nama itu mengeram dalam memori saya karena nyaris tidak pernah terdengar.



Koran Medan Ra'jat, Soeara Lampoeng, Fadjar Soematera, dan Pengharapan Banten koleksi perpustakaan Universitas Leiden (Foto: Arman AZ)

Hingga akhirnya saya bersua lagi dengan nama Atje, kali ini lengkap dengan arsip koran Medan Ra’jat di Perpustaan Leiden, Belanda. Apa yang selama ini saya ketahui tentang masa-masa awal kehidupan pers di Lampung, ternyata belum lengkap dan berbeda (jika tak mau dibilang keliru atawa tidak tepat).

June 21, 2017

Angkatan 90, Sastra, dan Upaya Bikin Buku*

Oleh Udo Z Karzi 


MANUSKRIP DAN BUKU: Jurnalistik Kampus (1992), Naskah Puisi Sarasehan dan Temu Penyair Lampung 1994 (1994), Daun-daun Jatuh Tunas-tunas Tumbuh (1995), Anak Muda Minta Perubahan (2000), dan  Etos Kita: Moralitas Kaum Intelektual (2002)

BAIKLAH, saya mau bikin orat-oretan sekaitan perkembangan sastra di Lampung sepanjang pengetahuan saya. Tidak terlalu ilmiah, apalagi disertai dengan catatan kaki.

Saya cuma tergerak untuk melengkapi Catatan Herman Batin Mangku, "Generasi Sastra, Generasi UKMBS" di Facebook-nya, 18/6/2017, yang dimaksudkan sebagai catatan atas kliping tulisannya "Panggung Puisi Kita Dewasa Ini" tertanggal 9 November 1994.

Saya beruntung karena sebagai aktivis pers mahasiswa, saya sempat diberi amanah menjadi Redaktur Budaya (1991-1993) dan staf Litbang karena sulit berkembang, hehee... (1994-1996) di Surat Kabar Teknokra Unila. Dalam posisi itu, saya bisa lebih leluasa memperhatikan perkembangan sastra di kampus dan juga Lampung.


November 30, 2015

Kreativitas Kunci Menulis Esai

MENULIS ESAI. Redaktur Pelaksana Fajar Sumatera Udo Z Karzi menyampaikan materi dalam Pelatihan Menulis Esai yang diselenggarakan LPM Natural FMIPA Unila, Sabtu (28/11). (FOTO: FAJAR SUMATERA/M BURHAN)
BANDARLAMPUNG, FS --Menulis esai memerlukan kreativitas penulisnya. Sebab, muatan imajinatif harus beriringan dengan kecerdasan. Selain itu juga dibutuhkan kemampuan menyatukan tiga seni menulis yaitu ilmiah, sastra, dan jurnalistik.

Redaktur Pelaksana Fajar Sumatera Udo Z Karzi  mengatakan itu saat menjadi pemateri pelatihan menulis esai yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Pers Natural FMIPA Universitas Lampung (Unila), di kampus FMIPA Unila, Sabtu (28/11).

August 30, 2015

FLP Lampung Undang Udo Z Karzi Isi Training Menulis Asyik di Lampung Post

Oleh Adian Saputra


Duajurai.com, Bandar Lampung – Penulis senior yang juga penyair Lampung, Udo Z Karzi, Minggu, 30/8/2015, menjadi pembicara dalam kelas “Menulis  Asyik” yang diadakan di ruang pertemuan harian umum Lampung Post. Acara ini diadakan Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung.

Suasana pelatihan “Menulis Asyik” di ruang pertemuan Lampung Post yang diadakan FLP Lampung. ISTIMEWA
Udo memaparkan beberapa kiat menulis sehingga menjadi keasyikan tersendiri. Penyair bernama asli Zulkarnain Zubairi ini adalah penulis buku yang produktif. Selain kumpulan puisi Mak Dawah Mak Debingi, Udo juga menulis beberapa buku lain, di antaranya Menulis Asyik.

June 12, 2015

[Cerita Kenangan] Tentang Wartawan dan Seniman Itu...

Oleh Anton Bahtiar Rifa'i


Beberapa aktivis Surat Kabar Mahasiswa Teknokra 1990-an.
Dari ke kanan (depan): Udo Z Karzi dan Anton Bahtiar Rifa'i
(belakang): Ari Wahyu, Affan Zaldi Erya, Mohammad Ridwan.
“SENIMAN gagal adalah manusia yang cocok jadi wartawan.” Ucapan itu muncul dalam perbincangan saya dengan Udo Z Karzi, suatu hari, di Bandar Lampung, belasan tahun lalu.

Tentu, bukan “seniman gagal” dalam arti sesungguhnya, yang kami maksud. Kami cuma meyakini: untuk jadi wartawan, dibutuhkan keindahan merangkai kata ala seniman, tapi tetap menghadirkan rasionalitas yang terang benderang –tidak segelap karya seniman. Itulah yang kami maksud dengan “seniman gagal” atau setengah seniman.

December 28, 2014

[Buku] Bikin Acara Nulis Jadi Menyenangkan

Oleh Tita Tjindarbumi

Data buku:
Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis
Ihwal Literasi dan Proses Kreatif
dengan Sedikit Tips

Udo Z. Karzi
Sai Wawai Publishing, Metro
vii + 104 hlm.
MEMBACA buku Udo si tukang tulis, saya jadi ingat pada seorang perempuan dari negeri yang sama... Negeri Ruwa Jurai... Perempuan yang suka nulis... ya nulis apa saja yang harus dikeluarkan dari kepalanya, biar enggak bikin otak buntu karena kesumbat berbagai hal. Tuang... tumpahkan... buang dari benak dengan menulis...
                               
***

Menulis bagi sebagian besar orang adalah katarsis. Setiap orang dapat melepaskan segala seuatu yang menumpuk di benak dan juga di dada. Bagi sebagian besar penulis, menulis membuat perasaan menjadi lega karena semua unek-unek bisa ditumpahkan dalam tulisan. Tentu selain merasa lega, penulisnya akan merasa mendapatkan kepuasan tersendiri manakala tulisannya dibaca oleh banyak orang sekaligus menjadi inspirasi bagi pembacanya.


December 15, 2014

Klinik dan Buku Menulis Asyik Diluncurkan

KOMUNITAS diskusi Cangkir Kamisan Metro meluncurkan Klinik Menulis sekaligus buku Menulis Asyik karya wartawan Lampung Post Zulkarnain Zubairi di Saung Komunitas Diskusi Cangkir, Kota Metro, Sabtu 13/12).

MENULIS ASYIK. Penulis Udo Z Karzi menjelaskan buku Menulis Asyik karyanya, saat peluncuran di Saung Komunitas Diskusi Cangkir Kamisan, Kota Metro, Sabtu (13/12). Selain Menulis Asyik, saat itu juga diluncurkan Klinik Menulis. (LAMPUNG POST./RUDIYANSYAH)
Dalam peluncuran klinik dan buku tersebut, hadir sang penulis buku yang lebih dikenal dengan nama Udo Z. Karzi dan memberikan pelatihan menulis kepada sekitar 40 pegiat diskusi yang hadir.


September 8, 2014

Tukang Tulis Plus

Oleh Jauhari Zailani


Jauhari Zaelani
(ilustrasi nefosnews.com)
KETIKA remaja, saya tinggal di Yogya. Sebagai anak muda ada dua pekerjaan yang saya kagumi yaitu sastrawan dan wartawan. Banyak teman yang mentertawakan, karena aneh. Teman sebaya amat kagum dan ingin menjadi dokter, insinyur, tentara atau pilot. Untuk apa menjadi wartawan? Jadi tentara, gagah. Jadi insinyur, kaya. Menjadi dokter, kaya dan bersih. Menjadi pilot, bisa melihat dunia dari langit, seperti Gatotkaca.

Tidak. Wartawan juga keren. Ada yang tetap konsisten menjadi wartawan saja hingga mati. Tetapi ada yang menambah profesi lain, misalnya menjadi pedagang. Setelah menjadi wartawan, banyak yang berhasil mendirikan usaha yang berhubungan dengan bisnis Pers. Bahkan banyak pula yang berubah menjadi pedagang saja, atau menjadi politisi kemudian menjadi pejabat. Meski banyak juga yang memanfaatkan kewartawanannya, menjadi penjahat. Memeras pejabat yang jirih, memalak pengusaha yang berkutat rezeki di birokrasi. Bahkan, menjadi wartawan bisa menjadi alat baru “ngemis” kesana-kemari.


Bersenyum Manis dari Pringsewu Raih Saidatul Fitriah 2014

BANDAR LAMPUNG, TRIBUN -- Endri Y, jurnalis harian Koran Editor, memenangkan Penghargaan Saidatul Fitriah 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung. Karya jurnalistiknya yang menelusuri fenomena pekerja seks komersial (PSK) di Pringsewu menyisihkan dua karya jurnalistik lain yang menjadi nominator.

Ketua AJI Bandar Lampung Yoso Mulyawan (kiri) menyerahkan Penghargaan
Saidatul Fitriah 2014 kepada Endri Y, jurnalis Koran Editor (tengah).
Bersamaan dengan itu, diserahkan pula Penghargaan Kamaroeddin 2014
kepada Udo Z Karzi (kanan).
Menurut Dewan Juri terdiri dari H.S. Tisnanta, Budisantoso Budiman, dan Fadilasari, Endri dalam berita berserinya mengabarkan secara berkelanjutan mengenai kondisi seorang PSK yang memutuskan berhenti menjalani aktivitasnya.


September 7, 2014

Zulkarnain Zubairi Raih Penghargaan Kamaroeddin

JURNALIS Lampung Post, Zulkarnain Zubairi, dianugerahi Penghargaan Kamaroeddin oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung dalam malam puncak HUT ke-20 AJI, Sabtu malam, di Kafe Rumah Putih, Gotongroyong, Bandar Lampung.

Ketua Juri Tisnanta mengatakan Zulkarnain Zubairi dipilih sebagai pemenang karena berkontribusi besar terhadap perkembangan karya jurnalistik bertema budaya Lampung. Jurnalis yang juga biasa disapa Udo Z. Karzi ini juga dinilai konsisten dalam menggerakkan penulis muda di Lampung untuk berkarya, terutama menyangkut aspek lokalitas Lampung.

Udo Z Karzi Raih Kamaroeddin Award 2014

Oleh Budisantoso Budiman


JURNALIS, penulis sekaligus pegiat seni dan budaya khususnya sastra dan bahasa Lampung Zulkarnain Zubairi (Udo Z Karzi) meraih Kamaroeddin Award 2014 yang diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung pada Malam Refleksi 20 Tahun AJI sekaligus penganugerahan penghargaan, di Kafe Merah Putih Bandarlampung, Sabtu (6/9) malam.

Udo Z Karzi (tengah) saat menerima Kamaroeddin Award 2014
diserahkan wakil keluarga Alm Kamaroeddin, di Bandarlampung,
Sabtu (6/9) malam. (FOTO: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)
Dewan juri menilai, Zulkarnain Zubairi konsisten sebagai jurnalis dan penulis yang tidak hanya mampu menuliskan dan mengangkat problematika sosial politik dan kemasyarakatan dengan kemampuan jurnalistik yang dipunyai, tapi juga konsisten dalam berkiprah mengangkat budaya Lampung khususnya bahasa dan sastra Lampung yang terancam punah, sehingga tetap menjadi lestari, berkembang, dikenal publik dan eksis sampai saat ini.


Udo Z. Karzi Raih Penghargaan Kamaroeddin

BANDARLAMPUNG - Zulkarnain Zubairi atau yang lebih dikenal dengan Udo Z. Karzi meraih Penghargaan Kamaroeddin pada malam refleksi 20 tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung yang digelar di Kafe Rumah Putih yang beradi di Kelurahan Gotongroyong, Tanjungkarang Pusat, tadi malam.

Dia dinilai memiliki konsistensi sebagai budayawan Lampung. Udo Z. Karzi menyisihkan nominator lainnya dalam meraih penghargaan tersebut, yakni Iswadi Pratama, LBH, S.B. Laila, dan Uki M. Kurdi.

December 31, 2013

DKL Siap Luncurkan Portal Berita "Warta Seni"

DEWAN Kesenian Lampung (DKL) siap meluncurkan portal berita seni pada pertengahan Januari 2014 mendatang.

Portal berita beralamat di: www.wartaseni.com, itu diharapkan benar-benar menjadi kanal informasi para seniman dan budayawan di Lampung dan Indonesia.


November 29, 2013

MGMP Bahasa Indonesia SMP Berlatih Menulis

MUSYAWARAH Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pesawaran mengadakan pelatihan penulisan artikel dan opini. Pelatihan diadakan pada Kamis (28/11) 2013. Pelatihan ini hanya diperuntukkan anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pesawaran.

Kegiatan pelatihan dibuka pukul 09.00 oleh Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pesawaran Nur Fasila. Hadir pada kegiatan tersebut 30 guru Bahasa Indonesia dari 15 SMP/MTs di Pesawaran. Pelatihan penulisan artikel dan opini mengundang redaktur opini dan budaya Lampung Post Zulkarnain Zubairi, yang lebih akrab disapa Udo Z. Karzi.


September 23, 2013

Perselingkuhan Intelektual

 Oleh Oki Hajiansyah Wahab


TULISAN ini terinspirasi tajuk Lampung Post berjudul Perselingkuhan Profesi, Jumat (20-9), dan artikel Kompas Legasi Intelektual yang ditulis Suwidi Tono, Kamis (19-9). Perdebatan terkait kiprah intelektual dan politik memang bukanlah perdebatan baru, hal ini adalah perdebatan epik dari masa ke massa.

Soetandyo Wignyosobroeto (2010) menjelaskan perdebatan semacam ini mulai lahir pascaera Renaissance, dengan peran universitas semakin eksis seiring tumbuhnya negara-negara nasional di Eropa Barat yang kala itu berlomba meningkatkan kekuatan finansial, industrial, dan militernya.


September 20, 2013

[Tajuk] Perselingkuhan Profesi

EKSISTENSI setiap profesi selalu hadir di tengah persinggungan dua arus deras kepentingan, yaitu kepentingan publik dan elite. Orientasi semata kepada kepentingan publik mestinya menjadi tolok ukur martabat sebuah profesi.

Martabat profesi menjadi harga mati pada profesi yang bersifat tertutup. Sebab, ia memiliki syarat yang sangat ketat, seperti sekolah formal, memiliki undang-undang profesi, izin praktik, kode etik, dan code of conduct.