Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

June 23, 2015

Badak Andatu, Momentum Lestarikan Habitat

Oleh MD Wicaksono


BULAN ini kita memperingati hari badak. Hari badak sebagai sebuah peringatan keberhasilan kelahiran badak sumatera (Dicerorhinus sumatraensis). Tiga tahun lalu tepatnya tanggal 23 Juni 2012 berhasil lahir badak jantan sumatera di Pusat Konservasi Badak (Suaka Rhino Sumatra/Sumatran Rhino Sanctuary) Taman Nasional Way Kambas Lampung. Badak jantan tersebut diberi nama Andatu oleh Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan RI waktu itu. Nama Andatu merupakan singkatan dan berarti ANugerah DAri TUhan, yang juga merupakan perpaduan nama induknya Andalas dan raTU.

Seorang pengunjung memberikan makanan kepada Andatu, badak yang tepat berusia tiga tahun pada 23 Juni 2015. (FOTO:  WIDODO S RAMONO)
Kelahiran anak badak sumatera jantan saat itu begitu menggemparkan dunia. Hal ini dikarenakan setelah menunggu hampir 124 tahun lamanya, Indonesia berhasil mengembangbiakan badak sumatra yang termasuk satwa hampir punah pada tahun 2012 yang juga merupakan Tahun Badak Internasional. Ahli Badak Indonesia mencatat sejarah mampu mengembangbiakan badak sumatera secara alami di habitatnya.


September 6, 2014

Kota Lama, Kota Baru, Kota Kreatif

Oleh I.B. Ilham Malik


DALAM menilai sebuah kota, tentang kondisinya saat ini dan juga dalam memproyeksikan masa depannya nanti yang berbentuk seperti apa, kita tentu tidak bisa meninggalkan apalagi menanggalkan sejarah terbentuknya kota itu sendiri. Kita sebut saja misalnya ketika kita membicarakan dan juga membandingkan tentang tata ruang Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.

Sebab, sejarah terbentuknya kota itu sendiri berbeda-beda. Proyeksinya juga berbeda, sehingga bentukannya pada masa kini menjadi juga berbeda. Karena itu, kita tentu perlu secara objektif melihat dan juga menilai kondisi suatu kota, yang mana sebaiknya tidak terlepas dari sejarah pembentukannya sendiri pada zaman awalnya dahulu. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas secara spesifik sejarah kota-kota kita, terutama membahas tentang sejarah Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.


August 30, 2014

Kota Budaya, Kota Kreatif

Oleh Udo Z. Karzi


BANDAR Lampung Potensi Jadi Kota Budaya. Demikian judul berita Lampung Post, 23 Januari 2009. Kedengarannya gombal ya?

Bundaran Gajah, Bandar Lampung
Namun, benarlah. Ucapan itu datang langsung dari budayawan, sastrawan, teateran Putu Wijaya. Memang denyut nadi aktivitas kesenian, baik sastra, teater, maupun seni pertunjukan lain, di kota ini sangat kuat.

March 22, 2014

Selamatkan Tanah Lapang

Oleh Jauhari Zailani

SEPULANG salat subuh di masjid, membaca koran di teras rumah.  Pagi itu, saya tercenung membaca iklan baris, tertulis: “Dijual tanah 10.600 m2. Ex lapangan bola, di kecamatan..., hubungi no telpon.....”. Yang membuat saya garuk-garuk kepala, padahal tak gatal, adalah keterangan pada iklan baris itu: “ex lapangan bola”. Iklan ini menarik perhatian saya karena di sekitar tempat tinggal saya, terdapat beberapa lapangan bola, yang bisa saja sewaktu-waktu dijual juga dan beralih fungsi.

Tanah Lapang Siapa Punya?

Tanah lapang penuh kenangan. Sejak kami kecil, 50 tahun yang lalu, saban sore tanah itu tempat kami bermain. Bermain kejar-kejaran, bermain bola, tempat upacara dan acara sekolah seperti pertandingan olahraga. Sesekali dipakai pertandingan bola antarkampung. Dalam lapangan, kami berlari-lari, dari pinggir lapangan, kami bisa berteriak-berjingkrak, saksikan pertandingan bola. Sekitar hari Lebaran, usai melakukan salat hari raya, lapangan itu dipakai untuk semacam pasar malam. Dengan aneka mainan. Sungguh, kenangan manis pada tanah lapang.


March 16, 2014

[Perjalanan] Lembah Indah itu, Ulubelu

Oleh Meza Swastika

Dari bukit, di pintu masuk wilayah Ulubelu, memandang lembah sejuk itu seperti lukisan pemandangan. Indah.

HARI masih terang, tetapi hawa sejuk sudah mulai membekap desa-desa di lereng Bukit Rendingan, Ulubelu, Tanggamus. Petani-petani kopi yang pulang dari kebun menggendong ranting-ranting kayu menyeruak dari rerimbunan hutan.


March 9, 2014

[Perjalanan] Desau Napas Hutan Way Kambas

Oleh Rinda Mulyani dan Agus Susanto

Menjaga hutan Way Kambas memang bukan perkara mudah. Namun, apakah paru-paru dunia ini akan kita biarkan sekarat karena ketidakpedulian?

Taman Nasional Way Kambas
SUARA tonggeret mengisi udara hutan seluas 125 ribu hektare itu tanpa jeda. Kicau burung, pekik siamang, dengus babi, teriakan gajah, bahkan seringai macan kadang mengisi senyap. Juga obrolan empat anggota Rhino Protection Unit (RPU) Taman Nasional Way Kambas yang sedang patroli suatu siang.


February 23, 2014

[Fokus] Preman, Reputasi Nama yang Telah Bersalin

Oleh Meza Swastika

MESKI sudah sepuh, Ramelan masih ingat sudut-sudut Pasar Tengah yang kerap dijadikan tempat berduel oleh preman-preman. Mereka saling berebut wilayah kekuasaan pada medio 1980-an hingga 1990. Ia bahkan tak bisa menghitung secara pasti kasus-kasus perkelahian antarpreman hanya untuk merebut wilayah pasar, terminal, dan stasiun.

"Terminal, Pasar Tengah, dan stasiun itu dulunya sepenuhnya dikuasai oleh preman Gunungsari. Dulu banyak preman-preman dari luar yang berusaha merebutnya, tapi tak pernah berhasil karena premannya kompak, " kata dia.


[Fokus] Denyut Kota Berhenti di Gunungsari

Oleh Meza Swastika

Dinamika pembangunan di Kota Bandar Lampung begitu tinggi. Tetapi, ada satu ruas wilayah di bilangan Tanjungkarang yang terasa diam. Gunungsari. Tak ada geliat pembaruan di tempat ini.

WAJAH Ramelan (75) masih terlihat kuyu. Sudah tiga hari ini sakit menyanderanya sehingga hanya bisa istirahat di rumahnya di RT 07 Kelurahan Gunungsari, Tanjungkarang Pusat.


[Fokus] Gunungsari, Kampung Tua Bandar Lampung

Oleh Meza Swastika

Tak bisa dipungkiri, Gunungsari menjadi denyut nadi utama Bandar Lampung sejak 1950-an. Ia sebagai pusat perekonomian dan daerah transit karena stasiun dan terminal berada di situ.

Permukiman Kelurahan Gunungsari
MANDALAWANGI, bus ukuran tiga perempat itu berhenti di salah satu sudut Pasar Tengah. Serombongan pemuda langsung berlari ke arah penumpang yang turun dari bus engkel itu. Beberapa di antara mereka terlihat menarik barang-barang bawaan milik penumpang.


January 19, 2014

[Reporter Cilik] Koleksi Tanaman Langka di Kebun Raya Liwa

Reporter cilik Lampung Post: 
Farishan Saputra, Alexander Almas Santosa, dan Adila Justisia dari SDN 1 Way Mengaku, Lampung Barat.


FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/ELIYAH
BUNGA bangkai, anggrek hitam, sirih, talas, hei...itu ada pohon sakura juga! Kami bertiga asyik mengeja nama-nama tanaman langka yang dikembangbiakkan di Kebun Raya Liwa, Lampung Barat.

Kami mengunjungi lokasi pusat pembibitan tanaman langka ini, Jumat (17/1) lalu. Ratusan tanaman langka ini dibudidayakan di dalam sebuah ruang yang dilindungi paranet.

January 12, 2014

[Fokus] Bedawak, Tradisi Bersih-Bersih Desa

Oleh Meza Swastika


FIRDAUS gelar Minak Paksi Negara seperti antusias bercerita tentang budaya bedawak (bersih desa) di Desa Bumiagung Marga, Lampung Utara, tempatnya tinggal. Ia bahkan tak peduli pulsa dari sambungan telepon selulernya sudah tersedot banyak.

Berkali-kali pula ia menyebut tradisi bedawak sudah ada sejak turun-temurun. "Siapa pun harus ikut. Bukan cuma orang Lampung, melainkan semua yang tinggal dan peduli di desa ini," katanya.


[Fokus] Tumbuhkan Kesadaran Menjaga Lingkungan

Oleh Meza Swastika


Kota Bandar Lampung yang dibelah oleh banyak sungai sesungguhnya bisa terhindar dari bahaya banjir. Sayang, masyarakat membuang sampah dan membuat aliran sungai sempit.

SAMPAH di salah satu aliran Sungai (Way) Awi itu menggunung. Beberapa warga dengan santainya melempar tiga plastik berisi sampah ke aliran sungai itu, kemudian berlalu begitu saja.


[Fokus] Banjir, Lunturnya Budaya Gotong Royong

Oleh Meza Swastika

SUDAH dua pekan ini, Yamin (48), warga Jalan Ikan Kapasan, Way Lunik, Panjang, tak bisa tidur. Ia selalu waswas setiap hujan turun pada malam hari.

GOTONG ROYONG. Masyarakat Kota Bandar Lampung bahu-membahu saat
bencana terjadi di Wilayah Telukbetung, beberapa waktu lalu.
LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NUR SATRIO
Ia selalu keluar rumah untuk berjaga. Ia khawatir, genangan air yang meluap dari aliran Way Lunik kembali meluap seperti tahun 2010 lalu. Saat itu rumahnya terendam hingga setinggi dadanya. Semua perabotan rumahnya rusak.


December 1, 2013

[Fokus] Objek Wisata Salah Kelola

Oleh Meza Swastika

KONDISI pengelolaan objek wisata yang dikelola secara pribadi memang memprihatinkan. Lampung Post mencatat dari sekitar 66 objek wisata pantai yang tersebar di Lampung, 26 di antaranya dikelola secara individu dengan klaim sepihak kepemilikan lahan di sekitar pantai. Sisanya sebagian dikelola masyarakat setempat dan yang lainnya dikelola swasta.

Dari 26 objek wisata pantai dan pulau yang ?dikuasai? secara pribadi itu kondisinya sangat memprihatinkan. Sampah di mana-mana, dan yang lebih parah lagi, pantai yang semula rimbun dengan hutan-hutan bakau kini disulap melalui proses reklamasi menjadi objek wisata yang dipaksakan.


[Fokus] Memelihara Ekosistem Pulau Pahawang

Oleh Meza Swastika

AIR mata Rachel Marie Jordan menetes saat sejumlah anak Pulau Puhawang melambai kepadanya dari dermaga. Dari atas perahu yang membawanya ke Pelabuhan Ketapang, wisatawan asal Prancis itu hanya memandangi anak-anak yang selama ini akrab menemaninya saat berlibur di pulau itu.

Ia seperti tak kuasa meninggalkan Pulau Puhawang yang sudah seperti rumah kedua buatnya, suasana yang hangat, lingkungan yang hijau. Kepada warga setempat, ia hanya berpesan pendek, "Jaga pulau ini tetap seperti ini, ya."


[Fokus] Mengangkangi Harta Karun Pantai Mutun

Oleh Meza Swastika

Pemerintah tak berdaya bersikap tegas agar mendapat pemasukan daerah dari pengelolaan pantai itu. "Seribu perak pun tak ada yang masuk ke kas daerah."

SODIKAN masih ingat betul letak pondokan tempatnya berjualan sekaligus tinggal di Pantai Mutun. Sejak awal 2000, ia bersama beberapa orang lainnya mengubah nasib, dari kuli panggul di TPI Lempasing menjadi pedagang makanan ringan di sekitar Pantai Mutun.


[Fokus] Pantai-Pantai dalam Cengkeraman

Oleh Meza Swastika        
    
PERAHU ketinting yang dicarter Budi Marta Utama melaju ke tengah laut dari Pantai Ringgung, Pesawaran. Fotografer profesional itu menunggu air surut untuk melancung sampannya. Itu dilakukan karena ia tertarik cerita ada pulau pasir di kawasan Teluk Lampung itu yang muncul saat laut sat.

"Saya dapat fotonya. Cuma, yang buat saya jengkel, di situ sudah ada plang yang mengklaim bahwa pulau itu milik pribadi," kata dia pekan lalu.


October 20, 2013

[Fokus]: Dilema Pemecah Batu Bukit Camang

SEBENARNYA batu tempat Wawan (49), bukan nama sebenarnya, memijakkan kakinya agak labil. Ia merasakan bebatuan kapur Bukit Camang itu seperti bergerak. Tetapi ia acuh tak acuh. Ia mengulur sedikit lilitan tali yang mengikat pinggangnya di bebatuan yang ada di sisi kirinya untuk ditambatkan ke bebatuan lain yang lebih kuat.

Bukit Camang
Dari tepian tebing setinggi hampir 10 meter itu ia melihat lereng bukit sisi barat itu mulai runtuh. Ia mulai sedikit ragu, tapi berusaha tetap bekerja meski batu-batu sebesar buah semangka di atasnya sudah mulai runtuh.


[Fokus]: Area Steril Bukit Sukamenanti

SEKELOMPOK orang berbadan besar, berkulit legam, dan berkacamata hitam itu terlihat berjaga-jaga di salah satu portal menuju Bukit Sukamenanti, Kedaton, pekan lalu. Padahal, ruas jalan yang dipasangi portal itu adalah jalan umum.

Bukit Sukamenanti
Dua di antara mereka setengah berlari mendatangi seorang pengendara sepeda motor yang celingak-celinguk dan berhenti sekitar 50 meter dari portal itu.


[Fokus]: Hilangnya Bukit Kami

Oleh Meza Swastika


Ketika pentingnya kawasan konservasi harus dihadapkan urusan perut dan keserakahan pemodal, Bandar Lampung terancam bencana ekologis.

Bukit Kunyit yang hampir hilang. LAMPUNG POST/IKHSAN DNS
AIR minum di dalam botol bekas kemasan air mineral yang digantungkan di pinggang Maman (40) hampir tiris. Matahari yang menjemur batu-batu karst Bukit Camang, Tanjunggading, itu membuat udara panas dan mengeringkan tenggorokan. Namun, ia terus memahat, mencongkel, dan menggelindingkan bongkahan-bongkahan batu belah itu sebagai penyambung hidup diri dan keluarganya.