Showing posts with label tari. Show all posts
Showing posts with label tari. Show all posts

October 27, 2013

[Lentera] Andi Sang Penari Khakot

Oleh Meza Swastika

Tari Khakot adalah tari pedang yang pada zaman dahulu kala dibawakan para panglima atau hulu balang untuk menyambut tamu-tamu besar.

Andi Wijaya
SELEPAS isya, Andi Wijaya yang masih kelas III sekolah dasar segera berlari ke salah satu rumah tetangganya. Ia menunggu rombongan kakeknya yang pulang dari masjid.


July 17, 2013

Mahasiswa Korea Antusias Pelajari Tari Bedana Lampung

Bandarlampung  - Empat mahasiswa asal Korea Selatan yang tergabung dalam Korea Information Technology Volunteer (KIV) antusias mempelajari Tari Bedana Lampung di sela waktu belajar mereka di Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya Bandarlampung.

Empat mahasiswa asal Korea Selatan yang tergabung dalam Korea
Information Technology Volunteer (KIV) antusias mempelajari Tari Bedana
Lampung di sela waktu belajar mereka di Institut Informatika dan Bisnis
(IBI) Darmajaya Bandarlampung. (FOTO: ANTARA/Dok Humas IBI Darmajaya)
Mahasiswa asal Korea tersebut berasimilasi dengan kebudayaan setempat, salah satunya mempelajari Tari Bedana yang merupakan salah tarian tradisional masyarakat Lampung, kata Wakil Rektor III IBI Darmajaya Novita Sari, S.Sos., M.M. di Bandarlampung, Rabu (17/7).


June 21, 2013

Tari Bedana Pecahkan Rekor Muri

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) mencatat tari bedana dengan jumlah penari terbanyak. Pemecahan rekor tari bedana diikuti 2.000 penari dan diprakarsai Dewan Kesenian Bandar Lampung (DKBL) yang digelar di Stadion Pahoman, Bandar Lampung, Kamis (20-6), pukul 09.00.

Kegiatan yang ditaja untuk menyemarakkan HUT ke-331 Kota Bandar Lampung ini didukung musik pengiring 30 siswa SMP dan SD yang menabuh gamolan Lampung dan 10 pemusik akustik seniman Dewan Kesenian Bandar Lampung (DKBL) dengan sound system berkekuatan 50 ribu watt.


June 20, 2013

Tari Bedana Siap Pecahkan Rekor Muri

BANDAR LAMPUNG (Lampost) Setelah masuk Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) untuk pawai pendidikan dengan peserta terbanyak dan nyeruwit, Bandar Lampung kembali siap masuk Muri. Kegiatan kali ini merupakan pemecahan rekor Muri untuk tari bedana yang diprakarsai Dewan Kesenian Bandar Lampung (DKBL) masih dalam kaitan memeriahkan HUT ke-331 Kota Bandar Lampung.

Pemecahan rekor Muri yang pertama untuk tari bedana ini akan menghadirkan 1.500 penari yang terdiri para pelajar SMP dan SMA se-Bandar Lampung dan digelar di Stadion Pahoman, Bandar Lampung, hari ini (20-6). Pergelaran tari massal ini didukung puluhan pemusik pengiring dari berbagai sanggar dan seniman Bandar Lampung.


January 11, 2013

Tari Batin untuk Para Turis

KERAJAAN Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung mempersiapkan sejumlah pertunjukan seperti tari "batin" guna menyambut ratusan turis dari luar negeri yang akan mengunjungi Gedung Dalom/Keraton kerajaan tersebut.

Bujang dan gadis Lampung sedang membawakan tari daerah. (Foto ANTARA/M.Tohamaksun)
        
Juru Bicara Gedung Dalom Kepaksian Pernong Seem R Canggu gelar Raja Duta Perbangsa, mengatakan, tari itu  akan dimainkan saat wisatawan dari Amerika, Kanada, Jerman dan lain sebagainya tiba di Gedung Dalom.
        

July 1, 2012

Begugha Sekeghumong

BEGUGHA SEKEGHUMONG. Tari kreasi Begugha Sekeghumong dibawakan Sanggar Stiwang, Lampung Barat, di Taman Budaya Lampung, Sabtu (23-6), mendapat juara I Lomba Tari Kreasi Lampung 2012 dalam rangkaian Festival Krakatau 2012. Tari yang dikoreografi oleh Nyoman Mulyawan ini diangkat dari novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni. ISTIMEWA

Sumber: Lampung Post, Minggu, 1 Juli 2012

June 24, 2012

Lambar Raih Juara Umum Tari Kreasi Lampung

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID -  Kabupaten Lampung Barat (Lambar) kembali menorehkan prestasi dalam bidang kesenian di tingkat provinsi. Yakni menyandang predikat juara umum pada lomba tari kreasi Lampung sporting Event Festival Krakatau tahun 2012 di Taman Budaya, Bandar Lampung, Sabtu (23/6/2012) kemarin.

Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lambar Burlianto Eka Putra mengatakan, acara tersebut diikuti oleh seluruh kabupaten/kota di Lampung. "Keluarnya Lampung Barat sebagai juara umum pada lomba tari kreasi itu setelah berhasil meraih tiga predikat kategori terbaik," jelasnya kepada Tribunlampung.co.id, Minggu (24/6/2012).

Ketiga kategori itu, rincinya, antara lain penampilan tari kreasi baru berjudul Perempuan Penunggang Harimau (ditampilkan komunitas Sanggar Setiwang), kategori penata tari terbaik, dan kategori  terbaik satu dalam  penata busana.(sulis setia markhamah)

Editor : taryono

Sumber: Tribun Lampung, Minggu, 24 Juni 2012

May 19, 2012

Kesenian: TBL Gelar Tari Kontemporer dan Teater

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Taman Budaya Lampung (TBL) menggelar Pertunjukan Tari Kontemporer menampilkan Grup Pandoraimaji pimpinan Ari Ersandi, alumnus ISI Yogyakarta, pada 19 Mei 2012, pukul 15.30, dan Teater Satu Lampung pada 22 Mei 2012, pukul 15.30.

Pandoraimaji akan mengusung empat repertoar, masing-masing bertajuk Pintu, Mukyu, R..., dan Pandora yang seluruhnya dikoreografi oleh Ari Ersandi.

Pementasan ini didukung para penari Ari Ersandi, Anggoro, Abdurrohim, Andre Narully, Mega Lestari, Hendy Herdiawan, Ba'bam, dan Ikhsan Bastian. Pemusik, yakni Hari Lempong, Yoga supeno, Gana Nofiardy, Harry Glend, Anok, dan Atin.

Keempat repertoar karya Ari akan mengetengahkan persoalan ruang, waktu, dan tubuh dalam konteks tari. Sebagai koreografer muda asal Lampung, Ari telah banyak terlibat dengan berbagai karya tari besutan maestro tari sekelas Miroto.

Dia pun telah beberapa kali tampil dalam event internasional. Dengan latar belakang pengalaman itu, empat repertoar karya Ari ini diharapkan akan mampu memberikan kesegaran dan inspirasi bagi dunia tari di Lampung yang belum banyak berkembang.

Sedangkan Teater Satu kali ini mengetengahkan karya teater realis asal pengarang Amerika. Lakon Anak yang Dikuburkan ini berkisah tentang hancurnya kehidupan seorang keluarga petani akibat industrialisasi dan hilangnya lahan-lahan pertanian.

Selain itu, lakon yang telah diadaptasi dalam konteks kultur dan geo-politik masyarakat Lampung ini juga membedah persoalan identitas dan keterasingan.

Pementasannya sendiri dikemas dalam bentuk realism dan didukung aktor-aktor utama Teater Satu; Ruth Marini, Budi Laksana, Desi Susan, Vita Oktaviana, Baysa Deni, Raras Shinta, dan aktor-aktor muda, seperti Budi Bucek dan Maulana Gandhi.

Dengan menampilkan dua pertunjukan tersebut, TBL berharap kegiatan yang merupakan implementasi dari program Peningkatan dan Pengembangan Seni Pertunjukan ini dapat memberikan sajian karya berkualitas dan mampu menggairahkan dunia pertunjukan di Lampung. (ZUL/K-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 19 Mei 2012

October 11, 2011

KESENIAN: Sendratari ‘Sansayan Sekeghumong’ Jawara IEFC

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sendratari Sansayan Sekeghumong yang dipersembahkan Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Lampung meraih dua kategori juara pada International Etnic Culture Festival (IECF). Kegiatan tersebut diselenggarakan pada 7—9 Oktober di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta.

SANSAYAN SEKEGHUMONG. Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Lampung mementaskan Sendratari Sansayan Sekeghumong pada International Etnic Culture Festival (IECF) di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, 9 Oktober lalu. Sendratari ini meraih juara pertama tari terbaik dan juara pertama kategori penata tari terbaik dalam even tersebut. (ISTIMEWA)

Dua kategori yang dimenangkan masing-masing juara pertama tari terbaik dan juara pertama kategori penata tari terbaik.

Sementara itu, perwakilan dari Jawa Tengah mendapatkan juara kedua tari terbaik dan juara kedua kategori penata tari terbaik. Sedangkan juara ketiga diraih perwakilan Sulawesi Selatan. Demikian rilis yang diterima Lampung Post, Senin (10-10).

Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY bersama Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) se-Indonesia ini memperebutkan piala Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sendratari Sansayan Sekeghumong menceritakan kisah cinta Kekuk Suik, Pangeran Terakhir Kerajaan Sekala Bgha Hindu, yang tak mendapat restu dari ibundanya, Ratu Sekeghumong.

Kisah Sansayan Sekeghumong sendiri adalah hasil eksplorasi yang bersumber dari salah satu bagian cerita dalam novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni, diterbitkan BE Press 2011, yang mengangkat kenyataan sejarah asal muasal Lampung.

Menurut Novan Saliwa, sendratari Sansayan Sekeghumong ini didukung oleh mahasiswa dan mahasiswi Lampung di Yogyakarta: Erindiasti Wahyu, Novan Saliwa, Dina Febriani, Rheny Chanjaya, Nuraini Mustika Sari Dewi, Rizky Al Saddam Saputra, Aline D'chiyonk Shirabyoushi, Ibrahim Noeh, Indit Rahmawati, Ajeng Bistar, Hendi, dan Ari. Sementara para pemusik, antara lain Risendi Novriza, Suhendri Wijaya, Riski Febriansyah, dan Atin. (MG1/S-3)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 11 Oktober 2011

October 7, 2011

Tari:Taman Budaya Helat Lomba Koreografi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sebanyak 12 SMA di Provinsi Lampung ambil bagian dalam lomba cipta karya koreografi SMA di Taman Budaya, Kamis (6-10).

PENTAS KARYA CIPTA KOREOGRAFI. Peserta Pentas Karya Cipta Koreografi SMA 2011 menampilkan tarinya di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (TBL), Kamis (6-10). Kegiatan ini diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung dan diikuti 12 SMA. (LAMPUNG POST/MG3)

Ke-12 sekolah tersebut adalah SMA Perintis 1 Bandar Lampung, SMA Al Kautsar, SMAN 15 Bandar Lampung, SMAN 7 Bandar Lampung, SMAN 1 Sumberjaya, SMAN 2 Lampung Barat, SMA YP Unila, SMA Kartika Metro, SMAN 1 Liwa, SMAN 1 Kotagajah, SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung, dan SMA Pelita Pesawaran.

Kepala Taman Budaya Provinsi Lampung Helmy Azharie kepada Lampung Post usai acara pembukaan lomba mengatakan kegiatan ini untuk mendorong hidupnya sanggar-sanggar tari budaya di setiap sekolah di Lampung.

"Kami berharap dari dunia sekolah muncul seniman-seniman tari yang mampu memelihara budaya lokal. Dengan adanya lomba kreasi koreografi ini, akan muncul tari-tari kreasi baru sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya daerah," kata dia.

Helmy mengatakan untuk mendorong hal tersebut, Unit Pelaksana Teknis Taman Budaya Lampung yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Lampung menggelar perlombaan tari kreasi ini setiap tahun.

Panitia menyediakan total hadiah berupa uang tunai hingga Rp12,8 juta; penampil terbaik memperoleh Rp4 juta, terbaik II Rp3 juta, terbaik III Rp2 juta. Kemudian, harapan I, II, dan III Rp600 ribu dan penata tari serta penata musik terbaik memperoleh masing-masing Rp1 juta.

Ia menjelaskan peserta merupakan sanggar tari di sekolah masing-masing. Materi yang dibawakan merupakan karya tari garapan baru yang diambil dari tarian tradisional Lampung dengan tema kepahlawanan atau patriotisme.

"Karya juga merupakan karya orisinal, merupakan garapan baru dan bukan dari kreasi peserta sebelumnya. Jumlah grup terdiri dari 17 orang berupa; penari, pemusik, penata tari, penata musik, dan penata rias atau penata busana," kata Helmy.

Selain itu, penampilan peserta juga harus didukung alat musik hidup atau live music, bukan rekaman. Peserta juga harus mengenakan kostum pergelaran. Alat musik pun juga harus dibawa oleh masing-masing peserta. (MG1/S-3)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 7 Oktober 2011

June 19, 2011

[Inspirasi] ‘Khembak Sumbuk’ Bersama Mera dan Sucia

GAMOLAN (Gemelan Lampung) yang dinamis dengan dominasi suara kenong menguasai Balai Keratun, Kamis (16-6) siang. Dua penari cantik dengan pakaian adat Lampung Barat yang dirancang sederhana mengikuti ritme musik tersebut. Mereka adalah Mera Putri (16) dan Sucia Aprilia (16).

Mera Putri dan Sucia Aprilia.

Dua siswi SMA Negeri 1 Pesisir Tengah, Lambar, ini terus ngigel menguasai panggung yang ditonton seratusan hadirin pada acara Pengukuhan Pengurus Dewan Kesenian Lampung. Gerakannya yang indah dengan masing-masing menjinjing bakul kecil memukau penonton. Mereka sedang menarikan tari Khembak Sumbuk (bermain bakul bersama) karya Sudaryanto, guru SMAN 1 Pesisir Tengah.

Sayangnya, pentas dua dara yang concern dengan kesenian daerah itu terhenti di tengah, karena musik yang diputar menggunakan CD player itu ngadat. Tarian sempat diulang, tetapi insiden kembali terjadi. Terpaksa dua penari berbaju merah terang itu keluar panggung tanpa menyelesaikan misinya.

Mera dan Sucia dengan Khembak Sumbuk ini menjadi tamu kehormatan untuk tampil di pentas ini. Itu karena mereka adalah pemenang Festival Tari Provinsi Lampung 2011. “Kami diundang untuk tampil di sini atas undangan Dewan Kesenian Lampung,” kata Mera.

Tentang ketertarikan kepada tari daerah itu, Mera mengaku karena ia memang tinggal di daerah yang masih sering melaksanakan prosesi adat Lampung. “Kalau di daerah kami memang masih sering ada acara adat. Seperti nyambai, masih ada di tempat kami dan kami masih ikut,” kata gadis berkulit putih ini, didampingi Sucia.

Sudaryanto, guru SMAN 1 Pesisir Tengah yang aktif membina siswa dalam berbagai event seni budaya, mengaku tidak sulit mencari penari dan pelaku seni Lampung untuk berbagai event. Saat ada informasi lomba tari kreasi tradisional tingkat provinsi, ia menciptakan tari Khembak Lumbuk.

Kemudian ia merekrut Mera dan Sucia untuk mengekspresikan gerak yang diadopsi dari kebiasaan warga Lambar menggunakan bakul untuk berbagai keperluan. Menang di lomba tingkat provinsi, khuwa muli Lampung ini dikirim ke Makassar untuk mengikuti lomba sejenis di tingkat nasional. “Kami akan berangkat Senin tanggal 20 Juni. Doakan kami menang, ya,” ujar dia.

Mera dan Sucia mengaku akan sekuat tenaga mempertahankan kesenian Lampung agar tetap hidup. Menurut mereka, kesenian Lampung dapat mendekatkan penggunanya dengan budaya daerahnya. (SDM)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Juni 2011

June 12, 2011

Sansayan Sekeghumong: Pemantik Sendratari Skala Brak?

Oleh Sigid Nugroho


Nujum Gerinung di tanah kerajaan Skala Brak
Percintaan berbeda kasta adalah tabu
Pangeran dan rakyat jelata tak akan bersatu
Darah "Saibatin" harus selalu biru
Tak akan bercampur darah jelata Seperdu
: Inilah titah Pun Beliau Ratu
Bertaruh nyawa risalah cinta tanpa restu
Kemurkaan Sekeghumong Saibatin Ratu




SANSAYAN SEKEGHUMONG. Pementasan Tari Sansayan Sekeghumong dalam rangkaian Gelar Kereografi Ajang Kreasi 2011 di Stage Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu (4-6) lalu. Koreografi tarian dari salah satu bagian novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni ini digarap Ayu Endiarti dan Dina Febriani. (FOTO: SIGID NUGROHO)

SEJENAK ruangan gelap dan sunyi. Lirih sayatan biola mengiring kemunculan Ratu Sekeghumong di tengah panggung yang disulap menjadi Lamban Dalom Skala Brak berbalut temaram cahaya bernuansa magis, menandai dimulainya pertunjukan Sansayan Sekeghumong dalam rangkaian Gelar Koreografi Ajang Kreasi 2011 di Stage Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta pada 4 Juni 2011.

Sansayan Sekeghumong adalah tarian tentang kemurkaan. Garapan koreografer muda Ayu Endiarti dan Dina Febriani ini melibatkan tujuh penari beserta tujuh pengiring musik yang kesemuanya berasal dari Lampung. Mereka adalah mahasiswa yang tinggal di Asrama Mahasiswa Lampung dan sedang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.

Pertunjukan itu mengisahkan Kekuk Siuk, Pangeran Sekala Bgha yang memimpikan Seperdu menjadi Ratu Skala Bgha. Ia ingin mendudukkan kekasihnya yang berasal dari perempuan desa itu menjadi permaisuri "semua kasta", berbekal keyakinan bahwa kelahiran seorang anak manusia dari perkawinan keturunan Wangsa Sekala Bgha dengan rakyat jelata tidak melanggar aturan dewa. Tapi tidak bagi ibundanya, Ratu Sekeghumong. Perkawinan semacam itu hanyalah cara purba yang biasa ditempuh para penakluk untuk mengakhiri perlawanan musuh-musuhnya dan tak lebih dari sekadar ungkapan tanda takluk suatu bangsa terhadap bangsa lain. Kisah cinta putra mahkota dan Seperdu, gadis pekon pedalaman Kulut itu pun berakhir dengan kematian tragis Seperdu.

Kisah Sansayan Sekeghumong sendiri adalah hasil eksplorasi yang bersumber dari salah satu bagian cerita dalam novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni (BE Press, 2011) yang mengangkat kenyataan sejarah asal muasal Lampung. Hal ini juga ditegaskan oleh Ayu Erindiasti, "Novel ini secara tidak langsung berpengaruh bagi kami, terutama mahasiswa Lampung yang tinggal di asrama. Kami semacam menemukan gerbang untuk menyelami muasal moyang kami. Lewat pergelaran inilah kemudian kami sengaja menyuguhkan cerita rakyat Lampung kepada khalayak luas sebagai wujud kecintaan terhadap kebudayaan Lampung yang harus tetap dijaga," ujar mahasiswi semester akhir Jurusan Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY) ini.

Warna Baru

Selama pertunjukan berlangsung, penonton tidak melulu disuguhi tarian klasik. Pada beberapa adegan tarian memang masih terlihat gerak dasar tari klasik, sepeti gerak kenui melayang, samber yang biasa ditemui pada tari Sembah, gerak babar kipas atau sughung skapan pada tari Melinting. Selebihnya gerakan tari melayu yang rampak mendominasi adegan jogetan pasangan, sedangkan pada adegan-adegan romantis tidak berpijak pada gerak apa pun, mengalir begitu saja.

Begitu pula dengan iringan musiknya, boleh dibilang lebih modern. "Dalam pertunjukan ini kami sengaja mencoba untuk keluar dari pakem, ini sebagai proses pembelajaran sekaligus ingin menawarkan warna berbeda dari model musik pengiring pertunjukan tari yang biasa ditemui di Lampung. Musik yang kami kemas lebih menonjolkan warna musik kolosal dan kekinian dengan menggunakan alat musik seperti biola dan gamolan peghing Lampung," ujar Risendy Nopriza, penata musik yang sedang menyelesaikan studi di Jurusan Entomusikologi, Institut Seni Indonesia ini.

"Keberadaan musik di Lampung sangatlah beragam, sebut saja misalnya gambus, biola, harmonium kayu, gitar peting, serdam, gamolan peghing, ghaddap/teghbangan, hadra, ini menunjukkan Lampung sangatlah kaya, tetapi lebih jauh kalau melihat dan mengamati musik-musik tari di Lampung saat ini masih terkesan monoton, belum berani mengeksplor, contohnya pada lomba tari kreasi dalam Festival Krakatau," ujarnya.

Butuh Apresiasi Lebih

Setiap tahunnya mahasiswa Lampung yang berproses di Yogyakarta menghasilkan dua sampai tiga garapan baru dalam bentuk pertunjukan tari yang mengangkat kebudayaan Lampung. Meskipun proses kelahiran karya tersebut masih terbatas pada jalur formal pendidikan seni tari, tidak bisa dipungkiri bahwa Lampung mampu memberi insiprasi bagi kemunculan kreator-kreator baru dibarengi dengan catatan-catatan penting yang masih sangat terbuka bagi siapa saja untuk terlibat memberikan kontribusi dalam kerangka pengembangan dan pendokumentasiannya.

"Sesungguhnya novel Perempuan Penunggang Harimau bisa menjadi modal kita untuk melahirkan karya-karya besar," ujar Novan Adi Putra Saliwa, anggota Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung (Himpala) Jogja yang juga salah satu penari dalam pertunjukan tersebut. "Jika belajar dari pergelaran Sendratari Ramayana yang sudah dikenal hingga mancanegara, selayaknya pertunjukan Sansayan Sekeghumong bisa menjadi pemantik lahirnya Sendratari Skala Brak," kata Novan.

Tidak berlebihan jika pertunjukan Sansayan Sekeghumong membutuhkan apresiasi lebih dan panggung yang luas, khususnya di Lampung sendiri. n

Sigid Nugroho, penikmat seni, tinggal di Yogyakarta.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Juni 2011YA

June 5, 2011

Sansayan Sekeghumong


"Sansayan Sekeghumong"
dalam Gelar Korasi | Kolaborasi Ajang Kreasi
4 Juni 2011 | Stage Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta

Nujum Gerinung di tanah kerajaan Skala Brak
Percintaan berbeda kasta adalah tabu
Pangeran dan rakyat jelata tak akan bersatu
Darah Sai Batin harus selalu Biru
Tak akan bercampur darah Jelata Seperdu
:Inilah titah Pun Beliau Ratu

Bertaruh nyawa risalah cinta tanpa restu
Kemurkaan “Sekeghumong” Saibatin Ratu

[diambil dari novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni]

Penata Tari: Ayu Erindiasti | Dina Febriani

Penari: Reni | Aline | Novan | Dion | Anugrah | Ismu

Penata Iringan: Risendy Nopriza

Pemusik: Arsyad | Rahmat | Andi | Kiki | Ali | Deri | Sodiq

Sumber: Facebook, Sigid Sahaja, Minggu, 5 Juni 2011

November 15, 2010

Seniman Mengkritik lewat Tari Kontemporer

BANDAR LAMPUNG -- Empat selendang putih panjang terjuntai menyentuh lantai seperti membentuk tirai. Seorang anak perempuan kecil berambut panjang berada di tengah-tengahnya. Sementara itu, empat orang pemuda berpakaian putih berjalan hilir mudik di sisi luar.

Tirai putih terbuka saat anak perempuan itu mencoba keluar melihat. Tak lama, dengan gerakan mendadak, satu dari empat pemuda merengkuh anak itu ke dalam pelukannya dan membawanya kembali ke dalam tirai.

Di luar, tiga pemuda yang tersisa melompat, berlari, berdiri di atas kedua tangan dan kepala serta bergelantungan di tirai itu. Adegan-adegan itu diakhiri dengan tergelantungnya seorang pemuda yang merengkuh anak perempuan itu, tergantung terbalik dan terikat di tirai putih itu.

Adegan yang menggambarkan hubungan inses antara kakak beradik itu merupakan tari kontemporer berjudul Potret nan Kanduang II karya Joni Andra. Pertunjukan itu digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung pekan lalu dalam Pentas Tari se-Sumatera pada Pergelaran dan Pameran Seni se-Sumatera XIII.

Penampilan para pemuda yang tergabung dalam Impessa Dance Company, Sumatera Barat, tersebut mengajak kita untuk menekuri realitas yang begitu dekat sekarang ini.

Joni melihatnya sebagai pergeseran nilai dari etika-etika dalam keluarga yang kian hilang. "Dahulu, saat saya kecil, anak perempuan tidak boleh masuk ke dalam kamar anak laki-laki meski itu saudara, tetapi kini yang terjadi sebaliknya. Itu yang coba saya kritik," kata dia.

Hal tersebut, menurut Joni, dituangkannya dalam sebuah tari kontemporer. Seni, kata dia, seharusnya tak melepaskan realitas sosial dalam setiap bentuknya.

Seni, ujarnya, adalah pantulan realitas sosial, di mana seniman hidup dan menjadi bagian dari lapisan sosialnya.

"Karya ini merupakan sindirian, kritik sosial dari realitas yang saya lihat di sekeliling saya," ujar Joni.

Itulah kelebihan seni kontemporer, ujar Joni. Seni kontemporer, dalam hal ini tari, kata Joni, memiliki banyak �ruang kosong� yang dapat dimasukkan kritik-kritik tentang realitas yang terjadi di masyarakat. (MG13/K-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 15 November 2010

September 28, 2010

Legenda Danau Ranau Lampung Barat Menjadi Tari Kolosal

Liwa, Lampung Barat, 28/9 (ANTARA) - Cerita legenda Danau Ranau akan dijadikan tari kolosal dalam pelaksanaan Gebyar Danau Ranau Lampung Barat IV.

"Cerita rakyat berupa legenda naga danau akan ditampilkan dalam pembukaan Gebyar Danau Ranau IV di Kabupaten Lampung Barat, Oktober mendatang," kata Kepala Dinas Perhubungan, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Lampung Barat, Sudirman, di Liwa, Selasa.

Dia mengatakan, persiapan untuk itu telah dipersipakan matang," kata dia.

Menurut dia, tari kolosal tersebut akan mampu memberikan pengetahuan pada masyarakat terutama generasi muda.

"Lampung Barat memiliki sejumlah cerita tentang legenda masyarakat yang tak akan habis diceritakan, dan salah salah satu yang paling menarik di sini masyarakat di sekitar Danau Ranau masih mempercayai akan naga danau tersebut, sebab bedasarkan dari cerita turun menurun, naga danau dipercaya menjaga masyarakat sekitar," kata Sudirman.

Cerita rakyat yang mengangkat kehidupan masyarakat Lampung Barat tempo dulu, menjadi daya tarik bagi Lampung Barat.

Akar cerita tersebut memberikan warna bagi kehidupan masyarakat setempat yang kental akan tradisi leluhur yang terus dijaga setiap waktu hingga tak hilang di telan masa.

Cerita legenda naga Danau Ranau, menjadi salah satu cerita rakyat yang menarik untuk disimak dan diingat, sebab dari cerita tersebut, terkandung petuah yang yang bijak.

Tari "Kelekup Gangsa" merupakan garapan sendratari yang diangkat dari cerita legenda masyarakat Lumbok Lampung Barat yang berada di bantaran Danau rRnau, yang bercerita tentang asal mula naga yang menghuni danau tersebut.

Menurut cerita sebagian besar masyarakat dulu, tersebutlan Gelangsa (Kentongan) yang bewarna keemasan yang oleh masyarakat sekitar di sebut "Kelekup Gangsa" memiliki kesaktian, yang mana suaranya terdengar hingga penjuru negeri, selain itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dari kesaktian "Kelengkup Gansa" tersebut, banyak orang yang penasaran ingin melihat benda itu, setelah melihat mereka pun berkeinginan memilikinya, dan mulailah beberapa orang tersebut, merencanakan untuk mencuri "Kelekup Gangsa".

Singkat cerita "Kelengkup Gangsa" berhasil dicuri, namun sesampainya di tepi Danau Ranau, "Kelengkup Gangsa" tersebut, semakin berat karena kekuatan lain menariknya. Akhirnya "Kelengkup Gansa" terlempar ke dalam danau dan berubah menjadi seekor naga keemasan dan membunuh pencuri tersebut.

Dari cerita ini, masyarakat setempat masih mempercayai akan mitos naga danau yang menghuni Danau Ranau.

Tari kolosan "Kelengkup Gansa" naga danau akan ditampilkan dalam Gebyar Danau Ranau IV, pada Oktober mendatang, dan tari legenda ini akan menjadi tari persembahan, karena penari yang berasal dari sanggar Setiwang binaan Pemkab Lampung Barat, akan menari di panggung yang berada di dekat danau.

"Saya optimistis tari kolosal ini akan menyedot ribuan pengunjung yang datang dalam acara tahunan di Danau Ranau, dan cerita rakyat yang diangkat dalam tarian tersebut, tentunya akan dapat mempercantik Lampung Barat sebagai daerah tujuan wisata," katanya.

Sumber: Antara, Selasa, 28 September 2010

July 15, 2010

Akademisi Berharap Pemprov Lampung Dukung Kajian Seni

Bandarlampung, 15/7 (ANTARA) - Akademisi seni tari Universitas Lampung I Wayan Mustika berharap pemerintah Provinsi Lampung membantu menindaklajuti kajian seni tradisi yang dilakukan di daerah tersebut.

"Pemerintah provinsi dapat ikut aktif dalam membantu penelitian para akademisi mengenai tarian, ritual budaya, dan seni tradisi asli Lampung, yang selama ini belum terungkap kepada publik," kata I Wayan Mustika, di Bandarlampung, Kamis (15/7).

Menurut Wayan, masih banyak tarian, ritual budaya, dan seni tradisi asli Lampung yang masih tersimpan hanya di antara para pemangku adat dan belum dikenal luas.

"Ini merupakan warisan ilmu yang sangat berharga bagi pembentukan karakter bangsa ke depan," kata dia.

Wayan melanjutkan, dukungan pemerintah itu dapat berupa pemberian bantuan dana penelitian, atau membantu mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil kajian para seniman dan akademisi itu.

"Berdasarkan penelusuran saya, ada ribuan seni tradisi dan ritual budaya Lampung yang referensi dan catatan tertulisnya tidak terdokumentasi dengan baik," kata dia.

Wayan mencontohkan, beberapa tarian yang belum terdokumentasi dengan baik itu adalah Tari Sakura dan Tari Nyambai dari Lampung Barat, Tari Tupping dari Lampung Selatan, atau Tari Bedayo dari Tulangbawang.

Dia melanjutkan, biaya untuk melakukan riset terhadap tarian dan budaya tersebut tidak murah, karena selain riset, dibutuhkan juga peragaan untuk kepentingan pendokumentasian dalam bentuk gambar.

"Sebagai gambaran, saat melakukan riset tentang Tari Bedayo Tulangbawang, sedikitnya saya harus mengeluarkan Rp 55 juta," kata dia.

Dia menggambarkan, sejumlah tarian kuno itu saat ini hanya tersimpan pada pemikiran masyarakat, pemaku adat, dan kaum tradisional yang rata-rata belum tergali.

Sementara semua tarian tradisi Lampung yang ada saat ini, kata dia, merupakan karya bentuk varian kreasi seniman dari tarian asli.

Menurut Wayan, jumlah tarian Lampung yang muncul ke permukaan saat ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan tari tradisi yang dimiliki Lampung.

Dia berharap, ribuan tarian tradisi Lampung itu dapat digali secara akademis dan didokumentasikan untuk kepentingan referensi bagi generasi penerus.

"Dana untuk riset harus dialokasikan, karena akan sangat mahal harga yang harus dibayar apabila budaya tersebut ikut punah," kata dia.

Sumber: Antara, 15 Juli 2010

July 7, 2010

Tari Melinting

KESENIAN LAMPUNG. Beberapa seniman dari Lampung Timur menampilkan Tari Melinting dalam pagelaran kesenian di Pesta Kesenian Bali XXXII, Denpasar, Bali, Rabu(7/7). Tari tersebut merupakan tari khas dari abad 16 yang menggambarkan gadis dan pemuda dalam menjaga wilayah keratuan Melinting. (ANTARA/NYOMAN BUDDIANA)

June 8, 2010

Sanggar Seni Sai Betik Jadi Duta Seni Lampung

BANDAR LAMPUNG--Sanggar Seni Sai Betik SMA Negeri 1 Pesisir Tengah, Krui, Lampung Barat, bakal tampil pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) se-Indonesia di Surabaya. Mereka akan menampilkan tari Tudung Kembar dalam kompetisi seni siswa yang ditaja pada 14�18 Juni dan diikuti pelajar SMA dan MAN itu.

Sanggar Seni Sai Betik yang berdiri sejak 20 Juni 2003 ini terpilih sebagai duta seni Provinsi Lampung setelah berhasil memenangi lomba ajang FLS2N sejenis tingkat Provinsi Lampung.

Menurut Kadis Pendidikan Nukman didampingi Kabid Dikmen Diknas Lampung Barat Ronggur L. Tobing, yang akan mengawal langsung duta seni ini merupakan yang kedua kali bagi Sanggar Sai Betik mewakili FLS2N tingkat nasional. Tahun lalu di ajang FLS2N di Yogyakarta dengan mengusung tari Kenui Begkhuau karya Sudarmanto, Sanggar Sai Betik berhasil menyabet juara penampil terbaik.

Nukman menambahkan di ajang tersebut, Sanggar Sai Betik akan menampilkan tari Tudung Kembar yang mengangkat filosofi beguwai jejama merupakan slogan dan semangat masyarakat. "Tari ini sarat muatan budaya Lampung. Mudah-mudahan kami berhasil kembali mengharumkan nama Lampung dengan memboyong predikat penampil terbaik. Lewat ajang ini, kami juga ingin memperkenalkan budaya Lampung di tingkat nasional," ujar Nukman.

Hal senada disampaikan Kepala SMAN 1 Pesisir Tengah Purwanto. Menurut dia, untuk menghadapi kompetisi bergengsi ini, tim kreatif Sanggar Sai Betik sudah berlatih intensif. Sudarmanto sebagai koreografer mencoba mengeksplorasi filosofi beguwai jejama dalam garapan Tudung Kembar. Rasa dan semangat kelampungannya kental, apalagi didukung olahan musik yang digarap Indra Tamara," kata Purwanto.

Sementara itu, koreografer Sudarmanto ketika ditemui usai latihan merasa optimistis dan siap tampil di ajang FLS2N di Surabaya. Sudarmanto yang pernah mengikuti workshop koreografer Intenational Dance Festival (IDF) ini akan mengusung tari Tudung Kembar yang ditarikan Nina Rahmadonna dan Rendi Optadistra. (ZUL/L-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 8 Juni 2010

April 5, 2010

Pemprov Lampung Diharapkan Dukung Pekajian Seni Tari

Bandarlampung, 5/4 (ANTARA) - Seniman dan akademisi Universitas Lampung, I Wayan Mustika, berharap Pemerintah Provinsi Lampung membantu pengkajian seni tradisi asli daerah tersebut.

"Masih banyak seni dan budaya Lampung yang belum tergali, saya memprediksi masih ada ribuan tarian, dan ritual budaya yang harus dikaji oleh akademisi seni di daerah ini, dan peran pemerintah sangat menentukan," katanya, di Bandarlampung, Senin.

Dia menyatakan, dukungan pemerintah itu dapat berupa pemberian bantuan dana penelitian, atau membantu mendokumentasikan dan memublikasikan hasil kajian para seniman dan akademisi tersebut.

"Saya sangat prihatin, berdasarkan penelusuran saya, ada ribuan seni tradisi dan ritual budaya Lampung yang referensi dan catatan tertulisnya tidak terdokumentasi dengan baik," kata dia.

Wayan mencontohkan, beberapa tarian yang belum terdokumentasi dengan baik itu adalah Tari Sakura dan Tari Nyambai dari Lampung Barat, Tari Tupping dari Lampung Selatan, atau Tari Bedayo dari Tulangbawang.

Dia melanjutkan, untuk melakukan riset terhadap tarian dan budaya tersebut tidak murah, karena selain riset, dibutuhkan juga peragaan untuk kepentingan pendokumentasian dalam bentuk gambar.

"Sebagai gambaran, saat melakukan riset tentang Tari Bedayo Tulangbawang, sedikitnya saya harus mengeluarkan Rp55 juta dari kantong saya sendiri," kata dia.

Dia menggambarkan, sejumlah tarian kuno itu saat ini hanya tersimpan pada pemikiran masyarakat, pemangku adat, dan kaum tradisional yang rata-rata belum tergali.

Sementara semua tarian tradisi Lampung yang ada saat ini, merupakan karya bentuk varian kreasi seniman dari tarian asli.

Wayan mengklaim jumlah tarian Lampung yang muncul ke permukaan saat ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan tari tradisi yang dimiliki Lampung.

Dia berharap, ribuan tarian tradisi Lampung itu dapat digali secara akademis dan didokumentasikan untuk kepentingan referensi bagi generasi penerus.

"Dana untuk risetnya harus disiapkan, karena akan sangat mahal harga yang harus dibayar apabila budaya tersebut ikut punah," kata dia.

Sumber: Antara, 5 April 2010

June 23, 2008

Apresiasi: 'Muli-Meranai' Menari dan Menyanyi di Negeri Ginseng

MANUSIA kadang lupa bahwa diri atau kaumnya punya sesuatu yang membuat orang lain terpukau dan ingin ikut memiliki. Kita baru sadar bahwa sesuatu itu sangat bernilai ketika orang lain memberikan apresiasi.

PADA 5--8 Juni lalu, seni dan budaya Lampung mendapatkan pengakuan tinggi di tingkat internasional. Dalam Korean World Travel (Kofta) di Kota Seoul, Kota Bandar Lampung mendapat anugerah sebagai penampil terbaik untuk kategori tari tradisional. Yang lebih membanggakan, Bandar Lampung berada di tempat berkumpulnya sekitar 50 negara ini membawa nama Indonesia.

Memang, Kota Bandar Lampung melalui Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) daerah serta Sanggar Tapis Berseri mendapat mandat dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengisi beberapa sesi acara di panggung utama dengan tari dan lagu daerah.

Masing-masing ada tiga tarian dan lagu yang dipersiapan muli-mekhanai Sanggar Tapis Berseri, yakni Melinting, Sigeh Pengunten, dan rempak rebana untuk tari. Sedangkan lagu yang disiapkan adalah Mekhanai Toho, Tanoh Lado, dan Teluk Lampung.

Revan, Selvi, Tanti, Yogi, Adi, dan Rita bertolak ke Negeri Ginseng dengan tiga tarian itu menyatu dalam "darah dan daging" masing-masing. Indra Pradya sudah menyelami dengan sedalam-dalamnya makna ketiga lagu yang harus ia nyanyikan.

Tari Melinting adalah tarian adat pepadun yang merupakan persembahan untuk tamu-tamu terhormat yang datang ke tanah Sai Bumi Ruwa Jurai. Tarian ini dibawakan oleh para muli dengan luwes dan mencirikan keanggunan serta ketinggian mahkota seorang ratu.

Persembahan kepada tamu juga menjadi warna dalam tari Sigeh Pengunten. Wabilkhusus, salah satu muli di akhir tari ini akan mendatangi tamu terhormat dan mempersembahkan sekapur sirih yang terdapat dalam baki.

Rempak rebana adalah tarian modifikasi yang menyadur gerakan-gerakan tari melayu. Tambahan rebana di masing-masing tangan penari menambah kental ciri melayu yang ditampilkan. Tari ini di masa lampau dibawakan untuk menggambarkan kegembiraan muli-mekhanai menyabut musim panen.

Lagu Mekhanai Toho menceritakan kisah seorang jejaka yang tak kunjung mendapatkan kekasih. Segala upaya telah dilakukan, namun pujaan hati yang didambakan tak kunjung datang. Kalimat "segalow makko gonow" di akhir lagu menggambarkan kesedihan si bujang yang putus asa.

Lagu Tanoh Lado mengisahkan betapa tanah Lampung kaya akan hasil alam yang berlimpah. Sedangkan lagu Teluk Lampung menceritakan keindahan Teluk Lampung di waktu sore hari.

Penuh Perhatian

Berbekal pengetahuan dan persiapan yang matang, muli mekhanai Kota Bandar Lampung itu tampil di depan khalayak pengunjung Kofta, baik peserta ekspo maupun pengunjung yang setiap harinya mencapai ribuan orang.

Perhatian khalayak terhadap seni budaya Lampung sudah terlihat sebelum pentas. Keunikan busana tradisional ternyata menarik minat mereka untuk setidaknya berfoto bersama. Meski kepayahan dengan tapis dan siger yang berat, muli mekhanai Bandar Lampung tetap mengulas senyum demi menyenangkan hati mereka.

Di kala pentas, setiap tarian yang ditampilkan mendapatkan sambutan sangat positif dari penonton. Nyaris tak ada dari mereka yang beranjak dari tempat masing-masing. Lagu-lagu mendayu yang dilantunkan Indra di setiap pergantian tarian pun tak sampai menggerakkan kaki-kaki mereka untuk melangkah pergi.

Tari rampak rebana adalah tarian yang paling memukau penonton. Bersifat dinamis, tarian ini seolah mengajak semua orang untuk ikut menari. Gerakan-gerakan cepat para penari seolah menyihir semua orang untuk menanti ending tarian.

Sesi terakhir menjelang penutupan acara menjadi saat-saat paling membahagiakan dan membanggakan. Menjelang tampil, panitia melalui stan Indonesia telah memberitahu bahwa muli mekhanai Kota Bandar Lampung memperoleh award sebagai penampil terbaik untuk kategori tari tradisional.

Ini di luar ekspektasi bahkan oleh para pejabat Depbudpar sekalipun. Sebab, negara-negara lain seperti Guam, Malaysia, India, juga menampilkan tarian tradisional yang tidak kalah menarik. "Kami tak pernah menyangka sama sekali bakal dapat penghargaan ini," kata Ketua Dekranasda Kota Bandar Lampung yang juga mengasuh Sanggar Tapis Berseri, Nurpuri Eddy Sutrisno.

Kesan bangga juga datang dari Dirjen Depbudpar Sapta Nirwandar yang dengan setia menyaksikan setiap penampilan muli mekhanai Kota Bandar Lampung. "Mungkin ini pertama kalinya Indonesia mendapat penghargaan untuk acara serupa di luar negeri," ungkapnya.

Penghargaan panitia hanya selembar kertas sebagai penegasan dari keterpukauan massa dari bahwa apa yang ditampilkan muli mekhanai Kota Bandar Lampung telah menyita perhatian bangsa lain.

Padahal di Lampung sendiri, banyak mata akan mengantuk, banyak bibir beradu tutur kala ketiga tarian dan ketiga nyanyian itu ditampilkan. Memang, kita seringkali lupa bahwa kita memiliki sesuatu yang membuat orang lain ingin menikmati dan memilikinya. n IBRAM H. TARMIZI/P-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Juni 2008