Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

August 25, 2015

Musik tradisional Lampung jadi mata kuliah ISI Yogyakarta

Oleh Budisantoso Budiman


Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan ISI Surakarta akan memasukan musik tradisional Lampung dalam kurikulum dan menjadi salah satu mata kuliah Musik Daerah Nusantara di kedua perguruan tinggi seni tersebut.


Beberapa remaja memainkan gamolan, alat musik tradisional Lampung (ANTARA Lampung/Gatot Arifianto)
Sedangkan di ISI Denpasar, mata kuliah Musik Tradisional Lampung baru dijadikan mata kuliah ekstrakurikuler, kata I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Moccoh, seniman Lampung asal Bali, di Bandarlampung, Senin.


September 29, 2013

[Lentera] Kesiapan Entus untuk Lagu Lampung

"KALAU memang harus menunggu kami para seniman ini mati, baru lagu-lagu Lampung bisa terkenal, kami siap. Kami terima itu sebagai risiko agar karya-karya kami dihargai," kata Entus Alrafi tanpa ekspresi.

Entus Alrafi
Entus memang tak sedang berteori, tetapi ia mengaku ada kecenderungan seperti itu. Banyak lagu yang baru dikenal dan terkenal setelah penciptanya meninggal. "Bukan meninggalkan, tetapi meninggal dunia dalam arti sebenarnya. Lihat saja bagaimana perkembangan lagu-lagu Lampung saat ini," ujar Entus, mantan ketua Komite Musik Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini.


[Fokus] Lagu Lampung, Terang dari Negeri Orang

LAGU-LAGU Lampung kurang bersinar di rumah sendiri. Sementara daerah luar Lampung memberi apresiasi dan menyediakan panggung untuk lagu-lagu Lampung.

Syair-syair lagu Lampung yang dinyanyikan Darmawan Saputra itu terdengar amat menyayat. Suaranya terkadang sendu seperti merintih. Di aula SMAN 2 Kalianda itu, keempat orang; Rohili Robinson (gambus); Muslim Junai (akordion), Supriyono (gong), dan Darmawan Saputra, sembari menyanyi sesekali menabuh gendang.


[Fokus] Perjalanan Maestro Lagu Lampung

Syaiful Anwar
SEBINGKAI foto ukuran 50R itu seolah menjadi monumen bagi Syaiful Anwar (62). Didesain gambar berlatar belakang Gubernur Sjahroedin Z.P. itu, Syaiful dan 12 anak adalah prasasti tentang peluncuran lagu pop Lampung anak-anak. “Ini kenangan pahit,” kata dia datar.

Ditemui di rumahnya di Perumnas Kuripan, Telukbetung Barat, Syaiful Anwar hanya menumpahkan berbagai kekesalannya tentang perkembangan musik Lampung. Mulai dari pemerintah yang tak peduli, masyarakat yang acuh tak acuh, sampai seniman pembajak yang asal ngebul.


[Fokus] Lagu Lampung, Konser tanpa Penonton

LAGU Lampung telah kehilangan pentasnya. Apresiasinya kurang, dukungan pemerintah nol, dan seniman saling jegal untuk keuntungan sesaat.

PERTUNJUKAN MUSIK LAMPUNG. Sejumlah seniman mendendangkan irama
mengiringi sebuah lagu Lampung.
 Seperti kapal pecah di tengah laut dan penumpangnya menyelamatkan diri masing-masing. Seperti itulah seniman Lampung, Syaiful Anwar menyebut perkembangan lagu Lampung kini.


February 9, 2013

Peluncuran dan Bedah Buku "Gamolan Pekhing"

BANDARLAMPUNG -- Setelah pekan lalu menjadi tempat peluncuran dan bedah buku "Merajut Jurnalisme Damai di Lampung", pada pekan ini Buku "Gamolan Pekhing Musik Bambu Dari Sekala Brak" yang mengupas salah satu khasanah budaya Lampung kembali diluncurkan dalam sebuah bedah buku di Toko Buku Fajar Agung Bandarlampung, Sabtu.

Buku "Gamolan Pekhing Musik Bambu Dari Skala Brak" karya I Wayan Sumerta Dana Arta, editor Christian Heru Cahyo Saputro. (Foto: ANTARA LAMPUNG/Dok. ist)

"Buku karya I Wayan Sumerta Dana Arta dengan editor Christian Heru Cahyo Saputro itu memuat tiga hal penting terkait bentuk, fungsi, dan makna Gamolan Pekhing dari Lampung Barat itu," kata Manajer Pemasaran Toko Buku Fajar Agung, I Gede Suharta.


Fajar Agung Bedah Buku 'Gamolan Pekhing'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Toko Buku Fajar Agung bekerja sama dengan Sekelek Institute & Publishing House Bandar Lampung menggelar bedah buku Gamolan Pekhing Musik Bambu dari Sekalaberak karya I Wayan Sumerta Dana Arta yang dieditori Christian Heru Cahyo Saputro.

Kegiatan bedah buku ini akan digelar di Toko Buku Fajar Agung, Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, Sabtu, pukul 14.00. Menurut Manajer Pemasaran Toko Buku Fajar Agung I Gede Suharta, akan tampil pada gelaran bedah buku ini seniman dan perajin gamolan pekhing Syapril Yamin alias Rajo Cetik, pengamat kesenian Oyos Saroso H.N., dan penulisnya, I Wayan Sumerta.


January 20, 2013

Gamolan Pekhing dari Sekala Brak

Data buku:

Gamolan Pekhing, Musik Bambu dari Sekala Berak

I Wayan Sumerta Dana Arta

Sekelek, Bandar Lampung

I, November 2012

xiii + 125 hlm.

SENI senantiasa berkembang mengikuti zaman. Pergeseran-pergeseran bentuk, fungsi dan makna kerap tak terhindarkan oleh campur tangan kreativitas seniman. Karena itu, penelitian atau pengkajian secara ilmiah menjadi sisi lain yang dibutuhkan sebagai acuan untuk memahami dan menjaga keutuhan suatu karya seni. Karena itu apa yang ditulis I Wayan Sumerta Dana Arta dalam Gamolan Pekhing Musik Bambu Dari Sekala Berak (Penerbit Sekelek, November 2012, editor Christian Heru Cahyo Saputro) menjadi bagian yang memperkaya literatur khasanah kesenian, khususnya seni musik tradisional Lampung.


January 9, 2013

Lampung Kembangkan Musik Etnik di 2013

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung memiliki potensi kesenian yang besar. Gamola pring, alat musik tradisional asli Lampung, merupakan salah satu aset seni yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menguatkan karakter seni di Lampung.

Pada 2013 ini, tren kesenian di Lampung adalah mengembangkan musik etnik. Caranya, dengan mengolaborasikannya dengan musik nonetnik. "Kami akan membidik musik berlatar belakang etnik yang diramu dengan musik jazz," kata Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Hari Jayaningrat, Selasa (8-1).


October 17, 2012

Junaidi Bantah Daftarkan Gamolan ke Kemenkumham

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Junaidi, guru kesenian SMPN 2 Bandar Lampung, membantah telah mendaftarkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) gamolan pering ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Yang saya daftarkan itu saron pering, yang merupakan pengembangan dari alat kesenian yang diadaptasi dari berbagai daerah, kata Junaidi, saat mengunjungi Lampung Post, Selasa (16-10).

Junaidi mengatakan saron pering adalah seperangkat gamolan berupa saron yang terbuat dari bambu, baik rancakan atau bilahannya. Saron pering masuk ke jenis alat musik idiopon, yang membunyikannya dengan cara dipukul, menggunakan alat pukul tertentu yang dibuat dari bambu.

Berorientasi pada aktivitas kebudayaan, terutama bidang musik tradisional dan kebudayaan lokal, terutama pendidikan berbasis lintas budaya.

Kami juga memproduksi alat-alat musik tradisional Jawa, Sunda, & Bali dalam laras pelog dan slendro. Adapula, alat musik tradisional dari daerah Lampung, Padang, Palembang, dan beberapa alat musik tradisional dari negara-negara di Asia, seperti China dan Jepang, terutama yang berbahan dari bambu, kata Junaidi.

Menurut Junaidi, dia bersama beberapa rekannya, salah satunya Nyoman Gusti Arsana dari Taman Budaya Lampung, mulai mengembangkan saron pering sejak 2010 ampung karena prihatin dengan pelajaran kesenian di sekolahnya yang justru mempelajari pianika, seruling, dan gitar.

Saya prihatin karena anak-anak justru mempelajari alat musik modern, sementara alat musik tradisional seperti ditinggalkan, kata dia.

Junaidi hadir ke Lampung Post untuk mengklarifikasi berita Lampung Post pada Selasa (9-10). Dalam berita itu, Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) menyomasi Junaidi yang berusaha mematenkan alat musik gamolan sebagai alat musik ciptaannya.

MPAL, melalui praktisi sekaligus pembuat alat musik gamolan Syafril, menjelaskan gamolan adalah alat musik yang merupakan warisan budaya Lampung sehingga Syafril, mewakili MPAL, protes dan merasa keberatan jika gamolan diklaim sebagai alat musik ciptaan seseorang.

Hal tersebut dikatakan di sela-sela kunjungannya ke Lampung Post beserta duta gamolan Fajar Ramadhan, peneliti gamolan Hasyimkan, dan perwakilan masyarakat Lampung Sutan Asli, yang tergabung dalam wadah MPAL, Senin (8-10). (UNI/MG4/S-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 17 Oktober 2012

October 16, 2012

[Inspirasi] Rajo Gamolan Pering dari Kembahang

DARI segi silsilah, darah biru tak mengalir pada dirinya. Tapi predikat sebagai rajo gamolan pering melekat pada namanya.

Syapril Yamin (LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY)

Berkat kepiawaiannya membuat hingga memainkan alat musik tabuh khas Lampung tersebut, Mamak Lil, sapaan akrab Syapril Yamin, menjadikan dirinya sebagai tokoh tertinggi dalam dunia seni yang ia geluti sejak dini.

Pemberian gelar raja pada sosok tertentu bukanlah hal asing dalam dunia penggiat sastra, seni, dan budaya. Pada budaya musik pop pemberian gelar the king diberikan kepada sosok legendaris seperti Elvis Presly atas kiprahnya dalam musik rock and roll. Michael Jackson pun mendapat gelar ?King Of Pop? lantaran eksistensinya sebagai musisi pop dekade 1980?1990-an.

Di Lampung, kita mengenal sosok Isbedy Stiawan Z.S. sebagai Paus Sastra Lampung. Nah, dalam dunia seni musik tradisional khas masyarakat Lampung, gelar Rajo disematkan para seniman lokal pada putra asli Desa Kembahang, Kecamatan Batubrak, Kabupaten Lampung Barat.

Kepiawaian Mamak Lil membuat hingga memainkan gamolan pering ia tunjukan kepada Lampung Post saat berkunjung ke kediamannya di Perumahan Tirtayasa Indah No. 84, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Pada sebuah ruang berukuran 2 x 6 meter persegi, pria berkumis tebal ini mengayunkan goloknya pada sebilah bambu yang ia pegang. Ruas bambu yang sebelumnya telah diserut hingga pada sisi luar terlihat mengilap itu dipapras pada bagian tengah dari sisi dalam bambu.

Pemaprasan dilakukan hingga ketebalan tertentu. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan perhitungan cermat sebagai buah pengalaman dan jam terbang yang menghasilkan kecerdasan intuitif pada sosok Mamak Lil.

Aktivitas Mamak Lil di siang hari yang terik itu terus berlanjut. Butir-butir keringat mulai bercucuran dari dahinya yang sawo matang. Sejurus kemudian Mamak Lil menghentikan paprasannya.

Ia mendekatkan bilahan bambu itu ke telinganya. Bagian tengah bambu disentil-sentil hingga menghasilkan bunyi yang dikenalnya sebagai nada tertentu. Telunjuk dan ibu jarinya berpindah-pindah tempat dalam memegang ruas bambu hingga menghasilkan nada paling tinggi.

Jika pemaprasan pada bagian tengah laras terlalu tipis, nada yang dihasilkan bisa terlalu rendah. Jika ketebalan, nada pun akan terlalu tinggi. Proses yang saya lakukan ini mencari ruas nada pada laras bambu. Ketebalan yang sempurna dan ketepatan dalam menemukan titik laras nada adalah kunci menghasilkan nada yang sesuai dan telah kita tentukan sebelumnya. Kondisi emosi kita pun harus tenang, jika tidak hasil pemaprasan jadi kacau, kata dia.

Di ruang tak terlalu besar yang terletak dan berimpitan dengan kediamannya inilah Mamak Lil menempatkan Sanggar Mamak Lil tempat ia bekerja menciptakan gamolan. Di sinilah suami dari Hidup Amir ini memapras ratusan bilah bambu dan mengolahnya menjadi alat musik yang mampu memproduksi nada-nada indah tatkala ditabuh dengan ketukan dan rima yang tepat.

Mamak Lil mulai memproduksi gamolan secara massal sejak 1995. Jika ditaksir, hingga kini jumlah gamolan yang tercipta mencapai kisaran 2.000 hingga 3.000 unit. Semuanya tersebar di berbagai pelosok Lampung. Pada lembaga sekolah maupun sanggar-sanggar kesenian. Proses produksi pertama kali berjumlah 250 unit berdasarkan permintaan pemerintah daerah Kabupaten Lampung Barat ketika itu.

Gamolan pering atau kini dikenal dengan istilah cetik merupakan alat musik yaang terdiri dari tujuh ruas bambu (dalam bahasa Lampung cetik, red) yang ditempatkan pada sebilah bambu bulat yang berfungsi sebagai tempat resonansi suara.

Tanpa Fa

Alat musik gamolan mampu menghasilkan enam nada, do, re, mi, sol, la, si, dan do. Sementara satu ruas lagi berfungsi sebagai ritem atau dana pengalih. Memang tidak ada nada fa dalam gamolan pering, ujarnya.

Tentu gelar Rajo tak akan tersemat jika Mamak Lil hanya mampu membuat gamolan pering. Kemahirannya dalam menabuh alat musik warisan leluhurnya dari kebudayaan Sekala Brak di Gunung Pesagi, Lampung Barat, ini adalah sebab utama. Sekitar 1998 hingga 1999, alat musik tradisional ini memperoleh momentumnya untuk dikenal secara luas. Namun ketika itu, ujarnya, seniman di sini tidak mendapatkan sosok yang bisa memainkan gamolan pering. Hingga muncul sosoknya, sejak saat ini istilah, pawang, pangeran hingga rajo gamolan pering melekat pada dirinya.

Menurut dia, ada beberapa bentuk tabuhan orisinal dalam memainkan gamolan pering; di antaranya tabuhan sambai agung, tabuh sekeli, tabuh jarang, tabuh labung angin. Tetabuhan ini dikuasai sepenuhnya oleh Mamak Lil. Sebagai seniman pun ia telah mengaryakan beberapa tabuhan, seperti tabuhan tari, tabuh alaw-alaw kembahang, dan tabuh hiwang. Namun, dirinya adalah seniman yang belajar berkesenian secara autodidak.

Dia tak mengenal partitur. Belajar gamolan atas tuntunan sang ayah sedari sekolah dasar. Ia belajar dengan melihat, mendengar, bahkan dituntun langsung sang ayah. Dalam belajar dulu saya dipangku ayah, kedua tangan saya dipegang lalu dituntun untuk menabuh, kenangnya.

Di Desa Kembahang yang terletak 8 kilometer sebelum ibu kota Lampung Barat, Liwa, beberapa keluarga secara turun-temurun menghiasi seni membuat hingga memainkan gamolan pering. Di kampungnya kala itu mungkin hanya tiga, Mat Zubairi sang ayah dan beberapa tetua kampung lainnya.

Di pagi hari hingga zuhur ayah saya bertani. Sepulang ke rumah dari bada zuhur hingga asar ayahanda membuat gamolan untuk dimainkan dan dikoleksi sendiri, kata dia.

Konsisten

Mamak Lil konsisten melestarikan gamolan Lampung. Dia mendedikasikan hidupnya, aktivitas kesehariannya untuk membuat gamolan Lampung meskipun sangat tidak menjanjikan secara ekonomi. Dedikasinya terhadap gamolan juga membuahkan banyak penghargaan. Salah satunya dari grup media nasional MNC menobatkannya sebagai salah satu pahlawan nusantara di era modern.

Dia juga menjadi duta budaya Astra untuk desa budaya di Merbaumataram, Lampung Selatan. Pada program ini Mamak Lil bertugas mengajarkan gamolan pering pada penduduk yang sebagian besar pendatang.

Mamak Lil bisa dibilang sebagai makhluk langka karena eksistensi pembuat gamolan pering atau yang menguasai tabuhan orisinalnya sangat langka, termasuk di Lampung Barat tempat alat musik ini berasal. Kondisi ini diperparah dengan minimnya anak muda yang serius belajar membuat atau memainkan gamolan pering.

Dia mengisahkan, dirinya mulai memainkan gamolan ketika masuk SMPN 1 Liwa. Atas kepiawaiannya ini, sanak famili dan tetangga di pekon kerap memintanya bermain gamolan di acara adat, terutama acara pernikahan. Dulu belum ada organ tunggal ataupun alat musik modern lainnya sehingga musik tradisional masih menjadi hiburan masyarakat di sana.

Pada masa tersebut ia tak hanya fokus pada gamolan saja. Alat musik tradisional lain, seperti gambus lunik, serdam, sastra tutur, dan talau balak juga ia dalami. Keasyikan pada dunianya membuat Syapril kecil sempat tak lanjut SMP hingga dua tahun.

Usai meneruskan kembali dan memperoleh ijazah SMP, Sapril melanjutkan sekolah di Tanjungkarang, tepatnya di SMAN 1 Telukbetung ketika itu. Dalam berkesenian di Bandar Lampung ia menemukan tempatnya. Syapril bergabung dalam Sanggar Pesagih Belalaw.

Pada 1995, ia diminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) ketika itu untuk melakukan studi komparasi pembuatan alat musik bambu di Saung Bambu Bandung selama dua mingu. Sepulang dari sanalah dirinya mulai memproduksi gamolan dalam jumlah besar hingga sekarang.

Tanpa Penerus

Namun, seorang Rajo pun harus memiliki putra mahkota sebagai sang penerus. Dalam hal gamolan pering, Mamak Lil belum menemukan sosok sebagai penerus dirinya dalam berkesenian tradisional musik Lampung. Dia tidak menemukan hal itu pada anak-anaknya ataupun orang lain.

Berkesenian di Lampung, menurutnya, belum bisa dijadikan sumber penghasilan hidup. Ia pun terus menekuni seni gamolan pering karena tidak ada pilihan lain selain berusaha menjaga dan merawat sekaligus melestarikan budaya warisan leluhur. Ini adalah tanggung jawabnya. Dan Mamak Lil pun sudah menetapkan pilihannya, mendedikasikan hidupnya untuk gamolan Lampung.

Kita generasi peneruslah yang mestinya belajar mencintai dan melestarikan gamolan ini agar tidak punah. (ABDUL GOFUR/S-2)


BIODATA

Nama : Syapril Yamin
Tempat Lahir : Desa Kembahang, Kecamatan Batuberak, Lampung Barat
Tanggal Lahir : 1989

Istri: Hidup Amir
Anak :
1. Abelia Marta Dini
2. Abelia Dina Diana
3. Ahmad Dino Alfanurin

Riwayat Pendidikan :
- SDN 1 Kembahang
- SMPN 1 Liwa
- SMAN 1 Telukbetung

Penghargaan :
- Pelestari Budaya Tradisional Lampung dari Gubernur Lampung tahun 2008 dan 2011.
- Satyalancana Budaya dari Pangeran Edward Pernong tahun 2012

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 Oktober 2012 

October 2, 2012

Gamolan Lampung Go International

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Gamolan Lampung kini go international. Alat musik yang terbuat dari bambu (pring) betung itu dipresentasikan oleh Margaret J. Kartomi dalam seminar internasional gamolan dan kebudayaan Lampung dan pameran 1.000 foto mengenai Lampung di Melbourne, Australia, baru-baru ini.

"Kami bersyukur gamolan Lampung kini sudah mendunia," kata peneliti gamolan dari Universitas Lampung (Unila) Hasyimkan, didampingi Duta Gamolan Lampung Fajar Ramadhan Muchtar dan kurator gamolan Teguh Hartono Patriantoro, saat berkunjung ke Lampung Post, Senin (1-10).

Selanjutnya, Hasyimkan mengatakan dalam seminar tersebut gamolan mendapat tanggapan positif peserta yang hadir dari kalangan akademisi, pengamat, dan pelaku seni di negara tersebut.

Ia menyebutkan sebenarnya gamolan sudah populer di mancanegara dan mulai dikenal masyarakat di Negeri Kanguru sejak 1985. "Profesor Margaret J. Kartomilah yang memperekenalkan gamolan. Beliau telah mendedikasikan hidupnya untuk menelusuri kesenian ini," ujar dia.

Guru besar Indonesian Arts Society dari Departement of Music Monash University ini menilai gamolan yang berasal dari Liwa, Lampung Barat, ini sangat unik. Karena, alat musik tunggal hanya memiliki instrumen lima skala nada pokok, yakni, do, re, mi, sol, dan la serta dimainkan dengan menggunakan tabuh yang terbuat dari bambu.

"Kendati alat musik tunggal, gamolan mampu menjadi pengiring berbagai lagu dan tarian," kata kurator gamolan Lampung Teguh Hartono Patriantoro menambahkan.

Selain di Australia, gamolan kini juga diperkenalkan di Amerika Serikat. Pada Juni lalu, 10 mahasiswa seni dari University of Kentucky mempelajari alat musik trasional karya adiluhung orang Lampung ini.

"Sebelumnya, empat mahasiswa dari Deakin University Australia juga belajar gamolan di sini," kata Hasyimkan, yang juga dosen seni musik Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila ini.

Ia menjelaskan instrumen musik hasil peninggalan budaya Ratu Melinting pada abad XVI dulu dikenal dengan nama cetik.

Biasanya alat musik ini disuguhkan pada acara adat (begawi) untuk menyambut tamu-tamu agung. Sedangkan penarinya terdiri dari keluarga Ratu atau bangsawan Melinting. "Walaupun alat musik ini hanya ditabuh sendiri, suaranya sangat indah dan khas," ujar dia.

Sementara Duta Gamolan Lampung Fajar Ramadhan Muchtar mengaku bangga Lampung memiliki alat musik tradisional ini. Sebagai duta gomalan, ia bersama Kemal Sjachdinata dan Hasyimkan berkomitmen akan memperkenalkan instrumen ke berbagai negara.

Tak hanya itu, pihaknya juga telah mendaftarkan gamolan Lampung ke Hak Kekayaan Intelektual (Haki) supaya tidak diklaim oleh negara lain. Ia juga mengajak generasi muda untuk belajar dan mencintai alat musik ini dengan menggelar berbagai event.

Salah satunya dengan digelarnya Festival Gamolan Lampung di Hotel Sahid pada Jumat (5-10) mendatang. "Kami mengharapkan masyarakat berpartisipasi dalam event ini," kata dia.

Sumber: Lampung Post, Selasa, 2 Oktober 2012

April 5, 2012

Film 'Gamolan jak Sekala Brak' Mulai Diproduksi

FILM yang mengupas budaya Lampung berjudul Gamolan Lampung mulai diproduksi. Film yang dicetus Syaiful Irba Tanpaka, produser sekaligus pemilik PH MLP, dan Diandra Natakembahang, seorang penggiat budaya, juga melibatkan banyak tokoh, mulai dari seniman gamolan Syapril Yamin, Kemal, sang penggagas Muri untuk gamolan Lampung, budayawan Lampung Wirda Puspanegara, peneliti gamolan Wayan Sumertadana hingga Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri.

Film dokumenter drama ini menjabarkan gamolan Lampung sebagai warisan budaya nusantara secara dinamis dan komprehensif, mulai dari sejarah gamolan, proses pembuatan, notasi gamolan hingga pergelaran musik gamolan yang mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri).

Syuting film yang dikemas dalam bentuk dokudrama ini berjudul Gamolan Jak Sekala Bekhak benar-benar dilakukan di beberapa pekon di Sekala Brak, Lampung Barat, yang merupakan pusat kebudayaan dan peradaban Lampung sebagai daerah asli gamolan sehingga situasi dan nuansa budayanya terasa lebih kental.

Proses syuting yang berdurasi lebih kurang 40 menit ini dipusatkan di Kembahang, Liwa, Lampung Barat. Film ini bercerita dengan ilustrasi liburan sebuah keluarga pengusaha ke kampung halamannya di Lampung Barat dan di sanalah terjadi pertemuan antara keluarga kecil ini dan Mamak Lil (Syapril Yamin) sang praktisi gamolan, yang mengisi liburan anak sang pengusaha dengan berlatih dan belajar gamolan pekhing disanggar Mamak Lil.

Tiyuh, siswi kelas VI SD yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Jakarta, liburan sekolah di tempat neneknya yang berada di sebuah desa di Provinsi Lampung.

Menurut sang ayah, di samping rindu dengan nenek (ibu dari ayah yang pribumi Lampung), juga agar Tiyuh dapat menikmati suasana desa yang jelas-jelas berbeda dengan hiruk-pikuk Ibu Kota.

Di desa nenek, Tiyuh yang mudah bergaul cepat memiliki banyak teman. Tiyuh merasakan suasana keakraban, persahabatan, dan persaudaraan bersama teman-teman desanya. Di samping ia merasa senang menikmati suasana desa yang sejuk dan indah. Rencananya film ini diluncurkan dalam waktu dekat. (S-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 5 April 2012 23:26

January 5, 2012

Pemprov-Pemkot Diminta Bangun Monumen ‘Gamolan’

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Guna melestarikan dan mengenalkan gamolan, perlu dibangun monumen alat musik khas Lampung tersebut. Gamolan juga akan diusulkan masuk salah satu gambar mata uang rupiah.

"Gamolan perlu mengikuti jejak angklung. Pemerintah daerah sudah membangun monumen angklung. Pemprov Lampung pun harus membangun monumen untuk mengenalkan alat musik gamolan sebagai salah satu simbol daerah," kata Anggota Majalis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Bandar Lampung Fajar Ramadhan Muchtar, Rabu (4-1).

Fajar bersama peneliti gamolan Hasyimkan dan pencinta gamolan Kemal Sjachdinata akan bertemu dengan Pemprov Lampung dan Pemkot Bandar Lampung mengenai usulan pembangunan monumen ini.

Menurut Fajar, lokasi tempat pembangunan monumen belum diputuskan. Namun, monumen perlu dibangun di Kota Bandar Lampung. Pemkot dan Pemprov bisa mendanai pembangunan monumen ini. "Mudah-mudahan tahun 2012 ini sudah bisa dimulai pembangunannya," kata dia.

Dia menambahkan langkah pembangunan monumen juga perlu dilanjutkan dengan mendorong agar Bank Indonesia mencantumkan gambar gamolan dalam salah satu mata uang. Angklung sudah lebih dahulu menjadi gambar desain mata uang koin pecahan Rp1.000.

"Gamolan sebagai alat musik tua dan sudah diteliti perkembangannya perlu juga diperkenalkan kepada masyarakat melalui mata uang," ujar dia.

Sementara itu, pendaftaran hak kekayaan intelektual (haki) belum juga dilakukan. Awalnya, pendaftaran dijadwalkan pada akhir Desember lalu melalui Lembaga Penelitian Unila. Sementara itu, pendaftaran gamolan ke lembaga kebudayaan dunia, UNESCO, akan dilakukan setelah pengurusan haki selesai.

Saat ini gamolan juga sudah diperkenalkan melalui dunia maya. Informasi tentang gamolan bisa diakses melalui gamolan.wordpress.com. Dalam situs tersebut, orang bisa lebih mengenal alat musik yang terbuat dari bambu ini. (MG2/K-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 5 Januari 2012

December 18, 2011

Meluruskan Sejarah ‘Gamolan’

Oleh Diandra Natakembahang


KITA memang patut bergembira dan memberikan kepada panitia dari Pemprov Lampung dan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) sebagai iniasi pertunjukan gamolan Lampung selama 25 jam oleh 25 grup, 7—8 Desember 2011. Pentas ini sukses tercatat dalam rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) kategori superlatif sebagai pertunjukan gamolan terlama di Indonesia.

Tulisan ini hanya sedikit catatan mengenai (sejarah) gamolan, yang populer dengan nama cetik, sering juga disebut gamolan peghing atau kulintang peghing. Membaca berita seputar gawean akbar tersebut, ada yang menggelitik dan saya merasa perlu meluruskan terutama terkait dengan asal-usul gamolan.

Gamolan sebagai sebuah instrumen musik tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang peradaban Lampung dalam hal ini Kerajaan Sekala Brak. Rupanya gamolan Lampung telah diteliti Margaret J. Kartomi dan dicantumkan dalam bukunya Musical Instruments of Indonesia yang diterbitkan Indonesian Art Society Association with The Department of Music Monash University, 1985.

Margaret adalah seorang profesor musik dari Monash University Australia yang telah menggeluti musik gamelan selama lebih dari 30 tahun. Ia datang ke Lampung Barat medio 1982. Dalam bukunya, Margaret menyebutkan bahwa gamolan berasal dari Liwa, daerah pegunungan di bagian barat Lampung, "A Gamolan origin from Liwa in the montainous nortwest area of Lampung.”

Hipotesis yang menyatakan bahwa seperangkat orkestra gamelan Jawa adalah berasal dan merupakan pengembangan dan perkembangan dari gamolan Lampung juga sangat kuat dan mempunyai alur yang jelas. Setidaknya ada tiga hal yang menguatkan hipotesis ini. Pertama, pertama, hal yang relatif sederhana adalah merupakan peradaban awal dan adalah permulaan dari pengembangan hal yang lebih rumit dan kompleks [H. Stewart]. Kedua, secara etimologi dalam konteks nama relatif tidak berubah dari gamolan (Lampung) menjadi gamelan (Jawa). Ketiga, gamolan Lampung dibawa ke Pulau Jawa dan bermetamorfosis sedemikian rupa menjadi seperangkat orkestra gamelan Jawa. Gamolan Lampung dibawa ke Pulau Jawa saat Sriwijaya menguasai Nusantara, termasuk Jawa. Gamolan Lampung terpahat dalam relief di Candi Borobudur (abad ke 8 M). Candi Borobudur sendiri dibangun Dinasti Syailendra Sriwijaya, sekelompok orang yang membuat Candi Borobudur juga adalah orang Lampung [Hasyimkan, 2011].

Sriwijaya sebagai sebuah Kerajaan Maritim terbesar di Asia Tenggara mempunyai perjalanan sejarah yang panjang dan pertautan yang sangat erat dengan Kerajaan Sekala Brak. Kerajaan Sriwijaya didirikan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga seorang Raja Buddhis dari Ranau Sekala Brak. Pendiri Sriwijaya ini dijuluki Syailendravarmsa atau Raja Pegunungan.

Pandangan ini didukung pendapat para ahli dan sejarawan sebagaimana yang diungkapkan Lawrence Palmer Briggs dalam The Origin of Syailendra Dinasty dalam Journal of American Oriental Society Vol 70, 1950. Lawrence menyatakan "Sebelum tahun 683 Masehi ibu negeri Sriwijaya terletak di daerah pegunungan agak jauh dari Palembang, tempat itu dipayungi dua gunung dan dilatari oleh sebuah danau. Itulah sebabnya Syailendra dan keluarganya disebut Raja Pegunungan."

Jelas, dua gunung yang dimaksud Lawrence adalah Gunung Pesagi dan Gunung Seminung, sedangkan danau yang dimaksud adalah Danau Ranau.

Setelah perpindahan dari Sekala Brak, Sriwijaya setidaknya tiga kali berpindah ibu negeri, yaitu Minanga Komering, Palembang, dan Darmasraya Jambi. Namun, para sejarawan juga ada yang berpendapat bahwa Patthani di selatan Thailand adalah ibu negeri terakhir Sriwijaya.

***

Menurut Wirda Puspanegara, secara etimologi, gamolan berasal dari kata gimol yang artinya gemuruh atau getar yang berasal dari suara bambu dan menjadi gamolan, yang artinya bergemuruhan atau bergetaran. Sementara itu, begamol, artinya berkumpul. Seniman cetik (gamolan) Syapril Yamin mengatakan gamolan pada awalnya merupakan instrumen tunggal yang konon dimainkan dan yang menemani seorang meghanai tuha (bujang lapuk), yang menetak peghing mati temeggi atau tunggul bambu tua tegak yang sudah lama mati.

Gamolan yang merupakan instrumen xilofon yang berasal dari Lampung Barat, dideskripsikan Margaret J. Kartomi dalam Musical Instruments of Indonesia sebagai berikut: "Gamolan terdiri dari delapan lempengan bambu dan memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf, lempengan bambu tersebut diikat secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan disimpul di bagian teratas lempeng, penyangga yang tergantung bebas di atas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul sepasang tongkat kayu. Gamolan memiliki tangga nada 1 2 3 5 6 7, dua orang pemain duduk di belakang alat musik ini salah satu dari mereka memimpin [begamol] memainkan pola pola melodis pada enam lempeng, dan yang satunya [gelitak] mengikutinya pada dua lempeng sisanya, lempeng lempeng pada gamolan distem dengan cara menyerut punggung bambu agar berbentuk cekung. Gamolan dimainkan bersama-sama dengan sepasang gong [tala], drum yang kedua ujungnya bisa dipukul [gindang] dan sepasang simbal kuningan [rujih]."

***

Pergeseran istilah instrumen musik ini dari gamolan menjadi cetik, konon karena tampilan suara yang dihasilkan gamolan, sehingga akhirnya gamolan juga dijuluki sebagai cetik. Pergeseran istilah ini terjadi pada sekitar medio tahun 90-an. Demikianlah penyebutan gamolan menjadi cetik akhirnya menjadi lumrah dan menjadi sebutan yang umum bagi gamolan. Bahkan, dalam penulisan sekalipun seperti dalam penulisan buku Pelajaran Muatan Lokal untuk Provinsi Lampung.

Namun, beberapa peneliti dari Taman Budaya Lampung (TBL) menyebut instrumen musik ini sebagai kulintang. Demikianlah dinamika gamolan dalam istilah dan penyebutan. Oleh sebab itu, saya sepakat untuk kembali menyebut gamolan bagi instrumen musik ini karena terkait dengan sejarah panjang serta fungsi dan peranan gamolan dalam tradisi masyarakat adat Lampung.

***

Saya agak kaget manakala mengetahui bahwa Way Kanan juga adalah daerah asal dari gamolan, walaupun di Lampung, gamolan sebagai instrumen musik juga digunakan sebagai piranti adat di Semaka (Tanggamus) dan Way Kanan. Belum jelas seperti apa tepatnya informasi yang menyatakan bahwa Way Kanan juga merupakan origin dari gamolan peghing ini. Namun, sepertinya alasan politis dan kepentingan lebih berperan di sini.

Walaupun sebagian besar etnis Lampung dari berbagai buay dan marga dari setiap konfederasi adat memiliki tambo sejarahnya masing-masing dan mengakui puyang ulun Lampung berasal dari dataran tinggi Sekala Brak di kaki Gunung Pesagi; tidak ada "origin Bersama" dari sebuah produk kebudayaan. Keris misalnya, walaupun telah menjadi salah satu produk kebudayaan besar Nusantara dan telah menjadi produk budaya dan tradisi tidak saja Jawa, tetapi juga Bali, Sasak, Sunda, Bugis bahkan Melayu namun tidak dapat dipungkiri bahwa Keris adalah produk dari Kebudayaan Jawa yang merupakan daerah originnya.

Demikianlah apa pun dan bagaimanapun dinamika dari sebuah sebudayaan, tapi sejarah dan istilah harus diluruskan karena berkaitan dengan tradisi, falsafah, dan perjalanan panjang sejarah dan peradaban dari sebuah suku bangsa.

Diandra Natakembahang, peminat sejarah budaya Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Desember 2011

December 9, 2011

Musik Tradisional: ‘Gamolan’ Lampung Pecahkan Rekor Muri

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pertunjukan gamolan Lampung selama 25 jam oleh 25 grup sukses tercatat dalam rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) kategori superlatif sebagai pertunjukan gamolan terlama di Indonesia.

Deputi Manajer Musium Rekor Dunia-Indonesia (Muri), Damian Awan Raharjo (kanan) menyerahkan piagam Muri kepada Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. di lapangan Korpri Pemprov Lampung, Kamis (8-12). (LAMPUNG POST/ZAINUDDIN)


Deputi Manajer Muri, Damian Awan Raharjo, secara langsung menyerahkan piagam Muri kepada Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. di lapangan Korpri Pemprov Lampung, Kamis (8-12).

Menurut Damian, rekor ini sangat fantastik karena 25 grup musik tanpa berhenti terus memainkan gamolan selama 25 jam. Pertunjukan dimulai Rabu (7-12), pukul 10.05, dan berakhir pukul 11.05 kemarin.

"Kalau gamelan, sudah ada rekornya waktu dimainkan di TMII selama 36 jam 36 menit 36 detik. Kalau gamolan kan baru ini. Jadi tetap masuk dalam rekor Muri," kata Damian.

Gubernur mengatakan tercatatnya pertunjukan gamolan Lampung dalam rekor Muri merupakan satu momentum yang sangat baik untuk mempromosikan alat musik tradisional yang pertama kali ditemukan di Way Kanan dan Lampung Barat itu.

Pasalnya, selama ini kebanyakan masyarakat Lampung hanya mengetahui beberapa alat musik tradisional Lampung, seperti kolintang dan cetik bambu. Sementara gamolan sedikit terpinggirkan.

"Sebelum ini kan banyak yang tidak tahu ada alat musik tradisional bernama gamolan Lampung. Padahal gamolan merupakan alat musik tertua yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 4 Masehi. Jadi harus terus kita gemakan dan lestarikan," kata Gubernur saat memberi sambutan pada acara pemecahan rekor Muri kemarin.

Gubernur berharap pertunjukan gamolan tidak terhenti sampai pemecahan rekor Muri. Majelis penyeimbang adat bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota juga diminta melestarikan gamolan dengan menggelar pertunjukan secara rutin dan memperkenalkannya kepada generasi muda.

Pemprov, menurut Gubernur, juga akan berupaya memberikan hak kekayaan intelektual dan hak paten pada alat musik gamolan agar ke depannya tidak mudah diakui sebagai milik daerah atau negara lain.

Kemarin, Gubernur dan Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL) juga memberikan gelar adat Ratu Berlian Sangun Anggun kepada peneliti gamolan asal Monash University Australia, Margaret J. Kartomi.

Pemberian gelar adat ini sebagai penghargaan kepada Margaret yang selama 27 tahun meneliti asal muasal gamolan Lampung dan menuliskan dalam bukunya, Musical Instrument of Indonesia. (LIN/R-2)

Sumber: Sumber: Lampung Post, Jumat, 9 December 2011

December 8, 2011

Lampung Tercatat dalam MURI Penabuh Gamolan Terlama

BANDARLAMPUNG - Lampung tercatat dalam urutan 5233 rekor muri penabuh alat musik Gamolan terlama yakni 25 jam, 25 group dan 25 gamolan.

"Kami tim Muri mencatat secara sah kepada warga Lampung yang telah menabuh alat musik Gamolan Lampung terlama selama 25 jam," kata Deputi Muri, Damian Awan Raharjo, di Bandarlampung, Kamis.

Alat musik tradisional yang dimainkan oleh siswa SMU negeri 2 Bandarlampung itu, berhenti pada pukul 11.05 wib.

Sementara dalam sambutan pemecah rekor muri penabuh gamolan sekaligus menyematan gelar adat pada peneliti gamolan asal Australia, Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP, mengatakan akan mempatenkan alat musik itu sebagai salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Waykanan, Lampung.

"Kami akan patenkan alat musik itu, supaya seluruh dunia mengetahui, bahwa alat musik itu asalnya dari Lampung," kata Oedin, panggilan akrab gubernur.

Dia juga mengatakan, bulan Desember, akan menggelar parade kebudayaan Lampung.

"Ketika semua orang berfikir untuk berlibur pada akhir tahun, nah, kita akan mengadakan pertunjukkan kebudayaan khas Lampung," katanya.

Gamolan merupakan alat musik tradisional lampung yang berasal dari Skala Brak, Lampung barat. Alat musik tersebut dibuat dari Bambu Betung, lalu dilaraskan menjadi pelog enam dengan nada do, re, mo, sol, la, si, do.

Alat musik itu juga dipakai untuk mengiringi sastra lisan dan tari. Gamolan yang diperkirakan berasal dari kata 'gamel' (sansekerta) yang berarti memukul dipakai oleh orang India, kemudian kata itu bergeser menjadi "gamolan" oleh bangsa Cina yang berarti berkumpul.

Kemudian, alat musik itu dipakai oleh orang Lampung untuk mengumpulkan orang. Gamolan diperkirakan diciptakan pada abad IV Masehi dan mengalami puncak perkembangan pada abad V masehi.

Menurut peneliti alat musik tersebut, Margaret, Gamolan adalah jenis alat musik Xilophone yang telah didatangkan dari Asia Tenggara sampai Afrika pada abad V Masehi. kemudian baru dilukis di Candi Borobudur pada abad VIII Masehi.

Sumber: Antara, Kamis, 8 Desember 2011

Margaret Mendapat Gelar Ratu Berlian Sangun Anggun

BANDAR LAMPUNG -- Majelis Pertimbangan Adat Lampung (MPAL) mengukuhkan Prof DR Margaret J Kartomi mendapat gelar adat Ratu Berlian Sangun Anggun, sebagai bentuk penghargaan masyarakat Lampung atas temuan alat musik Gamolan di wilayah itu.

Usai pengukuhan gelar adat tersebut, Margaret di Bandarlampung, Kamis, dikelilingi tokoh-tokoh adat Lampung sambil menari. tarian tersebut menunjukkan bahwa orang yang telah diberi adat, telah resmi menjadi bagian keluarga masyarakat di sana.

peneliti musik tradisional asal Australia itu mendapat gelar adat Lampung, karena dia telah melakukan penelitian alat musik tersebut sejak tahun 1983.

"Waktu itu, saya jalan-jalan ke Lampung Barat bersama suami saya, dan di sana saya mendengar alat musik itu dimainkan oleh penduduk setempat," katanya.

Bagi Margaret, alunan musik tradisional yang dimainkan oleh warga di sana, terdengar sangat indah. Hampir diseluruh dunia, tidak ada suara musik tersebut. Namun dia menemukan keindahan musik tersebut justru di Lampung.

"Saya sangat tertarik untuk mendalami alat musik tersebut, kemudian saya mengajukan penelitian terkait alat musik itu. Dan hasilnya, bahwa alat musik tradisional gamolan sebenarnya berasal dari Lampung," ujarnya.

Dia berharap, pemerintah dan masyarakat Lampung bisa ikut merasa bangga dan melestarikan alat musik tersebut sebagai salah satu alat musik tradisional Lampung.

"Saya senang, melihat anak-anak sekolah begitu antusias memainkan alat musik ini, dan saya berharap semoga pemerintah setempat segera patenkan alat musik itu, sebagai salah satu alat musik yang berasal dari Lampung," ujarnya.

Gamolan diperkirakan diciptakan pada abad ke-4 masehi dan mengalami puncak perkembangan pada abad ke-5 Masehi. Gamolan adalah jeni alat musik xilophone yang telah diekspor dari Asia Tenggara sampai Afrika pada abad ke-5 masehi. Relief gamolan dilukis di Candi Borobudur pada abad ke-8 Masehi.

Hipotesis Prof DR Margaret J Kartomi dalam bukunya 'musical Instrumen of Indonesia' mengatakan gamelan sekarang seperangkat alat musik, tapi merujuk pada alat musik tunggal zaman dahulu.

Dalam hipotesisnya itu, dia menyatakan alat musik tunggal itu hanya ditemukan di Lampung tepatnya di Lampung Barat dan Waykanan.

Sumber: Antara, Kamis, 7 Desember 2011

‘Gamolan’, Musik Lampung di Relief Borobudur

BANDAR LAMPUNG—Hari ini (8-12) gamolan Lampung bakal tercatat di Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) dalam kategori pertunjukan alat musik tradisional terlama. Sejak Rabu (7-12) pukul 10.00 hingga Kamis (8-12) pukul 11.00, sebanyak 25 grup menabuh gamolan tanpa henti selama 25 jam.

PECAHKAN REKOR. Sejumlah mahasiswa Unila bermain gamolan dalam Museum Rekor Dunia Indonesia di lapangan Korpri, Pemprov Lampung Bandar Lampung, Rabu (7-12). (LAMPUNG POST/MG3)

Pemecahan rekor Muri ini diharapkan bisa memperkenalkan gamolan kepada masyarakat dan pencinta musik tradisional untuk dilestarikan sebagai salah satu alat musik tertua Indonesia. "Saya senang ada yang mengangkat kembali gamolan Lampung karena ini adalah alat musik tertua Lampung. Saya pernah menelitinya pada 1980," kata Margareth J. Kartomi, penulis sekaligus peneliti gamolan Lampung, di lapangan Korpri, Pemprov Lampung, Rabu (7-12).

Profesor asal Universitas Monash, Australia, itu menjelaskan dia berkenalan dengan gamolan di Krui, Lampung Barat, tahun 1980. Gamolan yang ditemukan terbuat dari bambu, kayu, dan dimainkan dua orang. "Saya waktu itu dari Bengkulu bersama suami. Saya pikir itu sama dengan gamelan dari Jawa. Ternyata bukan, itu gamolan. Suaranya berbeda, lebih indah. Gamelan juga merupakan seperangkat alat musik, sedangkan gamolan hanya sebuah alat musik," kata wanita kelahiran 24 November 1960 itu.

Dia memprediksi gamolan ada sejak abad ke-3 Masehi karena tergambar di relief Candi Borobudur. Gamolan terdiri dari bambu dan kayu yang disebut kendang dan tawak-tawak. Alat musik ini, menurut dia, berasal dari perpaduan seni India dan China yang terbawa ke Lampung melalui Way Kanan. "Tapi dulu nadanya lengkap dari do re mi fa sol la si do. Tapi sekarang fa-nya hilang. Ini menarik untuk diteliti lagi," kata dia.

Di sisi lain, dosen Program Studi Seni Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung Hasyimkan mengatakan gamolan merupakan bagian kebudayaan Nusantara. Gamolan berasal dari kata begamol yang dalam bahasa Lampung sama dengan begumul atau berkumpul dalam bahasa Melayu.

Instrumentalia ini terdiri dari delapan lempengan bambu diikat bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan simpul di bagian teratas lempengan. Gamolan dan gamelan memiliki nama yang nyaris sama tetapi berbeda.

"Tangga nada gamolan Lampung berdasar arkeologi atau instrumen, yakni do re mi so la si do. Sedangkan gamelan Jawa slendro instrumennya do re mi so la si," kata dia. (LIN/U-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 8 Desember 2011

December 7, 2011

Lampung Gelar Tabuh Gamolan 25 Jam Nonstop

BANDARLAMPUNG -- Provinsi Lampung menggelar tabuh gamolan yakni alat musik dari bambu selama 25 jam nonstop dalam upaya memecahkan rekor MURI.

Acara pemecahan rekor Muri tabuh gamolan berlangsung di Lapangan Korpri Perkantoran Gubernur Lampung di Bandarlampung, Rabu, dibuka oleh Wakil Gubernur Lampung MS Joko Umar Said dan dihadiri peneliti gamolan asal Australia Prof Margaret J Kartomi.

Upaya pemecahan rekor Muri, gamolan itu dimainkan oleh 25 kelompok pemusik masing-masing memainkan alat musik tradisional itu selama satu jam.

Masing-masing kelompok terdiri atas 25 pemain untuk memainkan gamolan selama satu jam, kemudian disusul hingga grup lainnya dan seterusnya untuk memainkan alat tradisonal Lampung itu.

Kelompok pemain musik gamolan itu tidak hanya siswa sekolah tetapi juga mahasiswa. Ke-25 kelompok penabuh gamolan itu yakni PGSD Unila, STAH Bandarlampung, Prodi Tari Unila, SD Fransiskus Tanjungkarang, SD Kartika II, SD 2 Rawa Laut, SD Xaverius Telukbetung.

Kemudian SDN 1 Budidaya Lampung Selatan, SMPN 14 Bandarlampung, SMP Muhammadiyah Bandarlampung, SMPN 22 Bandarlampung, SMP PGRI 3 Bandarlampung, SMPN 16 Bandarlampung, SMPN 2 Bnadarlampung, SMPN 4 Bandarlampung, SMKN 4 Bandarlampung.

Selanjutnya, SMA Fransiskus Bandarlampung, SMA Perintis I Bandarlampung, SMAN 7 Bandarlampung, SMAN 1 Gading Rejo, SMAN 9 Bandarlampung, SMA Al Kautsar Bandarlampung, SMAN 1 Bandarlampung dan SMAN 2 Bandarlampung.

Permainan alat musik itu berlangsung Rabu (7/12) sejak pukul 09.00 WIB hingga Kamis (8/12) pukul 10.00 WIB.

Menurut peneliti gamolan asal Australia Prof Margaret J Kartomi mentatakan alat musik yang dimainkan itu berupa delapan lempengan bambu pada gamolan diikat secara bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan simpul di bagian teratas lempengan.

Gamolan dan gamelan menurutnya memiliki nama yang nyaris mirip tetapi berbeda. "Tangga nada gamolan Lampung berdasarkan arkeologi atau instrumen ialah do re mi so la si do.

"Keunikan alat musik gamolan tidak ada tangga nada `fa`," kata dia.

Sedang gamelan Jawa Slendro instrumennya ialah do re mi so la si," kata dia menambahkan.

Sumber: Antara, Rabu, 7 Desember 2011