Showing posts with label kain. Show all posts
Showing posts with label kain. Show all posts

September 20, 2013

Sulaman Maduaro Harumkan Lampung

JAKARTA (Lampost): Sulaman maduaro dari Tulangbawang menjadi satu dari lima kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia yang mendapatkan penghargaan Dekranas Award 2013, dalam kategori kriya tekstil, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (19-9).

Selain itu, Dekranasda Tulangbawang juga menjadi wakil Lampung dalam ajang peranti saji tingkat nasional dari 197 kabupaten/kota se-Indonesia yang pemenangnya akan diumumkan pada Minggu (22-9).Penghargaan diterima Ibu Trully Sjachroedin Z.P., sebagai pembina Dekranasda Kabupaten/Kota Provinsi Lampung, dari Ibu Herawati Boediono.


January 27, 2013

[Fokus] Memelihara Tradisi lewat Perajin

LAMPUNG memiliki kekayaan kain yang luar biasa. Namun, perlahan-lahan kekayaan itu makin tergerus oleh waktu, para perajin kain mulai berkurang.


Para orang tua yang memiliki kemampuan menenun dan menapis banyak yang sudah meninggal, tapi generasi berikutnya sedikit yang mau belajar.

Perancang busana asal Lampung, Raswan, memperkirakan tinggal sedikit orang Lampung yang bisa membuat kain tenun dengan alat tradisional gendong. Mungkin, kondisinya sudah pada tua dan tidak lagi mampu menyusun benang dengan alat kuno itu untuk menghasilkan kain tenun.


[Fokus] Tapis Lampung Kehilangan Panggung

KAIN tradisional Lampung sudah sangat dikenal di mancanegara. Bahkan, ada beberapa orang yang secara khusus mengoleksi kain tapis dan kain tenun lain asal Lampung.

Roslina Daan berkunjung ke Jepang untuk memamerkan kain tapis Lampung, November 2012 lalu. Pameran yang digelar selama satu minggu itu berlangsung atas kerja sama Museum Tekstil Indonesia dan Himpunan Perajin Tapis Lampung. Tokyo dan Kyoto, dua kota besar yang dipilih untuk memamerkan tapis dan kain tradisional Lampung yang lain.


[Fokus] Tapis-Sulam Usus Lampung Mendunia

PARA perancang busana berburu menggali kekayaan kain tradisional Lampung. Mereka masuk ke pelosok kampung untuk mempelajari aneka kain Lampung yang dahulu pernah dibuat orang-orang tua.

Acara puncak Pemilihan Putri Indonesia 2006 terasa lebih istimewa bagi Aan Ibrahim. Desainer Lampung itu mendapat kehormatan untuk merancang busana yang akan dipakai Miss Universe asal Puerto Riko, Zulyka Rivera, pada acara yang gemerlap itu.


October 21, 2012

Eksotisme Tenun Ikat Inuh

TENUN ikat inuh dan bidak galah napuh merupakan tenun tertua di Lampung. Raswan sukses memadukannya menjadi busana kasual nan eksotik.

Kain tradisional Lampung yang didesain Raswan adalah tenun ikat inuh yang berasal dari Lampung Barat serta tenun ikat bidak galah napuh dari Way Kanan. Keduanya adalah kain adat yang pada awalnya hanya dipakai pada acara-acara tertentu saja.

Tenun ikat inuh mulanya hanya dipakai perempuan pada acara pernikahan. Perempuan yang memakainya harus istri dari laki-laki tertua dalam keluarga. Di masa itu, tidak semua wanita bisa memakai kain inuh, sedangkan tenun ikat bidak galah napuh dipakai hanya untuk acara adat untuk laki-laki dan perempuan.

Perbedaan kedua kain tenun ini terletak pada motifnya. Tenun ikat inuh memiliki motif lebih beragam berupa tumbuhan, kapal, dan rumah tradisional, sedangkan tenun bidak galah napuh bermotif bintik-bintik kecil yang diambil dari model kulit hewan. Napuh adalah sejenis hewan seperti kancil yang memiliki bintik-bintik kecil pada bagian leher.

Raswan sukses memadukan dua kain daerah ini menjadi model pakaian modern bertema kasual. Tidak hanya untuk wanita, pria juga bisa bergaya dengan busana ini. Model busana wanita berupa blezer, mini-dress, dan long dress. Pilihan warna yang dipakai seperti hijau tua, ungu, dan biru tua. Motif pada kain membuat pakaian kasual ini lebih eksotik dan mewah.

Dress pendek ini bisa dipadukan dengan kain tenun yang difungsikan sebagai selendang. Bisa dikenakan di leher atau diikatkan di pinggul. Perpaduan dress dengan kain tenun ikat inuh atau bidak galah napuh ini menghadirkan keanggunan dan kemewahan berbusana.

Raswan pun memadukan tenun ikat dengan kain tapis. Ini terlihat pada salah satu pakaian yang memadukan dua kain ikon Lampung itu. Tapis yang dibuat dari benang berwarna emas diletakkan pada bagian atas, di sekitar leher. Perpaduan ini menjadi kolaborasi yang indah dan sempurna. Kain tenun pun dipadukan dengan manik-manik yang melingkar di bawah leher. Pakaian jenis ini lebih menguatkan kesan tradisional sekaligus modern.
Untuk pakaian pria, kain tenun didesain menjadi kemeja trendi. Kemeja yang kasual ini memunculkan motif tenun yang kuat. Unsur tenun memancar dalam busana modern.

Raswan merancang kain tradisional lampung sesuai dengan tren busana saat ini. Selain untuk melestarikan kain tradisional, juga untuk lebih mengenalkan kepada anak muda dan masyarakat umum.


"Dengan desain yang modern, makin banyak orang yang tahu dan akan memakainya. Orang asing pun suka memakai busana ini, jadi tidak hanya untuk acara adat saja," kata Raswan.

Pembuatan kain tenun inuh dan bidak galah napuh menggunakan alat tenun bukan mesin atau ATBM. Dengan alat ini pembuatan kain lebih cepat dan biaya produksi pun bisa lebih kecil. Dalam sehari bisa dibuat kain sepanjang 6 meter. Untuk harga jual pun bisa lebih murah, hanya Rp200 ribu per 2 meter. Pembuatan busana dari kain tenun lampung pun bisa dibuat besar-besaran dengan harga yang tidak telampau mahal. (PADLI RAMDAN/M-2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 21 Oktober 2012

October 13, 2012

Kisah Tenun Tradisional Indonesia

Oleh Gatot Arifianto


SEJUMLAH pelajar selonjor dan menggunakan satu jempol kakinya untuk menahan beberapa benang yang selanjutnya mereka anyam dengan tangan.

Ilustrasi (KOMPAS/YULVIANUS HARJONO)

Mangka’bi, demikian teknik tersebut, ialah cara mengepang benang dalam tenun Tana Toraja yang "diperkenalkan" antropolog Jepang, Keiko Kusakabe.

"Awal mengerti cara tersebut ialah saat yang bersangkutan membuat pelatihan mangka’bi, karena itu, anak-anak atau pengunjung yang mau mencoba kami ajari," ujar staf Bagian Pameran dan Edukasi Museum Tekstil Jakarta, Sari Permana, di sela perhelatan "Pameran Khazanah Kain Tradisional Nusantara" yang berlangsung di Museum Negeri Ruwai Jurai, Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung.

Di Lampung yang menjadi tuan rumah acara tersebut, kondisi sebagaimana terjadi pada mangka’bi juga terjadi pada kain tenun tradisional Lampung, yakni tapis bidak galah napuh yang dikonservasi sekitar 10 tahun lalu oleh Raswan Tapis, alumnus Fakultas Bahasa dan Seni Unila 1990 yang konsen terhadap kain tapis.

Menurut Raswan, rujukan konservasi bidak galah napuh ialah buku-buku dan barang-barang kuno milik orang asing. Sementara eksekusi rekonstruksinya melewati percobaan demi percobaan. "Supaya komposisi dan bentuk aslinya tidak hilang," kata Raswan menjelaskan.

Menunggu Kebangkitan Tenun Tradisional

"Pameran Khazanah Kain Tradisional Nusantara" yang merupakan bagian "Festival Krakatau XXII" terbukti ampuh membuat Museum Negeri Ruwai Jurai yang biasanya lengang menjadi penuh orang dalam beberapa siang.

Di sela acara pembukaan, puluhan pelajar terlihat khusyuk mengikuti lomba menyulam tapis. Selain itu, ada juga yang terlihat mengambil malam atau bahan membuat batik yang dipanaskan di atas penggorengan dan kompor kecil dengan canting dan kemudian menorehkannya pada kain putih yang disiapkan pihak Museum Tekstil Jakarta.

"Perasaan saya setelah membatik sangat senang, pengetahuan saya akhirnya bertambah," kata pelajar kelas IX SMPN 22 Bandarlampung, Isna Maulida, selepas belajar membatik dan selanjutnya ingin mencoba mangka’bi.

Gubernur Lampung Sjahroedin ZP dalam sambutan tertulis yang disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Berlian Tihang menyatakan Indonesia memiliki keragaman budaya sejak berabad-abad lalu. Salah satunya ialah kain tenun tradisional yang mempunyai nilai sejarah sangat tinggi.

Sebuah warisan yang harus dijaga serta terus dilestarikan. Termasuk secara aktif, perlu sosialisasi berkesinambungan mengenai keberadaan kekayaan kain tenun tradisional bangsa kepada khalayak.

Hal tersebut, kata gubernur, perlu dilakukan mengingat modernitas zaman telah mengikis pengetahuan sebagian besar remaja dari khazanah kain tradisional sehingga proses penting seperti pembuatan kain tradisional hampir hilang.

Maka, perhelatan "Pameran Khazanah Kain Tradisional Nusantara" yang berlangsung 9 sampai dengan 12 Oktober 2012 dan diikuti 31 museum nasional dari seluruh daerah di Indonesia itu, ialah upaya sosialisasi dan promosi yang diharapkan membuat masyarakat dan generasi muda lebih mengenal kain tenun tradisional yang merupakan kekayaan bangsa.

"Sejarah diwakili juga oleh kain, termasuk tapis bidak galah napuh dari Kabupaten Waykanan, karenanya perlu konservasi atau pelestarian dan perlindungan di jaman modern ini supaya tidak mati," kata Raswan.

Tapis bidak galah napuh menurut Raswan mewakili zaman kait dan kunci yang ada pada abad 2 SM. Memiliki penyongketan geometris, dan bermotif animal mitos, semisal buaya putih atau burung hong yang merupakan simbol-simbol peradaban spiritualitas masa lalu: pemujaan.

Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, sejumlah kain tradisional dari daerah itu juga memiliki motif binatang, seperti kuda, ayam, cicak, dan lain sebagainya.

Hal tersebut mempunyai nilai tersendiri dan ada sisi positif yang menarik untuk direnungkan dan dipelajari oleh manusia.

"Ayam jantan misalnya, ujar staf Unit Pelaksana Teknis Museum Daerah Nusa Tenggara Timur, Zakeos Safis, adalah sumber pengayom karena saat menemukan makanan tidak dimakan sendiri, pasti akan mengundang sejumlah pasangan dan anaknya.

Oleh sebab itu, katanya pula, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga berupaya mengembangkan dan melestarikan kain tradisional dari daerah tersebut.

"Ada beberapa hal yang membuat hal tersebut harus dilakukan, dari permintaan pasar sampai dengan permasalahan pergeseran motif," ujar dia seraya menambahkan harga kain Sumba cukup bagus, karena bisa mencapai Rp5 juta per lembar.

Terjadinya pengenalan kekayaan tradisi bangsa Indonesia kepada masyarakat dan generasi muda akan mendorong terjadinya rasa cinta dan memiliki keragaman budaya nusantara.

Bahkan, ujar Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Surya Helmy dalam sambutannya, hal itu juga bisa memperkuat jati diri bangsa. "Banyak anak sekarang yang  tidak peduli dengan tradisi dan budaya merupakan kenyataan," kata Isna lagi.

Oleh sebab itu, perkembangan kain tradisional di Indonesia seperti tapis, batik juga mangka’bi sangat diharapkan bisa semakin maju.

Pelajar kelahiran Bandarlampung, 16 Oktober 1998 itu menyatakan, tidak akan merasa malu jika nantinya diajak untuk menyebarluaskan pengetahuan membatik atau mangka’bi yang didapatkannya di stand Museum Tekstil Jakarta itu.

"Tentu saya akan ambil bagian untuk berpartisipasi supaya tradisi dan kebudayaan Indonesia tidak punah, minimal bisa menjawab ketika ditanya mengenai batik, mangka’bi dan kain tradisional lainnya. Siapa lagi yang tidak memulai melestarikannya jika bukan generasi muda seperti kami," kata Isna yang sebelumnya mengenal batik hanya melalui teori.

Namun demikian, butuh kesabaran dan kemauan mengajak supaya anak-anak mencintai kain tradisional Indonesia.

Menurut Sari, hal tersebut dibutuhkan sehubungan anak-anak tidak bisa langsung mengerti dengan cara pembuatan kain tradisional yang diajarkan.

Salah satu peserta "Pameran Khazanah Kain Tradisional Nusantara" yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Lampung itu menambahkan, pengenalan kain tradisional Indonesia seperti songket, dan batik memang perlu dikenalkan sejak dini pada anak-anak.

"Supaya anak mengerti budayanya sendiri, jika tidak, kebudayaan kita bisa hilang, oleh karena itu harus ada pembinaan untuk anak-anak," ujar dia pula.

Harapan tanpa upaya akan selamanya menjadi harapan. Dan kain tenun tradisional Indonesia yang beragam tentu akan mengalami kondisi lebih naas dari mangka’bi dan bidak galah napuh  jika hanya dengan berharap tanpa upaya nyata.

Selain itu, nasib keberlangsungan beragam kain tenun tradisional Indonesia yang masih memiliki peluang pasar lokal juga internasional juga membutuhkan cinta seperti yang dimiliki Keiko, Raswan, Sari dan Isna untuk bisa bangkit, termasuk peranan nyata sebagaimana dilakukan Pemerintah Nusa Tenggara Timur dan Lampung. (SUMBER: ANT)

Sumber: Oase Kompas.com, Sabtu, 13 Oktober 2012

March 7, 2012

Pameran Kain Tradisional Lampung di Museum Tekstil

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna & Robert Adhi Ksp


JAKARTA, KOMPAS.com - Beragam kain tradisional Lampung dipamerkan dalam "Pameran Wastra Lampung: Warisan Budaya Melintas Zaman" di Museum Tekstil Jakarta, Rabu (7/3/2012).



Pameran Kain Tradisonal Lampung di Museum Tekstil (Raditya Helabumi Jayakarta/KOMPAS)

Pameran yang digelar atas kerjasama Museum Tekstil Jakarta dan Himpunan Perajin Kain Tapis Lampung dan Lampung Sai ini untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kain tradisional Lampung.

Saat pembukaan pameran juga dimeriahkan dengan peragaan busana kombinasi kreasi kain tapis lampung dan ulam usus.

Tapis merupakan kain berbentuk selongsong yang dikenakan wanita Lampung yang ditenun dengan lajur lajur berwarna sepanjang kain. Pameran ini akan berlangsung hingga 14 Maret 2012.

Sumber: Oase, Kompas.com, Rabu, 7 Maret 2012
|

January 26, 2012

Tapis, Pesona Tanah Lada

Oleh Lukman Hakim


AWAL April 2009, dosen seni University of Michigan, Amerika Serikat, Mary-Louise Totton, menerbitkan buku sejarah dan perkembangan budaya dan tapis Lampung. Buku dengan judul Wearing Wealth And Styling Identity Tapis from Lampung, South Sumatra, Indonesia itu pernah dipamerkan di Hood Museum of Art. Amerika, 21 April hingga 31 Agustus 2009.

Buku setebal 188 halaman itu diterbitkan University Press of New England. Buku itu merupakan hasil studi lapangan, sebagai sarjana kunjungan Pusat Studi Asia Tenggara di beberapa negara, termasuk Indonesia (Lampung) selama tujuh tahun (2002—2009). Penelitian Mary tentang sejarah, budaya, dan perkembangan tapis Lampung dilakukan juga di Museum Tropenmusium Amsterdam, Belanda. Namun, karena koleksi tapis Lampung di Belanda kurang lengkap dan banyak yang belum diberi nama, Mary melakukan studi lapangan di Lampung, dengan meminta koleksi dan penjelasan dari peneliti, pengamat, dan perajin Bandar Lampung.

Dalam buku tersebut dijelaskan sekitar 51 jenis tapis Lampung dan koleksi yang dituliskan hampir mewakili semua unsur budaya yang ada di Lampung. Buku tersebut memang lebih lengkap. Karena, data yang didapat, selain dari Belanda dan museum Lampung, juga berasal dari konsultasi dengan peneliti dan pengamat budaya Lampung. Bahkan, pemerintah Indonesia dan narasumber dalam buku itu, Raswan, Ida Mustika Zaini, dan Ansori Djausal diundang ke Hood Museum of Art Amerika untuk melihat pameran buku dan tapis Lampung, yang berakhir pada 31 Agustus 2009.

Kepedulian Orang Luar

Mungkin kita sangat sedih setelah tahu orang luar yang lebih dulu menulis buku tentang tapis. Padahal, sejarah membuktikan kalau tapis berasal dari Lampung yang memiliki ragam budaya yang sangat banyak dan unik.

Ketika buku Wearing Wealth and Styling Identity Tapis from Lampung, South Sumatra, Indonesia hadir, pengamat, budayawan, dan seniman tanah lada ini seharusnya tidak hanya banyak komentar dan bereuforia soal kebudayaan Lampung. Tapi, diharapkan semua pihak bangkit dan menunjukkan kepada dunia luar bahwa budaya Lampung pun bisa dijual. Bukan hanya di Nusantara, tapi di luar negeri.

Memang tidak mudah menggali soal budaya Lampung, terlebih membahas soal tapis. Bahkan, seorang peneliti ataupun desainer tapis pun harus sangat memahami dan filosofi tapis dan budaya Lampung itu sendiri. Artinya, untuk mengenal tapis, seseorang harus lebih dulu mengetahui sejarah dan arti motif yang tertuang di dalamnya. Setelah itu, barulah membuat kreasi untuk mengembangkan motif kain tapis tersebut.

Munculnya kain tapis ditempuh melalui tahapan-tahapan yang mengarah pada kesempurnaan teknik tenunnya maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Perkembangan kerajinan tenun di Lampung, teknik kerajinan tapis sebagai hasil proses akulturasi kebudayaan. Kemudian dilengkapi dengan berbagai variasi budaya.

Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh tradisi neolitikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia. Demikian pula dengan perkembangannya, ragam hias tapis masih terlihat pengaruh dari unsur-unsur ragam hias yang timbul dalam periode Hindu Indonesia. Dalam ragam hias menggunakan unsur flora dan fauna yang dihubungkan dengan kepercayaan umat Hindu. Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata ikut memperkaya kerajinan tapis ini.

Kenalkan Budaya Lampung

Sejauh ini, di Lampung dikenal 36 jenis kain tapis. Namun, di museum AS, terdapat lebih dari 53 jenis tapis lama yang usianya bahkan mencapai 400 tahun. Pada masyarakat Lampung, banyak ditemukan pembuat kain tapis. Sedangkan tempat asal yang dikenal adalah Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, Sungkai Way Kanan, Pubian Telu Suku, dan Pasir. Kain tapis Lampung sudah ada sejak lebih dari 400 tahun lalu, berupa tenun ikat.

Namun, seiring perkembangan zaman dan banyak alat tenun yang hilang, baru pada era 1980-an kain tapis mulai dikenal kembali masyarakat luas. Sayangnya, masyarakat hanya mengenal kain tapis Sumatera (untuk menyebutkan kain tapis Lampung).

Selain itu, banyak sekali pengusaha tapis membawa perajin tapis dari daerah asalnya ke Tanjungkarang. Hal itulah yang selama ini dilakukan pengusaha tapis Lampung. Akibatnya, kerajinan tapis justru tidak berkembang. Padahal, pengusaha harus meniru Obin atau Iwan Tirta yang mengembangkan batik dengan tetap membuat batik dari daerah asalnya, Jepara. Semoga.

Lukman Hakim, Wartawan Lampung Post

Sumber: Lampung Post, Kamis, 26 Januari 2012

October 16, 2011

[Perjalanan] Gempita Tapis Carnival Bandar Lampung

TAPIS Carnival masih asing di telinga masyarakat Lampung. Sabtu (15-10), dua kata yang arti harfiahnya adalah kirab budaya bertema kain tapis itu dikenalkan dalam karnaval yang menggegapgempitakan Kota Bandar Lampung.





FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/VERA AGLISA

Jalan Kartini dan seputaran Tanjungkarang, Sabtu (15-10), tidak seperti akhir pekan lain. Hari Krida yang biasa mulai bebas dari kemacetan, tidak seperti kemarin. Seluruh kendaraan yang mengarah ke pusat keramaian kota ini macet luar biasa. Ya, itu karena ada pergelaran pawai budaya bertajuk Tapis Carnival.

Seperti biasa, masyarakat Lampung khususnya Bandar Lampung selalu memadati jalan-jalan utama jika ada pawai. Kemarin warga dibuat terpukau oleh aksi peserta karnaval yang merupakan rangkaian parade budaya Festival Krakatau XXI 2011.

Peserta karnaval terlihat begitu cemerlang dalam balutan busana fantasi berbahan dasar tapis. Pergelaran Tapis Carnival diawali dengan parade busana kreasi Taman Budaya Lampung.

Busana fantasi yang diangkat dari nilai-nilai luhur budaya Lampung langsung menarik minat masyarakat di jalan protokol yang dilewati peserta karnaval.

Dalam balutan busana dominasi hitam, Dede, peserta yang berasal dari Taman Budaya Lampung, tampil sebagai mayoret yang anggun. Kain tapis yang dibentuk di tengah siger menghiasi indah kepalanya.

Potongan-potongan selendang tapis juga menjuntai cantik diikat pinggangnya. Aksi lenggak-lenggok Dede semakin menarik perhatian pergelaran yang juga dihadiri duta besar negara lain. Menyusul setelah itu Theo yang membawakan baju gelembung berwarna hijau yang mampu mengalihkan pandangan warga yang sebelumnya antusias menatap Dede. Busana yang juga kreasi Taman Budaya Lampung itu dipenuhi bunga-bunga mekar yang tetap diselingi dengan keindahan kain tapis.

Meskipun di bawah terik matahari, warga tetap diam di posisi masing-masing menyaksikan deretan peserta dengan busana menarik. Decak kagum juga mengalir dari masyarakat yang mengaku baru pertama kali melihat parade kain tapis yang merupakan produk budaya asli Lampung.

Sebelumnya, mereka menyaksikan parade budaya dari Forum Komunikasi Masyarakat Lampung (Fokmal) dan potensi budaya dari kabupaten/kota se-Lampung. Parade dimulai dari Lapangan Saburai dengan rute Jalan Sriwijaya-Jalan Sudirman-Jalan Ahmad Yani-Jalan Kartini-Jalan Katamso-Jalan Raden Intan-Jalan Tulangbawang dan kembali ke Lapangan Saburai.

Kegiatan edukasi budaya bagi masyarakat itu diawali dengan aksi enam ekor gajah dari Taman Nasional Way Kambas. Lalu diiringi dengan arak-arakan peserta dari Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) dengan ikon Suparwono, manusia dengan tinggi 2,42 m asal Tulangbawang.

Kemudian deretan peserta berikutnya berasal dari Fokmal yang merupakan keluarga besar masyarakat provinsi lain yang kini berdomisili di Lampung.

Keluarga besar Sumatera Barat menjadi peserta deret pertama Fokmal kemudian diikuti keluarga besar Aceh, dan Hikam Lampung. Tapanuli Selatan Padang Lawas Bengkulu, Paku Banten, dan Paguyuban Bali Lampung yang menyuguhkan tari kecak dan tentu saja ogoh-ogoh. Turut menjadi peserta ialah Paguyuban Masyarakat Tionghoa, Forum Silaturahmi Masyarakat Kayu Agung Lampung (Fosmakal), dan Ikatan Keluarga Ogan Pemersatu (IKOP).

Masyarakat asal Madura pun turut memeriahkan parade budaya itu. Begitu juga dengan Paguyuban Banten PKBB, Paguyuban Panginyongan Lampung, KBBS, Lampung Sai, Paguyuban Seni Tari Jaranan, dan masyarakat Makassar yang menonjolkan olahraga sepak takraw.

Selain itu juga, setiap kabupaten/kota menunjukkan potensi budaya yang ada. Kabupaten Pringsewu menjadi peserta pertama pada deretan ini. Kemudian disusul peserta Pesawaran yang menampilkan muli Lampung yang memamerkan kain tapis buatan sendiri yang menjadi kebanggaan dan akan ditunjukkan kepada calon suaminya.

Lalu peserta dari Lampung Timur yang menampilkan keagungan Ratu Melinting, Lampung Utara dengan keindahan kayu ara. Way Kanan yang menonjolkan tradisi mulang tiyuh, dan Bandar Lampung dengan busana indah didominasi kupu-kupu.

Kemudian peserta dari Mesuji disusul Kota Metro. Tulangbawang Barat dengan tema manjau mighul, Lampung Tengah dengan tajuk sesan, dan Tulangbawang yang memamerkan tapis sebagi. Tiga lainnya ialah Lampung Barat dengan atraksi arung iwa, Tanggamus yang menunjukkan kreasi daerah yakni penari membentuk kapal dengan mengabungkan kain tapisnya, serta Lampung Selatan yakni Ratu Krakatau.

Suasana semakin semarak di akhir karnaval dengan hadirnya Solo Batik Carnival dari Solo, Jawa Tengah. Batik yang juga kain asli Indonesia asli Solo pada busana peserta menjadi pemandangan luar biasa.

Kekaguman akan potensi luar biasa dari selembar tapis tidak hanya saya rasakan. Euis, warga Telukbetung Utara, Bandar Lampung, turut mengapresiasi pergelaran yang mengangkat tinggi nilai tapis tersebut.

Dia berharap Tapis Carnival dapat menyaingi parade busana yang telah ada di Nusantara. "Tapis tenyata indah dikombinasikan dengan apa saja. Ini terobosan yang bagus, semoga karnaval ini bisa terus digelar setiap tahunnya," kata gadis berusia 19 tahun ini.

Hal serupa juga diungkapkan Duta Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia Kim Young-Sun yang mengaku sangat menyukai budaya Lampung. Bahkan, dia telah mengagendakan untuk kembali berkunjung ke Lampung. Sekaligus untuk mempelajari dan lebih mencitai kain tapis yang dianggapnya luar biasa. (VERA AGLISA/M-1)

Sumber: Lampung Post, 16 Oktober 2011

Tapis Carnival Sajian Baru Festival Krakatau

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Terinspirasi Jember Fashion Carnival, agenda tahunan Festival Krakatau (FK) diisi Tapis Carnival. Dibutuhkan persiapan matang dan tema agar industri kreatif Lampung ini dapat menggema.

TAPIS CARNIVAL. Peserta parade Tapis Carnival menampilkan kain tapis pada parade Festival Krakatau XXI 2011 di depan Central Plaza, Bandar Lampung, Sabtu (15-10). Tapis Carnival akan menjadi agenda tahunan Festival Krakatau. (LAMPUNG POST/MG3)

Perhelatan perdana Tapis Carnival berlangsung pada parade Festival Krakatau XXI 2011 yang digelar Sabtu (15-10). Sebanyak 75 peraga berbusana tapis hasil karya seniman Lampung menyemarakkan parade dan menyita perhatian ribuan warga.

Parade Tapis Carnival dimulai dari Lapangan Saburai dengan rute Jalan Sriwijaya—Jalan Sudirman—Jalan Ahmad Yani—Jalan Kartini—Jalan Katamso—Jalan Raden Intan—Jalan Tulangbawang dan kembali ke Lapangan Saburai. Karnaval diikuti peserta dari Taman Budaya Lampung yang mengenakan busana fantasi yang diangkat dari nilai-nilai luhur budaya Lampung.

Kemudian disusul peserta STD Production, Bank Lampung, CAT (crew os aviation training), dan ditutup peserta dari Solo Batik Carnival, Jawa Tengah. Sebelumnya dihelat parade budaya dari 14 kabupaten/kota dan Forum Komunikasi Masyarakat Lampung (Fokmal).

"Tapis Carnival diharapkan ini menjadi momen terbaik untuk mengenalkan sekaligus menunjukkan eksistensi tapis sebagai produk budaya asli Lampung kepada masyarakat Indonesia dan dunia," kata Gubernur Sjachroedin Z.P., di sela-sela pergelaran Tapis Carnival.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Lampung Gatot Hudi Utomo mengakui inisiatif Tapis Carnival terinspirasi tren fashion yang dipadukan dengan budaya khas daerah. Parade busana berbahan utama tapis diharapkan menjadi tontonan sekaligus edukasi pariwisata bagi masyarakat.

Pujian juga disampaikan Duta Besar Republik Kuba untuk Indonesia Enna Viant Valdes, yang mengaku kagum dengan budaya Lampung. Tapis yang merupakan kain lokal menjadi bukti keindahan Lampung. Untuk itu, kata Enna, dia berharap khasanah budaya itu dipertahankan, sekaligus dikembangkan agar bernilai jual tinggi. Bahkan dia berminat kembali ke Lampung untuk mengenal tapis lebih dalam.

Persiapan Matang

Desainer Lampung Raswan menilai terobosan Disbudpar Lampung ini patut diapresiasi. Menurut Raswan, Tapis Carnival dapat menyaingi karnaval busana di lain jika dipersiapkan secara matang. "Persiapannya sepanjang tahun dan harus ada panitia tetap, seperti Jember Carnival Fashion," kata Raswan.

Pergelaran festival tahunan juga memburuhkan persiapan lama agar seniman dalam menciptakan produk terbaiknya. Hal itu dapat dilihat dari peserta Solo Batik Carnival yang datang dari Jawa Tengah.

Mereka terlihat apik dan kompak dengan konsep matang sehingga pesan dari busana yang dikenakan dapat disampaikan dengan baik ke masyarakat. "Solo Batik Carnival mempersiapkan diri satu tahun sebelum tampil di Festival Krakatau. Di Solo, karnaval busana rutin digelar setiap tahun," kata Raswan. (VER)

Sumber: Lampung Post, 16 Oktober 2011CARNIVAL

October 14, 2011

'Bidak Galah Napuh' Waykanan Butuh Konservasi

Waykanan, Lampung, 14/10 (ANTARA) - Desainer Lampung, Raswan Tapis mengatakan Waykanan memiliki kain tapis 'bidak galah napuh' yang keberadaannya perlu dikonservasi supaya tidak hilang sehubungan telah asing di kalangan masyarakat Lampung termasuk dari daerah itu sendiri.

"Sejarah diwakili juga oleh kain, termasuk tapis biduk galah napuh dari Waykanan, karenanya perlu konservasi atau pelestarian dan perlindungan di jaman modern ini supaya tidak mati," tegasnya, Jumat, di Bandarlampung saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Alumnus Fakultas Bahasa dan Seni Unila 1990 yang konsen terhadap tapis itu mengatakan ada beberapa hal yang membuat tapis biduk galah napuh menjadi hilang.

"Pembuatan tenun di jaman penjajahan Jepang hilang karena dihentikan. Jauh diatasnya ketika agama Budha dan Hindu tergeser, biduk galah napuh juga tersingkirkan dari daerah Lampung," urainya.

Tenun bidak galah napuh, kata dia, mewakili jaman kait dan kunci yang ada pada abad 2 SM. Memiliki penyongketan geometris, dan bermotif animal mitos, semisal buaya putih atau burung hong yang merupakan simbol-simbol peradaban masa lalu semisal pemujaan.

"Galah napuh yang artinya leher kancil belang-belang ialah pusaka warisan leluhur Waykanan yang pada awalnya digunakan untuk upacara sakral pemujaan, penutup kematian, selikep atau selendang pengantin," paparnya.

Konservasi terhadap biduk galah napuh dilakukan Raswan sejak 10 tahun lalu. Rujukannya ialah buku-buku dan barang-barang kuno milik orang asing.

"Konservasi biduk galah napuh melewati percobaan demi percobaan supaya komposisi dan bentuk aslinya tidak hilang," jelasnya.

Raswan menegaskan, kain ialah identitas budaya lokal, juga nasional yang pada akhirnya dikenal secara internasional.

Selain itu, pada tataran akar budaya hakikat kain tapis cenderung hilang, mana yang klasik mana yang pengembangan acap dikesampingkan.

"Orang seharusnya bisa bicara klasik sebelum pengembangan supaya pakemnya tidak hilang," kata dia

Biduk galah napuh akan dikenakan oleh beberapa tokoh adat pada acara Seminar International Seni Tradisional Lampung yang membahas alat musik gamolan dan diselenggarakan oleh Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) hari ini.

Sementara itu, beberapa warga Waykanan saat ANTARA menanyakan perihal kain tapis biduk galah napuh tersebut mengatakan tidak mengetahui.

Sumber: Antara, Jumat, 14 Oktober 2011

October 7, 2011

Batik Lampung Tidak Tercatat

Oleh Wandi P. Simanullang


SETELAH Unesco menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada 2 Oktober 2009, kontroversi hak cipta batik pun berlalu. Batik kini tak lagi terikat pada pakem tradisional yang cenderung membosankan dan terkesan tidak up to date. Malahan batik ditampilkan dalam berbagai bentuk busana trendi.

Selama ini orang hanya mengetahui perkembangan batik nusantara hanya berpusat di Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan. Padahal, daerah lain juga memiliki seni batik dengan corak berbeda-beda, misalnya Madura, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara, termasuk Lampung. Sayangnya, batik Lampung tak tercatat sebagai kerajinan batik Indonesia. Praktis kerajinan Lampung hanya menyisakan kain tapis, palepai, dan seterusnya.

Tentu disesalkan bila batik Lampung tak tercatat sebagai warisan batik Indonesia. Ada beberapa hal yang membuat batik Lampung tidak tercatat dalam struktur batik Indonesia.

Pertama, adanya perbedaan pandangan tentang batik Lampung. Salah satu budayawan, Andriand Damiri, berpendapat dalam sejarahnya Lampung tidak memiliki batik. Kain sembagi yang sering disebut sebagai batik Lampung, sejatinya tidak berbeda dengan batik di Jawa. Bahkan dikatakan sembagi berasal dari Coromandel Coast, India.

Andriand menegaskan kerajinan batik Lampung ditemukan pertama kali pada 1978 dari hasil eksperimennya bersama teman-temannya di Yogyakarta. Hingga akhirnya bupati Lampung Tengah saat itu meresmikan batik-batik karyanya sebagai batik Lampung pada 24 Mei 1980 dan memiliki hak paten.

Namun, menurut desainer dan penggiat sejarah Lampung, Raswan, batik Lampung sudah ada sejak abad ke-15, yang sering disebut kain sembagi. Tetapi saat itu pemasarannya dimonopoli VOC. Seni kerajinan tangan ini masuk Lampung bertepatan dengan masuknya pengaruh kebudayaan India di Sumatera.

Kedua, minimnya perhatian masyarakat. Kurangnya perhatian masyarakat mungkin karena ketidaktahuan akan batik Lampung dan asal-usulnya. Padahal, untuk memanifestasikan sebuah kebudayaan dibutuhkan perhatian, pengetahuan, rasa memiliki, dan kecintaan. Kepedulian masyarakat menjadi faktor penting untuk melestarikan budaya turun-temurun sejak ratusan tahun silam.

Ketiga, kurang maksimalnya upaya pemerintah. Perhatian pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencari tahu dan menegaskan batik Lampung. Selain sebagai regulator, pemerintah juga berperan sebagai penggerak kebudayaan agar tetap lestari dan terjaga. Jangan sampai warisan turun-temurun Lampung tak tercatat dengan baik dalam kerajinan batik Indonesia.

Penelitian Batik

Perbedaan pandangan tentang keberadaan batik Lampung sudah selayaknya menjadi perhatian khusus. Apalagi karena ada pihak tertentu yang mengklaim sebagai penemu batik Lampung dan mengatakan batik Lampung yang selama ini dikenal, yaitu sembagi, bukanlah batik Lampung.

Perbedaan pandang tersebut merupakan celah untuk duduk bersama, kemudian mendiskusikannya dan menelusuri keberadaan batik Lampung. Untuk melakukannya perlu mengumpulkan bukti-bukti sejarah yang otentik dan literatur pendukung. Penelusuran ini menjadi penting untuk mencari kesepahaman bersama tentang keberadaan batik Lampung.

Penelusuran tentu saja dilakukan lewat penelitian yang komprehensif dan digiatkan pemerintah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari budayawan, sejarawan, pencinta batik, kaum adat, dan masyarakat pada umumnya.

Dari penelusuran tersebut ada beberapa sasaran yang hendak dicapai. Pertama, untuk mengetahui seluk beluk batik Lampung guna merumuskan solusi dan persespi yang sama agar tidak ada lagi klaim secara sepihak.

Kedua, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap makna dan hakikat warisan budaya Lampung. Ketiga, agar dapat memublikasikan kebudayaan batik tersebut dan menetapkannya sebagai warisan budaya Lampung. Keempat, mendesak agar warisan batik Lampung dapat tercatat dalam kerajinan batik Indonesia.

Wandi P. Simanullang
, Warga Lampung, mahasiswa Magister Manajemen UGM, Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Jumat, 7 Oktober 2011

August 2, 2010

Batik Metro Tembus Pasar Mancanegara

Kota Metro, Lampung, 2/8 (ANTARA)- Produk batik khas Kota Metro, Provinsi Lampung, mampu menembus pemasaran hingga ke mancanegara, karena promosi yang terus dilakukan daerah tersebut.

"Batik buatan kami cukup diminati para wisatawan asing saat berbagai promosi yang kami lakukan," kata Saiful, perajin batik di Kelurahan Yosorejo 21A, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, sekitar 60 km sebelah timur Bandarlampung, Senin.

Menurutnya, para perajin batik di Kota Metro telah membentuk kelompok pemasaran secara bersama, sehingga ketika salah satu anggota kelompok mengalami kekurangan stok saat ada permintaan maka ada yang membantunya.

"Kami saling berkomunikasi dengan perajin yang lain, untuk menjaga produk agar saat ada pesanan banyak bisa saling menutupi," paparnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya perajin batik di Kota Metro hanya beberapa sekitar lima sampai tujuh orang. Namun, lama-kelamaan berkembang dan hingga kini tercatat lebih dari 30 orang yang menekuni usaha itu.

"Memang dahulu sekitar tahun 1996 masih awal-awal sejumlah usaha pembuatan batik berdiri dan hingga 14 tahun kemudian menjadi ramai," jelasnya.

Mengenai pemasaran, ia menambahkan, sekarang sudah tidak sesulit dahulu, sebab batik khas dari Kota Metro sudah dikenal luas.

"Kalau pemasaran, kami sudah ada pesanan rutin dari sejumlah agen, baik di tingkat Lampung, maupun luar Lampung," katanya.

Senada disampaikan perajin batik di Kecamatan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara, Anwar (46), yang mengatakan, mengenai pemasaran batik khas Metro tidak sulit, karena sudah ada distributornya.

Dirinya mengaku setiap ada acara pameran yang mempromosikan keunggulan Kota Metro sering diikutkan.

"Saat acara pameran, saya bekerjasama dengan Pemerintah Kota Metro untuk menampilkan keunggulan daerah, salah satunya dengan mempromosikan batik itu," tuturnya.

Adapun jenis batik yang dipromosikan, lanjut dia, diantaranya, baju batik motif gajah, batik motif siger, batik motif rumah adat, serta batik yang bermotif budaya Lampung lainnya.

"Batik khas Kota Metro terutama menampilkan budaya daerah, agar dikenal luas bahkan hingga ke mancanegara," jelasnya.

Sumber: Antara, 2 Agustus 2010

August 1, 2010

Pengusaha Batik Khas Lampung Keluhkan Penjiplakan

Bandarlampung, 1/8 (ANTARA) - Pengusaha batik khas Lampung Gatot Kartiko mengeluhkan penjiplakan atas karyanya oleh pihak tertentu.

"Sedikitnya sudah dua desain batik saya yang saya temukan dijiplak, dan dijual di pasaran, namun saya tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengembalikannya kepada hukum pasar," kata dia, di Bandarlampung, Minggu.

Ia mengakui, maraknya penjiplakan terhadap sejumlah batik desainnya terjadi akibat lemahnya ikatan dan sanksi hukum untuk menjerat pelaku, khususnya Undang-undang Hak Akan Kekayaan Intelektual (HAKI).

Gatot mengatakan, mendaftarkan karya batik yang dia desain ke HAKI kementrian Hukum dan HAM tidak menjadi salah satu jalan keluar, karena ikatan hukum undang-undang tersebut masih sangat lemah.

Menurut dia, meskipun desain karyanya yang dijiplak itu sudah terdaftar di HAKI, namun undang-undang tersebut tidak dapat mengikat sang pelaku penjiplakan, karena ada beberapa motif yang dibuang pelaku, agar terlepas dari jeratan hukum HAKI.

Di antara pasal yang dianggap masih longgar terhadap pelaku penjiplakan adalah tentang kategori penjiplakan yang menurut UU HAKI harus memiliki kesamaan ukuran dengan obyek yang dijiplak.

Dia mencontohkan, ada batik khas Lampung dengan desain ornamen Lampung miliknya yang dijiplak, namun menurut Undang-Undang HAKI hal itu tidak termasuk dalam kategori penjiplakan, karena ukuran ornamen yang dituangkan pada kedua kain, tidak sama.

"Batik punya saya ukuran ornamennya lebih besar, sementara yang palsu itu lebih kecil, dalam Undang-Undang HAKI, walaupun desain sama persis, namun berbeda ukuran, tidak termasuk dalam kategori penjiplakan," Gatot menerangkan.

Dia berharap, pemerintah dan instansi terkait, mau meninjau ulang keberadaan dan kekuatan jeratan Undang-Undang HAKI, karena berkaitan erat dengan semangat berkarya seniman dan pengrajin di Indonesia.

"Penjiplakan jelas merupakan perbuatan yang melanggar hukum, dan sanksi serta jeratan hukumnya harus lebih tegas," kata pria yang juga Sekretaris Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lampung itu.

Sekretaris Dewan Kesenian Lampung (DKL), yang juga pelaku kesenian tari, Hari Jayaningrat mengungkapkan hal serupa.

Dia menyatakan, sudah saatnya pemerintah dan DPR merevisi UU HAKI, yang menurutnya saat ini tumpul dalam melakukan jeratan hukum terhadap kasus penjiplakan.

Khusus untuk pengrajin batik, dia melanjutkan, harusnya ikut dilibatkan dalam merancang ulang undang-undang tersebut.

"Sebagai pengguna undang-undang tersebut, pengrajin batik, seniman, dan kalangan yang memakai undang-undang itu harus dilibatkan dalam bentuk dialog, ini penting karena apabila berbicara menyangkut kebudayaan, bukan hanya berbicara tentang hal-hal yang umum saja," kata dia.

Hari menambahkan, dengan adanya dialog dengan pengguna UU HAKI, pemerintah dan DPR akan paham tentang detil keberagaman budaya Indonesia, sehingga undang-undang tersebut akan mengikat dan melindungi secara kuat kebudayaan Indonesia, dari bahaya penjiplakan dan klaim.

"Keluhan dari pelaku pengusaha batik itu harus menjadi pertimbangan pemerintah, karena ini menyangkut perlindungan terhadap budaya bangsa," kata dia.

Sumber: Antara, 1 Agustus 2010

June 29, 2010

Ida Mustika Zaini Ajak Masyarakat Lestarikan Tapis Kapal

BANDAR LAMPUNG--Kain tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung. Motif kain tradisional ini beraneka ragam. Mulai dari tapis inuh, tapis cucuk andak, tapis semaka, tapis jung sarat, tapis balak, tapis laut linau, tapis pucuk rebung, tapis cucuk handak, tapis dewosano, tapis limar sekebar, tapis bintang perak, tapis kapal dan lain-lain.

BERI CENDERA MATA. Pengusaha tapis Ida Mustika Zaini (kanan) memberikan cendera mata kepada Ketua Dekranasda Lampung Trully Sjachroedin. (LAMPUNG POST/WIWIK ASTUTI)

Mantan Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung Hj. Ida Mustika Zaini mengharapkan masyarakat melestarikan warisan adiluhung nenek moyang masyarakat Lampung tersebut.

"Motif kain tapis banyak yang hilang. Seperti motif kapal-kapalan. Ini saya temukan di Museum Tekstil di Jakarta," kata Ida saat memberikan cendera mata kain tapis kapal kepada Ketua Dekranasda Provinsi Lampung Hj. Trully Sjachroedin pada acara tasyakuran ke-75 di rumahnya, di Jalan Way Rilau, Pahoman, baru-baru ini.

Saat itu hadir Ketua Badan Kontak Majelis Taklim Lampung Hj. Mahbubah Zubaier Agoes, Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita Lampung Ny. Kinkin Sutoto, dan berbagai organisasi wanita di Lampung.

Pemilik sanggar tapis Melati Art Galery ini menguraikan motif kapal-kapalan memiliki nilai filosofis dan simbolis masyarakat Lampung. Seperti penggunaan transportasi pelayaran dan alam lingkungan laut saat itu telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan.

"Pada zaman dahulu masyarakat di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, hingga pesisir Krui di Lampung Barat menulis kehidupan mereka pada selembar kain. Karena kehidupan mereka dekat dengan laut, gambar yang muncul pun tak jauh dari laut, seperti gambar kapal dan binatang laut," ujar wanita yang masuk dalam buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung terbitan Lampung Post ini.

Sebab itu, untuk melestarikan kain tapis kapal tersebut ia meminta perajin di Lampung Selatan membuat motif ini. Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut, ia juga mengharapkan kepada Ketua Dekranasda Lampung agar terus membina kepada perajin untuk membuat motif kapal-kapalan. "Motif ini sekarang sangat langka. Jika tidak dilestarikan, motif kapal-kapalan lambat laun bisa hilang," kata peraih Upakarti dari Presiden Soeharto pada 1991 ini. (AST/L-1)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 29 Juni 2010

June 25, 2009

Tapis Tembus Pasar Luar Negeri

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hasil kerajinan tapis dan sulam usus Lampung berpotensi besar memasuki pasar luar negeri. Nigeria menjadi salah satu negara yang siap menerima tapis Lampung sebagai komoditas tekstil untuk dipakai sesuai dengan gaya berbusana masyarakat negara tersebut.

Hal ini diungkapkan Minister Political & Economic Nigeria, Abdul Azis M. Dankano, Rabu (24-6). Abdul Aziz datang ke Lampung bersama dua staf kedutaan Nigeria, yaitu N.N. Inechioma dan Oladipupa, untuk melihat langsung pembuatan tapis dan sulam usus di Rahayu Galery yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Kedaton, Bandar Lampung.

Abdul Aziz mengatakan peluang ekspor kain tapis dan sulam usus ke Nigeria terbuka lebar. Mengingat masyarakat Nigeria khususnya kaum wanita, sehari-hari menggunakan kain sebagai busana. Kain yang biasa disebut asoke ini hampir mirip dengan bahan kain tapis. Bedanya asoke�20tidak disulam seperti pengerjaan tapis.

Abdu Aziz sangat terkesan dengan keindahan kain tapis dan sulam usus. "Karena dibuat dengan tangan, bentuk dan model sulaman terlihat begitu indah dan memiliki nilai seni tinggi," kata dia.

Menurut dia, di Nigeria banyak beredar sulaman yang hampir mirip dengan kain tapis atau bordir. Produk tekstil tersebut berasal dari Swiss, Korea, dan China. Namun produk tersebut dibuat menggunakan mesin tidak seperti kain tapis dan sulam usus yang dibuat secara tradisional menggunakan tangan.

"Kami siap memasarkan kain tapis dan sulam usus. Tolong perbanyak brosur, pamflet atau gambar-gambar untuk mempermudah mengenalkan tapis dan sulaman usus di negara kami," kata dia.

Sementara itu, pemilik Rahayu Galery, Siti Rahayu, mengatakan seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, kerajinan tapis tidak hanya berbentuk kain. Tapis kini telah dimodifikasi dan dibuat kerajian sebagai suvenir. Seperti hiasan dinding, peci, syal, dan berbagai model suvenir lainnya. Adapun bahan yang dipakai adalah kain sanwos atau tenun, benang emas atau perak dan pembidang. Sedangkan hasil kerajinan sulam usus antara lain berupa baju, sarung bantal kursi, peci, taplak meja dan lainnya.

"Dengan 18 orang pegawai di galeri ini yang sudah sangat terlatih, kami siap memasarkan tapis hingga ke luar negeri," kata Rahayu. n CR-1/E-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 25 Juni 2009

June 11, 2009

Khazanah Budaya: Dosen Seni AS Terbitkan Buku Tapis

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dosen seni University of Michigan, Amerika Serikat, Mary-Louise Totton, menerbitkan buku sejarah budaya dan tapis Lampung. Buku berjudul Wearing Wealth and Styling Identity Tapis from Lampung, South Sumatra, Indonesia itu kini dipamerkan di Hood Museum of Art, AS, sejak 21 April hingga 31 Agustus 2009.

Peneliti, pengamat, dan perajin tapis lampung, Raswan, mengatakan buku setebal 188 halaman itu diterbitkan University Press of New England. Buku itu hasil riset Mary sebagai sarjana kunjungan Pusat Studi Asia Tenggara di beberapa negara, termasuk Indonesia (Lampung) selama tujuh tahun (2002--2009).

"Ini sangat luar biasa. Kita sendiri saja belum ada yang membuat buku seperti ini. Bukan hanya mengenai tapis lampung, buku ini juga menceritakan kehidupan masyarakat Lampung sejak abad ke-18," kata Raswan di Galeri Tapis Helau, sambil menunjukkan buku yang baru diterimanya dari Mary-Louise, Rabu (10-6).

Raswan mengatakan penelitian Mary akan sejarah, budaya, dan perkembangan tapis lampung dilakukan di Museum Tropenmusium Amsterdam, Belanda. Namun, karena koleksi tapis lampung di Belanda kurang lengkap dan banyak yang belum diberi nama, Mary melakukan riset langsung di Lampung.

Dia meneliti koleksi dan meminta informasi dari peneliti, pengamat, dan perajin di Bandar Lampung. Selain Raswan, Ida Mustika Zaini dan Ansori Djausal juga menjadi narasumber dalam penulisan buku berukuran folio tersebut.

"Kita perlu melakukan riset kembali, tentunya dengan adanya dukungan pemerintah daerah. Mengingat, Mary telah menyetujui penerbitan buku serupa dalam bahasa Indonesia. Bukan kita meniru, melainkan dalam penulisan buku tersebut, kita turut membantu dan informasi yang diberikan belum lengkap. Kita dapat membuat yang lebih lengkap lagi," kata dia.

Bahkan, kata Raswan, sebagai narasumber yang juga peneliti budaya Lampung tahun 1997--1998, pihaknya memang pernah melakukan MoU dengan Mary terkait bantuan pemberian data tentang tapis lampung. MoU waktu itu dilaksanakan di Hotel Sheraton, 12 Agustus 2002. n KIM/P-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 11 Juni 2009

April 18, 2008

Khazanah Budaya: Kain Tapis Lampung Harus Segera Dipatenkan

Bandarlampung, 18/4 (ANTARA) - Kain Tapis khas Lampung, yang merupakan salah satu kekayaan seni budaya daerah setempat secara turun temurun, harus tetap dipelihara dan dilestarikan, serta perlu segera dipatenkan untuk melindunginya.

"Kain Tapis Lampung itu harus segera dipatenkan, agar tidak menjadi klaim daerah atau negara lain, seperti terjadi pada sejumlah kekayaan tradisi negara kita," kata jurubicara FKB DPRD Lampung, KH A Zuhri, pada paripurna penetapan sembilan Raperda menjadi Perda, termasuk Perda tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung, di Bandarlampung, Jumat (18/4).

Dalam rapat paripurna itu, FKB meminta Pemda Provinsi Lampung untuk lebih serius melakukan upaya pengembangan, perlindungan dan pelestarian kekayaan adat, tradisi dan seni budaya daerahnya.

"Karena itu, Kain Tapis Lampung harus dipatenkan untuk melindunginya," kata Zuhri.

Kain Tapis Lampung merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya, baik terhadap lingkungan maupun Sang Pencipta.

Proses pembentukan kain Tapis itu ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara pemberian ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.

Menurut beberapa ahli sejarah, orang Lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad kedua Masehi.

Motif kain itu ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), serta pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati.

Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh.

Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain.

Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh tradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia.

Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini dengan memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal.

Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan.

Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup.

Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas.

Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam.

Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun.

Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Di Museum "Ruwa Jurai" Provinsi Lampung disimpan sejumlah jenis dan motif kain Tapis Lampung yang telah berusia ratusan tahun.

Diperkirakan di kalangan masyarakat adat dan warga asli secara turun temurun masih menyimpan koleksi kain Tapis khas Lampung berusia ratusan tahun yang bernilai sejarah sangat tinggi itu.

Para kolektor benda seni dan budaya, termasuk dari luar negeri, kerapmengincar koleksi kain Tapis Lampung berusia tua untuk dibeli dengan harga sangat tinggi.

Hingga kini tradisi menenun kain Tapis masih berlanjut di sejumlah daerah di Lampung, bahkan telah berkembang menjadi kerajinan seni tenun tradisional yang bersifat komersial.

Sumber: Antara, 18 April 2008