Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

October 27, 2023

Lampung dalam Cerpen Pilihan Kompas 2022

Oleh Endriyono

 


SUDAH diumumkan. Dan, semua pecinta sastra pasti sudah tahu siapa pemenangnya. Kompas tetap menunjukkan kelasnya, penjaga gawang sastra tanah air yang ketika Orde Lama dipegang Balai Pustaka. Mungkin di zaman Orde Baru, ada perbalahan, wasit penjaga sastra antara majalah Horison atau Kementerian P & K.

Konsistensi Kompas, di tengah sepi dan pudarnya produk sastra, tetap membuka ruang kreasi yang suar. Balai Pustaka meredup, majalah sastra Horison kembang kempis, kebudayaan dinegasi jadi bagian suboordinasi pendidikan, lalu dibelah lagi antara kesenian, kesusastraan atau norma sosial? Jadi, sastra itu di bawah Perpustakaan atau Kementerian Pendidikan?

November 8, 2022

Warna Lokal dalam Cerita Masa Kecil

Oleh Eko Sugiarto


Judul buku: Negarabatin, Negeri di Balik Bukit
Penulis: Udo Z Karzi
Penerbit: Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: Pertama, 2022
ISBN: 978-623-221-834-5


ENTAH senang, entah susah, cerita tentang masa kecil selalu menarik. Peristiwa sehari-hari yang dijalin dalam cerita model ini terasa apa adanya. Inilah yang dilakukan Udo Z Karzi.

Cerita dalam novel ini memang rekaan. Namun, beberapa bagian adalah fakta dari kisah nyata. Latar cerita di Negarabatin (Liwa, Lampung Barat) pada tahun 1970-1986 adalah sebagian dari fakta itu.

October 26, 2022

Negarabatin dan Kekayaan Hati

Oleh Hidayati Rusydi


PADA satu kesempatan, saya mengikuti acara bedah buku berjudul Negarabatin, Negeri di Balik Bukit (Pustaka Jaya, 2022) dengan pembicara Arman AZ, Dedy Tri Riyadi, penulisnya, Udo Z. Karzi, dan moderator Maghdalena. Zoom yang diselenggarakan Apresiasi Sastra dan Rumah Produksi Indonesia (RPI), 15 September 2022 lalu, ini saya ikuti sampai selesai. Bahkan, saya menjadi penanya pertama dalam acara tersebut.

Bertanya membawa berkah, saya mendapat hadiah buku Negarabatin  yang dikirimkan langsung oleh penulisnya.

Buku ini tidak terlalu tebal, jumlah halaman 168 saja. Sekali duduk bertemankan kopi atau teh manis hangat, khatamlah membacanya.

October 21, 2022

Dari Saburai 'Negarabatin' Jadi Nomine Penghargaan Sastra 2022

Oleh Maspril Aries

 

NEGARABATIN ada banyak di hamparan daratan Sang Bumi Ruwa Jurai (Saburai) atau Provinsi Lampung. Tapi novel berjudul Negarabatin, Negeri di Balik Bukit" hanya ada satu karya Udo Z Karzi yang nama lengkapnya Zulkarnain Zubairi.

Negarabatin, Negeri di Balik Bukit karya Udo Z Karzi.

Novel karya mantan aktivis pers mahasiswa dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) masuk dalam daftar nominasi Penghargaan Sastra 2022 yang ditetapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

September 18, 2022

Menelusuri Sekujur Negarabatin

 Oleh Arman AZ


Negarabatin, Negeri di Balik Bukit karya Udo Z. Karzi
PERTAMA saya mengucapkan selamat kepada Udo Z Karzi yang sudah menerbit novel Negarabatin: Negeri di Balik Bukit.

Tidak banyak novel yang berlatar Lampung. Saya ingat ada Muhammmad Harya Ramdhoni pernah menulis novel berlatar Lampung Barat juga.

Ada sebagian novel-novel yang beberapa fragmennya berlatar Lampung. Mungkin kita ingat beberapa novel-novel Motinggo Busye atau K Usman berlatar Lampung.

September 17, 2022

Negarabatin: Upaya Meninggalkan & Mengekalkan Kampung Halaman

Oleh Dedy Tri Riyadi



Mengapa Negarabatin?

• Di Lampung ada banyak tempat dengan kata Negara/Negeri seperti; Negara Ratu, Negara Sungkai, Negara Sakti, Negara Tama, Negara Harja, Negeri Besar, Negeri Jaya, dsb.

• Tentu, alasan utama novel ini berjudul Negarabatin karena didasarkan pada kenangan akan tempat lahir, dibesarkan, dan sebagai tempat membentuk pribadi dari Uyung/Zulkarnain/Yasir Irawan.

August 26, 2022

Jendela ke Dunia Pengalaman yang Berbeda, Unik, dan Penuh Cerita

 Oleh Rahmad Desmi Fajar

 


MEMBACA Negarabatin: Negeri di Balik Bukit karya Udo Z. Karzi (Pustaka Jaya, 2022) ini menyenangkan. Sebagai penikmat (salah-satunya) genre kenangan masa kecil, memoar dan autobiografi, ada nilaiplus yg mudah dilihat dari karya-karya yang ditulis dengan baik seperti ini. Penuh detil, termasuk kesetiaan menggunakan istilah dan kebiasaan lokal.

Gaya penulisan yang mampu menyampaikan ambience khas daerah tersebut pada masanya. Plot yang menarik, termasuk ketika menggambarkan proses menuju dan di sekitar kaburnya Uyung dari kampung.

June 8, 2021

Jejak Udo Z Karzi di Dunia Jurnalistik hingga Dikenal sebagai Sastrawan

Oleh Resky Mertarega Saputri


Udo Z Karzi (Tribunlampung.co.id/Reskymerta)

HAMPIR sepanjang usianya Zulkarnain Zubairi yang dikenal dengan nama Udo Z Karzi hidup dari menulis. Dia juga sempat terjun ke dunia njurnalis.

Ia sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi SMA Negeri dan MAN di Liwa.

Udo Z Karzi pernah terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan lepas Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung pada tahun 1995-1996.

October 20, 2020

Penyair Lampung Menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2020: Inggit Kaget karena Tak Mendaftarkan Diri

Oleh Jelita Dini Kinanti



PENYAIR wanita Lampung Inggit Putria Marga berhasil menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 atas kumpulan puisi berjudul Empedu Tanah, Kamis (15/10). Kusala Sastra Khatulistiwa adalah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan Richard Oh dan Takeshi Ichiki.

Ingggit tak pernah menyangka jika akan menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 untuk kategori puisi. Pasalnya, ia tidak pernah secara khusus mendaftarkan diri mengikuti ajang itu.

January 17, 2019

Ratusan Pelajar Mengecam Koruptor dan Belajar Puisi

Review Buku Serial PMK 7: Negeri Tanpa Korupsi


Oleh Sunaryo Broto

SAYA terima buku Puisi Menolak Korupsi 7: Negeri Tanpa Korupsi terbitan Buana Grafika, Yogya pada 11 Januari 2018 di rumah saya di pinggir hutan yang asri, Komplek Pupuk Kaltim, Bontang. Sampul buku masih tetap bergambar potongan sayap kupu-kupu. Buku tebal ini dikirim penyunting buku ini, Sosiawan Leak (bersama Rini Tri Puspohardini) karena saya sebagai koordinator Kaltim untuk serial penerbitan ini. Lalu buku didistribusikan pada penyair di wilayahnya. Memang hanya ada dua pelajar dari Kaltim –kebetulan diwakili dari Bontang, yang karyanya dimuat karena kendala waktu, publikasi dan geografis. Mungkin karena keterbatasan pula, dari Lampung, Banten, Kalimantan Barat hanya 1 puisi dan dari Yogya –yang dikenal gudang penyair, hanya 2 puisi. Beberapa bulan sebelumnya sudah terjalin komunikasi dari pengumuman, publikasi, diskusi, pengumpulan karya, seleksi dan penerbitan dari koordinator PMK dengan koordinator wilayah. Sudah terbentuk koordiantor wilayah seluruh provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Setidaknya infrastruktur koordinator wilayah ini bisa untuk proyek literasi berikutnya.

Kalau boleh saya berkata, saya respek pada stamina para koordinator PMK (Puisi Menolak Korupsi). Kerja volunteer dan tak ada gaji bisa menggawangi sekian karya buku dan acara. Mereka meluangkan waktunya selama sekitar 6 tahun untuk mengurusi penerbitan ini. Gerakan yang dimulai sejak Mei 2013, ini diprakarsai oleh Heru Mugiarso, sastrawan asal Semarang dan Sosiawan Leak sastrawan asal Solo. Lalu bergabung ratusan penyair dari berbagai kota yang menyatakan suara sama. PMK sudah menerbitkan buku-buku antara lain: Antologi Puisi Menolak Korupsi (85 penyair, 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2a (99 penyair, 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2b (98 penyair, 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 3: Pelajar Indonesia Menggugat (286 pelajar, 2014), Memo Untuk Presiden (196 penyair, 2014), Antologi Puisi Menolak Korupsi 4: Ensiklopegila Koruptor (174 penyair, 2015), Antologi Puisi Menolak Korupsi 5 : Perempuan Menentang Korupsi (100 penyair, September 2015), Bunga Rampai PMK, Bergerak dengan Nurani (Kumpulan Esai, 69 penulis, Maret 2017), Antologi Puisi Menolak Korupsi 6, Membedah Korupsi Kepala Daerah (200 penyair, Juni 2017).

October 23, 2017

Jejak Islam Lampung dan Problem Penulisan Sejarah*

Oleh Udo Z Karzi[1]

KAMI, Penerbit Pustaka LaBRAK, Satupena, dan Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), baru saja meluncurkan buku Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler dan PJ Veth--Lampung Tumbai 2015 karya Frieda Amran di PDL, Langkapura, Bandar Lampung, 14 Oktober 2017 lalu. Buku mengenai Lampung tempo dulu (tumbai, bahasa Lampungnya) ini adalah yang kedua dari Frieda Amran yang antropolog dan pemerhati sejarah sosial budaya yang sangat konsen dengan Sumatera bagian selatan. Sebelumnya, terbit bukunya Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014 (2015 dan Edisi Kedua, 2016).


Kedua buku itu, terlepas bahwa ia bersumber pada tulisan ilmuwan, pegawai pemerintah Hindia Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda abad ke-19; menjadi sumbangan penting Frieda Amran bagi sejarah sosial budaya Lampung. Frieda Amran telah berbaik hati menyadur (bukan menerjemahkan!) sumber-sumber berbahasa Belanda kuno yang panjang dan berbelit-belit ke dalam bahasa Indonesia yang enak dan gurih.

March 20, 2017

Bincang-Bincang Bersama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Oleh Nanien Yuniar 

 

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam peluncuran novel "Semua Ikan di Langit" yang menjadi pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2016. (ANTARA News/Nanien Yuniar)


/1/

 

KARYA pertama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di dunia literasi muncul pada 2010 melalui novel berjudul "Indigo Girl". Setelah novel perdana, setiap tahun Ziggy meluncurkan buku-buku baru secara produktif. Dalam tujuh tahun, ia sudah menerbitkan 27 judul novel.

 

Pada 2015, "Di Tanah Lada" keluar sebagai juara kedua Sayembara Buku Novel Dewan Kesenian Jakarta.


February 17, 2016

Balada Kutukan dari Lampung Tempo Doeloe

Oleh Endri Kalianda


Masih lebih lamakah kami kau tindas?
Karena uang hatimu telah menjadi kebal,
tuli terhadap tuntutan kedadilan dan akal,
menantang hati lembut bergelora kekerasan.

BAIT pertama pada sajak Balada Kutukan yang berjudul Hari Terakhir Orang Belanda di Pulau Jawa itu terjemahan Chairil Anwar dan dimuat dalam buku HB. Jassin.

Sajak yang menjadi penanda, ada seorang penjajah yang mengakui, darahnya mendidih dan memberontak karena menyaksikan penderitaan rakyat yang disaksikan, ditindas oleh bangsanya.

February 9, 2016

Soal Tetasan Telur MDMD

Oleh Endri  Y


BUKU sajak berbahasa Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi  (MDMD) yang diterbitkan BE Press pada 2007 lalu, dianggap sebagai upaya mengerami telur kebudayaan. Menetaskan anak pinak kekayaan seni budaya Lampung.

Tidak ada yang meragukan kemampuan dan konsentrasi Udo Z Karzi. Bisa disebut, satu-satunya pemikir kebudayaan Lampung yang langsung menggelutinya dengan karya-karya. Penuh literasi dan mengungkap sederet fakta kontekstual lewat kontemplasi. Baik itu pada sejumlah esai, tulisan pop, artikel maupun puisi. Satu-satunya penulis yang memelopori lahirnya sajak-sajak berbahasa Lampung. Lewat buku Momentum, 2002 dan MDMD.


February 4, 2016

Membaca NMD dengan Strata Norma



Oleh Endri Y


BERUNTUNG, file berbentuk PDF yang sedang menuju percetakan  berjudul Sehimpun Sajak; November Musim Dingin (selanjut ditulis: NMD) karya Isbedy Stiawan ZS yang terbit awal tahun 2016, saya berkesempatan membacanya lebih dulu.

Akan tetapi, sebagai orang konvensional meski semenarik apa pun sebuah buku dalam format digital, tidak semaksimal ketika membacanya lewat versi cetak. Terlebih puisi. Sebab, sejak kecil saya diajari guru bahasa untuk menemukan estetika dan apa itu makna licentia poetica, atau leksikal dan semantis sintaksis, dimana diperlukan secara pelan membacanya, sambil tengkurap atau terlentang di kamar sebelum tidur. Sesekali terpejam dan merenungkan pemaknaan larik, itu semua hanya bisa dibaca lewat buku cetak. Jika di layar monitor, saya selalu sekadar melihat rentetan kalimat yang terkadang, tak berdampak apa-apa.

August 26, 2015

Budaya Lampung segera Dibukukan

Oleh Firman Luqmanulhakim
BANDAR LAMPUNG -- Peneliti dan budayawan Lampung Profesor Margareth Kartomi kini sedang mempersiapkan buku budaya Lampung yang berisi tentang tarian, musik, dan drama Lampung. “Buku ini merupakan hasil observasi yang juga bagian dari penelitian yang saya gagas bersama suami sejak tahun 80-an," jelas Margareth seusai diterima Sekretaris Provinsi (sekprov) Lampung, Arinal Djunaidi di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Lampung, Selasa (25/8/2015).

Dia mengatakan pada tahun 2016 mendatang akan ada enam peneliti budaya yang berasal dari Australia yang akan secara mendalam meneliti kebudayaan di Provinsi Lampung. “Kegiatan penelitian ini merupakan dedikasi untuk tetap terus membantu dalam menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam adat istiadat budaya Lampung,” jelas wanita yang akrab disapa Margareth ini.


August 25, 2015

Peneliti Australia Buat Buku Budaya Lampung

Oleh Agus Wira Sukarta


Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Prof Margareth Kartomi peneliti budaya Lampung asal Australia akan membuat buku terkait budaya, tarian, musik, dan drama di daerah itu.


Prof Margareth Kartomi peneliti budaya Lampung asal Australia (FOTO ANTARA Lampung)
"Buku ini merupakan hasil dari observasi yang juga bagian dari penelitian yang digagas bersama suami saya semenjak tahun 80-an," kata dia, di Bandarlampung, Selasa.


February 15, 2015

[Buku] Demi Harga Diri dan Kejayaan Bangsa

Oleh Udo Z. Karzi


Data buku:
The Rise of Majapahit
Setyo Wardoyo
Grasindo, Jakarta, 2014
xxvi + 399 hlm.
KERAJAAN Majapahit (1293—1500) yang mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk (1350—1389) dengan Mahapatih Gajah Mada; rupanya tak henti-hentinya melahirkan inspirasi. Tak kecuali bagi para penulis prosa.

Begitulah, novel (sejarah) berlatar Majapahit terus mengalir. Sebut saja Tusuk Sanggul Pudak Wangi (Pandir Kelana), Samita: Sepak Terjang Hui Sing Murid Ceng Ho (Tasaro),  dan Kemelut di Majapahit (Kho Ping Hoo). Lalu, Pelangi di Atas Gelagahwangi (S Tidjab), Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto), Gajah Mada 1-5 (Langit Kresna Hariadi), Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit (Hermawan Aksan), Sabda Palon: Ketika Majapahit Sirna dan Islam Menaklukkan Nusantara (Damar Shashangka), Kerajaan Majapahit (Junus Satrio), Brawijaya Moksa (Wawan Susetya), Banarawa (Siwi Sang), dan banyak lagi.


December 28, 2014

[Buku] Bikin Acara Nulis Jadi Menyenangkan

Oleh Tita Tjindarbumi

Data buku:
Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis
Ihwal Literasi dan Proses Kreatif
dengan Sedikit Tips

Udo Z. Karzi
Sai Wawai Publishing, Metro
vii + 104 hlm.
MEMBACA buku Udo si tukang tulis, saya jadi ingat pada seorang perempuan dari negeri yang sama... Negeri Ruwa Jurai... Perempuan yang suka nulis... ya nulis apa saja yang harus dikeluarkan dari kepalanya, biar enggak bikin otak buntu karena kesumbat berbagai hal. Tuang... tumpahkan... buang dari benak dengan menulis...
                               
***

Menulis bagi sebagian besar orang adalah katarsis. Setiap orang dapat melepaskan segala seuatu yang menumpuk di benak dan juga di dada. Bagi sebagian besar penulis, menulis membuat perasaan menjadi lega karena semua unek-unek bisa ditumpahkan dalam tulisan. Tentu selain merasa lega, penulisnya akan merasa mendapatkan kepuasan tersendiri manakala tulisannya dibaca oleh banyak orang sekaligus menjadi inspirasi bagi pembacanya.


December 19, 2014

[Tamu Kita] Cuma Butuh Dua Malam

Oleh Yoso Muliawan


Udo Z Karzi
BIKIN buku biasanya butuh waktu tak sebentar. Mulai dari mengumpulkan bahan tulisan, menulis, hingga merapikan menjadi buku yang utuh dan siap cetak. Ya, setidaknya bukan sehari dua hari, bukan semalam dua malam.

Namun, ini tak berlaku untuk Zulkarnain Zubairi. Wartawan cum sastrawan yang punya nama pena Udo Z Karzi ini cuma butuh dua malam untuk menuntaskan buku anyarnya. Judulnya, Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis Ihwal Literasi dan Proses Kreatif dengan Sedikit Tips.