September 18, 2022

Menelusuri Sekujur Negarabatin

 Oleh Arman AZ


Negarabatin, Negeri di Balik Bukit karya Udo Z. Karzi
PERTAMA saya mengucapkan selamat kepada Udo Z Karzi yang sudah menerbit novel Negarabatin: Negeri di Balik Bukit.

Tidak banyak novel yang berlatar Lampung. Saya ingat ada Muhammmad Harya Ramdhoni pernah menulis novel berlatar Lampung Barat juga.

Ada sebagian novel-novel yang beberapa fragmennya berlatar Lampung. Mungkin kita ingat beberapa novel-novel Motinggo Busye atau K Usman berlatar Lampung.

Untuk yang up date adalah novel Negarabatin Udo ini. Nanti kita diskusi tentang novel-novel berlatar Lampung.


Toponimi Negarabatin

Kedua, saya coba memasuki dari toponim Negarabatin itu sendiri. Saya cek di data-data saya sejak kapan toponim Negarabatin itu dikenal atau sudah didokumentasikan. Setidaknya ada tiga buku Ensiklopedia Toponim daerah-daerah di Hindia Belanda. Di Eksiklopedia Toponim tahun 1863, belum dikenal atau tidak ada toponim Negarabatin. Kemudian di Eksiklopedia Toponim Kedua tahun 1895, sudah ditemukan toponim Negarabatin. Dan diperkuatkan lagi dengan Eksiklopedia Ketiga, 1903, itu dicatat nama daerah Nagarabatin sebagai toponim arkaik daerah Liwa. Jadi, ada tiga sumber yang saya cari. Mungkin ada arsip-arsip yang lebih tua tentang Negarabatin.

Toponim Negarabatin di Lampung tidak hanya di Liwa, Lampung Barat, tetapi dia juga ada di beberapa kabupaten lain. Di Way Kanan ada Negarabatin. Terus di catatan-catatan Belanda juga disebut di sekitar Tulangbawang dan di sekitar Sekampung.


Idiom-idiom Lokal Liwa

Kemudian saya mencoba memasuki novel Udo ini, Negarabatin. Ada banyak hal membuat saya tertarik. Ada banyak sekali idiom-idiom lokal daerah Liwa. Idiom-idiom lokal Lampung Barat itu saya sendiri belum banyak tahu.

Di bagian awal di bab 2 ada ilwal pengobatan tradisional yang bercampur dengan unsur-unsur klenik. Di situ disebut saat si Uyung masih kecil dan sakit-sakitan, ada semacam tabib atau dukun yang mengobati Uyung. Nah, informasi tentang pengobatan tradional yang berbau klenik ini bisa ditemukan di bab 14. Jadi, di awal dan di akhir ada informasi tentang tradisi pengobatan tradional juga hal-hal yang berbau klenik. Di bab 14 itu diceritakan ketika Uyung minggat, keluarganya memakai orang pintar untuk melacak keberadaan Uyung. Ada dua ilwal klenik dan pengobatan tradional yang masih berlaku pada saat Uyung kecil.

Udo juga saya lihat mengangkat mengangkat ilwal-ihwal lain yang mungkin masih relevan dengan sekarang. Misalnya, di bab 7 Udo menulis permainan-permainan tradisional yang biasa dilukan anak-anak di Lampung Barat. Itu saya pikir menarik juga. Ada beberapa permainan tradional.


Gastronomi, Permainan Tradisional, Sirkus dari Rusia

Sebagaimana kita ketahui, Liwa memang dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Informasi tentang bagaimana masyarakat Liwa berkebun kopi dan bagaimana tradisi minum kopi itu bisa kita temukan di bab 10. Saya pikir itu cukup menarik.

Salain itu, Udo memanfaatkan informasi tentang gastronomi atau kuliner-kuliner lokal. Itu bisa kita temukan di bab 8.

Kisah Uyung ini juga menceritakan tentang anak-anak. Ya, sebagaimana dunia anak-anak, tentu di situ ada kenakalan-kenakalan anak. Misalnya, Uyung hilang saat di Metro. Terus, bagaimana Uyung dan beberapa temannya mencuri dari kebun. Kenakalan-kenakalan itu bisa ditemukan di bab 11.

Saya mencoba mengira-ngira di era kapan setting cerita Uyung, baru saya temukan di bab 12, jelas ditulis Udo, tahun 1979.

Nah, informasi yang menarik juga, saya temukan di bab 11 tentang sirkus dari Rusia yang datang ke Metro. Ini menarik bagi saya. Pada sekitar tahun itu rombongan Uyung dan teman-teman sekolahnya didampingi oleh guru-guru pergi dari Liwa menuju Metro untuk menonton sirkus dari Rusia.

Andai ini memang informasi faktual, saya pikir Udo bisa cerita tentang itu, tentang rombongan sirkus dari Rusia yang ke Metro.


Memori Personal ke Memori Komunal

Saya sependapat dengan Dedy Tri Riyadi yang menganggap Negarabatin sebagai novel memoar. Saya mengendusnya itu sebagai pengalaman Udo semasa kecil.

Saya menyimpulkan ini semacam memori personal Udo yang dikonversi menjadi memori komunal dan bisa dibaca oleh orang yang mungkin belum tahu banyak tentang Liwa.

Kemudian tentang kontradiksi dalam cerita-cerita di Negarabatin, saya menemukan ada kontradiksi dan nanti Udo bisa menjelaskan. Di halaman 10 dan 11, di satu sisi Udo menuliskan tentang kemiskinan di Liwa, lalu ia hendak melupakan, dulu dia sering menyesal mengapa mengapa dilahirkan di Liwa, dan kampungnya tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi, di sisi yang berbeda, ia tidak bisa melepaskan diri dari Negarabatin itu. Ini saya kutip sedikit satu paragraf:

Tapi, entah mengapa… mati-matian aku membuang pekon-ku dari kepalaku, dari hatiku, dan dari ingatanku, selalu saja ada bahan yang menjadi lantaran bahwa Negarabatin tidak mungkin hilang dariku.

Jadi ada semacam kontradiksi. Di satu sisi, dia ingin melupakan, meninggalkan Negarabatin, tetapi di sisi lain, dia tetap… satu kakinya, sebelah kakinya masih tertancap di Negarabatin.

Mungkin itu nanti bisa Udo ceritakan kepada kita semua. Tentang bagaimana Udo sebagai penduduk yang lahir dan besar di Negarabatin atau Liwa itu melihat Liwa dari luar Liwa. Itu yang saya tunggu dari Udo.

Sekali lagi selamat kepada Udo yang telah menerbitkan Negarabatin. Ini anak kultural Udo setelah Mamak Kenut, dll.

Tanpa bermaksud seperti agen pariwisata, saya pikir, menarik untuk teman-teman di sini yang belum pernah datang ke Liwa untuk sekali waktu datang ke Liwa, ke Negarabatin. Negarabatin itu tempatnya asyik, tempat yang sejuk. Di situlah cikal-bakalnya orang Lampung. Banyak lokus-lokus menarik yang bisa didatangi seperti yang ada di buku Udo.

Mudah-mudahan nanti Udo berkesempatan menulis lebih detil tentang Negarabatin atau Liwa. Sebab, menurut saya, banyak sekali  lokus menarik di sekitaran Negarabatin atau Liwa yang belum dieksplore oleh Udo. Mudah-mudahan di novel berikutnya tentang Negarabatin, Udo bisa mengeksplore lokus-lokus dan ihwal-ihwal menarik tentang Liwa.[]


————-
Arman AZ, sastrawan, peneliti sejarah sosial-budaya

Sumber: LaBRAK.CO, 18 September 2022

No comments:

Post a Comment