October 21, 2022

Dari Saburai 'Negarabatin' Jadi Nomine Penghargaan Sastra 2022

Oleh Maspril Aries

 

NEGARABATIN ada banyak di hamparan daratan Sang Bumi Ruwa Jurai (Saburai) atau Provinsi Lampung. Tapi novel berjudul Negarabatin, Negeri di Balik Bukit" hanya ada satu karya Udo Z Karzi yang nama lengkapnya Zulkarnain Zubairi.

Negarabatin, Negeri di Balik Bukit karya Udo Z Karzi.

Novel karya mantan aktivis pers mahasiswa dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) masuk dalam daftar nominasi Penghargaan Sastra 2022 yang ditetapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).


Jantung Sastra Terus Berdetak

Sebelum berkisah tentang sang penulis dan novelnya, mari mengenali dulu apa itu Penghargaan Sastra yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek? Setiap tahun lembaga ini memberikan penghargaan kepada penulis Indonesia untuk kategori novel, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kumpulan esai/ kritik sastra, dan naskah drama.

Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi adalah penghargaan dari pemerintah kepada para sastrawan/ penulis yang memiliki karya sastra berkualitas dan konsisten dalam berkarya. Kegiatan Penghargaan Sastra sudah berlangsung sejak 1989 dan banyak penulis atau sastrawan top Indonesia meraih penghargaan ini.

Udo Z Karzi bukan penulis pertama asal Provinsi Lampung yang masuk nomine Penghargaan Sastra yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sebelumnya pada Penghargaan Sastra 2021 dua orang penulis sastra dari Lampung juga masuk dalam nomine. Pertama Inggit Putria Marga untuk kategori kumpulan puisi dengan kumpulan puisi berjudul Empedu Tanah. Kedua, Rilda A.Oe. Taneko penulis asal Lampung yang kini menetap di Lancaster, Inggris untuk kategori kumpulan cerpen dengan judul Seekor Capung Merah.

Tentu ini sangat menggembirakan bagi dunia sastra di Lampung, dalam dua tahun berturut tiga penulisnya masuk nominasi. Ini menjadi pertanda bahwa jantung sastra masih terus berdetak di daerah ini, yang kemudian banyak melahirkan penulis muda. Tiga penulis ini adalah bagian dari regenerasi dari sebuah lini masa sastra di Bumi Saburai. Mereka lahir dari daerah tanpa harus hijrah ke ibu kota negara atau kota-kota besar di Pulau Jawa, mereka bisa dikenal luas dalam dunia sastra nasional.

Yang lebih membanggakan, tiga orang yang pernah masuk nomine penghargaan sastra yang diselenggarakan sebuah lembaga resmi pemerintah dan berada dalam sebuah kementerian, adalah alumni dari Universitas Lampung (Unila) – kampus yang berduka karena setelah mereka tidak lagi mahasiswa pimpinannya dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Seperti Rilda A.Oe. Taneko yang kerap disapa Ara dan Zulkarnain Zubairi dengan nama pena Udo Z Karzi pernah mengenyam pendidikan di Fisip Unila. Ternyata, kampus ini walau tidak memiliki fakultas sastra mampu melahirkan penulis sastra yang mumpuni. Ketiga penulis sastra dari Unila tersebut bukan termasuk sastrawan instan yang terlahir dari rahim kecanggihan dunia digital.

Tradisi sastra khususnya tulis di Lampung mengalami perkembangan yang pesat dapat dikatakan setiap era selalu melahirkan sastrawan. Bicara sastra era-era masa lalu, sastra di Lampung kerap identik dengan penulis Motinggo Busye yang lahir di Telukbetung. Kemudian era 80-an, era 90-an dan era 2000 atau pascareformasi tetap terus melahirkan sastrawan muda yang berprestasi.

 

Mengasah Pena Sejak Sekolah Menengah

Kini giliran menceritakan Udo Z Karzi yang sudah mengasah tulis-menulis dan bakatnya sejak di bangku sekolah menengah. Masuk Unila kuliah di Program Studi Ilmu Pemerintahan. Lalu, untuk mengembangkan bakat tulis menulisnya, memilih bergabung di SKM Teknokra menjadi wartawan mahasiswa alias aktivis mahasiswa. Lulus kuliah terjerat menjadi wartawan di Harian Umum Lampung Post lalu sempat bergabung dengan beberapa media lainnya di Lampung.

Nomine Penghargaan Sastra 2022 untuk kategori novel.

Pada Penghargaan Sastra 2022 yang akan diumumkan 28 Oktober 2022, novel Udo Z Karzi berjudul Negarabatin, Negeri di Balik Bukit masuk nomine ini bersama novelis lainnya, yaitu Bre Redana (Kidung Anjampiani), Dias Novita Wuri (Jalan Lahir), Ni Nyoman Ayu Suciartini (Biang) dan Pinto Anugrah (Segala yang Diisap Langit).

Tahun ini Udo Z Karzi harus bersaing dengan sastrawan dan wartawan senior Bre Redana atau Don Sabdono yang pernah menjadi wartawan pada sebuah surat kabar nasional terbesar di Indonesia. Bre Redana yang pernah belajar jurnalisme di School of Jounalism and Media Studies, Darlington, Inggris (1990–1991) menulis novel Kidung Anjampiani, novel terbaru dari Bre Redana yang diluncurkan di panggung terbuka Studio Mendut Kabupaten Magelang pada 29 Juli 2022 lalu. Negarabatin juga menjadi novel terbaru Udo Z Karzi yang baru diterbitkan Pustaka Jaya pada 2022.

Udo Z Karzi dan novel Negarabatin.
Udo Z Karzi atau Zulkarnain Zubairi sastrawan kelahiran Liwa, Lampung Barat 12 Juni 1970 . Kuliah dan lulus dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip 1996. Berlatar belakang sebagai aktivis pers mahasiswa, Udo pun menjajal dunia jurnalistik dengan bergabung di antara di Harian Lampung Post surat kabar terbesar di Lampung pada masanya. Tak lagi bergabung di media massa Udo pun mendirikan penerbit buku bernama Pustaka LaBRAK.

Yang menarik dari penulis ini, Udo adalah pemberi warna lain dari sastra atau tradisi penulisan puisi berbahasa lokal, yaitu bahasa Lampung. Ia pun menerbitkan buku kumpulan puisi berbahasa Lampung berjudul Mak Dawah Mak Dibingi pada 2007 dan buku ini diganjar penghargaan Hadiah Sastra Rancage 2008.

Selama pandemi Covid-19 juga Udo rajin berkontribusi menyumbangkan tulisannya untuk menulis buku bersama atau keroyokan. Ada beberapa buku yang memuat tulisan selama masa pagebluk sejak 2021. “Ada saja undangan yang mengajak menulis bersama untuk beragam genre buku,” katanya.

Deretan daftar judul buku yang telah ditulisnya bareng penulis lain semasa dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia di antaranya buku Kemanusiaan pada Masa Wabah Corona: Renungan 110 Penulis yang diselenggarakan Satupena dengan editor Nasir Tamara. Buku ini terbitan Balai Pustaka, Mei 2020.

Kemudian Udo yang juga penyintas Covid-19 berinisiatif menerbitkan buku sendiri yang ditulis secara keroyokan. Buku tersebut berjudul Mencari Lampung dalam Senyapnya Jalan Budaya yang sekaligus buku memperingati usianya yang ke-50 tahun. Buku ini diterbitkan Pustaka LaBRAK pada Juni 2020. Juga ikut menulis dalam dalam buku Demokrasi di Era Digital dengan editor Nasir Tamara, penerbit Pustaka Obor 2021.

Buku lain yang memuat karya Udo Z Karzi di antaranya Bersama Aksi Swadaya Menulis dari Rumah yang diprakarasi penerbit Kosa Kata Kita. Kemudian berpartisipasi menulis dalam buku antologi: Ayahku Jagoan (Februari 2021), Anakku Permataku (Juni 2021), Guruku Inspirasiku (September 2021), Hidup Berdamai dengan Corona (November 2021), dan Autobiografi Mini: Kisah-Kisah Hidupku Volume 7 (Maret 2022).

Udo Z Karzi juga menyumbangkan puisi untuk buku 76 Penyair Membaca Indonesia yang diterbitkan Teras Budaya Jakarta dan Taman Inspirasi Sastra Indonesia, Juli 2021, buku 93 Penyair Membaca Ibu, Antologi Bersama Seri ke-2 Penyair Membaca Indonesia (Teras Budaya dan TISI, November 2021).

Buku terbaru dimana Udo menjadi penulis, editor sekaligus penerbit adalah Romantika di Kampus Oranye: Dinamika FISIP Universitas Lampung dari Kisah Alumni yang diterbitkan Pustaka LaBRAK dan IKA FISIP Unila, Maret 2022.

Pada masa pandemi Udo Z Karzi juga menerjemahkan puisi-puisi Edy Samudra Kertagama ke bahasa Lampung dengan judul Bahasa Ibuku Bahasa Darahku, sebuah Antologi Bersama Dwibahasa Seri pertama yang diterbitkan Teras Budaya dan Taman Inspirasi Sastra Indonesia, Februari 2022. Dan, berhasil menyusun sekaligus menerbitkan sebuah buku dokumentasi karya para penulis sastra Lampung berjudul Jejak-jejak Literer: Bibliografi Sastra Lampung 1960-2020 penerbit Pustaka LaBRAK, Februari 2021.

Udo Z. Karzi juga menulis sekaligus editor dalam buku Etos Kita, Moralitas Kaum Intelektual (2002), buku Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa (2010). Kedua buku ini menghimpun karya aktivis pers mahasiswa Teknokra lintas generasi atau angkatan. Buku lain yang ditulisnya sendiri adalah Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh (2012), Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (2013), Tumi Mit Kota (kumpulan cerpen bahasa Lampung bersama Elly Dharmawanti, 2013).

Ada juga buku berjudul Dari Oedin ke Ridho: Kado 100 Hari Pemerintah M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri (2014) sebagai editor. Buku Menulis Asyik (2014), editor buku Rumah Berwarna Kunyit (2015). Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali (2016), Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung (2019), Lunik-Lunik Cabi Lunik (kumpulan cerpen, 2019), dan Setiwang (kumpulan sajak, 2020).

Lantas, siapa yang akan jadi pemenangnya dari dari lima nomine pada Penghargaan Sastra 2022 yang akan diumumkan 28 Oktober 2022? Hanya Allah SWT dan dewan juri yang tahu siapa pemenangnya. []

 

-------------
Maspril Aries, Wartawan Utama, Penggiat Literasi, Konten Kreator, Tutor, Penulis, Penerbit Buku -- Palembang.


Sumber: https://kakibukit.republika.co.id, Sabtu, 22 Oktober 2022


No comments:

Post a Comment