Showing posts with label rupa. Show all posts
Showing posts with label rupa. Show all posts

October 20, 2013

Carnival of Scenes Tafsir Mahabharata Versi Si Lampung

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

KISAH Mahabharata dan perang Bharata tak habis-habisnya ditafsirkan orang. Kali ini perupa I Made Widya Diputra alias Si Lampung menafsirkan Mahabharata dalam karya tiga dimensinya dan ditaja di Gallery Semarang, Kota Lama, Semarang, dengan mengusung tema Carnival of Scenes. Pameran yang memajang 10 karya Si Lampung ini digelar dari penggal akhir Juni hingga Oktober 2013.


Nama Si Lampung di bumi kelahirannya Sang Bumi Ruwai Jurai kurang dikenal, bahkan di kalangan perupa sekali pun. Ia memang anak transmigran dari Bali, kelahiran Lampung, 10 Oktober 1981.


May 19, 2013

Batu Batu Imaji Ari Susiwa Manangisi

 -- Christian Heru Cahyo Saputro

ARI Susiwa dalam diksi rupa pilihannya berkisah tentang peristiwa Mesuji dan Sidomulyo. Lukisan batu-batu masif saling bertumbukan dan setandan kelapa sawit segar yang ditarik-menarik tali dari berbagai penjuru bertajuk Mesuji ?Amuk? Sidomulyo terpajang di antara 115 karya rupa dalam pameran bertajuk Meta Amuk di Galeri Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta, dari 7?24 Mei 2013.

LUKISAN. "Spirit the Day" karya Ari Susiwa Manangisi
FOTO: DOKPRI ARI SUSIWA
Lukisan bertajuk Mesuji ?Amuk? Sidomulyo karya perupa Lampung, Ari Susiwa Manangisi, cukup menyita perhatian pengunjung pameran, setidaknya karena ukurannya yang lumayan provokatif.


April 22, 2013

Perupa Ari Susiwa Ikut Pameran Seni Rupa Nusantara

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lukisan bertajuk Mesuji "Amuk" Sidomulyo karya perupa Lampung Ari Susiwa Manangisi lolos dalam seleksi Panitia Pameran Seni Rupa Nusantara 2013 yang digelar Galeri Nasional Indonesia tahun ini.

Ari Susiwa Manangisi menjadi satu-satunya perupa Lampung yang bakal memajang lukisannya dalam pameran yang akan dibuka Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Wiendu Nuryanti.


December 17, 2012

Antara Realitas Hidup dan Fenomena Sosial

DI tengah "kelesuan" dunia seni rupa Lampung, inisiatif dan langkah Kelompok Enam patut diapresiasi. Mereka tak menyerah dengan segala keterbatasan yang ada. Inilah usaha mandiri para seniman yang berangkat dari keprihatinan mandeknya dunia seni rupa Lampung.

MAKA, puluhan lukisan yang berderet rapi pada ruang pameran Taman Budaya Lampung (TBL), 2?9 Desember lalu. Ragam lukisan yang terpajang itu hasil karya enam perupa yang tergabung dalam Kelompok Enam. Empat perupanya dari Lampung dan dua perupa lainnya dari Jakarta.


June 17, 2012

Tujuh Perupa Lampung Melukis Kota Tua Jakarta

BANDARLAMPUNG -- Tujuh perupa Lampung diundang untuk melukis kawasan kota tua di DKI Jakarta.
   
Informasi dari pengurus Dewan Kesenian Lampung (DKL), di Bandarlampung, Sabtu, memastikan tujuh pelukis Lampung yang diundang ke Jakarta ini akan bergabung bersama dengan pelukis dari daerah lainnya yang terpilih untuk kesempatan yang sama.
   
Hajat melukis bersama ini dilaksanakan Minggu (17/6).
   
Menurut Ketua Komite Seni Rupa DKL, Salvator Yen Joenaedhy, ini merupakan kesempatan yang baik untuk menunjukkan bahwa pelukis Lampung juga berkualitas dan bisa sejajar dengan pelukis dari daerah lainnya.
   
Tujuh pelukis yang diundang, yaitu Salvator Yen Joenaedhy, Atuk, Dana E Rachmat, Indra Wilmar, Syamsu Rizal, Yulius Benardi, dan Lilis Suryati Syah Putri.
   
"Saya agak kaget juga ketika DKL menerima undangan untuk mengirim pelukis Lampung ke event ini. Apalagi hasil dari lukisan 'on the spot' ini akan dipamerkan di Jakarta," ujar Salvator pula.
   
Dia menambahkan, keberangkatan para pelukis Lampung didukung DKL, mengingat undangan itu merupakan kesempatan yang bergengsi.
   
DKL mendukung event ini dan menilai sebagai langkah tepat untuk mengangkat pamor jagad seni rupa Lampung, kata Salvator.
   
Ketua Umum DKL, Hj Syafariah Widianti SH MH, menyatakan sangat mendukung keberangkatan tujuh perupa Lampung mengikuti event itu.
   
Mereka bisa menunjukkan kemampuannya sebagai duta budaya Lampung, kata dia.
   
"Saya berharap mereka bisa menimba ilmu dan juga bersaing dalam kualitas karya," ujar Syafariah pula.
   
Ketua Harian DKL, HarryJayaningrat, SSos MM, menilai keberangkatan tujuh perupa Lampung untuk mengabadikan kota tua Jakarta bersama perupa dari kota lainnya, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta menunjukkan Lampung juga patut diperhitungkan dalam jagad seni rupa nasional.
   
"Saya berharap mereka bisa menunjukkan prestasi dan kualitas karyanya. Apalagi nantinya akan ditindaklanjuti untuk dipamerkan bersama di Jakarta," ujar Harry pula.

Sumber: Antara, Minggu, 17 Juni 2012

February 12, 2012

[Inspirasi] Sutanto, Dorong Pelukis Muda

PASAR Seni Enggal terlihat ramai pekan lalu. Berbagai pondok sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang beramain musik atau hanya sekadar ngobrol. Salah satu pondok yang cukup ramai adalah pondok pelukis Sutanto.



Dalam pondok bertumpuk lukisan karya Sutanto. Ada lukisan impresionis, realis, dan campuran keduanya yang memadukan kesan dan kenyataan.

Meskipun sempit, beberapa pemuda begitu asik menggoreskan kuas di atas kanvas. Sutanto memperhatikan dan kadang memberikan arahan. “Melukis itu mudah, asal tahu caranya,” kata dia memulai pembicaraan.

Pondok lukis Sutanto selalu dipenuhi anak-anak yang mau belajar. Dia selalu berbagi ilmu dan pengalaman melukis. Pemuda-pemuda di Pasar Seni begitu dekat dengan Sutanto. Kesan tidak kaku dan mudah bersahabat membuat Sutanto menjadi sahabat sekaligus bapak bagi pemuda yang biasa nongkrong di Pasar Seni. Mereka memanggil ayah satu anak ini dengan sebutan “pak de”. Sore itu pria kelahiran Salatiga 61 tahun lalu ini ditemani istri tercinta, Rini Rostifa. Rini, kata Sutanto, menjadi manajernya.

Rinilah yang melayani orang yang mau membeli lukisan. Istrinya jugalah yang menjelaskan lukisan-lukisan karya Sutanto kepada calon pembeli dan para kolektor. Rini membekali diri dengan pengetahuan tentang lukisan dengan membaca majalah-majalah seni yang sudah dibeli suami.

Pemuda yang ingin melukis di Pondok Sutanto tidak perlu memikirkan peralatan. Semua alat lukis di pondoknya lengkap. Jenis cat air pun banyak. Dia merelakan alat dan cat airnya dipakai untuk orang yang mau belajar.

Sutanto sangat ringan dalam berbagi ilmu, terutama berbagi ilmu untuk anak-anak muda yang mau belajar. Bila ada teknik melukis dengan alat dan bahan baru, dia langsung tularkan kepada pemuda di Pasar Seni.

Dia ingin agar pelukis muda bisa muncul. Perlu ada regenerasi supaya pelukis-pelukis yang lebih muda hadir dan berani tampil.

Dia pun menemukan ide melukis dengan ampas kopi. Melukis juga tidak melulu dengan kuas. Kini dia menggunakan cara melukis dengan pisau palet untuk menghasilkan lukisan yang hidup. Lukisan impresionis bisa didapat menggunakan pisau palet ini.

“Lukisan impresionis yang dihasilkan berupa harimau. Impresionis menimbulkan kesan yang jelas. Orang tidak perlu melihat dengan teliti dan lama untuk mengetahui isi lukisan. Cukup dengan melihat sekilas, orang akan tahu lukisan apa itu,” ujarnya.

Baru-baru ini ada teknik melukis baru dengan bahan yang murah, tapi harga jualnya bisa sangat mahal. Teknik baru itu menghasilkan lukisan realis yang begitu hidup. Namun, jika dilihat lebih dekat ada retak-retak seperti tanah kering di musim kemarau. “Ide lukisan itu saya buat sendiri, ternyata bahannya sangat murah. Anak-anak pun sudah saya kasih tahu supaya mereka belajar dan bisa membuat lukisan yang mahal,” katanya.

Dalam mencari ide lukisan-lukisan baru, Sutanto kerap membaca dan melihat lukisan karya pelukis luar negeri di majalah-majalah. Dalam majalah tidak disebutkan cara membuat dan bahan yang digunakan. Dia pun mencari cara sendiri untuk menghasilkan lukisan serupa.

Melukis dengan ampas kopi pun sudah mulai marak dikembangkan. Sutanto bisa disebut sebagai pelukis pertama yang mengembangkan metode ini.

Lampung sebagai penghasil kopi terbesar di Indonesia menjadi inspirasi untuk membuat lukisan ampas kopi. “Melukis tidak harus menggunakan bahan mahal. Pakai ampas kopi yang murah juga bisa diolah menjadi lukisan mahal,” katanya.

Bahkan, lukisan ampas kopi karya Sutanto ada yang dibeli orang dekat Ibu Any Yudhoyono. Saat ini beberapa kolektor menunggu dan meminta dia untuk membuat lukisan ampas kopi lagi.

Bagi kalangan kolektor dan penikmat lukisan, karya Sutanto sudah banyak dikenal dan ditunggu. Tidak hanya kolektor dalam negeri, beberapa kolektor luar negeri seperti Singapura dan Australia juga mengoleksi karya Sutanto. Malahan, ada seorang kolektor yang hanya mengoleksi karya-karya Sutanto, bukan pelukis lain. “Saya beri tahu ke kolektor supaya mengoleksi juga karya pelukis yang lain agar koleksi lukisan beragam,” ujar dia.

Pria yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Satyawacana ini juga membuka kelas lukis di rumahnya, di Kelurahan Sumurbatu. Kebanyakan yang belajar melukis adalah anak SMP dan SMA. Jumlah peserta dibatasi hanya beberapa karena kondisi rumah yang sempit.

Kelas melukis dibuat dengan kurikulum yang dirancang sendiri oleh Sutanto. Kelas ini tidak gratis, siswa dikenakan biaya yang digunakan untuk membali peralatan melukis. Siswa tidak hanya dari Lampung, ada yang dari Jakarta dan Aceh.

Kemampuan melukis Sutanto bukan didapat dari pendidikan formal. Dia murni belajar sendiri dengan mengamati lukisan para maestro, seperti Basuki Abdullah. Dia mengamai bagaimana para pelukis hebat membuat karya dan Sutanto pun mencobanya. “Ilmu melukis saya dapat dari mencuri dan mengamati.”

Dia pun mempersilakan pelukis-pelukis muda untuk mencuri ilmunya. Saat awal belajar melukis, tidak langsung dengan kuas dan cat. Keterbatasan dana membuatnya harus melukis dengan areng dan aspal.

Saat itu, komik-komik luar juga menjadi referensi dalam melukis. Setelah merasa mampu, dia pun memutuskan untuk menjalani hidup sebagai pelukis.

Namun, menjadi pelukis memang tidak mudah. Saat pembelian lukisan sepi, dia pun sempat beralih menjadi pelukis dengan menggunakan air brush atau cat semprot untuk keperluan pemasangan iklan. Pembuatan reklame out door sempat menjadi palariannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Selama tujuh tahun, Sutanto meninggalkan dunianya sebagai pelukis, dan lebih menekuni pembuatan reklame. Menurutnya, saat itu billboard masih dibuar secara manual dengan tangan. Beberapa perusahaan besar, seperti Coca-Cola dan Djarum sempat mengontraknya untuk membuat iklan di beberapa daerah. “Saya menjadi orang pertama yang memopulerkan melukis billboard. Saat menukuni dunia iklan, tujuh tahun saya tidak pernah melukis, bahkan istri pun sempat ragu bahwa saya bisa melukis,” katanya.

Profesi sebagai pembuat reklame luar ruanganlah yang membawanya hingga ke Lampung. Tahun 1990, Sutanto pindah ke Lampung karena ada tugas membuat reklame.

Dunia rekalame air brush pun digeser dengan reklame digital. Pemasang iklan pun memilih billboard digital yang lebih praktis. Dari perjalanan hidup yang sudah dilalui, Sutanto menegaskan kemampuan melukis tidak akan membuat orang kesulitan mencari uang. Banyak hal yang bisa dikerjakan. Dengan melukis jugalah ia bisa menyekolahkan anaknya dan adik iparnya hingga sarjana.

Di usia yang sudah tua, Sutanto masih menyimpan kegusaran tentang regenerasi pelukis di Lampung. Belum banyak pelukis muda yang muncul. Menurutnya, jumlah pelukis di Lampung lebih banyak dibandingkan pelukis di daerah lain di Sumatera. Namun, dari sisi produktivitas
karya, Lampung masih ketinggalan. Jarang sekali pameran lukisan di Lampung.

Pendidikan seni lukis harus mulai digiatkan. Dewan Kesenian Lampung (DKL) harus lebih banyak menggelar workshop. “Harus workshop,
workshop , dan workshop,” kata dia.

Sutanto mengatakan pendidikan seni di sekolah masih terlalu umum dan itu pun hanya satu kali dalam seminggu. Guru seni rupa tidak ada di sekolah. Pelajaran seni kurang mendapatkan tempat di sekolah.

Anak-anak didik hanya mengasah kecerdasaan otak untuk hal yang bersifat eksak, sementara kecerdasan rasa tidak pernah diasah. Hal inilah yang membuat orang suka korupsi karena kecerdasan rasa tidak pernah diajarkan. Pendidikan hanya mengajarkan kecerdasaan pada satu bagian otak, sehingga kecerdasan anak didik menjadi tidak seimbang. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Februari 2012

November 30, 2011

Bienale Sumatera: 4 Perupa Lampung Lolos Kurasi

PADANG (Lampost): Empat perupa Lampung lolos dari kurasi dan berhasil memamerkan karya dalam Pameran Pra-Bienalle Se-Sumatera yang digelar dari 21 November—6 Desember 2011 di Gallery Taman Budaya Sumatera, Padang.

Keempat perupa tersebut yakni Ari Susiwa Manangisi, Bambang S.B.Y., Dana E. Rahmat, dan Sisna Ningsih.

Pameran yang diikuti para perupa dari Sumut, Sumbar, Jambi, Riau, Bengkulu, Lampung, dan Sumsel ini dibuka tokoh muda Minang yang juga kolektor dan pemerhati lukisan, Fadli Zon.

Pameran Pra-Bienalle Se-Sumatera ini dikurasi empat kurator asal Sumatera Barat, yaitu Syafwan Ahmad, Muharyadi, Yusrizal K.W., dan Hamzah.

Para perupa dari daerah lain yang berhasil lolos kurasi antara lain Herwandi (Bengkulu); Abdul Aziz, Edi Fahyuni, Suharno Manaf, Usa Khismada (Sumsel); Yahsermi Syahrul, A. Fauzi, Suwarno, Djafar Rasuh (Jambi); Budi Siagian, Handono Hadi, Rasinta Tarigan Farida Lisa, Yoes Afrizal, (Sumut).

Selain itu, Nazar Ismail, Herisman Tojes, Amrianis, Ardim, Zirwen Hazry, Yasrul Sami Batu Bara, dan Hendra Sardi (Sumbar). Dalam pameran ini juga diusung karya perupa senior Sumbar, Arby Samah, Amir Syarif, dan H.A.M.Y.D.T. Garang.

Di samping itu, digelar dialog bersama Kepala Galeri Nasional Tubagus Andre terkait dengan keberlanjutan Pra-Bienalle menjadi event Bienalle.

Mantan Kepala Taman Budaya Padang Asnan, dalam siaran pers yang diterima Lampung Post kemarin, mengatakan pameran dua tahunan ini sudah dirancang para kepala taman budaya se-Sumatera sejak tahun 1993.

Kegiatan ini, ujar Asnan, digagas untuk menjadi gelar karya unggulan para perupa se-Sumatera. "Ini juga akan menjadi tolok ukur perkembangan seni rupa Sumatera," ujarnya.

Namun, menurut Asnan, Pra-Bienalle kali ini ternyata masih jauh dari harapan. Padahal, awalnya digagas secara baik, karena akan melibatkan kurator dari Jakarta.

Bahkan, rencananya yang membuka pameran ialah kolektor terkemuka Indonesia Oei Hong Djin, tetapi semuanya berubah, bahkan panitia terkesan tidak siap mengusung event besar ini. (MG1/S-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 November 2011 05:45

October 14, 2011

[TIME 2011] Lukisan Ampas Kopi Ramaikan TIME 2011

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lukisan ampas kopi meramaikan pergelaran Pasar Wisata Indonesia atau Tourism Indonesia Mart and Expo (TIME) 2011 di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Kamis (13-10).

LUKISAN. Pengunjung mengamati lukisan yang dipamerkan dalam pergelaran TIME di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Kamis (13-10). Kegiatan TIME akan berlangsung sampai 14 Oktober mendatang. n LAMPUNG POST/MG3

Sebanyak enam lukisan karya Yulius Benardi mampu menarik perhatian pengunjung event yang dihelat hingga Jumat (14-10). Jejeran lukisan di sepanjang jalan menuju ballroom Hotel Novotel tidak hanya sekadar pajangan.

Beberapa pengunjung khususnya pembeli paket wisata (buyers) tampak antusias memandangi lukisan ampas kopi karya Yulius Benardi. Sejumlah lukisan yang dipajang berjudul Lamban, Tiger Face, Mustang, Beauty Lotus, Euroption Krakatao, dan Bajak Sawah.

Yulius mengatakan lukisan yang dipamerkan merupakan satu langkah pembentukan kekhasan daerah Lampung. Lampung yang terkenal dengan kenikmatan kopinya tentu juga menyimpan keistimewaaan lainnya. Kopi juga dapat membuat lukisan menjadi spesial dan terlihat lebih indah.

Kartika Sari, pengunjung asal DI Yogyakarta, mengaku sangat mengagumi lukisan berbahan utama ampas kopi itu. Menurut dia, hasil goresan dari ampas kopi lebih eksotis jika dibandingkan dengan pewarna dari cat minyak biasa.

Butiran dasar ampas kopi yang menempel pada kain kanvas lukisan benar-benar terlihat natural dan indah. Selain lukisan ampas kopi, turut dipamerkan pula 19 koleksi lukisan kain-cat minyak (oil on kanvas).

Antara lain koleksi Museum Negeri Lampung yakni sebanyak tiga lukisan: Gudang Lelang karya Abbas Alibasha, Sai Bumi Ruwa Jurai karya Eddy Suherli, dan Ikan Tulang Bawang yang juga dibuat oleh Eddy Suherli.

Kemudian terdapat lukisan Ikan, Air Terjun, Kupu-kupu karya Ari S.M. serta lukisan Anak Krakatau karya Salvator Yen Joenaidy. (VER/K-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 14 Oktober 2011

July 2, 2011

Seniman Lampung Barat Kembangkan Lukisan Bubuk Kopi

Liwa, Lampung, 2/7 (ANTARA) - Seniman lukis di Kabupaten Lampung Barat mengembangkan lukisan berbahan baku kopi bubuk.

"Awalnya saya hanya iseng untuk membuat lukisan berbahan baku kopi bubuk, dan ternyata setelah saya mencoba dan menekuninya, ternyata lukisan ini banyak diminati oleh masyarakat," kata pelukis Kota Liwa, Lampung Barat, Aris Susiwa Manangisi, di Bandarlampung, Sabtu.

Dia menjelaskan, membuat lukisan kopi bubuk dituntut kesabaran dan kejelian dari seniman.

Menurut dia, karya lukisan kopi bubk, menjadi karya seni baru yang mengadopsi dari potensi daerah.

"Provinsi Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Barat memiliki potensi perkebunan kopi sangat besar, sehingga dari potensi tersebut, menumbuhkan ide kreatif, untuk melahirkan karya seni daripotensin daerah," katanya.

Kemudian, lanjut dia, lukisan kopi bubuk, mampu menjadi icon baru bagi Lampung Barat dan Provinsi Lampung.

"Karya seni yang dilahirkan ini, memberikan inspirasi besar terhadap seniman seperti kami, untuk membaca peluang potensi daerah yang dikembangkan melalui karya seni, sehingga kiprah kami sebagai seniman, dapat membantu dalam mempromosikan potensi daerah yang tertuang dalam karya lukisan," katanya.

Ide membuat lukisan dengan bahan ampas kopi, bubuk kopi, dan air kopi, menjadi ide seni cukup cemerlang dalam mengangkat potensi alam yang ada.

Kopi bubuk yang dipilih menghasilkan karya seni yang unik dan bernilai tinggi.

Pembuatan lukisan kopi membutuhkan waktu satu hingga dua hari, lamanya lukisan tergantung dengan objek yang akan dilukis.

Kesabaran memang dibutuhkan dalam melahirkan karya lukisan ini, sebab bila seniman itu tergesah gesah, maka hasil yang didapat tidak maksimal, katanya.

Harga sebuah lukisan kopi bubuk bervariasi, untuk ukuran besar mencapai Rp6 juta, ukuran sedang Rp1 juta, dan ukuran kecil 500 ribu.

Lahirnya lukisan kopi bubuk ini sudah ada sejak tahun 2010, dan sampai sekarang pelukis itu terus memproduksi karya seni lukisan dengan objek yang diminati konsumen.

Objek yang dipilih dalam karya lukisan itu di antaranya, pemandangan, dan lukisan wajah.

Karya seni lukisan kopi bubuk, menjadi salah satu daya tarik bagi Provinsi Lampung, terutama Lampung Barat sebagai daerah penghasil kopi terbesar, dan patutlah seniman tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah setempat.

Lukisan kopi bubuk dapat dijumpai di ajang Pameran "Lampung Fair" 2011 di PKOR Way Halim, dan terlihat lukisan itu, menjadi daya tarik bagi pengunjung stan Lampung Barat.

Rencananya lukisan kopi bubuk akan terus dipamerkan hingga Pameran "Lampung Fair" itu berakhir.

"Saya berharap karya seni ini dapat diterima baik oleh masyarakat, sehingga dengan dukungan itu, kami terus melahirkan karya seni yang apik, yang berkiblat terhadap potensi daerah dan kenaturalan alam," katanya.

Sumber: Antara, 2 Juli 2011

May 16, 2011

PSRN 2011: Lampung Tampilkan Kegamangan Dunia

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Pelukis Lampung asal Tanggamus, Nurbaito, menampilkan lukisan bertemakan kegamangan dunia dalam Pameran Seni Rupa Nasional (PSRN) 2011 yang saat ini berlangsung di Galeri Seni Nasional, Jakarta.

"Lukisan tersebut saya beri judul Imaji Ornamen Terapan yang menggambarkan keadaan dunia yang gamang, tentang modernitas yang belum tercapai namun sudah melangkah meninggalkan tradisi dan budaya," kata dia pekan lalu.

Lukisan berukuran 140 x 195 cm dengan media minyak di atas kanvas itu digarap Nurbaito pada 2010. Dalam karya lukisnya, Nurbaito melukis objek berupa traktor yang biasanya untuk membajak sawah justru tertatih menarik delman dengan ekspresi sang kusir yang gamang dalam mengendalikan laju delman.

Ia mengangkat konsep tersebut karena melihat bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan geografis sangat luas, dengan ribuan pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke, serta kaya akan aneka corak seni budaya sejak zaman prasejarah.

"Kebenaran itu dapat kita lihat pada sekujur tubuh bangunan candi Hindu dan Buddha yang bertebar di seluruh Indonesia yang di dalamnya banyak terdapat arca, relief, dan guratan-guratan ornamen yang sangat detail dengan daya pukau dan mengagumkan," ujarnya.

Nurbaito menambahkan seiring bergulirnya waktu, seni arca berkembang menjadi seni patung monumental dan seni ornamen pun turut berkembang pula menjadi seni ornamen terapan atau seni pakai. "Hal itu dapat ditengarai, misalnya, pada seni batik, seni ukir pada perabotan rumah tangga, bahkan termodifikasi untuk konstruksi alat transportasi klasik sebagai contoh dokar," kata Nurbaito.

Perupa kelahiran Gisting, Kabupaten Tanggamus, pada 10 Mei 1961 itu mengaku mengirim dua karya lukisan dalam event dua tahunan itu, tetapi hanya satu yang lolos. "Ini karya ketiga saya yang lolos seleksi, yang sebelumnya pada 2007 dan 2009."

Nurbaito merupakan satu-satunya perupa yang dipastikan bakal mewakili Lampung dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 hingga 29 Mei 2011 mendatang. Ia menampilkan karyanya bersama 153 perupa dan berasal dari 24 provinsi di Indonesia yang lolos seleksi dan perupa undangan Pameran Seni Rupa Nusantara 2011

Para perupa yang menampilkan karyanya itu merupakan hasil undangan tim kurator Galeri Nasional Indonesia dan hasil seleksi dari sekitar 550-an proposal aplikasi yang masuk ke panitia. (K-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 16 Mei 2011

May 12, 2011

Seni Rupa: Nurbaito Wakili Lampung pada PSRN

TANGGAMUS (Lampost): Nurbaito mewakili Lampung pada Pameran Seni Rupa Nusantara (PSRN) 2011. Nurbaito asal Tanggamus merupakan satu-satunya perupa yang dipastikan bakal mewakili Lampung dalam ajang pameran seni rupa dua tahunan itu.

Pameran akan dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Pameran itu akan menampilkan karya seni rupa berupa lukisan, patung, seni cetak, fotografi, video art, objek, instalation art karya seniman terpilih dari seluruh Indonesia.

Nurbaito akan menaja karyanya bertajuk Imaji Ornamen Terapan bersama 153 perupa yang lolos seleksi dan perupa undangan Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 ini. Pameran akan digelar di Galeri Nasional, Jakarta, mulai 10—29 Mei 2011.

Para perupa yang akan menampilkan karyanya ini merupakan hasil undangan tim kurator Galeri Nasional Indonesia dan hasil seleksi dari sekitar 550-an proposal yang aplikasi masuk ke panitia.

"Mereka yang yang telah tersaring sebagai seniman peserta pameran itu berasal dari 24 provinsi di Indonesia," ujar kurator pameran, Kuss Indarto.

Menurut Kuss, jalur seleksi yang dilakukan panitia karena adanya aspek keruangan Galeri Nasional Indonesia. Selain itu, lanjut pengelola situs Indonesia Art News ini, penyeleksian juga merupakan upaya untuk memberi ruang pencapaian estetik.

Pameran mengusung tajuk Imaji Ornamen ini juga harus mengusung misi dan visi GNI, antara lain memberi dukungan dan kesempatan bagi perupa dari berbagai kawasan di Indonesia untuk berpameran. "Tetapi, pola seleksi tetap mempertimbangkan aspek representasi atas kuantitas provinsi di Indonesia," kata Kuss. (ZUL/D-3)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 12 Mei 2011

April 17, 2011

[Inspirasi] Perjalanan Rifa Bersama Para Maestro Lukis

RIFA baru duduk di kelas V di SD Alkautsar, Bandar Lampung, tapi segudang prestasi sudah diraihnya. Baik di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional.

Prestasi terbaru Rifa Nabila Putri menjadi peserta tamu dalam Adventure Lampung Art 2011, di Taman Budaya Lampung, beberapa waktu lalu.

Rifa mengaku darah seni mengalir begitu saja. Padahal kedua orang tuanya, Supriyadi dan Rohyati Sari, bukanlah pegiat seni. Sejak usia dua tahun, Rifa kecil memang sudah terlihat bakat seninya. Dia suka mencorat-coret kertas pekerjaan ibunya yang kini menjadi staf tata usaha di sebuah SMP Negeri di Maerbaumataram, Lampung Selatan.

"Kini Rifa sudah mulai melukis keindahan alam," kata gadis kecil itu, malu-malu.

Tanggal 4—5 April lalu, Rifa diajak maestro lukis dari Jerman, Swedia, Yogyakarta, Jakarta, Lampung, dan berbagai pelukis profesional dari Indonesia dan asia lainnya, dalam Camping Art. 2011, di Pantai Pegadung, Desa Kelumbayan, Tanggamus.

Sebagai pelukis cilik, Rifa memang tidak sendiri, dia ditemani Nabila Ayu, teman satu sekolahnya.

"Perjalanan empat jam yang melelahkan terbayar dengan panorama keindahan pantai Teluk Kelumbayan," kata putri pertama dari dua bersaudara itu.

Ratusan piala hasil lomba mewarnai dan melukis yang dilakoninya sejak duduk di taman kanak-kanak sudah menyesakkan rumahnya di Way Huwi, Lampung Selatan. Namun, hal itu tidak membuahkan kesombongan dan kepuasan diri dalam diri Rifa. Padahal, dia sendiri telah meraih Best Indrowing dalam lomba nasional menggambar di Jakarta tahun 2007.

Saat masih duduk di TK (2006), Rifa sudah mengikuti lomba mewarnai tingkat internasional di Tangerang. Walaupun tidak juara, Rifa mampu menjadi nominasi sebagai 10 lukisan terbaik peserta lomba.

"Hal yang membanggakan diundang sebagai peserta tamu dalam Adventure Lampung Art 2011 dan Camping Art. 2011. Karena dalam kegiatan itu kita dianggap profesional dan mampu satu panggung dengan pelukis-pelukis profesional dari dalam dan luar negeri," kata dia.

Satu mimpi yang belum terwujud sebelum Rifa menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah dasar. Dia ingin menggelar pameran lukisan dan meleleng lukisan-lukisannya.

Sebuah niatan aman, baik, dan tulus akan dia lakukan dalam pameran dan lelang lukisan itu. Uang hasil lelang dan penjualan lukisan akan dia berikan kepada pamannya yang mengalami cacat di wajah dan sebagian tubuhnya akibat terkena setrum tegangan tinggi saat menjalankan tugas mencari nafkah.

"Rencananya uang hasil lelang akan Rifa berikan kepada Ayah Firmansyah, yang kini membutuhkan biaya operasi face off akibat kecelakaan yang dialaminya," kata Rifa, haru.

Gadis kecil kelahiran Bandar Lampung, 20 April 2011 ini, juga berjiwa sosial. Banyak hadiah yang dia raih, seperti meja belajar, tas, buku, dan uang, dia sumbangkan ke anak-anak kurang mampu dan panti sosial. Apalagi setiap memenangkan lomba melukis, Rifa selalu mendapat uang, trofi, dan hadiah lainnya.

"Rifa diajarkan untuk selalu menolong dan memberi, terutama bagi teman-teman yang kurang mampu. Sebagian hadiah Rifa tabung untuk melanjutkan sekolah nanti," kata dia.

Ditanya soal keikutsertaanya dalam Camping Art. 2011, Rifa mengaku bangga dan terpesona dengan ciptaan yang Mahakuasa. Ternyata, kata dia, Lampung memiliki potensi wisata yang sangat indah, dengan panorama alam yang menakjubkan. Salah satunya Pantai Pegadung, Kelumbayan, Tanggamus.

"Kami diberi kebebasan melukiskan ciptaan Tuhan ke atas kanvas. Rifa berharap kegiatan seperti ini dapat diadakan di lokasi wisata lainnya. Tujuannya, selain menyalurkan jiwa seni di atas kanvas, kita juga dapat merenungi, menghargai, dan menjaga ciptaan Allah itu," kata dia.

Ditanya apakah Rifa tertarik dalam dunia jurnalistik yang sudah cukup banyak mengabadikan namanya dalam dunia mewarnai dan melukis, Rifa mengaku sangat ingin. Terlebih dia juga suka mengarang dan menulis. Namun, kesempatan menjadi reporter cilik belum dia dapatkan. "Mudah-mudahan, tahun depan Rifa bisa bergabung dengan reporter cilik Lampung Post," kata dia bersemangat. (LUKMAN HAKIM/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 April 2011

March 28, 2011

Perupa Jerman Ramaikan Camping Art

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tujuh perupa dari Jerman dan tujuh perupa dari Yogyakarta dipastikan ikut dalam Camping Art 2011 yang dilaksanakan Dewan Kesenian Lampung (DKL) di Pantai Pegadung, Kelumbayan, Tanggamus, pada 4—6 April mendatang.

Ketua Komite Seni Rupa DKL, Salvator Yen Joenaidi, mengatakan kegiatan ini untuk meningkatkan tali silaturahmi antarperupa, mengeksplorasi keindahan alam Lampung, sekaligus meningkatkan apresiasi dan energi dalam berseni.

"Kemah seni ini merupakan gebrakan awal kepengurusan Dewan Kesenian Lampung 2010-2011," kata dia.

Dalam event ini, DKL akan memperkenalkan kepada perupa Jerman dan Yogyakarta salah satu pemandangan Lampung yang elok di pantai Pegadung yang berada di kawasan Tanggamus.

"Ini salah satu langkah seniman dalam upaya menumbuhkembangkan dunia pariwisata Lampung. Jadi, setelah kembali, mereka tak hanya cerita tentang Jakarta, Bandung, Yogyakarta, tetapi mereka juga bisa bercerita tentang keindahan Lampung atau juga melalui karya rupa mereka," ujar Yen.

Menurut Yen, para perupa dari Jerman dan Yogyakarta tersebut tergabung dalam Crossing Sign Project yang melakukan road show ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Lampung.

Mereka antara lain Paul Pretzer, Ulrike Stolte, Yasmin Alt, Tilman, Fee Vogle, Franziska Fennet, Cosima Tribukeit.

Sementara seniman Yogyakarta adalah Deni Rahman, Rifki Sukma, Lashita Situmorang, Sigit Bapak, Indra Dodi, Lenny Ratnasari Weichert, dan Edo Pillu.

Ketua Umum DKL Syafariah Widianti mengatakan lewat Camping Art tersebut diharapkan para seniman seni rupa Lampung bisa menjalin silaturahmi dan mengenalkan keindahan Lampung ke dunia lewat karya seni.

"Ini sebuah kesempatan yang baik bagi kita untuk membuat jejaring dengan dunia Internasional. Mudah-mudahan kita bisa berbagi pengalaman, kali ini dengan seniman Jerman dan Yogyakarta, di waktu lain lain dengan seniman negara lain," ujar Atu Ayi, sapaan akrab ketua DKL.

Sebelum ikut dalam Kemah Seni di Tanggamus nanti, para perupa itu akan menggelar presentasi dan artist talk di Taman Budaya Lampung pada 4 April mendatang. (MG13/D-2)

Sumber: Lampung Post, Senin, 28 Maret 2011

March 4, 2011

Rangkaian Gerbong Seni Rupa Lampung

Oleh Salvator Yen Joenaidy


SEBUAH rangkaian kereta akan sampai di mana? Di Kotabumikah atau di Kertapatikah? Itu tergantung dari beberapa unsur, antara lain bagaimana kekuatan lokomotif sebagai faktor kunci penggeraknya. Perlu pula dicermati, diteliti, juga sejauh mana kekuatan/keeratan mata rantai penyambung di antara masing-masing gerbongnya. Apalagi jika rangkaian gerbong tersebut sudah sedemikian panjang, dengan berbagai kondisi. Ada yang per pegasnya patah, ada yang as rodanya bengkok, dan lain-lain. Yang pasti, perlu kerja ekstrakeras untuk persiapan sebelum rangkaian gerbong panjang tersebut bergerak melaju.

Perumpamaan rangkaian gerbong tersebut adalah situasi kesenirupaan di Lampung beberapa dekade terakhir ini. Rangkaian gerbong seni rupa terputus-putus bercerai berai dengan kendalanya masing-masing, sehingga jangankan bisa bersama diberangkatkan ke satu titik tujuan yang jauh, untuk tersatukan menjadi suatu rangkaian pun terlalu sulit tampaknya. Tapi, tidaklah perlu kita mencari siapa kambing hitam di dalam stasiunnya. Teknisinya, administratornya atau siapa?

Pergantian kepengurusan "stasiun", termasuk di dalamnya Devisi Seni Rupa Lampung baru saja selesai dilaksanakan, yaitu dalam Musyawarah Dewan Kesenian Lampung (DKL), 16 Februari 2011. Tugas masinis baru menjalankan roda lokomotif membawa gerbong rangkaian panjang diharapkan bisa menggapai posisi sampai pada stasiun terjauh. Hal tersebut tentu memerlukan kerja sama yang harmonis dan "positif" antara sesama kru. Mustahil bisa dilaksanakan sang masinis seorang diri.

Menjadi seorang pelukis adalah suatu pilihan profesi, walau jujur saja di negeri tercinta ini nasib pelukis masih sangat "terabaikan". Hanya segelintir pelukis yang kebetulan mendapatkan keberuntungan bisa hidup dengan layak dan cukup. Selebihnya pelukis-pelukis Indonesia hidup dalam keterpurukan terseok-seok. Namun, semua itu adalah esensi dari pilihan hidup yang tak perlu diperdebatkan.

Maka, sudah waktunya, kini kita bersama menyatukan energi dalam pengembangan seni rupa Lampung ke depan, hingga menciptakan pasar wacana dan wacana pasar. Kita harus membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang menjadikan penghambat perjalanan karena sesungguhnya Lampung menyimpan potensi yang andal dalam kancah kesenirupaan.

Melihat kondisi seniman rupa sangat ironis, miris, dan menyedihkan. Namun, ini fakta terjadi di Lampung ini. Ada beberapa pelukis yang menjelma profesi menjadi penggembala itik, petani singkong, dan lomba/aduan burung dara (lazim disebut tomprang burung). Lagi-lagi tidak perlu apa dan siapa yang harus dipersalahkan.

Mari bersama kita mulai menata diri dalam membangun dimensi baru. Kita perbaiki perspektif cara pandang agar seni rupa Lampung menjadi gradasi kekuatan dahsyat dan pasir-pasir bertebaran ini kita satukan menjadi kekuatan tonggak batu karang yang kokoh, tahan terhadap berbagai hempasan badai gelombang. Kekuatan seni rupa Lampung bukanlah sekadar wacana mimpi ideoplastis. Kita buktikan secara nyata dalam implementasinya.

Salvator Yen Joenaidy
, Pelukis

Sumber: Lampung Post, Jumat, 4 Maret 2011

February 26, 2011

Mata Uang Ke-seni(rupa)-an

Oleh Syaiful Irba Tanpaka


PADA 17 Februari lalu saya mengikuti diskusi di Taman Budaya Lampung (TBL) sekaitan dengan Pameran Lukisan Lampung Art Adventure 2011 yang memajang karya pelukis Lampung dan Jakarta, yakni Syahnagra Ismail, Salvator Yen Joenaidy, Atuk, Semut Prasidha, dan Lilis Suryati Syahputeri. Suatu pameran yang didedikasikan untuk mempertemukan antara seni, pariwisata, dan kebudayaan yang bertumpu pada potensi-potensi alam dan kearifan lokal daerah Lampung sebagaimana sambutan Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata, Sapta Nirwandar, yang tertulis dalam katalog pameran.

Diskusi dengan tajuk Mengancang Masa Depan Jagat Seni Rupa di Lampung itu menghadirkan narasumber Syahnagra Ismail dan pengamat seni rupa Christian Heru Cahyo Saputro yang telah merangkum pemikirannya dalam tulisan yang diterbitkan Lampung Post, 19 Februari 2011.

Dengan audiens yang cukup merepresentasikan berbagai kalangan terkait, seperti para pelukis, pengelola Menara Siger, pengurus Dewan Kesenian Lampung (DKL), pengelola galeri, kalangan guru serta pihak swasta lainnya; diskusi yang dipandu Kepala TBL Helmi Azhari itu mencoba mengancah persoalan-persoalan yang selama ini "menempurungi" perkembangan jagat seni rupa khususnya dan kesenian pada umumnya.

Dari perbincangan yang berlangsung segar dan menarik dalam diskusi itu, saya menyimpulkan dua hal pokok sebagai modal membangun masa depan ke-seni(rupa)-an di Lampung. Sengaja saya menuliskan kata ke-seni(rupa)-an dengan maksud bahwa wacana ini selain secara khusus ditujukan untuk bidang seni rupa, tapi juga terbuka sebagai wacana membangun dunia kesenian secara umum.

Kedua hal pokok itu adalah energi dan sinergi. Seperti yang dilontarkan Syahnagra bahwa seorang pelukis (baca: seniman) harus selalu memiliki energi untuk menghasilkan karya-karyanya. Energi untuk menghayati setiap momen kehidupan sebagai sumber inspirasi, energi untuk terus mencari menemukan dan mengasah konsepsi estetiknya, yang dikatakan Christian Heru sebagai potensi sumber daya manusia.

Dalam pandangan saya bahwa energi merupakan faktor internal yang memiliki pengaruh mendasar bagi setiap perupa dan seniman umumnya dalam suatu proses kreatif. Karena itu wajib dijaga dan dipelihara untuk melahirkan kegelisahan demi kegelisahan berkarya secara konsisten. Menelantarkan energi serupa ini sesaat saja sama dengan membuang kesempatan berharga untuk mengekspresikan diri. Maka risiko yang paling mungkin adalah minimnya kreativitas dan produktivitas.

Dalam ranah seni rupa berarti memperpanjang waktu untuk sampai pada pengenalan eksistensi diri melalui pameran tunggal. Ini menjadi satu persoalan tersendiri bagi para perupa di Lampung yang mengemuka dalam diskusi karena ternyata bisa dihitung dengan jari perupa yang sudah memiliki lebih dari 50 karya. Sementara di daerah-daerah lain, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali diungkapkan Christian Heru sudah berorientasi pada pameran dan membidik pasar lewat balai lelang.

Dengan kata lain bahwa energi kreatif ini belum menyala dengan baik di tungku perapian kreativitas para perupa Lampung. Tentu akibatnya berpengaruh pada persoalan profesionalisme. Sebab, bagaimana bisa kita bicara profesionalisme bagi para kreator dengan energi kreatif yang hidup segan mati tak mau?

Hal kedua adalah mengenai sinergi. Ini merupakan faktor eksternal, lantaran sudah bicara mengenai menejerial dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pada titik ini harus ada komunikasi dua arah yang bersimbiosis mutu alistis. Pihak-pihak terkait mestilah sama-sama berperan secara aktif untuk membangun sinergisitas dalam satu visi membangun ke-seni(rupa)-an di Lampung. Baik itu pihak pemerintah daerah yang diwakili dinas instansi terkait, lembaga kesenian, seperti DKL, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Lampung, pihak-pihak swasta, museum dan galeri, guru-guru kesenian maupun kalangan perupa sendiri.

Selama ini bukan tidak terjalin kemitraan di antara unsur-unsur itu, melainkan kemitraan yang terjadi mayoritas masih bersifat parsial. Artinya setiap unsur itu belum secara bersama-sama membangun komitmen untuk mencerahkan masa depan ke-seni(rupa)-an.

Padahal jika sinergi itu terjadi secara terpadu merupakan peluang yang potensial menyongsong pengembangan ekonomi kreatif yang dapat diandalkan menjadi alternatif peningkatan pendapatan nasional, seperti yang telah dibuktikan pemerintahan Inggris yang dikenal sebagai pelopor pengembangan ekonomi kreatif.

Maka layak dipertimbangkan memprakarsai unsur-unsur itu untuk bersama-sama membentuk satu komitmen membuat rantai sinergi. Bagaimana misalnya membangun hubungan antara perupa dan lembaga kesenian yang ada, antara perupa, museum, dan galeri, antara perupa dan guru-guru kesenian, antara lembaga kesenian, museum, dan galeri, dst.

Dengan demikian, antara energi (internal) dan sinergi (eksternal) akan menciptakan sekeping mata uang yang memberikan nilai lebih bagi jagat ke-seni(rupa)-an, baik secara intrinsik maupun nominal.

Secara intrinsik merupakan nilai yang harus dibayar dalam memperjuangkan visi bersama sehingga setiap unsur dapat bermitra dengan harmonis. Sedangkan hasil yang dicapai dari kemitraan (sinergisitas) itu menjadi harga nominal yang bisa dinikmati, berupa lahirnya karya-karya seni rupa yang berkualitas. Peningkatan apresiasi masyarakat (kolektor) dan kalangan pelajar, adanya pameran tunggal atau bersama secara berkala, bergairahnya kehidupan museum dan galeri, dan naiknya harga karya-karya seni rupa.

Untuk itu, diperlukan pertemuan-pertemuan yang digagas melalui pameran dan diskusi yang dapat membuka distribusi pemikiran yang saling menggairahkan sebagai pemantik era baru yang diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah klasik dan elementer. Tabik pun. n

Syaiful Irba Tanpaka, Sastrawan

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 26 Februari 2011

February 19, 2011

Masa Depan Seni Rupa Lampung

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

KETIKA kita membincangkan masa depan jagat seni rupa Lampung, kita harus berhadapan dengan potensi yang dimiliki Lampung. Dalam hal ini tentunya perupa sebagai sumber daya manusia sebagai modal utama.

Menurut kurator dan kritikus seni rupa almarhum Mamannoor, jagat seni rupa Lampung sangat potensial. Lampung kaya ragam rupa lokal yang bisa dijadikan ikon, salah satunya ragam hias tapis. Mestinya perupa mau menyelami ragam budaya yang dimiliki Lampung untuk mewarnai karyanya dengan spirit of Lampung ((roh ke-Lampung-an).

Selain itu, Lampung juga kaya pesona alam, baik berupa keindahan pantai maupun bentang alam serta flora dan fauna. Yang bisa menginspirasi para perupa untuk “mengkanvaskan” kearifan lokal dan keindahan yang memesona menjadi nilai tambah (value added) dalam karya rupanya.

Kang Maman pernah memberi sentuhan pada perjalanan jagat seni rupa Lampung. Jagad seni rupa Lampung pada waktu itu mengalami kemajuan signifikan. Tak hanya dalam karya, juga dalam olah wacana. Upaya yang dilakukan, selain gelar karya, diskusi, dan dialog pun menjadi ajang mengolah rasa juga tempat menggodok berbagai gagasan.

Selain itu, perkembangan jagat seni rupa Lampung tidak terlepas dari berbagai macam elemen pendukung yang hadir menjadi infrastruktur dari sebuah medan sosial seni. Di antaranya lembaga-lembaga seni, seperti Taman Budaya, Museum, Dewan Kesenian, institusi (akademi seni rupa), galeri, kritikus seni rupa, kurator, art dealer, dan kolektor. Masing-masing dari elemen yang disebutkan tadi berfungsi sesuai dengan porsinya (tufoksi) masing-masing.

Institusi akademi, mencetak calon seniman dengan menawarkan keberagaman karyanya, hingga akhirnya masuk ke dalam galeri yang dikemas dalam sebuah pameran dengan keterlibatan kurator di dalamnya.

Setelah itu, giliran publik yang mengapresiasi. Publik di sini berarti masyarakat umum yang di dalamnya terdapat wartawan, kritikus, kolektor, pengamat, dan masyarakat awam.

Wartawan, kritikus, dan pengamat menjalankan fungsinya melalui media menginformasikan dan mengapresiasi karya yang ditaja. Sedangkan kolektor menyerap karya dengan membeli dan mengoleksi sebuah karya dari seorang seniman pada sebuah pameran (pasar).

Ilustrasi di atas menggambarkan alur dari proses transaksi ekonomi dan juga transaksi kultural (pembelajaran) dalam jagat seni rupa seniman, galeri, kurator, kritikus, media, dan kolektor akhirnya membentuk mekanisme dari sebuah pasar dalam dunia seni. Semua saling berhubungan dan saling menguntungkan (simbiose mutualisme).

Sebagus apa pun kondisi pasar, tidak akan bertahan lama apabila tidak disertai dengan penyebaran informasi dan pengembangan pengetahuan (transaksi kultural) akan mekanisme pasar bagi calon pengelola galeri, seniman, kurator, kritikus, pengamat dan kolektor. Jadi, ajang pameran bukan hanya sebagai pasar transaksi ekonomi (wacana pasar), melainkan juga sebagai pasar wacana, yaitu tempat pembelajaran kultural alias ngangsu kawruh.

Juga sejauh mana kurator, kritikus, pengamat, dan wartawan yang ada dapat berperan dengan memberikan pengetahuan atau informasi yang cerdas bagi pengapresiasi.

Perkembangan seni rupa di Lampung tidak diimbangi infrastruktur pendukung, antara lain gedung pameran yang representatif, sekolah tinggi kesenian, kolektor, dan galeri.

Lampung belum memiliki tokoh seni rupa (lokal) yang bisa dijadikan panutan yang punya gagasan-gasan cerdas dan memiliki jejaring dengan poros-poros seni rupa yang ada diberbagai kota dan mancanegara.

Kendala lainnya, yang dihadapi perupa Lampung adalah sulitnya memperoleh prasarana garap seni rupa, seperti kanvas, cat minyak, apalagi untuk material patung, grafis, dan kriya seni.

Persoalan lainnya yang juga penting, Lampung juga tidak memiliki kritikus seni rupa yang mengangkat persoalan-persoalan jagat seni rupa Lampung ke pentas nasional. Lampung juga belum memiliki galeri yang representatif dan memiliki kurator, yang ada baru sebatas studio gallery dan art dealer.

Sedangkan sponsor dalam jagat seni rupa Lampung masih menjadi kendala. Para sponsorship lebih tertarik menyokong pergelaran musik dan olahraga ketimbang seni (rupa). Ke depan ini merupakan pekerjaan rumah untuk menciptakan stakeholder yang mau mendukung event seni rupa.

Ini mungkin salah satu yang membuat perupa Lampung kurang fight berkompetisi dalam berkarya untuk menancapkan eksistensi dengan berpameran tunggal (solo exibition).

Persoalan karya baik secara kuantitas maupun kualitas juga menjadi kendala bagi perupa Lampung untuk bersaing di ranah seni rupa nasional.

Sedangkan media yang diharapkan bisa mendongkrak dunia rupa belum sepenuhnya mendukung publikasi yang apresiatif. Publikasi yang membangun agar para pelaku yang berkubang di jagat seni rupa menjadi kreatif dan cerdas. Di Lampung kuratorial pameran pun juga masih menjadi persoalan penting.

Padahal peran kurator sangat penting agar pameran punya konsep yang jelas dan tak sekadar ramai-ramai mengusung karya.

Ke depan, Lampung sangat membutuhkan institusi pendidikan seni rupa yang berfungsi menjadi semacam penjaga gawang agar institusi pendidikan sebagai salah satu infrastruktur dari sebuah konstelasi dunia seni rupa dapat memberikan kontribusi dalam membangun suprastruktur yang lebih baik dan sehat.

Dalam artian, ke depan sangat dibutuhkan keterbukaan dari setiap elemen yang ada di dalamnya. Yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa perkembangan dalam jagat seni rupa di Lampung secara khusus harus disikapi dengan sikap terbuka oleh seluruh elemen yang ada di dalamnya.

Keterbukaan adalah hal yang wajib dalam arti penyebaran informasi, pengembangan, penelitian seni rupa, dan edukasi seni. Demi kemajuan jagat seni rupa Lampung, keterbukaan adalah nilai-nilai yang tidak bisa ditawar dan kita abaikan. Semuanya adalah harapan yang ditumpukan pada setiap insan yang peduli dan punya "kegelisahan" akan nasib dunia seni rupa Lampung di masa depan.

Kita masih harus belajar banyak dari para perupa daerah lain Jakarta, Bandung, Yogya, dan Bali. Perupa daerah lain sudah berorientasi berpameran dan membidik pasar lewat balai lelang bergengsi di mancanegara. Sedangkan perupa Lampung masih tertatih beringsut bak siput tersandung masalah-masalah klasik dan elementer.

Di ranah seni rupa nasional Lampung baru sebatas “penonton”. Mari kita bersama menata diri untuk membangun jagat seni rupa Lampung agar setara dan bisa duduk sejajar dengan daerah lainnya.

Mak gham siapa lagi. Mak ganta kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi.

Christian Heru Cahyo Saputro, Pengamat Seni Rupa, tinggal di Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 19 Februari 2011

February 18, 2011

Pameran Rupa: 'Biar Gayus Korupsi, Seniman Jangan'

BANDAR LAMPUNG—Dunia kesenian adalah dunia bersih. Karena itu tidak boleh dicemari. "Biarkan Gayus-Gayus korupsi. Tapi, seniman jangan," kata perupa Syahnagra Ismail dalam diskusi bertema Mengancang jagad seni rupa Lampung di Taman Budaya Lampung (TBL), Kamis (17-2).

DISKUSI SENI RUPA. Pelukis Syahnagra Ismail (tengah) tengah berbicara dalam diskusi Mengancang Jagad Seni Rupa Lampung di Taman Budaya Lampung (TBL), Kamis (17-2). Pembicara lain pengamat seni rupa Christian Heru Cahyo Saputro (kiri) dengan moderator Helmi Azhari (kanan). (LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMALA)

Diskusi yang dimoderatori Helmi Azhari ini diselenggarakan dalam rangkaian pameran lukisan Lampung Art Adventure 2011 yang berlangsung hingga 20 Februari. Lima perupa yang memamerkan lukisan adalah Syahnagra Ismail, Salvator Yen Joenaidy, Lilis Suryati Syahputeri, Atuk, dan Semut Prasidha.

Menurut Syahnagra, kesenian harus dibangun dengan energi. Cara membangun energi bisa mencontoh Raden Saleh. "Ketika menghadapi tekanan Belanda, dia (Raden Saleh) pacari wanita Belanda," kata Syahnagra.

Dia mengatakan seniman tidak perlu menunggu ilham untuk berkarya. Pria kelahiran Telukbetung, 18 Agustus 1953, itu mengajak pelukis Lampung membangun semangat artistik. Semua dari alam.

Meskipun demikian, Syahnagra mengakui zaman telah berubah, pelukis yang mulai jarang menggambarkan keindahan alam. Dalam suasana kontemporer sekarang, dia meminta seniman mesti cerdas melihatnya. "Dari alam saya lihat dialog-dialog. Saya lihat garis-garis," ujarnya.

Kesenian itu, kata dia, tidak bisa tumbuh tanpa keringat. Wawasan seniman bisa diasah dengan perpustakaan. "Karena perpustakaan bisa meluruskan pemikiran-pemikiran," ujarnya.

Menurut warga Kompleks Poris A2-15 Pondok Gede, Jakarta, itu kelemahan seni rupa terletak pada event. Dibandingkan karya sastra, seniman lukisan jarang mengadakan acara. Di Lampung, seni rupa nyaris tidak ada gerakan. "Saya prihatin ketika datang ke Pasar Seni, Enggal. Berumput. Jorok," kata Syahnagra menyayangkan.


PERUPA kawakan ini meminta pelukis di Lampung membentuk organisasi seni rupa. Lalu, pengurusnya dipilih dengan orang-orang yang punya prestasi. "Jangan baru menyelam ngakunya seniman. Ini bisa merusak tatanan," kata Syahnagra yang menegaskan pentingnya pameran tunggal bagi seniman.

Masalah lain, menurut dia, tak kalah pentingnya adalah menghilangkan semangat proyek di kalangan seniman. Sebab, hal tersebut menyebabkan seniman kehilangan identitas. "Biarkanlah itu ada di Dewan Kesenian. Tapi, jangan sampai semangat proyek ada di batin kita," kata dia.

Pembicara lain, Christian Heru Cahyo Saputro, memandang masa depan seni rupa Lampung tidak terlepas dari sumber daya manusianya. "Kita sebagai seniman yang dilihat adalah harganya. Tapi, hidup adalah pilihan," ujarnya.

Lampung, kata Heru, sangat potensial bagi pengembangan seni rupa. Hal tersebut bisa dibuktikan dari ragam tapis, bentang alam seperti Teluk Kiluan dan tarian lumba-lumba. "Ini siapa yang menjual? Kita bisa menawarkan Lampung ke dunia," kata dia.

Masalah lainnya soal seni rupa ialah sponsor. Pihak sponsor lebih memilih musik atau olahraga ketimbang seni rupa. "Pameran lukisan bukan semata transaksi ekonomi. Tapi, juga transaksi multikultural. Bagaimana menjadikan masyarakat supaya cerdas," kata Heru.

Surip, salah satu peserta diskusi menimpali. Guru Taman Siswa itu berterus terang tidak mengerti seni rupa. Namun, dia sedih bila seni rupa tidak dilestarikan. Sebab, anak-anak yang notabene penerus bangsa tidak mengenal kesenian. Surip menyarankan seni lukis diajarkan di sekolah-sekolah.

Menurut Surip, mestinya ada anggaran untuk Taman Budaya supaya dapat menggerakkan seniman. "Cuma saya enggak ngerti masalah anggaran karena saya bukan orang negara," kata Surip polos disambut tepuk tangan dan gelak tawa peserta diskusi. Baginya, sangat aneh bila seorang seniman tidak mengadakan pentas.

Menanggapi hal itu, Syahnagra mengatakan di Amerika para seniman dilindungi dengan undang-undang. Di sana, guru-guru lukis adalah seniman. "Paling tidak di Lampung mari kita buat seniman menjadi guru-guru TK, SD, SMP, dan SMA. Sudah tidak zaman lagi seniman merendah untuk menjual karyanya," kata dia. (HENDRY SIHALOHO/P-1)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 18 Februari 2011

February 16, 2011

Pameran Lukisan: Rekam Denyut Dusun Tengor di Tanggamus

BANDAR LAMPUNG -- Lima pelukis, tiga dari Lampung dan dua asal Jakarta, melakukan perjalanan ke Pekon Tengor, Putihdoh, Kabupaten Tanggamus, akhir Januari lalu.

Mereka ingin menyatu, merekam denyut nadi, dan merasakan rasa hati warga desa tak berlistrik dan tanpa televisi itu untuk kemudian dikibaskan ke atas kanvas. Mereka adalah Syahnagra Ismail, Atuk, Yen Joenaidy, Lilis Suryati, dan Semut Prashida.

Lima jam perjalan dengan van cukup melelahkan. Jalur Gedongtataan, Kedondong, dan seterusnya hingga menembus laut itu adalah tantangan sekaligus spektakulasi. Jalan sempit beraspal buruk, tikungan meliuk, tanjakan terjal, turunan curam, dan sejumlah hambatan. Namun, kearifan lokal dan pemandangan alamiah menjadi penyeimbang.

Meskipun berat, alam Tengor tak mengecewakan. Pantai berpasir putih, debur ombak, batu karang di laut, dan laut biru bersih adalah tebusan. Masyarakat alamiah begitu ramah meskipun tinggal di rumah-rumah yang mengundang desah.

Lampung Post tidak serta dalam ekspedisi tiga hari itu. Namun, memandangi 66 lukisan hasil karya mereka di “pertapaan” yang dipamerkan mulai hari ini (16-2) di Taman Budaya Lampung, cukup mewakili deskripsi tentang Tengor. Dengan tajuk Lampung Art Adventure 2011, mereka menggelar hasil ekspresi tentang Tengor di atas kanvas.

“Ada satu pelukis tamu yang kami ajak. Namanya Rifa Nabila Putri. Umurnya baru 11 tahun,” kata Syahnagra di sela-sela persiapan pameran, kemarin.

Menyimak lukisan mereka, terlihat napas kebebasan para perupa berekspresi. Syahnagra, pelukis kelahiran Telukbetung yang telah menasional, mempertahankan gaya impresifnya meski disuguhi objek lukisan natural.

Ia tampak lebih tertarik dengan kerumuk rumah-rumah bersahaja tempat bersatunya keluarga-keluarga dalam komunitas yang tenteram. Beberapa menara masjid ditonjolkan sebagai identitas rasa bahagia yang tak terukur dengan materi.

Perupa Atuk terasa lebih menikmati adventure. Dua lukisan pertama digarap naturalis dengan proporsi anatomi yang cukup baik. Ia sepertinya berdecak dan langsung menggoreskan kuasnya begitu melihat alam yang demikian memukau. Namun, pada empat lukisan lainnya, ia terhanyut pada motif-motf dan simbol-simbol yang ditangkap dari Tengor.

Sama dengan Atuk, Yen Joenaidy terlihat benar-benar merekam keindahan alam Tengor. Sedangkan muridnya, Lilis, begitu menikmati suasana. Ada sunset dengan warna jingga yang membakar, ada siluet kelam, dan beberapa pemandangan.

Sedangkan Semut Prashida mencomot realitas yang ia tangkap untuk kemudian berusaha direkonstruksi dengan imajinasinya yang kuat. Ini terlihat dari lukisan impresif dengan latar depan lautan luas yang di tengahnya ada feri dengan asap putih tebal sedang melaju.

Tengor, desa nun di ujung Tanggamus dan berhadapan di Teluk Semaka itu menjadi subjek yang mendamaikan. “Saya bangga dengan warganya yang tetap cerdas, meskipun jauh dan tanpa televisi. Saya pikir, kita rusak justru karena televisi,” kata Syahnagra. (SUDARMONO/D-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 Februari 2011

February 14, 2011

Seni: Lima Perupa Pameran Bersama

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lima perupa akan menggelar karyanya dalam pameran bersama di Gedung Pamer, Taman Budaya Lampung, 16—21 Februari mendatang.

Perupa Salvator Yen Joenaedy mengatakan lima perupa yang akan menggelar karyanya, yaitu Syahnagra Ismail, Salvator Yen Joenaedy, Semut Prasidha, Atuk, dan Lilis Suryati.

Selain itu, juga akan ditampilkan karya pelukis cilik Rifa Nabilah Putri (11), murid SD Al Kautsar. Rifa merupakan pelukis cilik yang sering mengantongi juara Lomba lukis daerah dan nasional.

Perupa yang pernah masuk finalis Philip Morris Award yang menggagas kegiatan ini mengatakan para perupa berikhtiar menganvaskan serta mengangkat potensi ekonomi dan pariwisata berupa kawasan pantai dan bentang alam di Kabupaten Tanggamus.

"Kabupaten Tanggamus ini memiliki bentang alam dan garis pantai elok dan masih perawan. Potensi bentang alam dan keindahan di kawasan ini, layak untuk diabadikan dalam kanvas. Ini bisa dijadikan promosi pariwisata Lampung umumnya, Kabupaten Tanggamus khususnya," kata pemilik Gallery Bentara Seni Lampung ini.

Diskusi

Berkaitan dengan event ini akan digelar diskusi di Taman Budaya Lampung, Rabu (17-2). Diskusi kreatif yang mengusung tema Merancang masa depan jagat seni rupa Lampung itu akan menghadirkan pembicara Syahnagra Ismail (perupa) dan Christian Heru Cahyo Saputro (pengamat seni rupa) dipandu langsung oleh Kepala Taman Budaya Lampung Helmi Azhari.

Perupa kelahiran Lampung, Syahnagra Ismail, yang sudah melanglang dan pameran di mancanegara yang juga ikut dalam event ini mengatakan Lampung memiliki pantai dan lanskap yang indah dan masih alami. "Saya akan berusaha mengampanyekan keindahan Lampung ke kawan-kawan di mancanegara," ujarnya.

Nagra mengatakan event LACP dan pameran ini bisa dijadikan agenda tahunan, pesertanya tentunya tak terbatas untuk pelukis Lampung. "Kita bisa mengundang pelukis dari daerah lain dan mancanegara. Membangun jejaring sekaligus mempromosikan Lampung." (MG14/K-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 14 Februari 2011

January 18, 2011

Perupa Lampung Gelar Kemah dan Melukis Bersama

Bandarlampung, 18/1 (ANTARA) - Para seniman seni rupa (perupa) Lampung siap menggelar acara petualangan, kemah, dan melukis bersama, (Lampung Adventure Camp and Painting (LACP) Event.

Penggagas kegiatan itu, Salvator Yen Joenaidi, menjelaskan di Bandarlampung, Selasa, kegiatan ini akan digelar di kawasan antara lain di pantai Tengor, Putih Doh, dan Kilauan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, pada 27?29 Januari 2011.

Yen Joenaidi, perupa yang pernah masuk finalis "Philip Morris Award" ini mengatakan, keinginannya untuk mengangkat potensi ekonomi dan pariwisata itu mendapat sambutan dari perupa asal Lampung, Syahnagra Ismail, yang kini bermukim di Jakarta.

Dia menilai bahwa Kabupaten Tanggamus, Lampung memiliki pantai-pantai yang elok dan masih perawan. "Indahnya pantai Tengor dan eksotinya tarian lumba-lumba pantai Kilauan, kalau dikanvaskan akan mengangkat citra pariwisata Tanggamus,? kata Yen.

Para perupa yang ikut menyemarakkan "Lampung Adventure Camp and Painting" Event ini merupakan para perupa yang punya misi bersama untuk mengangkat dunia senirupa Lampung. Kegiatannya berupa perjalanan (trip) menikmati alam, kemah, dan melukis bersama.

"Selain untuk ajang silaturahim, kegiatan ini juga untuk ajang diskusi dan bertukar wawasan untuk mendongkrak kreatifitas," kata Yen menambahkan.

Beberapa perupa sudah siap ikut ajang ini, antara lain Salvator Yen Joenaidi, Wiradi, dan Atuk.

Menurut rencana, perupa asal Lampung di Jakarta, Syahnagra akan berangkat dari Jakarta dengan beberapa perupa lainnya.

"Untuk para perupa yang berminat bisa menghubungi Yen Joenaidi HP 08127909252, atau email: yen_joenaidy@yahoo.com," katanya lagi.

Pelukis kelahiran Telukbetung, Syahnagra, mengatakan, kegiatan semacam ini bisa untuk membangun jaringan, menghargai lingkungan, dan melahirkan perdebatan-perdebatan yang inspiratif.

"Event ini merupakan salah satu langkah untuk menempa dan membentuk watak dan karakter," ujar pelukis yang sudah melalanglang berpameran ke mancanegara ini.

Bahkan, katanya pua, ke depan biasa dibuat menjadi event Internasional dengan melibatkan pelukis nasional dan mancanegara.

"Kalau Bali punya event Ubud Writer's, kita bisa saja punya helat Kilauan Painter's atau apa pun namanya," kata Nagra menambahkan.

Sumber: Antara, Selasa, 18 Januari 2010