Showing posts with label sosok. Show all posts
Showing posts with label sosok. Show all posts

June 8, 2021

Jejak Udo Z Karzi di Dunia Jurnalistik hingga Dikenal sebagai Sastrawan

Oleh Resky Mertarega Saputri


Udo Z Karzi (Tribunlampung.co.id/Reskymerta)

HAMPIR sepanjang usianya Zulkarnain Zubairi yang dikenal dengan nama Udo Z Karzi hidup dari menulis. Dia juga sempat terjun ke dunia njurnalis.

Ia sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi SMA Negeri dan MAN di Liwa.

Udo Z Karzi pernah terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan lepas Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung pada tahun 1995-1996.

December 22, 2018

Atje Padmawiganda, “Medan Ra’jat”, dan Sejarah Pers di Lampung

Oleh Arman AZ


BEBERAPA tahun lalu, dalam buku lama terbitan Dinas P & K Provinsi  Lampung tahun 80-an, saya memergoki nama Atje Padmawiganda (selain Kamaroeddin dan Mas Arga, nama yang lebih dulu familiar dalam sejarah pers di Lampung) dan perannya dalam penerbitan koran di Lampung. Nama itu mengeram dalam memori saya karena nyaris tidak pernah terdengar.



Koran Medan Ra'jat, Soeara Lampoeng, Fadjar Soematera, dan Pengharapan Banten koleksi perpustakaan Universitas Leiden (Foto: Arman AZ)

Hingga akhirnya saya bersua lagi dengan nama Atje, kali ini lengkap dengan arsip koran Medan Ra’jat di Perpustaan Leiden, Belanda. Apa yang selama ini saya ketahui tentang masa-masa awal kehidupan pers di Lampung, ternyata belum lengkap dan berbeda (jika tak mau dibilang keliru atawa tidak tepat).

January 24, 2018

In Memoriam Daoed Joesoef

Oleh Udo Z Karzi


INNALILLAHI wainna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah seorang pemikir sosial-budaya.

Daoed Joesoef
Daoed Joesoef meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan pada Selasa (23/1/2018) pukul 23.55 WIB.

Semasa Orde Baru, pria lahir di Medan Kota, Sumatera Utara, 8 Agustus 1926 ini Mendikbud (1978-1983) yang kebijakannya sangat dibenci mahasiswa. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Mahasiswa (NKK/BKK) membelenggu aktivitas mahasiswa.


March 20, 2017

Bincang-Bincang Bersama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Oleh Nanien Yuniar 

 

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam peluncuran novel "Semua Ikan di Langit" yang menjadi pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2016. (ANTARA News/Nanien Yuniar)


/1/

 

KARYA pertama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di dunia literasi muncul pada 2010 melalui novel berjudul "Indigo Girl". Setelah novel perdana, setiap tahun Ziggy meluncurkan buku-buku baru secara produktif. Dalam tujuh tahun, ia sudah menerbitkan 27 judul novel.

 

Pada 2015, "Di Tanah Lada" keluar sebagai juara kedua Sayembara Buku Novel Dewan Kesenian Jakarta.


November 22, 2015

[Wawancara] Catatan Sejarah Harus Terbuka

Frieda Amran
MENGUPAS tentang daerah Lampung memang sangat menarik, terlebih sangat sedikit sekali tulisan terkait provinsi paling ujung selatan Pulau Sumatera ini. Karena lewat tulisan inilah yang akan menjadi pegangan buat generasi mendatang untuk mengenal daerah Lampung yang kaya akan sumber daya alam dan manusia.

Frieda Amran pun kemudian menuliskan beragam hal mengenai Bumi Ruwa Jurai sejak zaman pendudukan Belanda yang dituangkan dalam rubrik Lampung Tumbai di Lampung Post.


November 19, 2015

Figur Perempuan Indonesia: Nyai Dahlan dan Nyai Sholihah

Oleh Akhmad Syarief Kurniawan


TANPA menafikan sejarah, jasa-jasa ormas Islam lain, belum lengkap rasanya ketika menceritakan sejarah perjalanan bangsa ini tanpa ikut menyertakan peran dua ormas terbesar di Indonesia, yaitu: Persyarikatan Muhammadiyah dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (NU).    

Tokoh pendiri Muhammadiyah diwakili oleh KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis, 1912 dan dari barisan jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (NU) diwakili dengan tokoh sentralnya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’arie, 1926.

Penulis tidak akan menjelaskan sejarah Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama’, melainkan tentang peran, pengabdian, jasa-jasa para tokoh istri kedua ormas tersebut, yakni Nyai Siti Walidah atau yang lebih populer dikenal Nyai Dahlan dan Nyai Munawaroh atau yang lebih akrab disapa Nyai Sholihah A. Wahid Hasyim.


July 7, 2015

Aprilani Yustin Nakhoda Baru Dewan Kesenian Lampung

BANDARLAMPUNG -- Seperti sudah diduga sebelumnya, Aprilani Yustin Ficardo akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum terpilih Dewan Kesenian Lampung (DKL) Periode 2015--2019.


Aprilani Yustin Ficardo, Ketua Umum terpilih DKL yang baru (kedua dari kanan), menggantikan Syafariah Widianti (paling kanan). (FOTO: ANTARA Lampung/Humas Pemprov Lampung)
Dalam Musyawarah DKL VII pada Senin (6/7), di Ruang Abung kantor gubernur Lampung di Bandarlampung, Aprilani Yustin terpilih secara aklamasi memimpin DKL.


June 18, 2015

Ketika Edward Syah Pernong Pulang Kampung

Oleh Karina Lin

PERGANTIAN pucuk pimpinan suatu institusi atau lembaga (baik pemerintah ataupun swasta) biasanya diikuti perombakan perangkatnya. Hal inilah yang terjadi pada Korps Bhayangkara Indonesia. Awal tahun 2015 ini—mereka sempat dilanda polemik mengenai penunjukan pimpinannya yang baru. Kini enam bulan kemudian, pascapolemik mereda dan Kapolri baru diangkat, perombakan terhadap susunan perangkat anak buah mereka dilakukan.

Mengutip Tajuk Lampung Post (8/6), melalui telegram rahasia Kapolri Badrodin Haiti, sejumlah pejabat tinggi dan pejabat menengah dimutasikan. Termasuk Korps Bhayangkara Lampung. Pucuk pimpinan Polda Lampung yang sebelumnya dijabat Brigjen Heru Winarko diestafetkan kepada Brigjen Edward Syah Pernong.

June 12, 2015

[Cerita Kenangan] Tentang Wartawan dan Seniman Itu...

Oleh Anton Bahtiar Rifa'i


Beberapa aktivis Surat Kabar Mahasiswa Teknokra 1990-an.
Dari ke kanan (depan): Udo Z Karzi dan Anton Bahtiar Rifa'i
(belakang): Ari Wahyu, Affan Zaldi Erya, Mohammad Ridwan.
“SENIMAN gagal adalah manusia yang cocok jadi wartawan.” Ucapan itu muncul dalam perbincangan saya dengan Udo Z Karzi, suatu hari, di Bandar Lampung, belasan tahun lalu.

Tentu, bukan “seniman gagal” dalam arti sesungguhnya, yang kami maksud. Kami cuma meyakini: untuk jadi wartawan, dibutuhkan keindahan merangkai kata ala seniman, tapi tetap menghadirkan rasionalitas yang terang benderang –tidak segelap karya seniman. Itulah yang kami maksud dengan “seniman gagal” atau setengah seniman.

December 19, 2014

[Tamu Kita] Cuma Butuh Dua Malam

Oleh Yoso Muliawan


Udo Z Karzi
BIKIN buku biasanya butuh waktu tak sebentar. Mulai dari mengumpulkan bahan tulisan, menulis, hingga merapikan menjadi buku yang utuh dan siap cetak. Ya, setidaknya bukan sehari dua hari, bukan semalam dua malam.

Namun, ini tak berlaku untuk Zulkarnain Zubairi. Wartawan cum sastrawan yang punya nama pena Udo Z Karzi ini cuma butuh dua malam untuk menuntaskan buku anyarnya. Judulnya, Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis Ihwal Literasi dan Proses Kreatif dengan Sedikit Tips.


August 31, 2014

Diro Aritonang, Kalianda, dan Krakatau

Oleh Beni Setia


SEKITAR 40 tahun lampau, ketika saya mulai pendidikan pertanian di SPMA di Soreang—sekitar 20 kilometer dari Bandung—, saya sengaja menonton film Bernard Kowalski, Krakatoa, East of Java. Sebuah film yang menarik karena triller termaksud yang disajikan sebelum film inti main, karena judulnya dan sekaligus sebab judul itu mengandung kebenaran fakta serta kesalahan penandaan.

SYAIR LAMPUNG KARAM. Penyair Jawa Barat kelahiran Kalianda, Lamsel,
Diro Aritonang, membaca Syair Lampung Karam karya Muhammad Soleh,
dalam rangkaian Festival Krakatau XXIV di Pasar Seni, Enggal, Bandar
Lampung, Rabu (27/8). (FOTO ISTIMEWA)
Ada dua kepenasaran yang mengikutinya. Hingga apa yang sebenarnya terjadi dengan letusan (gunung) Krakatau itu? Setidaknya kalau dikaitkan dengan fakta: fiksi film kolosal itu punya efek khusus, sebelum era Steven Spielberg, yang melulu menggarap amukan ombak di laut.


April 6, 2014

Melihat Sejarah Lampung dari Satu Sisi

Oleh Udo Z. Karzi

Dengan gaya tuturan langsung, akan sangat terlihat bagaimana kekhasan Sjachroedin berbicara: apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, dan terkadang meledak-ledak. Cukup memadai untuk memahami karakter Oedin, terutama selama memimpin Lampung.

Data buku:
Merampungkan Tugas Sejarah: Memoar Komjen
Pol. (Purn.) Drs. H. Sjachroedin Z.P., S.H.
Satu Dekade Memimpin Pembangunan Lampung
(2004- 2014)

Zulfikar Fuad
Alifes Inc.-by PT Media Kisah Hidup, Jakarta
I, Januari 2014
xvi + 292 hlm.
MEMBACA, mendengar, dan menyaksikan sendiri sepak terjang seorang Sjachroedin selama satu dasawarsa memimpin Lampung memang terasa menggetarkan. Ya, memang butuh orang yang luar biasa dalam memimpin provinsi ujung pulau ini. Wajar jika ada ujaran yang menyebutkan, "Kalau bukan Bang Oedin..." Sungguh tak terbayang bagaimana jadinya Lampung.

Menjelang habisnya masa jabatannya, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. memberikan kenangan indah bagi masyarakat berupa sebuah memoar: Merampungkan Tugas Sejarah, Memoar Komjen Pol. (Purn.) Drs. H. Sjachroedin Z.P., S.H. Satu Dekade Memimpin Pembangunan Lampung (2004-2014).

March 18, 2014

Gubernur Lampung Luncurkan Buku di Akhir Pengabdian

GUBERNUR Lampung Sjachroedin ZP meluncurkan buku "Merampungkan Tugas Sejarah" Memoar Komjen Pol (Purn) Drs Sjachroedin ZP SH Satu Dekade Memimpin Pembangunan Lampung (2004-2014), karangan Zulfikar Fuad, sekaligus tanda berakhir masa jabatannya pada 2 Juni 2014 nanti.

Gubernur Lampung Sjachroedin ZP menunjukkan buku biografi
"Merampungkan Tugas Sejarah" karangan Zulfikar Fuad yang
diluncurkan di Hotel Novotel Bandarlampung, Senin (17/3) malam.
(FOTO: ANTARA LAMPUNG/Kristian Ali).
Gubernur Sjachroedin ZP, di Hotel Novotel Bandarlampung, Senin (17/3) malam, mengaku pada awalnya tidak mau untuk dibuatkan sebuah buku, namun ada penulis dari Jakarta yang menawarkan sehingga akhirnya dia menyetujuinya serta mempersilakan mencari bahannya sendiri hingga dicetaklah buku ini.


March 2, 2014

[Wawancara] Kees Groeneboer: Lampung Harus Punya Fakultas Ilmu Budaya

Penemuan dan kembalinya kamus bahasa Lampung karya van der Tuuk dari Leiden ke Lampung terasa surprise. Bukti tingginya nilai budaya Lampung sejak lama itu mendorong pemerhati untuk menghidupkan studi tentang kebudayaan Lampung.

Kees Groeneboer
Direktur Pusat Bahasa
Belanda Erasmus, Jakarta
Medio Februari 2014, Arman A.Z., penyair dan penggiat kebudayaan Lampung, mengabarkan kembalinya kamus bahasa Lampung karya van der Tuuk melalui opini di Lampung Post, 19 Februari 2014. Atas kerja panjang dan melelahkan, sebuah tim berhasil mempersembahkan kamus yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, itu kembali ke Lampung.

Apresiasi luar biasa dari berbagai kalangan mengemukakan masalah bahasa daerah ini menjadi topik menarik. Diskusi tentang bahasa dan keingintahuan berbagai kalangan akan kamus yang ditulis tangan itu seolah tak terbendung.

February 28, 2014

Manuskrip Kamus Bahasa Lampung Pertama dari Belanda: Setelah 1,5 Abad Tersimpan di Leiden

Oleh Ferika Okwa Romanto

Manuskrip kamus bahasa Lampung pertama karya Herman Neubronner van der Tuuk, akhirnya kembali ke Provinsi Lampung. Manuskrip ini diserahkan Kepala Erasmus Taalcentrum Kedubes Belanda Kees Groeneber pada kesempatan dialog dan diskusi 'Mengembalikan Harga Diri Lampung' yang digagas Lampung Peduli, di Hotel Emersia, Kamis (27/2).

PENYERAHAN MANUSKRIP - Kepala Erasmus Taalcentrum Kedubes Belanda Kees
Groeneboer (kiri) menyerahkan secara simbolis kamus bahasa Lampung
pertama kepada Direktur Lampung Peduli Juperta Panji Utama (tengah)
yang mewakili masyarakat Lampung.
TAK banyak masyarakat tahu bahwa manuskrip setebal 600 halaman itu berada hampir 1,5 abad di Negeri Kincir Angin, Belanda. Manuskrip ini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden bersama ribuan manuskrip Lampung dan daerah lainnya.

February 26, 2014

Berburu Kamus Lampung Van Der Tuuk (Bagian 2-Habis)

Oleh Abdul Gafur


Juperta Panji Utama
UPAYA Lampung Peduli dengan enam orang tim kecil yang terbentuk (Juperta Panji Utama, Oyos Saroso HN, Arman A.Z., Daniel H. Ganie, Dede Safara, dan Irwan Wahyudi) untuk menengok langsung keberadaan kamus bahasa Lampung pertama karya Van Der Tuuk menemui jalan buntu. Dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Paling tidak minimal harus tersedia dana Rp180 juta untuk bertolak ke Belanda.

"Kami sudah berupaya mencari dana ke sana-ke mari, tetapi tak mencukupi. Lampung Peduli paling hanya mampu membiayai dua orang untuk berangkat ke Belanda. Namun, hasil rapat tim kecil memutuskan daripada memberangkatkan dua orang saja, lebih baik tidak usah berangkat sama sekali," kata Direktur Lampung Peduli Juperta Panji Utama.

February 25, 2014

Berburu Kamus Lampung Van Der Tuuk (Bagian 1)

Oleh Abdul Gafur


DIREKTUR Lampung Peduli Juperta Panji Utama mengisahkan perjuangan lembaganya mendatangkan kamus bahasa Lampung pertama karya H.N. Van der Tuuk hingga kembali keharibaan Sai Bumi Rua Jurai.

Pada pranala Wikipedia, Herman Neubronner Van der Tuuk lahir di Malaka, 24 Oktober 1824, dan meninggal di Surabaya, 17 Agustus 1894. Van der Tuuk adalah peletak dasar linguistika modern beberapa bahasa yang dituturkan di nusantara, seperti bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Toba, Lampung, Kawi (Jawa Kuna), dan Bali. "Kami membutuhkan waktu empat bulan lebih untuk mendapatkan kamus kuno itu," ujarnya kemarin.

February 19, 2014

Kamus van der Tuuk Telah Pulang

Oleh Arman A.Z.


Herman Neubronner van der Tuuk
(1824–1894)
SETELAH hampir 1,5 abad kemungkinan besar tidak ada ulun Lampung yang pernah melihat bentuk dan isi kamus bahasa Lampung pertama karya Van der Tuuk, kini kamus tersebut telah pulang. Manuskrip hampir 600 halaman itu dibuat Herman Neubronner van der Tuuk selama berada di Lampung (1868—1869). Sekian lama manuskripnya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden bersama manuskrip-manuskrip Lampung dan daerah lain.

H.N. van der Tuuk asing bagi Indonesia, padahal ia pionir penyelamatan bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Van der Tuuk adalah salah satu penyumbang terbesar koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. Bukan hanya kamus Lampung, dia juga orang pertama yang membuat kamus bahasa Batak, Bali, dan mengeditori kamus bahasa Melayu versi Von den Wall. Bahkan, info yang bisa jadi belum diketahui publik Indonesia, Van der Tuuk juga membuat semacam kamus atau daftar kata tulis tangan bahasa Minahasa (216 hlm.), Dayak (8 hlm.), dan Sasak (36 hlm.).

February 9, 2014

[Lentera] Novel Alam Indri Kurniati

Oleh Dian Wahyu Kusuma
 Indri Kurniati (Peringga Ancala)
Ia punya nama pena Peringga Ancala. Ketertarikannya kepada alam, pariwisata, dan budaya diwujudkan dengan karya novel-novel yang inspiratif.

PAUL. Lelaki 45 tahun asal Australia yang menyapu pantai di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, itu dikenal oleh Indri Kurniati melalui media massa.

Kisah heroiknya yang tak biasa mengundang Indri untuk menelisik lebih dalam tentang Paul. Dan, Paul kemudian menjadi inspirasi bagi Indri untuk menulis novel setebal 236 halaman.


January 24, 2014

[Inspirasi] Ari Pahala Hutabarat: Sang Pujangga Angkutan Kota

Oleh Rudiansyah


Sejak saat itu, membaca sudah menjadi kebutuhan hidup saya selain makan, minum, dan bernapas.

Ari Pahala Hutabarat
TATAPNYA mengarah ke langit-langit ruangan. Lelaki di atas kursi plastik itu berkeras mengingat sesuatu. Temaram lampu membayangi mukanya yang oval. "Ya, di angkot, benar di angkot, haha...” serunya memecah suasana dengan tawa lebar mengembang.

Ari Pahala Hutabarat, demikian namanya. Lelaki berpostur jangkung ini dikenal lewat rangkaian kata-kata dalam puisinya. Ia baru saja teringat tempat yang kerap mempertemukannya dengan hal yang kini sangat dekat pada dirinya.