November 8, 2022

Warna Lokal dalam Cerita Masa Kecil

Oleh Eko Sugiarto


Judul buku: Negarabatin, Negeri di Balik Bukit
Penulis: Udo Z Karzi
Penerbit: Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: Pertama, 2022
ISBN: 978-623-221-834-5


ENTAH senang, entah susah, cerita tentang masa kecil selalu menarik. Peristiwa sehari-hari yang dijalin dalam cerita model ini terasa apa adanya. Inilah yang dilakukan Udo Z Karzi.

Cerita dalam novel ini memang rekaan. Namun, beberapa bagian adalah fakta dari kisah nyata. Latar cerita di Negarabatin (Liwa, Lampung Barat) pada tahun 1970-1986 adalah sebagian dari fakta itu.

Salah satu kekuatan novel ini adalah pelukisan suasana cerita. Warna lokal sangat kental. Ingatan pembaca akan dibawa terbang ke sebuah tempat yang asing bagi generasi kekinian, tetapi sangat akrab bagi generasi 70 hingga 80-an. Terutama mereka yang kurang beruntung secara ekonomi.

Saat ibu tokoh utama akan melahirkan, misalnya. Gambaran suasana tengah malam begitu mencekam. Rumah panggung yang hampir roboh, hujan lebat, dan deru angin yang menghantam dinding bambu yang mulai rapuh, atap seng yang berlubang di beberapa bagian, ditambah penerangan yang hanya mengandalkan lampu minyak tanah karena listrik belum masuk (hlm 13) semakin memperkuat suasana mencekam yang coba digambarkan oleh pengarang.

Pemanfaatan kosakata dari bahasa daerah yang menghiasi banyak halaman juga cukup menarik. Bukan hanya memperkuat warna lokal ke-Lampung-an novel in, kosakata dari bahasa Lampung ini tampaknya juga digunakan dengan alasan yang memang perlu.

Bagian yang berjudul 'Sapsada Berbunyi Sore' adalah salah satu contohnya. Di bagian ini ada catatan kaki untuk 'sapsada', yaitu 'nama burung, saya tidak tahu nama Indonesianya'. Tampaknya si pengarang novel ini memang kesulitan menyebut nama burung tersebut dalam bahasa Indonesia. Bisa jadi jenis burung yang dimaksud adalah satwa endemik yang hanya ada di Lampung Barat sehingga sulit ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Terdapat 224 catatan kaki dalam novel ini. Jumlah ini bahkan melebihi tebal novel yang hanya 168 halaman. Jika dirata-rata, setiap halaman novel ini mengandung catatan kaki. Bahkan, lebih dari satu. Bagi pembaca yang tidak paham bahasa Lampung, catatan kaki ini memang perlu. Bagi pembaca yang mengerti bahasa Lampung, mungkin ini terasa sedikit mengganggu. []

------------
Eko Sugiarto, dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta.

 

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Selasa Pon, 8 November 2022

No comments:

Post a Comment