August 29, 2007

Penghargaan Muri: Bambang Eka Wijaya Penulis Paling Produktif

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemimpin Umum Lampung Post H. Bambang Eka Wijaya mendapat penghargaan Musium Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai penulis kolom paling produktif tanpa jeda dari 20 Mei 1998 hingga kini. Penghargaan MURI No. 2748/MURI/VIII/2007 diperoleh Bambang lewat kolom Buras yang diserahkan Direktur MURI Paulus Pangka di Rumah Makan Bukit Randu, Bandar Lampung, Selasa (28-8).

PIAGAM MURI. Pemimpin Umum Lampung Post H. Bambang Eka Wijaya (kiri), Direktur Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) Paulus Pangka (tengah), dan Pemimpin Redaksi Lampung Post Ade Alawi mengangkat piagam MURI usai penganugerahan penulis kolom paling produktif kepada Bambang di Rumah Makan Bukit Randu, Bandar Lampung, Selasa (28-8). Penghargaan ini diraih Bambang lewat kolom Buras yang terbit setiap hari di harian ini sejak tanggal 20 Mei 1998 hingga kini. (LAMPUNG POST/SYAIFULLOH)


MURI memberikan penghargaan pada siapa pun yang memiliki empat kriteria: Yang paling, pertama, unik, dan langka. Rekor yang paling banyak tercatat untuk kategori "yang paling". "Jumlahnya mencapai 1.500 rekor. Tentunya, tidak semua rekor dicatat MURI karena kami mengedepankan faktor kesusilaan dan konteks masyarakat," kata Paulus.

Acara penganugerahan juga diisi diskusi membahas Buras dengan sumber pakar pendidikan Unila Profesor Sudjarwo, Bambang Eka Wijaya, dan Paulus Pangka. Diskusi yang dipandu pengamat sosial-politik Jauhari Zaelani ini berlangsung santai dan interaktif.

Sebelum penganugerahan, Asisten Pemimpin Perusahaan Lampung Post Kholid Lubis mengenalkan Tabloid Lampung Post Xin Wen yang terbit setiap hari Jumat. "Kami berusaha mengikuti perkembangan dunia. Kini, China juga menjadi salah satu negara besar di berbagai bidang. Ini tujuan kami mengeluarkan Lampung Post Xin Wen," ujar Kholid.

Acara yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu dihadiri Kapolda Lampung Brigjen Suharijono Kamino, Bupati Lamtim H. Satono, dan sejumlah pejabat. Dari kalangan akademisi, hadir antara lain Pembantu Rektor Unila Anshori Djausal, Direktur Teknokrat Nasrullah Yusuf, dan Rektor UBL Yusuf Sulfarano Barusman.

Dalam penilaian Sudjarwo, membaca Buras mesti disertai dengan konteks dan pemahaman multidimensional. "Jika tidak disertai pemahaman seperti itu, kita sulit menangkap makna yang disampaikan Pak Bambang," ujar Dekan FKIP Unila ini.

Sudjarwo menilai tiga periodisasi pemikiran Bambang dalam Buras. Setelah menunaikan haji, Buras banyak berisi petatah-petitih. Seperti lazimnya kolom yang ditulis wartawan, Buras yang dikemas dalam gaya bertutur kerap berisi kritik.

Kapolda Lampung Brigjen Suharijono Kamino yang hadir pada acara tersebut mengakui kekuatan Buras sebagai kolom yang penuh pesan. "Saya enggak masalah dengan kritik Buras. Saya setuju saja," ujarnya. n TYO/U-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 29 Agustus 2007

August 27, 2007

Sastra: LAF Gelar Dunia Puisi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Malam ini (27-8), Lampung Arts Festival (LAF) menggelar Dunia Puisi. Kegiatan ini diramaikan puluhan penyair asal Lampung dan luar daerah.

Sekretris Kegiatan LAF Panji Utama, Minggu (26-8), mengatakan kegiatan ini akan difokuskan di panggung terbuka Pasar Seni Enggal, malam ini mulai pukul 20.00.

"Kegiatan digelar mengingat Krakatau Award yang setiap tahun digelar, pada tahun 2007 ini belum jelas dilaksanakan karena persoalan anggaran," kata Panji.

Untuk itulah, menurut dia, dipilihlah puisi sebagai genre dari sastra untuk mewakili kegiatan LAF 2007. "Makanya kami mengundang sejumlah penyair dari beberapa kota, provinsi, pulau, bahkan negara yang dinilai pantas bisa menghadiri event LAF ini."

Pemilihan penyair, menurut Panji, tidak terbatas pada satu angkatan saja, tapi mereka yang berkiprah sejak tahun 1980-an hingga 2000-an.

"Mereka yang jelas mewakili generasi masing-masing, sehingga diharapkan dapat memperjelas benang regenerasi perpuisian di Indonesia. Makanya diharapkan ini bisa memberikan sumbangsih bagi apresiasi puisi utamanya di Lampung," ujarnya.

Adapun generasi 1980-an, di antaranya diwakili Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Subhanuddin Alwy, Micky Hidayat, Bambang Widiatmoko, Anwar Putra Bayu, Y.S. Agus Suseno, dan Endang Supriadi.

Mereka akan berkolaborasi dengan generasi yang baru bermunculan seperti I Wayan Sunarta, Jimmy Maruli Alfian, Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Alex Nainggolan, hingga Pranita Dewi, Shinta Febriani, Ni Putu Vivi Lestari, dan lainnya.

"Malam apresiasi Dunia Puisi ini akan diisi pembacaan puisi dari penyair asal Lampung yang jumlahnya lebih dari 16 orang, lalu penyair asal Sumatera Selatan, Jakarta, Yogyakarta, Cirebon, Bali, Banjarmasin, dan Makassar. Serta penyair asingnya rencananya berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, dan Sri Lanka," ujar Panji.

Selain itu, kegiatan lain yang juga digelar ialah diskusi sastra yang akan mengangkat tema Puisi sebagai Teks yang akan digelar di Kantor Redaksi Lampung Post, Selasa (28-8). n TYO/K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 27 Agustus 2007

Festival Krakatau: 21 Dubes Daki Gunung Krakatau

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Festival Krakatau XVII mencatat sejarah baru. Pada rangkaian Tur Krakatau, Minggu (26-8), Pemprov Lampung mengajak 21 duta besar (dubes) mendaki Gunung Krakatau.

TUR KRAKATAU. Tur Krakatau dari Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Minggu (26-8), juga diikuti masyarakat dengan menaiki kapal feri. Dari atas kapal, masyarakat melihat rombongan duta besar tengah mendaki Gunung Krakatau (inset). (LAMPUNG POST/ZAINUDDIN/TEGUH PRASETYO)

Para Dubes didampingi rombongan Pemprov dan staf kedutaan yang berjumlah 150-an orang. Mereka naik kapal cepat Srikandi 99 dari Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni.

Setibanya di Gunung Krakatau, rombongan langsung disambut tarian selamat datang. Kemudian diteruskan dengan pembacaan doa oleh sesepuh Krakatau.

Setelah itu, para dubes langsung mendaki puncak Krakatau. Karena keterbatasan waktu dan terik matahari, tidak ada satu pun yang berhasil mencapai puncak.

Bagi Duta Besar Cile, Humberto Molina, perjalanan ke Krakatau memberi kesan tersendiri. Kondisi Indonesia, ujarnya, hampir sama dengan Cile. "Gunung Krakatau ini mengingatkan saya dengan kondisi di sana. Indonesia dan Cile sama-sama terletak di fire ring yang bisa tiba-tiba datang bencana seperti gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami," ujarnya.

Selain rombongan dubes yang berangkat dengan kapal cepat, Tur Krakatau juga diikuti masyarakat yang diangkut dengan feri. Namun, masyarakat hanya mengelilingi Krakatau.

Sebelum tur ke Krakatau, para dubes mengunjungi Tugu Siger di Bakauheni. Mereka disambut Bupati Lampung Selatan Zulkifli Anwar.

Dalam sambutannya, Zulkifli mengatakan kedatangan tamu dari berbagai negara memotivasi Pemkab Lamsel meningkatkan potensi pariwisata. "Kehadiran duta besar dalam rangkaian Festival Krakatau tentu dapat mempromosikan Lampung, khususnya Lampung Selatan, dalam bidang kepariwisataan," kata Bupati.

Kabupaten Lampung Selatan memiliki 48 titik objek wisata yang dapat dikembangkan. Zulkifli berharap para duta besar bisa menjalin kerja sama mengembangkan objek wisata. "Ini tentu akan meningkatkan perekonomian masyarakat," kata Zulkifli.

Kabupaten Lamsel, ujar Bupati, merupakan pintu gerbang Sumatera. Sebab itu, sektor pariwisata sangat potensial dikembangkan. n TYO/AL/AAN/U-1

Sumber: Lampung Post, 27 Agustus 2007

August 25, 2007

Kesenian: Liga Teater Remaja Angkat Soal Kehidupan

Bandar Lampung, Kompas - Perilaku masyarakat seperti kawin cerai hingga hukum alam kelahiran dan kematian rupanya masih menjadi tema menarik. Tema-tema realis itu terungkap secara gamblang dan lugas dalam pementasan dua kelompok teater pada Liga Teater Remaja Lampung keenam.

Dengan tata panggung sebuah ruang tamu sederhana dari keluarga kelas menengah, Teater Lintang dari SMAN 1 Sri Bhawono, Lampung Timur, mengangkat cerita mengenai kawin cerai yang banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat, Jumat (24/8) di Teater Tertutup Taman Budaya Bandar Lampung.

"Tema-tema tersebut sangat wajar dan sepele karena masyarakat kita akan selalu dihadapkan pada masalah yang demikian itu. Namun, masyarakat kita seringkali cuek dengan kenyataan tersebut," kata Yani Meimunah, Dosen STSI Bandung yang menjadi juri dalam Liga Teater Remaja Lampung keenam itu.

Yani mengakui, cerita kawin cerai karya Motinggo Busye ataupun cerita anjing yang sakit dalam Kisah Cinta karya Arifin C Noer merupakan naskah realis yang sulit ditampilkan.

Saking realisnya, para pementas yang rata-rata masih berusia remaja harus mencoba menampilkan kehidupan orang yang lebih tua umurnya dari mereka. Sehingga eksplorasi mengenai kehidupan orang yang tua bisa jadi kurang atau sangat cukup.

Naskah realisme-realisme demikian akan dicoba digali dan ditampilkan melalui pementasan-pementasan di Taman Budaya Lampung. "Kita pasti akan dikejutkan dengan banyaknya pementasan yang menghadirkan realitas mengenai kita. Tunggu saja," kata Yani.

Ke-20 peserta dalam Liga Teater Remaja Lampung akan menampilkan satu dari enam naskah drama yang ditentukan panitia.

Enam naskah drama itu yakni Pakaian dan Kepalsuan karya Achdiat Karta Maihardja; Pada Suatu Hari dan Kisah Cinta, keduanya karya Arifin C Noer; Saijah dan Adinda karya Multatuli; Malam Jahanam karya Motinggo Busye; dan Barabah karya Motinggo Busye. (hln)

Sumber: Kompas, Sabtu, 25 Agustus 2007

August 24, 2007

Kesenian: Liga Teater Remaja Lampung Tampilkan Naskah Lama

Bandar Lampung, Kompas - Liga Teater Remaja Lampung siap digelar pada 24 hingga 30 Agustus 2007. Liga teater keenam itu akan diikuti 20 peserta dari teater-teater SMA se-Lampung dengan menampilkan naskah-naskah teater lama.

"Kami sengaja menampilkan naskah-naskah teater lama karena hanya karya-karya itu yang bisa ditampilkan dengan kemampuan para peserta. Apalagi pelaku teater SMA merupakan pelaku awal, sehingga mereka kami kenalkan dengan naskah realis dulu," kata Koordinator Teknis Liga Teater Remaja Lampung Imas Sobariyah, Kamis (23/8).

Selain alasan tersebut, panitia melihat naskah-naskah teater modern yang ada saat ini sangat minim. Kalaupun ada, lebih sesuai untuk produksi komersial bukan teater.

Apabila panitia meminta peserta membawakan naskah-naskah nonsurealis, panitia tidak yakin akan kemampuan peserta. "Terlalu berat," katanya.

Demikian juga untuk para penonton yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Panitia melihat, penonton usia sekolah itu akan kesulitan untuk mencerna isi dan lakon yang dibawakan apabila naskahnya bukan naskah realis.

Dengan alasan tersebut, setiap peserta wajib memilih dan membawakan satu dari lima naskah yang ditentukan panitia, yaitu Pakaian dan Kepalsuan karya Achdiat Kartamihardja; Pada Suatu Hari dan Kisah Cinta, keduanya karya Arifin C Noer; Saijah dan Adinda karya Multatuli; Malam Jahanam karya Motinggo Busye; serta Barabah karya Motinggo Busye.

Juri asing

Liga Teater Remaja tersebut akan dinilai oleh tiga juri, yaitu Ann Lee, praktisi teater dan penulis naskah asal Malaysia; Yani Meimunah, dosen seni pertunjukan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung; dan pemain teater sekaligus sutradara Teater Satu Lampung Iswadi Pratama.

Dalam liga itu, setiap hari, mulai Jumat (24/8) hingga Rabu (29/8), akan tampil tiga kelompok peserta. Hari terakhir, Kamis (30/8), akan diisi dengan pelatihan teater.

Penanggung jawab Liga Teater Remaja Lampung Djuwita Nofrida mengatakan, pelatihan teater itu sangat penting untuk menambah pengetahuan pelaku teater remaja. Pelatihan itu juga diharapkan mendukung pelaku teater remaja mengembangkan bakat mereka.

Liga Teater Remaja Lampung merupakan wadah pementasan bakat-bakat teater remaja Lampung. Sejak dilaksanakan pada tahun 2000, Liga Teater Remaja Lampung telah menghasilkan pemain teater andal. (hln)

Sumber: Kompas, Jumat, 24 Agustus 2007

Wisata: Pengantin Jepang Nikah di Atas Gajah Lampung

[JAKARTA] Dua pasang pengantin asal Negeri Sakura Jepang akan melangsungkan pernikahan di atas punggung dua ekor gajah sebagai rangkaian dalam Festival Krakatau di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Sabtu (25/8).

Pasangan pengantin pertama yakni Yusuke Eguchi dan Ms Mai Tohyama dari Tokyo, Jepang. Sedangkan pasangan kedua; Isamu Kuboki dan Yumi Kuboki, warga negara Jepang yang sudah lama menetap di Bogor, Jawa Barat. Pernikahan mereka akan diresmikan menurut adat Lampung.

Peresmiannya dilakukan Gubernur Lampung, Syachrudin Zainal PA. Kedua pasangan pengantin akan duduk di atas kursi yang diletakkan di punggung gajah asal sekolah gajah Way Kambas.

"Pernikahan di atas punggung gajah ini merupakan yang pertama kali dan sebagai acara puncak dari Festival Krakatau yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Lampung," kata Direktur Graha Budaya Indonesia (GBI), Seiichi Okawa dalam percakapan dengan SP di Jakarta, Rabu (22/8).

Mengenai identitas kedua pasangan pengantin, Seiichi Okawa menjelaskan pasangan pertama yakni Yusuke Eguchi, pria kelahiran lahir 2 Juli 1979. Pasangannya, yakni Mai Tohyama, wanita lahir 3 September 1977. Sementara pasangan kedua yakni Isamu Kuboki, lahir 4 November 1969 dan Yumi Kuboki, lahir 26 September 1966. Selesai pernikahan pasangan pertama melanjutkan wisata ke Yogyakarta, Minggu, 26 Agustus.

Sementara pasangan kedua mengikuti wisata ke Gunung Krakatau bersama para duta besar dan undangan lainnya dari Jakarta. Untuk kebutuhan pernikahan tersebut dan atraksi lainnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mendatangkan 9 ekor gajah dari Sekolah Gajah Way Kambas, Lampung Tengah. Kedua penggantian itu, kata Seiichi Okawa, menggunakan busana khas Lampung yang terbuat dari Tenun Tapis.

"Pernikahan ini menunjukkan bahwa Lampung merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan mancanegara dan Nusantara. Apalagi provinsi ini memiliki pusat sekolah gajah Sumatra di Way Kambas, bekas Gunung Berapi Krakatau yang meletus tahun 1883, Pantai Kaliangga yang indah dan juga agrowisata yang luas dan menarik," katanya.

Selain itu, Lampung sangat penting bagi Jepang karena hasil perkebunannya diekspor ke Negeri Matahari terbit itu. Bahkan ke depan ada sejumlah provinsi di Jepang yang melaksanakan kerja sama dengan Lampung sebagai provinsi kembar. Jadi Lampung bukan hanya daerah transit Jawa Sumatera atau sebaliknya, tetapi daerah tujuan wisata yang dapat dijangkau 45 menit dengan pesawat terbang dari Jakarta.

"Kami berharap dalam waktu mendatang banyak pasangan pengantin yang melaksanakan pernikahannya di atas punggung gajah di Lampung sebagai suatu kenangan abadi yang tak terlupakan," tandasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Lampung bekerja sama dengan GBI menyelenggarakan pameran selama dua bulan di Tokyo tentang kain tenun Tapis, pentas seni tradisional, dan diskusi kebudayaan pada tahun lalu. [W-8]

Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 24 Agustus 2007

Pariwisata Lampung Belum Siap, Agen Wisata Enggan Menjual

Bandar Lampung, Kompas - Pemerintah Provinsi Lampung dinilai belum siap untuk mengembangkan sektor pariwisata. Pasalnya, hingga saat ini belum terlihat upaya pengembangan pariwisata yang fokus untuk mengeksplorasi potensi wisata yang ada di wilayah Lampung.

Komite Pariwisata melihat tidak upaya untuk memfokuskan pengembangan wisata. Semua obyek ingin dikembangkan.

"Itu tidak akan membantu. Seharusnya, mana yang lebih menjual digarap, baru kemudian lainnya menyusul," kata Sekretaris Komite Pariwisata Lampung Citra Persada, Kamis (23/8).

Akibat tidak fokus, obyek wisata di Lampung hanya dikelola apa adanya. Wisatawan sulit mengakses tempat-tempat wisata di Lampung.

Menurut Citra, hal itu terjadi akibat minimnya sumber daya manusia yang mampu merencanakan pengelolaan pariwisata Lampung. Obyek wisata di Lampung tidak dikelola secara profesional.

Enggan menjual


Dampak pengembangan yang tidak fokus menyebabkan agen-agen perjalanan wisata enggan menjual potensi Lampung. Akses dan infrastruktur pariwisata belum disiapkan, sehingga agen-agen wisata lebih suka menjual obyek-obyek wisata yang mudah dijangkau dari Bandar Lampung.

Selain itu, apabila wisatawan hendak mengunjungi salah satu obyek wisata di Lampung, mereka terpaksa menempuh perjalanan panjang tanpa bisa beristirahat dengan nyaman di suatu titik perjalanan.

Akses jalan dibuat tanpa dilengkapi titik-titik untuk beristirahat yang dilengkapi dengan tempat makan ataupun berbelanja cendera mata.

"Bagaimana wisatawan akan nyaman berada di Lampung dan tinggal lama di Lampung?" ujar Citra.

Tidak peduli


Citra juga mengatakan, akibat minimnya kepedulian pemerintah provinsi dan daerah, masyarakat Lampung belum sadar wisata. Misalnya, masyarakat Lampung Barat yang merupakan masyarakat dengan adat Lampung yang kuat. Akibat hidup dikelilingi hutan, daerah mereka merupakan daerah terisolasi.

"Melihat turis asing masuk daerah mereka untuk berselancar rupanya merupakan hal baru. Masyarakat lokal mengejar-ngejar mereka hingga mereka takut dan trauma. Sementara polisi banyak yang memalak mereka dengan alasan tidak ada izin membawa alat surving," ungkap Citra.

Dalam pengembangan pariwisata, perilaku masyarakat semacam itu jelas menghambat upaya pengembangan. Hal tersebut juga menandakan aparat Lampung belum sadar wisata. Kejadian itu menjadi tugas pemerintah daerah untuk membina masyarakat setempat.

Namun, meskipun belum maksimal, Dinas Pariwisata Lampung mencatat angka kunjungan wisatawan Nusantara ke Lampung pada tahun 2006 sebanyak 843.768 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 6.893 orang. (hln)

Sumber: Kompas, Jumat, 24 Agustus 2007

August 23, 2007

Pendidikan: D-3 Bahasa Lampung Unila Terkatung-Katung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Nasib program studi (prodi) diploma tiga (D-3) Bahasa dan Sastra Lampung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP-Unila), terkatung-katung.

Setelah tiga tahun tidak menerima mahasiswa baru, prodi ini nyaris ditutup.

Ketua Prodi D-3 Bahasa dan Sastra Lampung Iqbal Hilal menjelaskan salah satu penyebab penutupan sementara prodi ini lantaran tak ada komitmen dan perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan pemerintah kabupaten/kota untuk menampung lulusan prodi tersebut.

Sekaligus ingin melihat peluang dan formasi dalam perekrutan calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD) apakah terserap atau tidak. "Kami terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar prodi Bahasa dan Sastra Lampung karena ingin melihat pangsa pasar lulusan. Jangan sampai kami sudah meluluskan, tapi output kami lalu tidak mendapat pekerjaan," kata dia, Selasa malam (21-8).

Ia menjelaskan sejak dibuka pada tahun akademik 1989--1999 sudah meluluskan sekitar 800 orang. Namun, hingga saat ini, lulusan belum terserap secara optimal. "Sebenarnya alumnus Bahasa Lampung banyak yang diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Namun, penyerapannya tak sebanding jumlah lulusan kami," jelas Iqbal.

Ia mengakui sejak prodi ini dibuka perhatian Pemprov Lampung dan pemerintah kabupaten/kota terhadap lulusan kurang. "Seharusnya jurusan ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah. Karena pengadaan prodi tersebut selain untuk melestarikan budaya juga meningkatkan pemahaman terhadap bahasa dan sastra Lampung kepada siswa," jelas dia.

Apalagi prodi tersebut berbeda dengan prodi lain, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia atau Sejarah yang lulusannya bisa diterima hampir di setiap provinsi. Sementara lulusan prodi Bahasa dan Sastra Lampung hanya untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Lampung saja.

Iqbal menjelaskan sebetulnya Prodi D-3 Bahasa dan Sastra Lampung Unila tidak menerima mahasiswa baru sejak tiga tahun, tepatnya pada tahun akademik 2005-2006. "Kami terakhir menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2004--2005 sebanyak 49 mahasiswa. Mereka akan diwisuda pada September 2007 ini," kata dia.

Ia menguraikan ditutupnya sementara prodi ini bukan lantaran minimnya peminat. "Justru peminatnya banyak. Karena setiap tahun, kuota kami hanya mampu menampung 40 mahasiswa, sementara yang mendaftar mencapai sekitar 300 orang," jelas dia.

Ia mengakui prodi ini belum mendapat akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Karena BAN PT kesulitan mengakreditasi karena minimnya tim penilai dari pusat untuk menilai kelayakan prodi tersebut. Kendati belum mendapat akreditasi, pihak akademik berupaya meningkatkan status prodi ini. Bahkan jika prospeknya bagus, prodi ini akan ditingkatkan dari program D-3 menjadi sarjana strata satu (S-1). "Kami saat ini tengah menyusun proposal tersebut yang akan dikirimkan ke Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional," jelas dia.

Sementara, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila Sudjarwo mengatakan Unila siap membuka kembali Jurusan Bahasa Lampung asal ada komitmen dari pemerintah daerah untuk menampung lulusan bahasa Lampung tersebut.

Menurut dia, tiga tahun lalu, Diploma III Bahasa Lampung sudah pernah dibuka oleh Unila, bahkan peminatnya cukup banyak. Tetapi, setelah mengevaluasi selama dua angkatan, muncul keluhan dari alumni yang tidak diberi peluang dan formasi dalam perekrutan CPNSD. "Kalau tidak ada komitmen seperti ini kan kasihan lulusannya, mereka tidak diberi formasi dan peluang untuk bekerja," kata Sudjarwo.

Hal itu juga disampaikan Pembantu Rektor Bidang Akademik, Tirza Hanum. Menurut dia, jurusan Bahasa Lampung tidak ditutup, tetapi dinonaktifkan. Sehingga, kalau suatu saat ada permintaan dan komitmen dari pemerintah, jurusan itu bisa dibuka kembali.n AST/ENI/S-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 23 Agustus 2007

Festival Krakatau XVII: Dua Pasang Pengantin Jepang Ikut Pawai

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dua pasang pengantin warga Jepang bakal mengikuti pawai kebudayaan pada Festival Krakatau (FK) XVII Lampung 2007.

Pada pawai budaya digelar saat pembukaan FK di PKOR Way Halim Bandar Lampung, Sabtu (25-8), kedua pasang pengantin dibaluti pakaian adat Lampung Sai Batin dan Pepadun. Mereka juga diiringi sembilan ekor gajah dan puluhan perwatin, selain 30 orang famili mereka dari Jepang yang juga berpakaian adat Lampung.

Kedua pasang pengantin tersebut adalah Isamu Kuboki dengan istrinya, Yumi Kuboki, dan Yusuhe Eguchi dengan istrinya, Maitoh Yamu.

Mereka adalah pemenang audisi dengan peserta pengantin baru yang diseleksi untuk mengikuti acara festival tersebut. Audisi diadakan oleh Graha Budaya Indonesia (GBI) Jepang dengan Liasion Officer (LO) Seichi Okawa yang juga koresponden Metro TV di Jepang.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Promosi Investasi Kebudayaan dan Pariwisata (PIKP) Provinsi Lampung Suresmi Ramli ditemui wartawan di tempat kerjanya, Selasa (21-8).

Menurut Suresmi, arakan adat pengantin warga Jepang tersebut merupakan salah satu agenda unggulan pada pawai budaya pembukaan FK XVII Lampung 2007. Kemudian sama seperti tahun-tahun sebelumnya perwakilan seluruh kabupaten/kota dan tari tuping.

"Tapi ada satu lagi yang akan membuat pawai ini beda dengan tahun-tahun lalu, tapi belum bisa saya sebutkan itu apa. Ini akan jadi surprise," kata Suresmi.

Suresmi menambahkan untuk tahun ini akan hadir dua puluhan duta besar dari negara sahabat beserta keluarganya. Selain undangan lain baik dari luar negeri maupun dalam negeri seperti Jambi, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Bangka Belitung. Sedangkan Kota Palangkaraya telah menginformasikan kehadiran sekitar 40 delegasi dari daerah itu hadir.

"Mereka ingin melihat format acara yang klasifikasinya nasional. Sebab, banyak festival di daerahnya digelar, tetapi masih tingkat lokal," katanya.

Untuk pembukaan acara itu, Suresmi menjelaskan pihaknya sudah mengundang Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Djero Wacik untuk membukanya.

Namun ini masih dalam tahap konfirmasi kepastian dengan asumsi jika hanya tingkat sekretaris atau direktur. Maka untuk membuka FK XVII Lampung 2007 yang menelan biaya sekitar Rp1,5 miliar itu adalah Gubernur Lampung.

"Untuk meminta presiden yang membukanya, ya kita tahu diri lah infrastrukturnya belum memadai," kata Suresmi saat ditanyai kemungkinan presiden di undang untuk membukanya.

Kasubdin Pariwisata Dinas PIKP Lampung Reni Utari Rusdi mengatakan tingkat keberhasilan penyelenggaraan FK tersebut tidak dapat ditentukan langsung. Sebab seperti acara promosi lainnya, FK adalah alat untuk mengenalkan daerah termasuk seni, budaya bahkan produknya secara nasional maupun internasional.

"Sebagai parameter awalnya adalahmeningkatnya hunian hotel dan penjualan produk oleh-oleh pada saat berlangsung acara," katanya. n AAN/K-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 23 Agustus 2007

August 21, 2007

DKL Siap Gelar Lampung Art Festival

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Dewan Kesenian Lampung (DKL) siap menggelar Lampung Art Festival (LAF) ke-6, pada 25--30 Agustus, yang dipusatkan di Graha Wangsa dan Pasar Seni di Enggal, Bandar Lampung.

Menurut Sekretaris Panitia Pelaksana Juperta Panji Utama di Bandar Lampung, Senin (20-8), pelaksanaan LAF itu merupakan ajang strategis pendukung Festival Krakatau (FK) ke-17 dan Lampung Expo 2007.

Panji menyebutkan LAF akan diikuti seniman dari luar negeri seperti dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Peserta dari dalam negeri yang akan tampil, di antaranya dari Aceh (NAD), Sumut, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Babel, Banten, DKI Jakarta, NTB, Kalsel, Sulsel, Jabar, Yogyakarta, Jateng, dan Bali.

Sebanyak 10 kabupaten/kota di Lampung dipastikan akan unjuk kebolehan dengan karya seni budaya daerahnya masing-masing.

"Jadi, sedikitnya peserta dari empat negara, 15 provinsi, dan 10 kabupaten serta kota di Lampung akan mengikuti LAF itu," kata Panji.

Pergelaran utama pada LAF 2007 adalah musik "Dua Arus", yaitu musik tradisional, modern, dan kontemporer yang dipadukan secara apik.

Ada pula pentas sastra, teater, pemutaran film, festival tari, dan pameran seni rupa. "Kami berupaya menyuguhkan kesenian yang berkualitas untuk masyarakat Lampung untuk meningkatkan apresiasi masyarakat," kata Panji.

Dalam LAF itu, digelar pula dialog musik, sastra, film, dan tari untuk meningkatkan wawasan dan wacana.

Panitia, menurut Panji, siap bekerja sama dengan media massa untuk memfasilitasi para seniman, pengamat, dan masyarakat agar dapat berdiskusi mengusung persoalan dan kendala yang dihadapi oleh masing-masing cabang seni dalam meneguhkan eksistensinya.

Ketua DKL Lampung Syafariah Widianti didampingi Sekretarisnya, Harry Jayaningrat yang juga Ketua Pelaksana, mengatakan LAF bertujuan untuk pengembangan kesenian di Lampung.

"LAF selain dapat dijadikan panggung pementasan karya para seniman, juga menjadi ajang dialog kebudayaan antarbangsa sekaligus tempat untuk memperkenalkan kesenian Lampung lebih luas lagi," kata Syafariah.

Dia mengatakan masyarakat Lampung diharapkan dapat menghadiri dan menyaksikan LAF sebagai tontonan alternatif yang berkualitas dan dapat meningkatkan apresiasi serta mempromosikan kesenian Lampung. "Pengunjung LAF tidak dipungut biaya atau gratis," kata Syafariah. n K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 21 Agustus 2007