BANDAR LAMPUNG (Lampost): Membaca buku terbaru penyair Lampung Syaiful Irba Tanpaka bertajuk Karena Bola Matamu (Bukupop, Jakarta, Mei 2007) ibarat membaca puisi nakal seorang remaja yang berpetualang fantasi. Namun, kata-katanya tetap terjalin indah.
Demikian penilaian penyair Y. Wibowo yang hadir sebagai pembedah dalam roadshow Sastra yang digelar di SMA Taman Siswa Telukbetung, Bandar Lampung, Sabtu (8-9).
Dia mengatakan kelebihan buku ini adalah sebagian besarnya berisikan keselarasan antara gejolak jiwa serta keliaran kata-kata.
"Namun meski dibuat begitu liar, kata-kata yang ditampilkan tetap tertata. Contohnya dalam karya berjudul 'Mengagumi Dirimu', semuanya terjalin dengan indah dan tertata meski berisikan gejolak."
Menurut Wibowo, menelaah buku ini mengibaratkan sebuah layang-layang. Wibowo juga menjelaskan buku kumpulan puisi ini merupakan sebatas catatan perjalanan seorang lelaki yang meletakkan letihnya dalam sepi.
Sedangkan penyair Isbedy Stiawan ZS mengatakan karya Syaiful umumnya tidak pernah jauh dari persoalan di sekitarnya. "Tapi di buku ini sepertinya ingin menggarap tema tunggal, yakni cinta. Akan tetapi, soal cinta memang menjadi jamak pemaknaannya. Sebab, bisa berisikan antar sesama, terutama lawan jenis sampai kepada Tanah Air dan Tuhan."
Namun di buku ini, kata Isbedy, cinta yang dihadirkan dalam puisi Syaiful justru didominasi cinta lain, yakni jenis cinta remaja. "Sedikit untuk istrinya dan untuk anak-anaknya, baik ditujukan bagi putra kembarnya ataupun putrinya," ujar dia lagi.
Dia juga mengatakan membaca puisi-puisi dalam Karena Bola Matamu seperti membaca halaman-halaman diari.
Sementara Ketua Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga Yunanda Saputra mengatakan roadshow juga menghadirkan para pelajar yang akan membacakan puisi terbaru Syaiful tersebut. "Seperti tujuan awalnya bahwa kegiatan ini diharapkan bisa memberikan ruang apresiasi yang lebih terhadap dunia sastra terutama puisi bagi para pelajar." n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 September 2007
September 10, 2007
September 9, 2007
Sastra: Dicari: Novelis Lampung!
-- Maman S. Mahayana*
SELEPAS saya membolak-balik catatan perjalanan novel Indonesia, sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah. Di sana, tidak ada novel karya sastrawan Lampung! Padahal, Lampung punya sejarah panjang tradisi bersastra. Datang saja misalnya ke Kabupaten Way Kanan. Maka, di daerah itu kita akan menjumpai begitu banyak sastra lisan yang menarik. Bahkan, nyeleneh dibandingkan sastra lisan di daerah lain di Nusantara. Lampung pun punya sejarah aksara sendiri, sejajar dengan aksara Bali, Jawa, Sunda, Melayu dan sejumlah aksara daerah lain di Nusantara. Jadi, secara kultural, wilayah ini punya kekayaan tradisi yang membanggakan. Lalu, mengapa tak ada novelis dari kawasan ini yang mencatatkan diri dalam peta sastra Indonesia? Bukankah selama ini Lampung juga telah dikenal sebagai salah satu poros penting kesusastraan Indonesia?
Sebelum Indonesia merdeka, Balai Pustaka didominasi sastrawan Sumatera dengan Minangkabau yang paling banyak melahirkan sastrawan. Tetapi, ketika itu pun tak ada novelis Lampung di sana. Medan yang lebih jauh dari pusat pemerintahan, malah ikut bermain. Dua di antaranya, Muhammad Kassim dan Suman Hs., meski Suman kemudian hijrah dan menjadi warga Melayu di Riau. Keduanya bahkan dipandang sebagai perintis novel-novel komedi.
Pada dasawarsa 1930-an Medan begitu banyak melahirkan novelis. Terbitnya majalah Pedoman Masyarakat pertengahan tahun 1935-an yang dikelola Hamka dan Helmy Yunan Nasution, ikut menyuburkan penulisan novel. Di majalah itu juga kita dapat menjumpai iklan-iklan novel terbitan sejumlah penerbit Medan. Termasuk juga iklan sayembara penulisan novel (roman). Para novelis Medan ketika itu, cukup populer terutama dalam penulisan novel detektif dan kisah-kisah petualangan (adventure). Beberapa di antaranya, Merayu Sukma, Yusuf Sou'yb, S.M. Taufik, Zalecha, dan Ghazali Hasan. Jalur penerbitan dan distribusi buku Medan, Tebingtinggi, Bukingtinggi, dan Padang memungkinkan perkembangan sastra masa itu bergerak semarak.
Selepas merdeka, Balai Pustaka dikelola dengan kebijaksanaan membiarkan semangat dan ciri keindonesiaan. Pemerintah tak lagi ikut campur dalam soal yang menyangkut tema cerita. Keinginan untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang khas Balai Pustaka, juga diperlakukan lebih longgar. Ada kesadaran dari redakturnya untuk mempertahankan unsur bahasa dan kebudayaan daerah yang masuk dalam naskah yang dikirim ke Balai Pustaka. Maka, unsur-unsur bahasa daerah (Sunda dan Jawa) dalam novel Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja dan Keluarga Gerilya (1949) karya Pramoedya Ananta Toer dibiarkan bertebaran dalam kedua novel itu.
Akibat kebijaksanaan Balai Pustaka itu, dominasi sastrawan Sumatera mulai pudar. Sastrawan dengan latar budaya Jawa dan Sunda, bermunculan. Meskipun demikian, Minangkabau (sekadar menyebut dua nama: A.A. Navis, Motinggo Boesje) dan Medan (Barus Siregar dan Bokor Hutasuhut) ditambahkan dengan mereka yang kemunculannya setelah hijrah ke Jawa (Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Nasjah Djamin). Palembang, selepas tahun 1950-an, memunculkan nama Bur Rasuanto dan K. Usman.
Sampai kini, poros-poros novel Indonesia di Sumatera itu masih memperlihatkan kontribusinya. Bahkan lebih semarak dibandingkan tahun 1950-an. Sumatera Barat, misalnya, masih merupakan penyumbang terbesar novelis Indonesia. Sekadar menyebut beberapa, Wisran Hadi, Darman Munir, Gus tf Sakai. Riau, selepas Ediruslan P.E. Amanriza, masih ada Sudarno Mahyudin, lalu muncul pula Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, Mohammad Nasir, Olyrinson, Hary B. Kori'un. Bahkan Juli lalu, Rida K Liamsi meluncurkan novel Bulang Cahaya (JP Book Surabaya dan Yayasan Sagang, 2007, 326 halaman), sebuah kisah percintaan Romeo dan Juliet model Melayu yang dikemas dalam bingkai besar terbelahnya keagungan kerajaan Melayu. Belum lagi menyangkut kawasan Kepulauan Riau, Bintan dan Batam, di antaranya, Samson Rambah Pasir dan Tusiran Suseno. Malahan, Tusiran Soseno tercatat sebagai pemenang kedua Lomba Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, 2006.
Sementara itu, Aceh selepas bencana mahadahsyat--tsunami--seperti menggeliat dan tiba-tiba membangunkan kehidupan kesusastraan di sana menjadi lebih semarak. Sulaiman Tripa, misalnya, kini telah menghasilkan tiga novel, Safiah, Perempuan Perlasia (2003), Malam Memeluk Intan (2007) yang bercerita tentang tragedi tsunami, dan Kala Senja di Gampong Tua sedang dalam persiapan terbit. Para penyair dan cerpenis di sana makin bergiat menerbitkan karya-karya mereka. Ke depan, sangat boleh jadi Aceh akan memberi kontribusi penting bagi perjalanan kesusastraan Indonesia.
Palembang yang dalam satu dasawarsa terkesan redup-senyap dalam ingar-bingar kesusastraan Indonesia, belakangan ini memperlihatkan gairah yang menjanjikan. Para penyair dan cerpenis bermunculan dengan kualitas yang boleh disandingkan dengan sastrawan dari daerah lain. Toton Dai Permana lewat novelnya Angin niscaya akan menyemarakkan peta novel Indonesia. Sebelum itu, Taufik Wijaya telah memperlihatkan talentanya lewat Juaro (Pustaka Melayu, 2005, 164 halaman). Kini, novel berikutnya, Buntung dalam persiapan terbit.
Pengalaman sebagai juri dalam sejumlah sayembara penulisan novel, kerap membawa saya pada satu kesimpulan: tak ada naskah novel yang ditulis sastrawan Lampung. Ke manakah mereka? Apakah penyelenggaraan Krakatau Award sejak 2002 yang berkutat pada puisi dan cerpen itu berdampak juga pada proses kreatif yang lain hingga novel tak tersentuh? Atau, Krakatau Award sesungguhnya representasi dan sekaligus legitimasi atas ketakberdayaan menjamah novel?
Dulu saya agak akrab dengan nama-nama Aan Sarmany Adiel, Ahmad Yulden Erwin, Diro Aritonang, Iwan Nurdaya Djafar, Naim Prahana, Hasanuddin Z. Arifin. Mereka pernah cukup memukau. Saya, bahkan sempat mengagumi Iwan Nurdaya Djafar atas karya-karya terjemahannya yang cantik. Kini, mereka mungkin sedang asyik-masyuk dalam kubangan kemapanan.
Saya mencari Syaiful Irba-Tanpaka yang juga seperti tenggelam di antara nama-nama Ari Pahala, Dahta Gautama, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Lupita Lukman, Oyos Saroso, Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan, dan sederet panjang nama yang di luar jangkauan. Apakah di antara deretan nama itu tak ada satu pun yang punya napas berlebih untuk menulis narasi panjang?
Isbedy yang cerpennya bertebaran sesungguhnya sangat potensial menunjukkan kualitasnya sebagai novelis andal. Coba cermati sejumlah cerpennya. Di sana tersimpan potensi untuk menjadi narasi panjang. Saya kira, Isbedy patut lebih sabar untuk tidak tergesa-gesa menyelesaikan prosanya agar tak sekali jadi.
Iswadi Pratama juga sesungguhnya punya kemampuan yang sama. Penggarapan sejumlah naskah dramanya adalah miniatur novel. Bukankah tindak perbuatan melakukan transformasi naskah drama ke novel pernah dilakukan Putu Wijaya dalam "Bila Malam Bertambah Malam" dan Nano Riantiarno dalam "Primadona"? Kenapa Iswadi tak mau menunjukkan kualitasnya sebagai penulis novel yang andal, meski sesungguhnya ia mempunyai kualitas itu?
Boleh jadi nama-nama yang disebutkan tadi sesungguhnya novelis yang menjanjikan. Boleh jadi pula mereka belum menyadari kualitasnya sendiri, sehingga sudah cukup puas dengan puisi dan cerpen. Meski begitu, tentu saja mereka bebas memilih. Bukankah tak menulis apa-apa pun dan hidup sambil menikmati kemapanan tak berdosa lantaran tak dilarang Tuhan. Bahkan, jika tak ada satu pun novelis Lampung sampai entah kapan, Indonesia tak bakal runtuh dan kehidupan akan tetap berjalan sebagaimana biasa. Kebudayaan dan kesusastraan di Lampung juga tetap akan menggelinding. Hidup tanpa novel, seperti di Papua atau di daerah-daerah terpencil, bukankah tetap berjalan dan tak menimbulkan pemberontakan? Cuma, jika terbit sebuah novel karya sastrawan Lampung, sangat mungkin namanya akan tercatat sebagai perintis, sebagai sang pemula; novelis Lampung pertama!
Sebaliknya, jika novel dipercaya sebagai representasi intelektualitas, sebagai yang melengkapi lanskap peta kesusastraan, sebagai sumbangsih kultural yang membawa nama wilayah masyarakatnya, maka patutlah dipikirkan untuk segera melahirkan novelis(-novelis) andal. Dalam hal ini, pemerintah daerah (pemda) sesungguhnya bertanggung jawab secara kultural, intelektual, bahkan juga moral. Jadi, Pemda mestinya memfasilitasi sastrawan di wilayahnya untuk menulis novel sebagai usaha mengangkat citra, bahwa Pemda Lampung peduli pada kehidupan kebudayaan intelektual. Peradaban dan reputasi bangsa di dunia yang punya sejarah panjang kesusastraan, selalu dibesarkan para novelisnya.
Dalam banyak kasus, hanya wilayah terbelakang yang tak pernah melahirkan novelis? Pemda dan Dewan Kesenian Lampung niscaya sangat menyadari keprihatinan ini. Bangsa besar adalah bangsa yang selalu punya novelis. Novelis lahir dari bangsa yang merasa punya marwah dan martabat sebagai bangsa besar. Apakah Lampung termasuk kategori bangsa besar? Kita lihat saja nanti, bagaimana pemdanya punya perhatian atau tidak atas masalah ini. Di balik kecemasan ini, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah!
n Maman S Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
SELEPAS saya membolak-balik catatan perjalanan novel Indonesia, sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah. Di sana, tidak ada novel karya sastrawan Lampung! Padahal, Lampung punya sejarah panjang tradisi bersastra. Datang saja misalnya ke Kabupaten Way Kanan. Maka, di daerah itu kita akan menjumpai begitu banyak sastra lisan yang menarik. Bahkan, nyeleneh dibandingkan sastra lisan di daerah lain di Nusantara. Lampung pun punya sejarah aksara sendiri, sejajar dengan aksara Bali, Jawa, Sunda, Melayu dan sejumlah aksara daerah lain di Nusantara. Jadi, secara kultural, wilayah ini punya kekayaan tradisi yang membanggakan. Lalu, mengapa tak ada novelis dari kawasan ini yang mencatatkan diri dalam peta sastra Indonesia? Bukankah selama ini Lampung juga telah dikenal sebagai salah satu poros penting kesusastraan Indonesia?
Sebelum Indonesia merdeka, Balai Pustaka didominasi sastrawan Sumatera dengan Minangkabau yang paling banyak melahirkan sastrawan. Tetapi, ketika itu pun tak ada novelis Lampung di sana. Medan yang lebih jauh dari pusat pemerintahan, malah ikut bermain. Dua di antaranya, Muhammad Kassim dan Suman Hs., meski Suman kemudian hijrah dan menjadi warga Melayu di Riau. Keduanya bahkan dipandang sebagai perintis novel-novel komedi.
Pada dasawarsa 1930-an Medan begitu banyak melahirkan novelis. Terbitnya majalah Pedoman Masyarakat pertengahan tahun 1935-an yang dikelola Hamka dan Helmy Yunan Nasution, ikut menyuburkan penulisan novel. Di majalah itu juga kita dapat menjumpai iklan-iklan novel terbitan sejumlah penerbit Medan. Termasuk juga iklan sayembara penulisan novel (roman). Para novelis Medan ketika itu, cukup populer terutama dalam penulisan novel detektif dan kisah-kisah petualangan (adventure). Beberapa di antaranya, Merayu Sukma, Yusuf Sou'yb, S.M. Taufik, Zalecha, dan Ghazali Hasan. Jalur penerbitan dan distribusi buku Medan, Tebingtinggi, Bukingtinggi, dan Padang memungkinkan perkembangan sastra masa itu bergerak semarak.
Selepas merdeka, Balai Pustaka dikelola dengan kebijaksanaan membiarkan semangat dan ciri keindonesiaan. Pemerintah tak lagi ikut campur dalam soal yang menyangkut tema cerita. Keinginan untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang khas Balai Pustaka, juga diperlakukan lebih longgar. Ada kesadaran dari redakturnya untuk mempertahankan unsur bahasa dan kebudayaan daerah yang masuk dalam naskah yang dikirim ke Balai Pustaka. Maka, unsur-unsur bahasa daerah (Sunda dan Jawa) dalam novel Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja dan Keluarga Gerilya (1949) karya Pramoedya Ananta Toer dibiarkan bertebaran dalam kedua novel itu.
Akibat kebijaksanaan Balai Pustaka itu, dominasi sastrawan Sumatera mulai pudar. Sastrawan dengan latar budaya Jawa dan Sunda, bermunculan. Meskipun demikian, Minangkabau (sekadar menyebut dua nama: A.A. Navis, Motinggo Boesje) dan Medan (Barus Siregar dan Bokor Hutasuhut) ditambahkan dengan mereka yang kemunculannya setelah hijrah ke Jawa (Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Nasjah Djamin). Palembang, selepas tahun 1950-an, memunculkan nama Bur Rasuanto dan K. Usman.
Sampai kini, poros-poros novel Indonesia di Sumatera itu masih memperlihatkan kontribusinya. Bahkan lebih semarak dibandingkan tahun 1950-an. Sumatera Barat, misalnya, masih merupakan penyumbang terbesar novelis Indonesia. Sekadar menyebut beberapa, Wisran Hadi, Darman Munir, Gus tf Sakai. Riau, selepas Ediruslan P.E. Amanriza, masih ada Sudarno Mahyudin, lalu muncul pula Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, Mohammad Nasir, Olyrinson, Hary B. Kori'un. Bahkan Juli lalu, Rida K Liamsi meluncurkan novel Bulang Cahaya (JP Book Surabaya dan Yayasan Sagang, 2007, 326 halaman), sebuah kisah percintaan Romeo dan Juliet model Melayu yang dikemas dalam bingkai besar terbelahnya keagungan kerajaan Melayu. Belum lagi menyangkut kawasan Kepulauan Riau, Bintan dan Batam, di antaranya, Samson Rambah Pasir dan Tusiran Suseno. Malahan, Tusiran Soseno tercatat sebagai pemenang kedua Lomba Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, 2006.
Sementara itu, Aceh selepas bencana mahadahsyat--tsunami--seperti menggeliat dan tiba-tiba membangunkan kehidupan kesusastraan di sana menjadi lebih semarak. Sulaiman Tripa, misalnya, kini telah menghasilkan tiga novel, Safiah, Perempuan Perlasia (2003), Malam Memeluk Intan (2007) yang bercerita tentang tragedi tsunami, dan Kala Senja di Gampong Tua sedang dalam persiapan terbit. Para penyair dan cerpenis di sana makin bergiat menerbitkan karya-karya mereka. Ke depan, sangat boleh jadi Aceh akan memberi kontribusi penting bagi perjalanan kesusastraan Indonesia.
Palembang yang dalam satu dasawarsa terkesan redup-senyap dalam ingar-bingar kesusastraan Indonesia, belakangan ini memperlihatkan gairah yang menjanjikan. Para penyair dan cerpenis bermunculan dengan kualitas yang boleh disandingkan dengan sastrawan dari daerah lain. Toton Dai Permana lewat novelnya Angin niscaya akan menyemarakkan peta novel Indonesia. Sebelum itu, Taufik Wijaya telah memperlihatkan talentanya lewat Juaro (Pustaka Melayu, 2005, 164 halaman). Kini, novel berikutnya, Buntung dalam persiapan terbit.
***
Pengalaman sebagai juri dalam sejumlah sayembara penulisan novel, kerap membawa saya pada satu kesimpulan: tak ada naskah novel yang ditulis sastrawan Lampung. Ke manakah mereka? Apakah penyelenggaraan Krakatau Award sejak 2002 yang berkutat pada puisi dan cerpen itu berdampak juga pada proses kreatif yang lain hingga novel tak tersentuh? Atau, Krakatau Award sesungguhnya representasi dan sekaligus legitimasi atas ketakberdayaan menjamah novel?
Dulu saya agak akrab dengan nama-nama Aan Sarmany Adiel, Ahmad Yulden Erwin, Diro Aritonang, Iwan Nurdaya Djafar, Naim Prahana, Hasanuddin Z. Arifin. Mereka pernah cukup memukau. Saya, bahkan sempat mengagumi Iwan Nurdaya Djafar atas karya-karya terjemahannya yang cantik. Kini, mereka mungkin sedang asyik-masyuk dalam kubangan kemapanan.
Saya mencari Syaiful Irba-Tanpaka yang juga seperti tenggelam di antara nama-nama Ari Pahala, Dahta Gautama, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Lupita Lukman, Oyos Saroso, Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan, dan sederet panjang nama yang di luar jangkauan. Apakah di antara deretan nama itu tak ada satu pun yang punya napas berlebih untuk menulis narasi panjang?
Isbedy yang cerpennya bertebaran sesungguhnya sangat potensial menunjukkan kualitasnya sebagai novelis andal. Coba cermati sejumlah cerpennya. Di sana tersimpan potensi untuk menjadi narasi panjang. Saya kira, Isbedy patut lebih sabar untuk tidak tergesa-gesa menyelesaikan prosanya agar tak sekali jadi.
Iswadi Pratama juga sesungguhnya punya kemampuan yang sama. Penggarapan sejumlah naskah dramanya adalah miniatur novel. Bukankah tindak perbuatan melakukan transformasi naskah drama ke novel pernah dilakukan Putu Wijaya dalam "Bila Malam Bertambah Malam" dan Nano Riantiarno dalam "Primadona"? Kenapa Iswadi tak mau menunjukkan kualitasnya sebagai penulis novel yang andal, meski sesungguhnya ia mempunyai kualitas itu?
Boleh jadi nama-nama yang disebutkan tadi sesungguhnya novelis yang menjanjikan. Boleh jadi pula mereka belum menyadari kualitasnya sendiri, sehingga sudah cukup puas dengan puisi dan cerpen. Meski begitu, tentu saja mereka bebas memilih. Bukankah tak menulis apa-apa pun dan hidup sambil menikmati kemapanan tak berdosa lantaran tak dilarang Tuhan. Bahkan, jika tak ada satu pun novelis Lampung sampai entah kapan, Indonesia tak bakal runtuh dan kehidupan akan tetap berjalan sebagaimana biasa. Kebudayaan dan kesusastraan di Lampung juga tetap akan menggelinding. Hidup tanpa novel, seperti di Papua atau di daerah-daerah terpencil, bukankah tetap berjalan dan tak menimbulkan pemberontakan? Cuma, jika terbit sebuah novel karya sastrawan Lampung, sangat mungkin namanya akan tercatat sebagai perintis, sebagai sang pemula; novelis Lampung pertama!
Sebaliknya, jika novel dipercaya sebagai representasi intelektualitas, sebagai yang melengkapi lanskap peta kesusastraan, sebagai sumbangsih kultural yang membawa nama wilayah masyarakatnya, maka patutlah dipikirkan untuk segera melahirkan novelis(-novelis) andal. Dalam hal ini, pemerintah daerah (pemda) sesungguhnya bertanggung jawab secara kultural, intelektual, bahkan juga moral. Jadi, Pemda mestinya memfasilitasi sastrawan di wilayahnya untuk menulis novel sebagai usaha mengangkat citra, bahwa Pemda Lampung peduli pada kehidupan kebudayaan intelektual. Peradaban dan reputasi bangsa di dunia yang punya sejarah panjang kesusastraan, selalu dibesarkan para novelisnya.
Dalam banyak kasus, hanya wilayah terbelakang yang tak pernah melahirkan novelis? Pemda dan Dewan Kesenian Lampung niscaya sangat menyadari keprihatinan ini. Bangsa besar adalah bangsa yang selalu punya novelis. Novelis lahir dari bangsa yang merasa punya marwah dan martabat sebagai bangsa besar. Apakah Lampung termasuk kategori bangsa besar? Kita lihat saja nanti, bagaimana pemdanya punya perhatian atau tidak atas masalah ini. Di balik kecemasan ini, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah!
n Maman S Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
Liga Teater Pelajar sebagai Barometer
SEBUAH gelaran teater besar bagi pelajar SMA se-Provinsi Lampung, Liga Teater Pelajar tahun 2007 baru saja usai, akhir bulan lalu. Ajang yang ditaja setiap tahunnya ini keberadaannya telah menjadi satu barometer dalam melihat perkembangan dunia teater di Provinsi Lampung.
Pada kegiatan Liga Teater tahun 2007 kali ini, grup Teater Pelopor dari SMA Perintis 2 Bandar Lampung berhasil dinisbatkan menjadi Grup Teater Terbaik. Sedangkan Grup Terbaik II diraih Teater Kolastra dari SMAN 9 Bandar Lampung dan Terbaik III diraih grup Teater Palapa dari SMAN 3 Bandar Lampung.
Selain berhasil menjadikan Teater Pelopor sebagai jawara dalam kegiatan ini, dewan juri yang terdiri dari Ann Lee asal Malaysia, Yany Mae dari STSI Bandung, dan Iswadi Pratama dari Teater Satu Lampung juga menetapkan Sutradara Teater Pelopor, Lintang sebagai yang terbaik.
Bintang-bintang baru yang dimunculkan pada gelaran Liga Teater 2007 ini ialah Thomas Herbert sebagai Aktor Terbaik dan Kishi Novalia sebagai Aktris Terbaik yang keduanya berasal dari Teater Air SMA Xaverius Bandar Lampung. Dan juga ditambah dengan peraih pemeran Aktor Pendukung Terbaik, Basya Deni dari Teater Insya Allah SMA Perintis 2 serta Aktris Pendukung Terbaik diraih Ochi dari Teater Palapa SMAN 3 Bandar Lampung
Dan idealnya sebuah pertunjukan teater merupakan satu kesatuan yang utuh, makanya penilaian yang dihasilkan tidak melulu terbatas pada hal-hal itu saja. Akan tetapi, penilaian juga dirahkan pada elemen pendukung lain yang juga sangat memegang peranan penting dalam sebuah garapan teater.
Di antaranya elemen yang menjadi penilaian ialah penata set panggung, penata kostum dan tata rias, serta penata musik. Adapun peraih terbaik untuk elemen tersebut ialah Penata Set Panggung Terbaik yang didapat tim Teater Kolastra SMAN 9 Bandar Lampung. Lalu Penata Kostum dan Tata Rias Terbaik diraih Nurul Syahfutri dari Teater Pelopor SMA Perintis 1 Bandar Lampung, serta Penata Musik Terbaik diraih Laurensius Agus Winarto dari Teater Gema SMAN 2 Bandar Lampung.
Sebuah Catatan
Harus diakui bahwa pada penyelenggaraan Liga Teater tahun 2007 kali ini, terjadi peningkatan kualitas dari para peserta, terutama mereka yang berasal dari Kota Bandar Lampung. Peningkatan kualitas tersebut sangat kentara apabila dibanding dengan penampilan tahun sebelumnya. Meskipun juga ada beberapa peserta yang mengalami kemunduran kualitas jika dibanding dengan penampilan sebelumnya.
Salah satu peningkatan kualitas yang sangat terlihat ialah interpretasi sutradara yang sekarang tidak lagi terjebak pada penciptaan drama ansich saja. Namun pada tahun ini, beberapa teater yang tampil menonjolkan sebuah tontonan yang benar-benar mengeksplorasi kemampuan para pemain bisa tampil maksimal dengan cerita yang dibawa lebih komedian bahkan cenderung slapstick.
Ini bisa dilihat pada penampilan Teater Pelopor dari SMA Perintis 1 yang tampil dengan sangat segar. Permainan yang disuguhkan benar-benar terjalin satu kesatuan, dengan lemparan joke serta adegan slapstick yang benar-benar menguras tawa penonton. Meksipun ada satu peran, yakni Joni (Ayu Agustina), yang begitu menonjol, di beberapa adegan dan scene tampak berlebihan.
Namun secara umum, apa yang disuguhkan Teater Pelopor sudah sangat baik sekali. Naskah "Kisah Cinta dan Lain-Lain" karya Arifin C. Noer diinterpretasikan dengan sangat cerdasnya menjadi sebuah karya komedian yang tidak berlebih,karena pesan yang ingin disampaikan mampu dicerna penonton.
Dan untuk tampil komedi tentulah tidaklah mudah. Terlebih lagi rata-rata yang memerankan merupakan para pelajar yang masih sangat terbatas pengalamannya. Kalaupun ada yang sudah berpengalaman, mereka biasanya yang sudah mengikuti liga tahun sebelumnya, sehingga kemampuan peserta dalam memberikan sebuah spontanitas kesegaran pada naskah tentu menjadi satu catatan keberhasilan tersendiri.
Pun Teater Kolastra dari SMAN 9 Bandar Lampung dan Teater Palapa dari SMAN 3 Bandar Lampung juga memberikan satu kesegaran tersediri dalam penampilannya. Bahkan, sama dengan Teater Pelopor, eksplorasi terhadap naskah "Kisah Cinta dan Lain-Lain" juga ditawarkan dengan nuansa komedian yang kental dan tidak berlebihan.
Padahal pada penyelenggaraan liga teater tahun-tahun sebelumnya, naskah realis yang ditawarkan akan benar-benar ditampilkan dalam sebuah pertunjukan yang sangat drama-ansich, sehingga ini memperlihatkan adanya peningkatan yang sangat signifikan dari grup teater pelajar yang ada di Provinsi Lampung yang tampil pada gelaran kali ini.
Meskipun terdapat grup teater yang mengalami perkembangan pesat pada penampilannya, beberapa grup yang tahun sebelumnya berhasil meraih prestasi membanggakan, ternyata tahun ini tidak begitu berhasil. Salah satunya dialami Teater Cupido dari SMAN 1 Sumber Jaya, Lampung Barat, yang pada tahun lalu meraih Grup Terbaik II terpaksa tahun ini tidak satu pun gelar terbaik berhasil diraih.
Begitu juga dengan Teater SMAN 10 Bandar Lampung yang biasanya turut berpartisipasi dalam gelaran ini. Untuk tahun ini, meskipun sudah terdaftar menjadi peserta, ternyata mereka urung tampil. Tentu saja ini memberikan sebuah catatan tersendiri dalam perkembangan teater pelajar di Lampung.
Akan tetapi, dari keseluruhan kegiatan ada sebuah catatan penting yang tertinggal dan sangat mengganggu sekali dalam gelaran Liga Teater 2007 bahwa belum adanya kemerataan kualitas penampilan antara peserta asal Bandar Lampung dan yang ditampilkan dari luar daerah.
Menurut Imas Sobariah, Direktur Marketing Teater Satu Lampung bahwa kondisi tersebut disebabkan kurang adanya wadah apresiasi dari pelajar di luar Bandar Lampung. Sebab, rata-rata yang memberikan pengajaran teater di sekolah yang berada di luar kota ialah para guru kesenian yang biasanya mengajarkan seadanya.
Sementara itu, bagi pelajar yang berada di Bandar Lampung, rata-rata pengajar teaternya melibatkan para penggiat teater yang terus menunjukan eksistensinya di daerah, nasional, bahkan internasional. Ditambah lagi masih sedikitnya gelaran pentas teater di daerah memberikan ruang yang sangat sempit bagi pelajar untuk mengapresiasi sebuah pertunjukan teater. Sedangkan di Bandar Lampung bisa dikatakan kegiatan teater kerap digelar.
Sehingga ini menjadi sebuah PR bagi pihak-pihak terkait untuk lebih memasyarakatkan teater bagi para pelajar di sekolah-sekolah terutama yang berada di luar kota. Hal ini bisa dilakukan dengan pemberian pembelajaran ataupun ekstrakurikuler teater di sekolah dengan melibatkan dewan kesenian kabupaten masing-masing ataupun dengan mengusung pertunjukan teater asal Bandar Lampung atau luar Lampung ke daerah guna memberikan apresiasi yang lebih bagi para pelajar.
Akan tetapi, Yani Mae yang juga dosen STSI Bandung, mengatakan dirinya sangat salut dengan apa yang ditampilkan setiap peserta. Karena untuk tampil saja di panggung membutuhkan satu keberanian yang lebih, apalagi mementaskan sebuah pertunjukan dengan lengkap dan baik, tentu sangat tidak mudah. Untuk itu, dia sangat salut dengan apa yang dimainkan seluruh peserta liga.
Dengan peningkatan kualitas yang sangat terasa dari peserta Liga Teater 2007 ini, paling tidak memberikan sebuah harapan bahwa ke depannya dunia berkesenian terutama dunia teater tidak akan sepi lagi. Akan lahir kantong-kantong kesenian yang bisa melahirkan embrionya untuk berkesenian juga.
Sehingga paling tidak diharapkan akan lahir penggiat-penggiat teater seperti halnya Teater Satu Lampung yang berawal dari para pemain teater pelajar yang sekarang telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan teater di Lampung. Sebab, rata-rata aktivitas para pemain selain tetap bermain, mereka juga menjadi pengajar di beberapa sekolah, dan ternyata hasilnya sangatlah menakjubkan. Untuk itu ke depan dunia teater pelajar Lampung sepertinya makin cerah dengan kemunculan bintang-bintang baru dalam Liga Teater 2007 kali ini. n TEGUH PRASETYO/S-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
Pada kegiatan Liga Teater tahun 2007 kali ini, grup Teater Pelopor dari SMA Perintis 2 Bandar Lampung berhasil dinisbatkan menjadi Grup Teater Terbaik. Sedangkan Grup Terbaik II diraih Teater Kolastra dari SMAN 9 Bandar Lampung dan Terbaik III diraih grup Teater Palapa dari SMAN 3 Bandar Lampung.
Selain berhasil menjadikan Teater Pelopor sebagai jawara dalam kegiatan ini, dewan juri yang terdiri dari Ann Lee asal Malaysia, Yany Mae dari STSI Bandung, dan Iswadi Pratama dari Teater Satu Lampung juga menetapkan Sutradara Teater Pelopor, Lintang sebagai yang terbaik.
Bintang-bintang baru yang dimunculkan pada gelaran Liga Teater 2007 ini ialah Thomas Herbert sebagai Aktor Terbaik dan Kishi Novalia sebagai Aktris Terbaik yang keduanya berasal dari Teater Air SMA Xaverius Bandar Lampung. Dan juga ditambah dengan peraih pemeran Aktor Pendukung Terbaik, Basya Deni dari Teater Insya Allah SMA Perintis 2 serta Aktris Pendukung Terbaik diraih Ochi dari Teater Palapa SMAN 3 Bandar Lampung
Dan idealnya sebuah pertunjukan teater merupakan satu kesatuan yang utuh, makanya penilaian yang dihasilkan tidak melulu terbatas pada hal-hal itu saja. Akan tetapi, penilaian juga dirahkan pada elemen pendukung lain yang juga sangat memegang peranan penting dalam sebuah garapan teater.
Di antaranya elemen yang menjadi penilaian ialah penata set panggung, penata kostum dan tata rias, serta penata musik. Adapun peraih terbaik untuk elemen tersebut ialah Penata Set Panggung Terbaik yang didapat tim Teater Kolastra SMAN 9 Bandar Lampung. Lalu Penata Kostum dan Tata Rias Terbaik diraih Nurul Syahfutri dari Teater Pelopor SMA Perintis 1 Bandar Lampung, serta Penata Musik Terbaik diraih Laurensius Agus Winarto dari Teater Gema SMAN 2 Bandar Lampung.
Sebuah Catatan
Harus diakui bahwa pada penyelenggaraan Liga Teater tahun 2007 kali ini, terjadi peningkatan kualitas dari para peserta, terutama mereka yang berasal dari Kota Bandar Lampung. Peningkatan kualitas tersebut sangat kentara apabila dibanding dengan penampilan tahun sebelumnya. Meskipun juga ada beberapa peserta yang mengalami kemunduran kualitas jika dibanding dengan penampilan sebelumnya.
Salah satu peningkatan kualitas yang sangat terlihat ialah interpretasi sutradara yang sekarang tidak lagi terjebak pada penciptaan drama ansich saja. Namun pada tahun ini, beberapa teater yang tampil menonjolkan sebuah tontonan yang benar-benar mengeksplorasi kemampuan para pemain bisa tampil maksimal dengan cerita yang dibawa lebih komedian bahkan cenderung slapstick.
Ini bisa dilihat pada penampilan Teater Pelopor dari SMA Perintis 1 yang tampil dengan sangat segar. Permainan yang disuguhkan benar-benar terjalin satu kesatuan, dengan lemparan joke serta adegan slapstick yang benar-benar menguras tawa penonton. Meksipun ada satu peran, yakni Joni (Ayu Agustina), yang begitu menonjol, di beberapa adegan dan scene tampak berlebihan.
Namun secara umum, apa yang disuguhkan Teater Pelopor sudah sangat baik sekali. Naskah "Kisah Cinta dan Lain-Lain" karya Arifin C. Noer diinterpretasikan dengan sangat cerdasnya menjadi sebuah karya komedian yang tidak berlebih,karena pesan yang ingin disampaikan mampu dicerna penonton.
Dan untuk tampil komedi tentulah tidaklah mudah. Terlebih lagi rata-rata yang memerankan merupakan para pelajar yang masih sangat terbatas pengalamannya. Kalaupun ada yang sudah berpengalaman, mereka biasanya yang sudah mengikuti liga tahun sebelumnya, sehingga kemampuan peserta dalam memberikan sebuah spontanitas kesegaran pada naskah tentu menjadi satu catatan keberhasilan tersendiri.
Pun Teater Kolastra dari SMAN 9 Bandar Lampung dan Teater Palapa dari SMAN 3 Bandar Lampung juga memberikan satu kesegaran tersediri dalam penampilannya. Bahkan, sama dengan Teater Pelopor, eksplorasi terhadap naskah "Kisah Cinta dan Lain-Lain" juga ditawarkan dengan nuansa komedian yang kental dan tidak berlebihan.
Padahal pada penyelenggaraan liga teater tahun-tahun sebelumnya, naskah realis yang ditawarkan akan benar-benar ditampilkan dalam sebuah pertunjukan yang sangat drama-ansich, sehingga ini memperlihatkan adanya peningkatan yang sangat signifikan dari grup teater pelajar yang ada di Provinsi Lampung yang tampil pada gelaran kali ini.
Meskipun terdapat grup teater yang mengalami perkembangan pesat pada penampilannya, beberapa grup yang tahun sebelumnya berhasil meraih prestasi membanggakan, ternyata tahun ini tidak begitu berhasil. Salah satunya dialami Teater Cupido dari SMAN 1 Sumber Jaya, Lampung Barat, yang pada tahun lalu meraih Grup Terbaik II terpaksa tahun ini tidak satu pun gelar terbaik berhasil diraih.
Begitu juga dengan Teater SMAN 10 Bandar Lampung yang biasanya turut berpartisipasi dalam gelaran ini. Untuk tahun ini, meskipun sudah terdaftar menjadi peserta, ternyata mereka urung tampil. Tentu saja ini memberikan sebuah catatan tersendiri dalam perkembangan teater pelajar di Lampung.
Akan tetapi, dari keseluruhan kegiatan ada sebuah catatan penting yang tertinggal dan sangat mengganggu sekali dalam gelaran Liga Teater 2007 bahwa belum adanya kemerataan kualitas penampilan antara peserta asal Bandar Lampung dan yang ditampilkan dari luar daerah.
Menurut Imas Sobariah, Direktur Marketing Teater Satu Lampung bahwa kondisi tersebut disebabkan kurang adanya wadah apresiasi dari pelajar di luar Bandar Lampung. Sebab, rata-rata yang memberikan pengajaran teater di sekolah yang berada di luar kota ialah para guru kesenian yang biasanya mengajarkan seadanya.
Sementara itu, bagi pelajar yang berada di Bandar Lampung, rata-rata pengajar teaternya melibatkan para penggiat teater yang terus menunjukan eksistensinya di daerah, nasional, bahkan internasional. Ditambah lagi masih sedikitnya gelaran pentas teater di daerah memberikan ruang yang sangat sempit bagi pelajar untuk mengapresiasi sebuah pertunjukan teater. Sedangkan di Bandar Lampung bisa dikatakan kegiatan teater kerap digelar.
Sehingga ini menjadi sebuah PR bagi pihak-pihak terkait untuk lebih memasyarakatkan teater bagi para pelajar di sekolah-sekolah terutama yang berada di luar kota. Hal ini bisa dilakukan dengan pemberian pembelajaran ataupun ekstrakurikuler teater di sekolah dengan melibatkan dewan kesenian kabupaten masing-masing ataupun dengan mengusung pertunjukan teater asal Bandar Lampung atau luar Lampung ke daerah guna memberikan apresiasi yang lebih bagi para pelajar.
Akan tetapi, Yani Mae yang juga dosen STSI Bandung, mengatakan dirinya sangat salut dengan apa yang ditampilkan setiap peserta. Karena untuk tampil saja di panggung membutuhkan satu keberanian yang lebih, apalagi mementaskan sebuah pertunjukan dengan lengkap dan baik, tentu sangat tidak mudah. Untuk itu, dia sangat salut dengan apa yang dimainkan seluruh peserta liga.
Dengan peningkatan kualitas yang sangat terasa dari peserta Liga Teater 2007 ini, paling tidak memberikan sebuah harapan bahwa ke depannya dunia berkesenian terutama dunia teater tidak akan sepi lagi. Akan lahir kantong-kantong kesenian yang bisa melahirkan embrionya untuk berkesenian juga.
Sehingga paling tidak diharapkan akan lahir penggiat-penggiat teater seperti halnya Teater Satu Lampung yang berawal dari para pemain teater pelajar yang sekarang telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan teater di Lampung. Sebab, rata-rata aktivitas para pemain selain tetap bermain, mereka juga menjadi pengajar di beberapa sekolah, dan ternyata hasilnya sangatlah menakjubkan. Untuk itu ke depan dunia teater pelajar Lampung sepertinya makin cerah dengan kemunculan bintang-bintang baru dalam Liga Teater 2007 kali ini. n TEGUH PRASETYO/S-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
Bingkai: Mempertimbangkan Teater Ruang
-- Asarpin*
DALAM Diskusi Forum Membaca Teater di Indonesia Hari ini yang diadakan Teater Garasi dan Jurnal LeBur, Yogyakarta, seperti yang pernah diceritakan Yudi Ahmad Tajudin, Afrizal melontarkan gagasan teater ruang. Bagi Afrizal, bukan acting yang menciptakan ruang, melainkan gagasan atas ruang yang mempunyai konsekuensi terhadap acting.
Konsekuensi lanjutan dari cara berpikir tentang teatar ruang itu pada akhirnya memunculkan semacam "kehendak penonton". Penonton dianggap sebagai publik yang aktif dan mempunyai selera sendiri yang tak bisa didikte ulasan pendek wartawan atau kritikus.
Misi luhur semacam itu pula yang hendak dihadirkan Jurnal LeBur, Yogyakarta, ketika seniman-seniman di luar arus utama kesenian, seperti Afrizal, Dewi Noviami, Landung Simatupang, Lauren Bain, Yudi Ahmad Tajudin, menjadi penjaga gawang dalam pertindingan gagasan tentang teater masa kini. Namun, di antara mereka tak sedikit perbedaan dalam menempatkan kritik teater, ulasan wartawan, dan penonton dalam pertunjukan teater.
Telaah yang dilakukan Alia Swastika dalam salah satu edisi Jurnal LeBur menunjukkan adanya perbedaan cara pandang dalam melihat apa yang oleh Afrizal dinamakan "peristiwa teater", "perang kode", dan "penonton sebagai latar depan".
Dalam suatu diskusi di jurnal itu, apa yang dinamakan peristiwa teater, perang kode, dan penonton sebagai latar depan, agaknya tak lengkap jika tak mengait-ngaitkannya dengan pandangan filsuf pasca-Marxis, Bourdieu, yang membagi tiga konsep budaya ke dalam cultural field, habitus, dan cultural capital untuk menunjukkan bahwa penonton memiliki otonomi sendiri yang berbeda dengan wartawan dan kritikus teater.
Sementara itu, kritikus teater seperti Alia Swastika tampak begitu apresiatif menempatkan "biografi penonton" sebagai sang pembaca dan penghayat yang aktif dan memiliki otonomi yang sejajar dengan pelaku teater, koreografer, kritikus, wartawan dan sutradara.
Di Lampung muncul Iswadi Pratama yang tampil menggugat dunia teater dan tidak hanya melalui penampilan aku dirinya di berbagai pertunjukan Teater Satu, tapi dalam beberapa kesempatan melakukan kritik atas pertunjukan teater lain yang membuat penonton kebingungan dan menjadi tak berdaya berhadapan dengan banjir bandang teks pertunjukan.
Iswadi seakan menohok harga diri para homo theatricus dan kritikus teater di negeri ini yang masih menempatkan penonton jauh ke latar belakang situasi skizofrenianya.
Dalam teater, ruang dihadirkan bukan sekadar nyanyian puitis-artistis, tapi juga historis, bahkan transhistoris. Dalam hal-hal tertentu Afrizal, seorang penyair sekaligus seorang pemikir, sastrawan juga kritikus sastra, antropolog juga prosais. Caranya menghayati ruang senantiasa melibatkan hampir seluruh tubuhnya, mulai dari emosi, pikiran, mata, telinga, bahkan tangan.
Dalam salah satu esai-prosanya yang belum diterbitkan, Afrizal pernah melukiskan sebuah tanaman rambat yang merayap ke dinding ruang kamarnya. Ia menceritakan bagaimana tangannya telah melepaskan tanaman rambat dari sumbernya dan tangannya telah menyebabkan sesuatu terjadi padanya.
Lalu ia melukiskan perjalanan hidupnya seperti tanaman yang merambat naik ke puncak untuk menggapai dunia atas. Dengan cara itu, tanaman itu akan terus tumbuh. Begitulah tanaman menjaga eksistensinya, dengan cara menumbuhkan dirinya terus-menerus.
Cara Afrizal menghayati dan memikirkan sebuah ruang atau sebuah bandar melibatkan sensibilitas seluruh tubuhnya. Tak hanya emosi yang tampak, tapi juga berkelebatnya pikiran. Puisi ruang dan caranya merasa lebih sebagai hiperbola, yang menuntutnya memikirkan lebih intens bagaimana menaklukkan ruang sekaligus waktu untuk melampaui ambang batas manusiawinya. Ruang dan waktu tak lagi ditempatkan sebagai yang tak terjamah, tapi sesuatu yang bisa diburu dan ditangkap oleh mata hatinya.
Saya beruntung memiliki beberapa naskah teater Afrizal, baik yang pernah diterbitkan atau dipentaskan dalam pertunjukan teater, maupun yang belum/tidak diterbitkan. Dari naskah-naskah tersebut, tema-tema keseniannya begitu kompleks untuk bisa dipetakan, apalagi dalam "peta cecah jiwa dari logosentrisme maya".
Wawasan estetik puisi dan teater ruang yang ditawarkannya bisa ditelusuri lebih jauh mulai dari Gaston Bachelard sendiri, hingga yang paling klasik seperti Aeschylus dalam drama "The Persians" atau Euripides dalam "The Bacchal" yang sangat Asiaistik.
Dalam naskah teater yang pernah dipentaskan, "Konstruksi Keterasingan" (1983), "Ekstase Kematian Orang-orang" (1984), "Semangka yang Dikuburkan" (1989) hingga "Biografi Yanti Setelah 12 Menit" (1991), Afrizal melakukan piknik ke negeri-negeri Asia melalui metafora "Asia membaca", sedangkan Aeschylus dan Euripides "tamasya ke Asia melalui peta yang dibuat Eropa", tulis Edward W. Said.
Jika Aeschylus bernyanyi lewat drama eksistensialis dan berseru: "Segenap tanah Asia/Kini merintih dalam kehampaan/Xerxes membawa tentaranya, oh, oh!/Xerxes binasa, lara, lara!/, lantaran pedihnya menyaksikan kekalahan Asia terhadap Eropa, Afrizal menemukan wajah Asia yang masih sibuk membaca.
Baik Aeschylus maupun Afrizal, juga Sitor Situmorang, saya kira sangat jeli menangkap suatu masa yang pernah jaya bernama Asia, yang tampil kuat memengaruhi peradaban Eropa. Jika dalam "The Bacchal" karya Euripides, sensibilitas ruang masih dihadirkan sebagai pertarungan sengit antara Timur dan Barat (bandingkan dengan sajak Kipling), Afrizal melakukan pergulatan yang intens melalui tarian "Panji Sepuh"-nya Sulistiyo Tirtohusumo, yang olehnya dilukiskan sebagai pertarungan "kekuasaan yang dihadirkan sebagai yang memiliki ruang dan waktunya sendiri".
Ruang memang bukan sesuatu yang netral, bebas nilai, objektif, tetapi sesuatu yang sengaja diciptakan atau dihadirikan, diproduksi, baik untuk kepentingan politik maupun kultural. Dalam ruang kota, misalnya, ruang diproduksi sedemikian rupa untuk tempat tamasya, belanja, bermain bola, taman, jalan, bioskop, tempat pertemun di gedung-gedung pencakar langit, yang semua itu selalu bersinggungan dengan kekuasaan. Teater ruang pada akhirnya sebuah resistensi terhadap kekuasaan, apa pun definisi kita tentang kekuasaan.
* Asarpin, Bergiat di Sastra 147 Lebakbudi, Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
DALAM Diskusi Forum Membaca Teater di Indonesia Hari ini yang diadakan Teater Garasi dan Jurnal LeBur, Yogyakarta, seperti yang pernah diceritakan Yudi Ahmad Tajudin, Afrizal melontarkan gagasan teater ruang. Bagi Afrizal, bukan acting yang menciptakan ruang, melainkan gagasan atas ruang yang mempunyai konsekuensi terhadap acting.
Konsekuensi lanjutan dari cara berpikir tentang teatar ruang itu pada akhirnya memunculkan semacam "kehendak penonton". Penonton dianggap sebagai publik yang aktif dan mempunyai selera sendiri yang tak bisa didikte ulasan pendek wartawan atau kritikus.
Misi luhur semacam itu pula yang hendak dihadirkan Jurnal LeBur, Yogyakarta, ketika seniman-seniman di luar arus utama kesenian, seperti Afrizal, Dewi Noviami, Landung Simatupang, Lauren Bain, Yudi Ahmad Tajudin, menjadi penjaga gawang dalam pertindingan gagasan tentang teater masa kini. Namun, di antara mereka tak sedikit perbedaan dalam menempatkan kritik teater, ulasan wartawan, dan penonton dalam pertunjukan teater.
Telaah yang dilakukan Alia Swastika dalam salah satu edisi Jurnal LeBur menunjukkan adanya perbedaan cara pandang dalam melihat apa yang oleh Afrizal dinamakan "peristiwa teater", "perang kode", dan "penonton sebagai latar depan".
Dalam suatu diskusi di jurnal itu, apa yang dinamakan peristiwa teater, perang kode, dan penonton sebagai latar depan, agaknya tak lengkap jika tak mengait-ngaitkannya dengan pandangan filsuf pasca-Marxis, Bourdieu, yang membagi tiga konsep budaya ke dalam cultural field, habitus, dan cultural capital untuk menunjukkan bahwa penonton memiliki otonomi sendiri yang berbeda dengan wartawan dan kritikus teater.
Sementara itu, kritikus teater seperti Alia Swastika tampak begitu apresiatif menempatkan "biografi penonton" sebagai sang pembaca dan penghayat yang aktif dan memiliki otonomi yang sejajar dengan pelaku teater, koreografer, kritikus, wartawan dan sutradara.
Di Lampung muncul Iswadi Pratama yang tampil menggugat dunia teater dan tidak hanya melalui penampilan aku dirinya di berbagai pertunjukan Teater Satu, tapi dalam beberapa kesempatan melakukan kritik atas pertunjukan teater lain yang membuat penonton kebingungan dan menjadi tak berdaya berhadapan dengan banjir bandang teks pertunjukan.
Iswadi seakan menohok harga diri para homo theatricus dan kritikus teater di negeri ini yang masih menempatkan penonton jauh ke latar belakang situasi skizofrenianya.
Dalam teater, ruang dihadirkan bukan sekadar nyanyian puitis-artistis, tapi juga historis, bahkan transhistoris. Dalam hal-hal tertentu Afrizal, seorang penyair sekaligus seorang pemikir, sastrawan juga kritikus sastra, antropolog juga prosais. Caranya menghayati ruang senantiasa melibatkan hampir seluruh tubuhnya, mulai dari emosi, pikiran, mata, telinga, bahkan tangan.
Dalam salah satu esai-prosanya yang belum diterbitkan, Afrizal pernah melukiskan sebuah tanaman rambat yang merayap ke dinding ruang kamarnya. Ia menceritakan bagaimana tangannya telah melepaskan tanaman rambat dari sumbernya dan tangannya telah menyebabkan sesuatu terjadi padanya.
Lalu ia melukiskan perjalanan hidupnya seperti tanaman yang merambat naik ke puncak untuk menggapai dunia atas. Dengan cara itu, tanaman itu akan terus tumbuh. Begitulah tanaman menjaga eksistensinya, dengan cara menumbuhkan dirinya terus-menerus.
Cara Afrizal menghayati dan memikirkan sebuah ruang atau sebuah bandar melibatkan sensibilitas seluruh tubuhnya. Tak hanya emosi yang tampak, tapi juga berkelebatnya pikiran. Puisi ruang dan caranya merasa lebih sebagai hiperbola, yang menuntutnya memikirkan lebih intens bagaimana menaklukkan ruang sekaligus waktu untuk melampaui ambang batas manusiawinya. Ruang dan waktu tak lagi ditempatkan sebagai yang tak terjamah, tapi sesuatu yang bisa diburu dan ditangkap oleh mata hatinya.
Saya beruntung memiliki beberapa naskah teater Afrizal, baik yang pernah diterbitkan atau dipentaskan dalam pertunjukan teater, maupun yang belum/tidak diterbitkan. Dari naskah-naskah tersebut, tema-tema keseniannya begitu kompleks untuk bisa dipetakan, apalagi dalam "peta cecah jiwa dari logosentrisme maya".
Wawasan estetik puisi dan teater ruang yang ditawarkannya bisa ditelusuri lebih jauh mulai dari Gaston Bachelard sendiri, hingga yang paling klasik seperti Aeschylus dalam drama "The Persians" atau Euripides dalam "The Bacchal" yang sangat Asiaistik.
Dalam naskah teater yang pernah dipentaskan, "Konstruksi Keterasingan" (1983), "Ekstase Kematian Orang-orang" (1984), "Semangka yang Dikuburkan" (1989) hingga "Biografi Yanti Setelah 12 Menit" (1991), Afrizal melakukan piknik ke negeri-negeri Asia melalui metafora "Asia membaca", sedangkan Aeschylus dan Euripides "tamasya ke Asia melalui peta yang dibuat Eropa", tulis Edward W. Said.
Jika Aeschylus bernyanyi lewat drama eksistensialis dan berseru: "Segenap tanah Asia/Kini merintih dalam kehampaan/Xerxes membawa tentaranya, oh, oh!/Xerxes binasa, lara, lara!/, lantaran pedihnya menyaksikan kekalahan Asia terhadap Eropa, Afrizal menemukan wajah Asia yang masih sibuk membaca.
Baik Aeschylus maupun Afrizal, juga Sitor Situmorang, saya kira sangat jeli menangkap suatu masa yang pernah jaya bernama Asia, yang tampil kuat memengaruhi peradaban Eropa. Jika dalam "The Bacchal" karya Euripides, sensibilitas ruang masih dihadirkan sebagai pertarungan sengit antara Timur dan Barat (bandingkan dengan sajak Kipling), Afrizal melakukan pergulatan yang intens melalui tarian "Panji Sepuh"-nya Sulistiyo Tirtohusumo, yang olehnya dilukiskan sebagai pertarungan "kekuasaan yang dihadirkan sebagai yang memiliki ruang dan waktunya sendiri".
Ruang memang bukan sesuatu yang netral, bebas nilai, objektif, tetapi sesuatu yang sengaja diciptakan atau dihadirikan, diproduksi, baik untuk kepentingan politik maupun kultural. Dalam ruang kota, misalnya, ruang diproduksi sedemikian rupa untuk tempat tamasya, belanja, bermain bola, taman, jalan, bioskop, tempat pertemun di gedung-gedung pencakar langit, yang semua itu selalu bersinggungan dengan kekuasaan. Teater ruang pada akhirnya sebuah resistensi terhadap kekuasaan, apa pun definisi kita tentang kekuasaan.
* Asarpin, Bergiat di Sastra 147 Lebakbudi, Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
September 7, 2007
Teater: Ruth Ikuti Festival Monolog Riau
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemain teater Lampung, Ruth Marini atau biasa disapa Uthe, hari ini (7-9) akan bertolak menuju Pekanbaru untuk mengikuti Festival Monolog Riau yang digelar 7--9 September yang akan datang.
Hal tersebut dikemukakan Uthe saat ditemui di sela-sela latihan rutinnya di Taman Budaya Lampung, Kamis (6-9). Dia mengatakan dirinya akan tampil dalam festival tersebut Sabtu (8-9). Ia akan mengusung lakon "Wanci" karya Imas Sobariah. "Selain saya, akan berangkat juga sutradara monolog Iswadi Pratama dan juga penata artistik Dery yang kesemuanya dari Teater Satu Lampung," kata Uthe.
Dia menjelaskan Festival Monolog merupakan kegiatan tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten Riau untuk tingkat regional Sumatera. Untuk mengikuti festival ini, ia latihan intensif selama tiga bulan. "Namun saya sudah mempelajari naskahnya sekitar setahun," ujar dia.
Meski demikian, Uthe mengaku tidak memiliki persiapan khusus guna menghadapi ajang festival tersebut. "Semuanya sama saja seperti menghadapi pementasan lainnya. Apalagi memang di Teater Satu sendiri memiliki program monolog berkelanjutan bagi setiap anggotanya untuk bisa tampil kapan pun," ujarnya.
Lakon ini menawarkan cerita sebuah realitas sosial yang ada di masyarakat yang dikisahkan dengan satir dan tragis. "Naskah 'Wanci' ini menceritakan tentang seorang perempuan yang lahir dan besar dari keluarga pelacur. Dia ingin keluar dari belenggu itu, tapi akhirnya nasib berkata lain. Akhirnya dia menikah dengan seorang germo. Karena terjebak ekonomi, akhirnya ia juga menjadi pelacur."
Ketika Wanci memiliki dua anak, yakni laki-laki dan perempuan, harapannya keduanya bisa mengajaknya keluar dari jalan nista tersebut. Namun ternyata anak laki-lakinya itu menjadi banci. Sedangkan anak perempuannya juga menjadi pelacur. Sampai akhirnya beban itu tidak bisa tertahankan hingga dia pergi bersama anaknya yang paling kecil ke rel kereta untuk bunuh diri. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Jumat, 7 September 2007
Hal tersebut dikemukakan Uthe saat ditemui di sela-sela latihan rutinnya di Taman Budaya Lampung, Kamis (6-9). Dia mengatakan dirinya akan tampil dalam festival tersebut Sabtu (8-9). Ia akan mengusung lakon "Wanci" karya Imas Sobariah. "Selain saya, akan berangkat juga sutradara monolog Iswadi Pratama dan juga penata artistik Dery yang kesemuanya dari Teater Satu Lampung," kata Uthe.
Dia menjelaskan Festival Monolog merupakan kegiatan tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten Riau untuk tingkat regional Sumatera. Untuk mengikuti festival ini, ia latihan intensif selama tiga bulan. "Namun saya sudah mempelajari naskahnya sekitar setahun," ujar dia.
Meski demikian, Uthe mengaku tidak memiliki persiapan khusus guna menghadapi ajang festival tersebut. "Semuanya sama saja seperti menghadapi pementasan lainnya. Apalagi memang di Teater Satu sendiri memiliki program monolog berkelanjutan bagi setiap anggotanya untuk bisa tampil kapan pun," ujarnya.
Lakon ini menawarkan cerita sebuah realitas sosial yang ada di masyarakat yang dikisahkan dengan satir dan tragis. "Naskah 'Wanci' ini menceritakan tentang seorang perempuan yang lahir dan besar dari keluarga pelacur. Dia ingin keluar dari belenggu itu, tapi akhirnya nasib berkata lain. Akhirnya dia menikah dengan seorang germo. Karena terjebak ekonomi, akhirnya ia juga menjadi pelacur."
Ketika Wanci memiliki dua anak, yakni laki-laki dan perempuan, harapannya keduanya bisa mengajaknya keluar dari jalan nista tersebut. Namun ternyata anak laki-lakinya itu menjadi banci. Sedangkan anak perempuannya juga menjadi pelacur. Sampai akhirnya beban itu tidak bisa tertahankan hingga dia pergi bersama anaknya yang paling kecil ke rel kereta untuk bunuh diri. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Jumat, 7 September 2007
September 5, 2007
Sastra: Syaiful Irba Tanpaka 'Roadshow' Karya Terbaru
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang terkandung dalam karya puisi, penyair Lampung Syaiful Irba Tanpaka, Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga akan melakukan roadshow ke SMA dan perguruan tinggi di Lampung.
Roadshow itu untuk menyosialisasikan terbitnya kumpulan puisi cinta karya terbaru Syaiful Irba Tanpaka, Karena Bola Matamu (Bukupop, Jakarta, Mei 2007).
Ketua Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga Yunanda Saputra mengatakan sebagai salah satu penyair terkemuka di Lampung, Syaiful Irba Tanpaka merupakan aset bagi Lampung. Sebab itu, untuk lebih mengenalkannya kearifan pesan-pesan moral yang terkandung dalam karya-karya puisinya, Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga mengagendakan roadshow selama tiga bulan mulai tanggal 8 September--8 November 2007.
"Dengan adanya roadshow ini kami harapkan bisa meningkatkan apresiasi pelajar dan mahasiswa terhadap karya sastra puisi. Sekaligus meningkatkan wawasan bagi pelajar dan mahasiswa terhadap khazanah kesusasteraan untuk perkembangan dunia sastra di Lampung," kata Yunanda, Selasa (4-9).
Menurut dia, puisi Syaiful Irba Tanpaka sarat pesan-pesan moral dalam menanggapi berbagai fenomena sosial yang melingkupinya. Tidak hanya sebatas cinta kepada kekasih, tetapi juga cinta universal antara makhluk dan Sang Pencipta, sehingga pembaca akan menemukan hakikat cinta kepada kekasih, cinta kepada ibu bapak, cinta kepada sang anak.
"Bang Syaiful mampu menggugah nurani pembaca dengan beragam suasana cinta yang mendera, seperti kerinduan, kesepian, kepedihan, kegetiran, dan kebahagiaan," kata dia.
Adapun jadwal roadshow diawali dari SMA di Bandar Lampung, antara lain SMAN 11, SMAN 3, SMA Taman Siswa, SMAN 10, dan SMA Perintis. Kemudian SMAN 1 Gadingrejo, Tanggamus, SMAN 1 Gunungsugih (Lampung Tengah), SMAN 1 Menggala (Tulangbawang), SMAN 2 Kalianda (Lampung Selatan), dan SMAN 3 Kotabumi, Lampung Utara. Lalu STKIP Muhammadiyah Kotabumi, Universitas Muhammadiyah Metro, Perguruan Tinggi Teknokrat, STMIK Darmajaya, dan IAIN Raden Intan, Bandar Lampung. RIN/S-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 5 September 2007
Roadshow itu untuk menyosialisasikan terbitnya kumpulan puisi cinta karya terbaru Syaiful Irba Tanpaka, Karena Bola Matamu (Bukupop, Jakarta, Mei 2007).
Ketua Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga Yunanda Saputra mengatakan sebagai salah satu penyair terkemuka di Lampung, Syaiful Irba Tanpaka merupakan aset bagi Lampung. Sebab itu, untuk lebih mengenalkannya kearifan pesan-pesan moral yang terkandung dalam karya-karya puisinya, Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga mengagendakan roadshow selama tiga bulan mulai tanggal 8 September--8 November 2007.
"Dengan adanya roadshow ini kami harapkan bisa meningkatkan apresiasi pelajar dan mahasiswa terhadap karya sastra puisi. Sekaligus meningkatkan wawasan bagi pelajar dan mahasiswa terhadap khazanah kesusasteraan untuk perkembangan dunia sastra di Lampung," kata Yunanda, Selasa (4-9).
Menurut dia, puisi Syaiful Irba Tanpaka sarat pesan-pesan moral dalam menanggapi berbagai fenomena sosial yang melingkupinya. Tidak hanya sebatas cinta kepada kekasih, tetapi juga cinta universal antara makhluk dan Sang Pencipta, sehingga pembaca akan menemukan hakikat cinta kepada kekasih, cinta kepada ibu bapak, cinta kepada sang anak.
"Bang Syaiful mampu menggugah nurani pembaca dengan beragam suasana cinta yang mendera, seperti kerinduan, kesepian, kepedihan, kegetiran, dan kebahagiaan," kata dia.
Adapun jadwal roadshow diawali dari SMA di Bandar Lampung, antara lain SMAN 11, SMAN 3, SMA Taman Siswa, SMAN 10, dan SMA Perintis. Kemudian SMAN 1 Gadingrejo, Tanggamus, SMAN 1 Gunungsugih (Lampung Tengah), SMAN 1 Menggala (Tulangbawang), SMAN 2 Kalianda (Lampung Selatan), dan SMAN 3 Kotabumi, Lampung Utara. Lalu STKIP Muhammadiyah Kotabumi, Universitas Muhammadiyah Metro, Perguruan Tinggi Teknokrat, STMIK Darmajaya, dan IAIN Raden Intan, Bandar Lampung. RIN/S-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 5 September 2007
September 2, 2007
Esai: Urgensi 'Subaltern' Bahasa Lampung
WAPRES Jusuf Kalla mengatakan, "Tiga puluh persen dari 745 bahasa daerah di Indonesia sudah hampir punah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini," (Metro TV, 22-7). Sebagaimana bahasa Lampung, yang termasuk di dalamnya tersirat tingginya kualitas peradaban tempo dahulu, setidaknya menjadi keprihatinan kita bersama ketika salah satu aset kebudayaan ini secara laten dan subaltern punah.
Komentar Wapres setidaknya ketika dijadikan referensi untuk mendedah peta pembumian bahasa Lampung yang hanya dituturkan 20 persen dari total masyarakat se-Sumatera bagian selatan, memperkuat analisis sebuah pertanyaan mendasar, akankah bisa punah bahasa Lampung?
Perlu pemetaan yang lebih komprehensif untuk menjawab permasalahan ini. Pertama, sebuah bahasa sebagai alat komunikasi tidak mungkin akan punah ketika penuturnya masih ada, bukan selama orang Lampung sebagai bagian entitas sosial ada karena sudah banyak orang suku Lampung asli justru dalam komunikasi di tengah keluarganya menggunakan bahasa Melayu, bahasa resmi Indonesia.
Inilah yang kemudian akan penulis urai dalam sebuah potret anomali dan penggerusan nasionalisasi, dan sebenarnya tidak akan berpengaruh apa- apa ketika empunya tidak eksklusif dan cenderung menyosialisasikan. Tentu, yang paling bertanggung jawab ialah pemerintah, kita ketahui, perkembangan terakhir, pascadiberlakukannya muatan lokal (mulok) dalam setiap mata pelajaran dari SD sampai SMA, bahasa Lampung sedikit meningkat, minimal tidak mungkin punah. Ketika menjadi anasir persoalan kedua, yaitu bahasa Lampung menunggu waktu kepunahannya.
Sebuah kemampuan pencerapan, infiltrasi, dan kefasihan yang langka serta multiguna ketika seseorang bisa berbicara dan menulis dalam banyak bahasa. Akan tetapi, hal ini menjadi sebuah kemampuan paradoks ketika sebuah komunitas, tidak memiliki bahasa sendiri atau sekadar penggabungan dan mengimpor berbagai vokabuler luar komunitasnya sebagai sarana komunikasi.
Maka kita sebagai orang Lampung patut berbangga dengan warisan nenek moyang yang adiluhung, yaitu bahasa sekaligus aksaranya. Ironisnya, tataran kepahaman berbahasa kini menjadi kemampuan subaltern.
Kelas 'Subaltern' untuk Bahasa Ibu
Sejenak kita coba mengeksplorasi lebih dahulu gagasan tentang subaltern; apa itu subaltern, dari mana datangnya, dan kemudian apa pentingnya gagasan ini bagi bahasa Lampung.
Istilah subaltern pertama kali digunakan Antonio Gramsci untuk "kelompok inferior", yaitu kelompok-kelompok dalam masyarakat yang menjadi subjek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Petani, buruh, dan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan, dinamakan sebagai kelas subaltern karena selalu menjadi objek hegemonik, tidak pernah menjadi subjek.
Bahasa Lampung yang hanya dipertuturkan sedikit sekali jika dibanding dengan total masyarakat yang tinggal di Sang Bumi Ruwa Jurai ini menjadi menarik untuk di-"bebaskan" dari belenggu dominasi bahasa- bahasa lain yang subur dipertuturkan penduduk. Belum lagi, sedikit penutur bahasa Lampung itu pun, menurut Dr. Van Royen, terklasifikasikan dalam dua subdialek, yaitu dialek Belalau atau dialek api dan dialek nyow.
Menurut Dr. Van Royen, pertama dialek api, yang kemudian terbagi lagi menjadi subdialek; logat Belalau, logat Krui, Melinting, Pubian, Sungkai, Jelema Daya atau Komering, dan logat Way Kanan. Kedua, dialek Abung (dialek nyow), terbagi menjadi subdialek: Logat Abung dan logat Menggala.
Dari banyaknya dialek itu, bahasa Lampung makin sulit terlestarikan karena perlu dijaga dengan mentradisikan komunitas penutur (yang berlogat banyak itu) agar berpegang teguh pada khasanah bahasa ibunya. Mungkin di sinilah pentingnya peraturan daerah (perda) bahasa Lampung diberlakukan.
Persoalan banyak logat, belum lagi ditabah dengan menipisnya lapangan kerja yang memaksa anak-anak muda usia kerja merantau ke Jabodetabek, secara otomatis pula bagi generasi "perantau" ini ada masa yang dapat mencerabut tutur katanya dari sejarah berdialek etnik asli akibat jarang dipergunakan, terhambatlah regenerasi penutur.
Integrasi Budaya; Suku Asli dan Pendatang
Ketakutan akan punahnya bahasa Lampung hingga menstimulan munculnya perda merupakan langkah efektif memang, tetapi harus dilihat substansi dari tujuan pembumian bahasa itu sendiri.
Bahasa Lampung mempunyai fungsi yang sangat penting, antara lain, pertama, sebagai lambang kebanggaan daerah dan masyarakat. Kedua, sebagai lambang identitas. Ketiga, sebagai alat penghubung di dalam keluarga dan masyarakat. Keempat, sebagai pendukung sastra daerah. Dan kelima, sebagai sarana pendukung budaya daerah dan budaya nasional Indonesia.
Jika salah satu saja hilang dari kelima fungsinya itu, sebuah bahasa dapat dipertanyakan untuk apa dipertahankan.
Secara esensi-substansi tujuan Perda Bahasa Lampung, penulis setuju, tetapi jangan sampai pemberlakuan Perda Bahasa Lampung justru membuat tumpukan kemarahan dan perlawanan yang membuat warga pendatang (utamanya para PNS) makin berorientasi ke dalam (inward looking) dan lebih terbuka pada ekstrimisme antibahasa Lampung.
Lebih jauh, secara budaya, integrasi multikultur ke dalam budaya Lampung harus diakui sekarang ini stagnan. Integrasi budaya memang harus menjadi agenda utama untuk Lampung karena daerah ini sudah lama dikenal multikultur, di mana beragam budaya tumbuh dan berkembang bersama dan membentuk identitas kolektif.
Saking intensifnya proses ini, secara logat tak mudah membedakan mana orang Lampung asli dan mana pendatang, terkecuali para orang tua yang tinggal di desa-desa transmigrasi. Maka gagasan subaltern akan menjadi bias jika disenyawakan dengan eksklusivisme, integrasi, dan kecintaan penutur untuk intens berbicara dengan bahasa ibu.
Muncul perda juga diikuti pertanyaan besar ketika ranah keseharian yang eklektik dan tenteram mulai dikangkangi hegemoni kekuasaan pemerintah, sungguhkah integrasi itu diperlukan? Atau persamaan yang dipaksakan dengan tidak memperhatikan pluralisme etnik sebuah bentuk kekerasan baru?
Bagaimana dampaknya pada proses integrasi budaya? Atau tepatnya bagaimanakah cara membumikan integrasi budaya Lampung agar keunikan Lampung sebagai daerah berperadapan dengan kandungan gabungan estetikanya tetap terjaga?
Penulis berusaha membuat blueprint agar muncul kekayaan Lampung tanpa didominasi pandangan bahwa masyarakat asli itu berbeda dari lainnya karena soal beda bahasa. Dalam perspektif ini, segala urusan harus dimulai dari komunitasnya sendiri-sendiri. Semua elemen masyarakat dari berbagai kultur yang mengayakan Lampung dengan peradaban estetik harus memikul tanggung jawabnya untuk berhubungan secara langsung dengan komunitas-komunitas lain, selain juga mentradisikan komunitasnya.
Bukan justru mengalihkan tanggung jawab ini kepada apa yang disebut pimpinan komunitas (community leaders) yang biasaya terwakilkan oleh pemda baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Secara kultural, jika sampai muncul perasaan menjadi "komunitas yang terancam" di daerah, bisa menciptakan iklim ketakutan yang ekspresinya sulit dipahami, anomali, dan bisa menciptakan konspirasi yang berbahaya, saling menghujat, mengolok-olok, dan muncul eksklusivitas berlebihan hingga tahapan saling benci.
Mengapa ini penting? Sebab, terkait dengan gagasan konspirasi serupa, gagasan-gagasan ekstrem tampaknya makin luas diterima. Sebuah contoh, masa kanak-kanak penulis, berantem antarkelompok dari Lampung asli dengan Lampung pendatang (baca; suku Jawa) merupakan kebanggaan dan sesuatu yang istimewa jika menang, para orang tua kita juga cenderung membenarkan tindakan kita kalau berhasil memukuli lawan.
Ironisnya lagi, komunitas etnik menjadi komoditas politik. Misalnya, maraknya kelompok, kumpulan, paguyuban, persyarikatan, dll. yang tujuan awal dibentuknya untuk ajang silaturahim antarkerabat atau berbagi suka duka atau kesamaan hidup di rantau, belakangan mulai aktif menjadi lokomotif politik yang cenderung culas, sarat permainan uang, yang sebenarnya juga hanya dimanfaatkan pimpinan komunitasnya. Karena sebuah peraturan, Perda Bahasa Lampung misalnya, ketika ruang lingkup yang digunakan tidak maksimal, justru membuat penyempitan interpretasi yang kemudian berujung pada inefesiensi produk hukum.
KBM Bahasa Lampung
Hasil belajar yang diharapkan cenderung direfleksikan dalam definisi-definisi berbasiskan mutu. Ditinjau dari perspektif pendidikan berdasar pada hak asasi manusia (HAM), bawaan (intake), dan dampak (impact) perlu dimasukkan kerangka kerja standar kegiatan belajar mengajar (KBM) bahasa Lampung. Kalau dahulu standar kerja KBM hanya (masukan-proses-hasil belajar), sekarang harus mulai diubah kerangka kerjanya menjadi bawaan-masukan-proses-hasil belajar-dampak (intake-input-process-outcome-impact).
Proses pendefinisian pendidikan bermutu untuk Mulok Bahasa Lampung selama ini belum memiliki standar jelas, terpublikasi, dan tersistematis, melainkan hanya diserahkan kepada pakar-pakar pendidikan (status pakarnya pun, masih perlu dipertanyakan). Ini seharusnya prioritas pembenahan untuk pembumian bahasa Lampung.
Dari paparan di atas, sebenarnya penulis berusaha sekadar memberikan masukan agar dalam pembuatan peraturan, yang kemudian menjadi hukum positif, jangan mengabaikan kemajemukan Lampung sebagai miniatur Indonesia. Lebih lanjut, jangan sampai pemberlakuan peraturan malah membuat Lampung menjadi terjauhkan dari substansi pelestarian bahasa ibu.
n Endri Y., Ketua Seni Budaya PW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 September 2007
Komentar Wapres setidaknya ketika dijadikan referensi untuk mendedah peta pembumian bahasa Lampung yang hanya dituturkan 20 persen dari total masyarakat se-Sumatera bagian selatan, memperkuat analisis sebuah pertanyaan mendasar, akankah bisa punah bahasa Lampung?
Perlu pemetaan yang lebih komprehensif untuk menjawab permasalahan ini. Pertama, sebuah bahasa sebagai alat komunikasi tidak mungkin akan punah ketika penuturnya masih ada, bukan selama orang Lampung sebagai bagian entitas sosial ada karena sudah banyak orang suku Lampung asli justru dalam komunikasi di tengah keluarganya menggunakan bahasa Melayu, bahasa resmi Indonesia.
Inilah yang kemudian akan penulis urai dalam sebuah potret anomali dan penggerusan nasionalisasi, dan sebenarnya tidak akan berpengaruh apa- apa ketika empunya tidak eksklusif dan cenderung menyosialisasikan. Tentu, yang paling bertanggung jawab ialah pemerintah, kita ketahui, perkembangan terakhir, pascadiberlakukannya muatan lokal (mulok) dalam setiap mata pelajaran dari SD sampai SMA, bahasa Lampung sedikit meningkat, minimal tidak mungkin punah. Ketika menjadi anasir persoalan kedua, yaitu bahasa Lampung menunggu waktu kepunahannya.
Sebuah kemampuan pencerapan, infiltrasi, dan kefasihan yang langka serta multiguna ketika seseorang bisa berbicara dan menulis dalam banyak bahasa. Akan tetapi, hal ini menjadi sebuah kemampuan paradoks ketika sebuah komunitas, tidak memiliki bahasa sendiri atau sekadar penggabungan dan mengimpor berbagai vokabuler luar komunitasnya sebagai sarana komunikasi.
Maka kita sebagai orang Lampung patut berbangga dengan warisan nenek moyang yang adiluhung, yaitu bahasa sekaligus aksaranya. Ironisnya, tataran kepahaman berbahasa kini menjadi kemampuan subaltern.
Kelas 'Subaltern' untuk Bahasa Ibu
Sejenak kita coba mengeksplorasi lebih dahulu gagasan tentang subaltern; apa itu subaltern, dari mana datangnya, dan kemudian apa pentingnya gagasan ini bagi bahasa Lampung.
Istilah subaltern pertama kali digunakan Antonio Gramsci untuk "kelompok inferior", yaitu kelompok-kelompok dalam masyarakat yang menjadi subjek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Petani, buruh, dan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan, dinamakan sebagai kelas subaltern karena selalu menjadi objek hegemonik, tidak pernah menjadi subjek.
Bahasa Lampung yang hanya dipertuturkan sedikit sekali jika dibanding dengan total masyarakat yang tinggal di Sang Bumi Ruwa Jurai ini menjadi menarik untuk di-"bebaskan" dari belenggu dominasi bahasa- bahasa lain yang subur dipertuturkan penduduk. Belum lagi, sedikit penutur bahasa Lampung itu pun, menurut Dr. Van Royen, terklasifikasikan dalam dua subdialek, yaitu dialek Belalau atau dialek api dan dialek nyow.
Menurut Dr. Van Royen, pertama dialek api, yang kemudian terbagi lagi menjadi subdialek; logat Belalau, logat Krui, Melinting, Pubian, Sungkai, Jelema Daya atau Komering, dan logat Way Kanan. Kedua, dialek Abung (dialek nyow), terbagi menjadi subdialek: Logat Abung dan logat Menggala.
Dari banyaknya dialek itu, bahasa Lampung makin sulit terlestarikan karena perlu dijaga dengan mentradisikan komunitas penutur (yang berlogat banyak itu) agar berpegang teguh pada khasanah bahasa ibunya. Mungkin di sinilah pentingnya peraturan daerah (perda) bahasa Lampung diberlakukan.
Persoalan banyak logat, belum lagi ditabah dengan menipisnya lapangan kerja yang memaksa anak-anak muda usia kerja merantau ke Jabodetabek, secara otomatis pula bagi generasi "perantau" ini ada masa yang dapat mencerabut tutur katanya dari sejarah berdialek etnik asli akibat jarang dipergunakan, terhambatlah regenerasi penutur.
Integrasi Budaya; Suku Asli dan Pendatang
Ketakutan akan punahnya bahasa Lampung hingga menstimulan munculnya perda merupakan langkah efektif memang, tetapi harus dilihat substansi dari tujuan pembumian bahasa itu sendiri.
Bahasa Lampung mempunyai fungsi yang sangat penting, antara lain, pertama, sebagai lambang kebanggaan daerah dan masyarakat. Kedua, sebagai lambang identitas. Ketiga, sebagai alat penghubung di dalam keluarga dan masyarakat. Keempat, sebagai pendukung sastra daerah. Dan kelima, sebagai sarana pendukung budaya daerah dan budaya nasional Indonesia.
Jika salah satu saja hilang dari kelima fungsinya itu, sebuah bahasa dapat dipertanyakan untuk apa dipertahankan.
Secara esensi-substansi tujuan Perda Bahasa Lampung, penulis setuju, tetapi jangan sampai pemberlakuan Perda Bahasa Lampung justru membuat tumpukan kemarahan dan perlawanan yang membuat warga pendatang (utamanya para PNS) makin berorientasi ke dalam (inward looking) dan lebih terbuka pada ekstrimisme antibahasa Lampung.
Lebih jauh, secara budaya, integrasi multikultur ke dalam budaya Lampung harus diakui sekarang ini stagnan. Integrasi budaya memang harus menjadi agenda utama untuk Lampung karena daerah ini sudah lama dikenal multikultur, di mana beragam budaya tumbuh dan berkembang bersama dan membentuk identitas kolektif.
Saking intensifnya proses ini, secara logat tak mudah membedakan mana orang Lampung asli dan mana pendatang, terkecuali para orang tua yang tinggal di desa-desa transmigrasi. Maka gagasan subaltern akan menjadi bias jika disenyawakan dengan eksklusivisme, integrasi, dan kecintaan penutur untuk intens berbicara dengan bahasa ibu.
Muncul perda juga diikuti pertanyaan besar ketika ranah keseharian yang eklektik dan tenteram mulai dikangkangi hegemoni kekuasaan pemerintah, sungguhkah integrasi itu diperlukan? Atau persamaan yang dipaksakan dengan tidak memperhatikan pluralisme etnik sebuah bentuk kekerasan baru?
Bagaimana dampaknya pada proses integrasi budaya? Atau tepatnya bagaimanakah cara membumikan integrasi budaya Lampung agar keunikan Lampung sebagai daerah berperadapan dengan kandungan gabungan estetikanya tetap terjaga?
Penulis berusaha membuat blueprint agar muncul kekayaan Lampung tanpa didominasi pandangan bahwa masyarakat asli itu berbeda dari lainnya karena soal beda bahasa. Dalam perspektif ini, segala urusan harus dimulai dari komunitasnya sendiri-sendiri. Semua elemen masyarakat dari berbagai kultur yang mengayakan Lampung dengan peradaban estetik harus memikul tanggung jawabnya untuk berhubungan secara langsung dengan komunitas-komunitas lain, selain juga mentradisikan komunitasnya.
Bukan justru mengalihkan tanggung jawab ini kepada apa yang disebut pimpinan komunitas (community leaders) yang biasaya terwakilkan oleh pemda baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Secara kultural, jika sampai muncul perasaan menjadi "komunitas yang terancam" di daerah, bisa menciptakan iklim ketakutan yang ekspresinya sulit dipahami, anomali, dan bisa menciptakan konspirasi yang berbahaya, saling menghujat, mengolok-olok, dan muncul eksklusivitas berlebihan hingga tahapan saling benci.
Mengapa ini penting? Sebab, terkait dengan gagasan konspirasi serupa, gagasan-gagasan ekstrem tampaknya makin luas diterima. Sebuah contoh, masa kanak-kanak penulis, berantem antarkelompok dari Lampung asli dengan Lampung pendatang (baca; suku Jawa) merupakan kebanggaan dan sesuatu yang istimewa jika menang, para orang tua kita juga cenderung membenarkan tindakan kita kalau berhasil memukuli lawan.
Ironisnya lagi, komunitas etnik menjadi komoditas politik. Misalnya, maraknya kelompok, kumpulan, paguyuban, persyarikatan, dll. yang tujuan awal dibentuknya untuk ajang silaturahim antarkerabat atau berbagi suka duka atau kesamaan hidup di rantau, belakangan mulai aktif menjadi lokomotif politik yang cenderung culas, sarat permainan uang, yang sebenarnya juga hanya dimanfaatkan pimpinan komunitasnya. Karena sebuah peraturan, Perda Bahasa Lampung misalnya, ketika ruang lingkup yang digunakan tidak maksimal, justru membuat penyempitan interpretasi yang kemudian berujung pada inefesiensi produk hukum.
KBM Bahasa Lampung
Hasil belajar yang diharapkan cenderung direfleksikan dalam definisi-definisi berbasiskan mutu. Ditinjau dari perspektif pendidikan berdasar pada hak asasi manusia (HAM), bawaan (intake), dan dampak (impact) perlu dimasukkan kerangka kerja standar kegiatan belajar mengajar (KBM) bahasa Lampung. Kalau dahulu standar kerja KBM hanya (masukan-proses-hasil belajar), sekarang harus mulai diubah kerangka kerjanya menjadi bawaan-masukan-proses-hasil belajar-dampak (intake-input-process-outcome-impact).
Proses pendefinisian pendidikan bermutu untuk Mulok Bahasa Lampung selama ini belum memiliki standar jelas, terpublikasi, dan tersistematis, melainkan hanya diserahkan kepada pakar-pakar pendidikan (status pakarnya pun, masih perlu dipertanyakan). Ini seharusnya prioritas pembenahan untuk pembumian bahasa Lampung.
Dari paparan di atas, sebenarnya penulis berusaha sekadar memberikan masukan agar dalam pembuatan peraturan, yang kemudian menjadi hukum positif, jangan mengabaikan kemajemukan Lampung sebagai miniatur Indonesia. Lebih lanjut, jangan sampai pemberlakuan peraturan malah membuat Lampung menjadi terjauhkan dari substansi pelestarian bahasa ibu.
n Endri Y., Ketua Seni Budaya PW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 September 2007
LAF 2007, Gairah Kebangkitan Seni Tari
LAMPUNG Arts Festival (LAF) yang digelar di panggung terbuka Pasar Seni Enggal, Rabu (29-8) malam, memberikan semangat baru untuk menggiatkan kesenian di Lampung. Termasuk mengembalikan fungsi dan keberadaan Pasar Seni Enggal.
Banyaknya penonton membuat suasana benar-benar berbeda. Obor dari bambu menghiasi halaman tengah Pasar Seni Enggal. Panggung yang dibalut kain hitam dengan dua layar lebar di sisi kiri dan kanan menambah kemegahan gelaran ini.
Diawali penampilan lima tarian kontemporer dengan tajuk "Nuansa Lima" karya lima koreografer muda Lampung seolah memompa gairah seni ke setiap nadi pembuluh cabang kesenian di Lampung. Ini menjadi pengobat "kecewa" saat dua hari sebelumnya, rangkaian LAF dengan agenda pemutaran film independen karya sutradara Lampung dan pembacaan puisi oleh penyair papan atas tak menggugah penikmat seni Lampung. Bayangkan, penonton film itu hanya 20-an orang. Artinya, buatan sendiri ditonton sendiri. Masyarakat yang salah?
Pertanyaan itu butuh introspeksi untuk menjawab. Selain materi, peralatan yang digunakan pada pemutaran film-film pendek itu sekenanya. Layar proyektor kecil menyempil di tengah panggung seperti "yatim-piatu". Dukungan sound system juga seadanya.
Rommy Ramadhan, entertainer asal Jakarta yang turut menyaksikan, menyatakan secara umum film-film yang ditayangkan sangat monoton. Terutama dengan cerita. Tema free sex, narkoba, serta kekerasan dalam rumah tangga, katanya, memang tak habis "ditimba", tetapi di tangan para sineas amatiran, hal itu menjadi amat biasa.
Rommy bilang satu karya yang lumayan menarik idenya ialah "Ini kan Lampung?". Meskipun belum maksimal digarap, idenya sangat unik dan cerdas. Bahkan, pesan yang ingin disusupkan tersampaikan dengan baik.
"Secara umum, ada yang salah persepsi soal film pendek ini oleh sineas Lampung. Mereka cenderung mengartikan film indie ini merupakan sinetron yang dipendekkan," katanya.
Reuni Dunia Puisi
Gelaran Dunia Puisi, Senin (27-8) malam, menghadirkan puluhan penyair Lampung dan luar Lampung yang dikenal di kancah nasional. Mereka berkiprah sejak tahun 1980-an hingga 2000-an.
Ada Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Subhanuddin Alwy, Micky Hidayat, Bambang Widiatmoko, Anwar Putra Bayu, Y.S. Agus Suseno, dan Endang Supriadi yang bisa dibilang mewakili generasi tahun 80-an.
Mereka berkolaborasi dengan generasi yang baru bermunculan seperi I Wayan Sunarta, Ari Pahala Hutabarat, dan Inggit Putria Marga.
Malam apresiasi Dunia Puisi diisi pembacaan puisi dari penyair asal Lampung yang jumlahnya lebih dari 16 orang. Lalu penyair asal Sumatera Selatan, Jakarta, Yogyakarta, Cirebon, Bali, Banjarmasin, dan Makassar. Sayang, cukup pantas juga dikatakan "seniman ditonton seniman itu sendiri". Padahal, sempat ada ujaran bahwa Lampung sebagai negeri para penyair. Ini menjadi semacam "reuni" antarpenyair yang memang sudah saling kenal.
Dengan target "memberikan ruang apresiasi yang lebih besar kepada masyarakat atas dunia sastra, terutama puisi di Lampung", event ini boleh dibilang tidak berhasil.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan dunia tari yang selama ini sering dianggap sebatas seni yang bergulat di ranah seremonial. Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL), Syaiful Irba Tanpaka, pernah mengatakan selama ini tarian di Lampung hanya ditaja apabila ada suatu event.
Begitu pun kreasi tari yang ada, umumnya hanya sebatas tarian pesanan. Hasil kreasi yang ditampilkan dalam bentuk gerak tersebut hanya sebatas mengembangkan tarian tradisi Lampung yang ada dengan penambahan beberapa gerak serta aksesori yang dikenakan para penarinya.
Koreografer muda dari Sanggar Raden Intan, Ahmad Barden Moegni, mengatakan beberapa tahun terakhir, kondisi kesenian Lampung sepi akan gerak tari kontemporer. Malahan dia mengakui perkembangan tari kontemporer kini di Lampung dibanding dengan daerah lain sangat tertinggal.
Untuk itulah Barden merencanakan usai pertunjukan kali ini akan mengangendakan berbagai pertunjukan tari kontemporer lagi ke depannya. Sebab, dia menilai potensi yang dimiliki koreografer muda asal Lampung sangat besar. "Sebab itu, mereka ini harus memiliki peluang untuk berkembang dan mengembangkan kehidupan berkesenian di Provinsi Lampung terutama dalam hal tari kontemporer," katanya.
Gelaran "Nuansa Lima" digarap Kemas Abdulah Helmi (Sanggar Sangsaka), Agus Gunawan (Sangishu), Joni Effendi (Sanggar Bunga Mayang), Muhhamad Aris (Sanggar Kayu Ara), dan Barden (Sanggar Radin Intan).
Agus Gunawan menghadirkan tarian berjudul "Aning Anung". Agus menampilkan tarian komplentatif yang mengeksplor lekuk gerak dan gesture tubuh serta mimik penarinya. Tiga penari (Asep Sudrajat, Cintya Widyastuti, dan Dadang) dihadirkan dengan kostum kain putih melilit hampir seluruh tubuhnya, meliuk mengikuti tembang berirama seperti pemujaan agama Budha.
Muhammad Aris mengyuguhkan tarian bertajuk "Singlon of Love" dengan mengeksplorasi gerak dasar tarian balet. Sepasang penari (Aris dan Wika) memainkan elastisitas tubuh dengan bebas seolah saling isi dengan mengandalkan gerak improvisasi.
Sang laki-laki hanya dengan celana merah medok transparan dan perempuan berbusana cukup minim dipadu kerudung merah tampil memesona. Di akhir penampilan, muncul perempuan berpakaian agamais biru dan berkerudung yang kemudian menjadi fokus perhatian dua penari itu.
Aris mengatakan tarian itu berupaya memaknakan aksesori yang dikenakan seseorang terutama kerudung atau jilbab. Sebab, ternyata banyak perempuan yang mengenakan kerudung itu terlihat menjaga kesuciannya, akan tetapi dia sendiri tidak mengerti akan arti kesucian diri itu sendiri.
Sedangkan Kemas Abdullah Helmi menghadirkan tarian berjudul "Belenggu" menurunkan lima penari yang saling terikat tambang putih sambil membaca koran. Koran tersibak dan akhirnya kelimanya bisa berontak mencari kebebasan.
Kemas tampaknya ingin mengekspresikan kebebasan. Musik yang mengiringi juga bernuansa kebebasan. Diawali irama Mandarin, lalu berubah menjadi suara radio, musik chill out, dan dengan beraninya mengumandangkan suara mengaji. Akan tetapi, kata Kemas, pesan yang ingin disampaikan ialah kebebasan bukan tanpa batas karena masih ada Sang Pencipta.
Joni Efendi dari Sanggar Bunga Mayang yang menyuguhkan tarian berjudul "Katam". Enam penari mengangkat tema perpecahan suku, agama, dan ikatan saudara yang dialami Minak Pati Ali dan Batin Sumbing yang melakukan sumpah di Way Seputih untuk sehidup semati. Eksplorasinya yang dilakukan dalam gerak komplementatif yang ditambahkan gerakan tarian Lampung.
Penampilan pamungkas diberikan Sanggar Radin Intan dengan koreografer Ahmad Barden Moegni yang menghadirkan tarian "Mendadak Bos" dengan tiga penari. Di sini Barden berhasil memberikan suguhan tarian yang mengeksplorasi perpaduan tarian Lampung, nasional, serta modern. Bahkan, Barden memberikan sentuhan kisah secuil drama.
Yang menarik, Barden mencoba melibatkan penonton dalam karyanya. Penari pria yang berperan sebagai bos turun dan membagikan kertas bertuliskan kampanye kepada penonton. Dan ini tentu saja memberikan khazanah baru bagi dunia tari kontemporer yang ada di Lampung.
Dan kesuksesan gelaran "Nuansa Lima" yang digelar DKL bersama dengan Ikatan Masyarakat Pasar Seni dan Rain Arts ini memberikan satu keyakinan akan bangkitnya dunia berkesenian terutama seni tari kontemporer di Lampung.
Selain itu memberikan pelajaran bahwa ternyata manajemen juga perlu dimiliki para seniman ataupun penggiat seni lain. Paling tidak untuk menarik minat masyarakat hadir dalam event seni menjadi satu perhatian utama karena ternyata dunia seni juga milik masyarakat.
Serta yang utama menggiatkan kehidupan berkesenian di Pasar Seni Enggal ternyata membutuhkan keterlibatan pihak luar atau swasta. Jika menunggu pemerintah daerah yang bekerja, diibaratkan menunggu godot. n TEGUH PRASETYO/S-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 September 2007
Banyaknya penonton membuat suasana benar-benar berbeda. Obor dari bambu menghiasi halaman tengah Pasar Seni Enggal. Panggung yang dibalut kain hitam dengan dua layar lebar di sisi kiri dan kanan menambah kemegahan gelaran ini.
Diawali penampilan lima tarian kontemporer dengan tajuk "Nuansa Lima" karya lima koreografer muda Lampung seolah memompa gairah seni ke setiap nadi pembuluh cabang kesenian di Lampung. Ini menjadi pengobat "kecewa" saat dua hari sebelumnya, rangkaian LAF dengan agenda pemutaran film independen karya sutradara Lampung dan pembacaan puisi oleh penyair papan atas tak menggugah penikmat seni Lampung. Bayangkan, penonton film itu hanya 20-an orang. Artinya, buatan sendiri ditonton sendiri. Masyarakat yang salah?
Pertanyaan itu butuh introspeksi untuk menjawab. Selain materi, peralatan yang digunakan pada pemutaran film-film pendek itu sekenanya. Layar proyektor kecil menyempil di tengah panggung seperti "yatim-piatu". Dukungan sound system juga seadanya.
Rommy Ramadhan, entertainer asal Jakarta yang turut menyaksikan, menyatakan secara umum film-film yang ditayangkan sangat monoton. Terutama dengan cerita. Tema free sex, narkoba, serta kekerasan dalam rumah tangga, katanya, memang tak habis "ditimba", tetapi di tangan para sineas amatiran, hal itu menjadi amat biasa.
Rommy bilang satu karya yang lumayan menarik idenya ialah "Ini kan Lampung?". Meskipun belum maksimal digarap, idenya sangat unik dan cerdas. Bahkan, pesan yang ingin disusupkan tersampaikan dengan baik.
"Secara umum, ada yang salah persepsi soal film pendek ini oleh sineas Lampung. Mereka cenderung mengartikan film indie ini merupakan sinetron yang dipendekkan," katanya.
Reuni Dunia Puisi
Gelaran Dunia Puisi, Senin (27-8) malam, menghadirkan puluhan penyair Lampung dan luar Lampung yang dikenal di kancah nasional. Mereka berkiprah sejak tahun 1980-an hingga 2000-an.
Ada Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Subhanuddin Alwy, Micky Hidayat, Bambang Widiatmoko, Anwar Putra Bayu, Y.S. Agus Suseno, dan Endang Supriadi yang bisa dibilang mewakili generasi tahun 80-an.
Mereka berkolaborasi dengan generasi yang baru bermunculan seperi I Wayan Sunarta, Ari Pahala Hutabarat, dan Inggit Putria Marga.
Malam apresiasi Dunia Puisi diisi pembacaan puisi dari penyair asal Lampung yang jumlahnya lebih dari 16 orang. Lalu penyair asal Sumatera Selatan, Jakarta, Yogyakarta, Cirebon, Bali, Banjarmasin, dan Makassar. Sayang, cukup pantas juga dikatakan "seniman ditonton seniman itu sendiri". Padahal, sempat ada ujaran bahwa Lampung sebagai negeri para penyair. Ini menjadi semacam "reuni" antarpenyair yang memang sudah saling kenal.
Dengan target "memberikan ruang apresiasi yang lebih besar kepada masyarakat atas dunia sastra, terutama puisi di Lampung", event ini boleh dibilang tidak berhasil.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan dunia tari yang selama ini sering dianggap sebatas seni yang bergulat di ranah seremonial. Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL), Syaiful Irba Tanpaka, pernah mengatakan selama ini tarian di Lampung hanya ditaja apabila ada suatu event.
Begitu pun kreasi tari yang ada, umumnya hanya sebatas tarian pesanan. Hasil kreasi yang ditampilkan dalam bentuk gerak tersebut hanya sebatas mengembangkan tarian tradisi Lampung yang ada dengan penambahan beberapa gerak serta aksesori yang dikenakan para penarinya.
Koreografer muda dari Sanggar Raden Intan, Ahmad Barden Moegni, mengatakan beberapa tahun terakhir, kondisi kesenian Lampung sepi akan gerak tari kontemporer. Malahan dia mengakui perkembangan tari kontemporer kini di Lampung dibanding dengan daerah lain sangat tertinggal.
Untuk itulah Barden merencanakan usai pertunjukan kali ini akan mengangendakan berbagai pertunjukan tari kontemporer lagi ke depannya. Sebab, dia menilai potensi yang dimiliki koreografer muda asal Lampung sangat besar. "Sebab itu, mereka ini harus memiliki peluang untuk berkembang dan mengembangkan kehidupan berkesenian di Provinsi Lampung terutama dalam hal tari kontemporer," katanya.
Gelaran "Nuansa Lima" digarap Kemas Abdulah Helmi (Sanggar Sangsaka), Agus Gunawan (Sangishu), Joni Effendi (Sanggar Bunga Mayang), Muhhamad Aris (Sanggar Kayu Ara), dan Barden (Sanggar Radin Intan).
Agus Gunawan menghadirkan tarian berjudul "Aning Anung". Agus menampilkan tarian komplentatif yang mengeksplor lekuk gerak dan gesture tubuh serta mimik penarinya. Tiga penari (Asep Sudrajat, Cintya Widyastuti, dan Dadang) dihadirkan dengan kostum kain putih melilit hampir seluruh tubuhnya, meliuk mengikuti tembang berirama seperti pemujaan agama Budha.
Muhammad Aris mengyuguhkan tarian bertajuk "Singlon of Love" dengan mengeksplorasi gerak dasar tarian balet. Sepasang penari (Aris dan Wika) memainkan elastisitas tubuh dengan bebas seolah saling isi dengan mengandalkan gerak improvisasi.
Sang laki-laki hanya dengan celana merah medok transparan dan perempuan berbusana cukup minim dipadu kerudung merah tampil memesona. Di akhir penampilan, muncul perempuan berpakaian agamais biru dan berkerudung yang kemudian menjadi fokus perhatian dua penari itu.
Aris mengatakan tarian itu berupaya memaknakan aksesori yang dikenakan seseorang terutama kerudung atau jilbab. Sebab, ternyata banyak perempuan yang mengenakan kerudung itu terlihat menjaga kesuciannya, akan tetapi dia sendiri tidak mengerti akan arti kesucian diri itu sendiri.
Sedangkan Kemas Abdullah Helmi menghadirkan tarian berjudul "Belenggu" menurunkan lima penari yang saling terikat tambang putih sambil membaca koran. Koran tersibak dan akhirnya kelimanya bisa berontak mencari kebebasan.
Kemas tampaknya ingin mengekspresikan kebebasan. Musik yang mengiringi juga bernuansa kebebasan. Diawali irama Mandarin, lalu berubah menjadi suara radio, musik chill out, dan dengan beraninya mengumandangkan suara mengaji. Akan tetapi, kata Kemas, pesan yang ingin disampaikan ialah kebebasan bukan tanpa batas karena masih ada Sang Pencipta.
Joni Efendi dari Sanggar Bunga Mayang yang menyuguhkan tarian berjudul "Katam". Enam penari mengangkat tema perpecahan suku, agama, dan ikatan saudara yang dialami Minak Pati Ali dan Batin Sumbing yang melakukan sumpah di Way Seputih untuk sehidup semati. Eksplorasinya yang dilakukan dalam gerak komplementatif yang ditambahkan gerakan tarian Lampung.
Penampilan pamungkas diberikan Sanggar Radin Intan dengan koreografer Ahmad Barden Moegni yang menghadirkan tarian "Mendadak Bos" dengan tiga penari. Di sini Barden berhasil memberikan suguhan tarian yang mengeksplorasi perpaduan tarian Lampung, nasional, serta modern. Bahkan, Barden memberikan sentuhan kisah secuil drama.
Yang menarik, Barden mencoba melibatkan penonton dalam karyanya. Penari pria yang berperan sebagai bos turun dan membagikan kertas bertuliskan kampanye kepada penonton. Dan ini tentu saja memberikan khazanah baru bagi dunia tari kontemporer yang ada di Lampung.
Dan kesuksesan gelaran "Nuansa Lima" yang digelar DKL bersama dengan Ikatan Masyarakat Pasar Seni dan Rain Arts ini memberikan satu keyakinan akan bangkitnya dunia berkesenian terutama seni tari kontemporer di Lampung.
Selain itu memberikan pelajaran bahwa ternyata manajemen juga perlu dimiliki para seniman ataupun penggiat seni lain. Paling tidak untuk menarik minat masyarakat hadir dalam event seni menjadi satu perhatian utama karena ternyata dunia seni juga milik masyarakat.
Serta yang utama menggiatkan kehidupan berkesenian di Pasar Seni Enggal ternyata membutuhkan keterlibatan pihak luar atau swasta. Jika menunggu pemerintah daerah yang bekerja, diibaratkan menunggu godot. n TEGUH PRASETYO/S-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 September 2007
September 1, 2007
Art Festival: Pergelaran Tari Menuai Kritik
Bandar Lampung, Kompas - Pementasan tari "Nuansa Lima" pada Selasa (28/8), yang merupakan bagian dari agenda Lampung Art Festival 2007, tidak terlalu memukau. Tarian yang ditampilkan tidak lebih merupakan tampilan para koreografer yang tengah belajar menciptakan tarian kontemporer.
Tampilan dari Sanggar Sangsaka dengan koreografer Abdullah Helmi, misalnya. Tarian berjudul "Belenggu" yang ingin menampilkan cara manusia mencapai kebebasannya justru ternodai oleh gerakan-gerakan cepat ala modern dance.
"Tarian kontemporer pada dasarnya tarian yang diciptakan dengan dasar tari klasik. Unsur kontemporer hadir sebagai pelengkap saja," kata Kritikus Tari sekaligus koreografer tari dari Lampung Gandung Hartadi, Selasa (28/8) malam.
Melalui "Belenggu", penonton yang hadir sebetulnya sudah merasakan klimaks kebebasan yang ingin dituju. Kumpulan penari yang menunjuk bendera Merah Putih yang dijunjung seorang penari di akhir tarian sudah menunjukkan arti kebebasan.
Sayangnya, selain ternoda oleh gerakan-gerakan yang tidak perlu dan keluar dari pakem kontemporer, yaitu berupa gerakan patah-patah dan berulang, "Belenggu" juga ternoda oleh iringan musik yang mirip modern dance dan juga oleh beberapa properti yang dimainkan. "Sehingga prosesnya menjadi kabur," kata Gandung.
Pada "Nuansa Lima", para koreografer juga sepertinya masih meraba-raba bentuk tari kontemporer. Tari "Singlon of Love" yang dibawakan Sanggar Kayu Hagha menunjukkan pencarian bentuk itu.
"Koreografernya belum bisa menempatkan simbol secara pas, sehingga mereka terkesan memang masih belajar," kata Gandung. (hln)
Sumber: Kompas, Sabtu, 1 September 2007
Tampilan dari Sanggar Sangsaka dengan koreografer Abdullah Helmi, misalnya. Tarian berjudul "Belenggu" yang ingin menampilkan cara manusia mencapai kebebasannya justru ternodai oleh gerakan-gerakan cepat ala modern dance.
"Tarian kontemporer pada dasarnya tarian yang diciptakan dengan dasar tari klasik. Unsur kontemporer hadir sebagai pelengkap saja," kata Kritikus Tari sekaligus koreografer tari dari Lampung Gandung Hartadi, Selasa (28/8) malam.
Melalui "Belenggu", penonton yang hadir sebetulnya sudah merasakan klimaks kebebasan yang ingin dituju. Kumpulan penari yang menunjuk bendera Merah Putih yang dijunjung seorang penari di akhir tarian sudah menunjukkan arti kebebasan.
Sayangnya, selain ternoda oleh gerakan-gerakan yang tidak perlu dan keluar dari pakem kontemporer, yaitu berupa gerakan patah-patah dan berulang, "Belenggu" juga ternoda oleh iringan musik yang mirip modern dance dan juga oleh beberapa properti yang dimainkan. "Sehingga prosesnya menjadi kabur," kata Gandung.
Pada "Nuansa Lima", para koreografer juga sepertinya masih meraba-raba bentuk tari kontemporer. Tari "Singlon of Love" yang dibawakan Sanggar Kayu Hagha menunjukkan pencarian bentuk itu.
"Koreografernya belum bisa menempatkan simbol secara pas, sehingga mereka terkesan memang masih belajar," kata Gandung. (hln)
Sumber: Kompas, Sabtu, 1 September 2007
Rupa: KSS FKIP Unila Pameran Lukisan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dua puluh tiga lukisan dipamerkan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Kelompok Studi Seni (UKMF-KSS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) selama empat hari mulai Kamis (30-8) hingga Minggu (2-8).
Pameran lukisan hasil karya mahasiswa itu bertujuan mengundang perhatian mahasiswa baru agar tertarik dengan seni rupa. Penyelenggaraannya juga bersamaan dengan kegiatan pekan orientasi mahasiswa baru Unila.
Hal yang menarik dari pameran ini dengan menampilkan 13 koleksi lukisan almarhum Heru Triarto, alumnus FKIP. UKMF KSS mengenalnya sebagai salah satu pendiri UKM tersebut. Karyanya juga kerap dijadikan pedoman anggota UKMF KSS.
Lukisan lain merupakan karya Dian, mahasiswi Jurusan Pendidikan Ekonomi, Rahmat Sholeh (mahasiswa Teknik), Harun Munajad (mahasiswa D-3 Bahasa Inggris), dan Zulfikar Maradona (alumnus D-3 Bahasa Inggris). Lukisan mereka umumnya bergaya realis.
Menurut Harun Munajad, pimpinan proyek kegiatan, kegiatan seperti ini sudah sembilan kali digelar sejak UKMF KSS berdiri pada tahun 2000.
Ke depan, pihaknya akan bekerja sama Dewan Kesenian Lampung (DKL) atau sanggar seni rupa lain.
"Kini sedikit anak muda yang tertarik dengan seni rupa, padahal orang-orang yang menguasai seni itu di Lampung umumnya sudah berumur. Adanya kerja sama itu membuka kesempatan kami mendapat pembinaan," kata Harun. n DWI/S-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 1 September 2007
Pameran lukisan hasil karya mahasiswa itu bertujuan mengundang perhatian mahasiswa baru agar tertarik dengan seni rupa. Penyelenggaraannya juga bersamaan dengan kegiatan pekan orientasi mahasiswa baru Unila.
Hal yang menarik dari pameran ini dengan menampilkan 13 koleksi lukisan almarhum Heru Triarto, alumnus FKIP. UKMF KSS mengenalnya sebagai salah satu pendiri UKM tersebut. Karyanya juga kerap dijadikan pedoman anggota UKMF KSS.
Lukisan lain merupakan karya Dian, mahasiswi Jurusan Pendidikan Ekonomi, Rahmat Sholeh (mahasiswa Teknik), Harun Munajad (mahasiswa D-3 Bahasa Inggris), dan Zulfikar Maradona (alumnus D-3 Bahasa Inggris). Lukisan mereka umumnya bergaya realis.
Menurut Harun Munajad, pimpinan proyek kegiatan, kegiatan seperti ini sudah sembilan kali digelar sejak UKMF KSS berdiri pada tahun 2000.
Ke depan, pihaknya akan bekerja sama Dewan Kesenian Lampung (DKL) atau sanggar seni rupa lain.
"Kini sedikit anak muda yang tertarik dengan seni rupa, padahal orang-orang yang menguasai seni itu di Lampung umumnya sudah berumur. Adanya kerja sama itu membuka kesempatan kami mendapat pembinaan," kata Harun. n DWI/S-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 1 September 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)