BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Pendidikan Provinsi Lampung melalui Subdin Kebudayaan Seksi Sejarah dan Permuseuman membuat film dokumenter situs purbakala Batu Bedil di Desa Batu Bedil, Kecamatan Pulau Panggung, Tanggamus. Film tersebut di disutradarai Ibrahim Wardin, skenario digarap Syaiful Irba Tanpaka, dan kamerawan Setyo Mardiono.
Kepala Dinas Pendidikan Hermansyah MURP mengemukakan kompleks situs purbakala Batu Bedil di Tanggamus merupakan peninggalan budaya yang berasal dari tradisi megalit dan klasik yang memang patut didokumentasikan. "Sehingga jejak sejarah ini bisa tetap dikenal generasi mendatang. Tujuan pembuatan film dokumeneter ini sebagai salah satu upaya inventarisasi dan dokumentasi serta sebagai bahan kajian dan referensi sejarah di Lampung," kata Hermansyah, Rabu (19-9).
Nantinya, menurut dia, film ini akan dijadikan salah satu media untuk memasyarakatkan nilai-nilai sejarah dan tradisi luhur bangsa. "Selain itu film ini juga dapat dijadikan salah satu promosi wisata sejarah dan budaya di Provinsi Lampung."
Sebab, kata Hermansyah, situs purbakala Batu Bedil itu merupakan representasi budaya yang harus tetap dijaga kelestariannya. "Diharapkan nilai-nilai dan keindahan yang terdapat di dalamnya tetap bisa dinikmati generasi mendatang," ujarnya.
Sementara itu, Kasubdin Kebudayaan, Khaedarmansyah, menjelaskan film ini sedang dalam tahapan editing. "Shooting-nya sudah dilakukan awal bulan September lalu. Skenarionya digarap Syaiful Irba Tanpaka serta disutradarai Ibrahim Wardin dengan kamerawan Setyo Mardiono."
Film ini menceritakan situs purbakala Batu Bedil yang berada di Desa Batu Bedil, Kecamatan Pulau Panggung, Tanggamus. "Batu Bedil ini kali pertama ditinjau Soekmono dan kawan-kawannya dan ini merupakan suatu potensi sejarah yang dimiliki Lampung," ujar dia.
Tim ini datang tahun 1954 dan mengambil cetak negatif dari prasasti Batu Bedil dan sebuah menhir besar yang dinamakan Batu Bedil dan sebuah lumping batu.
Di kawasan kompleks ini juga ditemukan pula peninggalan sejarah berupa arca Nandhi dari abad IX yang merupakan kendaraan Dewa Siwa serta arca Ganesha yang berfungsi sebagai dewa ilmu pengetahuan. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 20 September 2007
September 20, 2007
September 19, 2007
Laras Bahasa: 'Roaming' versi Kita
-- Agus Utomo*
"Api kabagh, Ton?" tanya Hendra kepada Anton.
"Wawai gawoh," jawab Anton.
"Wah roaming nih he...he...," Ardi dan Dika spontan berujar.
Peristiwa di atas sering terjadi dalam keseharian, tak terkecuali penulis juga pernah merasakannya. Terkadang, meski dengan nada bercanda, kita bisa dikatakan masih belum mampu bersikap dewasa dalam menerima perbedaan bahasa.
Kata roaming sering kita dengar terkait makin majunya teknologi komunikasi telepon seluler. Berbagai kartu pra dan pascabayar dari operator-operator telepon seluler yang ada berlomba-lomba menawarkan layanan bebas roaming nasional.
Jika awalnya kata roaming mempunyai maksud sebagai beban biaya percakapan telepon seluler antardaerah, kini kata roaming lebih populer juga dengan arti yang dipakai untuk sindiran atau protes dengan proses yang sederhana dalam pergaulan sehari-hari.
Ketika ada dua orang atau lebih berbincang menggunakan bahasa daerah di depan teman yang berbeda suku, lalu muncul kata roaming sebagai sebuah protes, sindiran agar tidak menggunakan bahasa daerah pada saat itu karena si teman tidak tahu arti dari percakapan tersebut. Kata ini sering diungkapkan dengan gaya bercanda agar tidak menyinggung perasaan dan untuk menjaga suasana agar tetap nyaman.
Misalnya, suku Lampung bercakap-cakap dengan sesama suku Lampung sedang saat itu ada suku lain yang tidak mengerti arti atau maksud dari pembicaraan yang mereka bicarakan. Begitupun dengan suku lain, apalagi hampir semua suku bangsa ada di Lampung. Sebab itu, wajar jika dalam interaksi masyarakatnya beragam bahasa daerah digunakan.
Mungkin sindiran menggunakan kata roaming ini menjadi salah satu penyebab orang sungkan atau tidak mau berbahasa daerah jika berbincang dengan teman satu suku di depan teman yang berlainan suku. Malu.
Padahal, bahasa daerah merupakan aset budaya nasional dan merupakan akar kebudayaan nasional. Ketika kita sebagai pemiliki tidak lagi mau menggunakan, melestarikan bahasa daerah/budaya daerah tentu lama-kelamaan bisa pudar, punah, dan hilang dari kehidupan yang serbamaju dan berkembang ke arah yang lebih modern, global.
Kita sama-sama memahami bahwa kita memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pengantar pergaulan antarsuku di Indonesia. Kita harus pandai memosisikan, menempatkan kapan kita berbahasa Indonesia dan kapan waktunya kita berbahasa daerah.
Toleransi terhadap penggunaan bahasa daerah yang berbeda tentu harus menjadi sikap yang melekat pada setiap diri manusia Indonesia karena kita ada karena perbedaan dan keberagaman.
* Agus Utomo, Mahasiswa Sosiologi FISIP Unila Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung
Sumber: Lampung Post, Rabu, 19 September 2007
"Api kabagh, Ton?" tanya Hendra kepada Anton.
"Wawai gawoh," jawab Anton.
"Wah roaming nih he...he...," Ardi dan Dika spontan berujar.
Peristiwa di atas sering terjadi dalam keseharian, tak terkecuali penulis juga pernah merasakannya. Terkadang, meski dengan nada bercanda, kita bisa dikatakan masih belum mampu bersikap dewasa dalam menerima perbedaan bahasa.
Kata roaming sering kita dengar terkait makin majunya teknologi komunikasi telepon seluler. Berbagai kartu pra dan pascabayar dari operator-operator telepon seluler yang ada berlomba-lomba menawarkan layanan bebas roaming nasional.
Jika awalnya kata roaming mempunyai maksud sebagai beban biaya percakapan telepon seluler antardaerah, kini kata roaming lebih populer juga dengan arti yang dipakai untuk sindiran atau protes dengan proses yang sederhana dalam pergaulan sehari-hari.
Ketika ada dua orang atau lebih berbincang menggunakan bahasa daerah di depan teman yang berbeda suku, lalu muncul kata roaming sebagai sebuah protes, sindiran agar tidak menggunakan bahasa daerah pada saat itu karena si teman tidak tahu arti dari percakapan tersebut. Kata ini sering diungkapkan dengan gaya bercanda agar tidak menyinggung perasaan dan untuk menjaga suasana agar tetap nyaman.
Misalnya, suku Lampung bercakap-cakap dengan sesama suku Lampung sedang saat itu ada suku lain yang tidak mengerti arti atau maksud dari pembicaraan yang mereka bicarakan. Begitupun dengan suku lain, apalagi hampir semua suku bangsa ada di Lampung. Sebab itu, wajar jika dalam interaksi masyarakatnya beragam bahasa daerah digunakan.
Mungkin sindiran menggunakan kata roaming ini menjadi salah satu penyebab orang sungkan atau tidak mau berbahasa daerah jika berbincang dengan teman satu suku di depan teman yang berlainan suku. Malu.
Padahal, bahasa daerah merupakan aset budaya nasional dan merupakan akar kebudayaan nasional. Ketika kita sebagai pemiliki tidak lagi mau menggunakan, melestarikan bahasa daerah/budaya daerah tentu lama-kelamaan bisa pudar, punah, dan hilang dari kehidupan yang serbamaju dan berkembang ke arah yang lebih modern, global.
Kita sama-sama memahami bahwa kita memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pengantar pergaulan antarsuku di Indonesia. Kita harus pandai memosisikan, menempatkan kapan kita berbahasa Indonesia dan kapan waktunya kita berbahasa daerah.
Toleransi terhadap penggunaan bahasa daerah yang berbeda tentu harus menjadi sikap yang melekat pada setiap diri manusia Indonesia karena kita ada karena perbedaan dan keberagaman.
* Agus Utomo, Mahasiswa Sosiologi FISIP Unila Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung
Sumber: Lampung Post, Rabu, 19 September 2007
Kasus Hujatan Kangen Band: Cermin Kecemburuan dan Persaingan Tidak Sehat
SEBAGAI sebuah band, nama Kangen Band cukup membuat fenomena tersendiri di blantika musik Indonesia. Mengapa tidak? Band asal Lampung ini sukses mencapai angka penjualan tinggi, lebih dari 150 ribu kopi, hanya dalam tempo 1,5 bulan setelah merilis album perdana, Tentang Aku, Kau dan Dia. Kini, album tersebut telah terjual lebih dari 400 ribu kopi, mendekati angka 500 ribu. Fantastis! Tetapi cercaan dan hujatan menyertai mereka.
Kangen Band (Istimewa)
Padahal, dari sisi musikalitas dan talenta, Dodhy (gitar dan vokal), Andika (vokal), Tama (gitar), Iim (dram), Novry (bas) dan Barry (kibor) berada di bawah rata-rata. Hal itu selalu jelas terlihat kala Kangen Band tampil secara live di berbagai acara.
Kualitas aksi panggung Kangen Band memicu kontroversi di tengah masyarakat, termasuk di kalangan para musisi. Banyak musisi yang secara tak langsung menunjuk Kangen Band sebagai produk musik kacangan atau sampah. Ironisnya, mereka justru disukai masyarakat.
Tak terkecuali, vokalis Naif, David. Dia mencaci Kangen Band di depan umum, dalam acara ulang tahun majalah Rolling Stones Indonesia dan juga program siaran live I-Radio dari Plaza Semanggi beberapa waktu lalu.
Toh, ucapan David belum seberapa jika dibandingkan dengan lirik lagu makian yang belakangan mulai beredar di masyarakat. Sebut saja judulnya, "Lagu Hujatan untuk Kangen Band". Dibalut musik hip-hop, lirik yang dinyanyikan dengan gaya rap itu memuat hujatan dan kecaman yang amat sangat kepada Kangen Band. Selain memuat kata-kata kotor, kelompok rap yang belum diketahui identitasnya itu juga melontarkan ancaman. Simak saja sepenggal liriknya di bawah ini:
Yo amit-amit/ Baru sekali ini kejadian seumur hidup/ Ada sampah jadi perhatian/You know Kangen Band yang personelnya udik... You check this, I will kill Kangen Band. T** A**** yang lebih pantes jadi pengamen/ Mereka adalah contoh kebodohan/ Yang dipuja sama seperti saat pertama kali tenarnya Band Radja/Orang memang benar kalau kalian t***l kayak gerombolan waria... Seperti mereka harus dibasmi/Kangen Band harus dibunuh/Lagunya nular orang bisa terpengaruh....
Tak heran jika lagu makian tersebut seolah kian mencuatkan kontroversi akan Kangen Band yang selama ini sudah kerap hadir di berbagai milis musik, obrolan warung kopi antar sesama musisi dan pelaku industri musik, juga di berbagai medium lainnya. Menurut pengamat musik, Bens Leo, kontroversi di tengah masyarakat akan larisnya Kangen Band sebenarnya masih dalam taraf yang wajar. Namun, kehadiran lagu makian itulah yang dinilainya tidak wajar.
"Di Indonesia, persaingan para musisi terjadi sangat ketat. Karena itu, kadang menimbulkan friksi dan kecemburuan kepada kesuksesan org lain, terutama jika sukses terjadi di bidang sosial ekonomi. Jadi wajar-wajar saja jika banyak musisi yang cemburu atas kesuksesan Kangen Band," kata Bens kepada SP, Selasa (18/9).
Mungkin fenomena band yang mencetak hit Penantian yang Tertunda dan Tentang Aku, Kau dan Dia (Usai Sudah) ini bisa dikomparasikan dengan kasus yang dialami Inul Daratista dulu. Si goyang ngebor ini datang dari kampung, tiba-tiba langsung sukses hingga ke mancanegara dan membuat iri penyanyi dangdut lainnya. Bukan kejutan jika di kemudian hari, akibat cemoohan rekan-rekan seprofesinya, nama Inul pun jadi besar.
Kangen Band, menurut Bens, juga datang dari daerah yang tidak ada di peta musik Indonesia. Mereka memulai karier dengan bermusik di komunitas indie setempat. Album kompilasi indie mereka laku keras, hingga dibajak dan membawa mereka ke Jakarta serta dikontrak oleh Warner Music Indonesia.
"Jangan lupa, di belakang Kangen Band ada Harry Tasman yang diminta untuk memperhalus musik mereka. Seolah-olah para personel Kangen Band bisa main musik. Padahal live-nya berantakan, tapi musiknya laku karena mereka berusaha mengisi segmen pasar yang kosong, yakni segmen yang dulu diisi oleh lagu-lagu cinta sederhana dengan kord simpel karya musisi Rinto Harahap atau Pance Pondaag," jelas Bens.
Tak heran jika banyak musisi yang sudah berjuang keras untuk bisa eksis di dunia musik, kemudian mencibir dan sarkatis terhadap kesuksesan instan ala Kangen Band. Apalagi kala melihat performa live mereka yang jauh dari sempurna.
"Kangen Band mendadak populer, tapi tidak bisa tampil live. Ini celaka sekali. Kesannya, dunia musik kita seperti kembali lagi ke masa-masa kala orang tengah belajar main musik. Ini kian memalukan kala mereka tampil di Malaysia. Saya kebetulan melihat performa mereka di sana yang memang jelek sekali. Pers Malaysia pun menjadikan ini celah untuk menghantam balik musik Indonesia. Selama ini, Malaysia memang cemburu pada kesuksesan industri musik kita yang seakan-akan menjajah industri musik mereka," papar Bens.
Di luar kualitas musikalitas dan talenta mereka, Bens tetap menilai, tidak sepantasnya sebuah lagu makian dirilis untuk menjelek-jelekkan Kangen Band. Pasalnya, lagu itu masuk ke industri nasional. Buruknya publisitas terhadap Kangen Band justru akan menjadi daya promosi tersendiri bagi pamor mereka. Seperti yang juga terjadi pada Inul dahulu.
"Kangen Band itu kalau boleh saya bilang adalah band setengah matang yang dibesarkan oleh publisitas. Seharusnya mereka menyadari, konsekuensi dari popularitas adalah, mereka harus bisa main bagus. Saya berharap sekali album kedua mereka akan ada progress perbaikan agar bisa bertahan seperti Inul. Karena kalau tidak, mereka akan habis," tegas Bens.
Yang Penting Laku
Bagi Kangen Band sendiri, munculnya kontroversi seputar kualitas musik mereka bukanlah masalah besar.
"Kami sih tetap berjalan saja. Mau orang benci atau apapun, yang penting kami laku. Sekarang saja, album Kangen Band sudah terjual lebih dari 400 ribu kopi. Itu kan berarti telah meraih double platinum," kata manajer Kangen Band, Sujana, kepada SP.
Lebih jauh lagi Jana, begitu ia akrab disapa, menyebutkan, para personel band asuhannya akan terus melaju bak pepatah "Anjing menggonggong kafilah berlalu." Mau musik mereka dibilang tidak bagus, tak mengapa. Disebut band bermusik sampah pun, Dodhy dkk tidak merasa keberatan.
"Ibaratnya, kalau di industri mobil, jika semua perusahaan membuat mobil BMW, Kijang tidak akan laku. Kami juga begitu. Kami membuat musik yang sesuai pasar. Kangen Band bisa kok bikin musik yang bagus karena anaknya juga pintar-pintar. Namun kami memutuskan untuk tidak usah idealis. Kami kan perlu makan, dan di sini kami jualan," jelas Jana.
Sikap cuek dan pasrah itu mulai menguap kala lagu rap yang menghujat Kangen Band diperdengarkan dimana-mana. Jana mengakui, emosi para personel Kangen Band, akhirnya sedikit terusik. Apalagi liriknya dinilai tidak etis karena bermuatan kata-kata kotor yang menghina.
"Sebenarnya sih anak-anak sempat kesal, tapi kami berusaha santai. Namun di dalam lagu itu, terdapat ancaman pembunuhan yang harus diwaspadai. Inilah yang sempat membuat mereka was-was kala manggung," ungkapnya.
Untuk sementara, Jana dan para personel Kangen Band berupaya untuk bersikap bijak. Mereka akan terus cari siapa yang membuat lagu itu dan menyelidikinya.
Maklum, informasi seputar sang pencipta dan penyanyi lagu hujatan tadi masih simpang-siur. Sebuah sumber SP mengatakan, si pencipta lagu dan penyanyi adalah mahasiswa sebuah sekolah seni di Jakarta. Namun Jana sendiri masih belum pasti karena ia pun mendapat info bahwa lagu tersebut juga berasal dari komunitas indie di Bandung atau Yogyakarta.
"Jika sudah ketemu, kami akan mengambil tindakan secara hukum karena ini sudah mengganggu. Mereka harus bertanggungjawab karena saat ini, anak kecil pun sudah tahu tentang lagu berkata-kata porno itu," tambahnya.
Untuk ke depan, seperti yang disebutkan tadi, Kangen Band akan terus berjalan di jalurnya. Dihina seperti apapun, mereka akan tetap jalan.
"Habis gimana dong. Dihina jelek, memang (kami) jelek. Dibilang udik, memang (kami) asalnya dari kampung. Itu semua fakta. Bagi kami, yang penting kan bermusik," kata personel Kangen Band. [D-10]
Sumber: Suara Pembaruan, Rabu, Rabu, 19 September 2007
Kangen Band (Istimewa)Padahal, dari sisi musikalitas dan talenta, Dodhy (gitar dan vokal), Andika (vokal), Tama (gitar), Iim (dram), Novry (bas) dan Barry (kibor) berada di bawah rata-rata. Hal itu selalu jelas terlihat kala Kangen Band tampil secara live di berbagai acara.
Kualitas aksi panggung Kangen Band memicu kontroversi di tengah masyarakat, termasuk di kalangan para musisi. Banyak musisi yang secara tak langsung menunjuk Kangen Band sebagai produk musik kacangan atau sampah. Ironisnya, mereka justru disukai masyarakat.
Tak terkecuali, vokalis Naif, David. Dia mencaci Kangen Band di depan umum, dalam acara ulang tahun majalah Rolling Stones Indonesia dan juga program siaran live I-Radio dari Plaza Semanggi beberapa waktu lalu.
Toh, ucapan David belum seberapa jika dibandingkan dengan lirik lagu makian yang belakangan mulai beredar di masyarakat. Sebut saja judulnya, "Lagu Hujatan untuk Kangen Band". Dibalut musik hip-hop, lirik yang dinyanyikan dengan gaya rap itu memuat hujatan dan kecaman yang amat sangat kepada Kangen Band. Selain memuat kata-kata kotor, kelompok rap yang belum diketahui identitasnya itu juga melontarkan ancaman. Simak saja sepenggal liriknya di bawah ini:
Yo amit-amit/ Baru sekali ini kejadian seumur hidup/ Ada sampah jadi perhatian/You know Kangen Band yang personelnya udik... You check this, I will kill Kangen Band. T** A**** yang lebih pantes jadi pengamen/ Mereka adalah contoh kebodohan/ Yang dipuja sama seperti saat pertama kali tenarnya Band Radja/Orang memang benar kalau kalian t***l kayak gerombolan waria... Seperti mereka harus dibasmi/Kangen Band harus dibunuh/Lagunya nular orang bisa terpengaruh....
Tak heran jika lagu makian tersebut seolah kian mencuatkan kontroversi akan Kangen Band yang selama ini sudah kerap hadir di berbagai milis musik, obrolan warung kopi antar sesama musisi dan pelaku industri musik, juga di berbagai medium lainnya. Menurut pengamat musik, Bens Leo, kontroversi di tengah masyarakat akan larisnya Kangen Band sebenarnya masih dalam taraf yang wajar. Namun, kehadiran lagu makian itulah yang dinilainya tidak wajar.
"Di Indonesia, persaingan para musisi terjadi sangat ketat. Karena itu, kadang menimbulkan friksi dan kecemburuan kepada kesuksesan org lain, terutama jika sukses terjadi di bidang sosial ekonomi. Jadi wajar-wajar saja jika banyak musisi yang cemburu atas kesuksesan Kangen Band," kata Bens kepada SP, Selasa (18/9).
Mungkin fenomena band yang mencetak hit Penantian yang Tertunda dan Tentang Aku, Kau dan Dia (Usai Sudah) ini bisa dikomparasikan dengan kasus yang dialami Inul Daratista dulu. Si goyang ngebor ini datang dari kampung, tiba-tiba langsung sukses hingga ke mancanegara dan membuat iri penyanyi dangdut lainnya. Bukan kejutan jika di kemudian hari, akibat cemoohan rekan-rekan seprofesinya, nama Inul pun jadi besar.
Kangen Band, menurut Bens, juga datang dari daerah yang tidak ada di peta musik Indonesia. Mereka memulai karier dengan bermusik di komunitas indie setempat. Album kompilasi indie mereka laku keras, hingga dibajak dan membawa mereka ke Jakarta serta dikontrak oleh Warner Music Indonesia.
"Jangan lupa, di belakang Kangen Band ada Harry Tasman yang diminta untuk memperhalus musik mereka. Seolah-olah para personel Kangen Band bisa main musik. Padahal live-nya berantakan, tapi musiknya laku karena mereka berusaha mengisi segmen pasar yang kosong, yakni segmen yang dulu diisi oleh lagu-lagu cinta sederhana dengan kord simpel karya musisi Rinto Harahap atau Pance Pondaag," jelas Bens.
Tak heran jika banyak musisi yang sudah berjuang keras untuk bisa eksis di dunia musik, kemudian mencibir dan sarkatis terhadap kesuksesan instan ala Kangen Band. Apalagi kala melihat performa live mereka yang jauh dari sempurna.
"Kangen Band mendadak populer, tapi tidak bisa tampil live. Ini celaka sekali. Kesannya, dunia musik kita seperti kembali lagi ke masa-masa kala orang tengah belajar main musik. Ini kian memalukan kala mereka tampil di Malaysia. Saya kebetulan melihat performa mereka di sana yang memang jelek sekali. Pers Malaysia pun menjadikan ini celah untuk menghantam balik musik Indonesia. Selama ini, Malaysia memang cemburu pada kesuksesan industri musik kita yang seakan-akan menjajah industri musik mereka," papar Bens.
Di luar kualitas musikalitas dan talenta mereka, Bens tetap menilai, tidak sepantasnya sebuah lagu makian dirilis untuk menjelek-jelekkan Kangen Band. Pasalnya, lagu itu masuk ke industri nasional. Buruknya publisitas terhadap Kangen Band justru akan menjadi daya promosi tersendiri bagi pamor mereka. Seperti yang juga terjadi pada Inul dahulu.
"Kangen Band itu kalau boleh saya bilang adalah band setengah matang yang dibesarkan oleh publisitas. Seharusnya mereka menyadari, konsekuensi dari popularitas adalah, mereka harus bisa main bagus. Saya berharap sekali album kedua mereka akan ada progress perbaikan agar bisa bertahan seperti Inul. Karena kalau tidak, mereka akan habis," tegas Bens.
Yang Penting Laku
Bagi Kangen Band sendiri, munculnya kontroversi seputar kualitas musik mereka bukanlah masalah besar.
"Kami sih tetap berjalan saja. Mau orang benci atau apapun, yang penting kami laku. Sekarang saja, album Kangen Band sudah terjual lebih dari 400 ribu kopi. Itu kan berarti telah meraih double platinum," kata manajer Kangen Band, Sujana, kepada SP.
Lebih jauh lagi Jana, begitu ia akrab disapa, menyebutkan, para personel band asuhannya akan terus melaju bak pepatah "Anjing menggonggong kafilah berlalu." Mau musik mereka dibilang tidak bagus, tak mengapa. Disebut band bermusik sampah pun, Dodhy dkk tidak merasa keberatan.
"Ibaratnya, kalau di industri mobil, jika semua perusahaan membuat mobil BMW, Kijang tidak akan laku. Kami juga begitu. Kami membuat musik yang sesuai pasar. Kangen Band bisa kok bikin musik yang bagus karena anaknya juga pintar-pintar. Namun kami memutuskan untuk tidak usah idealis. Kami kan perlu makan, dan di sini kami jualan," jelas Jana.
Sikap cuek dan pasrah itu mulai menguap kala lagu rap yang menghujat Kangen Band diperdengarkan dimana-mana. Jana mengakui, emosi para personel Kangen Band, akhirnya sedikit terusik. Apalagi liriknya dinilai tidak etis karena bermuatan kata-kata kotor yang menghina.
"Sebenarnya sih anak-anak sempat kesal, tapi kami berusaha santai. Namun di dalam lagu itu, terdapat ancaman pembunuhan yang harus diwaspadai. Inilah yang sempat membuat mereka was-was kala manggung," ungkapnya.
Untuk sementara, Jana dan para personel Kangen Band berupaya untuk bersikap bijak. Mereka akan terus cari siapa yang membuat lagu itu dan menyelidikinya.
Maklum, informasi seputar sang pencipta dan penyanyi lagu hujatan tadi masih simpang-siur. Sebuah sumber SP mengatakan, si pencipta lagu dan penyanyi adalah mahasiswa sebuah sekolah seni di Jakarta. Namun Jana sendiri masih belum pasti karena ia pun mendapat info bahwa lagu tersebut juga berasal dari komunitas indie di Bandung atau Yogyakarta.
"Jika sudah ketemu, kami akan mengambil tindakan secara hukum karena ini sudah mengganggu. Mereka harus bertanggungjawab karena saat ini, anak kecil pun sudah tahu tentang lagu berkata-kata porno itu," tambahnya.
Untuk ke depan, seperti yang disebutkan tadi, Kangen Band akan terus berjalan di jalurnya. Dihina seperti apapun, mereka akan tetap jalan.
"Habis gimana dong. Dihina jelek, memang (kami) jelek. Dibilang udik, memang (kami) asalnya dari kampung. Itu semua fakta. Bagi kami, yang penting kan bermusik," kata personel Kangen Band. [D-10]
Sumber: Suara Pembaruan, Rabu, Rabu, 19 September 2007
September 16, 2007
Esai: Bahasa Lampung takkan Mungkin Punah
-- Asaroeddin Malik Zulqornain*
KETIKA Tanoh Lappung, "Sai Bumi Ruwa Jurai" (tulisan yang terdapat pada lambang daerah Lampung) yang artinya Satu bumi dua keturunan: Pepadun dan Saibatin dipelintir maknanya menjadi "pendatang dan asli", dapat dipatahkan dengan argumen jangankan di Lampung bahkan di Kutub Utara sekalipun pasti ada penduduk asli dan pendatang.
Muncul kemudian slogan bahwa Lampung ialah "Indonesia mini". Dan Gubernur Lampung, Sjachroedin Z.P. dengan lantang mematahkan isu murahan ini dalam pidato pembukaan Pergelaran Kesenian Lampung di Saburai, tanggal 23 Juli, karena "Indonesia mini" jika diartikan sebagai tempat berkumpulnya beragam suku/etnik pasti bisa didapatkan di mana saja di wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke.
Jika di daerah lain di luar daerah Lampung filosofi "di mana bumi di pijak--di situ langit dijunjung" dapat terlaksana dengan mulus dalam arti seseorang harus segera "mem-Palembang-kan" dirinya dengan dialek: "Berapo ongkos ke Plaju, Mangcek?" (Palembang) atau mem-Betawi-kan dirinya dengan dialog "lu-gue" ketika di Jakarta dan seterusnya sampai harus memelayukan bahasanya ketika kembali ke kampung halaman setelah menjadi TKW/TKI di negeri jiran.
Di Lampung justru sebaliknya. Bahkan, muncul joke: Ada dua orang sedang terlibat pembicaraan berbahasa Lampung, lalu datang orang ketiga yang tidak bisa berbahasa Lampung. Dan agar yang bersangkutan bisa langsung terlibat pada pembicaraan, maka kedua orang itu serta-merta mengganti bahasanya bukan dengan bahasa Indonesia justru bahasa ibu si orang ketiga!
Ketiga fakta yang penulis sebutkan di atas merupakan hambatan utama dalam pemasyarakatan bahasa Lampung, kesemuanya bersumber dari tidak adanya rasa bangga menjadi orang Lampung bahkan merasa liom (malu) dan merasa diri kampungan jika berkomunikasi dalam bahasa ibunya.
Lampung sebagai kesatuan budaya rasanya tidak mungkin mengundang kontroversi; lain halnya jika menjadikan Lampung sebagai kesatuan politik dan pilihan menjadikan bahasa Lampung sebagai alat berkomunikasi antarsesama warga--sebagaimana halnya yang terjadi di seluruh wilayah NKRI--dapat dijadikan sebagai benang merah yang mengikat warga untuk membangun lampung dengan kebersamaan dalam persepsi, misi, dan visi sehingga kebangkitannya sebagai provinsi yang unggul dan memiliki daya saing dapat segera terwujud. Dan Semboyan "Demimu Lampungku-padamu baktiku" seyogianya membara di setiap jiwa warga Lampung.
Di Masyarakat Adat
Bahasa daerah Lampung merupakan salah satu dari 700 bahasa ibu yang ada di Indonesia, sampai hari ini tetap tumbuh dan berkembang, terutama di masyarakat adat di seluruh wilayah Lampung sungguhpun dalam upaya pemasyarakatannya masih dilakukan dengan setengah hati dan kurang mendapat dukungan maksimal dari pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.
Namun, masyarakat adat Lampung di perdesaan tetap setia memakai dan membesarkannya seperti halnya bisa kita dengar pada setiap Sabtu malam, di RRI Tanjungkarang dalam acara Ragom Budaya Lampung. Kumandang kesenian sastra lisan Lampung yang disuarakan berbagai kelompok masyarakat adat dari seluruh pelosok Lampung yang datang berbondong-bondong dengan tanpa dibayar sesen pun merupakan bukti nyata eksistensi dan revitalisasi bahasa Lampung di tengah upaya pemarginalan yang maksimal dari para elite dan tidak tersedianya pejuang budaya yang peduli dengan perkembangan bahasa lampung di level provinsi.
Elite Cuma Sibuk Seremoni
Minimnya dukungan budaya dari para elite di level provinsi tidak membuat perkembangan bahasa Lampung terpuruk, tetapi akan jauh lebih baik jika sikap moral para tokoh masyarakat adat Lampung lebih mengedepankan upaya dan strategi bersama memasyarakatkan bahasa Lampung ketimbang sibuk dalam kegiatan yang bersifat seremoni dan politik praktis thok!
Akan jauh lebih mulia jika para elite Lampung bersikap bijak untuk menyosialisasikan pembuatan Perda Penggunaan Bahasa Lampung dalam pergaulan sehari-hari atau memperjuangkan terbitnya Peraturan Gubernur tentang Kewajiban Berbahasa Lampung bagi setiap pejabat dalam acara nonresmi, misalnya, ketimbang meneriakkan kegalauan bahwa 75 tahun lagi bahasa lampung akan punah.
Terlebih lagi penilaian seperti yang disuarakan Rektor Unila Muhajir Utomo; "Bahasa Jawa atau Minang tidak usah dimotivasi pemerintah sudah bisa berkembang dengan sendirinya, tetapi kalau bahasa Lampung, kan tidak? Bahasa Lampung membutuhkan komitmen dan kesungguhan pemerintah daerah untuk membangkitkan kembali bahasa daerahnya," (Lampung Post, 22-2-2007). Tentu akan jauh lebih mulia jika beliau berketetapan hati untuk membuka kembali program studi D-2 & D-3 Bahasa Lampung yang sejak tahun 2003 ditutup.
Revisi Program Mulok
Memang pemerintah daerah khususnya bidang pendidikan telah melaksanakan program dalam upaya pelestarian bahasa Lampung, yakni memasukkannnya dalam kurikulum muatan lokal sejak SD sampai SMA.
Dalam pelaksanaannya memang mengalami hambatan ketika harus diimplementasikan mengingat ukuran keberhasilan dari pembelajaran bahasa Lampung tersebut tidak muncul di tingkat operasional ketika siswa berkomunikasi. Hal ini terjadi mungkin akibat ditetapkannya skala prioritas dalam kurikulum tersebut pada kemampuan siswa menulis aksara Lampung (Kaganga) ketimbang dapat bicara bahasa Lampung.
Untuk ke depan, akan jauh lebih baik jika kurikulum tersebut direvisi, dalam arti untuk tingkat SD sampai SMP lebih fokus pada kurikulum pembelajaran bahasa Lampung secara aktif, sehingga hasilnya dapat dinikmati langsung anak didik baik dalam berkomunikasi verbal dengan lingkungan dan orang tuanya maupun untuk korespondensi. Untuk belajar aksara Lampung dapat dimunculkan di tingkat SMA.
Hal ini perlu segera dibenahi karena output muatan lokal bahasa daerah Lampung kini hanya sekadar mengantarkan anak didik untuk dapat menulis aksara Lampung dengan benar, sehingga terkadang muncul kebingungan dari para orang tua yang notabene biasa berbahasa Lampung ketika putranya memintanya untuk menyelesaikan pe-er yang ditulis dalam aksara Lampung!
Jika hal ini bisa dilaksanakan, penulis yakin bahwa generasi muda Lampung terutama di daerah perkotaan dapat berkomunikasi dalam bahasa Lampung dan tujuan pendidikan bahasa Lampung di sekolah akan menuai hasil yang maksimal. Sebaliknya jika kurikulum tidak di revisi, proses pemasyarakatan bahasa daerah Lampung akan terkendala dan hanya sekadar berfungsi sebagai penambah nilai untuk bisa lulus sekolah tepat waktu.
Tidak Cukup Sekadar Merek
Melampungkan kelampungan orang Lampung dengan menjadikan bahasa Lampung sebagai bahasa pergaulan antarsesama warga di seluruh wilayah Lampung pada akhirnya akan dapat membangun jati diri orang Lampung yang ber-piil pesenggiri bukan sekadar klise dalam sebutan kopi lampung, Plaza Lampung, dan sebagainya.
Penyadaran untuk bersama berbahasa Lampung paling tidak dalam pergaulan sehari-hari, entah di pasar, kantor, rumah atau di mana saja dan kapan saja diharapkan akan dapat menumbuhkembangkan kesadaran menjadi orang Lampung sejati. Bagi penduduk asli memulainya dengan meminggirkan budaya liom ketika harus berkomunikasi dalam bahasa ibunya dengan siapa pun, dan pendatang mesti memiliki rasa bangga untuk menjadi orang Lampung.
Jangan Saling Menyalahkan
Siapa pun dia, dari mana pun asalnya, ketika merasa sudah pandai berbahasa Lampung mesti siap dan berani menyebarluaskannya kepada orang-orang terdekat di sekitarnya, begitu pula halnya kepada yang ingin belajar, maka dia harus berguru karena bagaimanapun juga takkan ada guru yang mencari muridnya!
Pemerintah daerah memang berkepentingan dan bertanggung jawab dalam pelestarian bahasa Lampung, tapi dalam prosesnya harus melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sebagai proyek moral pertanda rakyat Lampung sejati.
'Dialek' Lampung-Indonesia
Pada saatnya nanti Indonesia akan mengenal "dialek" Lampung--Indonesia yang khas dan unik di media TV Nusantara, sehingga peranannya dalam perkembangan bahasa Indonesia dapat diperhitungkan dan disejajarkan dengan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu dikenal.
Kondisi ini segera kami nikmati jika budaya liom ulun lappung dan budaya bangga pendatang yang tidak bisa bicara lampung binasa bersama berkat tuah piil pesenggiri yang menjadi kekuatan sejati rakyat Lampung. Jika prosesi sebambangan (bergabungnya dua kekuatan yang saling mencintai) ini terjadi, insya Allah bahasa Bumi Ruwa Jurai akan berkumandang di jagat Nusantara. Kimak ganta, kapan lagi, kimak kham, sapa lagi, puakhii. (Sukamaju, 29-8-07)
n Asaroeddin Malik Zulqornain, sastrawan
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 September 2007
KETIKA Tanoh Lappung, "Sai Bumi Ruwa Jurai" (tulisan yang terdapat pada lambang daerah Lampung) yang artinya Satu bumi dua keturunan: Pepadun dan Saibatin dipelintir maknanya menjadi "pendatang dan asli", dapat dipatahkan dengan argumen jangankan di Lampung bahkan di Kutub Utara sekalipun pasti ada penduduk asli dan pendatang.
Muncul kemudian slogan bahwa Lampung ialah "Indonesia mini". Dan Gubernur Lampung, Sjachroedin Z.P. dengan lantang mematahkan isu murahan ini dalam pidato pembukaan Pergelaran Kesenian Lampung di Saburai, tanggal 23 Juli, karena "Indonesia mini" jika diartikan sebagai tempat berkumpulnya beragam suku/etnik pasti bisa didapatkan di mana saja di wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke.
Jika di daerah lain di luar daerah Lampung filosofi "di mana bumi di pijak--di situ langit dijunjung" dapat terlaksana dengan mulus dalam arti seseorang harus segera "mem-Palembang-kan" dirinya dengan dialek: "Berapo ongkos ke Plaju, Mangcek?" (Palembang) atau mem-Betawi-kan dirinya dengan dialog "lu-gue" ketika di Jakarta dan seterusnya sampai harus memelayukan bahasanya ketika kembali ke kampung halaman setelah menjadi TKW/TKI di negeri jiran.
Di Lampung justru sebaliknya. Bahkan, muncul joke: Ada dua orang sedang terlibat pembicaraan berbahasa Lampung, lalu datang orang ketiga yang tidak bisa berbahasa Lampung. Dan agar yang bersangkutan bisa langsung terlibat pada pembicaraan, maka kedua orang itu serta-merta mengganti bahasanya bukan dengan bahasa Indonesia justru bahasa ibu si orang ketiga!
Ketiga fakta yang penulis sebutkan di atas merupakan hambatan utama dalam pemasyarakatan bahasa Lampung, kesemuanya bersumber dari tidak adanya rasa bangga menjadi orang Lampung bahkan merasa liom (malu) dan merasa diri kampungan jika berkomunikasi dalam bahasa ibunya.
Lampung sebagai kesatuan budaya rasanya tidak mungkin mengundang kontroversi; lain halnya jika menjadikan Lampung sebagai kesatuan politik dan pilihan menjadikan bahasa Lampung sebagai alat berkomunikasi antarsesama warga--sebagaimana halnya yang terjadi di seluruh wilayah NKRI--dapat dijadikan sebagai benang merah yang mengikat warga untuk membangun lampung dengan kebersamaan dalam persepsi, misi, dan visi sehingga kebangkitannya sebagai provinsi yang unggul dan memiliki daya saing dapat segera terwujud. Dan Semboyan "Demimu Lampungku-padamu baktiku" seyogianya membara di setiap jiwa warga Lampung.
Di Masyarakat Adat
Bahasa daerah Lampung merupakan salah satu dari 700 bahasa ibu yang ada di Indonesia, sampai hari ini tetap tumbuh dan berkembang, terutama di masyarakat adat di seluruh wilayah Lampung sungguhpun dalam upaya pemasyarakatannya masih dilakukan dengan setengah hati dan kurang mendapat dukungan maksimal dari pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.
Namun, masyarakat adat Lampung di perdesaan tetap setia memakai dan membesarkannya seperti halnya bisa kita dengar pada setiap Sabtu malam, di RRI Tanjungkarang dalam acara Ragom Budaya Lampung. Kumandang kesenian sastra lisan Lampung yang disuarakan berbagai kelompok masyarakat adat dari seluruh pelosok Lampung yang datang berbondong-bondong dengan tanpa dibayar sesen pun merupakan bukti nyata eksistensi dan revitalisasi bahasa Lampung di tengah upaya pemarginalan yang maksimal dari para elite dan tidak tersedianya pejuang budaya yang peduli dengan perkembangan bahasa lampung di level provinsi.
Elite Cuma Sibuk Seremoni
Minimnya dukungan budaya dari para elite di level provinsi tidak membuat perkembangan bahasa Lampung terpuruk, tetapi akan jauh lebih baik jika sikap moral para tokoh masyarakat adat Lampung lebih mengedepankan upaya dan strategi bersama memasyarakatkan bahasa Lampung ketimbang sibuk dalam kegiatan yang bersifat seremoni dan politik praktis thok!
Akan jauh lebih mulia jika para elite Lampung bersikap bijak untuk menyosialisasikan pembuatan Perda Penggunaan Bahasa Lampung dalam pergaulan sehari-hari atau memperjuangkan terbitnya Peraturan Gubernur tentang Kewajiban Berbahasa Lampung bagi setiap pejabat dalam acara nonresmi, misalnya, ketimbang meneriakkan kegalauan bahwa 75 tahun lagi bahasa lampung akan punah.
Terlebih lagi penilaian seperti yang disuarakan Rektor Unila Muhajir Utomo; "Bahasa Jawa atau Minang tidak usah dimotivasi pemerintah sudah bisa berkembang dengan sendirinya, tetapi kalau bahasa Lampung, kan tidak? Bahasa Lampung membutuhkan komitmen dan kesungguhan pemerintah daerah untuk membangkitkan kembali bahasa daerahnya," (Lampung Post, 22-2-2007). Tentu akan jauh lebih mulia jika beliau berketetapan hati untuk membuka kembali program studi D-2 & D-3 Bahasa Lampung yang sejak tahun 2003 ditutup.
Revisi Program Mulok
Memang pemerintah daerah khususnya bidang pendidikan telah melaksanakan program dalam upaya pelestarian bahasa Lampung, yakni memasukkannnya dalam kurikulum muatan lokal sejak SD sampai SMA.
Dalam pelaksanaannya memang mengalami hambatan ketika harus diimplementasikan mengingat ukuran keberhasilan dari pembelajaran bahasa Lampung tersebut tidak muncul di tingkat operasional ketika siswa berkomunikasi. Hal ini terjadi mungkin akibat ditetapkannya skala prioritas dalam kurikulum tersebut pada kemampuan siswa menulis aksara Lampung (Kaganga) ketimbang dapat bicara bahasa Lampung.
Untuk ke depan, akan jauh lebih baik jika kurikulum tersebut direvisi, dalam arti untuk tingkat SD sampai SMP lebih fokus pada kurikulum pembelajaran bahasa Lampung secara aktif, sehingga hasilnya dapat dinikmati langsung anak didik baik dalam berkomunikasi verbal dengan lingkungan dan orang tuanya maupun untuk korespondensi. Untuk belajar aksara Lampung dapat dimunculkan di tingkat SMA.
Hal ini perlu segera dibenahi karena output muatan lokal bahasa daerah Lampung kini hanya sekadar mengantarkan anak didik untuk dapat menulis aksara Lampung dengan benar, sehingga terkadang muncul kebingungan dari para orang tua yang notabene biasa berbahasa Lampung ketika putranya memintanya untuk menyelesaikan pe-er yang ditulis dalam aksara Lampung!
Jika hal ini bisa dilaksanakan, penulis yakin bahwa generasi muda Lampung terutama di daerah perkotaan dapat berkomunikasi dalam bahasa Lampung dan tujuan pendidikan bahasa Lampung di sekolah akan menuai hasil yang maksimal. Sebaliknya jika kurikulum tidak di revisi, proses pemasyarakatan bahasa daerah Lampung akan terkendala dan hanya sekadar berfungsi sebagai penambah nilai untuk bisa lulus sekolah tepat waktu.
Tidak Cukup Sekadar Merek
Melampungkan kelampungan orang Lampung dengan menjadikan bahasa Lampung sebagai bahasa pergaulan antarsesama warga di seluruh wilayah Lampung pada akhirnya akan dapat membangun jati diri orang Lampung yang ber-piil pesenggiri bukan sekadar klise dalam sebutan kopi lampung, Plaza Lampung, dan sebagainya.
Penyadaran untuk bersama berbahasa Lampung paling tidak dalam pergaulan sehari-hari, entah di pasar, kantor, rumah atau di mana saja dan kapan saja diharapkan akan dapat menumbuhkembangkan kesadaran menjadi orang Lampung sejati. Bagi penduduk asli memulainya dengan meminggirkan budaya liom ketika harus berkomunikasi dalam bahasa ibunya dengan siapa pun, dan pendatang mesti memiliki rasa bangga untuk menjadi orang Lampung.
Jangan Saling Menyalahkan
Siapa pun dia, dari mana pun asalnya, ketika merasa sudah pandai berbahasa Lampung mesti siap dan berani menyebarluaskannya kepada orang-orang terdekat di sekitarnya, begitu pula halnya kepada yang ingin belajar, maka dia harus berguru karena bagaimanapun juga takkan ada guru yang mencari muridnya!
Pemerintah daerah memang berkepentingan dan bertanggung jawab dalam pelestarian bahasa Lampung, tapi dalam prosesnya harus melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sebagai proyek moral pertanda rakyat Lampung sejati.
'Dialek' Lampung-Indonesia
Pada saatnya nanti Indonesia akan mengenal "dialek" Lampung--Indonesia yang khas dan unik di media TV Nusantara, sehingga peranannya dalam perkembangan bahasa Indonesia dapat diperhitungkan dan disejajarkan dengan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu dikenal.
Kondisi ini segera kami nikmati jika budaya liom ulun lappung dan budaya bangga pendatang yang tidak bisa bicara lampung binasa bersama berkat tuah piil pesenggiri yang menjadi kekuatan sejati rakyat Lampung. Jika prosesi sebambangan (bergabungnya dua kekuatan yang saling mencintai) ini terjadi, insya Allah bahasa Bumi Ruwa Jurai akan berkumandang di jagat Nusantara. Kimak ganta, kapan lagi, kimak kham, sapa lagi, puakhii. (Sukamaju, 29-8-07)
n Asaroeddin Malik Zulqornain, sastrawan
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 September 2007
Musik: Kangen Band, Antara Sukses dan Hujatan
Pacarku cintailah aku/ Seperti aku cinta kamu/Tapi kamu kok selingkuh.
PENGGALAN syair lagu bertajuk Selingkuh milik Kangen Band, boleh jadi amat akrab di telinga para pendengar musik Indonesia. Meski, tidak dipungkiri banyak orang yang 'malu-malu' mengakui suka dengan lagu tersebut.
Buktinya lagu tersebut membawa grup asal Lampung itu ke puncak popularitas. Warna musiknya mengingatkan kita pada musik-musik Malaysia yang marak 'menjajah' belantika musik Indonesia di era 80-an. Itulah ciri khas Kangen Band.
Memang tidak sedikit pendapat yang mengatakan lagu-lagu mereka 'kampungan'. Bahkan lebih ekstrem lagi, ada yang berpendapat munculnya lagu-lagu Kangen Band menandai runtuhnya kreativitas musik Indonesia.
Namun tidak demikian dengan Warner Music Indonesia (WMI) yang sudah berpengalaman dalam bisnis rekaman. WMI berani mengambil band yang terbentuk 4 Juli 2005 itu.
Album pertama mereka bertajuk Aku, Kau & Dia, yang dirilis WMI, pada Februari lalu terjual lebih dari 500 ribu keping. Angka penjualan yang tinggi itu memang mengejutkan. Terlebih lagi artis populer saat ini sulit mencapai penjualan hingga 500 ribu keping, karena persaingan di bisnis musik kian ketat.
Ketenaran Kangen membuat band itu bisa tampil dengan band-band lain yang sudah populer. Dalam konser akbar A Mild Soundrenaline 2007 misalnya, Kangen Band ambil bagian. Terakhir grup band itu masuk nominasi band paling ngetop dalam SCTV Award, bersaing dengan Ungu, Ada Band, dan Dewa.
Namun tidak semua orang senang dengan kepopuleran Kangen Band. Kesuksesan yang dirasakan kelompok asal Lampung itu terus mendapat hinaan dan makian. David, vokalis band Naif, misalnya, pernah mengecap Kangen Band sebagai band kampungan walau akhirnya ia ralat. Baru-baru ini beredar lagu yang dibawakan kelompok musik rap yang berisi caci-maki terhadap Kangen Band. Lagu tersebut telah beredar dua minggu lalu lewat jaringan ringtone telepon genggam.
Lagu yang sering disebut dengan Lagu Makian untuk Kangen Band itu lebih mengarah pada serangan pribadi dan kebencian yang tidak beralasan. Coba simak beberapa potong syairnya:
This is love song specially for Kangen Band. Yo amit-amit/ Baru sekali ini kejadian seumur hidup. Ada sampah jadi perhatian/You know Kangen Band yang personelnya udik... You check this, I will kill Kangen Band. ...yang lebih pantes jadi pengamen. Mereka adalah contoh kebodohan. Yang dipuja sama seperti saat pertama kali tenarnya Band Radja. Orang memang benar kalau kalian kayak gerombolan waria....
Kelompok rap ini juga mengarahkan kebenciannya kepada vokalis Kangen Band, Dodhy, dan mengarah ke kebencian fisik.
Sujana dari Positif Art Management, manajer Kangen Band, mengakui sudah tahu lagu tersebut. ''Yang membuat kami khawatir adalah syair lagunya bersifat ancaman. Setiap Kangen Band pentas, kami selalu minta keamanan lebih ketat,'' ungkap Sujana yang kini sedang menjajaki perlu tidak menempuh jalur hukum terhadap masalah tersebut.
Pengamat musik Bens Leo pun menilai lagu makian tersebut benar-benar tidak etis. ''Band bisa populer karena ada yang mengaturnya. Manajemen Kangen Band pandai mengambil pasar di kelas bawah yang masih kosong, makanya band itu langsung populer,'' ujarnya. (Eri Anugerah/H-3)
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 16 September 2007
PENGGALAN syair lagu bertajuk Selingkuh milik Kangen Band, boleh jadi amat akrab di telinga para pendengar musik Indonesia. Meski, tidak dipungkiri banyak orang yang 'malu-malu' mengakui suka dengan lagu tersebut.
Buktinya lagu tersebut membawa grup asal Lampung itu ke puncak popularitas. Warna musiknya mengingatkan kita pada musik-musik Malaysia yang marak 'menjajah' belantika musik Indonesia di era 80-an. Itulah ciri khas Kangen Band.
Memang tidak sedikit pendapat yang mengatakan lagu-lagu mereka 'kampungan'. Bahkan lebih ekstrem lagi, ada yang berpendapat munculnya lagu-lagu Kangen Band menandai runtuhnya kreativitas musik Indonesia.
Namun tidak demikian dengan Warner Music Indonesia (WMI) yang sudah berpengalaman dalam bisnis rekaman. WMI berani mengambil band yang terbentuk 4 Juli 2005 itu.
Album pertama mereka bertajuk Aku, Kau & Dia, yang dirilis WMI, pada Februari lalu terjual lebih dari 500 ribu keping. Angka penjualan yang tinggi itu memang mengejutkan. Terlebih lagi artis populer saat ini sulit mencapai penjualan hingga 500 ribu keping, karena persaingan di bisnis musik kian ketat.
Ketenaran Kangen membuat band itu bisa tampil dengan band-band lain yang sudah populer. Dalam konser akbar A Mild Soundrenaline 2007 misalnya, Kangen Band ambil bagian. Terakhir grup band itu masuk nominasi band paling ngetop dalam SCTV Award, bersaing dengan Ungu, Ada Band, dan Dewa.
Namun tidak semua orang senang dengan kepopuleran Kangen Band. Kesuksesan yang dirasakan kelompok asal Lampung itu terus mendapat hinaan dan makian. David, vokalis band Naif, misalnya, pernah mengecap Kangen Band sebagai band kampungan walau akhirnya ia ralat. Baru-baru ini beredar lagu yang dibawakan kelompok musik rap yang berisi caci-maki terhadap Kangen Band. Lagu tersebut telah beredar dua minggu lalu lewat jaringan ringtone telepon genggam.
Lagu yang sering disebut dengan Lagu Makian untuk Kangen Band itu lebih mengarah pada serangan pribadi dan kebencian yang tidak beralasan. Coba simak beberapa potong syairnya:
This is love song specially for Kangen Band. Yo amit-amit/ Baru sekali ini kejadian seumur hidup. Ada sampah jadi perhatian/You know Kangen Band yang personelnya udik... You check this, I will kill Kangen Band. ...yang lebih pantes jadi pengamen. Mereka adalah contoh kebodohan. Yang dipuja sama seperti saat pertama kali tenarnya Band Radja. Orang memang benar kalau kalian kayak gerombolan waria....
Kelompok rap ini juga mengarahkan kebenciannya kepada vokalis Kangen Band, Dodhy, dan mengarah ke kebencian fisik.
Sujana dari Positif Art Management, manajer Kangen Band, mengakui sudah tahu lagu tersebut. ''Yang membuat kami khawatir adalah syair lagunya bersifat ancaman. Setiap Kangen Band pentas, kami selalu minta keamanan lebih ketat,'' ungkap Sujana yang kini sedang menjajaki perlu tidak menempuh jalur hukum terhadap masalah tersebut.
Pengamat musik Bens Leo pun menilai lagu makian tersebut benar-benar tidak etis. ''Band bisa populer karena ada yang mengaturnya. Manajemen Kangen Band pandai mengambil pasar di kelas bawah yang masih kosong, makanya band itu langsung populer,'' ujarnya. (Eri Anugerah/H-3)
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 16 September 2007
September 15, 2007
Seni Tradisi: Sastra Lisan Lampung Idealnya Diberikan di SMP
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pembelajaran sastra lisan daerah Lampung idealnya diberikan kepada para pelajar khususnya setingkat SMP. Sebab hanya dalam level ini pembelajaran muatan lokal bahasa Lampung diberikan. Sedang pada tingkat SMA kurang memungkinkan.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Taman Budaya Lampung Pharzon Nashiruddin mengemukakan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini. Untuk itu, dia mengatakan pelatihan teknis sastra lisan daerah Lampung tersebut diberikan pada tingkatan siswa SMP.
"Awalnya kami memang membidik siswa SMA. Namun ternyata di SMA pembelajaran muatan lokal terutama bahasa Lampung sudah tidak ada. Makanya sangat disayangkan bila diberikan pembelajarannya, tetapi tidak diaplikasikan di sekolah," kata Pharzon.
Padahal seharusnya di tingkat SMA, pembelajaran bahasa Lampung terutama sastra lisan daerah Lampung diberikan. "Namun ini tak mungkin. Karena siswa yang mengambil jurusan sastra saja di SMA belum tentu mendapatkan pelajaran sastra lisan Lampung," ujar dia.
Sehingga, Taman Budaya Lampung membidik peserta pelatihan sastra lisan daerah Lampung diberikan kepada siswa SMP. "Sebab siswa SMP, sejak SD sudah mendapat pelajaran bahasa Lampung. Begitu juga di SMP terdapat muatan lokal pelajaran tersebut, sehingga bisa saling menyambung dan berkaitan satu dengan lain," ujarnya.
Apalagi memang selain memberikan pengetahuan kepada para pelajar berkaitan dengan sastra lisan, kegiatan pelatihan juga bertujuan untuk melestarikan sastra lisan. "Jadi ini tetap sejalan dengan misi Taman Budaya Lampung yang menggali serta mengembangkan seni budaya daerah Lampung. Terlebih lagi ini juga sekaligus menyosialisasikan mengenai sastra lisan kepada para pelajar."
Karena itu, pelatihan sastra lisan Lampung digelar setiap tahun. Tahun ini, pelatihan berlangsung selama seminggu dari Selasa (4-9) hingga Senin (10-9) dan diikuti 45 pelajar SMP. Adapun materinya berupa muayak, ringget, dan wawancan. "Namun ke depan bisa berkembang ke sastra lisan lainnya sesuai dengan pematerinya seperti dadi, hahiwang, dan lainnya," kata dia.
Ia mengungkapkan materinya tak hanya berkutat pada persoalan sastra lisan saja, tapi juga muatan tari, musik daerah Lampung, seni pertunjukan, serta pengetahuan umum. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 September 2007
Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Taman Budaya Lampung Pharzon Nashiruddin mengemukakan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini. Untuk itu, dia mengatakan pelatihan teknis sastra lisan daerah Lampung tersebut diberikan pada tingkatan siswa SMP.
"Awalnya kami memang membidik siswa SMA. Namun ternyata di SMA pembelajaran muatan lokal terutama bahasa Lampung sudah tidak ada. Makanya sangat disayangkan bila diberikan pembelajarannya, tetapi tidak diaplikasikan di sekolah," kata Pharzon.
Padahal seharusnya di tingkat SMA, pembelajaran bahasa Lampung terutama sastra lisan daerah Lampung diberikan. "Namun ini tak mungkin. Karena siswa yang mengambil jurusan sastra saja di SMA belum tentu mendapatkan pelajaran sastra lisan Lampung," ujar dia.
Sehingga, Taman Budaya Lampung membidik peserta pelatihan sastra lisan daerah Lampung diberikan kepada siswa SMP. "Sebab siswa SMP, sejak SD sudah mendapat pelajaran bahasa Lampung. Begitu juga di SMP terdapat muatan lokal pelajaran tersebut, sehingga bisa saling menyambung dan berkaitan satu dengan lain," ujarnya.
Apalagi memang selain memberikan pengetahuan kepada para pelajar berkaitan dengan sastra lisan, kegiatan pelatihan juga bertujuan untuk melestarikan sastra lisan. "Jadi ini tetap sejalan dengan misi Taman Budaya Lampung yang menggali serta mengembangkan seni budaya daerah Lampung. Terlebih lagi ini juga sekaligus menyosialisasikan mengenai sastra lisan kepada para pelajar."
Karena itu, pelatihan sastra lisan Lampung digelar setiap tahun. Tahun ini, pelatihan berlangsung selama seminggu dari Selasa (4-9) hingga Senin (10-9) dan diikuti 45 pelajar SMP. Adapun materinya berupa muayak, ringget, dan wawancan. "Namun ke depan bisa berkembang ke sastra lisan lainnya sesuai dengan pematerinya seperti dadi, hahiwang, dan lainnya," kata dia.
Ia mengungkapkan materinya tak hanya berkutat pada persoalan sastra lisan saja, tapi juga muatan tari, musik daerah Lampung, seni pertunjukan, serta pengetahuan umum. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 September 2007
September 14, 2007
Workshop: Film Jadi Media Pembangunan Budaya
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Film bisa dijadikan media pengembangan kebudayaan bangsa sebagai salah satu aspek ketahanan dan pembangunan nasional.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Hermansyah MURP mengemukakan hal tersebut dalam pembukaan Worskhop Film Pelajar 2007 yang digelar di Hotel Kemala Bandar Lampung, baru-baru ini. Media pengembangan budaya bangsa tersebut merupakan fungsi strategis film guna meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.
"Untuk itu Dinas Pendidikan melalui Sub-Dinas Kebudayaan menggelar kegiatan ini agar para pelajar sebagai generasi muda dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan kebudayaan bangsa melalui media film," kata Hermansyah.
Ia mengharapkan melalui kegiatan ini para peserta dapat menyerap pengetahuan teknis mengenai produksi film. Sehingga, nantinya bisa membangun wawasan budaya bangsa secara positif dan optiomal.
Sekaligus bisa membuat film bernuansa pendidikan. "Ini bisa dijadikan sebagai kontribusi bagi pembangunan daerah dan budaya bangsa. Sebuah film yang tidak saja menghibur tapi juga mendidik. Terutama film yang tidak melupakan setting budaya lokal."
Sebab, kata Hermansyah, potensi budaya Lampung sangat kaya dan beragam untuk diangkat dalam masyarakat. "Maka, kami mengharapkan para peserta bisa menerapkan ilmu yang didapatkan di komunitas masing-masing. Apalagi saat ini komunitas-komunitas film yang ada di Lampung baik di sekolah, kampus, dan masyarakat umumnya mulai tumbuh berkembang," ujarnya.
Adapun materi yang diberikan adalah tentang penyutradaraan, kamera, editing, skenario film, proses kreatif pembuatan film, dan film serta perkembangannya. Pematerinya, Dede S. Wijaya, Hermansyah G.A., Irwan Wahyudi, D. Pramudya Muhtar, Ibrahim Wardin, dan Isbedy Stiawan Z.S. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Jumat, 14 September 2007
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Hermansyah MURP mengemukakan hal tersebut dalam pembukaan Worskhop Film Pelajar 2007 yang digelar di Hotel Kemala Bandar Lampung, baru-baru ini. Media pengembangan budaya bangsa tersebut merupakan fungsi strategis film guna meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.
"Untuk itu Dinas Pendidikan melalui Sub-Dinas Kebudayaan menggelar kegiatan ini agar para pelajar sebagai generasi muda dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan kebudayaan bangsa melalui media film," kata Hermansyah.
Ia mengharapkan melalui kegiatan ini para peserta dapat menyerap pengetahuan teknis mengenai produksi film. Sehingga, nantinya bisa membangun wawasan budaya bangsa secara positif dan optiomal.
Sekaligus bisa membuat film bernuansa pendidikan. "Ini bisa dijadikan sebagai kontribusi bagi pembangunan daerah dan budaya bangsa. Sebuah film yang tidak saja menghibur tapi juga mendidik. Terutama film yang tidak melupakan setting budaya lokal."
Sebab, kata Hermansyah, potensi budaya Lampung sangat kaya dan beragam untuk diangkat dalam masyarakat. "Maka, kami mengharapkan para peserta bisa menerapkan ilmu yang didapatkan di komunitas masing-masing. Apalagi saat ini komunitas-komunitas film yang ada di Lampung baik di sekolah, kampus, dan masyarakat umumnya mulai tumbuh berkembang," ujarnya.
Adapun materi yang diberikan adalah tentang penyutradaraan, kamera, editing, skenario film, proses kreatif pembuatan film, dan film serta perkembangannya. Pematerinya, Dede S. Wijaya, Hermansyah G.A., Irwan Wahyudi, D. Pramudya Muhtar, Ibrahim Wardin, dan Isbedy Stiawan Z.S. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Jumat, 14 September 2007
September 13, 2007
Obituarium: Djafar Amid Berpulang
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Bupati Lampung Selatan, Djafar Amid, meninggal dunia di kediamannya di Bandar Lampung, Rabu (12-9), dalam usia 82 tahun dan dimakamkan di permakaman keluarga Way Hui, Bandar Lampung.
"Ini sesuai permintaan ayah," kata Iwan Nurdaya Djafar, salah seorang anak Djafar. Menurut Iwan, ayahnya telah mengalami komplikasi penyakit, termasuk osteoporosis sejak sekitar 7 bulan lalu. Bahkan, bagian lutut mantan anggota DPRD Lampung tiga periode ini sempat dioperasi.
Djafar yang sempat menjadi Ketua MKGR, Ketua IPHI, dan MDI Lampung meninggalkan 1 istri (Siti Kalang), 8 anak, dan 18 cucu. Sejumlah pejabat hadir dan karangan bunga dari berbagai kalangan, termasuk Bupati Lamsel Zukifli Anwar, Bupati Lamtim Satono, dan mantan Gubernur Lampung Oemarsono dikirim ke rumah duka.
Djafar yang gemar membaca dikenal sebagai sosok mengayomi, sabar, disiplin, jujur, dan sederhana. Dalam biografinya berjudul Ayah, sejumlah kalangan antara lain Siti Nurbaya (Sekjen DPD), Hairi Fasyah (Bupati Lampura), Eddy Sutrisno (Wali Kota Bandar Lampung) memanggilnya dengan sebutan ayah.
Selain berhasil dalam perjalanan karier, Djafar juga berhasil mengantar anak-anaknya menuju keberhasilan. Irfan Nuranda (putra ke-4) sempat menjadi Bupati Lamtim, Iwan Nurdaya (Kadis BKKCS Lamtim), dan Ida Budiarti (dosen FE Unila). Demikian juga yang lain menduduki posisi cukup bagus di jenjang karier mereka.
Sebelum menjadi bupati, menekuni dunia politik, dan dai, Djafar merupakan anggota TNI. Ia dikaryakan menjadi Bupati Lamsel atas perintah Pangdam Sriwijaya Himawan Soetanto.
Sosok Djafar memberi kesan mendalam pada banyak orang. "Salah satu kepribadian beliau yang dapat diteladani adalah kesederhanaan hidupnya meski pernah menjabat bupati dan jabatan lain," kata mantan Rektor Unila Alhusniduki Hamim.
Bagi Syaputro, mantan kepala dinas di Bandar Lampung dan Lamsel, Djafar adalah sosok pemimpin berjiwa keras karena kebenaran yang diyakininya, bekerja sungguh-sungguh, detail, jujur, dan tak pernah takut pada apa pun. HES/K-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 13 September 2007
"Ini sesuai permintaan ayah," kata Iwan Nurdaya Djafar, salah seorang anak Djafar. Menurut Iwan, ayahnya telah mengalami komplikasi penyakit, termasuk osteoporosis sejak sekitar 7 bulan lalu. Bahkan, bagian lutut mantan anggota DPRD Lampung tiga periode ini sempat dioperasi.
Djafar yang sempat menjadi Ketua MKGR, Ketua IPHI, dan MDI Lampung meninggalkan 1 istri (Siti Kalang), 8 anak, dan 18 cucu. Sejumlah pejabat hadir dan karangan bunga dari berbagai kalangan, termasuk Bupati Lamsel Zukifli Anwar, Bupati Lamtim Satono, dan mantan Gubernur Lampung Oemarsono dikirim ke rumah duka.
Djafar yang gemar membaca dikenal sebagai sosok mengayomi, sabar, disiplin, jujur, dan sederhana. Dalam biografinya berjudul Ayah, sejumlah kalangan antara lain Siti Nurbaya (Sekjen DPD), Hairi Fasyah (Bupati Lampura), Eddy Sutrisno (Wali Kota Bandar Lampung) memanggilnya dengan sebutan ayah.
Selain berhasil dalam perjalanan karier, Djafar juga berhasil mengantar anak-anaknya menuju keberhasilan. Irfan Nuranda (putra ke-4) sempat menjadi Bupati Lamtim, Iwan Nurdaya (Kadis BKKCS Lamtim), dan Ida Budiarti (dosen FE Unila). Demikian juga yang lain menduduki posisi cukup bagus di jenjang karier mereka.
Sebelum menjadi bupati, menekuni dunia politik, dan dai, Djafar merupakan anggota TNI. Ia dikaryakan menjadi Bupati Lamsel atas perintah Pangdam Sriwijaya Himawan Soetanto.
Sosok Djafar memberi kesan mendalam pada banyak orang. "Salah satu kepribadian beliau yang dapat diteladani adalah kesederhanaan hidupnya meski pernah menjabat bupati dan jabatan lain," kata mantan Rektor Unila Alhusniduki Hamim.
Bagi Syaputro, mantan kepala dinas di Bandar Lampung dan Lamsel, Djafar adalah sosok pemimpin berjiwa keras karena kebenaran yang diyakininya, bekerja sungguh-sungguh, detail, jujur, dan tak pernah takut pada apa pun. HES/K-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 13 September 2007
September 10, 2007
Sastra: Puisi Syaiful Penuh Petualangan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Membaca buku terbaru penyair Lampung Syaiful Irba Tanpaka bertajuk Karena Bola Matamu (Bukupop, Jakarta, Mei 2007) ibarat membaca puisi nakal seorang remaja yang berpetualang fantasi. Namun, kata-katanya tetap terjalin indah.
Demikian penilaian penyair Y. Wibowo yang hadir sebagai pembedah dalam roadshow Sastra yang digelar di SMA Taman Siswa Telukbetung, Bandar Lampung, Sabtu (8-9).
Dia mengatakan kelebihan buku ini adalah sebagian besarnya berisikan keselarasan antara gejolak jiwa serta keliaran kata-kata.
"Namun meski dibuat begitu liar, kata-kata yang ditampilkan tetap tertata. Contohnya dalam karya berjudul 'Mengagumi Dirimu', semuanya terjalin dengan indah dan tertata meski berisikan gejolak."
Menurut Wibowo, menelaah buku ini mengibaratkan sebuah layang-layang. Wibowo juga menjelaskan buku kumpulan puisi ini merupakan sebatas catatan perjalanan seorang lelaki yang meletakkan letihnya dalam sepi.
Sedangkan penyair Isbedy Stiawan ZS mengatakan karya Syaiful umumnya tidak pernah jauh dari persoalan di sekitarnya. "Tapi di buku ini sepertinya ingin menggarap tema tunggal, yakni cinta. Akan tetapi, soal cinta memang menjadi jamak pemaknaannya. Sebab, bisa berisikan antar sesama, terutama lawan jenis sampai kepada Tanah Air dan Tuhan."
Namun di buku ini, kata Isbedy, cinta yang dihadirkan dalam puisi Syaiful justru didominasi cinta lain, yakni jenis cinta remaja. "Sedikit untuk istrinya dan untuk anak-anaknya, baik ditujukan bagi putra kembarnya ataupun putrinya," ujar dia lagi.
Dia juga mengatakan membaca puisi-puisi dalam Karena Bola Matamu seperti membaca halaman-halaman diari.
Sementara Ketua Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga Yunanda Saputra mengatakan roadshow juga menghadirkan para pelajar yang akan membacakan puisi terbaru Syaiful tersebut. "Seperti tujuan awalnya bahwa kegiatan ini diharapkan bisa memberikan ruang apresiasi yang lebih terhadap dunia sastra terutama puisi bagi para pelajar." n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 September 2007
Demikian penilaian penyair Y. Wibowo yang hadir sebagai pembedah dalam roadshow Sastra yang digelar di SMA Taman Siswa Telukbetung, Bandar Lampung, Sabtu (8-9).
Dia mengatakan kelebihan buku ini adalah sebagian besarnya berisikan keselarasan antara gejolak jiwa serta keliaran kata-kata.
"Namun meski dibuat begitu liar, kata-kata yang ditampilkan tetap tertata. Contohnya dalam karya berjudul 'Mengagumi Dirimu', semuanya terjalin dengan indah dan tertata meski berisikan gejolak."
Menurut Wibowo, menelaah buku ini mengibaratkan sebuah layang-layang. Wibowo juga menjelaskan buku kumpulan puisi ini merupakan sebatas catatan perjalanan seorang lelaki yang meletakkan letihnya dalam sepi.
Sedangkan penyair Isbedy Stiawan ZS mengatakan karya Syaiful umumnya tidak pernah jauh dari persoalan di sekitarnya. "Tapi di buku ini sepertinya ingin menggarap tema tunggal, yakni cinta. Akan tetapi, soal cinta memang menjadi jamak pemaknaannya. Sebab, bisa berisikan antar sesama, terutama lawan jenis sampai kepada Tanah Air dan Tuhan."
Namun di buku ini, kata Isbedy, cinta yang dihadirkan dalam puisi Syaiful justru didominasi cinta lain, yakni jenis cinta remaja. "Sedikit untuk istrinya dan untuk anak-anaknya, baik ditujukan bagi putra kembarnya ataupun putrinya," ujar dia lagi.
Dia juga mengatakan membaca puisi-puisi dalam Karena Bola Matamu seperti membaca halaman-halaman diari.
Sementara Ketua Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga Yunanda Saputra mengatakan roadshow juga menghadirkan para pelajar yang akan membacakan puisi terbaru Syaiful tersebut. "Seperti tujuan awalnya bahwa kegiatan ini diharapkan bisa memberikan ruang apresiasi yang lebih terhadap dunia sastra terutama puisi bagi para pelajar." n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 September 2007
September 9, 2007
Sastra: Dicari: Novelis Lampung!
-- Maman S. Mahayana*
SELEPAS saya membolak-balik catatan perjalanan novel Indonesia, sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah. Di sana, tidak ada novel karya sastrawan Lampung! Padahal, Lampung punya sejarah panjang tradisi bersastra. Datang saja misalnya ke Kabupaten Way Kanan. Maka, di daerah itu kita akan menjumpai begitu banyak sastra lisan yang menarik. Bahkan, nyeleneh dibandingkan sastra lisan di daerah lain di Nusantara. Lampung pun punya sejarah aksara sendiri, sejajar dengan aksara Bali, Jawa, Sunda, Melayu dan sejumlah aksara daerah lain di Nusantara. Jadi, secara kultural, wilayah ini punya kekayaan tradisi yang membanggakan. Lalu, mengapa tak ada novelis dari kawasan ini yang mencatatkan diri dalam peta sastra Indonesia? Bukankah selama ini Lampung juga telah dikenal sebagai salah satu poros penting kesusastraan Indonesia?
Sebelum Indonesia merdeka, Balai Pustaka didominasi sastrawan Sumatera dengan Minangkabau yang paling banyak melahirkan sastrawan. Tetapi, ketika itu pun tak ada novelis Lampung di sana. Medan yang lebih jauh dari pusat pemerintahan, malah ikut bermain. Dua di antaranya, Muhammad Kassim dan Suman Hs., meski Suman kemudian hijrah dan menjadi warga Melayu di Riau. Keduanya bahkan dipandang sebagai perintis novel-novel komedi.
Pada dasawarsa 1930-an Medan begitu banyak melahirkan novelis. Terbitnya majalah Pedoman Masyarakat pertengahan tahun 1935-an yang dikelola Hamka dan Helmy Yunan Nasution, ikut menyuburkan penulisan novel. Di majalah itu juga kita dapat menjumpai iklan-iklan novel terbitan sejumlah penerbit Medan. Termasuk juga iklan sayembara penulisan novel (roman). Para novelis Medan ketika itu, cukup populer terutama dalam penulisan novel detektif dan kisah-kisah petualangan (adventure). Beberapa di antaranya, Merayu Sukma, Yusuf Sou'yb, S.M. Taufik, Zalecha, dan Ghazali Hasan. Jalur penerbitan dan distribusi buku Medan, Tebingtinggi, Bukingtinggi, dan Padang memungkinkan perkembangan sastra masa itu bergerak semarak.
Selepas merdeka, Balai Pustaka dikelola dengan kebijaksanaan membiarkan semangat dan ciri keindonesiaan. Pemerintah tak lagi ikut campur dalam soal yang menyangkut tema cerita. Keinginan untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang khas Balai Pustaka, juga diperlakukan lebih longgar. Ada kesadaran dari redakturnya untuk mempertahankan unsur bahasa dan kebudayaan daerah yang masuk dalam naskah yang dikirim ke Balai Pustaka. Maka, unsur-unsur bahasa daerah (Sunda dan Jawa) dalam novel Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja dan Keluarga Gerilya (1949) karya Pramoedya Ananta Toer dibiarkan bertebaran dalam kedua novel itu.
Akibat kebijaksanaan Balai Pustaka itu, dominasi sastrawan Sumatera mulai pudar. Sastrawan dengan latar budaya Jawa dan Sunda, bermunculan. Meskipun demikian, Minangkabau (sekadar menyebut dua nama: A.A. Navis, Motinggo Boesje) dan Medan (Barus Siregar dan Bokor Hutasuhut) ditambahkan dengan mereka yang kemunculannya setelah hijrah ke Jawa (Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Nasjah Djamin). Palembang, selepas tahun 1950-an, memunculkan nama Bur Rasuanto dan K. Usman.
Sampai kini, poros-poros novel Indonesia di Sumatera itu masih memperlihatkan kontribusinya. Bahkan lebih semarak dibandingkan tahun 1950-an. Sumatera Barat, misalnya, masih merupakan penyumbang terbesar novelis Indonesia. Sekadar menyebut beberapa, Wisran Hadi, Darman Munir, Gus tf Sakai. Riau, selepas Ediruslan P.E. Amanriza, masih ada Sudarno Mahyudin, lalu muncul pula Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, Mohammad Nasir, Olyrinson, Hary B. Kori'un. Bahkan Juli lalu, Rida K Liamsi meluncurkan novel Bulang Cahaya (JP Book Surabaya dan Yayasan Sagang, 2007, 326 halaman), sebuah kisah percintaan Romeo dan Juliet model Melayu yang dikemas dalam bingkai besar terbelahnya keagungan kerajaan Melayu. Belum lagi menyangkut kawasan Kepulauan Riau, Bintan dan Batam, di antaranya, Samson Rambah Pasir dan Tusiran Suseno. Malahan, Tusiran Soseno tercatat sebagai pemenang kedua Lomba Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, 2006.
Sementara itu, Aceh selepas bencana mahadahsyat--tsunami--seperti menggeliat dan tiba-tiba membangunkan kehidupan kesusastraan di sana menjadi lebih semarak. Sulaiman Tripa, misalnya, kini telah menghasilkan tiga novel, Safiah, Perempuan Perlasia (2003), Malam Memeluk Intan (2007) yang bercerita tentang tragedi tsunami, dan Kala Senja di Gampong Tua sedang dalam persiapan terbit. Para penyair dan cerpenis di sana makin bergiat menerbitkan karya-karya mereka. Ke depan, sangat boleh jadi Aceh akan memberi kontribusi penting bagi perjalanan kesusastraan Indonesia.
Palembang yang dalam satu dasawarsa terkesan redup-senyap dalam ingar-bingar kesusastraan Indonesia, belakangan ini memperlihatkan gairah yang menjanjikan. Para penyair dan cerpenis bermunculan dengan kualitas yang boleh disandingkan dengan sastrawan dari daerah lain. Toton Dai Permana lewat novelnya Angin niscaya akan menyemarakkan peta novel Indonesia. Sebelum itu, Taufik Wijaya telah memperlihatkan talentanya lewat Juaro (Pustaka Melayu, 2005, 164 halaman). Kini, novel berikutnya, Buntung dalam persiapan terbit.
Pengalaman sebagai juri dalam sejumlah sayembara penulisan novel, kerap membawa saya pada satu kesimpulan: tak ada naskah novel yang ditulis sastrawan Lampung. Ke manakah mereka? Apakah penyelenggaraan Krakatau Award sejak 2002 yang berkutat pada puisi dan cerpen itu berdampak juga pada proses kreatif yang lain hingga novel tak tersentuh? Atau, Krakatau Award sesungguhnya representasi dan sekaligus legitimasi atas ketakberdayaan menjamah novel?
Dulu saya agak akrab dengan nama-nama Aan Sarmany Adiel, Ahmad Yulden Erwin, Diro Aritonang, Iwan Nurdaya Djafar, Naim Prahana, Hasanuddin Z. Arifin. Mereka pernah cukup memukau. Saya, bahkan sempat mengagumi Iwan Nurdaya Djafar atas karya-karya terjemahannya yang cantik. Kini, mereka mungkin sedang asyik-masyuk dalam kubangan kemapanan.
Saya mencari Syaiful Irba-Tanpaka yang juga seperti tenggelam di antara nama-nama Ari Pahala, Dahta Gautama, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Lupita Lukman, Oyos Saroso, Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan, dan sederet panjang nama yang di luar jangkauan. Apakah di antara deretan nama itu tak ada satu pun yang punya napas berlebih untuk menulis narasi panjang?
Isbedy yang cerpennya bertebaran sesungguhnya sangat potensial menunjukkan kualitasnya sebagai novelis andal. Coba cermati sejumlah cerpennya. Di sana tersimpan potensi untuk menjadi narasi panjang. Saya kira, Isbedy patut lebih sabar untuk tidak tergesa-gesa menyelesaikan prosanya agar tak sekali jadi.
Iswadi Pratama juga sesungguhnya punya kemampuan yang sama. Penggarapan sejumlah naskah dramanya adalah miniatur novel. Bukankah tindak perbuatan melakukan transformasi naskah drama ke novel pernah dilakukan Putu Wijaya dalam "Bila Malam Bertambah Malam" dan Nano Riantiarno dalam "Primadona"? Kenapa Iswadi tak mau menunjukkan kualitasnya sebagai penulis novel yang andal, meski sesungguhnya ia mempunyai kualitas itu?
Boleh jadi nama-nama yang disebutkan tadi sesungguhnya novelis yang menjanjikan. Boleh jadi pula mereka belum menyadari kualitasnya sendiri, sehingga sudah cukup puas dengan puisi dan cerpen. Meski begitu, tentu saja mereka bebas memilih. Bukankah tak menulis apa-apa pun dan hidup sambil menikmati kemapanan tak berdosa lantaran tak dilarang Tuhan. Bahkan, jika tak ada satu pun novelis Lampung sampai entah kapan, Indonesia tak bakal runtuh dan kehidupan akan tetap berjalan sebagaimana biasa. Kebudayaan dan kesusastraan di Lampung juga tetap akan menggelinding. Hidup tanpa novel, seperti di Papua atau di daerah-daerah terpencil, bukankah tetap berjalan dan tak menimbulkan pemberontakan? Cuma, jika terbit sebuah novel karya sastrawan Lampung, sangat mungkin namanya akan tercatat sebagai perintis, sebagai sang pemula; novelis Lampung pertama!
Sebaliknya, jika novel dipercaya sebagai representasi intelektualitas, sebagai yang melengkapi lanskap peta kesusastraan, sebagai sumbangsih kultural yang membawa nama wilayah masyarakatnya, maka patutlah dipikirkan untuk segera melahirkan novelis(-novelis) andal. Dalam hal ini, pemerintah daerah (pemda) sesungguhnya bertanggung jawab secara kultural, intelektual, bahkan juga moral. Jadi, Pemda mestinya memfasilitasi sastrawan di wilayahnya untuk menulis novel sebagai usaha mengangkat citra, bahwa Pemda Lampung peduli pada kehidupan kebudayaan intelektual. Peradaban dan reputasi bangsa di dunia yang punya sejarah panjang kesusastraan, selalu dibesarkan para novelisnya.
Dalam banyak kasus, hanya wilayah terbelakang yang tak pernah melahirkan novelis? Pemda dan Dewan Kesenian Lampung niscaya sangat menyadari keprihatinan ini. Bangsa besar adalah bangsa yang selalu punya novelis. Novelis lahir dari bangsa yang merasa punya marwah dan martabat sebagai bangsa besar. Apakah Lampung termasuk kategori bangsa besar? Kita lihat saja nanti, bagaimana pemdanya punya perhatian atau tidak atas masalah ini. Di balik kecemasan ini, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah!
n Maman S Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
SELEPAS saya membolak-balik catatan perjalanan novel Indonesia, sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah. Di sana, tidak ada novel karya sastrawan Lampung! Padahal, Lampung punya sejarah panjang tradisi bersastra. Datang saja misalnya ke Kabupaten Way Kanan. Maka, di daerah itu kita akan menjumpai begitu banyak sastra lisan yang menarik. Bahkan, nyeleneh dibandingkan sastra lisan di daerah lain di Nusantara. Lampung pun punya sejarah aksara sendiri, sejajar dengan aksara Bali, Jawa, Sunda, Melayu dan sejumlah aksara daerah lain di Nusantara. Jadi, secara kultural, wilayah ini punya kekayaan tradisi yang membanggakan. Lalu, mengapa tak ada novelis dari kawasan ini yang mencatatkan diri dalam peta sastra Indonesia? Bukankah selama ini Lampung juga telah dikenal sebagai salah satu poros penting kesusastraan Indonesia?
Sebelum Indonesia merdeka, Balai Pustaka didominasi sastrawan Sumatera dengan Minangkabau yang paling banyak melahirkan sastrawan. Tetapi, ketika itu pun tak ada novelis Lampung di sana. Medan yang lebih jauh dari pusat pemerintahan, malah ikut bermain. Dua di antaranya, Muhammad Kassim dan Suman Hs., meski Suman kemudian hijrah dan menjadi warga Melayu di Riau. Keduanya bahkan dipandang sebagai perintis novel-novel komedi.
Pada dasawarsa 1930-an Medan begitu banyak melahirkan novelis. Terbitnya majalah Pedoman Masyarakat pertengahan tahun 1935-an yang dikelola Hamka dan Helmy Yunan Nasution, ikut menyuburkan penulisan novel. Di majalah itu juga kita dapat menjumpai iklan-iklan novel terbitan sejumlah penerbit Medan. Termasuk juga iklan sayembara penulisan novel (roman). Para novelis Medan ketika itu, cukup populer terutama dalam penulisan novel detektif dan kisah-kisah petualangan (adventure). Beberapa di antaranya, Merayu Sukma, Yusuf Sou'yb, S.M. Taufik, Zalecha, dan Ghazali Hasan. Jalur penerbitan dan distribusi buku Medan, Tebingtinggi, Bukingtinggi, dan Padang memungkinkan perkembangan sastra masa itu bergerak semarak.
Selepas merdeka, Balai Pustaka dikelola dengan kebijaksanaan membiarkan semangat dan ciri keindonesiaan. Pemerintah tak lagi ikut campur dalam soal yang menyangkut tema cerita. Keinginan untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang khas Balai Pustaka, juga diperlakukan lebih longgar. Ada kesadaran dari redakturnya untuk mempertahankan unsur bahasa dan kebudayaan daerah yang masuk dalam naskah yang dikirim ke Balai Pustaka. Maka, unsur-unsur bahasa daerah (Sunda dan Jawa) dalam novel Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja dan Keluarga Gerilya (1949) karya Pramoedya Ananta Toer dibiarkan bertebaran dalam kedua novel itu.
Akibat kebijaksanaan Balai Pustaka itu, dominasi sastrawan Sumatera mulai pudar. Sastrawan dengan latar budaya Jawa dan Sunda, bermunculan. Meskipun demikian, Minangkabau (sekadar menyebut dua nama: A.A. Navis, Motinggo Boesje) dan Medan (Barus Siregar dan Bokor Hutasuhut) ditambahkan dengan mereka yang kemunculannya setelah hijrah ke Jawa (Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Nasjah Djamin). Palembang, selepas tahun 1950-an, memunculkan nama Bur Rasuanto dan K. Usman.
Sampai kini, poros-poros novel Indonesia di Sumatera itu masih memperlihatkan kontribusinya. Bahkan lebih semarak dibandingkan tahun 1950-an. Sumatera Barat, misalnya, masih merupakan penyumbang terbesar novelis Indonesia. Sekadar menyebut beberapa, Wisran Hadi, Darman Munir, Gus tf Sakai. Riau, selepas Ediruslan P.E. Amanriza, masih ada Sudarno Mahyudin, lalu muncul pula Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, Mohammad Nasir, Olyrinson, Hary B. Kori'un. Bahkan Juli lalu, Rida K Liamsi meluncurkan novel Bulang Cahaya (JP Book Surabaya dan Yayasan Sagang, 2007, 326 halaman), sebuah kisah percintaan Romeo dan Juliet model Melayu yang dikemas dalam bingkai besar terbelahnya keagungan kerajaan Melayu. Belum lagi menyangkut kawasan Kepulauan Riau, Bintan dan Batam, di antaranya, Samson Rambah Pasir dan Tusiran Suseno. Malahan, Tusiran Soseno tercatat sebagai pemenang kedua Lomba Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, 2006.
Sementara itu, Aceh selepas bencana mahadahsyat--tsunami--seperti menggeliat dan tiba-tiba membangunkan kehidupan kesusastraan di sana menjadi lebih semarak. Sulaiman Tripa, misalnya, kini telah menghasilkan tiga novel, Safiah, Perempuan Perlasia (2003), Malam Memeluk Intan (2007) yang bercerita tentang tragedi tsunami, dan Kala Senja di Gampong Tua sedang dalam persiapan terbit. Para penyair dan cerpenis di sana makin bergiat menerbitkan karya-karya mereka. Ke depan, sangat boleh jadi Aceh akan memberi kontribusi penting bagi perjalanan kesusastraan Indonesia.
Palembang yang dalam satu dasawarsa terkesan redup-senyap dalam ingar-bingar kesusastraan Indonesia, belakangan ini memperlihatkan gairah yang menjanjikan. Para penyair dan cerpenis bermunculan dengan kualitas yang boleh disandingkan dengan sastrawan dari daerah lain. Toton Dai Permana lewat novelnya Angin niscaya akan menyemarakkan peta novel Indonesia. Sebelum itu, Taufik Wijaya telah memperlihatkan talentanya lewat Juaro (Pustaka Melayu, 2005, 164 halaman). Kini, novel berikutnya, Buntung dalam persiapan terbit.
***
Pengalaman sebagai juri dalam sejumlah sayembara penulisan novel, kerap membawa saya pada satu kesimpulan: tak ada naskah novel yang ditulis sastrawan Lampung. Ke manakah mereka? Apakah penyelenggaraan Krakatau Award sejak 2002 yang berkutat pada puisi dan cerpen itu berdampak juga pada proses kreatif yang lain hingga novel tak tersentuh? Atau, Krakatau Award sesungguhnya representasi dan sekaligus legitimasi atas ketakberdayaan menjamah novel?
Dulu saya agak akrab dengan nama-nama Aan Sarmany Adiel, Ahmad Yulden Erwin, Diro Aritonang, Iwan Nurdaya Djafar, Naim Prahana, Hasanuddin Z. Arifin. Mereka pernah cukup memukau. Saya, bahkan sempat mengagumi Iwan Nurdaya Djafar atas karya-karya terjemahannya yang cantik. Kini, mereka mungkin sedang asyik-masyuk dalam kubangan kemapanan.
Saya mencari Syaiful Irba-Tanpaka yang juga seperti tenggelam di antara nama-nama Ari Pahala, Dahta Gautama, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, Lupita Lukman, Oyos Saroso, Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan, dan sederet panjang nama yang di luar jangkauan. Apakah di antara deretan nama itu tak ada satu pun yang punya napas berlebih untuk menulis narasi panjang?
Isbedy yang cerpennya bertebaran sesungguhnya sangat potensial menunjukkan kualitasnya sebagai novelis andal. Coba cermati sejumlah cerpennya. Di sana tersimpan potensi untuk menjadi narasi panjang. Saya kira, Isbedy patut lebih sabar untuk tidak tergesa-gesa menyelesaikan prosanya agar tak sekali jadi.
Iswadi Pratama juga sesungguhnya punya kemampuan yang sama. Penggarapan sejumlah naskah dramanya adalah miniatur novel. Bukankah tindak perbuatan melakukan transformasi naskah drama ke novel pernah dilakukan Putu Wijaya dalam "Bila Malam Bertambah Malam" dan Nano Riantiarno dalam "Primadona"? Kenapa Iswadi tak mau menunjukkan kualitasnya sebagai penulis novel yang andal, meski sesungguhnya ia mempunyai kualitas itu?
Boleh jadi nama-nama yang disebutkan tadi sesungguhnya novelis yang menjanjikan. Boleh jadi pula mereka belum menyadari kualitasnya sendiri, sehingga sudah cukup puas dengan puisi dan cerpen. Meski begitu, tentu saja mereka bebas memilih. Bukankah tak menulis apa-apa pun dan hidup sambil menikmati kemapanan tak berdosa lantaran tak dilarang Tuhan. Bahkan, jika tak ada satu pun novelis Lampung sampai entah kapan, Indonesia tak bakal runtuh dan kehidupan akan tetap berjalan sebagaimana biasa. Kebudayaan dan kesusastraan di Lampung juga tetap akan menggelinding. Hidup tanpa novel, seperti di Papua atau di daerah-daerah terpencil, bukankah tetap berjalan dan tak menimbulkan pemberontakan? Cuma, jika terbit sebuah novel karya sastrawan Lampung, sangat mungkin namanya akan tercatat sebagai perintis, sebagai sang pemula; novelis Lampung pertama!
Sebaliknya, jika novel dipercaya sebagai representasi intelektualitas, sebagai yang melengkapi lanskap peta kesusastraan, sebagai sumbangsih kultural yang membawa nama wilayah masyarakatnya, maka patutlah dipikirkan untuk segera melahirkan novelis(-novelis) andal. Dalam hal ini, pemerintah daerah (pemda) sesungguhnya bertanggung jawab secara kultural, intelektual, bahkan juga moral. Jadi, Pemda mestinya memfasilitasi sastrawan di wilayahnya untuk menulis novel sebagai usaha mengangkat citra, bahwa Pemda Lampung peduli pada kehidupan kebudayaan intelektual. Peradaban dan reputasi bangsa di dunia yang punya sejarah panjang kesusastraan, selalu dibesarkan para novelisnya.
Dalam banyak kasus, hanya wilayah terbelakang yang tak pernah melahirkan novelis? Pemda dan Dewan Kesenian Lampung niscaya sangat menyadari keprihatinan ini. Bangsa besar adalah bangsa yang selalu punya novelis. Novelis lahir dari bangsa yang merasa punya marwah dan martabat sebagai bangsa besar. Apakah Lampung termasuk kategori bangsa besar? Kita lihat saja nanti, bagaimana pemdanya punya perhatian atau tidak atas masalah ini. Di balik kecemasan ini, saya berdoa: semoga pengamatan saya salah!
n Maman S Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)