BANDAR LAMPUNG (Lampost): Peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-44 Provinsi Lampung hari ini (18-3) digelar di berbagai tempat. Tujuannya untuk menanamkan rasa bangga pada daerahnya.
Selain rapat paripurna di DPRD, malam ini Pemprov juga menggelar resepsi yang dipusatkan di Lapangan Samber Kota Metro. Selain itu, upacara bendera dan tabur bunga di Makam Pahlawan Tanjungkarang serta makam tokoh pendiri Lampung Zainal Abidin Pagaralam.
Berbagai kabupaten kota di Lampung juga menggelar rapat paripurna dan upacara bendara. Bukan itu saja, peringatan di kabupaten/kota se-Lampung juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan hiburan.
Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. menyatakan resepsi peringatan HUT Lampung kali ini dipusatkan di Kota Metro agar masyarakat di daerah merasakan peringatan dan bangga sebagai orang Lampung. "Dengan demikian, tercipta rasa memiliki daerah. Semua harus menghargai dan bangga dengan daerahnya," kata Sjachroedin di Pemprov, kemarin.
Menurut Gubernur, rasa bangga harus terus dipupuk agar masyarakat mau berpartisipasi dalam setiap kebijakan pemerintahan daerah. "Kini, kemajuan sudah mulai terlihat baik di bidang infrastruktur, pelayanan maupun kemajuan bidang lain," ujar Gubernur.
Pro-Kontra
Sementara itu, peringatan HUT Lampung pada 18 Maret masih mengundang pro-kontra. Pasalnya, tidak ada patokan maupun aturan yang melegalkan hari jadi provinsi.
Selama ini, ada dua pendapat. Pertama, pihak yang menyatakan HUT dihitung dari keluarnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 3/1964 pada 13 Maret 1964. Kedua, saat pelantikan Pj. Gubernur Kusno Dhanupojo pada 18 Maret 1964. Selama ini, Pemprov mengakui HUT Lampung jatuh pada 18 Maret.
Pelaksana Harian (Plh.) Ketua Dewan Pimpinan Pusat Paguyuban Pagar Lampung (DPP-PPL) Oking G.M.A. Kartadilaga mengimbau Pemprov melaksanakan perayaan HUT Lampung mengacu surat Mendagri yang menyatakan 13 Maret. "Jika tidak ada acuan, peringatan HUT Lampung 18 Maret sangat tidak berdasar. Atau segera membuat perda tentang penetapan HUT Lampung dan segera disosialisasikan kepada seluruh elemen masyarakat," ujarnya didampingi Sekretaris Umum DPP PPL Alfian Ayubkhan di Bandar Lampung, kemarin. n AAN/U-1
Sumber: Lampung Post, Selasa, 18 Maret 2008
March 18, 2008
March 17, 2008
Budaya: Hanya 13 dari 726 Bahasa yang Lestari
Bandar Lampung, Kompas - Dilihat dari jumlah penutur bahasa daerah yang melebihi satu juta jiwa, hanya 13 dari 726 bahasa daerah di Indonesia yang lestari. Salah satunya adalah bahasa Lampung.
Hal itu diutarakan Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Danardana, Senin (3/3), dalam diskusi bahasa bertajuk ”Melestarikan Bahasa Lampung Menguatkan Posisi Masyarakat”. Diskusi yang disertai dengan Peluncuran Buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Bandar Lampung.
Jumlah penutur bahasa Lampung tercatat sebanyak 1,5 juta penutur atau 20 persen dari 7,4 juta jiwa penduduk Lampung. Namun, dalam kondisi dominasi suku Jawa di Lampung, penutur asli bahasa Lampung justru tenggelam. Jika tidak dipelihara, bahasa Lampung diperkirakan punah 70 tahun lagi.
Sutan Purnama, penyair sastra lisan Lampung mengatakan, faktor yang menyulitkan penggunaan bahasa Lampung adalah pengotak-kotakan bahasa. Berbeda dengan bahasa Jawa yang memiliki standar, bahasa Lampung belum memiliki standar.
Bahasa Lampung pesisir dan bahasa Lampung pedalaman memiliki kosakata dan cara pengucapan berbeda. Akibatnya, masyarakat Lampung asli sering kebingungan menggunakannya.
Percakapan di tempat umum ataupun rumah warga Lampung didominasi bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Masyarakat asli Lampung dinilai tidak bersemangat berbicara bahasa Lampung.
Syaiful Irba Tanpaka, penyair Lampung, berpendapat, hal itu menunjukkan masyarakat Lampung tidak memiliki manajemen untuk melestarikan budaya.
Untuk itu, Pemprov Lampung harus membuat kebijakan yang mengatur pemakaian bahasa Lampung, bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Sistem pengajaran bahasa Lampung di sekolah-sekolah juga harus dibenahi. Siswa tidak hanya belajar menulis aksara Lampung, tetapi juga belajar budaya dan bahasa Lampung. (HLN)
Sumber: Kompas, Selasa, 4 Maret 2008
Lihat juga: Kebijakan Keliru akan Musnahkan Bahasa Lampung
Hal itu diutarakan Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Danardana, Senin (3/3), dalam diskusi bahasa bertajuk ”Melestarikan Bahasa Lampung Menguatkan Posisi Masyarakat”. Diskusi yang disertai dengan Peluncuran Buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Bandar Lampung.
Jumlah penutur bahasa Lampung tercatat sebanyak 1,5 juta penutur atau 20 persen dari 7,4 juta jiwa penduduk Lampung. Namun, dalam kondisi dominasi suku Jawa di Lampung, penutur asli bahasa Lampung justru tenggelam. Jika tidak dipelihara, bahasa Lampung diperkirakan punah 70 tahun lagi.
Sutan Purnama, penyair sastra lisan Lampung mengatakan, faktor yang menyulitkan penggunaan bahasa Lampung adalah pengotak-kotakan bahasa. Berbeda dengan bahasa Jawa yang memiliki standar, bahasa Lampung belum memiliki standar.
Bahasa Lampung pesisir dan bahasa Lampung pedalaman memiliki kosakata dan cara pengucapan berbeda. Akibatnya, masyarakat Lampung asli sering kebingungan menggunakannya.
Percakapan di tempat umum ataupun rumah warga Lampung didominasi bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Masyarakat asli Lampung dinilai tidak bersemangat berbicara bahasa Lampung.
Syaiful Irba Tanpaka, penyair Lampung, berpendapat, hal itu menunjukkan masyarakat Lampung tidak memiliki manajemen untuk melestarikan budaya.
Untuk itu, Pemprov Lampung harus membuat kebijakan yang mengatur pemakaian bahasa Lampung, bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Sistem pengajaran bahasa Lampung di sekolah-sekolah juga harus dibenahi. Siswa tidak hanya belajar menulis aksara Lampung, tetapi juga belajar budaya dan bahasa Lampung. (HLN)
Sumber: Kompas, Selasa, 4 Maret 2008
Lihat juga: Kebijakan Keliru akan Musnahkan Bahasa Lampung
Dunia Anak: Kreativitas Anak Makin Baik
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tim juri Lomba Mewarnai dan Menggambar Dunia Anak Lampung Post sempat bingung memilih karya peserta yang berhak mendapat juara. Juri menilai hampir semua gambar peserta yang berjumlah 851 orang bagus dan kreatif.
"Kami dari tim juri sempat berdebat lama untuk memutuskan gambar peserta yang masuk nominasi," kata Ketua Tim Juri Dedi Kuspendi, kemarin (16-3).
Kreativitas makin baik karena menggunakan kertas A2. "Anak-anak lebih leluasa menuangkan imajinasi dan kreativitas menggambar dan mewarnai karena medianya lebih besar," ujar anggota tim juri Kismanu.
Tim juri akhirnya memilih karya Farrah P.M. sebagai juara pertama menggambar (kategori SD Kelas IV--VI) dalam lomba Mewarnai dan Menggambar Dunia Anak Lampung Post bertemakan HUT ke-44 Provinsi Lampung yang digelar di Mahan Agung, rumah dinas Gubernur Lampung.
Disusul juara kedua karya Alfinka Mutia R. dan Ardi El Sabrina juara ketiga.
Selain trofi Lampung Post, piagam, dan bingkisan sponsor, para pemenang juga mendapat hadiah uang. Mereka juga dapat tambahan hadiah uang dari Gubernur Sjachroedin Z.P. yang diberikan langsung.
Untuk lomba mewarnai tingkat Sekolah Dasar kelas I--III, juara pertama meraih Nabila Ayu Cantika H. Disusul Syifa Putri sebagai juara kedua, dan Tanya Khalis Huriani juara ketiga.
Juara pertama lomba mewarnai tingkat taman kanak-kanak (TK) diraih Amalia Salsabila. Disusul Bagus Desta Ramadhan dan Rivtaqi Fawwazdary.
Karya peserta pada ketiga lomba itu dinilai juri di bawah koordinator Dedi Kuspendi, yang juga manajer desain grafis harian ini. Tiga anggota lain adalah ilustrator Kismanu Rasyad, pelukis Dana E. Rachmat, dan kartunis Ferial.
Kriteria karya yang dinilai di antaranya kreativitas gambar dan pewarnaan.
Peserta mengaku antusias mengikuti lomba di Mahan Agung kemarin. Lia, salah satu peserta lomba menggambar tingkat SD, mengaku baru kali ini datang ke Mahan Agung.
"Rumah dinas gubernur itu luas ya, ada siamang dan kijangnya," ucap siswa kelas IV SD ini. Ia berharap bisa ikut kegiatan lagi di rumah gubernur ini. n AAN/SAG/U-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 17 Maret 2008
"Kami dari tim juri sempat berdebat lama untuk memutuskan gambar peserta yang masuk nominasi," kata Ketua Tim Juri Dedi Kuspendi, kemarin (16-3).
Kreativitas makin baik karena menggunakan kertas A2. "Anak-anak lebih leluasa menuangkan imajinasi dan kreativitas menggambar dan mewarnai karena medianya lebih besar," ujar anggota tim juri Kismanu.
Tim juri akhirnya memilih karya Farrah P.M. sebagai juara pertama menggambar (kategori SD Kelas IV--VI) dalam lomba Mewarnai dan Menggambar Dunia Anak Lampung Post bertemakan HUT ke-44 Provinsi Lampung yang digelar di Mahan Agung, rumah dinas Gubernur Lampung.
Disusul juara kedua karya Alfinka Mutia R. dan Ardi El Sabrina juara ketiga.
Selain trofi Lampung Post, piagam, dan bingkisan sponsor, para pemenang juga mendapat hadiah uang. Mereka juga dapat tambahan hadiah uang dari Gubernur Sjachroedin Z.P. yang diberikan langsung.
Untuk lomba mewarnai tingkat Sekolah Dasar kelas I--III, juara pertama meraih Nabila Ayu Cantika H. Disusul Syifa Putri sebagai juara kedua, dan Tanya Khalis Huriani juara ketiga.
Juara pertama lomba mewarnai tingkat taman kanak-kanak (TK) diraih Amalia Salsabila. Disusul Bagus Desta Ramadhan dan Rivtaqi Fawwazdary.
Karya peserta pada ketiga lomba itu dinilai juri di bawah koordinator Dedi Kuspendi, yang juga manajer desain grafis harian ini. Tiga anggota lain adalah ilustrator Kismanu Rasyad, pelukis Dana E. Rachmat, dan kartunis Ferial.
Kriteria karya yang dinilai di antaranya kreativitas gambar dan pewarnaan.
Peserta mengaku antusias mengikuti lomba di Mahan Agung kemarin. Lia, salah satu peserta lomba menggambar tingkat SD, mengaku baru kali ini datang ke Mahan Agung.
"Rumah dinas gubernur itu luas ya, ada siamang dan kijangnya," ucap siswa kelas IV SD ini. Ia berharap bisa ikut kegiatan lagi di rumah gubernur ini. n AAN/SAG/U-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 17 Maret 2008
March 15, 2008
Surat Pembaca: Bahasa Lampung Bukan Bahasa Hibrid
NIKMAT juga rasanya membaca tulisan puwariku Asarpin "Bahasa dan Puisi Lampung" dalam Lampung Post Minggu 2 Maret 2008. Tetapi ada pendapatnya yang perlu saya tanggapi. Asarpin mengatakan belum ada penelitian yang mendasar dan meyakinkan bahwa Lampung punya aksara murni, lalu dia menduga aksara Lampung hasil improvisasi atau asimilasi dari aksara Batak dan Bugis. Dia juga mengatakan bahasa Lampung merupakan “bahasa hibrid” karena kosakata Lampung banyak berasal dari luar.
Penelitian ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. H.N. van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh penelitian Prof. Dr. C.A. van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche Dwerghertverhalen”, dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), volume 46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. O.L. Helfrich pada tahun 1891 menerbitkan kamus Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst. Lalu jangan dilewatkan tesis Ph.D. Dale Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul A Grammar of the Lampung Language (1973).
Aksara Lampung yang 19 huruf, dari ka-ga-nga sampai ra-sa-wa-ha, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975). Sudah tentu masih banyak lagi penelitian tentang bahasa dan aksara Lampung yang belum saya baca.
Semua ilmuwan di atas menyatakan kekaguman terhadap bahasa Lampung yang mempunyai aksara sendiri, dan tidak satu pun ilmuwan itu yang berpendapat bahwa aksara Lampung merupakan improvisasi atau asimilasi dari aksara-aksara lain. Memang benar bahwa aksara Lampung memiliki banyak kesamaan dengan aksara Batak, Bugis dan Sunda Kuna (yang sekarang mulai disosialisasikan kembali di Jawa Barat). Tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara Dewanagari di India. Persis sama halnya dengan aksara Latin dan aksara Rusia yang sama-sama diturunkan dari aksara Yunani, yang pada mulanya berasal dari aksara Phoenisia. Jadi di dunia ini tidak ada aksara yang murni, sebab pembauran antarbudaya di muka bumi berlangsung sepanjang masa.
Bahwa bahasa Lampung banyak menyerap kosakata dari bahasa-bahasa lain, hal itu merupakan hal yang positif, dan Asarpin tidak usah merasa rendah diri dengan mengatakan bahasa nenek moyangnya merupakan “bahasa cangkokan (hibrid)”. Bahasa Indonesia, bahkan bahasa Inggris pun, banyak sekali menyerap kosakata dari luar. Pada abad sains dan teknologi sekarang, suatu bahasa jika mau berkembang harus mampu menyerap istilah-istilah modern dan kontemporer.
Jika Asarpin menjumpai banyak orang tua yang tidak mengenal aksara Lampung, bukanlah berarti harus meragukan Lampung tidak punya aksara sendiri, melainkan karena yang diwawancarai Asarpin adalah kelompok jelma tuha gonjor!
Irfan Anshory
Jl. Kayu Agung I No. 6
Bandung 40264
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 Maret 2008
Penelitian ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. H.N. van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh penelitian Prof. Dr. C.A. van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche Dwerghertverhalen”, dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), volume 46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. O.L. Helfrich pada tahun 1891 menerbitkan kamus Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst. Lalu jangan dilewatkan tesis Ph.D. Dale Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul A Grammar of the Lampung Language (1973).
Aksara Lampung yang 19 huruf, dari ka-ga-nga sampai ra-sa-wa-ha, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975). Sudah tentu masih banyak lagi penelitian tentang bahasa dan aksara Lampung yang belum saya baca.
Semua ilmuwan di atas menyatakan kekaguman terhadap bahasa Lampung yang mempunyai aksara sendiri, dan tidak satu pun ilmuwan itu yang berpendapat bahwa aksara Lampung merupakan improvisasi atau asimilasi dari aksara-aksara lain. Memang benar bahwa aksara Lampung memiliki banyak kesamaan dengan aksara Batak, Bugis dan Sunda Kuna (yang sekarang mulai disosialisasikan kembali di Jawa Barat). Tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara Dewanagari di India. Persis sama halnya dengan aksara Latin dan aksara Rusia yang sama-sama diturunkan dari aksara Yunani, yang pada mulanya berasal dari aksara Phoenisia. Jadi di dunia ini tidak ada aksara yang murni, sebab pembauran antarbudaya di muka bumi berlangsung sepanjang masa.
Bahwa bahasa Lampung banyak menyerap kosakata dari bahasa-bahasa lain, hal itu merupakan hal yang positif, dan Asarpin tidak usah merasa rendah diri dengan mengatakan bahasa nenek moyangnya merupakan “bahasa cangkokan (hibrid)”. Bahasa Indonesia, bahkan bahasa Inggris pun, banyak sekali menyerap kosakata dari luar. Pada abad sains dan teknologi sekarang, suatu bahasa jika mau berkembang harus mampu menyerap istilah-istilah modern dan kontemporer.
Jika Asarpin menjumpai banyak orang tua yang tidak mengenal aksara Lampung, bukanlah berarti harus meragukan Lampung tidak punya aksara sendiri, melainkan karena yang diwawancarai Asarpin adalah kelompok jelma tuha gonjor!
Irfan Anshory
Jl. Kayu Agung I No. 6
Bandung 40264
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 Maret 2008
March 12, 2008
Seni: Digelar Lomba Kreativitas Anak
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Harian umum Lampung Post kembali menggelar lomba kreativitas anak. Perlombaan meliputi mewarnai untuk kelompok taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) kelas I--III, serta menggambar dan mewarnai untuk kelompok SD kelas IV--VI. Selain itu, terdapat juga lomba tambahan, yaitu menyusun puzzle, mozaik, dan menulis cerita.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, acara yang biasa digelar di Lampung Post kali ini bertempat di Mahan Agung, Gubernuran Lampung, Minggu (16-3), mulai pukul 08.30.
Menurut Ketua Panitia Kholid Lubis, kegiatan digelar dalam rangka menyambut HUT Lampung 18 Maret mendatang dan tahun kunjungan wisata Lampung atau Visit Lampung 2009 sehingga lokasi lomba berada di Mahan Agung.
Adapun tujuan lomba itu untuk menumbuhkan minat, bakat, talenta, dan kreativitas anak sekaligus menunjang peningkatan kualitas anak-anak sejak dini. Kegiatan itu juga berupaya menciptakan wadah pengembangan minat dan bakat dalam mewarnai, melukis, dan menulis.
"Kami juga memberi kesempatan bagi anak-anak yang berani untuk tampil di muka umum dengan kreativitas yang dimiliki. Mereka juga bisa saling mengenal satu sama lain," urai Kholid.
Bertindak sebagai dewan juri adalah perwakilan dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan guru seni lukis. Pemenang bakal mendapat hadiah trofi, uang tunai, meja belajar, serta bingkisan dari sponsor. Perlombaan juga diwarnai hiburan dari artis cilik Lampung, yaitu Mira dari Metro dan Elshinta dari Bandar Lampung. Selain itu, juga dimeriahkan Grup Lyme Lampung. Bagi yang ingin mendaftar silakan datang ke Lampung Post. "Pendaftaran terbatas, kami masih memberi waktu hingga Jumat (14-3)," ujar dia. */S-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 12 Maret 2008
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, acara yang biasa digelar di Lampung Post kali ini bertempat di Mahan Agung, Gubernuran Lampung, Minggu (16-3), mulai pukul 08.30.
Menurut Ketua Panitia Kholid Lubis, kegiatan digelar dalam rangka menyambut HUT Lampung 18 Maret mendatang dan tahun kunjungan wisata Lampung atau Visit Lampung 2009 sehingga lokasi lomba berada di Mahan Agung.
Adapun tujuan lomba itu untuk menumbuhkan minat, bakat, talenta, dan kreativitas anak sekaligus menunjang peningkatan kualitas anak-anak sejak dini. Kegiatan itu juga berupaya menciptakan wadah pengembangan minat dan bakat dalam mewarnai, melukis, dan menulis.
"Kami juga memberi kesempatan bagi anak-anak yang berani untuk tampil di muka umum dengan kreativitas yang dimiliki. Mereka juga bisa saling mengenal satu sama lain," urai Kholid.
Bertindak sebagai dewan juri adalah perwakilan dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan guru seni lukis. Pemenang bakal mendapat hadiah trofi, uang tunai, meja belajar, serta bingkisan dari sponsor. Perlombaan juga diwarnai hiburan dari artis cilik Lampung, yaitu Mira dari Metro dan Elshinta dari Bandar Lampung. Selain itu, juga dimeriahkan Grup Lyme Lampung. Bagi yang ingin mendaftar silakan datang ke Lampung Post. "Pendaftaran terbatas, kami masih memberi waktu hingga Jumat (14-3)," ujar dia. */S-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 12 Maret 2008
March 11, 2008
Sastra: Kantor Bahasa Gelar Lomba Penulisan Cerpen
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kantor Bahasa Provinsi Lampung menggelar sayembara penulisan cerpen remaja se-Provinsi Lampung yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Tahun Bahasa 2008. Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana menjelaskan tema yang diusung peserta bebas, tetapi disesuaikan dengan dunia remaja, dan tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
"Selain itu, cerpen harus asli dan bukan saduran atau terjemahan serta belum pernah dipublikasikan dan belum pernah diikutkan dalam sayembara apa pun," kata Danardana, akhir pekan lalu.
Adapun peserta yang boleh mengikuti sayembara ini, yaitu remaja yang berusia 14--18 tahun. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen dan maksimal tiga cerpen. Persyaratan lain, cerpen diketik dengan komputer sepanjang 7--12 halaman, dan menggunakan huruf Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 2, dan ukuran kertas kuarto.
Naskah yang dikirim, kata Danardana, harus disertai dengan lembar data pribadi. "Pengumpulan naskah dimulai 5 Maret--23 Mei. Naskah dibuat empat rangkap dan dikirim ke alamat Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Komplek Gubernuran Jalan Beringin II No. 40 Telukbetung, Bandar Lampung. Pengumuman pemenang pada 17 Juni di Harian Umum Lampung Post. Penilaian dan penentuan pemenang akan dilakukan tim juri yang terdiri atas pakar sastra dan sastrawan. Penilaian dilakukan atas isi, gagasan, daya imajinasi, tema, penokohan, teknik penulisan, dan gaya bahasa. Keputusan tim juri tidak dapat diganggu gugat.
Sayembara ini memperebutkan hadiah I Rp1 juta, hadiah II Rp750 ribu, hadiah III Rp500 ribu, dan harapan Rp300 ribu, dan setiap uang hadiah dipotong pajak. Di samping itu, setiap pemenang akan memperoleh piagam penghargaan. "Naskah pemenang juga akan diikutkan pada sayembara penulisan cerpen remaja tingkat nasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa. Naskah cerpen yang masuk ke panitia menjadi milik panitia dan Kantor Bahasa Provinsi Lampung berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih," tambah Danar. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 Maret 2008
"Selain itu, cerpen harus asli dan bukan saduran atau terjemahan serta belum pernah dipublikasikan dan belum pernah diikutkan dalam sayembara apa pun," kata Danardana, akhir pekan lalu.
Adapun peserta yang boleh mengikuti sayembara ini, yaitu remaja yang berusia 14--18 tahun. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen dan maksimal tiga cerpen. Persyaratan lain, cerpen diketik dengan komputer sepanjang 7--12 halaman, dan menggunakan huruf Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 2, dan ukuran kertas kuarto.
Naskah yang dikirim, kata Danardana, harus disertai dengan lembar data pribadi. "Pengumpulan naskah dimulai 5 Maret--23 Mei. Naskah dibuat empat rangkap dan dikirim ke alamat Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Komplek Gubernuran Jalan Beringin II No. 40 Telukbetung, Bandar Lampung. Pengumuman pemenang pada 17 Juni di Harian Umum Lampung Post. Penilaian dan penentuan pemenang akan dilakukan tim juri yang terdiri atas pakar sastra dan sastrawan. Penilaian dilakukan atas isi, gagasan, daya imajinasi, tema, penokohan, teknik penulisan, dan gaya bahasa. Keputusan tim juri tidak dapat diganggu gugat.
Sayembara ini memperebutkan hadiah I Rp1 juta, hadiah II Rp750 ribu, hadiah III Rp500 ribu, dan harapan Rp300 ribu, dan setiap uang hadiah dipotong pajak. Di samping itu, setiap pemenang akan memperoleh piagam penghargaan. "Naskah pemenang juga akan diikutkan pada sayembara penulisan cerpen remaja tingkat nasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa. Naskah cerpen yang masuk ke panitia menjadi milik panitia dan Kantor Bahasa Provinsi Lampung berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih," tambah Danar. n TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 Maret 2008
Bahasa Ibu: Gubernur Buat Kebijakan Khusus
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. akan membuat kebijakan khusus pengembangan bahasa Lampung karena kebutuhan formasi guru bahasa daerah pada penerimaan calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD) 2007 tidak terisi.
Gubernur Sjachroedin mengatakan hal itu pada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (7-3), setelah mengevaluasi pelaksanaan CPNSD 2007.
Menurut dia, bidang pendidikan menjadi salah satu topik pembicaraan dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan gubernur se-Sumatera, beberapa waktu lalu. Termasuk pendidikan muatan lokal yang dapat mengangkat seluruh potensi di daerah, salah satunya budaya dan bahasa. "Saat itu Presiden meminta pendidikan di Sumatera dapat sejajar dengan di Pulau Jawa," kata Sjachroedin.
Menanggapi tidak adanya pendidikan tinggi yang khusus membidangi budaya dan bahasa Lampung, Gubernur akan membuat kebijakan tersendiri. Melalui peraturan daerah atau sejenisnya, pengembangan bahasa Lampung akan diatur khusus. Misalnya, mewajibkan sekolah memasukkan bahasa daerah dalam kurikulumnya, minimal muatan lokal.
Secara bersamaan, juga mendorong perguruan tinggi, terutama Universitas Lampung, membuka jurusan Bahasa Lampung baik diploma maupun sarjana.
Menurut dia, dengan ditutupnya jurusan diploma Bahasa Lampung di Unila harus segera direspons seluruh pihak. Sebab, cikal bakal pengembangan bahasan ibu itu tidak memiliki kesempatan kerja bagi alumninya. Justru kebutuhan formasi guru bahasa daerah dari lulusan sarjana tidak terpenuhi. "Ini harus dilakukan bersama seluruh masyarakat. Pemprov akan membuat kebijakan khususnya, tetapi kalangan pendidikan juga harus mendukungnya," ujarnya.
Ke depan, dengan adanya kebijakan khusus mengenai pengembangan bahasa Lampung, ia berharap tidak ada lagi alumni jurusan bahasa Lampung yang menganggur. Seluruh sekolah diminta menerima guru bahasa daerah yang berasal dari alumni perguruan tinggi setempat. "Kami juga akan mengajak Unila membentuk kembali jurusan bahasa daerah, bisa dengan kualifikasi diploma dan sarjana," kata Sjachroedin. n AAN/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 Maret 2008
Gubernur Sjachroedin mengatakan hal itu pada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (7-3), setelah mengevaluasi pelaksanaan CPNSD 2007.
Menurut dia, bidang pendidikan menjadi salah satu topik pembicaraan dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan gubernur se-Sumatera, beberapa waktu lalu. Termasuk pendidikan muatan lokal yang dapat mengangkat seluruh potensi di daerah, salah satunya budaya dan bahasa. "Saat itu Presiden meminta pendidikan di Sumatera dapat sejajar dengan di Pulau Jawa," kata Sjachroedin.
Menanggapi tidak adanya pendidikan tinggi yang khusus membidangi budaya dan bahasa Lampung, Gubernur akan membuat kebijakan tersendiri. Melalui peraturan daerah atau sejenisnya, pengembangan bahasa Lampung akan diatur khusus. Misalnya, mewajibkan sekolah memasukkan bahasa daerah dalam kurikulumnya, minimal muatan lokal.
Secara bersamaan, juga mendorong perguruan tinggi, terutama Universitas Lampung, membuka jurusan Bahasa Lampung baik diploma maupun sarjana.
Menurut dia, dengan ditutupnya jurusan diploma Bahasa Lampung di Unila harus segera direspons seluruh pihak. Sebab, cikal bakal pengembangan bahasan ibu itu tidak memiliki kesempatan kerja bagi alumninya. Justru kebutuhan formasi guru bahasa daerah dari lulusan sarjana tidak terpenuhi. "Ini harus dilakukan bersama seluruh masyarakat. Pemprov akan membuat kebijakan khususnya, tetapi kalangan pendidikan juga harus mendukungnya," ujarnya.
Ke depan, dengan adanya kebijakan khusus mengenai pengembangan bahasa Lampung, ia berharap tidak ada lagi alumni jurusan bahasa Lampung yang menganggur. Seluruh sekolah diminta menerima guru bahasa daerah yang berasal dari alumni perguruan tinggi setempat. "Kami juga akan mengajak Unila membentuk kembali jurusan bahasa daerah, bisa dengan kualifikasi diploma dan sarjana," kata Sjachroedin. n AAN/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 Maret 2008
Musik: Lagu Lampung Harus Dilestarikan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lagu Lampung merupakan salah satu produk dan warisan budaya yang harus ditumbuhkembangkan dan dilestarikan. Sebab, di tengah gempuran globalisasi yang menderas, lagu Lampung bisa menjadi satu kekuatan lokal penting, baik sebagai ikon, karakteristik, ataupun jati diri daerah.
Ketua Sanggar Waya Kenyangan Nurdin Darsan, Sabtu (8-3), mengatakan karena kondisi tersebut dan untuk bisa bertahan, pihaknya melakukan pendokumentasian lagu Lampung.
"Hasil pendokumentasian ini bisa dijadikan media sosialisasi karya-karya seniman Lampung. Selain itu, juga lewat lagu bisa disampaikan nilai-nilai kearifan yang dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat berbangsa dan bernegara," kata Nurdin.
Pimpinan produksi, Syafril Yamin, mengemukakan pendokumentasian lagu-lagu Lampung tradisional ini dilakukan agar lagu Lampung yang memiliki fungsi strategis ini tetap bisa dinikmati masyarakat.
"Untuk itulah Sanggar Waya Kenyangan tergerak mendokumentasikan lagu Lampung sehingga bisa terus tumbuh berkembang dan dilestarikan," kata dia.
Apalagi, menurut Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini, Lampung memiliki banyak ragam lagu baik dari Lampung Pepadun hingga Saibatin.
"Kali ini, Sanggar Waya Kenyangan yang berasal dari Lampung Barat ini mendokumentasikan lagu Lampung tradisional, seperti Lampung Barat Sai Betik, Patah Junjungan, Anak Ngukha, Temu Judu, Di Pulayan, Mekhanai Jebus, Lipang Lipang Dang, Ngebiti Dikhi, Minyak Campokh Way, dan Tikham Jauh," ujar Syafril.
Seniman yang dilibatkan dalam mendendangkan lagu tersebut adalah Leniar, Zubaidi, dan Nurdin Darsan. "Kegiatan pendokumentasian ini mengambil lokasi di kawasan wisata Lumbok, Puncak Pas Liwa, dan kawasan PKOR Way Halim," kata dia. n TYO/K-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 Maret 2008
Ketua Sanggar Waya Kenyangan Nurdin Darsan, Sabtu (8-3), mengatakan karena kondisi tersebut dan untuk bisa bertahan, pihaknya melakukan pendokumentasian lagu Lampung.
"Hasil pendokumentasian ini bisa dijadikan media sosialisasi karya-karya seniman Lampung. Selain itu, juga lewat lagu bisa disampaikan nilai-nilai kearifan yang dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat berbangsa dan bernegara," kata Nurdin.
Pimpinan produksi, Syafril Yamin, mengemukakan pendokumentasian lagu-lagu Lampung tradisional ini dilakukan agar lagu Lampung yang memiliki fungsi strategis ini tetap bisa dinikmati masyarakat.
"Untuk itulah Sanggar Waya Kenyangan tergerak mendokumentasikan lagu Lampung sehingga bisa terus tumbuh berkembang dan dilestarikan," kata dia.
Apalagi, menurut Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini, Lampung memiliki banyak ragam lagu baik dari Lampung Pepadun hingga Saibatin.
"Kali ini, Sanggar Waya Kenyangan yang berasal dari Lampung Barat ini mendokumentasikan lagu Lampung tradisional, seperti Lampung Barat Sai Betik, Patah Junjungan, Anak Ngukha, Temu Judu, Di Pulayan, Mekhanai Jebus, Lipang Lipang Dang, Ngebiti Dikhi, Minyak Campokh Way, dan Tikham Jauh," ujar Syafril.
Seniman yang dilibatkan dalam mendendangkan lagu tersebut adalah Leniar, Zubaidi, dan Nurdin Darsan. "Kegiatan pendokumentasian ini mengambil lokasi di kawasan wisata Lumbok, Puncak Pas Liwa, dan kawasan PKOR Way Halim," kata dia. n TYO/K-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 Maret 2008
March 9, 2008
Apresiasi: Udo Z. Karzi, Pembuka Ruang Gelap
-- Teguh Prasetyo
TERBUKANYA sebuah ruang yang selama ini gelap dan tertutup tak terjamah merupakan satu pesan yang amat sangat terasa saat dilakukannya peluncuran buku puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang dibarengi diskusi tentang bahasa Lampung yang digelar Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Senin (3-3) yang lalu.
Mengapa pesan tersebut amat terasa? Tentu saja, pertama, disebabkan selama ini bahasa Lampung dapat diibaratkan bagai katak dalam tempurung. Sebab, sebagai bahasa daerah, bahasa Lampung amat sangat terbatas penggunaannya. Bahkan, masyarakat asli Lampung sendiri sepertinya sangat enggan menggunakan bahasa itu dalam melakukan komunikasi kesehariannya.
Ini terlihat pada masyarakat Lampung yang tinggal di daerah perkotaan. Selama ini, mereka hanya menggunakan bahasa Lampung pada kalangannya sendiri. Misalnya, pada anggota keluarga ataupun pada saat ada pertemuan atau acara perkumpulan masyarakat Lampung. Sedangkan pada kegiatan lain, terutama yang digelar di ranah publik, bahasa Lampung ditinggalkan oleh pemiliknya. Entah dikarenakan adanya perasaan malu menggunakan bahasa Lampung atau dikarenakan sebab lainnya. Akibatnya, perkembangan bahasa Lampung sangat terbatas atau malahan bisa dikatakan tidak berkembang dan mengalami kemunduran.
Dampaknya yang amat terasa adalah sangat minimnya masyarakat pendatang, yang menjadi mayoritas penduduk Lampung, yang bisa mengerti dan bisa menggunakan bahasa Lampung dalam kesehariannya. Padahal di daerah lain, setiap pendatang secara otomatis akan mempelajari bahasa daerah tempat tinggalnya yang baru. Akhirnya, bahasa daerah akan tetap terjaga dan lestari, karena selalu digunakan dalam bahasa kesehariannya.
Walaupun alasan adanya keengganan masyarakat pendatang untuk mempelajari bahasa Lampung, bisa menjadi alasan lainnya yang melatarbelakangi. Karena kemungkinan masyarakat pendatang merasa bahwa mereka tidak memperoleh kemanfaatan dengan mempelajari bahasa Lampung. Misalnya saja dari motif ekonomi yang termudah, bila mempelajari bahasa Lampung, akan mendapatkan harga murah di pasar karena mayoritas pedagang menggunakan bahasa Lampung dalam bertransaksi.
Ataupun faktor keselamatan, ketika misalnya dengan menggunakan bahasa Lampung, akan selamat saat berada di terminal ataupun tempat lainnya. Sehingga ada alasan atau motif lain yang melatarbelakangi seseorang mempelajari bahasa Lampung. Itu juga yang dikemukakan Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Syaiful Irba Tanpaka pada diskusi tersebut.
Kondisi ini menyebabkan bahasa Lampung tidak menarik untuk dipelajari para pendatang. Tidak salah bila kemudian anak-anak dan remaja di Lampung lebih tertarik mempelajari bahasa Inggris.
Sedangkan penggiat seni tradisi Lampung, Sutan Purnama, mengemukakan bahwa yang bisa jadi menyebabkan bahasa Lampung berada dalam tempurung adalah dikarenakan adanya perbedaan dialek antarmasyarakat Lampung sendiri. Ada Pesisir, Abung, Menggala, Pubian, dan lainnya yang dari pengucapan hingga penulisannya berbeda. Ini yang menurut Sutan menjadi salah satu penyebab bahasa Lampung tidak berkembang.
Namun, ketika peluncuran buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi tersebut, ada suatu yang terkuak. Tiba-tiba semuanya mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa Lampung, lewat puisi-puisi yang terdapat dalam buku tersebut. Para penyair, guru, birokrat, semuanya mencoba melafalkan puisi Udo yang kesemuanya menggunakan bahasa Lampung. Sehingga ada sebuah ruang yang kini mulai terbuka.
Dan selain itu juga, alasan kedua bahasa Lampung sudah membuka ruang yang lebih luas lagi, yakni mencoba menjamah dunia nasional dengan munculnya buku puisi berbahasa Lampung karya Udo Z. Karzi tersebut. Ini semakin membuka ruang bagi masyarakat luas untuk bisa mengapresiasi dan mempelajari bahasa Lampung. Tidak hanya mereka yang tinggal di Lampung saja, tapi siapa saja.
Apalagi buku yang diterbitkan BE Press, Bandar Lampung tahun 2007 ini berhasil memenangkan Hadiah Sastera Rancage 2008. Tentu saja ini menjadi sebuah prestise yang sangat membanggakan dan patut mendapat apresiasi seluruh masyarakat Lampung. Sebab, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan sastrawan Ajip Rosidi ini biasanya memberikan penghargaan pada karya sastra yang berasal dari Sunda, Jawa, dan Bali saja.
Irfan Anshori, salah seorang Dewan Juri Hadiah Sastera Rancage 2008, yang juga anggota Pusat Studi Kebudayaan Sunda, mengemukakan, Ini pertama sekali Rancage Award diberikan untuk karya sastra berbahasa daerah dari luar Pulau Jawa. Sudah sepuluh kali Rancage Award diberikan kepada karya sastra berbahasa daerah, baru kali ini penghargaan itu diberikan kepada sastra berbahasa Lampung.
Dia mengatakan ada dua buku berbahasa Lampung yang ditulis Udo Z. Karzi dan diikutsertakan dalam penilaian Rancage. Tapi, penghargaan yang diberikan setiap tahun untuk karya sastra berbahasa daerah itu akhirnya jatuh ke Mak Dawah Mak Dibingi. "Kami berharap hadiah ini menjadi pemicu bagi pelestarian bahasa Lampung di lingkungan masyarakatnya. Semoga menjadi pemicu penerbitan buku-buku sastra berbahasa Lampung," kata Irfan.
Menurut dia, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan sastrawan Ajip Rosidi sudah sejak lama mengamati perkembangan karya sastra berbahasa daerah yang ada di luar Pulau Jawa. Tapi, ternyata perkembangan karya sastra berbahasa Lampung lebih semarak dibandingkan daerah lainnya.
"Begitu kami menemukan buku berbahasa daerah Lampung, kami menghubungi penerbitnya. Mereka respek dan mengirimkan buku Udo Z. Karzi serta menyanggupi akan menerbitkan buku berbahasa Lampung secara kontinu."
Sementara Direktur Riset Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) Budi Hutasuhut yang menerbitkan buku Mak Dawah Mak Dibingi mengemukakan pihaknya akan mencoba terus menerbitkan buku sejenis terutama yang menggunakan bahasa Lampung. "Buku itu diterbitkan dalam rangka memopulerkan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan masyarakat. Kami berharap pemerintah daerah bisa menjadikan buku ini sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran muatan lokal."
Budi mengatakan Yayasan SKL yang mengelola sudah mempersiapkan beberapa naskah buku berbahasa Lampung untuk diterbitkan sebagai buku. "Kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan mengharapkan Hadiah Rancage , tetapi sudah bagian dari program pelestarian nilai budaya lokal yang digalakkan Yayasan SKL sejak 2004," kata dia.
Bila akhirnya keinginan tersebut bisa terealisasikan, bisa dipastikan akan mulai banyak bermunculan buku-buku yang dikeluarkan menggunakan bahasa Lampung. Ini berarti bahasa Lampung akan semakin dikenal tidak hanya di daerahnya sendiri, tetapi juga menasional. Apalagi bila kemudian semakin banyak penerbit yang juga mulai turut menerbitkan karya-karya sastra berbahasa Lampung lainnya.
Dengan begitu, ungkapan yang dikemukakan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa bahasa Lampung akan punah pada kurun waktu 70 tahun yang akan datang, tidak akan terjadi. Terlebih lagi, menurut dia, sampai saat ini bahasa Lampung termasuk 13 bahasa daerah atau bahasa ibu yang jumlah penuturnya masih banyak di Indonesia di antaranya bahasa Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Minang, Bali, dan bahasa daerah lainnya yang memiliki jumlah penduduk pribumi lebih dari 1,5 juta jiwa. "Tapi bila bahasa Lampung tidak dipelihara, prediksi tersebut akan benar-benar terjadi."
Dan, Udo Z. Karzi yang merupakan pelopor lahirnya sastra Lampung modern, sehingga diganjar Hadiah Sastra Rancage 2008 diharapkan mampu merangsang para sastrawan Lampung lain menulis karya-karya sastra dalam bahasa ibunya: Lampung. Dengan demikian, Lampung yang merupakan negerinya penyair ini, tidak hanya menyemarakan khazanah dunia sastra nasional dengan karya sastra berbahasa Indonesia, tetapi juga karya sastra berbahasa Lampung.
Semoga ruang gelap yang selama ini menyelimuti bahasa Lampung, bisa semakin terbuka dan terkuak.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Maret 2008
TERBUKANYA sebuah ruang yang selama ini gelap dan tertutup tak terjamah merupakan satu pesan yang amat sangat terasa saat dilakukannya peluncuran buku puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang dibarengi diskusi tentang bahasa Lampung yang digelar Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Senin (3-3) yang lalu.
Mengapa pesan tersebut amat terasa? Tentu saja, pertama, disebabkan selama ini bahasa Lampung dapat diibaratkan bagai katak dalam tempurung. Sebab, sebagai bahasa daerah, bahasa Lampung amat sangat terbatas penggunaannya. Bahkan, masyarakat asli Lampung sendiri sepertinya sangat enggan menggunakan bahasa itu dalam melakukan komunikasi kesehariannya.
Ini terlihat pada masyarakat Lampung yang tinggal di daerah perkotaan. Selama ini, mereka hanya menggunakan bahasa Lampung pada kalangannya sendiri. Misalnya, pada anggota keluarga ataupun pada saat ada pertemuan atau acara perkumpulan masyarakat Lampung. Sedangkan pada kegiatan lain, terutama yang digelar di ranah publik, bahasa Lampung ditinggalkan oleh pemiliknya. Entah dikarenakan adanya perasaan malu menggunakan bahasa Lampung atau dikarenakan sebab lainnya. Akibatnya, perkembangan bahasa Lampung sangat terbatas atau malahan bisa dikatakan tidak berkembang dan mengalami kemunduran.
Dampaknya yang amat terasa adalah sangat minimnya masyarakat pendatang, yang menjadi mayoritas penduduk Lampung, yang bisa mengerti dan bisa menggunakan bahasa Lampung dalam kesehariannya. Padahal di daerah lain, setiap pendatang secara otomatis akan mempelajari bahasa daerah tempat tinggalnya yang baru. Akhirnya, bahasa daerah akan tetap terjaga dan lestari, karena selalu digunakan dalam bahasa kesehariannya.
Walaupun alasan adanya keengganan masyarakat pendatang untuk mempelajari bahasa Lampung, bisa menjadi alasan lainnya yang melatarbelakangi. Karena kemungkinan masyarakat pendatang merasa bahwa mereka tidak memperoleh kemanfaatan dengan mempelajari bahasa Lampung. Misalnya saja dari motif ekonomi yang termudah, bila mempelajari bahasa Lampung, akan mendapatkan harga murah di pasar karena mayoritas pedagang menggunakan bahasa Lampung dalam bertransaksi.
Ataupun faktor keselamatan, ketika misalnya dengan menggunakan bahasa Lampung, akan selamat saat berada di terminal ataupun tempat lainnya. Sehingga ada alasan atau motif lain yang melatarbelakangi seseorang mempelajari bahasa Lampung. Itu juga yang dikemukakan Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Syaiful Irba Tanpaka pada diskusi tersebut.
Kondisi ini menyebabkan bahasa Lampung tidak menarik untuk dipelajari para pendatang. Tidak salah bila kemudian anak-anak dan remaja di Lampung lebih tertarik mempelajari bahasa Inggris.
Sedangkan penggiat seni tradisi Lampung, Sutan Purnama, mengemukakan bahwa yang bisa jadi menyebabkan bahasa Lampung berada dalam tempurung adalah dikarenakan adanya perbedaan dialek antarmasyarakat Lampung sendiri. Ada Pesisir, Abung, Menggala, Pubian, dan lainnya yang dari pengucapan hingga penulisannya berbeda. Ini yang menurut Sutan menjadi salah satu penyebab bahasa Lampung tidak berkembang.
Namun, ketika peluncuran buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi tersebut, ada suatu yang terkuak. Tiba-tiba semuanya mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa Lampung, lewat puisi-puisi yang terdapat dalam buku tersebut. Para penyair, guru, birokrat, semuanya mencoba melafalkan puisi Udo yang kesemuanya menggunakan bahasa Lampung. Sehingga ada sebuah ruang yang kini mulai terbuka.
Dan selain itu juga, alasan kedua bahasa Lampung sudah membuka ruang yang lebih luas lagi, yakni mencoba menjamah dunia nasional dengan munculnya buku puisi berbahasa Lampung karya Udo Z. Karzi tersebut. Ini semakin membuka ruang bagi masyarakat luas untuk bisa mengapresiasi dan mempelajari bahasa Lampung. Tidak hanya mereka yang tinggal di Lampung saja, tapi siapa saja.
Apalagi buku yang diterbitkan BE Press, Bandar Lampung tahun 2007 ini berhasil memenangkan Hadiah Sastera Rancage 2008. Tentu saja ini menjadi sebuah prestise yang sangat membanggakan dan patut mendapat apresiasi seluruh masyarakat Lampung. Sebab, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan sastrawan Ajip Rosidi ini biasanya memberikan penghargaan pada karya sastra yang berasal dari Sunda, Jawa, dan Bali saja.
Irfan Anshori, salah seorang Dewan Juri Hadiah Sastera Rancage 2008, yang juga anggota Pusat Studi Kebudayaan Sunda, mengemukakan, Ini pertama sekali Rancage Award diberikan untuk karya sastra berbahasa daerah dari luar Pulau Jawa. Sudah sepuluh kali Rancage Award diberikan kepada karya sastra berbahasa daerah, baru kali ini penghargaan itu diberikan kepada sastra berbahasa Lampung.
Dia mengatakan ada dua buku berbahasa Lampung yang ditulis Udo Z. Karzi dan diikutsertakan dalam penilaian Rancage. Tapi, penghargaan yang diberikan setiap tahun untuk karya sastra berbahasa daerah itu akhirnya jatuh ke Mak Dawah Mak Dibingi. "Kami berharap hadiah ini menjadi pemicu bagi pelestarian bahasa Lampung di lingkungan masyarakatnya. Semoga menjadi pemicu penerbitan buku-buku sastra berbahasa Lampung," kata Irfan.
Menurut dia, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan sastrawan Ajip Rosidi sudah sejak lama mengamati perkembangan karya sastra berbahasa daerah yang ada di luar Pulau Jawa. Tapi, ternyata perkembangan karya sastra berbahasa Lampung lebih semarak dibandingkan daerah lainnya.
"Begitu kami menemukan buku berbahasa daerah Lampung, kami menghubungi penerbitnya. Mereka respek dan mengirimkan buku Udo Z. Karzi serta menyanggupi akan menerbitkan buku berbahasa Lampung secara kontinu."
Sementara Direktur Riset Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) Budi Hutasuhut yang menerbitkan buku Mak Dawah Mak Dibingi mengemukakan pihaknya akan mencoba terus menerbitkan buku sejenis terutama yang menggunakan bahasa Lampung. "Buku itu diterbitkan dalam rangka memopulerkan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan masyarakat. Kami berharap pemerintah daerah bisa menjadikan buku ini sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran muatan lokal."
Budi mengatakan Yayasan SKL yang mengelola sudah mempersiapkan beberapa naskah buku berbahasa Lampung untuk diterbitkan sebagai buku. "Kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan mengharapkan Hadiah Rancage , tetapi sudah bagian dari program pelestarian nilai budaya lokal yang digalakkan Yayasan SKL sejak 2004," kata dia.
Bila akhirnya keinginan tersebut bisa terealisasikan, bisa dipastikan akan mulai banyak bermunculan buku-buku yang dikeluarkan menggunakan bahasa Lampung. Ini berarti bahasa Lampung akan semakin dikenal tidak hanya di daerahnya sendiri, tetapi juga menasional. Apalagi bila kemudian semakin banyak penerbit yang juga mulai turut menerbitkan karya-karya sastra berbahasa Lampung lainnya.
Dengan begitu, ungkapan yang dikemukakan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa bahasa Lampung akan punah pada kurun waktu 70 tahun yang akan datang, tidak akan terjadi. Terlebih lagi, menurut dia, sampai saat ini bahasa Lampung termasuk 13 bahasa daerah atau bahasa ibu yang jumlah penuturnya masih banyak di Indonesia di antaranya bahasa Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Minang, Bali, dan bahasa daerah lainnya yang memiliki jumlah penduduk pribumi lebih dari 1,5 juta jiwa. "Tapi bila bahasa Lampung tidak dipelihara, prediksi tersebut akan benar-benar terjadi."
Dan, Udo Z. Karzi yang merupakan pelopor lahirnya sastra Lampung modern, sehingga diganjar Hadiah Sastra Rancage 2008 diharapkan mampu merangsang para sastrawan Lampung lain menulis karya-karya sastra dalam bahasa ibunya: Lampung. Dengan demikian, Lampung yang merupakan negerinya penyair ini, tidak hanya menyemarakan khazanah dunia sastra nasional dengan karya sastra berbahasa Indonesia, tetapi juga karya sastra berbahasa Lampung.
Semoga ruang gelap yang selama ini menyelimuti bahasa Lampung, bisa semakin terbuka dan terkuak.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Maret 2008
March 8, 2008
Musik: Lagu Lampung harus Ditumbuhkembangkan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lagu Lampung merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang harus ditumbuhkembangkan dan dilestarikan. Sebab, di tengah gempuran globalisasi yang menderas, lagu ini bisa menjadi satu kekuatan lokal sebagai ikon, karakteristik ataupun jati diri daerah.
Ketua Sanggar Waya Kenyangan, Nurdin Darsan, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di sela-sela pengambilan suara dan gambar pendokumentasian lagu-lagu Lampung di Kompleks GOR Saburai, akhir pekan ini. Pelestarian lagu tersebut perlu melalui pendokumentasian agar bisa dijadikan media sosialisasi karya-karya seniman Lampung. "Selain itu juga, lewat lagu bisa disampaikan nilai-nilai kearifan yang dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat berbangsa dan bernegara," kata dia.
Sementara itu, pimpinan produksi, Syafril Yamin, mengemukakan pendokumentasian lagu-lagu Lampung tradisional ini dilakukan agar lagu Lampung yang memiliki fungsi strategis ini tetap bisa dinikmati masyarakat. "Untuk itulah Sanggar Waya Kenyangan tergerak melakukan pendokumentasian agar lagu Lampung terus tumbuh-berkembang dan dilestarikan," ujar dia.
Apalagi, menurut Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini, Lampung memiliki banyak ragam lagu baik dari Lampung Pepadun hingga Saibatin. "Untuk itu Sanggar Waya Kenyangan yang berasal dari Lampung Barat (Lambar) mendokumentasikan lagu Lampung tradisional seperti Lampung Barat Sai Betik, Patah Junjungan, Anak Ngugha, Temu Judu, Di Pulayan, Meghanai Jebus, Lipang Lipang Dang, Ngebiti Dighi, Minyak Campogh Way, dan Tigham Jauh," ujar Syafril.
Kegiatan ini mengusung penyanyi Leniar, Zubaidi, dan Nurdin Darsan.
Sementara itu, kegiatan pendokumentasian ini mengambil lokasi di berbagai tempat wisata di Lampung, di antaranya kawasan Wisata Lumbok dan Puncak Pas di Lambar, serta kawasan PKOR Way Halim. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 8 Maret 2008
Ketua Sanggar Waya Kenyangan, Nurdin Darsan, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di sela-sela pengambilan suara dan gambar pendokumentasian lagu-lagu Lampung di Kompleks GOR Saburai, akhir pekan ini. Pelestarian lagu tersebut perlu melalui pendokumentasian agar bisa dijadikan media sosialisasi karya-karya seniman Lampung. "Selain itu juga, lewat lagu bisa disampaikan nilai-nilai kearifan yang dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat berbangsa dan bernegara," kata dia.
Sementara itu, pimpinan produksi, Syafril Yamin, mengemukakan pendokumentasian lagu-lagu Lampung tradisional ini dilakukan agar lagu Lampung yang memiliki fungsi strategis ini tetap bisa dinikmati masyarakat. "Untuk itulah Sanggar Waya Kenyangan tergerak melakukan pendokumentasian agar lagu Lampung terus tumbuh-berkembang dan dilestarikan," ujar dia.
Apalagi, menurut Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini, Lampung memiliki banyak ragam lagu baik dari Lampung Pepadun hingga Saibatin. "Untuk itu Sanggar Waya Kenyangan yang berasal dari Lampung Barat (Lambar) mendokumentasikan lagu Lampung tradisional seperti Lampung Barat Sai Betik, Patah Junjungan, Anak Ngugha, Temu Judu, Di Pulayan, Meghanai Jebus, Lipang Lipang Dang, Ngebiti Dighi, Minyak Campogh Way, dan Tigham Jauh," ujar Syafril.
Kegiatan ini mengusung penyanyi Leniar, Zubaidi, dan Nurdin Darsan.
Sementara itu, kegiatan pendokumentasian ini mengambil lokasi di berbagai tempat wisata di Lampung, di antaranya kawasan Wisata Lumbok dan Puncak Pas di Lambar, serta kawasan PKOR Way Halim. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 8 Maret 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)