October 12, 2008

Apresiasi: Pelampung Bahasa Letusan Krakatau

Oleh Binhad Nurrohmat*

Orang banyak nyatalah tentu,
Bilangan lebih daripada seribu,
Mati sekalian orangnya itu,
Ditimpa lumpur, api, dan abu.

Pulau Sebuku dikata orang,
Ada seribu lebih dan kurang,
Orangnya habis nyatalah terang,
Tiadalah hidup barang seorang.


(Petikan Syair Lampung Karam, Mohammad Saleh, 1883)

SIAPA menyangka, Mohammad Saleh menulis kitab Syair Lampung Karam dalam bahasa Melayu dan beraksara Arab-Melayu yang menceritakan bencana letusan Krakatau pada Agustus 1883 itu. Mohammad Saleh mengungsi dari Tanjungkarang (Lampung) ke Singapura setelah letusan Krakatau. Mohammad Saleh menyelesaikan kitab syair itu dan menerbitkannya di kota pengungsian itu pada November 1883.

Syair-syair Mohammad Saleh itu menjadi pelampung bagi tubuh bahasa yang menyimpan peristiwa tenggelamnya puluhan ribu manusia di Lampung akibat letusan Krakatau sehingga kesaksian dan ingatan tentang petaka itu tak karam. Peneliti bernama Suryadi menemukan lembaran-lembaran syair itu di Belanda, Rusia, Inggris, Jerman, Indonesia, dan Malaysia dan dikabarkan ke khalayak dunia pada September 2008.

Siapakah Mohammad Saleh? Kini sulit merunut riwayatnya kembali. Tapi namanya bakal terkenang lebih lama lantaran syairnya, melampaui seluruh usianya. Melalui syair-syair itu, petaka akibat letusan Krakatau itu tidak lenyap dan menjadi bahan berharga dan berguna bagi generasi manusia di Lampung atau di tempat lain setelah bencana itu berlalu.

Mohammad Saleh lebih dari sekadar menggubah syair, ia menulis manusia dan kenyataan hidupnya melalui tradisi seni bahasa. Di lantai VIII sebuah penginapan di Seoul, Korea, syair-syair itu menyulut perkabungan saya yang mengerikan dan mengharukan tentang manusia, sejarah, dan kesusastraan. Ketahuilah, hari ini dilahirkan oleh masa silam, maka beruntunglah manusia yang tidak kehilangan jejak sejarah generasi sebelumnya.

Di Korea, saya telah mengunjungi museum-museum kesusastraan yang tidak menyimpan artefak masa lalu serupa tumpukan kertas rombeng di gudang arsip yang senyap dan terancam rayap. Di museum-museum itu suara kesusastraan dihidupkan marwah dan spiritnya di masa kini. Roman Toji karya Park Kyung-Ni misalnya. Roman 21 jilid ini merupakan epik masa lampau dan masa kini Korea. Toji artinya tanah atau daratan.

Generasi sesudah Park Kyung-Ni mendirikan Park Kyong-Ni Literary Park di Wonju, Korea. Taman ini mewujudkan kata-kata elementer dalam roman itu menjadi serangkaian artefak yang menggambarkan dan membangunkan kesadaran manusia Korea tentang masa lalu dan masa kini, serta jati diri bangsanya.

Museum-museum kesusastraan di Korea itu turut menjadi pelampung bagi masa silam Korea sehingga jejaknya tak tenggelam di masa kini. Melalui museum-museum itu, jejak manusia Korea beserta kebudayaan dan kekayaan ekspresi bahasanya bergema hingga ke masa kini meski waktu berlari ke depan meninggalkan kesilaman. Melalui museum-museum itu kesusastraan menjadi lebih dari sebatas seni menulis.

Bagaimana jika roman Arus Balik, Warahan Radin Jambat, puisi Rendra, dan kitab Syair Lampung Karam dibuatkan museum serupa itu? Musium-musium itu akan menghidupkan masa lalu Indonesia melalui gambar atau monumen ihwal kejayaan Nusantara masa silam yang merajai lautan hingga ke belahan bumi utara, petualangan Radin Jambat dari kota ke kota, Rendra dalam penjara, dan bangkai perahu serta jangkarnya yang terdampar di Tanjungkarang akibat letusan Krakatau. Museum-museum itu akan menjaga sejarah kebanggaan dan kesedihan manusia.

***

Setelah seabad lebih Krakatau meletus dan mengaramkan sebagian daratan Lampung beserta penghuninya, di Lampung masih lahir para penyair. Barangkali, leluhur para penyair itu adalah penduduk pribumi yang dilantak letusan Krakatau atau berasal dari daratan lain yang jauh yang datang ke Lampung setelah letusan Krakatau.

Para penyair itu menulis puisi setelah serdadu Kompeni pergi, petualangan Radin Jambat berakhir, bahasa Indonesia merasuk hingga pedalaman, Rendra tidak lagi dipenjara, pendatang dan pribumi berakulturasi, dan Krakatau tampak damai. Seabad lebih setelah Krakatau meletus, apakah manusia di Lampung dan kenyataan hidupnya terekam dalam kata-kata para penyair itu?

Kekuatan bahasa dan daya ekspresinya menulis ihwal manusia dan kenyataan hidupnya membuat puisi bertenaga dan signifikan bagi manusia dan kebudayaannya. Inilah perkara mendasar yang membuat puisi dari masa silam bisa hidup hingga sekarang. Kenapa ada puisi yang ditulis pekan kemarin terasa lenyap hari ini seakan tidak pernah ada atau tak pernah dituliskan? Barangkali, puisi itu bersinar di masa datang seperti harta karun menyembul dari kedalaman lautan. Atau, puisi itu memang selamanya sirna bersama jutaan puisi lain yang pernah ditulis manusia.

Tapi percayalah, bumi ini tidak pernah bosan dihuni para penyair dan planet ini setia menerima puisi karena manusia butuh bahasa untuk mengucapkan pergolakan ihwal keberadaannya di dunia ini atau tentang bayang kehidupan di alam sesudahnya. Puisi penyair di Lampung dan di manapun akan bermakna bila kata-kata menjelma bahasa yang bisa menjadi pelampung bagi manusia di lautan pergumulan kehidupan yang sedih atau bahagia serta bila ekspresi bahasa bisa menarik ujung garis tradisi pengucapan yang sudah ada menuju ke depan, dan bukan sebaliknya.

Puisi (dan juga seni yang lain) tidak bisa merengkuh seisi dunia, begitu juga negara, ekonomi, maupun agama yang tak kuasa menggenggam segalanya. Namun dalam keterbatasannya, puisi bukan benda budaya yang tidak bisa berdaya. Memang bikin pusing kepala membandingkan potensi sebait puisi dengan harga sekarung lada atau rekening tim sukses pemilihan pejabat pemerintahan kota. Puisi tidak bisa seperti manusia membangun dermaga atau menaikkan harga palawija. Bagi "kebergunaan" praktis semacam itu, puisi pasti akan punah di seluruh bumi ini.

Puisi berada di pedalaman batin dan inteligensia yang membangun etos kreativitas yang dibutuhkan oleh mental dan laku penciptaan. Etos kreativitas merupakan fundamen manusia melawan keterbatasannya, serupa siasat penyair menghadapi imajinasi dan kata, seperti kebijakan bupati di tengah kemerosotan pendapatan daerahnya. Ibarat mawar, puisi bukan tangkai, duri, dan kelopak belaka, melainkan keharuman yang bisa dinikmati pancaindra lantaran kesegaran bahasanya menyadap makna gembira atau bencana dunia di suatu masa, misalnya syair Mohammad Saleh itu.

Letusan Krakatau bukan satu-satunya bencana dan perginya serdadu Kompeni bukan akhir sejarah pergulatan manusia. Kini manusia menghadapi persoalan yang berbeda dengan masa sebelumnya, sehingga raut dan debar puisi mestinya tak sama dengan yang sebelumnya. Tanpa Krakatau dan serdadu kompeni, manusia tetap butuh puisi yang membuat mereka bisa mereguk makna dan tidak kehilangan kesegaran bahasa untuk mengucapkan dirinya. Inilah yang membuat sebaris Haiku atau syair bisa lebih bermakna ketimbang sekawanan tokoh terkenal belaka dan hendak dipuja banyak manusia. Beginilah dunia ini, dan puisi belum kunjung sirna dari bumi.

* Binhad Nurrohmat, Penyair, kini tinggal di Seoul, Korea

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Oktober 2008

Lihat juga:
Letusan Krakatau di Mata Pribumi
Ditemukan Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883

Traveling: Tambling, Sebuah Wisata Konservasi

NYARIS tidak ada perubahan di kawasan Tampang Belimbing. Jika dulu kawasan ini jadi tempat berburu, sekarang justru berbalik, harimau asal Aceh yang memburu.

Semula kawasan ini dikelola oleh SAC Nusantara yang menjadikan areal seluas 100 hektare yang diperoleh dari hak pengelolaan kawasan sebagai taman buru. Tetapi, tahun 2003 hak pengelolaan lahan beralih ke tangan Tommy Winata melalui PT Adhiniaga Kreasi Nusa (AKN) melalui kerja sama operasional (KSO) dengan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan konservasi.

Sejak itu, di kawasan ini mulai dilepas berbagai hewan, seperti berbagai spesies burung, buaya, kerbau liar sampai menjangan. Beberapa satwa memang sudah ada sejak lama. Selain itu, ada juga buaya muara yang dilepas di muara yang mengular melintasi kawasan ini, puluhan tukik juga selalu dilepas di pantai dermaga. Ada juga seekor penyu sisik berukuran besar yang juga siap dilepas. Seorang staf setempat mengatakan pada suatu saat nanti kawasan ini benar-benar ideal disebut sebagai kawasan konservasi dengan beragam hewan dan tumbuhan hutan.

Sayangnya, nyaris tak pernah terlihat secara langsung cerita tentang "hebatnya" satwa-satwa yang ada di kawasan ini. Seperti serombongan menjangan, segerombol kerbau liar atau komunitas burung-burung hutan, termasuk monyet-monyet hutan.

Meski dalam kerja sama operasional itu, PT AKN hanya punya hak kelola seluas 100 hektare, tapi TW mengaku bertanggung jawab atas keseluruhan kawasan TNBBS yang luasnya mencapai 52 ribu hektare. Entah seperti apa bentuk pertanggungjawabannya.

Satu pertanyaan yang agak membingungkan di kalangan jurnalis dan aktivis lingkungan terhadap niat Tommy Winata akan kelanjutan pengembangan kawasan konservasi ini. Karena sampai saat ini pun kawasan ini tidak dibuka untuk umum maupun wisatawan. "Yang biasa datang ke sini paling hanya Pak TW dan keluarganya atau koleganya saja. Di luar itu sama sekali tidak ada tamu lain," ujar salah seorang staf PT AKN.

Sampai kini pun, operasional kawasan itu dalam sebulannya memakan biaya yang sangat besar. Mulai dari gaji karyawan sampai perawatan fasilitas mencapai Rp300 juta.

Secara kasat mata mata kawasan ini memang tidak benar-benar "hijau" di beberapa titik. Bahkan, ada sisa-sisa perkebunan atau lahan yang terlihat gundul dengan belukar luas. Mungkin karena wilayah kelola yang terlalu luas. Sehingga, meski PT AKN sudah mengelola sejak 2003, hasilnya belum terlihat.

Untuk fasilitas penangkaran sebagai wujud proyek besar pengelepasliaran lima harimau asal Aceh, kawasan TNWC juga menyiapkan Rescue Center sebagai tempat penangkaran tiga harimau sumatera lain. Yakni, Ucok, Buyung, dan Panti yang masih dalam perawatan medis akibat penyakit sebelum dilepasliarkan ke alam bebas seperti Pangeran dan Agam.

Demikian halnya dengan fasilitas yang ada, di kawasan ini pun terbilang mewah. Untuk mobilisasi pengunjung dari satu titik ke titik lain yang hanya berjarak beberapa meter saja disiapkan mobil golf. Pengelola tampaknya sangat detil dalam hal menjaga kenyamanan pengunjung sampai untuk mengusir nyamuk atau lalat pun disiapkan alat elektronik khusus penghisap serangga. "Ini bukan lagi kampung, justru kita yang kampungan," ujar seorang teman jurnalis ketika ikut meliput proses penglepasliaran harimau di TWNC beberapa bulan yang lalu. MEZA SWASTIKA/ERLIAN/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Oktober 2008

Traveling: Pulang Kampung ke Tampang Belimbing

KAWASAN Tampang Belimbing (Tambling), bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, ini dikenal angker. Bukan hanya karena hewan buas, melainkan juga karena polisi kehutanan dengan senjata M-16 semiotomatisnya yang mengawasi pendatang tak dikenal.

----

Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TNWC) hanya seluas 100 hektare dari luas lahan TNBBS yang sekitar 52 ribu hektare. Tanah ini meliputi tanah Marga Belimbing.

Kawasan ini agak terpencil karena berada di kaki Pulau Sumatera. Bersama Jaja Subagya, seorang kerabat yang tinggal di Pekon Tampangtua, tak jauh dari lokasi itu, Erlian dan Meza Swastika dari Lampung Post mengisi waktu libur Lebaran dengan berkunjung ke daerah ini beberapa waktu lalu.

Perjalanan dengan kapal motor dari dermaga Kotaagung, Tanggamus, menuju Pekon Tampangtua benar-benar melelahkan. Waktu dua jam habis hanya dengan memandangi lautan luas Teluk Semangka yang dulu dikenal sebagai teluk tempat persinggahan kapal-kapal berbobot besar (very large cruise ship) seperti kapal pengangkut bahan bakar milik Pertamina dan kapal asing lainnya.

Gelombang laut yang besar membuat kami tidak bisa tidur, karena kapal bergoyang ke sana kemari, perut rasanya hendak muntah. Tetapi, Jaja, pemuda abege ini terus meyakinkan kami bahwa setiba di sana situasinya akan jauh berbeda. "Om pasti senang di sana, karena ada pantai yang ada gunungnya. Atau nanti Om juga bisa minum air dugan (kelapa muda, red)," kata Jaja berusaha menghibur kami yang lelah.

Namun, kami berdua sudah benar-benar malas menanggapi Jaja yang terus membuka percakapan dengan kami. Gelombang yang agak tinggi membuat Pulau Tabuan di sisi utara kapal motor kami terlihat timbul tenggelam.

Tepat pukul 12.00 kapal baru sedikit menepi ke pantai Pekon Tampangtua. Karena dasar pantai terlalu dangkal, kapal penumpang tidak bisa langsung bersandar ke tepi pantai. Dan penumpang, termasuk kami, dijemput dengan perahu dayung.

Sambutan penduduk dan suasana sekitar memang menjadi obat lelah buat kami. Penduduk Tampangtua cukup ramah. Jaja menjelaskan jika orang "asing" datang, warga yang mayoritas suku Sunda itu sangat welcome.

Suasana perkampungan di Pekon Tampangtua masih sangat terasa. Rumah-rumah kayu penduduk berjejer tidak beraturan, ada yang menjorok ke dalam dengan pekarangan yang dijadikan perkebunan singkong.

Di rumah Jaja, sambutan keluarganya sangat ramah. Dua piring sekubal (ketan yang dibungkus dengan daun, red) dan semangkuk sambal goreng ati ayam menjadi menu penyambut kedatangan kami. Luar biasa.

Sedikit basa-basi, Mang Uci, kakak tertua Jaja, bercerita kepada kami bahwa banyak ternak warga habis disantap oleh harimau asal Taman Nasional Gunung Leuser Aceh yang dilepas di Tambling. Warga pekon sudah tidak bisa berpikir lagi.

"Terlebih-lebih warga yang tinggal di Way Pengekahan. Padahal, mereka keturunan Marga Belimbing. Sejak dilepaskan harimau, mereka tidak bisa bekerja ke kebun lagi. Dulu, di sini ada kebiasaan menghidupkan obor untuk jalan kampung menjelang magrib. Tetapi sejak harimau dilepas di sini, tradisi itu hilang," cerita Mang Uci.

Meski miris mendengarnya, kami tidak ingin terlalu larut dengan cerita itu. Jaja mengajak kami naik sepeda motor trail keliling kampung. Kemudian menuju ke Tambling Nature Wildlife yang dikelola pengusaha Tomy Winata (TW).

Sepanjang perjalanan, pemandangan kontras ada di dua sisi. Di sisi kanan, gugusan Bukit Barisan yang sudah gundul laksana benteng. Di sisi kiri, ombak besar Samudera Hindia menghempas-hempas ke pantai. Ini sungguh potensi pariwisata yang besar.

Dulu, di kawasan ini menjadi hal yang lumrah menjumpai hewan-hewan liar. Namun, penduduk yang selain penduduk pendatang juga penerus keturunan Marga Belimbing, bisa hidup berdampingan dengan hewan-hewan di sini. Bahkan, harimau asli Sumatera disebut oleh warga sebagai "Tamong" yang berarti buyut buat penduduk setempat. Namun, sebutan itu tidak kepada lima ekor harimau yang ditangkap dari Taman Nasional Gunung Leuser Aceh yang dilepaskan di kawasan ini.

Kini, ada dilema lain yang terjadi. Sekitar 200 kepala keluarga kini mulai waswas beraktivitas. Mereka yang tinggal di Desa Way Pengekahan dan Desa Way Haru harus menjaga jiwa raganya dari ancaman hewan buas itu. "Sekarang kami yang harus menyesuaikan dengan harimau-harimau yang dilepas itu agar tidak jadi mangsa para 'Tamong' dari Aceh itu," ujar salah seorang warga Way Pengekahan yang kami temui.

Dengan suasana yang serba tidak jelas itu, warga berharap segera direlokasi. Meski itu tanah keturunan mereka dari Marga Belimbing, salah satu marga tertua di Kabupaten Lampung Barat.

Akhirnya, kunjungan ini tak lebih sebagai silaturahmi, tidak ada sisipan wisata yang menarik. Hanya obor-obor yang dipasang di jalan-jalan kampung (saat Lebaran), yang membuat ada nostalgia. Bukan keunggulan, memang, tetapi karena listrik belum ada di sini. n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Oktober 2008

October 11, 2008

Lampung Ikuti Konferensi Internasional Warisan Dunia

Bandarlampung, 11/10 (ANTARA) - Provinsi Lampung mengikuti Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia yang diagendakan berlangsung di Solo, Jawa Tengah, 25-30 Oktober 2008 mendatang.

Salah satu utusan Lampung itu, Ch Heru Cahyo Saputro, didampingi utusan lainnya, Hari Jayaningrat, kepada ANTARA Lampung, Sabtu, menjelaskan, dalam Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia "Euro-Asia World Heritage Cities Conference & Expo" akan mengusung tema "Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan".

Heru yang juga Direktur Eksekutif Jung Foundation, peneliti folklore pada Sekelek Institute Publishing House menyampaikan pula penjelasan dari Ketua Panitia Pelaksana konferensi itu, Dra Sri Sumaryati MM bahwa forum tersebut didedikasikan untuk pelestarian terintegrasi warisan budaya benda dan takbenda pada kota-kota bersejarah.

Kota itu, utamanya yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, atau kota-kota yang memiliki warisan budaya takbenda yang diakui oleh UNESCO atau Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan.

Konferensi yang digelar setiap dua tahun sekali ini mengumpulkan para pakar perekonomian kota, juga para walikota, politikus dan birokrat yang serta memberikan kesempatan guna bertukar pengalaman dan mendiskusikan berbagai masalah terkait.

Kawasan Euro-Asia dari organisasi Kota-kota Warisan Dunia Zona Euro-Asia (The Organization of World Heritage Cities of Euro-Asia Section), yang didirikan pada tahun 2003, adalah penyelenggara utama konferensi ini.

Konferensi yang pertama diselenggarakan di Kazan tahun 2004. Kemudian pada tahun 2005 konferensi diselenggarakan di Safranbolu (Turki) dan di Lijiang (Cina) tahun 2006.

Pada konferensi itu akan tampil sebagai keynote speaker antara lain Rieks Smeets (Ketua Divisi Warisan Budaya Takbenda UNESCO), Eugeneo Yunis (Ketua Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Badan Pariwisata Dunia (WTO), dan Walter Santagata (Guru Besar Keuangan Publik dan Ekonomi Budaya, Universitas Turin, Italia).

Dalam konferensi Internasional yang menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Rusia sebagai bahasa resmi ini, juga akan digelar workshop tentang warisan budaya takbenda yang mengusung dua topik: Ketrampilan Tradisional dan Seni Pertunjukan.

Workshop wayang dengan pengarah Prof Dr Sutarno, workshop keris dengan pengarah Dr Haryo Guritno, Workshop Gamelan dengan pengarah Prof Dr Rahayu Supanggah, dan Workshop Batik akan menghadirkan Dr Darsono.

Selain itu, juga digelar poster session dan field trip to world heritage ke Candi Borobudur, Prambanan, Kraton Kasunan, Kampung Wisata Kauman dan Laweyan serta Galeri Batik Kuno.

Pada konferensi ini, Organisasi Kota-kota Warisan Dunia (OWHC) untuk pertama kalinya mengangkat isu perlindungan warisan budaya takbenda dan pemanfaatannya dalam meningkatkan pembangunan ekonomi kota.

Konsep warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) meliputi adat istiadat dan upacara, perayaan, tradisi oral dan ketrampilan atau kerajinan dikenal sebagai bagian dari warisan budaya dan diwariskan dari generasi ke generasi.

"Dewasa ini seiring perkembangan kota dan globalisasi tradisi unik setiap kebudayaan ini menghadapi resiko kepunahan padahal mereka bisa menjadi sumberdaya peningkatan ekonomi," ujar Heru yang juga mendapatkan penjelasan tentang kesiapan Solo melalui Walikotanya, Joko Widodo menjadi tuan rumah perhelatan internasional itu.

Salah satu contoh warisan budaya takbenda paling terkenal di dunia adalah karnaval tahunan di Rio de Janeiro.

Peristiwa ini menyedot perhatian dari ratusan ribu pengunjung ke Brazil setiap tahun.

Adapula tradisi kultural yang tidak asing lagi seperti Matador di Spanyol, teater Jepang Kabuki, dan sebagainya.

Selain menyimbolkan keunikan setiap budaya, mereka juga mengembangkan ekonomi dengan meningkatkan arus kedatangan pengunjung. Interaksi antara warisan budaya dan ekonomi menghasilkan berbagai peluang serta tantangan baru bagi pembangunan.

Masalah perlindungan dan pemanfaatan warisan budaya takbenda ini, sangatlah mendesak dewasa ini, kata dia lagi.

Menurut catatan Konvensi Internasional yang diadopsi oleh UNESCO pada tahun 2003, yaitu "Konvensi untuk perlindungan Warisan Budaya Takbenda" (Convention for The Safeguarding of Intangible Cultural Heritage) membawa isu pelestaraian semacam ini ke tingkat global.

Perlindungan warisan budaya meliputi tindakan-tindakan yang mampu menjamin vitalitas dan dapat memfasilitasi kelangsungannya dalam berbagai aspek.

Implementasi Konvensi ini ditujukan pada terarahnya perhatian publik terhadap masalah ini, terbukanya berbagai metode dan cara pelestarian warisan budaya takbenda serta terkumpulnya dana yang dapat mendukung kegiatan-kegiatan dalam hal ini.

Bersamaan dengan konvensi ini, UNESCO juga mengadopsi tiga dokumen penting lain, yaitu Proclamation of Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Dokumen-dokumen ini berisi 90 fenomena cultural yang diakui sebagai warisan budaya takbenda bagi kemanusiaan.

Sumber: Antara, Sabtu, 11 Oktober 2008

October 10, 2008

Dinas Siapkan Gebyar Pesona Lombok Ranau II

LIWA (Lampost): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Barat bersama Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR) Lambar mempersiapkan pelaksanaan Gebyar Pesona Lombok Ranau II 2008 yang akan dilaksanakan 25--26 Oktober.

Ketua MPDR Lambar Rusdi Effendi mengatakan demi memeriahkan dan menykseskan Gebyar Pesona Lombok Ranau kali ini, pihaknya tengah melakukan persiapan bersama Dinas Pariwisata Lampung Barat. Di antaranya menata lokasi lomba di sekitar Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort.

Kegiatan tersebut, kata dia, sebagai wujud kesadaran masyarakat sekitar Danau Ranau wilayah Lampung Barat dalam menunjang program pemerintah di bidang pariwisata, yakni dengan memberikan tontonan dan sajian bagi pengunjung.

Adapun lomba yang akan dilaksanakan di antaranya tarik tambang jukung, memanah (ngera'as) ikan di Danau Ranau, karnaval motor hias, dan triatlon tradisional. "Kami sadar Danau Ranau kekayaan yang tidak ternilai bagi kami. Selain memiliki potensi perikanan, juga ada pesona Danau Ranau dan Gunung Seminung yang banyak menarik wisatawan," kata dia.

Sementara Kabag Pengembangan dan Hubungan Antarlembaga Dinas Pariwisata dan kebudayaan Lambar Surizal Zikri mengatakan kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau mengambil tema Dengan Gebyar Pesona Lombok Ranau II Tahun 2008, kita galang kebersamaan dalam menyongsong Visit Lampung Year 2009.

Menurut Surizal, dalam kegiatan tersebut, peserta akan memperebutkan berbagai hadiah menarik, seperti uang pembinaan, piagam, dan trofi. Selain itu, pengunjung juga akan mendapatkan door prize dari sejumlah sponsor.

Demi semaraknya kegiatan tahunan dengan objek danau tersebut, pihaknya akan bekerja sama dengan masyarakat sekitar Danau Ranau. "Pengembangan sektor pariwisata bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat, sehingga dalam kegiatan ini kami melibatkan masyarakat," ujarnya. n HEN/D-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 10 Oktober 2008

Hijau Daun Luncurkan Album 'Ikuti Cahaya'

BAND Hijau Daun merilis album perdana Ikuti Cahaya dengan menggandeng label Sony BMG. Dengan mengusung lagu beraliran pop progresif ini, Hijau Daun menyuguhkan nuansa khas di belantika musik.

Grup band asal Lampung yang terdiri dari lima personel, Dide (vokal), Array dan Arya (gitar), Deny (drum), dan Richan (bas), telah dikontrak label Sony BMG sejak 31 April 2008, untuk tiga album, di luar album kompilasi, religi, akuistik, dan soundtrack.

"Syukur alhamdulillah perjalanan kami yang sejak tahun 2001 ini berbuah pada peluncuran album perdana yang telah dirilis akhir Agustus lalu oleh Sony BMG yang untuk tahap awal ini ada sekitar lima ribu kopi," terang Dide didampingi personel dan manajer Hijau Daun saat bertandang ke Lampung Post, Kamis (9-10).

Dide memaparkan pembuatan album perdana ini memakan waktu selama enam bulan yang penggarapannya dilakukan di Bandung. "Memang ada anggapan Hijau Daun ini bandnya Bandung, tetapi kami menyatakan Hijau Daun ini berasal dari Lampung, kota kelahiran kami," papar Dide yang diamini Array, Arya, Deny dan Agung.

Karena itu, Hijau Daun pun telah roadshow ke beberapa radio di Bumi Lampung dan kota lainnya. "Alhamdulillah respons terhadap album kami cukup bagus baik di Lampung maupun di beberapa kota di Tanah Air, bahkan kami menempati peringkat atas," papar vokalis Hijau Daun ini. Untuk mempromosikan albumnya, Hijau Daun pun sudah memiliki jadwal tampil dalam Hip Hip Hura di SCTV pada 12 Oktober mendatang (langsung) pukul 10.00, di Klik ANTV pada 15 Oktober, dan 0 Chanell Jakarta keesokan harinya.

Soal nama bandnya yang cukup unik, Hijau Daun, Dide mengungkapkan filosofinya berasal dari klorofil yang memberikan oksigen bagi kehidupan. Sehingga Hijau Daun dapat memberikan oksigen baru dalam kehidupan musik, pungkasnya. n SAG/L-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 10 Oktober 2008

October 9, 2008

Mahasiswa Lampung Se-Jawa Sosialisasikan Budaya Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Mahasiswa asal Lampung yang sedang menempuh studi di Pulau Jawa berkomitmen menyosialisasikan dan mengembangkan seni dan budaya Lampung di tempat mereka kuliah.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan forum mahasiswa Lampung se-Jawa di Lampung Post, Selasa (7-10). Kegiatan dihadiri pengurus Himpunan Mahasiswa Lampung (Hipmala) Yogyakarta, Persatuan Mahasiswa Lampung (Permala) Jakarta, Kamapala Semarang, dan Ikatan Mahasiswa Lampung (Ikamala) Solo.

Ketua Permala Jakarta, Erwin Sanjaya, mengatakan sesuai dengan visi dan misi organisasi mahasiswa Lampung di Jakarta, setiap mahasiswa Lampung yang studi di Jakarta mengemban tugas sebagai duta Lampung, yaitu memperkenalkan seni dan budaya Lampung kepada khalayak ramai, baik dalam bentuk seminar ataupun pergelaran seni.

Dia mencontohkan anjungan Lampung bisa dilihat pengunjung pergelaran seni budaya di Taman Mini Jakarta. "Kami yang berada di luar daerah sangat peduli terhadap seni dan budaya Lampung. Sebab itu, kami miris mengetahui bahasa Lampung masuk salah satu bahasa dan sastra daerah yang terancam punah," kata Erwin.

Ketua Hipmala Yogyakarta, Jaka Mirdinata, mengatakan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin, penampilan seni dan budaya Lampung dalam pentas Sakura di Yogyakarya meraih peringkat lima besar. Bahkan, Hipmala memiliki sanggar seni budaya Lampung yang selalu tampil dalam berbagai acara kesenian dan peringatan hari besar nasional.

Sementara itu, Humas Kamapala Semarang, Hamdani dan pengurus Ikamala Solo, Alfajri Amin mengatakan pendirian organisasi mahasiswa Lampung di Semarang dan Solo terhitung masih baru. Sebab itu, mereka belajar banyak dari Hipmala Yogyakarta dan Permala Jakarta.

"Lampung tidak akan menjadi besar tanpa ada yang membesarkannya, karena itu kita sebagai mahasiswa Lampung mengemban amanah mengembangkan seni dan budaya Lampung," kata Hamdani.

Sementara itu, salah seorang anggota lembaga penyelamat dan pengembang seni dan budaya Indonesia, Jakarta, Aliza, mengatakan matinya bahasa dan sastra Lampung diakibatkan orang Lampung sendiri.

Selain rasa tidak percaya diri menggunakan bahasa Lampung dalam keseharian, orang Lampung juga memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap orang lain. Ketika dalam sebuah forum terdapat orang bukan Lampung, orang Lampung memilih menggunakan bahasa Indonesia.

Salah satu cara menghidupkan kembali bahasa ibu itu adalah dengan menggunakan bahasa Lampung dalam keseharian. Begitu juga dengan mahasiswa Lampung yang berada di luar daerah, harus melestarikan bahasa, seni, dan budaya Lampung. n RIN/N-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 9 Oktober 2008

October 8, 2008

Topeng Lampung dalam Pesta Sekura


PESTA SEKURA: Belum diketahui dengan pasti, sejak kapan masyarakat Lampung mengenal topeng yang dapat dijadikan media untuk menggambarkan berbagai karakter dan mimik wajah. Ada sedih, marah, senyum hingga tertawa. Topeng Lampung merupakan salah satu produk seni budaya masyarakat Lampung yang dapat dilihat pada pesta Sekura (Sekuraan) dalam memperingati Idulfitri dan drama tari Tupping. (MI/SULISTIONO)

October 6, 2008

Lebaran: Pengunjung Disuguhi Pesona Danau Ranau

LIWA (Lampost): Libur Lebaran tahun ini dimanfaatkan warga di sejumlah wilayah Lampung Barat untuk menikmati sejumlah objek wisata. Objek wisata yang ramai dikunjungi warga, di antaranya lokasi Pantai Labuhan Jukung, Ngambur, dan Pantai Melasti di wilayah Sumberjaya.

Kawasan rest area dijejaki masyarakat sekitar kecamatan itu. Kawasan Wisata Semining Lumbok Resort yang menawarkan pesona Danau Ranau dan Gunung Seminung, bahkan di Kecamatan Batu Brak, Balik Bukit, dan Sukau menyajikan tontonan panjat pinang dan pawai topeng sakuraan.

Di Danau Ranau, warga memadati wisata andalan Lampung Barat tersebut, yakni dengan mengitari danau menggunakan jasa kapal motor, bahkan ada juga yang bersama keluarganya menikmati susana danau dengan acara makan-makan.

Pengunjung yang datang bersama teman dan keluarganya itu tidak hanya dari wilayah Kecamatan Lampung Barat, tetapi juga dari sejumlah Kecamatan di OKU, Sumatera Selatan. "Di sini lokasinya bagus, dan masih sejuk," kata salah seorang pengunjung.

Manajemen Seminung Lumbok Resort menyajikan sejumlah permainan hingga hiburan untuk membuat betah pengunjung yang datang. "Kami berusaha memberikan pelayanan maksimal untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada pengunjung," kata Marhasan Sama, manajer Seminung Lumbok Resort.

Lomba panjat pinang di sejumlah pekon (desa) di Kecamatan Sukau, Balik Bukit, dan Batu Brak, sangat semarak dan warga menikmati tontonan tersebut. Bahkan tidak jarang di tempat acara menjadi pasar kaget seperti di Pekon Canggu, Batu Brak.

Sementara di wilayah Pesisir, lokasi kapal kargo dari Panama, yang karam di Pantai Melasti dua bulan lalu, menjadi objek tontonan baru bagi warga, sehingga dalam waktu liburan Lebaran bersama keluarganya menyempatkan datang ke lokasi tersebut.

"Informasinya sudah tahu kalau ada kapal besar yang karam, tetapi belum sempat datang, jadi kebetulan lagi kumpul bersama keluarga sekalian aja ke sini," kata Rin, warga setempat, Minggu (5-10).

Budaya berwisata pada Hari Raya Idul Fitri tersebut, memang sudah dilakukan warga Lampung Barat, selain memanfaatkan waktu libur juga karena sedang berkumpul bersama keluarga. n HEN/D-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 6 Oktober 2008

October 4, 2008

Way Kambas Penuh Pengunjung

LABUHANRATU (Lampost): Pusat Latihan Gajah (PLG) menjadi objek wisata terkemuka di Lampung Timur, menjelang Lebaran ke tiga (H+3), ribuan pengunjung memenuhi Taman Nasional Way Kambas tersebut.

Kepala Seksi III Way Kambas Ida Bagus Nyoman Rai mengatakan tiap hari raya keagamaan seperti Idulfitri atau Natal, Way Kambas dijadikan tempat pariwisata paling terfavorit, khususnya di Lampung Timur.

"Bahkan, bukan hari besar keagamaan saja, hari ulang tahun Way Kambas yang jatuh tiap Desember, Way Kambas menjadi objek kaula muda bahkan orang dewasa dan anak-anak. Jika dilihat dari pengalaman kami, puncaknya pengunjung jatuh pada H+7," kata dia, Jumat (3-10).

Menurut dia, guna kenyamanan pengunjung tempat wisata Way Kambas, pihaknya memberikan pengamanan ekstraketat. Selain dari pihak polisi hutan (Polhut) dibantu jajaran Kepolisian Labuhan Ratu.

"Tidak menutup kemungkina dari ribuan pengunjung dan ratusan kendaraan berbagai jenis sepeda motor ataupun kendaraan roda empat yang datang dari berbagai daerah, terjadi lakalantas, perkelahian atapun pemerasan, sehingga kami meminta pihak Polri dan Polhut guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Nyoman.

Sementara itu, selain memberikan kenyamanan dan pengamanan kepada pengunjung, pihaknya menyediakan berbagai jenis hiburan jasa, seperti permainan gajah, dari menari, sepak bola, dan berbagai jenis permainan lainnya.

Nanda salah satu pengunjng dari Kota Metro, mengaku pihak memilih mencari tempat wisata di Way Kambas saat Lebaran karena tertarik dengan berbagai jenis permainan gajah. Selain itu, Way Kambas juga terkesan ramai pengunjung dan terlihat aman.

Di Lampung hanya di sini (Way Kambas), yang memiliki tempat wisata yang luas dan berbagai hiburan yang dimainkan gajah. Selain itu tempatnya juga sejuk dan keamanannya terjamin, kata Nanda usai naik gajah.

Pemantauan Lampung Post, Jumat (3-10), selain di Way Kambas, Danau Way Jepara juga dijadikan tempat wisata beberapa kalangan anak muda, guna menikmati Lebaran sembari membawa pasangannya.n */D-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 4 Oktober 2008