Bandar Lampung, Kompas - Serikat Tani Indonesia atau Sertani menilai ketergantungan petani akan pupuk kimia sangat tinggi, sementara ketersediaan pupuk bersubsidi masih minim. Oleh karena itu, Sertani mengajak petani kembali kepada kearifan lokal untuk memupuk dengan pupuk organik dan memendam sisa tanaman sebagai upaya mengembalikan kesuburan tanah.
Ketua Umum Sertani Anang Prihanto, Rabu (10/12), pada acara Forum Rapat Anggota Nasional Setani di Bandar Lampung mengatakan, kemampuan pemerintah menyediakan pupuk sangat terbatas. ”Pemerintah belum bisa menyediakan secara penuh kebutuhan petani,” ujarnya.
Anang mencontohkan, untuk Lampung, dari kebutuhan 360.000 ton pupuk urea bersubsidi, pemerintah hanya mampu menyediakan 42 persen. Sedangkan kebutuhan petani sangat tinggi.
Menurut Anang, masalah kekurangan pupuk diperparah pula dengan praktik pemupukan yang tidak tepat. Petani lebih suka memupuk dalam jumlah banyak atau melebihi rekomendasi pemupukan.
Pemupukan secara berlebih mengakibatkan kondisi tanah rusak. Secara umum, kondisi tanah yang sudah mengalami pemupukan terus-menerus dengan pupuk kimia mengalami penurunan kandungan bahan organik 1-2 persen dari idealnya sekitar 5 persen.
Di Lampung, hampir semua lahan sawah di sentra padi sudah mengalami pengurangan kandungan bahan organik. Di antaranya di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Lampung Utara. Sedangkan lahan sawah di sentra padi di Kabupaten Pesawaran atau Kota Agung masih mengandung bahan organik yang bagus.
Anang mengatakan, untuk mengembalikan kandungan bahan organik dalam tanah, petani bisa melakukan dua langkah mudah. Petani bisa menggunakan pupuk organik yang sudah didekomposisi atau diubah menjadi kompos untuk memupuk tanaman padi atau menguburkan kembali sisa-sisa tanaman padi untuk mengembalikan bahan organik.
Namun, sampai saat ini kesadaran petani untuk memupuk dengan pupuk organik rendah. Untuk itu, pemerintah sebaiknya bekerja sama dengan petani agar mereka menggunakan pupuk organik. (hln)
Sumber: Kompas, Kamis, 11 Desember 2008 | 02:23 WIB
December 11, 2008
Budaya: Lambar Gelar 'Himpun Agung'
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pelajar dan mahasiswa asal Lampung Barat di Yogyakarta yang terhimpun dalam Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Lampung Barat (IKPM Lambar) menggelar himpun agung (dialog dan pentas seni), Sabtu (6-12), di Hotel Satya Graha Yogyakarta.
Novan Adi Putra, panitia acara tersebut, Rabu (10-12), mengatakan acara tersebut diisi pementasan tari Sai Batin, tari Kipas, dan tari Sekura. Selain itu, peluncuran situs IKPM Lambar dan penandatanganan laporan penelitian tentang alat musik serdam yang diresmikan Bupati Mukhlis Basri.
Di acara itu diadakan dialog antara Bupati Lampung Barat dan mahasiswa dan masyarakat Lampung Barat di Yogyakarta. Selain Bupati, tampak hadir pejabat di jajaran Pemkab Lambar, anggota DPRD, dan Sholeh U.G., utusan Pangeran Edwarsyah Pernong yang berhalangan hadir.
Para sesepuh masyarakat Lampung Barat-Yogyakarta yang hadir, antara lain Darmawan Manaf, Triyadi Mulkan, Topan Satir, dan Suparman.
Acara kemudian dirangkai dengan dialog yang bertema Sang bumi sai hati beguai jejama munuju Lampung Barat yang percaya diri dan menjunjung kelestarian budaya lokal.
Dr. Syamsul Arifin Siradz yang menjadi salah satu narasumber memberikan saran kepada Pemkab Lambar agar kebudayaan lokal terus dipertahankan melalui pembelajaran di sekolah. Sehingga, para pemuda mengetahui dan mencintai budaya dan tradisinya.
Sedangkan Pahril Hutri Saysukau, Ketua IKPM Lambar, mengatakan segala kegiatan IKPM adalah wujud rasa cinta pada Lampung Barat. Dalam malam himpun agung tersebut, Bupati Lampung Barat memberikan uang pembinaan Rp10 juta kepada Ketua IKPM Lambar. Dia juga menjanjikan sekretariat (asrama) guna kegiatan IKPM Lambar sekaligus etalase budaya dan pariwisata Lampung Barat di Yogyakarta. n UNI/S-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 11 Desember 2008
Novan Adi Putra, panitia acara tersebut, Rabu (10-12), mengatakan acara tersebut diisi pementasan tari Sai Batin, tari Kipas, dan tari Sekura. Selain itu, peluncuran situs IKPM Lambar dan penandatanganan laporan penelitian tentang alat musik serdam yang diresmikan Bupati Mukhlis Basri.
Di acara itu diadakan dialog antara Bupati Lampung Barat dan mahasiswa dan masyarakat Lampung Barat di Yogyakarta. Selain Bupati, tampak hadir pejabat di jajaran Pemkab Lambar, anggota DPRD, dan Sholeh U.G., utusan Pangeran Edwarsyah Pernong yang berhalangan hadir.
Para sesepuh masyarakat Lampung Barat-Yogyakarta yang hadir, antara lain Darmawan Manaf, Triyadi Mulkan, Topan Satir, dan Suparman.
Acara kemudian dirangkai dengan dialog yang bertema Sang bumi sai hati beguai jejama munuju Lampung Barat yang percaya diri dan menjunjung kelestarian budaya lokal.
Dr. Syamsul Arifin Siradz yang menjadi salah satu narasumber memberikan saran kepada Pemkab Lambar agar kebudayaan lokal terus dipertahankan melalui pembelajaran di sekolah. Sehingga, para pemuda mengetahui dan mencintai budaya dan tradisinya.
Sedangkan Pahril Hutri Saysukau, Ketua IKPM Lambar, mengatakan segala kegiatan IKPM adalah wujud rasa cinta pada Lampung Barat. Dalam malam himpun agung tersebut, Bupati Lampung Barat memberikan uang pembinaan Rp10 juta kepada Ketua IKPM Lambar. Dia juga menjanjikan sekretariat (asrama) guna kegiatan IKPM Lambar sekaligus etalase budaya dan pariwisata Lampung Barat di Yogyakarta. n UNI/S-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 11 Desember 2008
Prestasi: Putri Lampung Juara Melukis Internasional di China
BANDAR LAMPUNG--Chintia Jaya Malini (15) meraih juara umun pada ajang Global Art Internasional Competition yang diselenggarakan di Guangzhou, China, 30 November lalu.
Anak pertama pasangan Meghanathan dan Nourmalasari ini mengalahkan pesaingnya dari 18 negara. Di antaranya, dari Malaysia, Singapura, Thailand, India, China, Yordania, Australia, Kanada, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Para juri juga berasal dari 18 negara sebagai perwakilan lembaga bimbingan seni lukis itu.
Walau sudah dua kali mengikuti event di tingkat internasional, Chintia mengaku sempat grogi ketika melihat para pesaingnya. "Deg-degan, soalnya para peserta berasal dari berbagai negara, terus lukisan mereka bagus-bagus juga," kata Chintia didampingi ibunya, Nourmalasari dan guru seni lukis di Sekolah Darma Bangsa (SDB), Kismanu, di kantor redaksi Lampung Post, Rabu (10-12) malam.
Menurut Chintia, tema lukisan Global Art International Competition tentang Global warming sudah diberitahukan kepada peserta ketika mengikuti ajang Global Art di tingkat nasional yang diselenggarakan di Jakarta, Agustus lalu.
Dengan demikian, Chintia berlatih dan dibimbing guru ekstrakurikuler sekolahnya secara rutin. Hal itulah yang memperkuat mentalnya untuk tetap tenang dan konsentrasi saat beraksi di ajang internasional itu. Lomba yang diselenggarakan Minggu (30-11) itu berlangsung dua jam, mulai pukul 09.00. Pemenangnya langsung diumumkan saat itu juga, sekitar pukul 12.00.
Chintia melukis dampak pemanasan global berupa banjir yang menghancurkan tembok China, keluarga panda berusaha menyelamatkan diri di batang-batang bambu, pagoda-pagoda bertumbangan, sedangkan pabrik-pabrik di tengah kota masih berdiri megah.
"Karena diselenggarakan di China, jadi semuanya saya hubungkan dengan China, seperti panda, pakaian, pagoda, bangunan, tembok China," kata pelajar yang tinggal di Jalan Serbajadi, Pemanggilan, Natar tersebut.
Beberapa prestasi yang telah ditorehkan Chintia di antaranya juara II lomba lukis Lampung Post tahun 2005, juara I lomba lukis di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Bandar Lampung, juara I Porseni Provinsi Lampung, dan 10 besar Porseni nasional yang diselenggarakan di Makassar.
Chintia juga dua kali unjuk gigi di ajang International Drawing Competition di Kuala Lumpur, Malaysia. Di Global Art, Chintia juga berkali-kali meraih juara, yaitu juara I Global Art Regional, juara I Global Art Nasional, dan juara umum di ajang Global Art Internasional.
Chintia yang bercita-cita menjadi seorang desainer fashion itu berencana melanjutkan pendidikan ke Lim Ko Wing University, Kuala Lumpur. Sebab, selain dekat dengan Indonesia, universitas itu memiliki jurusan Desainer Fashion.
Nourmalasari mengatakan bakat anaknya tumbuh secara alami. Sejak usia 3 tahun, Chintia sudah senang melukis gambar kartun. Tidak heran, kini, 359 piala di bidang seni lukis menghiasi rumah dan kamarya.
"Setiap menonton Sponge Bob dan Dora Emon, dia melukis persis sekali gambarnya," kata Nourmalasari. Namun, saat itu Nourmalasari tidak mengerti bagaimana cara mengasah bakat anaknya.
Akhirnya, Chintia kursus privat dengan Kismanu. Selanjutnya masuk Global Art. Ketika masuk SDB, Chintia kembali bertemu Kismanu yang ternyata menjadi guru ekstrakurikuler seni lukis. n RIN/R-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 11 Desember 2008
Anak pertama pasangan Meghanathan dan Nourmalasari ini mengalahkan pesaingnya dari 18 negara. Di antaranya, dari Malaysia, Singapura, Thailand, India, China, Yordania, Australia, Kanada, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Para juri juga berasal dari 18 negara sebagai perwakilan lembaga bimbingan seni lukis itu.
Walau sudah dua kali mengikuti event di tingkat internasional, Chintia mengaku sempat grogi ketika melihat para pesaingnya. "Deg-degan, soalnya para peserta berasal dari berbagai negara, terus lukisan mereka bagus-bagus juga," kata Chintia didampingi ibunya, Nourmalasari dan guru seni lukis di Sekolah Darma Bangsa (SDB), Kismanu, di kantor redaksi Lampung Post, Rabu (10-12) malam.
Menurut Chintia, tema lukisan Global Art International Competition tentang Global warming sudah diberitahukan kepada peserta ketika mengikuti ajang Global Art di tingkat nasional yang diselenggarakan di Jakarta, Agustus lalu.
Dengan demikian, Chintia berlatih dan dibimbing guru ekstrakurikuler sekolahnya secara rutin. Hal itulah yang memperkuat mentalnya untuk tetap tenang dan konsentrasi saat beraksi di ajang internasional itu. Lomba yang diselenggarakan Minggu (30-11) itu berlangsung dua jam, mulai pukul 09.00. Pemenangnya langsung diumumkan saat itu juga, sekitar pukul 12.00.
Chintia melukis dampak pemanasan global berupa banjir yang menghancurkan tembok China, keluarga panda berusaha menyelamatkan diri di batang-batang bambu, pagoda-pagoda bertumbangan, sedangkan pabrik-pabrik di tengah kota masih berdiri megah.
"Karena diselenggarakan di China, jadi semuanya saya hubungkan dengan China, seperti panda, pakaian, pagoda, bangunan, tembok China," kata pelajar yang tinggal di Jalan Serbajadi, Pemanggilan, Natar tersebut.
Beberapa prestasi yang telah ditorehkan Chintia di antaranya juara II lomba lukis Lampung Post tahun 2005, juara I lomba lukis di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Bandar Lampung, juara I Porseni Provinsi Lampung, dan 10 besar Porseni nasional yang diselenggarakan di Makassar.
Chintia juga dua kali unjuk gigi di ajang International Drawing Competition di Kuala Lumpur, Malaysia. Di Global Art, Chintia juga berkali-kali meraih juara, yaitu juara I Global Art Regional, juara I Global Art Nasional, dan juara umum di ajang Global Art Internasional.
Chintia yang bercita-cita menjadi seorang desainer fashion itu berencana melanjutkan pendidikan ke Lim Ko Wing University, Kuala Lumpur. Sebab, selain dekat dengan Indonesia, universitas itu memiliki jurusan Desainer Fashion.
Nourmalasari mengatakan bakat anaknya tumbuh secara alami. Sejak usia 3 tahun, Chintia sudah senang melukis gambar kartun. Tidak heran, kini, 359 piala di bidang seni lukis menghiasi rumah dan kamarya.
"Setiap menonton Sponge Bob dan Dora Emon, dia melukis persis sekali gambarnya," kata Nourmalasari. Namun, saat itu Nourmalasari tidak mengerti bagaimana cara mengasah bakat anaknya.
Akhirnya, Chintia kursus privat dengan Kismanu. Selanjutnya masuk Global Art. Ketika masuk SDB, Chintia kembali bertemu Kismanu yang ternyata menjadi guru ekstrakurikuler seni lukis. n RIN/R-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 11 Desember 2008
December 9, 2008
Kerusakan Alam: Hutan Bakau di Lampung Tergusur Usaha Tambak
Kalianda, Kompas - Kawasan hutan lindung bakau Register 1 Way Pisang yang sekaligus sabuk hijau di Ketapang, Lampung Selatan, terancam habis. Sekitar 400 dari 505,8 hektar hutan bakau sudah berubah fungsi menjadi tambak udang dan bandeng.
Petugas Dinas Kehutanan Lampung Selatan, Sabtu (6/12), mengamati batang-batang bakau yang dibabat warga di areal hutan lindung bakau Regsiter 1 Way Pisang di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. (KOMPAS/HELENA F NABABAN / Kompas Images)
Dari 400 hektar tambak di hutan lindung, sekitar 200 hektar di antaranya sudah bersertifikat hak milik. Dinas Kehutanan Lampung Selatan mencatat 40 nama pemilik tambak yang harus diperiksa. Selain itu, akan mengejar satu tersangka jual-beli lahan di kawasan hutan bakau.
Kepala Satuan Polisi Hutan Dinas Kehutanan Lampung Selatan Alwi, Sabtu (6/12) di lokasi Register 1 Way Pisang, Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, mengatakan, alih fungsi hutan bakau menjadi tambak diketahui terjadi sejak 1995. Tepatnya, saat usaha budidaya bandeng dan udang marak di Lampung.
Warga melakukan konversi lahan menjadi tambak. Akan tetapi, saat itu status kawasan Register 1 Way Pisang seluas 18.700 hektar terbagi atas kawasan hutan produksi tetap seluas 8.971 hektar dan sebagai kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas 9.729 hektar. ”Untuk bisa memanfaatkan lahan, harus ada pelaporan kepada Dinas Kehutanan,” ujar Alwi.
Alwi mengatakan, yang terjadi di lapangan, warga terus mengubah lahan kawasan menjadi tambak tanpa bisa dicegah. Bahkan saat Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan yang mengubah status Register 1 Way Pisang, dari hutan lindung menjadi hutan produksi pada tahun 2000, alih fungsi tidak terkendali dan terus terjadi.
Syamsu Rizal, Kepala Seksi Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Lampung, mengatakan, ditengarai alih fungsi lahan hutan lindung bakau seluas 505,8 hektar yang terletak di tiga desa di Kecamatan Ketapang terjadi akibat desakan ekonomi dan praktik jual-beli. Diperkirakan lahan seluas 200 hektar saat ini sudah bersertifikat dan dimiliki 100 orang.
Sukardi, anggota PAM Swakarsa Dinas Kehutanan Lampung Selatan yang bertugas mengawasi hutan lindung Register 1 Way Pisang, mengatakan, alih fungsi itu terlihat jelas. Hutan bakau yang semula sepanjang 12 kilometer, dengan tebal 200-1.200 meter, kini tinggal sepanjang 4.000 meter dengan ketebalan 50-300 meter.
Ditentang
Menurut Alwi, munculnya sertifikat lahan tambak tersebut menyulitkan Dinas Kehutanan untuk merehabilitasi hutan bakau yang sudah hilang. Warga pemilik tambak bersertifikat melawan dan menolak program penanaman bibit bakau.
Beberapa warga bahkan memukul Sukardi pada Agustus 2008 saat menanyakan kepemilikan lahan dan menyosialisasikan rehabilitasi bakau.
Untuk menyelesaikan kasus alih fungsi hutan lindung, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Kehutanan Lampung Selatan mulai memeriksa 40 nama dari 100 nama pemilik sertifikat lahan. Selain itu, Dinas Kehutanan juga terus memburu satu orang pelaku jual-beli lahan kawasan. (hln)
Sumber: Kompas, Selasa, 9 Desember 2008
Petugas Dinas Kehutanan Lampung Selatan, Sabtu (6/12), mengamati batang-batang bakau yang dibabat warga di areal hutan lindung bakau Regsiter 1 Way Pisang di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. (KOMPAS/HELENA F NABABAN / Kompas Images)Dari 400 hektar tambak di hutan lindung, sekitar 200 hektar di antaranya sudah bersertifikat hak milik. Dinas Kehutanan Lampung Selatan mencatat 40 nama pemilik tambak yang harus diperiksa. Selain itu, akan mengejar satu tersangka jual-beli lahan di kawasan hutan bakau.
Kepala Satuan Polisi Hutan Dinas Kehutanan Lampung Selatan Alwi, Sabtu (6/12) di lokasi Register 1 Way Pisang, Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, mengatakan, alih fungsi hutan bakau menjadi tambak diketahui terjadi sejak 1995. Tepatnya, saat usaha budidaya bandeng dan udang marak di Lampung.
Warga melakukan konversi lahan menjadi tambak. Akan tetapi, saat itu status kawasan Register 1 Way Pisang seluas 18.700 hektar terbagi atas kawasan hutan produksi tetap seluas 8.971 hektar dan sebagai kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas 9.729 hektar. ”Untuk bisa memanfaatkan lahan, harus ada pelaporan kepada Dinas Kehutanan,” ujar Alwi.
Alwi mengatakan, yang terjadi di lapangan, warga terus mengubah lahan kawasan menjadi tambak tanpa bisa dicegah. Bahkan saat Menteri Kehutanan mengeluarkan peraturan yang mengubah status Register 1 Way Pisang, dari hutan lindung menjadi hutan produksi pada tahun 2000, alih fungsi tidak terkendali dan terus terjadi.
Syamsu Rizal, Kepala Seksi Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Lampung, mengatakan, ditengarai alih fungsi lahan hutan lindung bakau seluas 505,8 hektar yang terletak di tiga desa di Kecamatan Ketapang terjadi akibat desakan ekonomi dan praktik jual-beli. Diperkirakan lahan seluas 200 hektar saat ini sudah bersertifikat dan dimiliki 100 orang.
Sukardi, anggota PAM Swakarsa Dinas Kehutanan Lampung Selatan yang bertugas mengawasi hutan lindung Register 1 Way Pisang, mengatakan, alih fungsi itu terlihat jelas. Hutan bakau yang semula sepanjang 12 kilometer, dengan tebal 200-1.200 meter, kini tinggal sepanjang 4.000 meter dengan ketebalan 50-300 meter.
Ditentang
Menurut Alwi, munculnya sertifikat lahan tambak tersebut menyulitkan Dinas Kehutanan untuk merehabilitasi hutan bakau yang sudah hilang. Warga pemilik tambak bersertifikat melawan dan menolak program penanaman bibit bakau.
Beberapa warga bahkan memukul Sukardi pada Agustus 2008 saat menanyakan kepemilikan lahan dan menyosialisasikan rehabilitasi bakau.
Untuk menyelesaikan kasus alih fungsi hutan lindung, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Kehutanan Lampung Selatan mulai memeriksa 40 nama dari 100 nama pemilik sertifikat lahan. Selain itu, Dinas Kehutanan juga terus memburu satu orang pelaku jual-beli lahan kawasan. (hln)
Sumber: Kompas, Selasa, 9 Desember 2008
December 7, 2008
[Profil] Menjalani Hidup seperti Air Mengalir...
RUMAH di tepi sawah itu tampak sepi. Tak ada pengawalan berlebihan, kecuali seorang anggota Satpol PP di pos jaga. Pintu utama dibiarkan terbuka. Begitu masuk, kami "disambut" sebuah patung banteng--tepatnya sapi Bali--dari kayu. Tanduknya runcing dengan kaki kiri terangkat.
Warna kursi di ruang utama berukuran 3 x 3 meter itu merah menyala. Sebuah jam besar berdiri di sudut kiri ruangan, pada dinding di sebelahnya terpajang kain tapis berbingkai kaca.
Setelah lima menit menunggu, si empunya rumah keluar kamar dengan kaos oblong putih dan sarung. "Baru selesai pijat," ujar Mukhlis Basri, sambil menyalami kami.
Ia menyapa dengan cara yang sama 10 tahun silam, ketika akan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Lampung Barat dari PDI Perjuangan; tetap ramah dan bersahabat. Tidak ada yang berubah.
"Dari dulu saya ya begini, tak ada yang berubah. Saya justru sering menegur teman-teman lama mengapa sekarang sikap mereka agak berbeda," ujar anak petani dari Sumber Jaya itu.
Sebelum menjadi bupati pun, Mukhlis memang memiliki pergaulan luas. Ia aktif di berbagai organisasi hingga akhirnya menakhodai PDI Perjuangan Lampung Barat. Sejak muda, Mukhlis sudah tertarik terjun ke politik. Dan, bidang itulah yang kini mengantarkannya meraih kursi bupati.
Namun, menapaki karier politik tak seindah yang dibayangkan anak-anak muda sekarang. Rezim otoriter Orde Baru selalu mengendalikan apa saja berbau politik dengan berbagai cara. "Saya sempat dipenjara dan ditelanjangi. Peristiwa itu tidak bakal saya lupakan," ujar Mukhlis.
Di lingkungan keluarganya, dunia politik bukan hal baru. Bahkan, jalur politik Mukhlis berbeda dengan sang ayah. Itu terjadi karena ayahnya mengembangkan budaya demokratis dalam keluarga dan memberi kebebasan pada putra-putrinya untuk menentukan pilihan sendiri. "Bapak saya Masyumi, kakak saya di partai lain, tetapi saya memilih PDI (Perjuangan). Ini pilihan hidup saya," kata ayah tiga putri itu.
Meskipun menempuh jalan berliku di jalur politik, Mukhlis tetap menjalaninya dengan setia. Ia melukiskan perjalanan hidupnya bagai air mengalir, semaunya mengalir saja menuju suatu tempat yang entah di mana. "Saya tak pernah punya cita-cita mau jadi apa. Keinginan saya dulu hanya satu, bisa sekolah tinggi agar tidak seperti ayah saya."
Prinsip air mengalir itulah yang dilakoninya hingga kini. Pun ketika ia "nekat" maju sebagai calon bupati pada Pilkada Lambar, 2007 lalu. "Maju pilkada kan harus punya dana besar. Saya tak punya modal, uang saya cuma tujuh puluh juta, ya cuma itulah yang ada di rekening saya," tutur penikmat kopi luak itu.
Sempat tebersit untuk maju lagi sebagai calon wakil bupati, tapi banyak yang tidak setuju, antara lain istrinya. "Kalau tidak sekarang maju sebagai calon bupati, lebih baik tidak selamanya. Kita kembali saja jadi petani," ujar Mukhlis menirukan ucapan sang istri.
Mendapat motivasi dari keluarga, semakin kuat semangatnya untuk maju sebagai calon bupati. Ia semakin optimistis karena dukungan mengalir dari teman-temannya dan masyarakat, baik dukungan moril maupun dana. "Saya tidak tahu, kok ada saja yang menyatakan siap membantu. Allah memberi begitu banyak kemudahan pada saya. Semua itu harus saya syukuri," kata dia di akhir perbincangan. N IDO/BAM
----------
BIODATA
Nama : Drs. Mukhlis Basri
Lahir : Sinarjaya, 24 Februari 1964
Pendidikan :
- SDN 1 Sinarjaya (1976)
- SMPN 1 Tanjungkarang (1980)
- SMUN 1 Tanjungkarang (1983)
- STIAL Jurusan Administrasi Negara (1990)
Pekerjaan:
- Sales Pestisida (1984--1988)
- Manajer KUD Sumberjaya (1989--1992)
- Ketua KUD Sumberjaya (1992--1999)
- Anggota DPRD Lambar (1999--2002)
- Wakil Bupati Lambar (2002--2007)
- Bupati Lambar (2007--sekarang)
Organisasi:
- HMI (1983--1984)
- Menwa (1984--1986)
- Pengurus KTNA Pemuda Lampung (1991)
- Ketua PAC PDI Sumberjaya (1992)
- Wakil Ketua DPC PDI-P Lambar (1998--2000)
- Ketua DPC PDI-P Lambar (2000--sekarang)
Keluarga :
Istri: Dra. Helwiyati Komala Dewi
Anak:
1. Lesty Putri Utami
2. Lestari Dwi Pertiwi
3. Laras Tri Handayani
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
Warna kursi di ruang utama berukuran 3 x 3 meter itu merah menyala. Sebuah jam besar berdiri di sudut kiri ruangan, pada dinding di sebelahnya terpajang kain tapis berbingkai kaca.
Setelah lima menit menunggu, si empunya rumah keluar kamar dengan kaos oblong putih dan sarung. "Baru selesai pijat," ujar Mukhlis Basri, sambil menyalami kami.
Ia menyapa dengan cara yang sama 10 tahun silam, ketika akan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Lampung Barat dari PDI Perjuangan; tetap ramah dan bersahabat. Tidak ada yang berubah.
"Dari dulu saya ya begini, tak ada yang berubah. Saya justru sering menegur teman-teman lama mengapa sekarang sikap mereka agak berbeda," ujar anak petani dari Sumber Jaya itu.
Sebelum menjadi bupati pun, Mukhlis memang memiliki pergaulan luas. Ia aktif di berbagai organisasi hingga akhirnya menakhodai PDI Perjuangan Lampung Barat. Sejak muda, Mukhlis sudah tertarik terjun ke politik. Dan, bidang itulah yang kini mengantarkannya meraih kursi bupati.
Namun, menapaki karier politik tak seindah yang dibayangkan anak-anak muda sekarang. Rezim otoriter Orde Baru selalu mengendalikan apa saja berbau politik dengan berbagai cara. "Saya sempat dipenjara dan ditelanjangi. Peristiwa itu tidak bakal saya lupakan," ujar Mukhlis.
Di lingkungan keluarganya, dunia politik bukan hal baru. Bahkan, jalur politik Mukhlis berbeda dengan sang ayah. Itu terjadi karena ayahnya mengembangkan budaya demokratis dalam keluarga dan memberi kebebasan pada putra-putrinya untuk menentukan pilihan sendiri. "Bapak saya Masyumi, kakak saya di partai lain, tetapi saya memilih PDI (Perjuangan). Ini pilihan hidup saya," kata ayah tiga putri itu.
Meskipun menempuh jalan berliku di jalur politik, Mukhlis tetap menjalaninya dengan setia. Ia melukiskan perjalanan hidupnya bagai air mengalir, semaunya mengalir saja menuju suatu tempat yang entah di mana. "Saya tak pernah punya cita-cita mau jadi apa. Keinginan saya dulu hanya satu, bisa sekolah tinggi agar tidak seperti ayah saya."
Prinsip air mengalir itulah yang dilakoninya hingga kini. Pun ketika ia "nekat" maju sebagai calon bupati pada Pilkada Lambar, 2007 lalu. "Maju pilkada kan harus punya dana besar. Saya tak punya modal, uang saya cuma tujuh puluh juta, ya cuma itulah yang ada di rekening saya," tutur penikmat kopi luak itu.
Sempat tebersit untuk maju lagi sebagai calon wakil bupati, tapi banyak yang tidak setuju, antara lain istrinya. "Kalau tidak sekarang maju sebagai calon bupati, lebih baik tidak selamanya. Kita kembali saja jadi petani," ujar Mukhlis menirukan ucapan sang istri.
Mendapat motivasi dari keluarga, semakin kuat semangatnya untuk maju sebagai calon bupati. Ia semakin optimistis karena dukungan mengalir dari teman-temannya dan masyarakat, baik dukungan moril maupun dana. "Saya tidak tahu, kok ada saja yang menyatakan siap membantu. Allah memberi begitu banyak kemudahan pada saya. Semua itu harus saya syukuri," kata dia di akhir perbincangan. N IDO/BAM
----------
BIODATA
Nama : Drs. Mukhlis Basri
Lahir : Sinarjaya, 24 Februari 1964
Pendidikan :
- SDN 1 Sinarjaya (1976)
- SMPN 1 Tanjungkarang (1980)
- SMUN 1 Tanjungkarang (1983)
- STIAL Jurusan Administrasi Negara (1990)
Pekerjaan:
- Sales Pestisida (1984--1988)
- Manajer KUD Sumberjaya (1989--1992)
- Ketua KUD Sumberjaya (1992--1999)
- Anggota DPRD Lambar (1999--2002)
- Wakil Bupati Lambar (2002--2007)
- Bupati Lambar (2007--sekarang)
Organisasi:
- HMI (1983--1984)
- Menwa (1984--1986)
- Pengurus KTNA Pemuda Lampung (1991)
- Ketua PAC PDI Sumberjaya (1992)
- Wakil Ketua DPC PDI-P Lambar (1998--2000)
- Ketua DPC PDI-P Lambar (2000--sekarang)
Keluarga :
Istri: Dra. Helwiyati Komala Dewi
Anak:
1. Lesty Putri Utami
2. Lestari Dwi Pertiwi
3. Laras Tri Handayani
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
[Profil] Mukhlis Basri: Mengawal Konservasi Hutan
TIDAK ada kata jeda untuk mempertahankan dan menjaga fungsi lingkungan hidup. Kenapa? Sebab, semakin lama kerusakan alam dibiarkan, semakin buruk pulalah kualitas hidup manusia di sekitarnya.
-------
Sehari setelah dilantik jadi Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri bukannya berpesta pora merayakan kemenangan bersama tim suksesnya. Tanpa buang-buang waktu, ia langsung menyusun strategi pembangunan. Ia bongkar lagi lemari arsip di ruangan wakil bupati, tempatnya bekerja selama lima tahun, untuk mencari daftar masalah yang mengganjal pembangunan Lampung Barat. Untuk melengkapi data, Mukhlis memanggil beberapa stafnya.
Hasilnya sudah tampak setahun kemudian: Lampung Barat meraih beberapa penghargaan untuk tingkat nasional. Pada perayaan 17 Agutus lalu, misalnya, dua pegawai Lampung Barat meraih penghargaan untuk bidan teladan dan penyuluh kehutanan teladan.
Di bidang lain, Mukhlis dianugrahi trofi Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) 2008. Penghargaan itu diberikan kepada pemda yang berhasil menyediakan infrastruktur PU di daerah masing-masing. Penyerahan trofi dilakukan Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto di Jakarta, Rabu (3-12). Selain bidang infrastruktur, Ketua DPC PDI Perjuangan Lampung Barat itu juga bakal menerima penghargaan nasional untuk sektor ketahanan pangan.
Untuk menggali kiat sukses tersebut, pada Kamis (4-12) malam, Sabam Sinaga, D. Widodo, dan fotografer Syaifulloh dari Lampung Post mewawancarai Mukhlis Basri di kediamannya, Sukarame, Bandar Lampung.
Berikut petikannya:
Setahun setelah dilantik Bupati, Anda meraih dua penghargaan. Ini terbilang cukup langka. Apa arti penghargaan itu buat Anda?
Ya, penghargaan ini bukan semata-mata hasil kerja saya. Semua di Lampung Barat ikut bekerja, dan penghargaan ini sebenarnya milik seluruh masyarakat Lampung Barat. Saya hanya menerimanya saja.
Memang awalnya saya tidak percaya saat mendapat kabar meraih penghargaan. Sebab, dari awal, orientasi saya tidak ke sana. Kemudian saya cek ulang apakah untuk penghargaan ini saya harus mengeluarkan uang, ternyata tidak. Saya tidak suka membeli penghargaan. Wong namanya penghargaan kok dibeli.
Saya cek ulang karena sekarang banyak lembaga-lembaga memberikan anugerah anu atau penghargaan ini-itu tetapi meminta imbalan. Kejadian begitu sering saya dengar. Saya pernah marah pada staf karena menawarkan juara I sebuah event provinsi, tetapi dengan syarat Pemkab Lambar menyerahkan sejumlah uang. Sebenarnya bukan staf saya yang salah, dia hanya ditawari panitia.
Lampung Barat termasuk satu dari 17 pemda penerima penghargaan PKPD-PU. Apa tolok ukur penilaiannya?
Ada beberapa hal yang dianggap berhasil di Lampung Barat, terutama komitmen Pemkab menjaga, mempertahankan, dan mengembalikan lingkungan sesuai dengan fungsinya. Lampung Barat ini daerah unik yang tidak terdapat di daerah lain, yaitu terdiri dari pegunungan dan pesisir. Kalau ditarik dari atas, ada hutan kawasan, turun lagi ada repong damar, di bawahnya sawah rakyat, kemudian pantai. Topografi yang unik ini harus dipertahankan dan Pemkab menyusun konsep konservasinya dalam bentuk perda. Sudah dua perda yang mengatur hal itu, yakni Perda No. 18/2007 tentang Konservasi dan Perda No.8 tentang Tata Ruang Kawasan Perkotaan.
Di Liwa, kami membangun kebun raya. Para akademisi di Lampung nanti bisa menggunakannya untuk penelitian, tidak perlu jauh-jauh ke Bogor. Saya berkeinginan kuat menjadikan Lampung Barat sebagai kabupaten konservasi karena dari total luas wilayah 4.950, hanya sekitar 26 persen yang bisa digarap dan didiami. Sisanya, berupa hutan, yaitu hutan lindung 39.191 hektare, hutan produksi terbatas 33.358 hektare, dan hutan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) 356.800 hektare. Hutan inilah yang menjadi sumber mata air bagi beberapa sungai besar di Lampung, sekaligus menjadi persoalan tersendiri bagi Lampung Barat.
Sekitar 72 persen luas wilayah Lampung Barat menjadi sumber air bagi daerah lain, tetapi bagi Lampung Barat sendiri berarti itu lahan tidak produktif. Apakah ada kompensasi khusus bagi Lampung Barat?
Itulah beda Lampung Barat dengan daerah lain. Kalau di Bandar Lampung, misalnya, hampir semua wilayahnya bisa dipakai untuk tujuan produktif. Memang ada beberapa kawasan yang dilindungi, tetapi persentase luas lahannya tidak sebesar Lampung Barat. Seharusnya kompensasi di bidang konservasi itu juga penting segera direalisasikan. Dulu, beberapa kepala daerah pernah membuat MoU untuk memberikan semacam insentif kepada Lampung Barat sebagai daerah tangkapan air. Tetapi MoU itu hanya di atas kertas, setelah tanda tangan dilupakan begitu saja.
Insentif dari pemerintah pusat juga tidak ada karena di Lampung Barat tidak ada konsesi HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Saya sudah mengajukan proposal ke Belanda, dan kita tinggal menunggu realisasinya. Namun demikian, saya tetap optimistis suatu saat kelak Lampung Barat akan mendapat insentif dari dunia internasional, terlebih sekarang isu pemanasan global menjadi perhatian di mana-mana.
Apa persoalan terbesar Lampung Barat saat ini?
Pemkab sudah menginventarisasi semua persoalan berikut keunggulan wilayah. Persoalan terbesar Lampung Barat adalah sebaran penduduk yang tidak merata. Mereka tinggal terpencar-pencar, dan ada yang tinggal di daerah enclave seperti Suoh dan Way Haru. Dua daerah ini terletak di tengah-tengah TNBBS. Setiap tahun penduduknya terus bertambah, tetapi luas lahannya dari dulu tetap segitu juga. Mereka terisolasi dan tidak diperbolehkan berkebun di hutan kawasan. Jangankan mau membuka lahan baru, mengambil cacing saja tidak boleh.
Di Suoh, Pemkab tidak mudah membuka akses jalan karena tidak ada jalur tembus lain kecuali harus melalui hutan kawasan. Ada kendala peraturan dan ini menyulitkan Pemkab untuk membuka keterisolasian Suoh, sementara di sisi lain Pemkab juga memahami pelarangan itu untuk tujuan konservasi.
Tetapi saya tidak putus asa. Alhamdulillah, belum lama ini TNBBS memberikan izin kepada Pemkab untuk membuka jalan melalui hutan kawasan. Selain membuka isolasi, akses keluar-masuk juga sangat vital untuk keperluan evakuasi dan pengiriman bantuan saat terjadi bencana alam.
Kesulitan yang sama juga terjadi di Way Haru. Lokasinya terpencil di ujung selatan Lampung Barat dan letaknya di dalam TNBBS. Penduduk Way Haru sulit keluar-masuk dari permukimannya karena tidak ada jalan yang memadai. TNBBS juga sudah memberi izin pembukaan jalan di sepanjang pantai. Jadi hanya di pinggirannya saja, tidak bisa masuk agak ke tengah. Tetapi kalau mau dibangun jalan yang bagus, Pemkab harus mengeluarkan biaya sangat besar.
Untuk masuk ke sana harus melintasi empat sampai lima muara sungai, ada yang lebarnya sampai setengah kilometer. Kalau untuk membangun satu jembatan saja Pemkab harus mengeluarkan biaya puluhan miliar, belum pengerjaan lain seperti pengerasan jalan.
Sebagian besar wilayah Lampung Barat berupa hutan kawasan. Tentunya banyak terjadi benturan kepentingan antara penduduk dan konservasi?
Itu masalah paling krusial di Lampung Barat. Sering terjadi benturan antara kebutuhan masyarakat dan upaya pelestarian hutan. Saya dari keluarga petani, jadi memahami benar apa kesulitan petani yang menggarap lahan di sekitar hutan. Mereka sudah tinggal di situ puluhan tahun.
Dari pengalaman saya, cara terbaik menyelesaikan benturan kepentingan itu adalah melalui Hutan Kemasyarakatan (HKm). Dengan cara ini, warga bisa menggarap lahan tanpa harus merusak fungsi hutan. Masyarakat di sekitar kawasan hutan diajak menjaga dan memelihara hutan. Caranya, mereka diperbolehkan tetap bertanam kopi di kawasan hutan atau di kebun-kebun sekitar hutan, tapi harus menanam pohon-pohon keras seperti cempaka, pule, dan kayu Afrika di sela-sela tanaman kopi.
Penanaman di sela-sela tanaman kopi akan memiliki dua efek. Pertama, tanaman kopi menjadi ternaungi pohon keras sehingga pertumbuhannya terjaga dan tanaman sehat. Kedua, akar tanaman keras membantu akar tanaman kopi memperkuat lahan yang miring supaya tidak terjadi erosi ketika hujan dan tutupan hutan lebih terjaga.
Penanaman itu dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok masyarakat. Masyarakat diberi izin menggarap selama lima tahun untuk setiap kelompok. Jika hasilnya bagus, izin bisa diperpanjang sampai 35 tahun.
Di Lampung Barat sudah ada lima kelompok yang diberi izin menggarap 35 tahun, dan dalam waktu dekat bertambah tujuh kelompok lagi. Pemkab menargetkan luas HKm 50 ribu hektare dan sudah ada kerja sama dengan lembaga-lembaga lingkungan hidup seperti Walhi dan ICRAF.
HKm yang sudah terbentuk antara lain di Sumber Jaya, Gedung Suryan, Way Tenong, Sekincau, Belalau, dan Bengkunat. Dari pengamatan foto satelit 2007, saat ini di kecamatan-kecamatan itu tutupan hutan sudah semakin rapat dan hijau.
Tampaknya Anda sangat menguasai persoalan hutan?
Ya dong, saya kan anak petani. Sampai sekarang, kalau ada waktu senggang, saya ngurusi kopi di kebun. Jadi kesulitan petani di sekitar hutan adalah juga kesulitan saya.
Ada kaitan langsung antara HKm dan kesejahteraan masyarakat?
Tentu saja ada. Soal kesejahteraan ini juga menjadi kriteria penghargaan PKPD-PU 2008. Secara psikologis, masyarakat tidak lagi waswas berkebun dan bisa mencurahkan waktu serta pikiran pada pekerjaannya. Yang kedua, luas lahan produktifnya semakin bertambah. Bisa dilihat sendiri, hampir setiap keluarga di sembilan kecamatan di dataran atas memiliki sepeda motor, kalau ini dijadikan tolok ukur kesejahteraan. Apalagi saat harga kopi sedang membaik seperti sekarang, petani yang tekun mengurusi kebun dan pintar menggunakan uang pasti hidup berkecukupan.
Apakah Lampung Barat hanya konsentrasi di bidang perkebunan. Bagaimana dengan sektor tanaman pangan?
Karena faktor topografi, dari 17 kecamatan tidak semuanya berupa perkebunan kopi. Ada tiga kecamatan yang menjadi lumbung padi, yaitu Suoh, Sukau, dan Pesisir Selatan. Kalau target peningkatan produksi nasional 5% per tahun, Lampung Barat bisa 27% per tahun. Peningkatan produksi ini tidak lepas dari keberhasilan pembangunan irigasi.
Sebelumnya masa tanam petani hanya sekali setahun, sekarang rata-rata masa tanam 2,5 kali per tahun. Lahan yang sebelumnya kesulitan air, kini bisa menikmati pembangunan irigasi. Selain itu ada juga bantuan traktor tangan dan benih padi. Proyek irigasi menjadi sangat penting. Kita tidak perlu berbicara panjang lebar tentang pertanian kalau tidak ada saluran irigasi dan ketersediaan air yang baik. Jangan juga memasang target produksi berlebihan kalau tidak ada bantuan sarana dan prasarana yang memadai.
Kalau sembilan kecamatan di daerah atas mengandalkan kopi, bagaimana pengembangan di daerah pesisir?
Kawasan pesisir Lampung Barat punya ciri khas berbatasan langsung dengan perbukitan. Sektor perikanan belum tergarap sepenuhnya karena sejumlah kendala, antara lain permodalan. Sektor lain yang bisa diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir adalah pariwisata.
Suatu saat nanti saya yakin pesisir Krui dan sekitarnya menjadi daerah maju kalau pembangunan pariwisata berjalan sesuai rencana. Kalau kita lihat objek wisatanya sudah tersedia bagus, ombaknya besar, dan airnya bersih. Tidak ada limbah industri yang mengotori pesisir Krui. Sangat nyaman untuk olahraga selancar air dan memancing.
Pemerintah juga pelan-pelan mulai membangun prasarana, satu di antaranya pembangunan lapangan terbang di Serai. Mudah-mudahan tahun 2009 sudah bisa uji coba pendaratan pesawat kecil. Proyeksi ke depan, panjang landasan ditambah sehingga bisa didarati pesawat besar. Ini tentu perlu waktu dan biaya, jadi tidak bisa serta merta terwujud.
Pemkab berharap lapangan terbang itu akan berdampak positif bagi pengembangan pariwisata di pesisir.
Kalau melihat situasi sekarang, sarana dan prasarana wisata di pesisir belum memadai untuk dijadikan kawasan wisata nasional. Hotel dan restoran yang layak juga belum tersedia. Tetapi Pemkab tidak patah semangat dan terus bergerak ke sana. Misalnya, pada penerimaan PNS tempo hari, Lampung Barat membuka peluang bagi lulusan D-3 dan S-1 jurusan pariwisata. Jadi, selain infrastruktur pendukung, kita juga harus mempersiapkan SDM-nya.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
-------
Sehari setelah dilantik jadi Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri bukannya berpesta pora merayakan kemenangan bersama tim suksesnya. Tanpa buang-buang waktu, ia langsung menyusun strategi pembangunan. Ia bongkar lagi lemari arsip di ruangan wakil bupati, tempatnya bekerja selama lima tahun, untuk mencari daftar masalah yang mengganjal pembangunan Lampung Barat. Untuk melengkapi data, Mukhlis memanggil beberapa stafnya.
Hasilnya sudah tampak setahun kemudian: Lampung Barat meraih beberapa penghargaan untuk tingkat nasional. Pada perayaan 17 Agutus lalu, misalnya, dua pegawai Lampung Barat meraih penghargaan untuk bidan teladan dan penyuluh kehutanan teladan.
Di bidang lain, Mukhlis dianugrahi trofi Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) 2008. Penghargaan itu diberikan kepada pemda yang berhasil menyediakan infrastruktur PU di daerah masing-masing. Penyerahan trofi dilakukan Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto di Jakarta, Rabu (3-12). Selain bidang infrastruktur, Ketua DPC PDI Perjuangan Lampung Barat itu juga bakal menerima penghargaan nasional untuk sektor ketahanan pangan.
Untuk menggali kiat sukses tersebut, pada Kamis (4-12) malam, Sabam Sinaga, D. Widodo, dan fotografer Syaifulloh dari Lampung Post mewawancarai Mukhlis Basri di kediamannya, Sukarame, Bandar Lampung.
Berikut petikannya:
Setahun setelah dilantik Bupati, Anda meraih dua penghargaan. Ini terbilang cukup langka. Apa arti penghargaan itu buat Anda?
Ya, penghargaan ini bukan semata-mata hasil kerja saya. Semua di Lampung Barat ikut bekerja, dan penghargaan ini sebenarnya milik seluruh masyarakat Lampung Barat. Saya hanya menerimanya saja.
Memang awalnya saya tidak percaya saat mendapat kabar meraih penghargaan. Sebab, dari awal, orientasi saya tidak ke sana. Kemudian saya cek ulang apakah untuk penghargaan ini saya harus mengeluarkan uang, ternyata tidak. Saya tidak suka membeli penghargaan. Wong namanya penghargaan kok dibeli.
Saya cek ulang karena sekarang banyak lembaga-lembaga memberikan anugerah anu atau penghargaan ini-itu tetapi meminta imbalan. Kejadian begitu sering saya dengar. Saya pernah marah pada staf karena menawarkan juara I sebuah event provinsi, tetapi dengan syarat Pemkab Lambar menyerahkan sejumlah uang. Sebenarnya bukan staf saya yang salah, dia hanya ditawari panitia.
Lampung Barat termasuk satu dari 17 pemda penerima penghargaan PKPD-PU. Apa tolok ukur penilaiannya?
Ada beberapa hal yang dianggap berhasil di Lampung Barat, terutama komitmen Pemkab menjaga, mempertahankan, dan mengembalikan lingkungan sesuai dengan fungsinya. Lampung Barat ini daerah unik yang tidak terdapat di daerah lain, yaitu terdiri dari pegunungan dan pesisir. Kalau ditarik dari atas, ada hutan kawasan, turun lagi ada repong damar, di bawahnya sawah rakyat, kemudian pantai. Topografi yang unik ini harus dipertahankan dan Pemkab menyusun konsep konservasinya dalam bentuk perda. Sudah dua perda yang mengatur hal itu, yakni Perda No. 18/2007 tentang Konservasi dan Perda No.8 tentang Tata Ruang Kawasan Perkotaan.
Di Liwa, kami membangun kebun raya. Para akademisi di Lampung nanti bisa menggunakannya untuk penelitian, tidak perlu jauh-jauh ke Bogor. Saya berkeinginan kuat menjadikan Lampung Barat sebagai kabupaten konservasi karena dari total luas wilayah 4.950, hanya sekitar 26 persen yang bisa digarap dan didiami. Sisanya, berupa hutan, yaitu hutan lindung 39.191 hektare, hutan produksi terbatas 33.358 hektare, dan hutan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) 356.800 hektare. Hutan inilah yang menjadi sumber mata air bagi beberapa sungai besar di Lampung, sekaligus menjadi persoalan tersendiri bagi Lampung Barat.
Sekitar 72 persen luas wilayah Lampung Barat menjadi sumber air bagi daerah lain, tetapi bagi Lampung Barat sendiri berarti itu lahan tidak produktif. Apakah ada kompensasi khusus bagi Lampung Barat?
Itulah beda Lampung Barat dengan daerah lain. Kalau di Bandar Lampung, misalnya, hampir semua wilayahnya bisa dipakai untuk tujuan produktif. Memang ada beberapa kawasan yang dilindungi, tetapi persentase luas lahannya tidak sebesar Lampung Barat. Seharusnya kompensasi di bidang konservasi itu juga penting segera direalisasikan. Dulu, beberapa kepala daerah pernah membuat MoU untuk memberikan semacam insentif kepada Lampung Barat sebagai daerah tangkapan air. Tetapi MoU itu hanya di atas kertas, setelah tanda tangan dilupakan begitu saja.
Insentif dari pemerintah pusat juga tidak ada karena di Lampung Barat tidak ada konsesi HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Saya sudah mengajukan proposal ke Belanda, dan kita tinggal menunggu realisasinya. Namun demikian, saya tetap optimistis suatu saat kelak Lampung Barat akan mendapat insentif dari dunia internasional, terlebih sekarang isu pemanasan global menjadi perhatian di mana-mana.
Apa persoalan terbesar Lampung Barat saat ini?
Pemkab sudah menginventarisasi semua persoalan berikut keunggulan wilayah. Persoalan terbesar Lampung Barat adalah sebaran penduduk yang tidak merata. Mereka tinggal terpencar-pencar, dan ada yang tinggal di daerah enclave seperti Suoh dan Way Haru. Dua daerah ini terletak di tengah-tengah TNBBS. Setiap tahun penduduknya terus bertambah, tetapi luas lahannya dari dulu tetap segitu juga. Mereka terisolasi dan tidak diperbolehkan berkebun di hutan kawasan. Jangankan mau membuka lahan baru, mengambil cacing saja tidak boleh.
Di Suoh, Pemkab tidak mudah membuka akses jalan karena tidak ada jalur tembus lain kecuali harus melalui hutan kawasan. Ada kendala peraturan dan ini menyulitkan Pemkab untuk membuka keterisolasian Suoh, sementara di sisi lain Pemkab juga memahami pelarangan itu untuk tujuan konservasi.
Tetapi saya tidak putus asa. Alhamdulillah, belum lama ini TNBBS memberikan izin kepada Pemkab untuk membuka jalan melalui hutan kawasan. Selain membuka isolasi, akses keluar-masuk juga sangat vital untuk keperluan evakuasi dan pengiriman bantuan saat terjadi bencana alam.
Kesulitan yang sama juga terjadi di Way Haru. Lokasinya terpencil di ujung selatan Lampung Barat dan letaknya di dalam TNBBS. Penduduk Way Haru sulit keluar-masuk dari permukimannya karena tidak ada jalan yang memadai. TNBBS juga sudah memberi izin pembukaan jalan di sepanjang pantai. Jadi hanya di pinggirannya saja, tidak bisa masuk agak ke tengah. Tetapi kalau mau dibangun jalan yang bagus, Pemkab harus mengeluarkan biaya sangat besar.
Untuk masuk ke sana harus melintasi empat sampai lima muara sungai, ada yang lebarnya sampai setengah kilometer. Kalau untuk membangun satu jembatan saja Pemkab harus mengeluarkan biaya puluhan miliar, belum pengerjaan lain seperti pengerasan jalan.
Sebagian besar wilayah Lampung Barat berupa hutan kawasan. Tentunya banyak terjadi benturan kepentingan antara penduduk dan konservasi?
Itu masalah paling krusial di Lampung Barat. Sering terjadi benturan antara kebutuhan masyarakat dan upaya pelestarian hutan. Saya dari keluarga petani, jadi memahami benar apa kesulitan petani yang menggarap lahan di sekitar hutan. Mereka sudah tinggal di situ puluhan tahun.
Dari pengalaman saya, cara terbaik menyelesaikan benturan kepentingan itu adalah melalui Hutan Kemasyarakatan (HKm). Dengan cara ini, warga bisa menggarap lahan tanpa harus merusak fungsi hutan. Masyarakat di sekitar kawasan hutan diajak menjaga dan memelihara hutan. Caranya, mereka diperbolehkan tetap bertanam kopi di kawasan hutan atau di kebun-kebun sekitar hutan, tapi harus menanam pohon-pohon keras seperti cempaka, pule, dan kayu Afrika di sela-sela tanaman kopi.
Penanaman di sela-sela tanaman kopi akan memiliki dua efek. Pertama, tanaman kopi menjadi ternaungi pohon keras sehingga pertumbuhannya terjaga dan tanaman sehat. Kedua, akar tanaman keras membantu akar tanaman kopi memperkuat lahan yang miring supaya tidak terjadi erosi ketika hujan dan tutupan hutan lebih terjaga.
Penanaman itu dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok masyarakat. Masyarakat diberi izin menggarap selama lima tahun untuk setiap kelompok. Jika hasilnya bagus, izin bisa diperpanjang sampai 35 tahun.
Di Lampung Barat sudah ada lima kelompok yang diberi izin menggarap 35 tahun, dan dalam waktu dekat bertambah tujuh kelompok lagi. Pemkab menargetkan luas HKm 50 ribu hektare dan sudah ada kerja sama dengan lembaga-lembaga lingkungan hidup seperti Walhi dan ICRAF.
HKm yang sudah terbentuk antara lain di Sumber Jaya, Gedung Suryan, Way Tenong, Sekincau, Belalau, dan Bengkunat. Dari pengamatan foto satelit 2007, saat ini di kecamatan-kecamatan itu tutupan hutan sudah semakin rapat dan hijau.
Tampaknya Anda sangat menguasai persoalan hutan?
Ya dong, saya kan anak petani. Sampai sekarang, kalau ada waktu senggang, saya ngurusi kopi di kebun. Jadi kesulitan petani di sekitar hutan adalah juga kesulitan saya.
Ada kaitan langsung antara HKm dan kesejahteraan masyarakat?
Tentu saja ada. Soal kesejahteraan ini juga menjadi kriteria penghargaan PKPD-PU 2008. Secara psikologis, masyarakat tidak lagi waswas berkebun dan bisa mencurahkan waktu serta pikiran pada pekerjaannya. Yang kedua, luas lahan produktifnya semakin bertambah. Bisa dilihat sendiri, hampir setiap keluarga di sembilan kecamatan di dataran atas memiliki sepeda motor, kalau ini dijadikan tolok ukur kesejahteraan. Apalagi saat harga kopi sedang membaik seperti sekarang, petani yang tekun mengurusi kebun dan pintar menggunakan uang pasti hidup berkecukupan.
Apakah Lampung Barat hanya konsentrasi di bidang perkebunan. Bagaimana dengan sektor tanaman pangan?
Karena faktor topografi, dari 17 kecamatan tidak semuanya berupa perkebunan kopi. Ada tiga kecamatan yang menjadi lumbung padi, yaitu Suoh, Sukau, dan Pesisir Selatan. Kalau target peningkatan produksi nasional 5% per tahun, Lampung Barat bisa 27% per tahun. Peningkatan produksi ini tidak lepas dari keberhasilan pembangunan irigasi.
Sebelumnya masa tanam petani hanya sekali setahun, sekarang rata-rata masa tanam 2,5 kali per tahun. Lahan yang sebelumnya kesulitan air, kini bisa menikmati pembangunan irigasi. Selain itu ada juga bantuan traktor tangan dan benih padi. Proyek irigasi menjadi sangat penting. Kita tidak perlu berbicara panjang lebar tentang pertanian kalau tidak ada saluran irigasi dan ketersediaan air yang baik. Jangan juga memasang target produksi berlebihan kalau tidak ada bantuan sarana dan prasarana yang memadai.
Kalau sembilan kecamatan di daerah atas mengandalkan kopi, bagaimana pengembangan di daerah pesisir?
Kawasan pesisir Lampung Barat punya ciri khas berbatasan langsung dengan perbukitan. Sektor perikanan belum tergarap sepenuhnya karena sejumlah kendala, antara lain permodalan. Sektor lain yang bisa diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir adalah pariwisata.
Suatu saat nanti saya yakin pesisir Krui dan sekitarnya menjadi daerah maju kalau pembangunan pariwisata berjalan sesuai rencana. Kalau kita lihat objek wisatanya sudah tersedia bagus, ombaknya besar, dan airnya bersih. Tidak ada limbah industri yang mengotori pesisir Krui. Sangat nyaman untuk olahraga selancar air dan memancing.
Pemerintah juga pelan-pelan mulai membangun prasarana, satu di antaranya pembangunan lapangan terbang di Serai. Mudah-mudahan tahun 2009 sudah bisa uji coba pendaratan pesawat kecil. Proyeksi ke depan, panjang landasan ditambah sehingga bisa didarati pesawat besar. Ini tentu perlu waktu dan biaya, jadi tidak bisa serta merta terwujud.
Pemkab berharap lapangan terbang itu akan berdampak positif bagi pengembangan pariwisata di pesisir.
Kalau melihat situasi sekarang, sarana dan prasarana wisata di pesisir belum memadai untuk dijadikan kawasan wisata nasional. Hotel dan restoran yang layak juga belum tersedia. Tetapi Pemkab tidak patah semangat dan terus bergerak ke sana. Misalnya, pada penerimaan PNS tempo hari, Lampung Barat membuka peluang bagi lulusan D-3 dan S-1 jurusan pariwisata. Jadi, selain infrastruktur pendukung, kita juga harus mempersiapkan SDM-nya.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
Apresiasi: Seni Grafis, Bahasa Rupa yang Belum Memasyarakat
Oleh Christian Heru Cahyo Saputro*
KOMITE Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung kerja bareng Taman Budaya Lampung dan Media Arts baru usai menggelar diskusi dan workshop seni grafis yang melibatkan 40-an seniman, mahasiswa, dan pelajar. Kegiatan yang mengusung tajuk Meniti Garis, Menuai Bentuk ini bertujuan memasyakaratkan seni grafis.
Seni grafis sebagai salah satu medium seni rupa memang belum sepopuler seni lukis, patung, dan bahasa rupa lainnya. Bahkan seni grafis yang lebih dikenal dengan desain komunikasi visual baru terindentifikasi ketika bersinggungan dengan ranah pendidikan. Padahal seni grafis sudah dikenal di Indonesia sejak 1940-an.
Banyak hal yang membuat seni grafis sebagai bahasa rupa kurang memasyarakat. Namun, bukan berarti seni grafis tidak mempunyai nilai lebih dari genre seni rupa lainnya. Seni grafis sebagai media ungkap dengan kekuatan konsep didukung dengan penjelajahan kreativitas penekunnya bisa menghasilkan fine art.
Seni grafis dapat didefinisikan sebagai karya seni dua dimensi yang dihasilkan dari teknik cetak. Singkat padat dan jelas. Namun, untuk menjelaskan apa itu sebenarnya seni grafis akan sangat banyak hal yang bisa diketahui di dalamnya.
Dalam ranah pendidikan (institusi) seni, grafis digolongkan dalam seni rupa murni atau lebih tepatnya sebagai karya fine art karena seni grafis mampu menjadi ruang berekspresi bagi perupa menuangkan ekspresinya. Ada banyak teknik yang bisa digunakan perupa menuangkan ekspresinya melalui seni grafis seperti teknik cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar. Dalam perkembangannya, yang termutakhir adalah digital print.
Seni grafis memberikan ruang kebebasan berekspresi untuk para senimannya melalui tekniknya yang banyak dan beragam. Hal ini bisa dibuktikan untuk satu konsep kebentukan jika dituangkan melalui setiap teknik dalam seni grafis akan menghasilkan karya yang beragam.
Sejarah Singkat
Sekitar 200 Masehi, woodcut atau seni cukil kayu sudah digunakan menggandakan teks. Bahan pelajaran berupa teks untuk para pelajar China pada masa itu diukir pada batu dan dicetak pada kertas lembab yang menghasilkan karakter putih pada latar belakang hitam (block book printing).
Konon, cukil kayu yang pertama ditemukan di China muncul akibat perkembangan Budishme di negeri itu. Hasil cetakan tersebut berupa gulungan yang mengandung ajaran agama Buddha, dengan panjang sekitar 5 cm pada selembar sutra.
Saat itu tampilannya belum artistik karena dimaksudkan memang sebagai pedoman para biksu dalam penyebaran Buddha. Sedangkan di Negeri Matahari Terbit, seni grafis berkembang pada awal abad ke-18.
Salah satu bentuk seni grafis Jepang adalah Ukiyo-e yang berarti "gambar dari bumi yang mengapung". Saat itu tampilannya masih hitam-putih; hadir di masyarakat dalam bentuk kartu pos, dekorasi rumah, hingga atribut mode.
Perkembangan aplikasi grafis pada busana sangat berkaitan dengan perkembangan teater tradisional Jepang, Kabuki. Saat itu, aplikasi cetak Ukiyo-e yang terkenal dikerjakan oleh seniman Toshusai Sharaku (1790-95) pada sutra-sutra yang menjadi kostum para aktor Kabuki.
Pada perkembangannya pada abad ke-19, terjadi pergeseran minat utama seniman Jepang dari bentuk-bentuk figuratif menjadi objek-objek pemandangan, seperti yang dipopularkan oleh Hokusai dan Hiroshige. Karya-karya Hokusai terutama melukiskan perubahan musim; burung-burung, air terjun, obmak, serangga; pepohonan dan pegunungan. Karya-karyanya dibukukan dalam kumpulan sketsa Hokusai Manga (1814).
Karya-karya Hiroshige menekankan pada efek dan kontras warna. Karyanya yang terkenal adalah Tokaido Highway (1804) dan Sixty-nine Stations on The Kiso Highway. Kedua seniman ini menjadi menjadi catatan sejarah yang penting dalam perkembangan seni grafis modern.
Di Indonesia
Di Indonesia, seni grafis dikenal sejak masa perjuangan fisik. Media cukil kayu menjadi pilihan pertama memproduksi poster-poster perjuangan dan selebaran propaganda lain.
Ini dilakukan para seniman Indonesia seperti Affandi dan Abdulsalam. Mungkin masa itulah yang mengawali sedikit rentetan sejarah seni grafis yang telah mengalami proses yang panjang hingga sampai sekarang ini.
Memang teknik cukil kayu yang paling sederhana dibandingkan teknik-teknik cetak (seni grafis) yang lain. Material bakunya, bidang yang dicukil, mudah didapatkan misalnya papan kayu, hard board, multipleks, dan sejenisnya.
Alat-alat dan tinta cetak mudah didapatkan. Studio untuk mengerjakan tidak memerlukan ruang yang luas. Produk cetaknya tak kalah nilai dengan produk cetak yang menggunakan media lain maupun produk seni lukis.
Tetapi memang produk-produk seni grafis, khususnya cukil kayu, di Indonesia belum banyak dikenal. Belum memasyarakatnya seni cukil kayu di Indonesia tersebab banyak faktor antara lain; usianya yang relatif, masih muda, dan frekuensi pameran, workshop, dan demontrasi berkarya dalam seni cukil kayu relatif masih sangat jarang.
Kode Etik
Seni grafis bernapas dari kode etik yang dianutnya. Untuk tetap menjaga eklusivitas karya, seni grafis mempunyai kode etik yang harus dipatuhi perupa yang menggunakan medium grafis dalam mengekspresikan karyanya.
Kode edisi yang tertera kecil di sebelah kiri bawah karya grafis merupakan napas. Dengan kode edisi tersebut setiap cetakan yang terhasilkan dari klise akan mempunyai kekuatan menjadi karya tunggal di setiap ruang untuk mempresentasikannya seeing the unseen.
Seni grafis sebagai salah satu medium seni rupa menawarkan pada khalayak untuk melakukan eksplorasi baru sebagai media berekspresi.
Eksistensi seni grafis ke depan bisa makin mengemuka tergantung para penekun (perupa) mengeksplorasi dan mengomunikasikan kepada masyarakat. Jika potensi seni grafis dapat diaktualkan dan memberi kontribusi dalam panggung kehidupan, niscaya karya rupa grafis akan memasyarakat.
Semakin banyak garis yang tercipta akan menghasilkan banyak bentuk yang terlihat. Makin banyak orang berekspresi dengan bahasa rupa seni grafis, diharapkan seni ini makin dikenal dan memasyarakat. Ke depan, tersemai harapan seni grafis makin diapresiasi dan mengkhalayak. Semoga.
* Christian Heru Cahyo Saputro, fotografer dan pengamat seni rupa.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
KOMITE Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung kerja bareng Taman Budaya Lampung dan Media Arts baru usai menggelar diskusi dan workshop seni grafis yang melibatkan 40-an seniman, mahasiswa, dan pelajar. Kegiatan yang mengusung tajuk Meniti Garis, Menuai Bentuk ini bertujuan memasyakaratkan seni grafis.
Seni grafis sebagai salah satu medium seni rupa memang belum sepopuler seni lukis, patung, dan bahasa rupa lainnya. Bahkan seni grafis yang lebih dikenal dengan desain komunikasi visual baru terindentifikasi ketika bersinggungan dengan ranah pendidikan. Padahal seni grafis sudah dikenal di Indonesia sejak 1940-an.
Banyak hal yang membuat seni grafis sebagai bahasa rupa kurang memasyarakat. Namun, bukan berarti seni grafis tidak mempunyai nilai lebih dari genre seni rupa lainnya. Seni grafis sebagai media ungkap dengan kekuatan konsep didukung dengan penjelajahan kreativitas penekunnya bisa menghasilkan fine art.
Seni grafis dapat didefinisikan sebagai karya seni dua dimensi yang dihasilkan dari teknik cetak. Singkat padat dan jelas. Namun, untuk menjelaskan apa itu sebenarnya seni grafis akan sangat banyak hal yang bisa diketahui di dalamnya.
Dalam ranah pendidikan (institusi) seni, grafis digolongkan dalam seni rupa murni atau lebih tepatnya sebagai karya fine art karena seni grafis mampu menjadi ruang berekspresi bagi perupa menuangkan ekspresinya. Ada banyak teknik yang bisa digunakan perupa menuangkan ekspresinya melalui seni grafis seperti teknik cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar. Dalam perkembangannya, yang termutakhir adalah digital print.
Seni grafis memberikan ruang kebebasan berekspresi untuk para senimannya melalui tekniknya yang banyak dan beragam. Hal ini bisa dibuktikan untuk satu konsep kebentukan jika dituangkan melalui setiap teknik dalam seni grafis akan menghasilkan karya yang beragam.
Sejarah Singkat
Sekitar 200 Masehi, woodcut atau seni cukil kayu sudah digunakan menggandakan teks. Bahan pelajaran berupa teks untuk para pelajar China pada masa itu diukir pada batu dan dicetak pada kertas lembab yang menghasilkan karakter putih pada latar belakang hitam (block book printing).
Konon, cukil kayu yang pertama ditemukan di China muncul akibat perkembangan Budishme di negeri itu. Hasil cetakan tersebut berupa gulungan yang mengandung ajaran agama Buddha, dengan panjang sekitar 5 cm pada selembar sutra.
Saat itu tampilannya belum artistik karena dimaksudkan memang sebagai pedoman para biksu dalam penyebaran Buddha. Sedangkan di Negeri Matahari Terbit, seni grafis berkembang pada awal abad ke-18.
Salah satu bentuk seni grafis Jepang adalah Ukiyo-e yang berarti "gambar dari bumi yang mengapung". Saat itu tampilannya masih hitam-putih; hadir di masyarakat dalam bentuk kartu pos, dekorasi rumah, hingga atribut mode.
Perkembangan aplikasi grafis pada busana sangat berkaitan dengan perkembangan teater tradisional Jepang, Kabuki. Saat itu, aplikasi cetak Ukiyo-e yang terkenal dikerjakan oleh seniman Toshusai Sharaku (1790-95) pada sutra-sutra yang menjadi kostum para aktor Kabuki.
Pada perkembangannya pada abad ke-19, terjadi pergeseran minat utama seniman Jepang dari bentuk-bentuk figuratif menjadi objek-objek pemandangan, seperti yang dipopularkan oleh Hokusai dan Hiroshige. Karya-karya Hokusai terutama melukiskan perubahan musim; burung-burung, air terjun, obmak, serangga; pepohonan dan pegunungan. Karya-karyanya dibukukan dalam kumpulan sketsa Hokusai Manga (1814).
Karya-karya Hiroshige menekankan pada efek dan kontras warna. Karyanya yang terkenal adalah Tokaido Highway (1804) dan Sixty-nine Stations on The Kiso Highway. Kedua seniman ini menjadi menjadi catatan sejarah yang penting dalam perkembangan seni grafis modern.
Di Indonesia
Di Indonesia, seni grafis dikenal sejak masa perjuangan fisik. Media cukil kayu menjadi pilihan pertama memproduksi poster-poster perjuangan dan selebaran propaganda lain.
Ini dilakukan para seniman Indonesia seperti Affandi dan Abdulsalam. Mungkin masa itulah yang mengawali sedikit rentetan sejarah seni grafis yang telah mengalami proses yang panjang hingga sampai sekarang ini.
Memang teknik cukil kayu yang paling sederhana dibandingkan teknik-teknik cetak (seni grafis) yang lain. Material bakunya, bidang yang dicukil, mudah didapatkan misalnya papan kayu, hard board, multipleks, dan sejenisnya.
Alat-alat dan tinta cetak mudah didapatkan. Studio untuk mengerjakan tidak memerlukan ruang yang luas. Produk cetaknya tak kalah nilai dengan produk cetak yang menggunakan media lain maupun produk seni lukis.
Tetapi memang produk-produk seni grafis, khususnya cukil kayu, di Indonesia belum banyak dikenal. Belum memasyarakatnya seni cukil kayu di Indonesia tersebab banyak faktor antara lain; usianya yang relatif, masih muda, dan frekuensi pameran, workshop, dan demontrasi berkarya dalam seni cukil kayu relatif masih sangat jarang.
Kode Etik
Seni grafis bernapas dari kode etik yang dianutnya. Untuk tetap menjaga eklusivitas karya, seni grafis mempunyai kode etik yang harus dipatuhi perupa yang menggunakan medium grafis dalam mengekspresikan karyanya.
Kode edisi yang tertera kecil di sebelah kiri bawah karya grafis merupakan napas. Dengan kode edisi tersebut setiap cetakan yang terhasilkan dari klise akan mempunyai kekuatan menjadi karya tunggal di setiap ruang untuk mempresentasikannya seeing the unseen.
Seni grafis sebagai salah satu medium seni rupa menawarkan pada khalayak untuk melakukan eksplorasi baru sebagai media berekspresi.
Eksistensi seni grafis ke depan bisa makin mengemuka tergantung para penekun (perupa) mengeksplorasi dan mengomunikasikan kepada masyarakat. Jika potensi seni grafis dapat diaktualkan dan memberi kontribusi dalam panggung kehidupan, niscaya karya rupa grafis akan memasyarakat.
Semakin banyak garis yang tercipta akan menghasilkan banyak bentuk yang terlihat. Makin banyak orang berekspresi dengan bahasa rupa seni grafis, diharapkan seni ini makin dikenal dan memasyarakat. Ke depan, tersemai harapan seni grafis makin diapresiasi dan mengkhalayak. Semoga.
* Christian Heru Cahyo Saputro, fotografer dan pengamat seni rupa.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
Traveling: Wisata Laut, Andalan Lampung Selatan
SENIN (27-10) petang, kami "menjelajah" objek wisata di Lamsel, terutama yang berada di Kalianda dan sekitarnya. Kami memilih objek wisata pantai dan pusat air panas belerang.
Perjalanan dimulai ke air belerang. Objek wisata air panas ini cukup banyak pengunjungnya, terutama pada Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur lainnya. Sayangnya potensi pusat air panas Way Belerang ini tidak dikelola serius. Sebagaimana surat pembaca saya di Lampung Post (20-10), tentang pengelolaan yang tak serius dan terkesan jorok di pusat objek wisata air panas Way Belerang, Kalianda.
Padahal, kalau saja pengelola dan Pemkab Lamsel serius mengelola objek wisata belerang yang tak setiap daerah memilikinya, bukan mustahil makin berpotensi saja objek wisata tersebut. Dan itu akan membuka peluang meningkatnya dunia pariwisata di Lamsel.
Potensi objek wisata Way Belerang bisa maju karena pengunjung yang lumayan banyak setiap hari-hari libur. Para pengunjung adalah potensi untuk mempromosikan, sekiranya mereka mendapatkan kenyamanan dan ketenangan saat berkunjung.
Begitulah. Kami merasakan ketika mengunjungi taman wisata pantai Laguna Helau. Kami susuri jalan aspal berbatu yang berliku, pemandangan tepi pantai sungguh mengasyikkan. Sepanjang tepi pantai, kami saksikan masyarakat sedang memancing ataupun berenang. Ombak laut cukup besar menampar batu dan deburnya keras sekali.
Perjalanan dari Kota Kalianda menuju Laguna Helau membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tidak membosankan, sebab sepanjang jalan kita bisa menikmati pantai, ombak, dan laut yang membiru.
Gerbang Laguna Helau hanya terbuka sedikit. Cukup untuk sebuah motor. Seorang penjaga keluar dari gardu yang sudah tua dan kacanya berdebu. Sejenak kami mengobrol, setelah itu ia mempersilakan kami memasuki kawasan Laguna Helau. Sejumlah cottage tersebar di bibir pantai. Tersebab ombak pantai Laguna sangat besar, sengaja pasir di dekat bibir pantai ditinggikan. Agar lidah atau percikan gelombang tidak sampai ke cottage.
Lebih dari lima cottage disediakan dan satu tempat pertemuan. Cottage di Laguna Helau dibuat berbentuk rumah panggung. Sayang, cottage-cottage yang tersedia terkesan tak terurus dan sudah lama tidak digunakan. Hal itu terlihat dari kunci gembok yang sudah berkarat. Kisi-kisi jendela dan pintunya sudah lapuk termakan cuaca pinggir pantai. Tetapi, tatkala kami mengintip ke dalam: ruang, kursi, dan tempat tidur tetap terpelihara dan masih bagus. Dinding kayu terpelitur. Warnanya masih terang. Kemungkinan baru saja dicat.
Menurut petugas Laguna Helau, harga sewa cottage bervariasi: dari Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Fasilitas 1 dan 2 tempat tidur, 1 ruang santai, dan beranda menghadap pantai. Hanya saja, jika melihat kondisi cottage-cottage tersebut, perasaan siapa tak berdebar jika bermalam di sana? Dinding kayu yang sudah lapuk dan tak lagi rapat, setiap orang bisa leluasa melihat ke dalam, begitu pula sebaliknya. Bukan cuma itu, pintu dan jendela yang kurang pemeliharaannya dan tergerus cuaca diragukan keamanan dari "tamu tak diundang" yang bisa datang di malam hari. Suasana yang sangat sepi, boleh jadi mendukung.
Bagaimana kiranya Laguna Helau--juga objek-objek wisata di Lamsel yang menyediakan cottage--berupaya agar membuat pelancong betah menginap di sana. Dengan begitu, sasaran Visit Lampung Year 2009 atau setidaknya dunia pariwisata di daerah ini, dapat menarik wisatawan lebih banyak lagi.
Memang dalam dunia pariwasata, terpenting dan paling utama ialah strategi pengelolaan yang baik sehingga mampu membetahkan pendatang. Para wisatawan yang bertandang bukan sekadar disuguhi keindahan alam, melainkan sebisa mungkin bagaimana ia memperoleh kenyamanan dan keamanan selama berada di tempat wisata.
Kenyamanan yang dimaksud bisa berupa fasilitas tempat penginapan (cottage/vila) yang tidak menyeramkan, toilet dan kamar mandi yang tak jauh dari ruang tidur, alat penerang memadai, serta "kalau mungkin" televisi. Sedangkan keamanan, perlu adanya penjagaan yang selalu mengontrol, cottage yang tidak terkesan tak terurus, pintu dan jendelanya masih kuat, tiada sela orang untuk berbuat jahat, dan banyak lagi.
Tempat objek wisata harus terkesan nyaman, indah, bersih, dan menyenangkan. Jangan sampai, belum lagi wisatawan memasuki area wisata sudah lebih dulu disergap rasa ngeri, waswas, tidak tenteram dan nyaman, serta suasananya yang seharusnya indah tak mendukung.
Barangkali inilah yang belum disentuh oleh pengelola objek wisata di daerah Lampung. Tengoklah tempat wisata air panas Way Belerang, Canti, Pantai Wartawan, termasuk Laguna Helau yang sudah saya sebut di atas. Juga Merak Belantung, Pantai Marina, serta Kalianda Resort. Untuk Pantai Marina, saya tak tahu lagi "nasibnya" dan ketika saya ingin "menjelajah" ke Pantai Marina, tiada lagi papan nama di pinggir jalan sebagai penanda.
Kami masih "menjelajah" objek wisata pantai di Lamsel. Menyusuri jalan beraspal pinggir pantai. Kami menyerap keindahan alam Pantai Ketang yang belum terjamah pelancong. Di sekitar pantai ini perusahaan tambak udang memanfaatkan air laut. Sejatinya, tambak udang yang tersebar di sana juga bisa dijadikan bagian dari pariwisata.
Begitu pula Merak Belantung yang masih terkesan dikelola apa adanya. Memang memasuki objek wisata yang berdekatan dengan Kalianda Resort ini tidaklah akan mengocek kantong, tetapi apa yang bisa kita dapati lebih dari tempat itu? Tiada beda dengan Pasir Putih ataupun Pulau Pasir. n ARMAN A.Z./M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
Perjalanan dimulai ke air belerang. Objek wisata air panas ini cukup banyak pengunjungnya, terutama pada Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur lainnya. Sayangnya potensi pusat air panas Way Belerang ini tidak dikelola serius. Sebagaimana surat pembaca saya di Lampung Post (20-10), tentang pengelolaan yang tak serius dan terkesan jorok di pusat objek wisata air panas Way Belerang, Kalianda.
Padahal, kalau saja pengelola dan Pemkab Lamsel serius mengelola objek wisata belerang yang tak setiap daerah memilikinya, bukan mustahil makin berpotensi saja objek wisata tersebut. Dan itu akan membuka peluang meningkatnya dunia pariwisata di Lamsel.
Potensi objek wisata Way Belerang bisa maju karena pengunjung yang lumayan banyak setiap hari-hari libur. Para pengunjung adalah potensi untuk mempromosikan, sekiranya mereka mendapatkan kenyamanan dan ketenangan saat berkunjung.
Begitulah. Kami merasakan ketika mengunjungi taman wisata pantai Laguna Helau. Kami susuri jalan aspal berbatu yang berliku, pemandangan tepi pantai sungguh mengasyikkan. Sepanjang tepi pantai, kami saksikan masyarakat sedang memancing ataupun berenang. Ombak laut cukup besar menampar batu dan deburnya keras sekali.
Perjalanan dari Kota Kalianda menuju Laguna Helau membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tidak membosankan, sebab sepanjang jalan kita bisa menikmati pantai, ombak, dan laut yang membiru.
Gerbang Laguna Helau hanya terbuka sedikit. Cukup untuk sebuah motor. Seorang penjaga keluar dari gardu yang sudah tua dan kacanya berdebu. Sejenak kami mengobrol, setelah itu ia mempersilakan kami memasuki kawasan Laguna Helau. Sejumlah cottage tersebar di bibir pantai. Tersebab ombak pantai Laguna sangat besar, sengaja pasir di dekat bibir pantai ditinggikan. Agar lidah atau percikan gelombang tidak sampai ke cottage.
Lebih dari lima cottage disediakan dan satu tempat pertemuan. Cottage di Laguna Helau dibuat berbentuk rumah panggung. Sayang, cottage-cottage yang tersedia terkesan tak terurus dan sudah lama tidak digunakan. Hal itu terlihat dari kunci gembok yang sudah berkarat. Kisi-kisi jendela dan pintunya sudah lapuk termakan cuaca pinggir pantai. Tetapi, tatkala kami mengintip ke dalam: ruang, kursi, dan tempat tidur tetap terpelihara dan masih bagus. Dinding kayu terpelitur. Warnanya masih terang. Kemungkinan baru saja dicat.
Menurut petugas Laguna Helau, harga sewa cottage bervariasi: dari Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Fasilitas 1 dan 2 tempat tidur, 1 ruang santai, dan beranda menghadap pantai. Hanya saja, jika melihat kondisi cottage-cottage tersebut, perasaan siapa tak berdebar jika bermalam di sana? Dinding kayu yang sudah lapuk dan tak lagi rapat, setiap orang bisa leluasa melihat ke dalam, begitu pula sebaliknya. Bukan cuma itu, pintu dan jendela yang kurang pemeliharaannya dan tergerus cuaca diragukan keamanan dari "tamu tak diundang" yang bisa datang di malam hari. Suasana yang sangat sepi, boleh jadi mendukung.
Bagaimana kiranya Laguna Helau--juga objek-objek wisata di Lamsel yang menyediakan cottage--berupaya agar membuat pelancong betah menginap di sana. Dengan begitu, sasaran Visit Lampung Year 2009 atau setidaknya dunia pariwisata di daerah ini, dapat menarik wisatawan lebih banyak lagi.
Memang dalam dunia pariwasata, terpenting dan paling utama ialah strategi pengelolaan yang baik sehingga mampu membetahkan pendatang. Para wisatawan yang bertandang bukan sekadar disuguhi keindahan alam, melainkan sebisa mungkin bagaimana ia memperoleh kenyamanan dan keamanan selama berada di tempat wisata.
Kenyamanan yang dimaksud bisa berupa fasilitas tempat penginapan (cottage/vila) yang tidak menyeramkan, toilet dan kamar mandi yang tak jauh dari ruang tidur, alat penerang memadai, serta "kalau mungkin" televisi. Sedangkan keamanan, perlu adanya penjagaan yang selalu mengontrol, cottage yang tidak terkesan tak terurus, pintu dan jendelanya masih kuat, tiada sela orang untuk berbuat jahat, dan banyak lagi.
Tempat objek wisata harus terkesan nyaman, indah, bersih, dan menyenangkan. Jangan sampai, belum lagi wisatawan memasuki area wisata sudah lebih dulu disergap rasa ngeri, waswas, tidak tenteram dan nyaman, serta suasananya yang seharusnya indah tak mendukung.
Barangkali inilah yang belum disentuh oleh pengelola objek wisata di daerah Lampung. Tengoklah tempat wisata air panas Way Belerang, Canti, Pantai Wartawan, termasuk Laguna Helau yang sudah saya sebut di atas. Juga Merak Belantung, Pantai Marina, serta Kalianda Resort. Untuk Pantai Marina, saya tak tahu lagi "nasibnya" dan ketika saya ingin "menjelajah" ke Pantai Marina, tiada lagi papan nama di pinggir jalan sebagai penanda.
Kami masih "menjelajah" objek wisata pantai di Lamsel. Menyusuri jalan beraspal pinggir pantai. Kami menyerap keindahan alam Pantai Ketang yang belum terjamah pelancong. Di sekitar pantai ini perusahaan tambak udang memanfaatkan air laut. Sejatinya, tambak udang yang tersebar di sana juga bisa dijadikan bagian dari pariwisata.
Begitu pula Merak Belantung yang masih terkesan dikelola apa adanya. Memang memasuki objek wisata yang berdekatan dengan Kalianda Resort ini tidaklah akan mengocek kantong, tetapi apa yang bisa kita dapati lebih dari tempat itu? Tiada beda dengan Pasir Putih ataupun Pulau Pasir. n ARMAN A.Z./M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
Traveling: Menyusuri Pariwisata Lampung Selatan
AKHIR Oktober lalu, dua sastrawan yang juga pengamat pariwisata Lampung, Isbedy Stiawan dan Arman A.Z. berpetualang mencari jawaban atas potensi pariwisata di Lampung Selatan. Tulisan ini adalah oleh-oleh dari keduanya.
--------
TAK sulit mencapai objek-objek wisata di Lampung Selatan (Lamsel), apatah lagi wisata pantainya. Tempat wisata Way Belerang dengan mudah dicapai. Jika menggunakan kendaraan pribadi, rambu penanda banyak terpampang. Tak perlu turun dari kendaraan untuk bertanya di mana Way Belerang. Jangan khawatir akan tersasar. Jalan di Kota Kalianda tidak serumit dibanding kota-kota lain.
Jika hendak ke Pantai Canti, plang rambu juga menjelaskan. Hal yang sama apabila tujuan Anda ingin ke Pantai Wartawan, ikuti saja jalan selepas pasar tua Kota Kalianda.
Ke Laguna Helau bisa ditempuh dari dua tempat. Apabila Anda kadung berada di kompleks perkantoran Kabupaten Lamsel, hanya turun beberapa meter dan melihat jalan Sinar Laut, atau jalan masuk Yayasaan Pendidikan YAPRI di sebelah kanan. Itulah pintu masuk ke wilayah Laguna Helau. Sedangkan dari Bandar Lampung, maka selepas plang Merak Belantung dan melihat ada rumah makan, ada jalan masuk: dari sana Anda akan sampai ke Laguna Helau.
Jika ragu, jangan malu bertanya. Masyarakat di sana tak kikir untuk menunjukkan jalan kepada Anda. Kami bukan bermaksud hendak memuji, memang keramahan (dan sopan) masyarakat Kalianda sudah terbukti. Tentu jika Anda menunjukkan kesopanan pula.
Kesopanan dan keramahan masyarakat Kalianda kepada pendatang (tamu) patut sebagai rujukan dan andil jika ingin mengembangkan dunia pariwisata. Masyarakatnya tidak introver, ramah, sopan, dan ringan membuka suara, modal bagi pelancong tak akan tersasar.
Itulah gambaran orang Kalianda. Ketika kami bertanya untuk memastikan bahwa kami tak salah memasuki jalan ke Laguna Helau, dengan ramah dijawab. Kami pun melaju, menyusuri jalan beraspal hotmix itu.
Sepanjang jalan tak henti-henti kami berdecak kagum. Menikmati keindahan alam pantai. Ternyata banyak masyarakat yang memancing di sana. Ada yang berkelompok, tak sedikit pula sendiri. Selain itu, anak-anak berenang riang ditingkahi tarian gelombang. Inilah satu sampel keindahan pantai Lamsel dan berpotensi "dijual" di pasar pariwisata Indonesia.
Potensi alam pantai itu mestinya dilirik investor dan pemkab setempat. Dunia pariwisata di Lampung sangat potensial menawarkan alam pantai. Kami mengangankan sekiranya tepi pantai sepanjang menuju Laguna Helau dibangun kafe dan ataupun warung jajan sederhana, niscaya akan "menyihir" pelancong ke tempat itu.
Saya teringat dengan suasana ini di Kota Padang. Di belakang gedung Taman Budaya Sumbar ada pantai membentang. Saya dan teman-teman menikmati keindahan pantai malam hari, sambil memesan penganan dan minuman di warung (juga kafe) yang berderet sepanjang tepi pantai. Sambil mengobrol ataupun diskusi sekaligus menikmati indahnya pantai.
Dan, saya yakin alam pantai di Kalianda tak kalah indah dengan yang ada di Kota Padang. Juga berpotensi untuk "dijual" sebagai juadah pariwisata. Sebab, Lampung tak bisa sepenuhnya berharap dari Pusat Latihan Gajah Way Kambas yang nyaris tak terurus dan lokasinya sangat jauh dari pusat Kota Bandar Lampung.
Lamsel punya banyak potensi objek wisata. Selain Laguna Helau, Pantai Ketang, Kalianda Resort, Pantai Marina, Canti, Way Belerang, untuk menyebut beberapa saja objek wisata di Kalianda, juga Menara Siger yang kini selalu "menggoda" jika kita berada di kapal feri yang hendak merapat ataupun bertolak ke Merak.
Potensi Menara Siger ini juga belum dimanfaatkan, baik oleh Pemprov Lampung maupun Pemkab Lamsel. Karena itu, alangkah baiknya salah satu ikon dan "pintu" dunia pariwisata yang terletak di bukit Bakauheni itu dikelola bersama-sama: Pemprov Lampung dan Pemkab Lamsel. Dengan demikian, sama-sama merasa memiliki.
Selain itu, sebagaimana ditegaskan Bupati Wendy Melfa dalam dialog dengan LTV, produk penganan keripik pisang bisa dijadikan unggulan kabupaten ini. Ia optimistis Lamsel tak akan kehabisan buah pisang. Itu sebabnya, bupati berencana menyediakan lahan untuk rest area keripik pisang.
Pelancong akan sejenak mampir membeli keripik pisang, setelah itu melanjutkan perjalanannya ke tujuan. Jika saja di rest area tersebut masyarakatnya telah dibekali bagaimana "menjual" objek wisata, poin plus tersendiri. Ini telah lama dilakukan oleh abang-abang becak dan sais delman di Yogyakarta. Bagaimana tamu ditawari ke pusat-pusat suvenir dan objek wisata lainnya. n M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
--------
TAK sulit mencapai objek-objek wisata di Lampung Selatan (Lamsel), apatah lagi wisata pantainya. Tempat wisata Way Belerang dengan mudah dicapai. Jika menggunakan kendaraan pribadi, rambu penanda banyak terpampang. Tak perlu turun dari kendaraan untuk bertanya di mana Way Belerang. Jangan khawatir akan tersasar. Jalan di Kota Kalianda tidak serumit dibanding kota-kota lain.
Jika hendak ke Pantai Canti, plang rambu juga menjelaskan. Hal yang sama apabila tujuan Anda ingin ke Pantai Wartawan, ikuti saja jalan selepas pasar tua Kota Kalianda.
Ke Laguna Helau bisa ditempuh dari dua tempat. Apabila Anda kadung berada di kompleks perkantoran Kabupaten Lamsel, hanya turun beberapa meter dan melihat jalan Sinar Laut, atau jalan masuk Yayasaan Pendidikan YAPRI di sebelah kanan. Itulah pintu masuk ke wilayah Laguna Helau. Sedangkan dari Bandar Lampung, maka selepas plang Merak Belantung dan melihat ada rumah makan, ada jalan masuk: dari sana Anda akan sampai ke Laguna Helau.
Jika ragu, jangan malu bertanya. Masyarakat di sana tak kikir untuk menunjukkan jalan kepada Anda. Kami bukan bermaksud hendak memuji, memang keramahan (dan sopan) masyarakat Kalianda sudah terbukti. Tentu jika Anda menunjukkan kesopanan pula.
Kesopanan dan keramahan masyarakat Kalianda kepada pendatang (tamu) patut sebagai rujukan dan andil jika ingin mengembangkan dunia pariwisata. Masyarakatnya tidak introver, ramah, sopan, dan ringan membuka suara, modal bagi pelancong tak akan tersasar.
Itulah gambaran orang Kalianda. Ketika kami bertanya untuk memastikan bahwa kami tak salah memasuki jalan ke Laguna Helau, dengan ramah dijawab. Kami pun melaju, menyusuri jalan beraspal hotmix itu.
Sepanjang jalan tak henti-henti kami berdecak kagum. Menikmati keindahan alam pantai. Ternyata banyak masyarakat yang memancing di sana. Ada yang berkelompok, tak sedikit pula sendiri. Selain itu, anak-anak berenang riang ditingkahi tarian gelombang. Inilah satu sampel keindahan pantai Lamsel dan berpotensi "dijual" di pasar pariwisata Indonesia.
Potensi alam pantai itu mestinya dilirik investor dan pemkab setempat. Dunia pariwisata di Lampung sangat potensial menawarkan alam pantai. Kami mengangankan sekiranya tepi pantai sepanjang menuju Laguna Helau dibangun kafe dan ataupun warung jajan sederhana, niscaya akan "menyihir" pelancong ke tempat itu.
Saya teringat dengan suasana ini di Kota Padang. Di belakang gedung Taman Budaya Sumbar ada pantai membentang. Saya dan teman-teman menikmati keindahan pantai malam hari, sambil memesan penganan dan minuman di warung (juga kafe) yang berderet sepanjang tepi pantai. Sambil mengobrol ataupun diskusi sekaligus menikmati indahnya pantai.
Dan, saya yakin alam pantai di Kalianda tak kalah indah dengan yang ada di Kota Padang. Juga berpotensi untuk "dijual" sebagai juadah pariwisata. Sebab, Lampung tak bisa sepenuhnya berharap dari Pusat Latihan Gajah Way Kambas yang nyaris tak terurus dan lokasinya sangat jauh dari pusat Kota Bandar Lampung.
Lamsel punya banyak potensi objek wisata. Selain Laguna Helau, Pantai Ketang, Kalianda Resort, Pantai Marina, Canti, Way Belerang, untuk menyebut beberapa saja objek wisata di Kalianda, juga Menara Siger yang kini selalu "menggoda" jika kita berada di kapal feri yang hendak merapat ataupun bertolak ke Merak.
Potensi Menara Siger ini juga belum dimanfaatkan, baik oleh Pemprov Lampung maupun Pemkab Lamsel. Karena itu, alangkah baiknya salah satu ikon dan "pintu" dunia pariwisata yang terletak di bukit Bakauheni itu dikelola bersama-sama: Pemprov Lampung dan Pemkab Lamsel. Dengan demikian, sama-sama merasa memiliki.
Selain itu, sebagaimana ditegaskan Bupati Wendy Melfa dalam dialog dengan LTV, produk penganan keripik pisang bisa dijadikan unggulan kabupaten ini. Ia optimistis Lamsel tak akan kehabisan buah pisang. Itu sebabnya, bupati berencana menyediakan lahan untuk rest area keripik pisang.
Pelancong akan sejenak mampir membeli keripik pisang, setelah itu melanjutkan perjalanannya ke tujuan. Jika saja di rest area tersebut masyarakatnya telah dibekali bagaimana "menjual" objek wisata, poin plus tersendiri. Ini telah lama dilakukan oleh abang-abang becak dan sais delman di Yogyakarta. Bagaimana tamu ditawari ke pusat-pusat suvenir dan objek wisata lainnya. n M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2008
December 1, 2008
[Ekspresi] Fitri Yani: Hidup Artistik dengan Seni
Oleh Ni’matus Shaumi
IA kini jadi salah satu penyair muda Lampung yang cukup disegani. Kecintaan Fitri Yani kepada puisi membuatnya berkomitmen akan terus berkarya sampai kapan pun. Karena baginya hidup dengan kesenian adalah hidup yang artistik.
Fitri Yani (Teknokra)
Perkenalannya dengan puisi dan sastra dimulai sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu ia suka membaca pantun dan puisi yang ada dibuku- buku pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak itu ia mulai tertarik dengan puisi dan sastra. Fitri mulai suka menulis puisi. Apalagi guru Bahasa Indonesianya kerap memberi tugas untuk membuat puisi dan mengarang. Puisi-puisinya pun sering menghiasi majalah dinding sekolahnya.
Hobi dan bakatnya terus berlanjut menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA). Eksistensinya didunia sastra mulai dibuktikan saat ia berkesempatan mengikuti Bengkel Sastra siswa SMA Se-Bandar Lampung. Ia mendapat Juara II Penulisan Puisi. Mulai saat itu ia sering pula diminta teman-temannya membuatkan puisi khusus untuk mereka.
Ia selalu meluangkan waktunya ke perpustakaan sekolah untuk membaca majalah sastra Horizon atau buku-buku kumpulan puisi. ”Banyak puisi-puisi tidak saya mengerti karena bahasanya penuh dengan metafor,” kenangnya. Ia pun mulai membedah puisi-puisi karya penyair legendaris macam Chairil Anwar, ”saya suka puisinya yang judulnya Senja di Pelabuhan Kecil dan Doa. Saya juga kagum karya Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS.Rendra, puisi-puisi sosialnya menginspirasi diri,” ujarnya puitis.
Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Lampung (UKM BS Unila) menjadi pilihan menyalurkan hobi menulisnya saat kuliah. Ia memilih Divisi Teater dan Sastra. Iklim sastra di UKM BS tentu sangat mendukungnya belajar bagaimana menulis puisi yang baik. Ia semakin mencintai puisi, sastra, belajar menurunkan ego dan kerja sama, dan Sejak itu itulah ia bertekad tidak akan meninggalkan UKM BS apapun yang terjadi.
Banyak belajar dari senior
Eksistensinya terus diasah sampai saat ini dengan menjabat sebagai Ketua Bidang Program periode 2008-2009. Hal itu membuatnya harus pandai-pandai membagi waktu. Selain puisi, Fitri juga menyukai dunia teater. Berteater membuatnya mendapat hal-hal baru, membuatnya lebih percaya diri dan disiplin. Teater juga memengaruhinya dalam menulis. ”Walaupun capek latihan sampai jam 11 malam dan mengorbankan banyak hal tetapi ada rasa puas dan bangga,” ungkapnya seraya tersenyum.
Gadis berperawakan sedang, berkulit putih bersih, rambut lurus sebahu dan bola mata hitamnya yang tajam, ditambah dengan bentuk bibir yang sedikit lebar ini selalu ingin terus dikritik kepada siapa saja yang membaca karyanya. Senior-seniornya seperti Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian dan Lupita Lukman adalah orang-orang yang sangat memotivasi dirinya. Mereka tempatnya belajar.
Proses belajarnya tidaklah mudah. Suatu saat sepuluh puisi yang ditulis Fitri dicoret-coret seniornya. ”Apa ini! Ini bukan puisi! Menulis lagilah kamu sampai tulisanmu baik,” ujarnya menirukan kata seniornya. Itu tidak membuatnya patah arang, justru lebih semangat. Menurut Fitri, secara konvensional puisi yang dianggap baik adalah tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair. ”Bang Ari pernah berkata kepada saya, untuk menjadi orang yang luar biasa kau harus menempuh jalan yang tak biasa pula.” Jalan tersebut menurut Ari mungkin amat jarang dilalui orang, jalan sunyi yang sarat harapan dan kenangan.
Proses dan hasil
Banyak hal dapat mempengaruhi seseorang menulis puisi, misalnya: mendengar musik-musik yang jarang didengar, membaca buku-buku sastra, membaca buku fiksi dan non fiksi. Seorang penyair harus memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas. Puisi merupakan tulisan yang ilmiah dan nalar secara logika, karena penyair harus dapat mempertanggung jawabkan karya-karyanya kepada pembaca. Fitri mengatakan untuk menulis puisi haruslah penuh dengan imajinasi, pembaca yang kemudian menikmati dan memaknai.
Sudah ratusan puisi yang ditulisnya. Namun, ia mengaku jarang mengirim puisinya untuk dilombakan. ”Saya berpuisi untuk berkarya agar mencapai kesempurnaan,” akunya. Bagi sulung dari lima bersaudara pasangan Bapak Kalvin dan Ibu Tamimah ini, dengan menulis, memori yang tersimpan dapat dituangkan, sehingga banyak hal yang kemudian datang dan mengisi lagi ruang memori untuk kemudian dituliskan kembali. Menulis adalah perjalanan yang dinamis. Pengalaman yang berulang memang bisa berubah-ubah kategori pemaknaannya. Inilah keasyikannya bisa memahami setiap kejadian dalam perjalanan hidup. Menulis juga dapat membuat peka dengan hal-hal diluar diri sehingga karya bisa kita bagi dengan orang lain.
Tema puisinya bisa apa saja. Apa yang sedang dirasakannya, ya ditulisnya. Ia terus menjaga produktifitasnya sebagai penyair muda dengan terus menulis. Ia selalu belajar membagi waktu antara kuliah, menulis puisi, dan menghapal naskah drama. Harus ada energi lebih agar konsentrasi tidak pecah, ”aku kalo gak nulis selalu ngerasa gelisah,” ungkapnya. Ia juga kadang membutuhkan waktu refresh untuk mencari inspirasi baru.
Fitri paling tidak suka tidak melakukan apa-apa. ”Tiga hari saja tidak menulis, saya selalu bertanya-tanya ada apa dengan diri saya?” Kalau sudah seperti itu, ia merasa harus ada yang berubah dan mencoba bangkit. Setiap hari ia mencoba berpikir positif, ”aku harus terus mengosongkan gelas yang sudah penuh, untuk aku isi lagi dengan mengasah kemampuan,” kata Fitri filosofis.
Ia mencoba fokus dan total pada apa yang sedang dijalaninya. Ia menghindari malas dan ketergantungan pada rasa malas. Menulis merupakan proses yang cukup menyita pikirannya, dari menentukan tema, memeriksa dan meninjau kembali sudut pandang kesesuaian hasil editing dan garis besar puisi.
Kegigihan prosesnya tersebut tentu menuai hasil. Salah satunya, puisinya masuk dalam Kampung Dalam Diri, Antologi Puisi Temu Penyair Lima Kota (Payakumbuh, 2008). Selain itu teater yang pernah dipentaskannya antara lain Ipoh karya Athur S. Nolan, Titit karya Putu Wijaya, dan Mak Comblang karya Nocolai Gogol. Bahkan, saat ini naskah teaternya yang ditulis Fitri bersama dua temannya di UKM BS berjudul ”Suara-suara Dari Balik Jendela” dalam proses penggarapan. Rencananya karya tersebut akan diikutkan dalam Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) di Bandung. Karya-karya Fitri dimuat media daerah dan nasional seperti Lampung Post, Kompas, Majalah Gong.
Menulis baginya jelas berbeda dengan teater. Alasannya, teater ada sutradara yang bertanggungjawab dalam mengatur latihan, sedangkan ketika menulis Fitri merasa harus bergelut dengan dirinya sendiri. Bagaimana tulisannya tidak hanya sebagai seni tetapi juga menjadi sastra ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
...
begitulah aku,
melewati langit
tiap pintu waktu berderit
...
Pelampung Keramba
Fitriyani, 2007
BIODATA
Nama lengkap: Fitri Yani
Nama panggilan: Fitri
Tempat/tanggal lahir: Liwa, Lampung Barat, 28 Februari 1986
Pendidikan:
- SD Negeri 1 Sebarus Liwa
- SLTP 1 Negeri Liwa
- SMU Negeri 8 Bandar Lampung
- FKIP PPKN Universitas Lampung
Organisasi:
- Anggota Divisi Teater dan Sastra UKMBS
- Kepala Divisi Teater dan Sastra UKMBS
- Kepala Program UKMBS
Karya
- Karya puisi dimuat pada harian umum Lampung Post, Majalah Gong, Kompas, serta terdapat dalam Kampung dalam Diri, Antologi Puisi Temu Penyair Lima Kota (Payakumbuh, 2008)”.
- Menulis skenario drama yang diadakan FESTAMASIO berjudul ”Suara – Suara dari Balik Jendela” bersama kedua temannya.
Sumber: teknokraunila.com, Sabtu, 15 November 2008
IA kini jadi salah satu penyair muda Lampung yang cukup disegani. Kecintaan Fitri Yani kepada puisi membuatnya berkomitmen akan terus berkarya sampai kapan pun. Karena baginya hidup dengan kesenian adalah hidup yang artistik.
Fitri Yani (Teknokra)Perkenalannya dengan puisi dan sastra dimulai sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu ia suka membaca pantun dan puisi yang ada dibuku- buku pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak itu ia mulai tertarik dengan puisi dan sastra. Fitri mulai suka menulis puisi. Apalagi guru Bahasa Indonesianya kerap memberi tugas untuk membuat puisi dan mengarang. Puisi-puisinya pun sering menghiasi majalah dinding sekolahnya.
Hobi dan bakatnya terus berlanjut menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA). Eksistensinya didunia sastra mulai dibuktikan saat ia berkesempatan mengikuti Bengkel Sastra siswa SMA Se-Bandar Lampung. Ia mendapat Juara II Penulisan Puisi. Mulai saat itu ia sering pula diminta teman-temannya membuatkan puisi khusus untuk mereka.
Ia selalu meluangkan waktunya ke perpustakaan sekolah untuk membaca majalah sastra Horizon atau buku-buku kumpulan puisi. ”Banyak puisi-puisi tidak saya mengerti karena bahasanya penuh dengan metafor,” kenangnya. Ia pun mulai membedah puisi-puisi karya penyair legendaris macam Chairil Anwar, ”saya suka puisinya yang judulnya Senja di Pelabuhan Kecil dan Doa. Saya juga kagum karya Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS.Rendra, puisi-puisi sosialnya menginspirasi diri,” ujarnya puitis.
Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Lampung (UKM BS Unila) menjadi pilihan menyalurkan hobi menulisnya saat kuliah. Ia memilih Divisi Teater dan Sastra. Iklim sastra di UKM BS tentu sangat mendukungnya belajar bagaimana menulis puisi yang baik. Ia semakin mencintai puisi, sastra, belajar menurunkan ego dan kerja sama, dan Sejak itu itulah ia bertekad tidak akan meninggalkan UKM BS apapun yang terjadi.
Banyak belajar dari senior
Eksistensinya terus diasah sampai saat ini dengan menjabat sebagai Ketua Bidang Program periode 2008-2009. Hal itu membuatnya harus pandai-pandai membagi waktu. Selain puisi, Fitri juga menyukai dunia teater. Berteater membuatnya mendapat hal-hal baru, membuatnya lebih percaya diri dan disiplin. Teater juga memengaruhinya dalam menulis. ”Walaupun capek latihan sampai jam 11 malam dan mengorbankan banyak hal tetapi ada rasa puas dan bangga,” ungkapnya seraya tersenyum.
Gadis berperawakan sedang, berkulit putih bersih, rambut lurus sebahu dan bola mata hitamnya yang tajam, ditambah dengan bentuk bibir yang sedikit lebar ini selalu ingin terus dikritik kepada siapa saja yang membaca karyanya. Senior-seniornya seperti Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian dan Lupita Lukman adalah orang-orang yang sangat memotivasi dirinya. Mereka tempatnya belajar.
Proses belajarnya tidaklah mudah. Suatu saat sepuluh puisi yang ditulis Fitri dicoret-coret seniornya. ”Apa ini! Ini bukan puisi! Menulis lagilah kamu sampai tulisanmu baik,” ujarnya menirukan kata seniornya. Itu tidak membuatnya patah arang, justru lebih semangat. Menurut Fitri, secara konvensional puisi yang dianggap baik adalah tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair. ”Bang Ari pernah berkata kepada saya, untuk menjadi orang yang luar biasa kau harus menempuh jalan yang tak biasa pula.” Jalan tersebut menurut Ari mungkin amat jarang dilalui orang, jalan sunyi yang sarat harapan dan kenangan.
Proses dan hasil
Banyak hal dapat mempengaruhi seseorang menulis puisi, misalnya: mendengar musik-musik yang jarang didengar, membaca buku-buku sastra, membaca buku fiksi dan non fiksi. Seorang penyair harus memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas. Puisi merupakan tulisan yang ilmiah dan nalar secara logika, karena penyair harus dapat mempertanggung jawabkan karya-karyanya kepada pembaca. Fitri mengatakan untuk menulis puisi haruslah penuh dengan imajinasi, pembaca yang kemudian menikmati dan memaknai.
Sudah ratusan puisi yang ditulisnya. Namun, ia mengaku jarang mengirim puisinya untuk dilombakan. ”Saya berpuisi untuk berkarya agar mencapai kesempurnaan,” akunya. Bagi sulung dari lima bersaudara pasangan Bapak Kalvin dan Ibu Tamimah ini, dengan menulis, memori yang tersimpan dapat dituangkan, sehingga banyak hal yang kemudian datang dan mengisi lagi ruang memori untuk kemudian dituliskan kembali. Menulis adalah perjalanan yang dinamis. Pengalaman yang berulang memang bisa berubah-ubah kategori pemaknaannya. Inilah keasyikannya bisa memahami setiap kejadian dalam perjalanan hidup. Menulis juga dapat membuat peka dengan hal-hal diluar diri sehingga karya bisa kita bagi dengan orang lain.
Tema puisinya bisa apa saja. Apa yang sedang dirasakannya, ya ditulisnya. Ia terus menjaga produktifitasnya sebagai penyair muda dengan terus menulis. Ia selalu belajar membagi waktu antara kuliah, menulis puisi, dan menghapal naskah drama. Harus ada energi lebih agar konsentrasi tidak pecah, ”aku kalo gak nulis selalu ngerasa gelisah,” ungkapnya. Ia juga kadang membutuhkan waktu refresh untuk mencari inspirasi baru.
Fitri paling tidak suka tidak melakukan apa-apa. ”Tiga hari saja tidak menulis, saya selalu bertanya-tanya ada apa dengan diri saya?” Kalau sudah seperti itu, ia merasa harus ada yang berubah dan mencoba bangkit. Setiap hari ia mencoba berpikir positif, ”aku harus terus mengosongkan gelas yang sudah penuh, untuk aku isi lagi dengan mengasah kemampuan,” kata Fitri filosofis.
Ia mencoba fokus dan total pada apa yang sedang dijalaninya. Ia menghindari malas dan ketergantungan pada rasa malas. Menulis merupakan proses yang cukup menyita pikirannya, dari menentukan tema, memeriksa dan meninjau kembali sudut pandang kesesuaian hasil editing dan garis besar puisi.
Kegigihan prosesnya tersebut tentu menuai hasil. Salah satunya, puisinya masuk dalam Kampung Dalam Diri, Antologi Puisi Temu Penyair Lima Kota (Payakumbuh, 2008). Selain itu teater yang pernah dipentaskannya antara lain Ipoh karya Athur S. Nolan, Titit karya Putu Wijaya, dan Mak Comblang karya Nocolai Gogol. Bahkan, saat ini naskah teaternya yang ditulis Fitri bersama dua temannya di UKM BS berjudul ”Suara-suara Dari Balik Jendela” dalam proses penggarapan. Rencananya karya tersebut akan diikutkan dalam Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) di Bandung. Karya-karya Fitri dimuat media daerah dan nasional seperti Lampung Post, Kompas, Majalah Gong.
Menulis baginya jelas berbeda dengan teater. Alasannya, teater ada sutradara yang bertanggungjawab dalam mengatur latihan, sedangkan ketika menulis Fitri merasa harus bergelut dengan dirinya sendiri. Bagaimana tulisannya tidak hanya sebagai seni tetapi juga menjadi sastra ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
...
begitulah aku,
melewati langit
tiap pintu waktu berderit
...
Pelampung Keramba
Fitriyani, 2007
BIODATA
Nama lengkap: Fitri Yani
Nama panggilan: Fitri
Tempat/tanggal lahir: Liwa, Lampung Barat, 28 Februari 1986
Pendidikan:
- SD Negeri 1 Sebarus Liwa
- SLTP 1 Negeri Liwa
- SMU Negeri 8 Bandar Lampung
- FKIP PPKN Universitas Lampung
Organisasi:
- Anggota Divisi Teater dan Sastra UKMBS
- Kepala Divisi Teater dan Sastra UKMBS
- Kepala Program UKMBS
Karya
- Karya puisi dimuat pada harian umum Lampung Post, Majalah Gong, Kompas, serta terdapat dalam Kampung dalam Diri, Antologi Puisi Temu Penyair Lima Kota (Payakumbuh, 2008)”.
- Menulis skenario drama yang diadakan FESTAMASIO berjudul ”Suara – Suara dari Balik Jendela” bersama kedua temannya.
Sumber: teknokraunila.com, Sabtu, 15 November 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)