March 10, 2012

Patung ZAP: Gubernur Tak Mau Kalah dengan Orang Tuanya

KALIANDA (Lampost): Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. menyatakan akan membuka akses jalur penerbangan Lampung—luar negeri melalui Bandara Radin Inten II pada 2012 ini. Dia tidak mau kalah dengan apa yang telah diperbuat mantan Gubernur Lampung yang juga orang tuanya, Zainal Abidin Pagaralam (ZAP) berjuang untuk memajukan Lampung.

Pernyataan itu dikatakan Gubernur saat meresmikan patung ZAP di jalur dua, persisnya depan jalan lintas Sumatera (Jalinsum), Jumat (9-3) malam. "Beliau (ZAP, red), telah memprakarsai pembangunan Pelabuhan Bakauheni, Bandara Radin Inten II, Unila, dan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung. Kini saya juga telah berbuat untuk Lampung. Karena, kini orang bisa melihat dengan berdirinya Menara Siger sebagai ikon Lampung yang ada di Bakauheni," ujarnya.

Menurut Sjachroedin, masyarakat Lampung tidak boleh melupakan sejarah. Patung Zainal Abidin Pagaralam dibangun bukan untuk diagung-agungkan, melainkan bukti kepedulian pemerintah terhadap jasa-jasanya yang telah membangun Lampung hingga seperti saat ini.

Selain itu, kata Sjachroedin, pembangunan patung Zainal Abidin Pagaralam bukan karena kebetulan cucunya Rycko Menoza S.Z.P. sebagai Bupati Lampung Selatan dan anaknya Sjachroedin Z.P. sebagai Gubernur Lampung. Namun, ini kehendak Tuhan.

"Jadi, kita tidak boleh melupakan sejarah dan jasa-jasa ZAP. Untuk membuktikan adanya sejarah perjuangan ZAP, kini masih ada saksi hidupnya. Silakan boleh ditanya kepada sahabat beliau, yakni Zahidin Muchtar, warga Kalianda," kata dia.

Gubernur berharap patung ini dapat memberikan semangat kita ke depan untuk membangun Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Selatan. "Atas berdirinya patung ZAP ini, saya mengucapkan terima kasih kepada para tokoh masyarakat, anggota DPRD, dan para pejabat di Kabupaten Lamsel yang telah ikut membantu berdirinya patung ZAP ini. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada tim penulis buku sejarah ZAP," kata Gubernur.

Pemantauan Lampung Post, suasana peresmian patung Zainal Abidin Pagaralam cukup meriah. Apalagi, acara itu dipandu pembawa acara artis Ibu Kota Anya Dwinov.

Acara juga dimeriahkan dengan penampilan tarian khas Lampung asal Sanggar Tari Beringinraya binaan Ketua Penggerak PKK Lamsel Pitka R. Menoza dan penampilan siswi SDN 1 Way Urang yang membacakan puisi tentang perjuangan anak negeri, yang telah menjadikan Lampung bisa maju seperti saat ini. (TOR/U-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Maret 2012

March 8, 2012

Seniman Dukung Renovasi Pasar Seni Enggal

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pelaku seni di Pasar Seni, Enggal, Bandar Lampung, mendukung rencana Pemkot Bandar Lampung yang akan merevitalisasi pusat kesenian itu. Menariknya, penataan tersebut adalah kebijakan yang telah ditunggu-tunggu para seniman.

Seperti diketahui, Pemkot akan melakukan penataan dan penertiban penghuni pondokan di Pasar Seni. Renovasi Pasar Seni Enggal akan mulai dilakukan pada 10 Maret.

Pembenahan yang diproyeksikan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus lebih menghidupkan pusat kesenian dan UMKM di kawasan tersebut.

Langkah penataan itu mendapatkan sambutan positif dari pelaku seni penghuni Pasar Seni Enggal. Meskipun di satu sisi mereka meminta kepastian Pemkot jika renovasi sudah dilakukan.

Menurut Rudi, pelaku seni musik, pihaknya mendukung rencana Pemkot dengan sepenuh hati. Dia mengatakan kebijakan Pemkot yang ingin merenovasi dan menertibkan penghuni Pasar Seni adalah kebijakan yang ditunggu-tunggu seniman.

"Mengapa kami menunggu kebijakan seperti ini, karena kami pun ingin memajukan Pasar Seni. Sekaligus memajukan kesenian di Kota Bandar Lampung yang selama ini mati suri," kata dia, Rabu (7-3).

Rudi menegaskan kebijakan Pemkot harus didukung sebab penataan Pasar Seni merupakan salah satu terobosan atau perubahan demi perbaikan kesenian ke depan. Mengingat, jika Pasar Seni ramai, pelaku seni juga akan mendapatkan keuntungan.

Ia berharap sebelum Pemkot melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menata pasar seni, pihaknya bersama para seniman yang menghuni Pasar Seni turut diperhatikan.

"Ke depan kami akan ditempatkan di mana, apakah kami masih diperbolehkan menghuni pondokan Pasar Seni. Semuanya harus jelas sehingga kami sebagai seniman bisa terus berkarya tanpa ada rasa khawatir," kata dia. (VER/K-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 8 Maret 2012

March 7, 2012

Pameran Kain Tradisional Lampung di Museum Tekstil

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna & Robert Adhi Ksp


JAKARTA, KOMPAS.com - Beragam kain tradisional Lampung dipamerkan dalam "Pameran Wastra Lampung: Warisan Budaya Melintas Zaman" di Museum Tekstil Jakarta, Rabu (7/3/2012).



Pameran Kain Tradisonal Lampung di Museum Tekstil (Raditya Helabumi Jayakarta/KOMPAS)

Pameran yang digelar atas kerjasama Museum Tekstil Jakarta dan Himpunan Perajin Kain Tapis Lampung dan Lampung Sai ini untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kain tradisional Lampung.

Saat pembukaan pameran juga dimeriahkan dengan peragaan busana kombinasi kreasi kain tapis lampung dan ulam usus.

Tapis merupakan kain berbentuk selongsong yang dikenakan wanita Lampung yang ditenun dengan lajur lajur berwarna sepanjang kain. Pameran ini akan berlangsung hingga 14 Maret 2012.

Sumber: Oase, Kompas.com, Rabu, 7 Maret 2012
|

March 5, 2012

200 Bahasa Daerah Terancam Punah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak warisan budaya, termasuk bahasa daerah. Lebih dari 750 bahasa daerah berada di Indonesia, tapi sekitar 200 bahasa terancam punah karena penuturnya tidak lebih dari 500 orang.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila Bujang Rahman mengatakan hal itu pada pembukaan lokakarya Penelitian dan Penulisan Akademik di Aula K FKIP Unila, Sabtu (3-3). Hadir dalam acara tersebut Ketua Masyarakat Lingusitik Indonesia (MLI) Pusat Faizah Sari, Wakil Ketua MLI Rindu Parulian, dan Tim MLI Pusat Bambang Kaswanti.

Selain untuk mengadakan workshop, kedatangan Tim MLI Pusat ke Unila untuk membicarakan penyelenggaraan Kongres Internasional MLI yang akan diadakan di Unila pada 2014 mendatang. “Unila akan menjadi tuan rumah acara bertaraf internasional yang diadakan setiap 2 tahun ini,” kata ketua MLI Lampung Cucu Sutarsyah.

Workshop yang dihadiri dosen, mahasiswa, dan peneliti ini bertujuan mengembangkan kualitas penelitian bahasa dan keterampilan menulis akademik untuk publikasi ilmiah. “Pelatihan ini adalah upaya mendukung peneliti lokal dan meningkatkan keterampilan menulis para peneliti,” ujar Cucu.

Menurut Bambang, dalam lokakarya ini peserta diajar mengolah data sampai menjadi karya ilmiah, sehingga dapat mengangkat hal menarik dari penelitian yang dibuatnya. “Saat ini banyak peneliti yang mengalami kesulitan mengolah data, padahal mereka sudah memiliki cukup data,” kata Bambang.

Terkait dengan Indonesia yang memiliki beragam bahasa daerah, Bambang menilai hal ini sebagai tantangan untuk dapat melestarikan kekayaan budaya tersebut. Usaha melestarikan bahasa dapat dilakukan melalui penelitian bahasa.

“Saya mendapat informasi bahwa bahasa Lampung merupakan salah satu bahasa yang terancam punah.” Menurutnya, banyak potensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk melestarikan bahasa daerahnya, salah satunya melalui kawin campur.

Suami-istri yang menikah dan berasal dari suku berbeda memiliki potensi melestarikan bahasa daerahnya lebih besar dengan mengajarkan bahasa daerah masing-masing kepada anak. “Misalnya, ayahnya Batak dan ibunya Manado, ayah dan ibu dapat mengajarkan kedua bahasa tersebut kepada anak mereka,” ujar dia.

Sayangnya, keluarga yang kawin campur justru lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk bercakap-cakap kepada anaknya, padahal bahasa Indonesia pasti akan dimengerti anak melalui pergaulan sehari-harinya.

Menurutnya, anak yang diajari banyak bahasa justru akan memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibanding anak yang hanya diajarkan satu bahasa, terutama usia sebelum sekolah. Pasalnya, masa tersebut merupakan masa emas bagi seorang anak sehingga orang tua dapat memanfaatkan masa ini untuk mengajar banyak bahasa kepada anak, termasuk bahasa daerah.

Terkait dengan Kongres Internasional MLI, Ketua MLI Faziah menjelaskan kongres ini akan dihadiri peneliti linguistik baik dari seluruh Indonesia maupun dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan negara lain dari Asia Tenggara.

Terdapat sidang pleno dan paralel yang di dalamnya membahas berbagai hasil penelitian linguistik. Hasil kongres tersebut dimasukkan Jurnal Linguistik Indonesia yang terbit 2 kali setahun dan sudah memiliki versi online. (MG4/S-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 5 Maret 2012

February 28, 2012

Lampung Berpotensi Masuk 5 Besar Destinasi Wisata di Indonesia

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Provinsi Lampung berpotensi masuk jajaran lima besar daerah destinasi wisata di Indonesia. Selain memiliki beragam sumber daya alam wisata, Lampung juga merupakan daerah multibudaya yang dapat menunjang bermacam kegiatan wisata nasional dan internasional.

"Lampung harus jadi lima besar destinasi wisata di Indonesia, setelah Jakarta, Yogyakarta, Bali, Surabaya, dan Bandung," kata Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarma Mahendradatta Suyasa III atau Raja Majapahit Bali, saat memberikan sambutan Malam Gelar Budaya di Pasar Seni, Enggal, Sabtu (25-2) malam.

Hadir pada acara itu di antaranya Sekkot Bandar Lampung Badri Tamam dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bandar Lampung Eva Dwiana Herman H.N. Menurut Gusti Arya, potensi wisata di Lampung, khususnya wisata pantai, lebih baik daripada di Bali.

Namun, Lampung terkesan tidak memiliki grand design, sehingga potensi yang ada belum dapat terkelola maksimal. "Jika saya boleh jujur, pantai di Lampung ini lebih baik dari Bali."

Tidak hanya kagum dengan potensi wisata Lampung, secara khusus Gusti Arya juga mengapresiasi Lampung karena dapat menyatukan berbagai suku bangsa. "Lampung ini multibudaya, Melayu, Jawa, Kalimantan, dan etnis China. Lampung ini ibarat Indonesia mini dan ini patut dipertahankan."

Menurut dia, Lampung merupakan provinsi multietnis, agama, dan suku bangsa. Tidak ada perbedaan dan semua mampu terangkul menjadi satu. Dia menambahkan rasa toleransi orang Bali mungkin kalah dengan apa yang telah dilakukan Provinsi Lampung.

"Lampung tidak bersikap ekslusif. Dan saya rasa Lampung harus mendapat gelar pluralisme, karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Saya akan bicarakan hal ini di pusat," kata dia.

Sementara itu, Badri Tamam dalam sambutannya, mewakili Wali Kota Bandar Lampung Herman H.N., mengatakan kegiatan Malam Gelar Budaya ini diharapkan dapat memberikan spirit dan inspirasi, khusunya bagi para duta wisata dalam memajukan seni dan budaya daerah masing-masing.

Malam Gelar Budaya yang diselenggarakan Pemkot Bandar Lampung itu mendapat apresiasi dan antuasias dari warga. Acara yang diawali dengan pertunjukkan alat musik gamolan dari SD Xaverius dan dilanjutkan dengan penampilan tari kipas dari Sanggar Tapis Berseri itu setidaknya dihadiri ratusan penonton. (YAR/K-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 28 Februari 2012

February 26, 2012

Suramnya Sastra Daerah Lampung

Oleh Kuswinarto


"LAMPUNG Gagal Raih Hadiah Sastra Rancage 2012." Demikian judul salah satu berita di Lampung Post, Rabu, 1 Februari 2012. Ini berarti sudah lima kali penghargaan sastra tahunan ini diberikan kepada sastra Lampung, tetapi dua penghargaan saja yang berhasil diraih sastrawan Lampung.

Hadiah Sastra Rancage diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage kepada sastra Lampung sejak 2008. "Bapak Puisi Modern Lampung Udo Z. Karzi, sastrawan Lampung pertama yang berhasil meraih penghargaan ini lewat kumpulan sajaknya Mak Dawah Mak Dibingi. Berita diterimanya Hadiah Sastra Rancage oleh Udo Z. Karzi di tahun 2008 itu disambut gembira oleh banyak pihak. Sebab, boleh jadi (dan memang diharapkan) itu akan memacu masyarakat Lampung untuk lebih bergairah dalam bersastra dalam bahasa daerahnya.

Harapan itu ternyata tinggal harapan. Tahun berikutnya, 2009, tidak ada sastrawan Lampung yang menerima penghargaan yang diberikan kepada siapa saja yang dianggap berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah itu. Ini berarti, setelah Udo Z. Karzi menerima hadiah ini di tahun 2008, tidak ada lagi pengembang bahasa dan sastra Lampung yang layak diberi penghargaan. Mungkin malah tidak ada lagi orang yang berusaha mengembangkan bahasa dan sastra daerah Lampung.

Apalagi, Program Studi Bahasa dan Sastra Daerah Lampung di Universitas Lampung pun ditutup. Padahal, program yang terutama mempersiapkan pendidik dan pengajar mata pelajaran muatan lokal Bahasa dan Sastra Daerah Lampung di sekolah-sekolah di Lampung itu belum lama dibuka. Tentu saja penutupan program ini bukan kabar baik bagi upaya pengembang bahasa dan sastra Lampung lewat pendidikan formal. Sebab, sudah tentu sekolah-sekolah di Lampung akan kesulitan mendapatkan pengajar-pengajar profesional untuk mata pelajaran muatan lokal Bahasa dan Sastra Daerah Lampung.

Satu hal yang sedikit menghibur, lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 untuk sastra Lampung hanyalah karena kesalahan teknis. Sebab, ketika itu sebetulnya ada dua buku baru sastra Lampung, yakni kumpulan cerita pendek Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Bapak Cerpen Modern Lampung Asarpin Aslami dan kumpulan sajak Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya. Hanya saja kedua buku itu terlambat dikirimkan ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Ini menghibur, karena meskipun Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 untuk sastra Lampung lepas, itu tidak berarti bahwa sastra modern Lampung stagnan karena masih ada sastrawan yang menggelutinya. Jadi, tak hanya Udo Z. Karzi.

Tahun 2010 Lampung kembali meraih Hadiah Sastra Rancage. Asarpin Aslami yang berhak atas penghargaan itu lewat kumpulan cerpennya Cerita-Cerita Jak Bandar Negeri Semuong. Ini cukup melegakan dan diharapkan banyak orang menjadi pelecut gairah bersastra dalam bahasa Lampung. Sebab, lepasnya Hadiah Sastra Rancage 2009 dari sastrawan Lampung menimbulkan kegelisahan bagi sebagian masyarakat Lampung ketika itu. Masalah itu pun menjadi bahan diskusi. Dan diraihnya Hadiah Sastra Rancage 2010 oleh Asarpin Aslami merupakan salah satu jawaban positif bagi kegelisahan itu.

Akan tetapi, tahun berikutnya, 2011, Yayasan Kebudayaan Rancage kembali kebingungan menentukan kepada siapa Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung akan diberikan. Tidak ada karya yang masuk ke panitia, juga tidak ada karya yang terlambat masuk. Artinya, saat itu memang tidak ada buku baru sastra Lampung yang terbit. Sebab itu, diputuskan tidak ada sastrawan Lampung yang menerima Hadiah Sastra Rancage 2011.

Lantas tahun 2012 ini, lagi-lagi Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung tidak ada penerimanya. Berarti, dua tahun berturut-turut Hadiah Sastra Rancage absen di Lampung. Tahun 2011 sebetulnya terbit dua buku sastra Lampung, yakni Raden Intan II karya Rudi Suhaimi Kalianda dan Warahan Radin Jambat suntingan Iwan Nurdaya-Djafar. Namun, Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung tahun 2012 tetap tidak diberikan untuk satu dari dua buku tersebut. Alasannya, kedua buku itu bukan karya sastra baru.

Keputusan Yayasan Kebudayaan Rancage untuk tidak meloloskan buku Raden Intan II atau Warahan Radin Jambat sebagai penerima Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung tahun 2012, saya kira, sangat tepat. Untung saja, panitia tidak berpikir, "Tidak ada karya yang baru, karya lama jadilah. Toh, terbitnya juga baru saja." Kalau saja pikiran itu digunakan, lantas salah satu dari dua buku itu diberi Hadiah Sastra Rancage, bisa jadi Yayasan Kebudayaan Rancage akan kebanjiran karya-karya serupa.

Sebab, bukan tidak mungkin ke depan lantas akan banyak orang yang sibuk berburu dan mengetiki cerita rakyat yang berlimpah jumlahnya itu dan diterbitkan supaya mendapat Hadiah Sastra Rancage. Tidak hanya di Lampung, tetapi juga di Sunda, Jawa, dan Bali pun orang akan berbondong-bondong mengetik karya-karya sastra lama demi mendapat Hadiah Sastra Rancage. Jika ini terjadi, Hadiah Sastra Rancage memang bisa diberikan secara konsisten, tetapi boleh jadi tidak ada karya sastra baru yang terbit.

Menjaga konsistensi melahirkan buku sastra baru, inilah problem sastra Lampung. Akibatnya, Hadiah Sastra Rancage tidak dapat diterima rutin setiap tahun. Ketidakkonsistenan penerimaan Hadiah Sastra Rancage ini juga memperlihatkan bahwa penghargaan sastra itu, khusus di Lampung, kurang memberi akibat positif. Ketika memutuskan memberikan hadiah untuk sastra Lampung di tahun 2008, Ajip Rosidi berharap penghargaan itu mampu menjadikan kehidupan sastra daerah Lampung menjadi lebih dinamis. Kalau melihat kenyataan yang terjadi, Ajip Rosidi pun agaknya boleh kecewa karena harapannya tidak menjadi nyata. Sebab, Hadiah Sastra Rancage ternyata tidak membuat upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra daerah Lampung menjadi lebih bergairah, lebih hidup, dan lebih greget. Alhasil, khusus untuk sastra Lampung, Yayasan Kebudayaan Rancage tidak dapat memberikan hadiah secara konsisten tiap tahun karena karya yang hendak diberi hadiah tidak ada!

Selama beberapa minggu sejak ada berita bahwa tahun 2012 ini tidak ada penerima Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung, saya menengok media massa dan sejumlah forum online. Saya ingin tahu apa kata dunia—terutama kata orang-orang Lampung—tentang berita menyedihkan ini. Yang ada ternyata hanya sepi. Tak banyak orang membicarakan hal ini. Padahal, berbagai kritik, saran, dan masukan yang disampaikan sejumlah pihak untuk pemerintah daerah Lampung, lembaga pendidikan, sastrawan, dan sebagainya juga kurang mendapat sikap positif.

Kesannya, sastra Lampung seolah-olah tak ada pemiliknya. Seperti sebatangkara. Dan sejauh ini, sastra Lampung kondisinya seperti apa, memang tak banyak orang yang peduli.

Memang, Hadiah Sastra Rancage bukanlah tolokukur bagi bahasa dan sastra daerah Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung dikembangkan atau tidak. Kalaupun boleh disebut tolokukur, Hadiah Sastra Rancage bukanlah satu-satunya tolokukur bagi dikembangkan atau tidaknya bahasa dan sastra daerah-daerah tersebut.

Namun, dari kasus ketidakmampuan menyediakan "produk" secara konsisten setiap tahun untuk diberi Hadiah Sastra Rancage ini, tampak sekali bahwa sastra Lampung dalam masalah besar.

Kuswinarto, esais tinggal di Kediri, Jawa Timur

Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 Februari 2012

[Perjalanan] ‘Taman Refleksi’ Ciarum, Gedongtataan

MENIKMATI keindahan alam sekaligus melatih telapak kaki melakukan refleksi menjadi perpaduan yang menguntungkan. Pikiran fresh, tubuh sehat.

Jutaan akar dari tetumbuhan lestari di puncak Gunung Betung, Pesawaran, meneteskan bulir air bening secara perlahan. Sumber kehidupan itu meresap ke tanah, bersatu dengan air dari akar lain, lalu meleleh tertarik gravitasi mengikuti kontur tanah. Alur-alur terbentuk, kemudian membesar dan menjadi sungai.

Tanpa lelah, menempuh perjalanan puluhan kilometer membawa kerikil dan zat mineral lainnya, air jernih itu sampai ke Kali Ciarum, Desa Cipadang, Gedongtataan, Pesawaran. Alirannya membelah kebun karet milik PTP Nusantara 7 Unit Usaha Way Lima dan terus turun hingga Gedongtataan.

Tak jauh di belakang kompleks perkantoran perusahaan BUMN itu, air tergelar datar cukup jembar. Batu-batu kerikil berbentuk bulat, lonjong, tumpul berdiameter paling kecil hingga belasan sentimeter membentuk tanah lapang. Beberapa lokasi sudah ditumbuhi serut aneka gulma yang terus membulak. Namun, alur-alur sungai yang berkelit dari tetumbuhan itu tak henti mengantarkan perjalanan setitik air hingga hilir.

Kejernihan air yang menggenang luas memeluk batu-batu kecil itu membentuk gulutan-gulutan kecil dinamis mengikuti anatomi bebatuan. Beningnya air membuat batu-batu yang mengampar terlihat jelas dari atas.

Setiap akhir pekan atau hari Minggu, kali yang tak jauh di atasnya dipakai sebagai bumi perkemahan pramuka itu ramai dikunjungi warga. Selain muda-mudi warga sekitar Gedongtataan, Kedondong, Gadingrejo, Pringsewu, dan sekitarnya, pengunjung dari Bandar Lampung juga banyak.

“Di sini enak, adem. Cuacanya sejuk, pemandangannya juga alami, walaupun di bawah kebun karet. Kalinya aman untuk mandi dan bermain anak-anak. Kalau orang tua main ke sini sambil bermain bisa sambil refleksi. Jalan aja di sini selama satu jam, tubuh kita akan terasa lebih segar,” kata Yati, warga Bandar Lampung, pekan lalu.

Lokasi ini memang dalam penguasaan PTP Nusantara 7. Sebutan Sungai Ciarum karena lokasinya berdekatan dengan salah satu dusun di Desa Cipadang, Kecamatan Gedongtataan.

Untuk menuju tempat santai yang belum dikelola alias masih gratis ini, dari arah Gedongtataan harus melaju sekitar 5 kilometer ke arah Kedondong. Setelah melewati calon kantor Bupati Pesawaran, Anda akan bertemu dengan Desa Pampangan. Di persimpangan desa tersebut terdapat penunjuk arah menuju lokasi perkebunan PTPN 7 Unit Usaha Way Lima.

Masuk ke jalan tersebut, perjalanan sekitar 2 kilometer akan bertemu dengan kompleks perkantoran perusahaan negara yang mengusahakan karet itu.

Lokasi “taman refleksi” Ciarum ini berada di balik kompleks perkantoran PTPN 7. Oleh karena itu, untuk mengaksesnya, Anda boleh melewati pintu gerbang kompleks perkantoran perusahaan dan melewati pos penjagaan. Cukup mengangguk kepada satpam, orang boleh lewat dan segera mendapati pemandangan kali yang dipayungi pohon-pohon ambon besar-besar.

Meliuk sedikit, kompleks bumi perkemahan pramuka menyambut dengan gapura bambu sederhana. Di lapangan itu, tilas-tilas kegiatan pramuka dan pencinta alam masih terlihat. Ada tanda-tanda bekas acara penanaman pohon serentak dengan tajur-tajur yang menunggu aneka tanaman yang baru dibenamkan.

Terus masuk, tanah lapang yang secara alamiah dimanfaatkan untuk tempat parkir kendaraan sudah menunggu. Jika akhir pekan, kantong parkir itu banyak kendaraan. Ada warung gubuk sederhana yang tampaknya hanya dipakai untuk jualan siang hari ditunggu pedagang.

Jika musim buah, ada penjaja durian, duku, rambutan, alpukat, dugan, dan lainnya. “Durian di sini jatuhan, bukan peraman,” kata salah seorang pedagang.

Untuk lebih dekat dengan objeknya, mobil bisa bablas melewati jembatan besi yang dibangun dengan konstruksi besi rel yang dijajar rapi. Selepas itu, Anda akan dipayungi rimbunnya kebun karet hingga bisa parkir di bawahnya.

Tinggal turun, dengan telanjang kaki, kesegaran air jernih dan tonjolan-tonjolan batu-batu bulat akan memberi sensasi “panas-dingin” ke telapak kaki Anda. Anda bisa menyusuri alur sungai sampai ke atas, seolah akan menjemput mata air yang berasal dari pelukan gumuk besar Gunung Pesawaran yang dikonservasi. (SUDARMONO)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 Februari 2012

February 22, 2012

Belajar dari Bahasa Ibu

Oleh Imelda


BAHASA ibu merupakan salah satu bahasa yang dituturkan di Tengah Pulau Halmahera, Kabupaten Halmahera Barat. Saat ini boleh dikatakan bahasa ini punah karena hanya tinggal tiga orang sepuh lagi yang menuturkannya. Yang menjadi pertanyaan kemudian ialah, mengapa bahasa ibu bisa punah dan apa kontribusinya bagi masyarakat Lampung yang sejak beberapa tahun terakhir sibuk mengangkat tema Kepunahan Bahasa Lampung.

Bahasa ibu, di antara Bahasa Ternate, Melayu, dan Indonesia

Saat ini generasi muda orang ibu berbahasa Ternate dan Melayu Ternate. Beberapa di antara mereka yang mengalami masa pendidikan formal juga berbahasa Indonesia. Tampaknya, pergeseran bahasa masih akan terus berlangsung selama masyarakat itu masih ada dan berdinamika dengan lingkungannya.

Bahasa Ternate, Bahasa ‘Kolano’

Bahasa Ternate disebut juga bahasa kolano yang berarti raja. Ini merupakan bahasa resmi Kerajaan Ternate (Ibrahim, 2009). Penggunaan bahasa tersebut terjadi pada awal abad ke-13 ketika resmi menjadi kerajaan hal ini dilanjutkan ketika Ternate menjadi kesultanan di abad ke-16. Sejak saat itu islamisasi gencar dilakukan, dan orang ibu merupakan salah satu kelompok etnik beragama Islam yang mendapatkan pengaruhnya. Pengaruh keislaman sekaligus bahasa juga sampai karena di duga saat itu daerah ibu menjadi pusat perdagangan di Pulau Halmahera. Terbukti hingga kini sungai ibu menjadi jalur transporasi untuk keluar masuk pulau.

Bahasa Melayu: Dari Perdagangan hingga Kemerdekaan

Bahasa Melayu disebut juga bahasa perdagangan. Melalui bahasa ini para pedagang dari berbagai penjuru dunia saling berkomunikasi dan bertukar barang-barang dagangan. Ternate sebagai salah satu pusat perdagangan tidak lepas hubungannya dengan kehadiran bahasa Melayu ini. Ibu sebagai salah satu wilayah perdagangan di Ternate, tentu saja mendapakan pengaruhnya.

Penggunaan bahasa Melayu ini semakin marak digunakan, khususnya di wilayah Kesultanan Ternate sehingga melebur dengan bahasa Ternate dan akhirnya menjadi bahasa kreol Melayu baru yang disebut dengan Melayu-Ternate.

Pada masa kolonial, penggunaan bahasa ini dilanjutkan dan diperkuat dengan kebijakan bahasa. Belanda yang menguasai Ternate menulis catatan dan berkomunikasi dengan bahasa Melayu Tinggi. Konon kamus tertua bahasa Melayu berasal dari Tidore yang jaraknya beberapa km saja dari Pulau Ternate. Pengunaan bahasa Melayu ini juga dipakai untuk menyebarkan agama Kristen dan Islam. Bedanya pada pengajaran agama Islam digunakan huruf Jawi (Arab Melayu) dan agama Kristen menggunakan aksara latin.

Beranjak pada masa kini, bahasa Melayu diteruskan menjadi bahasa Indonesia. Kepulauan Maluku yang merupakan salah satu provinsi dan daerah ibu yang juga menjadi salah satu wilayahnya, mau tidak mau mendapatkan pengaruhnya. Pemerintah Indonesia memperkenalkan bahasa nasional ini dengan kebijakan mengajarkanya di sekolah dan dalam pemerintahan. Hal ini juga didukung media televisi dan koran yang menggunakan bahasa baku. Dengan demikian, secara otomatis anak-anak dan generasi muda Ibu dipaksa berbahasa Indonesia yang pada kenyataannya dalam proses merangsek ke dalam ranah-ranah bahasa lokal.

Masihkan Malu Berbahasa Lampung?

Paparan mengenai berbagai aspek sejarah yang mempengaruhi perilaku berbahasa orang ibu memberikan gambaran bagaimana bahasa ini berproses menjadi punah, yaitu karena persaingan politik dan ekonomi di dukung kebijakan bahasa zaman Kolonial dan NKRI. Yang menjadi pertanyaan kemudian ialah apa yang terjadi dengan bahasa Lampung?

Saat ini perasaan malu sudah menjadi isu yang luas di kalangan generasi dewasa dan muda. Sehingga tidak mengherankan penelitian sikap berbahasa dari Asim Gunarwan, pada 90-an, menyimpulkan bahasa Lampung akan segera punah, tepatnya 75 tahun.

Perasaan malu ini, menurut peneliti, menjadi aspek psikologis yang cukup kuat yang menghalangi masyarakat sekaligus pemerintah dalam “menyehatkan” kembali bahasa Lampung. Tidak jarang kita dengar ada anak muda yang sehari-hari berbahasa Lampung di rumahnya dan ketika berjalan-jalan ke Kota Bandar Lampung mendadak amnesia dengan bahasanya. Padahal jelas-jelas logat berbahasa Melayu atau Indonesianya menyiratkan bahwa ia fasih berbahasa Lampung.

Di sisi lain, pemerintah daerah yang sibuk sekali membahas kebijakan bahasa Lampung ini lupa berkegiatan untuk mewujudkan cita-citanya. Padahal cita-cita yang dituliskan dalam berbagai kertas kerja itu perlu tindakan. Bagaimana bahasa Lampung mau eksis bila terhenti dalam kertas kerja. Di tambah lagi angan-angan Universitas Lampung cuma sampai mencetak guru bahasa Lampung. Alangkah pendeknya!

Coba jawab pertanyaan saya ini. Di mana lagi orang bisa belajar bahasa, sastra, dan kebudayaan Lampung selain di Provinsi Lampung? Seharusnya pengembangan bahasa dan kebudayaan ini yang menjadi sasaran, bukan urusan sebatas kerjaan yang ujung-ujungnya isi perut.

Barangkali saya apatis dengan Pemda Lampung, tetapi dengan sedikit harapan yang tersisa, di Hari Bahasa Ibu ini, saya ingin mengajak segenap masyarakat Lampung yang merasa dirinya bisa berbahasa Lampung untuk membuang jauh-jauh perasaan malu itu dan mulailah meluaskan penggunaan bahasa ini. Kik lain ram, sapa lagi sai aga nyelamatko?

Imelda, Peneliti etnolinguistik (PMB-LIPI) yang bekerja untuk bahasa terancam punah di Gamkonora, Halmahera Barat.

Sumber: Lampung Post, Rabu, 22 Februari 2012

February 21, 2012

Bahasa (dan Sastra) Lampung, Siapa Peduli

Oleh Kiky Rizkhi Aprillia


ANTARA tahun 1947-1971 Bangladesh masih menjadi bagian dari wilayah negara Pakistan. Pakistan sendiri adalah pecahan negara India. Pada awal pendiriannya, wilayah Pakistan terdiri atas dua wilayah besar yang tersekat wilayah negara India yang luas.

Sebelah barat dikenal dengan Pakistan Barat yang sekarang dikenal dengan Pakistan dan Pakistan Timur yang sekarang dikenal dengan nama Bangladesh. Pemerintah pusat berkedudukan di wilayah Pakistan Barat.

Pada tahun 1947, Pemerintah Pusat Pakistan menetapkan bahasa Urdu, yaitu bahasa yang digunakan masyarakat Pakistan Barat sebagai satu-satunya bahasa resmi. Kebijakan politik bahasa ini dianggap meminggirkan bahasa Bengali, sehingga menimbulkan aksi protes di wilayah Bangladesh (Pakistan Timur) yang mayoritas penduduknya berbahasa Bengali.

Masyarakat Bangladesh menuntut agar bahasa Bengali disejajarkan dengan bahasa Urdu sebagai bahasa resmi. Namun, keinginan masyarakat Bangladesh ini selalu diganjal oleh politisi Pakistan Barat karena dianggap sebagai penentangan nasionalisme Pakistan.

Penolakan Pemerintah Pusat Pakistan untuk mengakomodasi keinginan masyarakat Bangladesh menimbulkan berbagai aksi demonstrasi. Pada tanggal 21 Februari 1952, dalam sebuah demonstrasi besar di Kota Dhaka, beberapa mahasiswa Universitas Dhaka tewas ditembak aparat pemerintah.

Peristiwa ini membuat masyarakat Bangladesh semakin marah, sehingga menimbulkan ketegangan politik. Akhirnya, Pemerintah Pakistan mengakomodasi tuntutan masyarakat Bangladesh dengan menetapkan bahasa Bengali sebagai bahasa resmi sejajar dengan bahasa Urdu.

Setelah tahun 1952, pergerakan bahasa di Bangladesh di kemudian hari menjadi benih perpecahan negara Pakistan, walaupun keinginan masyarakat Bangladesh untuk menjadikan bahasa Bengali sebagai bahasa nasional sudah dipenuhi. Masyarakat Bangladesh bertekad memerderkakan diri dari negara Pakistan.

Oleh sebab itu, pada tahun 1971 rakyat Bangladesh mendirikan negara sendiri terpisah dari negara Pakistan dan mengukuhkan bahasa Bengali sebagai bahasa resmi Bangladesh. Sekarang, jika kita berada di Kota Dhaka, Bangladesh, kita dapat mengunjungi sebuah monumen yang disebut Monumen Hari Bahasa. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan masyarakat Bangladesh ketika berjuang memartabatkan bahasanya dan mengenang jasa beberapa mahasiswa yang menjadi "martir" dalam demonstrasi besar pada tanggal 21 Februari 1952.

Kegigihan rakyat Bangladesh untuk mempertahankan bahasanya adalah sumber inspirasi masyarakat dunia untuk lebih peduli terhadap bahasa ibu yang disimbolkan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu.

Di Indonesia, gema Hari Bahasa Ibu kurang begitu terdengar karena tertungkup gema gonjang-ganjing politik. Selain itu, pemertahanan bahasa ibu baru sebatas wacana di kalangan akademik. Boleh dibilang, belum berwujud kesadaran kita semua. Padahal, untuk mempertahankan bahasa Ibu di negeri dengan beratus-ratus bahasa ini, kita tidak perlu menjadi "martir". Cukup mengajarkannya kepada anak cucu kita.

***

Senin, 20 Februari 2012, di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Semarang (Unnes), diselenggarakan apel pagi dengan menggunakan bahasa Jawa. Petugas apel mulai dari protokol, komandan, pembina, hingga pendoa, menggunakan bahasa Jawa. Terasa asing, beberapa peserta apel yang terdiri dari karyawan, dosen, dan pejabat fakultas pun menahan senyum.

"Dinten basa ibu dipunpengeti amargi kita sampun kuwatos, basa asli sampun boten dipunginakaken malih kaliyan generasi sangandhap kita. (Hari bahasa ibu diperingati karena kami khawatir, bahasa asli sudah tidak lagi digunakan oleh generasi di bawah kami)," ujar pembina apel yang Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Yusro Edy Nugroho (lihat laman Unnes, Senin, 20/2/12).

Ternyata, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk peringatan Hari Bahasa Ibu yang jatuh pada 21 Februari. Oleh sebab itu, tidak lain semua petugas apal pagi ini merupakan para dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa.

Lalu, di Bandung, Jawa Barat, sebanyak 250 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, melakukan kampanye bahasa Sunda, Kamis, 16 Februari 2012.

Kegiatan ini dilakukan untuk sosialisasi peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari 2012. "Bahasa Sunda semakin jarang digunakan, penggunaannya makin berkurang di masyarakat. Padahal, di Indonesia menjadi bahasa terbanyak kedua setelah bahasa Jawa," ujar Pupuhu Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah, Diky Arliana, di sela-sela kampanye bahasa Sunda di kampus UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung.

Dalam konteks ini, Jawa Barat memang luar biasa. Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat pun mengadakan seminar bahasa memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional tahun ini. Lalu, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda menyelenggarakan lomba mengarang carpon, sajak, dan penulisan naskah drama Sunda. PPSS juga mengadakan “Saba Sastra" ke berbagai daerah dalam mendekatkan kembali sastra dan bahasa Sunda di kabupaten/kota di Jawa Barat.

***

Sekarang, kita kembali ke Bumi Ruwa Jurai. Adakah ulun Lampung tahu bahwa hari ini adalah Hari Bahasa Ibu Internasional? Eh ya, catatan FB Udo Z. Karzi tertanggal 14 Februari 2012 yang berjudul Hujan Sastra (Sastrawan) Lampung Memang Tidak Merata mengingatkan tentang adanya Hari Bahasa Ibu Internasional. Tapi, pertanyaan Udo dalam komentarnya — "Kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk menandai Hari Bahasa Ibu Internasional (21 Februari) sebagai upaya untuk tetap menyalakan semangat mengembangkan bahasa dan sastra Lampung?" — hanya berputar-putar di dunia maya. Tidak ada yang menyahut, tidak ada yang merespons, dan... jangan-jangan tidak ada yang peduli.

Yang baru saja terjadi... sebagaimana diberitakan, Lampung kembali gagal meraih hadiah Sastra Rancage 2012, adakah yang peduli? Bukankah pemberian hadiah Rancage untuk Lampung ini terkait erat dengan pembinaan, pelestarian, dan pengembangan bahasa dan sastra Lampung?

Saya hanya ingin bertanya-tanya ke mana ya para stakeholder bahasa Lampung seperti Universitas Lampung (Unila)—yang sekarang punya Pusat Pendidikan, Pelestarian, dan Pengembangan Bahasa Lampung (P3BL)—dan perguruan tinggi lainnya, pemerintah daerah, orang kaya dan berkuasa, dan ulun Lampung pada umumnya, yang katanya khawatir dengan nasib bahasa Lampung?

Tahun 1999 ketika pakar sosiolingustik Asim Gunarwan (alm.) mengatakan bahasa Lampung bisa punah dalam 3—4 generasi (75-100 tahun) jika tidak dipelihara. Tiga belas tahun berlalu, kegelisahan akan punahnya bahasa Lampung tetap menghantui ulun Lampung hingga kini. Tapi, kecemasan itu agaknya dipelihara karena—sesungguhnya—banyak pihak hanya berkeluh kesah tanpa berbuat apa-apa, tanpa melakukan apa-apa.

Bahasa dengan jumlah penutur sangat kecil cenderung punah layaknya kepunahan satu spesies binatang akibat kecilnya jumlah populasi dan kegagalan regenerasi. Syukurlah bahasa Lampung bukan tergolong dalam bahasa yang seperti itu. Berapa jumlah pasti penutur bahasa Lampung? Entahlah, ada yang bilang 1 juta ada yang bilang 2 juta. Kalau dengan jumlah penutur yang tergolong besar juga dibanding penutur bahasa daerah lain seperti itu, bahasa (dan sastra) Lampung masih juga memprihatinkan, pinjam istilah (alm.) Irfan Anshory: meliom ram (malu kita)! n

Kiky Rizkhi Aprillia
, guru, alumnus STKIP Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Selasa, 21 Februari 2012

UKMF ‘Natura’ Unila Gelar Lomba Cerpen

BANDAR LAMPUNG—Unit Kegiatan Mahasiswa Natura Fakultas MIPA Unila mengadakan lomba menulis cerita pendek (cerpen) tingkat nasional yang bertajuk Science for Our Live and Future. Lomba yang terbuka untuk umum ini dimaksudkan menjalin silaturahmi antarpenulis sekaligus sebagai ajang penyalur bakat menulis yang dimiliki masyarakat Indonesia.

Proses pengumpulan cerpen dilaksanakan secara online yang dapat dikirim melalui situs www.naturalpers.multiply.com mulai 8 Februari 2012 sampai 16 Maret 2012. Penjurian dilakukan pada 23 Maret 2012, kata panitia pelaksana kegiatan, Herman, beberapa waktu lalu. Lomba ini akan memperebutkan uang tunai, sertifikat, dan buku yang akan dikirimkan melalui jasa pengiriman barang ke masing-masing pemenang.

"Kami harap dengan adanya acara ini dapat menyalurkan bakat seluruh kalangan masyarakat Indonesia yang punya hobi menulis terutama cerpen," ujar Herman. (*/K-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 21 Februari 2012