July 15, 2012

Mamak Kenut Yang Saya Kenal Dahulu.

Oleh Fachruddin M. Dani


BISA dibilang saya mengenal Mamak kenut sejak masa kanak-kanak. Nama itu selalu saja menjadi dalih gelar bagi perilaku yang relatif konyol, walau terkadang nampak cerdas tapi usil.

Meskipun tokoh itu tokoh khayalan, selalu saja dihadirkan oleh mereka pada berbagai peristiwa dan perilaku seseorang yang sedikit nyeleneh.

Ada sebait syair bagi Mamak Kenut yang dapat menggambar sosok khayalan itu:

Mamak Kenut,
ali-ali kelumbai
setahun mawat ngudut
mana nihalang bebbai


Syair tersebut di atas menggambarkan bahwa Mamak Kenut bukanlah manusia kebanyakan.

Mamak Kenut menjadi sosok yang pantas untuk membicarakan sesuatu yang orang lain tak sanggup membicarakannya. Mamak Kenut adalah orang yang sanggup mempertanyakan sesuatu yang orang lain tak sanggup mempertanyakannya. Mamak Kenut adalah orang yang sanggup berpendapat ketika orang lain tak sanggup berpendapat, Mamak Kenut suka pada makanan yang orang lain tak menyukainya. Mamak Kenut orang yang malu berbuat sesuatu tatkala orang lain suka melakukannya. Tapi Mamak Kenut juga yang menjadi orang yang paling bodoh pada saat yang lainnya pintar. Itulah antara lain gambaran tentang sosok Mamak kenut.

Ketika ada pekerjaan yang demikian sulit dan tak ada yang mampu melaksanakannya, tiba-tiba ada orang yang sanggup melaksanakannya. Lalu orang bertanya siapa yang telah menyelesaikan pekerjaan sulit ini, maka orang lain akan mengatakan siapa lagi kalau bukan Mamak Kenut.

Itulah sosok Mamak Kenut yang saya kenal sejak masa kanak-kanak itu. Alhamdulillah Mamak Kenut telah diperkenalkan kembali oleh Udo Z. Karzi. Upaya ini sekaligus mempopulerkan kembali tokoh khayalan ini. Yang dilakukan oleh Udo Z. Karzi adalah langkah awal bagi siapa pun yang ingin memperkenalkan Mamak Kenut kepada generasi sekarang.

Cerita Mamak Kenut selalu saja hadir dalam berbagai aspek kehidupan dan masyarakat. Oleh karena itu, Mamak Kenut akan memiliki kemampuan untuk menceritakan suasana batin sosok masyarakat Lampung. Atau kita dapat berbicara tentang lampung dan masyarakatnya dengan cara mengeksploitasi tokoh Mamak Kenut.

Sumber: Wewarah Blog (http://wewarahblog.blogspot.com), Minggu, 15 Juli 2012

July 14, 2012

Udo Luncurkan Buku Mamak Kenut

TRIBUNLAMPUNG.co.id - Udo Z Karzi meluncurkan buku yang berjudul "Mamak Kenut Orang Lampung punya Celoteh" di toko buku Fajar Agung, Sabtu (14/7). Pada peluncuran buku ini hadir sebagai pembahas dua orang budayawan Lampung Iswadi Pratama dan Iwan Nurdaya-Djafar.

Peluncuran buku ini juga dihadiri bakal calon wakil bupati Tulangbawang Heri Wardoyo dan Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat. Menurut Udo, buku ini mengangkat tokoh budaya Lampung Mamak Kenut. "Mamak kenut ini cerminan tradisi bertutur budaya Lampung," ujar dia.

Buku Mamak Kenut ini merupakan terbitan dari penerbit independen Indepth Publishing. Ini adalah buku ketiga dari empat buku yang sudah diterbitkan Indepth Publishing. (Wakos)

Editor : soni

Sumber: Tribun Lampung, Sabtu, 14 Juli 2012

July 13, 2012

Ketua Komisi Informasi Lampung akan Luncurkan Buku

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Ketua Komisi Informasi (KI) Provinsi Lampung Juniardi akan meluncurkan bukunya pada Sabtu (14/7/2012) di Toko Buku Fajar Agung.

Ketua Komisi Informasi (KI) Provinsi Lampung Juniardi akan meluncurkan bukunya pada Sabtu (14/7/2012) di Toko Buku Fajar Agung. (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/WAKOS REZA)

Buku tersebut berjudul "Hak Anda Mendapatkan Informasi". Jurnalis senior Heri Wardoyo direncanakan akan menjadi pembahas dalam peluncuran buku ini.

Berbagai apresiasi terhadap buku ini bermunculan. Salah satunya dari Ketua KI Pusat Abdul Rakhman Ma'Mun.

Ia mengatakan buku ini mempertegas bahwa hak memperoleh informasi publik sesungguhnya merupakan hak asasi manusia yang dapat memunculkan partisipasi publik dalam penyelenggaraan negara.

Juniardi mengatakan, dari setiap penjualan buku ini, Rp 5.000 akan disumbangkan untuk membantu operasional KI. (wakos reza)

Sumber: Tribun Lampung, Jumat, 13 Juli 2012

July 10, 2012

'Belangiran' Tradisi Mandi Sucikan Diri Sambut Ramadhan

BANDARLAMPUNG -- "Belangiran" merupakan tradisi turun temurun warga Lampung, untuk menyucikan diri menjelang Ramadhan yang perlu dilestarikan agar tidak punah.

PROSESI BELANGIRAN. Seorang muli (gadis) Lampung menjalani prosesi "belangiran" guna mensucikan diri menyambut Bulan Suci Ramadhan, di Kali Akar, Telukbetung Utara, Bandarlampung, Selasa (10/7). "Belangiran" merupakan tradisi masyarakat Lampung dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan. (ANTARA/TAUFIK HIDAYAT)

Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, saat acara "Belangiran" di Kali Akar, Kelurahan Sumur Putri, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung, Selasa siang, mengatakan bahwa tradisi ini merupakan salah satu cara yang dilakukan umat Islam di daerah itu dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
   
Berbagai ritual dan tradisi menyambut Ramadhan itu pun dilakukan, salah satunya "Belangiran" atau mandi untuk menyucikan diri," kata Sjachroedin.

Selain itu, lanjut dia, masih banyak cara lainnya yang dilakukan oleh umat Islam dalam menyambut bulan suci Ramadhan di antaranya menziarahi makam keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia, tradisi memukul bedug, dan mandi untuk menyucikan diri.

Tradisi itu, bagi masyarakat di Jawa menyebutnya dengan "padasan", sedangkan orang Minang "mandi balimau", dan orang Lampung menamakannya "belangiran".
   
"Belangiran yang kita laksanakan hari ini merupakan kedua kalinya, mengingat tahun sebelumnya kita melaksanakannya di kolam renang Pahoman Bandarlampung, dan tahun ini kita laksanakan di Kali Akar, Sumur Putri Telukbetung," kata dia lagi.

BAKAR MERANG. Muli-Mekhanai (muda-mudi) Lampung membakar merang sebagai salah satu proses ritual "belangiran" di Kali Akar Telukbetung Utara, Bandarlampung, Selasa (10/7). "Belangiran" merupakan tradisi masyarakat Lampung dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan. (ANTARA/TAUFIK HIDAYAT)


Menurut Gubernur, menyucikan diri menyambut bulan suci Ramadan tidak hanya membersihkan badaniah saja, tapi lebih berorientasi kepada menyucikan diri dan hati, seperti rasa iri, dengki, benci dan sombong, juga rasa dendam pada  seseorang.
   
"Untuk menyucikan harta yang kita miliki, yaitu dengan mengeluarkan zakat fitrah dan sedekah," kata Sjachroedin pula.
   
Dia mengharapkan, ritual dan tradisi seperti "belangiran" tidak dimaknai macam-macam, karena hanya merupakan bentuk ucapan syukur menyambut kedatangan bulan Ramadan, sekaligus  dalam rangka melestarikan budaya Lampung agar tidak punah dimakan zaman.
   
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Lampung, Gatot Hudi Utomo, selaku pelaksana acara itu, mengatakan bahwa "belangiran" itu dilaksanakan untuk menyambut bulan suci Ramadan 1433 Hijriah.
   
Selain itu, menurut dia, pelaksanaan "belangiran" itu juga sebagai upaya untuk melindungi dan mengembangkan budaya daerah Lampung serta mempromosikannya sebagai daya tarik wisata.
   
Rangkaian acara itu, selain "belangiran", juga pembagian sembako, penaburan benih ikan, pemberian bibit ayam, dan dimeriahkan pula dengan "Sekura cakak pesta" (Sekura naik panjat pinang) .sebagai wujud kepedulian pemerintah kepada masyarakat.
   
Gatot mengharapkan dengan terselengara "belangiran" akan terjalin silaturahmi yang baik dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat di daerah ini.
   
"Diharapkan "belangiran" menjadi tradisi yang kembali mengakar di masyarakat," kata dia pula.
   
Pada acara "belangiran" itu, terlihat masyarakat yang antusias memadati tempat prosesi pelaksanaan kegiatan itu.
   
Tidak hanya masyarakat lokal, turis asing yang berasal dari Korea juga antusias menyaksikan prosesi tradisi budaya masyarakat Lampung tersebut.


Sumber: Antara, Selasa, 10 Juli 2012





July 9, 2012

Kata K.H. M. Arief Mahya mengenai Mamak Kenut*

Kritikus yang Cermat

Oleh K.H. M. Arief Mahya**


SAYA melihat Harian Umum Lampung Post kini sangat indah, stijl, dan opmaakt. Di sisi kiri atas halaman muka ada "Buras" yang ditulis khusus oleh penulis kawakan yang Pemimpin Umum harian tersebut, Bapak H. Bambang Eka Wijaya.

Di salah satu halaman bagian dalam Lampung Post, di bawah Tajuk, ada kolom "Nuansa". Banyak di antaranya ditulis Zulkarnain Zubairi yang sering menggunakan nama samaran Udo Z. Karzi.

Saya kenal Udo Z. Karzi karena kami berdua sama kelahiran Liwa, Lampung Barat.

Buras dan Nuansa tersebut bermuatan kritikan segar, kritik membangun (opbouuwen-critik) atas hal ilwal yang terjadi di daerah (lokal). Ada pula isu nasional yang memang patut dikritisi, terutama oleh para penulis dan wartawan "angkatan berpena".

Dalam kaidah budaya Lampung Barat, jika umpamanya si A anak laki-laki tertetua seseorang, dia mempunyai adik kandung satu orang atau lebih (B atau juga ada C dan D) laki-laki atau juga perempuan, maka B, C, dan D tersebut harus memanggil (bertutur) Udo terhadap si A. Dan, C, D memanggil Abang untuk si B. Si D memanggil Kakak untuk si C. Budaya tutur ini tidak boleh kacau. Ini diajarkan sejak seseorang masih kecil.

Bertutur Udo begitu berlaku pula untuk keturunan A, B, C, dan D. Untuk anak laki-laki tertua si A (AA), maka semua anak dari B, C, dan D, baik laki-laki maupun perempuan yang umurnya di bawah AA, semua harus memanggil Udo, terhadap AA. Demikian berlanjut pada cucu dan cicit A, B, C, dan D selanjutnya.

Maka, mengertilah kita bahwa Udo Z. Karzi adalah anak laki-laki tertua dari ayahnya. Di lingkungan struktur kerabatnya, Udo Z. Karzi sedikit banyak mempunyai "anak buah". Artinya, bagaimana pun Udo Z. Karzi berfungsi sebagai pemimpin di kerabatnya.

Saya kagum pada kemampuan Udo Z. Karzi menulis. Dalam kurun waktu tiga tahun (2002-2004), setidaknya ia telah menulis 101 tulisan untuk kolom Nuansa Lampung Post. Rinciannya, 34 judul tahun 2002, 33 judul tahun 2003, dan 34 judul tahun 2004.

Tulisannya, komprehensif dan teliti. Maka, saya dengan ini memberinya predikat "kritikus yang cermat".

Jika Buras mengandung kritikan dengan sistem "kelakar", maka Nuansa, terutama yang ditulis Udo Z. Karzi berisi kritikan dengan sistem "ratapan" (bahasa Lampung Barat: buhiwang).

Keberadaan Buras dan Nuansa di media cetak menurut saya memang diperlukan. Tulisan semacam ini bisa menjadi semacam dialog atau obrolan Gareng, Petruk, Semar di pewayangan. Kadangkala, dalam percakapan mereka pun mengkritisi bendoro (penguasa) mereka sendiri.

Kritik yang dikemas dengan sistem seperti itu, pernah ada pula di media elektronik. Dulu, pernah ada segmentasi "Obrolan Pak Besut" di RRI Perjuangan Yogyakarta (1945-1948) dengan Asmuni dan Asmunah sebagai kelompok yang diperankan dalam obrolan. Isi acara ini bernada kritikan menyejukkan yang membuat masyarakat pendengar mendapat pesan dan kesan yang benar tentang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Ketika membaca Buras dan Nuansa di Lampung Post, saya terkenang kritikan Pak Besut di RRI Yogya. Tapi di balik itu, ada rasa "sedih" saya melihat telah 60 tahun Indonesia merdeka, masih saja banyak keadaan belum berpisah dari apa yang dikritik. Namun demikian, kritik tetap harus ada dari semua pihak.

Saya mendorong Udo Z. Karzi agar dapat terus-menerus menjadi aktivis pengemban tugas berat, tetapi mulia tersebut. Terus perankan Mamak Kenut dan Minan Tunja.

Semoga!

* Buku Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh karya Udo Z. Karzi diterbitkan Indepth Pubishing, Bandar Lampung, Juni 2012. xxii + 126 hlm.

** K.H. M. Arief Mahya, intelektual muslim, tinggal di Bandar Lampung

July 8, 2012

Promosi Wisata Lampung Belum Maksimal

BANDAR LAMPUNG -- Pengamat kepariwisataan Sutarman Sutar menilai promosi potensi wisata yang ada di daerah Lampung masih kurang maksimal sehingga masih sedikit jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke provinsi tersebut.
   
"Kalau ditanya Dinas Pariwisata selalu menjawab terkendala anggaran, jadi selama ini yang ada anggaran apa," ujarnya di Bandarlampung, Minggu, saat ditanya komentarnya berkaitan pengembangan pariwisata di Lampung saat ini.
   
Menurut dia, banyak cara untuk mempromosikan keunggulan objek wisata di Lampung, dan dinas terkait harus bekerjasama dengan para pemangku kepentingan (stakeholder).
   
Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera, ujar dia, sangat disayangkan bila potensi wisata yang ada tidak dipromosikan dengan  baik agar dapat menarik minat wisatawan untuk mampir dan berkunjung ke tempat wisata yang ada di daerah ini.
   
"Orang yang hanya lewat dan sekadar beristirahat sejenak di Lampung tidak bisa disebut wisatawan, dan itu juga tidak bisa dicantumkan dalam statistik pengunjung wisata di daerah ini," kata pria yang kini menjadi wartawan itu pula.
   
Sutarman yang pernah bekerja sebagai pemandu wisata selama 20 tahun itu, juga mengharapkan adanya pembekalan informasi wisata kepada generasi muda dan pelajar di daerahnya.
   
"Tujuannya agar ketika generasi muda itu keluar dari Lampung, mereka diharapkan dapat bercerita tentang potensi wisata yang ada di daerah asalnya," kata dia lagi.
   
Selain itu, lanjut dia, upaya tersebut juga dapat digunakan sebagai promosi wisata secara tidak langsung.
   
General Manager Wisma Belerang Kalianda, Lampung Selatan, Deddy Satya, saat dihubungi secara terpisah menilai, promosi wisata Lampung tidak terkemas dengan baik sehingga terkesan membosankan.
   
"Kalau kita lihat pada acara TIME  atau Tourism Indonesia Mart and Expo 2011, kemasan promosi wisata kita terlalu monoton, sehingga orang mudah menjadi bosan," kata Deddy.
   
Sedangkan Akademisi Universitas Lampung (Unila), Hasyimkan menyayangkan, kebudayaan dan kesenian Lampung tidak terpublikasi dengan baik, sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengenalnya.
   
"Jika seni dan budaya Lampung sudah terpublikasi dengan tepat, akan menjadi aset pariwisata bagi daerah ini, karena dapat mengundang para wisatawan baik domestik maupun mancanegara berdatangan," kata dia.
   
Ia juga berharap masyarakat Lampung untuk mandiri, dan tidak terlalu bergantung kepada pemerintah dalam mempromosikan potensi wisata yang ada di daerahnya masing-masing.
   
"Kalau tempat wisata itu maju, secara otomatis akan mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar," ujar dia pula.
   
Putri Indonesia 2011, Maria Selena, saat jumpa pers Pemilihan Putri Indonesia Lampung 2012, di Bandarlampung, beberapa waktu lalu, menyatakan Lampung harus berani menonjolkan ciri khas untuk menarik perhatian nasional maupun dunia.
   
"Untuk memajukan pariwisata di Lampung harus ada terobosan besar sekaligus pembenahan infrastruktur, baik sarana prasarana maupun akses menuju tempat wisata. Selain itu, juga perlu bersikap terbuka terhadap investor pengembang wisata," kata dia.
   
Lampung memiliki objek wisata sejarah kepurbakalaan di Taman Purbakala Pugung Raharjo di Kabupaten Lampung Timur, juga objek wisata alam, seperti di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus.
   
Sejumlah objek wisata budaya dan alam juga tersimpan di Provinsi Lampung, antara lain peninggalan adat tradisi budaya tradisional turun temurun yang masih dilestarikan masyarakat, maupun potensi alam yang ada di sejumlah tempat di daerah ini.

Sumber: Antara, Minggu, 8 Juli 2012

[Buku] Resep Faktual Menjadi Penulis

Data buku

Menulis dengan Telinga. Adian Saputra. Indepth Publishing, Bandar Lampung, Juni 2012. xvi + 138 hlm.


DALAM dunia kepenulisan dan jurnalisme umumnya, kerap muncul penulis dadakan yang jejak karyanya tidak begitu jelas dalam dunia tulis-menulis, tiba-tiba muncul buku karyanya yang kemudian ternyata malah bisa menjadi best seller, laris manis terjual di pasaran dan diburu untuk dibaca habis oleh para pembacanya.

Tapi, banyak pula di antara para penulis itu ternyata memiliki rekam jejak yang sangat jelas dan terukur dalam aktivitas kepenulisan sehingga layak mendapatkan predikat sebagai penulis yang sesungguhnya.

Adian Saputra adalah salah satu penulis asal Lampung yang berupaya menapaki jejak karier kepenulisannya ke tingkat lebih tinggi, secara bersungguh-sungguh telah memperjuangkannya. Rekam jejaknya yang mulai aktif menulis sejak masih sekolah di SMA Negeri 2 Bandar Lampung dengan menulis di majalah sekolahnya, Derap Pelajar.

Aktif di pers mahasiswa Pilar Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) dengan jabatan terakhir redaktur pelaksana. Ia sempat pula menjadi Pemimpin Redaksi Buletin Median Post, Isyhad, dan Cakrawala, serta aktif menulis di surat kabar mahasiswa (SKM) Teknokra. Lalu, bergabung dan menjadi pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, setelah bekerja di harian Lampung Post-hingga sekarang.

Rekam jejak kepenulisan, berbagai pengalaman, dan prestasi di bidang jurnalistik dan lomba kepenulisan, menjadikannya seorang penulis yang sebenar-benarnya.

Pengalaman praktis faktual dan empirik (empirical experience) inilah yang lebih banyak dipaparkan secara apik, runtut, dan dialogis oleh Adian Saputra dalam buku ini. Buku ini bernas, berbobot, tapi "tidak berat" dicerna pembacanya.

Menulis dengan Telinga boleh dibilang sebagai sebuah karya buku individual, pengalaman nyata (empirical experience-book story).

Pengalaman suka dan duka, jerih payah, pahit getir, trial and error, mencoba-salah-dikembalikan, tapi terus mencoba lagi sampai berhasil, secara gamblang disampaikan kepada para pembacanya.

Tulisan dalam buku ini malah akan mampu menjadi pemandu dan pedoman serta guru yang sebenarnya, terutama bagi peminat dunia tulis menulis.

Dalam buku ini Adian menuturkan urut-urutan pengalaman empirik kepenulisan tersebut. Mulai dari soal bakat, mood, daily activity, berpikir kritis, tulisan opini, pasarkan tulisan, kiat "merayu" redaktur agar tulisan dimuat, teknik blitzkrieg opini, tulisan spesialis kontra generalis, cerita anak hingga resensi buku.

Penulis juga membagi resep jitu menampung ide-ide segar yang seakan tiada kering, pedoman menggunakan bahasa jurnalistik yang resik dan asyik, serta sejumlah kiat kepenulisan.

Gaya bertutur (naratif-deskriptif) dengan pilihan kata dan kalimat yang sesuai dengan cara bertutur bahasa lisan umumnya- tapi mampu ditranskripsikan dalam bentuk bahasa tulis oleh penulisnya—menjadi keunggulan tersendiri.

Menarik pula dalam setiap pergantian bab pokok bahasan (20 bab) buku ini, juga ditampilkan ilustrasi gambar karikaturis, dengan bahasa pergaulan sehari-hari anak muda yang sejalan dengan topik telah dibahas penulisnya.

Nyaris tiada cacat dan cela terdapat dalam buku ini. Namun, pada setiap awal topik (bab), masih terdapat jeda halaman kosong yang lumayan longgar, dan boleh jadi sebenarnya terlalu lebar, tanpa apa-apa. Padahal di bagian bawah setiap halamannya tampak menjadi terasa menyempit dalam beberapa halaman di dalamnya yang terasakan menjadi gangguan keindahan tata letak dan ilustrasi yang sudah lumayan apik dalam buku ini.

Mengingat sebagian besar materi dalam buku ini merupakan pengalaman empiris penulisnya, akhirnya tidak bisa tidak, buku ini pun menjadi karya tulis yang sangat "individualis" dari sudut pandang penulis bersangkutan, kendati dalam setiap topik bahasan selalu disisipkan panduan teoritikal, berbagai referensi, dan pedoman kiat serta panduan menulis dari berbagai sumber di dalamnya.

Semua itu, lagi-lagi, bukan menunjukkan kekurangan buku ini, tapi sekaligus membuktikan kekuatannya.

Namun, betapa pun juga, karya tulis berupa buku yang dinilai sebaik apa pun—oleh pembaca dan para kritikus—tetaplah belum sempurna dan selalu memiliki catatan kekurangan tersendiri untuk bahan mengevaluasi diri bagi karya pembuatan dan penerbitan buku selanjutnya.

Buku Menulis dengan Telinga ini menjadi sangat penting untuk dibaca, khususnya untuk para peminat dunia tulis-menulis. Kendati diterbitkan dan ditulis dari Lampung, buku ini tak kalah bergengsi dan berbobot, dibandingkan buku tentang kepenulisan yang pernah diterbitkan di negeri ini, seperti halnya karya Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, dan beberapa penulis (buku) terkenal lainnya, seperti Andrea Hirata (tetralogi Laskar Pelangi) atau Habiburrahman El Shirazy (novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih).

Boleh jadi, buku ini akan juga menjadi buku yang termasuk laris di pasaran dan banyak dibaca orang.

Budisantoso Budiman, jurnalis

Sumber: Lampung Post, Minggu, 08 Juli 2012

[Fokus] Hoki dan Solidaritas di Tengah Laut

MEMANCING di laut tidak melulu bergantung pada peralatan dan kemahiran memainkan joran. Adakalanya hoki yang menentukan. Dan, ada solidaritas dan kebersamaan.

Angin laut yang terus menampar daun telinga Khairul sudah tak lagi ia dengar. Meskipun sesungguhnya bising, berada di tengah laut menunggu umpan dimangsa ikan menjadi momen yang terus hening.

Namun, saat kedutan kuat menyendal di tangan, suasana jadi berbeda. “Nah, strike gua. Ada yang mau bayar? Ayo, Rp20 ribu?” canda Khairul kepada beberapa rekannya yang masih terus manyun menunggu ikan tertipu.

Candaan itu lahir saat spot pancingnya tidak terlalu galak. Jika ada salah satu pancing yang disambar ikan, ada canda transaksi untuk saling menggoda.

Rombongan pemancing yang biasa mengail ikan di Tanjungputus, Teluk Lampung, memang tidak pernah absen mengajak Khairul. Khairul dianggap bawa hoki dan selalu ikut jika memancing. “Saya selalu diajak kalau teman-teman mancing. Kata mereka, saya sering bawa hoki kalau mancing. Kalau ada saya, dapat banyak ikan,” kata Khairul, warga Kemiling, yang hobi memancing di laut ini.

Menurutnya, memancing tidak hanya mengandalkan alat dan keahlian, tapi juga perlu hoki. Orang yang hoki mancing, selalu saja bisa mendapat ikan, di saat yang lain tidak. “Walaupun ikan yang didapat kecil, ada saja yang didapat sama orang yang punya tangan hoki mancing,” kata dia.

Toto Subiantoro mengatakan saat memancing bersama rekan yang lain, tidak boleh egois dan menurutkan ego. Saat kail seorang pemancing dimangsa ikan, maka pemancing yang lain harus menarik tali pancing dan kailnya. Hal ini penting agar kail yang dimangsa ikan tidak mengenai kail pemancing lain. “Kalau kail yang lain tidak diangkat, bisa kusut terkena kail yang lain yang sedang dimangsa ikan. Jika kusut, tali bisa putus,” katanya.

Khairul pun tidak kalah solidaritas kepada sesama pemancing. Ada rekannya yang tidak tidur dan memancing hingga pagi hari. Khairul yang merasa mengantuk ini pun tetap menemani temannya memancing. “Ya walaupun sambil ngantuk-ngantuk, saya temenin yang mancing sampe pagi,” kata dia.

Kesetiakawanan muncul ketika sesama pemancing berada di tengah lautan. Kondisi laut yang sulit ditebak dan kapal pun bisa saja tenggelam dan karam. Guna mengantisipasi korban, sesama kapal yang sedang memancing saling berkomunikasi melalui marine radio.

Toto mengatakan setiap kapal saling menjaga komunikasi. Bila kapal pemancing berpindah lokasi, selalu memberi kabar dengan kapal terdekat. Komunikasi pun terhubung dengan komunitas pancing yang ada di daratan. “Ada relawan di darat yang juga memantau. Kapal terdekat akan memberi pertolongan jika ada kapal lain yang berada dalam bahaya. Masing-masing kapal selalu berkomunikasi tiap 30 menit untuk mengetahui kondisi terakhir,” kata Toto.

Pemancing pun memiliki aturan-aturan tidak tertulis, tapi disepakati dan dijalankan. Selain aturan menjaga komunikasi sesama pemancing di laut lepas, pemancing juga dituntut untuk melepaskan ikan langka. Pemancing hanya diperbolehkan mengambil ikan konsumsi, seperti kerapu, eskolar, dan kakap. Ikan yang tidak boleh dikonsumi, antara lain ikan layaran, todak, dan marlyn.

“Kalau dapat ikan yang memang dilindungi, maka harus dilepaskan kembali ke habitatnya,” kata Toto. Menurutnya, ada ikan jenis tertentu yang hanya boleh diambil ketika beratnya melebihi 50 kg. Ukuran tersebut dinilai sudah menjadi ikan dewasa dan boleh dikonsumsi.

Musim Memancing

Berbeda dengan nelayan yang menghindari terang bulan karena dianggap tidak banyak ikan, para pemancing tidak bergantung pada bulan. Toto menilai memancing tidak bergantung pada bulan. Meskipun terang bulan, pemancing tetap bisa mendapat ikan. “Pada saat terang bulan, ikan bisa berada di kedalaman tertentu yang tetap bisa dicapai dengan tali pancing,” kata PNS Pemprov Lampung ini.

Dalam setahun, ada satu waktu menjadi masa emas nelayan dan pemancing. Pada saat itu ikan yang berada di Teluk Lampung lebih banyak dibandingkan biasanya. Menurut Khairul, pada saat ikan bermigrasi, banyak ikan yang terdampar di Teluk Lampung. Pada saat itulah tangkapan nelayan dan pemancing melimpah.

Migrasi ikan ini ditandai bila jumlah ikan di Gudanglelang melimpah. “Migrasi ikan hanya terjadi sekali dalam setahun, dan itu pun tidak lama, hanya satu minggu. Selama satu minggu itulah ikan melimpah dan mudah untuk dipancing. Kebanyakan jenis ikan simba berbagai ukuran. Ada yang beratnya mencapai 5 kg per ekornya,” ujar Khairul.

Hampir setiap minggu, Khairul bersama teman-temannya memancing dengan menyewa kapal nelayan. Dia bersama delapan temannya memancing di sekitar Teluk Lampung, tidak terlalu jauh dari pesisir Bandar Lampung. “Kami yang dekat-dekat seja. Pagi berangkat, sore pulang,” kata dia.

Khairul menilai keasyikan memancing adalah saat umpan ditarik ikan. Perasaan senang dan bangga yang tidak ada nilainya menikmati saat-saat menarik ikan yang memakan umpan. “Apalagi jika hanya kita yang dapat ikan, senangnya minta ampun,” kata dia.

Lokasi yang sering dikunjungi Khairul untuk memancing masih di Teluk Lampung, Tanjungputus, atau di dekat Pantai Marina, Lampung Selatan. Dia menilai ada rasa dan nuansa berbeda antara memancing di kolam dan di tengah laut.

“Kalau mancing di kolam, kita sudah tahu jenis dan besarnya ikan. Kalau di laut, kita dibuat penasaran karena enggak tahu ikan apa yang memakan kail kita,” ujar PNS di Pemrov Lampung ini.

Apalagi jika ikan yang dipancing lepas. Khairul pun makin penasaran dan merasa tertantang untuk mendapatkan buruannya. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 08 Juli 2012

[Fokus] Hobi Memancing, Harapan Rezeki Nelayan

TELUK Lampung menjadi salah satu lokasi favorit bagi para pemancing. Para pemancing yang menyalurkan hobinya di Teluk Lampung juga tidak sedikit. Banyaknya pemancing ini menjadi sumber penghasilan bagi para nelayan pemilik kapal. Terutama nelayan di pesisir Bandar Lampung yang hampir tiap minggu kebanjiran tawaran dari para pemancing untuk menyewa kapal.

Masdulhaq adalah salah satu pemancing yang selalu menyewa kapal nelayan di sekitar Telukbetung. Kapal inilah yang membawanya ke perairan Teluk Lampung yang berjarak hingga 4 mil dari pantai. “Kalau mau dapat kapal, kita harus pesan satu bulan sebelumnya. Kepala nelayan selalu disewa untuk memancing. Kalau tidak dipesan satu bulan sebelumnya, jangan harap bisa memancing ke tangah laut,” kata dia.

Menurut Khairul, pemancing yang tinggal di Kemiling, tempat sewa kapal untuk keperluan memancing banyak dijumpai di Telukbetung Selatan. Tapi, jangan harap bisa langsung mendapatkan kapal bila tidak memesan dari pekan sebelumnya. “Hampir tiap minggu, kapal langganan sewa pemancing. Terutama di akhir pekan. Pada hari kerja pun ada orang yang menyewa untuk memancing,” kata Khairul.

Masdulhaq memang memiliki langganan tempat menyewa kapal, milik nelayan di Kelurahan Ketapang. Kapal bisa disewa sehari atau beberapa hari sesuai kebutuhan. Biaya sewa kapal nelayan tergolong murah. Apalagi bila ditanggung bersama rekan sesama pemancing. “Biasanya satu kapal bisa angkut sampai 10 penumpang. Jadi bisa dibagi 10, lebih murah,” katanya.

Menurutnya, makin banyak orang yang memancing maka akan menambah penghasilan nelayan. Sekali mengantarkan rombongan pemancing, nelayan yang menyewakan kapal bisa mendapat penghasilan Rp1,2 juta. “Belum tentu nelayan bisa mendapatkan uang Rp1,2 juta dalam sehari hanya dengan mengail ikan,” kata Masdulhaq.

Biaya sewa kapal nelayan ini sebesar Rp900 ribu untuk sehari semalam. Kapal berukuran sedang ini bisa menampung 10 orang, tidak termasuk anak buah kapal. Namun, bila menginginkan pelayanan plus, makan dan umpan, harus mengeluarkan biaya tambahan. Nelayan mematok harga Rp1,2 juta sewa kapal plus makan. Untuk sewa kapal kecil yang cukup menampung empat orang, hanya dikenakan sewa Rp250 ribu sampai Rp350 ribu.

Menurut Khairul, pemilik kapal besar memberikan layanan plus-plus kepada para pemancing. Selain memasak makanan, anak buah kapal juga akan menyelam untuk memeriksa titik yang akan dipancing. Hal ini untuk memastikan apakah ada tidak ada di spot yang akan dijadikan lokasi memancing.

Toto Subiantoro menyewa kapal cepat dan besar untuk menuju lokasi ikan. Kapal yang mampu bergerak 10 knot per jam ini memang jauh lebih mahal. Fasilitas lengkap dan canggih membuat biaya sewa juga besar.

Menurutnya, banyak kapal-kapal besar yang bisa disewa untuk memancing di laut lepas hingga 12 mil dari pantai. Harga sewa antara Rp13 juta dan Rp15 juta untuk tiga hari.

Kapal yang dipakai dilengkapi fish finder, marine radio, dan flare. Fasilitas lainnya ada kamar tidur dan kamar mandi.

Dengan kapal dan peralatan yang lebih canggih, lokasi yang banyak ikan mudah ditemukan. Berbeda dengan kapal tradisional yang hanya mengandalkan indera.

Ada Pemerintah di Laut?

Jumlah ikan di Teluk Lampung makin berkurang. Faktor pemakaian bom ikan dan pukat menjadi penyebab rusaknya dasar laut dan membuat populasi ikan berkurang. Nelayan makin sulit mendapat ikan hingga 4 mil dari pantai, yang menjadi daerah tangkapan nelayan kecil.

Masdulhaq mengatakan pemerintah kabupaten dan kota yang memiliki wilayah luat harus berbuat sesuatu guna mengembalikan populasi ikan di Teluk Lampung. Yang perlu dilakukan adalah dengan membangun rumpon-rumpon di laut sebagai tempat berkumpul ikan. Rumpon ini akan berkembang menjadi tempat ikan berkembang biak karena banyak makanan.

Menurutnya, tidak sulit dan mahal membangun rumpon di laut. Cukup dengan membuat tempat dari semen dan ditambah pelepah kelapa. Semen dan pelepah ini, lama-kelamaan akan menjadi tempat makan ikan dan ikan pun mulai datang. Ikan kecil dan ikan besar akan berkumpul jika ada makanan. “Kalau dibuat banyak rumpon, ikan pun makin banyak. Tidak perlu waktu lama, 1 tahun setelah rumpon dibangun, ikan akan banyak berkumpul,” kata dia.

Makin banyak ikan di Teluk Lampung, kata dia, makin banyak pemancing dari luar daerah dan luar negeri yang datang. Hal ini akan menunjang pariwisata Lampung sekaligus menjadi sumber penghasilan baru bagi n

Sumber: Lampung Post, Minggu, 08 Juli 2012

[Fokus] Berfilsafat dengan Laut dan Pancing

MEMANCING bukan sekadar kesenangan mendapatkan ikan. Hobi ini dipercaya mampu melepas stres. Apalagi di tengah laut, kita bisa kontemplasi tentang kehidupan.

Sabtu pagi, pekan lalu, kapal nelayan ukuran sedang itu melancong membelah laut Teluk Lampung. Tak tanggung, dengan kecepatan 10 knot per jam, perahu berisi 10 penghobi memancing itu berlayar selama 10 jam. Tujuannya, perairan Gosong Pasir.

Lokasi ini diyakini sebagai tempat (spot) yang along, istilah nelayan, untuk memancing. Ikannya melimpah dan besar-besar. Setelah sampai, perjalanan melelahkan itu seolah hilang ketika mata pancing sudah dilepaskan.

Toto Subiantoro, satu dari penghobi mancing, menuturkan pengalaman dan suka dukanya tentang memancing di laut. Gosong Pasir dan sekitarnya, kata dia, sangat dikenal karena laut yang memiliki kontur gunung yang menjadi tempat idola ikan-ikan besar berkumpul. Daerah ini mencapai 12 mil dari pesisir Bandar Lampung dan hanya bisa ditempuh dengan kapal besar. “Hanya kapal besar saja yang bisa ke sana,” ujar Toto.

Hampir setiap bulan, Toto dan beberapa rekannya yang lain pergi ke Gosong Pasir dan sekitarnya. Mereka pun bisa memancing selama tiga hari di perairan yang sudah masuk ke Selat Sunda tersebut. “Di situ memang tempat memancing yang sudah terkenal hingga ke luar negeri. Yang memancing banyak dari Kalimantan dan ada juga dari luar negeri. Mereka membawa kapal yang lebih besar,” kata dia.

Warga Kemiling, Bandar Lampung, ini memang sangat suka memancing. Hobi yang sudah ia geluti selagi masih muda. Toto adalah pemancing kelas kakap. Dia dan rekannya tidak main di perairan nelayan, tapi lebih jauh ke lokasi ikan-ikan yang disebut monster. Ikan yang beratnya bisa lebih dari 50 kg.

“Saya pernah dapat ikan yang beratnya 90 kg di lokasi Gosong Pasir dan sekitarnya. Nariknya aja perlu waktu hingga 2 jam,” kata Kasubbid Keanekaragaman Pangan Badan Ketahanan Pangan Lampung ini.

Dia mengaku mendapat kesenangan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata saat memancing ikan di laut lepas. Kebahagian yang didapat saat memancing tidak dapat dinilai dengan uang.

Pengalaman Masdulhaq tampaknya lebih dalam. Pensiunan PNS ini menganggap memancing bukan hanya pelepas stres dan rekreasi yang murah meriah. Namun, dia mendapat banyak pengalaman hidup dari kegiatan memancing.

“Orang memancing bukan hanya sekadar mendapat ikan. Memaknai setiap bagian dari proses memancing yang bisa menjadi pelajaran hidup,” kata dia.

Menurutnya, banyak filsafat kehidupan yang bisa diambil dari memancing. Mulai dari rasa syukur hingga mengerti tentang kekuasaan Sang Maha Pencipta. Dia mencontohkan ketika ada dua orang memancing, yang berpengalaman dan yang baru pertama kali memancing duduk bersebelahan. Ternyata yang lebih dahulu mendapat ikan, bahkan memperoleh tangkapan yang lebih banyak adalah orang yang baru pertama kali memancing.

“Artinya, rezeki dari Tuhan bisa diberikan kepada siapa saja. Tidak harus kepada orang yang sudah berpengalaman. Di sini kita bisa legawa jika ternyata di kantor, ada rekan kerja yang bisa mendapat banyak rezeki,” kata pria 61 tahun ini.

Saat seseorang memancing seharian dan hanya mendapat dua ikan, itu pun yang ukuran kecil. Dari pengalaman itu, kata dia, kita diajarkan untuk mensyukuri apa yang sudah didapat. Dengan mendapat ikan kecil itulah kita menghidupi keluarga di rumah. “Bagaimana kita menyikapi bila ternyata kita mendapat ikan sedikit untuk keluarga di rumah. Itulah salah satu pengalaman baru yang lain,” kata dia.

Masdulhaq pernah mengalami kejadian yang tidak pernah dia lupakan. Ketika memancing di perairan Labuhanmaringgai pada 1994, kapal yang ditumpanginya dan beberapa rekannya mengalami kerusakan mesin. Dia pun terapung selama empat hari di laut lepas.

“Dalam kondisi inilah kita langsung ingat Tuhan. Kita pun langsung menghitung kebaikan dan kejahatan yang sudah dilakukan,” kata Masdulhaq.

Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung ini menjadikan kejadian itu sebagai pengalaman pahit adi lautan itu dan sebuah renungan. Terkadang dia sengaja pergi memancing saat malam hari. Memancing sekaligus untuk mendekatkan diri pada kuasa Tuhan.

“Malam-malam kita di tengah lautan, ini makin membuat kita selalu ingat Tuhan. Bahkan menjadi renungan tentang keterbatasan manusia. Manusia hanya seperti dasar kapal yang mudah tenggelam. Malah kalah dengan ikan teri yang bisa berenang lincah di lautan luas,” ujarnya berfilosofi. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 08 Juli 2012