September 4, 2012

Organisasi Profesi: AJI Bandar Lampung Jual Buku untuk Operasional Sekretariat

Oleh Yulvianus Harjono

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung menggalang dana operasional sekretariat secara mandiri, yaitu melalui penerbitan buku yang ditulis para anggotanya.

Langkah ini ditandai dengan penjualan buku Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh yang ditulis Udo Z Karzi, jurnalis Lampung Post yang juga pernah memenangi Rancage Award. Buku ini diterbitkan oleh Indepth Publishing yang merupakan unit usaha mandiri AJI Bandar Lampung.

Ketua AJI Bandar Lampung Wakos Reza Gautama, Selasa (4/9/2012), menjelaskan, salah satu tujuan penjualan buku ini adalah untuk membiayai operasional sewa rumah bangunan sekretariat AJI di Bandar Lampung. Wakos menjelaskan, untuk sewa hingga dua tahun mendatang dibutuhkan dana 20 juta. Buku ini dijual Rp 50.000 per eksemplar. Diharapkan, sebagian dana penjualan buku ini bisa untuk menutupi kebutuhan biaya sewa itu.

"Kami berupaya mengoptimalkan semua potensi anggota untuk penggalangan dana sekretariat, sebagai bentuk rasa memiliki anggota dan bukti kemandirian organisasi," ujarnya.

Dalam waktu beberapa hari sejak diluncurkan, buku ini telah terjual 200 eksemplar, sehingga terkumpul dana 10 juta. "Kami bangga karena pembeli buku ini berasal dari berbagai kalangan. Kami berharap semua anggota akan berpartisipasi memasarkan buku ini ke publik, selain membangun juga budaya baca di Lampung," tutur jurnalis dari Tribun Lampung ini.

Penerbitan independen Indepth Publishing merupakan penerbitan independen yang saat ini sangat aktif dalam menerbitkan buku. Setidaknya sudah lima buku yang diterbitkan penerbitan yang dikelola anggota AJI Bandar Lampung ini. Salah satu buku itu adalah Terasing di Negeri Sendiri karya Oki Hajiansyah Wahab, jurnalis dan aktivis reforma agraria.

Buku yang mengisahkan soal polemik kasus agraria di Mesuji, Lampung, dan kehidupan masyarakat Moro-Moro yang terabaikan hak-hak sosial dan politiknya ini juga diterbitkan dalam versi Bahasa Inggris berjudul Alianated in Their Own Homeland. Buku ini telah dipasarkan hingga ke Belanda, Amerika Serikat, dan Hongkong.

Editor: Marcus Suprihadi

Sumber: Kompas.com, Selasa, 4 September 2012

September 1, 2012

Gelar Kehormatan untuk Bupati Pringsewu

TANGGAMUS - Pemerintah Kabupaten  Tanggamus memberikan "adok" atau gelar kehormatan kepada Bupati Pringsewu Sujadi Sadad beserta istri Nurohmah, yaitu Pangeran Junjungan Nitigama dan Ratu Pengayom Cahyagama.

Pemberian gelar adat untuk Bupati Pringsewu, Lampung Sujadi.(FOTO: ANTARA LAMPUNG/Taufik Hidayat)

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Tanggamus M Shobir Thoyib mendampingi Bupati Tanggamus Bambang Kurniawan di Kotaagung, Tanggamus, Sabtu, mengatakan pemberian gelar tersebut sebagai penghargaan kepada Bupati Pringsewu karena telah berjasa kepada masyarakat di daerah itu.

"Selain itu, pemberian gelar tersebut juga sebagai upaya pemeliharaan dan pemberdayaan adat Lampung yang memerlukan langkah untuk menjaga kelestariannya," kata Shobir, di sela "Pengetahan Adok" sebagai salah satu rangkaian kegiatan Festival Teluk Semaka V.

Menurut dia, agar pemeliharaan adat istiadat dan budaya Lampung dapat terlaksana dengan baik, perlu penanganan khusus dari lembaga adat.

"Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kabupaten Tanggamus memandang perlu untuk menetapkan gelar adat kepada Bupati Pringsewu," kata dia, pada acara yang digelar di Lapangan Merdeka Kotaagung.

Ia menjelaskan, keputusan itu berdasarkan Surat Nomor 03.01/002/MPAL-TGM/VIII/2012 tentang pemberian gelar adat kepada Bupati Pringsewu.

Selain Bupati Pringsewu dan istri, ujar dia, terdapat dua tokoh Tanggamus yang juga mendapatkan gelar adat, yaitu Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kabupaten Tanggamus AKBP Bayu Aji bergelar Pangeran Penata Hukum, serta Komandan Distrik Militer (Dandim) Kabupaten Tanggamus Letkol Rionaldo dengan gelar adat Pangeran Pengringgom Bangsa.

Kepala Seksi (Kasi) Promosi Disbudpar kabupaten Tanggamus Marhasan Samba mengatakan, Festival Teluk Semaka V diharapkan dapat meningkatkan pencitraan kabupaten itu sehingga bisa mengangkat pamor daerah ke tingkat yang lebih luas lagi.

"Pada tahun ini gelaran Festival Teluk Semaka V menjadi gerbang dari kegiatan-kegiatan promosi wisata yang akan dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten," katanya.

Ia menjelaskan perayaan Festival Teluk Semaka 2012 diisi berbagai kegiatan budaya seperti Pemberian "Adok" atau gelar adat, lomba tari kreasi Lampung, lomba tangkap bebek, sepeda santai Tanggamus, perahu hias, dan karnaval budaya.

Sumber: Antara, Sabtu, 1 September 2012

August 27, 2012

Gencar Jual Mamak Kenut, AJI Galang Dana

BANDAR LAMPUNG (LampostOnline): Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung sedang menggalang dana untuk biaya sewa kantor. Ketua AJI Bandar Lampung Wakos Reza Gautama siang ini mengatakan AJI butuh Rp20 juta untuk biaya kantor selama dua tahun. Ikhtiar yang dilakukan organisasi profesi pers yang tegas dalam aturan soal suap ini ialah menjual buku Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh karya Udo Z Karzi.

Udo Z Karzi, kata Wakos, adalah anggota AJI yang bekerja sebagai jurnalis di Lampung Post. Buku yang dicetak Indepth Publishing--unit penerbitan AJI--ini berjumlah 500 eksemplar dan menjualnya per buah Rp50 ribu. "Alhamdulillah dalam sehari terjual hampir 200 eksemplar. Kami berharap semua anggota bisa berkontribusi menjualkan," ujar Wakos yang bekerja di Tribun Lampung ini.

Usaha ini, tambah Wakos, juga cerminan kemandirian AJI dalam berusaha. Wakos menegaskan, AJI Bandar Lampung ingin menjadi pelopor untuk kota lain agar mandiri dalam mengupayakan sewa kantor dan seabrek aktivitasnya. "Ini juga wujud independensi kami dari pemberian pihak lain yang bakal mengikat organisasi sehingga berpengaruh pada kemerdekaan jurnalis dalam bekerja." 

Sementara Oki Hajiansyah Wahab, pengurus AJI yang juga Manajer Pemasaran Indepth Publishing, menambahkan buku Mamak Kenut memang dicetak dengan dana AJI dan dijual untuk pembiayaan sewa sekretariat. Buku dicetak sebanyak 500 eksemplar dan dipasarkan kepada khalayak ramai. Hingga kini, ujar aktivis Yabima itu, Indepth telah menerbitkan delapan buku. Oki menjelaskan gebyar penggalangan dana ini juga banyak dibantu para senior organisasi pers yang berdiri pada 7 Agustus 1994 itu.

Sementara itu, anggota Majelis Etik AJI yang juga Direktur Pelaksana PKBI Lampung, Herdi Mansyah, beberapa waktu lalu mengusulkan agar AJI mengusahakan kantor permanen. Sebab, dengan begitu, persoalan sewa kantor saban tahun bisa diselesaikan.

"Memang butuh banyak dana. Tapi saya yakin, dengan integritas AJI dan penggiatnya selama ini, insya Allah banyak yang mau membantu. Ya tidak setahun dua tahun. Mungkin lima sampai sepuluh tahun. Kalau tidak dimulai, memang berat. Tapi kalau sudah dimulakan, akan ringan," ujar Herdi Mansyah. (ASP/L-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 27 Agustus 2012

August 26, 2012

Warga Lampung Barat Antusias Ikuti Pesta Sekura

LIWA -- Warga Kabupaten Lampung Barat (Lambar), Provinsi Lampung, antusias mengikuti "Pesta Budaya Sekura 2001 Wajah" yang diselenggarakan pemerintah setempat untuk merayakan Idul Fitri 1433 Hijriah.
   
PESTA BUDAYA SEKURA. Penari dari Sanggar Seni Setiwang menampilkan tarian sekura betik (baik) karya koreografer Edwarsyah Ma'as, di Liwa, Lampung Barat, Lampung, Minggu (26/8). Pesta budaya sekura ialah ungkapan rasa syukur, sukacita, renungan terhadap sikap dan tingkah laku yang dilakukan massal oleh masyarakat setempat dalam merayakan Idul Fitri. (ANTARA/GATOT ARIFIANTO)

Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri, di Lapangan Merdeka, Liwa yang berada sekitar 278 km sebelah utara Kota Bandarlampung, Minggu, mengatakan Sekura merupakan tradisi khas daerah itu. "Karena itu Sekura harus dipertahankan," kata Bupati  pula.    

Sekura ialah ungkapan secara massal masyarakat Lampung Barat untuk menyambut dan memeriahkan Idul Fitri, dan biasa dilakukan setiap tanggal 1 sampai dengan 7 Syawal dan berlansung dari pekon (desa/kampung) ke pekon di daerah ini.
   
Pada perayaan Sekura, masyarakat akan mengubah penampilan sedemikian rupa untuk menghibur, seperti mengenakan topeng binatang, menjadi kakek-kakek dengan membawa tongkat, namun ada juga yang bermain rebana dan gamolan atau alat musik tradisional daerah itu yang terbuat dari bambu.
   
Kabag Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Lampung Barat Burlianto Eka Putra mengatakan, acara pesta Sekura itu dimulai pukul 09.00 WIB.
   
Namun sejak pukul 08.00 WIB, warga setenpat termasuk sejumlah pelajar dari SMAN 1 Liwa telah berdatangan, dengan memakai topeng, di Lapangan Merdeka Liwa, untuk selanjutnya berjalan menuju areal kantor Pemkab Lambar.
   
"Saya ikut bersekura untuk melestarikan adat istiadat supaya tidak hilang dan terlupakan," kata warga Pekon Way Empulau Ulu, Kecamatan Balikbukit, Yazli Fauzi.
   
Meski tidak mendapatkan upah, Yazli mengaku, tetap senang sehubungan kegiatan itu hakikatnya untuk bersilaturahim antarmasyarakat, baik yang tua, muda maupun anak-anak.
   
Sebelum Bupati Mukhlis Basri melepas kegiatan tersebut, seluruh kelompok Sekura dari berbagai kecamatan di daerah itu diminta beratraksi menari dengan waktu maksimal satu menit untuk dinilai.
   
Panitia selanjutnya akan mengambil 10 kelompok terbaik, untuk mendapatkan hadiah bagi penampil yang baik.
   
Pada kegiatan "Pesta Budaya Sekura 2001 Wajah" itu, sejumlah aparat keamanan dari Polres Lampung Barat, Satpol PP, TNI AD dari Kodim 0422, serta Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Lampung Barat membantu pengamanan dan penertibannya.
   
Sejumlah ambulans dan tim medis juga diturunkan dalam kegiatan tersebut.
   
"Ambulans dari Dinas Kesehatan disiapkan tiga buah, termasuk tim medis dan obat-obatan, untuk pertolongan pertama jika terjadi hal tidak diinginkan," ujar Kasubag Tata Usaha Puskesmas Liwa, Sumarjo.
   
Acara selanjutnya berlangsung mulai pukul 10.00 WIB, dengan warga yang telah mengenakan topeng atau bersekura, selanjutnya berjalan menuju lapangan kantor Pemkab Lambar dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sumber: Antara, Minggu, 26 Agustus 2012

[Perjalanan] Pesta Sekura 1001 Wajah

PESTA Sekura, pesta topeng khas perayaan Lebaran di Liwa, Lampung Barat, kembali digelar, Minggu (19-8). Kemeriahannya mewarnai perayaan yang menggabungkan Lebaran, HUT ke-67 RI, dan HUT ke-20 Lampung Barat.

Kabut yang akrab di Kota Liwa Lampung Barat belum lerap, Minggu (19-9). Namun, para pelaku pesta sekura, warga yang mengenakan topeng sekura, sudah berduyun-duyun menuju lapangan.

Tradisi sekuraan memang sudah ada di Liwa sejak zaman lama. Kesenian yang dimainkan pemuda saat perayaan Idulfitri ini menjadi sesuatu yang khas, tak ada daerah lain yang punya kebiasaan seperti ini.

Tahun ini, sebagaimana beberapa tahun sebelumnya, Lebaran yang jatuh tak jauh beda waktunya dengan lahirnya Kabupaten Lampung Barat dijadikan momen untuk menggelar Pesta Sekura.

Tak pelak, Pesta Sekura digabung menjadi ajang perayaan Lebaran sekaligus pesta ulang tahun kabupaten ke-20, tahun ini. Juga, pesta kemerdekaan peringatan HUT ke-67 Republik Indonesia. Satu tema diangkat, yakni Pesta Sekura 1001 Wajah.

Sambil menunggu rombongan lainnya, tampak para sekura bercakap-cakap meskipun tidak membuka penutup wajahnya. Sementara panitia menyiapkan dan mengarahkan setiap rombongan sekura yang datang.

Selanjutnya, iring-iringan 1001 sekura berberak dari lapangan Merdeka, Pasar Liwa, menuju pusat perkantoran Pemkab Lampung Barat.

Menyusuri Jalan Protokol Raden Intan II, jarak tempuh sedang jarak sekitar 3 km, mengikuti pawai sekura dengan pakaian berbagai corak warna dan khasnya adalah mengenakan penutup wajah.

Sesuai dengan tema kegiatan, sekitar 1001 masyarakat dari empat Kecamatan di Lampung Barat, yakni Balikbukit, Batubrak, Belalau, dan Batuketulis mengenakan topeng sekura dengan berbagai bentuk sesuai jenisnya atau sebutannya.

Dalam masyarakat adat Lampung Barat, yakni sekura kamak dan sekura kecah atau helau. Topeng sekura yang dikenakan dari berbagai bentuk ada yang terbuat dari kayu dan banyak juga dari kain dengan tetap menonjolkan nilai-nilai eksotis budaya tersebut.

Perhelatan Pesta Sekura akbar dan pertama kalinya dalam jumlah besar, banyak menarik perhatian warga yang menonton memadati sepanjang jalan protokol.

Bahkan, warga yang berasal dari luar Lampung Barat sengaja datang untuk menyaksikan kegiatan tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto bersama dengan sekura.

Seolah mengerti apa yang pengunjung inginkan, sekura itu menghampiri dan menghadap setiap jepretan kamera yang mengarah ke mereka.

Suasana ceria siang itu menghampiri setiap wajah pengunjung. Apalagi setelah Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dan Wakil Bupati Dimyati Amin juga berbaur bersama mereka dan tidak sungkan-sungkan mengenakan topeng sekura.

Berbagai atraksi yang disajikan sekura, seperti pementasan seni bela diri, budaya, dan cara menyapa pengunjung, membuat warga yang menyaksikan kegiatan larut dalam semaraknya kegiatan.

Begitu juga dengan lantunan sastra Lampung, yakni budaya wawayaan, yang dipentaskan sekura di tengah-tengah kerumunan ribuan pengunjung yang ternyata menjadi salah satu wadah menyiarkan agama.

Selain itu, rombongan sekura dengan leluasa memeragakan atraksi budaya leluhur seperti hadrah, pencak silat, dan beberapa kesenian lainnya yang kini mulai tergerus di tengah perkembangan zaman.

Pada akhir kegiatan, yakni sekura cakak buah (mematik buah, pada pohon pinang), sorak-sorai membahana dari setiap sudut lapangan Pemkab Lampung Barat. Sekitar 50 pohon pinang yang disiapkan panitia menjadi pusat kerumunan.

Pengunjung memberi semangat sekura yang tengah berjuang untuk mendapatkan ratusan hadiah yang tergantung di pohon pinang.

Secara bergantian puluhan sekura berkelompok memanjat pohon pinang, sampai akhirnya salah satu dari kelompok berhasil mencapai puncak pohon pinang dan berhak mendapatan hadiah tersebut. (HENRI ROSADI/ARIPSAH/M-1)


Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 Agustus 2012

August 25, 2012

Bupati Segera Canangkan Tahun Wisata Lambar

LIWA -- Bupati Lampung Barat (Lambar), Provinsi Lampung, Mukhlis Basri, Minggu (26/8), akan mencanangkan "Tahun Wisata Kabupaten Lampung Barat" guna memacu perkembangan sektor pariwisata daerah itu mendatang.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, Burlianto Eka Putra, di Liwa, Sabtu menjelaskan, pencanangan tersebut dilakukan menjelang pelaksanaan pesta "cakak buah" atau panjat pinang.

Puluhan pohon pinang dengan beragam hadiah disediakan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat sehubungan kelompok sekura kamak (kotor) akan memanjat untuk mendapatkan hadiah.

Burlianto menjelaskan, setelah peserta karnaval "Pesta Budaya Sekura 2001 Wajah" dilepas Bupati Mukhlis Basri dari lapangan Merdeka, Liwa, para sekura atau masyarakat yang mengenakan topeng akan menuju lapangan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat.

Setelah masyarakat berkumpul bupati akan mencanangkan "Tahun Wisata Kabupaten Lampung Barat".  "Selanjutnya baru kegiatan cakak buah berlangsung," kata dia.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Hari Jadi ke 21 Kabupaten Lampung Barat sekaligus memeriahkan Idul Fitri 1433 Hijriyah. Termasuk mengenalkan budaya daerah itu kepada masyarakat Indonesia melalui berbagai media.

"Pesta sekura dan cakak buah sebenarnya ialah kegiatan rutin setiap tahun yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat," ujar Burlianto menjelaskan.

Namun agar suasana perayaan kali ini lebih meriah, maka dalam hiburan rakyat atau disebut "Pesta Rakyat" tersebut akan dimeriahkan oleh Band Wali.

"Dengan harapan lebih menyemarakkan acara selain menciptakan suasana kebersamaan antara pemerintah dengan masyarakat," kata Burlianto.

Sumber: Antara, Sabtu, 25 Agustus 2012

August 17, 2012

Lambar Siapkan 120 Pinang Berhadiah Peringati Kemerdekaan

LIWA -- Pemerintah Kabupaten Lampung Barat (Lambar), Provinsi Lampung, menyiapkan 120 batang pinang untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-67 tahun 2012 ini.
   
"Kegiatan tersebut sekaligus sebagai peringatan hari jadi Kabupaten Lampung Barat ke 21, dan akan berlangsung pada 26 Agustus mendatang," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, Burlianto Eka Putra, di Liwa, Jumat.
   
Guna kelancaran acara tersebut, kata Burlianto, Pemkab Lambar mengajak pihak lain untuk berpartisipasi.
   
"Pemkab Lampung Barat bersinergi dengan PT Chevron Geothermal Suoh Sekincau (CGSS) dalam mengadakan kegiatan tersebut. Tetapi beberapa donatur lain juga ada yang mendukung," kata dia.
   
Kegiatan yang nantinya akan berlangsung di lapangan kompleks Pemkab Lampung Barat tersebut merupakan hiburan rakyat dan multifungsi.
   
"Sekaligus ajang untuk halal bihalal antara pemerintah dengan masyarakat," kata Burlianto menambahkan.
   
Daerah yang dipimpin Bupati Mukhlis Basri dan Wakil Bupati Dimyati Amin tersebut, memiliki pula pesta budaya tradisional yang disebut "Sekura".
   
Pesta budaya itu biasa dilaksanakan setelah Idul Fitri mulai dari 1 Syawal sampai 7 Syawal setiap hari bergantian dari pekon (desa) ke pekon yang lain.
   
Dalam kebudayaan Lampung, "Sekura" berarti menutup wajah dengan topeng.

Dalam tradisi perayaan itu, ribuan masyarakat daerah itu biasa mengenakan topeng secara massal saat kegiatan tersebut tiba, dan kemudian melakukan "cakak buah" atau memanjat batang pinang secara berkelompok.
   
"Sebanyak 120 batang pinang dengan beragam hadiah menarik tersebut sengaja dipersiapkan, mengingat pengalaman tahun lalu ribuan warga yang bersekura atau mengenakan topeng ikut memeriahkan acara tersebut," kata Burlianto lagi.
   
Adapun saat ini, peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-67 diperingati Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompida) setempat dengan melaksanakan upacara bendera, diikuti pejabat, dinas dan instansi serta unsur muspikab.

Sumber: Antara, Jumat, 17 Agustus 2012


August 15, 2012

Indepth Publishing Segera Rilis 'Semuda'

BANDAR LAMPUNG (Lampost.com): Penerbit buku indie, Indepth Publishing, usai Lebaran akan meluncurkan satu buah karya fiksi berupa kumpulan cerpen. Direktur Indepth Publishing Tri Purna Jaya mengatakan kumpulan cerpen berjudul Semuda (Selalu Muda) ini ditulis Fritz Nuzir Ahmad asal Metro ini menarik dibaca. Sebab, ada banyak hikmah yang terkandung dalam setiap senarai di buku ini.

Tri menjelaskan Semuda berisi kompleksitas hidup anak manusia yang sarat pelajaran. Alur hidup yang mengalir begitu saja membuat pembaca bisa mencerna cerita ini dengan baik. Tri menjelaskan buku ini akan diluncurkan usai Lebaran di Kota Metro.

Selain itu, ujar mantan jurnalis Lampost ini, dalam buku ini juga terdapat endorse dari beberapa tokoh, di antaranya Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat dan penyair Lampung Udo Z. Karzi. "Kami berharap buku ketujuh yang kami terbitkan ini bisa menambah kuat kultur literasi di Lampung," kata dia Rabu malam. (ASP/U-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 15 Agustus 2012

Novel Karya Putra Wali Kota Metro Segera Terbit

TRIBUNLAMPUNG.co.id - Geliat kepenulisan di Lampung terus berkembang, Indepth Publishing, salah satu penerbit lokal di Lampung dalam waktu dekat akan segera merilis buku barunnya.

Managing Director Indepth, Tri Purna Jaya menerangkan novel yg akan terbit ini adalah buku ke tujuh yang kami terbitkan selama tiga bulan terakhir. Saat ini buku telah masuk proses cetak dan pasca Lebaran mudah-mudahan sudah siap.

Peluncuran novel ini sendiri akan dilakukan pd minggu pertama September di Metro. Tri menjelaskan  Novel ini ditulis oleh seorang arsitek yang juga akademisi di Universitas Bandar Lampung Fritz  Nuzir Ahmad yang juga putra Wali Kota Metro Lukman Hakim.

"Novel ini akan diluncurkan setelah Hari Raya Idul Fitri," ujarnya, Rabu (15/8).  Tri berharap menggeliatnya dunia kepenulisan di Lampung akan meningkatkan budaya baca dan budaya menulis di kalangan masyarakat Lampung.

Novel ini rencananya akan dipasarkan dengan harga yg terjangkau oleh anak muda dan remaja yang menjadi segmen utama buku ini. (Leo David)

Editor : soni

Sumber: Tribun Lampung, Rabu, 15 Agustus 2012

August 12, 2012

[Perjalanan] ‘Ngadem’ Sore di Dam Raman

MESKIPUN tak lagi terdengar kerasnya gemericik air, suara burung dan hilir mudik seriti masih kental terlihat di bendungan Dam Raman, Purwoasri, Metro Utara, Kota Metro.


Danau yang masih alami itu kini nyaris tertutup tanaman eceng gondok. Tampaknya aset wisata yang amat berpotensi itu belum termanfaatkan dengan baik.

Padahal air yang terbentang luas berada di atas lahan seluas 26 ha itu mampu menjadi magnet yang mendongkrak wahana keindahan dan berkontribusi pendapatan jika disulap menjadi kawasan wisata di Kota Metro.

Bendungan yang cukup luas dengan pepohonan lebat dan rindang serta potensi pertanian kini yang terlihat terbengkalai. Dam baru dimamfatkan untuk tempat bersantai, memancing, dan menikmati pemandangan karena suasana alamnya yang indah dan sejuk.

Di bulan Ramadan tampak ramai pada sore dan siang hari. Pada siang hari tampak sekelompok warga usia tua duduk sambil menanti umpannya dimakan ikan. Sedangkan kelompok remaja sore hari ngabuburit menunggu waktu berbuka.

"Di sini terasa asyik karena pemandangannya indah di samping ikannya banyak. Kalau ada perahu, akan menambah asyik berkeliling di Danau Dam Raman," ujar Hesti warga Hadimulyo, yang ditemui saat bersantai di sana sambil menunggu berbuka.

Tak beda dengan Hadi dan kawan-kawannya, dengan asyiknya memancing sambil menikmati pemandangan. Di bendungan Dam Raman tampak terlihat belahan dua sungai yang akrab, warga menyebutnya kanal Way Bunut dan Way Raman.

Kedua anak sungai itu mampu menyedot mayoritas para remaja, di Way Bunut warga senang memanfaatkannya untuk ngabuburit sambil memancing karena ada jembatan gantungnya. Sedangkan Way Raman di pinggiran dibuat tempat nongkrong sambil melihat bendungan dari atas.

Dam Raman, danau yang merupakan sumber potensi air terbesar di Metro tersebut, hanya berjarak 8 Km dari pusat Kota Metro dan 55 Km dari Bandar Lampung. Kawasan Dam Raman memiliki total luas 26 Ha terdiri 24 Ha lahan eks Benkok dan 2 Ha hutan sengon.

Di seputaran lahan Dam Raman juga bisa melihat pohon penghijauan jenis Jabon selain akasia yang tertanam rapi di sekitar lahan yang mengitari bantaran sepanjang Dam Raman dan anak sungai Way Bunut yang terlihat ada jembatan gantung.

Wali Kota Metro Lukman Hakim mengakui potensi wisata itu belum bisa dimanfaatkan dengan baik, meskipun bila disulap bisa mendatangkan kontribusi pendapatan daerah. Pemerintah kota Metro saat ini sudah mengemasnya dengan membuat masterplan Dam Raman.

Di danau itu direncanakan akan dijadikan Agro wisata dan wisata air. Di samping itu juga nantinya dibangun tempat-tempat representatif untuk areal memancing. "Kita sudah membuat masterplannya rencana akan dijadikan pusat wisata di sana," ujarnya.

Lukman memberikan kesempatan dengan sejumlah kemudahan bagi yang ingin menanamkan investasinya membangun lokasi wisata di Dam Raman. Dam raman merupakan sebuah danau yang masih alami yang berada diperbatasan tiga wilayah, yakni Kota Metro, Lamteng, dan Lamtim.

Masterplan

Pemerintah Kota Metro akan menjadikan potensi Dam Raman menjadi objek wisata yang berbasis masyarakat dan menyediakan objek wisata yang mampu menjangkau berbagai kalangan sesuai dengan karakter target pasar.

Di antaranya membangun taman agrowisata, taman bermain, botanical garden, area rekreasi, bumi perkemahan, outbond, area makan, wisata air, area penginapan, dan desa wisata.

Di Dam Raman juga akan dibangun wahana museum, waterbooom, amphitheatre, area joging, Cycling, area ATV, kano, dokar, shuttle bus, dan toko suvenir.

Dam Raman juga akan dibangun objek wisata yang di dalamnya bertema nuansa kolonisasi. Nuansa kolonisasi (tempoe doloe) itu diintegrasikan dengan nuansa alam. Di taman wisata koloni itu juga desain SDM-nya pun bergaya kolonisasi.

Lalu mengintegrasikan cerita sejarah dengan wahana wisata, di antaranya memperlihatkan museum hidup, mendesain tata bentuk bangunannya juga tempoe doloe, serta menyediakan museum yang berisi lukisan-lukisan serta foto-foto sejarah di zaman kolonisasi lalu. (AGUS CHANDRA/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Agustus 2012