August 31, 2008

Apresiasi: Spirit Seni dan Keeksakan Sains

-- Asarpin*

YANG rasional dan yang spiritual pada akhirnya juga diskusi tentang seni dan sains. Namun, sains tak mendapat perhatian budayawan dan sastrawan. Mungkinkah berharap puisi menjadi penyembuh luka besar kemanusian?

Pada diskusi tentang fiksi mikro di UKMBS Unila beberapa waktu lalu, Ari Pahala Hutabarat dan Iswadi Pratama menyinggung soal logika dalam sastra. Kedua penyair terdepan di Lampung ini tidak cuma sekali melontarkan hubungan seni dan sains.

Beberapa waktu lalu, Iwan Nurdaya Djafar juga meneropong novel tetralogi Andrea Hirata dari sudut pandang sains dengan kesimpulan yang agak ganjil. Isbedy Stiawan ZS dalam esai tanggapan atas esai Iswadi yang mengkritik miskinnya kritikus seni di Lampung menekankan keharusan memasukkan yang spiritual.

Diskusi tentang yang rasional dan yang spiritual, mau tak mau mengajak kita berdiskusi tentang seni dan sains. Beberapa karya sastra dan seni rupa akhir-akhir ini mulai ramai menyinggung apa yang dulu oleh Albert Einstein dinamakan relativitas dan gravitasi.

Andrea membuka novel ketiganya, edensor (2007), dengan teori relativitas Einstein dan mengajak kita berdiskusi tentang astronomi. Iwan Nurdaya Djafar mempersoalkan keberpihakan Andrea pada teori Barat dalam resensi atas tetralogi Andrea di Lampung Post (tanggal 22 dan 29 Juni 2008). Iwan juga menyebut novel Andrea sebagai takhayul dan klenik yang lain dengan cara pandang khas kaum rasionalis.

Empat novel Andrea, bagaimanapun, menyuguhkan tafsir-ulang atas peran fisika, kimia, biologi, dan astronomi yang sama sekali tak mengklaim agamanya yang mesti di lap-lap. Dalam Laskar Pelangi, Andrea menggugat Tuhan dengan cantik, dan katanya, seindah apa pun sebuah teorema tak akan mampu menjangkau Tuhan. Karena "Tuhan tidak tunduk pada postulat dan teorema mana pun. Oleh karena itu, Tuhan sama sekali tak dapat diramalkan".

Bahkan di sana-sini Andrea menyinggung soal lambang dalam aritmatika dan geometri. Ihwal yang terakhir ini muncul bersamaan dengan perbincangan mengenai teori gravitasi dalam bab Rahasia Gravitasi buku edensor.

Makin jelas kini kita tengah dihadapkan pada karya sastra yang menampilkan berbagai ekspedisi dan petualangan, yang tampaknya menunjukkan kepada kita bahwa dunia kini memang tak lagi tersekat-sekat oleh batas dan disiplin ini dan itu. Ayu Utami dengan Bilangan Fu dan Andrea dengan tetraloginya jelas tifikal novelis lintas batas yang fasih mengaduk-aduk sains dalam narasi. Seperti kata salah seorang tokoh dalam edensor, "ekspedisiku telah membuka jalan rahasia yang tersembunyi di antara lipatan sekat-sekat dimensi ruang dan waktu; sebuah jalan rahasia yang menghubungkan apa yang kualami saat ini dengan peristiwa-peristia masa laluku. Ini adalah ekstase terbesar yang hanya mungkin dicapai mereka yang berani bermimpi, berani keluar dari cangkang siputnya, untuk menemukan jawaban pertanyaan atas dirinya. Inikah postulat hukum nasib? Inikah yang dimaksud Albert Einstein sebagai lngkaran alamiah filsafat manusia?"

***

Jika Iwan Simatupang pernah bilang, salah satu ciri novel masa depan adalah novel-esai dan novel tanpa genre, saya kira novel Bilangan Fu dan tetralogi Andrea adalah di antaranya, walau bukan juga sebuah kemutlakan. Gaya kedua novel ini nyaris tak bergenre, dan kalau pun ini novel maka tak lagi terpilah secara ketat dengan genre-genre kesenian yang lain.

Analogi antara geometri dan seni, atau bahkan antara geometri dan puisi, memang terhitung sudah tua, namun sampai kini masih diparodikan. Andrea hemat saya hanya memarafrasekan kembali dunia mimpi dan komedi putar yang mengingatkan saya pada istilah Richard Rorty--dalam terjemahan Arif Bagus Prasetyo--ini: suatu ziarah "komidi-putar sastra-sejarah-antropologi-politik".

Inilah ziarah kritisisme budaya, kata Arif, di mana matematika menopang fisika--yang berupaya menangkap sejumlah keping semesta-- sementara seni menyokong etika, yang berjuang menangkap sebagian lain dari keping semesta yang sama. Karena itu: "Sains, tak lebih dan tak kurang, hanyalah sebuah genre sastra", tulis Arif.

Seandainya sains dan seni tak mengandung keindahan melalui lambang-lambang, barang kali tak akan pernah menarik. Kekuatan puisi dan geometri justru pada pola dan topografi serta lambangnya yang ringkas. Simbol-simbol, khususnya bilangan dan perhitungan numerologi, muncul jauh sebelum kata-kata dipakai dalam tulisan. Nenek-moyang kita bahkan menulis dengan lambang-lambang seperti takik.

John Forbes Nash, yang pernah mengalami skizofrenia puluhan tahun dan akhirnya meraih Nobel Matematika, pernah menuturkan pengalaman hidupnya dengan gaya berpikir yang eksotik-matematik kepada Sylvia Nasar dalam buku A Beautiful Mind (1998). "Saya selalu asyik dengan konsep bahwa perhitungan numerologi yang bergantung pada sistem desimal mungkin tak cukup intrinsik. Bahwa bahasa dan struktur alfabet mungkin mengandung ciri-ciri budaya kuna yang bersilangan dengan pemahaman yang gamblang atau pemikiran yang tidak bias", kata Nash.

Dari sini Nash menuliskan serangkaian lambang "baru"; simbol-simbol yang terkait dengan sistem untuk menggambarkan bilangan-bilangan bulat melalui metafora-metafora yang berdasarkan perkalian-perkalian bilangan-bilangan prima yang berurutan, yang tak ubahnya dengan seni.

Tahun 1950-an, Nash berusaha menulis ulang dasar-dasar fisika kuantum dan tak henti-hantinya menggali makna tersembunyi di balik angka-angka dan teks Alkitab. Disertasinya yang hanya 12 halaman sangat populer karena mengekspresikan dunia sains yang kaya dengan metafora dan pikiran-pikiran simbolik yang tak mudah dicerna.

Banyak ahli fisika dan matematika menghasilkan karya kreatif yang juga menjadi inspirasi para penyair. Sistem numerologi dan teorema-teorema matematika telah memengaruhi penulisan puisi model kuatrin di negeri Arab-Islam.

Bahkan apa yang disebut fiksi mikro, seperti pernah diuraikan dengan baik oleh Hasif Amini dalam Dunia di Sebutir Pasir, yang disinggung panjang lebar oleh Iswadi dalam diskusi di UKMBS itu, salah satu cirinya adalah ringkas dan padat secara maksimal dan indah seperti sebuah teorema. Sajak-sajak haiku dan koan Zen, misalnya, mengandung teka-teki tak ubahnya dengan teorema aritmetika. Apa yang ditekankan bukan aritmetika sebagai ilmu pasti dan rasional, melainkan lambang, metafora.

***

Sains memang melahirkan rasionalisme. Sementara seni menguatkan spiritualisme.

Post-modernisme hadir sambil menggugat jalan tengah yang ditawarkan agama atau menampik sintesa dan dialektika Hegelian. Semangatnya yang mendekonstruksi di sana-sini banyak mempengaruhi keeksakan sains. Lonceng kematian filsafat dan kepastian sains ditabuh dan dipulangkan dalam dunia spiritual. Maka orang pun ramai menyebut filsafat dan sains jika hendak eksis, seperti kata Bambang Sugiharto, mesti mengambil spirit dari puisi.

Sains bagaimana pun mementingkan logika atau penalaran logis. Seni sepintas bertolak belakang, walau beberapa penyair Lampung masih menekankan kelogisan dalam puisi. Bukan sains sebagai genre sastra, tapi sastra sebagai genre sains.

Subagio Sastrowardoyo dahulu pernah menilai puisi dengan penekanan pada logika, bahkan tuntutannya pada logika hampir mutlak. Asrul Sani menganggap penilaian Subagio merupakan sikap "antipuisi yang paling ekstrim" seraya ditambahkannya bahwa "puisi punya logikanya sendiri".

Nirwan Dewanto menyayangkan kegagapan kita terhadap sains. Sains tak mendapat perhatian di kalangan budayawan dan sastrawan kita padahal kehadiran masyarakat sains yang terus membesar, kata Nirwan dalam pidato kebudayaan 1991 di TIM yang kemudian diterbitkan menjadi esai bertajuk Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991, mestinya akan terlihat dengan meningkatnya kemampuan mereka melakukan refleksi terhadap seluruh tata kebudayaan yang berlaku. Tapi nyatanya tidak. Hal itu justru menjadi bukti peran budayawan makin merosot. Bahwa cara berpikir kultural sudah aus.

Ayu Utami baru-baru ini menunjukkan paradoks post-modernisme yang tampaknya dialami sebagian besar orang Indonesia. Di satu sisi Ayu masih menganggap kanon sastra masih penting dan karena itu mengusulkan novel tetralogi Pulau Buru Pramoedya sebagai kanon sastra dalam esai Kanon Sastra: Mengapa Takut? Tapi pada novel Bilangan Fu (2008), Ayu secara terbuka mengkampanyekan apa yang disebutnya "3M: Tiga Musuh Dunia Postmodern, yaitu modernisme-monotheisme-militerisme".

Apa yang digugat dan digayang kaum post-modern ternyata itulah yang tengah mereka rayakan. Betapa pun ilmu pengetahuan ditolak dan ditampik, kenyataannya justru banyak yang terpukau. Aritmatika dan geometri masih laku, bahkan di sekolah-sekolah diminati siswa dan mahasiswa dengan gairah.

Kepercayaan kepada Tuhan yang Mahaesa, walau digugat habis-habisan oleh para teoritkus posmo, nyaris tak tergoyahkan. Bahkan muncul pembelaan dengan merebaknya semangat fundamentalisme.

Di lain tempat muncul gugatan tehadap paham monotheisme. Ada juga kritikus yang menggugat bentuk, ruang, dan pedalaman karena ketiga soal ini meniscayakan keterbatasan dan kedangkalan; tak lebih sebagai ilusi.

***

Gaston Bachelard pernah menulis tentang puisi ruang, yang oleh Syariati dalam esai Mazhab Pemikiran dan Ideologi dikatakan Bachelard meyakini anggapan: "manakala suatu gagasan dapat dikoseptualkan dalam bentuk geometris, ia telah menemukan bahasa yang tepat guna mengekspresikan dan menjelaskan dirinya sendiri. Artinya, manakala suatu gagasan bisa diekspresikan secara geometris, ia telah menemukan bahasa terbaik ekspresinya".

Bagi Syariati, jika seorang bisa memanfaatkan matematika sebagai bahasa ekspresi suatu mazhab agama, filsafat dan sastra atau seni pada umumnya, maka ia bakal menemukan ekspresi lewat penalaran logis seraya membuktikan dirinya logis dan ilmiah. Suatu mazhab puisi dan pemikiran akan teruji dan menampakkan sosoknya lewat batu-batu sendi dan sandi geometris: apakah ia berbentuk natural, apakah kurvanya normal dan abnormal, apakah bentuknya heterogen atau homogen, tak jadi soal.

Artinya, seseorang--entah sebagai filsuf maupun sebagai penyair--bisa memahami kualitas-kualitas natural suatu mahzab dari suatu ekspresi geometrisnya. Kaum sufi banyak menulis karya dengan teorema-teorema cantik yang umumnya dirumuskan dalam sembilan waktu dan sembilan ruang yang sangat simbolik.

Sebuah teorema bahkan sempat menjadi ekspresi di kalangan mistikus, koan zen, kebatinan Timur. Ada banyak contoh puisi tanpa kata yang mengekspresikan kekonkritan yang ditakik dari geometri, yang bisa dikemukakan di sini.

***

Demikianlah. Kesibukan berdebat soal seni untuk seni atau seni untuk politik sudah aus. Momentum krisis sains telah dimanfaatkan secara serius oleh kalangan penyair di belahan dunia. Tipologi matematika dan pola-pola kompleks geometri sudah bertemu dengan tipologi dan pola-pola puisi. Jorge Luis Borges dengan intim bicara tentang ensiklopedi berbagai disiplin dengan Tlon, Uqbar, Orbius, dan Tertius yang terkenal itu. Para kritikus dunia mulai tertarik menguak wawasan puitik Omar Khayam dalam al-Rubaiyat yang memanfaatkan lambang-lambang aljabar, algoritme dan trigonometri Al Khuwarizmi. Sebuah situs Aulipo di internet mulai banyak dibicarakan orang Indonesia sejak Nirwan Ahmad Arsuka menulis di Bentara.

Di kalangan penyair mulai tumbuh wawasan sains yang, mungkin karena daya gedor gerakan posmo yang begitu dahsyat, sehingga muncul karya sastra dengan gaya yang tampaknya bukan lagi ditulis pada zaman kita. Karya sastra bukan lagi buah dari suatu zaman kini, melainkan zaman entah. Karya sastra bukan ditulis dari tanah sendiri, melainkan tanah tak bernama.

Sains telah berkembang pesat sehingga, seperti halnya magi, ia bukan lagi suatu bangunan yang tunggal. Karena itu sains pun merumuskan dirinya terus-menerus dan senantiasa berada dalam proses yang tidak seperti labirin berujung tunggal. Baik sains maupun sastra memang membutuhkan sebuah kritik, mungkin sejenis kritik terhadap diri sendiri seperti tekanan yang diberikan Karl Popper.

Harus diakui, para penyair modern tidak lebih berhasil daripada ahli magi primitif. Teori Frazer tentang magi dan sains sebagai rangkai kejadian terhadap sesuatu yang pasti dan mengikuti aturan hukum yang ketat dan operasinya dapat diperhitungkan dengan tepat, telah banyak diakui ilmuwan. Terlepas dari adanya banyak kritik dan perbedaan mendasar antara magi dan ilmu pengetahuan, teori Frazer juga diyakni B. Malinowski yang--kendati Malinowski lebih tertarik menghubungkan magi dan agama ketimbang sains--menganggap magi sebagai pseudo ilmu dengan sebuah proses yang sama-sama dilakukan dengan perhitungan rasional.

Percuma saja berharap pada puisi agar bisa menjadi penyembuh luka besar kemanusian jika kita sendiri tidak memanfatkan puisi dengan mendasar. Begitu juga dengan sains, seperti yang dilukiskan ahli neurologi, Donal B. Calne dalam Batas Nalar: percuma kau mengharapkan sains menyembuhkan kanker kalau kau tidak lebih dahulu menempatkannya di jalur perkembangan yang cocok dengan itu.

Bahwa para ilmuwan dan penyair tak sanggup menentukan jalur yang dimaksud, tidak berarti sains dan puisi gagal, melainkan jalur tersebut tidak cukup dilejajahi dan karena itu terlalu banyak halangan harus dihadapi. Namun, siapa pun sulit mengingkari bahwa zaman teknologi yang dilahirkan sains sekarang ini ternyata bisa menghasikan tahap-tahap penting imajinasi yang terkadang masih berbau sihir. Dan sihir: mengapa tidak?

* Asarpin, Pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Agustus 2008

Bingkai: Lenyapnya Tradisi dan Budaya Tradisional

-- Naim Emel Prahana*

BELUM lama ini penulis melakukan perjalanan "mudik" ke tanah kelahiran. Jika dicatat waktu tempuh antara pukul 06.00 dan 22.00, berarti perjalanan dapat ditempuh sekitar 16 jam, sudah termasuk istirahat beberapa kali. Perjalanan panjang itu melintasi kota, kampung, dusun, talang, kebun, sawah, pegunungan, sungai, kota, dan hutan, dengan berbagai pertemuan suku bangsa sepanjang jalan yang dilalui.

Kadang, kerinduan tidak cukup dituliskan dalam bait-bait lagu dan atau puisi maupun prosa. Tapi, lebih rindu jika menghadapi langsung dan nyata. Apa yang dilihat lalu dipikirkan, begitu juga yang tergambarkan tentang masa silam, sekarang dan akan datang.

Secara umum kesan penulis adalah lenyapnya tradisi dan budaya tradisional di hampir semua daerah dan masyarakat yang penulis lalui dalam perjalanan tersebut.

Saat melintas, terbacalah apa yang dikatakan budayawan dan antropolog Prof. Jaspen (asal Belanda) yang menetap di Australia. Tahun 1960, ia mengatakan jika 10 tahun ke depan generasi muda dari masyarakat di Sumatera bagian selatan tidak mempertahankan, melestarikan, dan memelihara budaya, budaya yang sangat agung akan lenyap.

Rentang tahun 1960 sampai 2008, berarti sudah lebih 48 tahun masa berjalan. Maknanya, sudah lewat 38 tahun sebagaimana dikatakan peneliti budaya tersebut. Kalau kita mengatakan "terbukti", mungkin banyak yang membantah. Biasanya mereka mengatakan bagaimana dengan seni suara, tari, seni ukir, dan tradisi lain yang sering dikemas saat ini. Itu membuktikan tradisi dan budaya tradisional masyarakat masih ada dan lengkap. Bukankan di hampir setiap kota ada gedung kesenian dan taman budaya?

Adalah betul kalau melihat hanya sisi format dan formalitas demikian. Masyarakat di Sumbagsel (Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Sumsel sendiri) sangat kaya nilai-nilai budaya dan tradisi agung. Yang ratusan tahun memberikan makna jati diri masyarakat di daerah-daerah tersebut.

Dari sejarah ideologi yang atheis, animisme, dan religius--khususnya agama Islam. Yang kita tahu orang Islam tidak menggandrungi nilai-nilai mitos, kulturistik atau dualistik perhambaan kepada Sang Pencipta semesta ini. Namun, agama masyarakatnya yang homogen disertai kepercayaan terhadap alam gaib yang melingkari kehidupan masyarakat. Akan tetapi, kepercayaan itu sebatas cerita lisan sebagai salah satu etika berkehidupan masyarakat.

Mereka tidak membuat bangunan khusus untuk makam-makam yang dianggap keramat, tidak melakukan sesajian di tempat-tempat keramat. Hanya cukup dikenang dan diingat serta sewaktu-waktu diceritakan kembali secara lisan. Cerita lisan itu pun sebagian besar diarahkan kepada edukasi (pendidikan dan pembinaan) kepada anak cucu atau generasi penerus.

Sopan santun, etika pergaulan masyarakat di Sumbagsel pada umumnya sama. Kuncinya saling menghormati dan menjaga komunitas suku-marga dari hal-hal yang sumbang kecil maupun sumbang besar seperti etika berpacaran, etika melaksanakan hajatan keluarga (perkawinan, khitanan, syukuran), puji puja kepada Tuhan atas keberhasilan, kesuksesan, dan musibah yang menimpa.

Masyarakat di Sumbagsel kini sedang dalam tradisi yang tiada berpedoman. Tidak pernah dikenal dalam kehidupan masyarakat, di mana saja masyarakatnya di daerah-daerah Sumbagsel yang mempunyai tradisi sebagai komunitas masyarakat yang gemar merampok, mencuri, mengganggu orang luar yang masuk daerahnya dan sebagainya perbuatan yang tergolong kriminal.

Sekarang, perbuatan-perbuatan itu sudah dianggap biasa dan para orang tua hanyalah "orang tua" yang tidak berdaya, apalagi memiliki kekuasaan dan kekuatan atas anak dan cucu mereka yang sudah bertindak di luar dari tradisi dan budaya serta garis pedoman kemasyarakatan mereka.

Mungkin ada perbedaan, walau tipis, antara "punah" dan "lenyap". Namun, pada kenyataannya antara punah dan lenyap mempunyai garis-garis yang lain.

Tentang tradisi dan budaya tradisionil masyarakat di Sumbagsel menurut hemat penulis adalah lenyap. Artinya, sudah tidak ada tempat lagi bagi tata krama, sopan satun, etika, dan akhlak mulia yang dipatuti dan dianut masyarakat selama ini. Boleh kita ambil sampel, misalnya perkara (masalah) hamil sebelum nikah, kawin cerai yang begitu mudah, serta kasus-kasus pemerkosaan yang dianggap hal biasa.

Jika sampai tahun 70-an, di tengah masyarakat Sumbagsel sangat tidak mengenal perbuatan zina, kemudian hamil dan dinikahi atau lebih buruk lagi hamil dan melahirkan anak tanpa sang bapak. Tradisi yang mengental lainnya, jika suami atau istri bercerai karena salah satunya meninggal dunia. Sangat jarang ditemui suami/istri yang menjanda/duda untuk merajut perkawinan baru. Kalaupun ada, itu sangatlah jarang dan sulit ditemui.

Kehidupan masyarakatnya sangat guyub (bersatu lahir dan batin), merasa satu dengan yang lainnya dalam satu keluarga besar. Bagi anggota masyarakat yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan sumbang besar, bisa juga akibatnya sumbang kecil. Biasanya masyarakat sebagai komunitas besar mengasingkan anggota masyarakat yang berbuat demikian.

Begitu pula tentang seseorang yang masuk penjara. Orang menyebutkan sebagai "orang buangan" alias anggota masyarakat yang pernah terbuang dari struktur kemasyarakatan mereka sendiri.

Standardisasi sopan santun atau adab kesopanan, etika, akhlak, dan etika pergaulan lebih banyak diletakkan pada nilai estetika religius dan tradisi yang turun-temurun. Kini, persoalannya sudah tidak ditemukan lagi. Kebiasaan buruk kini dianggap sebagai kebiasaan yang biasa saja, lumrah, dan wajar, tanpa sanksi sosial atau adat sebagaimana mestinya.

Ada beberapa faktor yang diindikasikan sebagai penyebab lenyapnya nilai tradisi dan budaya tradisional masyarakat tersebut. Di antaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa diimbangi keberadaan serta hakikat pendidikan rakyat. Pengaruh media televisi luar biasa kepada perubahan nilai kehidupan masyarakat di desa.

Tayangan-tayangan acara televisi yang umumnya menggunakan bahasa gaul dan busana pornografi hingga seksisme membuat anak-anak di desa menginginkan perilaku seperti itu. Misalnya diterjemahkan dalam komunikasi bahasa sehari-hari; anak-anak sudah biasa memanggil orang tuanya, paman, uwak atau orang yang lebih tua dan patut dihormati dengan sebutan "kamu" atau memanggil namanya. Padahal, itu sangat sensitif dan pasti menyinggung perasaan orang tua.

Tapi, itulah kejadian dan kenyataan yang dihadapi kini. Sebagaimana anak-anak gadis dengan mengenakan celana separo paha, kaus seperempat badan dengan mempertontonkan payudara, pinggang atau paha di dekat orang tua.

Perpaduan busana adat dalam perayaan-perayaan seperti resepsi pernikahan atau acara perangkat desa tidak lagi menjadi pusat perhatian, paduannya boleh apa saja. Itu menggambarkan bagaimana compang-campingnya persoalan tradisi dan budaya tradisional masyarakat dewasa ini. Bisa jadi, hal itu dilakukan karena pedoman atau ketentuan lisan itu sudah tidak dipahami lagi dalam konteks interaksi sosial masyarakat luas.

Anak-anak sekarang tidak lagi mengenal apa itu ziarah ke makam sebelum Hari Raya Idulfitri, tidak lagi mengenal penggunaan kain sarung, tidak lagi mengenal tata cara bercocok tanam, berkebun atau berladang. Mereka diombang-ambingkan pengaruh kehidupan kota, seperti yang mereka saksikan sepanjang hari di televisi atau di media massa jenis majalah-majalah.

Kehidupan praktis dan gratis tampaknya menjadi obsesi generasi muda di desa-desa. Demikian pula ketika mereka membangun rumah. Tidak ada desain rumah yang dibangun menonjolkan beberapa nilai seni ukir, yang selama ini menjadi andalan masyarakat ketika mereka membangun rumah. Mulai jendela, beranda (teras) rumah, dan tangga serta pintu-pintu di dalam rumah, biasanya penuh dengan ukiran yang mengandung nilai seni cukup tinggi.

Tulisan ini mungkin hanyalah sepercik persoalan tentang tradisi dan budaya tradisional yang saat ini tidak lagi menjadi etika masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara itu, teknologi yang mereka anggap sudah dikuasai hanyalah bayangan dan perasaan yang ingin mengatakan mereka juga bisa seperti orang kota.

* Naim Emel Prahana, Penyair, tinggal di Metro

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Agustus 2008

August 30, 2008

Konservasi Harimau: Warga Way Pengekahan Bersikukuh Menolak Direlokasi

Bandar Lampung, Kompas - Warga Way Pengekahan, Desa Way Haru, Kecamatan Belimbing Bengkunat, Lampung Barat, menegaskan, tidak akan meninggalkan lokasi tanah adat mereka demi alasan apa pun, termasuk konservasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Mereka justru mempertanyakan niat Pemkab Lampung Barat memindahkan mereka.

Khusairi gelar Raja Muda Marga Belimbing atau Raja Pengekahan, Jumat (29/8), pada acara jumpa pers dengan sejumlah wartawan di Bandar Lampung dengan didampingi aktivis lingkungan Watala dan Kawan Tani menyatakan sikap tegas tersebut. ”Kami tidak ingin pergi atau meninggalkan tanah adat kami karena kami akan kehilangan hak-hak atas adat kami,” ujar Khusairi.

Dalam kesempatan tersebut Khusairi menjelaskan, alasan yang dikemukakan Pemkab Lampung Barat untuk memindahkan 164 keluarga di Way Pengekahan ke lokasi yang lebih baik adalah untuk mengentaskan warga dusun dari ketertinggalan. Akan tetapi, warga menegaskan, apabila alasan pemindahan adalah untuk peningkatan kesejahteraan, seharusnya Pemkab Lampung Barat lebih banyak membangun sarana dan infrastruktur wilayah di Way Pengekahan, tanpa harus memindahkan mereka.

Namun, warga justru semakin mempertanyakan pemindahan. Itu karena niat tersebut muncul setelah PT Adhi Niaga Kreasinusa, sebuah perusahaan yang mendapat konsesi lahan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di wilayah Belimbing seluas 100 hektar yang terletak dekat dengan kantong enclave atau lokasi permukiman Way Pengekahan seluas 1.200 hektar, memindahkan lima ekor harimau sumatera dari Nanggroe Aceh Darussalam ke TNBBS, Lampung Barat, Jumat (27/6). ”Niat itu belum muncul jauh-jauh hari,” ujar Khusairi.

Perusahaan sendiri sudah melepasliarkan dua dari lima ekor harimau itu ke hutan konsesi yang disebut sebagai Tambling Wildlife Nature Conservation dan berbatasan langsung dengan enclave pada Selasa (22/7). Pelepasliaran sudah menimbulkan akibat berupa serangan terhadap 12 ekor kambing dan 10 ekor ayam.

”Kalau pemindahan kami karena serangan harimau, kami tidak takut. Marga Belimbing sudah hidup di kawasan enclave sejak 1934 dan dikelilingi satwa-satwa liar,” ujar Khusairi.

Kompensasi

Khusairi lantas menyebutkan, sebagai bentuk kompensasi supaya warga mau pindah ke lokasi yang belum diketahui warga, pada ”sosialisasi” Pemkab Lampung Barat kepada warga Way Pengekahan pada Mei 2008 melalui Camat Bengkunat Belimbing M Nizom, warga akan mendapatkan sejumlah hak. Hak itu di antaranya pekarangan seluas 20 x 20 meter, rumah berukuran 4 x 6 meter (termasuk dapur), dana Rp 5 juta per keluarga, lahan perkebunan seluas 1,5 hektar, dan biaya hidup selama enam bulan.

Namun, tanpa alasan jelas pada Juli 2008 bentuk kompensasi itu berubah. Warga hanya mendapatkan Rp 7,5 juta per keluarga dan lahan perkebunan seluas 1,5 hektar, termasuk lahan pekarangan tanpa ada bangunan rumah.

Secara terpisah, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri, Selasa, mengatakan, pemkab memang berniat memindahkan warga Way Pengekahan.ke Desa Sumberejo, Bengkunat Belimbing. (hln/sem)

Sumber: Kompas, Sabtu, 30 Agustus 2008

August 28, 2008

Sosok: Bang Bam, Sebuah Buku yang Tak Pernah Habis Dibaca*

-- Machsus Thamrin**

LELAKI separuh baya itu menunggu kami di ujung gang. Dengan susah payah dan langkah diseret, menyambut kami dengan tangisan dan pelukan erat, lalu membawa kami ke sebuah rumah petak di sebuah gang sempit di ujung Jakarta.

Tanpa diminta diapun berkisah tentang sebuah peristiwa yang menghempaskannya dari sebuah puncak kejayaan. "Hari itu aku jalan membawa taft milik kantor. Ada tiga orang yang naik mobil itu, tiba-tiba semuanya gelap, ketika sebuah pukulan menghantamku dari belakang."

Seorang teman bercerita, saat kejadian lelaki itu membawa uang lebih dari Rp 100 juta, yang semula akan dipakai sebagai uang muka pembebasan tanah. Uang itu tak pernah diketahui dimana rimbanya.

Banyak orang yang menyangka itulah masa akhir lelaki itu. Namun Allah berkehendak lain, setelah dua puluh tujuh hari koma dan kritis, muzijat itu datang. Perlahan kesehatannya pulih, meski kedua tangannya sudah tak normal, dan jalan pun harus diseret.

Kecelakaan atau mungkin kejahatan itu itu telah merengut segalanya, karier yang cemerlang, dan semua yang pernah dimilikinya. Namun penjahat itu tak mampu menghilangkan kejernihan pikirannya. Dengan jernih dia bercerita tentang berbagai hal.

***

Bersama Syamsi Daruf, mantan wartawan foto Lampung Post, pertemuan yang lama saya inginkan itu terjadi, lewat SMS berisi nomor telepon, yang dikirim Jiun, atas permintaan Ujang dari Palembang.

"Jangan datang ke rumahku, rumahku jelek!,"katanya. "Aku tak peduli seperti apa rumahmu.Aku datang untuk bertemu, bukan untuk melihat rumahmu," kata Bang Syamsi, gantian menghardik.

Lelaki itu adalah Bachtiar Amran Daeng Malewa, wartawan Kompas asal Makasar yang ditempatkan di Lampung. Bagi anak-anak Teknokra, Bang Bam, begitu kami memanggilnya seperti inisialnya saat menulis berita di Kompas. Bagi anak-anak Teknokra, dia adalah guru, sekaligus teman.

Tanpa mau menerima imbalan, Bang Bam selalu hadir memberikan materi pelatihan, setiap penerimaan reporter baru Teknokra, Surat Kabar Kampus Universitas Lampung. Anak-anak Teknokra generasi akhir 80 hingga 90-an, memperoleh pengetahuan dasar dan motivasi untuk hidup sebagai wartawan darinya.

Kala itu, biasanya Bang Ansyori Djausal, memberikan materi fotografi, Bang Kolam Pandia dari Lampost tentang reportase. Bang Bam diminta memberikan materi tentang menulis laporan, tapi dia tak pernah mau mengajar menulis, yang dia ceritakan adalah bagaimana seorang wartawan itu bekerja. Dengan segala pengalamannya dan cerita lucu di lapangan.

Pergaulan erat itu demikian mendalam. Rumahnya di Jalan Gajah Kedaton, menjadi tempat berkumpul anak-anak Teknokra. Istrinya selalu diinstruksikan memasak nasi lebih banyak, karena setiap hari, ada saja anak Teknokra yang kehabisan uang dan ikut makan di rumahnya. Ketika kiriman itu belum datang, dengan berpura-pura ikut membaca koran, saya pun datang ke Jl Gajah, yang terletak tak jauh dari rumah kos. Biasanya tak lama kemudian, dia menyuruh saya makan, dengan Sayur Bayam dan Ayam Goreng yang terasa sangat mewah.

Saat saya tengah menulis skripsi, Bang Bam meminta saya menulis riwayat hidup, dan mengirimkannya kepada Mas Hendriwijono yang saat itu tengah memimpin Sriwijaya Post di Palembang. Lewat rekomendasi itu pun, jalan panjang sebagai wartawan dimulai.

Dengan Vespa milik Kompas, berdua kami kerap menelusuri pedesaan Lampung. Namun setelah masa magang itu selesai, saya sering dilepaskannya sendiri mencari berita.

Sore-sore dia tinggal tanya, "Dapat apa hari ini?" Kalau menurutnya, bagus, dia akan kirimkan berita itu juga ke Jakarta melalui modem (saat itu belum ada internet).

Dalam pertemuan pagi itu, kami berganti-ganti tertawa dan menangis. Tawanya terbahak-bahak, saat kuceritakan masa-masa bersama mencari berita dulu, bagaimana dia memarahi, karena menganggap berita yang kutulis tak layak, dan struktur beritanya kacau. "Sana kau pergi, belajar lagi!" katanya.

Keesokan harinya, berita yang kutulis untuk Sriwijaya Post itu dimuat di Kompas, tanpa perubahan apa pun termasuk titik dan komanya.

Dalam beberapa kesempatan dia juga dimarahi redaktur daerahnya, karena lupa mengganti lokasi peliputan, misalnya Bandarlampung, Sripost— dengan Bandarlampung, Kompas.

Pengalaman lain, saat suatu ketika terjadi kecelakaan tabrakan kereta dengan bus di dekat Kotabumi. Segera kutulis berita dengan Judul, "32 Tewas Dalam Tabrakan KA Vs Bus", dan dimuat di halaman 1 Sriwijaya Post. Judul yang sama juga muncul di Kompas halaman 1.

Tapi Lampung Post menulis lain, jumlah korban tewasnya "hanya" 31. Seperti biasa dia blingsatan, dan sempat memarahi saya karena dianggap tidak akurat. Dia pun sibuk menelpon ke sana kemari. Tak lama kemudian dia bicara, "He he kita tak jadi dimarahin redaktur. Untung dini hari tadi, ternyata yang luka itu meninggal, jadi kita ternyata tidak salah."

***

Atas kebaikan teman-temannya di Kompas, Bang Bam pernah dikaryakan kembali sebagai staf sekretariat di Pers Daerah Kompas Gramedia. Namun kesehatannya tak lagi bisa mengimbangi semangatnya. Beberapa kali dia terjatuh dari bus yang membawanya dari kontrakannya ke Kantor Gramedia di kawasan Palmerah, karena sopir bus kurangajar itu langsung menjalankan kendaraannya sebelum kakinya menyentuh aspal.

Karena kerapnya jatuh, dan bonyok-bonyok, Bang Bam pun mengundurkan diri. Pak Jacob Oetama memberi bantuan uang, untuk menambah pembelian rumah seharga Rp 40 juta yang sekarang ditempatinya.

Sementara untuk membiayai hidupnya, Bang Bam bertahan dengan uang pensiunannya dari Kompas sebesar Rp 950 ribu per bulan. "Jumlah ini sudah naik, sebelumnya Rp 850 ribu," katanya.

***

Delapan tahun lalu, sesaat setelah mulai pulih akibat kecelakaan itu, kami pernah bertemu di Kelapa Gading Jakarta. Saat itu dia mengundangku datang ke Lampung, "Kalau kamu bisa dan ada waktu datanglah minggu depan. Aku dan ayumu ini akan menikah," katanya menunjuk seorang gadis yang mendampinginya.

"Abang masih bisa?" kataku tak percaya.

"Itulah Sus, biar udah begini, itulah satu-satunya yang kubisa, dan yang satu itulah yang membuat abangmu ini masih semangat untuk hidup,"

Pernikahan ini membuahkan dua anak, satu duduk di kelas dua SD, dan satu lagi baru duduk di bangku TK. "Pak Jacob sampai tertawa-tawa, katanya, di tengah sakit, dan jalan saja susah, kamu masih bisa buat anak," katanya sambil terkekeh-kekeh.

Sementara tiga anaknya yang lain, yang dulu sempat saya asuh, dan ajak bermain kini sudah beranjak dewasa. Iqbal Daeng Myala, bekerja di Telkom, Daeng Masiga bekerja di sebuah kapal pesiar, sementara adiknya yang lain Dedi, kini sudah mahasiswa di Lampung.
.
Bagi kami, adik-adiknya di Teknokra, Bang Bam, memang adalah sebuah buku pelajaran hidup yang tak pernah habis untuk dibaca.

* Terambil dari milis Teknokra (27/8/2008) sebagai ingatan ulun Lampung bagi seseorang yang pernah menyumbangkan banyak hal bagi Lampung

** Machsus Thamrin, wartawan, alumnus aktivis pers mahasiswa Teknokra Unila

August 27, 2008

Teluk Semangka Memprihatinkan

KOTAAGUNG (Lampost): Pesisir Pantai Teluk Semangka di Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, kini memprihatinkan. Sampah perumahan, seperti plastik bekas, kardus, dan bangkai hewan, termasuk rongsokan kapal bekas, berserakan dan menyumbat sejumlah aliran sungai serta menciptakan endapan lumpur hitam.

Pemantauan Lampung Post, Selasa (26-8), bau busuk dari sampah dan tinja (kotoran manusia) yang bertumpuk di sepanjang perkampungan nelayan Dusun Kapuran, Kelurahan Pasarmadang, Kecamatan Kotaagung menusuk hidung.

Sampah organik dan anorganik serta bangkai hewan mulai bangkai ayam, itik, anjing, kucing, bahkan kambing, juga terlihat menumpuk dan berserakan di sepanjang Pelabuhan Kotaagung, Pantai Way Jelai (Kelurahan Baros) sampai Pantai Teritos (Pekon Talagening).

Bahkan, di sekitar eks Dermaga III Pertamina (Way Jelai Kelurahan Baros), selain tumpukan sampah, kondisi pantai juga terlihat rongsokan kapal bekas dan tiang-tiang besi dermaga yang tersembul atau terkubur pasir, dan sangat berbahaya bagi para pengunjung pantai, terlebih setiap hari Minggu dan hari libur termasuk menjelang Ramadan banyak dikunjungi warga untuk mandi.

Hal itu diperparah dengan aktivitas penambangan pasir dan batu liar warga sekitar untuk kebutuhan pembangunan.

"Wilayah pesisir pantai Kotaagung ini sudah sangat kotor dan bau. Penduduk sekitar sepertinya telah menjadikan laut seperti tempat sampah. Memang ada usaha pembersihan dengan bergotong royong, tetapi sifatnya insidental saja, itu pun jarang dilakukan, dan risikonya pantai bakal kotor lagi," kata Heryanto, warga Kelurahan Baros, Kecamatan Kotaagung.

Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasar Madang, Kecamatan Kotaagung. Di daerah ini, sampah perkotaan yang berasal dari Pasar Kotaagung yang terbawa hanyut siring dan sungai juga terdampar dan mengotori pantai yang berada bersebelahan dengan Pelabuhan Laut Kotaagung.

Bahkan, tumpahan ikan busuk dari nelayan setempat atau sampah organik juga menyebabkan pantai di daerah itu kotor.

Warga berharap Pemkab Tanggamus segera beraksi membersihkan pesisir Pantai Teluk Semangka karena selai sebagai daerah wisata, pantai juga menjadi tumpuan bagi kebanyakan warga Kotaagung yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan.

Tentu saja upaya dilakukan bersama dengan berbagai pihak, termsuk melibatkan warga. Untuk membuat pantai bersih sangat sulit, tetapi itu tidak mustahil asalkan Pemkab menjadi pelopor dan tegas terhadap warga yang membuang sampah sembarangan, ujar Rina, warga Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kotaagung.

Rahmat, aktivis lingkungan hidup di Tanggamus, mengakui kondisi itu tidak lepas dari budaya dan kebiasaan warga yang kurang peduli dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Perlu pemaksaan meskipun bukan berarti represif karena kebiasaan itu umumnya harus ditanamkan dengan dipaksakan. Selama ini kegiatan yang dilakukan Jumat bersih, tetapi itu juga sudah tidak dilaksanakan lagi. Dengan kerja bakti, kondisi itu diharapkan dapat diminimalkan, kata dia.

Menurut Rahmat, upaya membuat pesisir Teluk Semangka bersih harus dilakukan. Apalagi Kabupaten Tanggamus termasuk salah satu tujuan wisata utama di Provinsi Lampung terutama dalam menyambut Visit Indonesia 2009.

Rahmat mengatakan pantai-pantai di Kabupaten Tanggamus sangat potensial sebagai tujuan wisata, tapi belum dikelola secara profesional termasuk masalah penanganan sampah.

Namun, bisa saja arus laut dan angin membawa sampah tersebut pindah ke pantai-pantai wisata. Kawasan permukiman dan hunian warga yang tinggal di sepanjang pantai menjadi penyebab utama kotornya kawasan pantai Teluk Semangka.

Namun, menjaganya agar selalu bersih bukan hanya dilakukan guna menarik wisatawan, melainkan juga meningkatkan kualitas hidup warga yang tinggal di sana.n UTI/D-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 27 Agustus 2008

Populasi Harimau Makin Turun

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Populasi harimau di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) hanya 1,7 ekor per 100 km persegi. Harimau makin langka disebabkan karena spesies ini banyak diburu untuk dijadikan obat dan kulitnya dijadikan bahan busana.

Sedangkan habitat harimau di dunia hanya tinggal 7 persen dan tersebar di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Harimau sumatera yang ada di Indonesia merupakan warisan alam dan harus dijaga kelestariannya. Indonesia dikenal sebagai negara yang keanekaragaman hayatinya terbesar di dunia. Namun, masih belum mampu untuk melestarikan spesies tertentu.

Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kurnia Rauf dalam Stadium General Konservasi Kolaboratif untuk Jejak Si Belang di Indonesia, di Pondok Rimbawan, Senin (25-8).

Kurnia mengatakan daya dukung konservasi di Sumatera makin berkurang seiring dengan makin berkurangnya hutan. Sebanyak 2.600 ha hutan di Sumatera terdegradasi setiap tahunnya.

Menurut Kurnia, TNBBS merupakan salah satu tempat konservasi bagi harimau sumatera. TNBBS masuk dalam tiger conservation unit level I dan tiger conservation landscape level IV. Hal tersebut yang menyebabkan TNBBS dipilih sebagai tempat translokasi lima harimau sumatera dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Alasan dipilihnya TNBBS juga karena kawasan itu masih cukup luas mencapai 360 ribu ha, dan masih memiliki jenis satwa yang menjadi pakan harimau.

Akademisi Fakultas Pertanian Unila, Agus Setiawan, mempertanyakan apakah telah dilakukan studi sebelum dilepaskannya harimau di TNBBS. Studi yang dilakukan tidak hanya pakan harimau saja, tetapi pesaing dan spesies harimau asli juga harus dipelajari. "Apakah harimau asli di TNBBS menerima adanya harimau baru. Hal tersebut memengaruhi interaksi harimau baru dengan harimau asli," ujar Agus.

Agus menilai konservasi di Indonesia belum mampu membuat spesies tertentu dapat berkembang biak dengan baik atau menghasilkan keturunan. Padahal biaya yang telah dikeluarkan sangat besar. Agus mencontohkan, mendatangkan badan dari Amerika ke Way Kambas untuk menunjang konservasi tenyata belum menghasilkan.

"Sampai kini badak belum mampu melahirkan keturunan," kata Agus. n */K-2 (Padli Ramdan)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 27 Agustus 2008

August 26, 2008

Lambar Gelar Gebyar Pesona Lumbok Ranau

LIWA (Lampost): Sukses dengan Festival Teluk Stabas XI, Pemkab Lampung Barat kembali menggelar acara serupa dengan nama Gebyar Pesona Lumbok Ranau pada Oktober 2008.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Barat Gatot Hudi Utomo mengatakan perhelatan Gebyar Pesona Lumbok Ranau juga dimaksudkan untuk mempromosikan objek pariwisata di kabupaten setempat.

Selain mendukung tahun kunjungan wisatawan, juga menyongsong Visit Lampung Year 2009 mendatang. "Lampung Barat akan terus mempromosikan potensi wisata yang ada untuk menarik minat wisatawan mancanegara", ujarnya, Senin (25-8).

Gatot mengatakan Gebyar Pesona Lombok Ranau akan dipusatkan di Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, dengan lokasi Danau Ranau. Untuk Semarak Wisata Tanjung Setia dipusatkan di Pekon Tanjung Setia, Pesisir Selatan.

Paduan dua potensi pariwisata, yakni pantai laut dan danau, ini akan dikemas dalam berbagai lomba seperti Gebyar Pesona Lumbok Ranau, event yang dilombakan triatlon tradisional, motor hias, tarik tambang jukung, dan ngera'as (memanah).

Sedangkan Semarak wisata Tanjung Setia meliputi ekshibisi surfing, kebut jukung, dan memanah. Untuk waktunya antara minggu ketiga dan kempat bulan Oktober.

Kegiatan di Pekon Lombok, tambahnya, dilaksanakan untuk mendukung kawasan wisata terpadu Seminung Lumbok Resort, yang merupakan salah satu program unggulan Lampung Barat.

Sedangkan di Tanjung Setia karena selama ini daerah tersebut merupakan pantai tujuan wisatawan mancanegara dan ombaknya salah satu yang terbaik di belahan dunia. Gatot berharap dukungan dari semua pihak untuk suksesnya kegiatan tersebut, dan bisa memberikan multiplier effect kepada masyarakat sekitarnya.n HEN/D-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 26 Agustus 2008

Teater: Suara-Suara dari Balik Jendela

BANDAR LAMPUNG--Modernisasi terkadang menjebak generasi muda pada kebingungan mencari jati diri. Nilai-nilai tradisi yang seharusnya bisa menjadi pegangan pun seolah lenyap dimakan waktu.

Kegoyahan itu yang menjadi titik sentral kisah pertunjukan teater besutan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila, di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (23-8) malam.

Teater berjudul Suara-Suara dari Balik Jendela ini melibatkan delapan pemain, yaitu Noversi M., Erdalia, Ratih P., Fitriyani, Tiara, Anggun F., Romadhon Edi Saputra, dan Didi Arsandi. Delapan aktor tersebut bermain dengan baik di bawah arahan sutradara Iskandar G.B.

Pertunjukan pada malam itu merupakan paduan antara dialog antarpemain dan ujaran dari beberapa pemain secara induvidu. Kata-kata yang digulirkan sarat dengan makna tersirat, sehingga penikmat teater ini mencoba menafsirkan makna jauh dari pertunjukan ini.

Juga banyak simbol-simbol yang digunakan untuk mendeskripsikan suasana. Warna-warna modernisasi, diperkuat dengan menghadirkan musik ala barat, kareografi tari, dan olah gerak kegelisahan dari para pemain.

Kegelisahan para pemain terlihat dengan kegamangannya untuk berpijak pada suatu waktu. Langkah bergerak maju, tetapi hati seperti masih merindukan kenangan masa lalu. Namun, ada juga pemain yang menegaskan dirinya ingin lari dari masa lalu.

"Itulah gambaran generasi masa kini, banyak yang masih berusaha mencari jati dirinya di antara segelintir orang yang sudah yakin tentang langkahnya untuk melepas masa lalu," ujar Iskandar, sang sutradara.

Modernisasi juga menyisakan catatan tentang kehidupan perempuan, yang pada beberapa hal masih terpasung tradisi paternalistik. "Wanita semakin menuntut kesetaraan, tetapi di sisi lain ia masih terikat secara kodrati pada kehidupannya di ranah domestik," tandas Iskandar kembali.

Iskandar menjelaskan alasan mengusung tema teater demikian, karena itulah yang terjadi di lingkungan sekitar saat ini. Naskah yang ditulis oleh Agit Yogi Subandi, Fitriyani, dan Didi Arsandi ini akan diikutsertakan pada Festival Teater Mahasiswa se-Indonesia ke-IV yang diadakan Teater Sahid Jakarta. n DWI/K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 26 Agustus 2008

August 25, 2008

Sosok: Jumadi, Petani yang Pandai Memanfaatkan Celah

-- Hermas E Prabowo

PETANI tidak selalu berkonotasi dengan kemiskinan. Petani ”boleh” dan bisa kaya. Syaratnya, mau bekerja keras, pandai memanfaatkan setiap peluang usaha, dan berani berspekulasi. Spekulasi dalam usaha tani bukan berarti tanpa perhitungan, tetapi justru dengan perhitungan yang matang.

Sukses menjadi petani karena jeli memanfaatkan peluang usaha telah dibuktikan oleh Jumadi, pria berusia 40 tahun, warga Desa Margosari, Kecamatan Metrokibang, Kabupaten Lampung Timur.

Jumadi mengawali usaha taninya dengan lahan 0,75 hektar pada 1991. Dalam waktu kurang dari 17 tahun, ayah satu anak ini telah memiliki 28,5 hektar lahan kering yang tersebar di dua kabupaten, Lampung Timur dan Lampung Selatan.

Menghitung penghasilannya, dengan luas lahan pertanian 28,5 hektar, pendapatan Jumadi tentulah tidak kecil. Apalagi di tengah meroketnya harga jagung yang merupakan komoditas andalan Jumadi belakangan ini.

Ini belum termasuk pendapatan yang diperolehnya dari kontrak kerja sebagai ”buruh”—begitu dia menyebut dirinya—di Perkebunan Nusantara di daerahnya. Untuk pembersihan lahan perkebunan (land clearing) saja, sekarang ini kontrak kerjanya meliputi areal seluas sekitar 130 hektar.

Pendapatan Jumadi semakin besar bila dihitung dari penghasilan usaha jasa penyewaan enam traktor besar, satu truk, dan hasil dua hektar tanaman sawit miliknya di Pekanbaru.

Bukan hanya uang yang didapat Jumadi dari hasil kerja kerasnya. Di lingkungannya, dia telah tampil menjadi sosok ”panutan” para petani dalam urusan mengadopsi teknologi pertanian. Berbagai uji coba penanaman benih jagung varietas baru, pola pertanaman, pemupukan, hingga proses pascapanen kerap dilakukan di lahan Jumadi.

”Saya tidak alergi dengan teknologi pertanian baru. Setiap kali ada benih varietas baru, saya rela mengorbankan dua hektar untuk lahan uji coba. Kalau hasilnya bagus, semua lahan saya pertaruhkan,” katanya.

Tanam cabai

Keberhasilan Jumadi meniti ”karier” sebagai petani tentu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Melalui fase berkali-kali ”jatuh-bangun”, Jumadi baru bisa mengenyam hasil kerja kerasnya selama ini. Kesulitan yang dihadapi Jumadi sebenarnya khas kesulitan nyaris setiap petani kecil. Misalnya, dia sulit mengakses permodalan, gagal panen, tanamannya terserang hama, dan jatuhnya harga komoditas pertanian di pasar.

Pernah suatu ketika Jumadi ditolak bank saat berniat meminjam dana Rp 500.000 untuk modal penanaman. Terpaksa dia meminjam uang yang sangat dibutuhkannya itu kepada seorang lintah darat dengan bunga 10 persen per bulan.

Juga pernah berhektar-hektar tanaman jagung di arealnya terserang ulat penggerek batang dan tongkol. Akibatnya, Jumadi hanya mendapat hasil sekitar 20 persen. Pernah pula ketika panen bagus, tetapi pada waktu bersamaan harga komoditas pertanian mendadak ”jatuh”. Tidak ada pilihan bagi Jumadi, selain harus menerima kerugian. Namun, dengan berjalannya waktu, semua rintangan itu mampu dilalui Jumadi dengan kepercayaan diri dan sikap tidak mudah patah arang.

Jumadi bercerita, awal dia menekuni usaha tani pada 1991, hanya dengan modal tanah garapan milik orangtua seluas sekitar 0,75 hektar. Ketika itu dia sempat merasa mendapat jatah lahan garapan terlalu sempit. Anak pertama dari delapan bersaudara ini lalu memutuskan menanam cabai. Alasannya sederhana, karena tanaman cabai bisa mendatangkan untung berlipat ganda.

”Menjadi petani cabai itu kalau lagi bagus nyugihi (membuat petani kaya). Tetapi kalau apes mudhani (menelanjangi alias mendadak miskin). Karena modal bertani cabai itu per hektar bisa mencapai sekitar Rp 25 juta,” kata Jumadi mengenang.

Oleh karena tak mau merugi pada awal menggeluti usaha tani, Jumadi serius mempelajari teknik budidaya cabai, sekaligus menghitung waktu penanaman yang tepat. Ini penting agar saat panen harga cabainya tak jatuh. Ketekunan Jumadi membuahkan hasil. Produktivitas cabai yang dia tanam tinggi. Harga pasar cabai Rp 2.800 per kilogram, harga yang fantastis kala itu.

Berkat keberhasilan panen cabainya, dalam tempo dua tahun Jumadi mampu membeli lahan kering baru 1,5 hektar. Akumulasi tanah yang baru dia beli dan tanah garapan orangtua membuat penghasilannya berlipat.

Komoditas yang dia tanam pun semakin bervariasi, tak hanya cabai, tetapi juga semangka dan jagung. Pikirnya, semakin variatif jenis tanaman makin baik karena risiko bangkrut makin kecil.

Meskipun pertambahan luas lahan Jumadi cukup cepat dibandingkan petani lain di daerahnya, dia belum puas. Jumadi lalu menyewa lahan, sekaligus membeli lahan kalau ada yang menjual. Hitung-hitungan Jumadi kala itu menunjukkan, dengan tanah sewa sekalipun, usaha pertanian cabai masih menguntungkan. Meningkatnya luas areal tanam membuat penghasilannya bertambah. Dalam waktu lima tahun, lahan kering milik Jumadi sudah mencapai 10 hektar.

Tahun 1998 dia melihat peluang usaha transportasi komoditas pertanian, dari tempat produksi ke pusat pasar, bisa menguntungkan. Jumadi pun membeli satu truk. Dua tahun kemudian dia menambah armada angkutan menjadi tiga unit. Jumadi juga melirik usaha penyewaan traktor. Selain untuk mengolah lahan sendiri, pendapatan dari penyewaan traktor juga bisa Rp 100.000 per hari.

Terbukti menguntungkan, jumlah traktor dia tambah. Pada 2003 Jumadi memiliki empat traktor, yang dia beli seharga sekitar Rp 200 juta per unit dalam kondisi bekas pakai.

Berdinding papan

Tahun 2003, meski telah memiliki lebih dari 15 hektar lahan kering, tiga truk, dan empat traktor, Jumadi belum tergiur membangun rumah besar. Rumahnya sempit dan berdinding papan. ”Prinsip saya, rumah bisa dibangun kapan saja, tetapi tidak setiap hari orang mau menjual lahan pertanian,” katanya.

Maka, walaupun dia mempunyai tiga truk, enam traktor, dua mobil Kijang, dan tujuh sepeda motor—sebagai alat transportasi ke kebun bagi para pekerja—Jumadi tak segan menjual barang untuk membeli tanah bila ada orang yang menjual. Tiap tahun setidaknya dia membeli 1-2 hektar lahan. Bahkan, pada 2006 dia membeli enam hektar lahan.

Seiring dengan pertambahan lahan, penghasilan Jumadi pun meningkat. Keuntungan dari usaha bertani jagung makin berlipat, apalagi sejak 2006 harga jagung naik sampai 300 persen. Hal yang menyenangkannya, usaha yang dilakukan itu juga mendatangkan berkah bagi para tetangga. Setidaknya, setiap musim tanam dan panen tiba puluhan orang bisa mendapat penghasilan dari bekerja di lahan Jumadi.

Sumber: Kompas, Senin, 25 Agustus 2008

Festival Krakatau XVIII, Upaya Raih Target 1,2 Juta Wisatawan

[LAMPUNG] Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung optimistis dapat mencapai target 1,2 juta wisatawan dalam program Visit Lampung 2009. Lewat semarak Festival Krakatau (FK) XVIII, berbagai potensi pariwisata Provinsi Lampung dipromosikan secara aktif.

Gunung Anak Rakata meletupan awan panas setiap 10 menit sekali foto dibuat dari perairan Kepulauan Krakatau, Lampung Selatan, Lampung, Minggu (24/8). Meletusnya Gunung Krakartau pada tahun 1883, dan munculnya Gunung berapi Anak Krakatau, menjadi sebuah keajaiban dan menjadi salah satu potensi pariwisata di Lampung. Meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 selalu diperingati masyarakat Lampung dengan mengadakan Festival Krakatau. SP/Ruht Semiono

Kepada wartawan di Krakatau, Minggu (24/8), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, M Natsir Ari mengatakan Pemprov optimistis target kunjungan 1,2 juta wisatawan domestik dan 24.000 wisatawan mancanegara dapat tercapai. Oleh karena itu, Pemprov akan menggelar beragam acara hiburan, kesenian, dan kebudayaan sehingga dapat memikat wisatawan.

"Festival ini memang jangka panjang, tidak hanya Krakatau saja, tapi setahun penuh ada banyak program dan kegiatan. Nanti juga akan ada festival layang-layang internasional. Kami ingin memecahkan rekor layang-layang terbanyak yang diterbangkan bersamaan," katanya.

Senin (25/8), pemda juga mengadakan program Krakatau Travel Exchange yang ditandai penandatanganan kontrak bisnis para pemangku kepentingan bidang pariwisata dan operator wisata dalam dan luar negeri. Program Krakatau Travel akan memberi banyak kenyamanan dan kemudahan bagi wisatawan saat mengunjungi Lampung.

Pada Sabtu (23/8) siang, Festival Krakatau (FK) dibuka secara resmi oleh Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu di PKOR Way Halim, Bandar Lampung. Acara dimeriahkan dengan tarian kolosal Gelegar Krakatau, tarian tambur Nusantara. Tamu undangan dari negara-negara sahabat juga disuguhi atraksi gajah.

Minggu (24/8), sejumlah duta besar, wartawan dan tur operator juga diajak menyaksikan langsung letupan gunung Krakatau dari dekat. Festival tahunan ini akan berlangsung sampai 31 Agustus 2008. Direncanakan, pada Sabtu (30/8), festival akan diramaikan dengan atraksi topeng dan prosesi nikah massal 60 pasang pengantin. Lalu, pada 29-31 Agustus, Krakatoa Nirwana Resort akan menggelar kejuaraan Off Road Krakatau Adventure.

Dalam sambutan pembukaan, Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu mengharapkan FK akan menjadi momentum yang tepat bagi pengembangan usaha jasa pariwisata, meningkatkan arus kunjungan wisata, dan peningkatan citra pariwisata Lampung. Gubernur juga berharap iklim investasi akan tumbuh sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.

"Kami akan terus menjual Lampung seperti ini, sehingga bisa menjaring wisatawan dalam dan luar negeri. Kami akan perbanyak ajang seni dan pameran, kami juga punya banyak pantai bagus. Kami akan menjual itu," katanya.

Agenda

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Energi, Titin Sukarya yang mewakili Menteri Pariwisata Jero Wacik mengatakan FK memang termasuk agenda besar Visit Indonesia Year 2008. Meskipun demikian, Lampung belum termasuk kategori destinasi utama kunjungan wisa- tawan yang masih terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Oleh karena itu, Pemprov Lampung harus terus mempromosikan pariwisata di daerah.

Selain FK, kata Titin, masih terdapat tiga acara lain di Lampung yang masuk agenda Visit Indonesia 2008, yakni Festival Begawi, Festival Teluk Stabas, dan Festival Way Kambas.

"Menurut data BPS, sampai semester kedua, jumlah wisman sudah mencapai 2,29 juta orang. Mudah-mudahan, target 7 juta wisatawan bisa tercapai karena musim liburan mendatang akan lebih ramai. Sekarang ini, kami sedang mendorong daerah-daerah untuk mempersiapkan destinasinya. Saya harap faktor kenyamanan, keamanan dan daya tarik bisa ditingkatkan," kata Titin.

Hal serupa juga dilontarkan Direktur Promosi Dalam Negeri Depbupar Fathul Bahri. Menurut dia, dengan komitmen Visit Lampung 2009, pemda harus dapat menjaring wisatawan lintas batas. Meskipun objek wisata masih terbatas dan belum masuk wisata unggulan, Lampung punya banyak potensi besar. Oleh sebab itu, pemda harus melakukan banyak pembenahan.

"Sarana untuk menuju objek wisata masih terbatas. Demikian juga untuk turis berspesial interest seperti Gunung Krakatau ini, aksesnya masih terbatas. Sarana kendaraan untuk ke sana belum regular," ujarnya. [U-5]

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 25 Agustus 2008