BANDAR LAMPUNG--Sastrawan Lampung, Iswadi Pratama, meluncurkan Gema Secuil Batu berisi 49 sajak yang ditulis dalam rentang waktu 1993--2006. Antologi setebal 95 halaman ini diterbitkan Yayasan Akar Indonesia. Kumpulan puisi ini merupakan antologi pertama yang diluncurkan Iswadi sejak menekuni dunia sastra awal 90-an.
Iswadi Pratama tercatat sebagai salah satu sastrawan Lampung yang terus berkarya. Selain puisi, sastrawan kelahiran Bandar Lampung, 8 April 1971 ini juga membesarkan teater di Lampung bersama komunitas Teater Satu yang dipimpinnya.
Di teater, Iswadi aktif sebagai aktor, penulis naskah, dan sutradara. Beberapa naskah teaternya antara lain Ruang Sekarat, Aljabar, Rampok, Ikhau, Nak, Menunggu Saat Makan, Dongeng Tentang Air, Nostalgia Sebuah Kota, dan Aruk Gugat.
Sajak-sajak Iswadi banyak berbicara tentang jagat manusia dengan semesta keberadaannya. Iswadi begitu dalam dan halus bicara masalah "rasa" yang menggerakkan manusia. Ia juga bisa menggugat keberadaan manusia, yang tarik-menarik dalam dua kutub kehidupan: Tradisi vs modernitas, seperti Sisiphus yang mendorong batu ke gunung. n MAT/P-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
November 16, 2008
Kronika: Isbedy Tampil di Cirebon
CIREBON--Satrawan Isbedy Stiawan Z.S. membacakan sajak yang terangkum dalam antologi Surat Kematian sebelum diskusi di Dewan Kesenian Cirebon (DKC), Jumat (7-11) malam lalu.
Sastrawan Lampung ini membacakan puisi Surat Kematian, Aku Sajadah, Malin, dari Cerita lain, Kita Jalan Bersama?. Antologi itu segera diterbitkan Hikayat Publishing Yogyakarta bulan depan.
Selain Isbedy, dua seniman Cirebon--Edeng dan Roni--membacakan puisi Kota Cahaya (dari buku Kota Cahaya, Gramedia, 2005), Makam Sunan Gunung Jati, Kanoman-Kasepuhan (Setiap Baris Hujan, Bukupop, Juni 2008).
Pada sesi diskusi, Isbedy berbagi pengalaman kepada 30-an peserta. Menurut dia, sastrawan itu harus bermodal keseriusan. "Tanpa serius apalagi pikiran bercabang, jangan bermimpi menjadi sastrawan," kata Isbedy pada diskusi yang dipandu sastrawan Cirebon, Ken, itu. n MAT/P-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Sastrawan Lampung ini membacakan puisi Surat Kematian, Aku Sajadah, Malin, dari Cerita lain, Kita Jalan Bersama?. Antologi itu segera diterbitkan Hikayat Publishing Yogyakarta bulan depan.
Selain Isbedy, dua seniman Cirebon--Edeng dan Roni--membacakan puisi Kota Cahaya (dari buku Kota Cahaya, Gramedia, 2005), Makam Sunan Gunung Jati, Kanoman-Kasepuhan (Setiap Baris Hujan, Bukupop, Juni 2008).
Pada sesi diskusi, Isbedy berbagi pengalaman kepada 30-an peserta. Menurut dia, sastrawan itu harus bermodal keseriusan. "Tanpa serius apalagi pikiran bercabang, jangan bermimpi menjadi sastrawan," kata Isbedy pada diskusi yang dipandu sastrawan Cirebon, Ken, itu. n MAT/P-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Apresiasi: Tubuh Urban Teater Syahid
Oleh Iskandar G.B.*
LABORATORIUM Teater Syahid melakukan pementasan eksperimental bertajuk Kubangan karya Bambang Prihadi di aula Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro, pada 5 November lalu. Akankah Metro menjadi kiblat teater di Lampung selain Bandar Lampung?
Tubuh adalah ihwal yang mengalami bentukan budaya dari berbagai nilai, yang pada gilirannya memperlihatkan bagaimana manusia mengalami kesulitan dalam membaca tubuhnya sendiri. Semua peradaban manusia berkaitan langsung dengan kelebihan, keterbatasan maupun pengagungan tubuh manusia, sejak dari militerisme, seni, filsafat hingga ke kosmetika (Aprizal Malna).
Road to Sumatera oleh teater yang bermarkas di Jakarta ini terselenggara berkat hibah seni Yayasan Seni dan Budaya Kelola untuk kategori pementasan keliling yang rutin memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok kesenian di Indonesia untuk mengembangan kreativitas. Pemilihan Kota Metro sebagai salah satu tujuan pementasan Kubangan merupakan pertama kali di Lampung. Pementasan Kubangan kemudian menjadi salah satu momen istimewa bagi kehidupan teater di Metro sekaligus menandai makin berkembangannya perteateran di kota ini; yang memiliki obsesi menjadi pusat perkembangan teater selain Bandar Lampung.
Perjalanan lakon ini sudah berlangsung sejak 2005. Awalnya, Kubangan dan Tubuh-tubuh yang Terkontaminasi menjadi tajuk pementasan mereka. Juga sudah melakukan sejumlah pementasan sebelum dibawa keliling Sumatera.
***
Kubangan adalah perwujudan ruang yang penuh beragam pencitraan: Masyarakat konsumtif, hedonis, pragmatis, masyarakat amnestik, dan traumatik. Masyarakat tong sampah tanpa identitas dan sikap. Cerita menunjukkan eksistensi yang tak lagi memiliki arti dan carut marut dunia ketika kemanusiaan menghilang. Kehidupan tak ubah seperti kerumunan kawanan binatang dalam sebuah kubangan.
Mungkin gagasan yang tepat ketika seseorang di antara mereka menggugah masuk dalam tanah, berkontemplasi, dan membuat kekuatan dari potensi yang dimiliki setiap individu. Tubuh-tubuh yang bergetar sepanjang pertunjukan seakan mencoba mencitrakan bagaimana manusia sebenarnya gemetar melihat tubuh sendiri karena tubuh bisa sakit, terluka, lumpuh, tua, cacat, dan mati. Tubuh manusia adalah medan perang dengan lalu lintas nilai yang bergerak di sekitarnya, mulai dari soal kegagahan, kecantikan, ikon ras, ideologi, dan agama hingga ke ikon kelas ekonomi yang menegaskan diri dari pakaian yang dikenakan.
Dalam proses pencapaian artistik (penciptaan karya) Kubangan, Teater Syahid memilih pendekatan eksperimental dalam spirit eksplorasi. Hal itu diyakini dapat membuka ruang tafsir yang lebih progresif terhadap bentuk-bentuk dramaturgi yang sudah ada. Sekaligus dapat membuka ruang kemungkinan penjelajahan teks-teks "baru", sesuai kebutuhan dalam proses tersebut.
Dari situ Teater Syahid melakukan penelusuran dan pengalihan kekuatan dalam tubuh setiap pemain, dalam konteks persoalan global-lokal. Muncul ide dasar bentuk dari representasi masyarakat kekinian (penuh pencitraan padahal rapuh); tubuh bergetar, tubuh cepat digital, tubuh model, tubuh boneka, tubuh binatang, tubuh laying-layang, dan suara-suara etnik tragis di kejauhan. Dari bentuk dasar itu pemain menghidupkan dalam style realis, surealis, atau nonrealis dalam satu ruang dan waktu.
Mulanya tubuh digadaikan dalam sebuah ruang yang menggambarkan zaman pencitraan yang sempurna, seolah tidak terjadi sesuatu yang menyakitkan. Padahal dominasi pikiran masyarakat modern yang menelurkan sistem beku telah menjadi penjara tersendiri bagi masyarakatnya.
Tubuh menjadi panik merespons derasnya perubahan. Tubuh tak punya pilihan kecuali melakukan penyesuaian atas percepatan zaman yang terjadi. Laku masyarakat pun menjadi tergesa-gesa dan mekanis.
Pada titik tertentu, tubuh mengalami trauma dan skizoprenia. Ingatan-ingatan pahit bermunculan dari ruang bawah sadar. Ketika tubuh makin tertekan, mereka berontak dari pikiran dan perasaan yang tidak mampu lagi menjalin kerja sama: Tubuh, jiwa, dan pikiran ingin bekerja dengan cara sendiri. Kemudian tubuh bergerak tak lagi terkontrol, bergentar terus menerus dalam ruang personalnya, menyiksa hingga terbawa ke dalam ruang publik yang meriah tapi hampa.
Menurut Dominic Straiti, pengamat budaya populer asal Inggris, sebagaimana sifat kapitalisme yang membawa masyarakat menjadi massa, masyarakat dilebur dari batas-batas tradisionaln menjadi satu masif konsumsi. Masifikasi dan penyeragaman konsumsi merupakan bagian kehendak kapital (dari nasional sampai global) agar beranak-pinak sehingga kapital itu membengkak.
Mengingat sentralisasi konsumsi, barang konsumsi (komoditi) mempunyai kedudukan penting untuk hadir dalam masyarakat. Untuk menintegrasikan seseorang dalam masyarakat.
Rasa yang kurang lebih sama dengan menjadi ikatan sosial, barang konsumsi menjadi kartu identitas sosial. Barang (yang difetiskan) ini mengatasi kekuatan ideologi yang selama ini menjadi prinsip penggologan sosial atau adat istiadat.
Ketercerabutan masyarakat dari tradisi kemudian kegagapan menanggapi perkembangan zaman yang demikian cepat inilah yang menjadi isu pementasan Kubangan oleh Teater Syahid.
***
Ruang bermain dibangun seperti arena cat walk dengan dua arah pandang penonton. Properti (setprop, handprop) dibuat warna-warni, serbaguna, dan multipesan. Dengan kostum keseharian orang-orang modern, orang-orang urban yang hidup jauh dari kampung. Begitu pula musik, menjadi simbol realitas dan peristiwa permukaan yang kontradiktif dengan pikiran dan perasaan sosok-sosok pemain di atas panggung.
Atmosfer ruang diperkuat cahaya yang membias ke tempat-tempat sehari-hari. Fungsi cahaya hadir untuk menguatkan pesan tersirat seperti halnya teks-teks verbal di beberapa adegan. Area penonton pun jadi permainan cahaya untuk membuka ruang keterlibatan intim penonton melalui sensasi-sensasi yang dialami.
Permainan lewat simbol cahaya, melibatkan penonton dengan lampu-lampu manual auditorium yang dinyalakan sesekali dalam pertunjukan. Pencahayaan juga akan menjadi simbol keterbelahan jiwa dan kepribadian ganda dengan potongan-potongan ekstrem cahaya pada tubuh pemain. Menggambarkan ruang privasi individu yang seolah kuat dan indah padahal rapuh.
Pengadeganan dalam alur pertunjukan ini tidak berangkat dari logika sebab akibat yang runut. Tetapi karakter dasar pemain menjadi benang merah yang akan mengikat lompatan-lompatan pesan antaradegan.
Setiap adegan terdiri beberapa potongan peristiwa dengan konflik yang meranting, mengendap, dan kabur pokok masalahnya. Komentar atau kata-kata verbal menyiratkan ketidakmampuan Teater Syahid mengetahui sesuatu lebih mendalam, kecuali lewat gosip infotainment sebagai basis referensi paradigma dan mentalitas masyarakat kubangan. Kata-kata pamflet, prosaik, dan puitis (melalui koor dan monolog) memiliki beban yang kontradiktif dengan bentuk adegan.
Para pemain menggunakan getaran seluruh tubuh yang secara konstan dilakukan dalam kata-kata gosip. Dalam getar tubuh, sikap tubuh, gestur, dan moving pemain tetap dalam kewajaran sebagaimana gaya realis. Begitu pula saat bentuk gerak laku menggunakan speed cepat, Teater Syahid tetap dengan detil gaya tersebut. Ada distorsi dan stilisasi, tetapi masih dalam tingkat wajar.
***
Pementasan berdurasi sekitar 60 menit ini cukup menghibur penonton yang memadati gedung pertunjukan di Metro. Tidak kurang 500 pasang mata menyaksikan pementasan Kubangan, yang sebagian adalah mahasiswa dan pelajar.
Ikon-ikon urban cukup kental mengisi ruang pertunjukan dan perilaku aktor di panggung. Hanya saja, setiap adegan terkesan melarat-larat (berlaman-lama) sehingga pertunjukan pada titik tertentu menjadi membosankan. Selain cekaman menimbulkan kesan penderitaan masyarakat modern oleh kecepatan, tergesa-gesa, rutin, membosankan, hampa kurang hadir dengan optimal.
Strategi membagi ruang menjadi dua, di sisi kanan dan kiri di antara area berlangsungnya pementasan. Strategi pemanggungan ini membuat pemain lebih dekat dengan penonton. Saya rasa cukup membantu terjadinya interaksi dengan penonton secara langsung. Konsep macam fashion show bisa tergambar dengan baik.
Akan tetapi, tema yang terlalu luas yang diusung oleh Teater Syahid ini menjadikan pertunjukan seperti kehilangan fokus: Aantara tubuh yang dikontruksi pasar (kapitalisme) hingga soal kebejatan moral masyarakat seperti koruptor, spekulan, manipulator kurang tertangkap dengan baik. Bahkan pada beberapa adegan, pertunjukan ini terkesan terlalu cerewet dan dipaksakan sehingga bukan hanya masyarakat modern yang gamang dipertajam dengan kegamangan pementasan Kubangan ini.
Namun, secara umum, pertunjukan ini cukup baik dan segar apalagi di Kota Metro sendiri pertunjukan seperti ini cukup jarang.
Menyaksikan animo penonton, boleh dikatakan Metro akan segera menjadi pusat perkembangan teater di Lampung masa mendatang. Gairah berteater yang mulai hidup ini tentu menjadi kabar gembira pelaku teater di tengah banyaknya kendala yang menyertai kehidupan teater di Lampung saat ini.
Situasi kondusif perteateran di Metro tidak lepas dari dukungan beberapa elemen pendukung teater seperti perguruan tinggi, sekolah-sekolah menengah, dan Dinas Pendidikan yang mencoba mengembangkan kesenian spesifik teater. Rektor STAIN Metro berjanji akan terus mendukung segala kegiatan yang berbau seni di kampusnya.
Tentu ini menjadi kabar baik bagi pelaku teater Metro khususnya di kalangan mahasiswa. Dukungan seperti ini tidak terjadi di daerah lain bahkan di Bandar Lampung yang hingga saat ini masih tetap kesulitan dukungan dari pihak akademik maupun pemerintah.
Kondisi positif perteateran di Metro juga tampak dengan makin banyaknya kelompok yang lahir, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun independen. Selain dukungan beberapa pihak dalam hal pendanaan, kondisi penonton juga luar biasa. Aula berkapasitas 500-an orang penuh bahkan banyak yang rela menonton pertunjukan sambil berdiri.
Bila dibandingkan dengan kondisi perteater di Bandar Lampung, yang selama ini menjadi kiblat perkembangan teater di Lampung, Metro malah lebih baik dalam beberapa hal, khususnya soal penonton dan dukungan pihak-pihak yang selama ini menunjukan interses yang baik terhadap perkembangan seni dan budaya. Kenyataan ini tentu bertolak belakang dengan apa yang dialami pelaku teater di Bandar Lampung hingga sat ini masih dipusingkan dengan sulitnya mendanai proses yang dilakukan, sulitnya menghadirkan pnonton dan terakhir mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menggelar pertunjukan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung.
* Iskandar G.B., aktor dan penikmat teater, tinggal di Bandar Lampung.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
LABORATORIUM Teater Syahid melakukan pementasan eksperimental bertajuk Kubangan karya Bambang Prihadi di aula Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro, pada 5 November lalu. Akankah Metro menjadi kiblat teater di Lampung selain Bandar Lampung?
Tubuh adalah ihwal yang mengalami bentukan budaya dari berbagai nilai, yang pada gilirannya memperlihatkan bagaimana manusia mengalami kesulitan dalam membaca tubuhnya sendiri. Semua peradaban manusia berkaitan langsung dengan kelebihan, keterbatasan maupun pengagungan tubuh manusia, sejak dari militerisme, seni, filsafat hingga ke kosmetika (Aprizal Malna).
Road to Sumatera oleh teater yang bermarkas di Jakarta ini terselenggara berkat hibah seni Yayasan Seni dan Budaya Kelola untuk kategori pementasan keliling yang rutin memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok kesenian di Indonesia untuk mengembangan kreativitas. Pemilihan Kota Metro sebagai salah satu tujuan pementasan Kubangan merupakan pertama kali di Lampung. Pementasan Kubangan kemudian menjadi salah satu momen istimewa bagi kehidupan teater di Metro sekaligus menandai makin berkembangannya perteateran di kota ini; yang memiliki obsesi menjadi pusat perkembangan teater selain Bandar Lampung.
Perjalanan lakon ini sudah berlangsung sejak 2005. Awalnya, Kubangan dan Tubuh-tubuh yang Terkontaminasi menjadi tajuk pementasan mereka. Juga sudah melakukan sejumlah pementasan sebelum dibawa keliling Sumatera.
***
Kubangan adalah perwujudan ruang yang penuh beragam pencitraan: Masyarakat konsumtif, hedonis, pragmatis, masyarakat amnestik, dan traumatik. Masyarakat tong sampah tanpa identitas dan sikap. Cerita menunjukkan eksistensi yang tak lagi memiliki arti dan carut marut dunia ketika kemanusiaan menghilang. Kehidupan tak ubah seperti kerumunan kawanan binatang dalam sebuah kubangan.
Mungkin gagasan yang tepat ketika seseorang di antara mereka menggugah masuk dalam tanah, berkontemplasi, dan membuat kekuatan dari potensi yang dimiliki setiap individu. Tubuh-tubuh yang bergetar sepanjang pertunjukan seakan mencoba mencitrakan bagaimana manusia sebenarnya gemetar melihat tubuh sendiri karena tubuh bisa sakit, terluka, lumpuh, tua, cacat, dan mati. Tubuh manusia adalah medan perang dengan lalu lintas nilai yang bergerak di sekitarnya, mulai dari soal kegagahan, kecantikan, ikon ras, ideologi, dan agama hingga ke ikon kelas ekonomi yang menegaskan diri dari pakaian yang dikenakan.
Dalam proses pencapaian artistik (penciptaan karya) Kubangan, Teater Syahid memilih pendekatan eksperimental dalam spirit eksplorasi. Hal itu diyakini dapat membuka ruang tafsir yang lebih progresif terhadap bentuk-bentuk dramaturgi yang sudah ada. Sekaligus dapat membuka ruang kemungkinan penjelajahan teks-teks "baru", sesuai kebutuhan dalam proses tersebut.
Dari situ Teater Syahid melakukan penelusuran dan pengalihan kekuatan dalam tubuh setiap pemain, dalam konteks persoalan global-lokal. Muncul ide dasar bentuk dari representasi masyarakat kekinian (penuh pencitraan padahal rapuh); tubuh bergetar, tubuh cepat digital, tubuh model, tubuh boneka, tubuh binatang, tubuh laying-layang, dan suara-suara etnik tragis di kejauhan. Dari bentuk dasar itu pemain menghidupkan dalam style realis, surealis, atau nonrealis dalam satu ruang dan waktu.
Mulanya tubuh digadaikan dalam sebuah ruang yang menggambarkan zaman pencitraan yang sempurna, seolah tidak terjadi sesuatu yang menyakitkan. Padahal dominasi pikiran masyarakat modern yang menelurkan sistem beku telah menjadi penjara tersendiri bagi masyarakatnya.
Tubuh menjadi panik merespons derasnya perubahan. Tubuh tak punya pilihan kecuali melakukan penyesuaian atas percepatan zaman yang terjadi. Laku masyarakat pun menjadi tergesa-gesa dan mekanis.
Pada titik tertentu, tubuh mengalami trauma dan skizoprenia. Ingatan-ingatan pahit bermunculan dari ruang bawah sadar. Ketika tubuh makin tertekan, mereka berontak dari pikiran dan perasaan yang tidak mampu lagi menjalin kerja sama: Tubuh, jiwa, dan pikiran ingin bekerja dengan cara sendiri. Kemudian tubuh bergerak tak lagi terkontrol, bergentar terus menerus dalam ruang personalnya, menyiksa hingga terbawa ke dalam ruang publik yang meriah tapi hampa.
Menurut Dominic Straiti, pengamat budaya populer asal Inggris, sebagaimana sifat kapitalisme yang membawa masyarakat menjadi massa, masyarakat dilebur dari batas-batas tradisionaln menjadi satu masif konsumsi. Masifikasi dan penyeragaman konsumsi merupakan bagian kehendak kapital (dari nasional sampai global) agar beranak-pinak sehingga kapital itu membengkak.
Mengingat sentralisasi konsumsi, barang konsumsi (komoditi) mempunyai kedudukan penting untuk hadir dalam masyarakat. Untuk menintegrasikan seseorang dalam masyarakat.
Rasa yang kurang lebih sama dengan menjadi ikatan sosial, barang konsumsi menjadi kartu identitas sosial. Barang (yang difetiskan) ini mengatasi kekuatan ideologi yang selama ini menjadi prinsip penggologan sosial atau adat istiadat.
Ketercerabutan masyarakat dari tradisi kemudian kegagapan menanggapi perkembangan zaman yang demikian cepat inilah yang menjadi isu pementasan Kubangan oleh Teater Syahid.
***
Ruang bermain dibangun seperti arena cat walk dengan dua arah pandang penonton. Properti (setprop, handprop) dibuat warna-warni, serbaguna, dan multipesan. Dengan kostum keseharian orang-orang modern, orang-orang urban yang hidup jauh dari kampung. Begitu pula musik, menjadi simbol realitas dan peristiwa permukaan yang kontradiktif dengan pikiran dan perasaan sosok-sosok pemain di atas panggung.
Atmosfer ruang diperkuat cahaya yang membias ke tempat-tempat sehari-hari. Fungsi cahaya hadir untuk menguatkan pesan tersirat seperti halnya teks-teks verbal di beberapa adegan. Area penonton pun jadi permainan cahaya untuk membuka ruang keterlibatan intim penonton melalui sensasi-sensasi yang dialami.
Permainan lewat simbol cahaya, melibatkan penonton dengan lampu-lampu manual auditorium yang dinyalakan sesekali dalam pertunjukan. Pencahayaan juga akan menjadi simbol keterbelahan jiwa dan kepribadian ganda dengan potongan-potongan ekstrem cahaya pada tubuh pemain. Menggambarkan ruang privasi individu yang seolah kuat dan indah padahal rapuh.
Pengadeganan dalam alur pertunjukan ini tidak berangkat dari logika sebab akibat yang runut. Tetapi karakter dasar pemain menjadi benang merah yang akan mengikat lompatan-lompatan pesan antaradegan.
Setiap adegan terdiri beberapa potongan peristiwa dengan konflik yang meranting, mengendap, dan kabur pokok masalahnya. Komentar atau kata-kata verbal menyiratkan ketidakmampuan Teater Syahid mengetahui sesuatu lebih mendalam, kecuali lewat gosip infotainment sebagai basis referensi paradigma dan mentalitas masyarakat kubangan. Kata-kata pamflet, prosaik, dan puitis (melalui koor dan monolog) memiliki beban yang kontradiktif dengan bentuk adegan.
Para pemain menggunakan getaran seluruh tubuh yang secara konstan dilakukan dalam kata-kata gosip. Dalam getar tubuh, sikap tubuh, gestur, dan moving pemain tetap dalam kewajaran sebagaimana gaya realis. Begitu pula saat bentuk gerak laku menggunakan speed cepat, Teater Syahid tetap dengan detil gaya tersebut. Ada distorsi dan stilisasi, tetapi masih dalam tingkat wajar.
***
Pementasan berdurasi sekitar 60 menit ini cukup menghibur penonton yang memadati gedung pertunjukan di Metro. Tidak kurang 500 pasang mata menyaksikan pementasan Kubangan, yang sebagian adalah mahasiswa dan pelajar.
Ikon-ikon urban cukup kental mengisi ruang pertunjukan dan perilaku aktor di panggung. Hanya saja, setiap adegan terkesan melarat-larat (berlaman-lama) sehingga pertunjukan pada titik tertentu menjadi membosankan. Selain cekaman menimbulkan kesan penderitaan masyarakat modern oleh kecepatan, tergesa-gesa, rutin, membosankan, hampa kurang hadir dengan optimal.
Strategi membagi ruang menjadi dua, di sisi kanan dan kiri di antara area berlangsungnya pementasan. Strategi pemanggungan ini membuat pemain lebih dekat dengan penonton. Saya rasa cukup membantu terjadinya interaksi dengan penonton secara langsung. Konsep macam fashion show bisa tergambar dengan baik.
Akan tetapi, tema yang terlalu luas yang diusung oleh Teater Syahid ini menjadikan pertunjukan seperti kehilangan fokus: Aantara tubuh yang dikontruksi pasar (kapitalisme) hingga soal kebejatan moral masyarakat seperti koruptor, spekulan, manipulator kurang tertangkap dengan baik. Bahkan pada beberapa adegan, pertunjukan ini terkesan terlalu cerewet dan dipaksakan sehingga bukan hanya masyarakat modern yang gamang dipertajam dengan kegamangan pementasan Kubangan ini.
Namun, secara umum, pertunjukan ini cukup baik dan segar apalagi di Kota Metro sendiri pertunjukan seperti ini cukup jarang.
Menyaksikan animo penonton, boleh dikatakan Metro akan segera menjadi pusat perkembangan teater di Lampung masa mendatang. Gairah berteater yang mulai hidup ini tentu menjadi kabar gembira pelaku teater di tengah banyaknya kendala yang menyertai kehidupan teater di Lampung saat ini.
Situasi kondusif perteateran di Metro tidak lepas dari dukungan beberapa elemen pendukung teater seperti perguruan tinggi, sekolah-sekolah menengah, dan Dinas Pendidikan yang mencoba mengembangkan kesenian spesifik teater. Rektor STAIN Metro berjanji akan terus mendukung segala kegiatan yang berbau seni di kampusnya.
Tentu ini menjadi kabar baik bagi pelaku teater Metro khususnya di kalangan mahasiswa. Dukungan seperti ini tidak terjadi di daerah lain bahkan di Bandar Lampung yang hingga saat ini masih tetap kesulitan dukungan dari pihak akademik maupun pemerintah.
Kondisi positif perteateran di Metro juga tampak dengan makin banyaknya kelompok yang lahir, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun independen. Selain dukungan beberapa pihak dalam hal pendanaan, kondisi penonton juga luar biasa. Aula berkapasitas 500-an orang penuh bahkan banyak yang rela menonton pertunjukan sambil berdiri.
Bila dibandingkan dengan kondisi perteater di Bandar Lampung, yang selama ini menjadi kiblat perkembangan teater di Lampung, Metro malah lebih baik dalam beberapa hal, khususnya soal penonton dan dukungan pihak-pihak yang selama ini menunjukan interses yang baik terhadap perkembangan seni dan budaya. Kenyataan ini tentu bertolak belakang dengan apa yang dialami pelaku teater di Bandar Lampung hingga sat ini masih dipusingkan dengan sulitnya mendanai proses yang dilakukan, sulitnya menghadirkan pnonton dan terakhir mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menggelar pertunjukan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung.
* Iskandar G.B., aktor dan penikmat teater, tinggal di Bandar Lampung.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Apresiasi atas Musik yang Tidak Berenergi
Oleh Susan S.*
"KAMU di mana/dengan siapa/semalam berbuat apa."
Itulah sepenggal reff pada lagu berjudul Yolanda yang dinyanyikan grup musik Kangen Band. Liriknya sederhana. Gampang diingat. Mudah diikuti sehingga dengan cepat akrab di telinga penikmat musik.
Band asal Lampung ini memang makin kesohor karena hit-hit yang diluncurkan disukai banyak orang. Dengan bernada Melayu, banyak penyuka musik yang senang mendengar sekaligus ikut menyanyikan.
Dalam sebuah acara televisi, pembawa acara bertanya kepada remaja, anak gaul, dan pengendara mobil. Lagu apa yang sekarang ini mereka akrab mendengarnya. Jawabannya cuma dua grup musik yang mereka tahu: Kangen Band dan ST12.
Lagu ST12, sama dengan Kangen Band, juga kental melayunya. Lirik yang ada "jangan-jangan" itu disukai banyak orang.
Benar bahwa kesukaan kita akan musik menjadi hak prerogatif tiap orang. Setiap manusia punya hasrat yang berbeda dengan orang lain. Maka, selain mereka yang menggilai lagu-lagu dengan cengkok Melayu sebagaimana dibawakan Kangen dan St12, dalam artikel ini izinkan kami mengulasnya. Mungkin nadanya marah, kesal, dan gimana gitu.
Begini. Yang namanya karya, menurut penulis tidak sekadar karya yang begitu saja dinikmati. Karya itu juga harus punya energi. Energi yang positif. Lirik yang nyastra. Suara yang prima. Gaya yang elegan, tidak--maaf--"kampungan" (sengaja pakai kutip karena tidak ingin menstigma orang kampung alias perdesaan karena mereka memang tidak begitu, ya sekadar istilah saja).
Jadi, setiap lagu, dengan lirik dan gaya penyanyinya mampu diapresiasi dengan baik. Mampu memberikan pelajaran. Mampu mencerahkan. Bahasanya berenergi.
Nah, sayangnya, semua itu, menurut persepsi penulis, tidak tergambar dari kebanyakan lagu anak muda yang dibawakan kelompok musik yang sekarang ini ibarat jamur di musim hujan.
Apa yang dilagukan Kangen Band, ST12, termasuk juga D'Massiv, saya kira masih jauh dari kualitas yang sesungguhnya dari karya musik anak negeri. Apatah lagi jika mau diklasifikasikan sebagai karya masterpiece atau adiluhung. Masih jauh banget.
Rasanya bagaimana kalau mendengar lirik seperti ini: "Kamu di mana/dengan siapa/semalam berbuat apa." Kata anak muda zaman sekarang: Ih enggak banget deh.
Apanya yang enak kalau mendengar yang demikian? Apa teks dalam lagu itu memang punya kualitas sehingga harus masuk tangga lagu favorit? Dan, apakah pantas dengan goresan lirik itu, grup musik itu kemudian seperti mendapat durian runtuh?
Rasanya masih jauh. Masih mengecewakan. Perlu banyak belajar dan sebagainya.
Bahkan, rasanya tidak ikhlas jika ada konser musik, grup semisal Kangen Band, ST12, atau D'Massiv bermain bersama, contohnya saja, Peterpan, Padi, Dewa, atau Nidji. Seperti acara musik di salah satu televisi swasta beberapa waktu lalu yang menghadirkan Peterpan, Nidji, dan D'Massiv. Kayaknya enggak ikhlas aja Peterpan yang matang dan punya energi, Nidji yang riang, gembira, dan punya aura khas, disandingkan dengan D'Massiv, yang harus banyak belajar lagi, dan tidak jemawa dengan nasib mereka saat ini.
Musik memang bahasa yang universal. Lewat musik, kita bisa mengimajinasikan perasaan dalam bentuk lagu, lirik, dan suara alat musik.
Namun, kita juga perlu menikmati musik yang bergairah, punya energi, punya kebanggaan ketika kita mengikuti alunan liriknya.
Saya yakin, kita enggak ngaruh apa-apa bahkan mungkin bangga jika kita bersenandung, "Berjalanlah walau habis terang/ambil cahaya cinta..."
Teks ini diambil dari lagu Walau Habis Terang-nya Peterpan. Atau yang ini, masih dari Ariel dkk., judulnya Menghapus Jejakmu yang Dian Sastrowardoyo berperan dalam videoklipnya.
"Terus melangkah melupakanmu//Lelah hati perhatikan sikapmu//Jalan pikiranmu buatku ragu/tak mungkin ini dapat bertahan//Perlahan mimpi terasa menggangu/ kucoba untuk terus menjauh//Perlahan hati kuterbelenggu/kucoba untuk lanjutkan itu."
"Atau, "Menarilah dan terus tertawa/walau dunia tak seindah surga// bersyukurlah pada Yang Kuasa/cinta kita di dunia/selamanya."
Kalau yang ini teks lagu adiluhungnya Nidji berjudul Laskar Pelangi, yang merupakan lagu tema (soundtrack) film berjudul sama. Mulanya dari novel hebat karya Andrea Hirata.
Penulis yakin perasaan mereka yang menikmati lagu Laskar Pelangi ini akan lain dengan saat menyanyikan lagu-lagu cemen-nya Kangen dan ST12. Benar bahwa setiap grup musik punya aliran berbeda. Ada fokus pada tema cinta, tema lingkungan, tema politik, dan sebagainya.
Tapi, tidak menjadikan itu alasan untuk tidak menyajikan karya yang paripurna. Iwan Fals, misalnya, bernyanyi lagu balada, dia oke. Mau nyanyi lagu tema kritik sosial, memang Virgiawan Listanto ini jagonya. Mau disuruh bergitar sambil bernyanyi lagu tema politik, bapaknya almarhum Galang Rambu Anarki ini so pasti bagus suaranya.
Peterpan demikian pula. Meski tahun 2009 nama band ini hakulyakin berubah karena kesepakatan dengan dua personel mereka yang terlebih dahulu cabut, kesukaan masyarakat terhadap Ariel dkk. masih besar. Bahkan, karya yang mereka hasilkan sepertinya tambah memesona saja.
Ariel dkk. sudah terbukti mampu menjaga energi musiknya. Mampu menjaga penampilan panggungnya. Mampu meyakinkan bahwa suara mereka di kaset atau CD sama bagusnya ketika mereka tampil langsung dalam setiap konser.
Mau bernyanyi tema cinta atau tema yang universal saat mereka menyanyikan lagi Chrisye berjudul Kisah Cinta yang penggalan liriknya, "Mengapa terjadi/kepada diriku//Aku tak percaya kau telah tiada//Haruskah aku pergi/tinggalkan dunia/agar aku dapat berjumpa denganmu," kualitas vokal, penguasaan panggung, aura, energi yang dirasakan sama baiknya.
Kita tentu saja menuntut kualitas vokal semua penyanyi sama baiknya antara yang di kaset atau CD dengan suara asli saat mereka konser. Bukan yang setiap konser tetap mengandalkan suara rekaman alias lipsync. Masih lumayan kalau musiknya saja sedangkan suaranya asli atau yang akrab disebut minus one.
***
Tulisan ini merupakan perasaan jiwa atas sebuah tuntutan kualitas bermusik yang bagus. Soal selera, ya itu hak masing-masing penikmat musik. Termasuk yang suka dengan genre yang dibawakan Kangen Band atau ST12. Tiada salah kok. Namanya saja hobi, kesukaan. Tidak ada yang bisa memaksa.
Terakhir, ini juga mengajarkan demokrasi kepada kita bahwa perbedaan menikmati musik bukan hal haram. Jangan gara-gara beda musik, malah melakukan perbuatan kontraproduktif.
Kini saatnya persaingan dan penikmat musik perlu karya berkualitas, tidak cengeng, vokal yang prima, penguasaan panggung yang maksimal, termasuk juga gaya yang elegan serta profesional. Masyarakat nanti juga tahu dan memilih musik jenis apa yang mereka jadikan pilihan sebagai sarana berhibur. Toh berhibur atau mendengarkan musik itu tak salah. Kata aba-aba Raihan dalam salah satu lirik lagunya, "Berhibur tiada salahnya/karena hiburan itu indah//Tapi pabila salah memilihnya/membuat kita jadi bersalah."
* Susan S., peminat musik, menetap di Bandar Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
"KAMU di mana/dengan siapa/semalam berbuat apa."
Itulah sepenggal reff pada lagu berjudul Yolanda yang dinyanyikan grup musik Kangen Band. Liriknya sederhana. Gampang diingat. Mudah diikuti sehingga dengan cepat akrab di telinga penikmat musik.
Band asal Lampung ini memang makin kesohor karena hit-hit yang diluncurkan disukai banyak orang. Dengan bernada Melayu, banyak penyuka musik yang senang mendengar sekaligus ikut menyanyikan.
Dalam sebuah acara televisi, pembawa acara bertanya kepada remaja, anak gaul, dan pengendara mobil. Lagu apa yang sekarang ini mereka akrab mendengarnya. Jawabannya cuma dua grup musik yang mereka tahu: Kangen Band dan ST12.
Lagu ST12, sama dengan Kangen Band, juga kental melayunya. Lirik yang ada "jangan-jangan" itu disukai banyak orang.
Benar bahwa kesukaan kita akan musik menjadi hak prerogatif tiap orang. Setiap manusia punya hasrat yang berbeda dengan orang lain. Maka, selain mereka yang menggilai lagu-lagu dengan cengkok Melayu sebagaimana dibawakan Kangen dan St12, dalam artikel ini izinkan kami mengulasnya. Mungkin nadanya marah, kesal, dan gimana gitu.
Begini. Yang namanya karya, menurut penulis tidak sekadar karya yang begitu saja dinikmati. Karya itu juga harus punya energi. Energi yang positif. Lirik yang nyastra. Suara yang prima. Gaya yang elegan, tidak--maaf--"kampungan" (sengaja pakai kutip karena tidak ingin menstigma orang kampung alias perdesaan karena mereka memang tidak begitu, ya sekadar istilah saja).
Jadi, setiap lagu, dengan lirik dan gaya penyanyinya mampu diapresiasi dengan baik. Mampu memberikan pelajaran. Mampu mencerahkan. Bahasanya berenergi.
Nah, sayangnya, semua itu, menurut persepsi penulis, tidak tergambar dari kebanyakan lagu anak muda yang dibawakan kelompok musik yang sekarang ini ibarat jamur di musim hujan.
Apa yang dilagukan Kangen Band, ST12, termasuk juga D'Massiv, saya kira masih jauh dari kualitas yang sesungguhnya dari karya musik anak negeri. Apatah lagi jika mau diklasifikasikan sebagai karya masterpiece atau adiluhung. Masih jauh banget.
Rasanya bagaimana kalau mendengar lirik seperti ini: "Kamu di mana/dengan siapa/semalam berbuat apa." Kata anak muda zaman sekarang: Ih enggak banget deh.
Apanya yang enak kalau mendengar yang demikian? Apa teks dalam lagu itu memang punya kualitas sehingga harus masuk tangga lagu favorit? Dan, apakah pantas dengan goresan lirik itu, grup musik itu kemudian seperti mendapat durian runtuh?
Rasanya masih jauh. Masih mengecewakan. Perlu banyak belajar dan sebagainya.
Bahkan, rasanya tidak ikhlas jika ada konser musik, grup semisal Kangen Band, ST12, atau D'Massiv bermain bersama, contohnya saja, Peterpan, Padi, Dewa, atau Nidji. Seperti acara musik di salah satu televisi swasta beberapa waktu lalu yang menghadirkan Peterpan, Nidji, dan D'Massiv. Kayaknya enggak ikhlas aja Peterpan yang matang dan punya energi, Nidji yang riang, gembira, dan punya aura khas, disandingkan dengan D'Massiv, yang harus banyak belajar lagi, dan tidak jemawa dengan nasib mereka saat ini.
Musik memang bahasa yang universal. Lewat musik, kita bisa mengimajinasikan perasaan dalam bentuk lagu, lirik, dan suara alat musik.
Namun, kita juga perlu menikmati musik yang bergairah, punya energi, punya kebanggaan ketika kita mengikuti alunan liriknya.
Saya yakin, kita enggak ngaruh apa-apa bahkan mungkin bangga jika kita bersenandung, "Berjalanlah walau habis terang/ambil cahaya cinta..."
Teks ini diambil dari lagu Walau Habis Terang-nya Peterpan. Atau yang ini, masih dari Ariel dkk., judulnya Menghapus Jejakmu yang Dian Sastrowardoyo berperan dalam videoklipnya.
"Terus melangkah melupakanmu//Lelah hati perhatikan sikapmu//Jalan pikiranmu buatku ragu/tak mungkin ini dapat bertahan//Perlahan mimpi terasa menggangu/ kucoba untuk terus menjauh//Perlahan hati kuterbelenggu/kucoba untuk lanjutkan itu."
"Atau, "Menarilah dan terus tertawa/walau dunia tak seindah surga// bersyukurlah pada Yang Kuasa/cinta kita di dunia/selamanya."
Kalau yang ini teks lagu adiluhungnya Nidji berjudul Laskar Pelangi, yang merupakan lagu tema (soundtrack) film berjudul sama. Mulanya dari novel hebat karya Andrea Hirata.
Penulis yakin perasaan mereka yang menikmati lagu Laskar Pelangi ini akan lain dengan saat menyanyikan lagu-lagu cemen-nya Kangen dan ST12. Benar bahwa setiap grup musik punya aliran berbeda. Ada fokus pada tema cinta, tema lingkungan, tema politik, dan sebagainya.
Tapi, tidak menjadikan itu alasan untuk tidak menyajikan karya yang paripurna. Iwan Fals, misalnya, bernyanyi lagu balada, dia oke. Mau nyanyi lagu tema kritik sosial, memang Virgiawan Listanto ini jagonya. Mau disuruh bergitar sambil bernyanyi lagu tema politik, bapaknya almarhum Galang Rambu Anarki ini so pasti bagus suaranya.
Peterpan demikian pula. Meski tahun 2009 nama band ini hakulyakin berubah karena kesepakatan dengan dua personel mereka yang terlebih dahulu cabut, kesukaan masyarakat terhadap Ariel dkk. masih besar. Bahkan, karya yang mereka hasilkan sepertinya tambah memesona saja.
Ariel dkk. sudah terbukti mampu menjaga energi musiknya. Mampu menjaga penampilan panggungnya. Mampu meyakinkan bahwa suara mereka di kaset atau CD sama bagusnya ketika mereka tampil langsung dalam setiap konser.
Mau bernyanyi tema cinta atau tema yang universal saat mereka menyanyikan lagi Chrisye berjudul Kisah Cinta yang penggalan liriknya, "Mengapa terjadi/kepada diriku//Aku tak percaya kau telah tiada//Haruskah aku pergi/tinggalkan dunia/agar aku dapat berjumpa denganmu," kualitas vokal, penguasaan panggung, aura, energi yang dirasakan sama baiknya.
Kita tentu saja menuntut kualitas vokal semua penyanyi sama baiknya antara yang di kaset atau CD dengan suara asli saat mereka konser. Bukan yang setiap konser tetap mengandalkan suara rekaman alias lipsync. Masih lumayan kalau musiknya saja sedangkan suaranya asli atau yang akrab disebut minus one.
***
Tulisan ini merupakan perasaan jiwa atas sebuah tuntutan kualitas bermusik yang bagus. Soal selera, ya itu hak masing-masing penikmat musik. Termasuk yang suka dengan genre yang dibawakan Kangen Band atau ST12. Tiada salah kok. Namanya saja hobi, kesukaan. Tidak ada yang bisa memaksa.
Terakhir, ini juga mengajarkan demokrasi kepada kita bahwa perbedaan menikmati musik bukan hal haram. Jangan gara-gara beda musik, malah melakukan perbuatan kontraproduktif.
Kini saatnya persaingan dan penikmat musik perlu karya berkualitas, tidak cengeng, vokal yang prima, penguasaan panggung yang maksimal, termasuk juga gaya yang elegan serta profesional. Masyarakat nanti juga tahu dan memilih musik jenis apa yang mereka jadikan pilihan sebagai sarana berhibur. Toh berhibur atau mendengarkan musik itu tak salah. Kata aba-aba Raihan dalam salah satu lirik lagunya, "Berhibur tiada salahnya/karena hiburan itu indah//Tapi pabila salah memilihnya/membuat kita jadi bersalah."
* Susan S., peminat musik, menetap di Bandar Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Traveling: Jejak Elvy Sukaesih di Danau Jepara
DANAU Jepara merupakan salah satu kawasan obyek wisata yang ramai pengunjung. Selain menikmati hutan yang asri dan jernihnya air, kawasan danau Jepara juga menyimpan beragam flora dan fauna, seperti puluhan jenis burung, kera ekor panjang, siamang, dan beragam jenis tumbuh-tumbuhan. "Waktu itu, pengunjung nggak kenal obyek wisata Way Kambas. Mereka hanya tahu Danau Jepara," kata Safei, tokoh setempat.
Saking ramainya pengunjung di Danau Jepara kala itu, kata dia, sejumlah jasa hiburan tak jarang mengundang sejumlah artis Ibu Kota.
Event itu terjadi terutama pada hari libur nasional atau hari besar keagamaan, seperti Idulfitri atau menyambut tahun baru. "Waktu itu, tiap Lebaran atau Tahun Baru, artis Ibu Kota seperti Camelia Malik, Elvi Sukaesih, Ratno Timor, dan lain-lain mentas di Danau Jepara,"
kata Safei yang sejak 70 tahun silam tinggal sekitar Danau Jepara.
Dari latar belakang sejarah, tak banyak yang tahu kapan kubah Danau Jepara, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, muncul. Namun, cerita dari mulut ke mulut menyebut bahwa sekitar tahun 1960-an dengan melibatkan sejumlah konsultan Jepang, serta puluhan tenaga kerja asal tanah Jawa, pemerintah membangun proyek irigasi sekitar 25 kilometer. Proyek irigasi yang dibangun pemerintah, mampu mengairi sedikitnya sembilan ribu hektare sawah petani. Tapi, dengan menurunnnya debit air pada danau akibat gundulnya kawasan hutan Register 38 Gunung Balak Sekampungudik, ribuan hektare sawah petani terancam tak dapat ditanami.
Ditanya kondisi obyek wisata Danau Jepara saat ini, menurut Safei, saat ini Danau Jepara bukan berarti tak ada pengunjung. Tapi, diduga akibat faktor keamanan, pengunjung masih ragu datang ke obyek wisata itu. "Yang ramai sekarang ini di Danau Jepara. Orang datang untuk mancing ikan. Tiap hari, ratusan warga memadati tepian danau," kata dia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Timur Marinus Sinurat, mengatakan kawasan Danau Jepara sebenarnya tak hanya sebuah irigasi yang berfungsi mengairi sawah petani. Tapi, Danau Jepara memang termasuk salah satu obyek wisata yang potensial di Lampung Timur. Sebab, selain menyimpan keindahan alam dan semilir angin yang tak jarang membuat pengunjung betah, jarak tempuh menuju obyek wisata itu tak membuat pengunjung jenuh.
"Jarak obyek wisata Danau Jepara dari Bandar Lampung sekitar 75 kilometer. Dan, dari ibu kota kabupaten dan sekitarnya tak lebih 30 kilometer. Akses jalan menuju Danau Jepara sangat baik, yaitu berupa jalan hotmix," kata Sinurat, yang didampingi Sekretaris Dinas Budpar Imam Juhdi Adnan.
Dia mengatakan mengingat Danau Jepara merupakan sebuah obyek wisata potensial yang dapat menarik minat banyak pengunjung seperti puluhan tahun silam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Timur akan menghidupkan kembali. Salah satu upaya yang akan dilakukan pada 2009 mendatang, akan dibangun sejumlah fasilitas, seperti tempat istirahat, taman bermain, tempat berdagang atau fasilitas lain. "APBD 2009 mendatang kami mengusulkan Rp200 juta guna membangun sejumlah fasilitas di Danau Jepara," kata dia.
Selain membangun sejumlah fasilitas di daratan, ujar Sinurat, pihaknya juga akan meneliti kondisi air danau. Pasalnya, kondisi air pada danau seluas sekitar 200 hektare itu juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu wisata air. "Pada bagian daratan itu nggak masalah. Tapi, pada bagian air, kami akan meneliti lebih dulu wisata apa yang cocok pada air danau itu," kata dia.
Dia berharap dengan dihidupkannya kembali obyek wisata Danau Jepara, pihaknya berharap obyek wisata Danau Jepara nantinya tak hanya mampu menyerap pengunjung lokal, tapi pengunjung luar daerah atau wisatawan mancanegara dapat menikmati indahnya Danau Jepara.
"Kami punya obsesi Danau Jepara masa mendatang seperti Danau Toba di Sumatera Utara yang tiap harinya dipadati ribuan pengunjung domestik atau mancanegara," kata dia. n CHAIRUDDIN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Saking ramainya pengunjung di Danau Jepara kala itu, kata dia, sejumlah jasa hiburan tak jarang mengundang sejumlah artis Ibu Kota.
Event itu terjadi terutama pada hari libur nasional atau hari besar keagamaan, seperti Idulfitri atau menyambut tahun baru. "Waktu itu, tiap Lebaran atau Tahun Baru, artis Ibu Kota seperti Camelia Malik, Elvi Sukaesih, Ratno Timor, dan lain-lain mentas di Danau Jepara,"
kata Safei yang sejak 70 tahun silam tinggal sekitar Danau Jepara.
Dari latar belakang sejarah, tak banyak yang tahu kapan kubah Danau Jepara, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, muncul. Namun, cerita dari mulut ke mulut menyebut bahwa sekitar tahun 1960-an dengan melibatkan sejumlah konsultan Jepang, serta puluhan tenaga kerja asal tanah Jawa, pemerintah membangun proyek irigasi sekitar 25 kilometer. Proyek irigasi yang dibangun pemerintah, mampu mengairi sedikitnya sembilan ribu hektare sawah petani. Tapi, dengan menurunnnya debit air pada danau akibat gundulnya kawasan hutan Register 38 Gunung Balak Sekampungudik, ribuan hektare sawah petani terancam tak dapat ditanami.
Ditanya kondisi obyek wisata Danau Jepara saat ini, menurut Safei, saat ini Danau Jepara bukan berarti tak ada pengunjung. Tapi, diduga akibat faktor keamanan, pengunjung masih ragu datang ke obyek wisata itu. "Yang ramai sekarang ini di Danau Jepara. Orang datang untuk mancing ikan. Tiap hari, ratusan warga memadati tepian danau," kata dia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Timur Marinus Sinurat, mengatakan kawasan Danau Jepara sebenarnya tak hanya sebuah irigasi yang berfungsi mengairi sawah petani. Tapi, Danau Jepara memang termasuk salah satu obyek wisata yang potensial di Lampung Timur. Sebab, selain menyimpan keindahan alam dan semilir angin yang tak jarang membuat pengunjung betah, jarak tempuh menuju obyek wisata itu tak membuat pengunjung jenuh.
"Jarak obyek wisata Danau Jepara dari Bandar Lampung sekitar 75 kilometer. Dan, dari ibu kota kabupaten dan sekitarnya tak lebih 30 kilometer. Akses jalan menuju Danau Jepara sangat baik, yaitu berupa jalan hotmix," kata Sinurat, yang didampingi Sekretaris Dinas Budpar Imam Juhdi Adnan.
Dia mengatakan mengingat Danau Jepara merupakan sebuah obyek wisata potensial yang dapat menarik minat banyak pengunjung seperti puluhan tahun silam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Timur akan menghidupkan kembali. Salah satu upaya yang akan dilakukan pada 2009 mendatang, akan dibangun sejumlah fasilitas, seperti tempat istirahat, taman bermain, tempat berdagang atau fasilitas lain. "APBD 2009 mendatang kami mengusulkan Rp200 juta guna membangun sejumlah fasilitas di Danau Jepara," kata dia.
Selain membangun sejumlah fasilitas di daratan, ujar Sinurat, pihaknya juga akan meneliti kondisi air danau. Pasalnya, kondisi air pada danau seluas sekitar 200 hektare itu juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu wisata air. "Pada bagian daratan itu nggak masalah. Tapi, pada bagian air, kami akan meneliti lebih dulu wisata apa yang cocok pada air danau itu," kata dia.
Dia berharap dengan dihidupkannya kembali obyek wisata Danau Jepara, pihaknya berharap obyek wisata Danau Jepara nantinya tak hanya mampu menyerap pengunjung lokal, tapi pengunjung luar daerah atau wisatawan mancanegara dapat menikmati indahnya Danau Jepara.
"Kami punya obsesi Danau Jepara masa mendatang seperti Danau Toba di Sumatera Utara yang tiap harinya dipadati ribuan pengunjung domestik atau mancanegara," kata dia. n CHAIRUDDIN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Traveling: Menunggu Undangan 'Mancing' di Danau Jepara
TEMPAT wisata yang pernah kondang pada era 80-an itu kini terlupakan. Pemkab tidak mengurus danau ini sebagai objek pariwisata. Namun, ratusan pemancing masih hadir setiap hari libur. Kita menunggu Pemkab mengundang mancing di Danau Jepara.
Langit biru menggantung mega-mega putih di atas gelaran air di ceruk seluas 200 hektare. Belanga raksasa berdinding hijau rumput di pantainya dan pepohonan lestari di pagarnya itu adalah Danau Jepara, Lampung Timur. Di tempat ini, kini ratusan pemancing dan puluhan pasang muda-mudi selalu menikmati hari-hari sela dari kerja. Ya, hiburan seadanya.
Memasuki kawasan konservasi yang dibangun Dinas PU Pengairan pada 1974 itu, suasana sejuk dibangun oleh tanaman hutan yang dibiarkan lestari di lokasi ini. Aura perdesaan mendukung rasa hati yang nyaman dan jauh dari ancaman. Menelusup jalan dengan konstruksi aspal hotmix®MDBU¯ dari jalan lintas pantai timur Way Jepara, keasrian sudah mengemuka. Desa-desa yang dikenal sebagai "lumbung TKI" di Lampung Timur itu menyediakan pemandangan rumah-rumah permanen nan bagus di tengah desa. Kita terasa berada pada kampung yang gemah ripah loh jinawi.
Menjelang bendungan, jalan menanjak dengan payung rimbun pohon rindang menyambut. Berikutnya, aroma air danau terasa menyiram bersama angin yang menyapu permukaan danau. Sebentar kemudian, kulai air danau nan bening itu tergelar. Tidak terlalu luas memang. Namun itu justru membuat danau itu tidak terasa seram jika dimanfaatkan untuk sarana rekreasi.
Kondisi sekarang yang dibiarkan seadanya memang membangun kesan alami. Hanya ada beberapa unit bangunan di atas bendungan pengendali pintu air yang berfungsi sebagai aula mini, kantor, dan rumah penjaga yang merangkap membuka warung sederhana. Fasilitas dan peralatan untuk mengendalikan bendungan cukup terawat. Namun, debit air danau yang tidak maksimal membuat fasilitas ini tidak difungsikan.
Memandang ke arah danau, mata dan tubuh tertumbuk pada arus angin yang menerjang dari air. Silir, dingin, sejuk. Di tengah danau, ada karamba apung yang tampaknya kurang dirawat. Sementara di bibir-bibir danau, puluhan pemancing asyik memanteng pelampung yang dikendalikan dengan senar dan joran yang siap dikedut.
Danau yang berada di Kecamatan Way Jepara itu semula hanya seluas 5 hektare. Pemerintah melihat potensi ini bisa dimanfaatkan sebagai waduk yang bisa mengairi sawah di daerah hilirnya. Lalu, pada 1972, dilakukan perluasan danau sehingga menjadi sekitar 200 hektare.
Perluasan ini menjadikan bentuk danau menjadi sangat baik. Di bagian barat yang berbatasan dengan Desa Sumur Bandung, kedalaman danau dari permukaan tanah sebelumnya menjadi sangat tinggi, yakni mencapai 50 meter. Kedalaman penggalian ini membuat pemandangan bibir danau menjadi seperti belanga hijau yang dalam. Sebab, di pinggang danau tersebut sudah tumbuh pepohonan tanaman hutan yang dipelihara oleh warga sekitar karena dilarang ditebang.
Kini, keadaan danau dengan segala potensinya itu tersaji apa adanya. Padahal, masa lalu, yakni pada era 80-an, danau ini menjadi rujukan banyak warga Lampung untuk mencari tempat rekreasi. Setiap Lebaran dan waktu-waktu tertentu, pertunjukan musik digelar. Pengunjung membanjir ke lokasi ini.
Potensi ini sungguh sayang jika tetap ditelantarkan oleh pemerintah Lampung Timur. Sebab, minimnya fasilitas pariwisata di Lampung Timur telah menggiring warganya keluar dari Lamtim, Lampung, bahkan ke luar provinsi untuk mencari tempat rekreasi.
Meskipun demikian, pengunjung tempat nan sejuk ini tetap mengalir pada hari Minggu dan hari-hari libur. Mayoritas pengunjung mengendarai sepeda motor dengan mencangklong tas berisi alat pancing. Yang lainnya, adalah remaja berpasang-pasangan yang memanfaatkan sejuk dan rimbunnya lokasi danau yang indah.
Para pemancing tidak hadir di kolam besar itu dari satu pintu. Mereka merangsek ke beberapa sisi danau dengan menembus belukar melalui desa sekitar. Tak heran jika terlihat dari satu sisi, pemancing berada di ujung sana yang serasa tak ada jalan.
Beberapa pemancing mengaku melewatkan waktu dan menyalurkan hobi sambil mencari ikan. "Yang banyak ikan nila. Ada juga ikan patin. Selain itu, ya ikan liar seperti gabus dan betok. Dulunya katanya ditebar benih. Kalau pas musim calak (ikan mau makan), ya kadang dapat banyak. Tapi, sekarang lagi kurang calak," kata Mulyono, warga Sri Wangi, Lampung Timur.
Di tengah sulitnya menciptakan objek wisata di daerah, Danau Jepara adalah benih yang siap tumbuh. Danau indah dan pengunjung alamiah yang datang tanpa diundang adalah modal pemerintah daerah untuk mengembangkan. Dengan sedikit sentuhan, niscaya Danau Jepara akan menjadi solusi dan program dinas Pariwisata yang aduhai.
Pembangunan beberapa gazebo di pinggir danau, pemancangan dermaga perahu wisata atau bebek goes, panggung tempat pentas, dan aneka fasilitas rekreasi lain pasti mengundang warga datang.
Tempat ini juga bisa menjadi "celah" bagi Dinas Budaya dan Pariwisata untuk menolong para seniman daerah agar bisa tampil secara berkala. Beberapa kesenian daerah bisa dijadwal bergilir untuk pentas di lokasi itu dengan difasilitasi Pemkab. Sebab, kesenian lokal tidak akan mampu bersaing dan tidak ada lagi yang akan menanggap jika tidak pemerintah yang memfasilitasi.
Tidak sulit dan tidak terlalu mahal untuk mengundang ribuan orang untuk hadir di danau ini, saat ini. Jika Dinas Pariwisata mengumumkan akan menebar satu ton ikan di danau itu dan masyarakat dipersilakan bebas memancing, ribuan orang akan berduyun-duyun ke lokasi nan asri itu. Suatu harga yang tidak seberapa bagi Pemkab. Apalagi untuk kegembiraan rakyatnya. Mau dicoba? n CHAIRUDIN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Langit biru menggantung mega-mega putih di atas gelaran air di ceruk seluas 200 hektare. Belanga raksasa berdinding hijau rumput di pantainya dan pepohonan lestari di pagarnya itu adalah Danau Jepara, Lampung Timur. Di tempat ini, kini ratusan pemancing dan puluhan pasang muda-mudi selalu menikmati hari-hari sela dari kerja. Ya, hiburan seadanya.
Memasuki kawasan konservasi yang dibangun Dinas PU Pengairan pada 1974 itu, suasana sejuk dibangun oleh tanaman hutan yang dibiarkan lestari di lokasi ini. Aura perdesaan mendukung rasa hati yang nyaman dan jauh dari ancaman. Menelusup jalan dengan konstruksi aspal hotmix®MDBU¯ dari jalan lintas pantai timur Way Jepara, keasrian sudah mengemuka. Desa-desa yang dikenal sebagai "lumbung TKI" di Lampung Timur itu menyediakan pemandangan rumah-rumah permanen nan bagus di tengah desa. Kita terasa berada pada kampung yang gemah ripah loh jinawi.
Menjelang bendungan, jalan menanjak dengan payung rimbun pohon rindang menyambut. Berikutnya, aroma air danau terasa menyiram bersama angin yang menyapu permukaan danau. Sebentar kemudian, kulai air danau nan bening itu tergelar. Tidak terlalu luas memang. Namun itu justru membuat danau itu tidak terasa seram jika dimanfaatkan untuk sarana rekreasi.
Kondisi sekarang yang dibiarkan seadanya memang membangun kesan alami. Hanya ada beberapa unit bangunan di atas bendungan pengendali pintu air yang berfungsi sebagai aula mini, kantor, dan rumah penjaga yang merangkap membuka warung sederhana. Fasilitas dan peralatan untuk mengendalikan bendungan cukup terawat. Namun, debit air danau yang tidak maksimal membuat fasilitas ini tidak difungsikan.
Memandang ke arah danau, mata dan tubuh tertumbuk pada arus angin yang menerjang dari air. Silir, dingin, sejuk. Di tengah danau, ada karamba apung yang tampaknya kurang dirawat. Sementara di bibir-bibir danau, puluhan pemancing asyik memanteng pelampung yang dikendalikan dengan senar dan joran yang siap dikedut.
Danau yang berada di Kecamatan Way Jepara itu semula hanya seluas 5 hektare. Pemerintah melihat potensi ini bisa dimanfaatkan sebagai waduk yang bisa mengairi sawah di daerah hilirnya. Lalu, pada 1972, dilakukan perluasan danau sehingga menjadi sekitar 200 hektare.
Perluasan ini menjadikan bentuk danau menjadi sangat baik. Di bagian barat yang berbatasan dengan Desa Sumur Bandung, kedalaman danau dari permukaan tanah sebelumnya menjadi sangat tinggi, yakni mencapai 50 meter. Kedalaman penggalian ini membuat pemandangan bibir danau menjadi seperti belanga hijau yang dalam. Sebab, di pinggang danau tersebut sudah tumbuh pepohonan tanaman hutan yang dipelihara oleh warga sekitar karena dilarang ditebang.
Kini, keadaan danau dengan segala potensinya itu tersaji apa adanya. Padahal, masa lalu, yakni pada era 80-an, danau ini menjadi rujukan banyak warga Lampung untuk mencari tempat rekreasi. Setiap Lebaran dan waktu-waktu tertentu, pertunjukan musik digelar. Pengunjung membanjir ke lokasi ini.
Potensi ini sungguh sayang jika tetap ditelantarkan oleh pemerintah Lampung Timur. Sebab, minimnya fasilitas pariwisata di Lampung Timur telah menggiring warganya keluar dari Lamtim, Lampung, bahkan ke luar provinsi untuk mencari tempat rekreasi.
Meskipun demikian, pengunjung tempat nan sejuk ini tetap mengalir pada hari Minggu dan hari-hari libur. Mayoritas pengunjung mengendarai sepeda motor dengan mencangklong tas berisi alat pancing. Yang lainnya, adalah remaja berpasang-pasangan yang memanfaatkan sejuk dan rimbunnya lokasi danau yang indah.
Para pemancing tidak hadir di kolam besar itu dari satu pintu. Mereka merangsek ke beberapa sisi danau dengan menembus belukar melalui desa sekitar. Tak heran jika terlihat dari satu sisi, pemancing berada di ujung sana yang serasa tak ada jalan.
Beberapa pemancing mengaku melewatkan waktu dan menyalurkan hobi sambil mencari ikan. "Yang banyak ikan nila. Ada juga ikan patin. Selain itu, ya ikan liar seperti gabus dan betok. Dulunya katanya ditebar benih. Kalau pas musim calak (ikan mau makan), ya kadang dapat banyak. Tapi, sekarang lagi kurang calak," kata Mulyono, warga Sri Wangi, Lampung Timur.
Di tengah sulitnya menciptakan objek wisata di daerah, Danau Jepara adalah benih yang siap tumbuh. Danau indah dan pengunjung alamiah yang datang tanpa diundang adalah modal pemerintah daerah untuk mengembangkan. Dengan sedikit sentuhan, niscaya Danau Jepara akan menjadi solusi dan program dinas Pariwisata yang aduhai.
Pembangunan beberapa gazebo di pinggir danau, pemancangan dermaga perahu wisata atau bebek goes, panggung tempat pentas, dan aneka fasilitas rekreasi lain pasti mengundang warga datang.
Tempat ini juga bisa menjadi "celah" bagi Dinas Budaya dan Pariwisata untuk menolong para seniman daerah agar bisa tampil secara berkala. Beberapa kesenian daerah bisa dijadwal bergilir untuk pentas di lokasi itu dengan difasilitasi Pemkab. Sebab, kesenian lokal tidak akan mampu bersaing dan tidak ada lagi yang akan menanggap jika tidak pemerintah yang memfasilitasi.
Tidak sulit dan tidak terlalu mahal untuk mengundang ribuan orang untuk hadir di danau ini, saat ini. Jika Dinas Pariwisata mengumumkan akan menebar satu ton ikan di danau itu dan masyarakat dipersilakan bebas memancing, ribuan orang akan berduyun-duyun ke lokasi nan asri itu. Suatu harga yang tidak seberapa bagi Pemkab. Apalagi untuk kegembiraan rakyatnya. Mau dicoba? n CHAIRUDIN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Wisata Pendidikan: 'Refreshing' Sekaligus Menambah Pengetahuan
BANDAR LAMPUNG--Visi Kota Bandar Lampung menjadi kota pendidikan sebuah keniscayaan. Selain terdapat sekolah-sekolah unggulan, seperti sekolah rintisan berstandar internasional SMPN 1, SMPN 2, SMAN 2, dan SMAN 9, di Kota Tapis Berseri ini juga tersedia lokasi wisata pendidikan.
Museum Lampung adalah salah satu tujuan wisata pendidikan dari sekolah di berbagai daerah. Siswa diajak mengunjungi museum yang mengoleksi benda-benda bersejarah Lampung. Mulai dari senjata usang para pejuang Lampung, batu gilingan untuk meramu makanan dan obat, sampai kepada kain tapis dengan berbagai corak adat yang ada di Lampung.
"Kami sengaja mengajak siswa ke museum Lampung sebagai praktek pelajaran sejarah. Supaya siswa juga mengenal benda-benda sejarah secara langsung," kata salah satu pengunjung yang juga guru SMP di Bandar Lampung.
Selain museum Lampung, Perpustakaan Daerah Lampung (Perpusda) juga telah menjadi tujuan wisata pendidikan. Terutama di kala masa liburan.
Perpustakaan
Seperti yang tampak pada liburan Idulfitri belum lama ini, puluhan pelajar dan mahasiswa asyik membaca buku di ruang baca perpustakaan. Pengunjung datang secara silih berganti.
Di depan meja, Ria Astria dan Evalina, mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Tanjungkarang, Bandar Lampung, menumpuk enam buku tentang kesehatan wanita.
Dua mahasiswa jurusan analis itu sudah menginjak semester terakhir dan sedang mengerjakan karya tulis ilmiah (KTI) sebagai syarat kelulusan. Ria Astria mengatakan koleksi buku-buku kesehatan, keperawatan, dan kebidanan cukup banyak tersedia, tetapi koleksi buku analis yang berkutat di laboratorium masih minim.
"Buku-buku untuk analis masih sedikit, selain ke perpustakaan kita juga mencari referensi di internet dan toko buku," ujarnya.
Menurut dia, membaca di perpustakaan lebih asyik daripada di toko buku karena tersedia tempat baca. Sedangkan di toko buku, dia harus berdiri berjam-jam lamanya. Di perpustakaan, tanpa terasa dia sudah duduk selama 5 jam, datang pukul 11.00--15.00.
Dua kali ke perpustakaan daerah, Evalina sudah mengantongi dua buku yang dipinjam untuk dibaca di rumah, yaitu buku atlas saku hematologi dan pustaka pintar kesehatan wanita.
"Buku-buku ini masih bersifat kesehatan umum, belum menjurus ke analis dan laboran," kata Evina.
Petugas perpustakaan memperbolehkan peminjaman buku untuk dibawa pulang selama satu minggu, tetapi apabila pengembalian telat bisa didenda uang.
Selain mengoleksi buku mata pelajaran dan buku kuliah, Perpusda juga mengoleksi buku umum, sastra, dan komik. Di sudut ruangan, terlihat siswa yang asyik membaca komik tanpa mempedulikan pengunjung yang datang silih berganti. Sesekali dia hanya melirik ke bangku di sebelahnya yang diduduki oleh pengunjung yang baru datang.
Toko Buku
Toko buku di Bandar Lampung juga diserbu siswa di kala liburan. Toko buku besar di Bandar Lampung memiliki koleksi yang lebih lengkap dibandingkan dengan daerah lain. Salah satunya Toko Buku Gramedia, telah menjadi tujuan wisata pendidikan bagi sekolah-sekolah di daerah. SD 1 Fransiskus Pringsewu misalnya, mengajak 90 siswanya wisata ke Toko Buku Gramedia Bandar Lampung. Siswa tidak hanya dikenalkan dengan komik, CD pembelajaran, tetapi juga ada boneka beraneka bentuk dan warna.
Siswa SMAN 1 Kalianda, Lampung Selatan, Wayan Ratno Edi dan Made Wirata Nungrat, juga sengaja datang ke toko buku itu sekadar mengisi hari libur.
Mereka mencari buku keterampilan komputer dan kumpulan soal masuk Sekolah Tinggi Akuntansi (STAN). Wayan yang tinggal di Desa Bali Nuraga, Way Panji, Lamsel, itu rela mengeluarkan uang Rp36 ribu untuk ongkos pulang-pergi.
Mereka sering memanfaatkan waktu libur sekolah untuk jalan-jalan ke mal dan toko buku di Bandar Lampung.
Cintya Levina, siswa kelas IX SMP Xaverius, sudah menggenggam tiga buku bacaan favoritnya, Charlie, Kumpulan Cerpen Banyol 3.600 Detik, dan komik. Dia tidak hanya membeli buku bacaan, tetapi juga buku mata pelajaran agama.
Menurut Cintya, sekolahnya tidak hanya mendapatkan buku dari BOS. Sehingga siswa membeli semua buku mata pelajaran. "Ke toko buku juga bisa dikatakan refreshing lo."
Siswa SMP Xaverius Pahoman, Gabriella Genevine, juga membeli buku pelajaran agama dan buku kumpulan cerpen Malaikat Jatuh. "Ke toko buku, selain dapat menambah pengetahuan, juga dapat menghilangkan kejenuhan atau sekadar refreshing," ujarnya. RINDA MULYANI/K-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
Museum Lampung adalah salah satu tujuan wisata pendidikan dari sekolah di berbagai daerah. Siswa diajak mengunjungi museum yang mengoleksi benda-benda bersejarah Lampung. Mulai dari senjata usang para pejuang Lampung, batu gilingan untuk meramu makanan dan obat, sampai kepada kain tapis dengan berbagai corak adat yang ada di Lampung.
"Kami sengaja mengajak siswa ke museum Lampung sebagai praktek pelajaran sejarah. Supaya siswa juga mengenal benda-benda sejarah secara langsung," kata salah satu pengunjung yang juga guru SMP di Bandar Lampung.
Selain museum Lampung, Perpustakaan Daerah Lampung (Perpusda) juga telah menjadi tujuan wisata pendidikan. Terutama di kala masa liburan.
Perpustakaan
Seperti yang tampak pada liburan Idulfitri belum lama ini, puluhan pelajar dan mahasiswa asyik membaca buku di ruang baca perpustakaan. Pengunjung datang secara silih berganti.
Di depan meja, Ria Astria dan Evalina, mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Tanjungkarang, Bandar Lampung, menumpuk enam buku tentang kesehatan wanita.
Dua mahasiswa jurusan analis itu sudah menginjak semester terakhir dan sedang mengerjakan karya tulis ilmiah (KTI) sebagai syarat kelulusan. Ria Astria mengatakan koleksi buku-buku kesehatan, keperawatan, dan kebidanan cukup banyak tersedia, tetapi koleksi buku analis yang berkutat di laboratorium masih minim.
"Buku-buku untuk analis masih sedikit, selain ke perpustakaan kita juga mencari referensi di internet dan toko buku," ujarnya.
Menurut dia, membaca di perpustakaan lebih asyik daripada di toko buku karena tersedia tempat baca. Sedangkan di toko buku, dia harus berdiri berjam-jam lamanya. Di perpustakaan, tanpa terasa dia sudah duduk selama 5 jam, datang pukul 11.00--15.00.
Dua kali ke perpustakaan daerah, Evalina sudah mengantongi dua buku yang dipinjam untuk dibaca di rumah, yaitu buku atlas saku hematologi dan pustaka pintar kesehatan wanita.
"Buku-buku ini masih bersifat kesehatan umum, belum menjurus ke analis dan laboran," kata Evina.
Petugas perpustakaan memperbolehkan peminjaman buku untuk dibawa pulang selama satu minggu, tetapi apabila pengembalian telat bisa didenda uang.
Selain mengoleksi buku mata pelajaran dan buku kuliah, Perpusda juga mengoleksi buku umum, sastra, dan komik. Di sudut ruangan, terlihat siswa yang asyik membaca komik tanpa mempedulikan pengunjung yang datang silih berganti. Sesekali dia hanya melirik ke bangku di sebelahnya yang diduduki oleh pengunjung yang baru datang.
Toko Buku
Toko buku di Bandar Lampung juga diserbu siswa di kala liburan. Toko buku besar di Bandar Lampung memiliki koleksi yang lebih lengkap dibandingkan dengan daerah lain. Salah satunya Toko Buku Gramedia, telah menjadi tujuan wisata pendidikan bagi sekolah-sekolah di daerah. SD 1 Fransiskus Pringsewu misalnya, mengajak 90 siswanya wisata ke Toko Buku Gramedia Bandar Lampung. Siswa tidak hanya dikenalkan dengan komik, CD pembelajaran, tetapi juga ada boneka beraneka bentuk dan warna.
Siswa SMAN 1 Kalianda, Lampung Selatan, Wayan Ratno Edi dan Made Wirata Nungrat, juga sengaja datang ke toko buku itu sekadar mengisi hari libur.
Mereka mencari buku keterampilan komputer dan kumpulan soal masuk Sekolah Tinggi Akuntansi (STAN). Wayan yang tinggal di Desa Bali Nuraga, Way Panji, Lamsel, itu rela mengeluarkan uang Rp36 ribu untuk ongkos pulang-pergi.
Mereka sering memanfaatkan waktu libur sekolah untuk jalan-jalan ke mal dan toko buku di Bandar Lampung.
Cintya Levina, siswa kelas IX SMP Xaverius, sudah menggenggam tiga buku bacaan favoritnya, Charlie, Kumpulan Cerpen Banyol 3.600 Detik, dan komik. Dia tidak hanya membeli buku bacaan, tetapi juga buku mata pelajaran agama.
Menurut Cintya, sekolahnya tidak hanya mendapatkan buku dari BOS. Sehingga siswa membeli semua buku mata pelajaran. "Ke toko buku juga bisa dikatakan refreshing lo."
Siswa SMP Xaverius Pahoman, Gabriella Genevine, juga membeli buku pelajaran agama dan buku kumpulan cerpen Malaikat Jatuh. "Ke toko buku, selain dapat menambah pengetahuan, juga dapat menghilangkan kejenuhan atau sekadar refreshing," ujarnya. RINDA MULYANI/K-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 November 2008
November 14, 2008
Teater Garasi Sukses Bawakan Monolog 'Ophelia'
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Garasi Yogyakarta sukses merampungkan pertunjukan selama dua hari sejak 12 November lalu. Pertunjukan monolog Ophelia; Rahasia Kolam Kematian di Taman Budaya Lampung itu diyakini pengamat teater Iswadi Pratama sebagai pengayaan khazanah dunia teater di Lampung.
"Kini tidak ada klaim untuk mengatakan suatu nilai pertunjukan yang paling benar karena ada sekian ribu pendekatan yang digunakan. Paling penting adalah mampu memberikan kebahagiaan estetika. Ada rasa bahagia dan indah yang dibagikan kepada penikmat teater," paparnya dalam diskusi pascapertunjukan teater berdurasi 45 menit tersebut, Kamis (13-11).
Monolog yang diperankan Citra Pratiwi ini mampu menguras perhatian kalangan pelajar yang juga aktif di dunia teater. Citra juga ambil bagian sebagai sutradara. Naskah yang ditulis Ugoran Prasad dan Citra ini mengadopsi kisah Hamlet karya Shakespeare. Di balik pementasan ini, tim pendukung adalah Andy Seno Aji (perancang artistik), Meko Manna dan Warsito (pewujud artistik), Chandra Hutagoal (imaji visual), Septian Dwirima (perancang dan penata suara), Banjar Tri Andaru (penata cahaya), Gemaila Fea G. (pewujud kostum dan properti), manajer panggung dan produksi masing-masing Meko Manna dan Lusia Neti Cahyani.
Ophelia dalam monolog mampu perankan lima tokoh berdasar pada karakternya, yaitu Gertrude, ratu yang obsesif; Claudius, laki-laki lemah yang menjadi raja; Hamlet, anak muda yang gelisah; dan, Ophelia, gadis muda yang terperangkap dalam keinginan-keinginan sendiri.
Teater Garasi berdiri tahun 1993 adalah komunitas kreatif dan laboratorium penciptaan teater yang berdomisili di Yogyakarta. Teater ini dikenal karena komitmennya mengembangkan dan menciptakan karya pertunjukan teater yang segar dan genuine, berbasis pada kajian atas tradisi seni pertunjukan yang ada, menggabungkan media, sensibilitas, dan citra kontemporer.
Di bawah arahan Direktur Artistik Yudi Ahmad Tajudin dan Direktur Eksekutif Kusworo Bayu Aji, sejak 2004, teater Garasi berhasil mempresentasikan karya-karyanya di panggung internasional seperti Insomnia-48 di Singapura (2004), Festival In Transit yang diselenggarakan The House of World Cultures, Berlin (2005), dan Physical Theater Festival dan The Saison Foundation, Tokyo (2005 & 2006). n DWI/K-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 November 2008
"Kini tidak ada klaim untuk mengatakan suatu nilai pertunjukan yang paling benar karena ada sekian ribu pendekatan yang digunakan. Paling penting adalah mampu memberikan kebahagiaan estetika. Ada rasa bahagia dan indah yang dibagikan kepada penikmat teater," paparnya dalam diskusi pascapertunjukan teater berdurasi 45 menit tersebut, Kamis (13-11).
Monolog yang diperankan Citra Pratiwi ini mampu menguras perhatian kalangan pelajar yang juga aktif di dunia teater. Citra juga ambil bagian sebagai sutradara. Naskah yang ditulis Ugoran Prasad dan Citra ini mengadopsi kisah Hamlet karya Shakespeare. Di balik pementasan ini, tim pendukung adalah Andy Seno Aji (perancang artistik), Meko Manna dan Warsito (pewujud artistik), Chandra Hutagoal (imaji visual), Septian Dwirima (perancang dan penata suara), Banjar Tri Andaru (penata cahaya), Gemaila Fea G. (pewujud kostum dan properti), manajer panggung dan produksi masing-masing Meko Manna dan Lusia Neti Cahyani.
Ophelia dalam monolog mampu perankan lima tokoh berdasar pada karakternya, yaitu Gertrude, ratu yang obsesif; Claudius, laki-laki lemah yang menjadi raja; Hamlet, anak muda yang gelisah; dan, Ophelia, gadis muda yang terperangkap dalam keinginan-keinginan sendiri.
Teater Garasi berdiri tahun 1993 adalah komunitas kreatif dan laboratorium penciptaan teater yang berdomisili di Yogyakarta. Teater ini dikenal karena komitmennya mengembangkan dan menciptakan karya pertunjukan teater yang segar dan genuine, berbasis pada kajian atas tradisi seni pertunjukan yang ada, menggabungkan media, sensibilitas, dan citra kontemporer.
Di bawah arahan Direktur Artistik Yudi Ahmad Tajudin dan Direktur Eksekutif Kusworo Bayu Aji, sejak 2004, teater Garasi berhasil mempresentasikan karya-karyanya di panggung internasional seperti Insomnia-48 di Singapura (2004), Festival In Transit yang diselenggarakan The House of World Cultures, Berlin (2005), dan Physical Theater Festival dan The Saison Foundation, Tokyo (2005 & 2006). n DWI/K-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 November 2008
November 10, 2008
2010, Lampung Tuan Rumah Temu Sastra MPU
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Temu Sastra III Mitra Praja Utama (MPU) yang berlangsung di Lembang belum lama ini merekomendasikan Temu Sastra V MPU tahun 2010 ditetapkan di Lampung.
Selain itu, kegiatan Sastra MPU yang direkomendasikan pada Temu Sastra III MPU di Lembang akan berlangsung setiap tahun. Pasalnya kegiatan ini merupakan bagian tidak terpisah dari kerja sama antarprovinsi yang bergabung dalam MPU. Pada 2009 Jawa Tengah sebagai tuan rumah.
Rekomendasi lain, pemda masing-masing diharapkan dapat memfasilitasi sastrawannya yang diundang mengikuti Temu Satsra MPU. Sebab itu, pemda (Dinas Budpar) setiap provinsi diminta menganggarkan kegiatan tersebut.
Pada Temu Sastra IV MPU di Jawa Tengah, kurator ditunjuk Triyanto Triwikromo, Dorothea Rosa Herliany, dan yang ditunjuk Budpar setempat. n TRI/K-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 November 2008
Selain itu, kegiatan Sastra MPU yang direkomendasikan pada Temu Sastra III MPU di Lembang akan berlangsung setiap tahun. Pasalnya kegiatan ini merupakan bagian tidak terpisah dari kerja sama antarprovinsi yang bergabung dalam MPU. Pada 2009 Jawa Tengah sebagai tuan rumah.
Rekomendasi lain, pemda masing-masing diharapkan dapat memfasilitasi sastrawannya yang diundang mengikuti Temu Satsra MPU. Sebab itu, pemda (Dinas Budpar) setiap provinsi diminta menganggarkan kegiatan tersebut.
Pada Temu Sastra IV MPU di Jawa Tengah, kurator ditunjuk Triyanto Triwikromo, Dorothea Rosa Herliany, dan yang ditunjuk Budpar setempat. n TRI/K-2
Sumber: Lampung Post, Senin, 10 November 2008
November 9, 2008
Pesona Lombok Ranau II 2008: Pesta Pariwisata Berbingkai Budaya
MINGGU pagi, 2 November 2008, Pekon Lombok di Kecamatan Sukau, Lampung Barat, begitu semarak. Satu pesta budaya bertajuk Pesona Lombok Ranau digelar untuk yang kedua kali. Gemerlap gelaran adat, tradisi, dan aneka budaya lokal dipertunjukkan.
-----------
Bening langit pagi itu memancarkan bias biru ke "belanga raksasa" yang menyimpan jutaan meter kubik air tawar nan jernih. Belanga itu adalah Danau Ranau. Telaga besar yang berada di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.
Cuaca amat bersahabat itu seolah menyambut gelaran pesta Danau Ranau ke dua hari itu. Semilir angin pegunungan nan sejuk ditingkahi seribuan tubuh yang bersiap mengikuti berbagai agenda yang direncanakan. Tak pelak, suasana meriah dan rileks mewarnai pertunjukan, perlombaan, dan event-event eksibisi, serta aksi-aksi spontanitas lainnya.
Pemanfaatan potensi berupa kearifan lokal adalah daya tarik sendiri. Sebab, kepenatan dunia modern yang hiruk-pikuk telah mengantar pikir kepada rasa kangen akan nostalgia masa lalu. Terlebih bagi orang-orang yang masa kecilnya berada di desa-desa dengan budaya yang kental dengan nilai-nilai tradisional.
Tradisi dan budaya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal atau mancanegara jika dikemas sedemikian rupa, apalagi didukung dengan latar belakang panorama alam yang masih natural.
Itulah salah satu fenomena yang mengundang sekitar 1.000-an masyarakat dari berbagai daerah di Lampung Barat, bahkan dari Bandar Lampung dan OKU Selatan, pada kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau II tahun 2008 yang dipusatkan di Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, pada Minggu (2-11).
Event yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lambar bersama Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR) menyajikan empat tangkai lomba. Yakni, lomba triatlon tradisonal yang merupakan rangkaian dari berenang menggunakan pelampung dari bambu (pampangan), kebut jukung dan maraton. Lalu, lomba tarik tambang jukung, lomba memanah ikan di Danau Ranau (ngera'as), dan kapal motor hias.
Berbagai gelaran ini menggambarkan tradisi dan budaya masyarakat sekitar Danau Ranau yang memanfaatkan danau terbesar ke dua di pulau Sumatera setelah Danau Toba itu, sebagai sumber penghidupan melalui potensi ikannya dipadukan dengan adat dan budaya yang dilestarikan secara turun temurun.
Senja mulai beranjak malam, debur ombak Danau Ranau menyapa pantai Dermaga Pekon Lombok dan keangkuhan Gunung Seminung mulai pudar diselimuti gelap, Sabtu (1-11), sekitar pukul 18.00, prosesi ritual nyekhampang (doa) menjadi awal dilaksanakannya kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau.
Ritual nyekhampang yang bermakna doa, diimami salah seorang tokoh masyarakat setempat dilaksakaan menjelang waktu senja. Upacara sakral secara turun temurun yang diyakini masyarakat setempat untuk menyampaikan doa, harapan, dan keinginan demi keselamatan dan keamanan dari hal-hal yang tidak diinginkan dalam prosesi Gebyar Pesona Lombok Ranau yang berlangsung satu hari penuh.
Kegiatan puncak Gebyar Pesona Lombok Ranau yang menjadi kebanggaan masyarakat sekitar Danau Ranau, dilaksanakan Minggu (2-11), masyarakat tumpah ruwah memadati sekitar dermaga kapal motor yang biasa digunakan sebagai pelabuhan tranportasi Pekon Lombok--Suka banjar, atau pelabuhan kapal motor jika ada wisatawan yang ingin mengitari Danau Ranau.
Cuaca begitu bersahabat, meskipun Lampung Barat terkenal memiliki curah hujan tinggi, tetapi pagi itu matahari bersinar terang. Masyarakat yang ingin menonton atau peserta sudah mulai memadati lokasi dermaga yang hanya berukuran sekitar 50 x 20 meter tersebut.
Suasana semakin semarak ketika sepuluhan kapal motor milik masyarakat dari Pekon Sukabanjar, Heni Arong, dan Pekon Lombok berputar-putar mengitar hamparan Danau Ranau dengan kilauan warna berbagai aksesori adat Lampung yang penuh makna. Sorak-sorai pun mengalir dari para pengunjung yang datang dari berbagai wilayah.
Tidak hanya sampai di situ, setelah Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri membuka acara tersebut, gemuruh pekik dan dukungan kian melengking ketika menyaksikan peserta lomba tarik tambang jukung adu strategi dan kekuatan untuk mengalahkan lawan masing-masing.
Lomba-lomba lainnya juga banyak menarik perhatian dan decak kagum, salah satunya lomba memanah (ngera'as). Fantastis, hanya dalam waktu 30 menit dan lokasi ditentukan, Ansori juara I memanah dengan alat tradisional itu berhasil mengumpulkan ikan dengan bobot 2 kilogram.
Tidak salah jika lomba ini menggambarkan bahwa Danau Ranau tidak hanya memiliki panorama keindahan, tetapi juga memiliki potensi ikan yang melimpah ruah. Meskipun hampir setiap hari nelayan mendapat banyak tangkapan, ikan tetap berkembang di Danau Ranau. Sebagian pengunjung yang datang dari luar Lampung Barat, yakni anggota klub sepeda gunung Rakata Cycling Club yang sempat bermalam di Pekon Lombok, tidak menyia-nyiakan momentum Gebyar Pesona Lombok Ranau untuk menyempatkan diri mengarungi Danau Ranau memandangi tepi danau di kaki Gunung Seminung.
Mendayung perahu bagi masyarakat adalah kegiatan yang biasa dikerjakan sehari-hari, bocah 7 tahun pun berani mengarungi Danau Ranau dengan perahu, tetapi jika dikemas dalam lomba tarik tambang. Menjadi pemandangan baru tidak hanya membutuhkan tenaga besar, tetapi strategi pun harus dipakai agar lawan tidak bisa menarik perahunya.
Ibu-ibu rumah tangga warga setempat juga ambil bagian. Mendayung perahu bukan hanya keahlian kaum adam, melainkan kaum hawa pun piawai menggunakan perahu dengan menggerakkan dayung.
Bersepeda Menyusuri Tepi Danau Ranau
Gebyar Pesona Lombok Ranau juga dimanfaatkan club sepeda gunung Rakata Cycling Club dari Bandar Lampung, rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang datang ke Pekon Lombok sejak Sabtu (1-11), menikmati pesona Danau Ranau dengan cara yang berbeda. Geografis Pekon Lombok yang dikelilingi perbukitan menjadi daya tarik tersendiri bagi komunitas tersebut untuk menikmati keindahan alam Lampung Barat.
Minggu (2-11), sekitar pukul 06.00, rombongan yang tinggal di rumah-rumah masyarakat itu mulai menyiapkan tunggangan yang sudah dipersiapkan sejak baru tiba. Di bawah komando ketua regu, rombongan bergerak meninggalkan perkampungan sasarannya menyusuri kaki Gunung Seminung lalu tepi Danau Ranau.
Jarak tempuh sekitar 4 kilometer yang sudah disiapkan Oka, anggota Rakata Cylcing Club, dengan medan bervariasi; jalan setapak, perbukitan curam dengan akhir lokasi Hotel dan Restoran Seminung Lombok Resort, yang menghadirkan pemandangan hamparan Danau Ranau. Di lokasi ini rombongan sempat melepas penat sejenak sebelum bergabung dengan masyarakat dalam kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau.
Pekon Lombok Dulu dan Sekarang
Puluhan tahun silam Masyarakat Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, seakan terpisah dari dunia luar hanya bisa dijangkau dengan waktu 2 jam perjalanan dengan kapal motor dari Banding Agung, OKU, Sumsel.
Harapan masyarakat bahwa akses jalan yang akan dilalui kendaraan roda dua dan empat akan terbuka sekitar tahun 1969. Mobil yang dipergunakan Gubernur Lampung Zainal Abdin Pagar Alam, pada masa itu memaksa masuk pekon yang berada di tepi Danau Ranau dan kaki Gunung Seminung.
Karena tidak ada jalan, mobil itu harus ditarik oleh masyarakat untuk melewati jurang-jurang terjal, curam di tengah belantara. "Kami terpaksa menarik mobil Pak Gubernur karena tidak ada jalan," kata Payin, salah seorang saksi hidup di masa itu.
Bersama perjalanan waktu sekitar tahun 1990-an, onderlaag dari Way Betanding, Pekon Buay Nyerupa, Kecamatan Sukau, mulai dibangun. Dan pada 2004 jalan menuju Pekon Lombok pun di-hotmix.
Dinamika dan ekonomi masyarakat semakin menggeliat, apalagi setelah Pemkab Lampung Barat membangun Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort, yang memiliki pesona keindahan paduan Danau Ranau dan Gunung Seminung. n HENDRI ROSADI/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 November 2008
-----------
Bening langit pagi itu memancarkan bias biru ke "belanga raksasa" yang menyimpan jutaan meter kubik air tawar nan jernih. Belanga itu adalah Danau Ranau. Telaga besar yang berada di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.
Cuaca amat bersahabat itu seolah menyambut gelaran pesta Danau Ranau ke dua hari itu. Semilir angin pegunungan nan sejuk ditingkahi seribuan tubuh yang bersiap mengikuti berbagai agenda yang direncanakan. Tak pelak, suasana meriah dan rileks mewarnai pertunjukan, perlombaan, dan event-event eksibisi, serta aksi-aksi spontanitas lainnya.
Pemanfaatan potensi berupa kearifan lokal adalah daya tarik sendiri. Sebab, kepenatan dunia modern yang hiruk-pikuk telah mengantar pikir kepada rasa kangen akan nostalgia masa lalu. Terlebih bagi orang-orang yang masa kecilnya berada di desa-desa dengan budaya yang kental dengan nilai-nilai tradisional.
Tradisi dan budaya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal atau mancanegara jika dikemas sedemikian rupa, apalagi didukung dengan latar belakang panorama alam yang masih natural.
Itulah salah satu fenomena yang mengundang sekitar 1.000-an masyarakat dari berbagai daerah di Lampung Barat, bahkan dari Bandar Lampung dan OKU Selatan, pada kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau II tahun 2008 yang dipusatkan di Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, pada Minggu (2-11).
Event yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lambar bersama Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR) menyajikan empat tangkai lomba. Yakni, lomba triatlon tradisonal yang merupakan rangkaian dari berenang menggunakan pelampung dari bambu (pampangan), kebut jukung dan maraton. Lalu, lomba tarik tambang jukung, lomba memanah ikan di Danau Ranau (ngera'as), dan kapal motor hias.
Berbagai gelaran ini menggambarkan tradisi dan budaya masyarakat sekitar Danau Ranau yang memanfaatkan danau terbesar ke dua di pulau Sumatera setelah Danau Toba itu, sebagai sumber penghidupan melalui potensi ikannya dipadukan dengan adat dan budaya yang dilestarikan secara turun temurun.
Senja mulai beranjak malam, debur ombak Danau Ranau menyapa pantai Dermaga Pekon Lombok dan keangkuhan Gunung Seminung mulai pudar diselimuti gelap, Sabtu (1-11), sekitar pukul 18.00, prosesi ritual nyekhampang (doa) menjadi awal dilaksanakannya kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau.
Ritual nyekhampang yang bermakna doa, diimami salah seorang tokoh masyarakat setempat dilaksakaan menjelang waktu senja. Upacara sakral secara turun temurun yang diyakini masyarakat setempat untuk menyampaikan doa, harapan, dan keinginan demi keselamatan dan keamanan dari hal-hal yang tidak diinginkan dalam prosesi Gebyar Pesona Lombok Ranau yang berlangsung satu hari penuh.
Kegiatan puncak Gebyar Pesona Lombok Ranau yang menjadi kebanggaan masyarakat sekitar Danau Ranau, dilaksanakan Minggu (2-11), masyarakat tumpah ruwah memadati sekitar dermaga kapal motor yang biasa digunakan sebagai pelabuhan tranportasi Pekon Lombok--Suka banjar, atau pelabuhan kapal motor jika ada wisatawan yang ingin mengitari Danau Ranau.
Cuaca begitu bersahabat, meskipun Lampung Barat terkenal memiliki curah hujan tinggi, tetapi pagi itu matahari bersinar terang. Masyarakat yang ingin menonton atau peserta sudah mulai memadati lokasi dermaga yang hanya berukuran sekitar 50 x 20 meter tersebut.
Suasana semakin semarak ketika sepuluhan kapal motor milik masyarakat dari Pekon Sukabanjar, Heni Arong, dan Pekon Lombok berputar-putar mengitar hamparan Danau Ranau dengan kilauan warna berbagai aksesori adat Lampung yang penuh makna. Sorak-sorai pun mengalir dari para pengunjung yang datang dari berbagai wilayah.
Tidak hanya sampai di situ, setelah Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri membuka acara tersebut, gemuruh pekik dan dukungan kian melengking ketika menyaksikan peserta lomba tarik tambang jukung adu strategi dan kekuatan untuk mengalahkan lawan masing-masing.
Lomba-lomba lainnya juga banyak menarik perhatian dan decak kagum, salah satunya lomba memanah (ngera'as). Fantastis, hanya dalam waktu 30 menit dan lokasi ditentukan, Ansori juara I memanah dengan alat tradisional itu berhasil mengumpulkan ikan dengan bobot 2 kilogram.
Tidak salah jika lomba ini menggambarkan bahwa Danau Ranau tidak hanya memiliki panorama keindahan, tetapi juga memiliki potensi ikan yang melimpah ruah. Meskipun hampir setiap hari nelayan mendapat banyak tangkapan, ikan tetap berkembang di Danau Ranau. Sebagian pengunjung yang datang dari luar Lampung Barat, yakni anggota klub sepeda gunung Rakata Cycling Club yang sempat bermalam di Pekon Lombok, tidak menyia-nyiakan momentum Gebyar Pesona Lombok Ranau untuk menyempatkan diri mengarungi Danau Ranau memandangi tepi danau di kaki Gunung Seminung.
Mendayung perahu bagi masyarakat adalah kegiatan yang biasa dikerjakan sehari-hari, bocah 7 tahun pun berani mengarungi Danau Ranau dengan perahu, tetapi jika dikemas dalam lomba tarik tambang. Menjadi pemandangan baru tidak hanya membutuhkan tenaga besar, tetapi strategi pun harus dipakai agar lawan tidak bisa menarik perahunya.
Ibu-ibu rumah tangga warga setempat juga ambil bagian. Mendayung perahu bukan hanya keahlian kaum adam, melainkan kaum hawa pun piawai menggunakan perahu dengan menggerakkan dayung.
Bersepeda Menyusuri Tepi Danau Ranau
Gebyar Pesona Lombok Ranau juga dimanfaatkan club sepeda gunung Rakata Cycling Club dari Bandar Lampung, rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang datang ke Pekon Lombok sejak Sabtu (1-11), menikmati pesona Danau Ranau dengan cara yang berbeda. Geografis Pekon Lombok yang dikelilingi perbukitan menjadi daya tarik tersendiri bagi komunitas tersebut untuk menikmati keindahan alam Lampung Barat.
Minggu (2-11), sekitar pukul 06.00, rombongan yang tinggal di rumah-rumah masyarakat itu mulai menyiapkan tunggangan yang sudah dipersiapkan sejak baru tiba. Di bawah komando ketua regu, rombongan bergerak meninggalkan perkampungan sasarannya menyusuri kaki Gunung Seminung lalu tepi Danau Ranau.
Jarak tempuh sekitar 4 kilometer yang sudah disiapkan Oka, anggota Rakata Cylcing Club, dengan medan bervariasi; jalan setapak, perbukitan curam dengan akhir lokasi Hotel dan Restoran Seminung Lombok Resort, yang menghadirkan pemandangan hamparan Danau Ranau. Di lokasi ini rombongan sempat melepas penat sejenak sebelum bergabung dengan masyarakat dalam kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau.
Pekon Lombok Dulu dan Sekarang
Puluhan tahun silam Masyarakat Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, seakan terpisah dari dunia luar hanya bisa dijangkau dengan waktu 2 jam perjalanan dengan kapal motor dari Banding Agung, OKU, Sumsel.
Harapan masyarakat bahwa akses jalan yang akan dilalui kendaraan roda dua dan empat akan terbuka sekitar tahun 1969. Mobil yang dipergunakan Gubernur Lampung Zainal Abdin Pagar Alam, pada masa itu memaksa masuk pekon yang berada di tepi Danau Ranau dan kaki Gunung Seminung.
Karena tidak ada jalan, mobil itu harus ditarik oleh masyarakat untuk melewati jurang-jurang terjal, curam di tengah belantara. "Kami terpaksa menarik mobil Pak Gubernur karena tidak ada jalan," kata Payin, salah seorang saksi hidup di masa itu.
Bersama perjalanan waktu sekitar tahun 1990-an, onderlaag dari Way Betanding, Pekon Buay Nyerupa, Kecamatan Sukau, mulai dibangun. Dan pada 2004 jalan menuju Pekon Lombok pun di-hotmix.
Dinamika dan ekonomi masyarakat semakin menggeliat, apalagi setelah Pemkab Lampung Barat membangun Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort, yang memiliki pesona keindahan paduan Danau Ranau dan Gunung Seminung. n HENDRI ROSADI/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 November 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)