October 20, 2014

Tesis Berbahasa Lampung?

Oleh Munaris


TABIK pun.

Ingat malam pertama? Bingung. Deg-degan. Nano-nano-lah yang dipikirkan. Ini, itu, bisa jadi inu. Begitulah kalau mau memulai sesuai yang baru. Hal yang dipaparkan pada tulisan ini juga nano-nano karena juga mengenai sesuatu yang baru. Bagaimana tidak, dalam tulisan ini dibahas mengenai tesis (karya ilmiah untuk S-2) yang ditulis dengan bahasa Lampung.

Pernahkah Anda membaca tesis berbahasa Lampung? Jawaban Anda tentu bisa Anda pahami. Sekalipun menugasi Hatim (tokoh utama The Adventure of Hatim), tidak akan menemukan tesis berbahasa Lampung di kolong langit ini. Namun, dua tahun lagi, kalau ada ibu mengidam nimang tesis berbahasa Lampung, kemungkinan bisa tertunaikan.


October 12, 2014

[Lampung Tumbai] Mahanay dan Moeli

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda


DALAM semua kasus pertikaian, kesaksian dari dua orang yang dianggap dapat dipercaya dianggap cukup untuk membuktikan kebenaran. Perempuan dan budak tidak diperbolehkan memberikan kesaksian, kecuali bila mereka berani bersumpah. Sumpah itu dilakukan di atas Alquran, di bawah bimbingan seorang ulama atau di kuburan seorang tetua atau kepala adat buai itu.

Gadis-gadis di Metro, 1932. (KITLV-Leiden)
Jika orang yang menuntut tidak mempunyai saksi, kebenaran atau kesalahan pihak lainnya dibuktikan dengan bantuan para dewa atau arwah nenek moyang. Ada empat cara pembuktian kesalahan. Dua di antaranya adalah dengan menggunakan api. Cara ini tidak diuraikan lebih lanjut oleh JHT.


September 29, 2014

Orang Lampung Akrab dengan Sastra Sejak Lama

ORANG Lampung seringkali menggunakan kata sindiran, ungkapan, kata-kata bersayap, pepatah atau peribahasa dengan ungkapan kata-kata indah lagi bernas serta mengandung arti yang mendalam.

"Masyarakat Lampung telah lama mengenal bahasa, aksara, sastra. Termasuk peribahasa yang merupakan bagian dari sastra," kata Iwan Nurdaya-Djafar saat Diskusi Buku Petatah-Petitih Lampung karya Iwan Nurdaya-Djafar dan Lelaki Dari Timur, Man from the East karya Mohsen Al-Guindy, Sabtu (27/9).


September 27, 2014

[Buku] Sastra Lisan Lampung sebagai Kearifan Lokal

Oleh Udo Z. Karzi**



Buku
Iwan Nurdaya-Djafar. 2013. Pepatah-Petitih Lampung. Sukadana: Dewan Kesenian Lampung Timur. xiii + 105 hlm.

SASTRA juga disebut  seni berbahasa dengan posisi yang sama dengan bentuk kesenian lainnya. Sastra tidak hanya dianggap sebagai alat penghibur, tetapi juga sebagai bentuk pengekpresian perasaan pengarangnya dengan menggunakan seni kebahasaan yang indah. Sastra dipertimbangkan sebagai karya seni karena pada pembangunan karya sastra para pengarangnya tidak memilih kata-kata secara acak tanpa memperhatikan nilai-nilai keindahan yang menjadi bagian wajib pada karya sastra. Seperti puisi, seorang penyair harus memperhatikan rima dan nada dari puisi yang dibangunnya dengan memilih kosakata yang tepat, sehingga karya sastra tersebut dapat menyampaikan apa yang menjadi tujuan pengarang tanpa harus mengurangi nilai bahasa.

Dalam khazanah sastra lama, berkembang sastra lisan yang karena kelisanannya jarang diketahui siapa pengarangnya atau pengarangnya yang tidak mau mengaku telah menciptakan karya sastra (?)


September 21, 2014

[Lampung Tumbai] Membunuh dan Dibunuh

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda


Radin Inten II
SEPENGETAHUAN JHT, orang Lampung adalah satu-satunya masyarakat yang tidak memiliki raja—yang memerintah dan memimpin seluruh atau sebagian daerah itu. Radeen Intang yang mulai berkiprah sejak 1808 bukan pengecualian. Dengan bantuan perompak-perompak Linga, ia berhasil berkuasa. 

Konon, Radeen Intang merupakan keturunan dari Dara Poeti—anak sulung Sabatang sehingga berhak berkuasa atas orang Lampung—yang merupakan keturunan dari anak bungsu Sabatang. Akan tetapi, entah dari mana sumbernya, JHT menyatakan anak-anak Sabatang, kecuali anak bungsu, meninggal dunia tanpa keturunan.

[Refleksi] Diskusi

Oleh Djadjat Sudradjat


DI negeri ini  kata "diskusi" kerap memunculkan konotasi tak sedap. Ia sebuah forum tukar pikiran, dialog, perdebatan, ruang mencari solusi sebuah soal, yang mestinya menyehatkan. Tapi, kemudian dipahami sebagi aktivitas banyak bicara tapi hampa makna. Sebab, sejak lama diskusi memang tak bertemu tuju. Diskusi berpokok dan bersoal tapi tak mengubah suatu hal. Ia akan seperti sedia kala.

Suasana akan kembali gaduh pada diskusi selanjutnya. Tapi, justru karena problem tak pernah diurai, diskusi justru jadi penting. Setidaknya ia jadi ruang "katarsis". Ruang penglepasan. Kanal yang meletupkan seluruh kejengkelan rupa-rupa problem. (Bukankah ini jauh lebih baik dari anarkisme di ruang publik?)  

September 17, 2014

Gubernur Ridho Ficardo akan Penuhi Janji Kampanye

Oleh Agusta Hidayatullah

GUBERNUR Lampung M Ridho Ficardo berjanji setelah 100 hari masa kepemimpinannya, akan memacu kinerja jajaran pemerintahannya untuk mencapai kemajuan daerah ini sehingga dapat memenuhi janji kampanyenya.

Gubernur Lampung M Ridho Ficardo (ketiga dari kanan), didampingi Wagub
Bachtiar Basri dan Kapolda Lampung, saat diskusi peluncuran buku "Dari
Oedin ke Ridho" di Bandarlampung, Rabu (17/9) petang.
(FOTO: LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY)
"Seratus hari pertama ini, kami memang terkesan kurang sigap dan tanggap, karena terus terang saya dan Pak Wagub masih penyesuaian. Tapi setelah ini, kami akan menaikkan ritme kerja kami agar harapan masyarakat untuk Lampung yang lebih baik dapat segera tercapai," kata Ridho, gubernur termuda hasil pilkada langsung, dalam peluncuran dan diskusi buku "Dari Oedin ke Ridho Kado 100 Hari Pemerintahan M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri", di Bandarlampung, Rabu (17/9) petang.


September 15, 2014

Buku 100 Hari Gubernur Ridho Telah Terbit

Oleh Budisantoso Budiman


Cover depan buku Dari Oedin ke Ridho: Kado 100
Hari Pemerintahan M Ridho Ficardo-Bachtiar Basr
i.
BUKU kumpulan artikel para pihak berjudul Dari Oedin ke Ridho: Kado 100 Hari Pemerintahan M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri telah terbit dan siap diluncurkan untuk dibedah bersama-sama isinya.

Penerbitan buku menyambut 100 hari pemerintahan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo-Wagub Bachtiar Basri ini merupakan kerja sama Indepth Publishing dan Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi Manusia (PKKPHAM) Fakultas Hukum Universitas Lampung bersama sejumlah pihak lainnya, menurut Tri Purna Jaya, dari Indepth Publishing, di Bandarlampung, Senin (15/9), telah selesai penerbitannya dan siap diluncurkan dalam waktu dekat.


September 14, 2014

Fakta dan Fiksi Lampung

Oleh Beni Setia


WUJUD sampul kumpalan cerpen Isbedy Stiawan Z.S. ini, Perempuan di Rumah Panggung (Siger Publiser, Lampung: 2013), unik. Seorang wanita, dengan dandanan modern, bersendiri menunggu di puncak tangga, menatap ke kejauhan. Warna kusam kersang berjamur mengesankan kelampauan, keterbiarkanan, kontras dengan kostum  yang kekinian. Alhasil, terhembus saran, itu nostalgia.

TAPIS CARNIVAL. Pergelaran Parade Lampung Culture dan Tapis Carnival
IV bertajuk The Legends and Glories of Lampung Culture merupakan
rangkaian puncak Festival Krakatau 2014, Minggu (31/8). Kegiatan itu
dibuka Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI
Sapta Nirwandar. (LAMPUNG POST/ZAINUDDIN)
Sebuah fakta. Seakan-akan yang akan diceritakan itu melulu kenyataan, hingga buru-buru dimentahkan dengan catatan tebal: Kitab Cerpen—mutlak fiksi. Dan si buku setebal 152 + viii halaman itu memang memuat 14 fiksi. Lalu apa yang dominan dari cerpen-cerpennya itu?


[Lampung Tumbai] Nenek-Moyangku Seekor Naga

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda


DI Pulau Jawa, Sulawesi, dan di tempat-tempat lain hanya Raja saja yang boleh dianggap sebagai keturunan dewa atau makhluk-makhluk langit yang turun ke bumi. Berbeda halnya dengan di Lampung. Semua orang Lampung mempunyai cikal-bakal yang tinggi.

Tapis Naga. (http://megabordir.blogspot.com)
Menurut cerita, nenek-moyang orang Lampung adalah seekor naga atau ular yang terbang dan akhirnya mendarat di ujung selatan Pulau Sumatera. Ia menetaskan beberapa butir telur. Setiap butir telur itu menjadi nenek-moyang salah satu marga. Legenda kedua tentang asal-mula orang Lampung mengisahkan tentang seorang lelaki yang tinggal di daratan Asia. Ia bernama Walli-Ollah. Ia berlayar di atas sebuah kapal yang terbuat dari kain berwarna putih. Namanya dan kain putih yang menjadi kapalnya menunjukkan kesaktiannya. Setelah berpetualang ke mana-mana, ia akhirnya mendarat di Pulau Sumatera, di sebelah utara Lampung.