March 20, 2017

Bincang-Bincang Bersama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Oleh Nanien Yuniar 

 

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam peluncuran novel "Semua Ikan di Langit" yang menjadi pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2016. (ANTARA News/Nanien Yuniar)


/1/

 

KARYA pertama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di dunia literasi muncul pada 2010 melalui novel berjudul "Indigo Girl". Setelah novel perdana, setiap tahun Ziggy meluncurkan buku-buku baru secara produktif. Dalam tujuh tahun, ia sudah menerbitkan 27 judul novel.

 

Pada 2015, "Di Tanah Lada" keluar sebagai juara kedua Sayembara Buku Novel Dewan Kesenian Jakarta.


February 21, 2016

Les Manuscrits Lampongs

Oleh Arman AZ


BARON Sloet van de Beele menjabat Gubernur Jenderal di Hindia Belanda tahun 1861 sampai 1866. Pada era itu, dia mengoleksi sejumlah naskah beraksara Lampung. Naskah yang ditulis di kulit kayu, kulit hewan, rotan, tanduk, dan kertas itu berasal dari beberapa tempat, seperti Krui dan Menggala. Oleh Baron, sekitar 40 naskah itu diserahkan kepada Van der Tuuk untuk  diteliti dan ditransliterasi ke bahasa Prancis. Hasil telaah Van der Tuuk atas permintaan Baron itu kemudian menjadi manuskrip berjudul Les Manuscrits Lampongs.

Dalam buku Khazanah Naskah, Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia, karya Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman, terbitan YOI-Ecole Francaise d’Extreme-Orient (1999) diterakan bahwa ”Sampai sekarang ini, buku tesebut merupakan sumber utama tentang tulisan Lampung”. Istilah “sumber utama” ini  nampaknya terburu-buru, jika tidak ingin disebut keliru, karena dari penelusuran data, sampai saat ini belum ditemukan hasil kajian atau hasil penelitian mengenai isi Les Manuscrits Lampongs.

February 17, 2016

Balada Kutukan dari Lampung Tempo Doeloe

Oleh Endri Kalianda


Masih lebih lamakah kami kau tindas?
Karena uang hatimu telah menjadi kebal,
tuli terhadap tuntutan kedadilan dan akal,
menantang hati lembut bergelora kekerasan.

BAIT pertama pada sajak Balada Kutukan yang berjudul Hari Terakhir Orang Belanda di Pulau Jawa itu terjemahan Chairil Anwar dan dimuat dalam buku HB. Jassin.

Sajak yang menjadi penanda, ada seorang penjajah yang mengakui, darahnya mendidih dan memberontak karena menyaksikan penderitaan rakyat yang disaksikan, ditindas oleh bangsanya.

February 9, 2016

Soal Tetasan Telur MDMD

Oleh Endri  Y


BUKU sajak berbahasa Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi  (MDMD) yang diterbitkan BE Press pada 2007 lalu, dianggap sebagai upaya mengerami telur kebudayaan. Menetaskan anak pinak kekayaan seni budaya Lampung.

Tidak ada yang meragukan kemampuan dan konsentrasi Udo Z Karzi. Bisa disebut, satu-satunya pemikir kebudayaan Lampung yang langsung menggelutinya dengan karya-karya. Penuh literasi dan mengungkap sederet fakta kontekstual lewat kontemplasi. Baik itu pada sejumlah esai, tulisan pop, artikel maupun puisi. Satu-satunya penulis yang memelopori lahirnya sajak-sajak berbahasa Lampung. Lewat buku Momentum, 2002 dan MDMD.


February 4, 2016

Tiga Prodi untuk FIB

Oleh Eko Sugiarto


“ANGIN surga” kembali berembus dari Universitas Lampung. Dalam tulisan berjudul “Unila Matangkan Fakultas Ilmu Budaya” (www.harianfajarsumatera.com), disebutkan bahwa Unila akan mewujudkan Fakultas Ilmu Budaya dan dua fakutas lain, yaitu Fakultas Teknologi Pertanian serta Fakultas Kemaritiman dan Perikanan.

Lagi-lagi, penulis menangkap sebuah keraguan yang secara tidak langsung muncul justru dari pemangku kepentingan, yaitu apakah adanya fakultas tersebut (dalam konteks tulisan ini FIB) sesuai dengan kebutuhan untuk pembangunan?

Membaca NMD dengan Strata Norma



Oleh Endri Y


BERUNTUNG, file berbentuk PDF yang sedang menuju percetakan  berjudul Sehimpun Sajak; November Musim Dingin (selanjut ditulis: NMD) karya Isbedy Stiawan ZS yang terbit awal tahun 2016, saya berkesempatan membacanya lebih dulu.

Akan tetapi, sebagai orang konvensional meski semenarik apa pun sebuah buku dalam format digital, tidak semaksimal ketika membacanya lewat versi cetak. Terlebih puisi. Sebab, sejak kecil saya diajari guru bahasa untuk menemukan estetika dan apa itu makna licentia poetica, atau leksikal dan semantis sintaksis, dimana diperlukan secara pelan membacanya, sambil tengkurap atau terlentang di kamar sebelum tidur. Sesekali terpejam dan merenungkan pemaknaan larik, itu semua hanya bisa dibaca lewat buku cetak. Jika di layar monitor, saya selalu sekadar melihat rentetan kalimat yang terkadang, tak berdampak apa-apa.

December 3, 2015

Bambu sebagai Ikon Wisata

Oleh Eko Sugiarto


AKHIR Minggu lalu, sebuah festival nasional digelar di Kabupaten Pringsewu. Festival yang digelar untuk mengapresiasi para seniman bambu ini diberi nama Festival Bambu Nusantara (FBN). Festival tahun ini adalah yang kesembilan. Tahun sebelumnya, festival ini juga digelar di Pringsewu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu definisi festival adalah “pesta rakyat”. Merujuk pada pengertian ini, sebuah festival seyogianya adalah sebuah pesta yang digelar oleh dan untuk (dinikmati) rakyat atau orang kebanyakan. Dengan kata lain, jika ada sebuah acara menggunakan kata “festival” tetapi tidak bisa (baca: sulit) diakses oleh orang kebanyakan, kita patut bertanya apakah masih pantas acara tersebut disebut sebagai festival?


December 1, 2015

Etika dan Estetika Berpadu dalam Zapin Nusantara

TARI BEDANA. Sanggar Angon Saka dari Lampung mengusung Tari Bedana Tradisi dalam Temu Zapin Nusantara 2015 di Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (28/11). 
GELARAN pentas tari Zapin dari seluruh daerah dalam Temu Zapin Nusantara 2015 yang ditaja di Plasa Insan Berprestasi, Gedung A Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Sabtu (28/11)  Jalan Sudirman, Jakarta, yang dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, berlangsung meriah.
 
Mendikbud Anis Baswedan dalam sambutannya mengatakan, dengan digelarnya Temu Zapin Nusantara hari ini, kita bersama menorehkan kembali perjalanan Zapin di kancah budaya nasional setelah hampir 30 tahunan. Diharapkan dengan gelaran ini kita memiliki perasaan keindonesian yang lebih kuat dan menghargai kebhinekaan.


November 30, 2015

Kreativitas Kunci Menulis Esai

MENULIS ESAI. Redaktur Pelaksana Fajar Sumatera Udo Z Karzi menyampaikan materi dalam Pelatihan Menulis Esai yang diselenggarakan LPM Natural FMIPA Unila, Sabtu (28/11). (FOTO: FAJAR SUMATERA/M BURHAN)
BANDARLAMPUNG, FS --Menulis esai memerlukan kreativitas penulisnya. Sebab, muatan imajinatif harus beriringan dengan kecerdasan. Selain itu juga dibutuhkan kemampuan menyatukan tiga seni menulis yaitu ilmiah, sastra, dan jurnalistik.

Redaktur Pelaksana Fajar Sumatera Udo Z Karzi  mengatakan itu saat menjadi pemateri pelatihan menulis esai yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Pers Natural FMIPA Universitas Lampung (Unila), di kampus FMIPA Unila, Sabtu (28/11).

November 24, 2015

Black Heritage Tour


Oleh Dyah Merta

HARI itu aku ikut rombongan Black Heritage Tour, semacam napak tilas bekas bangunan-bangunan yang menyimpan sejarah perbudakan di Amsterdam. Berangkat dari titik-temu di Centraal Station, tur bergerak ke arah Dam Square dengan jalan kaki, membelah keramaian dengan suhu 13 derajat dan mengabaikanVenustempel dan Museum Madame Tussauds.

Tur dimulai dari Royal Palace, gedung yang dibangun pada 1648 oleh arsitek Jacob van Campen dan Artus Quellinus. “Pada tahun 1949, Muhammad Hatta melakukan penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di situ,” ujar Wim Manuhutu, sejarawan Maluku yang ikut rombongan. Ratu Belanda Juliana didampingi Perdana Menteri Belanda Willem Drees menandatangani penyerahan kedaulatan (Sovereniteit Overdracht)atas Indonesia kepada Muhamad Hatta, Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat di ruang Burgerzaal. Momen ini menjadi babak pamungkas dari Konferensi Meja Bundar.