May 23, 2010

[Kehidupan] Kesadaran: Situs? Wah, Apa Itu?

Oleh Mahdi Muhammad & Ilham Khoiri

”SITUS megalitik Sekala Berak! Wah, apa itu?” Seorang warga balik bertanya sambil garuk-garuk kepala. Saat itu, kami tengah minta tolong ditunjukkan arah menuju lokasi situs megalitik yang kerap disambangi peneliti arkeologi Sumatera.

Anak-anak bermain di sekitar situs kuburan batu di Tanjung Aro, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Rabu (28/4). (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Jawaban serupa dilontarkan sejumlah warga lain. Beberapa orang mencoba memberi arah, tapi kadang malah menyesatkan. Perjalanan dari Kota Liwa menuju Situs Sekala Berak, di kawasan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat, akhir Mei itu pun tersendat-sendat.

Begitu tiba di lokasi, kami menyaksikan batu-batu besar megalitik yang mengesankan. Sejumlah warga tengah berjalan-jalan sore. Meski tinggal berdekatan dan kerap main ke situ, ternyata mereka juga kurang mengerti soal artefak bernilai tinggi itu.

”Maaf, saya tak tahu apa-apa soal batu-batu itu,” kata Maman Hakiki (50), warga Sumberjaya, sambil menunjuk batu menhir setinggi empat meteran. Sementara beberapa anak muda setempat nongkrong di areal situs yang lapang itu.

Situasi serupa juga berlangsung di Pagar Alam. Masyarakat yang tinggal di sekitar situs batu kubur atau arca ular melilit manusia di Tanjung Aro juga tak tahu-menahu soal benda bersejarah itu. Mereka malah sering mengaitkannya dengan legenda Si Pahit Lidah. ”Itu, kan, sepasang kekasih yang berhubungan intim yang dililit ular, terus dikutuk Si Pahit Lidah jadi batu,” kata Sunainah (60), warga Tanjung Aro, Pagar Alam.

Di Kerinci juga ditemui hal serupa. Begitulah, masyarakat di Lampung, Sumsel, dan Jambi memang tak banyak tahu soal kekayaan tinggalan sejarah di kampung halamannya sendiri. Kalaulah menyadari keberadaannya, mereka kerap meyakininya sebagai bagian tempat sakral dan perlu diberi sesajen.

Jelas tak sepenuhnya mereka salah. Soalnya, informasi yang tertera di situs-situs itu juga sangat minim atau malah kadang tidak ada sama sekali. Bahkan, ada juru pelihara yang tak tahu-menahu soal peninggalan bersejarah yang dijaganya.

”Saya baru ditunjuk jadi jupel. Saya juga tak bisa menerangkan apa-apa,” kata Pengke Aguslan Munteh (20), juru pelihara (jupel) Situs Tegur Wangi, Dempo Utara, yang ditunjuk Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian situs itu dibiarkan terbengkalai begitu saja. Masyarakat malah iseng mengusili peninggalan masa lalu itu. Candi Bahal I di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, misalnya, dipenuhi coret-coretan. Sisa-sisa pembakaran makanan serta sisa pakaian tertinggal di halaman candi.

”Masyarakat belum punya rasa memiliki atas artefak-artefak sejarah yang membuktikan kejayaan masa lalunya,” kata Stanov Purnawibowo, arkeolog asal Balai Arkeologi Medan, saat ditemui di Candi Bahal.

Ironi

Ironi lebih besar menyangkut kehidupan di sekitar situs-situs bersejarah di pantai barat Sumatera. Bertolak belakang dengan kejayaan masa lalu, kehidupan masyarakat saat ini justru memprihatinkan. Keterbelakangan terpampang jelas dari kota-kota yang dulu pernah jadi pusat kebudayaan masa lalu, seperti Liwa, Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, atau Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Infrastruktur dan fasilitas publik di kota-kota itu minim. Selain jalan raya yang rusak parah, sebagian lokasi harus ditempuh dengan perahu lewat sungai. Rumah-rumah penduduk tak terawat dan ekonomi merayap lamban.

Peradaban masa lalu itu seperti terputus begitu saja dengan masa kini. Masyarakat pantai barat Sumatera dulu sudah mengembangkan teknologi perikanan laut dan perdagangan internasional. Kini, pamor jalur laut dan perikanan itu meredup.

Para nelayan di Pasar Pantai, Bengkulu, misalnya, tak mewarisi teknologi penangkapan ikan laut dari masa lalu. Pada zaman modern ini, mereka masih mengandalkan perahu kecil, pancing, dan jaring terbatas.

”Katanya, nelayan dulu melaut sampai ke mancanegara. Sekarang, kami melaut hanya beberapa mil dari pantai. Hasilnya juga pas-pasan,” kata Edison (55), nelayan di Pasar Pantai.

Situasi serupa juga terjadi di Barus. Di kota yang terkenal dengan produksi kapur barus ini, sekarang malah sulit mencari kayu penghasil kapur barus. ”Kalaupun ada, kayu itu sudah tersembunyi. Butuh dua atau tiga hari berjalan ke dalam hutan untuk menemukannya,” ujar Habibudin Pasaribu (56), tokoh masyarakat Barus.

Lebih mengenaskan, pelabuhan kuna yang kini tak difungsikan dengan baik lagi. Singkil, pelabuhan kuna yang menjadi jalur internasional abad pertengahan, kini seperti menjadi kota yang ditinggalkan. Adakah ini penanda kemunduran peradaban?

Potensi

Zaman sudah berubah dan orang tak bisa terus dibuai romantisme sejarah. Masyarakat setempat berharap pemerintah pusat dan daerah mau menjawab tantangan untuk membangkitkan kemajuan pantai barat Sumatera yang kini tertinggal dibandingkan dengan kawasan tengah dan timur Sumatera. Apalagi, kawasan ini menyimpan banyak potensi, terutama perkebunan, perikanan laut, pertambangan, dan wisata.

Ada beberapa kebun teh besar dirintis sejak zaman Belanda sekitar tahun 1928 dan terus berproduksi sampai kini. Sebut saja perkebunan teh Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, dan di Kayu Aro, Kerinci, Jambi. Teh olahan dari sini masih menjadi langganan negara-negara Eropa.

Kebun kopi terhampar luas di wilayah Pagar Alam, Lampung, dan Bengkulu. Pala berkembang di Aceh Selatan, sementara karet di Aceh Barat. Pertambangan diwakili Sawah Lunto yang merupakan kota tambang batu bara tua sejak zaman Belanda. Perikanan sudah lama ditekuni masyarakat nelayan pantai barat, seperti di Krui, Lampung Barat, dan Bengkulu.

Soal wisata, jangan tanya lagi. Kawasan barat Sumatera dikaruniai pantai indah, gunung, hutan taman nasional, air terjun, danau, ngarai, atau lembah menawan. Di beberapa tempat, berbagai obyek itu menyatu dalam satu area penuh pesona, seperti Kerinci, Jambi, yang kerap dijuluki ”sekapal tanah surga di dunia”.

”Banyak potensi wisata yang seharusnya bisa digarap di pantai barat Sumatera. Sayang, masih sia-sia karena ditelantarkan begitu saja,” kata Nurdin Ahmad, Ketua Dewan Pariwisata Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Sumber: Kompas, Minggu, 23 Mei 2010

No comments:

Post a Comment