August 16, 2010

[Lampung untuk Indonesia] Berharap Berkah dari Kota Baru

LAHIRNYA kota baru di Jatiagung diprediksi akan memberi dampak ekonomis yang cukup signifikan, bukan saja bagi warga dan kawasan setempat, melainkan juga bagi Lampung secara umum.

"Saya yakin efek dominonya akan sangat besar," ujar Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. di kediamannya, Minggu (8-8). Pernyataan Bang Oedin, begitu Gubernur Lampung ini biasa disapa, mungkin tak berlebihan. Peluang-peluang bakal berkembangnya dampak ekonomis itu terlihat dari rencana peruntukan lahan. Peluang usaha, terbukanya lapangan kerja, dan berbagai efek domino akan tumbuh dengan sendirinya mengikuti pertumbuhan yang ada.

Gambaran kasarnya begini. Dari total lahan (1.669 ha), untuk pusat pemerintahan (perkantoran dan rumah dinas) seluas 350 ha dan sisanya (1.319 Ha) untuk lahan komersial. Lahan komersial itu antara lain pusat perdagangan dan jasa 250 ha (15,9%); perumahan besar, sedang, dan kecil seluas 949 ha (29,1%); rumah sakit 8 ha (0,5%); pendidikan dan olahraga 49 ha (2,4%); dan ruang terbuka hijau 470 ha (28,2%).

Baik lahan perkantoran maupun komersial semuanya perlu dibangun fasilitas, khususnya gedung. Pembangunan ini pasti melibatkan pihak swasta, dalam hal ini kontraktor/pengembang. Proses pengerjaannya tak akan berjalan tanpa tenaga yang mengerjakan. Di sini tentunya dibutuhkan tenaga buruh, konsultan, dan sebagainya.

Bayangkan, misalnya 40 kantor berskala besar dibangun, berarti ada ratusan orang mendapat lapangan pekerjaan. Selama pengerjaan, para buruh ini tentu memerlukan makan dan minum. Artinya, terbuka pula peluang untuk rumah makan, warung makan, atau warung manisan yang menjual rokok, minuman ringan, dan obat-obat generik, atau keperluan lain. Jika orang-orang ini memerlukan komunikasi, terbuka pula peluang penjualan pulsa (Jangan salah, lo, para buruh pun juga sudah menggunakan ponsel, apalagi ponsel murah saat ini cukup banyak).

Kondisi serupa juga terjadi pada sektor komersil. Dalam rancangan peruntukan, 29,1% dipergunakan untuk lokasi perumahan sedang, menengah, dan kecil. Proses pembangunannya tentu memerlukan tenaga buruh yang cukup banyak. Para investor/pengembang akan berdatangan.

Keberadaan kelas rumah ini juga memiliki karakter sendiri dan akhirnya memberi dampak sendiri pula. Untuk rumah mewah, kepemilikannya sangat mungkin bukan hanya oleh orang di Lampung, juga luar Lampung, khususnya Jakarta.

"Jarak Jakarta-Lampung itu kan hanya 210 km, sama dengan jarak Jakarta-Purwakarta,� kata Fahrizal. Faktanya, banyak pegawai Jakarta yang memiliki rumah di sekitar Jakarta. Jika kota baru berkembang pesat�apalagi bila transportasi lancar�sangat mungkin banyak warga Jakarta yang berminat memiliki rumah di Lampung.

Kemudian, rumah untuk kelas menengah ke bawah. Tipe rumah seperti ini umumnya diminati keluarga/pasangan muda yang belum memiliki anak atau memiliki sedikit anak. Dengan harga yang relatif terjangkau, rumah seperti ini akan dibeli para keluarga muda dan itu berarti akan banyak warga baru menempati kawasan kota. Ini juga kelak melahirkan dampak ekonomis tersendiri pula.

Dari sisi pegawai, Pemprov Lampung memiliki hampir 8.000 pegawai, sedangkan ribuan lain tersebar di kantor Uspida, seperti kepolisian, TNI, jaksa, dan hakim. Mereka sebagian besar bertempat tinggal di Bandar Lampung. Mobilitas harian ribuan pegawai ini bakal menimbulkan berbagai dampak turunan yang sangat berpengaruh pada perekonomian, khususnya warga setempat.

Dengan jadwal kerja dari pagi sampai sore dan jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya, para pegawai ini otomatis akan memenuhi kebutuhan hariannya, seperti makan minum, di kawasan ini pula. Bayangkan, berapa banyak muncul peluang usaha makan-makanan bagi warga setempat. Tak bisa buka warung makan, minimal berjualan makanan kecil dan minuman mineral secara asongan. Ini dapat dikerjakan mereka yang memiliki modal kecil.

Belum lagi usaha sewa rumah/indekos sangat mungkin bermunculan, terutama bagi mereka yang orang tuanya berada di luar Bandar Lampung. Ditambah lagi pegawai yang selama ini menyewa, sangat mungkin mereka memilih menetap di kota baru dengan berbagai pertimbangan.

Tak hanya di sektor properti, ruang terbuka hijau juga memberi peluang ekonomi yang tak kalah menarik. Jika konsepnya green city, tentu akan membuka peluang bisnis tanaman hias dan pohon penghijauan, pupuk, dan lain-lain.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung Yusuf Kohar, pihaknya menyambut positif dibentuknya kota baru. "Yang jelas, yang namanya kota baru, juga kota alam, perlu berkembang. Jika berkembang, Insya Allah, sektor ekonomi Lampung lancar," ujar Yusuf.

Dengan adanya kota baru, semua kegiatan tidak terfokus di satu lokasi karena kota baru akan memecah sektor-sektor ekonomi. Bagi pengusaha, kota baru memberi peluang tambahan untuk memicu perekonomian.

"Misalnya, perlu pembangunan infrastruktur jalan sehingga daerah ini terbuka. Jika sudah terbuka, otomatis sektor ekonomi akan berjalan dan berkembang dengan sendirinya," kata Yusuf.

Kondisi ini akan makin berkembang karena Jatiagung terhubung dengan Kota Metro sehingga ada arus distribusi Metro-Jatiagung. Ini menjadi peluang bagi pengusaha untuk berinvestasi di sini, termasuk misalnya membangun pusat perbelanjaan.

Meskipun demikian, peluang usaha dan ekonomi hanya akan tumbuh sehat jika didukung infrastruktur yang baik dan terencana, misalnya jalan, terminal, dan sebagainya.

Penataan ruang juga harus jelas dan komprehensif. Jika tidak dikhawatirkan, kota tumbuh semrawut dan ini menimbulkan berbagai persoalan baru pula. Untuk itu, kata Yusuf, sebaiknya Pemprov mengajak berbagai pihak untuk duduk bersama mendiskusikan dan merumuskan rancangan kota sehingga banyak masukan.

Keinginan kalangan pengusaha ini sejalan dengan keinginan Gubernur Lampung yang merasa keterlibatan berbagai pihak dalam merumuskan kota ini sebagai hal yang penting. HESMA ERYANI/R-1


Sumber: Lampung Post, Senin, 16 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment