February 20, 2012

[Arsip] Hujan Sastra (Sastrawan) Lampung Memang Tak Merata*

Cybersastra.net, Rabu, 9 Januari  2002**


Esai Udo Z. Karzi


MEMBACA esai Kuswinarto "Sastra Lampung Merindukan Hujan Sastrawan" (Cybersastra.net, Selasa, 8 Januari 2002), saya sempat terkesima. Pertanyaan Kuswinarto: adakah sastrawan Lampung dalam arti sastrawan yang menulis sastra dalam bahasa Lampung, cukup mengusik saya. Kekhawatiran akan punahnya bahasa-sastra Lampung memang telah lama menggelisahkan jelma (orang) Lampung, tak kecuali mereka yang -- setidaknya mengaku -- seniman, budawan atau sastrawan Lampung.

Namun, sebaiknya pertanyaan ini kita tanyakan langsung saja kepada jelma Lampung. Mengapa mereka tidak mau mengembangkan bahasa-sastra Lampung yang kabarnya sebenarnya sangat potensial berkembang menjadi bahasa-sastra modern seperti halnya sastra Melayu, Jawa, Sunda, dan Bali? Mengapa jelma  Lampung malah merasa malu dengan bahasa dan sastranya sendiri? Padahal dalam berbagai kesempatan di perbagai aktivitas jelma Lampung selalu memakai tata bahasa (bahasa Jawa: totokromo) yang menunjukkan keluhuran dan kehalusan bahasa mereka.

Lampung misalnya, mengenal berbagai bentuk sastra (lisan) yang disebut pattun, segata, wawacan, warahan, dan sebagainya. Upacara-upacara adat, mulai dari kelahiran, pemberian nama, sunatan, perkawinan hingga kematian penuh dengan tradisi sastra (lisan) dalam berbagai bentuknya.

Mengapa sastra (tulisan) Lampung tidak berkembang? Kalau pertanyaan ini yang diajukan, maka yang duluan digugat adalah jelma Lampung yang malu dengan bahasa dan budayanya sendiri. Lalu berikutnya, yang juga harus dipertanyakan adalah kerja para sastrawan, seniman, budayawan (Indonesia) yang ada di Lampung. Patut juga dipersalahkan dalam kasus ini adalah pemerintah daerah Lampung yang tak pernah serius mengembangkan sastra-seni-budaya Lampung.

Tapi, Kuswinarto tak perlu khawatir akan punahnya sastra Lampung. Dalam beberapa kali pertemuan, masalah ini beberapa kali dibahas. Agaknya, mulai ada sedikit keinginan untuk mengangkat sastra (modern) Lampung ke panggung lebih terhormat di tingkat nasional, bahkan internasional bila mungkin.

Saya sendiri sejak beberapa tahun lalu mulai merintis penulisan puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Lampung, baik itu karya asli maupun terjemahan. Pekerjaan ini memang tidak gampang. Sebuah kumpulan puisi dalam bahasa Lampung saya yang saya tawarkan ke berbagai penerbit di Lampung umpamanya, sampai sekarang masih terkatung-katung nasibnya. Alasannya, ini "proyek" rugi; Lampung tidak mengenal puisi/sajak, sehingga akan kelihatan aneh; prospek pasar untuk buku semacam ini tak bagus; serta berbagai argumen yang kedengarannya naif.

Saya percaya sastra (modern/kontemporer) Lampung suatu saat akan maju. Hanya tinggal waktu saja. Beberapa indikasi: (1) pemerintah daerah sudah merumuskan visi keenam dalam Rencana Strategis (Renstra) Lampung adalah mengembangkan kebudayaan Lampung. Ini menjadi modal bagi akademisi, sastrawan, seniman, dan budayawan untuk lebih bergiat lagi memberdayakan sastra Lampung; (2) sudah ada kesadaran dalam diri 'jelma' Lampung, khususnya sastrawan, seniman, dan budayawan Lampung bahwa sastra atau kebudayaan Lampung memiliki hak yang sama dengan kebudayaan daerah lain dan nasional untuk hidup dan berkembang; dan ini dijamin perundang-undangan; (3) Universitas Lampung (Unila) yang boleh dibilang salah satu pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan mulai merintis pengembangan bahasa-sastra-budaya Lampung dengan membuka Program Studi Diploma Bahasa dan Sastra Lampung -- yang katanya -- merupakan cikal bakal berdirinya Fakultas Sastra, yang di dalam terdapat Jurusan Sastra Lampung. Lalu, Unila bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Lampung dan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Lampung tengah merancang terbentuknya Pusat Informasi Budaya Lampung.

Tentu saja, beberapa hal yang menggembirakan ini tidak bisa dibiarkan saja mengalir tanpa arah yang jelas. Sebab, kalau itu yang terjadi, maka apa yang disinyalir A. Sanusi Effendi bahwa sastra Lampung diambang kepunahan segera mewujud. Semua pihak (pekerja sastra, penerbit, pemerintah, dan jelma Lampung) harus proaktif melakukan apa pun yang dapat mengangkat nasib sastra Lampung.

Saya percaya, sastra (modern) Lampung bukan sekadar wacana. Sastra dan sastrawan Lampung benar-benar ada. Ia bisa lahir dari ujung barat atau bahkan, dari pelosok Lampung yang tak pernah diduga sebelumnya. Tunggu saja.

 

Bandar Lampung, 9 Januari 2002

 

Catatan:

* Sengaja saya tayangkan kembali esai ini untuk menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari 2012. Saya agaknya tidak mampu menulis yang seperti ini lagi setelah menemukan kenyataan bagaimana orang Lampung memperlakukan bahasa dan sastranya sendiri.

 Membaca esai ini, saya jadi malu sendiri. Betapa optimisnya saya saat menuliskan itu. Ah, saya kelewat bersemangat saat itu. Tanpa mengecilkan peran pihak-pihak yang masih mau berbuat untuk pengembangan sastra Lampung, betapa hingga kini sastra (berbahasa) Lampung masih hidup segan mati tak mau... Barangkali judul yang bagus waktu itu adalah "Jangan Pedulikan Sastra (Berbahasa) Lampung!"

 Ah, semoga masa depan sastra Lampung bisa lebih baik kelak. Amien.

 

** Terima kasih kepada Cybersastra.net yang menyimpan tulisan ini dengan rapi di  http://web.archive.org/web/20020822102545/http://www.cybersastra.net/home.htm .

 

 

No comments:

Post a Comment