October 15, 2015

Aku Rindu Matahari

Esai Dyah Merta

SATU hal yang kurindukan beberapa hari belakangan adalah matahari. Itu serupa dada seorang pria yang menebar kehangatan sekaligus keteduhan. Mungkin itu kamu.

Minggu siang, akhirnya aku bisa kembali berpeluh. Di Candi Sewu, di antara samar ingatan pada Golek Surung Dayung, tubuhku mencari cara untuk membebaskan diri -meski gerak ritmis itu terpakem-sayup masih ada suara Edith Piaf yang tersisa di akhir perjalananku dengan Shinta Ridwan dan suami, dan ada kamu yang menjelma sebagai kebajikan.

Percakapan siang kemarin menyisir dari hal-hal iseng hingga kilas berita Salim Kancil yang kuperbarui setiap saat dari dinding Puthut EA dan majalah Tempo yang kupungut dari akhir penerbanganku, sisa-sisa catatan dari Simposium '65 lalu kabut asap di rumah sahabat yang tak kunjung pergi dalam dua bulan ini ditambah potret dari jurnalis Republika yang sangat menyentuh, diseling cerita tentang mereka yang hilang kewarasan di atas sana dan memproklamasikan diri sebagai makhluk yang paling sehat di bumi Indonesia.

Lalu apalagi?

Senin pagi aku kembali ke rutin -membaca dan menajamkan telinga. Aku sudah tertinggal dua minggu. Tontonan Love & Faith disuguhkan (sejarah hari ini bukan melulu milik kekuasaan tapi bisa dipunyai oleh segelintir orang).

Namun, ada kebahagiaan lain yang ingin aku apresiasi: adalah teman-teman di Lampung yang mulai menemukan serpih sejarahnya. Kerja hebat dari Arman AZ, Udo Z Karzi, Ibu Frieda Amran, dan Lampung Post patut dikibarkan terus. Salut untuk kalian! Percayalah, sekalipun sumber itu ditulis oleh kolonial, paling tidak keping puzzle yang hilang dan tercerai berai itu mulai bisa dikumpulkan, dan pekerjaan baru menunggu, menyusunnya menjadi sebuah bangunan ‘utuh’.

Hal lain yang masih mengusik adalah perihal kasus dua SS -keduanya adalah penyair- berita keduanya masih menjadi gunjing di antara perjumpaanku dengan orang-orang yang dekat dengan sastra Indonesia. Kedua kasus SS kulihat memiliki relasi dengan kekuasaan: jerat pasal yang dituduhkan bagi SS Batak terlihat timpang dengan SS Jawa. Ada keberpihakan, pasti.

Jika posisi itu kulihat dalam bidak catur, uniknya, siapa yang dihadapkan pada SS Batak sebagai pion adalah perempuan -tengok cermat jika wacana ini dikaji dari unsur gender dan politis. Sementara perempuan yang jelas musti berhadapan dengan SS Jawa terlampau terluka untuk mengeluarkan 'keris'-nya sebab di kanan-kiri SS Jawa berdiri pula perempuan-perempuan yang menjadi benteng ke-'lelaki'-an lelaki itu, belum lagi beban yang ditanggung oleh jiwa dan raganya.

Dan diam-diam, aku masih ingat, ada juga yang berbisik tajam kepadaku, "Kamu agen siapa?" Aku tertawa. "Aku sedang menunggu sebuah peran penting yang disiapkan untukku, apa kau percaya itu?" kelakarku.

Sastra di negeriku sepertinya belum akan bisa membebaskan diri dari relasi politik dan kekuasaan.

Matahari memang cukup terik di negeri tropis. Tapi aku menyukainya. Semoga aku tetap memiliki kewarasan.
Dyah Merta, Sastrawan, mahasiswi Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma

 
Sumber: Fajar Sumatera, Kamis, 15 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment