January 26, 2008

Opini: Ramalan Raffles dan Du Bus

-- Sri-Edi Swasono*

PADA awal abad ke-20 masalah kepadatan penduduk Pulau Jawa bukanlah hal yang baru, yang telah dikaitkan dengan kelaparan dan kemelaratan. Pada tahun 1815 gejala kelebihan penduduk (over population) Pulau Jawa telah disinggung oleh Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles (1781-1826), dalam bukunya yang terkenal The History of Java, Vol I, hal 68-72.

Raffles mulai melihat pulau-pulau lain yang langka penduduknya. Dikatakannya, tanah yang subur sekali, perkawinan usia muda, poligami, usia lanjut, daerah pertanian yang sehat, dan lebih suka damai daripada perang merupakan unsur-unsur pendorong pertumbuhan penduduk Pulau Jawa. Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada tahun 1827 (Rapport van de Commisaries-General over het Stelsel van Kolonisatie, 1827, hal 48) telah pula mencemaskan kelebihan penduduk Pulau Jawa. Du Bus memperkirakan bahwa suatu ketika seluruh tanah Jawa akan penuh manusia berimpit-impitan. Pada tahun 1815 penduduk Pulau Jawa sebanyak 4.615.270 orang (Raffles, op. cit., hal 63).

Ide ”kolonisasi” bermula dari keyakinan tentang adanya kelebihan penduduk Pulau Jawa ini, maka pada tahun 1905 mulailah diberangkatkan pertama kalinya 155 kepala keluarga asal Jawa (Kedu) ke Gedong Tataan, Lampung, dalam rangka ”kolonisasi” (sekarang dengan nama ”transmigrasi”). Ada terdengar pula alasan menyiapkan kuli murah untuk Sumatera Utara setelah UU Agraria 1870.

Perkembangan penduduk Pulau Jawa adalah 34,4 juta (1920), 41,7 juta (1930), 48,4 juta (1940) dan 60 juta (1950, dibulatkan). Sekarang penduduk Pulau Jawa sekitar 132 juta atau sebesar 60 persen penduduk Indonesia meskipun luas Pulau Jawa hanya 6,95 persen dari luas areal Indonesia. Kepadatan penduduk Pulau Jawa 1.020 orang per kilometer persegi, berarti hampir 10 kali dari rata-rata kepadatan nasional sebesar 120 orang per kilometer persegi. Kelebihan pendudukkah Pulau Jawa? Jawabannya tegas, ya! (Betapapun batasannya relatif).

Transmigrasi


Sejak awal kemerdekaan dalam Konferensi Ekonomi di Yogyakarta (3 Februari 1946), Wakil Presiden RI menegaskan bahwa ”transmigrasi bagi Indonesia merupakan keharusan di dalam pembangunan nasional, transmigrasi merupakan kewajiban kita membangun Indonesia”.

Tentulah menarik sekali menyimak pendapat Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tepat bahwa banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah dan Jawa Timur perlu diberi jalan keluar melalui transmigrasi.

Pendapat Wakil Presiden ini dapat kita benarkan mengingat musibah tahunan ini akan terjadi terus-menerus sampai kita bisa mengatasi kerusakan lingkungan yang sangat parah, yaitu hilangnya hutan dan pepohonan di bantaran sungai-sungai, di pegunungan dan gunung-gunung, bendungan yang rawan jebol, tak terkendalinya alih fungsi lereng-lereng pegunungan menjadi pertanian pangan subsistan, disertai perubahan iklim yang memperparah keadaan.

Malapetaka alam yang terjadi sekali-kali dan tidak terduga adalah malapetaka yang harus diatasi bersama oleh pemerintah dan masyarakat berdasar rasa bersama sebagai wujud tanggung jawab sosial, kesetiakawanan, dan ukhuwah nasional kita. Namun, malapetaka yang rutin, sangat me- ngenaskan, yang pasti terjadi setiap tahun, adalah suatu beban yang melelahkan dan membosankan, sekaligus merupakan beban sosial dan beban anggaran negara.

Perbaikan lingkungan yang memakan waktu lama tidak bisa dilakukan selama penduduk masih tetap tinggal di lokasi-lokasi rawan bencana, hidup berimpit-impitan di bantaran sungai, di DAS, di lereng- lereng, bahkan akan tetap merambahi hutan tipis yang tersisa. Kerusakan lingkungan bahkan akan berlanjut karena pertambahan penduduk, bobot over population terus meningkat. Terobosan harus dicari. Maka, relokasi melalui transmigrasi sebagaimana disarankan Wapres menjadi alternatif solusi yang menjanjikan.

Tidak boleh gagal


Transmigrasi Indonesia sudah lama melepaskan paham demografi-sentris, bukan karena over population-nya Raffles dan Du Bus mengandung makna relatif, melainkan karena kenyataan riil bahwa transmigrasi tidak akan bisa mengurangi kepadatan penduduk Pulau Jawa, atau bahkan tidak mampu memindahkan penduduk sejumlah pertambahan penduduknya per tahun antara 2 juta orang. Catatan saya menunjukkan bahwa antara 10 windu transmigrasi (1905-1985) hanya 3,7 juta penduduk dapat dipindahkan, itu pun 2,9 juta berasal dari zaman Orde Baru yang sangat intensif menyelenggarakan program transmigrasi. Sementara itu, makin banyak penduduk dari luar Pulau Jawa masuk ke Pulau Jawa. Bagi Pulau Jawa, pembatasan kelahiran tidak boleh gagal.

Oleh karena itu, transmigrasi harus dilakukan secara selektif, antara lain dilakukan dari daerah-daerah pengirim yang memiliki urgensi kritis, seperti daerah- daerah yang rawan bencana alam, tanpa mengabaikan syarat-syarat baku yang dituntut untuk keberhasilan suatu proyek transmigrasi.

Keberhasilan proyek transmigrasi, baik untuk transmigran pendatang maupun rakyat di daerah penerima, memerlukan persiapan matang. Calon transmigran harus disiapkan sebagai agent of development. Melalui transmigrasi direncanakan dan diciptakan keunggulan komparatif baru di daerah-daerah penerima.

Barangkali kita perlu mentransformasi perkataan transmigrasi dari arti suatu proses kegiatan (noun) menjadi kata kerja (verb) yang artikulatif-aktif. Transmigrasi adalah upaya membangun daerah, suatu perantauan untuk berkarya, satu ”rantau bangun”. Jangan sampai transmigrasi menjadi sosok poverty trap. Target transmigrasi bukan lagi sekian KK (kepala keluarga), melainkan sekian hektar kebun sawit, sekian ton ikan tangkapan, sekian hektar tambak, sekian ton karet, dan seterusnya.

Depnakertrans saat ini memiliki program KTM (Kota Terpadu Mandiri) sebagai model penyelenggaraan transmigrasi yang lebih menjamin keberhasilan transmigrasi dan menyejahterakan transmigran dan rakyat sekitar. Kita mengharap KTM bisa memberikan ”nilai-tambah ekonomi” dan ”nilai-tambah sosial-kultural” kepada para transmigran dan rakyat setempat agar meningkatkan harkat martabat mereka. Rakyat dalam kemelaratan dan kesengsaraan berkepanjangan akan merupakan beban (bukan aset) pembangunan.

* Sri-Edi Swasono, Guru Besar Ekonomi UI

Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Januari 2008

January 24, 2008

Lampung: Objek Wisata Bagus, tapi Kok Tertinggal

BANDAR LAMPUNG -- Dunia pariwisata merupakan salah satu aset terbesar untuk kemajuan suatu negara. Belakangan ini Pemerintah Indonesia menggalakkan program yang dikenal dengan Visit Indonesia untuk lebih mempromosikan objek wisata Tanah Air ke mancanegara.

Begitu pula dengan Provinsi Lampung. Dinas Pariwisata Lampung sudah menyiapkan suatu program yang sama dengan Visit Indonesia, yaitu Visit Lampung.

Seperti kita ketahui, Lampung memiliki potensi wisata prospektif untuk dikembangkan dan menjadi salah satu aset wisata di Tanah Air. Namun, mengapa Lampung sampai kini masih tertinggal jauh dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia?

Padahal, Lampung memiliki potensi wisata yang cukup bagus. Misal saja objek wisata Danau Ranau di Lampung Barat atau saat ini lebih dikenal dengan Lumbok. Objek wisata tersebut merupakan danau terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Danau Toba.

Dengan pemandangan Gunung Seminung di tengah-tengahnya, kini juga telah dibuat penginapan berbintang yang dikenal dengan Seminung Lumbok Resort. Lokasinya persis di tepi Danau Ranau sehingga memberikan kemudahan bagi para wisatawan menikmati keindahan Danau Ranau dan panorama di sekitarnya.

Bandar Lampung, sebagai ibu kota Provinsi Lampung, juga tidak kalah menarik. Banyak objek wisata yang bisa dikembangkan, misalnya Taman Wisata Bumi Kedaton, Pantai Puri Gading, wisata alam air terjun Sukadaham serta puncaknya Lampung di daerah Sukadaham. Tetapi, mengapa Lampung belum bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata, padahal begitu banyak potensi wisata alam yang bisa dikembangkan pemerintah untuk menarik perhatian para wisatawan.

Sejauh ini apa yang menjadi kendala Lampung dalam menyejajarkan diri dengan provinsi lain. Menurut dosen Akademi Pariwisata Satu Nusa Subhi, Provinsi Lampung diberikan Tuhan lokasi yang sangat strategis di pintu gerbang Pulau Sumatera. Untuk mempromosikan objek wisata tersebut, pemerintah daerah bisa membagikan selebaran yang berisi informasi tentang objek wisata Lampung di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, kepada penumpang bus atau kapal penyebarangan. Untuk itu, pemerintah harus bekerja sama pihak penyeberangan Pelabuhan Bakauheni. "Mungkin setelah mereka berkunjung melihat objek wisata di Lampung, mereka akan memberitahukan kepada saudara, kerabat ataupun teman-teman," kata Subhi.

Beberapa objek wisata yang cukup menarik adalah Anak Gunung Krakatau dan Way Kambas. "Way Kambas ini kan sudah terkenal di mana-mana sebagai sekolah gajah," kata dia.

Hal yang sama dikatakan Santi, salah satu dosen di Satu Nusa.

Menurut dia, agar wisata Lampung berkembang dengan baik, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah mempersiapkan SDM-nya lebih dahulu. "Orang-orang yang mengelola bidang pariwisata ini harus benar ahli dan memiliki basic tentang dunia kepariwisataan," kata Santi.

Selanjutnya, pemerintah bisa membangun infrastruktur kepariwisataan Lampung, mulai transportasi dan sarana-prasarana yang aman dan nyaman di lokasi wisata. "Jaminan keamanan dan kenyamanan sangat penting untuk menarik minat wisatawan, sehingga mereka betah," tuturnya.

Selain hal tersebut, salah satu upaya pemerintah provinsi yang patut didukung adalah Festival Krakatau yang sudah menjadi agenda tahunan. Dengan salah satu kegiatan yang digandrungi pemuda-pemudi adalah ajang pemilihan Duta Wisata Lampung atau yang lebih dikenal dengan Pemilihan Muli-Mekhanai Lampung. Dengan harapan para duta terpilih bisa mempromosikan semua potensi dan aset wisata yang ada di Lampung. Sebagai generasi muda, banyak hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya dan aset wisata Lampung, misalnya dengan membiasakan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

n Mia Ariani/Ryan Hidayat/S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 24 Januari 2008

Bedah Buku: Melihat dari Dekat Lambar

Judul buku: Daya Tarik Wisata Kabupaten Lampung Barat
Penerbit: Deputi Pengembangan Produk dan Usaha Pariwisata, 2004

BUKU Daya Tarik Wisata Kabupaten Lampung Barat memberikan informasi tentang potensi dan lokasi wisata Kabupaten Lampung Barat (Lambar) yang merupakan salah satu kabupaten terkaya wisatanya di Lampung. Informasi yang disajikan dalam buku ini diharapkan dapat menjadi panduan dan petunjuk berwisata, menambah wawasan dan keinginan wisatawan berkunjung kabupaten ini.

Sebagai kabupaten yang terletak di ujung barat Lampung yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan di bagian utara dan Samudera Hindia di sebelah barat. Lambar memiliki potensi wisata bahari yang menarik.

Seperti Pantai Tanjung Setia yang memiliki pemandangan yang eksotis, dimana para wisatawan dapat melakukan surfing, swimming, cycling, boating, dan lainnya. Juga objek wisata Danau Ranau/Lumbok, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, wisata budaya dan sejarah, dan wisata pendidikan arkeologis, semuanya dijabarkan dalam buku ini.

Selain objek wisata, buku ini juga menyajikan alamat-alamat penting penunjang pariwisata di Kabupaten Lambar, contohnya alamat hotel dan restoran, dan perusahaan transportasi.

Jadi, buat pembaca yang hobi traveling atau menyukai dunia kepariwisataan, buku ini dapat menjadi koleksi. Jikaa sudah berkunjung ke Lambar pasti gak bakal nyesel deh, malahan bakal ketagihan dan pengin stay lama-lama di Lambar.

n Nima Trilopa/S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 24 Januari 2008

January 23, 2008

Pendidikan: Rendah, Minat Pelajar dalam Menulis

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Budaya tulis-menulis di kalangan pelajar Lampung dinilai masih rendah. Bakat ada, tetapi tidak disertai dengan minat yang cukup besar. Mereka pun umumnya tidak memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri.

Di pihak lain, bukan hanya guru yang bertanggung jawab atas rendahnya budaya ini. Tapi, juga justru kalangan yang aktif bergelut di bidang tulis-menulis, misalnya, insan pers.

"Para pelajar di Lampung kekurangan akses dan media untuk berlatih diri," ujar Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila) Prof. Dr. Sudjarwo, Selasa (22-1).

Hal inilah yang menyebabkan rendahnya minat pelajar untuk bergelut di dunia yang mengandalkan ide ini. "Apalagi, para pelajar yang berada di daerah-daerah kabupaten, terutama di pelosok perdesaan," tambahnya.

Ia menilai tanggung jawab untuk memunculkan generasi muda yang gemar menulis tidak hanya milik guru, tapi juga insan pers. Ilmu yang dipahami seharusnya tidak untuk diri sendiri. "Insan pers melalui lembaganya agar secepatnya menjemput bola ke sekolah-sekolah, terutama yang ada di pelosok. Jangan hanya menunggu di kantor untuk dikunjungi," harapnya.

Ia menguraikan mengembangkan minat dan bakat memang sedapat mungkin dilakukan sejak dini. Sebelum beranjak dewasa, seseorang akan mengalami masa pembelajaran di sekolah mulai dari tingkatan dasar, menengah pertama, hingga menengah atas. Setelah itu pun, minat dan bakat masih tetap bisa berkembang melalui berbagai alternatif pilihan pendidikan lainnya. Seperti kata pepatah, carilah ilmu hingga ke negeri Cina.

Di sekolah, para pelajar diberikan beberapa alternatif pilihan melalui program ekstrakurikuler. "Walaupun tidak diujikan secara formal, program ini menjadi keuntungan lain bagi para pelajar. Apalagi, di tengah-tengah kesibukan melewati kegiatan belajar-mengajar yang sarat akan teori-teori," kata dia.

Ekstrakurikuler yang biasa disebut ekskul ini menjadi wadah pelajar mengembangkan minat dan bakat, di antaranya baris-berbaris, olahraga, keilmuan, kesehatan, keagamaan, maupun seni dan budaya. Belakangan, berkembang juga ekskul jurnalistik sebagai wujud ekspresi tulis-menulis.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Seputih Agung, Lampung Tengah, Candra Puasti, mengatakan hal ini saat memandu 50 siswa-siswinya berkunjung ke Harian Lampung Post, Selasa (22-1).

Kunjungan ini digelar dalam rangka studi banding untuk mempelajari praktek-praktek jurnalistik. Selain Lampung Post, mereka juga mendatangi media elektronik Lampung TV. "Kami bersyukur, walaupun sekolah kami lokasinya agak jauh dari perkotaan, siswa kami tak pernah ketinggalan informasi. Karena mereka rajin membaca surat kabar," kata dia didampingi guru Bahasa Indonesia, Heru Santoso.

Geliat ekstrakurikuler siswa-siswi diakui Candra cukup baik. Tahun lalu, lima pelajarnya, masing-masing Heri, Hamdani, Marta, Oka, dan Septi mewakili Provinsi Lampung mengikuti lomba musikalisasi puisi di Aceh.

Sebelumnya, mereka meraih juara kedua se-Bandar Lampung. Siswa-siswi kelas X dan XI ini antusias mendengarkan pemaparan materi jurnalistik yang dipandu Redaktur Pendidikan Wiwik Hastuti. Berbagai pertanyaan dilontarkan, di antaranya oleh Ayu, Evi, dan beberapa siswa lainnya, mengenai tahap-tahap mencari dan membuat berita hingga syarat-syarat menjadi penulis yang baik. n */S-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 23 Januari 2008

January 20, 2008

Esai: Pengarusutamaan Teks Mbeling (2007 untuk Peta 2008 dalam Berkarya)

-- Endri Y.*

MENCERMATI kegelisahan, proses mencari kekuatan karakter "kedirian" yang bebas, independen, dan terlepas dari kemelekatan-kemelekatan. Mengingatkan kita pada tuntutan dan "pengadilan puisi"-nya Slamet Kirnanto yang diselenggarakan di Bandung pada 8 September 1984. Hanya sebuah kenyelenehan dan kengawuran, tetapi sayangnya, tidak lucu!

Mengomentari teks tuntutan itu, Sapardi Djoko Damono menulis--harus ditafsirkan sebagai badutan yang segar saja karena kalau tidak begitu kita bisa menyebut penulisnya sinting--(Kesusastraan Indonesia Modern, hlm. 85)

Barangkali sulit, dan belum pernah ada kekuatan teks yang dimuat Lampung Post, yang tidak serius atau setidaknya, yang mbeling dan membawa pencerahan baru sebagaimana maksud Asarpin. Demikian tangkapan saya pada arah tulisan Bingkai, Lampost (6-1). Benarah demikian? Sehingga perlu digagas Segitiga Pengarang--Teks--Pembaca tetapi isinya, mengarah--"pada mulanya bukan mula, bukan pula mahia atau inti yang ingin dikatakan"--demikian sabda Asarpin, yang cukup produktif menulis dan mengaku pembaca sastra.

Menulis tanpa inti, tetapi menukik ke kedalaman substansi untuk minimal menyuntik kagetkan kita (baca; masyarakat pencinta sastra) sambil menggumam, "iya juga". Di sini, ranah sensibilitas masyarakat sastra dikejutkan minimal kemampuan dan kemauan dalam berspekulatif. Senantiasa mencari formula, genre, kronologis, komparatif, dan juga memiliki kematangan intuisi dari berbagai teks dengan proses kesejarahan.

Kekuatan Teks


Ketika Ahmadun Yosi Herfanda menulis hasil kontemplasinya untuk mengembalikan sastra ke kekuatan teks, ditemukan problem solver minimal pembangkit nuansa estetis dan mimesis karya-karya sastra, yang sekarang kekuatan teks sastra itu didominasi sastra koran.

Tidak bisa dimungkiri, Lampung Post, sebagai media daerah, dalam ranah stimulus dan pendorong lahirnya sastrawan-sastrawan muda Lampung yang kemudian mampu menggebrak panggung sastra nasional. Perlu diapresiasi. Bahkan dipuji.

Ruang-ruang seni budaya pada setiap hari Minggu, yang memuat apresisasi, cerpen, puisi, dan esai adalah peneguhan identitas sebagai penyuara kekuatan teks sastra. Termasuk inklud juga kritik sastra, seni, dan budaya.

Ketika digagas peran penulis pengagung dan pemuja kedirian, dengan slogan-slogan klise, "aku ingin jadi diri sendiri!" diri yang "aku" imut-imut dan lucu sebenarnya bukan pencerahan yang akan muncul, tetapi narsis, ego sentris, emosi primordial, dan bahkan lebih berbahaya adalah manifesto politik sastra. Mengedepankan strategi pemasyarakatan diri atau kelompok tanpa mempertimbangkan kekuatan karya.

Sebagaimana ditulis Ahmadun, kalaupun ada pertimbangan, lebih pada pertimbangan ideologis, gang, kelompok atau kepentingan-kepentingan lain nonsastra. Akibatnya, orientasi teks tergusur orientasi nonteks alias nonsastra, seperti kepentingan oknum, komunitas, ideologi, aliran sumber dana, dan kekuasaan gang.

Ketika melakukan ziarah ke ruang-ruang lain, jika yang dimaksud Asarpin adalah kemampuan membuat rekayasa sosial untuk, "hidupnya pengarang, intervensi penulis, oktropi teks, dunia semoga tak lagi sunyi senyap di siang bolong". Di sini, pada tulisan penutup penuh asanya ketimbang gagasan, ada harapan pada pengarusutamaan (mainstream) kemampuan bunyi teks dan aktivisme pengarang ke ranah sosio-kultural masyarakat. Dan sebenarnya, di sinilah letak paradoks itu.

Sejarah mencatat kelahiran puisi-puisi mbeling, nakal, tidak tahu aturan, dan keluar dari kelaziman, sekitar tahun 1975, yang dipelopori Remy Syilado, Sanento Juliman, Suriaatmadja, dan sebagainya. Sapardi mengatakan suatu usaha pembebasan. Sedemikian berhasilkah pembebasan itu?

Dengan cara anak-anak muda periode itu yang membuat puisi tak patuh aturan lagi (dengan klaim melawan penyair tua/ mapan), bahkan proses permenungan penciptaannya pun tak rumit lagi. Ini tergambar dalam sajak Dede S. Dukat: sehelai kertas bekas/ ballpoint pinjaman/ tambah bohong/ tambah khayal/ jadi sajak.

Atau juga 'Sebuah Perintah'-nya Hardo Waluyo: serbuuu…/ serbuuu…/kota itu/ dengan batu/ sampai jadi abu/ binasakan/ semua/ kecuali/ mertuaku/ yang dungu/ dan lucu.

Jika memang pencerahan itu dilambangkan dengan karya yang bisa memancing tertawa "pukimak puknemak ha..ha..ha," kata tabu yang dianggap lazim dan sah-sah saja oleh kaum mbeling, mungkin belum ada penanding kekuatan konyol esais Emha Ainun Nadjib, cerpenis Joni Ariadinata, puisi Remy Syilado (namanya juga sering ditulis 23761), kolomnis Suka Harjana, anekdot Gus Dur, humoris Jaya Suprana, kekuatan teks Samuel, dan mungkin nama-nama itu dapat diikuti sederet nama- nama lain. Taruhlah misalnya, Buras-nya BEW, Nuansa-nya Budi Hutasuhut dan Sudarmono, dan terbuka bagi pembaca menambahkan, terserah selera kita, yang subjektif dan personal.

Dan setiap pembaca memiliki insting subjektif, setiap manusia jelas berbeda perspektif dan interpretatifnya. Misal, yang lucu itu tidak bermutu seperti serius pasti bermutu atau serius, tapi tidak bermutu tetapi lucu sebenarnya bermutu. Semuanya relatif pun semaunya, terserah "aku". Wong ternyata ketika Asarpin menulis, "ha..ha..ha." sebagai pelambang tertawa tapi saya malah mengernyitkan dahi!

Sedangkan ketika Sudarmono bersedih dalam rubrik Nuansa, mencuci celana jins anaknya atau Emha dengan "Manusia Markesot" menulis huruf "t"-nya diganti "f" atau misalnya Sanento Juliman dengan kritik sastra, khususnya puisi, saya justru tertawa terbahak-bahak.

Persoalan serius dan main-main dapat menjadi simbiosis mutualisme. Akan tetapi, gagasan menyatukan perbedaan, hanya akan ditemukan jalan buntu, selain mimpi. Sesuatu di luar nalar dan pemaksaan yang dibuai kekosongan "siang bolong".

Pengarang, teks, dan pembaca adalah tiga bangunan atau tiang yang berbeda. Pengarang mencipta teks, teks dibaca pembaca, pembaca membaca pengarang, pengarang membaca pembaca untuk teks, semuanya menjadi trikotomi. Gedung tiga. Bukan segitiga!

Dimensi rumusan segitiga, apa pun bentuknya (sama sisi, siku- siku, sama kaki, dll., terserah pembaca juga) merupakan proses produktif pada intisari tujuannya persamaan persepsi. Satu-satunya unsur persamaan paling logis adalah teks dijadikan objek oleh pembaca dan pengarang. Rumusannya, ketika membuat objek sesuatu yang sama oleh dua subjek berbeda, yang muncul juga bukan segitiga, tetapi paham lain dari interpretasi subjektif.

Pembaruan

Dalam sebuah karya--yang dipetakan F. Rahardi, tahun 2002--pembaruan dapat disebut juga sebagai avant garde (garda depan), yang indikator utamanya, mengejutkan sensibilitas publik. Dimulai dengan lahirnya kenakalan, memecah kebekuan pikir, membuat pencerahan. Dan selalu, pembaruan juga dimulakan pada adanya pembebasan.

Pertanyaannya, sejauh mana pembaruan teks sastra, kajian seni budaya, esei, termasuk apresiasi dan kritik sastra dapat dan mampu dilakukan pojok-pojok ruang kebudayaan koran sepekan sekali itu?

Lahirnya kembali karya-karya avant garde itulah yang dicari Asarpin, kita semua pembaca setia rubrik seni budaya, mungkin juga redakturnya. Hasil pengamatan Asarpin sepanjang tahun 2007, tidak ketemu, sehingga harapan yang muncul adalah, tahun 2008 permulaan peneguhan munculnya karya-karya avant garde. Jika di sini paham itu tertuju, penulis sepakat. Dan sebenarnya itu pun dapat tercapai, jika pertama, sandaran paham segitiga antara pengarang-teks-pembaca, tidak dinobatkan sebagai ikon karena bila perlu digagas segi tak terhingga lebih tepatnya gedung tak terhingga.

Seluruh pembaca-teks-pengarang-komunitas-redaktur-pemerintah dan sebagainya mulai menggelar komitmen untuk kemajuan sastra, seni, dan budaya. Misalnya, dihimpun pemikiran, karya, dan selebaran teks di koran dalam bentuk buku, dipilih karya terbaik yang benar-benar terbaik, melibatkan juri dari pakar yang independen, untuk kemudian diberi penghargaan oleh pemerintah atau institusi seni budaya.

Kedua, pengarusutamaan sebuah karya, tidak melulu bersandar pada yang umum, lazim, apalagi hanya berlabel nama besar dengan tanpa menimbang kualitas karya. Maka, perlu dirumuskan sebuah permulaan kelahiran spekulasi karya, minimal memfasilitasi penampilan bakat-bakat muda. Arus utamanya adalah keberhasilan teks.

Dan ketiga, mendorong terbuangnya ego. Kasus perdebatan, pengutukan pada sastra mazhab selangkangan (SMS) di bawah kepemimpinan Taufik Ismail dan penyuara SMS yang dikomandoi Hudan Hidayat, adalah arena ideal untuk menyulut motivasi, supaya tidak sekadar "mencoret- coret di tembok kakus" (ini bahasa Goenawan Mohamad), tetapi senantiasa menuangkan karya yang bagus. Artinya, debat, polemik, saling mencaci, mengutuk, seperti contoh-contoh di atas, sepanjang sebagai dialog kebudayaan untuk merumuskan esensi teks sastra yang mandiri, menjadi penting dan perlu terus digelontorkan.

Intinya, ya menulis saja. Jadikan tahun 2008 untuk makin teguhnya karya-karya teks anak-anak daerah kita.

* Endri Y., Pencinta sastra, bermukim di Kalianda, Lampung Selatan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 20 Januari 2008

January 19, 2008

Pesona Lambar: Lumbok Layak Jadi Desa Wisata

SUKAU--Hamparan cahaya kuning keemasan membentang menutup sebagian puncak Gunung Seminung yang tegak angkuh, angin sepoi-sepoi menghantar sunset tenggelam di antara perbukitan, sementara nelayan di Danau Ranau mulai sandar perahu jukung mengakhiri aktivitasnya sore itu. Itulah secuplik suasana senja yang bisa dinikmati di Pekon Lumbok, Sukau, Lampung Barat.

Selain menghadirkan pesona keindahannya, Danau Ranau juga memberikan sumber pendapatan yakni potensi ikan air tawar yang memiliki rasa khas, apalagi melewati suasana itu bersama keluarga dan teman-teman.

Selain objek wisata modern yakni Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort, daerah yang menjadi wisata andalan Lampung Barat itu juga memiliki potensi untuk menjadi desa wisata.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Wisata Alam Lampung (Yawisal) Ahmad Sibli Rais, di salah satu rumah warga Pekon Lombok, pekan lalu, mengatakan Pekon Lumbok akan menjadi salah satu pilot project pengembangan desa wisata di Provinsi Lampung.

Wilayah Lombok memiliki potensi wisata konvensional yakni menjadi desa wisata yang memiliki nilai-nilai eksotis bahkan memiliki karakter sendiri yang punyai nilai jual untuk dikembangkan, kata dia.

Pembangunan desa wisata yang menyajikan aktivitas dan budaya masyarakat setempat, bisa menjadi daya tarik tersendiri selain suasana lingkungan dan keindahan Danau Ranau.

Pekon Lombok sangat komplet jika dikembangkan menjadi desa wisata, kata dia.

Pengembangan desa wisata tersebut, kata anggota DPRD Bandar Lampung itu, dengan melibatkan seluruh stakeholder merupakan program untuk mengurangi angka kemiskinan dengan memberikan pendapatan kepada masyarakat bahkan bisa mendongkrak pendapatan asli daerah.

Untuk pengembangan pariwisata di Lombok, Pemkab Lampung Barat juga bisa menjalin kerja sama dengan Pemkab OKU Selatan, ujarnya.

Ketua Yawisal, Darmawan Lubis, juga bernada sama. Menurut dia, Pekon Lombok bisa digagas menjadi desa wisata di Lampung Barat, masyarakatnya juga lebih terbuka terhadap tamu yang datang.

Desa wisata tidak akan mengubah keasliannya karena itu yang akan menjadi daya tarik bagi wisatawan, katanya.

Sementara Abdul Rosyid, anggota Komisi C DPRD Lampung Barat yang membidangi sektor pariwisata, sangat mendukung pengembangan desa wisata di Pekon Lombok tersebut, apalagi saat ini ada dua momentum yang bisa dimanfaatkan yakni Visit Indonesia Year tahun ini dan Visit Lampung Year tahun 2009. Dalam dua momen tahun kunjungan wisatawan ini, Lampung Barat harus bisa mengambil bagian, katanya. HENDRI ROSADI/D-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 19 Januari 2008

January 18, 2008

Budaya: Tumbuhkan Rasa Bangga Orang Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pengembangan budaya Lampung harus dimulai dengan menumbuhkan rasa kebanggaan menjadi orang Lampung. Sebab, rasa bangga akan menggerakkan hati seseorang untuk mengakui dirinya bagian dari dari komunitas, daerah atau bangsa tempatnya beraktivitas. Kegiatan yang dilakukan, di antaranya terus meningkatkan prestasi serta menggali potensi-potensi daerah agar berdaya saing tinggi.

Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. mengatakan hal itu saat menerima jajaran pimpinan Lampung Post di ruang kerjanya, Kamis (17-1).

Provinsi yang dipimpinnya juga harus mengangkat budaya setempat untuk menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap daerah, sehingga tanpa ragu mengenalkan diri sebagai orang Lampung dengan berbagai prestasi.

"Dengan demikian, budaya Lampung terus dikenal melalui masyarakat yang tidak ragu mengakui dirinya orang Lampung," kata Gubernur.

Selain itu, sosialisasi dan publikasi merupakan wadah yang sangat penting dalam mengembangkan budaya Lampung.

Menurut Gubernur, jika prestasi dan potensi daerah terus dipublikasikan, masyarakat makin bangga. Sampai akhirnya budaya khas Lampung juga akan dikenal orang melalui publikasi yang ditampilkan di media massa.

"Budaya daerah Lampung merupakan cerminan seluruh masyarakat yang ada di Lampung," katanya.

Memang media massa memiliki aturan dan etika tersendiri untuk memberi informasi kepada masyarakat. Namun, mendukung pembangunan daerah adalah kewajiban sebagai bagian dari elemen masyarakat daerah.

"Kalau kritik, silakan saja karena itu menjadi masukan dalam perbaikan pribadi dan organisasi dalam membangun Lampung," katanya.

Di tengah padatnya acara pemerintahan, Gubernur Sjachroedin Z.P menyempatkan menerima jajaran pimpinan Lampung Post bersama Asisten I Bidang Pemerintahan Akmal Jahidi, Kepala Biro Humas dan Infokom Muhjadi serta Kepala Bidang di Badan Kesbang Linmas Badri Tamam.

Sedangkan dari Lampung Post terdiri dari Pemimpin Redaksi Djadjat Sudradjat, Pemimpin Perusahaan (PP) M. Effendi, Redaktur Pelaksana Iskak Susanto, Asisten PP Kholid Lubis dan Syarifuddin.

Djadjat Sudradjat mengatakan pers merupakan bagian komunitas masyarakat daerah ataupun bangsa, sehingga sewajarnya memberi informasi kepada masyarakat mengenai pembangunan, prestasi atau potensi daerah.

Di sisi lain, ada undang-undang yang mewajibkan pers sebagai kontrol sosial, termasuk menegur pemeirntah ketika kebijakan sudah mulai "belok" dan meninggalkan kepentingan masyarakat. "Sebagai mitra pemerintah, pers juga mempunyai kewajiban moral dalam menginformasikan pembangunan," kata Djadjat. n AAN/K-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 18 Januari 2008

January 15, 2008

Wisata: Tabek Indah Kemas Aneka Permainan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kampoeng Wisata Tabek Indah, Natar, Lampung Selatan, terus melakukan inovasi program acara. Sepanjang tahun 2008, Tabek menggelar berbagai permainan (games) spontan di setiap akhir pekan dan libur nasional. Tim Event Organizer (EO) Tabek Indah, Yetri Yulia Fitri, Senin (14-1), mengatakan setiap pekannya tim EO Tabek menggelar permainan yang berbeda dalam Tabek Indah Semarak 2008. "Permainan ini digelar spontan pada jam tertentu yang ditujukan untuk kalangan keluarga yang berkunjung ke Tabek," kata Yetri.

Untuk mengikuti games spontan ini, Tabek memberikan gratis uang pendaftaran. Pengunjung cukup membayar tiket masuk dan bisa mengikuti aneka permainan. Dalam satu hari, tim EO menyelenggarakan dua hingga tiga jenis permainan. Untuk pengunjung yang berminat mengikuti permainan bisa mendaftar lebih dahulu.

Manajemen mempersiapkan aneka hadiah menarik. Bahkan setiap tiga bulan, Tabek menggelar event besar yang mengundang pemenang-pemenang setiap pekannya. "Dalam event tiga bulanan ini, Tabek tidak hanya menggelar permainan, tapi juga perlombaan yang lain dari biasanya, seperti lomba menggambar dan mewarnai, top model atau fashion show."

Menurut Yetri, permainan yang digelar merupakan pengembangan dari event akhir tahun yang digelar di kolam renang (water games spontan). Namun, untuk sepanjang tahun 2008, dilakukan perluasan di seluruh arena rekreasi. Seperti outbound keluarga, lomba balap troli, dan play garden adventure untuk anak-anak. "Kalau dahulu, acaranya games spontan ini khusus di kolam renang seperti mencari batu berwana atau mencari koin, kini diperluas hingga arena outbound dan permainan anak. Bahkan, ada juga adu bakat seperti menyanyi."n NOV/E-1 

Sumber: Lampung Post, Selasa, 15 Januari 2008

January 14, 2008

Cagar Budaya: Tangan Jahil Coret-Coret Rumah Adat

BANDAR LAMPUNG (Lampost) : Masyarakat menyayangkan tangan-tangan jahil yang mencoret rumah adat tua Lampung serta benda-benda khas lain di halaman Museum Ruwa Jurai, Bandar Lampung.

Hal tersebut seperti yang dikemukakan Karyati, warga Rajabasa, saat bertandang ke Museum, Sabtu (12-1). Dia mengatakan sangat menyayangkan adanya tangan-tangan nakal yang mencoret-coret benda yang ada di museum, padahal seharusnya benda-benda tersebut dijaga.

"Saya kaget ketika melihat ke rumah Kenali yang terletak di halaman depan museum. Ternyata di tembok kayunya banyak terdapat coretan," kata Karyati.

Bahkan, kata-kata yang ditulis dalam tembok di dekat pintu tersebut sangat tidak sopan. "Kalimatnya sangat kotor, ditambah dengan gambar yang tidak senonoh," ujarnya.

Selain itu, tentunya juga terdapat coretan lain yang sangat mengurangi keindahan rumah adat Lampung yang usianya sudah ratusan tahun itu.

Karyati mengatakan tulisan-tulisan yang dibuat tersebut berbahan spidol serta tip ex. "Selain saya temui di tembok rumah tua itu, tulisan serta coretan juga saya temui di berbagai alat yang berada di kolong rumah itu. Seperti di perahu jukung kayu, penumbuk kopi, hingga alat penumbuk beras. Banyak coretan-coretan tidak pentingnya," ujarnya.

Hal senada dikemukakan Elen, wisatawan asal Yogya yang mampir ke Museum Ruwa Jurai. Dia sangat menyayangkan adanya coretan-coretan tersebut. "Sayang sekali barang yang sangat bagus dan tua itu tidak terjaga dengan baik."

Sebaiknya, menurut dia, pengelola mulai membersihkan coretan-coretan tersebut. "Ya dibersihkan lah dari coretan-coretan sepeti itu. Sebab, rumah tua itu termasuk barang yang dilindungi dan cagar budaya. Apalagi letaknya berada di halaman museum, sehingga sebaiknya mulai dibersihkan," ujar dia.

Terlebih lagi, kata Elen, museum banyak dikunjungi anak-anak pelajar baik tingkat TK maupun SD. "Jadinya ini sangat buruk sekali untuk pembelajaran mereka. Apalagi kalimat yang dituliskan sangat kasar dan itu sudah bentuknya vandalisme." n TYO/K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 14 Januari 2008

January 12, 2008

Musik: Kangen Band Jadi Bintang FTV

KANGEN Band mengawali tahun 2008 dengan makin memantapkan diri dalam dunia musik. Tak hanya itu, Band asal Bandar Lampung ini, bakal menjajal dunia acting. Hadir di layar kaca RCTI, Sabtu (12-1), pukul 13.00, Kangen band bukan bermain musik, melainkan ber-acting dalam film pendek.

Film pendek FTV yang diproduseri AmaarDyo Pictura ini berjudul kontroversial "Aku Memang Kampungan". Ceritanya, berkisah perjalanan hidup Kangen Band merintis karier di jalur musik sejak di Bandar Lampung hingga meraih sukses di Jakarta.

Awalnya, film ini bercerita tentang latar belakang setiap personel di Bandar Lampung. Ada yang menjadi tukang cendol, kuli bangunan, montir, dan sebagainya.

Cerita film yang seluruh shooting-nya dilakukan di Jakarta, selama sepekan sejak tanggal 7 Desember lalu itu pun dibumbui berbagai konflik. Dari masalah putus cinta hingga berbagai masalah yang mengancam eksistensi Kangen Band. Cerita indah pun hadir dalam film ini, lewat perjalanan cinta vokalis Kangen Band, Andika, dengan seorang model (diperankan Marisa).

Film ini menunjukkan cinta tidak semata melihat tampang, tetapi lebih pada lubuk hati paling dalam. Seorang fans yang juga model, terharu dengan perjalanan karier Kangen Band, yang merintis dari bawah. Ketika naik daun pun, banyak pihak yang menyepelekan kemampuan musiknya. Akan tetapi, band yang terbentuk tanggal 4 Juli 2005 ini, tetap tegar dengan cacian. Itulah yang membuat gadis tersebut jatuh cinta pada salah seorang personel, yaitu Andika.

Akhirnya, cinta mereka berlabuh pada sebuah pernikahan. Seluruh personel Kangen Band terlibat dalam film ini, yaitu Dodhy (gitar), Rustam (gitar), Andika (vokalis), Izzy (keyboard), Novri (bas), dan Halim (drum). Setiap personel, memiliki kisah masing-masing dalam film, sehingga tidak menjemukan pemirsa.

Sosok penyanyi rok kondang di era 1970-an Gito Rollies juga turut bermain dalam film ini. Ia tetap menjadi Gito Rollies, yang sangat dikagumi seluruh personel Kangen Band. Pilihan pada Gito karena penyanyi ini juga merintis karier musiknya dari nol.

Sementara itu, Eren, backing vocal Kangen Band, mengatakan bulan Februari mendatang Kangen Band bakal launching album kedua. "Album kedua berbeda dengan album pertama, dari segi warna musik. Kami juga memasukkan unsur rok dalam album ini," ujarnya via ponsel, Jumat (11-1). Album berisi 10 lagu karya Doddhy ini masih mengusung tema percintaan. Akan tetapi, musik dan materinya lebih ceria dibanding dengan album perdana Tentang Aku, Kau dan Dia, yang lebih dominan dengan materi lagu perselingkuhan. n DWI/M-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 12 Januari 2008