BANDAR LAMPUNG (Lampost): Praktisi Konstruksi Ir. Mustafa, M.H., I.P.M., akan meluncurkan buku berjudul Menuju visi Indonesia 2030, Konstruksi Lampung Prespective di Auditorium Gedung Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL), Sabtu (2-2).
Acara akan dilanjutkan dengan bedah buku dan diskusi ilmiah mengenai peranan konstruksi dalam pembangunan Lampung ini menampilkan pembicara staf ahli Menristek Prof. Carunia Mulya, Ir. Mustafa, M.H., dan dosen pascasarjana Teknik UBL Lilies Widojoko. Selain kalangan dosen, hadir juga dalam acara tersebut para praktisi konstruksi yang tergabung dalam asosiasi dan birokrat di Lampung.
Menurut Ketua Panitia, Sony Isnaini, kegiatan ini merupakan rangkaian roadshow Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Lampung. Sebelumnya acara diskusi ilmiah digelar di kota Metro dengan tema pendidikan. Kini tema yang diangkat mengenai konstruksi. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi di Tanggamus bertema lingkungan. "Diskusi akan dilanjutkan di sepuluh kabupaten/kota di Lampung," ujarnya didampingi Sekretaris Panitia Ir. Sugirianto, M.M., yang juga ketua ADI Metro, kemarin (31-1).
Para peserta, kata Soni, akan mendapatkan sertifikat yang diharapkan dapat digunakan menambah portofolio bagi sertifikasi guru dan dosen.
Sementara itu, Mustafa mengatakan peluncuran buku ini sekaligus mengingatkan pelaku konstruksi di Lampung dalam setiap pekerjaan berpedoman pada visi Indonesia 2030. "Jangan sampai pembangunan yang dilakukan ini tidak mengarah pada visi Indonesia 2030, termasuk membangun jembatan Selat Sunda," kata dia.
Mustafa juga mengingatkan perlunya koordinasi pembangunan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, khususnya dalam bidang konstruksi. "Dengan perencanaan dan pembahasan semua pihak, praktisi, dosen, dan birokrat, kita tidak akan melihat pembangunan yang bongkar pasang," ujarnya. n UMB/S-2
Sumber: Lampung Post, Jumat, 1 Februari 2008
February 1, 2008
VLY 2009: Pariwisata Lampung Belum Dilirik Turis
Bandar Lampung, Kompas - Menghadapi Visit Lampung Year 2009, pengembangan obyek pariwisata di Lampung masih terhambat ketidaksiapan infrastruktur, moda transportasi, dan sumber daya manusia. Hal itu menyebabkan obyek pariwisata di Lampung belum banyak dilirik dan dipilih wisatawan.
Kasubdin Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Renny Utari, Kamis (31/1), mengatakan, kurangnya kesiapan infrastruktur yang dimaksud di antaranya minimnya tujuan wisata alternatif sebelum menuju obyek wisata unggulan. Sehingga wisatawan tidak memiliki banyak pilihan obyek wisata.
Renny mencontohkan rute perjalanan wisata Bandar Lampung-Taman Nasional Way Kambas. Di sepanjang rute yang bisa ditempuh selama dua jam perjalanan tersebut sama sekali tidak ada obyek wisata alternatif yang menjadi pilihan selain obyek wisata utama.
Pusat jajanan atau pusat oleh- oleh hanya buka di akhir pekan, sementara tamu bisa datang kapan saja. ”Dengan demikian, rute wisata menjadi sepi dan wisatawan hanya disuguhi satu obyek saja dan pemandangan sepanjang perjalanan,” kata Renny.
Bahkan, kurangnya infrastruktur berupa akses menuju obyek wisata terjadi juga pada wisata alam unggulan Lampung, yakni Gunung Anak Krakatau. Untuk menuju lokasi wisata alam tersebut, wisatawan harus menyewa kapal sendiri.
Bagi wisatawan mancanegara (wisman), menyewa kapal laut tidak akan terasa mahal, sedangkan bagi wisatawan Nusantara (wisnus) menyewa kapal laut untuk menuju sebuah obyek wisata alam bisa dipastikan terasa mahal.
Kendala lain, bandar udara di Lampung belum terlalu dipilih sebagai bandar udara komersial alternatif. Selain jalur landasan pesawat hanya bisa didarati pesawat ukuran kecil, landasan pesawat juga pendek, sekitar 1.500 meter.
Kekurangan SDM
Pariwisata di Lampung juga belum bisa berkembang maksimal karena Lampung kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang pariwisata. Sampai saat ini, agen-agen perjalanan wisata di Lampung justru lebih banyak menjual tiket pesawat daripada menjual paket perjalanan. Akibatnya, wisman ataupun wisnus hanya mengenal sedikit saja obyek-obyek wisata unggulan di Lampung.
Renny mengaku sulit menjual paket perjalanan wisata di Lampung karena ketidaksiapan infrastruktur dan SDM. Oleh karena itu, untuk menarik kunjungan wisatawan ke Lampung pada Visit Lampung Year 2009, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung berupaya melakukan kerja sama dan koordinasi kegiatan dengan 11 kabupaten/kota.
Hanya saja, koordinasi kembali terhenti karena di setiap pemkab/kota saat ini tengah berlangsung pembahasan revisi APBD kabupaten/kota. ”Semua kabupaten/kota sudah merespons untuk membuat program pariwisata yang sinkron. Namun, semua kembali ke revisi APBD itu,” ujar Renny.
Sambil menunggu revisi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung kini bekerja sama dengan konsultan pariwisata untuk menyiapkan sumber daya manusia. Tujuannya, supaya Visit Lampung Year 2009 sukses. (hln)
Sumber: Kompas, Jumat, 1 Februari 2008
Kasubdin Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Renny Utari, Kamis (31/1), mengatakan, kurangnya kesiapan infrastruktur yang dimaksud di antaranya minimnya tujuan wisata alternatif sebelum menuju obyek wisata unggulan. Sehingga wisatawan tidak memiliki banyak pilihan obyek wisata.
Renny mencontohkan rute perjalanan wisata Bandar Lampung-Taman Nasional Way Kambas. Di sepanjang rute yang bisa ditempuh selama dua jam perjalanan tersebut sama sekali tidak ada obyek wisata alternatif yang menjadi pilihan selain obyek wisata utama.
Pusat jajanan atau pusat oleh- oleh hanya buka di akhir pekan, sementara tamu bisa datang kapan saja. ”Dengan demikian, rute wisata menjadi sepi dan wisatawan hanya disuguhi satu obyek saja dan pemandangan sepanjang perjalanan,” kata Renny.
Bahkan, kurangnya infrastruktur berupa akses menuju obyek wisata terjadi juga pada wisata alam unggulan Lampung, yakni Gunung Anak Krakatau. Untuk menuju lokasi wisata alam tersebut, wisatawan harus menyewa kapal sendiri.
Bagi wisatawan mancanegara (wisman), menyewa kapal laut tidak akan terasa mahal, sedangkan bagi wisatawan Nusantara (wisnus) menyewa kapal laut untuk menuju sebuah obyek wisata alam bisa dipastikan terasa mahal.
Kendala lain, bandar udara di Lampung belum terlalu dipilih sebagai bandar udara komersial alternatif. Selain jalur landasan pesawat hanya bisa didarati pesawat ukuran kecil, landasan pesawat juga pendek, sekitar 1.500 meter.
Kekurangan SDM
Pariwisata di Lampung juga belum bisa berkembang maksimal karena Lampung kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang pariwisata. Sampai saat ini, agen-agen perjalanan wisata di Lampung justru lebih banyak menjual tiket pesawat daripada menjual paket perjalanan. Akibatnya, wisman ataupun wisnus hanya mengenal sedikit saja obyek-obyek wisata unggulan di Lampung.
Renny mengaku sulit menjual paket perjalanan wisata di Lampung karena ketidaksiapan infrastruktur dan SDM. Oleh karena itu, untuk menarik kunjungan wisatawan ke Lampung pada Visit Lampung Year 2009, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung berupaya melakukan kerja sama dan koordinasi kegiatan dengan 11 kabupaten/kota.
Hanya saja, koordinasi kembali terhenti karena di setiap pemkab/kota saat ini tengah berlangsung pembahasan revisi APBD kabupaten/kota. ”Semua kabupaten/kota sudah merespons untuk membuat program pariwisata yang sinkron. Namun, semua kembali ke revisi APBD itu,” ujar Renny.
Sambil menunggu revisi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung kini bekerja sama dengan konsultan pariwisata untuk menyiapkan sumber daya manusia. Tujuannya, supaya Visit Lampung Year 2009 sukses. (hln)
Sumber: Kompas, Jumat, 1 Februari 2008
January 31, 2008
Penghargaan: Lampung Dapat Hadiah Sastra Rancage 2008
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hari ini, Kamis (31-1), Yayasan Kebudayaan Rancage mengganjar buku sastra berbahasa Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi, dengan penghargaan Hadiah Sastra Rancage 2008.
"Ini pertama sekali Hadiah Sastra Rancage diberikan untuk karya sastra berbahasa daerah dari luar Pulau Jawa. Sudah sepuluh kali Hadiah Sastra Rancange diberikan kepada karya sastra berbahasa daerah, baru kali ini penghargaan itu diberikan kepada sastra berbahasa Lampung," kata Irfan Anshori, salah seorang Dewan Juri Rancange Award 2008 yang juga anggota Pusat Studi Kebudayaan Sunda, dalam rilis yang disampaikan kepada Lampung Post, Rabu (30-1).
Irfan Anshory mengatakan, ada dua buku sastra berbahasa Lampung yang ditulis Udo Z. Karzi dan diikutsertakan dalam penilaian Hadiah Sastra Rancage. Tapi, penghargaan yang diberikan setiap tahun untuk karya sastra berbahasa daerah itu akhirnya jatuh ke Mak Dawah Mak Dibingi.
"Kami berharap hadiah ini menjadi pemicu bagi pelestarian bahasa Lampung di lingkungan masyarakatnya. Semoga menjadi pemicu penerbitan buku-buku sastra berbahasa Lampung," kata Irfan.
Menurut Irfan, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan sastrawan Ajip Rosidi sudah sejak lama mengamati perkembangan karya sastra berbahasa daerah yang ada di luar Pulau Jawa. Tapi, ternyata perkembangan karya sastra berbahasa Lampung lebih semarak dibandingkan daerah lainnya.
"Begitu kami menemukan buku berbahasa daerah Lampung, kami menghubungi penerbitnya. Mereka respek dan mengirimkan buku Udo Z. Karzi serta menyanggupi akan menerbitkan buku berbahasa Lampung secara kontinu," kata Irfan.
Hal senada diakui Direktur Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) Budi Hutasuhut, yang menerbitkan buku Mak Dawah Mak Dibingi. Buku berisi 50 puisi berbahasa Lampung itu diterbitkan MataKata bekerja sama B-Press, pada Desember 2007.
"Buku itu diterbitkan dalam rangka memopulerkan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan masyarakat. Kami berharap pemerintah daerah bisa menjadikan buku ini sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran muatan lokal," kata Budi.
Menurut Budi, penerbitan buku berbahasa Lampung itu didorong oleh kekhawatiran akan punahnya bahasa Lampung mengingat tidak banyak lagi penduduk Lampung yang menjadikannya bahasa sehari-hari. "Berdasarkan penelitian Yayasan SKL, salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat Lampung dalam berbahasa Lampung karena tidak banyak bacaan (literatur) dalam bahasa Lampung yang dapat mengakrabkan bahasa tersebut dengan masarakat pemiliknya," kata dia.
Sebab itu, masyarakat Lampung butuh bahan bacaan dalam bahasa Lampung, sehingga mereka merasa akrab dengan bahasa daerahnya. Setelah akrab, diharapkan masyarakat Lampung mencintai bahasa daerahnya. "Dengan begitu, mereka akan mempergunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar sehari-hari," kata dia. n HES/K-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Januari 2008
"Ini pertama sekali Hadiah Sastra Rancage diberikan untuk karya sastra berbahasa daerah dari luar Pulau Jawa. Sudah sepuluh kali Hadiah Sastra Rancange diberikan kepada karya sastra berbahasa daerah, baru kali ini penghargaan itu diberikan kepada sastra berbahasa Lampung," kata Irfan Anshori, salah seorang Dewan Juri Rancange Award 2008 yang juga anggota Pusat Studi Kebudayaan Sunda, dalam rilis yang disampaikan kepada Lampung Post, Rabu (30-1).
Irfan Anshory mengatakan, ada dua buku sastra berbahasa Lampung yang ditulis Udo Z. Karzi dan diikutsertakan dalam penilaian Hadiah Sastra Rancage. Tapi, penghargaan yang diberikan setiap tahun untuk karya sastra berbahasa daerah itu akhirnya jatuh ke Mak Dawah Mak Dibingi.
"Kami berharap hadiah ini menjadi pemicu bagi pelestarian bahasa Lampung di lingkungan masyarakatnya. Semoga menjadi pemicu penerbitan buku-buku sastra berbahasa Lampung," kata Irfan.
Menurut Irfan, Yayasan Kebudayaan Rancage pimpinan sastrawan Ajip Rosidi sudah sejak lama mengamati perkembangan karya sastra berbahasa daerah yang ada di luar Pulau Jawa. Tapi, ternyata perkembangan karya sastra berbahasa Lampung lebih semarak dibandingkan daerah lainnya.
"Begitu kami menemukan buku berbahasa daerah Lampung, kami menghubungi penerbitnya. Mereka respek dan mengirimkan buku Udo Z. Karzi serta menyanggupi akan menerbitkan buku berbahasa Lampung secara kontinu," kata Irfan.
Hal senada diakui Direktur Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) Budi Hutasuhut, yang menerbitkan buku Mak Dawah Mak Dibingi. Buku berisi 50 puisi berbahasa Lampung itu diterbitkan MataKata bekerja sama B-Press, pada Desember 2007.
"Buku itu diterbitkan dalam rangka memopulerkan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan masyarakat. Kami berharap pemerintah daerah bisa menjadikan buku ini sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran muatan lokal," kata Budi.
Menurut Budi, penerbitan buku berbahasa Lampung itu didorong oleh kekhawatiran akan punahnya bahasa Lampung mengingat tidak banyak lagi penduduk Lampung yang menjadikannya bahasa sehari-hari. "Berdasarkan penelitian Yayasan SKL, salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat Lampung dalam berbahasa Lampung karena tidak banyak bacaan (literatur) dalam bahasa Lampung yang dapat mengakrabkan bahasa tersebut dengan masarakat pemiliknya," kata dia.
Sebab itu, masyarakat Lampung butuh bahan bacaan dalam bahasa Lampung, sehingga mereka merasa akrab dengan bahasa daerahnya. Setelah akrab, diharapkan masyarakat Lampung mencintai bahasa daerahnya. "Dengan begitu, mereka akan mempergunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar sehari-hari," kata dia. n HES/K-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Januari 2008
Sanggar Seni Minim Pengetahuan Manajerial
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Selama ini persoalan yang terlihat paling menonjol dialami sanggar-sanggar seni baik di tingkat sekolah, kampus ataupun umum adalah minimnya pengetahuan manajerial yang dimiliki para pengurus sehingga banyak yang tidak mampu bertahan lama.
Andi Rahman dari Putra Lampung Mandiri (PLM) mengemukakan hal tersebut saat ditemui di Taman Budaya Lampung (TBL), Rabu (30-1). Dia mengatakan hal tersebut yang mendorongnya menggelar kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi dan Manajemen Pertunjukan di TBL sejak 29--31 Januari. "Pelatihan ini digelar untuk menjadi ruang share bagi penggiat sanggar seni yang ada sehingga mereka akan mendapatkan pemahaman manajerial serta kiat-kiatnya untuk survive," kata Andi.
Karena banyak sanggar-sanggar kebingungan mencari link-link jaringan. Maka, ia berharap wacana yang dimiliki para pekerja seni bisa bertambah. "Kemampuan manajerial sangat menentukan terhadap kehidupan sanggar-sanggar seni ke depan," ujar dia.
Kendati Andi mengemukakan belum melakukan penelitian khusus berkaitan dengan kebutuhan sanggar-sanggar, berdasar pada hasil perbincangan dengan para seniman, persoalan manajerial memang menjadi masalah yang utama yang dihadapi sanggar. Sebab, memang banyak pekerja dan penggiat sanggar seni tidak memiliki kemampuan manajerial yang baik.
Pelatihan ini diharapkan menambah pengetahuan para penggelola sanggar seni sehingga ke depan bisa melahirkan forum komunikasi dan silaturahmi antarsanggar. "Meskipun fungsi tersebut seharusnya dilakukan Dewan Kesenian Lampung (DKL), paling tidak kami membantu DKL dalam mewujudkannya."
Pelatihan ini diikuti 50 peserta dari sanggar-sanggar seni di Bandar Lampung, Metro, Tanggamus, dan Lampung Tengah. Adapun pemateri terdiri dari Harry Djayaningrat, Assalam Nasrudin, dan Supriati. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Januari 2008
Andi Rahman dari Putra Lampung Mandiri (PLM) mengemukakan hal tersebut saat ditemui di Taman Budaya Lampung (TBL), Rabu (30-1). Dia mengatakan hal tersebut yang mendorongnya menggelar kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi dan Manajemen Pertunjukan di TBL sejak 29--31 Januari. "Pelatihan ini digelar untuk menjadi ruang share bagi penggiat sanggar seni yang ada sehingga mereka akan mendapatkan pemahaman manajerial serta kiat-kiatnya untuk survive," kata Andi.
Karena banyak sanggar-sanggar kebingungan mencari link-link jaringan. Maka, ia berharap wacana yang dimiliki para pekerja seni bisa bertambah. "Kemampuan manajerial sangat menentukan terhadap kehidupan sanggar-sanggar seni ke depan," ujar dia.
Kendati Andi mengemukakan belum melakukan penelitian khusus berkaitan dengan kebutuhan sanggar-sanggar, berdasar pada hasil perbincangan dengan para seniman, persoalan manajerial memang menjadi masalah yang utama yang dihadapi sanggar. Sebab, memang banyak pekerja dan penggiat sanggar seni tidak memiliki kemampuan manajerial yang baik.
Pelatihan ini diharapkan menambah pengetahuan para penggelola sanggar seni sehingga ke depan bisa melahirkan forum komunikasi dan silaturahmi antarsanggar. "Meskipun fungsi tersebut seharusnya dilakukan Dewan Kesenian Lampung (DKL), paling tidak kami membantu DKL dalam mewujudkannya."
Pelatihan ini diikuti 50 peserta dari sanggar-sanggar seni di Bandar Lampung, Metro, Tanggamus, dan Lampung Tengah. Adapun pemateri terdiri dari Harry Djayaningrat, Assalam Nasrudin, dan Supriati. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Januari 2008
Bandar Lampung Buka Kawasan Wisata Kuliner
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno rencananya akan membuka kawasan wisata kuliner di Jalan Katamso, Tanjungkarang Pusat, usai salat jumat besok.
Tahap awal, kawasan ini terdiri dari 20 pedagang makanan gerobak bantuan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Perindag). Mereka merupakan hasil seleksi dari 42 pedagang yang mengajukan usulan mendapatkan bantuan gerobak, kursi, meja, tenda, sebagai peralatan dagangan yang akan ditempatkan di kawasan wisata kuliner.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) kota Bandar Lampung Enny Wahyuni mengatakan pusat santap malam yang akan menjadi salah satu kawasan wisata kuliner ini akan menjadi percontohan.
Untuk itu, dia sangat berharap, pedagang yang sudah mendapatkan tempat dan bantuan peralatan ini, dapat memperhatikan rasa, kebersihan, dan keindahan tempat di kawasan wisata kuliner.
"Hari Jumat (1-2), nanti, Wali Kota akan membuka langsung kawasan itu dan masyarakat sudah dapat memulai menikmati hidangan yang bapak-ibu berikan," kata Enny saat pengarahan kepada pedagang di Kantor Diperindag Kota, Rabu (30-1).
Enny mengatakan tujuan dibukanya kawasan wisata kuliner untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi wisata yang ada di Bandar Lampung dan memberi peluang kepada pedagang makanan untuk mengembangkan ekonomi keluarga.
Selain itu, memperkenalkan produk makanan khas Lampung, menjadi salah satu kawasan wisata kuliner, dan mengembangkan potensi dan sumber daya alam guna menarik investasi.
"Untuk tahap awal, bantuan dari pemerintah pusat berupa 20 gerobak makanan, meja kursi dan tenda. Jika dianggap berhasil, pemerintah pusat akan menambah bantuan pengembangan kawasan wisata kuliner yang menjadi percontohan ini," kata dia.
Langkah yang sudah diambil Deperindag, lanjut Enny, pihaknya sudah melakukan seleksi pedagang yang akan menempati 20 gerobak makanan tersebut.
Dari 42 pedagang makanan yang mengajukan usulan, diseleksi menjadi 20 pedagang saja. Sedangkan makanan yang akan disajikan berbagai aneka kuliner. Misalnya, beraneka ragam nasi, sop, mi, soto, steak, jus, dan es.
Sedangkan Ny. Elo, salah seorang pedagang yang mendapatkan bantuan gerobak, mengaku sangat senang dengan adanya bantuan tersebut. Terlebih, selain gerobak, bantuan juga berupa kursi dan meja, serta tenda.
"Tinggal bagaimana pedagang memanfaatkan bantuan itu bagi pengembangan ekonomi keluarga. Kami sebagai pedagang sudah sepakat untuk melaksanakan perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Disperindag," kata Ny. Elo. n KIM/K-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Januari 2008
Tahap awal, kawasan ini terdiri dari 20 pedagang makanan gerobak bantuan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Perindag). Mereka merupakan hasil seleksi dari 42 pedagang yang mengajukan usulan mendapatkan bantuan gerobak, kursi, meja, tenda, sebagai peralatan dagangan yang akan ditempatkan di kawasan wisata kuliner.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) kota Bandar Lampung Enny Wahyuni mengatakan pusat santap malam yang akan menjadi salah satu kawasan wisata kuliner ini akan menjadi percontohan.
Untuk itu, dia sangat berharap, pedagang yang sudah mendapatkan tempat dan bantuan peralatan ini, dapat memperhatikan rasa, kebersihan, dan keindahan tempat di kawasan wisata kuliner.
"Hari Jumat (1-2), nanti, Wali Kota akan membuka langsung kawasan itu dan masyarakat sudah dapat memulai menikmati hidangan yang bapak-ibu berikan," kata Enny saat pengarahan kepada pedagang di Kantor Diperindag Kota, Rabu (30-1).
Enny mengatakan tujuan dibukanya kawasan wisata kuliner untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi wisata yang ada di Bandar Lampung dan memberi peluang kepada pedagang makanan untuk mengembangkan ekonomi keluarga.
Selain itu, memperkenalkan produk makanan khas Lampung, menjadi salah satu kawasan wisata kuliner, dan mengembangkan potensi dan sumber daya alam guna menarik investasi.
"Untuk tahap awal, bantuan dari pemerintah pusat berupa 20 gerobak makanan, meja kursi dan tenda. Jika dianggap berhasil, pemerintah pusat akan menambah bantuan pengembangan kawasan wisata kuliner yang menjadi percontohan ini," kata dia.
Langkah yang sudah diambil Deperindag, lanjut Enny, pihaknya sudah melakukan seleksi pedagang yang akan menempati 20 gerobak makanan tersebut.
Dari 42 pedagang makanan yang mengajukan usulan, diseleksi menjadi 20 pedagang saja. Sedangkan makanan yang akan disajikan berbagai aneka kuliner. Misalnya, beraneka ragam nasi, sop, mi, soto, steak, jus, dan es.
Sedangkan Ny. Elo, salah seorang pedagang yang mendapatkan bantuan gerobak, mengaku sangat senang dengan adanya bantuan tersebut. Terlebih, selain gerobak, bantuan juga berupa kursi dan meja, serta tenda.
"Tinggal bagaimana pedagang memanfaatkan bantuan itu bagi pengembangan ekonomi keluarga. Kami sebagai pedagang sudah sepakat untuk melaksanakan perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Disperindag," kata Ny. Elo. n KIM/K-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Januari 2008
January 30, 2008
Pergelaran Budaya Lampung Undang Empat Keraton
[CIREBON] Provinsi Lampung mengundang empat keraton di Indonesia untuk menggelar pagelaran budaya yang direncanakan berlangsung pada bulan Februari 2008, kata Ketua Umum Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), A Nurdin Muhayat.
"Sebanyak empat keraton yang diundang itu masing-masing keraton di Cirebon, Bali, Solo, dan Banten," katanya, seperti dilaporkan Antara dari Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.
Nurdin yang mantan Wali Kota Bandarlampung itu menjelaskan, pergelaran budaya yang diikuti empat keraton tersebut dimaksudkan untuk mengenalkan budaya masing-masing keraton tadi kepada masyarakat Lampung.
Empat keraton tersebut masing-masing memiliki seni budaya yang khas. Keraton Kesultanan Kanoman Cirebon misalnya, memiliki seni tari topeng yang cukup bagus.
Sementara itu, Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, dalam kunjungannya ke Cirebon selam dua hari akhir pekan ini, mengatakan keberadaan keraton di Cirebon harus dipertahankan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.
"Lampung tidak lagi memiliki peninggalan bangunan kerajaan seperti di Cirebon ini. Padahal dahulu Lampung memiliki kerajaan besar Tulangbawang," katanya.
Oleh karena itu, Sjachroedin mengharapkan Cirebon yang masih memiliki sejumlah peninggalan sejarah berupa keraton dapat menjaga dan memeliharanya sehingga tidak punah seperti kerajaan Tulangbawang di Lampung.
Kunjungan gubernur Lampung beserta rombongan MPAL di Keraton Kanoman Cirebon, merupakan untuk yang kedua kalinya. Kunjungan itu berlangsung dalam rangka silaturahmi dengan keluarga besar Keraton Kanoman.
Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, mengatakan, kunjunganya beserta rombongan selain untuk memberikan bantuan sembako dan silaturahmi juga mendoakan kesembuhan penyakit yang diderita Sultan Kanoman XII, Sultan Raja Emirudin. Rombongan dari Lampung juga membawa sejumlah kiyai untuk mendoakan kesembuhan penyakit Sultan. [U-5]
Sumber: Suara Pembaruan, Rabu, 30 Januari 2008
"Sebanyak empat keraton yang diundang itu masing-masing keraton di Cirebon, Bali, Solo, dan Banten," katanya, seperti dilaporkan Antara dari Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.
Nurdin yang mantan Wali Kota Bandarlampung itu menjelaskan, pergelaran budaya yang diikuti empat keraton tersebut dimaksudkan untuk mengenalkan budaya masing-masing keraton tadi kepada masyarakat Lampung.
Empat keraton tersebut masing-masing memiliki seni budaya yang khas. Keraton Kesultanan Kanoman Cirebon misalnya, memiliki seni tari topeng yang cukup bagus.
Sementara itu, Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, dalam kunjungannya ke Cirebon selam dua hari akhir pekan ini, mengatakan keberadaan keraton di Cirebon harus dipertahankan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.
"Lampung tidak lagi memiliki peninggalan bangunan kerajaan seperti di Cirebon ini. Padahal dahulu Lampung memiliki kerajaan besar Tulangbawang," katanya.
Oleh karena itu, Sjachroedin mengharapkan Cirebon yang masih memiliki sejumlah peninggalan sejarah berupa keraton dapat menjaga dan memeliharanya sehingga tidak punah seperti kerajaan Tulangbawang di Lampung.
Kunjungan gubernur Lampung beserta rombongan MPAL di Keraton Kanoman Cirebon, merupakan untuk yang kedua kalinya. Kunjungan itu berlangsung dalam rangka silaturahmi dengan keluarga besar Keraton Kanoman.
Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, mengatakan, kunjunganya beserta rombongan selain untuk memberikan bantuan sembako dan silaturahmi juga mendoakan kesembuhan penyakit yang diderita Sultan Kanoman XII, Sultan Raja Emirudin. Rombongan dari Lampung juga membawa sejumlah kiyai untuk mendoakan kesembuhan penyakit Sultan. [U-5]
Sumber: Suara Pembaruan, Rabu, 30 Januari 2008
Kunjungan Wisata 2009: Pemprov Siapkan 'Event' dan Infrastruktur
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemprov Lampung telah menyiapkan 10 event kabupaten dan kota serta perbaikan infrastruktur dan sarana prasarana wisata guna mewujudkan Tahun Kunjungan Wisata Provinsi Lampung tahun 2009 yang akan datang.
Kasubdin Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Reni Utari, Selasa (29-1), mengatakan saat ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dan kerja sama dengan stakeholder terutama pemda kabupaten dan kota guna mempersiapkan segala sesuatunya.
"Secara umum, kesiapan infrastuktur terutama yang mengarah ke daerah wisata unggulan yang ada di Provinsi Lampung, sudah dalam kondisi yang baik. Tinggal perbaikan sarana dan prasana serta fasilitas yang ada di sana," kata Reni.
Sedangkan yang masih dirasa sangat kurang adalah persoalan moda transportasi penunjang ke tempat wisata unggulan.
Selain itu juga belum adanya selter yang memadai dan menunjang yang bisa dikunjungi wisatawan.
Contohnya, kata Reni, saat wisatawan akan menuju ke Taman Nasional Way Kambas, belum ada selter tujuan wisata alternatif yang bisa dijadikan pilihan sebelum memasuki Way Kambas.
"Pusat jajanan masyarakat yang biasa digelar pun hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga saat hari biasa pusat jajanan tidak buka dan jalanan sepi," kata dia.
Sedangkan persoalan moda transportasi yang belum memadai terasa di tempat wisata unggulan Lampung, yakni Gunung Krakatau. Sampai saat ini belum ada dermaga yang memadai. Juga dermaga di Canti yang menyebabkan wisatawan sulit menuju ke sana dari Lampung.
Padahal Gubernur sudah mengupayakan sejak 2000. "Tapi ini kan persoalan tingkat tinggi antardepartemen yang mesti mendapatkan izin Menteri Perhubungan," ujarnya.
Guna mempersiapkan segala penunjangnya, pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus melakukan koordinasi dengan pihak kabupaten dan kota. "Ini dilakukan agar program yang dikembangkan juga sinkron. Kabupaten dan kota sendiri saat ini sudah merespons, tetapi semuanya masih bergantung pada pembahasan revisi APBD yang masih berlangsung, apakah dihapus atau tidak," kata dia.
Selain itu, untuk mempersiapkan tahun kunjungan wisata Lampung 2009 tersebut, kata Reni, dinas telah menunjuk konsultan guna mendukung penyelenggaraannya.
Diharapkan, penyelenggaraan tahun kunjungan wisata benar-benar bisa dilakukan dengan profesional dan memang bisa menjual Lampung untuk dikunjungi wisatawan mancanegara dan nusantara. n TYO/K-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 Januari 2008
Kasubdin Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Reni Utari, Selasa (29-1), mengatakan saat ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dan kerja sama dengan stakeholder terutama pemda kabupaten dan kota guna mempersiapkan segala sesuatunya.
"Secara umum, kesiapan infrastuktur terutama yang mengarah ke daerah wisata unggulan yang ada di Provinsi Lampung, sudah dalam kondisi yang baik. Tinggal perbaikan sarana dan prasana serta fasilitas yang ada di sana," kata Reni.
Sedangkan yang masih dirasa sangat kurang adalah persoalan moda transportasi penunjang ke tempat wisata unggulan.
Selain itu juga belum adanya selter yang memadai dan menunjang yang bisa dikunjungi wisatawan.
Contohnya, kata Reni, saat wisatawan akan menuju ke Taman Nasional Way Kambas, belum ada selter tujuan wisata alternatif yang bisa dijadikan pilihan sebelum memasuki Way Kambas.
"Pusat jajanan masyarakat yang biasa digelar pun hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga saat hari biasa pusat jajanan tidak buka dan jalanan sepi," kata dia.
Sedangkan persoalan moda transportasi yang belum memadai terasa di tempat wisata unggulan Lampung, yakni Gunung Krakatau. Sampai saat ini belum ada dermaga yang memadai. Juga dermaga di Canti yang menyebabkan wisatawan sulit menuju ke sana dari Lampung.
Padahal Gubernur sudah mengupayakan sejak 2000. "Tapi ini kan persoalan tingkat tinggi antardepartemen yang mesti mendapatkan izin Menteri Perhubungan," ujarnya.
Guna mempersiapkan segala penunjangnya, pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus melakukan koordinasi dengan pihak kabupaten dan kota. "Ini dilakukan agar program yang dikembangkan juga sinkron. Kabupaten dan kota sendiri saat ini sudah merespons, tetapi semuanya masih bergantung pada pembahasan revisi APBD yang masih berlangsung, apakah dihapus atau tidak," kata dia.
Selain itu, untuk mempersiapkan tahun kunjungan wisata Lampung 2009 tersebut, kata Reni, dinas telah menunjuk konsultan guna mendukung penyelenggaraannya.
Diharapkan, penyelenggaraan tahun kunjungan wisata benar-benar bisa dilakukan dengan profesional dan memang bisa menjual Lampung untuk dikunjungi wisatawan mancanegara dan nusantara. n TYO/K-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 Januari 2008
Ikon Kota: Tugu Durian Dibangun di Sukadanaham
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Wajah Bandar Lampung kembali akan dihiasi tugu sebagai bangunan ikon kota. Bangunan itu berupa taman dengan Tugu Durian yang akan ditempatkan di Kelurahan Sukadanaham, tepatnya di perempatan antara Jalan K.H. Agus Salim, Radin Imba Kesuma, dan menuju ke arah PDAM Way Rilau.
Pihak Kecamatan Tanjungkarang Barat mengaku sedang mempersiapkan pembangunan taman dengan dana hasil swadaya warga setempat. Program ini juga menjadi terobosan dalam menyongsong Adipura, selain terus menggalakkan Ayo Bersih-Bersih.
"Kita harapkan partisipasi warga, khususnya Kecamatan Tanjungkarang Barat dan umumnya Kota Bandar Lampung untuk membantu terwujudnya program ini," kata Sekretaris Camat (Sekcam) Romas Yadi, Selasa (29-1) di ruang kerjanya.
Tak hanya warga, ia pun mengimbau bagi para pengusaha agar juga bersedia mendukung pembangunan taman ini. Diperkirakan pembangunan itu akan menelan biaya Rp90 juta.
Salah satu ciri khas yang akan tampak pada taman ini adalah berdirinya Tugu Durian. Dua bentuk tiruan buah ini akan ditempatkan pada puncak tugu. Seperti diketahui, buah durian merupakan potensi unggulan Kelurahan Sukadanaham.
Bila sedang musimnya, kebanyakan warga setempat juga beralih profesi sebagai pedagang durian musiman. "Mayoritas warganya juga punya kebun durian," kata Romas.
Peletakan batu pertama pembangunan taman rencananya akan dilakukan Wali Kota Eddy Sutrisno awal Februari mendatang.
Warga dan tokoh masyarakat setempat diakui Sekcam Romas cukup antusias menyambut program ini, salah satunya adalah Alfian, warga Kelurahan Segalamider.
Beberapa waktu sebelumnya, pihak kecamatan telah menjalankan program pengadaan pot-pot bunga di kantor-kantor kelurahan, termasuk kecamatan.
Beberapa ornamen-ornamen Lampung dipajang di dinding kantor dalam rangka pelestarian budaya. Selain itu, slogan-slogan ajakan dan imbauan juga dipasang di mulut-mulut gang dan tempat yang strategis.
Beberapa di antaranya berbunyi "Jangan Buang Sampah Sembarangan, Sampah Sumber Penyakit, dan Kebersihan Sebagian dari Iman." n */K-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 Januari 2008
Pihak Kecamatan Tanjungkarang Barat mengaku sedang mempersiapkan pembangunan taman dengan dana hasil swadaya warga setempat. Program ini juga menjadi terobosan dalam menyongsong Adipura, selain terus menggalakkan Ayo Bersih-Bersih.
"Kita harapkan partisipasi warga, khususnya Kecamatan Tanjungkarang Barat dan umumnya Kota Bandar Lampung untuk membantu terwujudnya program ini," kata Sekretaris Camat (Sekcam) Romas Yadi, Selasa (29-1) di ruang kerjanya.
Tak hanya warga, ia pun mengimbau bagi para pengusaha agar juga bersedia mendukung pembangunan taman ini. Diperkirakan pembangunan itu akan menelan biaya Rp90 juta.
Salah satu ciri khas yang akan tampak pada taman ini adalah berdirinya Tugu Durian. Dua bentuk tiruan buah ini akan ditempatkan pada puncak tugu. Seperti diketahui, buah durian merupakan potensi unggulan Kelurahan Sukadanaham.
Bila sedang musimnya, kebanyakan warga setempat juga beralih profesi sebagai pedagang durian musiman. "Mayoritas warganya juga punya kebun durian," kata Romas.
Peletakan batu pertama pembangunan taman rencananya akan dilakukan Wali Kota Eddy Sutrisno awal Februari mendatang.
Warga dan tokoh masyarakat setempat diakui Sekcam Romas cukup antusias menyambut program ini, salah satunya adalah Alfian, warga Kelurahan Segalamider.
Beberapa waktu sebelumnya, pihak kecamatan telah menjalankan program pengadaan pot-pot bunga di kantor-kantor kelurahan, termasuk kecamatan.
Beberapa ornamen-ornamen Lampung dipajang di dinding kantor dalam rangka pelestarian budaya. Selain itu, slogan-slogan ajakan dan imbauan juga dipasang di mulut-mulut gang dan tempat yang strategis.
Beberapa di antaranya berbunyi "Jangan Buang Sampah Sembarangan, Sampah Sumber Penyakit, dan Kebersihan Sebagian dari Iman." n */K-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 Januari 2008
January 28, 2008
Suara: Tentang Seni Budaya Lampung
Iswadi Pratama: Perhatikan Seni dan Budaya
PERHATIAN pemerintah di bidang seni dan budaya masih bersifat fisik. Bila bangunan fisiknya sudah berdiri, pembinaan kulturalnya ditinggalkan. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan fisik tidak sebanding dengan dampak yang dirasakan masyarakat. Beberapa kegiatan, Festival Krakatau misalnya, hanya rutinitas belaka.
"Seni dan budaya itu investasi jangka panjang. Tidak akan cukup dalam waktu satu atau dua tahun dengan membangunkan fisiknya saja," ujar Iswadi, Sabtu (26-1), di Taman Budaya Lampung.
Ia mencontohkan Pasar Seni yang secara fisik ada, tapi isinya tidak muncul. Padahal, Lampung juga bertanggung jawab menyokong Indonesia dalam rangka menjalankan keputusan PBB yang menginginkan pembangunan di negara-negara anggotanya harus bermatra kebudayaan. "Pembangunan seni dan budaya seharusnya tidak lagi artefak oriented, tapi lebih kepada cultural oriented," ujarnya.
Iswadi juga menyebut seni masih terpinggirkan dalam pendidikan. Seni masih tergolong pelajaran muatan lokal. Itu pun lebih banyak mempelajari teori, sedangkan prakteknya kurang. "Hasilnya, tidak sedikit para pelajar yang lemah pemahamannya dalam membuat atau mengapresiasi puisi," ujar seniman yang tinggal di Kemiling ini.
Lebih dari itu, minat membaca dan menulis pun dinilai masih rendah. Ke depan, pemimpin daerah ini harus paham indikator keberhasilan pembangunan seni dan budaya. Sosoknya tidak harus bisa menguasai kedua bidang tersebut, tapi minimal memiliki wawasan pembangunan yang menyeluruh.
"Harus jelas. Apakah dilihat dari kuantitas pembangunan gedung-gedungnya, produk-produk keseniannya atau sanggar-sanggar keseniannya." n */U-1
Lupita Lukman: Pembinaan Minim
PERKEMBANGAN puisi dan syair di Lampung cukup baik. Individu-individunya tidak hanya mengandalkan komunitas sebagai media pengembangan diri. Di samping itu, mereka juga aktif berproses secara mandiri dengan membaca dan mempelajari karya-karya luar. Namun, kondisi ini belum didukung dengan perhatian intensif pemerintah.
"Lampung dan Bali dikenal negerinya penyair. Daerah kita termasuk kondusif bagi para penyair untuk mengembangkan diri," papar Santika Lupitasari, Sabtu (26-1) malam.
Meski demikian, pembinaan pemerintah hampir tidak terlihat. "Hubungan dengan pemerintah masih kurang."
Kesenian di Lampung, ujar penyair yang dikenal dengan nama Lupita Lukman itu, tidak menjadi prioritas pembangunan dan hanya menempati urutan ke sekian. "Terutama eksplorasinya yang hampir tidak terlihat," tambah mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung ini.
Ia berharap pemimpin ke depan lebih memperhatikan kekurangan ini. Sumber daya manusia yang cukup potensial harus didukung dengan pembinaan yang baik pula. "Hatinya harus lepas dari ego pribadi dan lebih perhatian terhadap masyarakatnya," ujar warga Bandar Lampung itu n */U-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 28 Januari 2008
PERHATIAN pemerintah di bidang seni dan budaya masih bersifat fisik. Bila bangunan fisiknya sudah berdiri, pembinaan kulturalnya ditinggalkan. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan fisik tidak sebanding dengan dampak yang dirasakan masyarakat. Beberapa kegiatan, Festival Krakatau misalnya, hanya rutinitas belaka.
"Seni dan budaya itu investasi jangka panjang. Tidak akan cukup dalam waktu satu atau dua tahun dengan membangunkan fisiknya saja," ujar Iswadi, Sabtu (26-1), di Taman Budaya Lampung.
Ia mencontohkan Pasar Seni yang secara fisik ada, tapi isinya tidak muncul. Padahal, Lampung juga bertanggung jawab menyokong Indonesia dalam rangka menjalankan keputusan PBB yang menginginkan pembangunan di negara-negara anggotanya harus bermatra kebudayaan. "Pembangunan seni dan budaya seharusnya tidak lagi artefak oriented, tapi lebih kepada cultural oriented," ujarnya.
Iswadi juga menyebut seni masih terpinggirkan dalam pendidikan. Seni masih tergolong pelajaran muatan lokal. Itu pun lebih banyak mempelajari teori, sedangkan prakteknya kurang. "Hasilnya, tidak sedikit para pelajar yang lemah pemahamannya dalam membuat atau mengapresiasi puisi," ujar seniman yang tinggal di Kemiling ini.
Lebih dari itu, minat membaca dan menulis pun dinilai masih rendah. Ke depan, pemimpin daerah ini harus paham indikator keberhasilan pembangunan seni dan budaya. Sosoknya tidak harus bisa menguasai kedua bidang tersebut, tapi minimal memiliki wawasan pembangunan yang menyeluruh.
"Harus jelas. Apakah dilihat dari kuantitas pembangunan gedung-gedungnya, produk-produk keseniannya atau sanggar-sanggar keseniannya." n */U-1
Lupita Lukman: Pembinaan Minim
PERKEMBANGAN puisi dan syair di Lampung cukup baik. Individu-individunya tidak hanya mengandalkan komunitas sebagai media pengembangan diri. Di samping itu, mereka juga aktif berproses secara mandiri dengan membaca dan mempelajari karya-karya luar. Namun, kondisi ini belum didukung dengan perhatian intensif pemerintah.
"Lampung dan Bali dikenal negerinya penyair. Daerah kita termasuk kondusif bagi para penyair untuk mengembangkan diri," papar Santika Lupitasari, Sabtu (26-1) malam.
Meski demikian, pembinaan pemerintah hampir tidak terlihat. "Hubungan dengan pemerintah masih kurang."
Kesenian di Lampung, ujar penyair yang dikenal dengan nama Lupita Lukman itu, tidak menjadi prioritas pembangunan dan hanya menempati urutan ke sekian. "Terutama eksplorasinya yang hampir tidak terlihat," tambah mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung ini.
Ia berharap pemimpin ke depan lebih memperhatikan kekurangan ini. Sumber daya manusia yang cukup potensial harus didukung dengan pembinaan yang baik pula. "Hatinya harus lepas dari ego pribadi dan lebih perhatian terhadap masyarakatnya," ujar warga Bandar Lampung itu n */U-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 28 Januari 2008
Wisata: Arung Jeram Bisa Undang Turis Asing
SUMBERJAYA (Lampost): Lokasi arung jeram Way Besai, Lampung Barat, bisa mendatangan wisatawan mancanegara, kata Budi Yakin, Sekretaris Jenderal Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), saat pelatihan arung jeram dan pembentukan Pengurus Daerah (Pengda) FAJI Lampung di Sumberjaya, pekan lalu.
Menurut Budi, peluang mendatangkan wisatawan sangat memungkinkan untuk olahraga arung jeram, apalagi Lampung Barat sudah siap untuk jenis olahraga tersebut. "Kalau melihat lokasi dan peralatannya, Lampung Barat sudah siap menerima tamu," kata dia.
Dengan pelatihan, kata Budi, Lampung Barat diharapkan lebih siap dalam menerima tamu dan olahragawan arung jeram juga bisa lebih profesional. "Jika momentum pelatihan ini dimanfaatkan dengan baik, saya yakin dengan sarana prasarana yang memadai dan lokasi arung jeram yang menarik olahraga arung jeram akan semakin berkembang", katanya.
Potensi wisata Lampung Barat, sangat komplet dan punya nilai jual untuk ditawarkan kepada wisatawan sehingga pelatihan arung jeram diharapkan menjadi salah satu motivasi, baik olahraga ataupun sektor pariwisata Lampung Barat.
Data yang dihimpun Lampung Post, pelatihan yang diikuti sejumlah organisasi pencinta alam Lampung dan anggota Marinir tersebut, dilaksanakan empat hari sejak 23--27 Januari, mendatangkan instruktur dari Pengurus Besar (PB) FAJI, Jon Lede, Lodi, Komar, dan Unang.
"Materi pelatihan dasar arung jeram meliputi, teknik mendayung, rescue, dan lain-lain," kata Toni, penggagas lokasi arung jeram Lampung.
Menurut Toni, pelatihan ini sengaja ditempatkan di Lampung Barat, karena pertimbangan di Provinsi Lampung kini, baru Kabupaten Lampung Barat yang memiliki lokasi dan sarana untuk olahraga arung jeram, "Sekarang cuma Lampung Barat yang punya lokasi dan alatnya," kata dia.n HEN/D-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 28 Januari 2008
Menurut Budi, peluang mendatangkan wisatawan sangat memungkinkan untuk olahraga arung jeram, apalagi Lampung Barat sudah siap untuk jenis olahraga tersebut. "Kalau melihat lokasi dan peralatannya, Lampung Barat sudah siap menerima tamu," kata dia.
Dengan pelatihan, kata Budi, Lampung Barat diharapkan lebih siap dalam menerima tamu dan olahragawan arung jeram juga bisa lebih profesional. "Jika momentum pelatihan ini dimanfaatkan dengan baik, saya yakin dengan sarana prasarana yang memadai dan lokasi arung jeram yang menarik olahraga arung jeram akan semakin berkembang", katanya.
Potensi wisata Lampung Barat, sangat komplet dan punya nilai jual untuk ditawarkan kepada wisatawan sehingga pelatihan arung jeram diharapkan menjadi salah satu motivasi, baik olahraga ataupun sektor pariwisata Lampung Barat.
Data yang dihimpun Lampung Post, pelatihan yang diikuti sejumlah organisasi pencinta alam Lampung dan anggota Marinir tersebut, dilaksanakan empat hari sejak 23--27 Januari, mendatangkan instruktur dari Pengurus Besar (PB) FAJI, Jon Lede, Lodi, Komar, dan Unang.
"Materi pelatihan dasar arung jeram meliputi, teknik mendayung, rescue, dan lain-lain," kata Toni, penggagas lokasi arung jeram Lampung.
Menurut Toni, pelatihan ini sengaja ditempatkan di Lampung Barat, karena pertimbangan di Provinsi Lampung kini, baru Kabupaten Lampung Barat yang memiliki lokasi dan sarana untuk olahraga arung jeram, "Sekarang cuma Lampung Barat yang punya lokasi dan alatnya," kata dia.n HEN/D-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 28 Januari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)