BANDAR LAMPUNG (Lampost): HARI ini, Sabtu (9-2), sekitar pukul 17.00, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno akan membuka Katamso Wisata Kuliner (KWK). Atraksi dan hiburan dari pengamen jalanan akan memeriahkan pembukaan tersebut.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Bandar Lampung Enny Wahyuni mengatakan pihaknya sudah menyiapkan segala sesuatu mengenai puncak acara pembukaan KWK. Diharapkan, warga kota dapat menyaksikan pembukaan KWK tersebut.
"Rencana kita, pembukaan KWK nanti akan diawali dengan tembang-tembang dari pengamen jalanan yang sengaja kita datangkan. Dan, Wali Kota serta tamu undangan akan mencicipi hidangan yang ada di KWK. Sehingga, pedagang harus benar-benar menyajikan menu masakan sesuai yang mereka tawarkan sebelumnya," kata Enny, Jumat (8-2).
Enny berharap KWK akan terus berkembang dan menjadi yang terbesar di Bandar Lampung. Dengan demikian, pihaknya dapat kembali mengajukan proposal ke Departemen Perdagangan RI untuk meminta kembali bantuan gerobak, meja, kursi, dan tenda bagi pengembangan KWK.
"Semua tergantung kita. Kalau nanti pihak Departemen Perdagangan mengatakan KWK berhasil dan pantas untuk dikembangkan, mungkin ada bantuan kedua dan ketiga," mantan Kadis Pertanian dan Peternakan itu.
Dengan demikian, akan semakin banyak warga yang mempunyai peluang mengembangkan usahanya. Dampaknya pembangunan ekonomi kerakyatan akan semakin berkembang.
Sejumlah warga mengaku penasaran dengan KWK yang akan dibuka malam Minggu ini. Sebab, mereka menganggap selama ini pusat jajanan malam sudah ada di Bandar Lampung. Seperti di Jalan Kartini, Pasar Mambo, dan Way Halim.
"Kalau mau terus berkembang dan menjadi salah satu objek wisata, masakan di KWK harus khas dan menarik minat pengunjung," kata Santi (30), warga Way Halim.
Menurut Santi, jangan sampai KWK yang akan menjadi salah satu ikon Bandar Lampung hanya berumur sesaat, akibat masakan yang disajikan biasa saja dan tidak menggugah selera masyarakat pada umumnya.
"Ada pusat jajanan makanan malam, tentu semua akan mendukung. Namun, yang harus diperhatikan adalah keamanan, kenyamanan, dan pelayanan yang baik," kata ibu satu anak itu.
Sebelumnya, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan bantuan gerobak dari Departemen Perdagangan RI merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah pusat dalam menggairahkan sektor riil. Yaitu dengan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh pada perekonomian rakyat dengan memberikan fasilitas dan kemudahan untuk meningkatkan ekonomi.
Apalagi, sejak terjadi krisis ekonomi, sektor riil mengalami stagnasi. Sehingga, menyebabkan kinerja ekonomi semakin lemah, pengangguran meningkat, dan keluarga miskin bertambah. n KIM/K-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 9 Februari 2008
February 9, 2008
February 8, 2008
Hadiah Rancage untuk Sastra Lampung

Mak Dawah Mak DibingiPenulis : Udo Z. Karzi
Penerbit : BE Press, Bandar Lampung, Desember 2007
Tebal : xii + 71 halaman
MASYARAKAT Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi-adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan yang berirama), wawancan (sejarah), dan sebagainya. Meskipun kebanyakan masih berbentuk sastra lisan yang sering dilantunkan dalam upacara adat, ada beberapa yang sudah ditulis dan diterbitkan berupa buku.
Akan tetapi semua karya sastra dalam bahasa Lampung itu tergolong sastra tradisional yang sangat terikat kepada aturan bait dan rima yang ketat. Satu bait pantun tradisional Lampung (adi-adi) harus terdiri atas empat baris, satu baris harus mengandung tujuh suku kata, dan harus berstruktur a-b-a-b. Sebagai contoh, kita kutip sebuah adi-adi: bayang-bayangmu kundang / ratong di tengah bingi / minjak diguyang hiwang / niku delom hanipi (bayang-bayangmu kasih / datang di tengah malam / bangkit dibangunkan tangis / dikau dalam mimpi).
Adapun karya sastra modern dalam bahasa Lampung selama ini boleh dikatakan belum ada. Sastrawan modern yang tinggal di Lampung memang cukup banyak, tetapi umumnya menuliskan karya sastra mereka dalam bahasa Indonesia. Belum ada yang menggunakan bahasa ibu (mother language), yaitu bahasa Lampung, sebagai wahana atau medium sastra modern. Akibatnya, dunia sastra Lampung selalu dalam kondisi “hidup segan mati tak mau”, jauh tertinggal dari sastra Sunda, Jawa, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern di samping tetap melestarikan sastra tradisional.
Itulah sebabnya buku kumpulan 50 sajak berbahasa Lampung dari Udo Z. Karzi (nama pena dari Zulkarnain Zubairi), yang berjudul Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam), merupakan terobosan besar yang mendobrak kebekuan dunia sastra Lampung. Sajak-sajak Udo Z. Karzi betul-betul membebaskan diri dan tidak merasa terikat dengan aturan puisi tradisional Lampung.
Mari kita simak salah satu sajak Udo yang mengalir bebas: pagi ga, kundang / aga minjak jak kedugokmu / bingi juga maseh mesurok ditinggal bulan / pedom, pedom do luwot, kundang / lagi wat masani buhanipi / tentang pattun nyanyianni surga (terlalu pagi, kasih / mau bangkit dari kantukmu / malam juga masih enggan ditinggal bulan / tidur, tidurlah lagi, kasih / masih ada masa untuk bermimpi / tentang pantun nyanyian surga).
Bukan hanya struktur sajak Udo yang modern, isi sajak-sajaknya pun menceritakan hal-hal yang kontemporer (masa kini): kehidupan rakyat kecil yang terpuruk, demonstrasi mahasiswa, pencemaran lingkungan, sempitnya lapangan kerja, penegakan hukum yang belum memuaskan, korupsi yang merajalela, dan para politisi yang tidak memikirkan rakyat. Ada pula sajak-sajak yang merupakan komtemplasi kehidupan Udo sendiri, di samping sajak-sajak yang melukiskan jiwa resah yang ingin menggapai Sang Pencipta. Dengan kata lain, sajak-sajak Udo Z. Karzi benar-benar mencerminkan semangat zaman.
Ketika penulis resensi ini membacakan terjemahan beberapa sajak Udo Z. Karzi di hadapan Ajip Rosidi, secara spontan sastrawan kondang itu mengatakan, “Telah lahir Chairil Anwar-nya Lampung, meskipun agak terlambat!”
Tidak diragukan lagi, buku Udo Z. Karzi merupakan pelopor lahirnya sastra Lampung modern, sehingga sangat pantas memperoleh Hadiah Sastera “RancagĂ©” tahun 2008 bagi sastra Lampung untuk pertama kalinya. Diharapkan buku ini mampu merangsang para sastrawan Lampung lainnya untuk menulis karya-karya sastra dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung.
* Irfan Anshory, putra asli Tanggamus yang tinggal di Bandung.
Beberapa puisi Udo Z. Karzi
dalam Mak Dawah Mak Dibingi
(bahasa Indonesianya diterjemahkan Irfan Anshory)
KEHAGA
ngelagok nyak ngeliak badan tenggalan
miker! nyuba pai ngereti
api sai kukehagai dilom hurik inji?
api sai radu kuguaikon semakkung inji?
bejuta hanipi ngeringkol dilom hati:
"jadikon hurikmu ngedok reti
jama niku, ulun tuhamu, rikmu
jama sapa riya!"
ah, liom nyak lamon cawa
mak perlu kulajukon
tepedak, radu saka hurik
makkung wat sai kuguwaikon
radu saka sekula
maseh juga makkung jadi jelma
: nyak maseh barang makkung jadi!
DAMBA
tercenung aku pandang diriku sendiri
berpikir! mencoba untuk mengerti
apa yang kukehendaki dalam hidup ini?
apa yang telah kulakukan sebelum ini?
berjuta damba melingkar dalam hati:
"jadikan hidupmu berarti
bagimu, ibu-bapakmu, temanmu
bagi siapa saja!"
ah, malu aku banyak bicara
tak perlu kulanjutkan
sadar, sudah lama hidup
belum ada yang kukerjakan
sudah lama bersekolah
masih juga belum jadi orang
: aku masih barang belum jadi
BIBAS
1
sai waktu, ruangan tiba-tiba
jadi melunik pepelegohan
tambah mepelik, aga ngejepit
nyak meliyot, minjak cungak mit langik
ngembangko rua culuk
tawakkal!
tembok-tembok kedol perda nyusul
jak sunyinni rang, tambah redik rik pelik
mak ngedok jiwa kucuba nyepok renglaya luar
kidang sunyinni radu tekebok, mak ngedok lagi
renglaya aga lucuk
ikhtiar terakhir sai-saini yaddo de mekik
2
tekejut nyak!
kuliak luwot nyakku repa sai watni
cecok di luwar tembok jama bibas
sedang keterkurungan radu saka lebon
seraduni injuk ampai miyah tiba-tiba
ngembang kemegahan dunia di hadapanku
rik sunyinni kehalok’an sai muhelau
ngajukon gairah kehurik'an sai mubalak
nangkopkon rasa betah hurik saka
ngerasakon tor, helau, rik riyang
kehaga jadi mekar delom badanku
BEBAS
1
suatu waktu, ruangan tiba-tiba
menjadi ciut perlahan-lahan
kian menyempit, hendak menjepit
aku menggeliat, bangkit menengadah ke langit
mengembangkan dua tangan
tawakkal!
tembok-tembok tebal saling menyusul
dari segala arah, kian dekat dan ketat
tanpa daya kucoba mencari jalan keluar
tapi semua sudah tertutup, tak ada lagi
jalan untuk lolos
ikhtiar terakhir satu-satunya adalah berteriak
2
aku tersentak!
kudapati kembali diriku sebagaimana adanya
berdiri di luar tembok dengan bebas
sedang keterkurungan sudah lama hilang
lalu seakan baru siuman tiba-tiba
mengembang kemegahan dunia di hadapanku
dengan segala kemungkinan yang lebih bagus
menyodorkan gairah kehidupan yang lebih besar
menghinggapkan rasa betah hidup lebih lama
menikmati rasa manis, indah dan gembira
harapan menjadi mekar dalam diriku
AJAR SEKAM BAHASA CINTA
ajar sekam cawa kasih
lain ketihaan riluk sai dituntunkon
lain unjuk kuat ngiyangko hati
lain utot culuk betatoni preman
sai mak kenal nilai kejelmaan
sai kelop delom kebiadaban
: di simpang pematang ulun nyuwah
maling manuk sambil nari-nari
ajar sekam cawa cinta
lain kekuasaan ngikok kemerdekaan
lain pi’il sai tiumbar sekadar naruhkon regani badan
mani barang inji radu saka tigadaiko
kanjak bejuta-juta abad sai radu pas waitanoh,
pullan, kahwa, lada, sanini gulai jadi beni ulun-ulun mabuk harta
lain lading rik badik mahu rah sai miwang
pas tiulohkon mit sarungni
lain pedang belumor dusa sai siap nikol
galahni sapa riya sai nyegokko kesumat
nambi jelma sai ngancam nyakku: kupagas niku kanah
rani inji nyak ngedengi ya mati kena tujah
jelma sai pendendam mak tikenal radu saka ngincarni
jemoh induh sapa lagi sai pegat sia-sia
ajar sekam cawa penyair
lain cawa sanak di renglaya sai lamon katanni
sai mak wat ngerasakon iyos pusauan culukni induk
sai mak kesipak ngedengi tor cawani bebai
sai mak biasa bebagi bangik rik sakik jama sesama
sai ingkah meredik jama buasni terminal, pasar, renglaya balak
sai mak lagi waya jama jelma bareh
: sanak sai pegat digilas kerita api
mak ngedok sai peduli
ajar sekam cawa kedamaian
lain ribut antarpekon sai meletus di ipa-ipa
pas keadilan, hukum, adat mak lagi jadi tutukan
pas kejelmaan tiganti kebinatangan rik kesitanan
lain pistol-senapang panas ambau mesiu sai ampai riya nyambar
galahni para demonstran sai nuntut atoranni drakula
: rua pasang mahasiswa pegat ditimbak tentera mahu rah!
AJARI KAMI BAHASA CINTA
ajari kami bahasa kasih
bukan kekerasan telanjang yang dipertontonkan
bukan unjuk kekuatan menggersangkan jiwa
bukan otot lengan bertato preman
yang tak kenal nilai kemanusiaan
yang tenggelam dalam kebiadaban
: di simpang pematang pencuri ayam
dibakar massa sambil menari-nari
ajari kami bahasa cinta
bukan kekuasaan membelenggu kemerdekaan
bukan gengsi yang diumbar sekadar mempertaruhkan harga diri
sebab, barang ini sudah lama tergadaikan
sejak berjuta-juta abad yang silam ketika airtanah,
hutan, kopi, lada, palawija menjadi milik orang-orang mabuk harta
bukan pisau dan badik haus darah yang menangis
saat dikembalikan ke sarungnya
bukan pedang berlumur dosa yang siap menebas
leher siapa pun yang menyimpan kesumat
kemarin seseorang mengancamku: kutusuk kau nanti
hari ini aku mendengar ia mati tertikam
seorang pendendam tak dikenal sudah lama mengincarnya
besok entah siapa lagi yang mati sia-sia
ajari kami bahasa penyair
bukan bahasa anak jalanan yang penuh luka
yang tak pernah merasakan sejuknya belaian tangan ibu
yang tak sempat mendengar manisnya tutur kata wanita
yang tak biasa berbagi bahagia dan duka dengan sesama
yang hanya akrab dengan kebuasan terminal, pasar, jalan raya,
yang tak lagi ramah bagi orang lain
: seorang bocah mati digilas kereta api
tak ada yang peduli
ajari kami bahasa kedamaian
bukan keributan antardesa yang meledak di mana-mana
ketika keadilan, hukum, adat tak lagi jadi ikutan
ketika kemanusiaan berganti kebinatangan dan kesetanan
bukan pistol-senapan panas bau mesiu yang baru saja menyambar
leher para demonstran yang menuntut undang-undang drakula
: dua pasang mahasiswa mati dibunuh tentara haus darah!
KIK CAWA MAK TIREGAI LAGI
kik cawa mak tiregai lagi
seribu guru seribu kiyai seribu pakar seribu penyimbang
mak kuk ngedok reti api-api
sejuta mahasiswa sejuta petani sejuta buruh sejuta ulun
mak kuk ngedok daya api-api
rua ratus juta jelma sai musakik
mak kuk dapok cawa api-api
kik cawa mak tiregai lagi
aga api analisisni cendekiawan
aga api kritikni mahasiswa
aga api tawaini ulama
aga api pidatoni pemimpin
aga api gegunikni muli
aga api
kik cawa mak tiregai lagi
api gunani nyak cawa
kidang pema retini mati
maka, kik cawa mak tiregai lagi
nyak aga ngupok
midak
ngutuk
nyak aga nyerocos injuk burung
ticabut bulu gundangni
raduni, nyak aga betasbih
betahmid
betahlil
betakbir
atawa, kik cawa mak tiregai lagi
nyak aga nagankon diriku riya sai lowangan
BILA KATA TAK DIHARGAI LAGI
bila kata tak dihargai lagi
seribu guru, seribu kyai, seribu pakar, seribu pemimpin
tak kan berarti apa-apa
sejuta mahasiswa, sejuta petani, sejuta buruh, sejuta massa
tak kan punya daya apa-apa
dua ratus juta rakyat yang menderita
tak kan dapat bersuara apa-apa
bila kata tak dihargai lagi
untuk apa analisis cendekiawan
untuk apa kritik mahasiswa
untuk apa nasehat ulama
untuk apa pidato pemimpin
untuk apa rayuan sang dara
untuk apa
bila kata tak dihargai lagi
untuk apa aku bicara
tapi diam berarti mati
maka, bila kata tak dihargai lagi
aku akan mengumpat
memaki
mengutuk
aku akan nyerocos seperti burung
dicabut bulu ekornya
lalu, aku akan bertasbih
bertahmid
bertahlil
bertakbir
atau, bila kata tak dihargai lagi
aku akan membiarkan diriku saja yang gila
LAWOKKU TANNO NYEGOK KESUMAT
dang niku bewarah lagi kebanian tuyuk turingku ngarungi samudera
di labuhan jukung nyak mak ngeliak lagi nelayan nyepok iwa
umbakni keliwat ganas. badai sekali inji rasani nyecam nihan
tuhuk segok di kekutni lawok. batu karang sai bela
diakuk reklamasi mak dapok ngelindungini lagi
nyak terok langui. kidang ulun-ulun ngehalang nyakku
: lawok lagi singut. cuaca lagi murak
dang niku bewarah lagi tuyuk turingku jelma lawok
di pesisir barat jukung-jukung mak belayar
mani, pelawok-pelawok unjak gering segaga kuasa di darat
atawa, medomi lonte delom ngisonni bingi
nyak terok ngelapahi pantai. kidang nyak tenggalanan
: lawok lagi butong. nyak lagi pusing
dang niku harap lagi nyak ngedengi iwa duyung
atawa ratu lawok. mani nyak ingkah ngeliak pullan bakau
lebon dikanik antu lawok. umang-umang, halipu, rik tahi
di sekekejungni pantai jadi saksi serakahni jelma
nyak mak lagi ngeliak lawokku biru. iwa rik jukuk lawok
radu saka mit barong jama lebonni panorama di bah wai
nyak terok nyelami kekutni lawok. kidang mak lagi dapok
: lawokku tanno nyegok kesemat
LAUTKU KINI MENYIMPAN KESUMAT
jangan kauceritakan lagi keberanian nenek moyangku mengarungi samudera
di labuhan jukung aku tak melihat lagi nelayan mencari ikan
gelombangnya kelewat ganas. badai kali ini terasa begitu mencekam
tuhuk bersembunyi di dasar lautan. batu karang yang habis
dijarah reklamasi tak mampu melindunginya lagi
aku ingin berenang. tapi orang-orang melarangku
: laut sedang marah. cuaca lagi buruk
jangan kaudongengkan lagi nenek moyangku orang pelaut
di pesisir barat perahu-perahu sudah tak berlayar
sebab, pelaut-pelaut lebih suka berebut kuasa di darat
atau, meniduri pelacur dalam dinginnya malam
aku ingin menyusuri pantai. tapi aku sendirian
: laut sedang murka. aku sedang pusing
jangan kauharapkan lagi aku mendengar ikan duyung
atau ratu samudera. sebab aku hanya melihat hutan bakau
hilang dimakan hantu laut. umang-umang, keong, dan tinja
di sepanjang pantai menjadi saksi keserakahan manusia.
aku tak lagi melihat lautku biru. ikan dan rumput laut
sudah lama pergi bersama sirna panorama bawah air
aku ingin menyelami dasar laut. tapi tak lagi bisa
: lautku kini menyimpan kesumat
KICIK TERAI
senginno nangon terai, minan
kidang lain terai sai medomkon ati
ram buya ga ngicik sememanjang masa
mak kebunyi mak ngedok titik temu
pikerkon riya hal watni terai
pas terai ratong ulun hiruk
bejam-jam nunggu
terai yaddo de rencaka sai tisusun delom ati
atawa malah titulis delom agendani jelma-jelma rituk
sesekali terai bewarah tattang jelma-jelma romantis
sai petungga kundang kidang mak dapok api-api
selain ngitung-ngitung tiakni wai sai gugor
jak hatok ngenai kaleng urak di kudanni lamban
terai kedok becong senginno, minan
kidang hati ram mak miyos ulehni
ya nyatani mak dapok miyahkon hati neram
apui telanjor tebalak
mak hak dacok padom
ulehni terai sememanjang tahun sekalipun
radu do taru pai nyalahkon terai
terai nangon mak kuk ngerti sai neram rasakon
terai mak pandai jama keharaga neram
terai muneh mak kuk paham api sai ram pikerkon
radu taru pai nyesoli terai
ram ingkah ingok terai radu ngeni ram reti
jadi, mak ngedok alasan menyuwoh jama terai
senginno nangon terai, minan
kedok nihan
kidang neram tetop mak ngerti
api terai maseh nyegokkon sai resia
badan basoh kidang kurasa panas sai nyengik
TENTANG HUJAN
semalam memang hujan, tante
tapi bukan hujan yang menidurkan hati
kita terlampau lelah berbincang sepanjang masa
tanpa suara tanpa titik temu
pikirkan saja tentang eksistensi hujan
ketika hujan datang orang-orang sibuk
berjam-jam menunggu
hujan adalah rencana yang tersusun dalam hati
atau malah tertulis dalam agenda orang-orang sibuk
sesekali hujan berkisah tentang orang-orang romantis
yang bertemu kekasih tapi tak bisa berbuat apa-apa
selain menghitung-hitung rintik air yang jatuh
dari atap mengenai kaleng butut di belakang rumah
hujan lebat sekali semalam, tante
tapi hati kita tak sejuk karenanya
dia nyatanya tak bisa membangunkan hati kita
api terlanjur membesar
tak kan padam
oleh hujan sepanjang tahun sekalipun
sudahlah berhenti dulu menyalahkan hujan
hujan memang tak kan mengerti tentang perasaan kita
hujan tak kan tahu dengan obsesi kita
hujan juga tak kan paham apa yang kita pikirkan
sudahlah berhentilah menyesali hujan
kita hanya ingat hujan telah memberi kita arti
jadi, tak ada alasan membenci hujan
semalam memang hujan, tante
lebat sekali
tapi kita tetap tak mengerti
apakah hujan masih merahasiakan sesuatu
badan kuyup tapi yang kurasa panas menyengat
MAK DAWAH MAK DIBINGI
mak dawah mak dibingi
kuran maseh riya ngewarahkon
banjer kukuk tupan
bencana di lamon rang
-- musim tambah panas, kidang kekala terai
bakas sai mekik-mekik
cak lading cutik lagi nembus tenai
nyak tekesima
tehejong
ah, nyatani sai jahat nyebar
delom setiap detakni sai hurik
nyusori negarabatin sai bingi
bingi mak seangi sai tipikerkon
bingi nyegokkon resiani tenggalan
kidang bingi jujor ngakui risok sareh
cutik sungsai nyembul jak kebelah bingi
lampu keliwat ridap nyusori kelomni
mak dawah mak dibingi
nyak resah
neram ingkah nunggu lanjutanni hurik
neram nyatani ingkah ngejalani
induh api sai bakal tejadi
ngebelah angini negara batin
redio maseh ngedendangkon
: mak dawah mak dibingi
TAK SIANG TAK MALAM
tak siang tak malam
koran masih saja menuturkan
banjir gempa topan
bencana di banyak tempat
-- musim tambah panas, tapi kadang hujan
seorang lelaki berteriak-teriak
belati hampir menembus perut
aku terkesima
terduduk
ah, ternyata kejahatan menyebar
dalam setiap detak kehidupan
menelusuri negarabatin suatu malam
malam tak sesunyi yang terpikirkan
malam menyembunyikan rahasianya sendiri
tapi malam jujur mengakui sering resah
sedikit kegelisahan menyembul dari sisi malam
lampu terlampau remang menelusuri gelapnya
tak siang tak malam
aku gelisah
kita hanya menunggu kelanjutan hidup
kita nyatanya hanya menjalani
entah apa yang bakal terjadi
membelah kesunyian negarabatin
radio masih mendendangkan
: tak siang tak malam
Sumber: Blog Irfan Anshory, 7 Februari 2008
Potensi Daerah: Durian Bisa Jadi Nilai Lebih Kota
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Salah satu potensi Kota Bandar Lampung yang bisa menjadi strong point (nilai lebih, red) ialah durian. Sejak puluhan tahun lalu, kawasan Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, dan Batu Putu, telah menjadi sentra buah musiman tersebut.
Wakil Wali Kota Bandar Lampung Kherlani menilai durian asal Sukadanaham tidak kalah manis dan enak dengan buah sejenis asal Sumatera Selatan. Seandainya setiap rumah menanam satu batang pohon durian, bukan tidak mungkin Bandar Lampung menjadi kota wisata durian.
Selain itu, masyarakat dapat meningkatkan penghasilan pada saat tertentu untuk menjual durian kepada wisatawan yang datang berkunjung ke Bandar Lampung. "Bukan hanya warga, rumah makan, hotel, dan tempat wisata lainnya juga dapat melakukan hal yang sama, jika kita sepakat Bandar Lampung dijadikan kota wisata durian," kata Kherlani, Rabu (6-2).
Kherlani meminta semua jajarannya dan masyarakat Bandar Lampung mendukung langkah wali kota menjadikan ikon buah durian sebagai buah khas Bandar Lampung yang mudah didapat, murah, dan berkualitas.
Apalagi, dengan rencana pembangunan Taman Tugu Durian di pertigaan Jalan Agus Salim--Radin Imba Kesuma Ratu, diharapkan dapat menjadi modal utama mendorong budi daya durian di Kota Tapis Berseri ini.
"Pak wali sudah mengajak kita semua agar Taman Tugu Durian benar-benar dijadikan monumen kota kalau Bandar Lampung merupakan salah satu daerah penghasil durian yang enak, manis, dan berkualitas baik," kata dia.
Sehingga, keterampilan dan keahlian dari warga untuk mengembangkan bibit durian lokal sangat diharapkan, guna melahirkan bibit durian Bandar Lampung yang khas dan berbeda dengan durian dari daerah lainnya.
Pantauan Lampung Post di lapangan, penjual durian sudah menjamur di Kota Bandar Lampung. Selain di kawasan Sukadanaham, di jalur dua Jalan Sultan Agung sampai ke Taman Hutan Kota Way Halim sudah dipenuhi penjual durian. Harga durian yang ditawarkan kepada masyarakat, sekalipun masih relatif mahal, tetapi bervariasi.
Harga yang ditawarkan saat ini, mulai Rp7.500--Rp15.000 per buah. Masih mahalnya harga durian disebabkan musim ini adalah panen perdana awal tahun 2008. Selain itu, pedagang durian beralasan buah yang dijualnya adalah durian jatuh, bukan peraman. "Kalau tidak bagus atau tidak manis, silakan ditukar," kata Anton (34), pedagang durian di kawasan Sukadanaham yang ditemui Lampung Post, kemarin. n KIM/K-1
Sumber: Lampung Post, Jumat, 8 Februari 2008
Wakil Wali Kota Bandar Lampung Kherlani menilai durian asal Sukadanaham tidak kalah manis dan enak dengan buah sejenis asal Sumatera Selatan. Seandainya setiap rumah menanam satu batang pohon durian, bukan tidak mungkin Bandar Lampung menjadi kota wisata durian.
Selain itu, masyarakat dapat meningkatkan penghasilan pada saat tertentu untuk menjual durian kepada wisatawan yang datang berkunjung ke Bandar Lampung. "Bukan hanya warga, rumah makan, hotel, dan tempat wisata lainnya juga dapat melakukan hal yang sama, jika kita sepakat Bandar Lampung dijadikan kota wisata durian," kata Kherlani, Rabu (6-2).
Kherlani meminta semua jajarannya dan masyarakat Bandar Lampung mendukung langkah wali kota menjadikan ikon buah durian sebagai buah khas Bandar Lampung yang mudah didapat, murah, dan berkualitas.
Apalagi, dengan rencana pembangunan Taman Tugu Durian di pertigaan Jalan Agus Salim--Radin Imba Kesuma Ratu, diharapkan dapat menjadi modal utama mendorong budi daya durian di Kota Tapis Berseri ini.
"Pak wali sudah mengajak kita semua agar Taman Tugu Durian benar-benar dijadikan monumen kota kalau Bandar Lampung merupakan salah satu daerah penghasil durian yang enak, manis, dan berkualitas baik," kata dia.
Sehingga, keterampilan dan keahlian dari warga untuk mengembangkan bibit durian lokal sangat diharapkan, guna melahirkan bibit durian Bandar Lampung yang khas dan berbeda dengan durian dari daerah lainnya.
Pantauan Lampung Post di lapangan, penjual durian sudah menjamur di Kota Bandar Lampung. Selain di kawasan Sukadanaham, di jalur dua Jalan Sultan Agung sampai ke Taman Hutan Kota Way Halim sudah dipenuhi penjual durian. Harga durian yang ditawarkan kepada masyarakat, sekalipun masih relatif mahal, tetapi bervariasi.
Harga yang ditawarkan saat ini, mulai Rp7.500--Rp15.000 per buah. Masih mahalnya harga durian disebabkan musim ini adalah panen perdana awal tahun 2008. Selain itu, pedagang durian beralasan buah yang dijualnya adalah durian jatuh, bukan peraman. "Kalau tidak bagus atau tidak manis, silakan ditukar," kata Anton (34), pedagang durian di kawasan Sukadanaham yang ditemui Lampung Post, kemarin. n KIM/K-1
Sumber: Lampung Post, Jumat, 8 Februari 2008
February 6, 2008
Wisata: Pembukaan KWK Peluang Pengembangan Ekonomi
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Rencana pembangunan kawasan Katamso Wisata Kuliner (KWK) membuka peluang bagi masyarakat dalam pengembangan ekonomi kerakayatan.
Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan pengembangan KWK yang akan dibuka Sabtu (9-2), bukan untuk kepentingan wali kota. Ini dimaksudkan agar Bandar Lampung memiliki kawasan wisata kuliner seperti di Pecinan (Semarang). Di mana, di kawasan itu banyak sekali pedagang makanan yang menjadikan daerah tersebut kawasan wisata kuliner.
"Apa yang dilakukan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perindag), adalah satu terobosan menarik bantuan pusat untuk meningkatkan perekonomian warga Bandar Lampung. Kita berharap, KWK yang akan dibuka juga bisa berkelanjutan dalam hal penataan PKL yang ada," kata Eddy, Senin (4-2).
Ke depan, penataan kawasan untuk kepentingan masyarakat pedagang akan dikembangkan di lantai dasar Ramayana dan Jalan Raden Intan. "Bila perlu, pembatas jalan kita buat seperti pembatas bus way (trans-Jakarta, red) di Jakarta. Sehingga, akan lebih indah dan tertata dengan rapi. Tidak seperti saat ini, yang terkesan semrawut," kata Eddy.
Tahap awal, KWK terdiri dari 20 pedagang makanan gerobak bantuan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Perindag). Mereka merupakan hasil seleksi dari 42 pedagang yang mengajukan usulan mendapatkan bantuan gerobak, kursi, meja, tenda, sebagai peralatan dagangan yang akan ditempatkan di kawasan wisata kuliner.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Bandar Lampung Enny Wahyuni mengatakan pusat santap malam yang akan menjadi salah satu kawasan wisata kuliner ini akan menjadi percontohan.
Untuk itu, dia sangat berharap pedagang yang sudah mendapatkan tempat dan bantuan peralatan ini dapat memperhatikan rasa, kebersihan, dan keindahan tempat di kawasan wisata itu. n KIM/K-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 6 Februari 2008
Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan pengembangan KWK yang akan dibuka Sabtu (9-2), bukan untuk kepentingan wali kota. Ini dimaksudkan agar Bandar Lampung memiliki kawasan wisata kuliner seperti di Pecinan (Semarang). Di mana, di kawasan itu banyak sekali pedagang makanan yang menjadikan daerah tersebut kawasan wisata kuliner.
"Apa yang dilakukan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perindag), adalah satu terobosan menarik bantuan pusat untuk meningkatkan perekonomian warga Bandar Lampung. Kita berharap, KWK yang akan dibuka juga bisa berkelanjutan dalam hal penataan PKL yang ada," kata Eddy, Senin (4-2).
Ke depan, penataan kawasan untuk kepentingan masyarakat pedagang akan dikembangkan di lantai dasar Ramayana dan Jalan Raden Intan. "Bila perlu, pembatas jalan kita buat seperti pembatas bus way (trans-Jakarta, red) di Jakarta. Sehingga, akan lebih indah dan tertata dengan rapi. Tidak seperti saat ini, yang terkesan semrawut," kata Eddy.
Tahap awal, KWK terdiri dari 20 pedagang makanan gerobak bantuan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Perindag). Mereka merupakan hasil seleksi dari 42 pedagang yang mengajukan usulan mendapatkan bantuan gerobak, kursi, meja, tenda, sebagai peralatan dagangan yang akan ditempatkan di kawasan wisata kuliner.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Bandar Lampung Enny Wahyuni mengatakan pusat santap malam yang akan menjadi salah satu kawasan wisata kuliner ini akan menjadi percontohan.
Untuk itu, dia sangat berharap pedagang yang sudah mendapatkan tempat dan bantuan peralatan ini dapat memperhatikan rasa, kebersihan, dan keindahan tempat di kawasan wisata itu. n KIM/K-2
Sumber: Lampung Post, Rabu, 6 Februari 2008
Land Mark: Masyarakat Bangun Tugu Durian
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno meletakkan batu pertama pembangunan Taman Tugu Durian, di Simpang Tiga Jalan Radin Imba Kesuma Ratu--Jalan Agus Salim, Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, sekitar pukul 10.00, Selasa (5-2). Diharapkan, adanya Taman Tugu Durian menjadikan Bandar Lampung kota wisata durian.
Camat Tanjungkarang Barat Nursyamsu Gani mengatakan dibangunnya Taman Tugu Durian di Kelurahan Sukadanaham karena kawasan tersebut merupakan sentra tanaman durian di Bandar Lampung. Pihak kecamatan juga ingin menjadikan tempat ini sebagai kawasan agrowisata durian.
"Pembangunan Taman Tugu Durian merupakan hasil swadaya masyarakat Tanjungkarang Barat, dengan perkiraan biaya pembangunan sebesar Rp90 juta--Rp100 juta. Sudah banyak pengusaha yang akan memberikan bantuan pembangunan Taman Tugu Durian tersebut," kata Nursyamsu Gani.
Bantuan tersebut, berasal dari H. Ridwan Nasution sebesar Rp15 juta. Sedangkan bantuan lain yang sudah menyatakan akan memberikannya dalam waktu dekat, Bupati Lampung Tengah Andi Achmad Syampurnajaya, Thomas Riska, Haryono Utomo, dan Anang Sukiman.
"Sedangkan tanah pembangunannya pemberian Camat Tanjungkarang Barat," kata Nursyamsu, menyebut dirinya sendiri.
Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan jika dilihat dalam gambar tampaknya pembangunan Taman Tugu Durian akan memberikan ciri khas durian asal Kota Tapis Berseri. Namun, dia berharap agar pembangunan Taman Tugu Durian tidak memakan waktu lama.
"Dengan adanya Taman Tugu Durian tersebut, saya berharap akan menumbuhkan minat warga Bandar Lampung untuk terus membudidayakan tanaman tersebut. Dengan demikian, Bandar Lampung benar-benar akan menjadi kawasan agrowisata durian dan menjadi salah satu sentra durian di Lampung," kata Eddy.
Eddy meminta masyarakat Sukadanaham dapat terus mengembangkan budi daya durian dengan citra rasa yang khas. "Saya berharap, contoh buah durian yang diberikan hari ini, benar-benar merupakan durian lokal yang bisa terus dikembangkan," kata dia.
Ketua Pelaksana Pembangunan Taman Tugu Durian yang juga Sekretaris Camat (Sekcam) Tanjungkarang Barat Romas Yadi mengatakan salah satu ciri khas yang akan tampak pada taman ini adalah berdirinya Taman Tugu Durian. Satu bentuk tiruan buah ini akan ditempatkan pada puncak tugu.
"Seperti diketahui, buah durian merupakan potensi unggulan Kelurahan Sukadanaham. Bila sedang musimnya, kebanyakan warga setempat juga beralih profesi sebagai pedagang durian musiman. Mayoritas warganya juga punya kebun durian," kata Romas. n KIM/*/K-1
Sumber: Lampung Post, Rabu, 6 Februari 2008
Camat Tanjungkarang Barat Nursyamsu Gani mengatakan dibangunnya Taman Tugu Durian di Kelurahan Sukadanaham karena kawasan tersebut merupakan sentra tanaman durian di Bandar Lampung. Pihak kecamatan juga ingin menjadikan tempat ini sebagai kawasan agrowisata durian.
"Pembangunan Taman Tugu Durian merupakan hasil swadaya masyarakat Tanjungkarang Barat, dengan perkiraan biaya pembangunan sebesar Rp90 juta--Rp100 juta. Sudah banyak pengusaha yang akan memberikan bantuan pembangunan Taman Tugu Durian tersebut," kata Nursyamsu Gani.
Bantuan tersebut, berasal dari H. Ridwan Nasution sebesar Rp15 juta. Sedangkan bantuan lain yang sudah menyatakan akan memberikannya dalam waktu dekat, Bupati Lampung Tengah Andi Achmad Syampurnajaya, Thomas Riska, Haryono Utomo, dan Anang Sukiman.
"Sedangkan tanah pembangunannya pemberian Camat Tanjungkarang Barat," kata Nursyamsu, menyebut dirinya sendiri.
Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan jika dilihat dalam gambar tampaknya pembangunan Taman Tugu Durian akan memberikan ciri khas durian asal Kota Tapis Berseri. Namun, dia berharap agar pembangunan Taman Tugu Durian tidak memakan waktu lama.
"Dengan adanya Taman Tugu Durian tersebut, saya berharap akan menumbuhkan minat warga Bandar Lampung untuk terus membudidayakan tanaman tersebut. Dengan demikian, Bandar Lampung benar-benar akan menjadi kawasan agrowisata durian dan menjadi salah satu sentra durian di Lampung," kata Eddy.
Eddy meminta masyarakat Sukadanaham dapat terus mengembangkan budi daya durian dengan citra rasa yang khas. "Saya berharap, contoh buah durian yang diberikan hari ini, benar-benar merupakan durian lokal yang bisa terus dikembangkan," kata dia.
Ketua Pelaksana Pembangunan Taman Tugu Durian yang juga Sekretaris Camat (Sekcam) Tanjungkarang Barat Romas Yadi mengatakan salah satu ciri khas yang akan tampak pada taman ini adalah berdirinya Taman Tugu Durian. Satu bentuk tiruan buah ini akan ditempatkan pada puncak tugu.
"Seperti diketahui, buah durian merupakan potensi unggulan Kelurahan Sukadanaham. Bila sedang musimnya, kebanyakan warga setempat juga beralih profesi sebagai pedagang durian musiman. Mayoritas warganya juga punya kebun durian," kata Romas. n KIM/*/K-1
Sumber: Lampung Post, Rabu, 6 Februari 2008
February 4, 2008
Wisata: Banyak 'Travel' Cuma Jual Tiket
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Geliat dunia kepariwisataan di Provinsi Lampung ditentukan dengan banyaknya travel agent (agen perjalanan) yang membuka paket kunjungan ke berbagai objek wisata unggulan. Namun, kenyataannya, masih sedikit travel agent yang melakukan hal itu, mereka lebih banyak pada usaha ticketing.
Kepala Subdinas Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung Reni Utari Rusdi mengatakan kini bisa dihitung dengan jari perusahaan travel agent yang membuka paket kunjungan kepada wisatawan untuk bertandang ke berbagai obyek wisata unggulan di Lampung.
"Berdasar pada catatan kami, paling tidak Elendra dan Arie Tour yang terus eksis membuka paket wisata kepada wisatawan. Begitu juga Mahligai dan Puspa Tour yang baru beberapa hari lalu sudah memberangkatkan wisatawan dari luar negeri ke Way Kambas," kata Reni di Bandar Lampung, Minggu (3-2).
Sedangkan usaha travel agent lain, menurut Reni, lebih banyak memfokuskan penjualan tiket. "Meskipun itu tidak salah, seharusnya juga mereka memikirkan bagaimana menjual berbagai objek wisata di Lampung kepada wisatawan dalam satu bentuk paket wisata."
Sebelum era reformasi, untuk membangun perusahaan travel agent tidaklah mudah. Pemohonnya harus mendapatkan persetujuan Dirjen Pariwisata lebih dahulu. Pemerintah harus melihat keseriusan dari perusahaan tersebut untuk menjual paket wisata. Akan tetapi, yang ada sekarang jauh berbeda.
Penyebab hal itu terjadi, kata Reni, karena persoalan lemahnya SDM. Selain itu, biasanya agen perjalanan yang menjual paket wisata lebih banyak memiliki jaringan lewat IT sehingga bisa menjadi perusahaan travel karena mendapatkan "muntahan" wisatawan dari daerah lain. Sedangkan yang tidak memiliki jaringan akan kesulitan menjual paket wisata. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 4 Februari 2008
Kepala Subdinas Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung Reni Utari Rusdi mengatakan kini bisa dihitung dengan jari perusahaan travel agent yang membuka paket kunjungan kepada wisatawan untuk bertandang ke berbagai obyek wisata unggulan di Lampung.
"Berdasar pada catatan kami, paling tidak Elendra dan Arie Tour yang terus eksis membuka paket wisata kepada wisatawan. Begitu juga Mahligai dan Puspa Tour yang baru beberapa hari lalu sudah memberangkatkan wisatawan dari luar negeri ke Way Kambas," kata Reni di Bandar Lampung, Minggu (3-2).
Sedangkan usaha travel agent lain, menurut Reni, lebih banyak memfokuskan penjualan tiket. "Meskipun itu tidak salah, seharusnya juga mereka memikirkan bagaimana menjual berbagai objek wisata di Lampung kepada wisatawan dalam satu bentuk paket wisata."
Sebelum era reformasi, untuk membangun perusahaan travel agent tidaklah mudah. Pemohonnya harus mendapatkan persetujuan Dirjen Pariwisata lebih dahulu. Pemerintah harus melihat keseriusan dari perusahaan tersebut untuk menjual paket wisata. Akan tetapi, yang ada sekarang jauh berbeda.
Penyebab hal itu terjadi, kata Reni, karena persoalan lemahnya SDM. Selain itu, biasanya agen perjalanan yang menjual paket wisata lebih banyak memiliki jaringan lewat IT sehingga bisa menjadi perusahaan travel karena mendapatkan "muntahan" wisatawan dari daerah lain. Sedangkan yang tidak memiliki jaringan akan kesulitan menjual paket wisata. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 4 Februari 2008
Wisata: Kini, Tak Sulit Mencari Taman Di Bandar Lampung
BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Sejumlah warga di Kota Bandar Lampung tertolong dengan munculnya taman wisata di kota tersebut, terutama taman wisata alam.
"Pada era 1990-an tidak ada tempat wisata selain wisata belanja sehingga kami sering bertamasya ke luar daerah," kata Antonio, warga Telukbetung, Bandar Lampung, Sabtu (2-2).
Namun, memasuki tahun 2000, kata dia, sejumlah investor mulai melirik peluang bisnis yang menggiurkan karena potensi pengunjung sangat besar.
Taman Wisata Bumi Kedaton (TWBK), misalnya, yang berada di Kawasan Wisata Terpadu Batu Putu, Bandar Lampung, dikemas dengan lingkungan alami menjadi "taman safari" mini di Lampung.
Di lokasi tersebut terdapat beberapa jenis hewan langka, seperti siamang, monyet ekor panjang, gajah, ular, kuda, kakak tua, buaya, dan lainnya.
"Kami tidak perlu lagi mengajak anak-anak ke Taman Safari Indonesia untuk melihat hewan-hewan itu. Cukup ke Bumi Kedaton selain dekat, menghemat waktu dan biaya," kata dia.
Seorang pengelola TWBK, Putu Mastra, mengatakan bagi pengunjung yang ingin menaiki gajah sambil keliling taman, pawang hewan berbelalai panjang itu telah siap mengantarkan dengan biaya sekitar Rp15 ribu--Rp20 ribu per orang.
"Begitu pula bagi yang ingin menjadi 'koboi' bisa menunggang kuda, tapi tetap dipandu dan dijaga pawangnya," kata dia.
Pengelola juga menyediakan cottage dan lokasi bumi perkemahan dengan pemandangan alam yang menyejukkan.
Ada juga kolam renang dan kafe yang menyediakan makanan khas daerah Lampung, seperti selimpok (dodol), lemang, dan tapai ketan.
Selain itu, bagi mereka yang ingin menikmati mandi di alam bebas, yakni sungai dengan air dari pegunungan, tinggal memilih lokasi yang dangkal atau agak dalam.
Kemudian, bagi pengunjung yang suka memancing, ada juga kolam pemancingan dengan aneka jenis ikan.
Guna menuju TWBK, yang berada di pinggir Kota Bandar Lampung itu, memang tidak ada angkutan umum menuju ke sana.
Jika tidak menggunakan kendaraan sendiri, bisa menyewa taksi argo atau dengan sistem borongan sekitar Rp150 ribu--Rp200 ribu sekali jalan.
Lokasi wisata lain, yang masih di Bandar Lampung dan bernuansa alami, yakni Lembah Hijau dengan dilengkapi tempat rekreasi dan kolam renang water boom yang menjadi daya tarik tersendiri.
Kedua taman tersebut berada di lereng Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura WAR) sehingga suasana pengunungan dan alamnya masih terasa. n K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 4 Februari 2008
"Pada era 1990-an tidak ada tempat wisata selain wisata belanja sehingga kami sering bertamasya ke luar daerah," kata Antonio, warga Telukbetung, Bandar Lampung, Sabtu (2-2).
Namun, memasuki tahun 2000, kata dia, sejumlah investor mulai melirik peluang bisnis yang menggiurkan karena potensi pengunjung sangat besar.
Taman Wisata Bumi Kedaton (TWBK), misalnya, yang berada di Kawasan Wisata Terpadu Batu Putu, Bandar Lampung, dikemas dengan lingkungan alami menjadi "taman safari" mini di Lampung.
Di lokasi tersebut terdapat beberapa jenis hewan langka, seperti siamang, monyet ekor panjang, gajah, ular, kuda, kakak tua, buaya, dan lainnya.
"Kami tidak perlu lagi mengajak anak-anak ke Taman Safari Indonesia untuk melihat hewan-hewan itu. Cukup ke Bumi Kedaton selain dekat, menghemat waktu dan biaya," kata dia.
Seorang pengelola TWBK, Putu Mastra, mengatakan bagi pengunjung yang ingin menaiki gajah sambil keliling taman, pawang hewan berbelalai panjang itu telah siap mengantarkan dengan biaya sekitar Rp15 ribu--Rp20 ribu per orang.
"Begitu pula bagi yang ingin menjadi 'koboi' bisa menunggang kuda, tapi tetap dipandu dan dijaga pawangnya," kata dia.
Pengelola juga menyediakan cottage dan lokasi bumi perkemahan dengan pemandangan alam yang menyejukkan.
Ada juga kolam renang dan kafe yang menyediakan makanan khas daerah Lampung, seperti selimpok (dodol), lemang, dan tapai ketan.
Selain itu, bagi mereka yang ingin menikmati mandi di alam bebas, yakni sungai dengan air dari pegunungan, tinggal memilih lokasi yang dangkal atau agak dalam.
Kemudian, bagi pengunjung yang suka memancing, ada juga kolam pemancingan dengan aneka jenis ikan.
Guna menuju TWBK, yang berada di pinggir Kota Bandar Lampung itu, memang tidak ada angkutan umum menuju ke sana.
Jika tidak menggunakan kendaraan sendiri, bisa menyewa taksi argo atau dengan sistem borongan sekitar Rp150 ribu--Rp200 ribu sekali jalan.
Lokasi wisata lain, yang masih di Bandar Lampung dan bernuansa alami, yakni Lembah Hijau dengan dilengkapi tempat rekreasi dan kolam renang water boom yang menjadi daya tarik tersendiri.
Kedua taman tersebut berada di lereng Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura WAR) sehingga suasana pengunungan dan alamnya masih terasa. n K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 4 Februari 2008
February 3, 2008
Kronik: DKKBL Terbitkan Buku Legenda
BANDAR LAMPUNG--Dewan Kesenian Kota Bandar Lampung (DKKBL) segera menerbitkan buku legenda yang berkembang di kalangan masyarakat. Satu yang sedang dipersiapkan adalah Legenda Sumur Puteri.
Ketua Harian DKKBL, Syaiful Anwar mengatakan, daya tarik dan cerita-cerita unik di balik keberadaan Sumur Putri itu, akan didokumentasikan. "Kami segera membentuk tim penyusun buku legenda itu, termasuk siap menerima masukan dan input dari berbagai sumber untuk memperkaya isinya," kata dia.
Kawasan Sumut Putri itu juga menjadi lokasi utama tradisi "keramasan" bagi warga, khususnya umat Islam dari kalangan generasi muda, saat menjelang puasa Ramadan setiap tahunnya. Warga Bandar Lampung dan tempat lain juga masih terus berbondong-bondong datang ke sana untuk menjalani tradisi tersebut sekalian berekreasi. Namun wilayah itu juga dikenal angker, akibat adanya cerita-cerita mistik dan legenda yang berkembang. n ANT/S-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Februari 2008
Ketua Harian DKKBL, Syaiful Anwar mengatakan, daya tarik dan cerita-cerita unik di balik keberadaan Sumur Putri itu, akan didokumentasikan. "Kami segera membentuk tim penyusun buku legenda itu, termasuk siap menerima masukan dan input dari berbagai sumber untuk memperkaya isinya," kata dia.
Kawasan Sumut Putri itu juga menjadi lokasi utama tradisi "keramasan" bagi warga, khususnya umat Islam dari kalangan generasi muda, saat menjelang puasa Ramadan setiap tahunnya. Warga Bandar Lampung dan tempat lain juga masih terus berbondong-bondong datang ke sana untuk menjalani tradisi tersebut sekalian berekreasi. Namun wilayah itu juga dikenal angker, akibat adanya cerita-cerita mistik dan legenda yang berkembang. n ANT/S-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Februari 2008
Esai: Strategi Kelisanan
-- Asarpin*
SATU bulan sudah tahun baru 2008 lewat. Tahun baru 2009 nanti dua tarikh Masehi dan Hijriyah dipertemukan Tuhan setelah lama bersimpangan jalan. Sementara kita nyaris tidak meniatkan perubahan apa-apa. Betapa kering tulisan kita akhir-akhir ini. Ratusan bahkan ribuan puisi lahir setiap tahun, tapi nyaris tidak memberi keunikan.
Likuran buku analekta cerita pendek setiap tahun diterbitkan, tapi tidak memberi kita harga pada strategi bertutur yang mengasyikkan. Puluhan buku novel dipasarkan, tapi tidak memberi kemaknaan pada novelty sebagai bukti adanya kebudayaan. Esai dan kritik sastra lebih menyerupai kerja kalangan dokter yang gemar melakukan autopsi terhadap pasiennya. Seni panggung dari teater hingga tari, performance art a,i,u hingga seni instalasi, hanya tak-tik-tong kelamai jagung dengan tara gundah-gundah bukan gula-gulana apalagi guna-guna.
Tidak ada hasrat bercerita ria, main-main, menampilkan lelucon yang menampik dan menggada kesadaran imaji kita saat membacanya. Saya shock, kata teman saya, Sihabudin, dari Yogyakarta yang baru menjejakkan kakinya di Lampung sebagai dosen Unila di Bandar Lampung ini, semua orang dari suku apa pun begitu serius dalam bergaul. Ya, kita tidak punya budaya plesetan, atau improvisasi dengan cara mengaduk-aduk, menyanding, merebut, membikin kelainan, membuat ketaksaan, apalagi kegilaan. Semua membelalakkan mata pada gaya kemodernan dengan alasan kemajuan, dengan dalih kekinian, dengan dalil dan teori mutakhir. Kalaupun ada cerita paling-paling hanya menampilkan ide esensial yang lumrah. Kalaupun tampak menyerupai esai dan kritik sastra, paling banter menyuguhkan pengetahuan postfactum jadi-jadian, ide pembacaan pastiche yang juga dilanjutkan dengan strategi pastiche sebagai pernyataan perang atau memerangi pengarang. Tidak ada perlawanan, apalagi ajakan untuk melakukan "perang kode" atau "memerangi kode" yang telah menghegemoni kesadaran masyarakat sastra.
Gaya penulisan prosa lebih sebagai monolog batin sendiri, dan kalau pun ada dialog, maka tokoh jadi bulan-bulanan dan pemerasan biografi. Menolak dianggap sebagai cerita biografis tapi memeras dan memiuh biografi keluarga, konon akan melahirkan ketaksaan, kelincahan, subversif, obviatif (pesona keempat) yang sebelumnya telah ditunjukkan dalam pesona ketiga dengan bahasa pengucapan yang khusus, dan entah frasa semacam apa lagi. Menampik embik kambing dan salak anjing, tapi tidak mampu menyudu karung goni berisi cerita aneka warna dengan motif kakerlak, gertak sambel, apalagi mengertak-ngertakkan kata.
Maka, jadilah prosa kita melompat-lompat tapi tidak kesurupan, itu mah namanya keranjingan, apalagi menampilkan gaya dissonansi warna, melukis dengan kata-kata. Wuh, kalian hanya mendaraskan keinginan pulang dengan lirikus yang belum sempat menambatkan hati di tempat yang baru tapi tidak cukup mencintai tempat asal. Telanjur ingin melupakan kampung halaman tapi gagal menambatkan hati di tempat yang baru. Atau berbalik: berhasrat mencampakkan kekotaan (cityness?) tapi kedesaan tidak tergarap, dan ruang antara tidak menghasilkan kebuncahan terhadap kata.
Kembalilah merebut gaya tutur nenek poyang kita agar kalian pandai menutur dan bertutur. Mengapa harus terus-terusan memasang masker untuk menutupi kemaluan kembali ke masa lalu, dan terus bersembunyi di balik tirai bahasa mancanegara yang awut-awutan. Tuturkan kisah-kisah lama yang diwariskan dari cerita nina bobok emak kalian yang mengendap dalam memori bawah sadar dan akal-budi tubuh kalian. Dengarkan lantunan "dang haku dang haku dang lagi ngajak lidang kantu kundang tanjukh ujungni, tandang midang mak jelas akhungni" atau "pung apung mengapung kelapa kupung geruling jak gunung, meranai Lampung dang biasa buhung nanti muli lamon senggiri mak haga masak lagi mati kuti". Atau timbalah gaya puisi lisan ini: "abu-abu, kelambu tutung, nak, Abu lijung, bapak nyusung: kekalau Tuhan nengis pekik umatni, sayang".
Kita punya mantra lisan, mengapa tidak mencoba memilinnya, atau tidak punya bahan, ini saya sarikan: "ba mati bu mati nyak nikam simameni mati, niku da-a ketupahan jak makmo telu bulan makung jadi daging, hup: tinuk tunjukko totong mataku, tunduklah niku tunduk nyak-ku". Takut dituduh ngekor Tardji? Tapi mengapa tidak malu ngekor GM dan lirik-lirik lain? Jika masih kurang berkenan, lakukan improvisasi sesuka hatimu, tuturan ini: among, kham khua jong muakhi haga ngicik cutik pai da ya: sanga patoh pun khua, cawa tuppak di ajong disan. Api nihan makhi khiya, ajo kicik sai tuha mitcik lagi sai bisa. Kidang mak ulah diya ajo ajong, sikam khoppok dipekhcaya tian nyapaikon cawa tupak di ajong sinna. Payu ajong, timbalni tian khoppok sai dija: khadu kutekhima sikam tangguh sia, mahaf sekhta mamang hati ajo ya.
Saya bukan cerpenis untuk menulis "cerita butak" (terima kasih Udo Karzi) atawa tukang tulis puisi. Walau saya tergoda menulis dalam diam hal-ihwal kelisanan itu. Saya menjadi seorang pendamba yang berharap ada yang betul-betul masuk ke dalam cenayang motif mitos dengan merebut aneka gaya, aneka strategi: seperti improvisasi, strategi memperbarui, strategi membuang bagian-bagian dan memasukkan bagian lain hingga satu cerita/puisi akan melahirkan jutaan cerita/puisi dalam setiap generasi.
Kalaupun satu dua saya coba tuliskan, tidak bakal ada media yang memuatnya, karena diam-diam ada yang ingin menitahkan saya sebagai esais dan kritikus sastra (ha..ha..terima kasih kepada yang merasa ingin menjadikan saya esais dan kritikus, tetapi saya ingin menjadi pembaca-menabarkan atawa menakwilkan saja, ha..ha..).
Sebagian kecil cerita butak dan satu puisi yang saya tulis saya kirimkan ke Udo Zul untuk berbagi, sementara puluhan cerita butak dan puluhan puisi mengendap saja dalam file komputer. Saya bermimpi melihat pengarang di sini yang melisankan kelisanan kata untuk dituliskan sebagai perlawanan terhadap ideologi UK dan GM, ND itu, yang gemar sekali menyindir dengan menyayat ini: "Apa boleh buat, tulisan tidak lagi pegang monopoli, mendengar radio, nonton TV dan video sudah jadi hobi dan kebiasaan kalian: di suatu masa ketika persentase buta huruf masih 30%, kalian memasuki zaman buta huruf baru: masa pratulisan langsung bergerak ke dalam masa pascatulisan.
Aduh, tidak ada yang melakukan perlawanan, kalau pun ada lebih ditujukan kepada karisma pembius dan komunitas yang menghegemoni, bukan ideologinya, bukan paham & wahamnya, dengan terus menakik tradisi untuk menandinginya, seperti yang dilakukan OSH, SS (kecuali sedikit oleh AM yang terus menantang dan baru-baru ini menohok dalam Jurnal Nasional).
Selama kosakata puisi dan prosa kita tidak bertambah, padahal ribuan kosa kata dalam mulut ibu dan nenek kita yang sesungguhnya sudah meng-Indonesia seperti tutung-tajungkang-lebuh-tandang-midang-bertandang-mamanghati-amput-mengamput-ceput-tukik-kituk-tukak-takik-rubang-rakuk-atawa ajaibkhanah-larah berlarahlarah-gabagaba-lesung-rawak-londang-awanama-(kh)remedi atau alimbubu-pundita-sirah-oncor dll. Bukan mau pamer, sayang, tapi tirulah teman-teman kita suku Jawa, seperti Umar Kayam dengan intim memperlakukan Barat sebagai secuil saja dengan memparaprasekan watak-watak mereka melalui permainan bahasa Jawa dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan atau Danarto yang tidak malu-malu memungut kosa kata Jawa, atau karib kita, suku Riau seperti Tardji dengan retorika kelisanan yang tidak lupa dituliskan, atau Eko Endarmoko yang berjerih dengan memungut aneka logat.
Di Lampung ada karisma-karisma pembius dengan komunitas seni yang lama kelamaan bakal menyerupai GM-ND-NAA-UK itu. Jauhilah wahai teman-teman yang masih muda, berkaryalah dengan kekuatan sendiri, kembali pada kesunyian diri tanpa berhasrat mencari teman agar dirangkul dan dipamerkan. Dan akhirnya, ketimbang kalian memburu frasa post-post lacur mancanegara yang memang menganjurkan mimesis dan mimikri itu, lebih baik kembali menengok lumbung padi kita, gabah gabuk kita, lesung kipit kita, burung bakik atawa cotcok dan punai yang pandai melantun: "makdapok ane cocok, kham damai ane punai". Hai, asal jangan ngelahai-lahai sambil sedikit mencuri, seperti Chairil tapi jangan mencuri seperti teman saya Muslim. Kelewatan, padahal sudah dibilangin.
* Asarpin, Pembaca sastra
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Februari 2008
SATU bulan sudah tahun baru 2008 lewat. Tahun baru 2009 nanti dua tarikh Masehi dan Hijriyah dipertemukan Tuhan setelah lama bersimpangan jalan. Sementara kita nyaris tidak meniatkan perubahan apa-apa. Betapa kering tulisan kita akhir-akhir ini. Ratusan bahkan ribuan puisi lahir setiap tahun, tapi nyaris tidak memberi keunikan.
Likuran buku analekta cerita pendek setiap tahun diterbitkan, tapi tidak memberi kita harga pada strategi bertutur yang mengasyikkan. Puluhan buku novel dipasarkan, tapi tidak memberi kemaknaan pada novelty sebagai bukti adanya kebudayaan. Esai dan kritik sastra lebih menyerupai kerja kalangan dokter yang gemar melakukan autopsi terhadap pasiennya. Seni panggung dari teater hingga tari, performance art a,i,u hingga seni instalasi, hanya tak-tik-tong kelamai jagung dengan tara gundah-gundah bukan gula-gulana apalagi guna-guna.
Tidak ada hasrat bercerita ria, main-main, menampilkan lelucon yang menampik dan menggada kesadaran imaji kita saat membacanya. Saya shock, kata teman saya, Sihabudin, dari Yogyakarta yang baru menjejakkan kakinya di Lampung sebagai dosen Unila di Bandar Lampung ini, semua orang dari suku apa pun begitu serius dalam bergaul. Ya, kita tidak punya budaya plesetan, atau improvisasi dengan cara mengaduk-aduk, menyanding, merebut, membikin kelainan, membuat ketaksaan, apalagi kegilaan. Semua membelalakkan mata pada gaya kemodernan dengan alasan kemajuan, dengan dalih kekinian, dengan dalil dan teori mutakhir. Kalaupun ada cerita paling-paling hanya menampilkan ide esensial yang lumrah. Kalaupun tampak menyerupai esai dan kritik sastra, paling banter menyuguhkan pengetahuan postfactum jadi-jadian, ide pembacaan pastiche yang juga dilanjutkan dengan strategi pastiche sebagai pernyataan perang atau memerangi pengarang. Tidak ada perlawanan, apalagi ajakan untuk melakukan "perang kode" atau "memerangi kode" yang telah menghegemoni kesadaran masyarakat sastra.
Gaya penulisan prosa lebih sebagai monolog batin sendiri, dan kalau pun ada dialog, maka tokoh jadi bulan-bulanan dan pemerasan biografi. Menolak dianggap sebagai cerita biografis tapi memeras dan memiuh biografi keluarga, konon akan melahirkan ketaksaan, kelincahan, subversif, obviatif (pesona keempat) yang sebelumnya telah ditunjukkan dalam pesona ketiga dengan bahasa pengucapan yang khusus, dan entah frasa semacam apa lagi. Menampik embik kambing dan salak anjing, tapi tidak mampu menyudu karung goni berisi cerita aneka warna dengan motif kakerlak, gertak sambel, apalagi mengertak-ngertakkan kata.
Maka, jadilah prosa kita melompat-lompat tapi tidak kesurupan, itu mah namanya keranjingan, apalagi menampilkan gaya dissonansi warna, melukis dengan kata-kata. Wuh, kalian hanya mendaraskan keinginan pulang dengan lirikus yang belum sempat menambatkan hati di tempat yang baru tapi tidak cukup mencintai tempat asal. Telanjur ingin melupakan kampung halaman tapi gagal menambatkan hati di tempat yang baru. Atau berbalik: berhasrat mencampakkan kekotaan (cityness?) tapi kedesaan tidak tergarap, dan ruang antara tidak menghasilkan kebuncahan terhadap kata.
Kembalilah merebut gaya tutur nenek poyang kita agar kalian pandai menutur dan bertutur. Mengapa harus terus-terusan memasang masker untuk menutupi kemaluan kembali ke masa lalu, dan terus bersembunyi di balik tirai bahasa mancanegara yang awut-awutan. Tuturkan kisah-kisah lama yang diwariskan dari cerita nina bobok emak kalian yang mengendap dalam memori bawah sadar dan akal-budi tubuh kalian. Dengarkan lantunan "dang haku dang haku dang lagi ngajak lidang kantu kundang tanjukh ujungni, tandang midang mak jelas akhungni" atau "pung apung mengapung kelapa kupung geruling jak gunung, meranai Lampung dang biasa buhung nanti muli lamon senggiri mak haga masak lagi mati kuti". Atau timbalah gaya puisi lisan ini: "abu-abu, kelambu tutung, nak, Abu lijung, bapak nyusung: kekalau Tuhan nengis pekik umatni, sayang".
Kita punya mantra lisan, mengapa tidak mencoba memilinnya, atau tidak punya bahan, ini saya sarikan: "ba mati bu mati nyak nikam simameni mati, niku da-a ketupahan jak makmo telu bulan makung jadi daging, hup: tinuk tunjukko totong mataku, tunduklah niku tunduk nyak-ku". Takut dituduh ngekor Tardji? Tapi mengapa tidak malu ngekor GM dan lirik-lirik lain? Jika masih kurang berkenan, lakukan improvisasi sesuka hatimu, tuturan ini: among, kham khua jong muakhi haga ngicik cutik pai da ya: sanga patoh pun khua, cawa tuppak di ajong disan. Api nihan makhi khiya, ajo kicik sai tuha mitcik lagi sai bisa. Kidang mak ulah diya ajo ajong, sikam khoppok dipekhcaya tian nyapaikon cawa tupak di ajong sinna. Payu ajong, timbalni tian khoppok sai dija: khadu kutekhima sikam tangguh sia, mahaf sekhta mamang hati ajo ya.
Saya bukan cerpenis untuk menulis "cerita butak" (terima kasih Udo Karzi) atawa tukang tulis puisi. Walau saya tergoda menulis dalam diam hal-ihwal kelisanan itu. Saya menjadi seorang pendamba yang berharap ada yang betul-betul masuk ke dalam cenayang motif mitos dengan merebut aneka gaya, aneka strategi: seperti improvisasi, strategi memperbarui, strategi membuang bagian-bagian dan memasukkan bagian lain hingga satu cerita/puisi akan melahirkan jutaan cerita/puisi dalam setiap generasi.
Kalaupun satu dua saya coba tuliskan, tidak bakal ada media yang memuatnya, karena diam-diam ada yang ingin menitahkan saya sebagai esais dan kritikus sastra (ha..ha..terima kasih kepada yang merasa ingin menjadikan saya esais dan kritikus, tetapi saya ingin menjadi pembaca-menabarkan atawa menakwilkan saja, ha..ha..).
Sebagian kecil cerita butak dan satu puisi yang saya tulis saya kirimkan ke Udo Zul untuk berbagi, sementara puluhan cerita butak dan puluhan puisi mengendap saja dalam file komputer. Saya bermimpi melihat pengarang di sini yang melisankan kelisanan kata untuk dituliskan sebagai perlawanan terhadap ideologi UK dan GM, ND itu, yang gemar sekali menyindir dengan menyayat ini: "Apa boleh buat, tulisan tidak lagi pegang monopoli, mendengar radio, nonton TV dan video sudah jadi hobi dan kebiasaan kalian: di suatu masa ketika persentase buta huruf masih 30%, kalian memasuki zaman buta huruf baru: masa pratulisan langsung bergerak ke dalam masa pascatulisan.
Aduh, tidak ada yang melakukan perlawanan, kalau pun ada lebih ditujukan kepada karisma pembius dan komunitas yang menghegemoni, bukan ideologinya, bukan paham & wahamnya, dengan terus menakik tradisi untuk menandinginya, seperti yang dilakukan OSH, SS (kecuali sedikit oleh AM yang terus menantang dan baru-baru ini menohok dalam Jurnal Nasional).
Selama kosakata puisi dan prosa kita tidak bertambah, padahal ribuan kosa kata dalam mulut ibu dan nenek kita yang sesungguhnya sudah meng-Indonesia seperti tutung-tajungkang-lebuh-tandang-midang-bertandang-mamanghati-amput-mengamput-ceput-tukik-kituk-tukak-takik-rubang-rakuk-atawa ajaibkhanah-larah berlarahlarah-gabagaba-lesung-rawak-londang-awanama-(kh)remedi atau alimbubu-pundita-sirah-oncor dll. Bukan mau pamer, sayang, tapi tirulah teman-teman kita suku Jawa, seperti Umar Kayam dengan intim memperlakukan Barat sebagai secuil saja dengan memparaprasekan watak-watak mereka melalui permainan bahasa Jawa dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan atau Danarto yang tidak malu-malu memungut kosa kata Jawa, atau karib kita, suku Riau seperti Tardji dengan retorika kelisanan yang tidak lupa dituliskan, atau Eko Endarmoko yang berjerih dengan memungut aneka logat.
Di Lampung ada karisma-karisma pembius dengan komunitas seni yang lama kelamaan bakal menyerupai GM-ND-NAA-UK itu. Jauhilah wahai teman-teman yang masih muda, berkaryalah dengan kekuatan sendiri, kembali pada kesunyian diri tanpa berhasrat mencari teman agar dirangkul dan dipamerkan. Dan akhirnya, ketimbang kalian memburu frasa post-post lacur mancanegara yang memang menganjurkan mimesis dan mimikri itu, lebih baik kembali menengok lumbung padi kita, gabah gabuk kita, lesung kipit kita, burung bakik atawa cotcok dan punai yang pandai melantun: "makdapok ane cocok, kham damai ane punai". Hai, asal jangan ngelahai-lahai sambil sedikit mencuri, seperti Chairil tapi jangan mencuri seperti teman saya Muslim. Kelewatan, padahal sudah dibilangin.
* Asarpin, Pembaca sastra
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Februari 2008
February 2, 2008
Penghargaan: Karya Sastra Lampung Dapat Rancage
[BANDUNG] Yayasan Kebudayaan Rancage mulai tahun 2008 ini bakal memberikan hadiah kepada para sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung. Hadiah sastra Rancage yang dimulai tahun 1989 ini, awalnya hanya diberikan kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.
Penyair WS Rendra turut membacakan puisi dalam peringatan 70 tahun Ajip Rosidi di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis (31/1). Ajip Rosidi meskipun besar di tatar Sunda, tetap memperhatikan dunia sastra Indonesia dengan memberikan hadiah sastra Rancage yang digelar secara rutin dalam 20 tahun ini. (SP/Adi Marsiela)
"Genap sudah 20 tahun hadiah sastra ini diberikan kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa-bahasa ibu," kata Sekretaris Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Hawe Setiawan di sela-sela acara bedah buku otobiografi Ajip Rosidi, Hidup Tanpa Ijazah dalam peringatan 70 tahun sang penulis di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Kamis (31/1).
Menurut Hawe, pengumuman para pemenang hadiah "Rancage" selalu dilakukan pada tanggal 31 Januari setiap tahun, terpisah dengan acara penyerahan hadiahnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ajip Rosidi mengatakan karena keterbatasan dana, maka untuk bahasa Lampung hadiah hanya diberikan untuk karya.
"Mudah-mudahan dalam tahun-tahun yang akan datang, untuk orang atau lembaga yang berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Lampung juga akan diberikan Hadiah Rancage.
Menurut Hawe, masyarakat Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi- adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan berirama), dan sebagainya, kebanyakan berupa sastra lisan, meskipun ada beberapa yang sudah dibukukan. Mereka juga mempunyai huruf sendiri, meskipun sekarang tidak digunakan lagi.
Yang terkemuka ialah Udo Z Karzi (nama péna Zulkarnain Zubairi) yang telah menerbitkan buku Momentum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam, 2007). Sajak-sajak Udo Z. Karzi, terangnya, mencerminkan semangat zaman. Diharapkan akan mampu merangsang para sastrawan lain untuk menulis dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung.
"Untuk pertama kali Hadiah Sastra Rancage untuk karya ditetapkan untuk diserahkan kepada pengarang kumpulan sajak ini," kata Hawe.
Kepada Udo Z Karzi akan diberikan Hadiah Sastra Rancage 2008 untuk karya berupa piagam dan uang sebesar Rp 5 juta. Dengan penghargaan ini, maka setiap tahun Yayasan Kebudayaan Rancagé harus mengeluarkan lebih dari 6 hadiah untuk empat bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa, Lampung, dan Sunda. Di samping itu, kadang-kadang memberikan Hadiah "Samsudi" buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.
Mulai tahun 2008 ini juga, Rancage menggelar penghargaan baru, berupa Hadiah Hardjapamekas, untuk guru bahasa Sunda di tingkat SD, SMP dan SMA. Upacara penyerahan Hadiah Sastra Rancagé dan Hadiah Samsudi rencananya bakal dilaksanakan melalui kerjasama Yayasan Kebudayaan Rancagé dengan Universitas Padjadjaran pada bulan Mei 2008 di kampus universitas tersebut.
Tiga Kali Rancage
Hadiah sastra Rancage untuk Sastra Sunda diberikan kepada roman karya Godi Suwarna, Sandekala. Dengan hadiah ini, Godi menjadi tiga kali memperoléh Hadiah Rancage, semuanya untuk karya, yaitu tahun 1993 untuk kumpulan sajaknya Blues Kere Lauk dan tahun 1996 untuk kumpulan cerita pendeknya Serat Sarwasatwa.
Sementara Hadiah Rancagé 2008 untuk jasa karena telah melakukan usaha memelihara dan melestarikan bahasa Sunda diberikan kepada pimpinan grup Teater Sunda Kiwari, R Dadi Danusubrata. Sementara untuk hadiah Samsudi 2008, diberikan kepada Ai Koraliati yang menulis buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Catetan Poean Rere.
Untuk kategori Sastra Jawa, kumpulan sajak berjudul Bledheg Segara Kidul karya Turiyo Ragilputra menjadi yang terpilih. Karya Turiyo, yang diterbitkan Gema Grafika, Yogyakarta itu menggambarkan sikap dan perhatian penyair kepada kebudayaan, bangsa, dan kawan-kawannya.
Menurut Ajip, gagasan yang kompleks dari penyair mampu diungkapkan dengan pilihan kata yang khas Jawa. Secara keseluruhan, karya itu dianggap dinamis, utuh, dan total.
"Untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastra Jawa, Hadiah Sastra Rancage 2008 ditetapkan untuk dihaturkan kepada Sriyono, redaktur majalah Jawa Jaya Baya sejak 1979," katanya.
Selepas menjadi wartawan Indonesian Daily News (IDN), Jawa Pos, Sriyono menulis di Jaya Baya lewat Roman Secuwil yang menjadi tempat latihan para pengarang muda pemula menulis dalam bahasa Jawa. "Sriyono akan dihaturkan Hadiah Sastra "Rancage" 2008 untuk jasa berupa piagam dan uang Rp 5 juta," kata Hawe.
Bagi karya sastra dalam bahasa Bali, dia menjelaskan, selama tahun 2007 hanya terbit 5 judul buku. Jumlah ini jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai belasan judul.
Menurut Hawe, meskipun secara kualitatif menurun, namun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karya-karya terbitan tahun 2007 menunjukkan pengungkapan dan pengucapan baru tanda kreativitas jalan terus. Antaranya nampak pada pencarian dan pencapaian estetika bunyi yang terdapat pada puisi dan estetika bentuk yang tampak pada prosa.
Untuk tahun ini, hadiah itu diberikan kepada Tiang Bajang Kayang-kayang, karya I Nyoman Manda. Sastrawan yang terpilih untuk menerima Hadiah Sastra Rancagé 2008 untuk jasa ialah I Madé Suatjana, yang menemukan program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar dan bisa diaplikasi léwat program Microsoft Word.
Program Bali Simbar mulai dirancang tahun 1986 dengan menggunakan program Chi-writer dengan melakukan modifikasi font sehingga aksara Bali bisa diketik léwat komputer.
Temuan Bali Simbar itu pertama kali disosialisasikan tahun 1989 dalam ajang pameran Pesta Kesenian Bali di Denpasar. Tahun 1993, Yayasan Sabha Sastra Bali yang bergerak dalam pembinaan bahasa dan sastra Bali modern mulai menggunakan temuan Made Suatjana untuk mengetik naskah buku pelajaran tingkat SMP.
Mulai tahun 1999 program Bali Simbar dipakai di Percetakan Bali untuk mengetik buku sastra dan buku pelajaan beraksara Bali. Tahun 2001, Made menciptakan program transliterasi huruf Latin ke aksara Bali, untuk mengembangkan program terkait.
"Kepada I Made Suatjana akan dihaturkeun Hadiah Rancage untuk jasa berupa piagam dan uang Rp 5 juta," kata Hawe. [153]
Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 1 Februari 2008
Penyair WS Rendra turut membacakan puisi dalam peringatan 70 tahun Ajip Rosidi di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis (31/1). Ajip Rosidi meskipun besar di tatar Sunda, tetap memperhatikan dunia sastra Indonesia dengan memberikan hadiah sastra Rancage yang digelar secara rutin dalam 20 tahun ini. (SP/Adi Marsiela)"Genap sudah 20 tahun hadiah sastra ini diberikan kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa-bahasa ibu," kata Sekretaris Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Hawe Setiawan di sela-sela acara bedah buku otobiografi Ajip Rosidi, Hidup Tanpa Ijazah dalam peringatan 70 tahun sang penulis di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Kamis (31/1).
Menurut Hawe, pengumuman para pemenang hadiah "Rancage" selalu dilakukan pada tanggal 31 Januari setiap tahun, terpisah dengan acara penyerahan hadiahnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ajip Rosidi mengatakan karena keterbatasan dana, maka untuk bahasa Lampung hadiah hanya diberikan untuk karya.
"Mudah-mudahan dalam tahun-tahun yang akan datang, untuk orang atau lembaga yang berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Lampung juga akan diberikan Hadiah Rancage.
Menurut Hawe, masyarakat Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi- adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan berirama), dan sebagainya, kebanyakan berupa sastra lisan, meskipun ada beberapa yang sudah dibukukan. Mereka juga mempunyai huruf sendiri, meskipun sekarang tidak digunakan lagi.
Yang terkemuka ialah Udo Z Karzi (nama péna Zulkarnain Zubairi) yang telah menerbitkan buku Momentum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam, 2007). Sajak-sajak Udo Z. Karzi, terangnya, mencerminkan semangat zaman. Diharapkan akan mampu merangsang para sastrawan lain untuk menulis dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung.
"Untuk pertama kali Hadiah Sastra Rancage untuk karya ditetapkan untuk diserahkan kepada pengarang kumpulan sajak ini," kata Hawe.
Kepada Udo Z Karzi akan diberikan Hadiah Sastra Rancage 2008 untuk karya berupa piagam dan uang sebesar Rp 5 juta. Dengan penghargaan ini, maka setiap tahun Yayasan Kebudayaan Rancagé harus mengeluarkan lebih dari 6 hadiah untuk empat bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa, Lampung, dan Sunda. Di samping itu, kadang-kadang memberikan Hadiah "Samsudi" buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.
Mulai tahun 2008 ini juga, Rancage menggelar penghargaan baru, berupa Hadiah Hardjapamekas, untuk guru bahasa Sunda di tingkat SD, SMP dan SMA. Upacara penyerahan Hadiah Sastra Rancagé dan Hadiah Samsudi rencananya bakal dilaksanakan melalui kerjasama Yayasan Kebudayaan Rancagé dengan Universitas Padjadjaran pada bulan Mei 2008 di kampus universitas tersebut.
Tiga Kali Rancage
Hadiah sastra Rancage untuk Sastra Sunda diberikan kepada roman karya Godi Suwarna, Sandekala. Dengan hadiah ini, Godi menjadi tiga kali memperoléh Hadiah Rancage, semuanya untuk karya, yaitu tahun 1993 untuk kumpulan sajaknya Blues Kere Lauk dan tahun 1996 untuk kumpulan cerita pendeknya Serat Sarwasatwa.
Sementara Hadiah Rancagé 2008 untuk jasa karena telah melakukan usaha memelihara dan melestarikan bahasa Sunda diberikan kepada pimpinan grup Teater Sunda Kiwari, R Dadi Danusubrata. Sementara untuk hadiah Samsudi 2008, diberikan kepada Ai Koraliati yang menulis buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Catetan Poean Rere.
Untuk kategori Sastra Jawa, kumpulan sajak berjudul Bledheg Segara Kidul karya Turiyo Ragilputra menjadi yang terpilih. Karya Turiyo, yang diterbitkan Gema Grafika, Yogyakarta itu menggambarkan sikap dan perhatian penyair kepada kebudayaan, bangsa, dan kawan-kawannya.
Menurut Ajip, gagasan yang kompleks dari penyair mampu diungkapkan dengan pilihan kata yang khas Jawa. Secara keseluruhan, karya itu dianggap dinamis, utuh, dan total.
"Untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastra Jawa, Hadiah Sastra Rancage 2008 ditetapkan untuk dihaturkan kepada Sriyono, redaktur majalah Jawa Jaya Baya sejak 1979," katanya.
Selepas menjadi wartawan Indonesian Daily News (IDN), Jawa Pos, Sriyono menulis di Jaya Baya lewat Roman Secuwil yang menjadi tempat latihan para pengarang muda pemula menulis dalam bahasa Jawa. "Sriyono akan dihaturkan Hadiah Sastra "Rancage" 2008 untuk jasa berupa piagam dan uang Rp 5 juta," kata Hawe.
Bagi karya sastra dalam bahasa Bali, dia menjelaskan, selama tahun 2007 hanya terbit 5 judul buku. Jumlah ini jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai belasan judul.
Menurut Hawe, meskipun secara kualitatif menurun, namun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karya-karya terbitan tahun 2007 menunjukkan pengungkapan dan pengucapan baru tanda kreativitas jalan terus. Antaranya nampak pada pencarian dan pencapaian estetika bunyi yang terdapat pada puisi dan estetika bentuk yang tampak pada prosa.
Untuk tahun ini, hadiah itu diberikan kepada Tiang Bajang Kayang-kayang, karya I Nyoman Manda. Sastrawan yang terpilih untuk menerima Hadiah Sastra Rancagé 2008 untuk jasa ialah I Madé Suatjana, yang menemukan program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar dan bisa diaplikasi léwat program Microsoft Word.
Program Bali Simbar mulai dirancang tahun 1986 dengan menggunakan program Chi-writer dengan melakukan modifikasi font sehingga aksara Bali bisa diketik léwat komputer.
Temuan Bali Simbar itu pertama kali disosialisasikan tahun 1989 dalam ajang pameran Pesta Kesenian Bali di Denpasar. Tahun 1993, Yayasan Sabha Sastra Bali yang bergerak dalam pembinaan bahasa dan sastra Bali modern mulai menggunakan temuan Made Suatjana untuk mengetik naskah buku pelajaran tingkat SMP.
Mulai tahun 1999 program Bali Simbar dipakai di Percetakan Bali untuk mengetik buku sastra dan buku pelajaan beraksara Bali. Tahun 2001, Made menciptakan program transliterasi huruf Latin ke aksara Bali, untuk mengembangkan program terkait.
"Kepada I Made Suatjana akan dihaturkeun Hadiah Rancage untuk jasa berupa piagam dan uang Rp 5 juta," kata Hawe. [153]
Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 1 Februari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)