-- Anshori Djausal*
SEMASA saya kecil, kedatangan Prof. Hilman Hadikusuma (alm.) ke rumah kami selalu menciptakan suasana yang penuh semangat. Beliau adalah sepupu orang tua saya. Kedatangannya selalu dengan cerita tentang berbagai hal yang menarik perhatian saya.
Beliau memang salah satu pemuda dan pejuang Lampung pada awal kemerdekaan. Beliau pernah cerita tentang upayanya akan mendirikan sebuah universitas di Lampung bersama beberapa nama yang kemudian saya kenal sebagai pendiri Unila.
Mereka di antaranya Abdoel Moeis Radja Hukum dan Alhusniduki Hamim. Mereka menjadi mahasiswa, sekaligus menangani sekretariat Fakultas Ekonomi, Hukum, Sosial. Alhusniduki Hamim kemudian merupakan alumni pertama menjadi rektor Unila pada awal 1990-an.
Masih tergambar ketika Prof. Hilman bercerita pada awal tahun 1960-an itu selalu disertai semangat pejuang yang sangat melekat pada beliau. Seperti, ketika beliau bercerita tentang masa agresi militer dan cerita lainnya. Setelah saya ikuti jejak beliau di Unila dan mengenal lebih banyak tentang sejarah Unila, saya percaya bahwa Unila didirikan oleh semangat "Pejuang".
Sebutlah nama-nama pendiri Unila seperti Hi. Zainal Abidin Pagar Alam dan Nadirsjah Zaini. Bagi yang pernah mengenal mereka akan sependapat, bahwa Universitas Lampung yang resmi lahir 23 September 1965 ini didirikan oleh semangat pejuang.
Semangat mendirikan sebuah universitas baru di Lampung saat itu jelas didorong oleh keberadaan Provinsi Lampung yang juga baru terbentuk. Pemerintahan Provinsi Lampung yang baru dan Universitas Lampung yang terbentuk setahun kemudian harus dilihat sebagai kebersamaan dalam mewarnai perkembangan daerah dan masyarakat Lampung.
Secara objektif dapat dilihat dari ketelibatan kelembagaan maupun personel, kebersamaan membangun daerah ini baik dari pihak pemerintah daerah maupun sebaliknya saling melengkapi.
Gubernur Lampung H. Zainal Abidin Pagar Alam pernah menjadi Ketua Presidium Universitas Lampung menggantikan Kusno Danupoyo. Sebaliknya, beberapa personel Unila saat itu pun harus berkiprah langsung atau turut membangun pada awal pemerintahan provinsi.
Rektor Unila Prof. Sitanala Arsyad (1973--1981) adalah perintis dibentuknya Badan Perencanaan Daerah. Beberapa nama lain dapat saja disebutkan dalam daftar yang panjang tentang hubungan saling menbangun ini. Awal tahun 1980-an, ketika saya mulai bergabung dengan Unila, saya masih merasakan semangat pejuang dan semangat kebersamaan untuk membangun Unila.
Saat ini, sudah hampir 40 tahun kemudian. Kampusnya berdiri anggun di Gedong Meneng. Mahasiswa lebih dari 24.000. Ada tujuh fakultas, 690 dosen dengan kualifikasi S2, 116 doktor dalam berbagai bidang ilmu, 17 guru besar, puluhan laboratorium.
Unila bukan lagi hanya sebuah universitas daerah, melainkan sudah merupakan universitas yang alumninya sudah berkiprah secara nasional. Unila sudah menjadi universitas nasional. Alumni Unila sampai wisuda yang terakhir, maret 2007 seluruhnya mencapai 54.675 orang.
Secara pasti Unila telah melangkah dalam kiprah yang lebih luas. Mahasiswa yang berminat masuk ke Unila bukan lagi berasal dari Lampung saja, melainkan juga dari daerah lain.
Kerja sama dengan University of Kentucky, terutama untuk pengiriman tugas belajar bagi dosen-dosen muda pada awal tahun 1980-an menandai perkembangan kualitas tenaga pengajar yang sangat berarti. Fakultas Pertanian (FP) yang memanfaatkan kerja sama ini, baik pengiriman dosen maupun pengembangan kelembagaan.
FP menjadi fakultas yang besar mengikuti FE dan FH yang telah lebih dahulu berkiprah. Kerja sama dengan University of Kentucky ini masih berlanjut sampai sekarang.
Awal tahun 1990-an merupakan awal berkembangnya FT dan FMIPA, selanjutnya PS. Kedokteran mulai dikembangkan pada awal 2000. Kemajuan Unila di bawah pimpinan rektor dari yang pertama sampai saat ini telah menempatkan Unila sebagai universitas yang penting di kawasan Indonesia bagian barat.
Berbagai kinerja dengan beberapa indikator dapat dilihat dari tahun ke tahun. Hasil audit kinerja kelembagaan Unila terakhir yang dilakukan Inspektorat Jendral Diknas menunjukkan nilai 3.83 (baik) dari skala 0 hingga 5.
Sejak awal delapan puluhan, Unila telah meletakkan dasar-dasar sistem informasi manajemen berbasis komputer. Unila menempatkan ICT (information, communication and technology) sebagai kebijakan penting dalam pengelolaan universitas secara luas. Sistem informasi akademik (siakad) di Unila sudah lama menjadi acuan bagi universitas lain.
Saat ini, setiap mahasiswa dapat mengakses informasi tentang kemajuan akademisnya, konsultasi dengan jurusannya dari mana saja. Informasi tentang ini lebih jauh dapat dilihat online pada: http://www.unila.ac.id/
Kerja sama tripartit, universitas, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat telah banyak dirintis dengan basis common interest, ketertarikan pada isu yang sama dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Termasuk dengan luar negeri, salah satu contoh adalah antara Unila, Toyohashi University of Technology dan JFE-Techno Research Corporation, Jepang tentang energi yang terbarukan.
Bentuk kerja sama pertukaran mahasiswa dan dosen juga berjalan sejak 2003 dengan CENEARC (Centre National d'Etudes Agronomiques des Regions Chaudes) yang berpusat di Montpellier, Prancis.
Sebuah program studi magister akan dibuka pada tahun 2008 dengan program Management of Natural Resources and Rural Development, dengan bahasa pengantar Inggris dan Indonesia. Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Agris Mundus Uni Eropa yang beranggotakan enam negara Eropa dan delapan negara berkembang, Indonesia diwakili Unila.
Sebuah penelitian internasional yang terus menerus, kerja sama dengan negara tropis tentang keanekaragaman biota tanah tropik dan tentang metan serta biomassa. Unila secara nasional telah berhasil mengembangkan TOT (teknologi tanpa olah tanah), benih jagung srikandi dan teknologi lahan kering lainnya.
Sebuah penulisan buku tentang budaya Lampung juga sedang berjalan, yaitu kerja sama Unila dengan Kyoei University, Jepang. Penulisan ini berdasarkan kerja sama penelitian dalam waktu yang panjang.
Dalam waktu dekat, Unila akan mengembangkan pusat keunggulan berbasis biomassa. Pusat keunggulan ini telah menjadi kesepakatan bersama antara seluruh universitas di wilayah barat, Sumatera dan Kalimantan untuk membangun pusat keunggulan lokal dan wilayah.
Empat pusat keunggulan tersebut, pertama, pengelolaan lahan gambut (Unpar, Unsri, Unri, Untan); kedua, tanaman obat tropis (Unsyah, Unand, USU); ketiga, industri biomassa (Unila, Unib); dan keempat, kebakaran hutan (Unsri, Untan, Unpar).
Pusat keunggulan ini segera dibangun bekerja sama dengan berbagai pihak. Pendanaan telah mendapat persetujuan dari pemerinah pusat. Peningkatan kualitas belajar mengajar, penelitian dan pengembangan di Unila akan terus bergulir. Unila membuka jalan untuk berkiprah lebih luas.
Bagi awam mengukur pencapaian sebuah lembaga pendidikan tinggi seperti Unila saat ini tidak dapat melihatnya hanya sebagai sebuah sistem produksi, misalnya saja populernya sebuah lagu pop atau populernya mi instan. Atau seperti menggigit sebuah cabe rawit. Langsung pedas. Suatu proses pendidikan adalah dari generasi ke generasi.
Kiprah dan pencapaian sebuah lembaga pendidikan adalah "membangkitkan sebuah peradaban", merubah cara berpikir, membentuk cara hidup, membangun pengetahuan, membentuk sebuah kebudayaan, kemudian membangun peradaban. Unila dengan kapasitas kelembagaan seperti yang ada sekarang sudah pasti ikut "membangkitkan" daerah dan masyarakat Lampung.
Baru saja, senat Unila meluncurkan visi 2025. Pada tahun itu, Unila menjadi 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Memang bukan pekerjaan yang mudah. Memerlukan rencana strategis yang sangat kuat, kerja sama dengan pemerintah, swasta dan masyarakat yang saling melengkapi. Tri dharma kampus memang sesuatu yang utuh yang menempatkan kampus bukan sekedar menara gading.
Visi 2025 harus menginspirasi berbagai komponen di dalam dan di luar Unila untuk kemudian bergerak meraih asa. Sangat relevan untuk kembali mengingatkan, Unila yang awalnya dibangun dengan "semangat pejuang dan kebersamaan" masih diperlukan untuk mencapai visi 2025.
Semangat pejuang ini harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pencapain visi 2025. Pencapaian bukan semata dapat dikejar dengan angka-angka, melainkan nilai-nilai yang penuh semangat juang seperti yang dimiliki para perintis Unila. Tanpa pamrih.
Generasi demi generasi telah tumbuh di Unila, yang harusnya mampu melanjutkan semangat untuk maju, tetapi harus dibarengi dengan sikap menjunjung kebersamaan agar dapat menghadapi rintangan atau hambatan untuk maju.
Pekan-pekan ini akan dilangsungkan pemilihan rektor Unila, menggantikan Prof. Dr. Muhajir Utomo. Hendaknya bukan hanya memilih yang unggul saja, melainkan yang terbaik untuk membawa Unila ke depan.
* Anshori Djausal, Pembantu Rektor Unila Bidang Perencanaan dan Kerja Sama
Sumber: Lampung Post, Kamis, 24 Mei 2007
February 14, 2008
Sastra: Kantor Bahasa Lampung Kembangkan Musikalisasi Puisi
BANDAR LAMPUNG, RABU- Kantor Balai Bahasa Lampung berupaya mengembangkan bengkel sastra musikalisasi puisi sebagai cara alternatif mengapresiasi puisi. Upaya itu ditempuh untuk mewadahi minat dan kreativitas berkesenian generasi muda Lampung.
Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Danardana, Rabu (13/2), mengatakan, puisi sebagai salah satu aliran sastra yang tidak begitu diminati sebelumnya hanya tampil konvensional melalui tampilan deklamasi atau pendramaan puisi. Dalam tiga tahun terakhir, kegiatan musikalisasi puisi sebagai cara lain mengapresiasi puisi baik dalam bentuk festival atau pertunjukan makin marak di Lampung.
"Yang menggembirakan, peserta atau pelaku musikalisasi puisi tersebut adalah siswa-siswa SMA se-Lampung. Banyaknya peserta siswa SMA menjadikan pengembangan musikalisasi di Lampung akan lebih panjang dan diharapkan bisa bertahan lama," katanya.
Dalam kurun waktu 2006-2007, para peserta SMA itu tidak hanya mengikuti festival, melainkan juga memenangi festival. Diantaranya Festival Musikalisasi Puisi tingkat provinsi, festival se-Sumatera, dan festival nasional. Dalam pandangan Agus Sri, potensi dan bakat berkesenian tersebut harus diwadahi supaya tidak putus.
Saat ini musikalisasi puisi yang diwadahi dalam bentuk bengkel sastra Kantor Bahasa Lampung tengah melatih 36 siswa SMA se-Lampung yang berminat pada musikalisasi puisi. Pelatihan selama tiga hari mulai Selasa (12/2) hingga Kamis (14/2) dilakukan bekerja sama dengan Deavies Sanggar Matahari yang merupakan penggiat musikalisasi puisi dari Jakarta. Selama pelatihan, para siswa mendapat gemblengan tentang musikalisasi puisi. (HLN)
Sumber: Kompas.com, Rabu, 13 Februari 2008
Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Danardana, Rabu (13/2), mengatakan, puisi sebagai salah satu aliran sastra yang tidak begitu diminati sebelumnya hanya tampil konvensional melalui tampilan deklamasi atau pendramaan puisi. Dalam tiga tahun terakhir, kegiatan musikalisasi puisi sebagai cara lain mengapresiasi puisi baik dalam bentuk festival atau pertunjukan makin marak di Lampung.
"Yang menggembirakan, peserta atau pelaku musikalisasi puisi tersebut adalah siswa-siswa SMA se-Lampung. Banyaknya peserta siswa SMA menjadikan pengembangan musikalisasi di Lampung akan lebih panjang dan diharapkan bisa bertahan lama," katanya.
Dalam kurun waktu 2006-2007, para peserta SMA itu tidak hanya mengikuti festival, melainkan juga memenangi festival. Diantaranya Festival Musikalisasi Puisi tingkat provinsi, festival se-Sumatera, dan festival nasional. Dalam pandangan Agus Sri, potensi dan bakat berkesenian tersebut harus diwadahi supaya tidak putus.
Saat ini musikalisasi puisi yang diwadahi dalam bentuk bengkel sastra Kantor Bahasa Lampung tengah melatih 36 siswa SMA se-Lampung yang berminat pada musikalisasi puisi. Pelatihan selama tiga hari mulai Selasa (12/2) hingga Kamis (14/2) dilakukan bekerja sama dengan Deavies Sanggar Matahari yang merupakan penggiat musikalisasi puisi dari Jakarta. Selama pelatihan, para siswa mendapat gemblengan tentang musikalisasi puisi. (HLN)
Sumber: Kompas.com, Rabu, 13 Februari 2008
Siswa Enggan Pelajari Bahasa Indonesia
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Para siswa enggan mempelajari bahasa Indonesia. Selain dianggap sebagai bahasa sendiri, juga karena penyajian dan penyampaian materi pelajaran tersebut tidak menarik.
Demikian disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, M. Hum., di sela-sela Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2).
Akibat minimnya minat siswa mempelajari pelajaran tersebut, banyak siswa mendapatkan nilai minim di rapor pada mata pelajaran ini. "Ini kan lucu. Padahal bahasa sendiri, kenapa mereka mendapatkan nilai minim. Itu semua karena materi penyajiannya tidak menarik sehingga membuat siswa bosan untuk mempelajari pelajaran tersebut," ujar dia.
Yang lebih parah lagi pelajaran Sastra Indonesia. Para siswa sama sekali tidak berminat mempelajari pelajaran tersebut.
Siswa enggan mempelajari bahasa Indonesia dan sastra karena terlalu banyak difokuskan kepada keilmuan bukan bagaimana cara memanfaatkan bahasa san sastra tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Parahnya, sebagian besar guru Bahasa Indonesia enggan mengajarkan sastra kepada siswa. Bahkan, ujar dia, dalam pelajaran sastra yang disatukan pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, banyak guru yang enggan "menyentuh" dan justru menghindari pelajaran tersebut. Mereka berpikir yang berkompeten memberikan pelajaran sastra hanya sastrawan bukan guru Bahasa Indonesia.
Dengan demikian, banyak guru "terpaksa" mengajar sastra karena tuntutan kurikulum bukan atas dasar bagaimana meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap sebuah karya sastra. "Sebab itu, saat mengajar, mereka hanya mengajarkan memperkenalkan, seperti Sutan Takdir Alisyahbana (STA) sebagai angkatan Pujangga Baru, tanpa mencoba bagaimana mengapresiasi karya STA tersebut," ujar dia.
Sebab itu, pemikiran tersebut harus diubah. Dia mencontohkan pelatih sepak bola, belum tentu mereka seorang pemain sepak bola andal. Juga guru Matematika bukan harus mereka ahli matematika.
Untuk meruntuhkan benteng tersebut, kata dia, perlu diberikan penyegaran dan pelatihan para guru Bahasa Indonesia agar mampu meningkatkan apresiasi dan membuat cara jitu dan menarik saat mengajar sehingga siswa mencintai pelajaran tersebut. Supaya pelajaran tersebut dapat menarik siswa harus dikemas dengan baik. Seperti saat mengajar guru sambil bercerita atau diajarkan bagaimana cara membuat karangan, tulisan yang baik, puisi, cara mengapresiasi karya sastra, dan sebagainya.
Untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia, pihaknya juga akan menggalakkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) kepada para siswa. Tahun ini juga dijadikan sebagai Tahun Bahasa dan Sastra. "Tahun sebelumnya jika setiap bulan Oktober merupakan bulan bahasa, maka tahun ini dijadikan Tahun Bahasa dan Sastra. Tahun ini harus kita jadikan momentum meningkatkan kecintaan terhadap bahasa sendiri," ujar dia.
Selain itu untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap puisi, pihaknya menggelar musikalisasi puisi yang diikuti 36 peserta dari 6 SMA, yaitu SMAN 2, SMAN 4, SMAN 11, dan SMA Taman Siswa Bandar Lampung, SMAN 1 Natar, Lampung Selatan, dan SMAN 1 Seputih Agung, Lampung Tengah. n AST/S-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Demikian disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, M. Hum., di sela-sela Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2).
Akibat minimnya minat siswa mempelajari pelajaran tersebut, banyak siswa mendapatkan nilai minim di rapor pada mata pelajaran ini. "Ini kan lucu. Padahal bahasa sendiri, kenapa mereka mendapatkan nilai minim. Itu semua karena materi penyajiannya tidak menarik sehingga membuat siswa bosan untuk mempelajari pelajaran tersebut," ujar dia.
Yang lebih parah lagi pelajaran Sastra Indonesia. Para siswa sama sekali tidak berminat mempelajari pelajaran tersebut.
Siswa enggan mempelajari bahasa Indonesia dan sastra karena terlalu banyak difokuskan kepada keilmuan bukan bagaimana cara memanfaatkan bahasa san sastra tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Parahnya, sebagian besar guru Bahasa Indonesia enggan mengajarkan sastra kepada siswa. Bahkan, ujar dia, dalam pelajaran sastra yang disatukan pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, banyak guru yang enggan "menyentuh" dan justru menghindari pelajaran tersebut. Mereka berpikir yang berkompeten memberikan pelajaran sastra hanya sastrawan bukan guru Bahasa Indonesia.
Dengan demikian, banyak guru "terpaksa" mengajar sastra karena tuntutan kurikulum bukan atas dasar bagaimana meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap sebuah karya sastra. "Sebab itu, saat mengajar, mereka hanya mengajarkan memperkenalkan, seperti Sutan Takdir Alisyahbana (STA) sebagai angkatan Pujangga Baru, tanpa mencoba bagaimana mengapresiasi karya STA tersebut," ujar dia.
Sebab itu, pemikiran tersebut harus diubah. Dia mencontohkan pelatih sepak bola, belum tentu mereka seorang pemain sepak bola andal. Juga guru Matematika bukan harus mereka ahli matematika.
Untuk meruntuhkan benteng tersebut, kata dia, perlu diberikan penyegaran dan pelatihan para guru Bahasa Indonesia agar mampu meningkatkan apresiasi dan membuat cara jitu dan menarik saat mengajar sehingga siswa mencintai pelajaran tersebut. Supaya pelajaran tersebut dapat menarik siswa harus dikemas dengan baik. Seperti saat mengajar guru sambil bercerita atau diajarkan bagaimana cara membuat karangan, tulisan yang baik, puisi, cara mengapresiasi karya sastra, dan sebagainya.
Untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia, pihaknya juga akan menggalakkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) kepada para siswa. Tahun ini juga dijadikan sebagai Tahun Bahasa dan Sastra. "Tahun sebelumnya jika setiap bulan Oktober merupakan bulan bahasa, maka tahun ini dijadikan Tahun Bahasa dan Sastra. Tahun ini harus kita jadikan momentum meningkatkan kecintaan terhadap bahasa sendiri," ujar dia.
Selain itu untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap puisi, pihaknya menggelar musikalisasi puisi yang diikuti 36 peserta dari 6 SMA, yaitu SMAN 2, SMAN 4, SMAN 11, dan SMA Taman Siswa Bandar Lampung, SMAN 1 Natar, Lampung Selatan, dan SMAN 1 Seputih Agung, Lampung Tengah. n AST/S-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Seni: Musikalisasi Puisi Makin Berkembang
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Musikalisasi puisi di Indonesia makin berkembang, khususnya di daerah-daerah. Terbukti dengan diborongnya penghargaan festival musikalisasi puisi tingkat nasional di Jakarta beberapa waktu lalu, seluruh pemenangnya adalah siswa sekolah menengah atas (SMA) dari daerah.
Pimpinan Deavies Sanggar Matahari Jakarta, Fredie Arsi, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di sela-sela kegiatan Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2). Dia mengatakan awal berkembangnya seni musikalisasi puisi sekitar tahun 1990 lalu. "Saat itu pertama kali digelar Festival Musikalisasi Puisi untuk tingkat pelajar SMA yang diadakan Kantor Pusat Bahasa. Setelahnya kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya," kata Fredie.
Kemudian pada tahun 1994, Kantor Bahasa mengeluarkan program Bengkel Sastra di mana dilakukan semacam pelatihan bagi guru dan siswa yang semakin peduli mengembangkan musikalisasi puisi. "Barulah pada tahun 1999, Bengkel Sastra mulai didirikan di daerah seperti Medan, Semarang, Surabaya, dan Banjarmasin. Dan saat ini, hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah ada," ujar dia.
Kemudian oleh Balai Bahasa, program musikalisasi puisi semakin dikenalkan kepada pelajar di setiap daerah. "Meskipun musikalisasi puisi ini sudah ada sejak dulu dan berkembang dalam budaya kita seperti dari Aceh yang memiliki budaya bersyair. Atau budaya di Riau di mana saat akan menangkap madu juga melafalkan mantra seperti bentuk musikalisasi puisi," ujarnya.
Karena itu, perkembangan musikalisasi puisi bagi pelajar SMA di daerah berkembang dengan baik. "Selain juga terjalinnya hubungan yang baik antarpeserta dengan pelatih dan Kantor Bahasa. Sehingga makin memupuk rasa kedekatan emosional yang mendorong perkembangan musikalisasi puisi di daerah berjalan dengan baik," ujar dia. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Pimpinan Deavies Sanggar Matahari Jakarta, Fredie Arsi, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di sela-sela kegiatan Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2). Dia mengatakan awal berkembangnya seni musikalisasi puisi sekitar tahun 1990 lalu. "Saat itu pertama kali digelar Festival Musikalisasi Puisi untuk tingkat pelajar SMA yang diadakan Kantor Pusat Bahasa. Setelahnya kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya," kata Fredie.
Kemudian pada tahun 1994, Kantor Bahasa mengeluarkan program Bengkel Sastra di mana dilakukan semacam pelatihan bagi guru dan siswa yang semakin peduli mengembangkan musikalisasi puisi. "Barulah pada tahun 1999, Bengkel Sastra mulai didirikan di daerah seperti Medan, Semarang, Surabaya, dan Banjarmasin. Dan saat ini, hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah ada," ujar dia.
Kemudian oleh Balai Bahasa, program musikalisasi puisi semakin dikenalkan kepada pelajar di setiap daerah. "Meskipun musikalisasi puisi ini sudah ada sejak dulu dan berkembang dalam budaya kita seperti dari Aceh yang memiliki budaya bersyair. Atau budaya di Riau di mana saat akan menangkap madu juga melafalkan mantra seperti bentuk musikalisasi puisi," ujarnya.
Karena itu, perkembangan musikalisasi puisi bagi pelajar SMA di daerah berkembang dengan baik. "Selain juga terjalinnya hubungan yang baik antarpeserta dengan pelatih dan Kantor Bahasa. Sehingga makin memupuk rasa kedekatan emosional yang mendorong perkembangan musikalisasi puisi di daerah berjalan dengan baik," ujar dia. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Tokoh: Alhusniduki Hamim Berpulang ke Rahmatullah
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Mantan Rektor Universitas Lampung yang juga Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Wahana Raharja Alhusniduki Hamim, meninggal dunia di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Rabu (13-2) sekitar pukul 18.50 WIB.
Mantan Rektor Unila periode 1990--1998 itu mengidap kanker usus sejak tiga bulan lalu. Alhusniduki meninggalkan seorang istri, Hj. Dewi Sriyati dan 7 putra-putri.
Menurut Rudi Priya Jaya, menantu Alhusniduki, mertuanya masuk RS Dharmais sejak dua pekan lalu. "Masuk rumah sakit baru dua pekan. Kalau pengobatan sudah ada empat bulanan," ujar Rudi.
Tadi malam, jenazah Ketua Umum Dewan Pendidikan Lampung itu langsung dibawa ke Lampung. Hari ini (14-2), tokoh yang wafat dalam usia 69 tahun itu akan dimakamkan di Menggala, Tulangbawang. "Lokasi pastinya masih menunggu rembukan keluarga," ujar Rudi.
Alhusniduki menjabat rektor Unila selama delapan tahun. Almarhum menjadi PNS sejak 1961--2005. Pada 1978--1981, tokoh yang akrab disapa Pak Duki ini menjabat pembantu rektor (PR) I Unila.
Dekan Fakultas Ekonomi Unila dijabat 1985--1988, kemudian dikukuhkan sebagai rektor 1990--1998.
Terakhir, Duki menjabat direktur utama Perusahaan Daerah Wahana Raharja periode 2005--2009.
Rektor Unila Prof. Sugeng P. Hariyanto dan civitas academica Unila sangat kehilangan dengan kepulangan cendekiawan muslim itu. Menurut rencana, Unila melakukan upacara khusus sebelum pemakaman.
"Kami sudah mengutus PR II untuk meminta kepada keluarga beliau agar Pak Duki dapat disemayamkan di Unila. Kami akan menggelar upacara khusus jika keluarga mengizinkan," kata Sugeng, tadi malam.
Direktur Umum PD Wahana Raharja Ferdi Gunsan mengatakan Alhusniduki tidak aktif sebagai dirut sejak November lalu. "Beliau menjalani pengobatan ke Tokyo, Jepang," ujar Plt. Dirut PD Wahana Raharja itu.
"Bagi saya, Pak Duki itu tokoh besar, akademisi, dan seorang profesional yang membanggakan," ujar Ferdi.
Alhusniduki lahir di Menggala, 10 Desember 1939. Dia menamatkan Sekolah Rakyat pada 1953, SMP (1956), SMA (1959), sarjana muda ekonomi Universitas Sriwijaya (1963), dan sarjana ekonomi Unila (1968). Duki menyelesaikan master of agricultural development economics di Australian National University, Canberra, Australia (1977), master of science in agricultural economics, University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (1984), dan kandidat doktor IPB, Bogor (1985). n KIM/U-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Baca juga: Unila Dibangun oleh Pejuang
Mantan Rektor Unila periode 1990--1998 itu mengidap kanker usus sejak tiga bulan lalu. Alhusniduki meninggalkan seorang istri, Hj. Dewi Sriyati dan 7 putra-putri.
Menurut Rudi Priya Jaya, menantu Alhusniduki, mertuanya masuk RS Dharmais sejak dua pekan lalu. "Masuk rumah sakit baru dua pekan. Kalau pengobatan sudah ada empat bulanan," ujar Rudi.
Tadi malam, jenazah Ketua Umum Dewan Pendidikan Lampung itu langsung dibawa ke Lampung. Hari ini (14-2), tokoh yang wafat dalam usia 69 tahun itu akan dimakamkan di Menggala, Tulangbawang. "Lokasi pastinya masih menunggu rembukan keluarga," ujar Rudi.
Alhusniduki menjabat rektor Unila selama delapan tahun. Almarhum menjadi PNS sejak 1961--2005. Pada 1978--1981, tokoh yang akrab disapa Pak Duki ini menjabat pembantu rektor (PR) I Unila.
Dekan Fakultas Ekonomi Unila dijabat 1985--1988, kemudian dikukuhkan sebagai rektor 1990--1998.
Terakhir, Duki menjabat direktur utama Perusahaan Daerah Wahana Raharja periode 2005--2009.
Rektor Unila Prof. Sugeng P. Hariyanto dan civitas academica Unila sangat kehilangan dengan kepulangan cendekiawan muslim itu. Menurut rencana, Unila melakukan upacara khusus sebelum pemakaman.
"Kami sudah mengutus PR II untuk meminta kepada keluarga beliau agar Pak Duki dapat disemayamkan di Unila. Kami akan menggelar upacara khusus jika keluarga mengizinkan," kata Sugeng, tadi malam.
Direktur Umum PD Wahana Raharja Ferdi Gunsan mengatakan Alhusniduki tidak aktif sebagai dirut sejak November lalu. "Beliau menjalani pengobatan ke Tokyo, Jepang," ujar Plt. Dirut PD Wahana Raharja itu.
"Bagi saya, Pak Duki itu tokoh besar, akademisi, dan seorang profesional yang membanggakan," ujar Ferdi.
Alhusniduki lahir di Menggala, 10 Desember 1939. Dia menamatkan Sekolah Rakyat pada 1953, SMP (1956), SMA (1959), sarjana muda ekonomi Universitas Sriwijaya (1963), dan sarjana ekonomi Unila (1968). Duki menyelesaikan master of agricultural development economics di Australian National University, Canberra, Australia (1977), master of science in agricultural economics, University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (1984), dan kandidat doktor IPB, Bogor (1985). n KIM/U-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Baca juga: Unila Dibangun oleh Pejuang
February 12, 2008
Suoh Miliki Potensi Wisata Panas Bumi dan Danau
Bandarlampung, 12/2 (ANTARA) - Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat atau sekitar 250 Km dari Bandarlampung memiliki potensi wisata yang cukup bagus berupa panas bumi yang setiap saat airnya mengeluarkan gelembung dan letupan serta empat buah danau berukuran cukup luas.
Mantan Camat Suoh, Rusli Rasyid, mengatakan di Bandarlampung, Selasa (12/2), objek wisata itu terletak di Dusun Kalibata, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, pada kedua tempat itu potensi panas bumi dan danau belum dikelola secara baik oleh pemerintah kabupaten setempat untuk dijadikan kawasan wisata.
Menurutnya kedua objek wisata itu sangat bagus dan jika dikelola secara baik oleh pemerintah setempat tidak mustahil turis lokal maupun mancanegara akan banyak yang datang untuk melihat keindahan alam di sana.
"Lokasi panas bumi dan danau berada di bawah pegunungan di sekitar kawasan antara hutan lindung dan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS)," katanya.
Ia menyebutkan ada sekitar belasan lubang berbentuk kolam, baik besar maupun kecil mengeluarkan gelembung air yang sedang mendidih dan mengeluarkan bunyi letupan-letupan kecil serta asap yang membumbung ke udara.
Bau belerangpun di sekitar kolam-kolam itu sangat menyengat hidung. Warga setempat banyak memberikan nama-nama di lokasi panas bumi tersebut seperti Keramikan, Pasirkuning, gunung goyang, dan nama lainnya.
Sementara di lokasi itu juga terdapat empat danau besar yang cukup indah, yakni Danau Asem, Danau Minyak, Danau Belibis, dan Danau Lebar.
Luas masing-masing danau bisa mencapai ratusan hektare, Danau Asem misalnya memiliki luas kurang lebih 160 ha.
Pengunjung objek wisata itu didominasi oleh warga sekitar sisanya dari kabupaten/kota lain serta turis dan peneliti asing.
Rendahnya kunjungan ke tempat itu akibat sarana dan prasarana jalan kurang baik. Jalan menuju kelokasi wisata itu tidak beraspal melainkan berbatu dan tanah merah.
"Kawasan ini masih terisolasi karena infrastrukturnya belum memadai," tambahnya.
Sementara itu beberapa kalangan juga menilai pemerintah setempat sepertinya kurang peduli dengan objek wisata cukup bagus itu.
"Objek wisata berupa panas bumi sangat jarang ditemui bahkan di dunia pun sangat sedikit," kata Rusli lagi.
Selain itu pemerintah setempat kurang melakukan promosi tentang objek wisata itu, sehingga wajar dunia luar tidak mengetahuinya.
"Turis asing mengetahui lokasi wisata panas bumi ini dari mulut-ke mulut temannya yang telah mengunjungi tempat itu lebih dahulu," katanya.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
Mantan Camat Suoh, Rusli Rasyid, mengatakan di Bandarlampung, Selasa (12/2), objek wisata itu terletak di Dusun Kalibata, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, pada kedua tempat itu potensi panas bumi dan danau belum dikelola secara baik oleh pemerintah kabupaten setempat untuk dijadikan kawasan wisata.
Menurutnya kedua objek wisata itu sangat bagus dan jika dikelola secara baik oleh pemerintah setempat tidak mustahil turis lokal maupun mancanegara akan banyak yang datang untuk melihat keindahan alam di sana.
"Lokasi panas bumi dan danau berada di bawah pegunungan di sekitar kawasan antara hutan lindung dan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS)," katanya.
Ia menyebutkan ada sekitar belasan lubang berbentuk kolam, baik besar maupun kecil mengeluarkan gelembung air yang sedang mendidih dan mengeluarkan bunyi letupan-letupan kecil serta asap yang membumbung ke udara.
Bau belerangpun di sekitar kolam-kolam itu sangat menyengat hidung. Warga setempat banyak memberikan nama-nama di lokasi panas bumi tersebut seperti Keramikan, Pasirkuning, gunung goyang, dan nama lainnya.
Sementara di lokasi itu juga terdapat empat danau besar yang cukup indah, yakni Danau Asem, Danau Minyak, Danau Belibis, dan Danau Lebar.
Luas masing-masing danau bisa mencapai ratusan hektare, Danau Asem misalnya memiliki luas kurang lebih 160 ha.
Pengunjung objek wisata itu didominasi oleh warga sekitar sisanya dari kabupaten/kota lain serta turis dan peneliti asing.
Rendahnya kunjungan ke tempat itu akibat sarana dan prasarana jalan kurang baik. Jalan menuju kelokasi wisata itu tidak beraspal melainkan berbatu dan tanah merah.
"Kawasan ini masih terisolasi karena infrastrukturnya belum memadai," tambahnya.
Sementara itu beberapa kalangan juga menilai pemerintah setempat sepertinya kurang peduli dengan objek wisata cukup bagus itu.
"Objek wisata berupa panas bumi sangat jarang ditemui bahkan di dunia pun sangat sedikit," kata Rusli lagi.
Selain itu pemerintah setempat kurang melakukan promosi tentang objek wisata itu, sehingga wajar dunia luar tidak mengetahuinya.
"Turis asing mengetahui lokasi wisata panas bumi ini dari mulut-ke mulut temannya yang telah mengunjungi tempat itu lebih dahulu," katanya.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
VLY 2009: Lampung Aktifkan Polisi Pariwisata
Bandarlampung, 12/2 (ANTARA) - Kepolisian Daerah (Polda) Lampung mengaktifkan kembali polisi pariwisata guna menunjang Visit Indonesia Year (VIY) 2008 dan Visit Lampung Year (VLY) 2009.
"Kita akui, kegiatan pariwisata di Lampung tidak sesibuk seperti di Bali atau Jogja, namun ada dua agenda nasional setiap tahun yakni Festival Krakatau dan Festival Way Kambas," kata Kapolda Lampung Brigjen Suharijono K, di Bandarlampung, Selasa (12/2).
Karena itu, lanjut dia, polisi pariwisata yang sudah ada akan dioptimalkan guna menunjang kegiatan tersebut, termasuk menunjang program pemerintah yakni VIY 2008 dan VLY 2009.
Ia menjelaskan, terkait VIY 2008 dan VLY 2009, sudah menyusun rencana pengamanan dan menyiapkan petugasnya.
Terkait kekhawatiran pemilik tempat usaha hiburan dengan kerapnya razia, Kapolda menjamin jika lokasi tersebut memang aman dan tidak disalahgunakan maka tidak akan dirazia.
"Razia ke tempat hiburan karena modus operandi penyalahgunaan narkoba menggunakan tempat-tempat tersebut. Apalagi, pada dasarnya dimana pun tempat jika ditengarai ada kegiatan pelanggaran akan dilakuan operasi," katanya.
Namun, ujar Kapolda Lampung itu, jajarannya tidak akan setiap saat merazia tempat hiburan, karena bisa mengganggu kenyamanan tamu, sehingga razia dilaksanakan tetap dalam koridor kewajaran.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
"Kita akui, kegiatan pariwisata di Lampung tidak sesibuk seperti di Bali atau Jogja, namun ada dua agenda nasional setiap tahun yakni Festival Krakatau dan Festival Way Kambas," kata Kapolda Lampung Brigjen Suharijono K, di Bandarlampung, Selasa (12/2).
Karena itu, lanjut dia, polisi pariwisata yang sudah ada akan dioptimalkan guna menunjang kegiatan tersebut, termasuk menunjang program pemerintah yakni VIY 2008 dan VLY 2009.
Ia menjelaskan, terkait VIY 2008 dan VLY 2009, sudah menyusun rencana pengamanan dan menyiapkan petugasnya.
Terkait kekhawatiran pemilik tempat usaha hiburan dengan kerapnya razia, Kapolda menjamin jika lokasi tersebut memang aman dan tidak disalahgunakan maka tidak akan dirazia.
"Razia ke tempat hiburan karena modus operandi penyalahgunaan narkoba menggunakan tempat-tempat tersebut. Apalagi, pada dasarnya dimana pun tempat jika ditengarai ada kegiatan pelanggaran akan dilakuan operasi," katanya.
Namun, ujar Kapolda Lampung itu, jajarannya tidak akan setiap saat merazia tempat hiburan, karena bisa mengganggu kenyamanan tamu, sehingga razia dilaksanakan tetap dalam koridor kewajaran.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
Hak Anak dan Budaya Lampung akan Diatur dalam Perda
Bandarlampung, 12/2 (ANTARA) - Pemerintah Daerah Provinsi Lampung tengah membahas sembilan rancangan peraturan daerah, diantaranya pelayanan terhadap hak anak, pemeliharaan budaya Lampung dan retribusi penggantian biaya administrasi.
Wakil Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, di Bandarlampung, Selasa (12/1), mengatakan, perda tersebut dibentuk dalam rangka menyelenggarakan kewajiban pemerintah daerah, khususnya di bidang sosial kemasyarakatan, budaya, dan pelayanan terhadap masyarakat.
Ia menjelaskan, raperda tentang pelayanan terhadap hak-hak anak dan
pemeliharaan kebudayaan Lampung itu merupakan objek baru yang belum pernah diatur sebelumnya di daerah lain dalam bentuk peraturan daerah.
"Pertimbangan pembentukan perda tersebut yakni dalam rangka penyelenggaraan kewajiban pemerintah daerah khususnya di bidang sosial kemasyarakatan dan budaya," kata dia.
Selain itu, agar pelayanan dan upaya perlindungan terhadap hak-hak anak dapat lebih terjamin dan kebudayaan Lampung dapat lebih tergali, terpelihara dan dapat dikembangkan secara optimal, terkoordinasi, berdayaguna dan berhasilguna yang akan menambah khasanah budaya nasional.
Kesembilan raperda tersebut yakni pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi penjualan produksi usaha daerah, retribusi penggantian biaya administrasi.
Kemudian, retribusi pelayanan tera, tera ulang dan kalibrasi alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya serta pengujian barang dalam keadaan terbungkus.
Selain itu adalah Raperda penyertaan modal daerah pada perseroan terbatas, pelayanan terhadap hak-hak anak, dan pemeliharaan kebudayaan Lampung.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
Wakil Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, di Bandarlampung, Selasa (12/1), mengatakan, perda tersebut dibentuk dalam rangka menyelenggarakan kewajiban pemerintah daerah, khususnya di bidang sosial kemasyarakatan, budaya, dan pelayanan terhadap masyarakat.
Ia menjelaskan, raperda tentang pelayanan terhadap hak-hak anak dan
pemeliharaan kebudayaan Lampung itu merupakan objek baru yang belum pernah diatur sebelumnya di daerah lain dalam bentuk peraturan daerah.
"Pertimbangan pembentukan perda tersebut yakni dalam rangka penyelenggaraan kewajiban pemerintah daerah khususnya di bidang sosial kemasyarakatan dan budaya," kata dia.
Selain itu, agar pelayanan dan upaya perlindungan terhadap hak-hak anak dapat lebih terjamin dan kebudayaan Lampung dapat lebih tergali, terpelihara dan dapat dikembangkan secara optimal, terkoordinasi, berdayaguna dan berhasilguna yang akan menambah khasanah budaya nasional.
Kesembilan raperda tersebut yakni pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi penjualan produksi usaha daerah, retribusi penggantian biaya administrasi.
Kemudian, retribusi pelayanan tera, tera ulang dan kalibrasi alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya serta pengujian barang dalam keadaan terbungkus.
Selain itu adalah Raperda penyertaan modal daerah pada perseroan terbatas, pelayanan terhadap hak-hak anak, dan pemeliharaan kebudayaan Lampung.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
February 11, 2008
Udo Z. Karzi: Rebellious writer from Lampung
-- Oyos Saroso H.N., The Jakarta Post, Bandarlampung
WHEN Lampung literary figure Udo Z. Karzi was named as one of seven winners of the 2008 Rancage Literary Award, it surprised many customary leaders in his hometown of Lampung.
Udo Z. Karzi (JP/Oyos Saroso HN)
They found it hard to believe that a foundation from another province would recognize the work of a writer from Lampung, where the literary world and local language are hardly developed and even are under threat of extinction.
The awards were presented by the West Java-based Rancage Cultural Foundation in Bandung on Jan. 31 to seven people, including Udo, for their creative excellence as well as dedication to preserving local literary traditions.
On its 20th anniversary this year, Rancage gave the awards to Indonesian men and women who write in languages increasingly sidelined by modernization.
Udo Z. Karzi is the pen name of 37-year-old Zulkarnain Zubairi, a journalist who is also a literary figure.
Since 1999, the man, who was born in the West Lampung town of Liwa, has consistently gone against the grain by producing poetry in Lampung language.
One of his books, Mak Dawah Mak Dibingi (No Day and Night), saw him win the award, the brainchild of the chairman of the foundation's board, Ajip Rosidi.
When compiling his works into a book titled Momentum (Moment) back in 2002, Udo became a target of the customary leaders' anger. They believed his work depreciated the Lampung language since he was using the language used by common people, not the formal variety.
They insisted Lampung poetry have its own structure, which should not be violated. They also believed he failed to include Lampung's philosophical values, considered sacred by the customary leaders, in his works.
Through his works, Udo criticizes Lampung's tradition and custom, which he claims is responsible for the slow development of Lampung's literary world.
"Even I was criticized and became a target of people's anger ... I don't care," said the writer, who finished reading Sebatang Kara (On His Own), a novel by Hector Melot, when he was still a third-grader.
Receiving the award, he said, made him excited and nervous at the same time.
"I feel tense considering that the book, Mak Dawah Mak Dibingi, serves as an opening door to fight for Lampung's literary existence. After this, Lampung literary figures, who produce works in Indonesian, should try to produce their works in the Lampung language," he said.
He said the Rancage Literary Award he received should also encourage other Lampung literary figures, who are currently spellbound by oral traditions, to write.
"At least, there should be a kind of resurrection of the Lampung literary world along with a growing confidence among Lampung language speakers that their language can also be stylish, modern and be used as media for creative-imaginative work just like other languages, such as the Sundanese, Javanese and Balinese languages."
Udo said he became tired of trying to publish a compilation of his poetry, as he was continuously rejected by publishers who claimed that Lampung people were not aware of his poetry style.
"I was surprised by these rejections. If poetry written in Javanese, Sundanese and Balinese languages could get published, why can't those in the Lampung language? Fortunately for me, I met 'crazy people' who were willing to publish my work," he said.
He added, however, it would be difficult to develop Lampung's literary world since most young people in Lampung could not speak the language.
"If young Lampung people can not even speak the language, it will be hard for them to write it," he said.
The present reality is, he said, many people turn to Lampung oral traditions, with training even provided on the trend.
"I have no objection to the trend but I regret that many Lampung artists are deeply involved in oral traditions. There are those who have documented the oral traditions into recordings or books but the Lampung literary tradition still gets nowhere.
"With these concerns in mind, I write in the Lampung language in a hope the language will not become completely lost," said the father of one.
Another factor he believed was responsible for diminishing Lampung literary works was the absence of media, such as newspapers or magazines, which carry such works.
"Lampung language is different to Javanese, Sundanese or Balinese languages, which flourished due to the media that publish literary works in those languages.
"In Lampung alone, only 15 percent of some seven million people still speak the language. This is the main problem in developing the Lampung language and literary world," he said.
Aside from getting his work published, Udo has also turned to the Internet, creating his own blog (www.udozkarzi.blogspot.com), which showcases his works and thoughts, all in the Lampung language.
"If Lampung language becomes extinct, at least my writing on the blog can serve as a work of Lampung language that remains."
As of this year, the Rancage Foundation will regularly award literary works in four local languages - Sundanese, Javanese, Balinese and Lampung.
"In another words, there is no excuse. Lampung should publish its own literary books, or at least one book a year. This is good news for Lampung writers and is a big challenge."
Sumber: The Jakarta Post, February 11, 2008
WHEN Lampung literary figure Udo Z. Karzi was named as one of seven winners of the 2008 Rancage Literary Award, it surprised many customary leaders in his hometown of Lampung.
Udo Z. Karzi (JP/Oyos Saroso HN)They found it hard to believe that a foundation from another province would recognize the work of a writer from Lampung, where the literary world and local language are hardly developed and even are under threat of extinction.
The awards were presented by the West Java-based Rancage Cultural Foundation in Bandung on Jan. 31 to seven people, including Udo, for their creative excellence as well as dedication to preserving local literary traditions.
On its 20th anniversary this year, Rancage gave the awards to Indonesian men and women who write in languages increasingly sidelined by modernization.
Udo Z. Karzi is the pen name of 37-year-old Zulkarnain Zubairi, a journalist who is also a literary figure.
Since 1999, the man, who was born in the West Lampung town of Liwa, has consistently gone against the grain by producing poetry in Lampung language.
One of his books, Mak Dawah Mak Dibingi (No Day and Night), saw him win the award, the brainchild of the chairman of the foundation's board, Ajip Rosidi.
When compiling his works into a book titled Momentum (Moment) back in 2002, Udo became a target of the customary leaders' anger. They believed his work depreciated the Lampung language since he was using the language used by common people, not the formal variety.
They insisted Lampung poetry have its own structure, which should not be violated. They also believed he failed to include Lampung's philosophical values, considered sacred by the customary leaders, in his works.
Through his works, Udo criticizes Lampung's tradition and custom, which he claims is responsible for the slow development of Lampung's literary world.
"Even I was criticized and became a target of people's anger ... I don't care," said the writer, who finished reading Sebatang Kara (On His Own), a novel by Hector Melot, when he was still a third-grader.
Receiving the award, he said, made him excited and nervous at the same time.
"I feel tense considering that the book, Mak Dawah Mak Dibingi, serves as an opening door to fight for Lampung's literary existence. After this, Lampung literary figures, who produce works in Indonesian, should try to produce their works in the Lampung language," he said.
He said the Rancage Literary Award he received should also encourage other Lampung literary figures, who are currently spellbound by oral traditions, to write.
"At least, there should be a kind of resurrection of the Lampung literary world along with a growing confidence among Lampung language speakers that their language can also be stylish, modern and be used as media for creative-imaginative work just like other languages, such as the Sundanese, Javanese and Balinese languages."
Udo said he became tired of trying to publish a compilation of his poetry, as he was continuously rejected by publishers who claimed that Lampung people were not aware of his poetry style.
"I was surprised by these rejections. If poetry written in Javanese, Sundanese and Balinese languages could get published, why can't those in the Lampung language? Fortunately for me, I met 'crazy people' who were willing to publish my work," he said.
He added, however, it would be difficult to develop Lampung's literary world since most young people in Lampung could not speak the language.
"If young Lampung people can not even speak the language, it will be hard for them to write it," he said.
The present reality is, he said, many people turn to Lampung oral traditions, with training even provided on the trend.
"I have no objection to the trend but I regret that many Lampung artists are deeply involved in oral traditions. There are those who have documented the oral traditions into recordings or books but the Lampung literary tradition still gets nowhere.
"With these concerns in mind, I write in the Lampung language in a hope the language will not become completely lost," said the father of one.
Another factor he believed was responsible for diminishing Lampung literary works was the absence of media, such as newspapers or magazines, which carry such works.
"Lampung language is different to Javanese, Sundanese or Balinese languages, which flourished due to the media that publish literary works in those languages.
"In Lampung alone, only 15 percent of some seven million people still speak the language. This is the main problem in developing the Lampung language and literary world," he said.
Aside from getting his work published, Udo has also turned to the Internet, creating his own blog (www.udozkarzi.blogspot.com), which showcases his works and thoughts, all in the Lampung language.
"If Lampung language becomes extinct, at least my writing on the blog can serve as a work of Lampung language that remains."
As of this year, the Rancage Foundation will regularly award literary works in four local languages - Sundanese, Javanese, Balinese and Lampung.
"In another words, there is no excuse. Lampung should publish its own literary books, or at least one book a year. This is good news for Lampung writers and is a big challenge."
Sumber: The Jakarta Post, February 11, 2008
Kepurbakalaan: Museum Ruwa Jurai Kunjungi 150 Desa
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Museum Ruwa Jurai Provinsi Lampung akan mengunjungi 150 desa di kabupaten dan kota yang banyak memiliki benda cagar budaya.
Kepala Museum Ruwai Jurai Pulung Swandaru mengatakan di Bandar Lampung, Minggu (10-2), program kunjungan itu diberi label Museum Masuk Desa mulai tahun ini.
"Kami akan mengunjungi 150 desa dari seluruh daerah kabupaten dan kota, selain Bandar Lampung dan Way Kanan. Yang menjadi prioritas, adalah desa di Tulangbawang, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Selatan, dan Tanggamus," kata Pulung.
Dipilihnya lima kabupaten tersebut sebgai prioritas karena kelimanya banyak memiliki benda cagar budaya dan masih dimiliki masyarakat. "Terutama di Lampung Timur dan Tanggamus, banyak benda-benda cagar budaya yang dimiliki masyarakat, baik berupa bahan tekstil, logam, batu, dan lainnya."
Di Lampung Timur dan Tanggamus banyak memiliki situs bersejarah yang telah dibuka. "Memang, kini baru dilakukan survei ke desa-desa tersebut. Penyelenggaraannya diperkirakan sekitar Maret atau April," ujarnya.
Target yang diinginkan dari kegiatan Museum Masuk Desa tersebut adalah didapatkan kain-kain kuno yang masih dimiliki warga. Kini banyak masyarakat luar Lampung memiliki kain-kain kuno asal Lampung. Seperti Australia, Jakarta, serta negara dan daerah lain.
Begitu juga dengan berbagai senjata tradisional Lampung dan baju besi, yang konon digunakan tentara kerajaan yang ada di Lampung, dan naskah kuno baik di lempengan logam, lontar, atau situs batu. Secara kebiasaan, masyarakat Lampung termasuk suku yang sangat hati-hati melepas barang pusaka karena takut tertulah atau terputus trah-nya. Namun, berbeda ketika mereka diimingi banyak uang dari orang luar, akhirnya banyak barang kuno itu berpindah tangan.
Dia mengatakan dengan kegiatan ini masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan tentang benda cagar budaya dan kemudian merawat serta menjaganya dengan baik. "Paling tidak mereka memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara merawat benda cagar budaya itu, walaupun mereka memiliki pengetahuan secara tradisional tentang cara merawat benda tersebut. Lebih baik lagi, jika mereka mau menyerahkannya ke museum untuk dirawat.
"Kini museum memiliki sekitar 4.500 koleksi dan yang terpajang hanya 2.000. Pemajangan bagi masyarakat pun dilakukan bergantian," kata dia. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 11 Februari 2008
Kepala Museum Ruwai Jurai Pulung Swandaru mengatakan di Bandar Lampung, Minggu (10-2), program kunjungan itu diberi label Museum Masuk Desa mulai tahun ini.
"Kami akan mengunjungi 150 desa dari seluruh daerah kabupaten dan kota, selain Bandar Lampung dan Way Kanan. Yang menjadi prioritas, adalah desa di Tulangbawang, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Selatan, dan Tanggamus," kata Pulung.
Dipilihnya lima kabupaten tersebut sebgai prioritas karena kelimanya banyak memiliki benda cagar budaya dan masih dimiliki masyarakat. "Terutama di Lampung Timur dan Tanggamus, banyak benda-benda cagar budaya yang dimiliki masyarakat, baik berupa bahan tekstil, logam, batu, dan lainnya."
Di Lampung Timur dan Tanggamus banyak memiliki situs bersejarah yang telah dibuka. "Memang, kini baru dilakukan survei ke desa-desa tersebut. Penyelenggaraannya diperkirakan sekitar Maret atau April," ujarnya.
Target yang diinginkan dari kegiatan Museum Masuk Desa tersebut adalah didapatkan kain-kain kuno yang masih dimiliki warga. Kini banyak masyarakat luar Lampung memiliki kain-kain kuno asal Lampung. Seperti Australia, Jakarta, serta negara dan daerah lain.
Begitu juga dengan berbagai senjata tradisional Lampung dan baju besi, yang konon digunakan tentara kerajaan yang ada di Lampung, dan naskah kuno baik di lempengan logam, lontar, atau situs batu. Secara kebiasaan, masyarakat Lampung termasuk suku yang sangat hati-hati melepas barang pusaka karena takut tertulah atau terputus trah-nya. Namun, berbeda ketika mereka diimingi banyak uang dari orang luar, akhirnya banyak barang kuno itu berpindah tangan.
Dia mengatakan dengan kegiatan ini masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan tentang benda cagar budaya dan kemudian merawat serta menjaganya dengan baik. "Paling tidak mereka memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara merawat benda cagar budaya itu, walaupun mereka memiliki pengetahuan secara tradisional tentang cara merawat benda tersebut. Lebih baik lagi, jika mereka mau menyerahkannya ke museum untuk dirawat.
"Kini museum memiliki sekitar 4.500 koleksi dan yang terpajang hanya 2.000. Pemajangan bagi masyarakat pun dilakukan bergantian," kata dia. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 11 Februari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)