February 22, 2008

Peksipel: Guru Sulit Sosialisasikan Sastra

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Guru Bahasa Indonesia kini cukup sulit menyosialisasikan sastra, terutama puisi dan metode penulisan puisi di sekolah, sehingga pemahaman pelajar terhadap puisi sangat terbatas hanya pada pengungkapan perasaan.

Penyair Inggit Putria Marga mengemukakan hal tersebut usai melakukan penjurian lomba penulisan puisi yang digelar dalam rangka Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel) di Universitas Lampung, Rabu (20-2). Kondisi tersebut terlihat dari karya-karya puisi yang dikirimkan para siswa. "Secara kuantitas, jumlah peserta yang mengikuti lomba penulisan puisi ini sangat banyak karena mencapai jumlah ratusan karya. Namun memang bila berbicara kualitas, masih sangat jauh dari yang diharapkan," kata Inggit.

Dia menjelaskan pada umumnya karya puisi para siswa yang ikut lomba tersebut masih terbatas pada pengungkapan perasaan mereka. "Karya mereka masih 'telanjang' dan sangat remaja. Diksi-diksi yang digunakan masih verbal, bahkan kalau bisa dikatakan lebih mirip seperti curahan hati atau curhat," ujar dia.

Belum lagi bila itu berkaitan dengan penyusunan dan penggunaan kalimat yang terlihat masih sangat lemah. "Tidak hanya pada pemilihan metafora terhadap karya yang diambil, tapi juga kesalahan dasar bahasa. Misalnya, masih bingungnya pelajar pada persoalan imbuhan, penempatan kata sifat dan benda, awalan yang semuanya masih sangat berantakan," ujarnya.

Padahal bila melihat dari kuantitas peserta, penulisan puisi mendapatkan apresiasi yang besar dari para pelajar. "Artinya pihak sekolah mesti melihat minat dari para pelajar dalam penulisan puisi yang lebih kreatif dan mengarah pada sastra lumayan besar. Sehingga membutuhkan sosialisasi dan pembelajaran yang lebih terhadap dunia sastra, terutama puisi lewat pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah." n TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 22 Februari 2008

Peksipel: Pelajar Makin Cinta Tari Tradisional

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kecintaan pelajar di Lampung terhadap seni tari tradisional, seperti tari Bedana, cukup baik. Tidak hanya siswa dari kabupaten, tapi juga Kota Bandar Lampung, mereka menyukai seni dari adiluhung dari nenek moyang Sang Bumi Ruwa Jurai.

Hal ini terlihat dari meriahnya penyelenggaraan Lomba Kreasi Tari Bedana dalam rangkaian Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel) di Taman Budaya Lampung, Kamis (21-2). Dalam lomba ini, 20 grup seni dari berbagai sekolah unjuk kebolehan dengan menampilkan kreasi tari Bedana.

Bahkan di ruang Teater Tertutup yang tengah digelar lomba telling story (mendongeng) tampak sepi penonton. Pada hari pertama, pengunjungnya sangat banyak. Sehingga bisa diyakini pertandingan hari kedua yang akan digelar hari ini, Jumat (22-2), juga tidak kalah meriah.

Rusli Syukur, salah seorang juri perlombaan, menjelaskan tari Bedana ini sudah dikenal masyarakat Lampung sejak lama. "Bahkan diyakini tarian ini ada saat periode masuknya Islam di Lampung. Sebab tarian seperti ini juga ditemui di daerah Riau, Sumatera Barat, bahkan Kalimantan dengan sebutan tari Japin," kata dia.

Awal perkembangan tari Bedana ini, menurut dia, digunakan sebagai syiar Islam. "Awalnya penarinya para pria dengan gerakan-gerakan sederhana. Sedang yang perempuan hanya bernyanyi dan tidak tampil di muka umum," ujar Rusli.

Sehingga tarian ini memiliki kekhasan gerak bila dibandingkan dengan tari lain. "Ya gerakannya itu sangat sederhana karena lebih banyak meluapkan kegembiraan. Karena dahulu tarian ini digelar sebagai acara hiburan pada suatu kegiatan," tutur dia.

Sesuai dengan perkembangan zaman, kini tari Bedana makin berkembang dan penarinya pun banyak dari kaum perempuan.

Meski ada kebebasan untuk mengkreasikan karya, tari Bedana tetap memiliki pakem-pakem yang mesti ada. "Ada sekitar sembilan gerakan yang mesti ada pada tari Bedana. Di antaranya adalah tayuhan, surabaya I, surabaya II, dan sebagainya, sehingga memang tidak sembarangan memasukan gerakan baru dalam tarian ini."

Novrida Juwita yang juga juri mengemukakan tari Bedana sebagai tari muda-mudi atau tari pergaulan. n TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 22 Februari 2008

Wisata: Batuputu akan Disulap seperti Puncak

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Warga luar Bandar Lampung yang ingin berlibur akhir pekan kini bisa melirik kawasan Sukadanaham sebagai tempat tujuan. Soalnya, Pemkot Bandar Lampung berencana menata kawasan Batuputu dan Suakdanaham seperti Puncak, Jawa Barat.

"Daerah tersebut akan ditata dan diberikan penerangan, sehingga masyarakat sekitar bisa memanfaatkan untuk berdagang pada malam hari, seperti jagung bakar," kata Wakil Wali Kota Kherlani, kemarin.

Dengan penataan seperti itu, nantinya warga Kota Bandar Lampung atau dari luar daerah yang ingin menikmati suasana lain, seperti Puncak, Jawa Barat, pada malam hari tidak begitu jauh, apalagi daerah tersebut suasananya pun dingin.

Soal kenyamanan dan keamanan pengunjung, Kherlani menegaskan jika listrik atau penerangan sudah masuk, ia akan menjelaskan kepada warga sekitar agar sama-sama menjaganya dan sebenarnya yang mendapat keuntungan ganda adalah warga setempat.

Upaya mengoptimalkan kawasan wisata alam di pinggiran Kota Bandar Lampung itu karena kota tersebut pendapatannya mayoritas mengandalkan dari sektor jasa.

"Sebab itu, perlu pengembangan pariwisata dan jasa lainnya seperti hotel," kata dia.

Salah satu ikon Sukadanaham yakni air terjun, diupayakan lebih ditingkatkan pemanfaatannya, yakni dengan membuat kolam renang air alami yang selalu mengalir.

"Belum ada kolam renang dengan air yang selalu berganti dan alami. Dan di Sukadanaham bisa memanfaatkan air yang mengalir di lokasi tersebut. Ini akan jadi daya tarik tersendiri," kata dia.

Pantaun Lampung Post, dari kawasan Sukadanaham dan Batuputu yang berada di dataran tinggi bisa menikmati indahnya panorama alam laut dan wajah kota Bandar Lampung. Saat Gunung Krakatau aktif beberapa waktu lalu, semburan laharnya juga tampak dari kawasan ini pada malam hari.

Selain berudara sejuk, masyarakat yang berkunjung ke kawasan ini juga bisa menikmati jernihnya air Kali Akar, selain pohon buah-buahan seperti durian dan manggis. Di tempat ini pula terdapat pohon langka, misalnya, pohon jamblang. n UDA/ANT/U-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 22 Februari 2008

February 21, 2008

Opini: Revitalisasi Bahasa Daerah Lampung

-- Muhammad Sukirlan*

TANGGALl 21 Februari ditetapkan Unesco (United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Secara eksplisit, hal ini mengandung arti bahwa bahasa ibu (bahasa daerah) harus terus-menerus diingat seluruh anggota lapisan masyarakat di daerah setempat. Keberadaan bahasa daerah harus dipertahankan secara konstan dan pemakainnya serta diberdayakan fungsinya.

Di Provinsi Lampung, keberadaan bahasa daerah Lampung (BDL) berhadapan dengan bahasa Indonesia (BI) yang pemakaiannya merambah di ranah horizontal (keluarga, sekolah, media masa, dan perdagangan) dan vertikal (pejabat pemerintah, pengusaha, dan rakyat biasa). Selain berhadapan dengan bahasa Indonesia, BDL juga berhadapan dengan bahasa-bahasa daerah lain yang jumlah penuturnya barangkali secara akumulatif jauh lebih banyak daripada jumlah penutur BDL itu sendiri.

Padahal, sejak 1951 UNESCO telah merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah. Bahasa daerah memiliki keunggulan komparatif dibanding dengan bahasa Indonesia. Pertama, secara psikologis bahasa daerahlah yang telah membentuk pola pikir seseorang sejak dini karena dengan bahasa daerah seseorang (anak) diperkenalkan ibunya mengenali berbagai objek dan peristiwa di lingkungannya sehingga seorang anak dapat berkomunikasi untuk mengungkapkan berbagai hal dan maksud.

Kedua, secara sosial, bahasa daerah memiliki vitalitas yang tinggi bagi penuturnya karena sesama penutur telah memiliki semacam ikatan emosionl sehingga komunikasi yang dijalin akan berjalan dengan lebih efektif. Bahasa daerah telah sejak lama digunakan penuturnya untuk berkomunikasi sehari-hari dengan lingkungan terdekatnya.

Ketiga, setiap bahasa derah memiliki keraifan lokal (local wisdom) yang tentunya tidak dimiliki (berbeda) dengan bahasa-bahasa daerah lain. Dengan menggunakan bahasa daerah, sesama penutur akan lebih dapat mengungkapkan suatu konsep (sosial, budaya) secara lebih jelas, ringkas, dan.

Keempat, secara edukasional, bahasa daerah mempermudah penuturnya memperoleh pengetahuan yang dapat memperlancar program pendidikan. Sebagai contoh, program pemberantasan buta huruf dengan menggunakan pendekatan bahasa Sunda di Cibago, Cisalak, Subang, Jawa Barat, yang disponsori UNESCO berhasil dengan baik. Warga setempat belajar membaca dan menulis menggunakan bahasa Sunda. Salah satu keuntungannya adalah pembelajar tidak dipusingkan lagi dengan makna kata sehingga peserta lebih terkonsentrasi pada kegiatan belajar (Kompas, 20 September 2007).

Revitalisasi Bahasa Daerah Lampung

Salah satu cara yang digunakan untuk merevitalisasi bahasa BDL adalah dengan mengadakan perencanaan bahasa (language planning). Perencanaan bahasa merupakan usaha menyeluruh, pengerahan segala upaya dan potensi yang dilakukan berbagai komponen masyarakat seperti pemerintah, akademisi, tokoh adat, tokoh seni dan budaya, pengusaha dan lainnya agar BDL dapat dipertahankan dan difungsikan dalam berbagai ranah. Perencanaan ini meliputi tiga kegiatan yakni perencanaan kebijakan (policy planning), perencanaan korpus (corpus planning), dan perencanaan pembelajaran (acquisition planning).

Di tingkat perencanaan kebijakan inilah peran pemerintah daerah sangat penting mengeluarkan peraturan daerah dan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan status BDL. Dengan dimasukkannya BDL dalam kurikulum muatan lokal di berbagai tingkat pendidikan formal merupakan bentuk usaha awal pemerintah daerah mempertahankan keberadaan dan fungsi BDL. Perencanaan korpus meliputi standardisasi tubuh bahasa yang meliputi berbagai aspek yakni jumlah kosakata, sistem ejaan, unsur serapan, tata bahasa, penulisan dan lain-lain.

Keunggulan bahasa juga dapat ditentukan bobot internalnya yang antara lain melalui kosakata yang dimilikinya. Sebagai contoh bahasa Inggris (Webster, 1981) memiliki sekitar 450 ribu kata, sedangkan bahasa Indonesia (Dardjowijoyo, 1991) mencatat sekitar 72 ribu kata. Bagaimana dengan BDL? Dan perencanaan pembelajaran dapat ditempuh melalui berbagai jalur yakni sekolah, karya sastra, buku-buku agama, media cetak dan elektronik, lingkungan kerja, artefak budaya, dan lain-lain.

Di tingkat ketiga inilah yang barangkali memerlukan bujet, langkah perencanaan operasional dan teknis yang lebih rumit yang melibatkan pendekatan metode pengajaran bahasa, pemberdayaan penulisan sastra daerah Lampung, pemberdayaan pelaku seni atau kerajainan sehingga orang-orang yang telah mengabdikan diri dalam kesenian daerah dapat menggantungkan hidup dari profesi yang telah dipilihnya.

Langkah antisipatif perlu dilakukan mumpung belum diserobot dan dipatenkan negara lain! Bahasa daerah Lampung adalah salah satu warisan leluhur yang bernilai sangat tinggi dan patut mendapatkan cinta dari generasi kini dan selanjutnya.

* Muhammad Sukirlan, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Unila

Sumber: Lampung Post, Kamis, 21 Februari 2008

February 20, 2008

Peksipel: Pelajar 'Demen' Pakai Bahasa Gaul

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pelajar di Indonesia, khususnya di Lampung sulit berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pasalnya, pelajar terbiasa menggunakan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari.

Penyair Lampung, Ari Pahala Hutabarat, mengemukakan hal tersebut usai menjadi dewan juri dalam lomba telling story (mendongeng) dalam Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel) di gedung teater tertutup Taman Budaya Lampung, Selasa (19-2). Hal itu tampak saat peserta tampil di panggung untuk bercerita. "Terlihat sekali kelemahan para pelajar yang tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam bahasa tuturnya. Sebab, mereka terbiasa menggunakan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari."

Dengan demikian, menurut Ari, banyak pelajar yang sepertinya terasing dengan diri sendiri saat membacakan cerita yang menggunakan bahasa Indonesia. "Mereka menjadi sangat kaku dan canggung. Ini sangat terlihat dari kesulitan menggunakan diksi, irama, hingga tanda baca yang ada."

Padahal, para pelajar seharusnya tidak lagi canggung dalam berucap dan berbahasa Indonesia. "Kondisi ini sangat berbeda jika dibanding dengan yang terjadi di luar negeri. Para pelajar di luar negeri memiliki kemampuan bertutur dengan baik ketika di panggung dan tidak canggung," ujar Ari.

Menurut dia, banyak pelajar SMA yang tidak percaya diri (PD) saat berbicara di hadapan banyak orang. Selain itu, berkaitan dengan penilaian peserta telling story, dia mengemukakan banyak guru bahasa selaku pengajar atau pembimbing peserta yang belum mengetahui telling story. "Seharusnya telling story itu adalah berkisah bukan memainkan peran yang ada di cerita yang dibacakan. Jadi, ada perbedaan dengan monolog yang biasa dilakukan."

Sebab, dari delapan peserta yang tampil di hari pertama perlombaan, kata Ari, rata-rata banyak yang mencoba memainkan peran dan melakukan improvisasi yang keluar dari naskah. "Yang lebih parah lagi ada beberapa peserta yang mengompilasi naksah yang ada. Jadi, setiap naskah diambil sepotong-sepotong. Padahal ini sangat dilarang. Harus konsisten dengan satu naskah yang dibawakan."

Sementara itu, lomba mendongeng diikuti 20 pelajar. Hari ini (20-2) akan tampil 12 pelajar yang akan membawakan cerita karya Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya, Iswadi Pratama, Sapardi Joko Damono, Gabriel Garcia Marquez, dan Mario Levrero.

Selain telling story, digelar lomba menyanyi pop putri yang diikuti 59 peserta. Juga lomba modern dance, penyisihan baca puisi putra dan putri, serta lomba membuat poster. N TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 20 Februari 2008

February 19, 2008

Peksipel: Siswa Berprestasi Seni Masuk Unila tanpa Tes

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Universitas Lampung (Unila) memberikan peluang bagi siswa berprestasi di bidang seni masuk tanpa tes.

"Kami akan memprioritaskan siswa berprestasi baik di bidang olahraga maupun seni masuk Unila tanpa ujian," kata Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unila M. Thoha Sampurnajaya dalam pembukaan Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel) di GSG Unila, Senin (18-2). Kegiatan ini diikuti 1.686 pelajar dari 101 SMA sederajat se-Provinsi Lampung.

Ia menjelaskan untuk mewadahi minat dan bakat mahasiswa di bidang seni, perguruan tinggi ini memiliki unit kegiatan mahasiswa bidang seni (UKMBS). "Selama ini UKMBS dikenal sebagai salah satu kawah candradimuka Lampung yang banyak melahirkan seniman," ujar dia.

Sebab, kegiatan ini merupakan salah satu penunjang dari sistem pembelajaran yang ada. "Proses pendidikan tidak hanya semata-mata mengembangkan penilaian akademik, tapi juga kemampuan emosional, dan spiritual. Ketika lulus nanti, mereka memiliki kemampuan yang seimbang," ujarnya.

Karena pendidikan seyogianya tidak hanya mengembangkan otak kiri, tapi juga perlu ada keseimbangan dengan otak kanan. "Untuk itulah, Unila sangat concern dan mendukung berbagai kegiatan UKM," kata dia.

Oleh sebab itu, ia menyambut positif kegiatan tersebut. "Mudah-mudahan kegiatan ini akan melahirkan seniman-seniman baru yang bisa membawa nama Lampung pada kancah nasional bahkan internasional," ujar dia.

Peksipel juga diharapkan bisa menjadi event tahunan yang bisa menunjang seni budaya daerah. Ke depan, selain seni modern, juga perlu dikembangkan lomba baca dan tulis puisi berbahasa Lampung, pop daerah Lampung, dan dangdut daerah Lampung. Event ini sekaligus salah satu pendukung pengembangan dan penggalian budaya daerah khususnya bahasa Lampung. "Kegiatan ini bisa menjadi salah satu wadah bagi para guru bahasa daerah Lampung serta pelajar Lampung untuk mengapresiasi dan menuangkan karyanya," ujar Thoha.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tibrizi Asmarantaka, yang mewakili Gubernur Lampung mengemukakan Pemerintah Provinsi sangat mendukung kegiatan positif anak muda. "Selain untuk mengembangkan seni budaya di daerah, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi bagi pelajar Lampung."

Sementara itu, Peksipel berlangsung semarak dengan menggelar lomba tari kreasi bedana Lampung, modern dance, penulisan puisi, penulisan cerita pendek, pembacaan puisi, story telling, poster, nyanyi tunggal pop, lomba nyanyi tunggal dangdut, dan kompetisi band. TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 19 Februari 2008

February 16, 2008

Pustaka: Apresiasi untuk Sastra Bahasa Lampung


Judul : Mak Dawah Mak Dibingi
Penulis : Udo Z. Karzi
Penerbit: BE Press, Bandar Lampung, 2007
Tebal : xii + 71 halaman

MASYARAKAT Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi-adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan yang berirama), wawancan (sejarah), dan sebagainya. Meskipun kebanyakan masih berbentuk sastra lisan yang sering dilantunkan dalam upacara adat, ada beberapa yang sudah ditulis dan diterbitkan berupa buku.

Namun, semua karya sastra dalam bahasa Lampung itu tergolong sastra tradisional yang sangat terikat kepada aturan bait dan rima yang ketat. Satu bait pantun tradisional Lampung (adi-adi) harus terdiri atas empat baris, satu baris harus mengandung tujuh suku kata, dan harus berstruktur a-b-a-b. Sebagai contoh, kita kutip sebuah adi-adi: bayang-bayangmu kundang/ratong di tengah bingi/minjak diguyang hiwang/niku delom hanipi (bayang-bayangmu kasih/datang di tengah malam/bangkit dibangunkan tangis/dikau dalam mimpi).

Adapun karya sastra modern dalam bahasa Lampung selama ini boleh dikatakan belum ada. Sastrawan modern yang tinggal di Lampung memang cukup banyak, tetapi umumnya menuliskan karya sastra mereka dalam bahasa Indonesia. Belum ada yang menggunakan bahasa ibu (mother language), yaitu bahasa Lampung, sebagai wahana atau medium sastra modern.

Akibatnya, dunia sastra Lampung selalu dalam kondisi "hidup segan mati tidak mau', jauh tertinggal dari sastra Sunda, Jawa, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern di samping tetap melestarikan sastra tradisional.

Itulah sebabnya buku kumpulan 50 sajak berbahasa Lampung dari Udo Z. Karzi (nama pena dari Zulkarnain Zubairi), yang berjudul Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang tak Malam), merupakan terobosan besar yang mendobrak kebekuan dunia sastra Lampung. Sajak-sajak Udo Z. Karzi betul-betul membebaskan diri dan tidak merasa terikat dengan aturan puisi tradisional Lampung.

Mari kita simak salah satu sajak Udo yang mengalir bebas: pagi ga, kundang/aga minjak jak kedugokmu/bingi juga maseh mesurok ditinggal bulan/pedom, pedom do luwot, kundang/lagi wat masani buhanipi/tentang pattun nyanyianni surga (terlalu pagi, kasih/mau bangkit dari kantukmu/malam juga masih enggan ditinggal bulan/tidur, tidurlah lagi, kasih/masih ada masa untuk bermimpi/tentang pantun nyanyian surga).

Bukan hanya struktur sajak Udo yang modern, isi sajak-sajaknya pun menceritakan hal-hal yang kontemporer, kehidupan rakyat kecil yang terpuruk, demonstrasi mahasiswa, pencemaran lingkungan, sempitnya lapangan kerja, penegakan hukum yang belum memuaskan, korupsi yang merajalela, dan para politisi yang tidak memikirkan rakyat.

Ada pula sajak-sajak yang merupakan komtemplasi kehidupan Udo sendiri, di samping sajak-sajak yang melukiskan jiwa resah yang ingin menggapai Sang Pencipta. Dengan kata lain, sajak-sajak Udo Z. Karzi benar-benar mencerminkan semangat zaman.

Ketika penulis resensi ini membacakan terjemahan beberapa sajak Udo Z. Karzi di hadapan Ajip Rosidi, secara spontan sastrawan kondang itu mengatakan, "Telah lahir Chairil Anwar-nya Lampung, meskipun agak terlambat!"

Tidak diragukan lagi, buku Udo Z. Karzi merupakan pelopor lahirnya sastra Lampung modern, sehingga sangat pantas memperoleh Hadiah Sastra Rancage tahun 2008 bagi sastra Lampung untuk pertama kalinya. Diharapkan buku ini mampu merangsang para sastrawan Lampung lain menulis karya-karya sastra dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung.

n Irfan Anshory, Putra asli Tanggamus, Lampung, yang tinggal di Bandung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 16 Februari 2008

Lihat juga: Hadiah Rancage untuk Sastra Lampung

In Memoriam Alhusniduki Hamim: Epitaf Dunia Pendidikan Lampung

ALHUSNIDUKI Hamim meninggal dan tiba-tiba kita merasa kosong. Pak Duki, seluruh kolega mendiang menyebutnya demikian, adalah nama yang menggurat cukup dalam di Lampung.

Sebagai pendidik hampir sepanjang hayat dikandung badan, almarhum meninggalkan jejak ilmu yang menerangi ribuan anak didik, jejak yang kelak meluncurkan mantan muridnya duduk di pelataran terbaik di Lampung, bahkan negeri ini.

Rektor Universitas Lampung ini (1990-1994-1998) dikenal karena kesantunannya. Dengan keteladanan itu pulalah dia menghadapi keseharian dunia kemahasiswaan yang hiruk-pikuk. Dengan sikap yang sama, Rektor pertama lulusan Unila ini mengawal kelimun mahasiswa saat kampusnya ikut menghadapi detik-detik "persalinan" reformasi. Berbasis pola serupa, Pak Duki sukses menakhodai kampus besar selama dua periode kepemimpinan.

Komitmen dan perhatian lelaki kelahiran Menggala, 10 Desember 1939 tersebut terhadap universitas terbesar di Lampung tercatat dengan tinta emas. Ketekunannya di bidang pengembangan akademik mewarisi beribu hal baik yang bisa dinikmati hingga sekarang.

Pak Duki termasuk perintis Unila. Sebagai pendidik dan pimpinan, beliau mendorong pendidikan berbasis information and communication tecnology (ICT) di Unila. Beliau punya visi, penguasaan internet menjadi kecakapan tambahan alumni selain TOEFL (test of English as a foreign language). Almarhum ingin menjadikan kampus Unila leading di Sumatera dan masuk kampus papan tengah Indonesia. Almarhum ikut serius mengarahkan DUE Project Unila kala itu untuk investasi di bidang hardware, software, dan humanware.

Hasilnya, sekarang Unila diperhitungkan dan menjadi simpul penting ICT. Unila menjadi koordinator ICT untuk 18 kampus di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. "Kewajiban kami melanjutkan cita-cita beliau," tulis Safarudin, alumnus yang menjadi pengajar di FISIP Unila dan kini studi lanjutan di UGM, dalam pesan singkatnya ke harian ini. n HERI WARDOYO/U-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 16 Februari 2008

Musikalisasi Puisi: Bagus, Apresiasi Siswa

BANDAR LAMPUNG--Luar biasa. Demikian kalimat yang meluncur dari Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana saat menyaksikan penampilan para siswa dalam penutupan Bengkel Sastra: Musikalisasi Puisi untuk Siswa SMA Se-Provinsi Lampung, Kamis (14-2).

Dalam keharuannya ia menyampaikan pesan kepada seluruh peserta, guru, dan pelatih agar tidak memutuskan tali silaturahmi yang telah terjalin dalam pelatihan ini. "Penampilan mereka sangat luar biasa. Ternyata mereka mampu mengapresiasi musikalisasi puisi dengan baik," ujar dia. Hal senada disampaikan pelatih musikalisasi puisi Fredie Arsie dan putrinya Devi Syahni dari Deavies Sanggar Matahari Jakarta.

Ia mengaku sangat takjub melihat kemauan dan kemampuan para peserta yang masih duduk di bangku sekolah tersebut. "Para peserta memiliki kreativitas sangat baik. Juga semangat tinggi baik saat pelatihan hingga penutupan," kata Devi Syahni.

Ia mengungkapkan musikalisasi sangat lekat dengan persoalan penafsiran, komposisi musikal, keselarasan, serta kekompakan vokal dan suara alat musik. "Yang utama visi musikalisasi puisi ini adalah ingin menyampaikan kesan dan pesan kepada penikmatnya," ujar dia.

Penutupan Bengkel Sastra ini diawali dengan penampilan para peserta yang mengapresiasi karya dalam musikalisasi puisi yang apik. Penampil perdana dari SMA Taman Siswa Bandar Lampung yang menyanyikan puisi bertajuk Ke Mana Ombak akan Menepi karya M. Udaya Syamsudin. Harmonisasi musik yang dijalin sudah sangat baik.

Dilanjutkan SMAN 1 Seputih Agung, Lampung Tengah, yang juga mengusung puisi karya M. Udaya Syamsudin. Meski demikian, harmonisasi serta hasil kreativitas yang ditampilkan sangat berbeda. Tetapi keduanya tampil cukup kompak.

Menyusul SMAN 1 Natar, Lampung Selatan, membawakan puisi berjudul Pesan Bumi karya Munawar Syamsudin. Kemudian dilanjutkan SMAN 2 Bandar Lampung membawakan puisi Nyanyian Seekor Burung karya Pepi Epiyana. Lalu SMAN 11 Bandar Lampung membawakan puisi Ke Mana Ombak akan Menepi karya M. Udaya Syamsudin. Penampil terakhir SMAN 14 Bandar Lampung menyuguhkan puisi Pesan Bumi karya Munawar Syamsudin.

Heru Susanto, guru SMAN 1 Seputih Agung mengaku senang mengikuti kegiatan bengkel sastra. "Ilmu yang saya peroleh selama mengikuti bengkel sastra sangat berguna dan akan ditularkan kepada para siswa agar musikalisasi puisi dapat membumi di Lampung," ujar dia.

Sementara salah seorang peserta Rio Ulfia H. dari SMAN 1 Natar mengharapkan kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja. "Mudah-mudahan dapat berlanjut untuk menggali potensi sastra yang lebih dalam lagi," ujar dia. TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 16 Februari 2008

February 14, 2008

Opini: Unila Dibangun oleh Pejuang

-- Anshori Djausal*

SEMASA saya kecil, kedatangan Prof. Hilman Hadikusuma (alm.) ke rumah kami selalu menciptakan suasana yang penuh semangat. Beliau adalah sepupu orang tua saya. Kedatangannya selalu dengan cerita tentang berbagai hal yang menarik perhatian saya.

Beliau memang salah satu pemuda dan pejuang Lampung pada awal kemerdekaan. Beliau pernah cerita tentang upayanya akan mendirikan sebuah universitas di Lampung bersama beberapa nama yang kemudian saya kenal sebagai pendiri Unila.

Mereka di antaranya Abdoel Moeis Radja Hukum dan Alhusniduki Hamim. Mereka menjadi mahasiswa, sekaligus menangani sekretariat Fakultas Ekonomi, Hukum, Sosial. Alhusniduki Hamim kemudian merupakan alumni pertama menjadi rektor Unila pada awal 1990-an.

Masih tergambar ketika Prof. Hilman bercerita pada awal tahun 1960-an itu selalu disertai semangat pejuang yang sangat melekat pada beliau. Seperti, ketika beliau bercerita tentang masa agresi militer dan cerita lainnya. Setelah saya ikuti jejak beliau di Unila dan mengenal lebih banyak tentang sejarah Unila, saya percaya bahwa Unila didirikan oleh semangat "Pejuang".

Sebutlah nama-nama pendiri Unila seperti Hi. Zainal Abidin Pagar Alam dan Nadirsjah Zaini. Bagi yang pernah mengenal mereka akan sependapat, bahwa Universitas Lampung yang resmi lahir 23 September 1965 ini didirikan oleh semangat pejuang.

Semangat mendirikan sebuah universitas baru di Lampung saat itu jelas didorong oleh keberadaan Provinsi Lampung yang juga baru terbentuk. Pemerintahan Provinsi Lampung yang baru dan Universitas Lampung yang terbentuk setahun kemudian harus dilihat sebagai kebersamaan dalam mewarnai perkembangan daerah dan masyarakat Lampung.

Secara objektif dapat dilihat dari ketelibatan kelembagaan maupun personel, kebersamaan membangun daerah ini baik dari pihak pemerintah daerah maupun sebaliknya saling melengkapi.

Gubernur Lampung H. Zainal Abidin Pagar Alam pernah menjadi Ketua Presidium Universitas Lampung menggantikan Kusno Danupoyo. Sebaliknya, beberapa personel Unila saat itu pun harus berkiprah langsung atau turut membangun pada awal pemerintahan provinsi.

Rektor Unila Prof. Sitanala Arsyad (1973--1981) adalah perintis dibentuknya Badan Perencanaan Daerah. Beberapa nama lain dapat saja disebutkan dalam daftar yang panjang tentang hubungan saling menbangun ini. Awal tahun 1980-an, ketika saya mulai bergabung dengan Unila, saya masih merasakan semangat pejuang dan semangat kebersamaan untuk membangun Unila.

Saat ini, sudah hampir 40 tahun kemudian. Kampusnya berdiri anggun di Gedong Meneng. Mahasiswa lebih dari 24.000. Ada tujuh fakultas, 690 dosen dengan kualifikasi S2, 116 doktor dalam berbagai bidang ilmu, 17 guru besar, puluhan laboratorium.

Unila bukan lagi hanya sebuah universitas daerah, melainkan sudah merupakan universitas yang alumninya sudah berkiprah secara nasional. Unila sudah menjadi universitas nasional. Alumni Unila sampai wisuda yang terakhir, maret 2007 seluruhnya mencapai 54.675 orang.

Secara pasti Unila telah melangkah dalam kiprah yang lebih luas. Mahasiswa yang berminat masuk ke Unila bukan lagi berasal dari Lampung saja, melainkan juga dari daerah lain.

Kerja sama dengan University of Kentucky, terutama untuk pengiriman tugas belajar bagi dosen-dosen muda pada awal tahun 1980-an menandai perkembangan kualitas tenaga pengajar yang sangat berarti. Fakultas Pertanian (FP) yang memanfaatkan kerja sama ini, baik pengiriman dosen maupun pengembangan kelembagaan.

FP menjadi fakultas yang besar mengikuti FE dan FH yang telah lebih dahulu berkiprah. Kerja sama dengan University of Kentucky ini masih berlanjut sampai sekarang.

Awal tahun 1990-an merupakan awal berkembangnya FT dan FMIPA, selanjutnya PS. Kedokteran mulai dikembangkan pada awal 2000. Kemajuan Unila di bawah pimpinan rektor dari yang pertama sampai saat ini telah menempatkan Unila sebagai universitas yang penting di kawasan Indonesia bagian barat.

Berbagai kinerja dengan beberapa indikator dapat dilihat dari tahun ke tahun. Hasil audit kinerja kelembagaan Unila terakhir yang dilakukan Inspektorat Jendral Diknas menunjukkan nilai 3.83 (baik) dari skala 0 hingga 5.

Sejak awal delapan puluhan, Unila telah meletakkan dasar-dasar sistem informasi manajemen berbasis komputer. Unila menempatkan ICT (information, communication and technology) sebagai kebijakan penting dalam pengelolaan universitas secara luas. Sistem informasi akademik (siakad) di Unila sudah lama menjadi acuan bagi universitas lain.

Saat ini, setiap mahasiswa dapat mengakses informasi tentang kemajuan akademisnya, konsultasi dengan jurusannya dari mana saja. Informasi tentang ini lebih jauh dapat dilihat online pada: http://www.unila.ac.id/

Kerja sama tripartit, universitas, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat telah banyak dirintis dengan basis common interest, ketertarikan pada isu yang sama dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Termasuk dengan luar negeri, salah satu contoh adalah antara Unila, Toyohashi University of Technology dan JFE-Techno Research Corporation, Jepang tentang energi yang terbarukan.

Bentuk kerja sama pertukaran mahasiswa dan dosen juga berjalan sejak 2003 dengan CENEARC (Centre National d'Etudes Agronomiques des Regions Chaudes) yang berpusat di Montpellier, Prancis.

Sebuah program studi magister akan dibuka pada tahun 2008 dengan program Management of Natural Resources and Rural Development, dengan bahasa pengantar Inggris dan Indonesia. Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Agris Mundus Uni Eropa yang beranggotakan enam negara Eropa dan delapan negara berkembang, Indonesia diwakili Unila.

Sebuah penelitian internasional yang terus menerus, kerja sama dengan negara tropis tentang keanekaragaman biota tanah tropik dan tentang metan serta biomassa. Unila secara nasional telah berhasil mengembangkan TOT (teknologi tanpa olah tanah), benih jagung srikandi dan teknologi lahan kering lainnya.

Sebuah penulisan buku tentang budaya Lampung juga sedang berjalan, yaitu kerja sama Unila dengan Kyoei University, Jepang. Penulisan ini berdasarkan kerja sama penelitian dalam waktu yang panjang.

Dalam waktu dekat, Unila akan mengembangkan pusat keunggulan berbasis biomassa. Pusat keunggulan ini telah menjadi kesepakatan bersama antara seluruh universitas di wilayah barat, Sumatera dan Kalimantan untuk membangun pusat keunggulan lokal dan wilayah.

Empat pusat keunggulan tersebut, pertama, pengelolaan lahan gambut (Unpar, Unsri, Unri, Untan); kedua, tanaman obat tropis (Unsyah, Unand, USU); ketiga, industri biomassa (Unila, Unib); dan keempat, kebakaran hutan (Unsri, Untan, Unpar).

Pusat keunggulan ini segera dibangun bekerja sama dengan berbagai pihak. Pendanaan telah mendapat persetujuan dari pemerinah pusat. Peningkatan kualitas belajar mengajar, penelitian dan pengembangan di Unila akan terus bergulir. Unila membuka jalan untuk berkiprah lebih luas.

Bagi awam mengukur pencapaian sebuah lembaga pendidikan tinggi seperti Unila saat ini tidak dapat melihatnya hanya sebagai sebuah sistem produksi, misalnya saja populernya sebuah lagu pop atau populernya mi instan. Atau seperti menggigit sebuah cabe rawit. Langsung pedas. Suatu proses pendidikan adalah dari generasi ke generasi.

Kiprah dan pencapaian sebuah lembaga pendidikan adalah "membangkitkan sebuah peradaban", merubah cara berpikir, membentuk cara hidup, membangun pengetahuan, membentuk sebuah kebudayaan, kemudian membangun peradaban. Unila dengan kapasitas kelembagaan seperti yang ada sekarang sudah pasti ikut "membangkitkan" daerah dan masyarakat Lampung.

Baru saja, senat Unila meluncurkan visi 2025. Pada tahun itu, Unila menjadi 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Memang bukan pekerjaan yang mudah. Memerlukan rencana strategis yang sangat kuat, kerja sama dengan pemerintah, swasta dan masyarakat yang saling melengkapi. Tri dharma kampus memang sesuatu yang utuh yang menempatkan kampus bukan sekedar menara gading.

Visi 2025 harus menginspirasi berbagai komponen di dalam dan di luar Unila untuk kemudian bergerak meraih asa. Sangat relevan untuk kembali mengingatkan, Unila yang awalnya dibangun dengan "semangat pejuang dan kebersamaan" masih diperlukan untuk mencapai visi 2025.

Semangat pejuang ini harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pencapain visi 2025. Pencapaian bukan semata dapat dikejar dengan angka-angka, melainkan nilai-nilai yang penuh semangat juang seperti yang dimiliki para perintis Unila. Tanpa pamrih.

Generasi demi generasi telah tumbuh di Unila, yang harusnya mampu melanjutkan semangat untuk maju, tetapi harus dibarengi dengan sikap menjunjung kebersamaan agar dapat menghadapi rintangan atau hambatan untuk maju.

Pekan-pekan ini akan dilangsungkan pemilihan rektor Unila, menggantikan Prof. Dr. Muhajir Utomo. Hendaknya bukan hanya memilih yang unggul saja, melainkan yang terbaik untuk membawa Unila ke depan.

* Anshori Djausal, Pembantu Rektor Unila Bidang Perencanaan dan Kerja Sama

Sumber: Lampung Post, Kamis, 24 Mei 2007