March 7, 2008

Wawancara: Ngobrol dengan Udo Z. Karzi

Udo Z. Karzi, sastrawan Lampung cum jurnalis baru-baru ini mendapatkan Anugerah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage yang dipimpin sastrawan Ajip Rosidi. Pria kelahiran Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970 ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya orang bersuku Lampung yang mempublikasikan karya-karya puisinya dengan bahasa Lampung.

Udo Z. Karzi adalah nama pena untuk Zulkarnain Zubairi. Bersama istri dan seorang anaknya yang masih balita dia kini tinggal di Kabupaten Kotawaringin Barat, Pulau Borneo, karena ditugaskan Media Group bekerja di Harian Borneonews.

Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung (1993-1994), Pemimpin Umum Majalah Republica (1994-1996), dan Pembimbing Majalah Ijtihad (1995-1998).

Banyak menimba pengalaman dari berbagai kelompok/kegiatan diskusi: Kelompok Studi Merah Putih, Forum Dialog Mahasiswa (Fordima), Forum for Information and Regional Development Studies (FIRDES), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan lepas Harian Umum Lampung Post (1995-1996) dan reporter Majalah Berita Mingguan Sinar, Jakarta (1997-1998). Sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi SMA Negeri dan MAN di kota kelahirannya (1998) sebelum menjadi jurnalis Surat Kabar Umum Sumatera Post (1998-2000), Harian Lampung Post (2000-2006), dan Harian Borneonews, Pangkalan Bun (2006-....) ,

Dia menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media lokal dan nasional sejak 1987. Pengamat sastra menilainya membawa pembaruan dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung sebagaimana terlihat dalam buku sajak dwibahasa Lampung-Indonesianya: Momentum (Dinas Pendidikan Lampung, 2002) dan karena itu dia disebut "bapak puisi modern (berbahasa) Lampung".

Buku puisinya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) meraih Hadiah Sastera Rancagé 2008 untuk kategori sastra Lampung.

Sajak-sajak lainnya termuat dalam Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas Tumbuh (Teknokra, 1995), Lampung Kenangan, Krakatau Award 2002 (Dewan Kesenian Lampung, 2002), Konser Ujung Pulau (Dewan Kesenian Lampung, 2003), Pertemuan Dua Arus (Jung Foundation, 2004), Maha Luka Aceh (PDS HB Jassin, 2005), Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006), dan Anthology Empati Jogja (Pustaka Jamil, 2006).

Cerpen-cerpen termuat dalam Sapardi Djoko Damono dkk. (Ed.) Graffiti Imaji (YMS, 2002) dan The Regala 204B (Gapuraja, 2006).

Berikut wawancara saya (Oyos Saroso H.N.) dengan Udo Z. Karzi seputar Anugerah Sastra yang baru saja diraihnya itu.

--

Di tengah miskinnya karya sastra berbahasa Lampung anugerah Rancage ini tentu sangat membahagiakan. Bukan hanya bagi Zul. Tapi juga bagi masyarakat Lampung. Perasaan Anda sendiri bagaimana? Apa arti penghargaan ini bagi Anda dan masa depan sastra berbahasa Lampung?

Senang, tentu. Namun, saya agak tegang juga mengingat buku Mak Dawah Mak Dibingi itu sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal satu buku satu tahun. Sementara itu, para seniman (tradisi) Lampung masih terlalu asyik dengan kelisanan mereka. Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastera Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis.

Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya 'kepercayaan diri' penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali .

Publik sebenarnya baru tahu bahwa Anda menulis sastra Lampung belum lama (belum sampai 10 tahun). Apa yang melatarbelakangi Anda menulis sastra berbahasa Lampung? Bukankah menulis sastra berbahasa Indonesia lebih mudah, apalagi di Lampung banyak sastrawan yang bisa dijadikan ‘sparing partner’?

Sebelum tahun 1999 saya memang belum tertarik menulis dalam bahasa Lampung. Sebuah puisi saya "Bagaimana Mungkin Aku Lupa" menjadi pemenang kedua Lomba Cipta Puisi Narasi Wisata-Budaya Lampung yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival Krakatau IX tahun 1999.

Benar puisi itu berisi pengalaman batin saya tentang apa yang -- mungkin -- disebut sebagai budaya Lampung. Tapi, saya lihat betapa banyak catatan kaki yang harus saya buat untuk puisi itu. Saya iseng mengalihkan puisi saya itu ke bahasa Lampung. Lumayan bagus saya baca dan terasa lebih tepat untuk mengembangkan imajinasi tentang kelampungan. Dan, satu hal lagi, ketika puisi itu berubah menjadi puisi berbahasa Lampung, saya tidak memerlukan catatan kaki lagi untuk kata atau idiom khas bahasa Lampung.

Sementara itu, saya mulai berkenalan dengan majalah berbahasa Jawa, Penjebar Semangat yang di dalamnya memuat artikel, geguritan, cerita cekak (cerkak), cerita humor, dan lain-lain.

Pada tahun 1999 itu diselenggarakan sebuah seminar bahasa Lampung. Meskipun saya tidak mengikuti seminar, tetapi saya membaca berita tentang bagaimana bahasa Lampung terancam punah. Pakar sosiolinguistik Asim Gunarwan waktu itu mengatakan, jika tidak diupayakan pelestariannya dalam tiga sampai generasi (75 tahun-100 tahun) lagi bahasa Lampung akan punah.

Saya tidak mau mengomentari apa yang dilakukan akademisi, pakar bahasa, dan pemerintah daerah terhadap bahasa dan sastra Lampung. Saya hanya ingin menuliskan puisi dalam bahasa Lampung. Tahun 2000 jadilah beberapa puisi berbahasa Lampung yang terkumpul dalam sebuah manuskrip. Semua berbahasa Lampung. Tapi, apa daya sebuah penerbit yang mengaku memiliki komitmen terhadap pengembangan seni dan budaya Lampung menolak menerbitkan buku puisi Lampung saya itu.

Alasannya, Lampung tidak kenal puisi seperti itu. Tapi, saya tidak habis pikir. Kalau bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Bali bisa, mengapa tidak dengan bahasa Lampung. Lalu, ada saran agar puisi-puisi itu dibuat dalam dua bahasa Lampung dan Indonesia . Akhirnya, buku kumpulan sajak dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum itu diterbitkan Dinas Pendidikan Lampung tahun 2002.

Saya sempat kapok menerbitkan buku berbahasa Lampung. Tapi, diam-diam saya siapkan sebuah manuskrip puisi Mak Dawah Mak Dibingi/Tak Siang Tak Malam. Masih dua bahasa Lampung-Indonesia. Saya masih ogah-ogahan menerbitkan buku itu, meski katanya judulnya cukup 'menjual'. "Ah, nanti-nanti sajalah," kata saya.

Sampai kemudian saya ditugaskan ke Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, September 2006. Melalui dunia maya, saya berkenalan dengan Bang Irfan Anshory (di Bandung, Jawa Barat). Melalui e-mail kami mendiskusikan tentang sastra Lampung. Kebetulan, dia sudah mendengar saya pernah menerbitkan buku puisi Lampung.

Dari komunikasi yang intens, tercetuslah 'semangat' untuk memajukan sastra berbahasa Lampung. Kebetulan di Lampung ada Y Wibowo, Mustaan, dan Budi Hutasuhut yang bergerak di bidang penerbitan perbukuan, yang di dalamnya sebenarnya saya terlibat. Kemudian tercetuslah gagasan untuk segera menerbitkan buku puisi berbahasa Lampung. Kalau tadinya dua bahasa, disepakati untuk satu bahasa saja: bahasa Lampung.

Maka, terbitlah buku puisi saya itu, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, Bandar Lampung, Desember 2007).

Sejak awal -- katakanlah semenjak terbitnya Momentum (2002) sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, saya sadar betul betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.

Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-musyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.

Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.

Lampung banyak dengan sastrawan yang menulis dengan bahasa Indonesia . Beberapa puisi dan cerpen berbahasa Indonesia saya sesekali masuk koran dan tergabung dalam beberapa antologi bersama. Tapi, masalahnya, siapa yang mau memberdayakan bahasa Lampung. Kesadaran bahwa bahasa Lampung bisa lebih berdaya guna harus mulai dibangun.

Selama ini adakah kendala dalam menulis sastra Lampung? Apa saja kendala itu?

Sebenarnya tidak ada. Kendala itu hanya berkaitan dengan teknis belaka ketika hendak disosialisasikan atau dipublikasikan. Tidak seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali , Lampung tidak memiliki majalah berbahasa Lampung. Apalagi hendak diterbitkan menjadi buku. Lebih sulit lagi.

Namun sebenarnya masalah ini lebih terkait dengan masalah komitmen untuk -- sebenar-benarnya -- mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental 'saya harus mendapatkan sesuatu dari kerja ini'.

Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana .

Banyak orang mengatakan bahasa Lampung akan punah dalam beberapa puluh tahun lagi jika tidak ada langkah antisipasi yang konkret. Menurut Anda sebenarnya kondisi bahasa Lampung seperti apa sih?

Sebuah penelitian mengatakan, hanya Provinsi Lampung yang bahasa pendatang lebih dominan ketimbang bahasa setempat. Kondisi bahasa Lampung -- diakui atau tidak -- memang berada dalam kondisi yang mengenaskan. Sebagai salah satu penutur, saya seperti berada dalam kekhawatiran yang sangat akan nasib bahasa Lampung.

Anak saya, keponakan-keponakan saya adalah contoh konkrit betapa pemakaian bahasa Lampung semakin tidak populer. Suatu keadaan yang memang tidak mungkin ditolak memang. 'Serbuan' bahasa Indonesia dan bahasa lain ke Lampung tidak mampu ditahan bahasa Lampung.
Sementara pengajaran bahasa Lampung di sekolah masih jauh panggang dari api. Alih-alih membuat siswa bisa berbahasa Lampung, mereka malah dibuat bingung, bahkan ada yang sampai pobi dengan bahasa Lampung.

Menurut Anda, apa sebenarnya problem besar bahasa Lampung?

Masalah bahasa Lampung saya pikir sangat kompleks. Jumlah penutur yang hanya sekitar 15% dari penduduk Lampung menjadi masalah utama. Upaya memperluas pemakaian bahasa Lampung sering terbentur oleh heterogenitas bahasa yang dituturkan masyarakat Lampung. Perlu kerja keras untuk itu.

Di sisi lain, pemerintah daerah di Lampung relatif tidak memiliki kebijakan yang jelas dan strategis bagi pemertahanan bahasa Lampung. Ketimbang terus-terusan mengeluhkan betapa generasi muda tidak lagi akrab dengan bahasa Lampung, lebih baik para pemimpin daerah ini merumuskan langkah konkrit bagi pengembangan bahasa Lampung.

Peraturan Daerah (Perda) Bahasa Daerah Lampung kalaupun jadi dibuat dan disahkan bisa jadi hanya menjadi dokumen hiasan jika pemerintah daerah tidak memiliki arah kebijakan yang jelas tentang bahasa Lampung. Apalagi jika semua itu lebih berbau politis ketimbang memang didasari sebuah sikap budaya untuk benar-benar memberdayakan bahasa Lampung.

Menurut Anda apa problem besar pengembangan sastra Lampung?

Problemnya adalah ’kemalasan’ saja. Orang Lampung lebih suka ngomong ketimbang nulis. Kata pengamat/praktisi sastra Lampung, Lampung memiliki lebih dari 30 jenis sastra lisan.

Sastra lisan dan sastra tulisan harus mulai berjalan seiring agar sastra Lampung berkembang lebih dinamis.

Saya membaca blog Anda yang memakai bahasa Lampung itu. Anda tetap nekat memakai bahasa Lampung, meskipun banyak pembaca tidak tahu artinya. Apa sebenarnya maksud Anda dengan blog berbahasa Lampung itu?

Tentang blog berbahasa Lampung, saya dibilang ngeyel juga tak apa. Itu sebagai tempat menumpahkan uneg-uneg saja sekaligus menjadi media saya berlatih menulis dalam bahasa Lampung. Boleh juga dikatakan, untuk menunjukkan kepada pembaca: "Inilah bahasa Lampung itu." Secara guyon, saya katakan kepada teman yang bertanya untuk apa menulis blog berbahasa Lampung, "Ya, kalaupun bahasa Lampung benar-benar punah. Setidaknya, ini bisa menjadi semacam teks berbahasa Lampung yang tersisa di dunia maya."

Anda bisa dikatakan sebagai generasi terkini orang Lampung yang sangat peduli dan secara konkret membela bahasa Lampung. Apa sebenarnya harapan Anda terhadap bahasa Lampung?

Bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi.

Saya beranggapan bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.

Apa harapan Anda terhadap pemerintah, kalangan swasta (termasuk media massa dan penerbit buku), sastrawan lain, dan masyarakat luas di Lampung terhadap pengembangan bahasa dan sastra Lampung?

Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan terhadap sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastera Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, maka tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali , dan Lampung.

Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal satu buku satu tahun. Tidak boleh putus. Ini serius.

Ini kabar gembira untuk sastra dan sastrawan Lampung sekaligus tantangan yang tidak mudah. Soalnya menerbitkan buku sastra Lampung --- seperti saya katakan -- jelas tak untung.

Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!

Sebagai orang yang berangkat dari pers mahasiswa, saya berharap masih ada "orang gila" dalam arti yang mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala resikonya.

Anda sekarang tinggal di Kalimantan . Apakah jarak yang jauh dengan kampung halaman berpengaruh dalam proses kreatif? Atau justru menambah semangat untuk kreatif?

Saya harus akui dinamika sastra dan sastrawan Lampung itu luar biasa dinamisnya. Kondisi seperti itu tidak saya temui di tempat saya sekarang. Bahkan, sampai sekarang saya masih belum tahu ada sastrawan di Kabupaten Kotawaringin Barat atau bahkan Provinsi Kalimantan Tengah.

Kondisi ini jelas berpengaruh kepada saya. Lebih pada sulitnya berdiskusi atau berbagi pengalaman dalam soal tulis-menulis.

Ada untungnya juga sebenarnya. Sekarang saya menemukan jarak dengan Lampung. Jarak ini saya pikir perlu untuk menetapkan sudut pandang terhadap Lampung. Dari jauh saya menjadi 'pengamat' yang objektif terhadap Lampung. Paling tidak, ada pembanding.

Tapi, sekarang ini saya lebih banyak "berdiam diri" sebenarnya. Mungkin, ketika saya pulang kampung, pengalaman ini akan berguna.

Anda melakukan pembaruan terhadap tradisi perpuisian Lampung. Bagaimana reaksi seniman tradisi Lampung terhadap puisi-puisi Anda?

Saya sebenarnya telah "kena marah" oleh ulun tuha yang tentu lebih paham dengan apa yang mereka sebut sebagai sastra tradisi (dan karena itu biasanya dalam bentuk lisan) Lampung. Saya mungkin salah karena telah menulis kumpulan sajak dwibahasa Lampung-Indonesia Momentum (2002).

Sayangnya mereka yang memarahi saya tidak menuliskan kemarahan mereka dalam bentuk tulisan. Tapi, hanya lewat lisan yang langsung atau tidak langsung saya dengar, baik di situasi formal maupun informal.

Ada beberapa sebab mengapa mereka memarahi saya. Pertama, saya secara sadar memakai huruf "r" untuk huruf "gh" atau "kh" yang selama ini diributkan masing-masing penganutnya. Padahal, menurut mereka, dalam bahasa Lampung tidak dikenal huruf r, tetapi gh atau kh.

Kedua, para tuha-tuha adat adat juga menganggap saya telah semau-mau menulis sajak. "Kamu itu benar-benar ngawur!" kata mereka. Sebab, sastra Lampung itu tidak begitu. Ada sanjak abab atau aaaa atau ..., coba lihat contoh konkrit berbagai jenis puisi Lampung lainnya (dadi, pattun, wayak, sesikun, seganing, segata, dan lain-lain).

Ketiga, bahasa yang saya gunakan bukan bahasa Lampung "tinggi" yang biasa dituturkan jelma Lappung dalam acara ghasan buhimpun (musyawarah adat) atau upacara adat lain. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Lampung sehari-hari yang sering saya pakai di Liwa, Lampung Barat. Ini, bisa jadi, mereka anggap merusak bahasa Lampung.

Keempat, sajak-sajak Lampung yang saya tulis hampir sama sekali tidak memuat nilai-nilai tradisi Lampung seperti pi'il pesenggiri (pi'il pesenggiri, bejuluk beadok, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan). Saya malah menuliskan masalah-masalah kekinian (kontemporer) dalam bentuk puisi dengan bahasa sehari-hari dan seperti diucapkan sambil lalu saja. Bahkan, dalam beberapa sajak saya justru bersikap kritis terhadap apa yang "sudah dianggap tradisi" itu.

Saya memang sama sekali tak hendak mengindah-indahkan bahasa puisi saya, baik bahasa Lampung maupun bahasa Indonesia.Sayangnya, kritik atau "kemarahan" tuha-tuha adat ini tak pernah dituangkan dalam bentuk tulisan. Padahal, sekian bulan saya berharap buku kumpulan sajak saya itu mendapatkan apresiasi yang memadai dari mereka yang katanya ingin mengembangkan seni-budaya Lampung. Tapi, saya pun harus segera maklum. Sebab, budaya tulis masih belum melekat dalam diri kita. Kita masih lebih suka dengan segala bentuk kelisanan, termasuk dalam sastra (berbahasa) Lampung yang sering disimpelkan dengan menyebutkan sastra tradisi Lampung.

Sumber: Taman Sastra dan Jurnalisme, 8 Februari 2008

March 6, 2008

Bingkai: Peta Bahasa-Budaya Lampung

Oleh Udo Z. Karzi


SEBELUMNYA, saya ingin berterima kasih kepada Budi P. Hatees, Asarpin, dan Irfan Anshory yang melalui tulisan mereka telah merangsang saya untuk kembali berwisata bahasa-budaya Lampung.

Banyak hal yang ingin saya tanggapi sebenarnya. Tapi, dalam ruang yang terbatas ini, saya hanya ingin menuliskan sedikit pengetahuan yang sebisa mungkin mendasarkan pada referensi yang pernah ada.

Satu hal yang ingin saya katakan, saya cuma praktisi bahasa Lampung yang barangkali tidak terlalu hirau dengan tata bahasa Lampung. Beberapa akademisi toh sudah melahirkan beberapa penelitian bahasa dan budaya Lampung. Perpustakaan Universitas Lampung bisa menjadi saksi dari berapa banyak penelitian tentang bahasa-budaya Lampung ini.

Bahasa MDMD

Pilihan kata dalam Mak Dawah Mak Dibingi (MDMD), saya pungut dari bahasa keseharian di sebuah tempat bernama Liwa. Beberapa kata, ada juga yang disunting dan 'diperbaiki' Irfan Anshory (Talangpadang) dan karena itu beberapa kosa kata Lampung Talangpadang masuk ke situ. Kata-kata yang saya gunakan juga bukan kata yang – ada yang bilang – bahasa Lampung tinggi. Ah, sebenarnya bahasa Lampung cukup demokratis dengan tidak membeda-bedakan mana bahasa kasar dan mana bahasa halus.

Saya penutur asli bahasa Lampung di Liwa (nama marga/kecamatan) di Kabupaten Lampung Barat. Ada semacam konvensi yang menjadi ciri khas varian (sub dari sub dari subnya lagi) bahasa Lampung; yang membuat bahasa Lampung Liwa menjadi 'berbeda' dibanding dengan kecamatan tetangganya Kecamatan Batu Brak dan Belalau; Kecamatan Pesisir Tengah, Utara, dan Selatan; serta Kecamatan Sukau dan masuk ke wilayah Sumatera Selatan, bahasa Lampung Ranau. Belum lagi, kalau bahasa Lampung di luar Lampung Barat.

Kebiasaan ‘buruk’ orang Liwa adalah suka menyederhanakan kata bahasa Lampung dan membuatnya lebih gampang diucapkan. Misalnya, kata lawang (Pubian), luangan (Belalau) menjadi longan (gila); haku menjadi aku (kata saya); hamu menjadi amu (katamu); hani menjadi ani (katanya); haga menjadi aga (mau, ingin); kuwawa menjadi kawa (berani); radu menjadi adu (sudah); sinji menjadi inji (ini); dan sebagainya.

Saya ingat misalnya, pernah bersitegang soal kata 'sulan'. Bagi orang Krui (calon Kabupaten Pesisir Barat), 'sulan' berarti tikar, tempat duduk, ditiduri juga boleh. Tapi bagi orang Liwa sulan berarti tempat tidur atau kasur. Sedangkan tikar disebut orang Liwa dengan 'jengan'.

Ada lagi, 'culuk'. Di Liwa, 'culuk' dengan pengucapan yang berbeda bisa bermakna beda juga; bisa berarti tangan, bisa pula berarti korek api. Tapi di Sukau, korek api disebut 'kusut'. Sementara bahasa Pubian (Gedongtataan), 'culuk' malah berarti 'jari telunjuk'.

Wah, sesama orang Lampung bisa saling menyesatkan kalau berbicara. Hahahaa...

Bahasa Lampung

Bahasa Lampung yang dituturkan di Liwa, hanya salah satu varian saja dari bahasa Lampung. Meskipun banyak sekali dialek dan subdialek bahasa Lampung, tidak bisa dinafikan bahasa Lampung itu sama: bahasa Lampung. Karena itu bahasa Abung, Tulangbawang, Komering, Ranau, Kayu Agung, Way Kanan, Cikoneng, dan sebagainya tetap memiliki hak yang sama untuk disebut sebagai bahasa Lampung.

Dalam bahasa Sunda ada awi (bambu), dalam bahasa Sumbawa terdapat punti (pisang), dalam bahasa Batak ada bulung (daun). Jika dalam bahasa Lampung terdapat pula awi, punti, dan bulung bukan berarti bahasa Lampung bahasa hibrida (nyontek dari mana-mana), tetapi ini berarti membuktikan bahasa-bahasa Nusantara memang satu rumpun, yaitu rumpun Austronesia dari Madagaskar sampai pulau-pulau di Pasifik. Jadi, bukan Lampung nyontek Batak atau Batak nyontek Lampung, tetapi karena semuanya memang satu asal.

Kemudian, Asarpin menyebutkan kata 'babai' untuk menunjukkan perempuan. Dalam soal ini Asarpin bisa keliru. Sebab, "babai" sebenarnya berarti menggendong/memomong anak. Yang dimaksudkan mungkin "bebai". Dalam bahasa Tagalog bebai berarti perempuan agung, hanya dipakai untuk menyebutkan perempuan yang terhormat. Bisa jadi ini arti aslinya dalam bahasa Austronesia purba. Bahasa Lampung memanggil ibu dengan ‘ina’ yang dalam bahasa Austronesia berarti 'orang diagungkan'. Jadi, agak gegabah jika Asarpin mengatakan bebai (perempuan) sama dengan babui (babi).

Dalam buku Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara (Balai Pustaka, 1964), Prof. Dr. Slametmuljana tidak menyinggung-nyinggung bahasa Lampung. Mungkin dia tidak sempat meneliti bahasa Lampung. Dia membandingkan bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan beberapa bahasa lain sama dengan bahasa-bahasa di Indocina (Khmer, Palaung, Shan, dan lain-lain). Slametmuljana tidak mengatakan bahasa-bahasa Nusantara mengambil dari mereka, tetapi dia membuktikan suku-suku Nusantara berasal dari sana satu akar dengan mereka (bukan meniru mereka); sesama ahli waris Austronesia purba. Istilah bahasa hibrid untuk bahasa Lampung harus ditolak karena tidak memiliki dasar ilmiahnya.

Bahasa Lampung tergolong bahasa tua dalam rumpun Melayu karena masih banyak menyimpan kosakata Austronesia purba. Dalam Perbendaharaan Kata-kata dalam Berbagai Bahasa Polinesia, Pustaka Rakjat, Djakarta, 1956 hal 16-31), Prof. Dr. Otto Demwolff dari Jerman mendaftar kosakata yang dilestarikan bahasa Lampung: apui (api), bah (bawah), balak (besar), bingi (malam), buok (rambut), heni (pasir), hirung/irung (hidung), hulu/ulu (kepala), ina (ibu), ipon (gigi), iwa (ikan), luh (air mata), pedom (tidur), pira (berapa), pitu (tujuh), telu (tiga), walu (delapan), dan sebagainya.

Di atas semua itu sebenarnya saya hendak mengatakan bahasa Lampung bisa bisa modern, bergaya, dan berdaya. Tak hanya lisan, tetapi juga tulisan. Bagi saya keberagaman bahasa Lampung toh justru memperkaya khazanah budaya Lampung.

Kalaulah di Kota Bandar Lampung dan Metro kita sulit mendengar orang berbicara Lampung, maka satu-satunya jalan untuk mengenalkan orang (siswa) pada bahasa Lampung, ya harus dengan teks (tulisan). Lain soal kalau di kabupaten-kabupaten yang bahasa Lampungnya masih dituturkan sehari-hari.

Aksara Kaganga

Kalau Asarpin masih meragukan keaslian aksara Kaganga dan menduga sebagai asimilasi huruf Batak dan Bugis, saya justru mengatakan aksara Lampung, Batak dan Bugis memang bersaudara. Sebab, salah satu teori asal-usul suku Lampung menyebutkan suku Lampung memang mempunyai hubungan darah dengan Batak dan Bugis, di samping tentu saja Pagaruyung di Sumatera Barat.

Aksara Lampung sebagaimana dipelajari siswa di sekolah sekarang ini sesungguhnya sudah beberapa kali mengalami proses pembakuan oleh akademisi dan para tetua adat. Terdapat 20 huruf induk yang bisa dihapal (seperti huruf Arab): ka ga nga pa ba ma ta da na ca ja nya ya a la ra sa wa ha gra.

Kalau diperhatikan, Lampung juga mengenal huruf r (ra), meski hampir tidak ada kata Lampung yang menggunakan huruf r. Lalu, huruf terakhir, ketika saya browsing saya malah menemukan huruf gra bukan kh atau gh. Sehingga, saya katakanlah sebagai pengguna jadi huruf, cukup mengernyitkan kening juga. Kok gra bukan kha atau gha yang sering diributkan selama ini.

Soal huruf kh atau gh. Keputusan guru-guru bahasa Lampung sebenarnya membakukan dengan huruf gh bukan kh. Tapi, sampai sekarang tetap saja ada yang memakai kh. Ketika saya membaca buku Pelajaran Bahasa Lampung terbitan Gunung Pesagi, saya juga menemukan dualisme pemakaian huruf. Semua sebenarnya sudah diganti dengan gh, tetapi di beberapa tempat di buku-buku itu masih terselih huruf kh.

Dan, sampai sekarang, masih saja terjadi perdebatan yang tidak kunjung selesai.

Lalu, ketika saya pulang ke Liwa, saya kok tidak asing dengan orang Jawa yang pasih berbahasa Lampung. Ada yang berhasil bertutur hampir 100% dengan penutur asli bahasa Lampung, ada yang kedengaran tetap terasa dialek Jawanya, dan ada juga pasih berbahasa Lampung, tetapi tetap menggunakan huruf r dan tidak bisa mengucapkan huruf gh.

Dengan melihat itu, saya pun memutuskan menuliskan huruf r menggantikan huruf gh itu. Tentu saja, dalam pelisanan perlu dijelaskan, bahwa r dibaca gh. Entah mengapa, pemakaian huruf r ini seperti mendapat pembenaran ketika Lampung Post yang bekerja sama dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Lampung FKIP Unila menyelenggarakan rubrik Pah Bubahasa Lampung (Ayo Berbahasa Lampung); secara konsisten memakai huruf r. Dengan argumen, satu huruf satu bunyi.

Menyebut beberapa literatur seperti H. N. van der Tuuk, “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), deel 18, 1872, pp. 118-156; C. A. van Ophuijsen, “Lampongsche Dwerghert-Verhalen”, BKI (Bijdragen Koninklijk Instituut), deel 46, 1896, pp. 109-142; dan Dale Franklin Walker, “A Grammar of the Lampung Language”, Ph.D. Thesis, Cornell University, 1973; semua ilmuwan itu memakai r, bukan ch, kh atau gh.

Dan, semuanya menyatakan kekagumannya terhadap bahasa Lampung yang memiliki aksara sendiri. Kata mereka, cuma sedikit suku-suku Nusantara yang memiliki aksara. Salah satunya yang memiliki aksara sendiri, yaitu bahasa Lampung.

Menurut Irfan Anshory, penggunaan huruf r pada bahasa Lampung hanya masalah ejaan. Bukan mengubah fonem. Kalimat "radu ruwa rani mak ratong" tetap diucapkan seperti biasanya orang Lampung berbicara. Di Talangpadang dan beberapa tempat lain ejaan r sudah lama dipakai dalam penulisan adok (gelar), misalnya Radin Surya Marga, Minak Perbasa, Kimas Putera, dan lain-lain.

Pemakaian huruf ejaan r justru mengembalikan ke bahasa Arab asli: riwayat, kabar, kursi, laher, sabar, water, bulan muharam, rejob, dan sebagainya. Ejaan kh dipakai dalam dalam menuliskan yang memang memakai ‘kha’ dalam bahasa Arab: akhir, khusus, khas, dan sebagainya.

Budaya Lampung

Lampung sebagai sebuah nama sesungguhnya bermakna ambigu. Namun setidaknya, ada empat nama yang bisa dilekatkan pada Lampung itu: suku, bahasa, budaya, dan provinsi (lihat: http://id.wikipedia.org).

Kalau kita bicara Provinsi Lampung, akan lebih mudah merumuskannya. Namun, kalau hendak membahas suku, bahasa, dan budaya Lampung, maka sungguh sulit. Buku Adat Istiadat Lampung yang disusun Prof Hilman Hadikusuma dkk (1983), akan terasa sangat minim untuk memahami Lampung secara kultural.

Sampai saat ini, relatif belum ada yang berhasil memberikan gambaran yang menyeluruh, sistematis, dan meyakinkan tentang kebudayaan Lampung. Kebudayaan Lampung miskin telaah, riset, dan studi. Yang paling banyak lebih berupa klaim atau sebaliknya, malah upaya untuk meniadakan atau setidaknya mengerdilkan kebudayaan Lampung.

Bahasa-budaya Lampung sesungguhnya tidak sama dan sebangun dengan Provinsi Lampung. Secara geografis, yang disebutkan sebagai wilayah penutur bahasa Lampung dan pendukung kebudayaan Lampung itu ada di empat provinsi, yaitu Lampung sendiri, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Banten.

Ini bisa dilihat dari beberapa pendapat yang membuat kategorisasi masyarakat adat Lampung. Kategorisasi atau pembagian sebenarnya penting untuk studi (ilmiah) dan bukannya malah membuat orang Lampung terpecah-pecah.

Secara garis besar masyarakat adat Lampung terbagi dua, yaitu masyarakat adat Lampung Pepadun dan masyarakat adat Lampung Sebatin.

Masyarakat beradat Pepadun terdiri dari: Pertama, Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.

Kedua, Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.

Ketiga, Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

Keempat, Sungkay-Way Kanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Sedangkan masyarakat beradat Sebatin terdiri dari: Pertama, Peminggir Paksi Pak (Ratu Tundunan, Ratu Belunguh, Ratu Nyerupa, Ratu Bejalan di Way). Kedua, Komering-Kayuagung, yang sekarang termasuk Propinsi Sumatera Selatan. Masyarakat Peminggir mendiami sebelas wilayah adat: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semangka, Belalau, Liwa, dan Ranau. Lampung Sebatin juga dinamai Peminggir karena mereka berada di pinggir pantai barat dan selatan.

Peta Bahasa-Budaya


Dari kategorisasi itu, terlihat ada Ranau, Komering, dan Kayu Agung di wilayah Provinsi Sumatera Selatan yang sejatinya orang Lampung (beretnis Lampung). Di Provinsi Banten ada wilayah Cikoneng yang beretnis Lampung dan bertutur dengan bahasa Lampung. Satu lagi, yang agaknya perlu penelitian, di Bengkulu ada wilayah yang bertutur dengan bahasa Lampung. Mereka menyebut diri Lampung Bengkulu.

Dengan demikian, peta Provinsi Lampung tidak akan memadai untuk membicarakan, termasuk memberdayakan dan mengembangkan, bahasa-budaya Lampung. Untuk bisa melihat Lampung secara utuh dalam pengertian suku, bahasa, dan budaya yang dibutuhkan adalah peta bahasa-budaya Lampung. Sebenarnya, tidak perlu membuat yang baru karena sebenarnya peta dimaksud sudah ada.

Kebudayaan Lampung itu riil, misalnya mewujud dalam tubuh suku Lampung, sistem kebahasaan, keberaksaraan, adat-istiadat, kebiasaan, dan sebagainya. Jadi, tidak perlu merasa rendah diri mengatakan tidak ada kebudayaan Lampung atau kebudayaan Lampung itu terlalu banyak dipengaruhi oleh kebudayaan lain, sehingga tidak tampak lagi kebudayaan Lampung itu yang mana.

Yang terjadi adalah selalu ada tendensi untuk meniadakan atau setidaknya membonsai bahasa-budaya Lampung. Kalaulah bahasa-budaya Lampung itu relatif tidak dikenal dan sering luput dari perbincangan di tingkat nasional; katakanlah di banding dengan budaya Jawa, Sunda, Minang, Batak, Bugis, Bali, Dayak, dan lain-lain -- tidak lain tidak bukan karena relatif belum ada kajian dan ilmuwan yang mampu membedah kebudayaan Lampung secara lebih komprehensif, sistematis, dan tentu saja ilmiah.

Pertanyaannya, siapakah yang akan menjalankan peran ini jika Unila saja menghapus Program Studi Bahasa dan Sastra Lampung?

* Udo Z. Karzi, menulis buku puisi Lampung: Mak Dawah Mak Dibingi (2007)

Dimuat dalam dua bagian di Lampung Post, Minggu, 16 & 23 Maret 2008

March 5, 2008

Budaya: Festival Megou Pak Tulangbawang Dibuka

MENGGALA (Lampost): Festival Megou Pak Tulangbawang III tahun 2008 dibuka Asisten II Bidang Ekubang Sekprov Djunaidi Djaya di halaman Masjid Agung Baiturrachman, Kompleks Islamic Centre, Menggala, Selasa (4-3).

Pembukaan ditandai dengan penglepasan puluhan balon udara dan belasan burung dara ke angkasa oleh Djunaidi Djaya didampingi Bupati Tulangbawang Abdurrachman Sarbini dan Sekkab Fakhrudin, serta unsur Muspida. Acara itu dihadiri ribuan warga.

Dalam sambutannya yang disampaikan Djunaidi Djaya, Gubernur Lampung Sjachroedin mengatakan festival ini merupakan perwujudan kepedulian dan kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya daerah Lampung sebagai bagian dari budaya nasional.

Menurut dia, dari sisi nilai budaya, daerah Lampung menyimpan potensi budaya yang sangat besar untuk dikembangkan dan menjadi aset wisata.

Sementara itu, Bupati Tulangbawang Abdurrachman Sarbini dalam arahannya menyatakan akan terus meningkatkan pembangunan di bidang kebudayaan. Festival Megou Pak, ujar Bupati, merupakan upaya pemerintah untuk kembali mengangkat harkat dan martabat masyarakat adat Tulangbawang melalui pentas budaya.

Pembukaan diakhiri dengan menampilkan pawai budaya dari 28 kecamatan se-Kabupaten Tulangbawang. Setiap kecamatan menampilkan ciri khas masing-masing, yang semuanya merujuk kepada budaya Lampung.

Festival akan dimulai dengan perlombaan sejak 5 Maret 2008 hingga 14 Maret 2008 itu akan menampilkan 10 cabang perlombaan: Lomba pawai budaya/atraksi budaya, pemilihan muli mekhanai, lomba lagu pop Lampung, lomba musik dan lagu klasik Lampung, lomba tari kreasi nusantara, lomba perahu hias. Kemudian lomba perahu naga/dayung, lomba layang-layang, lomba foto objek wisata Tulangbawang dan lomba lukis objek wisata Tulangbawang. n WID/R-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 5 Maret 2008

Musikalisasi Puisi: Lampung Kirim Tiga Wakil

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tiga SMA, yakni SMAN 1 Natar, Lampung Selatan, SMAN 11 Bandar Lampung, dan SMAN 14 Bandar Lampung akan mewakili Lampung dalam Festival Musikalisasi Puisi Se-Sumatera yang rencananya akan digelar di Lampung, 17--19 Mei mendatang.

Menurut Ramlan Andi, staf Kantor Bahasa Lampung, terpilihnya tiga sekolah tersebut setelah dilakukan penilaian terhadap lima sekolah dalam lomba yang digelar Kantor Bahasa, pada Sabtu (1-3). "Awalnya terdapat enam peserta, tetapi satu grup batal mengikuti perlombaan. Sedangkan dua sekolah lainnya yang tidak terpilih mewakili Lampung adalah SMAN 2 Bandar Lampung dan SMAN 1 Seputih Agung Mataram, Lampung Tengah," kata Ramlan, Senin (3-3).

Ia menjelaskan kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Kantor Bahasa seluruh Indonesia. Tahun ini Lampung menjadi tuan rumah ajang tersebut. "Sampai saat ini daerah yang sudah memastikan untuk mendaftarkan diri adalah Aceh, Palembang, Jambi, Medan, dan Bengkulu. Sedangkan daerah lainnya belum melakukan konfirmasi," ujarnya.

Adapun peserta dalam kompetisi ini para pelajar yang sebelumnya mengikuti kegiatan bengkel sastra untuk materi musikalisasi puisi. "Jadi memang ini merupakan siswa-siswa yang direkrut Kantor Bahasa untuk mengikuti bengkel sastra," ujarnya.

Penilaian berdasarkan kriteria penafsiran puisi, komposisi musikalisasi, vokal, penampilan, serta keselarasan karya yang dihasilkan. Sedangkan puisi yang dibawakan Ia akan Mengecup karya Isbedy Stiawan Z.S. sebagai puisi wajib. Sedangkan puisi pilihan yakni Pesan Bumi (Munawar Syamsudin), Ke Mana Ombak akan Menepi (M. Udaya Syamsudin), Kepada Persada Cinta (Widyartha Hastjarja), dan Nyanyian Seekor Burung (Pepi Pepiyana). n TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 5 Maret 2008

HUT Lampung: DKL Bagikan CD Lagu Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menyambut HUT Provinsi Lampung tanggal 18 Maret, Komite Musik Dewan Kesenian Lampung (DKL) membagikan CD Keroncong Lampung ke berbagai pusat perbelanjaan, rumah makan, tempat publik, serta beberapa angkutan umum di Kota Bandar Lampung.

Ketua Komite Musik DKL Entus Al Rafi mengemukakan hal tersebut, Selasa (4-3). Dia mengatakan bahwa pemberian CD secara cuma-cuma tersebut dilakukan guna menyemarakan HUT Provinsi Lampung serta melakukan sosialisasi tembang-tembang Lampung kepada masyarakat.

"Kami akan membagikan CD ini ke berbagai pusat perbelanjaan, rumah makan, serta tempat pelayanan publik seperti terminal, bandara, stasiun, dan pelabuhan. Selain itu juga, kami akan juga membagikannya ke beberapa angkutan kota yang ada," kata Entus.

Hal ini, menurut dia, dikarenakan lagu-lagu daerah Lampung belum dikenal sebagian besar masyarakat. "Padahal lagu daerah Lampung memiliki kekhasan dan karakteristik tersendiri. Sehingga dibutuhkan satu tindakan untuk pengenalan kepada masyarakat tentang musik Lampung ini."

Meskipun demikian, Entus mengatakan pembagian CD ini masih sangat terbatas. "Karena CD ini memang dibuat dengan terengah-engah dan terbatas kopiannya. Kami hanya memiliki 100 CD yang nantinya akan dibagikan secara gratis. Mudah-mudahan ini bisa menyosialisasikan lagu Lampung kepada masyarakat luas terutama wisatawan. Apalagi menjelang ulang tahun Provinsi Lampung," ujarnya.

Apalagi, menurut dia, CD ini menawarkan satu warna yang berbeda dari album lagu Lampung yang sudah ada di pasaran. "Sebab di sini kami menawarkan musik keroncong yang dibawakan Keroncong 56 yang kesemuanya terdiri dari anak muda. Begitu juga dengan penyanyinya yang semuanya anak muda yakni Fika 'AFI', Sanda, Semar Jaya, Samsuri, Iin, dan Dodi Kurniawan."

Namun memang, Keroncong Lampung yang ditawarkan berbeda dengan keroncong yang telah ada. "Meski ada langgamnya, di sini dibuat berbeda. Flute yang menjadi ciri khas lagu keroncong digantikan saxophone. Selain itu juga, kami menambahkan musik tradisi lainnya yang digabungkan dengan irama cha-cha, jazzy, balada, serta beberapa musik lainnya yang dipadukan menjadi irama keroncong yang sangat enak didengar," tambah Entus lagi. n TYO/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 5 Maret 2008

March 4, 2008

Kebijakan Keliru akan Musnahkan Bahasa Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bahasa dan sastra Lampung tidak berkembang. Bahkan, akan punah akibat kebijakan yang keliru pemerintah daerah dan ketidakpedulian para stakeholder, khususnya mereka yang terlibat langsung dengan keberadaan bahasa Lampung.

Demikian terungkap dalam diskusi bertajuk Melestarikan bahasa Lampung, menguatkan posisi sosial masyarakat di Kantor Bahasa Lampung, Senin (3-3).

Diskusi yang digagas Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) itu sekaligus peluncuran dan pembacaan puisi dalam buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang memenangkan Hadiah Sastera Rancage tahun 2008.

Pembicara dalam diskusi Syaiful Irba Tanpaka (ketua Dewan Kesenian Lampung/DKL), Sutan Purnama (seniman), Agus Sri Danardana (kepala Kantor Bahasa Lampung), Iqbal Hilal (dosen FKIP Unila), dan M. Yaman (Dinas Pariwisata) dengan moderator Y. Wibowo (Direktur SKL).

Forum diskusi menyatakan ketidakhadiran pihak terkait seperti para penyimbang adat, Dinas Kebudayaan, dan lembaga-lembaga adat mengindikasikan ketidakpedulian mereka pada bahasa Lampung.

Demikian pula dengan kebijakan pemerintah antara lain dengan tidak menampung para lulusan sarjana bahasa Lampung untuk berkarya, dan dukungan kebiajakan lainnya. "Alumni kita belum diberdayagunakan oleh Pemda," ujar Iqbal.

Karena para alumni tak mendapat ruang untuk bekerja, akhirnya FKIP Unila menutup jurusan bahasa Lampung, dan akan membukanya jika ada komitmen jelas pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota.

Pengajaran bahasa Lampung di sekolah, katanya, juga tidak mendukung karena hanya mengajarkan aksara, bukan berbasis budaya.

Kondisi ini diperparah dengan keengganan masyarakat Lampung menggunakan bahasa Lampung dalam keseharian.

Menurut Sri Agus, bahasa tak terlepas dari kehidupan. Sebab itu, harus ada rekayasa agar orang lain mau berbahasa Lampung. Selain itu harus ada kebijakan yang mengharuskan orang berbahasa Lampung dan memopulerkan wisata Lampung dengan simbol-simbol daerah. "Kapan kita menggunakan bahasa daerah, kapan bahasa Inggris, dan kapan bahasa Indonesia harus jelas," tandas Agus.

Menurut Yaman Aziz, berbagai program daerah digelar untuk mengimplementasikan budaya Lampung. Visit Lampung Year 2008 dapat dijadikan untuk melaksanakan hal tersebut.

Menurut Syaiful, tanggung jawab budaya orang Lampung lemah, sehingga manajemen budaya tidak baik. Dia mengusulkan dilakukan kolaborasi untuk membuat kongres bahasa Lampung sehingga ada rekomendasi yang dikeluarkan dalam bentuk pelestarian bahasa daerah. "Agar bahasa Lampung menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kita harus lakukan manajemen," kata dia.

Menurut Direktur Riset Yayasan SKL Budi Hutasuhut, pihaknya akan terus menggulirkan berbagai kegiatan menyangkut keberadaan budaya, bahasa, dan sastra Lampung karena mereka sangat peduli dengan hal tersebut.

"Kami juga mendukung berbagai upaya, termasuk pelatihan bagi para guru-guru dan masyarakat agar punya rasa memiliki kuat terhadap daerah ini," kata Budi. n HES/S-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 4 Maret 2008

March 3, 2008

VLY 2009: Polda Kerahkan Polisi Pariwisata

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menyambut Visit Lampung Year (VLY) 2009, Polda mengerahkan polisi pariwisata di berbagai objek wisata di seluruh Lampung.

"Dari 11 kabupaten dan kota di Lampung, sepertinya Lampung Timur, Bandar Lampung, dan Lampung Selatan merupakan kabupaten dan kota yang siap dengan infrastruktur pariwisata. Menyusul kemudian Lampung Barat," kata Kapolda Lampung Brigjen Polisi, Suharijono Kamino, saat coffee morning, pekan lalu.

Menurut dia, di tiga wilayah tersebut Polda menempatkan polisi pariwisata. Mekanismenya, di setiap Polres yang memiliki obyek pariwisata, ditempatkan sejumlah personel yang bertugas sebagai polisi pariwisata.

Pendataan sementara, kata Kapolda, sekitar 30 polisi pariwisata yang diterjunkan di tiga wilayah itu untuk mengamankan dan menjaga ketertiban. "Kami akan mendukung suksesnya Visit Lampung Year 2009," ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Tibridzi Asmarantaka, memprediksi terjadi peningkatan jumlah wisatawan berkunjung ke Lampung secara signifikan saat Visit Lampung Year 2009. Peningkatan tidak hanya pada wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara.

Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan 10 event kabupaten dan kota serta perbaikan infrastruktur dan sarana prasarana wisata guna mewujudkan tahun kunjungan wisata tersebut.

Kasubdin Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Reni Utari Rusdi, mengemukakan kini pihaknya sudah berkoordinasi dan bekerja sama stake holder terutama pemda kabupaten dan kota guna mempersiapkan segala sesuatunya.

"Secara umum, kesiapan infrastuktur terutama yang mengarah ke daerah wisata unggulan di Provinsi Lampung dalam kondisi baik. Tinggal perbaikan sarana prasana serta fasilitas yang ada di sana saja yang perlu diperbaiki."

Yang masih dirasa sangat kurang, menurut Reni, adalah persoalan moda transportasi penunjang ke tempat wisata unggulan. Selain itu, belum ada shelter memadai dan menunjang yang bisa dikunjungi saat wisatawan menuju ke tempat wisata unggulan tersebut.

Contohnya, saat wisatawan menuju ke Taman Nasional Way Kambas belum ada shelter tujuan wisata alternatif yang bisa dijadikan pilihan sebelum memasuki Way Kambas. Pusat jajanan masyarakat yang biasa digelar pun hanya buka saat Sabtu dan Minggu.

Persoalan moda transportasi yang belum memadai sangat terasa di tempat wisata unggulan Lampung, yakni Anak Gunung Krakatau. "Sampai kini belum adanya dermaga yang memadai di sana, juga dermaga di Canti yang menyebabkan masih sangat sulit wisatawan menuju ke sana dari Lampung. Padahal, Gubernur sudah mengupayakan sejak tahun 2000. Tetapi, ini persoalan tingkat tinggi antardepartemen yang mesti mendapatkan izin Menteri Perhubungan," kata Reni. n TYO/K-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 3 Maret 2008

Sanggar Seni Minim Pengetahuan Manajemen

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pengetahuan akan manajemen pertunjukan para penggelola sanggar-sangar seni baik di sekolah, kampus, maupun umum di Lampung masih minim.

Selain minimnya sosialisasi, bahkan dinas terkait yang notabenenya mengurusi hal tersebut juga belum begitu memahami manajemen pertunjukan yang baik, khususnya penyelenggaraan festival.

Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan Manajemen Organisasi dan Manajemen Pertunjukan yang digelar Putra Lampung Mandiri (PLM) di Taman Budaya Lampung, Minggu (2-3). Kegiatan yang diikuti 50 orang perwakilan dari 8 sanggar; Lampung Barat, Lampung Selatan, dan Tulangbawang tersebut juga menyoroti persoalan manajerial pertunjukan pada Festival Krakatau 2008.

Para peserta mengaku sangat kecewa dengan kurang profesionalnya pihak penyelenggara Festival Krakatau. Menurut mereka, persiapan yang selama ini dilakukan peserta jauh lebih matang dan profesional dibanding dengan yang diberikan panitia sehingga hasil yang diharapkan pada sebuah penampilan pergelaran seni budaya menjadi tidak maksimal.

Mereka mengharapkan pelatihan manajerial pertunjukan tidak hanya diberikan kepada sanggar-sanggar, tapi juga dinas dan instansi terkait.

Menanggapi keluhan tersebut, Sekretrais Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL) Harry Djayaningrat mencoba turun langsung menyelenggarakan FK tahun ini. "Mudah-mudahan penyelenggaraan FK tahun ini jauh lebih baik terutama berkaitan dengan manajerial pertunjukannya."

Sementara itu, Andi Rahman dari Putra Lampung Mandiri (PLM) mengemukakan persoalan paling menonjol selama ini dialami penggelola sanggar-sanggar seni baik di tingkat sekolah, kampus ataupun umum adalah minimnya pengetahuan manajerial sehingga banyak sanggar seni yang tidak bisa bertahan lama.

Ia mengemukakan banyak sanggar-sanggar kebingungan untuk mencari link-link jaringan untuk mementaskan sebuah acara. "Sebab itu, melalui pelatihan ini, mudah-mudahan para pekerja seni akan mendapat wawasan baru bagaimana teknik mengelola atau manajerial yang baik tersebut sehingga mereka dapat menggelola profesional sanggar seni milikinya," ujar dia.

Tidak hanya itu telah pertemaun ini juga diharapkan akan melahirkan forum komunikasi dan silaturahmi antarsanggar. "Meskipun sebenarnya fungsi tersebut seharusnya dijalankan DKL, paling tidak, kami membantu DKL dalam mewujudkannya," ujar dia.

Untuk pembicara dalam kegiatan ini adalah Harry Djayaningrat, Muhammad Yunus dari Komunitas Berkat Yakin, serta Supriyanti. n TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 3 Maret 2008

March 2, 2008

Apresiasi: Bahasa dan Puisi Lampung (Untuk Buku 'Mak Dawah Mak Dibingi')

Oleh Asarpin*

AKHIRNYA setelah cukup lama ditunggu, terbit juga buku puisi Lampung. Pengarangnya, siapa lagi kalau bukan yang selama satu dekade terakhir ini kita kenal banyak menulis dengan bahasa dan idiom-idiom Lampung: Zulkarnain Zubairi atau Zul atau Udo Karzi. Saya lebih suka memanggilnya Karzi tanpa Udo karena agak bebas dari hierarki, lebih sugestif dan lebih terasa gestikulasi diksinya.

Buku analekta puisi Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam) memuat lima puluhan puisi yang ditulis dalam rentang waktu berbeda dan menampilkan tematik yang beragam. Pilihan judul kumpulan ini mirip salah satu lirik lagu Hiwang (lagu berlinang air mata) yang diiringi dengan gitar tunggal yang ditembangkan oleh Iwan Sagita. Dari segi tema dan gaya, tidak ada yang baru dari buku ini, kecuali bahasanya. Bahasa Lampung yang digunakan banyak ditakik dari bahasa lisan masyarakat Lampung pesisir dengan upaya untuk menjadikan keberaksaraan sebagai tujuan.

Karzi memang kerap kali bersemboyan seperti judul buku A. Teeuw: Kelisanan dan Keberaksaraan. Karzi belum merasa jadi sastrawan Lampung kalau berhenti hanya pada kelisanan tanpa melanjutkan dengan pengembaraan lewat keberaksaraan. Bukankah karya tulis tidak lain adalah memindahkan wadak kelisanan dalam bentuk tulisan? Semua bahasa tulis yang ada di dunia ini bermula dari bahasa lisan dan ribuan bahasa tulis kini masih dalam bentuk kelisanan. Terlampau menghamba pada tesis keberaksaraan akan menggiring kita justru menafikan kekayaan khazanah lisan nenek moyang kita dan menganggapnya seolah-olah karya kelas dua, padahal sastra lisan justru dikenal paling liar untuk bisa dijinakkan. Kalau sastra lisan sudah dituliskan, memang tak jarang akan terjinakkan, beku, mati. Namun, ya tulisan saja tidak usah mengklaim kita telah menjalankan titah keberaksaraan. Bukankah begitu?

Perubahan Bunyi

Menulis puisi dengan menggunakan bahasa Lampung ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Setidaknya, begitulah kesan saya sehabis membaca analekta puisi Karzi ini. Sekalipun kita tahu bahwa Karzi lahir sebagai orang Lampung dan sangat fasih berbahasa Lampung secara lisan, tapi bahasa tulisnya terasa masih mencari bentuk. Kalau Karzi sendiri yang sudah pengalaman menulis bahasa Lampung masih terasa kaku, apalagi yang tidak berpengalaman seperti saya dan kebanyakan orang Lampung.

Karzi bisa saja mendongeng secara lisan selama dua jam, tetapi ketika dituliskan, terasa mengalami banyak hambatan. Memang belum ada aturan baku tentang penulisan bahasa Lampung, apalagi untuk jenis puisi atau cerpen. Setiap orang yang ingin menulis harus meraba-raba sendiri dan mencari logat dan diksi yang menurut kita sesuai. Kelebihan Karzi, justru ia berani menerobos kebuntuan dan keragu-raguan dengan caranya sendiri. Salah satunya adalah mengubah secara total kh menjadi r, dalam arti mengubah bunyi. Bukankah puisi justru yang paling berhubungan dengan bunyi dan mengapa harus diubah?

Dalam buku puisi Lampung modern ini, Karzi tampaknya ingin menyuguhkan tata bahasa berikut niat melakukan "pembakuan" kosakata Lampung. Secara konsisten ia telah mengubah kata kh yang banyak dipungut orang Lampung dari Arab dan Persia itu menjadi huruf r yang sejak tahun 1980-an sering menjadi polemik di kalangan dosen Unila dan pemerhati sastra-budaya di Lampung. Tidak semua orang sepakat dengan perubahan yang dilakukan Karzi, lebih lagi jika teori semantik dan strukturalisme yang mengharamkan perubahan bunyi sekecil apa pun kita gunakan sebagai basis penilaian.

Ada segurat tanya yang terus muncul ketika saya membaca buku puisi ini: Siapakah sasaran pembaca yang dituju Karzi dalam buku puisi ini? Jika pembacanya adalah orang Lampung sendiri, dalam arti yang bisa bahasa Lampung, saya adalah orang Lampung pertama yang mengernyitkan kening saat membaca kumpulan puisi dengan kosakata Lampung yang seenaknya mengubah bunyi ini. Jika pembaca yang dituju tidak hanya orang Lampung, maka wajarlah jika perubahan kh menjadi r mesti dilakukan. Namun, apakah ada jaminan bahwa Susi, Damanhuri, Isbedy, Iswadi, Oyos Saroso HN, dan lain-lain., bisa menangkap artinya? Kalau juga tidak, untuk apa perubahan dilakukan?

Mempertahankan kata generik adalah penting, untuk menyusuri dari mana sumber kata itu berasal. Nenek moyang orang Lampung harus diakui banyak menyerap dari Arab dan Persia, dan wajar jika banyak kata kh sering kita dengar dalam penuturan dan penulisan. Ada banyak kosakata yang digunakan masyarakat Lampung yang diserap secara langsung dari Arab dan Persia nyaris tanpa perubahan sedikit pun. Dengan menampilkan apa adanya, para peneliti di kemudian hari tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk melakukan penelitian mengenai persinggungan kosakata Lampung dengan bahasa Arab dan Persia.

Bahasa Hibrid

Kita harus akui bahwa Karzi memang punya nyali yang tidak banyak dimiliki oleh penulis yang ingin menulis dengan bahasa ibunya. Dengan melakukan perubahan bunyi, Karzi terus menerabas kebuntuan. Dari segi bahasa, kosa kata yang digunakan kebanyakan berasal dari Lampung pesisir yang telah mengalami persentuhan dan asimilasi dengan bahasa lain. Nuansa bahasa Lampungnya mengajak kita untuk membuka diri dan menyesuaikan diri dengan cara bertanya. Kosakatanya tidak berambisi gagah-gagahan dan cukup kaya menghadirkan beberapa istilah antik dengan sentuhan kekinian. Hanya saja, sebagai genre puisi, beberapa kalimat masih belum bebas menari-nari dan belum terasa mengalir sebagaimana cerita lisan. Padanan kata atau logat yang digunakan pun belum begitu kaya.

Kosakata Lampung banyak berasal dari luar (terutama dari Campa, Khasi, Paluang). Beberapa kata berasal dari Campa misalnya: kata awi (bambu), jelatong (jelatang), punti/puti (pisang), langau (lalat besar), tabuan (tawon besar), dll. Kata bilangan (angka) yang digunakan orang Lampung merupakan campuran dari Melayu Sumatera dengan bahasa Campa, seperti bilangan telu (3), pitu (7), walu (8), siwa (9).

Lampung tidak mengenal kata tanya apa atau mana yang merupakan kata tanya dasar dalam bahasa Indonesia. Kata tanya yang digunakan orang Lampung Pesisir (atau dialek Api) berasal dari bahasa Khmer; avei, yang di Krui logatnya diambil penuh dari bahasa Khmer, yakni dipanjangkan dan tampak sangat medok: apei. Dalam bahasa Melawai dan bahasa Batak Karo kata ini berubah jadi apai (yang di Lampung artinya tikar). Bahasa Loda; ahai, dan Halmahera; pui. Sedangkan orang Lampung dialek Nyou atau o, banyak menyerap dari bahasa Palaung; mo, po. Bahasa Indonesia untuk kata tanya apa dan berapa, juga dipungut secara hibrid, yakni dari bahasa Khmer dan Palaung.

Sementara itu, kata kerja (tense) dalam bahasa Lampung lebih banyak menyerap dari Campa untuk kata payu (oke) yang dalam Campa ditulis padjau atau payuu. Kata mati dalam bahasa Melayu/Indonesia berasal dari bahasa Campa; matai, yang logatnya sama dengan yang digunakan masyarakat di Lampung Barat dan Lampung Timur. Kata penunjuk di sana dalam bahasa Lampung menjadi disan sama dengan yang digunakan masyarakat Batak Toba.

Demikian juga soal bunyi untuk menunjuk jarak dekat dan jarak jauh. Lampung tidak menyerap dari bahasa Melayu/Indonesia. Contoh: untuk penunjuk yang menggunakan i dan a di ujung untuk kata di sini (dekat) dan di sana (jauh), masyarakat Lampung menggunakan bunyi berbalik: dija (dekat), dudi (jauh) yang diambil dari bahasa Khasi yang keras. Untuk kata yang artinya tempat, orang Lampung menggunakan kata khang oleh Karzi diubah menjadi rang--yang diambil dari bahasa Palaung yang dilisankan dan ditulis oleh masyarakatnya sama dengan masyarakat Lampung, khang. Kalau diganti rang, maknanya sudah jauh berubah dan kesannya sangat taat asas pada perubahan bahasa Indonesia.

Pelacakan sumber semacam ini saya rujuk dari buku karya Slamet Muljana, Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara (Balai Pustaka, 1964), yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kebudayaan di muka bumi ini yang bisa mengklaim bahasanya paling asli, paling murni, tanpa sentuhan dari unsur lain.

Begitu juga bahasa Lampung yang bagaimana pun berasal dari banyak sumber. Ini tidak masalah, dan tidak harus membuat orang Lampung menganggap tidak punya kebudayaan asli dan merasa rendah diri.

Apa yang agaknya menjadi masalah adalah dari mana masyarakat Lampung menyerap kata babai untuk jenis kelamin perempuan. Slamet Muljana tidak menyebutkan. Hanya mengatakan bahwa bahasa Campa menggunakan kata bibai dan binai yang berhubungan erat dengan nama binatang, tapi tidak menyebutkan binatang apa gerangan. Saya curiga binatang yang dimaksud adalah babi karena logat dan diksinya berdekatan. Jadi, babai di Lampung memang sering dicitrakan seperti babi, tidak layak dihargai, dianaktirikan, dinomorsepuluhkan, diperlakukan apa mau lelaki. Kalau ini benar, masyarakat Lampung jauh lebih diskriminatif dari masyarakat manapun juga dalam memandang perempuan.

Untuk kata bentuk ulangan, bahasa Lampung banyak menyerap dari Campa. Contoh, kata kucak-kacai (bertaburan), dalam bahasa Campa ditulis; khcat khcay . Begitu juga kata titarontos-titaroton dari kata trotes-troton (Campa). Demikian pula kata ulangan tandang-midang, hetak-hetoi, lintang-pukang, jelas dari Campa. Masyarakat Lampung menyebut jenis daun capa sama dengan bahasa Campa, yakni daun tjapa (ejaan lama) atau capa (ejaan baru).

Beberapa bentuk kata kerja pasif yang digunakan orang Lampung banyak menyerap dari Batak Dairi dan Palembang (terutama dari piagam Sriwijaya atau Piagam Talang Tuwo). Kata kerja pasif dengan indikator ni di awal-tengah-ujung, dengan pelaku orang pertama, mengambil dari Batak Dairi sekaligus Palembang. Contoh; ngenigelakh (Lampung), nigelarku (Palembang), nipepandenku (Batak Dairi). Kata pepadun di Lampung berasal dari Batak Dairi pepanden.

Lampung juga tidak mengenal dengan akrab aksara Kaganga yang selama ini diklaim sebagai aksara asli Lampung itu. Belum ada penelitian yang sungguh-sungguh mendasar dan bisa meyakinkan bahwa Lampung punya aksara murni; semua hanya klaim-klaim yang sempit. Saya pernah menanyakan kepada 20 orang tua yang masing-masing berada di Kota Agung, Padangratu Gedongtataan, Kedondong, Kelumbaian, Liwa, Lampung Timur (Maringgai dan Sukadana marga Subing), dan Menggala marga empat. Semua orang tua yang usianya di atas 75 tahun, bahkan datuk dari ibu saya yang kini usianya 89 tahun, tidak kenal aksara yang saya sodorkan dan saya bacakan.

Saya menduga (ini memang baru sebatas dugaan dan akan dilanjutkan penelitian) aksara Lampung hasil improvisasi atau hasil penerjemahan yang bersifat overinterpretasi (penerjemahan lebih dan mengambil alih) atau semacam asimilasi dari aksara Batak dan Bugis. Hanya sedikit perbedaan, hanya selisih beberapa huruf dan dielak dan logatnya.

* Asarpin, Pembaca Sastra, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 Maret 2008


Telaah lebih lanjut baca (klik saja):

1. Peta Bahasa-Budaya Lampung


2. Bahasa dan Aksara Lampung

3. Standardisasi Bahasa Lampung

4. Standardisasi Bahasa Lampung, Beberapa Jawaban atas Tanggapan

5. Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung

6. Sastra Modern (Berbahasa) Lampung

Apresiasi: Meretas Dunia Kepenyairan Pelajar

LAMPUNG adalah negerinya para penyair. Karena di daerah ini bermunculan penyair-penyair baru yang bermunculan dengan karyanya yang mampu meramaikan kancah kepenyairan nasional sejak era 80-an hingga saat ini.

Tahun 1980-an merupakan masa keemasannya A.M. Zulkarnaen dan Isbedy Stiawan Z.S. Kemudian disusul Iwan Nurdaya Djafar, Syaiful Irba Tanpaka. Setelah itu, di era awal tahun 1990-an, muncul berbagai nama yang berasal dari kampus seperti Iswadi Pratama, A.J. Erwin, dan Panji Juperta Utama.

Kemudian dilanjutkan era 2000-an, merupakan masa kemunculan Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga. Lalu terdapat Lupita Lukman, Anton Kurniawan, Hendri Rosevelt, hingga yang terbaru adalah Fitriyani.

Namun ternyata meski banyak bermunculan nama-nama baru dalam kepenyairan di Lampung, pembelajaran akan dunia sastra terutama puisi bagi para pelajar masih sangat lemah. Sehingga dunia kepenyairan yang sepertinya sudah menjadi ikon bagi Lampung, sepertinya tidak tertularkan keilmuannya.

Hal ini paling tidak terlihat dari gelaran Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel) yang baru saja usai pekan lalu, terutama lewat tangkai lomba penulisan puisi dan pembacaan puisi. Penyair perempuan, Inggit Putria Marga, usai melakukan penjurian lomba penulisan puisi mengemukakan pemahaman pelajar terhadap puisi masih sangat terbatas pada pengungkapan perasaan saja.

Dia mengatakan kondisi tersebut sangat terlihat dari karya-karya puisi yang dikirimkan para siswa. Kondisi ini, menurut Inggit, disebabkan karena guru bahasa Indonesia yang ada saat ini masih memiliki keterbatasan dalam melakukan sosialisasi terhadap dunia sastra terutama puisi dan metode penulisan puisi di sekolah.

"Secara kuantitas, jumlah peserta yang mengikuti lomba penulisan puisi ini sangat banyak karena mencapai jumlah ratusan karya. Namun memang bila berbicara kualitas, masih sangat jauh dari yang diharapkan," kata Inggit.

Bahkan pada umumnya, karya puisi para siswa yang diikutkan dalam perlombaan tersebut, masih terbatas pada pengungkapan perasaan yang dirasa para pelajar itu sendiri. "Karya mereka masih sangat telanjang dan sangat remaja. Diksi-diksi yang digunakan masih sangat verbal, bahkan kalau bisa dikatakan lebih mirip seperti curahan hati atau curhat."

Belum lagi bila itu berkaitan dengan susunan kalimat dan penggunaan kalimat yang masih sangat lemah sekali. "Tidak hanya terdapat pada pemilihan metafora terhadap karya yang diambil, tapi malahan kesalahan dasar bahasa banyak diketemukan. Misalnya masih bingungnya pelajar pada persoalan imbuhan, penempatan kata sifat dan benda, awalan yang kesemuanya masih sangat berantakan," ujar Inggit.

Padahal bila melihat dari kuantitas peserta, penulisan puisi mendapatkan apresiasi yang besar dari para pelajar. "Artinya pihak sekolah mesti melihat bahwa minat dari para pelajar dalam penulisan puisi yang lebih kreatif dan mengarah pada sastra lumayan besar. Sehingga dibutuhkan sosialisasi dan pembelajaran yang lebih terhadap dunia sastra terutama puisi lewat pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah."

Hal yang sama juga dikemukakan Iin Mutmainah, juri lomba baca puisi Peksipel. Dia mengatakan sangat miris saat melihat para peserta yang membacakan puisi. "Mengapa harus menjadi makhluk asing bahkan alien ketika membaca puisi. Padahal saat membacakan puisi, para pelajar lebih mengedepankan diri sendiri, tidak perlu menjadi orang lain."

Selain itu juga, dia melihat bahwa banyak pelajar yang malahan melakukan berbagai visualisasi atau gerakan untuk menggambarkan dari puisi yang dibawakan. "Padahal seharusnya masih ada ruang imajinasi yang mesti disisakan. Dan gerakan yang dilakukan para peserta saat membaca puisi seharusnya dilakukan dengan motivasi serta emosi yang terjalin haruslah tidak terputus," tambah Iin.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Edy Samudra Kertagama dan Christopan Dewansyah yang juga menjadi juri lomba membaca puisi. Keduanya masih melihat kelemahan hampir semua peserta yang mengikuti perlombaan karena masih merasa sangat asing dengan puisi terutama bahasa Indonesia. Sehingga penginterpretasian terhadap isi puisi tidak ada.

Dan ini tentu saja mendatangkan satu kemirisan tersendiri di tengah subur dan tumbuhnya para penyair, tetapi ternyata para anak muda yang seyogianya bisa menjadi penerus masa depan dunia kepenyairannya, ternyata masih sangat minim pengetahuannya. Sehingga diibaratkan ini bagaikan seekor tikus yang mati di dalam lumbung padi.

Peranan Dewan Kesenian

Namun, bila mau berbicara jujur, tentu saja persoalan keminiman pemahaman pelajar akan dunia sastra terutama puisi tidak hanya dilimpahkan kepada dewan guru. Terutama guru bahasa Indonesia ataupun guru kesenian di sekolah.

Sebab, para guru pun memiliki banyak tugas dan beban tersendiri. Di mana mereka harus mengajarkan apa yang sudah ada pada kurikulum pengajaran yang ada. Sehingga setiap mata ajar yang akan disampaikan, sudah diatur secara nasional. Tentunya ini menjadi persoalan tersendiri.

Apalagi ditambah dengan persoalan SDM yakni berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki para guru terhadap dunia kepenyairan yang sangat terbatas. Sehingga sangat wajar bila kemudian yang diajarkan kepada para siswa adalah apa yang diketahuinya tentang dunia sastra.

Terlebih bagi guru yang berasal dari daerah, kondisi ini semakin diperparah dengan sedikitnya akses dan informasi yang bisa didapat para guru. Sebab, sangat jarang adanya event seni budaya yang digelar yang bisa dijadikan ruang apresiasi bagi para guru bahasa Indonesia dan juga kesenian untuk menambah wawasan dan pengetahuannya, juga para pelajar tentunya.

Karena kondisi ini sangat berbeda dengan yang terjadi di Kota Bandar Lampung. Ruang akses begitu lebar terbentang karena begitu banyak event seni budaya bahkan hingga perlombaan yang banyak digelar. Sehingga para guru dan juga pelajar bisa mendapatkan ruang apresiasi yang sangat luas dan ini menjadi media pembelajaran yang sangat efektif tersendiri bagi para guru dan siswa. Makanya terlihat adanya perbedaan yang membentang antarkota dan daerah.

Dan inilah yang seharusnya coba diretas oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang merupakan wadah para seniman Lampung berkumpul dan beraktivitas. Sehingga pemahaman akan dunia sastra oleh para pelajar dan guru terutama di daerah bisa berkembang, yang nantinya juga akan meningkatkan jumlah pengapresiasi dunia sastra itu sendiri, atau malah akan melahirkan para penayir-penyair masa depan.

Ini bisa dilakukan dengan menggelar semacam workshop yang ditujukan para guru dan pelajar dengan menghadirkan para seniman yang tentunya sangat mumpuni dan paham akan metode pengajaran, sehingga targetan yang akan dicapai bisa tercapai. Tentu saja, dalam pelatihan ataupun workshop juga dibarengi dengan dilakukannya pementasan pembacaan puisi yang menghadirkan penyair kaliber nasional misalnya, untuk memperlebar ruang apresiasi.

Namun hendaknya, workshop ataupun pelatihan ini tidak hanya dipandang oleh DKL sebatas program ataupun proyek an sich semata-mata. Sehingga pelaksanaanya sekenanya dan tidak kena sasaran. Karena dilakukan hanya sebatas melaksanakan program semata-mata saja apalagi untuk mencoba mengambil keuntungan semata-mata. Tapi kegiatan ini memang harus dilakukan dengan satu niatan tulus serta keinginan untuk membumikan dunia sastra terutama puisi di Lampung.

Atau juga dengan membentuk satu komunitas kecil yang bisa menjadi embrio bagi terbentuknya wadah bagi pelajar dan guru untuk belajar di daerah-daerah. Sebab ternyata cara ini sangat efektif untuk melahirkan rasa kecintaan dan keinginan untuk berinteraksi lebih intens dengan dunia kesusastraan. Sehingga siapa tahu, dari kelompok-kelompok kecil ini akan muncul para penyair besar yang kemudian akan membesarkan komunitas kecil tersebut menjadi sebuah kantung kesenian yang akan menyemarakan dunia seni di Lampung, juga nasional. Semoga. n TEGUH PRASETYO/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 Maret 2008