December 21, 2009

Bahasa dan Aksara Lampung

Oleh Irfan Anshory (Batin Kesuma Ningrat)

PENELITIAN ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. Herman Neubronner van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh penelitian Prof. Dr. Charles Adrian van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche Dwerghertverhalen”, dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), volume 46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. Oscar Louis Helfrich pada tahun 1891 menerbitkan kamus Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst. Lalu ada tesis Ph.D. dari Dale Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul A Grammar of the Lampung Language (1973).

Menurut Prof. C.A. van Ophuijsen, bahasa Lampung tergolong bahasa yang tua dalam rumpun Melayu-Austronesia, sebab masih banyak melestarikan kosakata Austronesia purba, seperti: apui, bah, balak, bingi, buok, heni, hirung, hulu, ina, ipon, iwa, luh, pedom, pira, pitu, telu, tuha, tutung, siwa, walu, dsb. Prof. H.N. van der Tuuk meneliti kekerabatan bahasa Lampung dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Bahasa Lampung dan bahasa Sunda memiliki kata “awi” (=bambu), bahasa Lampung dan bahasa Sumbawa memiliki kata “punti” (=pisang), bahasa Lampung dan bahasa Batak memiliki kata “bulung” (=daun), dsb. Hal ini membuktikan bahwa bahasa-bahasa Nusantara memang satu rumpun, yaitu rumpun Austronesia yang meliputi kawasan dari Madagaskar sampai pulau-pulau di Pasifik.

Aksara Lampung yang 19 huruf, dari ka-ga-nga sampai ra-sa-wa-ha, dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan meskipun selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975). Kata Prof. K.F.Holle, cuma sedikit suku-suku di Nusantara yang mempunyai aksara sendiri, dan salah satu di antaranya adalah aksara Lampung! Sebagian besar suku-suku tidak memiliki aksara, dan baru mengenal aksara setelah menerima Islam, yaitu huruf Arab-Melayu.

Aksara Lampung memiliki banyak kesamaan dengan aksara Batak, Bugis dan Sunda Kuna (yang sekarang mulai disosialisasikan kembali di Jawa Barat). Tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara Dewanagari di India. Persis sama halnya dengan aksara Latin dan aksara Rusia yang sama-sama diturunkan dari aksara Yunani, yang pada mulanya berasal dari aksara Phoenisia. Jadi di dunia ini tidak ada aksara yang murni, sebab pembauran antarbudaya di muka bumi berlangsung sepanjang masa.

Kemudian perlu ditegaskan bahwa karya-karya ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung semuanya memakai “r” untuk menuliskan huruf atau fonem ke-16 aksara Lampung! Gelar (adok) dan nama tempat harus dituliskan dengan ejaan “r”, meskipun dibaca mendekati bunyi “kh”, misalnya Pangiran Raja Purba, Batin Sempurna Jaya, Radin Surya Marga, Minak Perbasa, Kimas Putera, Marga Pertiwi, Buay Pernong, Bandar Negeri Ratu, dsb. Penulisan “radu rua rani mak ratong” merupakan ejaan baku (ilmiah), sedangkan penulisan “khadu khua khani mak khatong” tidaklah baku.

Akhirnya perlu dikemukakan bahwa dalam era sains dan teknologi sekarang, suatu bahasa jika mau berkembang harus mampu menyerap istilah-istilah modern dan kontemporer. Jadi bahasa Lampung perlu banyak menyerap kosakata baru, dan janganlah ada yang berpendapat bahwa bahasa Lampung merupakan bahasa “hibrid” atau “cangkokan”. Bahasa Indonesia, bahkan juga bahasa Inggris, banyak sekali menyerap kosakata dari luar.

Antak ija pai da pubalahan ram sa, dang kejung ga, kantu mak kebaca.

Sumber: http://irfananshory.blogspot.com/2009/12/bahasa-dan-aksara-lampung.html ; 16 Desember 2009

No comments:

Post a Comment

Post a Comment