October 27, 2013

Dan, Festival Krakatau pun Usai

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.


Festival Krakatau (FK) XXIII baru saja usai. Bagaimana kegiatannya?apatah gaungnya?nyaris tak terdengar. Terlihat event ini hanya jadi kegiatan tahunan yang penuh seremoni belaka.

FESTIVAL KRAKATAU: Sejumlah peserta mengikuti karnaval budaya pada
pembukaan Festival Krakatau Ke-23 di Kalianda, Lampung Selatan, Sabtu
(19/10). Festival Krakatau bertema The 3rd Of Lampung & Tuping Carnival
dibuka dengan parade budaya Lampung dan acara puncak mengunjungi Gunung
Anak Krakatau pada Minggu, (20/10) yang diikuti 24 dubes dan investor
dari luar negeri. ANTARA FOTO/Kristian Ali
FESTIVAL Krakatau, hajat tahunan Pemerintah Provinsi Lampung untuk mempromosikan pariwisata dan budaya daerah ini, terus dipersoalkan. Dari masalah kegiatan yang tak pernah berubah tetapi jadwal kegiatan selalu berubah, hingga keterasingan Festival Krakatau (FK) di masyarakat Lampung sendiri.


[Buku] Mendekati Tulangbawang dari Sisi Budaya

Data Buku:
Kearifan Lokal dalam Pembangunan Daerah
Agus Mardihartono
Indepth Publishing, Bandar Lampung
I, September 2013
xvii + 141 hlm.
TULANGBAWANG adalah salah satu kerajaan tua di Indonesia. Catatan China kuno menyebutkan pada abad IV seorang peziarah agama Buddha, Fa-Hien, pernah singgah di kerajaan yang makmur dan berjaya, To-Lang P?o-Hwang (Tulangbawang) di pedalaman Chryse (Pulau Emas Sumatera). Pemebentukan Kabupaten Tulangbawang diawali dari rencana sesepuh dan tokoh masyarakat bersama pemerintah sejak 1972 untuk mengembangkan Provinsi Lampung menjadi 10 kabupaten/kota. Akhirnya, Kabupaten Tulangbawang lahir dan diresmikannya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pada 20 Maret 1997.


[Lentera] Andi Sang Penari Khakot

Oleh Meza Swastika

Tari Khakot adalah tari pedang yang pada zaman dahulu kala dibawakan para panglima atau hulu balang untuk menyambut tamu-tamu besar.

Andi Wijaya
SELEPAS isya, Andi Wijaya yang masih kelas III sekolah dasar segera berlari ke salah satu rumah tetangganya. Ia menunggu rombongan kakeknya yang pulang dari masjid.


[Fokus] Meratapi Negeri Olokgading

Oleh Meza Swastika

BANGUNAN mewah dan perumahan elite terus mengepung Negeri Olokgading, kampung cagar budaya Lampung yang sudah ada sejak 1618.

Lamban balak.
Bangunan besar dua lantai bergaya art deco di Jalan Setia Budi, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, itu terlihat mewah. Pagar besi setinggi 2 meter menyatu dengan kanopi besar di pekarangan rumah semakin mempercantik rumah yang baru beberapa bulan lalu selesai direhab ini. Di bagian teras terdapat taman kecil dengan beberapa pohon pelindung yang tampak teduh.


[Fokus] Runtuhnya Pusat Kemargaan Saibatin

Oleh Meza Swastika

Rumah-rumah sudah banyak direhab, tetapi pintu utamanya tetap menghadap ke arah Lamban Balak. Ini sebagai tanda tempat itu pusat kemargaan, tempatnya Saibatin tinggal.


KERTAS-KERTAS dan sisa bungkus nasi itu dibiarkan tergeletak di lantai kayu teras luar rumah adat Kebandaran Marga Balak, Kelurahan Negeri Olokgading, Telukbetung Barat, Rabu pekan lalu. Tak jauh dari sampah-sampah itu, lima ibu setengah baya dan seorang lelaki terlihat tertawa-tawa.

[Fokus] Negeri Olokgading? Enggak Tahu!

RAUT muka Sekretaris Kelurahan Negeri Olokgading, Tries K., langsung berubah merah saat diminta komentar soal desa cagar budaya Lampung, Rabu pekan lalu. Nada suaranya terlihat gugup. Dua kali ia membenarkan posisi kacamatanya.


Senyumnya seolah ingin menyembunyikan rasa malunya. Duduknya pun agak gelisah. Ia tergagap saat ditanya tentang sejarah Negeri Olokgading.


[Fokus] Tempat Terdamparnya Kapal Berouw

SELAIN keberadaan Lamban Balak yang menjadi ikon Negeri Olokgading, di daerah ini pernah terdapat kerangka kapal Berouw. Kapal Angkatan Laut Belanda itu terbawa gelombang tsunami saat Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883.

Kapal Berouw itu terhempas hingga ke muara Sungai Kuripan. Belakangan saat terjadi banjir bandang tahun 1979, kapal itu terseret hingga ke jembatan Sungai Kuripan.


October 26, 2013

FKIP Bahasa dan Seni Gelar Lomba Gamolan

FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unversitas Lampung (FKIP Unila) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni menggelar lomba alat musik tradisional Lampung, gamolan, tingkat pelajar se-Provinsi Lampung.

"Penyebaran seni budaya lebih efektif lewat sekolah-sekolah. Untuk tingkat sekolah peta persaingan masih rendah dan belum bervariasi sehingga kami ranahi kelompok ini. Lomba ini mengakomodasi sekolah negeri, sekolah berbasis agama, dan swasta," kata penanggung jawab lomba, Hasyimkan.


October 24, 2013

[Fokus] Bahasa Lampung Nasibmu Kini

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Dua belas tahun berlalu sejak pakar sosiolinguistik Asim Gunarwan mengatakan bahasa Lampung bisa punah dalam 3-4 generasi atau 75-100 tahun. Selama itu relatif tak ada upaya sistematis dan strategis dari para pihak untuk mencegah kemungkinan itu.

REVITALISASI BAHASA LAMPUNG. Dari kiri ke kanan: sastrawan
AM Zulqornain Ch., pengamat Unila Kahfi Nazaruddin, sastrawan Isbedy
Stiawan Z.S, dan pengamat Jauhari Zailani.

[Fokus] Apa pun Hidupkan Bahasa Lampung!

Oleh Dian Wahyu Kusuma



SEKECIL apa pun, upaya untuk mendekatkan bahasa Lampung ke masyarakat Lampung sangat penting dilakukan. Ketua MGMP Bahasa Lampung Warsiem menawarkan kursus bahasa Lampung. Lalu Tri Sujarwo Songha dari Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung menyatakan siap membantu dan ingin menjadi siswa pertamanya.

Hal lain, kata Warsiem, mutlak perlu dibukanya program S-1 pendidikan bahasa dan sastra lampung. "Ini perlu. Apalagi persyarakatan guru dan untuk mengikuti sertifikasi kan harus sarjana. Selain itu, untuk menghindari kehilangan dan kekosongan guru Bahasa Lampung," ujarnya.


October 22, 2013

[Inspirasi] Berjuang untuk Bahasa Lampung

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Program aksara Lampung itu sudah saya sebarkan di sekolah-sekolah yang ada di Lampung secara gratis.

DARI namanya, sudah bisa ditebak perempuan berjilbab ini bersuku Jawa. Fakta itu dikuatkan dengan logatnya saat berbicara. Namun, ia seperti terus melawan takdir. Setiap ada kesempatan pentas, ia berkomunikasi dengan bahasa Lampung.

Tidak heran jika kemudian Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) memberi dia adok (gelar) Raden Ayu Suaka. Dialah Warsiem, yang sudah 12 tahun mengabdi sebagai guru Bahasa Lampung di SMP Alkautsar Bandar Lampung.

October 20, 2013

[Lentera] Rumah Baca Awan di Pulau Pahawang

DARI jarak sekitar 5 meter, Setiawan sudah menyiapkan senyuman paling manis yang ia punya untuk warga yang kebetulan sedang berpapasan. Tapi, ia hanya mendapat tatapan aneh dari warga itu.

Setiawan (berdiri paling kiri) bersama anak-anak Pulau Pahawang.
Untuk kali kedua, saat ia bertemu lagi dengan orang yang sama, Setiawan tetap menyunggingkan senyumnya kembali, tapi tetap tak membuahkan hasil pula. Belakangan warga Pulau Pahawang justru menaruh curiga kepada Setiawan dan beberapa temannya, atas tingkahnya yang aneh.


Carnival of Scenes Tafsir Mahabharata Versi Si Lampung

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

KISAH Mahabharata dan perang Bharata tak habis-habisnya ditafsirkan orang. Kali ini perupa I Made Widya Diputra alias Si Lampung menafsirkan Mahabharata dalam karya tiga dimensinya dan ditaja di Gallery Semarang, Kota Lama, Semarang, dengan mengusung tema Carnival of Scenes. Pameran yang memajang 10 karya Si Lampung ini digelar dari penggal akhir Juni hingga Oktober 2013.


Nama Si Lampung di bumi kelahirannya Sang Bumi Ruwai Jurai kurang dikenal, bahkan di kalangan perupa sekali pun. Ia memang anak transmigran dari Bali, kelahiran Lampung, 10 Oktober 1981.


[Fokus]: Dilema Pemecah Batu Bukit Camang

SEBENARNYA batu tempat Wawan (49), bukan nama sebenarnya, memijakkan kakinya agak labil. Ia merasakan bebatuan kapur Bukit Camang itu seperti bergerak. Tetapi ia acuh tak acuh. Ia mengulur sedikit lilitan tali yang mengikat pinggangnya di bebatuan yang ada di sisi kirinya untuk ditambatkan ke bebatuan lain yang lebih kuat.

Bukit Camang
Dari tepian tebing setinggi hampir 10 meter itu ia melihat lereng bukit sisi barat itu mulai runtuh. Ia mulai sedikit ragu, tapi berusaha tetap bekerja meski batu-batu sebesar buah semangka di atasnya sudah mulai runtuh.


[Fokus]: Area Steril Bukit Sukamenanti

SEKELOMPOK orang berbadan besar, berkulit legam, dan berkacamata hitam itu terlihat berjaga-jaga di salah satu portal menuju Bukit Sukamenanti, Kedaton, pekan lalu. Padahal, ruas jalan yang dipasangi portal itu adalah jalan umum.

Bukit Sukamenanti
Dua di antara mereka setengah berlari mendatangi seorang pengendara sepeda motor yang celingak-celinguk dan berhenti sekitar 50 meter dari portal itu.


[Fokus]: Hilangnya Bukit Kami

Oleh Meza Swastika


Ketika pentingnya kawasan konservasi harus dihadapkan urusan perut dan keserakahan pemodal, Bandar Lampung terancam bencana ekologis.

Bukit Kunyit yang hampir hilang. LAMPUNG POST/IKHSAN DNS
AIR minum di dalam botol bekas kemasan air mineral yang digantungkan di pinggang Maman (40) hampir tiris. Matahari yang menjemur batu-batu karst Bukit Camang, Tanjunggading, itu membuat udara panas dan mengeringkan tenggorokan. Namun, ia terus memahat, mencongkel, dan menggelindingkan bongkahan-bongkahan batu belah itu sebagai penyambung hidup diri dan keluarganya.


[Fokus] Bandar Lampung dari Atas Bukit

Oleh Meza Swastika

Indah dan mengesankan. Di sisi lain, berita bencana akibat bukit longsor dan banjir bandang terus mengintai.

ENAM remaja, empat laki-laki dan dua perempuan, itu telah menyelesaikan makam malamnya di ballroom Hotel Bukit Randu. Mereka adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandar Lampung yang mendapat tugas menyiapkan tempat acara seminar internasional yang dihelat fakultas.


24 Duta Besar Ikuti Festival Krakatau

DITANDAI dengan pemukulan gamolan oleh sejumlah duta besar (dubes) negara sahabat, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, dan Wakil Gubernur M.S. Joko Umar Said, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. resmi membuka Festival Krakatau (FK) XXIII 2013 di Lapangan Korpri, Kalianda, Lampung Selatan, Sabtu (19/10).

Festival Krakatau tahun ini dihadiri 24 duta besar dan perwakilan negara sahabat, mengambil tema The mask united of colours dengan menampilkan salah satu ikon budaya Lampung, yakni tradisi tuping. Selain menghadirkan pawai budaya dari 14 kabupaten/kota di Provinsi Lampung, pada pergelaran tahun ini juga kembali mengagendakan tur ke kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), salah satu ikon Lampung Selatan yang sudah mendunia, hari ini (20/10).


October 16, 2013

Malu Aku Jadi Orang Lampung

Oleh Hardi Hamzah


SEDERET perdebatan tentang pilgub kini sudah sampai titik nadir. Kenyataannya, belum ada titik kepastian. Padahal, perihalnya sederhana "anggaran tidak ada". Ini sungguh memalukan.

Gonjang-ganjing mekanisme politik di provinsi ini sebagai resultante tipis tanggung jawabnya elite politik kita, akibatnya membawa implikasi bermacam macam. Bayangkan, para bakal calon dibuat gamang, tim sukses melangkah tidak maksimal, semua dibuat floating alias mengambang.


Politisasi Budaya (Lampung?)

Oleh Robi Cahyadi Kurniawan


DI tengah ketidakpastian jadwal pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung dengan perdebatan yang cenderung membosankan. Konflik kelembagaan antara KPU dan Pemerintah Provinsi Lampung (Gubernur) yang tak kunjung usai, ada hal menarik yang bisa dijadikan ulasan.

Lazimnya, di mana pun pergelaran pemilihan kepala daerah dilaksanakan, beragam cara dilakukan para calon untuk memikat hari pemilih. Proses memikat itu bisa dilakukan dengan cara santun, masif, terstruktur atau dilakukan dengan cara yang elegan dengan dibungkus balutan?balutan nuansa tertentu. Salah satunya adalah penggunaan simbol-simbol budaya dalam politik praktis pemilukada.


[Voting] Rebutan Pengaruh Organisasi Adat

SEJAK runtuhnya rezim Orde Baru, keran kebebasan bagi masyarakat kian dibuka lebar. Masing-maisng individu bebas mengeluarkan pendapat, membentuk wadah organisasi, bahkan partai politik pun makin berkembang banyak.

Sejak itulah organisasi-organisasi yang mengatasnamakan adat dan budaya di nusantara menjamur. Hal itu pun terjadi di Lampung, mulai dari Forum Komunikasi Masyarakat Adat Lampung (Fokmal), Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma), Keluarga Besar Sumatera Barat (KBSB), Keluarga Besar Batanghari Sembilan (KBBS), Paguyuban Jawa Barat (Pajar), Kekerabatan Marga Batak (Kerabat), dan lainnya.


[Voting] Calon Gubernur Gunakan Politik Primordialisme

POLITIK yang menggunakan basis primordialisme masih terus berkembang di Lampung. Masing-masing calon gubernur (cagub) pun masih meminta dukungan sana-sini terhadap organisasi dengan basis primordial suku, etnis, adat, dan agama.

"Kami mengundang Wali Kota Heman H.N. untuk hadir ke acara silaturahmi keluarga besar organisasi ini, tetapi dia mengatakan organisasi sejenis kami (kekerabatan, red) telah diurusi tangan kanannya," kata Udin, salah seorang pengurus organisasi kekerabatan asal daerah Sumatera itu, beberapa waktu lalu.


[Voting] Era Matinya Politik Primordial

KEINGINAN pasangan calon gubernur/wakil gubernur (cagub/cawagub) Lampung untuk melirik basis dari organisasi primordial gencar dilakukan. Namun, mereka tak sadar hasil survei bahwa sejak 2009 rakyat Indonesia tidak lagi suka dengan politik jenis tersebut.

Hal itu terbukti dari hasil hasil survei Lembaga Survei Independen (LSI). Sejak Pemilu 2009, kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono menandai era baru politik Indonesia.


Perang Antarkampung Warnai Iduladha

Oleh M. Lutfi


Akibat penyerangan warga Gunungsugih Baru ke Kampung Sukajawa, sedikitnya tiga warga Sukajawa luka bacok, seorang luka tembak, tujuh rumah dilempari hingga pecah kaca depannya, dan dua sepeda motor dibakar.

PERANG antarkampung di perbatasan Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) dan Kabupaten Pesawaran mencoreng suasana Iduladha, kemarin, sekitar pukul 11.00.


October 13, 2013

Sebuah Kesepakatan Atas Nama Simbol

Oleh F. Moses


Simbol secara langsung memperkokoh kedigdayaan puisi itu sendiri, seperti kian melegitimasikan bahwa pembaca puisi ialah makhluk cerdas lantaran ketersedian kemampuan (hak otonomi) mengisi ruang interpretasi. Saat kegelisahan melanda bahkan mengancam si penyair, simbol pun menjadi penengah hebat di antara penyair dan pembaca.

15 April 1865, tepat usia ke-54, Lincoln terbunuh. Kematian presiden Amerika Serikat ke-16 tersebut membuat rakyatnya larut dalam duka. Bukan hanya Amerika Serikat, melainkan keseluruhan Amerika. Tapi beberapa waktu setelah kejadian itu, penyair While Whitman (1819-189¬2) pun “terganggu”—imajinasinya seperti tengah diserang puluhan tujahan; ia lantas membuat puisi atas kedukaannya terhadap Lincoln. Maka terbitlah sepuisi berjudul When Lilacs last in the Dooryard Bloom’d.


October 9, 2013

Prabowo Subianto Dapatkan Buku Terbitan Indepth Publishing Lampung

Oleh Romi Rinando

Prabowo Subianto dan Agus Mardihartono. (ist)
TRIBUNLAMPUNG.co.id-Prabowo Subianto, ketua Dewan Pembina Partai Gerindra mendapatkan buku Kearifan Lokal dalam Pembangunan Daerah yang diterbitkan Indepth Publishing Lampung.

Buku  itu ditulis Dr Agus Mardihartono atau Cak Agus, mantan wakil bupati Tulangbawang yang kini menjadi pegiat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Lampung.


October 6, 2013

Membongkar Penghancuran Buku

Oleh Padli Ramdan

Melarang sebuah buku untuk diterbitkan sama bahayanya dengan membakar buku.

BINCANG BUKU. Peserta Bincang Buku Lampost, Rabu (2/10) membahas buku
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Baez.
LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY
PENGHANCURAN buku atau disebut bibliosida terjadi sejak zaman Yunani hingga kini. Termasuk di Indonesia, pemusnahan buku terjadi pada zaman Orde Baru. Seperti makhluk yang terus menyesuaikan keadaan, pemberangusan buku bermetamorfosis dalam bentuk yang lebih halus.


[Buku] ‘Bibliosida’ dan Kita


TAHUN 1258 atau tepatnya dimulai sejak 15 November 1257, kata Fernando Baez dalam Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (2013: 118-122), Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, serta balatentara Mongol mengaramkan Bagdad dalam merahnya darah dan hitamnya tinta. Sejarah pun bertutur ihwal mayat-mayat korban pembunuhan balatentara beringas yang menyesaki dan membuat macet jejalanan kota. Juga tentang ribuan judul buku yang dijarah dan konon berhasil menghitamkan warna Sungai Tigris.

Setahun sebelumnya, 1256, pasukan Mongol pun telah menghancurkan satu setengah juta buku koleksi perpustakaan Ismailiyah di Alamut (kawasan Selatan Laut Kaspia). Kekejian yang dilanjutkan Timurleng pada 1393, keturunan Genghis Khan lainnya, dengan menyerbu kembali Bagdad dan Suriah serta menghancurkan semua buku yang mereka temukan.