December 31, 2013

DKL Siap Luncurkan Portal Berita "Warta Seni"

DEWAN Kesenian Lampung (DKL) siap meluncurkan portal berita seni pada pertengahan Januari 2014 mendatang.

Portal berita beralamat di: www.wartaseni.com, itu diharapkan benar-benar menjadi kanal informasi para seniman dan budayawan di Lampung dan Indonesia.


December 29, 2013

Panggung Sastrawan Lampung

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.



Sastra(wan) Lampung tetap menyimpan kekuatan yang dahsyat. Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung berikut buku Hilang Silsilah yang diluncurkan bersamaan dengannya membuktikan ini.

PANGGUNG SASTRAWAN LAMPUNG. Para sastrawan berfoto bersama seusai
pergelaran Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung yang
diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung (DKL) di Taman Budaya Lampung
(TBL), Selasa (24/12). Bersamaan dengan itu, diluncurkan buku Hilang
Silsilah: Kumpulan Karya Sastrawan Lampung
, yang menghimpun 29
sastrawan Lampung dari generasi 1980-an hingga 2013-an.
(FOTO-FOTO: OYOS SAROSO HN)


SILATURAHMI dan Panggung Sastrawan Lampung, Selasa (24/12) malam, di Taman Budaya Lampung dinilai sebagai pentas kesenian akhir tahun di daerah ini.

Buku "Menjaga Nama Baik" Mursyid Arsyad Diluncurkan

BUKU "Menjaga Nama Baik" yang mengisahkan jejak perjuangan Mursyid Arsyad, mantan birokrat di Lampung, diluncurkan dalam sebuah acara santai di Bandarlampung, Minggu (29/12).

Peluncuran dan Bedah Buku "Menjaga Nama Baik" Mursyid Arsyad
di Kafe Dawiels Bandarlampung, Minggu (29/12). Mursyid Arsyad
(kanan) dan Adian Saputra (tengah) penulis buku.
(Foto: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)
"Silakan datang dan ngopi-ngopi dalam Ngobrol Bareng Mursyid, bedah karya Adian Saputra, `Menjaga Nama Baik`, Minggu ini pukul 13.00--16.00 di Kafe Dawiels samping LIA Bandarlampung," kata Managing Director Indepth Publishing selaku penerbit buku itu, Tri Purna Jaya.


KALA Sumatera - Panggung Teater Perempuan III: Seribu Kali Sayang

Oleh Fedli Aziz


KALA Sumatera - Panggung Teater Perempuan yang dilaksanakan Teater Satu Lampung bekerja sama dengan Hivos (Belanda) telah berlangsung tiga kali. Dan helat khusus bagi sutradara perempuan se Sumatera ketiga dilangsungkan, 10-14 Desember 2013 lalu di Taman Budaya Lampung. Sayang, agenda itu belum mencapai kemajuan berarti karena hampir semua pengkarya yang tampil masih berkutat pada potensi belaka.


SEBANYAK delapan grup asal Sumatera, plus satu grup asal Solo berkumpul di Taman Budaya Lampung, Bandar Lampung. Bukan sekedar berkumpul dan berbagi pengalaman, mereka bahkan menampilkan karya panggung hasil dari workshop penciptaan teater yang dilaksanakan dua bulan sebelumnya di tempat yang sama. Agenda tersebut menjadi lanjutan dari agenda serupa pada 2009 dan 2011 silam.


December 26, 2013

Menyelamatkan Manuskrip Lampung

Oleh Rijal Firdaos

DALAM Workshop Metode Penelitian Filologi yang diselenggarakan oleh LP2M IAIN Raden Intan bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) belum lama ini, setidaknya ada beberapa hal menarik yang patut diapresiasi terkait dengan ilmu yang berhubungan erat dengan naskah atau manuskrip.

Adalah filologi, sebuah ilmu yang membahas tentang bahasa, kebudayaan pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Secara etimologis, filologi berasal dari bahasa Yunani philologia. Philos berarti "yang tercinta" (affection, beloved, dear, friend), sedangkan logos berarti "kata, artikulasi, alasan" (word, articulation, reason). Fadli (1982) sebagaimana dinukil oleh Oman Fathurahman memberikan defenisi terkait dengan filologi, sebagai investigasi ilmiah atas teks-teks tertulis (tangan), dengan menelusuri sumbernya, keabsahan teksnya, karakteristiknya, serta sejarah lahir penyebarannya.


Mantap, Indepth Publishing Mampu Terbitkan 36 Buku Setahun

TAHUN 2013 bagi Indepth Publishing merupakan tahun yang membawa kesan tersendiri, dengan keberhasilan menerbitkan sebanyak 36 judul buku.

Managing Director Indepth Publishing, Tri Purna Jaya, di Bandarlampung, Kamis (26/12), menyatakan setelah menutup tahun 2013 dengan torehan 36 buku itu dalam kurun waktu satu tahun, artinya total selama satu setengah tahun telah menerbitkan 60 judul buku.


Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung: Bang AM Tampil Nakal Lewat "TKW"

Oleh Teguh Prasetyo


Karena kau dilahirkan dan dirawat malam malam kau anak malam. Malam luntur adalah wajahmu dengan sepercik bintang. Bintang yang tak benderang di langit, namun di bawah tanah, di akar-akar bakau, di akar-akar jagung yang renggang. Sisik malam penuhi kulitmu. Malam-malam amis yang berkerumun dan menyanyikan lagu-lagu kesedihan. Di matamu, kecuali, ada bintang terang di sana...
Ari Pahala Hutabarat (foto: tribun lampung/teguh prasetyo)
ITULAH sepenggal puisi "Srigala Howlin" karya Ari Pahala Hutabarat dibawakannya dalam Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung yang digelar di Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung, Selasa (24/12) malam. Pada penampilannya itu, Ari mampu membius penonton dengan para pembacaan puisinya yang memikat.


December 25, 2013

Empat Generasi Sastrawan dalam Satu Panggung

Oleh Oyos Saroso H.N.


Asaroeddin Malik Zulqornain Ch.
SILATURAHMI dan Panggung Sastrawan Lampung yang dihelat Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL), Selasa malam (24/12/2013) pada dasarnya merupakan sebuah pertemuan empat generasi sastrawan di Lampung. Yaitu generasi 80-an, Generasi 90-an, generasi 2000-an, dan generasi 2010-an.


Generasi 80-an diwakili Asaroeddin Malik Zulqornain Ch., Isbedy Stiawan ZS, dan Syaiful Irba Tanpaka. Generasi 90-an yang tampil antara lain Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin, Ari Pahala Hutabarat, dan Udo Z. Karzi. Generasi 2000-an diwakili Inggit Putria Marga, Iskandar GB, dan Fitri Yani.

December 24, 2013

Tumi Mit Kota Diminati Kalangan Muda

Oleh Wandi Barboy


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Buku cerita buntak (cerpen berbahasa Lampung) Tumi Mit Kota yang ditulis Udo Z Karzi bersama Elly Dharmawanti diminati kalangan muda dan komunitas sosial media lainnya.


Diskusi buku yang diterbitkan oleh Pustaka Labrak kembali digelar Lapa Kopi Lampung di pelataran Gerai Esia, Jalan Ahmad Yani, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, Minggu (22/12). Acara dengan suguhan kopi Robusta Liwa itu menarik sejumlah pengunjung yang terdiri dari lintas etnis.


December 22, 2013

Tumi Disambut Hangat Siswa di Liwa

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Sambutan hangat siswa-siswi di Liwa terhadap kumpulan cerita buntak (cerpen berbahasa Lampung) Tumi Mit Kota karya Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti, semoga menjadi pertanda bagus bagi perkembangan sastra (berbahasa) Lampung.  

PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU. Para siswa SMAN 2 Liwa, Lampung Barat,
antusias mengikuti Peluncuran dan Diskusi Buku Kumpulan Cerita Buntak
Tumi Mit Kota karya Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti di aula sekolah
tersebut, Kamis (19/12). (LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NUR SATRIO)
CERBUN Tumi Mit Kota terasa simbolik karena ini bisa ditafsirkan bermacam-macam. Kalau membaca cerbun ini, Tumi atau nama lengkapnya Tuminingsih adalah seorang gadis remaja beretnis Jawa yang sangat menjiwai bahasa dan kultur Lampung. Hanya saja ia tak bisa melawan kecenderungan umum untuk urbanisasi.


[Lentera] Pancoran Pitu Elly Dharmawanti

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Elly Dharmawanti
DIAM-DIAM, Elly Dharmawanti, perempuan setengah baya itu, memendam tanya melihat aktivitas warga di suatu bilangan di Kecamatan Batubrak, Lampung Barat. Satu jurang terjal di balik rerimbun pepohonan yang terkesan angker itu menjadi perhatiannya. Maklum, lokasi itu sering ia lewati saat ia mendapat tugas sebagai fasilitator kecamatan suatu program nasional pemberdayaan masyarakat.

Satu hal yang menarik perhatiannya adalah ketika begitu banyak wanita-wanita muda yang dengan berani memilih jurang itu sebagai tempat mandi. Ya, di dasar jurang itu memang terdapat mata air yang jernih, tak pernah kering, dan sangat menyegarkan.

December 21, 2013

Kaum Ibu Buat Rekor Muri Makan Segubal

MEMPERINGATI Hari Ibu ke-85, gabungan organisasi wanita yang terdiri dari Tim Penggerak PKK, Dekranasda, Dharma Wanita, dan warga Bandar Lampung akan menggelar makan segubal terbanyak di lapangan Merah, Enggal, hari ini (22/12).

Ketua Dekranasda Kota Bandar Lampung Eva Dwiana Herman H.N. mengatakan makan segubal terbanyak itu untuk membuat rekor Muri baru di pengujung 2013. Dia juga mengatakan peserta makan segubal adalah seluruh warga Bandar Lampung yang bersedia hadir dengan target 50 ribu orang.

December 19, 2013

Tumi Mit Kota dan Seterusnya

Oleh Hardi Hamzah


KEHADIRAN sebuah cerita pendek, biasanya berpangkal tolak dari narasi yang digali dari kebudayaan lokal, dengan sekuat-kuatnya menyusun kosakata agar yang membacanya bisa merasakan, buku juga bisa empuk, renyah, dan enak dibaca, meskipun dalam bahasa daerah. Itulah sebabnya, cerpen acap bereksistensi fiksi realitas.

Fiksi realitas dimaksudkan untuk menggambarkan sentuhan kesenyawaan antara pembaca dan pengarangnya. Tentu akan lebih menarik lagi apabila sentuhan realitas itu diangkat dari kisah nyata. Begitulah agaknya Zulkarnain Zubairi atau yang lebih akrab dengan Udo Z. Karzi menampilkan cerpen ini ke publik bersama rekannya Elly Dharmawanti berjudul Tumi Mit Kota, Kumpulan Cerita Buntak.


December 15, 2013

Kebudayaan Lampung: Udo Z. Karzi, Lalu Siapa?

Oleh Hardi Hamzah


Tidak lelah-lelahnya Udo Z. Karzi dan kawan-kawan mengupas dan mengolah budaya Lampung, meski kerap melewati terjalnya bukit birokrasi, dan acap lesu darah karena “ketiadaan” alat penyangga moral dan material dari otoritas dan struktur kekuasaan resmi, tetapi toh mereka tidak menyerah juga.

Udo Z. Karzi
ARTIKULASI budaya yang ditransformasikan oleh Udo Z. Karzi dalam berbagai tulisannya, kiranya harus dipandang sebagai proses yang tak terjangkau. Lautan perspektif pemikirannya yang mengandung esensi kegelisahan, tampaknya suatu premis yang tidak dapat dinafikan begitu saja.


December 14, 2013

Bahasa Daerah dan UU Kebahasaan

 Oleh Imron Nasri

UNDANG-UNDANG No. 24 Tahun 2009 memuat tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Undang-undang yang terdiri dari sembilan bab dan 72 pasal ini memang tidak khusus mengatur tentang bahasa, terutama bahasa daerah. Bab yang mengatur tentang bahasa adalah Bab III yang berjudul UU Kebahasaan terdiri atas 21 pasal yang mengatur tentang bahasa negara, yaitu bahasa Indonesia. Sebagaimana yang tercantum pula dalam Pasal 36 UUD 1945 bahasa negara adalah bahasa Indonesia.

Menurut UU Kebahasaan ini, bahasa Indonesia wajib digunakan dalam peraturan perundang-undangan, dokumen resmi negara, pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan dalam atau di luar negeri, bahasa pengantar dalam pendidikan nasional, pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan, nota kesepahaman atau perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik Indonesia, lembaga swasta Indonesia atau perseorangan warga negara Indonesia, forum yang bersifat nasional atau forum yang bersifat internasional di Indonesia, komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta, laporan setiap lembaga atau perseorangan kepada instansi pemerintah, penulisan karya ilmiah, dan publikasi karya ilmiah di Indonesia.


December 8, 2013

[Lentera] Jalan Seni Jalu Mampang

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Jalu Mampang
RUMAH di Jalan Raden Intan Gang Sawo (sekarang Hotel Arinas) menjadi sejarah bagi Jalu Mampang. Ayahnya mendirikan Sanggar Sembrani, berasal dari nama legenda kuda bersayap.

Teguh Karya, Waroli Sitompul, Christine Hakim, tokoh lama sutradara ini murid ayahnya saat itu. Bahkan Rahman Yakub, aktor asal Kalianda, juga dari sanggar ayahnya kemudian lanjut sekolah ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Di halaman rumah itu juga, Jalu berproses.


December 7, 2013

Ahmad Syafei Pujangga Lambar

Oleh Iwan Nurdaya-Djafar


Ahmad Syafei (foto: Novan Saliwa)
DALAM Festival Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan SMAN 1 Liwa di aula sekolah tersebut, Jumat (22/11), Udo Z. Karzi membawakan materi bertema Jejak Literasi Liwa. Sejauh yang terbetik dalam berita bertajuk Siswa Lambar Bisa Suburkan Tradisi Literer yang dimuat harian ini (25/11), Udo mengusut tradisi literer di Lampung Barat yang sudah dimulai sejak abad ke-8.

Selain itu, Udo menyebut sejumlah penulis, baik yang berasal dari Lampung Barat umumnya dan Liwa khususnya maupun penulis lain yang menulis tentang Lampung Barat semisal Sutan Takdir Alisjahbana lewat novelnya Layar Terkembang (1936) dan J. Patullo yang menulis laporan perjalanan ke Danau Ranau pada 1820.


December 1, 2013

[Lentera] Kegagalan Kaderisasi Politikus Versi Sutiyo

Oleh Meza Swastika

DUA pakar sosiologi itu manggut-manggut saat Sutiyo, dosen Stisopol Dharma Wacana Metro, menyampaikan presentasinya, bulan lalu. Di aula Universitas Terbuka, Thamrin Amal Tomagola dan Yudi Latif, keduanya sosiolog, melakukan uji klarifikasi atas tulisan Sutiyo yang ditetapkan sebagai juara III lomba karya tulis Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) 2013.

Statement Sutiyo dinilai kontradiktif. Ia menyebut entrepreneurship dalam kepemimpinan pemerintahan adalah efek dari kegagalan parpol untuk memproduksi pemimpin politik yang benar-benar berlatar belakang politikus. Ia bahkan menyebut Jokowi bukanlah produk partai politik yang memiliki latar belakang politikus. "Jokowi itu juga dari kalangan pengusaha. Pengusaha mebel," kata Sutiyo.


[Fokus] Objek Wisata Salah Kelola

Oleh Meza Swastika

KONDISI pengelolaan objek wisata yang dikelola secara pribadi memang memprihatinkan. Lampung Post mencatat dari sekitar 66 objek wisata pantai yang tersebar di Lampung, 26 di antaranya dikelola secara individu dengan klaim sepihak kepemilikan lahan di sekitar pantai. Sisanya sebagian dikelola masyarakat setempat dan yang lainnya dikelola swasta.

Dari 26 objek wisata pantai dan pulau yang ?dikuasai? secara pribadi itu kondisinya sangat memprihatinkan. Sampah di mana-mana, dan yang lebih parah lagi, pantai yang semula rimbun dengan hutan-hutan bakau kini disulap melalui proses reklamasi menjadi objek wisata yang dipaksakan.


[Fokus] Memelihara Ekosistem Pulau Pahawang

Oleh Meza Swastika

AIR mata Rachel Marie Jordan menetes saat sejumlah anak Pulau Puhawang melambai kepadanya dari dermaga. Dari atas perahu yang membawanya ke Pelabuhan Ketapang, wisatawan asal Prancis itu hanya memandangi anak-anak yang selama ini akrab menemaninya saat berlibur di pulau itu.

Ia seperti tak kuasa meninggalkan Pulau Puhawang yang sudah seperti rumah kedua buatnya, suasana yang hangat, lingkungan yang hijau. Kepada warga setempat, ia hanya berpesan pendek, "Jaga pulau ini tetap seperti ini, ya."


[Fokus] Mengangkangi Harta Karun Pantai Mutun

Oleh Meza Swastika

Pemerintah tak berdaya bersikap tegas agar mendapat pemasukan daerah dari pengelolaan pantai itu. "Seribu perak pun tak ada yang masuk ke kas daerah."

SODIKAN masih ingat betul letak pondokan tempatnya berjualan sekaligus tinggal di Pantai Mutun. Sejak awal 2000, ia bersama beberapa orang lainnya mengubah nasib, dari kuli panggul di TPI Lempasing menjadi pedagang makanan ringan di sekitar Pantai Mutun.


[Fokus] Pantai-Pantai dalam Cengkeraman

Oleh Meza Swastika        
    
PERAHU ketinting yang dicarter Budi Marta Utama melaju ke tengah laut dari Pantai Ringgung, Pesawaran. Fotografer profesional itu menunggu air surut untuk melancung sampannya. Itu dilakukan karena ia tertarik cerita ada pulau pasir di kawasan Teluk Lampung itu yang muncul saat laut sat.

"Saya dapat fotonya. Cuma, yang buat saya jengkel, di situ sudah ada plang yang mengklaim bahwa pulau itu milik pribadi," kata dia pekan lalu.


November 29, 2013

MGMP Bahasa Indonesia SMP Berlatih Menulis

MUSYAWARAH Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pesawaran mengadakan pelatihan penulisan artikel dan opini. Pelatihan diadakan pada Kamis (28/11) 2013. Pelatihan ini hanya diperuntukkan anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pesawaran.

Kegiatan pelatihan dibuka pukul 09.00 oleh Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Pesawaran Nur Fasila. Hadir pada kegiatan tersebut 30 guru Bahasa Indonesia dari 15 SMP/MTs di Pesawaran. Pelatihan penulisan artikel dan opini mengundang redaktur opini dan budaya Lampung Post Zulkarnain Zubairi, yang lebih akrab disapa Udo Z. Karzi.


November 25, 2013

Siswa Lambar Bisa Suburkan Tradisi Literer

Oleh Aripsah

Sebagai generasi literer, siswa di Lampung Barat diharapkan bisa terus mengembangkan tradisi intelektual dan literer yang sejak lama ada di daerah itu.

APRESIASI SASTRA. Sastrawan Udo Z. Karzi (kanan) memberikan cendera
mata kepada seorang peserta apresiasi sastra dalam rangkaian Festival
Bahasa dan Sastra SMAN 1 Liwa, Lampung Barat, Jumat (22/11).
(DOKUMENTASI PANITIA)
TRADISI intelektual dan literer yang hidup sejak lama di Liwa, Lampung Barat, bisa menjadi motivasi bagi siswa di daerah ini untuk terus mengembangkan bakat mereka dalam dunia tulis-menulis.

October 27, 2013

Dan, Festival Krakatau pun Usai

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.


Festival Krakatau (FK) XXIII baru saja usai. Bagaimana kegiatannya?apatah gaungnya?nyaris tak terdengar. Terlihat event ini hanya jadi kegiatan tahunan yang penuh seremoni belaka.

FESTIVAL KRAKATAU: Sejumlah peserta mengikuti karnaval budaya pada
pembukaan Festival Krakatau Ke-23 di Kalianda, Lampung Selatan, Sabtu
(19/10). Festival Krakatau bertema The 3rd Of Lampung & Tuping Carnival
dibuka dengan parade budaya Lampung dan acara puncak mengunjungi Gunung
Anak Krakatau pada Minggu, (20/10) yang diikuti 24 dubes dan investor
dari luar negeri. ANTARA FOTO/Kristian Ali
FESTIVAL Krakatau, hajat tahunan Pemerintah Provinsi Lampung untuk mempromosikan pariwisata dan budaya daerah ini, terus dipersoalkan. Dari masalah kegiatan yang tak pernah berubah tetapi jadwal kegiatan selalu berubah, hingga keterasingan Festival Krakatau (FK) di masyarakat Lampung sendiri.


[Buku] Mendekati Tulangbawang dari Sisi Budaya

Data Buku:
Kearifan Lokal dalam Pembangunan Daerah
Agus Mardihartono
Indepth Publishing, Bandar Lampung
I, September 2013
xvii + 141 hlm.
TULANGBAWANG adalah salah satu kerajaan tua di Indonesia. Catatan China kuno menyebutkan pada abad IV seorang peziarah agama Buddha, Fa-Hien, pernah singgah di kerajaan yang makmur dan berjaya, To-Lang P?o-Hwang (Tulangbawang) di pedalaman Chryse (Pulau Emas Sumatera). Pemebentukan Kabupaten Tulangbawang diawali dari rencana sesepuh dan tokoh masyarakat bersama pemerintah sejak 1972 untuk mengembangkan Provinsi Lampung menjadi 10 kabupaten/kota. Akhirnya, Kabupaten Tulangbawang lahir dan diresmikannya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pada 20 Maret 1997.


[Lentera] Andi Sang Penari Khakot

Oleh Meza Swastika

Tari Khakot adalah tari pedang yang pada zaman dahulu kala dibawakan para panglima atau hulu balang untuk menyambut tamu-tamu besar.

Andi Wijaya
SELEPAS isya, Andi Wijaya yang masih kelas III sekolah dasar segera berlari ke salah satu rumah tetangganya. Ia menunggu rombongan kakeknya yang pulang dari masjid.


[Fokus] Meratapi Negeri Olokgading

Oleh Meza Swastika

BANGUNAN mewah dan perumahan elite terus mengepung Negeri Olokgading, kampung cagar budaya Lampung yang sudah ada sejak 1618.

Lamban balak.
Bangunan besar dua lantai bergaya art deco di Jalan Setia Budi, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, itu terlihat mewah. Pagar besi setinggi 2 meter menyatu dengan kanopi besar di pekarangan rumah semakin mempercantik rumah yang baru beberapa bulan lalu selesai direhab ini. Di bagian teras terdapat taman kecil dengan beberapa pohon pelindung yang tampak teduh.


[Fokus] Runtuhnya Pusat Kemargaan Saibatin

Oleh Meza Swastika

Rumah-rumah sudah banyak direhab, tetapi pintu utamanya tetap menghadap ke arah Lamban Balak. Ini sebagai tanda tempat itu pusat kemargaan, tempatnya Saibatin tinggal.


KERTAS-KERTAS dan sisa bungkus nasi itu dibiarkan tergeletak di lantai kayu teras luar rumah adat Kebandaran Marga Balak, Kelurahan Negeri Olokgading, Telukbetung Barat, Rabu pekan lalu. Tak jauh dari sampah-sampah itu, lima ibu setengah baya dan seorang lelaki terlihat tertawa-tawa.

[Fokus] Negeri Olokgading? Enggak Tahu!

RAUT muka Sekretaris Kelurahan Negeri Olokgading, Tries K., langsung berubah merah saat diminta komentar soal desa cagar budaya Lampung, Rabu pekan lalu. Nada suaranya terlihat gugup. Dua kali ia membenarkan posisi kacamatanya.


Senyumnya seolah ingin menyembunyikan rasa malunya. Duduknya pun agak gelisah. Ia tergagap saat ditanya tentang sejarah Negeri Olokgading.


[Fokus] Tempat Terdamparnya Kapal Berouw

SELAIN keberadaan Lamban Balak yang menjadi ikon Negeri Olokgading, di daerah ini pernah terdapat kerangka kapal Berouw. Kapal Angkatan Laut Belanda itu terbawa gelombang tsunami saat Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883.

Kapal Berouw itu terhempas hingga ke muara Sungai Kuripan. Belakangan saat terjadi banjir bandang tahun 1979, kapal itu terseret hingga ke jembatan Sungai Kuripan.


October 26, 2013

FKIP Bahasa dan Seni Gelar Lomba Gamolan

FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unversitas Lampung (FKIP Unila) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni menggelar lomba alat musik tradisional Lampung, gamolan, tingkat pelajar se-Provinsi Lampung.

"Penyebaran seni budaya lebih efektif lewat sekolah-sekolah. Untuk tingkat sekolah peta persaingan masih rendah dan belum bervariasi sehingga kami ranahi kelompok ini. Lomba ini mengakomodasi sekolah negeri, sekolah berbasis agama, dan swasta," kata penanggung jawab lomba, Hasyimkan.


October 24, 2013

[Fokus] Bahasa Lampung Nasibmu Kini

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Dua belas tahun berlalu sejak pakar sosiolinguistik Asim Gunarwan mengatakan bahasa Lampung bisa punah dalam 3-4 generasi atau 75-100 tahun. Selama itu relatif tak ada upaya sistematis dan strategis dari para pihak untuk mencegah kemungkinan itu.

REVITALISASI BAHASA LAMPUNG. Dari kiri ke kanan: sastrawan
AM Zulqornain Ch., pengamat Unila Kahfi Nazaruddin, sastrawan Isbedy
Stiawan Z.S, dan pengamat Jauhari Zailani.

[Fokus] Apa pun Hidupkan Bahasa Lampung!

Oleh Dian Wahyu Kusuma



SEKECIL apa pun, upaya untuk mendekatkan bahasa Lampung ke masyarakat Lampung sangat penting dilakukan. Ketua MGMP Bahasa Lampung Warsiem menawarkan kursus bahasa Lampung. Lalu Tri Sujarwo Songha dari Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung menyatakan siap membantu dan ingin menjadi siswa pertamanya.

Hal lain, kata Warsiem, mutlak perlu dibukanya program S-1 pendidikan bahasa dan sastra lampung. "Ini perlu. Apalagi persyarakatan guru dan untuk mengikuti sertifikasi kan harus sarjana. Selain itu, untuk menghindari kehilangan dan kekosongan guru Bahasa Lampung," ujarnya.


October 22, 2013

[Inspirasi] Berjuang untuk Bahasa Lampung

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Program aksara Lampung itu sudah saya sebarkan di sekolah-sekolah yang ada di Lampung secara gratis.

DARI namanya, sudah bisa ditebak perempuan berjilbab ini bersuku Jawa. Fakta itu dikuatkan dengan logatnya saat berbicara. Namun, ia seperti terus melawan takdir. Setiap ada kesempatan pentas, ia berkomunikasi dengan bahasa Lampung.

Tidak heran jika kemudian Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) memberi dia adok (gelar) Raden Ayu Suaka. Dialah Warsiem, yang sudah 12 tahun mengabdi sebagai guru Bahasa Lampung di SMP Alkautsar Bandar Lampung.

October 20, 2013

[Lentera] Rumah Baca Awan di Pulau Pahawang

DARI jarak sekitar 5 meter, Setiawan sudah menyiapkan senyuman paling manis yang ia punya untuk warga yang kebetulan sedang berpapasan. Tapi, ia hanya mendapat tatapan aneh dari warga itu.

Setiawan (berdiri paling kiri) bersama anak-anak Pulau Pahawang.
Untuk kali kedua, saat ia bertemu lagi dengan orang yang sama, Setiawan tetap menyunggingkan senyumnya kembali, tapi tetap tak membuahkan hasil pula. Belakangan warga Pulau Pahawang justru menaruh curiga kepada Setiawan dan beberapa temannya, atas tingkahnya yang aneh.


Carnival of Scenes Tafsir Mahabharata Versi Si Lampung

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

KISAH Mahabharata dan perang Bharata tak habis-habisnya ditafsirkan orang. Kali ini perupa I Made Widya Diputra alias Si Lampung menafsirkan Mahabharata dalam karya tiga dimensinya dan ditaja di Gallery Semarang, Kota Lama, Semarang, dengan mengusung tema Carnival of Scenes. Pameran yang memajang 10 karya Si Lampung ini digelar dari penggal akhir Juni hingga Oktober 2013.


Nama Si Lampung di bumi kelahirannya Sang Bumi Ruwai Jurai kurang dikenal, bahkan di kalangan perupa sekali pun. Ia memang anak transmigran dari Bali, kelahiran Lampung, 10 Oktober 1981.


[Fokus]: Dilema Pemecah Batu Bukit Camang

SEBENARNYA batu tempat Wawan (49), bukan nama sebenarnya, memijakkan kakinya agak labil. Ia merasakan bebatuan kapur Bukit Camang itu seperti bergerak. Tetapi ia acuh tak acuh. Ia mengulur sedikit lilitan tali yang mengikat pinggangnya di bebatuan yang ada di sisi kirinya untuk ditambatkan ke bebatuan lain yang lebih kuat.

Bukit Camang
Dari tepian tebing setinggi hampir 10 meter itu ia melihat lereng bukit sisi barat itu mulai runtuh. Ia mulai sedikit ragu, tapi berusaha tetap bekerja meski batu-batu sebesar buah semangka di atasnya sudah mulai runtuh.


[Fokus]: Area Steril Bukit Sukamenanti

SEKELOMPOK orang berbadan besar, berkulit legam, dan berkacamata hitam itu terlihat berjaga-jaga di salah satu portal menuju Bukit Sukamenanti, Kedaton, pekan lalu. Padahal, ruas jalan yang dipasangi portal itu adalah jalan umum.

Bukit Sukamenanti
Dua di antara mereka setengah berlari mendatangi seorang pengendara sepeda motor yang celingak-celinguk dan berhenti sekitar 50 meter dari portal itu.


[Fokus]: Hilangnya Bukit Kami

Oleh Meza Swastika


Ketika pentingnya kawasan konservasi harus dihadapkan urusan perut dan keserakahan pemodal, Bandar Lampung terancam bencana ekologis.

Bukit Kunyit yang hampir hilang. LAMPUNG POST/IKHSAN DNS
AIR minum di dalam botol bekas kemasan air mineral yang digantungkan di pinggang Maman (40) hampir tiris. Matahari yang menjemur batu-batu karst Bukit Camang, Tanjunggading, itu membuat udara panas dan mengeringkan tenggorokan. Namun, ia terus memahat, mencongkel, dan menggelindingkan bongkahan-bongkahan batu belah itu sebagai penyambung hidup diri dan keluarganya.


[Fokus] Bandar Lampung dari Atas Bukit

Oleh Meza Swastika

Indah dan mengesankan. Di sisi lain, berita bencana akibat bukit longsor dan banjir bandang terus mengintai.

ENAM remaja, empat laki-laki dan dua perempuan, itu telah menyelesaikan makam malamnya di ballroom Hotel Bukit Randu. Mereka adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandar Lampung yang mendapat tugas menyiapkan tempat acara seminar internasional yang dihelat fakultas.


24 Duta Besar Ikuti Festival Krakatau

DITANDAI dengan pemukulan gamolan oleh sejumlah duta besar (dubes) negara sahabat, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, dan Wakil Gubernur M.S. Joko Umar Said, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. resmi membuka Festival Krakatau (FK) XXIII 2013 di Lapangan Korpri, Kalianda, Lampung Selatan, Sabtu (19/10).

Festival Krakatau tahun ini dihadiri 24 duta besar dan perwakilan negara sahabat, mengambil tema The mask united of colours dengan menampilkan salah satu ikon budaya Lampung, yakni tradisi tuping. Selain menghadirkan pawai budaya dari 14 kabupaten/kota di Provinsi Lampung, pada pergelaran tahun ini juga kembali mengagendakan tur ke kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), salah satu ikon Lampung Selatan yang sudah mendunia, hari ini (20/10).


October 16, 2013

Malu Aku Jadi Orang Lampung

Oleh Hardi Hamzah


SEDERET perdebatan tentang pilgub kini sudah sampai titik nadir. Kenyataannya, belum ada titik kepastian. Padahal, perihalnya sederhana "anggaran tidak ada". Ini sungguh memalukan.

Gonjang-ganjing mekanisme politik di provinsi ini sebagai resultante tipis tanggung jawabnya elite politik kita, akibatnya membawa implikasi bermacam macam. Bayangkan, para bakal calon dibuat gamang, tim sukses melangkah tidak maksimal, semua dibuat floating alias mengambang.


Politisasi Budaya (Lampung?)

Oleh Robi Cahyadi Kurniawan


DI tengah ketidakpastian jadwal pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung dengan perdebatan yang cenderung membosankan. Konflik kelembagaan antara KPU dan Pemerintah Provinsi Lampung (Gubernur) yang tak kunjung usai, ada hal menarik yang bisa dijadikan ulasan.

Lazimnya, di mana pun pergelaran pemilihan kepala daerah dilaksanakan, beragam cara dilakukan para calon untuk memikat hari pemilih. Proses memikat itu bisa dilakukan dengan cara santun, masif, terstruktur atau dilakukan dengan cara yang elegan dengan dibungkus balutan?balutan nuansa tertentu. Salah satunya adalah penggunaan simbol-simbol budaya dalam politik praktis pemilukada.


[Voting] Rebutan Pengaruh Organisasi Adat

SEJAK runtuhnya rezim Orde Baru, keran kebebasan bagi masyarakat kian dibuka lebar. Masing-maisng individu bebas mengeluarkan pendapat, membentuk wadah organisasi, bahkan partai politik pun makin berkembang banyak.

Sejak itulah organisasi-organisasi yang mengatasnamakan adat dan budaya di nusantara menjamur. Hal itu pun terjadi di Lampung, mulai dari Forum Komunikasi Masyarakat Adat Lampung (Fokmal), Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma), Keluarga Besar Sumatera Barat (KBSB), Keluarga Besar Batanghari Sembilan (KBBS), Paguyuban Jawa Barat (Pajar), Kekerabatan Marga Batak (Kerabat), dan lainnya.


[Voting] Calon Gubernur Gunakan Politik Primordialisme

POLITIK yang menggunakan basis primordialisme masih terus berkembang di Lampung. Masing-masing calon gubernur (cagub) pun masih meminta dukungan sana-sini terhadap organisasi dengan basis primordial suku, etnis, adat, dan agama.

"Kami mengundang Wali Kota Heman H.N. untuk hadir ke acara silaturahmi keluarga besar organisasi ini, tetapi dia mengatakan organisasi sejenis kami (kekerabatan, red) telah diurusi tangan kanannya," kata Udin, salah seorang pengurus organisasi kekerabatan asal daerah Sumatera itu, beberapa waktu lalu.


[Voting] Era Matinya Politik Primordial

KEINGINAN pasangan calon gubernur/wakil gubernur (cagub/cawagub) Lampung untuk melirik basis dari organisasi primordial gencar dilakukan. Namun, mereka tak sadar hasil survei bahwa sejak 2009 rakyat Indonesia tidak lagi suka dengan politik jenis tersebut.

Hal itu terbukti dari hasil hasil survei Lembaga Survei Independen (LSI). Sejak Pemilu 2009, kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono menandai era baru politik Indonesia.


Perang Antarkampung Warnai Iduladha

Oleh M. Lutfi


Akibat penyerangan warga Gunungsugih Baru ke Kampung Sukajawa, sedikitnya tiga warga Sukajawa luka bacok, seorang luka tembak, tujuh rumah dilempari hingga pecah kaca depannya, dan dua sepeda motor dibakar.

PERANG antarkampung di perbatasan Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) dan Kabupaten Pesawaran mencoreng suasana Iduladha, kemarin, sekitar pukul 11.00.


October 13, 2013

Sebuah Kesepakatan Atas Nama Simbol

Oleh F. Moses


Simbol secara langsung memperkokoh kedigdayaan puisi itu sendiri, seperti kian melegitimasikan bahwa pembaca puisi ialah makhluk cerdas lantaran ketersedian kemampuan (hak otonomi) mengisi ruang interpretasi. Saat kegelisahan melanda bahkan mengancam si penyair, simbol pun menjadi penengah hebat di antara penyair dan pembaca.

15 April 1865, tepat usia ke-54, Lincoln terbunuh. Kematian presiden Amerika Serikat ke-16 tersebut membuat rakyatnya larut dalam duka. Bukan hanya Amerika Serikat, melainkan keseluruhan Amerika. Tapi beberapa waktu setelah kejadian itu, penyair While Whitman (1819-189¬2) pun “terganggu”—imajinasinya seperti tengah diserang puluhan tujahan; ia lantas membuat puisi atas kedukaannya terhadap Lincoln. Maka terbitlah sepuisi berjudul When Lilacs last in the Dooryard Bloom’d.


October 9, 2013

Prabowo Subianto Dapatkan Buku Terbitan Indepth Publishing Lampung

Oleh Romi Rinando

Prabowo Subianto dan Agus Mardihartono. (ist)
TRIBUNLAMPUNG.co.id-Prabowo Subianto, ketua Dewan Pembina Partai Gerindra mendapatkan buku Kearifan Lokal dalam Pembangunan Daerah yang diterbitkan Indepth Publishing Lampung.

Buku  itu ditulis Dr Agus Mardihartono atau Cak Agus, mantan wakil bupati Tulangbawang yang kini menjadi pegiat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Lampung.


October 6, 2013

Membongkar Penghancuran Buku

Oleh Padli Ramdan

Melarang sebuah buku untuk diterbitkan sama bahayanya dengan membakar buku.

BINCANG BUKU. Peserta Bincang Buku Lampost, Rabu (2/10) membahas buku
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Baez.
LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY
PENGHANCURAN buku atau disebut bibliosida terjadi sejak zaman Yunani hingga kini. Termasuk di Indonesia, pemusnahan buku terjadi pada zaman Orde Baru. Seperti makhluk yang terus menyesuaikan keadaan, pemberangusan buku bermetamorfosis dalam bentuk yang lebih halus.


[Buku] ‘Bibliosida’ dan Kita


TAHUN 1258 atau tepatnya dimulai sejak 15 November 1257, kata Fernando Baez dalam Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (2013: 118-122), Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, serta balatentara Mongol mengaramkan Bagdad dalam merahnya darah dan hitamnya tinta. Sejarah pun bertutur ihwal mayat-mayat korban pembunuhan balatentara beringas yang menyesaki dan membuat macet jejalanan kota. Juga tentang ribuan judul buku yang dijarah dan konon berhasil menghitamkan warna Sungai Tigris.

Setahun sebelumnya, 1256, pasukan Mongol pun telah menghancurkan satu setengah juta buku koleksi perpustakaan Ismailiyah di Alamut (kawasan Selatan Laut Kaspia). Kekejian yang dilanjutkan Timurleng pada 1393, keturunan Genghis Khan lainnya, dengan menyerbu kembali Bagdad dan Suriah serta menghancurkan semua buku yang mereka temukan.


September 29, 2013

[Lentera] Kesiapan Entus untuk Lagu Lampung

"KALAU memang harus menunggu kami para seniman ini mati, baru lagu-lagu Lampung bisa terkenal, kami siap. Kami terima itu sebagai risiko agar karya-karya kami dihargai," kata Entus Alrafi tanpa ekspresi.

Entus Alrafi
Entus memang tak sedang berteori, tetapi ia mengaku ada kecenderungan seperti itu. Banyak lagu yang baru dikenal dan terkenal setelah penciptanya meninggal. "Bukan meninggalkan, tetapi meninggal dunia dalam arti sebenarnya. Lihat saja bagaimana perkembangan lagu-lagu Lampung saat ini," ujar Entus, mantan ketua Komite Musik Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini.


[Fokus] Lagu Lampung, Terang dari Negeri Orang

LAGU-LAGU Lampung kurang bersinar di rumah sendiri. Sementara daerah luar Lampung memberi apresiasi dan menyediakan panggung untuk lagu-lagu Lampung.

Syair-syair lagu Lampung yang dinyanyikan Darmawan Saputra itu terdengar amat menyayat. Suaranya terkadang sendu seperti merintih. Di aula SMAN 2 Kalianda itu, keempat orang; Rohili Robinson (gambus); Muslim Junai (akordion), Supriyono (gong), dan Darmawan Saputra, sembari menyanyi sesekali menabuh gendang.


[Fokus] Perjalanan Maestro Lagu Lampung

Syaiful Anwar
SEBINGKAI foto ukuran 50R itu seolah menjadi monumen bagi Syaiful Anwar (62). Didesain gambar berlatar belakang Gubernur Sjahroedin Z.P. itu, Syaiful dan 12 anak adalah prasasti tentang peluncuran lagu pop Lampung anak-anak. “Ini kenangan pahit,” kata dia datar.

Ditemui di rumahnya di Perumnas Kuripan, Telukbetung Barat, Syaiful Anwar hanya menumpahkan berbagai kekesalannya tentang perkembangan musik Lampung. Mulai dari pemerintah yang tak peduli, masyarakat yang acuh tak acuh, sampai seniman pembajak yang asal ngebul.


[Fokus] Lagu Lampung, Konser tanpa Penonton

LAGU Lampung telah kehilangan pentasnya. Apresiasinya kurang, dukungan pemerintah nol, dan seniman saling jegal untuk keuntungan sesaat.

PERTUNJUKAN MUSIK LAMPUNG. Sejumlah seniman mendendangkan irama
mengiringi sebuah lagu Lampung.
 Seperti kapal pecah di tengah laut dan penumpangnya menyelamatkan diri masing-masing. Seperti itulah seniman Lampung, Syaiful Anwar menyebut perkembangan lagu Lampung kini.


September 28, 2013

Spirit Krakatau dan FK

 Oleh Syaiful Irba Tanpaka

DISKUSI Lampung Bangkit II yang ditaja Lampung Post (17-8) dengan tema Membumikan Festival Krakatau (FK) masih menyisakan percikan pemikiran yang profetik. Opini yang diterbitkan Lampung Post menandai hal itu.

Isbedy Stiawan dengan tulisan Menuju FK yang Membumi (19-9) yang merupakan pandangan-pandangannya yang disampaikan saat diskusi. Atau Karina Lin dengan tulisan berjudul Festival Krakatau yang Galau (25-9), yang memandang perlunya revisi bagi penyelenggaraan FK agar membumi dan (membooming-pen). Karena itu, saya menjadi tergelitik untuk ikut memberi iuran pemikiran.


September 25, 2013

[Surat Pembaca] Muhammad Ridho Ficardo Bagian dari Penyimbang Adat Pepadun

MENANGGAPI surat pembaca yang terbit di Lampung Post, Rabu (18-9), dengan judul Mempertanyakan Kepenyimbangan Adat Muhammad Ridho Ficardo. Tokoh Adat Kotabumi Ilir Marga Nunyai, Lampung Utara (Lampura), gelar Nadikiyang Suttan Minak Yang Abung, Akuan Abung, sangat menyayangkan adanya pernyataan yang dibuat Yan Murod, gelar rajo setio buai kunang rio limo, Gedongmeneng, Bandar Lampung.

Di dalamnya menyatakan Ridho Ficardo, gelar suttan rajo adat, tidak pantas sebagai penyimbang Adat Pepadun, bahkan dirinya mempertanyakan kembali pemahaman dan pengetahuan beliau tentang tata titi adat, khusus Lampung Pepadun.


Festival Krakatau yang Galau

Oleh Karina Lin


TULISAN ini mengomentari sekaligus menambahkan opini yang dimuat Lampung Post, Kamis (19-9), berjudul Menuju FK (Festival Krakatau) yang membumi di Lampung. ?Opini tersebut tentu saja dilihat dari judulnya jelas sekali memaparkan pandangan-pandangan penulisnya, yakni Sastrawan Lampung Isbedy Stiawan mengenai hal ikhwal penyelenggaraan Festival Krakatau (FK).

Secara mendasar, saya menyetujui pandangan-pandangan yang dipaparkan penulis tersebut. Salah satu bagian dari tulisan itu sebagai berikut: ?Selama ini FK berada di awang-awang atau lebih tegasnya tidak berpijak di tanah, dus dengan demikian pantaslah jika FK memang kurang memasyarakat dan asing di masyarakat Lampung sendiri... Masih banyak masyarakat Lampung yang acap tidak tahu tanggal penyelenggaraan FK?.


September 24, 2013

Bisakah Sekolah Merevitalisasi Bahasa Lampung?

Oleh Kristian Adi Putra


TERDAPAT tiga pola pengajaran suatu bahasa di sekolah: (1) penggunaan bahasa tersebut sebagai bahasa pengantar proses kegiatan belajar-mengajar, (2) penerapan program dwibahasa (bilingual), dan (3) pengajaran bahasa tersebut sebagai salah satu mata pelajaran. Dari sudut pandang teori pemerolehan bahasa, pola pertama dan kedua memang terkategori paling efektif, karena siswa langsung berada di lingkungan tempat bahasa itu digunakan. Siswa tidak hanya mendapatkan model penggunaan bahasa yang baik (comprehensible input), tetapi juga dipaksa untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif (pushed output) dalam berbagai macam pelajaran.

Pola pengajaran ketiga terkategori sebagai pola terlemah dalam pembelajaranbahasa. Ibarat seorang siswa belajar berenang, siswa hanya bertemu kolam renangdi saat jam pelajaran olahraga. Di luar jam olahraga, siswa hanyamengingat-ingat bagaimana caranya renang dan bagaimana bentuknya kolam renang.Tentu saja, belajar bahasa lebih kompleks dari analogi ini. Tetapi, memangaspek keberlanjutan pemakaian bahasa di luar jam pelajaran bahasa tersebutinilah yang sebenarnya paling krusial dan tampak hilang kalau pola ini diterapkan.


September 23, 2013

Perselingkuhan Intelektual

 Oleh Oki Hajiansyah Wahab


TULISAN ini terinspirasi tajuk Lampung Post berjudul Perselingkuhan Profesi, Jumat (20-9), dan artikel Kompas Legasi Intelektual yang ditulis Suwidi Tono, Kamis (19-9). Perdebatan terkait kiprah intelektual dan politik memang bukanlah perdebatan baru, hal ini adalah perdebatan epik dari masa ke massa.

Soetandyo Wignyosobroeto (2010) menjelaskan perdebatan semacam ini mulai lahir pascaera Renaissance, dengan peran universitas semakin eksis seiring tumbuhnya negara-negara nasional di Eropa Barat yang kala itu berlomba meningkatkan kekuatan finansial, industrial, dan militernya.


September 22, 2013

[Buku] Menuju Cahaya dari Gelap Gulita Korupsi

Data buku
Moral, Hukum, dan Keadilan di Tengah Pusaran Korupsi
Slamet Hariyadi
Indepth Publishing, Bandar Lampung
I, Juni 2013
128 hlm.
MUNCULNYA praktik korupsi kepada aparat penegak hukum sangat akrab kaitannya dengan moral yang dimiliki aparat penegak hukum itu sendiri. Moral yang sering diartikan sebagai hukum dengan bentuk perintah dan larangan yang mengatur perilaku manusia dan masyarakat di mana manusia itu berada, menunjuk pada suatu konsep yang keseluruhannya memaknai suatu perbuatan itu berkenaan dengan hakikat nilai, dan dalam perkembangannya di masyarakat lazim dikenal dengan moralitas.

Dengan melihat realitas sosial yang ada, moral sebenarnya bisa terekonstruksi menjadi individu-individu yang ingin keluar dari blokade hukum modern, yang tidak memiliki roh moralitas. Secara sosiologis, kehidupan sosial masyarakat kita sangat kuat oleh nilai-nilai budaya, yang meskipun beragam, berlabuh pada moral dan keyakinan religius masing-masing. Karena itu, pemberantasan korupsi untuk menegakkan hukum yang adil hampir sulit tanpa melibatkan moral dari tiap-tiap individu.


September 20, 2013

[Tajuk] Perselingkuhan Profesi

EKSISTENSI setiap profesi selalu hadir di tengah persinggungan dua arus deras kepentingan, yaitu kepentingan publik dan elite. Orientasi semata kepada kepentingan publik mestinya menjadi tolok ukur martabat sebuah profesi.

Martabat profesi menjadi harga mati pada profesi yang bersifat tertutup. Sebab, ia memiliki syarat yang sangat ketat, seperti sekolah formal, memiliki undang-undang profesi, izin praktik, kode etik, dan code of conduct.


Etika Profesi: Kepentingan Politik Harus Dilepaskan

BANDAR LAMPUNG (Lampost) Sejumlah organisasi profesi di Lampung menyikapi serius posisi mereka terkait tahun politik. Untuk memelihara independensinya, mereka harus melepaskan diri dari kepentingan dunia politik.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung Yoso Mulyawan mengatakan godaan politik uang dapat menggerus idealisme profesi lumrah terjadi pada organisasi profesi berbasis massa yang banyak. Sebab, mereka sulit mengawasi tiap anggotanya.


Sulaman Maduaro Harumkan Lampung

JAKARTA (Lampost): Sulaman maduaro dari Tulangbawang menjadi satu dari lima kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia yang mendapatkan penghargaan Dekranas Award 2013, dalam kategori kriya tekstil, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (19-9).

Selain itu, Dekranasda Tulangbawang juga menjadi wakil Lampung dalam ajang peranti saji tingkat nasional dari 197 kabupaten/kota se-Indonesia yang pemenangnya akan diumumkan pada Minggu (22-9).Penghargaan diterima Ibu Trully Sjachroedin Z.P., sebagai pembina Dekranasda Kabupaten/Kota Provinsi Lampung, dari Ibu Herawati Boediono.


September 19, 2013

Menuju FK yang Membumi di Lampung

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.


MEMBUMIKAN Festival Krakatau. Itulah tema diskusi Lampung Post kali ini menjelang gelar tahunan Pemerintah Provinsi Lampung, Festival Krakatau (FK) XXIII. FK yang sudah lebih 23 tahun ini, pada 2013, dipusatkan di Kabupaten Lampung Selatan dan berlangsung dari 12 hingga 20 Oktober.

Kata ?membumikan? dari tema diskusi ini, berarti selama ini FK berada di awang-awang atau lebih tegasnya tidak berpijak di tanah, dus dengan demikian pantaslah jika FK memang kurang memasyarakat dan asing di masyarakat Lampung sendiri. Betapa tidak, indikasi ini bisa bariskan di sini. Masih banyak masyarakat Lampung yang acap tidak tahu tanggal penyelenggaraan FK, walaupun pihak penyelenggara akan membela diri bahwa publikasi sudah gencar dilakukannya.


[Fokus] Membumikan Festival Krakatau

Meskipun sudah memasuki kali ke-23, gaung Festival Krakatau (FK) tidak sedahsyat letusan Gunung Krakatau yang mengguncang dunia pada 1883. Malah yang terasa dari tahun ke tahun, event budaya tahunan ini makin hambar saja.

NAMA festival sih tidak salah-salah, mengambil nama Krakatau, gunung berapi teraktif yang letusannya menggelegarkan dunia pada 26?27 Agustus 1883. Inilah event utama di provinsi ujung pulau untuk memperkenalkan budaya dan wisata Lampung bagi wisatawan Indonesia dan dunia. Namun, sebagai salah satu ikon pariwisata Lampung, festival ini kurang mendapat apresiasi dari masyarakat Lampung sendiri.


[Fokus] Spirit Krakatau dan Sejarah yang Terabaikan

SEBUTLAH Krakatau, yang segera terbayang adalah sebuah kekuatan mahadahsyat. Mungkin karena ingin mengambil spirit Krakatau, yang diselenggarakan Pemprov Lampung mengambil nama Festival Krakatau.

Namun, yang terjadi besar nama tapi kosong isi. "Festival Krakatau telah kehilangan ruh. Kalau FK mau membumi, tidak bisa tidak spirit Krakatau harus dikembalikan. Event ini harus punya daya ledak yang mampu menghentak dan memukau banyak orang. Jangan elitis," kata mantan Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Syaiful Irba Tanpaka.


Etika Profesi: Organisasi Profesi Harus Jaga Martabat

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Organisasi profesi harus bisa menjaga martabat dan kepercayaan (trust) di tahun politik saat ini.

Godaan politik uang jangan sampai menggerus idealisme profesi, terlebih jika dilakukan hanya demi kepentingan sesaat. "Organisasi profesi yang tidak bisa menjaga trust harus ditata ulang," kata akademisi Universitas Lampung, Sudjarwo, melalui sambungan telepon, Rabu (18-9).


Museum Lampung Perlu Perhatian

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sebanyak 4.747 koleksi benda bersejarah yang tersimpan di Museum Lampung membutuhkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat agar terus eksis sebagai warisan budaya bangsa.

Menurut Kepala UPTD Museum Negeri Provinsi Lampung Zuraida Kherustika, mengirim benda ke museum memang menjadikan benda itu mati, dengan kata lain dimuseumkan atau dimatikan. Namun, pandangan kuno tersebut harus segera ditinggalkan.


Disbudpar Lantik Saka Pariwisata

PAHOMAN (Lampost): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Lampung melantik 25 pengurus majelis pembimbing saka dan pimpinan satuan karya pramuka pariwisata tingkat daerah Lampung masa bakti 2010?2015. Diharapkan, pembentukan saka pariwisata ini menjadi wadah pembentukan pramuka yang memiliki keterampilan di bidang pariwisata sebagai pemandu atau penyuluh wisata.

Kepala Disbupar Lampung Masri Yahya mengatakan pelantikan yang digelar di aula Disbudpar Lampung, kemarin (18-9) itu, memang sudah ditunggu dan disiapkan tiga bulan sebelumnya karena Lampung merupakan salah satu dari sembilan daerah yang menjadi dasar terbentuknya saka pariwisata nasional.


September 18, 2013

[Surat Pembaca] Mempertanyakan Kepenyimbangan Adat Muhammad Ridho Ficardo

PARA penyimbang adat Pepadun mempertanyakan status/setara kedudukan/Hejong Ridho Ficardo sebagai penyimbang adat Pepadun. Hal ini terkuak dalam pertemuan silaturahmi/halalbihalal penyimbang Saibatin masyarakat adat Lampung pada 14 September 2013, di Istana Kuning Kerajaan Skala Brak, di Sukarame, Bandar Lampung, yang diselenggarakan oleh Pangeran Edwarsyah Pernong Sultan Kerajaan Skala Brak ke-23.

Pada acara tersebut protokol mengumumkan kehadiran tamu undangan, antara lain Kapolda Lampung Brigjen Heru Winarko, Ricko Menoza S.Z.P. kapasitas selaku bupati Lampung Selatan, Mukhlis Basri kapasitas selaku bupati Lampung Barat, dan Ridho Ficardo kapasitas selaku Partai Demokrat Lampung. Kemudian, Abdurrachman Sarbini selaku wakil dari Megow Pak Tulangbawang, Wakil Pimpinan Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat, Kol. Czi. Amalsyah Tarmizi, dan tokoh masyarakat beserta para penyimbang marga dan Saibatin marga se-Provinsi Lampung.


September 17, 2013

[Jelma Ram] Putra Bali Majukan Kesenian Lampung

LIWA -- Di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung. Pepatah ini melekat erat pada pelaksana tugas (Plt.) Sekretaris Dinas Pariwisata dan kebudayaan Lampung Barat (Lambar) Nyoman Mulyawan maupun istrinya, Nyoman Yuliani.

Setiap Sabtu dan Minggu, di kediamanya di perumahan Pemkab Lambar, tampak ramai kedatangan tamu yang umumnya kaum hawa usia sekolah. Mereka datang meminta dilatih menjadi penari.


Tokoh Adat Bantah Dukung Cagub

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perwakilan adat dari Paksi Pak Skala Brak membantah acara halalbihalal dan silaturahmi yang digelar di Lamban Gedung Kuning, Sukarame, Bandar Lampung, Minggu (15-9), mendukung salah satu calon gubernur Lampung.

Panitia acara, Damanhuri Fattah, menegaskan pertemuan tersebut hanya sebatas halalbihalal dan silaturahmi empat paksi, yang meliputi Belunguh, Pernong, Bejalan di Way, dan Nyerupa. Selain itu, hanya ada acara penyerahan lambang kerajaan Skala Brak kepada kepala pemerintahan di Lampung.


September 16, 2013

[Surat Pembaca] Bahasa Lampung Punah?

MAK ganta kapan lagi, mak ram sapa lagi. Begitu saya dengar berulang-ulang dari berbagai pihak. Itulah semangat untuk melestarikan bahasa dan budaya Lampung.

Tapi, lihatlah realitas yang terjadi hari ini. Bagaimana adanya kecenderungan dari para pihak di Lampung untuk "menguburkan" bahasa Lampung. Beberapa hal.


Mukri Raih Kamaroeddin Award

TANJUNGKARANG PUSAT (Lampost): Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung menggelar malam penganugerahan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin Award untuk kalangan jurnalis dan nonjurnalis yang konsisten memperjuangkan karyanya. Penghargaan diberikan pada resepsi HUT ke-19 AJI di Kafe Dawiels, Tanjungkarang Pusat, Sabtu (14-9).

Penghargaan Kamaroedin 2013 diberikan kepada Mukri Friatna, aktivis lingkungan, mantan Direktur Walhi Lampung, yang kini menjabat deputi Walhi nasional. Penghargaan Kamaroeddin ini diberikan kepada orang atau lembaga yang dinilai memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan jurnalisme dan demokrasi di Lampung.


Saibatin dan Pepadun Harus Bersatu

BANDAR LAMPUNG (Lampost):  Lampung harus bersatu dan menjadi contoh bagi suku lainnya. Tidak ada lagi pengelompokan diri antara Saibatin dan Pepadun.

Demikian dikatakan Raja Kerajaan Sekala Brak Edwardsyah Pernong saat halalbihalal dan silaturahmi para sebatin marga dan para penyeimbang marga dengan Sultan Paksi Pak Kerajaan Skala Brak Lampung, di Sukarame, Sabtu (14-9).


September 15, 2013

Mukri Friatna Raih "Penghargaan Kamaroeddin" 2013

BANDARLAMPUNG - Mukri Friatna, mantan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) daerah Lampung yang kini aktif di eksekutif nasional Walhi Jakarta, meraih "Penghargaan Kamaroeddin" 2013 yang diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung.

Mukri Friatna aktivis Walhi yang meraih "Kamaroeddin Award" 2013
diberikan AJI Bandarlampung, Sabtu (14/9) malam.
(Foto: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)

Bengkel Jagal-Nasib Mutiara Raih "Saidatul Fitriah Award" 2013

BANDAR LAMPUNG - Dua jurnalis muda di Lampung meraih Penghargaan Saidatul Fitriah ("Saidatul Fitriah Award") 2013 yang dianugerahkan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung pada malam penghargaan di Bandarlampung, Sabtu (14/9).

Malam Anugerah Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin 2013 yang digelar
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Sabtu (14/9).
(Foto: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)
Dewan juri (Dr Tisnanta SH MH, Budisantoso Budiman, dan Herdi Mansyah AIB) memutuskan peraih Penghargaan Saidatul Fitriah 2013 untuk karya jurnalistik terbaik tahun 2013 adalah juara kembar/juara bersama, yaitu Ari Suryanto jurnalis Harian Umum Radar Lampung dengan karya jurnalistik tentang bengkel jagal di RSU Dr H Abdul Moeloek Bandarlampung yang menuliskan instalasi forensik RS milik Pemprov Lampung ternyata menggunakan peralatan kurang memadai, dan Noval Andriansyah jurnalis Harian Umum Tribun Lampung dengan karya jurnalistik Mutiara yang terbuang.


[Perjalanan] Menikmati Denyut Dermaga Kotaagung

GELOMBANG tinggi menghempas, perahu-perahu terombang-ambing. Namun, aktivitas warga di Dermaga II Kotaagung, Tanggamus, tetap berjalan. Sementara pemancing, penikmat suasana, penyantai justru menikmati pemandangan.

Kawasan Teluk Semaka, Kotaagung, Tanggamus, Jumat (13-9) siang. Matahari merambat dan mulai merebah ke barat. Angin bukan lagi berdesir, tetapi menyapu laut dan membawa serta lapisan air ke pinggir.

[Fokus] Pah Bubahasa Lampung

BAHASA Lampung kini hanya terdengar di ruang-ruang sempit. Salah satu ruang sempit itu adalah Desa Bawang, Kecamatan Punduhpidada, Kabupaten Pesawaran.

?Nyak kak khua pulu tahun dija. Jadi, kak pandai bubahasa Lampung (Saya sudah 20 tahun di sini. Jadi, sudah bisa berbahasa Lampung).? Kalimat itu diucapkan Nuryanto (43), orang Jawa yang tinggal di Desa Bawang, Punduhpidada, Pesawaran, Rabu (11-9), di pasar setempat. Meski berusaha menekan dan menebalkan intonasi pada lafal huruf l dan memfasihkan huruf r dengan serak, logat Jawanya masih kentara.


[Fokus] Stay Tune di Manjau Debingi

DINGIN yang menusuk dari mesin penyejuk udara di ruang siar 1 RRI Tanjungkarang tak mengganggu hangatnya Susi Ratu Pubian menyapa pendengarnya. Melalui program 1 pada gelombang 90,9 FM, Susi tetap ceriwis memandu program Nemui Nyimah siang itu.

Sesekali ia menjawab panggilan telepon dari penggemar yang me-request lagu pop Lampung. Meski hanya sedikit berbincang dengan si penelepon, Susi Ratu Pubian terus menjejali si penelepon dengan bahasa Lampung yang ringan. Tetapi, jawaban dari ujung telepon kadang menggunakan bahasa Indonesia.


[Fokus] Sifat Orang Lampung Terbuka

HETEROGENITAS penduduk Lampung mempersatukan warganya menggunakan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Faktor ini alamiah dan tanpa interes.

Lulus kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Sustiyanti begitu girang saat lamarannya menjadi pegawai di Kantor Bahasa Provinsi Lampung tahun 2000. Bukan cuma soal status kariernya, perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah, ini sedang gandrung meneliti budaya daerah.


September 13, 2013

Pelestarian Budaya Butuh Payung Hukum

PRINGSEWU -- Pelestarian budaya menjadi sulit apabila hanya mengandalkan masyarakat biasa. Menurut Ketua Sanggar Bunga Nilam Pardasuka Syafrizal, satu-satunya cara efektif dalam pelestarian budaya adalah adanya payung hukum, yaitu peraturan daerah (perda) tentang budaya.

Dia menilai kalau tidak ada perda masyarakat akan bingung karena tidak jelas hak dan kewajibannya. ?Mau menuntut ke mana kita kalau kekurangan dana,? ujar dia.


Budaya Makin Tergerus Zaman

PRINGSEWU -- Kebudayaan yang merupakan buah karya para leluhur saat ini terus tergerus akibat pesatnya kemajuan zaman. Bahkan, banyak tokoh mulai terlupakan keberadaannya sebagai masyarakat yang memiliki budaya tinggi dan luhur.

Kabupaten Pringsewu, yang merupakan pecahan dari Kabupaten Tanggamus, sesungguhnya memiliki banyak budaya, tetapi akhir-akhir ini budaya itu kurang terekspos karena maraknya hiburan modern.


[ Inspirasi] Buku Mengubah Hidupnya

Silvana Maya Pratiwi
MEMBACA sebuah buku akhirnya menginspirasi dan mengubah kehidupannya. Alasan itu yang membuat wanita satu ini semakin gemar membaca dan berusaha untuk terus mengajak orang lain melakkan hal yang sama. Hingga akhirnya dia mampu mendirikan Rumah Baca Asma Nadia di Lampung.

Nama lengkap wanita itu ialah Silvana Maya Pratiwi. Gadis kelahiran Bandar Lampung, 20 Januari 1992, ini tidak mengawali hobi membacanya ini sejak kecil. Keterbatasan untuk memperoleh buku saat itu menjadi alasan, selain itu dalam keluarganya juga belum menanamkan budaya untuk gemar membaca.


September 12, 2013

[Fokus] Festival Sekala Brak Identitas Budaya Lampung

LIWA -- Tahun depan Festival Teluk Stabas hampir dipastikan berganti nama menjadi Festival Skala Brak. Pergantian nama agenda promosi dan pelestarian adat budaya masyarakat Lampung Barat tersebut dilakukan mengingat nama Teluk Stabas berada di wilayah Pesisir Barat, yakni di Krui, yang kini telah resmi menjadi daerah otonomi Kabupaten Pesisir Barat.

Bagi masyarakat adat, Festival Skala Brak diharapkan lebih menonjolkan identitas adat dan budaya Lampung yang mampu menarik minat wisatawan nusantara dan mancanegara berkunjung ke Lampung Barat. Nama Skala Brak sendiri merupakan nama kerajaan adat Lampung Sai Batin di Lampung Barat yang terdiri dari empat kerajaan Paksi Pak Skala Brak sehingga untuk menyusun agenda dan rangkaian acara juga harus ada keterlibatan masyarakat adat.


[Fokus] Antusiasme Warga di Festival Teluk Stabas

LIWA -- Festival Teluk Stabas (FTS) 2013 atau yang ke-16 dan merupakan yang terakhir baru saja usai digelar. Berbagai kegiatan adat dan budaya digelar dalam agenda ini, yang menghadirkan tamu dari dalam maupun mancanegara.

Pawai budaya nusantara sebagai pembuka kegiatan FTS dipusatkan di Liwa. Setiap kontingen berusaha menampilkan dekorasi dan atraksi yang atraktif agar tampak semarak dan tampil semenarik mungkin.


September 11, 2013

Warga Tuntut Perda Hutan Adat

LIWA (Lampost): Ratusan warga dari empat kecamatan di wilayah Krui, Kabupaten Pesisir Barat, mendatangi kantor DPRD Lampung Barat, Selasa (10-9), untuk menyampaikan surat keputusan Mahkamah Konstitusi terkait keberadaan hutan adat di wilayah masyarakat hukum adat.

Warga meminta DPRD dan Pemkab Lambar menerbitkan peraturan daerah (perda) hutan adat terkait penegasan keputusan MK itu. Koordinator aksi, Nazrul, dalam orasinya menyatakan kedatangan ratusan warga Krui?dari Kecamatan Bengkunatbelimbing, Bengkunat, Ngambur, dan Pesisir Selatan?ke kantor DPRD Lambar itu untuk membacakan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan surat edaran menteri kehutanan terkait hutan adat yang berada di wilayah hukum adat. Tujuannya, mendesak Pemkab dan DPRD Lampung Barat membuat peraturan daerah untuk mempertegas keputusan tersebut.


September 10, 2013

Kembalikan Kamus Bahasa Lampung Van der Tuuk

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kamus Bahasa Lampung pertama dan terlengkap karya Neubronner van Der Tuuk yang kini disimpan di Universitas Leiden, Belanda, harus dikembalikan ke rumahnya, Lampung. Kamus ini adalah salah salah satu aset budaya daerah, bahkan bangsa Indonesia.

"Kamus kuno bahasa Lampung merupakan salah satu karya penting Van Der Tuuk dan merupakan aset budaya yang sangat tidak ternilai. Namun, ketiadaaan duplikatnya di Indonesia menjadikan kita kehilangan jejak sejarah," kata sastrawan dan jurnalis, Oyos Saroso H.N., saat pemutaran film Risalah Van der Tuuk dan diskusi di Bandar Lampung, Minggu (9-9) malam.


Kepunahan Bahasa Lampung Tinggal Menunggu Waktu

Oleh Imron Nasri


TULISAN ini hanya sekadar mengingatkan bahwa kita --warga, masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan juga kalangan Pemerintah Provinsi Lampung--punya tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan bahasa-budaya Lampung. Senyampang peringatan Hari Aksara Internasional, 8 September kemarin, dan setelah membaca Tajuk Lampung Post, 12 Juli 2013, berjudul Kuburan Bahasa Lampung dan opini Chairul Anwar berjudul Jurusan Bahasa Lampung di Perguruan Tinggi (Lampung Post, 3 Agustus 2013).

Tanda-tanda kepunahan bahasa Lampung sudah mulai tampak. Orang Lampung saat ini sudah banyak yang tidak bisa berbahasa Lampung. Apalagi kalangan mudanya. Mereka lebih senang dan lebih bangga berbahasa Indonesia (dengan logat Betawi) dalam pergaulan sehari-hari. Ini, tidak hanya terjadi di kota, tetapi sudah merambah ke perdesaan di daerah-daerah di Lampung. Keluarga-keluarga muda di Lampung berkomunikasi dengan anak-anaknya lebih bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia. Padahal kedua orang tuanya berasal dari kampung (pekon) yang sama. Yang lebih memprihatinkan lagi, perhatian pemerintah daerah terhadap keberadaan bahasa Lampung, sepertinya sudah mulai berkurang juga.


September 9, 2013

Lembaga Adat Megou Pak Dukung Amal Berguna

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dukungan untuk calon gubernur dan calon wakil gubernur independen, Amalsyah Tarmizi-Gunadi Ibrahim (Amal Berguna), terus mengalir. Salah satu dukungan berasal dari Lembaga Adat Megou Pak Tulangbawang (LAMPTB).

Dukungan ini dibuktikan dengan kehadiran Ketua LAMPTB Wan Mauli Sanggem didampingi putrinya, Novelia Sanggem, di kediaman Amalsyah di Rawalaut, Bandar Lampung, Jumat (6-9) malam.


Lampung Miliki Rumah Baca Asma Nadia

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Rumah Baca Asma Nadia hadir di Lampung. Peluncuran tempat bacaan masyarakat ini berlokasi di Jalan Ikan Nila IX, Nomor 18, Kelurahan Bumiraya, Kecamatan Bumiwaras, Bandar Lampung, pada Sabtu (7-9).

Peluncuran dihadiri puluhan volunter dan undangan dari berbagai kalangan, baik mahasiswa maupun masyarakat umum. Keberadaan rumah baca gagasan Silvana Maya Pratiwi, mahasiswi Universitas Lampung, ini diharapkan mampu menumbuhkan minat membaca masyarakat.


Budayawan Desak Pengembalian Kamus Bahasa Lampung Kuno

BANDARLAMPUNG - Sejumlah budayawan Lampung mendesak pemerintah daerah memperjuangkan pengembalian kamus kuno bahasa Lampung karya Herman Neubronner Van Ver Tuuk yang saat ini disimpan di Universitas Leiden, Belanda.

"Kamus kuno bahasa Lampung merupakan salah satu karya penting Van Der Tuuk dan merupakan aset budaya yang nilainya sangat tidak ternilai, namun ketiadaaan duplikatnya di Indonesia menyebabkan kita kehilangan jejak sejarah," kata budayawan Oyos Saroso HN di Bandarlampung, Senin.


September 8, 2013

[Refleksi] Lampung Kita

Oleh Djadjat Sudradjat


KONFLIK Memisahkan, Pers Menginformasikan, Budaya Menyatukan." Itulah judul makalah yang saya sampaikan pada kuliah umum di depan 500 lebih mahasiswa baru Program Pascasarjana Universitas Lampung, Sabtu (31-8). Selain para mahasiswa baru pascasarjana yang menyimak, Rektor Sugeng P. Harianto, Direktur Pascasarjana Sudjarwo (yang mengundang saya), para pembantu rektor, dekan, para pembantu dekan, beberapa guru besar juga hadir hingga usai. Tak ada kegembiraan tak terhingga bagi seorang pembicara selain didengar.

Sesungguhnya judul di atas terasa simplistis, karena itu perlu didiskusikan dari banyak perspektif. Sebab, konflik tak selamanya memisahkan; pers kerap dinilai menginformasikan dengan tafsir dan subjektivitasnya sendiri, bahkan kadang menghilangkan sebagian fakta; dan (keragaman) budaya justru kerap jadi sumber ketegangan dan konflik.


[Fokus] Referensi Loak Buku Pasar Bawah

DI antara desing suara kendaraan yang melaju di Jalan Raden Intan dan deru angkot yang menunggu penumpang di dalam Terminal Pasar Bawah Tanjungkarang, beberapa toko buku kecil menjajakan jualannya.

Toko-toko tradisional itu tidak terlalu ramai. Namun, karena jenis barang yang sama membuat lokasi itu dikenal sebagai pasar buku loak.


[Fokus] Berburu Buku Murah Berkualitas

ZAMAN internet dan digital memang sudah meruyak. Namun, buku yang terkesan konvensional masih menjadi pilihan paling pas untuk suatu studi. Di balik harga buku yang mahal, berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan.

Beberapa toko buku besar di Bandar Lampung terlihat selalu ramai. Dengan gedung megah, berpendingin udara, setting ruangan yang artistik, dan aneka bahan bacaan serta alat tulis lengkap tersedia.

[Fokus] Buku Loak di Pasar Bawah

BUKU tak lagi menjadi jendela menuju pengetahuan dunia. Bagi mahasiswa, buku kadang dianggap menjadi beban yang terkadang memberatkan.

Beberapa eksemplar buku butut yang sudah berubah warna dan sejumlah majalah lama berderet di atas meja panjang bekas meja warung makan. Tempatnya nyempil di antara lalu lalang kendaraan angkutan penumpang dan orang yang hilir mudik di Terminal Pasar Bawah, Tanjungkarang.


Krakatau

Oleh Arman A.Z.

27 Agustus 1883, Krakatau meletus. Konon, dari sejumlah sumber, daya ledaknya ratusan hingga ribuan kali lipat dari daya ledak bom atom yang melantakkan Hiroshima. Letusannya terdengar hingga ribuan mil, disusul gempa dan tsunami, menelan korban sekitar 36 ribu jiwa. Dampak letusan yang sungguh dahsyat itu membuat mata dunia tertuju ke Selat Sunda.

Lebih seabad kemudian, Lampung menghelat Festival Krakatau, semacam legitimasi bahwa Krakatau adalah bagian Provinsi Lampung. Beragam acara digelar; selain bertujuan menarik wisatawan domestik dan mancanegara agar mengunjungi Krakatau, juga menikmati khazanah seni budaya Lampung.


[Buku] Pengantar Akting

Data Buku
Akting Berdasarkan Sistem
Stanislavski, Sebuah Pengantar

Iswadi Pratama dan Ari Pahala Hutabarat
Dewan Kesenian Lampung.
I, Desember, 2012.
164 hlm.
Cintai seni dalam dirimu,
bukan dirimu di dalam seni.

-Stanislavski (hal. 1)

ITULAH kalimat pembuka buku Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski, Sebuah Pengantar yang diterbitkan Komite Teater, Dewan Kesenian Lampung (DKL), Desember 2012.

Buku ini wajib dibaca oleh pelaku teater dalam kelompok akademis dan nonakademis, dalam kelompok teater kampus dan nonkampus, dalam kelompok teater pelajar dan nonpelajar. Yang terang, buku ini adalah bacaan wajib bagi seluruh pelaku teater di Lampung bahkan Tanah Air.


[Perjalanan] Di Tanggaraja Menggala

ALIRAN Sungai (way) Tulangbawang adalah magnet bagi kehidupan orang. Menggala, seruas tempat di pinggir kali itu, mencatatkan sejarah peradaban berkepemimpinan. Ada Tanggaraja, petilasan para raja saat turun mandi pada masa jayanya.

Memasuki Kota Menggala, ibu kota Kabupaten Tulangbawang, atmosfer kota menyambut dengan simbol-simbol modern. Jalan dua jalur dengan media dan trotoar memagari setiap pendatang. Lampu-lampu gemerlap di malam hari. Toko, kantor, rumah, dan segala jenis entitas ekonomi menghidupkan suasana.

September 7, 2013

Dibanggakan tapi Dilupakan

Oleh Syafnijal Datuk S

Bahasa Lampung masuk dalam kurikulum sekolah, tapi generasi muda enggan menggunakan dalam keseharian.

Aksara Lampung. (SH/Syafnijal Datuk S)
Dibanding suku lain di Nusantara, nenek moyang orang Lampung termasuk yang memahami pentingnya aksara bagi kehidupan bermasyarakat.

Nenek moyang orang Lampung merupakan salah satu dari sedikit suku yang sejak awal memiliki aksara sebagai  simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya, seperti batu, kayu, kain untuk mengekspresikan unsur-unsur ke dalam suatu bahasa. Sayang, kekayaan khazanah budaya ini kurang terpelihara hingga nyaris terlupakan. Kenapa?


September 4, 2013

Lampung Heritage Putar Film "Risalah Van der Tuuk"

TRIBUNLAMPUNG.co.id-Lampung Heritage akan menggelar pemutaran film dokumenter "Risalah Van der Tuuk", orang Belanda yang kali pertama membuat kamus bahasa Lampung. Sayangnya, manuskrip tersebut tak sempat dicetak.

Teguh Prasetyo dari Lampung Heritage mengatakan pemutaran akan dilakukan di Cafe Dawiels, Minggu (8/9/2013), yang akan datang, mulai pukul 19.00 WIB. Pemutaran ini, bertepatan dengan peringatan Hari Aksara yang jatuh pada tanggal 8 September.


September 1, 2013

Djadjat Sudradjat Ajak Lampung Bersatu

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Akademisi harus memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang terjadi dalam masyarakat. Salah satunya mencari solusi terbaik terkait konflik horizontal yang terjadi berulang-ulang di Lampung, beberapa waktu terakhir.

Hal itu dikatakan Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat saat memberi orasi ilmiah di hadapan ratusan mahasiswa Pascasarjana Universitas Lampung (Unila) di Gedung Serbaguna (GSG) perguruan tinggi itu, Sabtu (31-8).


[Perjalanan] Ke Krui Liburan Mewah Biaya Murah

MELEPASKAN diri dari rutinitas dan tinggal di suatu resort serasa mewah bagi masyarakat Indonesia. Padahal, di kawasan Pantai Krui, Pesisir Barat, Lampung, kemewahan itu bisa cukup murah.

Melintas di jalan lintas barat (Jalinbar) Lampung dari Bandar Lampung, sejak memasuki kawasan Gisting, Kabupaten Tanggamus, suasana wisata sudah terasa. Udara yang sejuk, liuk-liku jalan menuruni perbukitan dengan suasana hutan membuat hati adem.

August 31, 2013

Konflik Memisahkan, Pers Menginformasikan, Budaya Menyatukan*)

Oleh Djadjat Sudradjat**)


JUDUL di atas memang terasa simplistis. Tetapi, anggaplah ini semacam tesis yang harus mendapat banyak tanggapan.  Konflik memang tak selamanya memisahkan,  pers kadang tak sekadar menginformasikan apa adanya tapi kerap juga “menafsirkan“, bahkan di masa Orde Baru sebagian fakta “harus” disembunyikan. Sementara budaya juga tak selamanya menjadi perekat dan membangun harmoni sosial.  Bukankah perbedaan budaya justru kerap menjadi faktor pemicu konflik?

Tetapi, kebudayaan sebagai “kata kerja”, seperti kata Van Peursen, adalah sebuah siasat manusia menghadapi hari depan. Ia melihat kebudayaan sebagai suatu proses pelajaran (learning process) yang terus menerus sifatnya. Di dalam proses ini bukan saja kreativitas dan inventivitas (penciptaan) merupakan faktor penting, melainkan keduanya kait-mengkait dengan pertimbangan-pertimbangan etis. Judul ini saya pilih juga sengaja agar ia menjadi harapan yang harus terus diperjuangkan. Menjadi  learning process yang terus menerus.

August 25, 2013

[Fokus] Mahasiswa KKN Agen Ilmu Pengetahuan

KEHADIRAN mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) memberi warna di daerah tujuan. Dengan kreativitasnya, mereka menjadi pintu masuk ilmu pengetahuan dan pembaruan di daerah.

Senin (19-8) pagi, beberapa titik di Kota Liwa dan sekitarnya terasa lebih ramai dari biasanya. Sejak sehari sebelumnya, puluhan muda-mudi terlihat hilir mudik dengan berbagai kesibukan. Mereka adalah mahasiswa FKIP Unila yang menempuh program kuliah kerja nyata (KKN) di wilayah Lampung Barat. Mereka sedang mempersiapkan beberapa agenda.


[Fokus] KKN Memahami Derap Lingkungan

SUASANA Lebaran masih semarak di Way Jepara, Lampung Timur, tetapi Monik sudah mulai gelisah dengan agenda lain. Mahasiswa semester tujuh FKIP Unila itu memang sedang libur dari kegiatan KKN di Pekon Cahayanegeri, Ngambur, Pesisir Barat. Pikirannya mengacu kepada tugas lepas Lebaran yang dekat dengan peringatan HUT ke-68 Republik Indonesia.

?Ya, karena ada mahasiswa KKN di situ, peratinnya (kepala desanya) meminta kami yang ngurus acara tujuh belasan. Makanya kami harus segera balik ke sana untuk persiapan,? kata gadis berjilbab ini.


[Reporter Cilik] Kota Liwa Penghasil Sayuran

MERASAKAN udara sejuk serta memandang hijaunya tanaman aneka sayuran tentunya sudah tidak asing lagi bagi anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Kota Liwa, Lampung Barat.

Reporter cilik Lampung Post di kebun sayuran di Liwa.
Seperti tiga reporter cilik Lampung Post ini; Rafael Faskal Yeremia dan Natanael Eldi Lukasim (SDN 1 Way Mengaku), serta Melly Kesuma (SDN 3 Way Mengaku). Mereka sudah terbiasa dengan kesegaran udara dan kesegaran sayur-mayur yang disantap setiap hari. Wah asyiknya, pastinya anak-anak Liwa sehat-sehat dong, ya!