September 13, 2013

Budaya Makin Tergerus Zaman

PRINGSEWU -- Kebudayaan yang merupakan buah karya para leluhur saat ini terus tergerus akibat pesatnya kemajuan zaman. Bahkan, banyak tokoh mulai terlupakan keberadaannya sebagai masyarakat yang memiliki budaya tinggi dan luhur.

Kabupaten Pringsewu, yang merupakan pecahan dari Kabupaten Tanggamus, sesungguhnya memiliki banyak budaya, tetapi akhir-akhir ini budaya itu kurang terekspos karena maraknya hiburan modern.


Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Pringsewu Suchairi Sibarani, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12-9), menyatakan perhatian untuk bidang budaya terus menurun.

Oleh karena itu, untuk menghidupkan kebudayaan, Pemkab Pringsewu melalui Dinas Pendidikan dan Pariwisata setiap tahunnya menggelar Festival Bambu Seribu, yang untuk memperingati HUT Kabupaten Pringsewu.

Festival Bambu Seribu merupakan wahana bagi para seniman untuk menampilkan kreasi seni dan budayanya. Bukan saja budaya Lampung, melainkan seluruh budaya yang ada di Pringsewu.

Dia mengakui sejauh ini masyarakat luas, terlebih siswa, sangat minim memahami budaya, khususnya Lampung. Budaya masih saja dilihat sebatas bagaimana cara berpakaian adat, berbahasa daerah, dan upacara adat pernikahan. Padahal, bicara adat sangatlah luas karena menyangkut adat istiadat dalam berkehidupan sehari-hari.

Sibarani menjelaskan guna menguatkan posisi masyarakat adat Lampung di Pringsewu, pihaknya pernah mengumpulkan tokoh adat, baik dari Pekon Margakaya ataupun Pekon Pardasuka, yang bertempat di gedung STIE Muhammadiyah Pringsewu, dan pertemuan tersebut membahas penguatan kelembagaan adat.

Menurutnya, mengumpulkan para tokoh adat sangatlah penting mengingat dengan pertemuan tersebut secara tidak langsung akan ada sosialisasi pemangku adat di masing-masing pekon: Margakaya dan Pardasuka.

Bahkan, ke depan, kata Sibarani, para tokoh adat akan kembali dikumpulkan untuk membahas bagaimana tata cara penyambutan tamu secara adat khas Pringsewu. ?Kami harus punya ciri khas daerah, khususnya saat penyambutan tamu,? kata dia.

Pelestarian budaya yang akan terus dilakukan pemerintah, di antaranya menggelar workshop penata tari. Tujuannya, tari daerah layak ditonton masyarakat luas dan para koreograf lokal bisa bersaing dengan koreograf daerah lain. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata Pringsewu, Pringsewu memiliki 12 lokasi sanggar.

Ke-12 sanggar Lampung itu yakni Sanggar Penata Mulya dengan pimpinan Yulian Munajat bertempat di Pardasuka, Kuntum Melati (SMPN 01 Pardasuka) di Pardasuka, Sanggar Sri Lestari (Margono) di Pardasuka, Angkon Muakhi (Ismail) di Pardasuka, Sanggar Memula (Zen Afrizal) di Pardasuka, Khagom Gawi (Zainul Mukhtar) di Pardasuka, dan Muakhi (Zahruddin) di Pardasuka.

Sibarani menambahkan Sanggar Yudistira (Gandung Hartadi) di Pringsewu, Waya Hati (Sukmi A.R.) di Sukoharjo, Marga Sebaya (Andi Nurjaya) di Margakaya, Way Jejama (Iwan Muslimin) di Margakaya, dan Bunga Nilam (Safrizal) di Pardasuka.

Sementara sanggar tari dan seni yang dikelola masyarakat lain mencapai 31 sanggar. Dari jumlah 31 sanggar, terbanyak sanggar kuda kepang mencapai 18 tempat, tersebar di Sukoharjo, Gadingrejo, Ambarawa, Pagelaran Utara, dan Banyumas. (WID/D2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 13 September 2013 


No comments:

Post a Comment