September 8, 2013

[Fokus] Buku Loak di Pasar Bawah

BUKU tak lagi menjadi jendela menuju pengetahuan dunia. Bagi mahasiswa, buku kadang dianggap menjadi beban yang terkadang memberatkan.

Beberapa eksemplar buku butut yang sudah berubah warna dan sejumlah majalah lama berderet di atas meja panjang bekas meja warung makan. Tempatnya nyempil di antara lalu lalang kendaraan angkutan penumpang dan orang yang hilir mudik di Terminal Pasar Bawah, Tanjungkarang.


Hiruk pikuk terminal dan orang-orang yang bergegas hanya memandang sekilas ke arah deretan buku-buku bekas yang dijual oleh Rosidin (65). Lelaki tua itu kadang merasa putus asa. Kadang, seharian tak satu pun transaksi dengan dagangannya.

Komoditas tempat bersemayamnya aneka ilmu itu justru kadang dianggap paling aneh di antara dagangan lain di terminal angkot dalam kota itu. "Banyakan tidurnya daripada nungguin dagangannya," kata Rosidin.

Meski demikian, kadang ada saja orang ?tersesat? di tempat ini. Orang-orang itu antara lain mahasiswa atau warga yang sedang mencari bahan lama dan tak ditemukan di toko buku pada umumnya.

Begitu banyak cara orang mendapatkan ilmu pengetahuan dari buku. Ratna, misalnya. Bagi mahasiswi FISIP Unila ini, perpustakaan kampus dan perpustakaan daerah sudah seperti kamar indekos kedua buatnya. Ia bisa berjam-jam menghabiskan waktu di ruang-ruang baca kedua perpustakaan itu. Pengelola perpustakaan kampusnya bahkan sudah hafal betul dengannya yang kerap mondar-mandir di perpustakaan.

Ia bukan mahasiswi kutu buku yang senang membaca buku, apalagi buku kuliah yang terkadang membuatnya mumet saat membacanya. Ini adalah strateginya untuk ?berdamai? dengan kondisi keuangannya yang seret. Ia tak mungkin terus menuntut ke orang tuanya yang hanya pedagang kelontongan di Gisting, Tanggamus.

Apalagi, yang harus dibiayai bukan hanya dirinya. Ada dua adiknya yang lain yang juga membutuhkan biaya sekolah, karena itu ia harus membagi, biaya hidupnya dan uang kuliahnya. "Kalau harus beli buku terus, mau berapa banyak uang habis untuk beli buku saja," ujarnya.

Akhirnya, perpustakaan menjadi solusi buatnya. Jika bahan yang ia butuhkan lumayan banyak, ia bisa fotokopi, tapi jika sedikit ia cukup menulisnya.

Perpustakaan dan Pasar Loak

Dua lokasi di Bandar Lampung yang kerap menjadi tempat ?orang aneh? adalah perpustakaan daerah dan Pasar Bawah. Di tempat itu, banyak buku-buku yang tidak dijumpai di toko buku umumnya. Bahkan, buku-buku klasik yang sudah lusuh.

Pasar Bawah memang bukan pasar buku. Tetapi, beberapa toko buku tradisional yang bukan cuma menjual, melainkan juga bersedia membeli buku bekas ?berkumpul? di situ.

Rosidin mengenang masa sulit berjualan buku dan majalah bekas di awal 1990-an itu sebagai masa-masa susah. "Kalau ada buku yang laku langsung buat beli beras untuk dimasak di rumah.?

Ia merekonstruksi pelan-pelan ingatannya saat merintis jualan buku loak. Ketika Mal Ramayana belum berdiri di Pasar Tengah, Bioskop Raya masih berdiri tepat di sisi kiri dagangannya. Ia berjualan di antara deru lalu lintas kendaraan angkutan kota dan bus-bus DAMRI yang mengetem di terminal itu.

Setelah tiga sampai empat orang mulai ikut-ikutan berdagang buku bekas, kata dia, masalah mulai timbul. Di akhir 1990-an, pengembang berencana merenovasi Pasar Bawah, para pedagang termasuk Rosidin dan Zulkifli diusir dan harus kerepotan mencari lokasi baru.

"Pokoknya seperti kucing beranak, pindah sana-pindah sini. Akhirnya buka lapak lagi di depan Bioskop Golden di dekat Bambu Kuning,? ujarnya.

Ketika berjualan di dekat Bambu Kuning itu, pedagang buku bekas yang meniru jejak Rosidin sudah mulai ramai. Hal itu seiring mulai tingginya permintaan terhadap buku bekas, sampai akhirnya mereka kembali ke Pasar Tengah di tempatnya kini. Di jejeran toko yang ada di lantai bawah Mal Ramayana atau mengemper di depan-depan toko. ?Buku apa saja saya beli dan jual. Ada buku yang harganya hanya ratusan rupiah, tetapi ada yang cukup mahal,? kata dia. (MEZA SWASTIKA/DIAN WAHYU/M1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 September 2013 

No comments:

Post a Comment