September 29, 2013

[Fokus] Perjalanan Maestro Lagu Lampung

Syaiful Anwar
SEBINGKAI foto ukuran 50R itu seolah menjadi monumen bagi Syaiful Anwar (62). Didesain gambar berlatar belakang Gubernur Sjahroedin Z.P. itu, Syaiful dan 12 anak adalah prasasti tentang peluncuran lagu pop Lampung anak-anak. “Ini kenangan pahit,” kata dia datar.

Ditemui di rumahnya di Perumnas Kuripan, Telukbetung Barat, Syaiful Anwar hanya menumpahkan berbagai kekesalannya tentang perkembangan musik Lampung. Mulai dari pemerintah yang tak peduli, masyarakat yang acuh tak acuh, sampai seniman pembajak yang asal ngebul.


Termasuk tentang peluncuran album lagu pop Lampung anak-anak yang pada akhirnya hanya menjadi pajangan di dinding ruang tamu rumahnya.

Ia membandingkan ketika ia harus meriset ke berbagai daerah, meneliti penggunaan bahasa Lampung pepadun dan pesisir hanya untuk menciptakan satu lagu; Sang Bumi Ruwa Jurai. Belum lagi, ketika ia menciptakan lagu Cangget Agung yang mendapat respons nyinyir dari sesama seniman sampai respons skeptis dari pemerintah.

"Tetapi lihat sekarang, lagu Sang Bumi Ruwa Jurai dikenal di mana-mana. Lagu Cangget Agung selalu dinyanyikan di mana-mana. Padahal dulunya saat menciptakan Cangget Agung itu saya dikritik habis-habisan karena memakai kata Agung. Itu karena mereka tidak tahu, cuma bisa ngomong," kata Syaiful Anwar.

Di usianya yang semakin senja, Syaiful Anwar mengaku terus berkesenian. Ia terus menciptakan lagu-lagu Lampung, termasuk beberapa lagu berbahasa Inggris. "Ada dua album lagu Lampung yang sampai sekarang belum saya keluarkan. Saya tidak ada modal, tidak ada yang mau mensponsori. Apalagi sekarang, sudah keluar uang banyak untuk produksi album, ujung-ujungnya dibajak, dijual di emperan cuma Rp2.000. Entah mau jadi apa seni musik di Lampung ini.”

Perkembangan teknologi kini, menurut Syaiful Anwar, justru membuat seniman seperti dirinya semakin terpuruk. "Sekarang, tinggal datang ke warnet, download lagu, selesai. Gimana karya yang kami buat ini seolah tak pernah dihargai," kata dia.

Lagu Sembarangan

Ia kerap sedih saat melihat produser-produser karbitan yang memproduksi lagu-lagu Lampung tanpa memikirkan kualitas. Termasuk bahkan menyanyikan lagu ciptaan orang lain, tapi tak mencantumkan nama penciptanya.

"Produser yang kayak gini, cuma modal uang sejuta, gitar, sama handycam kecil. Terus gitar-gitaran, dicetak di VCD terus dijual. Kalau seperti ini kan namanya seniman tukang ngebul,” kata dia.

Ia juga menyindir seniman-seniman yang punya pikiran sempit. Keadaan ini pula yang akhirnya memaksa Syaiful Anwar untuk bekerja sendiri di tengah berbagai keterbatasannya. "Saya tak mau sebut nama senimannya, tapi saya pernah mengalaminya. Saya pernah dijegal sesama seniman. Akhirnya saya jalan sendiri.”

Sejak 1968, Syaiful sudah aktif berkesenian Lampung. Setidaknya sudah 300 lebih judul lagu Lampung yang ia ciptakan. Semuanya ia buat bukan dengan cara instan. Ada proses mulai dari melakukan riset, penggunaan tata bahasa pesisir maupun pepadun. Ia bahkan tak sembarangan memberikan judul lagu yang ia buat, termasuk beberapa lagu hit ciptaannya.

Lagu Cangget Agung, Sang Buma Ruwa Jurai, dan Krakatau, misalnya, itu ia buat cukup lama. "Semua lagu yang saya buat ada alasannya. Lagu Sang Bumi Ruwa Jurai saya buat sebagai lagu pemersatu, bahwa Lampung itu satu. Begitu juga dengan lagu Cangget Agung saya buat untuk menggambarkan betapa sakralnya upacara cangget itu. Lahu Krakatau saya buat untuk menceritakan bagaimana gunung itu bisa terkenal karena letusannya. Jadi bukan kayak sekarang, cuma asal nyanyi pake gitar terus jadi lagu.”

Soal pengalaman pun, Syaiful mengaku pernah hanya diberi honor menyanyi Rp2.000. Tetapi ia juga pernah bekerja sama dengan sejumlah musisi terkenal, seperti Eddy Sud dan Charles Hutagalung dari The Mercy's. "Ini hidup saya, ini juga tanggung jawab saya sebagai orang Lampung.” (MEZA SWASTIKA/M1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 September 2013

3 comments:

  1. om syaiful saya ngefans bgt sm om. menurut saya om jenius bgt:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi sayang beliau sudah meninggal, semoga karya nya selalu dikenang dan dikenal masyarakat lampung

      Delete