September 8, 2013

[Fokus] Referensi Loak Buku Pasar Bawah

DI antara desing suara kendaraan yang melaju di Jalan Raden Intan dan deru angkot yang menunggu penumpang di dalam Terminal Pasar Bawah Tanjungkarang, beberapa toko buku kecil menjajakan jualannya.

Toko-toko tradisional itu tidak terlalu ramai. Namun, karena jenis barang yang sama membuat lokasi itu dikenal sebagai pasar buku loak.


Faktanya, toko-toko itu bukan menjual buku bekas. Buku-buku baru, terutama buku pelajaran sekolah dan mahasiswa, tersedia cukup lengkap di sini. Meskipun aneka buku populer, fiksi, komik, dan aneka bacaan lain juga tersedia.

?Ya, mungkin karena awalnya adalah lapak-lapak buku bekas. Kami jual juga beli. Kalau dulu kan buku pelajaran sekolah bisa diturunkan untuk adik-adik kelasnya. Jadi, buku zaman dulu itu masih ada harganya. Kalau kepepet, buku-buku bekas anak sekolah bisa dijual di sini. Karena yang nyari juga banyak,? kata Rosidin, salah satu pedagang yang mengawali perdagangan buku bekas di lokasi ini sejak sebelum dibangun mal.

Toko-toko buku kecil di Pasar Bawah ini memastikan buku yang mereka jual jauh lebih murah dari toko buku modern. Jika toko buku besar mengambil keuntungan dari harga penerbit 30?40 persen, toko-toko kecil ini seputar 10?20 persen. ?Kami pastikan, di sini lebih murah untuk buku yang sama,? kata Rosidin.

Awal Pasar Loak

Mengenang kisah lama, Rosidin mengaku menjadi orang yang pertama menjual buku bekas di Pasar Bawah. Ia saat itu adalah pedagang asongan di Stasiun Tanjungkarang. Suatu saat, kata dia, Rosidin menemukan banyak buku bekas di kota sampah stasiun.

"Pertama, saya dapat buku-buku itu di kotak sampah. Terus, iseng saja saya kepar (gelar, red) buku-buku itu di depan stasiun. Eh, ternyata ada yang beli. Terus, saya mulai berpikir untuk mendapatkan buku-buku bekas dari mana saja. Saya cari-cari ke rumah-rumah, kadang ada yang ngasih buku atau majalah bekas.?

Ia mulai fokus berjualan buku bekas setelah tak tahan harus memberi jatah preman tiap kali berjualan di atas kereta. "Dari situ saya jualan buku bekas aja. Selain itu, saya suka kasihan melihat orang datang kepada saya cuma untuk menjual sebiji buku untuk beli makan," katanya.

Meski tanpa omzet yang pasti, ia tetap bertahan, terkadang hanya satu dua orang yang membeli. Tapi, lama-kelamaan, pedagang buku dan majalah bekas bertambah. "Setelah saya, ada Zulkifli, ikut-ikutan jualan buku bekas pula. Dulu memang ada satu toko buku di sini, tapi enggak jualan buku bekas. Biasanya kalau di toko itu enggak ada buku yang dicari, nyarinya ke tempat kita.?

Rosidin menceritakan sebelum Ramayana baru berdiri, cuma pedagang buku bekas yang berani menyewa toko di Ramayana itu. Pedagang pakaian tak berani menyewa karena mahal. ?Sebenarnya kami berani nyewa bukan karena banyak duit, melainkan karena terpaksa. Orang-orang sudah keburu tau tempat buku bekas di sini.?

Sekarang, ia kerap prihatin dengan ulah toko-toko buku besar yang menjual buku, termasuk buku pelajaran dengan harga yang mahal.

"Sekarang, bayangin! Orang ngejual buku bekasnya bukan untuk dia beli mobil apalagi rumah. Tetapi untuk dia beli makan, kalau enggak untuk dibeliin buku lagi buat anaknya. Begitu juga orang yang beli buku bekas, itu karena dia enggak punya uang buat beli buku baru.?

Rosidin memahami kondisi saat ini dengan seksama. Meskipun bisnis buku bekasnya kini sudah banyak dibantu oleh anak-anaknya, ia tetap mengawasi untuk urusan harga.

?Saya pesan sama anak-anak saya, kalau menjual buku bekas jangan mahal-mahal. Orang beli buku bekas itu karena enggak punya uang. Jangan ambil untung banyak-banyak. Untungnya juga enggak bisa bawa saya naik haji. Suruh bos-bos itu (Rosidin menyebut dua nama toko buku besar yang ada di Bandar Lampung, red) mikir, kalau seandainya dia jadi orang susah, enggak mampu beliin buku buat anaknya sekolah karena mahal, mau gimana coba?"

Deretan toko buku bekas termasuk yang mengemper di depan-depan toko di lantai bawah Ramayana ini memang menjadi seperti jawaban dan referensi bagi masyarakat yang tak tahan dengan mahalnya harga buku di toko-toko buku besar.

Meski kerap pula tempat ini disebut sebagai tempat transaksi buku-buku bajakan, seperti kamus atau kitab-kitab yang dijiplak dari penerbit resmi, geliat jual beli tetap berlangsung di sini bahkan selalu ramai.

Di tempat ini, segala jenis model transaksi ada. Mulai dari jual beli buku bekas dan buku baru, diskon banting hingga 70 persen sampai tukar tambah dengan harga tawar-menawar yang tak akan pernah memberatkan pembelinya.

Nur, pemilik toko buku bekas di lantai bawah Ramayana, mengaku tak pernah mematok harga untuk sebuah buku bekas apalagi buku pelajaran.

Tak hanya itu, segala jenis buku pun dijual di sini.

Ichan, pedagang lainnya, bahkan menjamin kelengkapan judul dan penerbit buku. "Tetapi harus pesan dulu, nanti dicari di penerbit atau orang yang jual bekasnya atau ke penjual lain.?  (MEZA SWASTIKA/DIAN WAHYU/M1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 September 2013 

1 comment:

  1. harga rata2 untuk buku pelajaran kelas 9 berapa?

    ReplyDelete